Konstruksi Sosial Gaya Hidup Vegetarian ( Studi Fenomenologi Tentang Konstruksi Sosial Gaya Hidup Vegetarian Di Kecamatan Jebres, Surakarta )

Teks penuh

(1)

Konstruksi Sosial Gaya Hidup Vegetarian

( Studi Fenomenologi Tentang Konstruksi Sosial Gaya Hidup Vegetarian Di Kecamatan Jebres, Surakarta )

Sabmafit Kazaena

sabmafitk@gmail.com

Nowadays many restaurants has concepts about vegetarian in Jebres, Surakarta describes some people do vegetarian lifestyle. The implication of vegetarian lifestyle appears because of social construction in Jebres Surakarta. This research aimed to know about social construction and effect of social contruction of vegetarian lifestyle to vegetarian lifestyle in Jebres, Surakarta. The research took place in Jebres, Surakarta. Theory used in the research was Modern Social Construction by Peter L. Berger dan Luckmann. This research included qualitative research with phenomenology approach. Data taken in the research used deep interview, observation and literature study. The researcher also used purposive sampling technique in taking samples. This research used Triangulation to validate the data then data analysis used was phenomenology approach analysis. The result shows that social contruction of vegetarian lifestyle in externalization raised knowledges about vegetarian lifestyle in nabati diatery pattern. Objectivation raised an attitude of vegetarian people for health, belief, and economics because of healthy and less expensive. On the other hand, an attitude of nonvegetarian people appeared because of some factors. They are health, allergy, diet, and belief about the level of healthy depended on the level of cost. Internalization raised an action of vegetarian people that felt peaceful, calm and patient did vegetarian lifestyle. In the contrast, the action of nonvegetarian people was done by some people while the others did not do because it effected bad influence.

Keywords: Social Construction, Lifestyle, Vegetarian.

A. PENDAHULUAN

Manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan. Kebutuhan hidup pokok manusia terdiri dari pangan (makan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal). Namun dalam setiap pemenuhan kebutuhan hidup manusia ini tidak selalu sama satu dengan manusia yang lain. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh budaya, ekonomi, agama, lingkungan, letak geografis wilayah dan waktu dalam mengkonsumi barang atau jasa tersebut.

(2)

Salah satu kebutuhan hidup dasar manusia yang perlu mendapatkan perhatian adalah kebutuhan akan pangan.Makanan atau pola makanan menjadi alat alamiah yang meyeleksi manusia atau pengelompokan manusia. Perbedaan kepemilikan sumber dan bahan makanan mengelompokkan manusia menjadi orang kaya dan orang miskin, variasi jenis makanan mengelompokkan manusia menjadi orang modern dan orang tradisional, serta perbedaan gaya hidup mengenai makanan mengelompokkan manusia menjadi manusia gaul atau tidak.

Berdasarkan pertimbangan ini, keberadaan makanan ternyata memberikan warna-warni kehidupan yang berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Makanan bukan lagi sekedar benda ekonomi yang “hampa makna”. Makanan justru merupakan identitas budaya yang tumbuh dan berkembang dalam tatanan kehidupan manusia. Dengan kata lain, bila dikaitkan dengan konteks sosial budaya, maka makanan itu ternyata mengandung makna yang lebih luas dibandingkan sekedar bahan konsumsi manusia (Sudarma, 2009: 157-158). Dari sosial budaya inilah kemudian melahirkan sebuah pola gaya hidup yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

Dewasa ini beberapa masyarakat Kecamatan Jebres sudah merubah gaya hidup dalam memenuhi kebutuhan akan makanan dan minuman menjadi seorang vegetarian. Vegetarian merupakan sebutan bagi orang yang hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari bahan sayur dan buah dan tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari mahluk hidup seperti daging, unggas, ikan atau hasil olahannya.

Pada 2009 Academy of Nutrition and Dietetics melakukan riset, dan dapat disimpulkan bahwa pola makan nabati berhubungan dengan rendahnya tekanan darah dan kolesterol. Pola makan ini juga mengurangi risiko terkena diabetes tipe2. Secara keseluruhan, pola makan ini mengurangi risiko kanker dan penyakit kronis lainnya. Namun, pola makan vegetarian mensyaratkan perencanaan yang matang. Pola makan yang tidak terencana menyebabkan pelakunya berisiko kekurangan nutrisi. (Padmasuri, 2015: 66-67).

(3)

Gaya hidup vegetarian ini menjadi sangat populer di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan, 23 juta orang di Amerika Serikat menjadikan pola makan yang menghindari produk makanan hewani ini sudah menjadi gaya hidup mereka (Padmasuri, 2015: 66). Masyarakat Kecamatan Jebressendiri yang beralih ke gaya hidup vegetarian sudah mulai banyak berkembang. Hal ini ditandai dengan banyak munculnya tempat rumah makan yang berkonsep vegetarian untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi para vegetarian di Kecamatan Jebres, Surakarta.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji tentang “Konstruksi Sosial Gaya Hidup Vegetarian di Kecamatan Jebres, Surakarta”.

B. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam metode kualitatif ini, penulis menggunakan pendekatan fenomenologi. Kata fenomenologi berasal dari kata Yunani fenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercakupan. Dalam bahasa Indonesia, biasanya dipakai istilah gejala. Jadi, fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomenon atau segala sesuatu yang menampakkan diri.

Lokasi penelitian ini berada di Kecamatan Jebres, Surakarta, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi ini sebagai tempat penelitian didasarkan karena mulai banyak berdirinya rumah makan dengan konsep vegetarian dibanding dengan Kecamatan lain yaitu rumah makan Korys, Maitri, dan Romakeri sebagai tempat pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat vegetarian di Kecamatan Jebres, Surakarta. Penelitian ini menggali data secara khusus pada masyarakat Kecamatan Jebres guna mendapatkan gambaran dan informasi tentang konstruksi sosial gaya hidup vegetarian pada masyarakat Kecamatan Jebres, selanjutnya dari hasil konstruksi tersebut bagaimana dampak konstruksi sosial gaya hidup vegetarian ini dalam kehidupan masyarakat Kecamatan Jebres.

(4)

Teknik pengambilan sampel yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan tujuan peneliti. Sampel diambil dengan pertimbangan bahwa sampel dianggap mengetahui terkait hal yang akan diteliti yaitu tentang permasalahan terkait gaya hidup vegetarian. Berdasarkan tujuan peneliti, maka dalam penelitian ini peneliti hanya mengambil sampel di 3 kelurahan yaitu Kelurahan Jebres, Kelurahan Kepatihan Kulon, dan Kelurahan Purwonidingratan. Hal ini berdasarkan hasil observasi yang menunjukkan adanya para vegetarian berada di wilayah tersebut.

Pada masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta yang akan dijadikan objek penelitian, penulis mengambil dua golongan yaitu masyarakat vegetarian dan masyarakat nonvegetarian dengan kriteria masing-masing usia produktif dan usia nonproduktif sehingga diharapkan dalam penelitian ini penulis mendapatkan variasi data.

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh secara langsung melalui observasi atau pengamatan langsung, wawancara, perekaman, pemotretan, dengan informan yang telah ditetapkan dan diperoleh melalui wawancara mendalam. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara indepth interview, pengamatan langsung di lapangan (observasi), dan studi literatur. Adapun validitas data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi data (sumber) yaitu pengumpulan data menggunakan beberapa sumber data untuk mengumpulkan data yang sama. Dengan mencari data yang sama untuk mencari kebenaran dari masalah dan mengecek kebenaran suatu informasi pada waktu dan alat yang berbeda. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisa data dalam pendekatan fenomenologi. Dalam pendekatan fenomenologi, telah ada metode analisis yang tersruktur dan spesifik yang dikembangkan oleh Moustakas.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat ditarik beberapa kajian menganai tahapan proses konstruksi sosial gaya hidup vegetarian di Kecamatan Jevberse, Surakarta yang terdiri dari proses eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi.

(5)

Penelitian ini didukung dengan yang digunakan yaitu teori konstruksi sosial yang dikembangkan oleh Berger dan Luckman. Di dalam teori ini terdapat pendapat bahwa Dalam hal ini manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang subyektif melalui tiga proses simultan yaitu eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Dari hasil ketiga proses simultan tersebut menghasilkan gambaran dari pengetahuan, sikap, dan tindakan dari masyarakat atas sebuah kenyataan yang dialami.

Gaya hidup vegetarian yang kini sedang berkembang di Kecamatan Jebres, Surakarta, bisa dikatakan merupakan hasil dari pengetahuan, sikap, dan tindakan. Berikut uraian dari ketiga proses simultan tersebut sebagai gambaran dari pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat Jebres, Surakarta atas gaya hidup vegetarian di Kecamatan Jebres, Surakarta.

a. Eksternalisasi

Eksternalisasi merupakan proses penyesuaian individu terhadap dunia sosio-kulturalnya melalui sosialisasi dari tindakan interaksi individu dengan lingkungan diluar dirinya yang menghasilkan produk sosial berupa kenyataan dan pengetahuan.

Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara yang dilakukan pada masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta dengan golongan informan masyarakat vegetarian maupun masyarakat nonvegetarian, proses eksternalisasi yang terbentuk sebagai pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta yaitu gaya hidup vegetarian merupakan gaya hidup dengan menerapkan pola makan tanpa ada unsur hewani seperti daging, ikan, dan telur maupun produk olahan turunannya. Jadi gaya hidup vegetarian merupakan gaya hidup dengan pola makan nabati, mereka hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Pengetahuan tentang gaya hidup vegetarian yang terbentuk oleh masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta tidak serta merta langsung tercipta begitu saja dalam pikiran mereka. Namun pengetahuan gaya hidup vegetarian diperoleh melalui hasil proses sosialisasi. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa masyarakat

(6)

vegetarian usia nonproduktif mengetahui tentang gaya hidup vegetarian melalui sosialisasi sekunder sedangkan untuk usia produktif mengetahui tentang gaya hidup vegetarian melalui sosialisasi primer. Adanya perbedaan sumber pengetahuan yang diperoleh dikarenakan masyarakat usia nonproduktif sebelumnya bukan seorang vegetarian kemudian mereka melakukan interaksi kepada lingkungannya yang memiliki ide gagasan tentang gaya hidup vegetarian dari sinilah akhirnya mereka mengetahui gaya hidup vegetarian melalui sosialisasi sekunder yang diperoleh dari hasil interaksi dengan teman maupun pacar. Sedangkan untuk masyarakat vegetarian usia produktif mengetahui gaya hidup vegetarian sejak mereka masih kecil melalui sosialisasi primer yang diperoleh dari ajaran yang bersumber dari anggota keluarga yang sebelumnya sudah menjalankan gaya hidup vegetarian.

Tetapi untuk masyarakat nonvegetarian baik untuk usia nonproduktif maupun usia produktif yang tidak menjalankan gaya hidup vegetarian, mereka sama-sama mengetahui gaya hidup vegetarian ketika usia dewasa melalui proses sosialisasi sekunder yang diperoleh dari saudara, teman dan tetangga mereka yang menjalankan gaya hidup vegetarian dalam kehidupan sehari-hari.

b. Obyektisasi

Objektivasi merupakan penyerapan atau pemaknaan hasil yang telah dicapai dari proses eksternalisasi melalui interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang kemudian dilembagakan dan dilegitimasi. Proses objektivasi dari pengetahuan tentang gaya hidup vegetarian yang dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta merupakan hasil penyerapan pengetahuan gaya hidup vegetarian dari proses eksternalisasi berdasarkan pengalaman individu yang membentuk pola pengetahuan yang bermakna dan dilembagakan serta dilegitimasi oleh masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya melalui sosialisasi. Sebagian dari pengetahuan yang telah diobjektivasi tadi dianggap relevan bagi semua orang, sebagian lagi hanya relevan bagi tipe-tipe orang tertentu saja. Maka dalam hal ini terdapat beragam pengetahuan yang telah diobjektivasi dari masyarakat vegetarian maupun masyarakat nonvegetarian di

(7)

Kecamatan Jebres, Surakarta yang mencerminan sikap masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta terhadap adanya gaya hidup vegetarian, yang memungkinkan bertahannya gaya hidup vegetarian dalam realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta.

Gambaran sikap yang terbentuk pada masyarakat vegetarian dan masyarakat nonvegetarian di Kecamatan Jebres, Surakarta sebagai hasil dari penyerapan atau pemaknaan pengetahuan pada proses obyektivasi yang dialami, dilihat berdasarkan pemahaman tentang kesehatan dan biaya atas gaya hidup vegetarian serta alasan dan manfaat dijalankannya gaya hidup vegetarian. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa adanya perbedaan pemaknaan pengetahuan yang dilembagakan dan dilegitimasi oleh masyarakat vegetarian dan masyarakat nonvegetarian hal tersebut dikarenakan adanya tipifikasi yang dilakukan oleh pelaku yaitu masyarakat vegetarian berdasarkan pengalaman mereka dalam menjalankan gaya hidup vegetarian di kehidupan sehari-hari sedangkan oleh masyarakat nonvegetarian tidak menjalankan gaya hidup vegetarian dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dari pengertian gaya hidup vegetarian dalam proses eksternalisasi yang dimiliki masyarakat vegetarian yaitu penerapan pola makan nabati tanpa ada unsur hewani maka oleh masyarakat vegetarian yang menjalankan gaya hidup vegetarian ini pola pengetahuan dipahami dari segi kesehatan sebagai gaya hidup menyehatkan karena gaya hidup vegetarian hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian yang mereka anggap jauh lebih baik gizinya daripada daging, ikan, dan telur. Sedangkan untuk biaya atas gaya hidup vegetarian tergolong murah karena harga untuk sayur, buah, dan kacang-kacangan lebih terjangkau daripada harga untuk daging, telur, dan ikan. Tetapi untuk makanan beku vegetarian tertentu seperti bakso vegan, ham vegan, udang vegan, dan lain-lain tergolong mahal hal ini dikarenakan beberapa faktor. Pertama, proses pembuatannya yang lama dan rumit serta dibutuhkan tenaga ahli untuk bisa mengolah bahan dasar yang berasal dari tumbuhan seperti serat gandum, jamur, dan rumput laut diolah menjadi pengganti

(8)

yang menyerupai daging. Kedua makanan beku ini tidak diproduksi di Indonesia dan harus didatangkan impor dari luar negeri sehingga menjadikan harga untuk makanan beku sebagai pengganti daging vegan tergolong mahal.

Penyerapan pengetahuan dari proses eksternalisasi tidak hanya berhenti pada pemahaman kesehatan dan biaya atas gaya hidup vegetarian tetapi juga berlanjut pada alasan serta manfaat dari adanya gaya hidup vegetarian ini. Bagi masyarakat vegetarian terdapat 4 alasan dalam menjalankan gaya hidup vegetarian dalam kehidupan sehari-hari yaitu pertama, untuk alasan kesehatan karena banyak dari mereka sebelum menjalankan gaya hidup vegetarian ini mengidap penyakit tertentu yang mengharuskan merubah gaya hidup mereka menjadi vegetarian untuk memperoleh kesehatan. Kedua, untuk alasan ekonomi yang lebih hemat karena gaya hidup vegetarian menerapkan pola makan nabati yaitu hanya mengkonsumsi sayuran dan buah yang harganya lebih murah dibanding harga makanan yang berasal dari hewani seperti daging, ikan, dan telur yang menjadikan pengeluaran lebih sedikit sehingga bisa lebih berhemat. Ketiga, alasan keturunan hal ini terjadi pada masyarakat vegetarian usia produktif yang anggota keluarga sebelumnya merupakan seorang vegetarian sehingga oleh keluarga penanaman nilai tentang gaya hidup vegetarian diteruskan kepada generasi penerusnya yang dilakukan sejak kecil. Penanaman nilai yang kuat ini akhirnya menjadikan si anak menerima dan menjalankan gaya hidup vegetarian tersebut. Keempat, yaitu sebagai bentuk mengasihi terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan yaitu dengan tidak membunuh, menyakiti, bahkan memakan bagian dari hewan.

Kemudian yang didasarkan manfaat pada gaya hidup vegetarian, sikap yang terbentuk pada masyarakat vegetarian yaitu jarang terkena sakit karena dengan hanya mengkonsumsi makanan nabati seperti sayuran, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan sehingga hidup menjadi lebih sehat; gaya hidup vegetarian bermanfaat juga untuk mengurangi pemanasan global yang disebabkan oleh kotoran hewan, tempat peternakan maupun tempat pemotongan hewan yang membutuhkan energi listrik yang besar sehingga gaya hidup vegetarian yang tidak mengkonsumsi makanan dari hewani merupakan alternatif dalam menjaga

(9)

lingkungan. Manfaat terakhir yang dirasakan adalah lebih bisa berhemat, biaya atas gaya hidup vegetarian yang tergolong murah karena hanya mengkonsumsi makanan nabati seperti sayur dan buah menjadikan pengeluaran lebih sedikit dan ini artinya bagi mereka yang menjalankan sekaligus sebagai sarana untuk berhemat.

Sikap terhadap gaya hidup vegetarian tidak hanya terbentuk pada masyarakat yang menjalankannya yaitu masyarakat vegetarian, tetapi juga dialami oleh masyarakat nonvegetarian yaitu masyarakat yang tidak menjalankan gaya hidup vegetarian sebagai anggota masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta dalam satu dunia yang intersubyektif. Gambaran sikap terhadap gaya hidup vegetarian yang dialami masyarakat nonvegetarian, dilihat berdasarkan pemahaman tentang pola pengetahuan kesehatan dan biaya atas gaya hidup vegetarian. Pola pengetahuan untuk kesehatan ada dua macam yaitu pertama, gaya hidup vegetarian merupakan gaya hidup sehat karena dengan pola makan yang hanya mengkonsumsi dari nabati sayur dan buah maka tubuh akan menjadi lebih sehat dan terhindar dari penyakit yang berasal dari makanan hewani. Kedua, gaya hidup vegetarian merupakan gaya hidup tidak sehat, pola makan yang hanya mengkonsumsi nabati tanpa ada unsur hewani dimaknai sebagai pola makan yang tidak memenuhi gizi dan nutrisi 4sehat 5sempurna sehingga tidak sehat dan buruk untuk kesehatan. Sedangkan untuk pola pengetahuan biaya gaya hidup vegetarian juga ada 2macam pertama, biaya atas gaya hidup vegetarian tergolong murah pemaknaan tersebut didasari oleh pengertian gaya hidup vegetarian yang hanya mengkonsumsi makanan nabati sedangkan untuk harga makanan nabati seperti sayur dan buah tergolong murah dibanding makanan hewani seperti daging, ikan, dan telur dari sinilah maka biaya atas gaya hidup vegetarian dimaknai sebagai gaya hidup yang murah. Kedua, biaya gaya hidup vegetarian mahal. Pemaknaan tersebut didasari gaya hidup vegetarian yang tidak mengkonsumsi unsur hewani dan sebagai pengganti daging, ikan dan telur para vegetarian mengkonsumsi makanan beku yaitu daging vegetarian sebagai pengganti daging yang terbuat dari unsur nabati dengan harga jauh lebih mahal jika dibanding dengan harga daging yang terbuat

(10)

dari daging hewani asli. Hal inilah yang membuat gaya hidup vegetarian menjadi mahal.

Pola yang terbentuk pada masyarakat nonvegetarian tidak hanya terhenti pada pemahaman tentang kesehatan dan biaya atas gaya hidup vegetarian tetapi juga berlanjut pada pemaknaan alasan dan manfaat dari gaya hidup vegetarian yang mereka lembagakan dan legitimasi. Bagi masyarakat nonvegetarian terdapat 4 alasan dijalankannya gaya hidup vegetarian dalam kehidupan sehari-hari yaitu, untuk menjaga dan meingkatkan kesehatan, sebagai sarana diet untuk mendapatkan berat badan yang ideal, adanya perintah dari suatu keyakinan ataupun agama tertentu, adanya suatu penyakit atau alergi tertentu terhadap makanan hewani. Selanjutnya sikap yang terbentuk dari obyektivasi yang dialami, berdasarkan dari adannya manfaat gaya hidup vegetarian terdapat 2 macam pemaknaan yaitu pertama ada manfaat seperti hidup menjadi lebih sehat dengan pola makan mengkonsumsi sayur dan buah yang sehat untuk tubuh, jarang terkena penyakit yang disebabkan oleh makanan hewani seperti kolesterol, diabetes, dan lain-lain, serta lebih awet muda. Kedua tidak ada manfaat, hal ini dikarenakan pola makan gaya hidup vegetarian yang hanya mengkonsumsi makanan nabati tanpa hewani dianggap kurang sehat memenuhi 4sehat 5sempurna yang masih membutuhkan nutrisi dari unsur hewani, dan tidak mengetahui manfaat dari adanya gaya hidup vegetarian, serta gaya hidup vegetarian dianggap sama saja dengan gaya hidup nonvegetarian yang ini artinya tidak ada manfaat lebih yang bisa dirasakan dari gaya hidup vegetarian.

c. Internalisasi

Internalisasi merupakan peresapan kembali realitas oleh manusia dan mentransformasikannya kembali dari struktur-struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subjektif. Baru setelah mencapai taraf internalisasi ini, individu menjadi anggota masyarakat.

Proses internalisasi yang dialami oleh masyarakat Kecamatan Jebres digambarkan melalui tindakan atas gaya hidup vegetarian. Adanya dua kriteria pada masyarakat Kecamatan Jebres yaitu masyarakat vegetarian dan masyarakat

(11)

nonvegetarian menjadikan proses internalisasi yang ditransformasikan kedalam struktur kesadaran subyektif mereka berbeda. Tindakan masyarakat vegetarian atas gaya hidup vegetarian bisa dilihat dari keyakinan yang mereka ungkapkan dalampenerapan gaya hidup vegetarian di kehidupan sehari-hari dan keyakinan apabila mereka tidak menjalankan gaya hidup vegetarian serta kesulitan yang mereka rasakan ketika menjalankan gaya hidup vegetarian.

Internalisasi yang dialami oleh masyarakat vegetarian yaitu setelah melakukan penerapan gaya hidup vegetarian di dalam kehidupan sehari-hari mereka timbul keyakinan akan adanya perasaan hidup menjadi lebih sehat, sabar tidak mudah emosi, tenang, dan damai jika dilakukan karena tidak mengkonsumsi makanan hewani yang menyebabkan penyakit. Namun apabila gaya hidup vegetarian ini tidak dijalankan maka mereka akan merasa sakit seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, kolesterol naik, dan lain sebagainya. Dari penerapan gaya hidup ini sebagian para vegetarian mengaku mengalami kesulitan yaitu mencari tempat makan vegetarian diluar rumah karena tidak semua makanan yang dijual merupakan makanan vegetarian dan kebanyakan dicampur dengan unsur hewani, serta masih adanya keinginan untuk mengkonsumsi makanan yang terbuat dari unsur hewani sehingga dirasa menjadi kesulitan tersendiri dalam menjalankan gaya hidup vegetarian di kehidupan sehari-hari. Namun tidak jarang, sebagian mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan gaya hidup vegetarian. Hal ini didasarkan adanya niat yang kuat dan ikhlas dalam diri mereka, sehingga tidak merasakan beban dan kesulitan entah itu kesulitan yang datangnya dari luar maupun kesulitan yang datangnya dari dalam diri mereka sendiridalam menjalankan gaya hidup vegetarian.

Sedangkan internalisasi yang dialami oleh masyarakat nonvegetarian, dapat dilihat dari partisipasi mereka dalam mengungkapkan makna atas gaya hidup vegetarian yang diindikasi oleh penilaian tindakan gaya hidup vegetarian dan ketertarikan mereka terhadap gaya hidup vegetarian ini. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa sebagian masyarakat nonvegetarian tertarik untuk bisa menjalankan gaya hidup vegetarian. Hal ini

(12)

didasarkan oleh penilaian masyarakat nonvegetarian atas perilaku gaya hidup vegetarian sebagian menganggap positif sebagai gaya hidup yang baik, dilihat dari segi kesehatan gaya hidup vegetarian dianggap mampu menjaga dan meningkatkan kesehatan karena jarang terkena penyakit, sedangkan dilihat dari orang yang menjalankan gaya hidup vegetarian adanya sikap patuh dan taat pada agamanya dalam menjalankan kaidah keyakinan untuk menerapkan gaya hidup vegetarian serta terlihat awet muda. Namun sebagian masyarakat nonvegetariannya lagi tidak tertarik untuk menjalankan gaya hidup vegetarian ini. Hal tersebut didasarkan penilaian mereka yang menggangap bahwa gaya hidup vegetarian merupakan gaya hidup yang biasa saja bahkan tergolong tidak mampu meningkatkan dan menjaga kesehatan karena hanya mengkonsumsi makanan nabati tanpa ada unsur hewani sehingga akan kesulitan dalam menerapkan di kehidupan sehari-hari, terlebih tidak semua makanan diluar tidak mengandung unsur hewani.

D. KESIMPULAN

Pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta atas gaya hidup vegetarian adalah sebuah gaya hidup dengan menerapkan pola makan tanpa mengkonsumsi makanan dari unsur hewani seperti daging, ikan, dan telur maupun produk olahan turunannya. Jadi gaya hidup vegetarian merupakan gaya hidup dengan pola makan nabati, mereka hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Pemahaman tersebutlah yang akhirnya menjadi suatu pengetahuan yang dimiliki masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta atas gaya hidup vegetarian yang dipegang sejauh ini.

Dari pengetahuan yang dialami secara bersama, kemudian oleh masyarakat Kecamatan Jebres, Surakarta pengetahuan tersebut diobyektivasi melalui pelembagaan dan legitimasi yang menghasilkan sebuah pola makna dari gaya hidup vegetarian.. Sehingga pada proses simultan obyektivasi pemahaman masyarakat tentang gaya hidup vegetarian tidak hanya sebatas sebagai pola makan

(13)

nabati dan tidak mengkonsumsi makanan yang berunsur hewani tetapi dimaknai lebih dari itu, yakni oleh masyarakat vegetarian dimaknai sebagai pola hidup yang menyehatkan karena hanya mengkonsumsi makanan nabati sehingga jarang terkena penyakit yang disebabkan oleh makanan hewani, dengan biaya yang murah karena harga bahan nabati jauh lebih murah dibanding dengan makanan hewani tetapi teruntuk makanan beku sebagai pengganti daging harganya jauh lebih mahal hal ini dikarenakan proses pembuatannya yang rumit dan panjang serta dibutuhkan tenaga ahli untuk bisa membuatnya sehingga banyak makanan beku didatangkan dari luar negri karena tidak diproduksi dalam negri. Sehingga gaya hidup vegetarian dilakukan dengan maksud untuk hidup lebih hemat, meningkatkan dan menjaga kesehatan, mengasihi sesama makhluk ciptaan Tuhan dengan tidak menyiksa, membunuh, dan memakan makanan dari hewan, serta mengurangi pemanasan global yang disebabkan akibat proses pengolahan makanan hewani.

Namun hasil obyektivasi yang dialami masyarakat vegetarian berbeda dengan masyarakat nonvegetarian. Sebagian masyarakat nonvegetarian memaknai gaya hidup vegetarian sebagai gaya hidup sehat dengan biaya hidup yang murah karena pola makan nabati lebih dirasa sehat dengan harga yang lebih murah dibanding makanan yang berasal dari hewani yang justru sumber dari adanya penyakit dan harganya yang jauh lebih mahal. Sehingga alasan dilakukannya gaya hidup vegetarian karena alasan kesehatan, diet, suatu keyakinan, maupun alergi untuk memperoleh manfaat lebih sehat, jarang sakit, dan awet muda.

Sedangkan sebagian masyarakat nonvegetariannya lagi memaknai sebagai gaya hidup yang tidak sehat karena pola makan nabati yang tidak sesuai dengan pola makan 4sehat5sempurna dimana masih dibutuhkannya unsur dari hewani sehingga dianggap tidak mampu memenuhi gizi dan nutrisi dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan. Biaya atas gaya hidup vegetarian juga dipahami dengan biaya yang mahal, karena harga makanan pengganti daging lebih mahal dibanding harga daging hewan asli. Sehingga dalam hal ini gaya hidup vegetarian dianggap sama saja bahkan tidak memiliki manfaat yang lebih. Sikap inilah yang menjadi

(14)

sebuah pemahaman yang melekat pada masyarakat vegetarian dan nonvegetarian atas adanya gaya hidup vegetarian di Kecamatan Jebres, Surakarta.

Setelah melalui proses simultan eksternalisasi dan obyektivasi, selanjutnya adalah proses simultan internalisasi sebagai gambaran dari tindakan masyarakat Kecamatan Jebres terhadap gaya hidup vegetarian. Adanya dua kriteria pada masyarakat Kecamatan Jebres yaitu masyarakat vegetarian dan masyarakat nonvegetarian menjadikan proses internalisasi yang ditransformasikan kedalam struktur kesadaran subyektif mereka berbeda. Internalisasi yang dialami oleh masyarakat vegetarian yaitu setelah melakukan penerapan gaya hidup vegetarian di dalam kehidupan sehari-hari mereka timbul keyakinan akan adanya perasaan hidup menjadi lebih sehat, sabar tidak mudah emosi, tenang, dan damai jika dilakukan karena tidak mengkonsumsi makanan hewani yang menyebabkan penyakit. Namun apabila gaya hidup vegetarian ini tidak dijalankan maka mereka akan merasa sakit seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, kolesterol naik, dan lain sebagainya. Dari penerapan gaya hidup ini sebagian para vegetarian mengaku mengalami kesulitan yaitu mencari tempat makan vegetarian diluar rumah karena tidak semua makanan yang dijual merupakan makanan vegetarian dan kebanyakan dicampur dengan unsur hewani, serta masih adanya keinginan untuk mengkonsumsi makanan yang terbuat dari unsur hewani sehingga dirasa menjadi kesulitan tersendiri dalam menjalankan gaya hidup vegetarian di kehidupan sehari-hari. Namun tidak jarang, sebagian mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan gaya hidup vegetarian. Hal ini didasarkan adanya niat yang kuat dan ikhlas dalam diri mereka, sehingga tidak merasakan beban dan kesulitan entah itu kesulitan yang datangnya dari luar maupun kesulitan yang datangnya dari dalam diri mereka sendiridalam menjalankan gaya hidup vegetarian.

Sedangkan internalisasi yang dialami oleh masyarakat nonvegetarian, dapat dilihat dari partisipasi mereka dalam mengungkapkan makna atas gaya hidup vegetarian yang diindikasi oleh penilaian tindakan gaya hidup vegetarian dan ketertarikan mereka terhadap gaya hidup vegetarian ini. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa sebagian masyarakat

(15)

nonvegetarian tertarik untuk bisa menjalankan gaya hidup vegetarian. Hal ini didasarkan oleh penilaian masyarakat nonvegetarian atas perilaku gaya hidup vegetarian sebagian menganggap positif sebagai gaya hidup yang baik, dilihat dari segi kesehatan gaya hidup vegetarian dianggap mampu menjaga dan meningkatkan kesehatan karena jarang terkena penyakit, sedangkan dilihat dari orang yang menjalankan gaya hidup vegetarian adanya sikap patuh dan taat pada agamanya dalam menjalankan kaidah keyakinan untuk menerapkan gaya hidup vegetarian serta terlihat awet muda. Namun sebagian masyarakat nonvegetariannya lagi tidak tertarik untuk menjalankan gaya hidup vegetarian ini. Hal tersebut didasarkan penilaian mereka yang menggangap bahwa gaya hidup vegetarian merupakan gaya hidup yang biasa saja bahkan tergolong tidak mampu meningkatkan dan menjaga kesehatan karena hanya mengkonsumsi makanan nabati tanpa ada unsur hewani sehingga akan kesulitan dalam menerapkan di kehidupan sehari-hari, terlebih tidak semua makanan diluar tidak mengandung unsur hewani.

E. DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku

Adlin, Alfahtri, dkk. 2006. “RESISTENSI GAYA HIDUP (Teoridan Realitas)”. Yogyakarta: Jalasutra.

Afifuddin & Beni Ahmad Saebani. 2012. “Metodologi Penelitian Kualitatif”. Bandung: CV Pustaka Setia.

Akhmad, Syaefudin Ali; Kurnia Resi; KurniaWibisono. 2014. “Healthy Street Food”. Yogyakarta: Citra Media Pustaka.

Anggen, Monica. 2012. “Cara Instan Sehat ala Vegetarian”. Jakarta: New Agogos.

Basrowi. 2005. “Pengantar Sosiologi”. Bogor: Ghalia Indonesia.

Berger, Peter L and Thomas Luckmann. 2013. Tafsir Sosial atas Kenyataan Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan”, alih bahasa oleh Hasan Basari. Jakarta: LP3ES.

(16)

Cahyono, J.B Suharjo B. 2008. “Gaya Hidup & Penyakit Modern”. Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS.

Creswell, John. W. 2015. “Penelitian Kualitatif & Desain Riset”, alih bahasa oleh Ahmad Lintang Lazuardi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kus Irianto dan KusnoWaluyo. (2004). Gizi dan Pola Hidup Sehat. Bandung: CV. Yrama Widya.

Islafatun, Nor. 2015. “RAW FOOD DIET Jalan Menuju Hidup Sehat” Yogyakarta: Literindo.

Padmasuri, Karina. 2015. “I am A Happy Vegetarian”. Yogyakarta: OCTOPUS Publishing House.

Putra, Nusa. 2013. “Penelitian Kualitatif IPS”. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Slamet, Yulius. 2006. “Metode Penelitian Sosial”. Surakarta: Sebelas Maret

University Press.

Sudarma, Momon. 2009. “Sosiologi Kesehatan”. Jakarta: Salemba Medika. Sugiyono. 2014. “Memahami Penelitian Kualitatif”. Bandung: Alfabeta.

Sunarto, Kamanto. 2004. “Pengantar Sosiologi”. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Supardjo, ArioPurba. 2010. “Gaya Hidup Komunitas Punk Parakan”. Tesis: Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Susianto. 2014. “Vegan itu Mudah”. Jakarta: Noura Books.

Wang, Andri. 2014. “Hidup Sehat dan Panjang Umur”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wirawan, Ida Bagus. 2012 . “TEORI-TEORI SOSIAL Dalam Tiga Paradigma”. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Penelitian Terdahulu

Suryani, Patricia. 2012. “Kontruksi sosial atas buruh tani perempuan di masyarakat desa”. Skripsi Program S1, Prodi Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta (tidak diterbitkan).

(17)

Vegetarian Utopias: Visions of dietary patterns in future societies and support for social change. 2015. Futures 71 (2015) 57–69. Diakses tanggal 04 November 2015, dari www.elsevier.com/locate/futures.

Health Aspects of Vegetarian Diets. 1988. Am J Clin Nutr l988;48:712-38. Diakses tanggal 27 Oktober 2015, dari http://ajcn.nutrition.org.

Pola Konsumsi Masyarakat Perkotaan (Studi Deskriptif Pemanfaatan Foodcourt oleh Keluarga. BioKultur, Vol.I/No.2/Juli- Desember 2112, hal. 157-178. Diakses tanggal 14 Desember 2015, dari http://journal.unair.ac.id

Website

Artikel Penduduk Usia Produktif dan Ketenagakerjaan terdapat dalam http://kepri.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=144 Diakses tanggal 04 Desember 2015.

Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik: Memahami Teori Konstruksi Sosial. “Proses Sosial Momen Ekternalisasi, Objektivasi, Internalisasi”, Volume 21, Nomor 3:221-230. Diakses tanggal 25 Oktober 2015, dari http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article& id=119:memahami-teori-konstruksi-sosial&catid=34:mkp&Itemid=62

Konsep konstruksi sosial terdapat

dalamhttp://argyo.staff.uns.ac.id/2013/04/10/teori-konstruksi-sosial-dari-peter-l-berger-dan-thomas-luckman/#more-415Diakses tanggal 25 Oktober 2015.

Peranan Pola Hidup Sehat terhadap Kebugaran Jasmani (Suryanto). “Pengertian pola hidup sehat” tersedia di http://www.scribd.com/doc/94400497/5- Peranan-Pola-Hidup-Sehat-Terhadap-Kebugaran-Jasmani-Medikora-Oktober 2011#scribdDiakses 14 Oktober 2015.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :