i
Tutiek Retnowati, dkk.
KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN UKM
BERBASIS EKONOMI KERAKYATAN DI JAWA TIMUR
Diterbitkan oleh Narotama University Press
ii
NAROTAMA University Press
Kebijakan Pengembangan UKM /disusun oleh Tutiek Retnowati, dkk ... [et al.] 102 hal; viii ; editor, Seger S.S
Copyright © 2017 oleh Tutiek Retnowati
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
© All Rights Reserved
Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa ijin tertulis dari Penerbit
© Cetakan Pertama September 2017 Ukuran Buku : A5 (14,8 x 21 cm)
Penyusun : Tutiek Retnowati, SH,M.Hum Widyawati Boediningish, Mhum Suwardi, S.H, M.Hum
Editor : Seger S.S Layout/Setting : G. Purwantoro Design Cover : Gatut Purwantoro
ISBN 978-602-6557-14-8 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDakan Untuk
© HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG Isi diluar tanggungjawab Penerbit
Diterbitkan oleh Narotama University Press Jl. Arief Rachman Hakim No.51 Surabaya 60117 Telp: 031-5946404, 5995578 Fax: 031-5931213 Website: www.narotama.ac.id
Email: [email protected]
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk bekerja bersama untuk menyelesaikan buku ini yaitu tentang Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada pihak- pihak terkait sehingga buku ini bisa saya selesaikan serta teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan buku ajar ini. Kami menyadari bahwa dalam penulisan buku ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Dan semoga dengan selesainya buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Surabaya, Agustus 2017
Penulis
iv
Universitas Narotama Surabaya
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... v BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Propsek/Peluang Pemasaran ... 10 2.2 Kelayakan Komersial dan Bisnis Intervensi Sosial 11 2.3 Strategi Kelembagaan Industrialisasi Kearah
Karakter bangsa ... 11 2.4 Perencanaan Pelaksanaan Kegiatan ... 14 2.5 Strategi Peanfaatan Hasil Kegiatan ... 14
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia ... 21 3.2 Definisi Usaha Kecil dan Mikro ... 23 3.3 Ciri-ciri Usaha Kecil dan Mikro ... 26 3.4 Usaha Kecil Mikro Dalam Kebijakan
Pembangunan ... 31 3.5 Ruang Lingkup Usaha Kecil dan Mikro ... 33
vi
3.6 Keunggulan Usaha Kecil dan Mikro ... 35 3.7 Kelemahan Usaha Kecil dan Mikro ... 36 3.7.1 Permasalahan dalam mengolah Usaha Kecil dan
Mikro ... 38 3.8 Pembiayaan Usaha Kecil dan Mikro ... 40 3.9 Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro ... 42 3.10 Perkembangan Usaha kecil dan Mikro di Indonesia 45 BAB IV PENUTUP
a. Kesimpulan ... 52 DAFTAR PUSTAKA ... 54 BIODATA PENULIS ... 58
vii
SANKSI PELANGGARAN PASAL 113
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta:
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
viii
Universitas Narotama Surabaya
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Kebijakan
Kebijakan Pemerintah terhadap Usaha Kecil dan Mikro (UKM) merupakan sektor yang penting dan besar kontribusinya dalam mewujudkan sasaran- sasaran pembangunan ekonomi nasional, seperti pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, peningkatan devisa negara, dan pembangunan ekonomi daerah.
UKM diharapkan mempunyai kemampuan untuk ikut memacu pertumbuhan ekonomi nasional sehingga UKM membutuhkan pelindung berupa kebijakan pemerintah seperti undang-undang dan peraturan pemerintah.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
2 |
Disadari akan begitu besarnya peran UKM dalam perekonomian Nasional, maupun dalam penyerapan tenaga kerja dan pemerataan distribusi hasil-hasil pembangunan, maka pemerintah melalui undang- undang No 5 tahun 1999, memberi batasan terhadap UKM yaitu untuk usaha kecil adalah usaha yang:
a. Memiliki kekayaan (aset) bersih 200 juta,1 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, b. Hasil penjualan tahunan (omzet) paling banyak 1
milyar,
c. Milik warga Indonesia,
d. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusa- haan atau cabang perusahaan.
Dengan batasan tersebut, maka diharapkan peranan pemerintah maupun masyarakat perlu memberikan perhatian yang besar untuk mendorong pengembangannya. Pengembangan UKM melalui pendekatan pemberdayaan usaha, perlu memperhatikan aspek sosial dan budaya di masing-masing daerah,
1 Arsyad, Lincolin, Lembaga Keuangan Mikro Institusi Kinerja dan Sustanabilitas, Yogyakarta: CV Andi Offset, hal 231.
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 3
mengingat usaha kecil dan menengah pada umumnya tumbuh dari masyarakat secara langsung.
Adanya regulasi baik berupa undang-undang dan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan UKM dari sisi produksi dan sisi perbankan, akan memacu peranan UKM dalam perekonomian. Seperti yang diungkapkan oleh George. J. Stigler dalam Mandala Harefa (2008:
206), bahwa “Regulasi adalah seperangkat aturan yang di maksudkan untuk memberikan perlindungan dan manfaat untuk masyarakat pada umumnya atau pada sekelompok masyarakat”.
Manfaat dari regulasi tersebut dapat dilihat dari dua sisi, yakni dari sisi pemerintah sebagai pembuat regulasi dan dari sisi pengusaha sebagai obyek perizinan. Bagi pemerintah, perizinan diperlukan untuk menjaga ketertiban umum dan memberikan perlindu- ngan kepada masyarakat secara luas.
Bagi pengusaha, perizinan seharusnya memberi manfaat sosial dan ekonomi. Bila suatu kebijakan atau regulasi tidak sesuai dengan harapan, tentunya kebijakan tersebut harus dievaluasi karena adanya
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
4 |
evaluasi akan diperoleh masukan yang berkaitan dengan ketidaksesuaian kebijakan dengan kinerja yang diharapkan hasilnya.
Jadi, evaluasi membantu pengambil kebijakan pada tahap penilaian kebijakan terhadap proses pembuatan kebijakan. Evaluasi kebijakan tidak hanya menghasilkan kesimpulan mengenai berapa jauh masalah telah terselesaikan, tetapi memberi masukan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari kebijakan, membantu dalam penyesuaian, dan perumusan kembali masalah.
Pemerintah membuat kebijakan untuk memper- cepat pertumbuhan ekonomi yang terkait langsung dengan UKM yaitu telah di canangkannya tiga butir kebijakan pokok di bidang ekonomi.
Pertama, adalah peningkatan layanan jasa keuang- an khususnya untuk pelaku UKM, yang meliputi perbaikan layanan jasa perbankan, pasar modal, multifinance, asuransi.
Kebijakan pokok kedua adalah peningkatan infrastruktur layanan jasa keuangan, berupa akses
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 5
pasar, layanan penagihan dan pembayaran, kemudahan investasi dan menabung, serta dukungan umum atas pelaksanaan transaksi perdagangan. Peningkatan layanan jasa dan infrastruktur pendukungnya tidak akan berarti banyak tanpa upaya pembenahan menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan entre- preneurship bagi pelaku UKM.
Kebijakan pokok ketiga adalah meningkatkan kemampuan dan penguasaan aspek-aspek teknis dan manajemen usaha, pengembangan produk dan penjual- an, administrasi keuangan, dan kewirausahaan secara menyeluruh.
Kebijakan pemerintah dalam pengembangan sektor UKM tersebut bertujuan untuk meningkatkan potensi dan partisipasi aktif UKM di dalam proses pembangunan nasional, khususnya dalam kegiatan ekonomi dalam rangka mewujudkan pemerataan pembangunan melalui perluasan kerja dan peningkatan pendapatan.
Menurut Abdul Rosid (2004: 1), ”Sasaran dan pembinaan usaha kecil adalah meningkatnya jumlah
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
6 |
usaha kecil dan terwujudnya usaha yang makin tangguh dan mandiri, sehingga pelaku ekonomi tersebut dapat berperan dalam perekonomian nasional, meningkatnya daya saing pengusaha nasional di pasar dunia, serta seimbangnya persebaran investasi antar sektor dan antar golongan”.
Pemerintah melalui berbagai elemen seperti Departemen Koperasi, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Bappenas, BUMN juga institusi keuangan baik bank mau pun nonbank, melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan UKM agar dapat menjadi tangguh dan mandiri serta dapat berkembang untuk mewujudkan perekonomian nasional yang kukuh.
Dukungan diwujudkan melalui kebijakan maupun pengadaan fasilitas dan stimulus lain. Selain itu, banyak dukungan atau bantuan yang diperlukan berkaitan dengan upaya tersebut, misalnya bantuan berupa pengadaan alat produksi, pengadaan barang fisik lainnya juga diperlukan adanya sebuah metode, mekanisme dan prosedur yang memadai, tepat guna,
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 7
dan aplikatif serta mengarah pada kesesuaian pelaksanaan usaha dan upaya pengembangan dengan kemampuan masyarakat sebagai elemen pelaku usaha dalam suatu sistem perekonomian yang berbasis masyarakat, yaitu dalam bentuk UKM.
Usaha dalam menjamin kemajuan dan pengembangan UKM juga diprogramkan oleh Depar- temen Keuangan melalui SK Menteri Keuangan (Menkeu) No.316/KMK.016/1994. SK tersebut me- wajibkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyisih kan 1-5% laba perusahaan bagi Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK).
Kewajiban BUMN untuk menyisihkan labanya 1- 5% belum dikelola dan dilaksanakan dengan baik.
Studi oleh Sri Adiningsih (2003: 4) dijelaskan bahwa kebanyakan BUMN memilih persentase terkecil, yaitu 1 % dari labanya, sementara itu banyak UKM yang mengaku kesulitan mengakses dana tersebut. Selain itu kredit perbankan juga sulit untuk diakses oleh UKM, di antaranya karena prosedur yang rumit serta banyaknya UKM yang belum bankable.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
8 |
Menurut Tulus Tambunan (2002) seperti yang dikutip oleh Choirul Djamhari (2004:522), “Di Indonesia kebijakan terhadap UKM lebih sering dikaitkan dengan upaya pemerintah mengurangi pengangguran, memerangi kemiskinan dan pemerataan pendapatan. Karena itu pengembangan UKM sering dianggap secara tidak langsung sebagai kebijakan penciptaan kesempatan kerja, atau kebijakan redistribusi pendapatan”.
Jadi, di Indonesia kebijakan UKM masih berorientasi kepada sosial daripada pasar atau persaingan sehingga kebijakan yang diambil belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan ekonomi makro. Berdasarkan beberapa pendapat dan langkah- langkah yang dilakukan pemerintah dalam menjamin pengembangan UKM dapat disimpulkan bahwa dalam rangka memberdayaan UKM dapat ditempuh meliputi;
1). Penetapan kebijakan pemberdayaan UKM dalam penumbuhan iklim usaha bagi usaha kecil di tingkat nasional yang meliputi: Pendanaan/ penye- diaan sumber dana, tata cara dan syarat pemenuhan
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 9
kebutuhan dana; Persaingan; Prasarana; Informasi;
Kemitraan; Perijinan; Perlindungan;
2). Pembinaan dan pengembangan usaha kecil di tingkat nasional meliputi: Produksi; Pemasaran;
Sumber daya manusia; Teknologi;
3). Fasilitasi akses penjaminan dalam penyediaan pembiayaan bagi UKM ditingkat nasional meliputi: kredit perbankan; penjaminan lembaga bukan bank; Modal ventura; pinjaman dari dana pengasihan sebagai laba BUMN; hibah; jenis pembiayaan lain.
Pembangunan ekonomi kerakyatan usaha menengah mempunyai perananan yang penting dan strategis untuk mewujudkan struktur dunia usaha nasional yang kokoh. Untuk mewujudkan struktur dunia usaha nasional yang kokoh maka usaha menengah perlu ditingkatkan jumlahnya dan diberdayakan menjadi usaha yang tangguh, mandiri dan unggul, sehingga peranannya dalam penyerapan tenaga kerja, ekspor dan pembentukan produk domestik bruto semakin meningkat;
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
10 |
UKM memiliki potensi besar, ditunjukkan dengan kemampuannya bertahan dalam menghadapi badai krisis keuangan dan ekonomi yang menimpa Indonesia sejak medio tahun 1997.
Hal ini juga membuktikan bahwa UKM merupakan salah satu pelaku ekonomi yang kuatdan ulet. Meski pun demikian UKM tidak terlepas dari dampak gejolak pasar dan keambrukan system perbankan nasional.
Diperkirakan di masa depan UKM akan cukup berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan ekonomi yang cepat berubah dan dapat meningkat- kan posisi daya saing bukan hanya dalam pasar lokal tetapi juga dalam mendorong aktivitas ekspor yang pada akhirnya akan lebih mendorong pengembangan perekonomian daerah.
Pemulihan ekonomi dalam perekonomian daerah akan lebih cepat tercapai apabila peran UKM dapat lebih ditingkatkan dan berbagai kendala internal yang melilit UKM seperti perkreditan dan permodalan dapatdicarikan solusi yang pas dan akurat.
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 11
Perkreditan dan permodalan bagi pengembangan UKM sering menjadi kendala, karena UKM sangat terbatas kemampuannya untuk mengakseskan terhadap lembaga perkreditan atau perbankan.
Realitas menunjukkan bahwa UKM pada umum- nya mengalami masalah dalam memenuhi ber- bagai persyaratan untuk mendapatkan kredit yang biasanya diukur dengan 5C, yaitu: character, capacity, capital, collateral, dan condition. Dari persyaratan 5C tersebut ada 2C yang sulit dipenuhi yaitu capital dan collaterall.
Capital berkaitan dengan persyaratan untuk memenuhi Capital Adequacy Ratio (CAR) bagi para peminjam. Kesulitan ini terutama sering dihadapi oleh para pemodal kecil. Sedangkan collateral berkaitan dengan penyediaan jaminan atau agunan tambahan bagi peminjam. Dalam rangka pemberdayaan koperasi dan UKM, pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan yang dituangkan ke dalam 17 skim kredit dengan persyaratan lunak.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
12 |
Dengan skim tersebut, maka tahun 1997/1998, telah dialokasikan dana sebesar Rp. 1,0 trilyun.
Kemudian pada tahun 1998/1999 alokasi dana untuk koperasi dan UKM meningkat empat belas kali dari tahun sebelumnya dengan nilai Rp. 14,4 trilyun. Dalam pelaksanaannya, ternyata belum dapat berjalan secara optimal.
Fenomena ini diduga terjadi karena penyeleng- garaan kredit menghadapi banyak kesulitan, baik dalam penyaluran maupun dalam pengembalian pinjamannya.
Selanjutnya data dari Asian Development Bank tahun 2001 menunjukkan bahwa perolehan kredit bagi UKM dari lembaga perkreditan seperti perbankan adalah sebagai berikut:
a). UKM yang pernah memperoleh kredit dari bank hanya sebesar 21%,
b). UKM yang telah mengajukan kredit tetapi belum memperoleh kredit sebesar 14%,
c). UKM yang sangat membutuhkan kredit tetapi belum mengajukan kredit sebesar 33% dan
d). sisanya sebesar 32% belum memerlukan kredit.
Disebabkan besarnya potensi Usaha menengah
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 13
dalam percaturan global umumnya dan dalam ekonomi Indonesia pada umumnya, maka penting bagi kita untuk memahami lebih jauh tentang masalah ini. Dan selanjutnya mencari solusi tepat untuk semua permasalahan itu.
Kendati demikian, kondisi UKM tetap rawan karena keberpihakan bank yang rendah, pasar bebas yang mulai dibuka, serta terbatasnya kebijakan yang mendukung sektor usaha kecil. Sedangkan kontribusi usaha yang berskala besar pada Tahun 1997 hanya 37, 29 persen dan pada Tahun 2002 turun lagi menjadi 36,1 1 persen. Jumlah unit UKM dalam 3 (tiga) tahun terakhir juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 9,5 persen tiap tahunnya.
Pada Tahun 2002 tercatat sebanyak 38,7 juta dan pada Tahun 2004 sebanyak 42,4 juta unit usaha.
Peningkatan jumlah unit usaha ini juga diikuti dengan kenaikan jumlah tenaga kerja disektor UKM. Pada Tahun 2004 jumlah pekerja di sektor UKM tercatat hampir 80 juta orang, dari jumlah tersebut sebanyak
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
14 |
70,3 juta diantaranya bekerja disektor usaha kecil dan sisanya disektor usaha menengah.
Disamping itu upaya pengembangan UKM dengan mensinergikannya dengan industri besar melalui pola kemitraan, juga akan memperkuat struktur ekonomi baik nasional maupun daerah. Partisi pasi pihak terkait atau stakeholders perlu terus di tumbuh kembangkan lainnya agar UKM betul-betul mampu berkiprah lebih besar lagi dalam perekonomian nasional.
Tentang Pelonggaran Kebijakan Kredit, pelong- garan kebijakan kredit, ada satu hal yang perlu ditegaskan, bahwa kebijakan moneter dan perbankan bukan panacea (obat mujarab yang dapat menyembuhkan segala penyakit, diambil dari nama dewi mitologi Yunani Panacea) bagi seluruh persoalan ekonomi yang kita hadapi.
Bahwa kebijakan moneter dan perbankan juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kebija kan sektor riil. Manjur tidaknya sebuah kebijakan moneter dan perbankan juga ditentukan oleh
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 15
ampuh tidaknya kebijakan di sektor riil. Lahirnya PBI No.9/6/ 2007 mengenai penetapan kualitas aktiva produktif tidak dapat dipandang secara parsial.
Kebijakan ini seperti ditegaskan oleh Gubernur Bank Indonesia, merupakan bentuk upaya Bank Indonesia untuk terus peka terhadap kompleksnya masalah pembiayaan industri perbankan ke sektor riil.
Kebijakan ini merupakan bagian yang integral dengan kebijakan Bank Indonesia yang lain.
Penerbitan PBI No 9/6/2007 merupakan langkah lanjutan dari pelonggaran yang telah dilakukan sebelumnya. Bahkan, khusus tentang penilaian kualitas aktiva produktif, Bank Indonesia telah dua kali melonggarkannya sejak tahun 2005.
Faktor kebijakan kredit memang bukan satu- satunya penyebab rendahnya ekspansi kredit dan LDR, namun di saat begitu banyak dana perbankan yang diparkir di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN) yang tidak sejalan dengan fungsi intermediasi perbankan, diperlukan sebuah kebijakan yang dapat menjadi stimulator bagi bank untuk lebih
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
16 |
ekspansif dalam penyaluran kredit dengan tetap dalam koridor prinsip kehati-hatian.
Adanya ketentuan pelonggaran dalam hal penentuan kualitas aktiva produktif diharapkan dapat menjadi salah satu katalisator yang mendorong bank untuk lebih berani menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk kredit.
Perlu ditegaskan bahwa PBI tersebut hanya merupakan salah satu katalisator, karena tanpa adanya kebijakan pemerintah untuk menciptakan infra struktur bagi sektor riil yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha, maka tujuan PBI tersebut untuk mendorong penyaluran kredit oleh dunia perbankan yang lebih ekspansif juga akan sulit tercapai.
Dengan demikian tentu saja tidak ada yang dapat menjamin bahwa dengan adanya PBI ini otomatis akan secara efektif mendorong sektor riil. Memperhatikan kelonggaran penetapan kualitas aktiva produktif yang hanya berlaku umum pada kredit di bawah Rp500 juta yang identik dengan kredit UKM, dapat ditangkap bahwa di belakang PBI ada semangat keikutsertaan Bank Indonesia dalam upaya pengembangan UKM.
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 17
Hal itu bukan tanpa alasan. Sektor UKM menguasai kurang lebih 90% sektor usaha di Indonesia yang juga dapat dibaca bahwa sektor UKM adalah sektor yang merepresentasikan ekonomi rakyat Indonesia. Selain itu, sektor ini telah membuktikan diri sebagai sektor usaha yang lebih tahan dari hantaman badai krisis.
Bisa dikatakan bahwa terbitnya PBI tersebut juga merupakan salah satu manifestasi konsistensi kepedulian Bank Indonesia terhadap UKM. Dalam pengembangan UKM Bank Indonesia mempunyai program pelatihan pendampingan UKM serta line base survei terhadap UKM yang dilakukan secara berkala.
Secara agregat, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih signifikan, memang akan lebih cepat apabila kebijakan pelonggaran penetapan kualitas produktif tersebut diarahkan kepada kelompok usaha skala besar atau korporasi. Namun terkait dengan risiko kredit usaha skala besar yang juga cukup besar perlu dilakukan langkah yang lebih berhati-hati dalam kebijakan terhadap sektor usaha skala besar.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
18 |
Karena apabila terjadi kegagalan penyaluran kredit di sektor koorporasi, dampak yang timbul terhadap situasi ekonomi juga lebih besar. Di tengah ketidak jelasan kebijakan pemerintah menyangkut restrukturisasi utang usaha kecil dan menengah (UKM), Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) mengembuskan angin surga kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan membuat kesepakatan bersama Bank Indonesia (BI).
Secara bertahap relaksasi tersebut mulai menyentuh sektor usaha skala besar meskipun dengan tetap dalam koridor regulasi yang sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Untuk kredit Rp 500 juta - Rp 20 miliar hanya berlaku bagi bank-bank yang memiliki predikat sistem pengendalian risiko untuk risiko kredit sangat memadai (strong), rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) paling kurang sama dengan ketentuan yang berlaku (8 persen), dan memiliki peringkat komposit tingkat kesehatan bank minimal.
Relaksasi untuk kredit Rp 500 juta - Rp 10 miliar hanya berlaku bagi bank yang memiliki predikat sistem
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 19
pengendalian risiko untuk risiko kredit dapat diandalkan (acceptable), rasio KPMM paling kurang sama dengan ketentuan yang berlaku, dan memiliki peringkat komposit tingkat kesehatan bank minimal.
Selain memberikan kelonggaran terhadap penetapan kualitas aktiva produktif Bank Indonesia juga secara tidak langsung mendorong bank-bank untuk meningkatkan kualitas manajemen risiko. Bank- bank harus menjaga dan meningkatkan kualitas manajemen risiko kreditnya minimal mencapai level strong dan atau acceptable sekaligus menjaga rasio KPMM tetap berada dalam ketentuan yang berlaku.
Sepakat dengan Ryan Kiryanto, bahwa efekti- vitas PBI tidak dapat berjalan sendiri, namun juga harus diiringi perbaikan iklim investasi dan penurunan risiko mikro oleh pemerintah, bahwa efektivitas sebuah kebijakan moneter dan perbankan juga harus didukung dengan kebijakan sektor riil yang tepat.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
20 |
Universitas Narotama Surabaya
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 21
BAB II
PROSPEK PEMASARAN USAHA UKM
2.1 Prospek atau Peluang Pemasaran
Pengelolaan usaha UKM berbasis ekonomi kerakyatan sangat membantu bagi pelaku usaha menciptakan peluang maupun lapangan kerja bagi dirinya jika itu dijalankan dengan benar. Hal ini mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk cukup besar sehingga memerlukan kesempatan kerja yang cukup besar pula.
Disamping itu budaya bisnis pada masyarakat kita masih serba tradisional sehingga seringkali masyarakat kita tertinggal dari Negara-Negara lain.
Mengingat tingkat SDM kita perlu dibekali kemampuan untuk bekerja lebih gigih dan serius.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
22 |
Sehingga diharapkan peran Pemerintah didalam menggerakkan peluang kerja yang diantaranya pelaku usaha UKM akan bisa mencitpkan peluang kerja sendiri dengan demikian akan membantu pekerjaan rumah Pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja tersebut.
Karena jika ingin pelaku usaha tetap eksis dan tetap terjaga maka diharapkan dalam pengelolaan harus profesional dan lebih tepatnya dengan sistem menggerakkan pelaku usaha UKM sebagai motor utama perekonomian Bangsa Indonesia akan lebih tangguh dan merata inilah solisinya karena diharapkan bisa terwujudnya peluang kerja yang banyak dan masyarakat akan terserap dengan usaha UKM tersebut.
Tidak kalah penting adalah peran perbankan harus fokus dan serius dan banyak memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha UKM tersebut agar kesejahteraan yang nyata bisa diraih oleh masyarakat kita secara merata. Dengan sistem kebijakan tersebut pengelolaan usaha UKM berbasis ekonomi kerakyatan merupakan tindakan yang tepat mulia untuk meng-
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 23
angkat harkat dan taraf hidup masyarakat lebih terjamin dan lebih mapan dan lebih sejahtera khususnya dan di Wilayah Surabaya dan sekitarnya.
2.2 Kelayakan Komersial Dalam Bisnis UKM Kelayakan Komersial dan bisnis dikarenakan sistem pengelolaan UKM berbasis ekonomi kerakyatan berupa kebijakan publik usaha UKM ekonomi kerakyatan sangat menarik dan bagi para pelaku usaha UKM maka keseriusan menjalankan kebijakan publik tersebut juga akan sangat menentukan nilai tambah dalam usaha yang dikelola khsususnya bidang UKM.
Sehingga apabila dalam pelaksanaan pengelola- annya harus optimal, maka diharapkan pelaku usaha akan merasa mendaptakan kemudahan karena peran perbankan sangat mendukung hal itu, pelaku usaha juga UKM sedemikian rupa akan lebih serius didalam mengembangkannya usaha tersebut.
Dan pada akhirnya terbentuk karakter pelaku usaha untuk tetap menjaga rasa exis dan penuh semangat didalam menjalankan dan mengelolala usahanya bagi pelaku usaha UKM akan percaya diri
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
24 |
dan kerja keras untuk terus maju dan meningkatkan serta akan meningkatkan kesejahteraan bagi anggotanya.
2.3 Strategi Kelembagaan Dalam Usaha UKM Ciri-ciri industrialisasi yang dibangun terkait dengan hasil penelitian ini adalah sbb:
1. Pelaku usaha UKM yang sering disebut menjadi kewirausahaan melalui penelitian ini diharapkan akan semakin menguatkan karakter bangsa yang mandiri dalam menyelesaikan persoalan pengelo- laan kebijakan publik.
2. Hasil penelitian ini yang merupakan karya anak bangsa akan menjadikan kearifan lokal sebagai salah satu unsur utama menyelesaikan persoalan pengelolaan usaha UKM. Hal ini terkait dengan penelitian yang melibatkan banyak pihak untuk menyelesaikan persoalan sistem kepentingan kelompok usaha, pemerintah maupun swasta yang terkait dengan wirausaha ini. Sehingga dibidang kewirausahaan akan semakin meningkat hasil usahanya.
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 25
3. Pemanfaatan kewirausaha UKM ini akan memanfaatkan hasil inovasi penelitian ini untuk membenahi pengelolaannya agar usahanya bisa berkembang baik. Inovasi penelitian kompetensi ini akan mendayagunakan sebesar mungkin muatan bahan dan sumber daya lokal karena akan dilakukan sinergi penelitian antara LPPM Universitas UNNAR Surabaya dan Lembaga- Lembaga terkait di Jawa Timur.
4. Proses penelitian dan hasil penelitian yang akan didapatkan akan secara langsung meningkatkan peran SDM Bangsa dalam hal ini terkait antara LPPM UNNAR Surabaya dengan kewirausahaan khususnya kebijakan dalam menggerakkan eko- nomi berbasis ekonomi kerakyatan pada pelaku usaha di wilayah Surabaya yang akan menjem- batani pengelolaan pelaku usaha nasional untuk meraih keberhasilan dalam system pengelolaan berbasis ekonomi kerakyatan guna meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. “Kebijakan Publik menggerakkan ekonomi berbasis kerakyatan ini maka peran perbankan dituntut untuk lebih serius
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
26 |
dan bersikap aktif. Tetapi untuk menata perekonomian yang lebih beradab, bermoral dan berkeadilan. Sebab dengan sistem inilah kita dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat bagi pelaku usaha UKM di tengah masyarakat.
2.4 Perencanaan Pelaksanaan Kegiatan
(1) penelusuran data primer dan sekunder penge- lolaan UKM kebijakan publik usaha UKM berbasis ekonomi kerakyatan
(2) studi pustaka tentang : penyebab tertariknya kebijakan publik terhadap ekonomi kerak- yatan beberapa alternatif solusi tindakan preventif maupun kuratif bagi pelaku usaha UKM dan pengelolaannya.
(3) analisis permasalahan usaha UKM basis ekonomi kerakyatan. Pengelolaan yang memberikan manfaat guna memberikan kesejahteraan pelaku UKM.
(4) Input data manfaat maksimal terhadap pelaku UKM dan para anggotanya dengan ekonomi kerakyatan, analisis berbasis ekonomi kerakyatan terhadap usaha UKM dan
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 27
tindakan preventif dan kuratif akibat penge- lolaan ekonomi kerakyatan.
(5) Uji coba implementasi pengelolaan UKM berbasis ekonomi kerakyatan dan revisi hasil uji coba pengelolaan UKM berbasis ekonomi kerakyatan
(6) Penyusunan Laporan, Publikasi, dan pem- berlakuan terhadap kebijakan publik dalam menggerakkan pengembangan UKM ber- basis ekonomi kerakyatan.
2.5 Strategi Pemanfaatan Hasil Kegiatan Strategi pemanfaatan hasil kegiatan ini adalah:
1. Penyuluhan terhadap kelompok usaha UKM dalam sosialisasi kebijakan publik terhadap keberadaan usaha UKM berbasis ekonomi kerakyatan yang telah mendukung ekonomi Nasional secara makro dalam kurun waktu 5- 10 tahun terakhir.
2. Sosialisasi dan Implementasi kebijakan publik dalam menggerakkan usaha UKM sebagai peluang kerja untuk menuju kesejah-teraan masyarakat.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
28 |
3. Perbaikan hasil uji coba peran perbanakan agar lebih memperhatikan bagi pelaku usaha UKM diberi kemudahan dalam men-dapatkan modal kerja.
4. Implementasi kebijakan publik dan peran perbankan didalam menggerakkan ekonomi kerakyatan berbasis ekonomi kerakyatan serta tim dari Universitas Narotama Surabaya kerja sama bersama KADIN Koperasi dan Perban- kan di Surabaya guna membantu pemecahan permasalahan pengelolaan usaha UKM ber- basis ekonomi kerakyatan.
Penanganan dan pengelolaan UKM berbasis perbankan adalah merupakan profil usaha yang banyak tumbuh di Indonesia. Perkembangan usaha sektor UMKM ini lambat karena ketidak berdayaan mereka dalam menghadapi lingkup ekonomi yang terbuka dibutuhkan upaya pember dayaan bagi sektor UMKM.
Salah satu cara memberdayakan mereka adalah dengan memberikan bantuan konsultasi dibidang manajemen strategic dan akses permodalan. Unit
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 29
Koperasi Menengah (UKM) lokal yang perlu dorongan oleh pihak perusahaan swasta dan BUMN karena merupakan bagian integral dan ekonomi rakyat yang mempunyai kedudukan dan peran yang strategis untuk mewujudkan struktur perekonomian yang seimbang daerah.
Berdasarkan evaluasi perkembangan UKM pihaknya dan beberapa pesusahaan akan membuat agenda tetap untuk mempromosikan produk UKM dengan cara menjual langsung kepada masyarakat.
“Pameran dan penjualan langsung UKM lokal akan menjadi agenda tetap, dengan menggunakan strategi dengan pemilihan tempat dan jenis kegiatan yang berbeda setiap acaranya, kedepannya kami akan dorong UKM lokal maupun yang tujuan Eksport.”
Langkah yang akan dilakukan adalah bekerjasama dengan perusahaan swasta maupun BUMN yang menggerakkan UKM berbasis kerakyatan akan diarah- kan pada masa minat beli masyarakat sedang tinggi agar penjualan produk UKM meningkat di Jawa Timur khususnya di Surabaya mengingat masih minimnya dana dari Dinas Koperasi untuk pengembangan UKM.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
30 |
a. Kementerian Koperasi dan UKM bersinergi dengan IKADIN guna mengembangkan penerapan ekono- mi kerakyatan dalam pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil menengah (KUMKM) Indonesia. Menkop dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan dari kerja sama ini diharapkan mampu mengembangkan sektor riil dengan pola kerakyat- an, khususnya pemberdayaan koperasi jasa keua- ngan. Kesepakatan ini untuk meningkatkan dan mengembangkan penerapan ekonomi kerak-yatan melalui KUMKM dalam upaya mendukung perluasan kesempatan kerja dan pengentasan kemiskinan," Naskah kerja sama (MoU) diteken pekan lalu yang dihadiri para tokoh masyarakat dan pejabat Daerah. Kerja sama berdasarkan prinsip kemitraan dan saling memberi dan bermanfaat.
Pihak kesatu adalah instansi yang bertanggung jawab dalam pemberdayaan UMKM. Adapun pihak kedua, adalah lembaga masyarakat yang bertang- gung jawab dalam pengembangan ekonomi kerakyatan.
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 31
Adapun ruang lingkup kerja sama meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia KUMKM, peningkatan kualitas kelembagaan KUMKM, fasilitasi sertifikasi halal setiap produk KUMKM, dan fasilitasi bidang usaha KUMKM berbasis kerakyatan. Menurut Sjarifu ddin, pihaknya akan memfasilitasi pendidikan, pelatihan, pendamping- an, sosialisasi, dan advokasi. Program one village one product (OVOP) ikut dimasukkan sebagai program andalan karena komoditasnya adalah unggulan.
Adapun tugas bersama membantu memasya rakatkan gerakan koperasi sebagai pola pember- dayaan masyarakat sekaligus memberi pemahaman dan pengembangan ekonomi kerakyatan juga mempersiapkan modul, instruktur bagi kegiatan ekonomi kerakyatan dibidang kewirausahaan berbasis kerakyatan. Kemudian memberdayakan dan mengembangkan produksi dan jasa berdasar- kan prinsip dan norma budaya lokal.
b. Tahun 2009 dimulainya program dalam mengem- bangkan Koperasi Jasa Keuangan yang merupakan
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
32 |
salah satu program Kementerian Negara Koperasi dan UKM dalam memajukan pengembangan koperasi dan UKM berbasis kerakyatan. Selain itu orientasi dalam mengembangkan KJKS tak lepas dari semangat munculnya Undang-Undang Per- bankan yang merupakan pilar dari pengem-bangan ekonomi kerakyatan di Indonesia. Bagaimana potensi serta peluang KJKS kedepan sangat berpotensial KJKS berkembang, hal ini dilihat dari segmentasi pasar sangat luas untuk dikembangkan dan tambah mayoritas masyarakat Indonesia menjadikan daya tarik sendiri bagi pengembangan KJKS.
Kelebihan KJKS dibandingkan koperasi biasa selama ini banyak hal yang diperoleh dalam KJKS dimana di KJKS banyak skim-skim pembiayaan yang bervariasi hal ini sangat cocok dan sesuai dengan kebutuhan pelaku UKM yang ada selama ini.
Selain itu orientasi dari sistem ekonomi kerakyatan adaalah memajukan sektor riil hal ini sangat sesuai dengan kepentingan pengembangan koperasi. Peran
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 33
dan dukungan pemerintah dalam pengembangan KJKS selama ini. Dalam mendukung operasional KJKS, kami telah membuat regulasi-regulasi terkait pengembangan Koperasi Jasa Keuangan (KJK) yang di dalamnya termasuk KJKS yang diantaranya adalah mengenai sistem penilaian serta SOP.
Dengan demikian dari kami telah menfasilitasi pengembangan KJKS sebagai implementasi bagi pengembangan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Menurut Barney (1991) menyatakan bahwa untuk meraih daya saing dan keuntungan yang berkelanjutan maka perusahaan harus berusaha mencari dan menumbuhkan kapabilitas khusus dari semua sumber daya yang dimiliki.
Teori Competitive Strategy (Porter, 1980) mengemukakan bahwa perusahaan harus menciptakan daya saing khusus agar memiliki posisi tawar menawar yang kuat dalam persaingan. Lebih lanjut Porter (1991) menyatakan bahwa perusahaan dapat mencapai keberhasilan jika tiga kondisi dipenuhi yaitu:
1) tujuan perusahaan kuat di pasar,
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
34 |
2) memperhatikan kekuatan perusahaan secara dinamis dengan memperhatikan peluang dan ancaman lingkungan eksternal,
3) harus memiliki dan menggali kompetensi khusus (distinctive competency) sebagai pendorong, jika hal ini tidak dilakukan maka kinerja usaha dan keuntungan keuntungan akan menurun.
Sedangkan menurut Mahoney and Pandian (1992) untuk menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan krisis internal, perusahaan kecil dapat menggunakan teori resour ced- based strategy. Teori ini dinilai potensial untuk memelihara keberhasilan perusahaan dalam kondisi lingkungan eksternal bergejolak, teori ini mengutamakan pengembangan kapabilitas internal yang unggul (superior), tidak transparan, sukar ditiru atau dialihkan oleh pesaing dan memberikan daya saing yang panjang (futuristik) dan tahan terhadap resesi (recession proof).
Kompetensi yang dibangun dari pemanfaatan aset internal organisasi melalui pembelajaran organisasi yang berkelanjutan akan menghasilkan kemampuan
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 35
dan keunggulan yang berkelanjutan (sustained competitive advantage) dan kinerja usaha yang unggul.
Barney (1991) menyatakan sesuai dengan teori resourcebased view (RBV) kompetensi sumber daya yang menjadi sumber keunggulan bersaing ber- kelanjutan ketika Usaha Mikro, Kecil dan Menengah memiliki kompetensi dan sumber daya yang bernilai bagi pelanggan, langka, sulit ditiru dan sulit untuk digantikan dan ini akan mampu menjaga posisi yang baik dalam persaingan dalam industrinya.
Pendekatan RBV juga menyatakan bahwa kinerja usaha yang tinggi akan lebih mudah diraih apabila perusahaan memiliki kompetensi sumber daya dan daya saing yang handal (Wernelfelt, 1984; Barney, 1991: Amit and Schoemaker, 1993).
Koordinasi sumber daya strategik yang merupakan hasil dari perpaduan orientasi kewirausahaan dan pembelajaran organisasi akan mendukung terciptanya sumberdaya yang non-imitability, non-transferability dan non-substitutability yang merupakan sumber dari keunggulan bersaing berkelanjutan (sustained compe-
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
36 |
titive advantage) seperti yang dinyatakan oleh Durand (1999:45).
Faktor penting lain yang dapat mempengaruhi kinerja usaha UMKM adalah semangat untuk terus belajar sehingga terbentuk budaya belajar pada organisasi. Wirausahawan dapat mempengaruhi internal organisasinya termasuk elemen-elemen yang dalam organisasi usahanya untuk mau dan mampu belajar secara pro-aktif dan tidak bersifat pasif.
Dengan proses pembelajaran yang aktif pada tingkat individu maka akan terdapat pula pembelajaran secara organisasi, maka organisasi akan mampu mendapatkan dan mengolah informasi menjadi pengetahuan baru dalam menjalankan usaha.
Marquardt (1996:15) menyatakan agar dapat mencapai dan mempertahankan keunggulan bersaing dalam lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat, organisasi harus dapat meningkatkan kapasitas pembe- lajarannya. Proses pembelajaran organisasi merupakan proses dimana organisasi menggunakan pengetahuan yang ada dan membangun berbagai pengetahuan baru
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 37
untuk membentuk pengembangan kompetensi baru yang sangat penting dalam lingkungan yang terus berubah.
Berdasarkan data paling akhir yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik dan Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (BPS dan Kemenegkop & UMKM RI) tahun 2009 indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah diIndonesia memiliki posisi penting tersebut.
Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Jumlah populasi UMKM pada tahun 2008 mencapai 51,2 juta unit usaha atau 99,99% terhadap total unit usaha di Indonesia, dengan jumlah tenaga kerjanya mencapai 90,9 juta orang atau 97,04 % terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia.
Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja yang menyerap 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
38 |
Ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) memberikan kontribusi 55,56 % dari total PDB.
Fakta ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya keberadaan UMKM untuk menciptakan stabilitas ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan, namun karena tingkat produktivitasnya yang rendah menyebabkan nilai tambah bagi kegiatan ekonomi menjadi rendah.
Peningkatan kinerja usaha UMKM tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia yang mampu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah. Sumber daya manusia tersebut adalah para wirausaha (entrepreneur) adalah manusia-manusia unggul yang selalu berorientasi untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru, melaksanakan proses yang lebih baik dan efisien untuk memenangkan persaingan.
Lebih lanjut Scarborough and Zimmerer (2003:35), mengemukakan bahwa kegagalan entrepreneur/ wira- usahawan dalam menjalankan Usaha Mikro, Kecil dan
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 39
Menengah antara lain dikarenakan: ketidakmampuan dalam mengelola manajemen (management incompe tence), kurangnya pengalaman (lack of experience), lemahnya pengawasan keuangan (poor financial control), kurangnya pengetahuan manajemen stratejik (lack of strategic management), tidak terkontrolnya pertumbuhan (uncontrolled growth), lokasi yang keliru (inappropriate location), kurangnya pengawasan persediaan (lack of inventory control), dan ketidak- mampuan dalam pengendalian transisi kewirausahaan (inability to make entrepreneurial transition).
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
40 |
Universitas Narotama Surabaya
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 41
BAB III
PENANGANAN BISNIS UKM DI INDONESIA
3.1 Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri.
Menurut Keputusan Presiden RI No. 99 Tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
42 |
Menurut Keputusan Presiden RI No. 99 tahun 1998, Pengertian Usaha Kecil Menengah: Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pengertian Usaha Kecil Menengah: Berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.
Berdasarkan Keputuasan Menteri Keuangan Nomor 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, pengertian Usaha Kecil Menengah: Didefinisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan usaha yang mempunyai penjualan atau omset per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.
000 atau asset atau aktiva setinggi-tingginya Rp 600.000.000 (diluar tanah dan bangunan yang ditempati) terdiri dari: Bidang usaha (Fa, CV, PT, dan
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 43
koperasi), Perorangan (Pengrajin/industri rumah tangga, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang dan jasa).
Menurut UU No 20 Tahun 2008 pengertian Usaha Kecil Menengah: Undang undang tersebut membagi kedalam dua pengertian yakni: Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut:
- Kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
- Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut:
– Kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
44 |
– Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.
000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
Dalam perspektif perkembangannya, UMKM dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok yaitu:
1) Livelihood Activities, merupakan UMKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.
2) Micro Enterprise, merupakan UMKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.
3) Small Dynamic Enterprise, merupakan UMKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
4) Fast Moving Enterprise, merupakam UMKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB).
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 45
3.2 Definisi Usaha Kecil dan Mikro
Usaha mikro adalah usaha yang bersifat menghasilkan pendapatan dan dilakukan oleh rakyat miskin atau mendekati miskin. Sedangkan Pengusaha Mikro adalah orang yang berusaha di bidang usaha mikro.
Ciri-ciri usaha mikro antara lain: ”modal usahanya tidak lebih dari Rp 10 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan), tenaga kerja tidak lebih dari lima orang dan sebagian besar mengunakan anggota keluarga/kerabat atau tetangga, pemiliknya bertindak secara naluriah/alamiah dengan mengandalkan insting dan pengalaman sehari-hari.” P2KP,
“Mengenal Kelompok Usaha Mikro.
Jenis usaha mikro, antara lain seperti dagang (seperti warung kelontong, warung nasi, mie bakso, sayuran, jamu), industri kecil (konveksi, pembuatan tempe/kerupuk/kecap/kompor/sablon), jasa (tukang cukur, tambal ban, bengkel motor, las, penjahit), pengrajin (sabuk, tas, cindera mata, perkayuan, anyaman), dan pertanian/peternakan (palawija, ayam buras, itik, lele).
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
46 |
Terkait pengembangan usaha mikro, dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Pertama, Kelompok Usaha Mikro (KUM), yaitu sekelompok orang yang bersepakat untuk saling membantu dan bekerjasama dalam membangun sumber pelayanan keuangan dan usaha produktif, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
KUM adalah kelompok swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang ekonomi. KUM diperlukan, karena usaha sendiri tidaklah mudah dan memiliki keterbatasan pengetahuan/pendidikan, sumber bahan baku terbatas, modal kecil, teknologi produksi sederhana, serta tidak memiliki akses kepada sumber modal, apalagi persaingan antar usaha cukup kuat.
Pemberdayaan Industri Kecil bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kecil menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah dan juga untuk meningkatkan peranan industri kecil dalam pembentu kan produk nasional, perluasan kesempatan kerja dan berusaha, meningkatkan ekspor, serta
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 47
peningkatan dan pemerataan pendapatan untuk mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta memperkokoh struktur.
Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menyebutkan: ”Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.”
Pada Pasal 6 ayat (1) menyebutkan kriteria yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai usaha mikro, yaitu:
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau 2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah.
Pasal 1 angka (8) Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah memberikan pengertian pemberdayaan sebagai upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, dunia
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
48 |
usaha, dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.
Selanjutnya pada Pasal 1 angka (10) Undang- Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah memberikan definisi dari upaya pengembangan, yaitu:
Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui pemberian fasilitas, bimbingan, pendamping- an, dan bantuan perkuatan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah.
Ketentuan untuk dikatakan sebagai usaha kecil harus sesuai dengan beberapa ketentuan yang diatur oleh undang-undang, diantaranya ketentuan mengenai besarnya modal dan pendapatan. Ditinjau dari sisi modal dan pendapatan, Pasal 6 ayat (2) huruf a dan b
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 49
Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 mengatur harus memiliki kekayaan bersih lebih dari dari Rp. 50.000.
000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.
000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000. 000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3.3 Ciri - Ciri Usaha Kecil dan Mikro
Pada umumnya kelompok dan individu di- dampingi dengan dasar keswadayaan. Untuk kelom- pok, keswadayaan dilakukan dengan mengembangkan kegiatan simpan pinjam, sehingga nantinya kelompok akan mempunyai dana sendiri yang dapat digunakan oleh keseluruhan anggota. Keterbatasan dana dalam kelompok merupakan hal yang selalu terjadi, dimana simpanan anggota lebih kecil dari kebutuhan.
Keterbatasan inilah yang merupakan salah satu faktor penghambat perkembangan kelompok. Banyak ide-ide produktif yang muncul dalam kelompok
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
50 |
terkendala implementasinya disebabkan kekurangan dana. Hal yang sama juga terjadi pada usaha-usaha yang dikelola individu. Banyak usaha-usaha individual dan bersifat retail yang berprospek tetapi sangat terbatas sumber pembiayaannya.
Dilain pihak kebanyakan pengusaha lokal, mereka jarang bahkan tidak memiliki aspek-aspek legalitas usaha seperti izin, SIUP walaupun usaha yang dijalankan sesung guhnya menjadi penopang kehidupan keluarga.
Di lain pihak daya akses masyarakat ke lembaga- lembaga penyedia dana seperti perbankan, sering kali harus menghadapi berbagai persyaratan maupun birokrasi yang panjang. Pihak Bank menerapkan peraturan perbankan secara kaku tanpa melihat realitas yang ada di masyarakat.
Misalnya meminta aspek legalitas usaha yang demikian panjang daftarnya yang kadang kala harus berhadapan dengan penyelenggara pemerintahan yang penuh birokrasi. Tulus Tambunan, Globalisasi Ekonomi dan Ekspor, Usaha Kecil dan Menengah
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 51
Indonesia, makalah, LP3E-Kadin Indonesia, Jakarta, 2001, hlm.2.
Krisis ekonomi, apalagi yang sangat parah, tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejut- kan kalau pengangguran, hilangnya peng-hasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi.
Sementara itu, belakangan ini banyak diungkap- kan bahwa Usaha mikro dan usaha kecil memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Dengan memupuk usaha mikro dan usaha kecil diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi.
Hal serupa juga berlaku bagi sector informal Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. Diah Kurniawati, “Wajah Koperasi Tani dan Nelayan Di Indonesia: Sebuah Tinjauan Kritis”.
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
52 |
Pendapat mengenai peran usaha mikro dan usaha kecil atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat.
Usaha mikro dan usaha kecil boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal.
Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. Bukan tidak mungkin produk-produk usaha mikro dan usaha kecil justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa- masa sulit akibat krisis ekonomi.
Jika demikian halnya maka kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. Usaha mikro dan
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 53
usaha kecil nasional banyak mengalami masalah, khususnya dalam bidang manajemen, baik manajemen produksi, pemasaran, maupun sumber daya manusia (SDM), disamping masalah pembiayaan.
Untuk menyukseskan usaha mikro dan usaha kecil usaha mikro dan usaha kecil bangkit, pemerintah akan menggandeng stakeholder (pihak terkait lainnya) seperti Kadin Indonesia dan pelaku usaha untuk membantu mengatasi masalah UKM.
Pada dasarnya pemerintah hanya sebagai regulator dan membuat kebijakan yang membantu, tetapi pelaku di lapangan adalah swasta.Muhammad Jafar Hafsah, “Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah”.
Mengingat ketatnya persaingan yang dihadapi produk ekspor Indonesia termasuk UKM, maka Indonesia mengambil langkah-langkah strategis, baik jangka panjang maupun jangka pendek.
Langkah-langkah strategis jangka panjang diantaranya diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusia, teknologi dan jaringan bisnis secara
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
54 |
global. Sedangkan langkah-langkah strategis jangka pendek diantaranya, melakukan diversifikasi produk, menjalin kerjasama dengan pemerintah dan perusaha- an besar, produksi, memperkuat akses ke sumber- sumber informasi dan perbaikan mutu.
Usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah memegang peranan penting dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha (establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja. Berdasar- kan survei yang dilakukan oleh BPS dan Kantor Menteri Negara untuk Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menegkop & UKM), usaha-usaha kecil termasuk usaha- usaha rumah tangga atau mikro yaitu:
Usaha dengan jumlah total penjualan (turn over) setahun yang kurang dari Rp. 1 milyar), pada tahun 2000 meliputi 99,9 persen dari total usaha-usaha yang bergerak di Indonesia.
Sedangkan usaha-usaha menengah (yaitu usaha- usaha dengan total penjualan tahunan yang berkisar antara Rp. 1 Milyar dan Rp. 50 Milyar) meliputi hanya 0,14 persen dari jumlah total usaha. Dengan demikian,
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 55
potensi UKM sebagai keseluruhan meliputi 99,9 persen dari jumlah total usaha yang bergerak di Indonesia.
Carunia Mulya Firdausy, Prospek Bisnis UKM dalam Era Perdagangan Bebas dan Otonomi Daerah, artikel, Lembaga Ilmu Pengtahuan Indonesia, Jakarta, 2003, hlm. 4.
Banyak kendala untuk meningkatkan akses usaha kecil melalui lembaga keuangan, dan kendala terbesar adalah tidak tersedianya agunan fisik. Dalam hal ini agunan pinjaman menjadi fokus dalam pengembangan akses pembiayaan pada usaha kecil.
Sementara itu dukungan nyata kepada UMKM juga dilakukan oleh BUMN, sebagai badan usaha milik negara, yang menyisihkan 1-5 persen dari keuntungan bersih untuk program kemitraan dan bina lingkungan.
Berdasarkan pengamatan dan parameter perbankan nasional, saat ini masih terdapat kelemahan dalam pelaksanaan program tersebut, antara lain adanya tingkat kredit macet (Non Perfor ming Loan/NPL) yang relatif tinggi. Sebagai lembaga yang mendukung peningkatan akses UMKM terhadap sumber-sumber
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
56 |
pembiayaan, PEAC BROMO merasakan hal tersebut menjadi problem yang cukup berat bagi UMKM.
Tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus secepat nya dicarikan solusi yang cerdas. Hal tersebut mengingat peran strategis UMKM dalam pereko nomian nasional.
Secara garis besar, terdapat 3 (tiga) kebijakan pokok yang dibutuhkan dalam pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yaitu:
1. Menciptakan iklim usaha yang kondusif (condu- cive business climate) sekaligus menyediakan lingkungan yang mampu (enabling environment) mendorong pengembangan UMKM secara sistematik, mandiri, dan berkelanjutan.
2. Kedua, menciptakan sistem penjaminan (guaran- tee system) secara finansial terhadap operasionali- sasi kegiatan usaha ekonomi produktif yang dijalankan oleh UMKM.
3. Ketiga, menyediakan bantuan teknis dan pendam- pingan (technical assistance and facilitation) secara manajerial guna meningkatkan status usaha UMKM agar feasible sekaligus bankable dalam
Kebijakan Pengembangan UKM Berbasis Ekonomi Kerakyatan Di Jawa Timur
| 57
jangka panjang. Agustianto, “Strategi Baru Pem- berdayaan UMKM”, http://umkmakmur. word- press.com/2008/12/04/strategi-baru-pemberda- yaan-umkm/, diakses tangal 15 september 2009.
Kebijakan dan strategi pertama pada dasarnya merupakan penerjemahan dari fungsi peme rintah sebagai regulator dalam kegiatan ekonomi di masyarakat. Oleh karenanya, pemerintah harus mampu mengembangkan regulasi-regulasi ekonomis yang dapat memberikan tingkat kepastian usaha sekaligus memberikan pemihakan yang tepat kepada segenap pelaku UMKM dalam menjalankan dan mengembang- kan usahanya.
Kebijakan dan strategi kedua pada dasarnya merupakan solusi terobosan terhadap adanya ”gap”
antara UMKM, dan perbankan/lembaga keuangan bukan bank, dalam hal permodalan/pembiayaan usaha.
3.4 Usaha Kecil Mikro Dalam Kebijakan Pembangunan
Kebijakan pemberdayaan koperasi dan UMKM dalam tahun 2006 secara umum diarahkan untuk
Tutiek Retnowati, Widyawati Boediningish, Suwardi.
58 |
mendukung upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan, penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan ekspor, serta revitalisasi pertanian dan perdesaan, yang menjadi prioritas pembangunan nasional dalam tahun 2006.
Dalam kerangka itu, pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) diarahkan agar memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penciptaan kesempatan kerja, peningkatan ekspor dan peningkatan daya saing, sementara itu pengembangan usaha skala mikro diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan masyarakat berpendapatan rendah, khususnya di sektor pertanian dan perdesaan.
Dalam rangka mendukung upaya penanggulang- an kemiskinan dan kesenjangan, dilakukan penyediaan dukungan dan kemudahan untuk pengembangan usaha ekonomi produktif berskala mikro/informal, terutama di kalangan keluarga miskin dan/atau di daerah tertinggal dan kantong-kantong kemiskinan.
Pengembangan usaha skala mikro tersebut di- arahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan