• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. : Spermatophyta. : Angiospermae. : Elaeis guenensis Jacq

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. : Spermatophyta. : Angiospermae. : Elaeis guenensis Jacq"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kelapa Sawit

2.1.1 Sistematika Tanaman Kelapa Sawit

Menurut Fauzi, dkk (2005), tanaman kelapa sawit berdasarkan taksonominya diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Klass : Angiospermae Sub Klass : Monocotyledonae Ordo : Graminae

Famili : Graminaceae Genus : Elaeis

Species : Elaeis guenensis Jacq

Menurut Setymidjaja (1991), pertumbuhan kelapa sawit dibedakan atas dua fase pertumbuhan yaitu fase pertumbuhan vegetative dan fase pertumbuhan generative. Fase pertumbuhan vegetative meliputi pembentukan akar, batang, dan daun, sedangkan fase pertumbuhan generative meliputi pembentukan bunga dan buah.

(2)

2.1.2 Botani dan Morfologi Kelapa Sawit a. Akar

Kelapa sawit termasuk sebagai sumber tumbuhan monokotil, mempunyai akar serabut. Akar pertama yang muncul dari biji yang berkecambah disebut akar serabut. Akar pertama yang muncul dari biji yang berkecambah disebut raikula (bakal akar) dan plumula (bakal batang). Selanjutnya akar ini akan mati dan kemudian disusul dengan tumbuhnya sejumlah akar yang berasal dari pangkal batang, akar ini disebut akar serabutatau radix adventicia (Mardiana, 2007).

Akar primer tumbuh ke bawah sampai kedalam 1,5 m, pertumbuhan kesamping akar ini sampai + 6 m dari pangkal pohon. Jumlah terbanyak terdapat pada jarak 2-2,5 m dari pohon dan pada kedalaman 20-25 cm. Akar yang paling aktif menyerap air dan unsure hara adalah akar tersier dan akar kuarter yang berada pada kedalaman 0-60 cm dan jarak 2-2,5 m dari pangkal pohon (Maridana,2007)

b. Batang

Pada batang kelapa sawit memiliki cirri yaitu tidak memiliki cambium dan umumnya tidak bercabang.Pada pertumbuhan awal setelah pafe muda terjadi pembentukan batang yang melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia.Batang tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai struktur pendukung tajuk (daun, bunga, dan buah).Umur ekonomis tanaman sangat dipengaruhi oleh pertambahan tinggi batang/tahun.Semakin rendah pertambahan tinggi batang, semakin panjang umur ekonomis tanaman kelapa sawit (Sunarko, 2007).

(3)

c. Daun

Daun merupakan pusat produksi energi dan bahan makanan bagi tanaman.Bentuk daun, jumlah daun dan susunannya sangat berpengaruhi terhadap tangkap sinar matahari.Pada daun tanaman kelapa sawit memiliki cirri yaitu membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap, dan bertulang sejajar.Pohon kelapa sawit yang normal biasanya memiliki sekitar 40-50 pelepah daun.Pertumbuhan pelepah daun pada tanaman muda yang berumur 5-6 tahun mencapai 30-40 helai, sedangkan pada tanaman yang lebih tua antara 20-25 helai.Semakin pendek pelepah daun maka semakin banyak populasi kelapa sawit yang dapat ditanam persatuan luas sehingga semakin tinggi produktifitas hasilnya per satuan luas tanaman (Lubis dan Agus 2011).

d. Bunga

Tanaman kelapa sawit mulai berbunga pada umur 12-14 bulan, tetapi baru ekonomis untuk dipanen pada umur 2,5 tahun (Lubis, 2008). Pada tanaman kelapa sawit terdapat “cyclus” pembentukan jenis kelamin bunga. Cyclus karangan bunga betina berlangsung selama kurung waktu 3-6 bulan, lalu istirahat 3 bulan yang kemudian dilanjutkan dengan cyclus pembentukan karangan bunga jantan. Cyclus ini tidak bermusim karena itu karangan bunga dan jantan muncul pada waktu bersamaan pada pohon yang berbeda (P.Sembiring,2010).

e. Buah

Buah kelapa sawit termasuk buah batu dengan cirri yang terdiri atas tiga bagian , yaitu bagian luar (epicarpium) disebut kulit luar, lapisan tengah (mesocarpium) atau disebut daging buah, mengandung minyak kelapa sawit yang disebut crude palm oil (CPO), dan lapisan dalam (endocarpium) disebut inti, mengandung minyak inti yang disebut PKO atau Palm Karnel Oil.

(4)

Proses pembentukan buah sejak pada saat penyerbukan sampai buah matang kurang lebih 6 bulan. Dalam 1 tandan terdapat lebih dar 2000 buah (Risza, 1994).

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit

Sebagai tanaman yang dibudidayakan, tanaman kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat berproduksi secara maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain keadaan iklim dan tanah. Selain itu, factor genetis, perlakuan budidaya, dan penerapan teknologi.

Kondisi iklim dan cuaca merupakan faktor yang sulit dikelola, sedangkan kondisi tanah, pengelolaan tanaman, dan topografi merupakan faktor iklim dan faktor tanah mutlak harus diperhitungkan.(Vademikum PTPN III, 2003).

2.2.1 Iklim

Kondisi iklim yang sesuai dalam syarat tumbuh tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq), yaitu Penyinaran matahari, suhu, curah hujan.

a. Penyinaran Matahari

Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit di Sumatera Utara terkenal baik karena berkat iklim yang sesuai yaitu lama penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan yang cukup. Umumnya turun pada sore atau malam hari.

b. Suhu

Suhu merupakan factor penting untuk pertumbuhan dan hasil kelapa sawit.Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa sawit berada antara 25-27 0C, yang menghasilkan banyak tandan.Variasi suhu yang baik

(5)

jangan terlalu tinggi.Semakin besar variasi suhu semakin rendah hasil yang diperoleh.Suhu, dingin dapat membuat tandan bunga mengalami merata sepanjang tahun.

c. Curah Hujan dan Kelembaban

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropik, dataran rendah yang panas, dan lembab.Curah hujan yang baik adalah 2.500-3.000 mm per tahun yang turun merata sepanjang tahun.Daerah pertanaman yang ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah dataran rendah yakni antara 200-400 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tempat lebih 500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan kelapa sawit ini akan terhambat dan produksinya pun akan rendah.

d. Angin

Kecepatan angin 5-6 km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan. Angin yang terlalu kencang akan menyebabkan tanaman baru doyong dan miring.

2.2.2 Tanah

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti podolik,

latosolHidromorfik kelabu (HK), Reganol, Andosol, Organosol dan

Allavial.Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung pada karakter lingkungan fisik tempat pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan.Kesesusaian tanah untuk bercocok tanam kelapa sawit ditentukan oleh dua hal, yaitu sifat-sifat fisis dan kimia tanah.

a. Sifat kimia tanah

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada tanah pH 4,0-6,5 dan pH optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang memiliki pH rendah biasanya

(6)

dijumpai pada daerah pasang surut, terutama tanah gambut.Tanah organosol atau gambut mengandung lapisan yang terdiri atas lapisan mineral dengan lapisan bahan organik yang belum terhumifikasi lebih lanjut memiliki pH rendah.

b. Sifat fisik tanah

Pertumbuhan kelapa sawit yang baik pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam dan mempunyai drainase yang baik, tanah gembur, subur, permeabilitas sedang, dan lapisan padas tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah.Tanah yang baik bagi pertumbuhan juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alamiah maupun hara tambahan.Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal.Dalam menentukan batas-batas yang tajam mengenai kesesuaian sifat fisis tanah di anatara tipe-tipe tanah meman relative sulit.

2.3 Pembibitan Kelapa Sawit 2.3.1 Pengertian Pembibitan

Pembibitan merupakan kegiatan awal di lapangan yang harus dimulai paling lambat satu tahun sebelum penanaman di lapangan.Standar yang biasa dilakukan adalah pembibitan 1 ha kelapa sawit untuk menyediakan bibit tanaman di kebun seluas 71 ha.

Lokasi pembibitan harus mendapat perhatian terutama hal-hal sebagai berikut: (1). Dekat dengan sumber air

(2). Bebas genangan air atau banjir

(3). Dekat dari pengawasan mudah dikunjungi (4). Tidak jauh dari areal yang ditanami

(5). Tidak terlalu jauh dengan sumber tanah (top soil) untuk mengisi polybag (Ningsih, 2009)

(7)

Untuk memperoleh bibit yang berasal dari biji dapat dilakukan dengan mengusahakan sendiri atau memesan ke produsen resmi bibit kelapa sawit yang telah ditunjuk pemerintah.

Kegiatan mengusahakan bibit kelapa sawit dimulai dengan melakukan seleksi biji, mengecambahkan, menyemai, dan membibitkannya (Ningsih, 2009).

2.3.2 Sistem Pembibitan

Pada dasarnya dikenal dua sistem pembibitan yaitu sistem pembibitan ganda (double stage system).Pada penerapan system tahap ganda, penanaman bibit dilakukan sebanyak dua kali.Tahap pertama disebut pembibitan pendahuluan, yaitu kecambah ditanam dengan menggunakan plastik polibag kecil sampai bibit berumur 3 bulan, kemudian tahap kedua bibit tersebut ditanam ke pembibitan utama yang menggunakan plastik polibag besar selama 9 bulan.Pada system pembibitan tahap tunggal, bibit langsung ditanam didalam plastik polibag besar hingga berumur 12 bulan tanpa harus ditanam didalam plastik polibag kecil. Pada prinsipnya sistem manapun yang dipilih tujuannya sama, yaitu untuk menghasilkan bibit yang berkualiatas dengan daya tahan tinggi dan kemapuan adaptasinya yang besar sehingga factor kematian bibit di pembibitan dan setelah di lapangan dapat ditekan. Pekerjaan yang dilakukan pada pembibitan ini meliputi: Pembuatan pembibitan awal (0-3 bulan), meliputi pekerjaan : Persiapan lahan dan perataan lahan, pengadaan alat dan bahan, pembuatan naungan, pembuatan jaringan irigasi dan penanaman. Pembuatan pembibitan utama (3-9 bulan), meliputi pekerjaan : persiapan lahan dan perataan lahan, pengadaan alat dan bahan, pemindahan tanaman dari plastik kecil ke plastik besar, Pengaturan jarak. Pemeliharaan tanaman meliputi : pemupukan, penyiraman, pengendalian hama penyakit, penyiangan gulma dan seleksi bibit.

(8)

2.4 Tumbuhan Kayambang (Salvinia molesta) 2.4.1 Sistematika Kayambang

Menurut Pancho dan Soerjani ( 1978), berdasarkan sistematika tumbuhan kayambang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisio : Pteridophyta Class : Pterophyta Sub class : Salviniaceae Ordo : Salviniaceae Genus : Salvinia

Species : Salvinia molesta D.S Mitchell

Kayambang mempunyai batang yang tumbuh menjalar, pada setiap bukunya terdapat sepasang daun yang mengapung (floating leaves) dan satu daun berada di bawah permukaan air (Sub Mergent Leaf) menggantung dalam air dan membentuk serabut seperti akar. Batang Kayambang merupakan suatu rhizome horizontal dan mengapung tepat dibawah permukaan air (Mitchell, 1979).

Daun kayambang mengandung banyak jaringan parenkim.Daunnya berselang, bagian pangkal daun berlekuk seperti jantung, daun yang mengapung (tidak mudah terbasahi air, berbentuk elips dan lebarnya tidak melebihi 3 cm. Permukaan atas daun ditutupi papillae, yang terdiri atas empat buah yang bersatu pada ujung.Permukaan bawah dari daun ini gundul, kecuali pada tulang daun terdapat rambut-rambut yang sederhana bentuknya (Wati, 2007).

2.4.2 Masa Pertumbuhan Kayambang

Pertumbuhan kayambang terdiri atas tiga stadium. Pada stadium pertama daunnya kecil-kecil kurang lebih 1,5 cm, mengapung sejajar dengan permukaan air. Ruas-ruas batang cukup panjang. Batang mudah patah dan cepat berkembang

(9)

biak karena masing-masing potongan mampu tumbuh membentuk individu baru (Mitchell, 1979). Pada stadium ke dua daun-daun berukuran lebar >2 cm. Bentuk daun seperti perahu terbalik dengan bagian atas bulat.

Kayambang tidak mampu memperbanyak diri secara seksual. Kayambang membentuk sporokarp, tetapi perkembangbiakan melalui spora tidak memungkinkan karena perumbuhan spora-spora makro tidak sempurna (Nguyen, 1974 dalam Wati, 2007)

2.5 Bokashi

2.5.1 Pengertian Bokashi

Pada tahun 1980, Prof. Tervo Higa dari universitas Ryuku di Okinawa Jepang memperkenalkan konsep efektive mikroorganisme kepada pertanian alami yang kemudia popular dengan sebutan EM4 (Wati, 2007)

Evektive Mikroorganisme4 merupakan kultur campuran dari berbagai

mikroorganisme yang terkandung dalam EM4, yaitu bakteri fotosintetik

(fototrofik) bakteri asam laktat, ragi, actinomycetes dan jamur fermentasi (Departemen Pertanian, 1997).

Pupuk Bokashi adalah kompos yang di fermentasikan oleh EM4 yang dapat

dibuat dalam beberapa hari. Bokashi merupakan teknologi yang murah, tepat guna dan mudah untuk dilaksanakan pada tingkat petani, dengan memanfaatkan seluruh sumber daya alam di lingkungan pertanian (Departemen Pertanian, 1997)

2.5.2 Bahan-Bahan Bokashi

Bokashi Kayambang memerlukan bahan untuk menghasilkan pupuk yang sempurna, yaitu : Tanaman Kayambang, EM4 (Evektive Mikroorganisme4), air,

(10)

tersedia dan mudah didapat dengan biaya yang murah oleh petani (Dara, 1998). Kompos yang dibuat dengan teknologi EM4 disebut bokashi dan dapat dilakukan

hanya waktu 4 hari (Dara, 1998).

2.6 Tandan Kosong Kelapa Sawit

2.6.1 Karakteristik Tandan Kelapa Sawit

Proses pengolahan kelapa sawit menghasilkan produk ikutan berupa limbah kelapa sawit. Berdasarkan tempat pembentukannya limbah kelapa sawit dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu limbah perkebunan kelapa sawit dan limbah industri kelapa sawit. Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan pada proses pengolahan kelapa sawit. Limbah jenis ini digolongkan dalam tiga jenis yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas (Fauzi et al, 2002).

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan salah satu jenis limbah padat yang dihasilkan dalam industry minyak kelapa sawit. Jumlah tandan kosong kelapa sawit ini cukup besar karena hampir sama dengan jumlah produksi minyak sawit mentah. Limbah tersebut belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Komponen terbesar dari tandan kosong kelapa sawit adalah selulosa (40-60%), disamping komponen lain yang jumlahnya lebih kecil seperti hemiselulosa (20-30%), dan lignin (15-30%). Salah satu alternatif pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit adalah sebagai pupuk organik dengan melakukan pengomposan (Fauzi et al, 2002)

2.6.2 Manfaat dari Tandan Kosong Kelapa Sawit

Salah satu limbah padat yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit adalah tandan kosong sawit. Setiap ton kompos tandan kosong kelapa sawit mengandung unsur hara yang setara dengan 3 kg urea, 0,6 kg CIRP, 12 kg MOP dan 2 kg Kieserit. Hasil analisa di laboratorium pusat penelitian kelapa sawit menunjukkan bahwa

(11)

kandungan hara dalam tandan kosong kelapa sawit relative tinggi salah satu keunggulan tandan kosong kelapa sawit adalah kalium (K) yang tinggi, yaitu mencapai 5,53% (Sutarta,2005).

Proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit dipengaruhi oleh factor suhu, kelembaban, aktivitas mikroorganisme decomposer dan cara aplikasi kompos tandan kosong kelapa sawit.

Dengan pemilihan cara aplikasi yang baik diharapkan dapat memberikan manfaat yang optimal. Tandan kosong kelapa sawit merupakan bahan organik yang mengandung 42,8% C, 2,90% K2O, 0,80% N, 0,22% P2O5, 0,30%bMgO

dab unsur-unsur mikro antara lain 10 ppm B, dan 23 ppm Cu, dan 51 ppm Zn. Setiap ton tandan kosong kelapa sawit mempunyai unsur hara yang setara dengan 3 kg urea, 0,6 kg RP, 12 kg MOP, dan 2 kg kiserit

Aplikasi tandan kosong kelapa sawit secara langsung sebagai mulsa di perkebunan kelapa sawit secara umum dapat meningkatkan kadar N, P, K, Ca, Mg, C-organik, dan KTK tanah.

2.7 Unsur Hara Tanaman

Setiap tanaman mempunyai syarat tumbuh yang berbeda-beda.Namun demikian, semua tanaman mempunyai satu keasaman, yaitu membutuhkan unsure hara.Secara garis besar unsure hara dibagi dua yaitu pupuk makro dan pupuk mikro.

2.7.1 Pupuk Makro (NPK)

Pupuk makro adalah unsure hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jangka besar.Ada tiga unsure hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar yaitu nitrogen (N), phospor (P), dan kalium (K).

(12)

a. Nitrogen (N)

Nitrogen merupakan unsure hara penting untuk pertumbuhan tanaman, yaitu untuk pertumbuhan protein, sinetis klorofil, dan untuk proses metabolism. Kekurangan N akan mengurangi efisiensi pemanfaatan sinar matahari dan ketidakseimbangan serapan unsure hara.

b. Fosfor (P)

Fosfor merupakan unsur penting dan khususnya diperlukan untuk pertumbuhan akar selama tahap awal pertumbuhan tanaman. Fosfor berperan dalam proses transfer energi sebagai penyusun ADP/ATP maupun penyusun kode genetik tanaman. Ketersediaan P yang cukup akan memperkuat batang serta meningkatkan mutu buah.

Beberapa penyebab kekurangan unsur hara P adalah pupuk P yang diaplikasikan tidak sebanding dengan tersangkut pada produksi yang tinggi, pupuk P dijerap oleh senyawa aluminium dan besi pada tanah yang mempunyai pH rendah sehingga P tidak tersedia bagi akar tanaman.

c. Kalium (K)

Kalium diperlukan dalam proses pembukaan stomata daun sehingga kekurangan K akan terasa pada musim kering. Kalium juga sangat penting untuk pengangkutan hasil-hasil fotosintesis, pengaktifan enzim dan sintesa minyak.K berpengaruh terhadap jumlah dan ukuran tandan dan merupakan factor yang penting dalam ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit.

Kekurangan K mula-mula muncul pada daun tua karena K diangkut dari daun tua ke daun-daun muda.

(13)

Mula-mula mucul bercak-bercak segiempat, kemudian berubah menjadi kuning terang sejalan dengan bersatunya bercak bercak ini membentuk jaringan Bercak-bercak ini tembus cahaya , biasanya mengering, membusuk, dan dapat menjadi tempat infeksi pathogen sekunder.

2.7.2 Pupuk Mikro

Pupuk mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit. Beberapa unsur hara yang termasuk pupuk mikro adalah calium (ca), Magnesium (mg), Sulfur (S), Boron (B), seng (Zn), Besi (Fe), Klorida (Cl), Mangan (Mn), dan Molybdenum (Mo).

Perhatian terhadap unsur hara mikro masih relative kurang, namun demikian teknologi budidaya pertanian saat ini berpengaruh mendorong untuk memperhatikan unsur hara mikro dengan beberapa alasan yaitu :

a) Pemakaian varietas unggul dan pupuk makro dalam dosis tinggi dapat mempertajam menurunnya unsur mikro yang diangkut melalui proses. b) Kemampuan manusia mengenali gejala kekurangan unsur hara mikro.

c) Usaha-usaha manusia yang terus menerus untuk meningkatkan produksi. (Wahyuni dan Sembiring, 2007).

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun sebagai manusia linuweh, serta menjadi suri tauladan kawula untuk hidup dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi, namun sebagai manusia biasa bukan tidak mungkin

Namun itulah kenyataan yang telah terjadi di 3 (tiga) pesantren besar yaitu Pondok Pesantren Al-Lathifiyah II Tambakberas Jombang, Pondok Pesantren

Definisi 2.9 (Kusumadewi, 2002) Proses defuzzifikasi merupakan suatu bentuk inferensi sistem fuzzy dengan inputnya adalah suatu himpunan fuzzy yang diperoleh dari komposisi

membezakan antara perubahan dalam kuantiti yang ditawar dengan perubahan penawaran sesuatu barang berdasarkan

Audit adalah pemeriksaan teknis yang dilakukan oleh unit teknis bidang pengawasan yang menangani kegiatan audit di lingkungan Bappebti dan/atau Bursa Berjangka dan Lembaga

- Bahwa setahu saksi sejak pisah rumah Tergugat tidak lagi memberikan nafkah kepada Penggugat dan anaknya;. Bahwa atas keterangan saksi tersebut, Penggugat tidak

TFR yang rendah mulai terlihat setelah baby boom kedua, karena TFR yang dibutuhkan oleh negara maju seperti Jepang adalah harus melampaui angka 2, dengan angka kelahiran seperti itu

Untuk menurunkan dana yang merentang himpunan efisien, yaitu himpunan portofolio yang memaksimumkan imbal hasil yang diharapkan dan meminimumkan risiko, dapat dibandingkan