BIDANG UNGGULAN : KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN
USUL HIBAH PENELITIAN UNGGULAN UDAYANA
SINERGI BIOAKTIVITAS EKSTRAKS TAPAKDARA (CHATARANTHUS ROSEUS) DAN PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA) TERHADAP
PROSES KESEMBUHAN LUKA PADA TIKUS
TIM PENELITI
Drh. I Ketut Anom Dada MS Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa MS
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS UDAYANA
2014
Halaman Pengesahan
1 Judul Penelitian SINERGI BIOAKTIVITAS EKSTRAKS DAUN TAPAKDARA (CHATARANTHUS ROSEUS) DAN PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA.
2 Ketua Peneliti:
Nama Lengkap Drh. I Ketut Anom Dada MS
Jenis Kelamin Laki
NIP 19560610 198602 1002
Jabatan fungsional Lektor Kepala
Fakultas/PS Kedokteran Hewan
Alamat Jl. PB. Sudirman Denpasar
Telepon/Faks/Email 0361 223791
Alamat Rumah Pasraman Unud Blok B 4 Badung
Telepon/Faks 081933001577
3 Jangka waktu penelitian 2 (dua) tahun
4 Jumlah anggota 2 orang
5 Jumlah biaya diajukan Tahun I Rp. 50.000.000 Tahun II Rp. 50.000.000
Denpasar, 15 Pebruari 2014 Mengetahui,
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
(Dr. Drh. Nyoman Adi Suratma MP) NIP: 196003051987031001
Ketua Peneliti
( Drh. I Ketut Anom Dada MS) NIP: 19560610 198602 1002 Menyetujui
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Udayana
(Prof. Dr. Ir. I Ketut Satriawan, MT) NIP: 196407171989031001
I. Identitas Penelitian
1. Judul Proposal: Sinergi Bioaktivitas Ekstraks Daun Tapakdara (Chataranthus roseus) dan Pegagan (Centella asiatica) terhadap Proses Penyembuhan Luka.
2 . Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Drh I Ketut Anom Dada MS b. Bidang Keahlian : Ilmu Bedah Veteriner
c. Jabatan : Lektor Kepala
d. Unit Kerja : Lab. Bedah Hewan Kecil FKH Unud e. Alamat Surat : FKH Universitas Udayana
Kampus Bukit Jimbaran Bali h. Telpon/faks : 0361/223791
3. Anggota Peneliti
No: Nama dan gelar Bidang keahlian Instansi Alokasi waktu Jam/mg Bulan 1. Prof. Dr. Drh. I
Made Damriyasa MS
Patologi Klinik FKH UNUD 8 10
2. 2 Mahasiswa - FKH UNUD 8 10
4. Obyek Penelitian
Obyek penelitian penelitian adalah luka pada tikus dengan aspek penelitian kesembuhan luka dengan meneliti indikator-indikator proses kesembuhan luka yang meliputi: kecepatan penutupan luka, waktu epitelisasi, angiogenesis, kolagenasi dan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). Aspek yang akan diteliti adalah Penggunaan kombinasi ekstrak daun tapakdara dan daun pegagan sebagai obat untuk mempercepat proses kesembuhan luka pada tikus, dengan kegiatan penelitian sebagai berikut:
• Tahun pertama: akan diteliti adalah kecepatan penutupan luka, waktu epitelisasi, angiogenesis serta kolagenasi pada tikus yang diberi perlakuan kombinasi ekstrak daun tapakdara dan daun pegagan secara topikal.
• Tahun kedua: akan diteliti adalah aktivasi vascular endithelial growth factor (VEGF) jaringan luka pada tikus yang diberi perlakuan kombinasi ekstrak daun tapakdara dan daun pegagan secara topikal.
5. Masa Pelaksanaan Penelitian: dua tahun
6. Jumlah Anggaran yang diusulkan:
Tahun I: Rp. 50.000.000,- Tahun II: Rp. 50.000.000,-
7. Lokasi Penelitian : Rumah Sakit Hewan FKH, Laboratorium Center for Studies on Animal Diseases (CSAD), Fakultas Kedokteran Hewan, dan Laboratorium Analitik Universitas Udayana
8. Hasil yang ditargetkan: Hasil yang ditargetkan dari penelitian ini adalah temuan baru berupa data ilmiah tentang sinergi bioaktivitas ekstrak tapakdara dan pegagan terhadap proses kesembuhan luka melalui evaluasi beberapa indikator kesembuhan luka. Dari hasil penelitian diharapkan adanya temuan sinergi ramuan beberapa tanaman sebagai obat herbal yang berkhasiat mempercepat proses kesembuhan luka. Temuan ini juga sangat bermanfaat dalam mempelajari peran gabungan tapakdara dan pegagan terhadap penyakit-penyakit yang terkait dengan gangguan vaskularisasi. Luaran lainnya yang ditargetkan dari penelitian ini adalah publikasi ilmiah yang dapat diterbitkan di beberapa journal antara lain:
- Journal of veterinary surgery (Internasional) - Journal of ethnopharmacology (Internasional) - Jurnal veteriner (Nasional)
Publikasi ilmiah yang dapat diterbitkan di journal nasional atau internasional adalah:
Catharanthus roseus and Centella asiatica leaves extract has wound-healing activity in c rats,
Selain luaran dalam bentuk publikasi, hasil penelitian ini juga mempunyai peluang yang tinggi untuk mendapatkan PATEN, bahan ajar dan laporan penelitian.
9. Institusi yang terlibat: tidak ada
II. Substansi Penelitian ABSTRAK
Obat herbal masih banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit terutama di negara-negara berkembang. Hal ini disebabkan karena obat ini secara budaya mudah diterima dan rendahnya efek samping yang ditimbulkan (Jaleel et al., 2006). Diantaranya tanaman tapakdara (Cantharantus roseus) dan pegagan (Centella asiatica) yang merupakan tanaman obat yang terbukti secara empiris terutama di India sebagai gangguan-gangguan pada kulit sperti dermatitis, eksim, jerawat serta pengobatan terhadap luka. Dalam proses kesembuhan luka, epitelisasi, vaskularisai, granulasi dan kolagenasi mempunyai peranan penting dalam pemulihan jaringan yang melibatkan faktor-faktor pertumbuhan seperti Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF).
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sinergi biokativitas ekstrak daun tapakdara dan pegagan proses kesembuhan luka. Indikator-indikator kesembuhan yang akan dievaluasi adalah waktu epitelisasi, angiogenesis, kolagenasi serta sekresi VEGF pada tikus.
Hewan coba yang akan digunakan adalah tikus (Sprague Dawly) akan dibagi menjadi empat group yang masing masing group terdiri dari 6 ekor. Masing-masing tikus akan dibuat luka insisi. Group I sebagai group kontrol normal akan diberikan carboxymethyl cellulosa secara topical sebagai plasebo; Gropu II merupakan group perlakuan tapak dara yang akan diberikan secara topikal ekstrak daun tapak dara konsentrasi 15% dalam vaselin; Group III sebagai group perlakuan pegagan yang akan diberikan secara topikal ekstrak daun pegagan konsentrasi 15% dalam vaselin; dan Group IV merupakan group perlakuan kombinasi yang akan diberikan secara topikal ekstrak daun tapak dara dan daun pegagan. Sebagai tolok ukur proses penyembuhan luka adalah waktu epitelisasi, angiogenesis, perkembangan kolagen pada jaringan yang bergranulasi serta sekresi VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor). Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik, untuk mengetahui perbedaan yang signifikan diuji t atau uji Mann-Whitney U test..
BAB I. PENDAHULUAN
Penggunaan obat tradisional baik berupa herbal maupun ekstraknya telah dibuktikan mempunyai khasiat untuk penyembuhan berbagai penyakit. Produk bahan- bahan alami sebenarnya merupakan dasar pembuatan obat-obat modern atau sintesis. Di beberapa belahan dunia seperti India, Cina, termasuk Indonesia penggunaan obat tradisional masih menjadi pilihan, baik untuk menangani penyakit pada manusia maupun hewan (Singh dan Singh, 2001). Salah satu tanaman obat yang secara empiris maupun ilmiah terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit adalah Cantharantus roseus (C.
roseus). Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama tapak dara yang biasanya ditanam sebagai tanaman hias. Demikian juga tanaman obat lain yang secara empiris maupun ilmiah terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit adalah Centella asiatica (C. Asiatica), di Indonesia tanaman ini dikenal dengan sebutan Daun Pegagan yang umumnya ditanam sebagai tanaman liar.
Beberapa penelitian tentang bioaktivitas dari tanaman tapakdara dan daun pegagan telah dilakukan. Nammi et al., (2003) telah melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian jus segar dari daun tapakdara untuk menurunkan kadar glukosa pada hewan coba penderita diabetes. Hasilnya menunjukkan bahwa jus daun tapakdara bersifat antidiabetik. Penelitian yang terpisah dilakukan oleh Nayak dan Pereira (2006) tentang kasiat ekstrak bunga tapakdara dalam mempercepat proses penyembuhan luka, namun indikator kesembuhan yang dievaluasi belum sampai mendalam pada sekresi VEGF dan kolagenasi. Demikian penelitian-penelitian tentang khasiat ekstrak daun pegagan hanya melalui indikator makoskopis.
Sampai saat ini belum ada penelitian tentang evalausi sinergi dari kombinasi dua jenis tanaman yang sama-sama berkhasiat mempercepat kesembuhan luka. Pada penelitian Nayak dan Pereira (2006) sebagai indikator kesembuhan luka hanya mengevaluasi kontraksi luka, berat jaringan granulasi dan efek antimikroba. Sedangkan pada penelitian ini berbagai indikator kesembuhan luka termasuk kolagenasi serta sekresi VEGF yang teraktivasi pada sel-sel mono dan polinuklear yang menginfiltrasi jaringan luka. VEGF merupakan merupakan indikator penting dalam proses angiogenesis yang punya peran penting dalam proses kesembuhan luka.
Penelitian ini selain mencari bukti ilmiah dari bioaktivitas ekstrak daun tapakdara dan daun pegagan terhadap proses kesembuhan, juga mengevaluasi sinergi bioaktivitas
kedua tanaman tersebut terhadap proses kesembuhan luka melalui induksi VEGF dalam merangsang angiogenesis pada jaringan luka. Secara ilmiah hasil penelitian ini dapat dipakai dasar dalam mempelajari aktifitas tapakdara, pegagan maupun tanaman lain terhadap prosen kesembuhan luka.Penelitian ini sangat penting dilakukan untuk mengevaluasi obat-obatan herbal yang digunakan di masyarakat, sehingga dapat direkomendasikan berdasarkan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sinergi bioaktivitas dari ekstrak daun tapakdara dan pegagan terhadap proses kesembuhan luka pada tikus, dengan tujuan khususnya adalah mengetahui pengaruh kombinasi ekstrak daun tapak dara dan pegagan secara topikal terhadap proses mempercepat penutupan luka, waktu epitelisasi, proses angiogenesis pada jaringan luka, proses pembentukan kolagen pada luka; dan sekresi Vascular Endhotelial Growth Factor (VEGF) pada jaringan luka.
BAB II. STUDI PUSTAKA
Tapakdara dan pegagan merupakan tanaman obat yang telah dibuktikan sebagai obat yang telah banyak digunakan oleh masyarakat tradisional di India sebagai obat luka maupun gangguan kulit, seperti dermatitis, eksim, dan jerawat (Singh dan Singh, 2001) Luka adalah pemisahan jaringan kulit, selaput lendir atau permukaan suatu organ secara traumatik. Luka yang disebabkan benda tumpul mengakibatkan terjadi kerusakan pada jaringan bawah kulit atau subkutan. Luka sejenis ini biasanya disebut lesi subkutan, misalnya hematoma. Luka yang disebabkan benda tajam seperti luka operasi disebut luka insisi. Secara alami setiap mahluk hidup mempunyai kekuatan untuk mempertahankan kehidupan mereka secara menyeluruh maupun bagian-bagian organ mereka, memperbaharui, dan menambah jaringan yang disusunnya.
Pemberian obat antiinflamasi untuk penyembuhan luka terkadang dapat menghambat penyembuhan akibat terjadi hambatan peran sistem imun tubuh. Seperti penggunaan steroid dapat memblok respon inflamasi normal yaitu pengaliran sel darah putih ke daerah luka. Hal ini berakibat terjadi peningkatan risiko infeksi semakin melebar pada daerah luka di permukaan kulit. Demikian juga penggunaan antibiotika yang lama dan berkepanjangan dapat berakibat terjadi superinfeksi pada penderita. Hal ini akan menghambat penyembuhan luka karena akan diperlukan antibiotika yang lebih
kuat yang sudah barang tentu akan meningkatkan risiko efek samping penggunaan antibiotika tersebut.
Pada fase inflamasi terjadi migrasi sel-sel radang yang berperan dalam proses angiogenesis akibat diekskresikan faktor pertumbuhan endotil (vascular endothelial growth factor/VEGF). Selain mensekresikan VEGF, sel-sel radang mensekresikan faktor pertumbuhan (fibroblast growth factor /FGF). Pada fase proliferatif ,kedua faktor pertumbuhan yaitu VEGF dan FGF yang berperan masing-masing pada proses angiogenesis dan fibroblastic. Proses angiogenesis menyebabkan peningkatan jumlah kapiler di bawah luka, sedangkan proses fibroblastik meningkatkan terbentuknya jaringan kolagen. Kedua proses inilah memungkinkan dilakukan intervensi dalam proses kesembuhan luka, termasuk pemanfaatan obat-obat herbal.
Efikasi beberapa tanaman obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit telah banyak dilakukan oleh praktisi-praktisi obat herbal tradisional (Natarajan et al. 2003).
Produk-produk alami dari tanaman obat merupakan sebagai bahan untuk obat-obatan sintesis maupun bahan obat untuk pengobatan herbal secara tradisional. Di beberapa negara pengobatan herbal tradisional masih merupakan alternatif penyembuhan beberapa penyakit (Singh dan Singh, 2001).
Tapakdara (Chatarantus roseus) merupakan salah satu bahan obat herbal yang banyak digunakan oleh masyarakat tradisional terutama di India untuk menyembuhkan berbagai penyakit seperti berbagai tumor dan diabetes. Tanaman ini mengandung lebih dari 400 jenis alkaloid, beberapa diantaranya bersifat sebagai anti kanker (Fishhof et al., 1996; Hindmarch et al., 1991). Jus segar dari bunga tapakdara dicampur pada teh di India digunakan sebagai obat untuk mengatasi berbagai gangguan kulit seperti dermatitis, eksem dan jerawat. Ekstrak dari daun maupun bunga kering dari tanaman ini di beberapa kelompok masyarakat digunakan sebagai salep luka (Nammi et al., 2003).
Kesembuhan luka merupakan suatu proses pemulihan dari kulit dan jaringan lunak lainnya pada luka. Respon peradangan akan muncul pada luka yang diikuti dengan produksi kolagen yang meningkat pada lapisan dermis. Secara garis besar ada tiga tahap proses kesembuhan luka yaitu peradangan, proliferasi dan remodeling. Fase proliferatif ditandai dengan angiogenesis, deposisi kolagen, epitelisasi dan kontraksi luka.
Angiogenesis adalah proses pembentukan pembuluh-pembuluh darah baru dari sel-sel endothelial. Pembentukan jaringan granula juga sangat penting dalam proses kesembuhan
luka. Pembentukan dari jaringan granula menurun seiring dengan meningkatnya epitelisasi. Berkurangnya selularitas pada granulasi menunjukkan adanya apoptosis, sel- sel yang mengalami apoptosis mengalami puncaknya pada hari ke 20 setelah terjadinya luka (Desmouliere et al., 1995). Bahan-bahan aktif yang dapat mempercepat proses kesembuhan luka akan mempercepat pembentukan granulasi jaringan serta vaskularisasi, melalui mekanisme yang melibatkan sekresi VEGF. VEGF merupakan glikoprotein yang dapat nerangsang permeabilitas vaskuler, menginduksi kemotaksis dan aktivasi sel-sel monosit/makrofag dan merangsang pertumbuhan sel-sel endothelial vaskuler (Iijima et al., 1996).
Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah melalui penelitian tentang bioaktivitas dari ekstrak daun tapakdara terhadap proses kesembuhan luka baik pada keadaan normal maupu penderita diabetes. Atas dasar latar belakang tersebut maka penelitian ini penting untuk dilakukan.
Tapakdara (Catharanthus roseus)
Dalam praktek penggunaan obat-obatan herbal banyak tanaman obat telah dibuktikan mempunyai kasiat untuk penyembuhan berbagai penyakit (Natarajan et al., 2003). Produk-produk alam merupakan bahan dari obat-obatan sintetik. Di beberapa negara obat herbal masih merupakan tindakan awal dalam menangani masalah kesehatan baik kesehatan manusia maupun kesehatan hewan (Singh dan Singh, 2001). Salah satu tanaman obat yang secara empiris maupun ilmiah terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit adalah Cantharanthus roseus (C. Roseus), di Indonesia tanaman ini dikenal dengan sebutan tapakdara yang umumnya ditanam sebagai tanaman hias.
Tapakdara merupakan tumbuhan semak tegak yang dapat mencapai ketinggian 100 cm, tanaman ini banyak dipelihara sebagai tanaman hias (Gambar 1). Berdasarkan jenis bunganya tanaman ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu tapakdara bunga putih dan bunga merah. Tanaman ini sebenarnya merupakan tanaman liar yang dapat tumbuh subur di daerah beriklim tropis. Bagian akar, daun dan bunga tanaman ini mengandung zat kimiawi yang berkhasiat obat antara lain vinkristin, vinrosidin, vinblastin dan vinleurosin (Thomas, 1989).
Gambar 1. Tapakdara (Catharantus roseus)
Tanaman ini telah terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kencing manis, hipertensi, leukemia, asma bronchialis, demam, radang termasuk juga untuk pengobatan luka (Thomas, 1989). Di India secara tradisional daun, bunga maupun akar direbus atau dicampur dalam minuman yang dugunakan untuk mengobati penyakit kencing manis (Cowly dan Bennett, 1928; Kirtikar dan Basu, 1933; Sastry, 1953). Kasiat C. roseus terhadap kencing manis secara ilmiah sudah mulai dibuktikan, dengan menggunakan hewan percobaan telah dibuktikan bahwa ekstrak daun C. roseus dapat menurunkan kadar glukosa darah (Pillay dkk., 1959). Dan aktivitas antidiabetik dari jus segar daun tapakdara telah dibuktikan oleh Nammi et al., (2003)
Di India bunga segar dari C. roseus ditumbuk kemudian digunakan untuk mengobati berbagai gangguan pada kulit seperti luka, dermatitis dan jerawat. Namun bagaimana aktivitas dari zat yang terkandung dalam daun tanaman ini terhadap penyembuhan luka yang dikaji secara ilmiah belum pernah dilaporkan. Untuk tujuan tersebut maka penelitian ini perlu dilakukan. Dengan terungkapnya secara ilmiah efektifitas ekstrak daun C. roseus terhadap proses penyembuhan luka pada tikus, kemudian aplikasinya pada anjing pasca operasi, maka tanaman ini sangat potensial untuk membantu penanganan luka pada dunia kedokteran umum maupun kedokteran hewan.
C. roseus diketahui memiliki lebih dari 400 jenis alkaloid, beberapa dari alkaloid yang dikandung tersebut diketahui sebagai obat kanker seperti leukemia, Hodkin’s disease, malignant limfoma, neuroblastoma, rhabdomyosarcoma, Wilhlm’s tumor dan
beberapa kanker lainnya. Efek vasodilatasi dan menambah daya ingat dari tanaman ini maka dapat meringankan penderita Alzheimer (Sischlof dkk., 1996; Hindmarch dkk., 1991). C. roseus memiliki dua komponen aktif yaitu alkaloid dan tanin. Alkaloid utama yang terkandung dalam C. roseus adalah vincamine yang erat sekali kaitannya dengan derivat semisintetik yang banyak digunakan sebagai bahan obat dikenal sebagai ethyl- apovincaminate atau vinpocetine. Derivat ini mempunyai efek vasodilatasi, pengencer darah, hipoglikemik dan meningkatkan daya ingat (Chattopadhay,1999).
Analisa fitokimia ekstrak bungan C. roseus menunjukkan adanya kandungan tannin, triterpenoida dan alkaloid. Salah satunya mungkin berperan dalam proses penyembuhan loka. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa C. roseus juga mengandung flavonoid (Tsuchiya dkk., 1996) dan triterpenoid (Scortichini dan Pia Rosi, 1996) yang diketahui sebagai pemicu proses penyembuhan luka. Aktivitasnya dalam proses penyembuhan luka barangkali akibat sifat antimikroba dan astringen yang dimiliki oleh kandungan tanaman tersebut sehingga dapat menyebabkan kontraksi luka dan meningkatkan epitelisasi. Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa tanaman obat yang mengandung triterpenoid efektif untuk mempercepat proses penyembuhan luka seperti Cecropia peltata (Shivananda, 2006) dan Pentas lanceolata (Nayak dkk., 2006).
Pegagan (Centella asiatica)
Dalam praktek penggunaan obat-obatan herbal banyak tanaman obat telah dibuktikan mempunyai kasiat untuk penyembuhan berbagai penyakit (Natarajan et al., 2003). Produk-produk alam merupakan bahan dari obat-obatan sintetik. Di beberapa negara obat herbal masih merupakan tindakan awal dalam menangani masalah kesehatan baik kesehatan manusia maupun kesehatan hewan (Singh dan Singh, 2001). Salah satu tanaman obat yang secara empiris maupun ilmiah terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit adalah Centella asiatica (C. Asiatica), di Indonesia tanaman ini dikenal dengan sebutan Daun Pegagan yang umumnya ditanam sebagai tanaman liar.
Tanaman ini termasuk familia Umbelliferae yang tumbuh di sekitar pantai sampai pada ketinggian 2.500 meter diatas permukaan laut. Untuk pengembangbiakannya tumbuhan ini dilakukan dengan stek karena lebih cepat tumbuhnya. Di Jawa Barat kadang-kadang tumbuhan pegagan ditanam sebagai penutup di perkebunan-perkebunan teh. Dalam penyembuhan herbal, tanaman ini digunakan untuk obat disentri, sakit perut,
batuk, sariawan (obat kumur) dan peluruh air seni dengan merebus daun kering salama kurang lebih seperempat jam kemudian airnya diminum. Dauunya digerus dan titambahkan sedikit air dapat digunakan sebagai obat kompres serta obat luka (Dalimarta, 1999; Muhlisah, 1999; Tampubolon, 1995).
Gambar 1. Daun Pegagan (C. asiatica)
Di India tanaman ini telah lama digunakan pengobatan Ayrvedic sebagai obat diabetes, dermatitis, batuk, katarak serta meningkatkan daya ingatan (Chevallier et al., 2000, Joshi, 2000). Di Eropa tanaman ini juga banyak digunakan untuk penyembuhan luka dan ulcer (Maquart et al., 1990). Sedangkan di Malaysia tanaman ini dugunakan untuk menyembuhkan bronkitis, asthma, gangguan lambung, disentri, gangguan lambung dan urethritis (Burkill, 1966)
Proses Kesembuhan Luka
Kesembuhan luka merupakan proses yang kompleks dan dinamis dalam pemulihan struktur sel dan lapisan jaringan yang mengalami kerusakan untuk kembali mencapai kondisi yang normal. Hess (1985) mengilustrasikan proses kesembuhan luka seperti disajikan pada gambar 2. Kontraktur luka muncul mengiringi proses penyembuhan luka, awal dari stadium fibroblastik dimana daerah luka akan mengalami pengeriputan. Proses penyembuhan luka meliputi tiga fase yaitu; peradangan, proliferasi dan pematangan, proses ini tergantung dari jenis dan luas luka. Pada fase peradangan
terjadi hemostasis dan radang, kemudian diikuti dengan epitelisasi, angiogenesis dan deposisi kolagen pada fase proliferasi.
Pada akhir fase proliferasi terbentuk granulasi jaringan yang komponen utamanya adalah fibroblast, kolagen, edema serta pembentukan pembuluh-pembuluh darah kecil baru. Granulasi jaringan diperlukan dalam proses penyhembuhan luka, granulasi jaringan menurun seiring dengan perkembangan epitelisasi pada dasar luka.Peningkatan berat kering granulasi jaringan pada hewan yang diberi perlakuan menunjukkan adanya kandungan protein yang tinggi. Bahan obat yang dapat meningkatkan konsentrasi hydroksiprolin pada granulasi jaringan menunjukkan adanya peningkatan pembentukan kolagen. Kolagen merupakan komponen utama yang memperkuat dan menyokong jaringan ekstraseluler. Kolagen tersebut disusun oleh asam amino, hidroksiprolin yang merupakan marker biokimia terhadap kolagen jaringan (Kumar dkk., 2006). Apabila pada daerah luka sudah terjadi epitelisasi secara komplit maka selularitas menurun dan sekresi VEGF akan ditekan. Penurunan selularitas pada granulasi jaringan mencerminkan terjadinya apoptosis, jumlah sel-sel yang mengalami apoptosis puncaknya pada hari ke 20 setelah luka (Desmouliere dkk., 1995).
Apoptosis berhubungan dengan proses eliminasi sel-sel radang (Sampson, 2000) pada fase awal, dan eliminasi sel-sel fibroblas dan endotelial selama fase transisi antara granulasi dan terbentuknya jaringan parut (Desmouliere, 1995). Pada luka terbuka apoptosis awalnya dimulai pada tepian luka kemudian pada lapisan epitel selanjutnya ke pusat luka sebagai proses kesembuhan luka. Selanjutnya fase pematangan yang merupakan fase akhir dari proses penyembuhan luka terjadi kontraksi luka yang ditandai dengan tampaknya jejas pada daerah luka.
Gambar 2. Proses penyembuhan luka (Hess, 1985) Injury
Hemostasis Coagulation platelet
agregation
Implamation Granulocytes Macrophages
Debodement Resistance to
infection
Fibroblasts
Contraction Neovascular
growth
Proteoglicans synthesis
Remodeling
Collagen synthesis Collagen
lysis Epithelisation
Healed wound
Peran Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dalam proses Kesembuhan Luka
Dalam proses kesembuhan luka, terjadi aktivasi platelet atau pembeku darah yang mengeluarkan beberapa cytocyne termasuk Vascular Endothelial Growth Factor. VEGF bersama dengan infiltrasi netrofil dan monosit pada daerah luka yang merupakan bagian dari respon peradangan.Dalam proses kesembuhan luka, vaskularisasi berperan penting dalam pemulihan jaringan, dimana didalamnya terlibat berbagai faktor-faktor pertumbuhan (growth factors), cytokin serta adesi berbagai molekul-molekul (Martin, 1997). Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) merupakan glikoprotein yang dihubungkan dengan disulfida dimerik dengan berat molekul 40 kDa yang dapat meningkatkan permeabilitas dari vaskuler, merangsang kemotaksis dan aktivasi dari monosit/makrofag serta merangsang pertumbuhan sel-sel endothelial dari vaskuler (Ijima et al. 1996). Telah dilaporkan bahwa VEGF terlibat dalam proses vaskularisasi dan dinyatakan bahwa ada korelasi antara VEGF dengan vaskularitas (Miyagami dan Katayama, 2005). Dan faktor ini diimplikasikan dalam proses penyembuhan luka (Hayashi et al., 2004; Tsuo et al., 2002). Sebelumnya Hayashi et al., (2002) menyatakan bahwa imunoraktivitas dari VEGF terjadi pada stadium akhir dari proses kesembuhan luka, namun belakangan Nogami et al., (2007) menyatakan bahwa reaktivitas tersebut terjadi juga pada awal proses kesembuhan luka.
Pada fase proliferasi terjadi infiltrasi sel-sel radang, netrofil dan makrofag akan menghasilkan VEGF (Sakaguchi dkk., 2001; Cho et al., 2001). VEGF mempunyai pengaruh terhadap proliferasi sel-sel endothelial yang berperan penting dalam proses angiogenesis (Connolly dkk., 1989; Clauss et al., 1990). Setelah netrofil memproduksi VEGF akan mengalami apoptosis, selanjutnya diikuti dengan infiltrasi makrofag pada daerah luka untuk memfagositosis netrofil yang mengalami apoptosis dan menghasilkan growth factor seperti VEGFyang dapat meningkatkan granulasi jaringan. Pada daerah yang terjadi peningkatan granulasi, fibriblas dan endothelial perlahan lahan mengalami apoptosis, dan jaringa tersebut akan diisi dengan kolagen.
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Ektraksi daun Tapak dara dan Pegagan
Daun tanaman tapakdara dan kakikuda dikumpulkan kemudian dikeringkan dan digerus sehingga berbentuk serbuk. 50 gram serbuk halus dari daun tersebut ditambahkan 100 ml ethanol dan dibiarkan selam 20 jam dalam suhu kamar. Kemudian disaring dengan kain kasa halus selanjutnya disaring dengan kertas saring (Whatman No:
1). Filtratnya kemudian ditaruh dalam waterbath sampai kering pada suhu 40o C zat yang tersisa merupakan ekstrak daun tapakdara yang akan digunakan dalam penelitian ini.
3. 2 Hewan coba dan perlakuan
Tikus yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Sprague Dawley dengan proporsi jantan dan betina yang sama dan memiliki berat badan antara 200-250 gram.
Tikus dipelihara secara individu dan diberikan pakan normal serta air secara ad libitum.
Hewan coba secara periodik ditimbang sebelum dan sesudah perlakuan. Selama proses pembuatan luka dilakukan secara steril dan tikus dianastesi dengan ketamine dengan dosis 120 mg/kg. Tikus diobservasi secara ketat untuk mengetahui adanya infeksi, apabila diketahui secara klinis adanya infeksi maka tikus tersebut segera diganti dengan tikus yang baru.
Hewan coba akan dibagi menjadi empat group yang masing masing group terdiri dari 6 ekor tikus. Keempat kelompok tikus tersebut adalah:
Group I: sebagai tikus kontrol normal yang akan diberikan carboxymethyl cellulosa secara topical sebagai plasebo;
Group II: merupakan group tikus perlakuan yang akan diberikan ekstrak daun tapak dara secara topikal dengan konsentrasi 15% dalam vaselin.
Group III: merupakan group tikus perlakuan yang akan diberikan ekstrak pegagan secara topikal dengan konsentrasi 15% dalam vaselin.
Group IV: merupakan group tikus perlakuan yang akan diberikan kombinasi ekstrak daun tapak dara dan pegagan secara topikal dengan konsentrasi masing-masing 15%
dalam vaselin.
Pengobatan secara topical dilakukan dengan mencampur ektrak tanaman tersebut dengan vaselin kemudian dioleskan pada daerah luka sesuai dengan dosis. Sedangkan
perlakuan secara oral dicampur pada air minum sesuai dengan dosis. Perlakuan terhadap hewan coba dilakukan setelah mendapat persetujuan dari komisi bioetika Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.
3.3 Pembuatan luka pada tikus
Tikus yang akan digunakan dalam penelitian ini ditimbang sebelum perlakuan.
Tikus dipelihara secara individu dan diberikan pakan normal serta air secara ad libitum.
Hewan coba secara periodik diamati dua kali sehari selama perlakuan. Proses pembuatan luka dilakukan secara steril dan tikus dianastesi dengan ketamine dengan dosis 3 mg/kg.
Tikus diobservasi secara ketat untuk mengetahui adanya infeksi, apabila diketahui secara klinis adanya infeksi maka tikus tersebut segera diganti dengan tikus yang baru.
3.4 Pemeriksaan luka
Pada hari ke 1, 5, dan 15 daerah luka diukur dengan kertas transfaran dan area luka ditandai dengan permanent marker. Area luka yang didapat kemudian diukur dengan graph paper. Waktu yang dibutuhkan sampai tidak dijumpai adanya bekas keropeng dinyatakan sebagai perioda epitelisasi.
3.5 Pemeriksaan histologi
Dua atau tiga minggu setelah luka, tikus kemudian dieutanasi dan pada bagian luka dilakukan irisan. Jaringan luka kemudian difiksasi dengan Phosphate Buffer Formalin 10%. Jaringan yang difiksasi kemudian dilakukan dehidrasi dan diblok dengan paraffin dan dipotong dengan mikrotom setebal 4µm. Irisan tersebut kemudian diwarnai dengan hematoxylin dan eosin (HE) dan Azan. Jumlah kapiler dihitung pada perparat jaringan yang diwarnai dengan HE, dan daerah kolagen pada jaringan yang mengalami granulasi ditentukan dengan skoring :
1. Jika daerah kolagen sangat sedikit ( < 5% dalam jaringan ) 2. Jika daerah kolagen sedikit ( 6% - 25% )
3. Jika daerah kolagen sedang ( 26% - 50% ) 4. Jika daerah kolagen padat ( 51% - 75% ) 5. Jika daerah kolagen sangat padat ( > 75% )
3.6 Pemeriksaan VEGF Secara Imunohistokimia
Preparat jaringan yang difiksasi dengan formalin diinkubasi pada methanol yang mengandung 0,3% hidrogen peroksida selama 20 menit pada suhu kamar. Setelah dilakukan pencucian dengan PBS (phosphate buffer saline) kemudian ditambahkan dengan normal swine serum selam 30 menit pada suhu kamar untuk memblok reaksi non spesifik. Selanjutnya dilakukan inkubasi pada rabbit anti-human VEGF antibody selama satu malam pada suhu 4oC. Setelah dilakukan pencucian dengan PBS selanjutnya diinkubasi pada biotinylated swine anti-rabbit IgG antibody selama 30 menit pada suhu kamar, yang selanjutnya diikuti dengan avidin-biotin peroxidase complex selama 30 menit pada suhu kamar. Visualisasi reaksi immun melalui penambahan 0,25 mg/ml 3,3’- diaminobenzidine tetrahydrochloride (DAB) dalam 0,05 M Tris-buffered saline (pH 7,4) dan 0,003% hydrogen peroxide selama 3 sampai 5 menit.
Adanya warna coklat pada sel-sel/jaringan yang mengalami kesembuhan, menunjukkan adanya VEGF. Semakin tinggi jumlah sel-sel berwarna coklat, berarti semakin banyak produksi VEGF. Hasil pemeriksaan VEGF digunakan skoring :
1. Ringan, jika warna coklat tidak ada pada sel.
2. Sedang, jika warna coklat ada pada sel per lapang pandang
3. Banyak, jika warna coklat ada pada lebih dari satu sel per lapang pandang.
3.7 Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisis secara statistik, sebagai berikut :
1. Data luas luka dalam milimeter persegi dianalisis dengan uji MannWhitney U test.
2. Data jumlah kapiler pada jaringan luka yang mengalami kesembuhan di analisis dengan metoda Bonferroni-Dunn, Fisher’s PLSD dan Student’s t-test.
BAB IV. PEMBIAYAAN
No Jenis pengeluaran Tahun I Tahun II
1 Gaji dan upah 10.882.000 10.882.000
2 Bahan habis pakai 33.700.000 33.700.000
3 Biaya perjalanan 500.000 500.000
4 Laporan 1.000.000 1.000.000
5 Administrasi dan ATK 1.418.000 1.418.000
6 Pemeliharaan 2.500.000 2.500.000
Jumlah 50.000.000 50.000.000
8. DAFTAR PUSTAKA
Chattopadhyay RR.1999: A comparative evaluation of some blood glucose lowering agents of plant origin. J Ethnopharmacol, 67:367-372.
Chattopadhyay RR, Sarkar SK, Ganguli S, Banerjee RN, Basu TK.1991: Hypoglycemic and antihyperglycemic effect of leaves of Vinca rosea Linn. Indian J Physiol Pharmacol, 35:145-151.
Cho M., Hunt T. K., Hussain M. Z., 2001;Am. J. Physiol. Heart Circ. Physiol.,80, H2357—2363.
Connolly D. T., Heuvelman D. M., Nelson R., Olander J. V., Eppley B.L., Delfino J. J., Siegel N. R., Leimgruber R. M., Feder J. 1989; J. Clin. Invest.,84, 1470—1478 Clauss M., Gerlach M., Gerlach H., Brett J., Wang F., Familletti P. C.,Pan Y. C., Olander
J. V., Connolly D. T., Stern D., 1990; J. Exp. Med., 172,1535—1545 ().
Cowley RC and Bennett FC: Vinca rosea. Australation J Pharm 1928, 9:61.
Desmouliere A., Redard M., Darby I., Gabbiani G., 1995; Am. J. Pathol.,146, 56—66 ().
Don, G. (1999) Catharanthus roseus. In: Medical plants of The world. Edited by Ross IA.
Totowa, New Jersey, Human Press; 109-118
Fischhof PK, Moslinger-Gehmayr R, Herrmann WM, Friedmann A,Russmann DL.1996:
Theraupetic efficacy of Vincamine in dementia. Neuropsychobiology, 34(1):29- 35.
Gordon SH, Marvin G and Marry RA.1964: Alkaloids of Vinca rosea : A preliminary report on hypoglycemic activity. Lloydia, 27:361-63.
Hindmarch I, Fuchs HH, Erzigkeit H. 1991: Efficacy and tolerance of vinpocetine in ambulant patients suffering from mild to moderate organic psychosyndromes.
Int Clin Psychopharmacol, 6(1):31-43.
Iijima, K., N. Yoshikawa, and H. Nakamura (1996). Activation-induced expression of vascular permeability factor by human peripheral T cells: a non radioisotopic semiquantitative reverse transcription-polymerase chain reaction assay. J Immunol. Methods 196: 199-209
Jaleel CA., Gopi R.G., M. Alagulakhsmanan and R. Paneenselvam (2006). Tridiamefon induced changes in antioxidant metabolism and ajmalicine production, In:
Ctharanthus roseus G.Don Plant Science 171; 271-276
Kirtikar KR and Basu BD.1933: Vinca rosea. In: Indian Medicinal Plants (II ed.) Allahabad, India, Lalit Mohan Basu Publications, Vol III:1559-60.
Lazarow A. 1964. Alloxan diabetes and mechanism of β-cell damage by chemical agent.
In: Experimental diabetes, Oxford, Blackwell Scientific Publication; 49-69 Martin P (1997) Wound healing aiming for perfect skin regeneration. Science 276: 75-81 Nammi S., M.K. Boini, S.D Lodagala and R.B.S Behara. 2003. The joice of fresh leaves
of Catharantus roseus Linn, reduced blood glucose in normal and alloxan diabetic rats. BMC Complementary and Alternative Medicine 3: 4
Natarajan V, Venugopal PV, Menon T. 2003: Effect of azadirachta (neem) on the growth pattern of dermatophytes. Indian J MedMicrobiol, 21:98-101.
Nayak, BS.,and L.M.P Pereira. 2006. Catharanthus roseus flower extract has wound- helaing activity in Sprague Dawley rats. BMC Complementary and Alternative Medicine 6: 41
Nayak BS, Vinutha B, Geetha B, Sudha B. 2006: Experimental evaluation of Pentas lanceolata for Wound healing activity in rats. Fitotherapia, 76:671-675.
Pillay PP, Nair CPM and Santi Kumari TN.1959: Lochnera rosea as a potential source of hypotensive and other remedies. Bull Research Inst Univ Kerala, Ser. A6, 1:51- 4.
Sastry BN.1953: The wealth of India. New Delhi, CSIR, Publication and Information irectorate:205.
Singh A, Singh DK. 2001: Molluscicidal activity of Lawsonia inermis and its binary and tertiary combinations with other plant derived molluscicides. Indian J Exp Biol, 39:263-268.
Singh SN, Vats P, Suri S, Shyam R, Kumria MML, Ranganathan S and Sridharan K.
2001: Effect of an antidiabetic extract of Catharanthus roseus on enzymic activities in treptozotocin induced diabetic rats. J Ethnopharmacol, 76:269-77.
Sakaguchi I., Tsujimura M., Ikeda N., Minamino M., Kato Y., WatabeK., Yano I., Kaneda K., 2001; Biol. Pharm. Bull., 24, 650—655.
Scortichini M, Pia Rossi M.1991: Preliminary in vitro evaluation of the antimicrobial activity of terpenes andterpenoids towards Erwinia amylovora (Burrill). J Appl Bacteriol, 71:109-112.
Shivananda Nayak B.2006: Cecropia peltata L (Cecropiaceae) Has Wound Healing potential-A preclinical study in Sprague Dawley Rat model. International Journal of Lower Extremity Wounds, 5:20-26.
Tsuchiya H, Sato M, Miyazaki T, Fujiwara S, Tanigaki S, Ohyama M, Tnanka T, linuma M.1996: Comparative study on the antibacterial activity of phytochemical
flavanones against methicillinresistant Staphylococcus aureus. J Ethnopharmacol, 50:27-34.
LAMPIRAN 1
JUSTIFIKASI ANGGARAN 1. TAHUN I
1.1 Honor dan Upah
No Pelaksana Jumlah Jumlah jam/minggu
Honor/jam Biaya
1 Ketua 1 8 Rp.14.000 8xRp.14.000x32x1
=Rp3.584.000
2 Anggota 2 8 Rp.14.000 8xRp.14.000x32x1
=Rp3.584.000
Jumlah Rp. 7.178.000
1.2 Bahan habis pakai
Jenis pengeluaran Jumlah Satuan Harga satuan Biaya (Rp)
Tikus 50 ekor 25.000 1.250.000
Pakan dan pemeliharaan 1 paket 3.000.000 3.000.000 Kandang 2 unit 2.500.000 3.000.000
Ketamin 2 botol 850.000 1.700.000
Skin biopsy punch 4 unit 750.000 3.000.000 Vaselin 1 kotol 250.000 250.000
Perlatan lainnya 1 paket 2.000.000 2.000.000
Graph paper 2 paket 1.500.000 3.000.000 Obat-obatan lainnya 1 paket 1.500.000 1.500.000
Sub total 21.700.000
Pengadaan ekstrak daun tapak dara dan pegagan
Jenis pengeluaran Jumlah Satuan Harga satuan Biaya (Rp) Pengadaan tanaman 1 paket 1.000.000 1.000.000
Ethanol 1 paket 500.000 500.000
Kain kasa 1 box 200.000 200.000
Kertas saring 1 box 350.000 350.000
Sub Total 2.050.000
Pemeriksaan Histologi
Jenis pengeluaran Jumlah Satuan Harga satuan Biaya (Rp) Phosfate buffer formalin 1 unit 1.650.000 1.650.000
Pisau microtome 2 unit 1.500.000 3.000.000
Obyek gelas 2 box 50.000 100.000
Paraffin 1 unit 250.000 750.000
Pewarna HE 2 unit 750.000 3.000.000 Pewarna Azan 2 unit 750.000 3.050.000
11.500.000
1.3 Anggaran lainnya
Jenis pengeluaran Jumlah Satuan Harga satuan Biaya (Rp)
Perjalanan 1 paket 2.000.000 2.000.000
Penyusunan laporan 1 paket 2.500.000 2.500.000
Administrasi 1 paket 2.000.000 2.000.000
Pemeliharaan 1 paket 3.122.000 3.122.000
Sub total 9.622.000
Jumlah keseluruhan; 50.000.000 (Lima puluh juta rupiah)
Penelitian tahun II 1.2 Honor dan Upah
No Pelaksana Jumlah Jumlah
jam/minggu Honor/jam Biaya
1 Ketua 1 8 Rp.14.000 8xRp.14.000x32x1
=Rp3.584.000
2 Anggota 2 8 Rp.14.000 8xRp.14.000x32x1
=Rp3.584.000
Jumlah Rp. 7.178.000
1.2 Bahan habis pakai
Jenis pengeluaran Jumlah Satuan Harga satuan Biaya (Rp)
DAB 2 unit 1.500.000 3.000.000
Tria bufferd saline 2 unit 1.500.000 3.000.000 Hidrogen feroksida 1 unit 1.200.000 1.200.000 Phosphate buffer saline 1 paket 1.500.000 1.500.000 Normal swine serum 1 unit 2.250.000 2.250.000 rabit anti-human VEGF
antibody 2 unit 6.500.000 13.000.000 Avidin biotin feroksidase 1 unit 3.250.000 3.250.000 Pipet dan peralatan lainnya 2 unit 3.000.000 6.000.000
33.200.000
1.3 Anggaran lainnya
Jenis pengeluaran Jumlah Satuan Harga satuan Biaya (Rp)
Perjalanan 1 paket 2.000.000 2.000.000
Penyusunan laporan 1 paket 2.500.000 2.500.000
Administrasi 1 paket 2.000.000 2.000.000
Pemeliharaan 1 paket 3.122.000 3.122.000
Sub total 9.622.000
Jumlah keseluruhan; 50.000.000 (Lima puluh juta rupiah)
LAMPIRAN 2.
BIOGRAFI KETUA PENELITI
Nama : Dr drh. I Ketut Anom Dada . MS NIP/NIK : 195606101986021002
Tempat dan Tanggal Lahir : Payangan 10 Juni 1956 Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Kawin Agama : Hindu
Golongan / Pangkat : IV A / Pembina Jabatan Akademik : Lektor Kepala Perguruan Tinggi : Universitas Udayana
Alamat : Jalan. PB. Sudirman,Denpasar Telp./Faks. : (0361) 223791
Alamat Rumah : Jalan. Bypas IB Mantra Puri Candra Asri Blok B69 Batubulan Gianyar.
Telp./Faks. : (0361) 461341
Alamat e-mail : [email protected] RIWAYAT PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI
Tahun Lulus
Program
Pendidikan(diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor)
Perguruan Tinggi Jurusan/Program, Studi
1983 Dokter hewan Universitas Gadjah Mada Kedokteran hewan 1993 Magister Sain Universitas Gadjah Mada Biopatologi
2012 Doktor Universitas Udayana Ilmu Kedokteran
PELATIHAN PROFESIONAL
Tahun Jenis Pelatihan(Dalam/Luar Negeri)
Penyelenggara Jangka Waktu 1987 Latihan Pra Jabatan Tingkat III
[Tiga]
Universitas Udayana Denpasar
23 oktober-19 Nopember 1987 1986 Visiting Assigment Of Pig
Diseasses International
Development Program (IDP )
27 February- 22March 1986 2003 Program Applied Approach/
Ancangan Aplikasi(AA) Angkatan II
Pusat Antar Universitas 11-15 Agustus 2003 Di UNUD
2003 Kegiatan Penataran
Pendekatan Terapan (Applied Approach (AA) Angkatan II
Lembaga Pengkajian Pengembangan
Pendidikan (LP3),UNUD
11 – 15 Agustus 2003
PENGALAMAN MENGAJAR
Mata Kuliah Program Pendidikan Institusi/Jurusan/
Program Studi
Sem/Tahun Akademik Ilmu Bedah
Umum Veteriner
S1 (Sarjana Kedokteran Hewan)
Kedokteran Hewan Genap (Semester VI) Ilmu Bedah
Khusus Veteriner
S1 (Sarjana Kedokteran Hewan)
Kedokteran Hewan Ganjil (Semester VII) Radiologi
Veteriner
S1 (Sarjana Kedokteran Hewan)
Kedokteran Hewan Ganjil (Semester VII) Farmasi Veteriner S1 (Sarjana Kedokteran
Hewan)
Kedokteran Hewan Ganjil (Semester VII) PPDH Klinik
Hewan
Dokter Hewan Kedokteran Hewan Ganjil & Genap Tingkat Akhir PRODUK BAHAN AJAR
Mata Kuliah Program Pendidikan Jenis Bahan Ajar (cetak dan non cetak)
Sem/Tahun Akademik Ilmu Bedah
Umum Veteriner
Sarjana Kedokteran Hewan (S1)
Ilmu Bedah Umum tentang luka & pola jahitan
operasi(bahan ajar)
Ilmu Bedah Umum tentang Persiapan Operasi(bahan ajar)
Genap
Ilmu Bedah Khusus Veteriner
Sarjana Kedokteran Hewan (S1)
Ilmu Bedah KhususBedah daerah Kepala dan Leher(bahan ajar) Ilmu Bedah khusus Bedah daerah Thorak dan Abdomen Hewan Besar&hewan kecil(bahan ajar).
Ilmu Bedah Hewan Kecil serta Cara Operasi(Buku).
Ganjil Genap dan Ganjil.
PENGALAMAN PENELITIAN
Tahun Judul Penelitian Ketua/Anggota
Tim Sumber
Dana 1992 Pengaruh pemberian kloropromazin
Hcl terhadap kadar Na+ dan K+
serum pada anjing lokal.
Anggota DPP SPP
1993 Pengaruh pemberian kloropromazin Hcl terhadap lama kerja anestesi Pentothal pada anjing.
Anggota DPP SPP
1994 Nefrektomi Unilateral terhadap gambaran darah Anjing local
Ketua Biaya
Sendiri
2002 Uji klinik Premedikasi Xylazin dan Diazepan terhadap anestetik ketamin pada anjing lokal.
Anggota -
2004 Kombinasi Xylazin-Ketamin- Yohimbin pada anjing lokal.
Ketua Biaya
Sendiri 2004 Pemberian Xylazin-Ketamin-
Yohimbin terhadap frekuensi nafas dan suhu anjing.
Anggota -
2004 Waktu pemulihan Anestesi Xylazin Ketamin Hidroklorida dengan Zolazepan Tiletamin.
Ketua -
2010 Perbandingan efek pemberian Anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan Tiletamin- ZolaZepan terhadap Capillary Refill Time (CRT) dan warna selaput lendir pada anjing.
Ketua -
2011 Bioaktifitas Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharantus Roseus)
Terhadap Periode Epitelisasi Dalam Proses penyembuhan Luka Pada Tikus Wistar
Ketua Dikti
2012 Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharantus Roseus) Terhadap Periode Epitelisasi Terhadap Proses penyembuhan Luka Pada Tikus
Ketua Dikti
KARYA ILMIAH*
A. Buku/Bab Buku/Jurnal
Tahun Judul Penerbit/Jurnal
2002 Uji Klinik Premekasi Xylazine dan Diazepan terhadap Anestesik Ketamin Pada Anjing Lokal
Jurnal Veteriner (Jurnal kedokteran Hewan Indonesia) 2004 Kombinasi Xylazine-Ketamin-
Yohimbin pada anjing lokal
Jurnal Veteriner (Jurnal kedokteran Hewan Indonesia) 2004 Pemberian Xylazine-Ketamin-
Yohimbin terhadap frekuensi nafas
& suhu anjing
Jurnal Veteriner (Jurnal kedokteran Hewan Indonesia) 2004 Waktu pemulihan Anestesi
Xylazine-Ketamin Hidroklorida dengan Zolazepam-Tiletamin
Jurnal Veteriner (Jurnal kedokteran Hewan Indonesia) 2006 Ilmu Bedah Hewan kecil serta cara
operasi.
Percetakan Pelawa Sari Denpasar 2010 Perbandingan efek Pemberian Buletin Veteriner Udayana
Anestesi Xylazine-Ketamin Hidroklorida dengan Tiletamin- Zolazepam terhadap Capillary Refill Time (CRT) dan warna selaput lender pada anjing 2011 Bioaktifitas Ekstrak Daun Tapak
Dara (Catharantus Roseus)
Terhadap Periode Epitelisasi Dalam Proses penyembuhan Luka Pada Tikus Wistar
Indonesia Medicus Veterinus
2012 Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharantus Roseus) Terhadap Periode Epitelisasi Terhadap Proses penyembuhan Luka Pada Tikus
Indonesia Medicus Veterinus
*termasuk karya ilmiah dalam bidang ilmu pengeteahuan/teknologi/seni/desain/olahraga B. Makalah/Poster
Tahun Judul Penyelenggara
2011 Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharantus Roseus) Terhadap Periode Epitelisasi Terhadap Proses penyembuhan Luka Pada Tikus
Seminar Nasional Hasil Penelitian
C. Penyuting/Editor/Reviewer/Resensi
Tahun Judul Penerbit/Jurnal
KONFRENSI/SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM
Tahun Judul Kegiatan Penyelenggara Panitia/peserta/
pembicara 2006 Pelibatan stakeholder dalam kajian
aktivitas virus flu burung di Bali,NTB,NTT
Fakultas
Kedokteran Hewan- UNUD
Peserta
2007 Seminar Nasional Sosialisasi dan Komunikasi Hasil-hasil Penelitian pada Hewan Kesayangan
Fakultas
Kedokteran Hewan- UNUD
Peserta
2007 Rapat kerja Regional Timur Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiap siagaan menghadapi pandemic influenza
Panitia
2008 Seminar Nasional Penguatan Fungsi- fungsi Kesehatan Hewan dalam era otonomi Daerah di Indonesia
Fakultas
Kedokteran Hewan- UNUD
Peserta
2010 Diskusi Peningkatan Efektivitas Riset secara sinergi Antara
Perguruan Tinggi dengan Lembaga Lifbang
Ristek Peserta
2010 Seminar Desa Pakraman Benteng Pelestari Budaya Bali
Universitas Udayana
Peserta 2011 Sosialisasi Pemantapan Sistem
Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Meningkatkan Motivasi dan Peran Tenaga administrasi universitas udayana
Universitas Udayana
Peserta
KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Tahun Jenis/Nama Kegiatan Tempat
2006 Penyuluhan tentang Penyakit Flu Burung dan Cara Pencegahannya
Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal,Kab Badung 2007 Pelayanan Kesehatan Babi di desa
Pelaga,Kecamatan Petang,Badung untuk Peningkatan Produktivitas Ternak Babi
Desa Petang,Badung
2007 Penyuluhan & Kesehatan Babi Desa Mambal,Badung 2008 Pengembangan Desa Tanggap Flu Burung yang
berlokasi di Desa Sedang,Kec.Abiansemal,Kab Badung
Desa Sedang,Badung
2008 Peningkatan Produktivitas Melalui Vaksinasi SE dan Pelayanan Kesehatan pada ternak sapi di Desa Pering,Gianyar
Desa Pering,Gianyar
2009 Vaksinasi Rabies pada Anjing Desa Penatih,Dangin Puri,Dentim
2010 Vaksinasi Rabies pada Anjing Desa Pemogan,Densel
JABATAN DALAM PENGELOLAAN INSTITUSI
Peran/Jabatan Institusi(Univ,Fak,Jurusan,Lab,studio,Mana jemen Sistem Informasi Akademik dll)
Tahun s.d Kepala Lab.
Bedah Hewan Kecil
Fakultas Kedokteran Hewan,UNUD 1995 s.d 2000 2012 - Sekarang
PERAN DALAM KEGIATAN KEMAHASISWAAN
Tahun Jenis/Nama Kegiatan Peran Tempat
2011 Kemah Kerja Veteriner (KKV) Pembimbing Pempatan, Karangasem 2011 Kerja Sosial Kesehatan Hewan
(Kersos Keswan) Pembimbing Pempatan, Karangasem
2012 Kemah Kerja Veteriner (KKV) Pembimbing Taro, Gianyar 2012 Kerja Sosial Kesehatan Hewan
(Kersos Keswan)
Pembimbing Petang, Badung
PENGHARGAAN/PIAGAM
Tahun Bentuk Penghargaan Pemberi
ORGANISASI PROFESI/ILMIAH
Tahun Jenis/Nama Organisasi Jabatan/jenjang keanggotaan Sejak Jadi Dokter
Hewan
Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI)
Anggota Semenjak Praktek
Sekarang
Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil
Indonesia(ADHPHKI)
Anggota
2011 Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (AFFAVETI)
Anggota
Saya menyatakan bahwa semua keterangan dalam Curriculum Vitae ini adalah benar dan apabila terdapat kesalahan,saya bersedia mempertanggung jawabkannya.
Denpasar, 19 Februari 2014
Drh. I Ketut Anom Dada MS NIP. 19560610 198602 1002
Anggota peneliti 1
I. IDENTITAS DIRI
1.1 Nama Lengkap (dengan gelar) Prof. Dr. Drh, I Made Damriyasa MS. L/P
1.2 Jabatan Fungsional Guru Besar
1.3 NIP/NIK/No. identitas lainnya 19621231 198803 1017
1.4 Tempat dan Tanggal Lahir Karangasem, 31 Desember 1962
1.5 Alamat Rumah Jl. Tukad Badung XXIV No 11 Denpasar
1.6 Nomor Telepon/Faks -
1.7 Nomor HP 0817340627
1.8 Alamat Kantor Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Jl.
PB. Sudirman Denpasar, Bali.
1.9 Nomor Telepon/Faks 0361 223791
1.10 Alamat e-mail [email protected]
1.11 Lulusan yg telah dihasilkan S-1= 65 orang ; S-2= - orang; S-3= 3 orang
1.12 Mata Kuliah yg diampu 1. Parasitologi (S1)
2. Patologi Klinik Veteriner (S1) 3. Imunologi Parasit (S2) 4. Ekologi Parasit (S2) 5. Epidemiologi (S2) 6. Parasitologi lanjutan (S3) 7. Biokimia Patogen (S3)
II. RIWAYAT PENDIDIKAN
2.1. Program: S1 S2 S3
2.2. Nama PT Universitas Airlangga Surabaya
Universitas Airlangga Surabaya
Justus Liebig University Giessen Germany 2.3. Bidang Ilmu Kedokteran Hewan Kedokteran Dasar Parasitologi
2.4. Tahun Masuk 1981 1990 1996
2.5. Tahun Lulus 1987 1993 2001
2.6. Nama Pembim- bing/ Promotor
Dr. drh. D. N. K. Laba Mahaputra MSc
Prof. Dr. Purnomo Prof. Dr. Horz Zahner
III. PENGALAMAN PENELITIAN (bukan skripsi, tesis, maupun disertasi)
Tahun Judul Penelitian Penyandang Dana
2010-2015 Improvement and sustainability of
sweetpotato-pig production systems to support livelihoods in higland Papua and West Papua, Indonesia
ACIAR(Australia), SARDI (Australia), CIP (Peru)
2011 Genetic resistence of local chicken on parasite infection
Georg-August University Goettingen Germany
2011 Penentuan data demografi dan ekologi anjing dalam menunjang program penanggulangan rabies yang efisien, efektif dan berkelanjutan di Bali
DIPA Unud (Hibah Unggulan Udayana)
2008- 2010 Kajian epidemiologi neosporosis pada sapi bali
DP2M Dikti (Hibah Kompetensi) 2010 Epidemiology, diagnosis, and reducing
prevalence of zoonotic parasites in West Papua
ACIAR
2009 Zoonotic potential of Anisakis spp. in Balinese waters, Indonesia
DP2M Dikti (Hibah kompetitif penelitian kerjasama Internasional) 2005 Seroprevalensi Neospora caninum pada red
fox di Jerman
JLU Giessen, Jerman 2006 Infeksi buatan cacing pita Taenia saginata
pada sapi bali
University of Asahikawa Jepang
2007 The anthelmintic activity of papaya fruit and betel nuts on gastrointestinal nematodes in pig
ACIAR (Australia)
2005 Seroprevalensi Trichinella pada red fox di Jerman
JLU Giessen, Jerman
2006 Seroprevalece of Toxoplasma and Trichinella in Jayawijaya Papua Indonesia
ACIAR (Australia) 2009 Seroprevalensi dan identifikasi molekuler
Toxoplasma gondii pada kambing
CSAD*
2005 Survey on endoparasite infections of pigs in Wamena Papua
ACIAR (Australia)
Keterangan:
*- : CSAD (Center for Studies on Animal Diseases): Laboratorium kerjasama antara FKH Universitas Udayana dengan Institute of Parasitology JLU Giessen, Jerman; penggalian dananya diprakarsai oleh Prof. Dr. Christian Bauer (Visiting Professor di FKH Unud).
IV. PENGALAMAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Tahun Judul Kegiatan Sumber dana
2006 Pemanfaatan limbah biji pepaya sebagai obat cacing pada peternakan ayam petelur di desa Penebel Tabanan
DIKTI, Penerapan IPTEKS
2005 Strategi pemberantasan penyakit parasiter dalam
meningkatkan produksi pada peternakan babi rakyat di desa Sibetan Karangasem
DIPA Unud
2004 Peningkatan produktifitas ternak babi melalui pemberantasan penyakit parasiter di desa Bungaya Karangasem
DIPA Unud
2005 Strategi pemberantasan penyakit cacingan pada anjing lokal di obyek wisata Sanur dalam upaya pencegahan penularannya yang bersifat zoonosis
DIPA Unud
2005 Pelayanan Kesehatan Ternak sapi di Bukit Jimbaran Badung FKH Unud
2005 Peningkatan produktivitas ternak babi dengan menekan kematian pra sapih di desa Bebandem, Karangasem
DIPA Unud
V. DAFTAR PUBLIKASI
1 Damriyasa, IM., R. Volmer, K. Failing und C. bauer (1998):Representative Querschnittsstudie über den Endo- und Ektoparasitenbefall in süd-hessischen Zuchtsauenbetrieben. Proc. 18. Kongr.
DTSCH. Ges. Parasitol., Dresden. Abstrc. Nr. P22
2 Tenter, A.M., Seineke, P., Simon, K., Heckerozh, A.R., Damriyasa, IM., Bauer, C., and H. Zahner (1999): Aktuelle Studien zur Epidemiologie von Toxoplasma-Infetionen. Proc. German Veterinary Medical Society. 1999. p. 247-264
3 Damriyasa, IM., C. Bauer, R. Volmer, K. Failing, A. Tenter, P. Lind and H. Zahner (1999): Survey on endo- and ectoparasite infections in sow farms in southhern Hessen, Germany.Proc. 17th. Tnt.
Conf. Wrld. Adv. Vet. Parasitol., Kopenhagen. Denmark. Abstr. Nr. g6.01
4 Damriyasa, IM., Suratma, N.A., Dwinata, IM., Apsari IAP., Schares G., Noeckler K., Schein E. and Baur C. (2000). Parasite infections in semi-domesticated dogs in Bali, Indonesia. Proc. 18th. Int.
Conf. Wrld. Adv. Vet. Parasitol., Stressa-Italy. Abstr. Nr. E35p
5 Damriyasa, IM., N.A. Suratma, IM. Dwinata and C. Bauer (2000). Faecal survey on endoparasite infections in breeding sows in two districts of Bali, Indonesia. Proc. 19th. Kongr. DTSCH. Ges.
Parasitol., Stuttgart
6 Damriyasa, IM., C. Bauer, K. Noeckler, A.M. Tenter and H. Zahner (2000). Survey on zoonotic parasite infections in pigs in southern Bali, Indonesia. Proc. 19 th. Kongr. DTSCH. Ges. Parasitol., Stuttgart
7 Dharmawan, N.S., I B.W. Adnyana, and I M. Damriyasa. 2001. Prevalence of Taenia hydatigena in pigs. The 18th International Conference of the World Association for the Advancement of Veterinary Parasitology. 26-30 August 2001, Stresa, Italy.
8 Damriyasa, IM., Suratma, N.A., Dwinata, I.M., Tenter, A.M., Nöckler, K. and C. Bauer (2001).
Faecal and serological survey on Endoparasite infections of sows in Bali, Indonesia. Proc. 18th. Int.
Conf. Wrld. Adv. Vet. Parasitol., Stressa-Italy. Abstr. Nr. E35p
9 Damriyasa, IM., R. Edelhofer, R. Volmer, C. bauer and H. Zahner (2001). Current seroprevalence of Toxoplasma gondii infections in sows in two regions of Germany. Proc. 18th. Int. Conf. Wrld.
Adv. Vet. Parasitol., Stressa-Italy. Abstr. Nr. A2p
10. DHARMAWAN, N.S., I.B. WINDYA ADNYANA, IM. DAMRIYASA (2001): Prevalence of Taenia hydatigena cysticercosis in pigs in Bali, Indonesia. Proceeding 18th Int. Conf. Wrld. Ass.
Adv. Vet. Parasitol., Stresa/Italy, Abstr. E36p, p. 64