• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH IDENTITAS SOSIAL TERHADAP RESILIENSI SINGLE PARENT DI KOMUNITAS SINGLE PARENT INDONESIA (SPINMOTION) CHAPTER JAKARTA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH IDENTITAS SOSIAL TERHADAP RESILIENSI SINGLE PARENT DI KOMUNITAS SINGLE PARENT INDONESIA (SPINMOTION) CHAPTER JAKARTA SKRIPSI"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

RESILIENSI SINGLE PARENT DI KOMUNITAS SINGLE PARENT INDONESIA (SPINMOTION) CHAPTER

JAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh

Yulyan Tanida Delly NIM. 11150541000038

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYA ATULLAH JAKARTA

1442 H / 2021 M

(2)

PENGARUH IDENTITAS SOSIAL TERHADAP RESILIENSI SINGLE PARENT DI KOMUNITAS SINGLE

PARENT INDONESIA (SPINMOTION) CHAPTER JAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

(S.Sos)

Oleh

Yulyan Tanida Delly NIM. 11150541000038

Di Bawah Bimbingan:

Abdul Azis, M.Psi NIDN. 0331 129201

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYA ATULLAH JAKARTA

1442 H / 2021 M

(3)
(4)

PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Yulyan Tanida Delly NIM : 11150541000038

Dengan ini Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul PENGARUH IDENTITAS SOSIAL TERHADAP RESILIENSI

SINGLE PARENT DI KOMUNITAS SINGLE PARENT

INDONESIA (SPINMOTION) CHAPTER JAKARTA adalah benar karya Saya sendiri dan tidak melakukan Tindakan plagiat dalam penyusunannya. Adapun kutipan dalam penyusunan karya ini telah saya cantumkan sumber kutipannya dalam skripsi. Saya bersedia melakukan proses yang semestinya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku jika ternyata skripsi ini Sebagian atau keseluruhan merupakan plagiat dari karya orang lain.

Demikian Pernyataan ini di buat untuk dipergunakan seperlunya.

Jakarta, 05 April 2021

NIM. 11150541000038s Yulyan Tanida Delly NIM. 11150541000038

(5)

ABSTRAK

i

Yulyan Tanida Delly, 11150541000038, Pengaruh Identitas Sosial Terhadap Resiliensi Single Parent Di Komunitas Single Parent Indonesia (SPINMOTION) Chapter Jakarta.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan orang tua tunggal yang disebabkan faktor kematian pasangan maupun perceraian banyak terjadi di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut berdampak pada menurunnya kesejahteraan psikologis seorang single parent. Sehingga masyarakat bersatu-padu dalam membentuk komunitas single parent Indonesia yang biasa dikenal dengan SPINMOTION. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui Pengaruh Identitas Sosial terhadap Resiliensi Single Parent di Komunitas Single Parent Indonesia (SPINMOTION).

Landasan teori yang digunakan untuk mengukur identitas sosial mempunyai dimensi keanggotaan, pribadi, dan identitas. Selanjutnya, teori untuk mengukur resiliensi yaitu emotional regulation, impulse control, optimism, causal analysis, empathy, self-efficacy dan reaching out. Metodologi dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Tempat penelitian dilakukan di komunitas single parent Indonesia dengan pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 82 orang responden dari jumlah populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan jenis purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, skala, dan kuesioner. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear sederhana.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai Fhitung sebesar 25,136 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka model regresi tersebut dapat disimpulkan terdapat pengaruh variabel identitas sosial (X) terhadap variabel resiliensi single parent (Y).

Kemudian dari hasil koefisien determinasi atau R Square menunjukan angka sebesar 0,239 atau dapat disimpulkan bahwa sebesar 23,9%

variabel identitas sosial (X) berkontribusi terhadap variabel resiliensi single parent (Y), sehingga hipotesis yang diterima adalah (H1) yang berarti bahwa (H0) ditolak.

Kata kunci: Identitas Sosial, Komunitas, Resiliensi, Single Parent

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Terima Kasih Kepada Allah SWT Berkat rahmat dan karunianya, peneliti dapat menyelesaikan Skripsi yang Berjudul Pengaruh Identitas Sosial Terhadap Resiliensi Single Parent Di Komunitas Single Parent Indonesia (SPINMOTION) Chapter Jakarta. Sholawat Serta Salam tak lupa penulis curahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Dan para sahabatnya yang telah memberikan contoh yang baik untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut Ilmu.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada berbagai pihak yang telah membantu. Selain itu penulis juga sangat berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penelitian ini, yaitu kepada pihak-pihak terkait sebagai berikut.

1. Suparto, M.Ed., Ph.D, sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, MSW sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik.

Dr. Sihabuddin Noor, MA sebagai Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum. Drs. Cecep Sastrawijaya, MA sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.

2. Ahmad Zaky, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(7)

iii

3. Hj. Nunung Khoiriyah, MA selaku Sekretaris Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Abdul Azis, M.Psi sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan memberikan motivasi hingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Ellies Sukmawati, S.T., M.Si sebagai dosen pembimbing akademik

6. Seluruh Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial yang telah memberikan wawasan dan keilimuan serta membimbing peneliti selama menjalani perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

7. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi dan Civitas Akademika yang telah memberikan sumbangan wawasan dan keilmuan dan membimbing peneliti selama menjalani perkulian di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, peneliti ucapkan terimakasih karena telah membantu dalam memberikan referensi buku, jurnal, maupun skripsi dari penelitian-penelitian terdahulu.

9. Kedua orang tuaku tercinta, khususnya Papa yang tidak pernah henti memberikan dukungan baik moril maupun materil, kasih sayang, dan cinta yang tak pernah ada habisnya. Tidak pernah

(8)

iv

bosan untuk memberikan semangat kepada peneliti. Rasa sayang peneliti tidak akan cukup tergambar melalui kata-kata yang tertulis, peneliti juga merasa tidak sanggup untuk membalas semua kebaikan yang diberikan kedua orang tuaku yang sangat peneliti sayangi.

10. Kepada Kakak perempuanku Dwi Fanny Anindyka, my number one support system serta role model bagi peneliti dari dulu hingga saat ini, yang tidak pernah henti memberikan dukungannya baik moril maupun materil, serta senantiasa memberikan dukungan untuk tetap berjuang dan semangat yang dalam menuntut ilmu, khususnya dalam menyelesaikan studi di UIN Syarif Hidayatullah.

11. Kepada Kakak Laki-lakiku Aditya Ilham Pratama yang selalu melindungi, memberikan dukungan serta motivasi bagi peneliti untuk selalu semangat dalam menyelesaikan skripsi dan studi di UIN Syarif Hidayatullah.

12. Kepada Kakak-kakak Iparku Aji Prasetyo dan Anggia Maiza yang selalu memberikan dukungan bagi peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

13. Kepada keponakanku tersayang, Athara Shahzeela Pratama, Athasya Vania Pratama, dan Callysta Divya Alarice yang senantiasa menghibur peneliti dikala penat dalam penyusunan skripsi ini.

14. Kepada Rizky Ferdiansyah yang juga merupakan support system dalam kehidupan peneliti yang senantiasa meluangkan waktunya

(9)

v

menyelesaikan skripsi ini, serta selalu mensupport peneliti dalam keadaan apapun.

15. Kepada sahabatku Almarhumah Maria Khiftia yang selalu memotivasi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini hingga akhir hayatnya.

16. Kepada sahabat-sahabatku di SDC yang selalu memberikan dukungan kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi.

17. Kepada pihak komunitas SPINMOTION Jakarta, terutama Bapak Yasin Malenggang dan pengurus yang telah mengizinkan penulis untuk mengambil data di komunitas SPINMOTION Jakarta.

18. Kepada sahabatku Nur Indah Hasibuan yang merupakan teman seperjuangan selama menjadi mahasiswi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

19. Teman-teman seperjuangan Kesejahteraan Sosial, terimakasih atas kebersamaan menuntut ilmu selama ini.

20. Serta semua pihak yang telah terlibat membantu peneliti dan memberikan do’a dalam membuat skripsi yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu.

(10)

vi

Tidak ada kata yang pantas penulis berikan selain ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Hanya Allah-lah yang dapat membalas dengan sebaik-baiknya balasan. Tak lupa penulis ucapkan permohonan maaf apabila dalam penulisan skripsi ini terdapat kesalahan-keslahan, baik yang disengaja maupun tidak.

Jakarta, 05 April 2021

Yulyan Tanida Delly

(11)

vii

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI ... vii

BAB I... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Batasan Masalah... 8

D. Rumusan Masalah ... 8

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

F. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 10

G. Sistematika Penulisan... 11

BAB II ... 12

KAJIAN TEORI ... 12

A. Resiliensi ... 12

1. Pengertian Resiliensi ... 12

B. Aspek-Aspek Resiliensi ... 14

1. Emotional Regulation (Regulasi Emosi)... 14

2. Impuls Control (Pengendalian Impuls) ... 15

3. Optimism (Optimis) ... 15

4. Causal Analysis (Kemampuan dalam menemukan sumber masalah yang sebenarnya) ... 16

(12)

viii

5. Empathy (Kemampuan untuk berempati) ... 16

6. Self-Efficacy (Efikasi Diri) ... 16

7. Reaching Out (Titik Balik/Pencapaian) ... 17

C. Identitas Sosial ... 17

1. Pengertian Identitas Sosial... 17

2. Aspek-Aspek Identitas Sosial ... 19

D. Komunitas ... 20

E. Single Parent (Orang Tua Tunggal) ... 21

1. Perceraian... 22

2. Kematian... 23

F. Hipotesis Penelitian... 24

BAB III... 26

METODOLOGI PENELITIAN ... 26

A. Desain Penelitian... 26

B. Subjek Penelitian ... 27

1. Subjek Penelitian ... 27

2. Tempat Penelitian ... 27

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 27

1. Populasi... 27

2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel... 27

D. Identifikasi Variabel Penelitian ... 29

1. Variabel Bebas... 29

2. Variabel Terikat ... 29

E. Definisi Operasional Variabel... 29

1. Variabel Resiliensi ... 29

(13)

ix

2. Variabel Identitas Sosial ... 31

F. Sumber Data Penelitian... 31

G. Teknik Pengumpulan Data ... 32

1. Skala ... 32

2. Kuesioner ... 33

H. Instrumen Penelitian ... 34

1. Skala Ukur Identitas Sosial ... 35

2. Skala Ukur Resiliensi... 35

I. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ... 36

1. Variabel Identitas Sosial ... 36

2. Variabel Resiliensi Single Parent ... 37

J. Validitas dan Reliabilitas Penelitian ... 39

1. Uji Validitas... 39

2. Uji Reliabilitas ... 40

K. Teknik Analisis Data ... 41

1. Uji Normalitas... 42

2. Uji Linearitas ... 42

3. Uji Hipotesis Penelitian ... 43

BAB IV... 44

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Deskripsi Tempat Penelitian ... 44

B. Deskripsi Karakteristik Responden ... 45

1. Karakteristik Umum Responden ... 45

2. Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 46

3. Data Responden Berdasarkan Rentang Usia ... 47

(14)

x

C. Uji Prasyarat Analisis Data... 49

1. Uji Normalitas... 49

2. Uji Linearitas ... 52

D. Uji Hipotesis Penelitian... 53

1. Analisis Uji Regresi Linear Sederhana... 53

2. Koefisien Dterminasi (R2) ... 55

3. Uji Statik F (F-test) ... 56

E. Pembahasan Penelitian... 57

BAB V ... 61

KESIMPULAN DAN SARAN ... 61

A. Kesimpulan ... 61

B. Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 63

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kasus orang tua tunggal karena kematian pasangan maupun perceraian cukup banyak terjadi di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah status perkawinan pria dan wanita berdasarkan cerai hidup dan cerai mati dari tahun 2018 sampai 2020 di DKI Jakarta sebagai berikut :

1. Tahun 2018: jumlah perceraian hidup dan cerai mati pria dan wanita sebanyak 1.459 kasus perceraian.

2. Tahun 2019: jumlah perceraian hidup dan cerai mati pria dan wanita sebanyak 1.719 kasus perceraian.

3. Tahun 2020: jumlah perceraian hidup dan cerai mati pria dan wanita sebanyak 1.558 kasus perceraian.

(Sumber : https://jakarta.bps.go.id/)

Dilihat dari data diatas, diketahui bahwa fenomena keluarga single parent bukanlah fenomena yang langka, meski stigma mengenai keluarga ini cenderung masih negatif. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa jika bercerai, mereka adalah pribadi yang dianggap gagal membina rumah tangga dan jika pun karena wafatnya pasangan, mereka dipandang sungguh sangat kasihan namun terkadang tetap menjadi bahan cemoohan. Jika bercerai, anak mereka sering kali disebut sebagai anak broken

(16)

2 home yang memiliki kecenderungan menderita kelainan psikologis sejak dini di usia belia.

(https://www.fimela.com/parenting/read/3776552/spinmotion- komunitas-single-parents-indonesia-yang-berkembang-karena- media).

Posisi di masyarakat yang serba sulit dan membuat single parent akhirnya harus menerima nasib mereka sebagai anggota masyarakat yang berbeda dan dibedakan keberadaannya, “kalau ada teman datang kerumah, misal teman kantor itu juga suka ada aja tetangga yang masih gosipin, kadang risih karna status saya

“duda” jadi kalo ada teman datang kerumah itu kesannya negatif aja” (Wawancara dengan bapak Yasin Malenggang, 18 Oktober 2019). Hal tersebut berdampak pada menurunnya kesejahteraan psikologis single parent. Kesejahteraan psikologis dalam hal ini menyangkut ke-pribadian, kepuasan hidup, kepercayaan diri, komunikasi, dan aktivitas sehari-hari (Kume, 2015).

Oleh karena fenomena tersebut, akhirnya membuat single parent bersatu-padu dalam membentuk komunitas single parent Indonesia atau SPINMOTION. Di sisi lain, pada tahun 2018, The Lancet Public Health merilis data resiko kematian bagi single parent. Maria Chiu dan rekannya meneliti kematian ayah tunggal dan ibu tunggal di bandingkan dengan ayah dan ibu pasangan. Penelitian tersebut berdasarkan populasi yang terdiri dari 40.000 orang yang merupakan bagian dalam Survei Kesehatan Masyarakat Kanada: 871 adalah ayah tunggal, 4.590

(17)

ibu tunggal, 16.341 ayah pasangan, dan 18.688 ibu pasangan. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa ayah tunggal memiliki resiko kematian dua kali lebih tinggi daripada ayah yang memiliki pasangan. Hal itu terjadi karena ayah tunggal lebih cenderung untuk menjalani gaya hidup yang tidak sehat, mereka makan lebih sedikit buah dan sayuran serta lebih cenderung mengonsumsi minuman keras akibat dari paparan stress, kesedihan, serta isolasi sosial yang cenderung dirasakan oleh ayah tunggal.

Fenomena tersebut jelas patut diperhatikan. Mengingat bahwa perjuangan hidup single parent jauh lebih berat jika dibandingkan dengan orang tua yang utuh. Dengan demikian, dibutuhkan daya tahan dan daya juang bagi seorang single parent untuk tetap bertahan dan dapat melewati situasi yang sulit sehingga individu dapat mengalami kehidupan yang lebih baik setelahnya. Situasi tersebut yang menurut Reivich dan Shatte (2002) disebut dengan Resiliensi. Untuk memperkuat fenomena dalam penelitian ini, maka peneliti melakukan studi awal (wawancara) pada Oktober 2019 yang dilakukan kepada tiga subjek, subjek pertama merupakan pendiri komunitas SPINMOTION yang juga merupakan single parent, subjek kedua merupakan anggota komunitas SPINMOTION yang sudah bergabung lebih dari satu tahun, dan subjek ketiga merupakan single parent yang baru 3 bulan bergabung dengan komunitas SPINMOTION.

Hasil wawancara subjek pertama (pendiri SPINMOTION)

(18)

4 dapat disimpulkan bahwa keberadaan komunitas sangat berpengaruh dalam kehidupannya sebagai single parent. Dimana komunitas bukan hanya menjadi wadah bagi subjek untuk meluapkan keluh kesahnya sebagai single parent, tetapi sudah seperti bagian dari kehidupannya. Subjek menganggap semua yang terlibat dalam komunitas SPINMOTION merupakan saudara, dan sesame saudara harus saling membantu dan menjaga.

Hal tersebut membuktikan bahwa subjek memiliki sense of community yang tinggi. Selain itu, subjek juga memiliki tingkat resiliensi yang baik. Karena sampai saat ini subjek mampu bertahan dengan statusnya sebagai single Parent dan tetap aktif dalam serangkaian aktifitas yang ada didalam komunitas.

Hasil wawancara subjek kedua (anggota SPINMOTION) dapat disimpulkan bahwa komunitas SPINMOTION cukup berpengaruh dalam kehidupannya sebagai single father, karena menjadi wadah untuk mencari solusi dalam permasalahannya sebagai single parent. Subjek kedua beranggapan bahwa keberadaannya dikomunitas telah membuatnya menjadi pribadi yang lebih positif dalam menilai sesuatu. Dengan melihat berbagai permasalahan yang dialami anggota lain dalam komunitas membuatnya banyak belajar hal-hal baru untuk ia terapkan dalam kehidupannya sebagai single parent. Hal tersebut meningkatkan tingkat resilensi dalam dirinya. Subjek kedua juga terlibat aktif dalam komunitas. Subjek kedua merasa bahwa komunitas merupakan keluarga kedua dalam kehidupannya. Hal tersebut

(19)

membuktikan subjek ketiga memiliki sense of community yang cukup tinggi.

Hasil wawancara subjek ketiga (anggota SPINMOTION) dapat disimpulkan bahwa keberadaan komunitas dalam kehidupannya juga memiliki efek positif. Dimana ia menjadi lebih percaya diri menjalani perannya sebagai single parent.

Namun subjek merasa bahwa terkadang dirinya masih kesulitan dalam menjalakan peran gandanya sebagai single parent. Hal tersebut membuktikan bahwa subjek masih memiliki tingkat resiliensi yang rendah, namun demikian subjek masih aktif dalam berbagai kegiatan yang ada dalam komunitas. Hal itu membuktikan subjek ketiga memiliki tingkat sense of community yang tinggi juga, sama halnya dengan subjek pertama.

Dari kondisi yang sudah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa subjek yang sudah bergabung lebih lama dalam komunitas SPINMOTION memiliki kemampuan resiliensi yang cukup baik. Sedangkan subjek yang baru bergabung dengan komunitas SPINMOTION masih memiliki tingkat resiliensi yang rendah. Maka dari itu, dalam penelitian ini peneliti fokus untuk melihat kemampuan resiliensi subjek dalam komunitas. Tingkat kemampuan resiliensi individu dilihat melalui variabel faktor identitas sosial (X), yaitu menekankan perasaan individu terhadap organisasinya. Dengan demikian maka judul penelitian ini adalah Pengaruh Identitas Sosial Terhadap Resiliensi Single Parent di Komunitas Single Parent Indonesia (SPINMOTION).

(20)

6 Dalam buku “The Resiliency Factor: 7 Coming Your Inner Strength and Overcoming Life’s Hurdles”, Reivich dan Shatte (2002) menjelaskan bahwa arti resiliensi adalah kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap situasi yang menekan hidunya. Bertahan dalam keadaan yang tidak menguntungkan dan atau bahkan berhadapan dengan kesengsaraan (adversity) maupun trauma yang dialami sepanjang kehidupannya. Grotberg (2003) menambahkan bahwa resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan yang bersumber dari faktor internal dan eksternal. Reivich dan Shatte (2002) menguraikan tujuh aspek kemampuan individu agar dapat mencapai resiliensi, aspek-aspek tersebut ialah pengaturan emosi, kontrol terhadap impuls, optimis, kemampuan menganalisis masalah, efikasi diri dan pencapaian. Keterlibatan setiap anggota SPINMOTION dalam segala aktivitas organisasi menghasilkan adanya bentuk identifikasi yang mengarahkan kepada rasa terhadap organisasi atau dalam istilah lain disebut dengan sense of community. Sense of community merupakan wujud dari adanya identitas sosial dalam diri seseorang.

Menurut Tajfel (1982) identitas sosial adalah bagian dari konsep diri seseorang yang berasal dari pengetahuan mereka tentang keanggotaan dalam suatu kelompok sosial bersamaan dengan signifikansi nilai dan emosional dari keanggotaan tersebut.

Identitas sosial berkaitan dengan keterlibatan, rasa peduli dan juga

(21)

rasa bangga dari keanggotaan dalam suatu kelompok tertentu.

Lebih lanjut Hogg dan Abrams (1990) menjelaskan bahwa identitas sosial merupakan sebuah rasa keterkaitan, peduli, bangga dapat berasal dari pengetahuan seseorang dalam berbagai kategori keanggotaan sosial dengan anggota yang lain, bahkan tanpa perlu memiliki hubungan personal yang dekat, mengetahui atau memiliki berbagai minat.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti mengidentifikasi permaslahan dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Identitas sosial seseorang dalam Komunitas sangat penting pada resiliensi seorang single parent di komunitas SPINMOTION.

2. Seseorang yang telah bergabung di Komunitas SPINMOTION lebih lama mempunyai kemampuan resiliensi diri yang baik dibandingkan dengan yang belum lama berada pada komunitas tersebut.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, permasalahan pada penelitian ini dibatasi dengan adanya keterkaitan variabel Identitas Sosial terhadap Resiliensi Single Parent di Komunitas Single Parent Indonesia (SPINMOTION). Pembatasan masalah

(22)

8 dilakukan agar penelitian lebih terfokus dan memperoleh hasil yang maksimal.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah Apakah Ada Pengaruh Identitas Sosial terhadap Resiliensi Single Parent di komunitas Single Parent Indonesia (SPINMOTION)?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang akan dijawab, maka tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui Pengaruh Identitas Sosial terhadap Resiliensi Single Parent di Komunitas Single Parent Indonesia (SPINMOTION). Berdasarkan tujuan penelitian tersebut maka akan dapat diperoleh manfaat dari penelitian ini sebagai berikut.

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan wawasan dan pemikiran dalam memperkaya konsep praktik ilmu kesejahteraan sosial, serta sumber referensi dalam kajian tentang gender dan kesejahteraan keluarga.

2. Manfaat Praktis

(23)

a. Bagi Penulis

Menambah wawasan dan proses terjadinya suatu skema sosial di dalam sebuah organisasi mengenai Pengaruh Identitas Sosial terhadap Resiliensi Single Parent di dalam sebuah komunitas.

b. Bagi Pembaca (Masyarakat)

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran, sumbangan pemikiran maupun ide kepada masyarakat.

c. Bagi Ilmu Pengetahuan

Diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan tentang proses resiliensi individu terjadi akibat adanya sebuah identitas sosial yang terbentuk di dalam sebuah kelompok dan juga sebagai bahan referensi keilmuan sehingga dapat memperkaya dan menambah wawasan.

F . Tinjauan Kajian Terdahulu

1. Penelitian ini dilakukan oleh Badri Munir Sukoco dan Untung Teko TP Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga (2013) yang berjudul “PENGARUH

IDENTITAS SOSIAL DAN CO- CREATION

TERHADAP NIAT BERPERILAKU ANGGOTA

KOMUNITAS ONLINE VW: EFEK MODERASI NOSTALGIA”. Tujuan peneitian ini adalah untuk

(24)

10 mengetahui adanya pengaruh identitas sosial dan co creation terhadap niat berprilaku anggota komunitas online VW.

Penelitian ini memiliki kesamaan pada variable X1 yaitu identitas sosial.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Christiany Suwartono dan Clara Moningka, Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (2017) yang berjudul “PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS SKALA IDEN TI TAS SOSIAL”. Tujuan penelitian untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas skala hasil adaptasi dari Luhtanen dan Crocker (1992).

G. Sistematika Penulisan

Dalam penelitian skripsi ini peneliti mengacu pada Surat Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta nomor 507 tahun 2017 tentang Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang, Identifikasi Masalah, Batasan dan Rumusan masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan Kajian Terdahulu, dan Sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN TEORI

Pada bab ini berisi landasan teori yang digunakan dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi tentang metodologi yang digunakan, populasi dan

(25)

sampel penelitian, tempat dan waktu penelitian, sumber data penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data penelitian, serta teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian.

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menjelaskan temuan dari penelitian dan berisi uraian yang mengaitkan latar belakang dan teori dari penelitian.

BAB V KESIMPULANDAN SARAN

Bab ini berisi uraian tentang kesimpulan yang didapat dari proses pembuatan tugas akhir serta saran yang diberikan penulis kepada pihak-pihak terkait.

(26)

12

BAB II KAJIAN TEORI

A. Resiliensi

1. Pengerian Resiliensi

Menurut Reivich dan Shatte (2002) resiliensi merupakan kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasai terhadap kejadian yang berat atau masalah yang membatasi ketahanan diri sehingga menjadi tidak berdaya dan mundur dari kehidupannya. Bertahaan dalam menghadapai kesengsaraan (adversity) dan bangkit kembali (bounce back) untuk melaju. resiliensi adalah rebound atau bangkit kembali dari keterpurukan dan kemampuan untuk menjaga kesehatan psikologis dan psikis meskipun mengalami kesulitan (Frydenberg, 2017).

Grotberg (2003) menyatakan bahwa resiliensi adalah proses di mana individu berkembang ke arah yang lebih baik dari sebelumnya setelah menghadapi berbagai macam kesulitan. Sedangkan menurut Resnick (2014) menjelaskan bahwa kesulitan sangat penting untuk pengembangan resiliensi. Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dalam menghadapi kesulitan, itu merupakan komponen kepribadian.

Lebih lanjut Masten dan Wright (2010) menjelaskan bahwa resiliensi manusia mengacu pada proses atau pola

(27)

adaptasi dan pengembangan positif dalam konteks kesulitan yang signifikan terhadap kehidupan seseorang. Zautra dan Reich (2010) menyebutnya sebagai proses pemulihan, keberlanjutan dan pertumbuhan.Dari beberapa definisi yang dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa resiliensi adalah kemampuan atau daya juang individu untuk menilai, meningkatkan diri, serta mampu beradaptasi dan mengatasi suatu permasalahan yang dapat menyulitkan yang terjadi di dalam perjalanan kehidupannya. Individu dapat bertahan dan mengalami kehidupan yang lebih baik (reaching out).

Siebert dalam bukunya The Resiliency Advantage menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan risiliensi adalah kemampuan untuk mengatasi dengan baik perubahan hidup pada level yang tinggi, menjaga kesehatan jasmani maupun psikologis walaupun di bawah kondisi yang penuh tekanan, bangkit dari masalah, mengatasi kemalangan, merubah pola hidup yang sesuai dengan kondisi yang dialami serta menghadapi masalah tanpa melakukan kekerasan. Terdapat tujuh kemampuan yang dapat dimiliki oleh individu untuk melakukan resiliensi namun tidak semua kemampuan ini individu miliki dalam dirinya. Ada tujuh aspek dari resiliensi yaitu: regulasi emosi, kontrol terhadap implus, optimisme, kemampuan menganalisis masalah, empati, efikasi diri, dan pencapaian (Nasution,2011).

(28)

14 B. Aspek-Aspek Resiliensi

Reivich dan Shatte (2002) dalam bukunya “The resilience factor” memaparkan tujuh kemampuan yang membentuk Resiliensi, yaitu emotional regulation, impulse control, optimism, causal analysis, empathy, self-efficacy dan reaching out. Adapun penjelasan dari masing-masing aspek resiliensi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Emotional Regulation (Regulasi Emosi)

Regulasi Emosi atau bisa disebut sebagai pengendalian emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan (Reivich & Shatte, 2002).

Regulasi emosi merupakan proses individu dalam memahami situasi sehingga individu cenderung dapat bersikap positif ketika dalam situasi yang tidak terkendali.

Ada dua buah keterampilan yang diungkap oleh Reivich dan Shatte untuk memudahkan individu dalam melakukan regulasi emosi, yaitu dengan calming dan focusing.

Keterampilan tersebut akan membantu individu dalam mengendalikan emosi ketika dalam tekanan serta dapat menjaga pikiran agar tetap fokus terhadap hal-hal yang mengganggu sehingga dapat menurunkan tingkat stress yang di alami individu.

a. Calming (Tenang)

Calming merupakan keterampilan Individu untuk dapat mengendalikan emosi. Salah satu cara

(29)

untuk dapat menurunkan tingkat emosional adalah dengan merubah cara berpikir terhadap sumber masalah. Meskipun tidak secara drastis menurunkan namun langkah ini dinilai efektif ketika dalam situasi yang tidak terkendali.

b. Focusing (Fokus)

Fokus pada masalah yang sedang dihadapi memudahkan individu dalam menemukan solusi.

Setiap permasalahan akan berpotensi menimbulkan masalah-masalah baru, fokus membuat individu dapat menganalisa dan menentukan sumber permasalahan yang sebenarnya dengan dapat membedakan masalah- masalah yang timbul sebagai akibat dari sumber permasalahan.

2. Impuls Control (Pengendalian Impuls)

Kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, ketertarikan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri (Reivich & Shatte, 2002). Aspek ini memaksa individu untuk berpikir secara rasional sebelum melakukan sebuah tindakan di dalam sebuah kondisi yang tidak menguntungkan dan atau tidak terkendali.

3. Optimism (Optimis)

Optimism adalah ketika kita melihat bahwa masa depan kita cemerlang (Reivich & Shatte, 2002). Optimis merupakan salah satu kunci agar Resilience. Individu

(30)

16 dengan tingkat optimism yang baik cenderung merasa lebih bahagia dan mencapai keberhasilan dalam hidupnya dibandingkan dengan individu yang pesimis yang cenderung membawa kepada tingkat stress yang lebih tinggi dan atau mencapai depresi.

4. Causal Analysis (Kemampuan dalam menemukan sumber masalah yang sebenarnya)

Ketika dihadapkan kepada sebuah masalah individu mampu untuk dapat mengidentifikasi secara akurat penyebab masalah yang sebenarnya, sehingga individu dapat memberikan solusi yang sesuai dengan konteks masalah yang di hadapi.

5. Empathy (Kemampuan untuk berempati)

Resiliensi terbentuk ketika individu mampu dalam melihat situasi, memahami sebuah kondisi sehingga memberinya dampak positif untuk merespon setiap stimulus yang hadir. Empati sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk membaca tanda-tanda kondisi emsional dan psikologis orang lain (Reivich & Shatte, 2002).

6. Self-Efficacy (Efikasi Diri)

Self-Efficacy merupakan representasi keyakinan dalam memecahkan suatu masalah yang memberikan hasil positif atau keberhasilan (Reivich & Shatte, 2002). Self- Efficacy adalah hasil dari keberhasilan dalam pemecahan

(31)

masalah. Individu merasa yakin dan bertanggungjawab terhadap setiap keputusan yang di buat dan hasil positif dari keputusan itu.

7. Reaching Out (Titik Balik/Pencapaian)

Reaching Out merupakan aspek dari resiliensi yang di mana individu mampu bertahan dan bangkit kembali serta mendapatkan nilai positif pasca menghadapi hadangan berupa permasalahan-permasalahan dan atau situasi yang menyulitkan yang di alami di dalam kehidupannya.

C. Identitas Sosial

1. Pengertian Identitas Sosial

Identitas sosial merupakan bagian penting dari konsep diri individu sebagai bagian dari kelompok tertentu dalam lingkungan sosial nya yang dalam penelitian ini adalah organisasi serikat pekerja. Suwartono dan Moningka (2017) melakukan adaptasi skala Collective Self-Esteem (CSE) dari Luthanen dan Crocker yang dapat mengidentifikasi identitas sosial yaitu sejauh mana individu mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dalam penelitiannya, Suwartono dan Moningka (2017) melandaskan konsep identitas sosial kepada Tajfel dan Turner (1979) yang menyatakan bahwa ketika individu mengidentifikasi dirinya dalam kelompok sosial tertentu, individu cenderung melakukan evaluasi dan

(32)

18 mengembangkan harga dirinya.

Luthanen dan Crocker (1992) menciptakan skala evaluasi diri yang mengukur identitas sosial dari seseorang. Mereka menemukan bahwa ada empat aspek dari identitas sosial yaitu; (1) membership; (2) public; (3) privacy dan; (4) idenitity. Dalam penelitiannya, Luthanen dan Crocker (1992) mengemukakan bahwa banyak sekali instrumen untuk mengukur self-esteem dalam beberapa literatur, namun skala ukur yang mereka ciptakan lebih fokus terhadap individu, yaitu individu mengevaluasi identitas dirinya dalam kelompok. Teori identitas sosial dikembangkan oleh Tajfel dan Turner yang menjelaskan bahwa ada dua aspek yang berbeda dari self-concept:

personal identity dan social identity (dalam terminologi America disebut dengan collective identity). Personal identity merupakan identifikasi diri seseorang terhadap dirinya yang merupakan bagian dari kelompok tertentu sedangkan social identity menjelaskan bahwa individu mengidentifikasi dirinya terhadap kelompoknya dalam kacamata kelompok lain.

Identitas sosial didefinisikan sebagai pengetahuan individu bahwa ia termasuk kelompok sosial tertentu bersama dengan nilai emosional dan nilai individu dari keanggotaan grup (Tajfel, 1972). Sedangkan menurut Turner, dkk. (1987) menjelaskan bahwa identitas sosial

(33)

adalah bentuk spesifik dari kategorisasi kognitif yang berhubungan dengan kesadaran diri seseorang. Lebih khusus lagi, pendekatan identitas sosial mengusulkan bahwa orang-orang memperoleh rasa diri dari mengkategorikan diri mereka pada berbagai tingkat abstraksi, termasuk pada tingkat pribadi (seperti "Saya" dan

"saya"; dalam hal identitas pribadi) dan pada tingkat kolektif (sebagai "kita" dan "kita"; dalam hal identitas sosial). Selain itu, Turner mengusulkan bahwa ketika orang mengkategorikan diri dengan orang lain sebagai suatu identitas sosial yang sama (misalnya, ketika mereka melihat diri dan orang lain sebagai "kita anggota kelompok X"), ini mengarah ke orientasi kualitatif yang berbeda kepada orang lain dengan (kembali) bagaimana proses mereka berpikir, merasa, dan berperilaku (Turner, dkk., 1987; Ellemers, 2012).

2. Aspek-Aspek Identitas Sosial

Luthanen dan Crocker (1992) menciptakan skala evaluasi diri (collective self-esteem) yang mengukur identitas sosial dari seseorang. Mereka menemukan bahwa ada empat aspek dari identitas sosial, yaitu:

a. Keanggotaan

Individu memiliki rasa keberhargaan individu ketika menjadi bagian dari suatu kelompok.

(34)

20 b. Publik

Individu memiliki persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap kelompoknya.

c. Pribadi

Individu mengevaluasi pribadinya sebagai bagian dari kelompoknya.

d. Identitas

Keberartian individu sebagai anggota kelompok dijadikan sebagai bagian dari konsep diri.

D. Komunitas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunitas adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu, masyarakat atau paguyuban. Sedangkan secara definisi, komunitas merupakan sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. (Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, komunitas dapat terbagi menjadi tiga komponen:

1. Berdasarkan lokasi atau tempat: Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat di mana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara

(35)

geografis. Juga, saling mengenal satu sama lain sehingga tercipta interaksi dan memberikan konstribusi bagi lingkungannya.

2. Berdasarkan minat: Sekelompok orang yang mendirikan sebuah komunitas karena memiliki ketertarikan dan minat yang sama. Misalnya saja dari agama, pekerjaan, suku, ras, maupun berdasarkan kelainan seksual.

3. Berdasarkan komuni: Komuni dapat diartikan sebagai ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa penelitian ini terdiri dari komunitas yang berdasarkan keadaan dan kebutuhan anggotanya yang berstatus sebagai single parent.

E. Single Parent (Orang Tua Tunggal)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dalam suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Hurlock, orang tua tunggal (single parent) adalah orang tua yang telah menduda atau menjanda baik bapak atau ibu, mengasumsikan tanggungjawab untuk memelihara anak- anak setelah kematian pasangannya, perceraian atau kelahiran anak diluar nikah (Hurlock, 2014).

Single mother adalah gambaran seorang perempuan tangguh. Segala hal berkenaan rumah tangga ditanggung sendiri.

Mulai membereskan rumah, mencari nafkah keluarga dilakoni

(36)

22 sendiri. Seorang wanita dalam posisi ini, diharuskan untuk bisa berperan ganda, menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak- anaknya.

Tugas pun semakin besar, yang mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak, juga ia harus menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Semua ini bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika dialami kaum perempuan yang manja, kurang tangguh, dan sangat bergantung pada orang lain.

Terlebih ketika sebelumnya ia sama sekali tidak terbiasa menjalani kehidupan berat, karena selama ini sudah terpenuhi suaminya ketika masih bersama (Chapin, 2009).

Istilah orang tua tunggal sebagai seorang orang tua tunggal yang masih memiliki anak yang tinggal satu rumah dengannya.

Orang tua tunggal merupakan orang tua yang secara sendirian atau tunggal membesarkan anak- anaknya tanpa kehadiran, dukungan dan tanggungjawab pasangannya (Haryanto, 2012).

Beberapa faktor yang menjadikan seorang menyandang gelar single parent atau orang tua tunggal diantaranya sebagai berikut.

1. Perceraian

Diantara penyebab-penyebab itu adalah Menurut Cohen bahwa penyebab-penyebab perceraian hampir tidak terbatas karena perkawinan melibatkan dua individu dengan kepribadiannya masing-masing dan latar belakang yang berbeda yang berusaha untuk hidup bersama. Yang mungkin bisa dijadikan alasan pokok bagik terjadinya sesuatu perceraian adalah harapan- harapan yang berlebihan

(37)

yang saling diharapkan dari masing-masing pihak sebelum memasuki jenjang perkawinan (Cohen, 1992).

2. Kematian

Seorang perempuan yang telah menyandang gelar istri bisa menjadi ibu single parent ketika suaminya meninggal, baik meninggal karena kecelakaan, penyakit atau sebab lainnya (Hurlock, 2014).

Selanjutnya, seseorang single parent mempunyai berbagai permasalahan dalam menjalankan kehidupannya, masalah umum yang dihadapi orang tua tunggal menurut Hurluck (dalam Zuhdi, 2019) mencangkup sebagai berikut.

a. Masalah Ekonomi

Ketika menjadi single parent, maka akan mengalami kurangnya income dalam keluarga, sehingga pemenuhan kebutuhan terminimalisir. Seorang single parent yang memulai aktifitas perekonomian pada usia madya, cenderung atau bahkan tidak dapat memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kehidupan keluarganya.

b. Masalah Praktis

Menjalankan hidup dalam kesendirian setelah terbiasa hidup lewat bantuan pasangan. Tetapi, perceraian menambah sudah pekerjaan tunggal dengan pendapatan minim.

(38)

24 c. Masalah Sosial

Kehidupan sosial diantara orang berusia madya hampir sama halnya dengan kehidupan orang dewasa- muda, yaitu berorientasi pada pasangan. Seorang single parent akan mengalami kesulitan dalam berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial karena tidak adanya pasangan.

d. Masalah Seksual

Keinginan seksual yang tidak terpenuhi setalah sebelumnya secara intens dilakukan selama bertahun- tahun, kemudian semenjak ditinggal pasangan membuat single parent mengalami frustasi karena merasa tidak terpakai lagi.

e. Masalah Keluarga

Apabila masih mempunyai anak yang tinggal serumah, maka ibu single parent harus memainkan peran ganda yakni sebagai ayah dan ibu.

F. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, sebelum jawaban empirik (Darmawan, 2013). Pada rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis membuat hipotesa sebagai berikut.

HO : Tidak ada pengaruh antara identitas sosial terhadap resiliensi single parent di komunitas single parent

(39)

Indonesia (SPINMOTION).

H1 : Adanya pengaruh identitas sosial terhadap resiliensi single parent di komunitas single parent Indonesia (SPINMOTION).

(40)

26

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh identitas sosial terhadap resiliensi single parent di komunitas single parent Indonesia (SPINMOTION). Desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data berupa angka-angka yang di olah dan di analisa menggunakan statistik untuk memaksimalkan objektivitas (Hamdi, 2014). Penelitian kuantitatif adalah sebuah penyelidikikan tentang masalah sosial berdasarkan pada pengujian sebuah teori yang terdiri dari variabel-variabel diukur dengan angka, dan dianalisis dengan prosedur statistika untuk menentukan apakah generalisasi prediktif teori tersebut benar.

Desain penelitian ini dipilih karena waktu yang relatif cepat dan sampel yang digunakan pun bisa dalam jumlah yang lebih banyak. Menurut Sugiyono (2012) metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen, analisis data bersifat ditetapkan.

(41)

B. Subjek Penelitan

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh single parent yang tergabung ke dalam anggota komunitas single parent Indonesia SPINMOTION.

2. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di komunitas single parent Indonesia region Jakarta dengan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner Online.

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Karakteristik populasi pada penelitian ini adalah single parent didalam komunitas single parent Indonesia (SPINMOTION) dengan jumlah populasi sebanyak 464 orang.

2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan jenis purposive sampling. Purposive sampling itu sendiri adalah teknik mengambil sampel dengan tidak berdasarkan random, daerah atau strata, melainkan berdasarkan atas adanya pertimbangan yang berfokus pada tujuan tertentu, yaitu peneliti akan memilih sampel dari jumlah populasi yang ada. Jadi dapat dikatakan siapa saja yang bertemu dengan

(42)

28 peneliti dapat digunakan sebagai sampel apabila sesuai dengan karakteristik sampel. Adapun karakteristik sampel penelitian ini adalah tinggal tidak memiliki pasangan, bersedia menjadi responden penelitian, dan berada dalam komunitas SPINMOTION Jakarta.

Untuk menentukan jumlah sampel yang akan dilibatkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik perhitungan dengan rumus Slovin, menurut Sugiyono (2011).

maka dibulatkan menjadi 82 responden. Keterangan:

n: Jumlah sampel N: Jumlah populasi

e: Batas toleransi kesalahan (error tolerance)

Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin dapat disimpulkan bahwa jumlah sampel yang akan dilibatkan dalam penelitian adalah sebanyak 82 orang single parent. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam pengolahan data dan untuk hasil pengujian yang lebih baik.

N 1 + Ne²

(43)

D. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel merupakan objek yang dijadikan sebagai sumber untuk diteliti dalam penelitian yang memiliki berbagai variasi di dalamnya (Periantalo, 2016). Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).

1. Variabel Bebas

Variabel bebas atau independent variable dalam penelitian ini adalah identitas sosial (X).

2. Variabel Terikat

Variabel terikat atau dependent variable dalam penelitian ini adalah resiliensi (Y).

E. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Resiliensi

Menjalani peran ganda sebagai orang tua tunggal serta posisi di masyarakat yang serba sulit membuat individu harus mampu bertahan, beradaptasi dalam menjalani kehidupannya, untuk pengukuran variable ini dapat diketahui dari skor total tiap-tiap prediktor yang dihasilkan oleh responden dengan menggunakan skala resiliensi Reivich dan Shatte (2002) yang meliputi:

a. Emotional Regulation (regulasi emosi)

Individu mampu mengontrol emosi dengan memusatkan perhatian dan perilaku.

(44)

30 b. Impuls Control (pengendalian impuls)

Individu mampu untuk mengendalikan dorongan yang muncul secara mendadak baik melalui pikiran maupun perilaku.

c. Optimism (optimis)

Individu memiliki keyakinan terhadap masa depan yang cemerlang, percaya akan usaha dapat memberikan perubahan yang lebih baik.

d. Causal Analysis (analisa penyebab masalah)

Mampu mengidentifikasi masalah dengan baik dan mampu menghadapi segala situasi dengan yakin.

e. Empathy (empati)

Mampu memaknai perilaku verbal dan nonverbal orang lain.

f. Self-Efficacy (efikasi Diri)

Memiliki keyakinan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi dan memiliki keyakinan untuk sukses.

g. Reaching Out (keluar dari masalah)

Tidak malu bila mengalami kegagalan, berani keluar dari sebuah kebiasaan dan berani mengoptimalkan kemampuan untuk mencapai kehidupan lebih baik.

(45)

2. Variabel Identitas Sosial

Anggota komunitas SPINMOTION memiliki sense of community atau bentuk keterikatan yang terjadi melalui identifikasi diri terhadap bagian dalam komunitas single parent Indonesia (Tajfel & Turner, 1974). Untuk pengukuran variabel ini dapat diketahui dari skor total tiaptiap prediktor yang dihasilkan oleh responden dengan menggunakan skala identitas sosial Suwartono dan Moningka (2017) yang meliputi:

a. Keanggotaan

Menekankan rasa keberhargaan individu ketika menjadi bagian dari suatu kelompok.

b. Pribadi

Menekankan persepsi individu mengenai penilaian orang lain terhadap kelompoknya.

c. Publik

Menekankan evaluasi pribadi sebagai bagian dari kelompoknya.

d. Identitas

Menekankan keberartian keanggotaan tersebut bagi konsep dirinya.

F. Sumber Data Penelitian

Sumber data dari penelitian ini didapatkan melalui data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui sumber asli dan secara langsung. Data primer berupa hasil pengisian

(46)

32 kuesioner yang dilakukan oleh Responden penelitian. Data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh melalui berbagai sumber studi kepustakaan.

G. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Riduwan (2010) menyebutkan bahwa teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan menggunakan skala likert. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Skala

Skala merupakan sekumpulan pernyataan-pernyataan mengenai suatu sikap objek. Skala dalam penelitian kuantitatif untuk menentukan data apa yang ingin diperoleh dari indikator variabel yang sudah ditentukan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua skala yakni akses informasi keislaman melalui sosial media dan skala moderasi beragama. Peneliti menggunakan model skala Likert dalam pengukuran dan penyajian instrumen dikarenakan untuk mengukur sikap responden yang terlihat.

Model skala Likert adalah bentuk kuesioner yang mengungkap sikap dari responden dalam bentuk jawaban atau pernyataan yang terdiri dari lima kategori, yakni Sangat Setuju (SS), Setuju (S), tidak ada pendapat (N),

(47)

Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Setiap kategori jawababn tersebut memiliki skor tersendiri sesuai dengan positif atau negatifnya item tersebut. Berikut nilai skor perkategori dalam Skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini.

Tabel 3.1 Kategori Skor Teknik Skala Likert

No. Pilihan Jawaban Skor Item

Favourable Unfavourable

1 Sangat TidakSesuai 1 5

2 Tidak Seuai 2 4

3 Agak Sesuai 3 3

4 Sesuai 4 2

5 Sangat Sesuai 5 1

2. Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Kuesioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan secara tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui internet (Sugiyono, 2010).

(48)

34 Kuesioner adalah turunan skala yang dijadikan butir pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan kepada responden untuk menjawab. Sebelumnya harus dipastikan kebenaran responden yang diteliti berdasarkan kriteria respondennya.

H. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2010).

Menurut Sugiyono (2012) instrumen adalah alat yang digunakan mengungkap aspek yang ingin diteliti dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini juga menggunakan skala model likert untuk pengukuran akses informasi keislaman melalui sosial media dan sikap moderasi beragama, yang mana skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

Pada penelitian fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang selanjutnya disebut variabel penelitian.

Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dan dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak ukur untuk menyusun item- item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.

(49)

Dalam skala ini terdiri atas penyataan yang berisifat favourable dan unfavorable. Pernyataan favourable adalah penyataan yang berisi tentang hal-hal yang bersifat positif mengenai sikap objek sedangkan untuk unfavorable adalah pernyataan yang berisi tentang hal-hal negatif mengenai perilaku objek.

1. Skala Ukuran Identitas Sosial

Peneliti melakukan adaptasi skala identitas sosial yang dicetuskan oleh Suwartono dan Moningka (2017) mereka menyebutkan bahwa dalam skala ini terdapat empat domain, tetapi dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan tiga domain dalam mengukur identitas sosial di komunitas SPINMOTION. Domain keanggotaan mengukur sejauh mana rasa keberhargaan individu menjadi anggota pada suatu kelompok sosial tertentu. Domain pribadi mengukur evaluasi individu sebagai bagian dari kelompok sosial tertentu. Kemudian, domain identitas mengukur keberartian akan keanggotaan suatu kelompok sosial tertentu bagi konsep dirinya. Dalam konteks adaptasi skala ini, kelompok yang dimaksud adalah komunitas SPINMOTION Jakarta.

2. Skala Ukur Resiliensi

Pengukuran resiliensi yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan alat ukur hasil adaptasi dan modifikasi milik Reivich dan Shatte (2002) yang dilandaskan pada tujuh aspek yang membentuk resiliensi.

(50)

36 Pada dasarnya alat ukur ini mengukur ketahanan secara individu dalam mengatasi masalah kehidupan, namun dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur individu dalam kelompok.

Konteks individu mencapai resiliensi adalah bahwa individu mampu untuk bertahan dalam setiap tekanan dalam kehidupannya yang kemudian individu bangkit dari tekanan-tekanan tersebut. Di dalam kelompok individu berperan sebagai bagian dari kelompok tersebut yang di mana terjadi sebuah keterikatan, hal ini tentunya memiliki hubungan antara individu dengan kelompoknya, sehingga setiap permasalahan-permasalahan yang individu alami dalam kelompoknya merupakan bentuk dari hambatan individu untuk mencapai resiliensi. Individu mampu mencapai resiliensi ketika individu mampu memaknai setiap tekanan-tekanan yang muncul dalam kelompok sehingga individu bounce back untuk ikut terlibat ke dalam aktivitas kelompok seperti sebelumnya. Adapun sebaran item-item dalam alat ukur resiliensi dapat dilihat sebagai berikut.

I. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian 1. Variabel Identitas Sosial

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner identitas sosial dengan rincian sebagai berikut:

(51)

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Identitas Sosial

Dimensi Indikator Nomor Item

Favorable Unfavorable Keanggotaan Menekankan rasa

keberhargaan individu Ketika menjadi bagian dari

suatu kelompok

1,4,7,10,13,16,21 -

Pribadi Menekankan persepsi individu mengenai penilaian orang lain terhadap

kelompoknya

2,5,8,11,14,17,19,22 -

Identitas Menekankan keberartian

keanggotaan tersebut bagi konsep dirinya

3,6,9,12,15,18,20,23 -

TOTAL 23

2. Variabel Resiliensi Single Parent

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner identitas sosial dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Resiliensi Single Parent

Dimensi Indikator Nomor Item

Favorable Unfavorable Emotional

Regulation (Regulasi Emosi)

Mengontrol emosi, mampu memusatkan perhatian dan perilaku

6,12,20,21,33,37 23,29,32,51

(52)

38 Impuls

Control (Pengendlian Impuls)

Pengendalian emosi, pikiran dan perilaku

1,15,24,30,31,38 10,25,44,45,49

Optimism (Optimis)

Memandang masa depan yang cemerlang, percaya akan usaha dapat

memberikan perubahan yang lebih

Baik

9,17,28,34,39,46,5 6,59

2,5,36,40,42,43,57, 60

Casual Analysis (Analisa penyebab masalah)

Mampu mengidentifikasikan masalah dengan baik dan mampu menghadapi segala situasi dengan yakin

3,13,19,27,52,61,6 7,70

26,41,55

Empathy (Empati)

Mampu memaknai perilaku verbal dan

non verbal orang lain

11,35,47,63,68 48,50,71,74

Self Efficacy (Efikasi Diri)

Memiliki keyakinan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi dan memiliki keyakinan

untuk sukses

4,7,53,54,62,65 16,18,58,72

Reaching Out (Keluar dari

masalah)

Tidak malu bila mengalami kegagalan, berani keluar dari zona nyaman dan berani untuk mengoptimalkan kemampuan

8,14,69,73 22,64,66

43 31

Total 74

(53)

J. Validitas dan Reliabilitas Penelitian

Agar skala yang digunakan dalam penelitian ini akurat dan dapat dipercaya untuk mengukur apa yang akan diukur, peneliti akan mengukur validitas dan reliabilitas bersamaan dengan kuesioner yang akan diberikan kepada sampel penelitian.

1. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Penelitian ini menggunakan validitas isi, dengan cara menggunakan kisi-kisi instrument atau blue print skala. Dalam penyusunan intrumen ditentukan indikator- indikator sebagai tolak ukur dan nomor (item) pernyataan.

Adapun untuk mengukur validitas skala yakni menggunakan teknik kolerasi product moment dari pearson.

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Identitas Sosial (X)

Aspek Sebaran Item Item Valid Item Gugur

F UF

1. Keanggotaan 1,4,7,10,13, 16,21

- 1,10,13,16, 21

4,7 2. Pribadi 2,5,8,11,14,

17,19,22

- 2,5,8,11, 14,17,19,22 3. Identitas 3,6,9,12,15,

18,20,23

- 3,6,9,12, 18,20

15,23

(54)

40 Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Resiliensi Single Parent (Y)

Aspek Sebaran item Item Valid Item Gugur

F UF

1. Emotional 6,12,20,21, 23,29,32,51 6,12,20,21, 23,29,32,51

Regulation 33,37 33,37

(Regulasi Emosi)

2. Impuls 1,15,24,30, 10,25,44,45, 10,30,31,44 1,15,24,25,

Control 31,38 49 ,45,49 38

(Pengendalian Impuls)

3. Optimism 9,17,28,34, 2,5,36,40,42, 5,9,39,40,4 2,17,28,34,36, (Optimis) 39,46,56,59 43, 57,60 2,43,77,60 46,56,59 4. Casual 3,13,19,27, 26,41,55 13,19,27,52 3,26,41,55,

Analysis 52,61,67,70 ,61,70 67

(Analisa Penyebab masalah)

5. Empathy 11,35,47,63, 48,50,71,74 11,35,47,50 48,63

(Empati) 68 ,68,71,74

6. Self-Efficacy 4,7,53,54,62, 16,18,58,72 7,18,54,58, 4,16,53,72

(Efikasi Diri) 65 62,65

7. Reaching Out 8,14,69,73 22,64,66 8,69 14,22,64,66,

(Keluar dari 73

Masalah

2. Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik dengan perangkat lunak program SPSS for windows. Menurut Arikunto (2010) interpretasi reliabilitas ditentukan dengan jumlah skor tampak yang berkisar 0, hingga 1 maka memiliki nilai reablitas yang tinggi. Berikut kategori

(55)

rentang reliabilitasnya.

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS 23 didapatkan nilai reliabilitas pada variabel X sebesar 0,74 >

0,05 yang berarti rentang reliabilitasnya tinggi, sesuai kriteria yang terdapat pada Tabel 3.4. Kemudian, hasil perhitungan menggunakan SPSS 23 didapatkan nilai reliabilitas pada variable Y sebesar 0,74 > 0,05 yang berarti rentang reliabilitasnya tinggi, sesuai kriteria yang terdapat pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Kriteria Reliabilitas Rentang Interpretasi Kriteria

0,80-1,00 Sangat tinggi

0,60-0,79 Tinggi

0,40-0,59 Cukup

0,20-0,39 Rendah

0,00-0,19 Sangat rendah

Sumber: (Arikunto, 2010)

K. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji prasyarat dan uji hipotesis. Sebelum melakukan pengujian terhadap hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat analisis menggunakan uji normalitas.

(56)

42 1. Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2011) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.

Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan cara analisis grafik dan uji statistik.

Uji normalitas adalah bertujuan untuk mengetahui apakah sebaran dari variabel-variabel penelitian sudah berdistribusi nomal atau tidak. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan melalui uji Kolmogorov-Smirnov, dimana jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) Unstandardizad Residual lebih besar dari 0,05 maka memenuhi uji normalitas dan juga dengan melihat grafik histogram serta normal probably plot, yang di mana distribusi dikatakan normal jika grafik menunjukkan titik-titik berada di sekitaran garis.

2. Uji Linearitas

Menurut Sugiyono (2012) uji linearitas dapat dipakai untuk mengetahui apakah variabel terikat dengan variabel bebas memiliki hubungan linear atau tidak secara signifikan.

Uji linearitas dapat dilakukan melalui test of linearity.

(57)

Kriteria yang berlaku adalah jika nilai signifikansi pada linearity ≤ 0,05, maka dapat diartikan bahwa antara variabel bebas dan variabel terikat terdapat hubungan yang linear.

3. Uji Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan Uji regresi linear sederhana. Regresi linier sederhana adalah model regresi linier dengan melibatkan satu variable bebas (Ghazali, 2016). Analisis ini bertujuan untuk memeriksa besarnya pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Berikut adalah persamaan regresi dalam penelitian ini: Y = a + bX

Y adalah variabel dependen yang diramalkan, a adalah nilai konstanta, b adalah koefisien regresi, serta X adalah variabel bebas.

(58)

44

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas hasil penelitian studi lapangan yang dimulai dari statistik deskriptif yang berhubungan dengan data penelitian yang terdiri dari deskripsi tempat penelitian, karakteristik responden, uji prasyarat analisis data, hasil uji hipotesis penelitian dan pembahasan terhadap hasil penelitian yang telah di dapatkan secara statistik menggunakan software SPSS 23.

A. Deskripsi Tempat Penelitian

Pada penelitian ini, tempat penelitian dilakukan di Komunitas SPINMOTION Jakarta. SPINMOTION (Single Parents Indonesia in Motion) berdiri sejak Mei 2015.

SPINMOTION adalah sebuah komunitas, gerakan solidaritas para janda, duda dan single parents seluruh Indonesia untuk saling bertukar informasi, berbagi manfaat dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan kenyamanan rumah tangga masing-masing.

Data di negara Indonesia, menyebutkan bahwa keluarga single parent dengan ibu sebagai orang tua tunggal memiliki jumlah persentase yang besar dengan 80 persen dari 24 persen kepala keluarga perempuan merupakan ibu tunggal (SUPAS BPS, 2015). SPINMOTION saat ini memiliki anggota di berbagai kota di Indonesia, dan telah berdiri 16 Chapter/Cabang di Batam, Padang, Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Jogja,

Gambar

Tabel 3.1 Kategori Skor Teknik Skala Likert
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Identitas Sosial
Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Identitas Sosial (X)
Tabel 3.4 Kriteria Reliabilitas  Rentang Interpretasi  Kriteria
+7

Referensi

Dokumen terkait

In an analysis taking into account the joint distribution of nutritional status risk factors (intrauterine growth restriction, stunting, severe.. wasting, and deficiencies of vitamin

Hidrologi Aplikasi Metode Statistik Untuk Analisa Data,..

pasien risiko tinggi, dengan pilihan adalah IFNα dengan dosis sama seperti pada pasien ET tidak hamil. Pemeriksaan rutin selama kehamilan

Penentuan konsentrasi dengan menggunakan spektrofotometer kadar yang dihasilkan dari masing-masing ekstrak sebesar 41 mg/kg bahan kering kulit pisang mentah, 200 mg/kg

Berbeda dengan hasil pada rona lingkungan awal, dimana nilai TSS pada ruas 4-8 melebihi BML, nilai TSS pada pemodelan QUAL2K untuk ke-19 ruas, berada di bawah BML (50

Kesimpulan yang didapat dari penelitian yang telah dilakukan adalah kebutuhan oksigen sedimen untuk proses dekomposisi bahan organik yaitu rata – rata kebutuhan

Anggota Bidang Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Teknik USU (PEMA FT-USU), Periode 2015-2016. Vice President Logistic Organizing Committee Youth

Hasil analisis ragam menunjukan bahwa uji 11 galur padi hibrida dan satu varietas lokal sebagai pembanding didapat- kan bahwa rata-rata tinggi tanaman yang berbeda