• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebuah Catatan Penerbitan Buku Aksara Sunda.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sebuah Catatan Penerbitan Buku Aksara Sunda."

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SEBUAH CATATAN Penerbitan Buku Aksara Sunda

Oleh: Kalsum

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS PADJADJARAN

(2)

KATA PENGANTAR

Tulisan ini disampaikan pada Pimpro Penerbitan Buku Aksara Sunda ketika penulis ditugasi sebagai editor buku tersebut, namun tidak jadi karena ada isi yaitu bagian dari pembahasan Aksara Cacarakan tidak penulis setujui sebelum bagian tersebut diadakan penelitian.

Tulisan ini menunjang Mata Kuliah Sejarah Naskah, Pengantar Filoiogi, dan Sejarah Perkembangan Filologi.

(3)

SEBUAH CATATAN Penerbitan Buku Aksara Sunda

I. Judul:

Melihat keluasan uraian dari buku ini, sebaiknya judul menggambarkan keluasan pikiran dari isi, disarankan judulnya:

KEBERAKSARAAN DI TATAR PASUNDAN DI TENGAH - TENGAH

KEBERAKSARAAN NUSANTARA DALAM MENUJU PEMBAKUAN BENTUK AKSARA SUNDA

Dasar Pemikiran:

a) Buku ini menggambarkan perkembangan keberaksaraan di Tatar Pasundan dan selayang pandang menyinggung keberaksaraan di Nusantara.

b) Pembahasan a) untuk memunculkan kekhasan Aksara Sunda dan menuju pembakuan

bentuk (standardisasi) dalam realisasi penyebaran penggunaan kembati di masyarakat Pasundan.

c) Dasar pemikiran pembakuan ini, sehubungan “Aksara Sunda Kuna” diperoleh

dari sejumlah naskah yang survive/extant yang sangat beragam. Perintis yang sangat berjasa membuat inventarisasi aksara yang sangat berharga ini:

1) Drs. Atja (versi Ratu Pakuan ?) kemudian disusul oleh lainnya, di antaranya:

2) Sunarto menginventarisasi bentuk-bentuk aksara Sunda Kuna dari sejumlah naskah (dengan jumlah yang cukup banyak, koleksi EFEO belum dipublikasikan)

3) Prof. Dr. Partini Sardjono, dkk (Naskah Ciburuy). Anggota penelitian ini, Prof. Dr. Edi Ekadjati dan saya sendiri yang membuat inventarisasi aksara secara sederhana. Dari sebundel naskah Ciburuy (dalam peninjauan sekilas) saya melihat sekitar 17 bentuk versi aksara (dalam arti terdapat bentuk - bentuk aksara berbeda) Contoh:

Ka Sa

(Lihat Naskah Sunda, 1985)

(4)

logis” pasti ada, namun kini pasti sudah hancur ditelan masa. sehingga Aksara Sunda “asli”, bersifat transendental.

5) Sehubungan Aksara Sunda Kuna ini diputuskan sebagai “Aksara Sunda” yang penggunaannya direalisasikan kepada masyarakat Pasundan masa kini, maka perlu pembakuan bentuk.

II. Isi

1) Epigrafi dititikberatkan pada tinjauan bahasa dan paleografi pada bentuk aksara (Hermansumanti) (Aksara Sunda hal 3)

2) Aksara di Nusantara pra-Islam Tipe: Palawa, Nagari, Kamboja (KF Holle) (Aksara Sunda hal 6)

3) Tambahan. Abjad ha, na, ca, ra, ka Nusantara dalam tinjauan lain, yang kemunculannya seiring mitos Raja Aji Saka, diperkirakan untuk legitimasi dengan tujuan penyakralan bahwa

aksara diciptakan oleh Dewa (kepercayaan ini merupakan kepercayaan universal antara lain, Kami no moji (Jepang, Dewa Nagari (India), Hieroglif (Mesir (Mario Pei). Saka sebagai anak kecil yang meminta imbalan tan ah sebanyak tiga tangkah setelah membunuh raksasa Dewata Cengkar dalam tinjauan intertekstualitas, hipogram konsep asal orang kerdil -penjelmaan

Wisnu meminta tanah tiga langkah dalam rangka membunuh raksasa perusak Bali (Kalsum dalam seminar aksara di Yogya) (Aksara Sunda hal 9)

4) Diperkirakan isi atau pemikiran-pemikiran dalam naskah-naskah yang berasal dari awal keberaksaraan di Sunda sebagian terwariskan dalam naskah yang extant sekarang walau secara pasti mengalami penyimpangan, Atas dasar pemikiran bahwa, proses keberaksaraan pada masa awal sangat disakralkan dan hanya bergulir dalam tingkatan elite negara, jadi penyimpangan pemikiran yang berkembang diperkirakan tidak lebar, tidak mengadakan perubahan se-wenang-wenang. Pendapat ini didasarkan bahwa dalam tradisi naskah terjadi penurunan teks dengan penyalinan(Aksara Sunda hal 11)

5) Mungkin harus ditinjau kembali hierarki:

Tipe Palawa, Nagari, Kamboja (yang sudah mengalami perubahan dalam perkembangannya di antaranya Sunda Kuno, Cacarakan (yang kini sebutan di Sunda) Carakan (di Jawa), Anacaraka (di Bali) (Klasiflkasi berdasarkan uraian Holle). Di antaranya Contoh sebagai berikut:

(5)

Kemungkinan pula saya salah tafsir atas uraian Holle karena membacanya sudah sangat lama, untuk ini saya tidak bisa konfirmasi dengan membacanya kembali sehubungan waktu yang sangat sempit. (Aksara Sunda hal 14)

6) Aksara Sunda sebagai hasil daya cipta atau kreasi orang Sunda. Pendapat ini apriori dalam tinjauan yang sangat dini. Di antaranya (Lihat KF Holle dan Russell Jones) bahwa keberaksaraan di Nusantara zaman pra-lslam berasal dari peradaban India. Walaupun demikian, tentu adopsi ini mengalami perubahan-perubahan disesuaikan dengan kebahasaan pribumi, dan pinjaman ini dalam kebudayaan tidak pernah dikembalikan kepada pemilik asal. Sudah tentu seiring perkembangan zaman dalam perjalanan rentang waktu yang sangat panjang mengalami perubahan - perubahan, serta dalam tempat-tempat tertentu berkembang menurut imaji dan memori setempat sehubungan kesulitan informasi akibat kesulitan transportasi ketika aksara ini berkembang pada zamannya. Walaupun demikian, sebagai orang Sunda merasa bangga “reueus” nenek moyang telah melek aksara pada zaman Baheula, dan merasa bangga pula atas keunikan Aksara Sunda Kuna. (Aksara Sunda hal 26)

7) Ceritera yang dianggap oleh masyarakat memiliki kekuatan magis (digunakan dalam upacara siklus penanaman padi dan upacara proses kelahiran anak sejak hamil-lahir) Nyi

Pohaci Sanghiyang Sri, Carios Sawargahka, Wawacan Sawargaloka, Wawacan Babari, di masyarakat terkenal dengan nama Wawacan Sulanjana (Lihat Pleyte). Saya pernah melihat di EFEO ceritera ini dengan aksara Cacarakan pada lontar, apakah ini koleksi atau pinjaman sementara saya tak tahu. (Aksara Sunda hal 36)

8) Aksara Cacarakan

1) Perlu dipertimbangkan pendapat Coolsma (1904) istilah aksara Sunda - Jawa sehubungan alasan berikut:

a) reduplikasi dwipurwa tidak selalu menyatakan peniruan. Contoh:

Manehna di Bandung teh moal nepi ka bubulanan (hitungan) Pada hemat saya, kata

cacarakan hampir serupa dengan hal tersebut. Orang-orang tua masih berucap:

Ah ngajina ge masih cacarakan keneh (Yang dimaksud membaca Al Quran dengan mengeja,

(6)

2) Selepas Pajajaran runtuh dan di Pasundan kekuatannya tidak dipersatukan lagi seperti pada zaman “Keemasan Pajajaran” (meliputi sejarah perkembangan di Pasundan dengan nama-nama negara yang berbeda dengan pusat kekuatan negara yang berpindah-pindah pula) menjadi negara-negara kecil yang tidak kuat lagi mengimbangi kekuatan Mataram sehingga wilayah Pasundan diklaim sebagai wilayah kekuasaan Mataram.(Bayu Surianingrat). Sebagai negara yang mendominasi kekuasaan, mendominasi pula kebudayaan, sehingga terjadi revitalisasi kebudayaan Sunda, seperti KF Holle (apa pun misinya) dan RH Muhamad Musa. Diperkirakan, milik pribadi Sunda seperti Cacarakan ini, yang direngkuh sejak lama menjadi asing, seolah-olah punya orang lain. Kemudian, Sunda yang memiliki bibit buit atau benih-benih aksara (yang kemudian sekarang berkembang dan disebut di Sunda Cacarakan, Jawa Carakan, Bali Anacaraka) ini, seolah Sunda mendapat pemberian dari Jawa. Apabila Sunda memiliki bentuk aksara itu dan Jawa memilikinya pula yang kemudian sampai di Bali, bukankah kita saampar samak dengan Jawa dan sakaruhun? yang menurut kisah lisan Ciung Wanara papantunan Hariang Banga ka wetan wawayangan (kisah ini bukan sekedar dongeng melulu karena pada naskah tercantum nama yang mirip Rahyang Bangga dan Sang Manarah)

(Kan kita pun punya pula Asep Sunandar Sunarya yang beken, wayang kulit (Di Snd ump di Majalengka) walaupun itu milik Nagara Wetan menurut dongeng, malah wayang kulit Sunda, yang dianggap oleh para kasepuhan masih asli dst. Bukankah hal ini seperti kepemilikan aksara (yang sekarang disebut Cacarakan ini ?) Kepemilikan Cacarakan Sunda sebagai pemberian dari Jawa diperkirakan akibat dominasi kebudayaan. Pemberian Cacarakan dari Jawa yang dianalogi sejak GJ Grashuis (1860) sulit diterima pada nalar saya, Keduanya Sunda – Jawa papada boga.

(7)

b) Ada naskah “teluh” (di dalamnya ada piwurungan untuk membuat orang menjadi gila) terdapat ilustrasi gambar-gambar dengan sedikit penjelasannya dengan Cacarakan. Dilihat dari segi bahan tampak naskah ini jauh sebelum 1860. Naskah ini berasal dari Puspahiyang Kabupaten Tasikmalaya, saya pinjam dari P & K Kab Tasikmalaya dan saya serahkan kepada Pak Emon Jarahnitra.

b) terdapat naskah Sunda beraksara Cacarakan dalam lontar

c) Ada naskah lontar milik Bapak Bisri yang masih sangat baik, terawat, disimpan dalam koropak yang indah beraksara Cacarakan dan bahasanya sangat sulit dipahami, jauh lebih sulit dari Bahasa Sunda Kuna Sewaka Darma

Ulasan sampai Cacarakan

(8)

DAFTAR PUSTAKA Baried, Siti Barorah, dkk,

1994 Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas, Seksi Filologi, Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada.

Chadwick, Bruce A., dkk.

1991 Metode Penelitian Ilmu Pengetahuan Sosial. Edisi Kesatu.

Diterjemahkan oleh Sulistia, M. L., dkk. dari buku: Social Science Research Methods.

1990 Naskah Sunda, Inventarisasi dan Pendataan, Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation.

Hartoko, Dick

1975 Saksi Budaya. Edisi Pertama. Jakarta Pusat: Dunia Pustaka Jaya, Herman Soemantri, Emuch.

1986 Identifikasi Naskah, Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lubis, Nabilah

1996 a. Syekh Yujsuf Al - Taj Al Makasarh Menyingkap Intisari Segala Rahasia. Edisi Pertama. Disertasi. Diterbitkan kerjasama Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Ecole l-rancaise d’ Extreme - Orient. Bandung: Penerbit Mizan.

1996 b. Naskah, Teks dan Metode Penelitian Filologi Jakarta: Forum Kajian & Sastra Arab Fakultas Adab Syarif Hidayatullah.

Kalsum Aksara Cacarakan, Makalah yang disampaikan pada Seminar Aksara Di Yogyakarta

Maas, Paul

1967 Textual Criticism. Tanslitrer Barbara Flower. Oxford: Oxford University Press.

(9)

1989 Pengantar Filologi, Ujung Pandang: Fakultas Sastra Universitas Hasanudin. Nasution, Harun

1986 Teologi Islam. Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (LM. - Press). Nicholson, Reynold A.

Ajaran dan Pengalaman Sufi/Jalaluddin Rumi. Edisi Pertama. Diterjemahkan oleh Sutejo,

editing oleh Al Haj Sutarji Calzoum Bachri dari buku: Rumi Poet and Mistics. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Noorduyn

1975 Dasar-Dasar Filologi, Makalah catatan kuliah dasar, tgl, 78-6-1975, Pengarang Kantor Pengadjaran Djakarta.

Pei. Mario,

1971 Kisah Bahasa. Diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto dari buku: SoehadioThe Story

of Language. 1965. Djakarta: Bhratara,

Reynolds, L.D. & N.G. Wilson

1978 Scrieb and Scholar. London: Oxford University Press Rohson, S.O.

1978 Filologi dan Sastra-sastra Klasik Indonesia. Makalah untuk petatar pada Penataran sastra 1978. Tugu Bogor: Proyek pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah,

Referensi

Dokumen terkait

(2) Kinerja pengurus berpengaruh positif dan signifikan terhadap Sisa Hasil Usaha pada Pusat Koperasi Pegawai Negeri di Surakarta (3) Motivasi anggota berpengaruh positif

Nasrul menjelaskan, salah satu pertimbangan UMM untuk membuat unit bisnis SPBU adalah untuk membantu mahasiswa dimana perolehan dari SPBU bisa digunakan untuk mensubsidi para

Standar Kompetensi Kurikulum Berbasis Kompetensi Penyelengaraan Proses Belajar Mengajar Evaluasi Sertifikasi Pengembangan Standar Kompetensi Pengembangan Kurikulum Berbasis

Tabel 3 di atas, diketahui bahwa terdapat selisih perbedaan biaya yang cukup besar pada TIC pembelian bahan baku tepung terigu menggunakan metode konvensional dan metode EOQ, dengan

Simpulan Penelitian : Terdapat perbedaan prevalensi obesitas yang bermakna antara Etnis Jawa, Etnis Tionghoa, dan Etnis Arab pada anak sekolah menengah pertama di

Upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan peran aktif siswa adalah:.. Meningkatkan minat siswa. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa persentase penggunaan susu full cream dan minyak sawit merah berpengaruh nyata terhadap overrun es krim ubi jalar ungu

Definisi berpikir kritis menurut Walker (2006) :Berpikir kritis adalah suatu proses intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan