• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Pulikasi Indah Juliana S501008033

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jurnal Pulikasi Indah Juliana S501008033"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

commit to user

PENGARUH SIMVASTATIN TERHADAP % NEUTROFIL SPUTUM DAN SKOR CAT PADA PPOK STABIL

Juliana I*, Suradi*, Setijadi AR*

*KSMF Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret/Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta

________________________________________________________________________

ABSTRAK

Latar belakang: Inflamasi PPOK bersifat persisten dan progresif. Inhalasi kronik asap

rokok menyebabkan infiltrasi neutrofil ke saluran napas melalui mediasi neutrophyl

chemotacting factor dan mensekresi berbagai sitokin dan kemokin proinflamasi.

Remodeling jaringan ikat paru dan kelainan struktur menyebabkan hiperinflasi dan tanda obstruksi yang dinilai dengan skor CAT. Simvastatin sebagai antiinflamasi alternatif diharapkan dapat menghambat inflamasi pada PPOK.

Tujuan: untuk menganalisis pengaruh simvastatin terhadap persentase neutrofil sputum

dan skor CAT padaPPOK stabil.

Metode: Rancangan penelitian ini adalah uji klinis quasi experimental, pre dan post design. Subyek penelitian adalah pasien PPOK stabil di poliklinik rawat jalan RSUD Dr.

Moewardi Surakarta, diambil secara consecutive sampling dan diberikan simvastatin

1x20 mg dan plasebo selama 4 minggu. Analisis data berdistribusi normal menggunakan

uji beda paired t test atau independent sample t test and Wilcoxon signed rank test atau

Mann-whitney test jika tidak berdistribusi normal.

Hasil: Tiga puluh empat pasien terdiri dari 33 laki-laki dan 1 wanita dikumpulkan dari

Agustus sampai Oktober 2015. Empat pasien diskontinyu karena 1 eksaserbasi, 1

meninggal dunia, dan 2 tidak patuh minum obat. Total keseluruhan subyek 30 pasien laki-laki dengan distribusi umur, derajat merokok, komorbid, dan pengelompokan PPOK yang tidak berbeda signifikan pada kedua kelompok (p>0,05). Penurunan rerata selisih nilai persentase neutrofil sputum terjadi pada simvastatin (-10,67+39,44) dibandingkan plasebo (15,07+29,28), meskipun tidak signifikan (p = 0,052). Rerata selisih nilai CAT pada simvastatin menurun (-1,73+4,74) dibanding plasebo (0,40+9,28) dengan p = 0,055. Kesimpulan: Berdasarkan penurunan neutrofil sputum dan skor CAT, simvastatin dapat mengurangi inflamasi saluran napas dan dapat memperbaiki kualitas hidup pada PPOK stabil.

Kata kunci : simvastatin, neutrofil sputum, CAT, PPOK

PENDAHULUAN

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan utama di dunia, terutama di negara berkembang (Barnes, 2013). Terdapat 4,8 juta pasien di Indonesia dengan prevalens PPOK sekitar 5,6. Inflamasi PPOK bersifat persisten dan progresif

(Barnes, 2009). Inhalasi kronik asap rokok menyebabkan infiltrasi neutrofil

ke saluran napas (Suradi, 2003),

menginduksi pengeluaran berbagai

sitokin, kemokin proinflamasi (Singh et

al., 2010) dan melepaskan protease.

(5)

commit to user

dan menimbulkan hiperinflasi dan tanda

obstruksi (Suradi, 2003). Derajat

keparahan PPOK ditentukan dengan

mengukur VEP1, skor CAT (GOLD,

2015) dan pemeriksaan jumlah neutrofil sputum sebagai salah satu penanda

(biomarker) utama (Singh et al., 2010).

Simvastatin sebagai obat penurun kolesterol golongan statin mempunyai

efek pleiotropik termasuk sebagai

antiinflamasi, imunomodulator, dan

antioksidan. Simvastatin menghambat

pembentukan farnesylation dan

geranylgeranylation untuk aktivasi

protein paskatranslasi Rho, Ras, dan Rac

sehingga menghambat fosforilasi

inhibitor kappa betha (IK ) dan aktivasi

NF-κ (Barnes, 2013; Barnes, 2009). Statin diharapkan dapat digunakan sebagai antiinflamasi nonsteroid pada PPOK, manfaat yang pernah dilaporkan antara lain penurunan angka rawat inap, memperlambat penurunan fungsi paru,

menurunkan kebutuhan ventilasi

mekanik dan tingkat kematian (Young

and Hopkins, 2013). Akan tetapi, masih

ada penelitian simvastatin pada PPOK yang bersifat kontradiktif, belum banyak diteliti, dan pada sebagian penelitian

baru terbukti pada hewan coba.

Penelitian ini membuktikan pengaruh simvastatin terhadap persentase neutrofil sputum dan skor CAT pada PPOK stabil. Tujuan penelitian ini membuktikan apakah pemberian simvastatin dapat menurunkan persentase neutrofil sputum dan memperbaiki skor CAT pada PPOK stabil.

METODE DAN SAMPEL

PENELITIAN

Penelitian dilakukan di RSUD Dr Moewardi Surakarta bulan Agustus

sampai Oktober 2015. Rancangan

penelitian adalah quasi experimental,

pretest dan posttest design. Cara

pemilihan sampel penelitian adalah

consequtive sampling. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien terdiagnosis PPOK stabil secara klinis,

kaki-laki dan perempuan, umur lebih dari

40 tahun berdasarkan selisih hari kelahiran dengan ulang tahun terakhir

pada saat penelitian, bersedia mengisi

kuesioner secara lengkap dan benar, dan

bersedia diikutkan dalam penelitian

dengan menandatangani lembar

persetujuan. Kriteria eksklusi pada

adalah pasien yang memerlukan

perawatan ICU dan ventilator,

mengalami eksaserbasi akut,

menggunakan antiinflamasi lain diluar

terapi rekomendasi selama penelitian

berlangsung, sedang hamil, menderita

penyakit hati/gagal ginjal/keganasan.

Kriteria diskontinyu adalah mengundurkan

diri atau meninggal dunia, muncul efek

samping serius dari simvastatin jika

didapatkan miopati yang nyata,

peningkatan SGOT/SGPT tiga kali batas atas normal, kreatin kinase sepuluh kali

nilai teratas, dan kepatuhan minum obat

< 80% atau > 120%.

Subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diberikan edukasi, dicatat identitas, riwayat merokok, penyakit lain yang diderita, dan lain-lain pada formulir yang disediakan. Data awal subyek diperoleh dari anamnesis, dinilai jumlah skor CAT, dan diambil sputum baik secara spontan atau melalui induksi hipertonis salin 3% untuk

pemeriksaan persentase neutrofil

sputum. Subyek dibagi menjadi 2 grup

secara random, kelompok I mendapat simvastatin 1x20 mg dan kelompok II mendapat placebo, diminum antara jam

19.00 – 22.00 selama 4 minggu.

Simvastatin dan plasebo dikemas dengan

warna yang sama. Bronkodilator,

kortikosteroid, antibiotik dan terapi

(6)

commit to user

prosedur terapi PPOK. Pasien di

follow-up dan dievaluasi efek samping melalui

telepon dan saat pasien kontrol, dicari adanya efek samping simvastatin atau plasebo. Indikasi untuk penghentian

perlakuan bila memenuhi kriteria

diskontinyu. Dilakukan penghitungan jumlah obat tiap kali kontrol dan akhir penelitian. Setelah 4 minggu, dilakukan kembali skoring CAT dan pemeriksaan % neutrofil sputum. Analisis data

menggunakan uji beda paired t test dan

independent sample t test jika

berdistribusi normal, serta wilcoxon

signed rank test atau mann-whitney test

jika tidak berdistribusi normal.

HASIL PENELITIAN

Pasien PPOK yang memenuhi

kriteria inklusi dan eksklusi pada awal penelitian sebanyak 34 orang tetapi selama periode penelitian 4 pasien

diskontinyu karena eksaserbasi (1

pasien), meninggal dunia (1 pasien), dan tidak patuh minum obat (2 pasien). Total subjek penelitian sebanyak 30 orang

laki-laki, terdiri 15 pasien PPOK stabil baik pada kelompok simvastatin atau kontrol. Rerata umur subyek kelompok

simvastatin 63±8,09 tahun dan

69,0±6,590 tahun pada plasebo. Sebaran frekuensi IMT pada simvastatin 3(20%) kurang , 9(60%) normal, dan 3(20%) lebih, sedangkan pada plasebo 2(13,3%) kurang, 9(60%) normal, dan 4(26,7%) IMT lebih. Derajat Indeks Brinkman berat kelompok simvastatin 6(40%), sedang 5(33,3%), ringan 4(26,7%), sedang kelompok plasebo IB berat 6(40%), sedang 9(60%), IB ringan tidak didapatkan. Sebagian besar kelompok

simvastatin dan plasebo (10(33,3%) vs

5(33,3%) tidak mempunyai komorbid,

Pengelompokan PPOK paling banyak

pada grup D kelompok simvastatin 13(86,7%) dan pada plasebo 10(66,7%).

Berdasarkan Tabel Satu, tentang

karakteristik dasar subyek penelitian, nilai p>0,05 menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna diantara kedua kelompok.

Tabel 1. Karakteristik dasar subyek penelitian

Karakteristik Kelompok Simvastatin (n=15)

Kelompok Plasebo (n=15) p

1

Umur (tahun) Mean ± SD

Median (Min-Max)

63,87 + 8,09 64 (50 – 76)

69,00 + 6,590 69 (57 – 82)

0,067 IMT Kurang (<18,5) Normal (18,5-22,9) Lebih (>22,9) 3 (20,0%) 9 (60,0%) 3 (20,0%) 2 (13,3%) 9 (60,0%) 4 (26,7%) 0,570

Derajat Merokok (IB) Tidak merokok Ringan (0-200) Sedang (> 200-600) Berat (> 600)

(7)

commit to user Komorbid Hipertensi HHD Penyakit jantung DM Tidak ada 2 (13,3%) 1 (6,7%) 1 (6,7%) 1 (6,7%) 10 (66,7%) 6 (40,0%) 1 (6,7%) 1 (6,7%) 2 (13,3%) 5 (33,3%) 0,406 Grup PPOK A B C D 1 (6,7%) 0 (0,0%) 1 (6,7%) 13 (86,7%) 1 (6,7%) 3 (20,0%) 1 (6,7%) 10 (66,7%) 0,208

Berdasarkan Tabel Dua, rerata %

neutrofil sputum sebelum plasebo

50,53+24,13 yang mengalami

peningkatan setelah plasebo menjadi 65,60+30,85 dengan p = 0,066. Begitu juga dengan rerata skor CAT sebelum

plasebo (16,07+9,49) yang meningkat

setelah pemberian plasebo

[image:7.612.87.520.73.547.2]

(16,47+10,95) dengan p = 0,870. Perubahan signifikan tidak didapatkan pada kedua variabel (nilai p > 0,05).

Tabel 2. Perbandingan nilai awal (pre) dan nilai akhir (post) pada kelompok plasebo

Variabel Nilai awal (Pre)

Nilai akhir

(Post) p

1

Neutrofil sputum (%)

Mean ± SD Median (Min-Max)

50,53 + 24,13 48 (18 – 93)

65,60 + 30,85 66 (5 – 98)

0,066

Skor CAT

Mean ± SD Median (Min-Max)

16,07 + 9,49 19 (0 – 31)

16,47 + 10,95 14 (0 – 31)

0,870

Berdasarkan Tabel Tiga, rerata % neutrofil sputum sebelum pemberian

simvastatin 60,13+26,75, kemudian

setelah diberikan simvastatin menurun menjadi 49,47+30,49 dengan p = 0,313. Begitu juga dengan rerata skor CAT

sebelum simvastatin 12,00+5,85

menurun menjadi 10,27 + 6,41 setelah

simvastatin dengan p = 0,179.

Penurunan % neutrofil sputum dan skor CAT secara statistik tidak bermakna (p > 0,05)

[image:7.612.91.510.571.700.2]

Tabel 3. Perbandingan nilai awal (pre) dan nilai akhir (post) pada kelompok simvastatin

Variabel Nilai awal (Pre)

Nilai akhir

(Post) p

1

Neutrofil sputum (%)

Mean ± SD

Median (Min-Max)

60,13 + 26,75 63 (15 – 96)

49,47 + 30,49 50 (2 – 89)

0,313

Skor CAT Mean ± SD

Median (Min-Max)

12,00 + 5,85 11 (3 – 25)

10,27 + 6,41 10 (1 – 22)

(8)

commit to user

Berdasarkan Tabel Empat, variabel % neutrofil sputum dan skor CAT menurun pada kelompok simvastatin jika dibandingkan dengan kelompok placebo, meskipun perubahan tersebut tidak signifikan. Rerata % neutrofil sputum pada kelompok simvastatin menurun -10,67±39,44, sedangkan pada kelompok

plasebo mengalami peningkatan

15,07±29,28 dengan nilai p = 0,052. Rerata skor CAT pada kelompok simvastatin menurun -1,73±4,74, sedangkan pada kelompok plasebo meningkat 0,40±9,28 dengan nilai p = 0,055. Tanda (-) menunjukkan

penurunan, dan sebaliknya (+)

menunjukkan peningkatan.

Tabel 4.. Perbandingan selisih nilai variabel penelitian antara kedua kelompok

Variabel Kelompok Simvastatin (n=15)

Kelompok Plasebo (n=15) p

1

Post – Pre neutrofil sputum (%)

Mean ± SD Median (Min-Max)

-10,67 + 39,44 -12,00 (-87 –54)

+15,07 + 29,28 +19 (-62,0 – 70,0)

0,052

Post – Pre skor CAT

Mean ± SD Median (Min-Max)

-1,73 + 4,74 -2,0 (-12,0 – 9,0)

+0,40 + 9,28 +0,0 (-29,0 – 10,0)

0,055

DISKUSI

Perubahan patologi pada PPOK mempengaruhi saluran napas perifer dan proksimal, parenkim paru, dan pembuluh darah yang menyebabkan bronkhitis

kronik, emfisema, dan hipertensi

pulmonal. (Kaczmarek et al., 2010).

Penatalaksanaan PPOK menggunakan bronkodilator (LABA dan atau LAMA) dan kombinasi kortikosteroid inhalasi dengan LABA yang lebih efektif dibandingkan monoterapi, akan tetapi infamasi di paru masih terjadi sehingga dibutuhkan antiinflamasi lain, salah

satunya dengan golongan statin

(simvastatin) (Loukides et al., 2013).

Pemberian simvastatin sebagai

antiinflamasi pada penelitian ini

diharapkan dapat menurunkan %

neutrofil sputum sehingga dapat

memberikan outcome perbaikan klinis

yang dinilai berdasarkan skor CAT pada pasien PPOK stabil.

Perbaikan gejala klinis dilihat berdasarkan skor CAT. Penilaian skor CAT tersebut dipengaruhi oleh proses inflamasi yang dapat diketahui melalui

pemeriksaan persentase neutrofil

sputum. Simvastatin diharapkan dapat berperan sebagai antiinflamasi, sehingga dapat menurunkan kadar inflamasi baik di saluran napas dan memperbaiki gejala klinis PPOK. Hasil dari penelitian ini

mendapatkan terdapat penurunan

persentase neutrofil sputum dan

penurunan skor CAT setelah pemberian simvastatin.

Simvastatin pada penelitian ini dapat menurunkan persentase neutrofil sputum pasien PPOK stabil, meskipun penurunan persentase neutrofil sputum

tidak berbeda signifikan. Statin

mengurangi influks neutrofil ke paru sehingga diduga mempunyai efek kuat

menghambat downstream inflamasi

antara lain influks makrofag dan

(9)

commit to user

proinflamasi, terutama IL-8 yang

berperan pada infiltrasi neutrofil di paru

(Young et al., 2009). Hasil penelitian ini

sejalan dengan hasil penelitian

Maneechotesuwan et al. (2015) dengan

metode randomized, double blind,

plasebo-controlled crossover study pada 30 pasien yang mendapat simvastatin 20

mg per hari selama 4 minggu.

Maneechotesuwan et al. yang juga

menyimpulkan tidak terdapat perbedaan signifikan % neutrofil sputum pada kedua kelompok (kelompok simvastatin 2,2±8,7 dan kelompok plasebo 5,8±16,9,

mean difference 3,6; 95%CI -4,3-11,5; nilai p = 0,35). Jalur inflamasi

N-ac-P-GP menyebabkan inflamasi neutrofil

tidak sensitif dengan simvastatin

(Maneechotesuwan et al., 2015). Selain

itu, juga disebutkan penggunaan

bersama glukokortikoid sistemik dengan statin dapat menumpulkan atau menekan

efek pleiotropik statin dengan

menghambat spingosine 1 phosphate

(S1P) signaling (Rahman et al., 2014).

Perbedaan rerata selisih nilai skor

CAT pada kelompok simvastatin

menurun (-1,73+4,74) dibanding kelompok plasebo yang meningkat

0,40+9,28 meskipun perbedaan

keduanya secara statistik juga tidak bermakna (p = 0,055). Perbedaan tersebut dimungkinan karena penilaian CAT mempnyai subyektifitas. Selain itu, faktor usia dan tingkat pendidikan pasien juga mempengaruhi kepahaman tentang skor CAT meskipun pada saat pengisian kuesioner CAT sudah dijelaskan oleh peneliti. Penurunan skor CAT pada penelitian ini serupa dengan penelitian

Manecchotesuwan et al. yang

menyebutkan terdapat penurunan

bermakna rerata skor CAT kelompok simvastatin dibanding plasebo dimana rerata beda selisih skor CAT pada kelompok simvastatin -2,5±4,1 dan pada

kelompok plasebo 0,7±5,5 (main

difference -3,2; 95%CI -6,0 sampai -0,4;

nilai p = 0,02) (Manecchotesuwan et al.,

2015). Efek pleiotropik simvastatin

sebagai antiinflamasi menghambat

aktivitas NF-κ sehingga mencegah

pelepasan sitokin proinflamasi dan

protease (Jain et al., 2005). Penurunan

inflamasi diharapkan dapat mengurangi edema saluran napas dan hipersekresi mukus sehingga menekan hambatan aliran udara dan selanjutnya menurunkan

gejala (Horita et al., 2014). Penilaian

gejala PPOK dapat dilihat berdasarkan skor CAT, kuesioner untuk menilai status kesehatan pada pasein PPOK meliputi batuk, produksi dahak, sesak

napas, keterbatasan aktiitas dan

gangguan tidur (GlaxoSmithKline,

2009).

Penelitian berikutnya dianjurkan

dilakukan secara prospektif dalam

jangka waktu yang lama untuk menilai manfaat stain baik secara klinis atau biokimia. Paparan asap rokok dan polutan lain tidak bisa dikendalikan dalam penelitian ini sehingga dapat mempengaruhi proses inflamasi.

Simpulan penelitian ini berdasarkan penurunan neutrofil sputum dan skor

CAT, menunjukkan bahwa simvastatin

1x20 mg selama 4 minggu dapat mengurangi inflamasi saluran napas dan dapat memperbaiki kualitas hidup pada PPOK stabil.

DAFTAR PUSTAKA

Barnes, P. J. (2009) The cytokine network in chronic obstruvtive

(10)

commit to user

Barnes, P. J. (2013) New anti-inflammatory targets for chronic obstructive pulmonary disease. Nature Rev. 12, pp.543-559.

GlaxoSmithKline. (2009) Heathcare

professional user guide COPD assessment test. [Accessed 2015

June 3th]. Available from:

www.CATestonline.org

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. (2015) Global

strategy for the diagnosis,

management, and prevention of chronic obstructive pulmonary

disease updated 2015.

Manchester: Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease Inc. pp.1-80.

Horita, N., Miyazawa, N., Kojima, R.,

Ishigatsubo, Y., Ueda, A.,

Kaneko, T. (2014) Statins reduce all-cause mortality in chronic pulmonary disease: a systemic review and meta-analysis of observational studies. Respiratory Research. 15, pp.1-7.

Jain, M. K., Ridker, P. M. (2005) Anti-inflammatory effects of statins:

clinical evidence and basic

mechanisms. Nature Reviews. 4, pp.977-987.

Kaczmarek, P., Sladek, K., Skucha, W.,

Rzeszutko, M., Iwaniec, T.,

Dziedzina, S., et al. (2010) The

influence of simvastatin on

selected inflammatory markers in patients with chronic obstructive

pulmonary disease. Polskie

Archiwum Medycyny

Wewnetrzne J. 120(1-2), pp.11-18.

Loukides, S., Bartziokas, K., Vestbo, J., Singh, D. (2013) Novel anti-inflammatory agents in COPD:

targeting lung and systemic

inflammation. Current Drug

Targets. 14, pp.235-245.

Maneechotesuwan K., Wongkajornsilp

A., Barnes P. J. (2015)

Simvastatin suppresses airway IL-17 and IL-10 in patients with stable COPD. Chest. 148(5), pp.1164-1176.

O’Reilly, P. J., Jackson, P. L., Wells, J. M., Dransfield, M. T., Scanlon, P. D., Blalock, J. E. (2013) Sputum PGP is reduced by azithromycin treatment in patients with COPD

and correlates with

exacerbations. BMJ Open. 3(12),

pp.e004140.

Rahman, M. M., Alkhouri, H., Tang, F.,

Che, W., Ge, Q., Ammit, A. J. (2014) Sphingosine 1-phosphate

induces neutrophil

chemoattractant IL-8: repression by steroids. PLoS One. 9(3). Pp.e92466.

Singh, D., Edwards, L., Tal-Singer, R.,

Rennard, S. (2010) Sputum

neutrophils as a biomarker in

COPD: findings from the

ECLIPSE study. Respiratory

Research. 11, pp.1-12.

(11)

commit to user

Suradi. (2003) Peran kadar IL-1 , IL-12,

IFN- dan IL-10 terhadap kadar elastase MMP-9 pada emfisema

paru suatu pendekatan

immunopatobiologi (disertasi).

Surabaya: Universitas Airlangga.

Young, R. P., Hopkins, R. J. (2013) U\pdate on the potential role of the statin in chronic obstructive pulmonary disease and its co-morbidities. Expert Rev Resp Med. 7(5), pp.533-544.

Gambar

Tabel 2. Perbandingan nilai awal (pre) dan nilai akhir (post) pada kelompok plasebo  Nilai awal Nilai akhir

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan: nebulizer, infrared dan chest therapy dapat menurunkan sesak napas, mengurangi nyeri, mengurangi produksi sputum dan meningkatkan activity daily living..

Gejala utama pada kondisi PPOK yang terjadi adalah batuk, sesak napas, nyeri dada, dan produksi sputum yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya hambatan udara

Untuk mengetahui apakah pengaruh nebulizer dan chest fisioterapi dapat mengurangi sesak napas pada kondisi PPOK eksaserbasi akut.. Untuk mengetahui apakah pengaruh

obstruksi saluran napas dengan jenis rokok pada penderita PPOK stabil dan diketahui bahwa derajat obstruksi yang berat disebabkan karena konsumsi rokok filter dalam

Ruljancic et al juga mengemukakan bahwa suplementasi magnesium pada pasien – pasien dengan PPOK stabil mungkin dapat memperbaiki gejala dan mengurangi angka kejadian

Data pada penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan, yaitu: s-IgA, neutrofil dan jenis patogen dari saluran napas bawah dengan prosedur BAL, sebagai data

Inflamasi yang persisten pada jaringan saluran napas seperti pada asma, dapat menyebabkan perubahan struktural dan konsekuensinya adalah obstruksi saluran napas menjadi

Inflamasi kronik adalah dasar duri penyakit asma, oleh karena itu obat-obat antiinflamasi berguna untuk mengurangi inflamasi yang terjadi pada saluran napas.. Kortikosteroid adalah