• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENGGUNAAN DAUN CINCAU HITAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PENGGUNAAN DAUN CINCAU HITAM"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGGUNAAN DAUN CINCAU HITAM (Mesona palustris BL) DALAM BENTUK TEPUNG DAN ENKAPSULASI SEBAGAI ADITIF PAKAN TERHADAP VISKOSITAS DAN

MIKROFLORA USUS HALUS AYAM PEDAGING

SKRIPSI

Oleh :

Filoza Marwi NIM. 145050101111217

PROGRAM STUDI S1 PETERNAKAN MINAT NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2018

(2)

PENGARUH PENGGUNAAN DAUN CINCAU HITAM (Mesona palustris BL) DALAM BENTUK TEPUNG DAN ENKAPSULASI

SEBAGAI ADITIF PAKAN TERHADAP VISKOSITAS DAN MIKROFLORA USUS HALUS AYAM PEDAGING

SKRIPSI

Oleh :

Filoza Marwi NIM. 145050101111217

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan

Universitas Brawijaya

PROGRAM STUDI S1 PETERNAKAN MINAT NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2018

(3)

3

PENGARUH PENGGUNAAN DAUN CINCAU HITAM (Mesona palustris BL) DALAM BENTUK TEPUNG DAN ENKAPSULASI SEBAGAI ADITIF PAKAN TERHADAP

VISKOSITAS DAN MIKROFLORA USUS HALUS AYAM PEDAGING

SKRIPSI Oleh : Filoza Marwi NIM. 145050101111217

Telah dinyatakan lulus dalam ujian sarjana Pada Hari/Tanggal : Senin/26 Maret 2018

Tanda Tangan Tanggal Pembimbing Utama

Dr. M. Halim Natsir, S.Pt, MP NIP. 19711224 199802 1 001

………….. ………

Pembimbing Pendamping Dr. Ir. Irfan H. Djunaidi, M.Sc NIP. 19650627 199002 1 001

………. ……….

Dosen Penguji

Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc NIP. 19600422 198811 1 001

………. ……….

Dr. Herly Evanuarini, S.Pt, MP

NIP. 19750110 200801 2 003 ……… ………

Heni Setyo Prayogi, S.Pt, M.ASc

NIP. 19780226 200501 1 001 ……….. ………

Mengetahui,

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Suyadi, MS NIP. 19620403 198701 1 001

Tanggal :………

(4)
(5)

i

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Rigangan, Kecamatan Kelam Tengah Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu pada tanggal 17 April 1996 dari ayah bernama Mustahuni dan ibu bernama Winarti M. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 6 Kelam Tengah pada tahun 2002 dan lulus pada tahun 2008. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Kelam Tengah pada tahun 2008 dan lulus pada tahun 2011. Penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 2 Kaur pada tahun 2011 dan selesai pada tahun 2014. Setelah tamat SMA, penulis melanjutkan pendidikan perguruan tinggi negeri di Universitas Brawijaya Fakultas Peternakan dengan minat Nutrisi dan Makanan Ternak.

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di Kelompok Ilmiah Mahasiswa (KIM) FAPET UB sebagai staff HRD, Fapet Sport Community (FASCO) sebagai anggota, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAPET UB Kabinet Produktif sebagai Presiden Mahasiswa, Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di Ikatan Keluarga Mahasiswa Bengkulu Malang (IKMBM), Pengurus Departemen Kajian Bidang P3A Himpunan Mahasiswa Islam KOMPETER Brawijaya, Pengurus Bidang Pengembangan Kurikulum di Badan Pengelola Latihan (BPL) Malang dan aktif di organisasi sosial Youth Center to Act for Nation (YOUCAN) Indonesia.

Selain aktif di organisasi penulis juga aktif di bidang akademik sebagai Kordinator Asisten Praktikum Biokimia 2016. Penulis telah melaksanakan praktek kerja lapang (PKL) di PT. Charoen Pokphand Indonesia, Krian, Jawa Timur.

(6)

ii

(7)

iii

EFFECT OF BLACK CINCAU LEAVES (Mesona palustris BL) OF POWDER AND ENCAPSULATION AS

FEED ADDITIVE ON VISCOSITY AND ILEUM MICROFLORA ON DIGESTA BROILERS

Filoza marwi1), M. Halim Natsir2) and Irfan H. Djunaidi2)

1Student of Animal Nutrition and Feed Department Faculty of Animal Science, Brawijaya University

2Lecturer Department of Animal Nutrition and Feed Faculty of Animal Science, Brawijaya University

Email : [email protected] ABSTRACT

The research was conducted to evaluate the effect of black cincau leaves (Mesona palustris BL) leaf powder and encapsulation as feed additive on digesta broiler viscosity and microfolora (colonies of BAL and Escherichia coli) of the ileum of broilers. The method used the experimental method with the addition of feed additive black cincau leaves (Mesona palustris BL) leaf powder and encapsulation to 192 broilers with the maintenance of 35 days. The average initial bodies weight of 37.4±2.87 g and coefficient diversity 7.67%. The research conducted consisting of 8 treatment feed is that divided to two kinds (Leaf powder: B1 and Encapsulation: B2) and 4 level usage im the feed which is nested. The treatment level used was L0: 0%, L1: 0.5%, L2: 1%, L3: 1.5%. Each treatment was repeated 3 times and each test using 8 broilers.

Variables in this research were viscosity and ileum microflora on digesta and then analyzed by ANOVA of the completely Randomized Nested Design. The significant effect will be

(8)

iv

analyzed by Duncan’s Multiple Range Test. The result show of treatment form didn’t significant affect (P>0.05) the viscosity and number of BAL and show the significantly affect (P<0.05) the number of Escherichia coli. The treatment level show of didn’t significantly affect (P>0.05) the viscosity and number of Escherichia coli but showed highly significant affect (P<0.01) to number of BAL. It could be concluded that the research show the black cincau leaves (Mesona palustris BL) encapsulation give the better result than the leaf powder as feed additive on the viscosity and ileum microflora of broilers. 1.5% is the level of black cincau leaves (Mesona palustris BL) is the best result on viscosity and ileum microflora of broilers.

Keywords : Black cincau leaves, encapsulation, feed additive, microflora, viscosity.

(9)

v

PENGARUH PENGGUNAAN DAUN CINCAU HITAM (Mesona palustris BL) DALAM BENTUK TEPUNG DAN

ENKAPSULASI SEBAGAI ADITIF PAKAN TERHADAP VISKOSITAS DAN MIKROFLORA USUS

HALUS AYAM PEDAGING

Filoza marwi1), M. Halim Natsir2) dan Irfan H. Djunaidi2)

1Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

2Dosen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Email : [email protected] RINGKASAN

Aditif pakan merupakan bahan yang digunakan sebagai tambahan pakan untuk meningkatkan nilai guna dari pakan yang dikonsumsi ternak. Aditif pakan dapat berupa antibiotik, probiotik, prebiotik, fitobiotik dan asam organik.

Penggunaan antibiotik pada pakan akan menyebabkan residu pada tubuh ternak yang tidak aman untuk kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Solusinya adalah mengganti penggunaan antibiotik dengan fitobiotik. Daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai fitobiotik memiliki kandungan senyawa bioaktif yang terkandung didalamnya seperti antioksidan, flavonoid, alkaloid dan fenol. Teknologi enkapsulasi pada pakan bertujuan untuk mengurangi kehilangan nutrisi, melindungi flavor, aroma dan pigmen, meningkatkan kelarutan, merubah bahan pakan bentuk cair ke bentuk padat atau tepung yang memudahkan dalam penanganan dan pemberian pakan.

(10)

vi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi dan acuan penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai fitobiotik yang lebih baik dalam bentuk tepung atau enkapsulasi terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging.

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus s/d 4 Oktober 2017 di Laboratorium Lapang Sumbersekar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Pembuatan aditif pakan daun cincau hitam (Mesona palustris BL), analisis proksimat dan pengujian viskositas usus halus dilakukan di Laboratorium Nutrisi Makanan Ternak Gedung 3 Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Identifikasi mikroflora yaitu jumlah koloni BAL dan Escherichia coli usus halus dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Penelitian ini menggunakan 192 ekor Day Old Chick (DOC) ayam pedaging strain Lohman MB-202 Platinum dan dipelihara selama 35 hari. Rata-rata bobot DOC 37,4±2,87 g/ekor dan koefisien keragaman 7,67%. Metode penelitian adalah metode eksperimen in vivo menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola tersarang yang terdiri dari dua faktor, yaitu faktor bentuk daun cincau yang terdiri dari tepung daun cincau hitam (B1) dan ekstrak daun cincau hitam enkapsulasi (B2).

F aktor lainnya adalah level penggunaan yang terdiri dari 0%

(L0), 0,5% (L1), 1,0% (L2) dan 1,5% (L3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan jumlah ayam pedaging pada setiap ulangan sebanyak 8 ekor.

(11)

vii

Hasil penelitian menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05) pada perlakuan bentuk terhadap viskositas dan jumlah koloni BAL. Memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) pada perlakuan bentuk terhadap jumlah koloni Escherichia coli. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aditif pakan cincau hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk enkapsulasi meningkatkan viskositas menjadi rata-rata 5,71±0,58 cps dibandingkan bentuk tepung dengan rata-rata 5,52±0,36 cps. Bentuk enkapsulasi meningkatkan jumlah koloni BAL 8,17±0,40 log cfu/g dibandingkan bentuk tepung dengan rata-rata jumlah koloni 8,03±9,32 log cfu/g.

Sedangkan terhadap jumlah koloni Escherichia coli, bentuk enkapsulasi dapat menurunkan rata-rata jumlah menjadi 3,84±0,36 log cfu/g dibandingkan dengan bentuk tepung dengan rata-rata jumlah 4,30±0,15 log cfu/g. Hasil perlakuan level tersarang pada bentuk dan enkapsulasi daun cincau hitam (Mesona palustris BL) memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap viskositas dan jumlah koloni Escherichia coli. Hasil paling optimal pada level tersarang pemberian aditif pakan terhdap viskositas adalah pada level 1,0% (5,95±0,52 log cfu/g) untuk bentuk tepung dan level 1,5% (6,41±1,13 log cfu/g) untuk bentuk enkapsulasi.

Sedangkan pemberian optimal aditif pakan untuk menekan pertumbuhan terhadap Escherichia coli adalah pada level 1%

(4,22±0,23 log cfu/g) dalam bentuk tepung dan level 1,5%

(3,54±0,56 log cfu/g) dalam bentuk enkapsulasi. Hasil level tersarang memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah koloni BAL dengan level optimal pemberian pada level 0,5% (8,40±0,41 log cfu/g) dalam bentuk tepung dan level 1,5% (8,92±0,61 log cfu/g) dalam bentuk enkapsulasi.

(12)

viii

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cincau hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk enkapsulasi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan bentuk tepung terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging. Adapun level penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustis BL) 1,5% bentuk enkapsulasi memberikan hasil yang optimal pada viskositas, jumlah BAL dan Escherichia coli usus halus ayam pedaging.

(13)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya serta shalawat dan salam yang tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustri BL) dalam Bentuk Tepung dan Enkapsulasi sebagai Aditif Pakan Terhadap Viskositas dan Mikroflora Usus halus Ayam Pedaging” dengan baik. Laporan skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Strata satu (S-1) Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Oleh karena itu, dalam kesempatan penulis juga sangat berterima kasih kepada yang terhormat:

1. Ayahanda Mustahuni dan Ibunda Winarti selaku orang tua, Helen Anggriani selaku Kakak dan Qudratullah Marwi selaku adik yang semuanya selalu mendoakan dan mendukung secara moril maupun materil dalam pelaksanaan penelitian dan penyelesaian skripsi.

2. Dr. M. Halim Natsir, S.Pt, MP., selaku Pembimbing Utama sekaligus Ketua Peneliti PUPT dan Dr. Ir. Irfan H. Djunaidi, M.Sc., selaku Pembimbing Pendamping yang telah memberikan arahan, saran dan bimbingan dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi.

3. Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc., Dr. Herly Evanuarini, S.Pt., MP., dan Heni Setyo Prayogi, S.Pt., M.Asc., selaku Dosen Penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam ujian sarjana.

4. Prof. Dr. Sc.Agr.Ir. Suyadi, MS., selaku Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.

(14)

x

5. Dr. Ir. Sri Minarti, MP., sebagai Ketua Jurusan Ilmu Peternakan yang telah banyak membina kelancaran proses studi.

6. Dr. Agus Susilo, S.Pt, MP., selaku Ketua Program Studi Ilmu Peternakan yang telah banyak membina kelancaran proses studi.

7. Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc., dan Ir. Muharlien, MP., sebagai anggota peneliti PUPT yang telah memberikan kesempatan dan membantu proses penelitian.

8. Mas Reynaldy Hadi Ardyansyah, S.Pt., yang telah membantu selama proses penelitian ini dan skripsi.

9. Semua pihak yang telah membantu selama pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi.

Penulis menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam penulisan skripsi ini, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dan semua pihak yang membaca serta yang melaksanakan penelitian ini.

Malang, Februari 2018

Penulis

(15)

xi DAFTAR ISI

Isi Halaman

RIWAYAT HIDUP ... i

ABSTRACT ... ii

RINGKASAN ... iv

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR SINGKATAN DAN SIMBOL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB 1 PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 3

1.5 Kerangka Pikir... 4

1.6 Hipotesis ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Daun Cincau Hitam ... 11

2.2 Aditif Pakan ... 15

2.3 Ekstraksi ... 16

2.4 Enkapsulasi ... 17

2.5 Kebutuhan Zat Pakan Ayam Pedaging ... 18

2.6 Viskositas ... 19

2.7 Mikroflora ... 21

BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN ... 22

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23

3.2 Materi Penelitian ... 23

3.2.1 Ayam Pedaging ... 23

(16)

xii

3.2.2 Kandang dan Peralatan ... 23

3.2.3 Pakan dan Air Minum ... 24

3.2.4 Media Perhitungan ... 24

3.3 Metode Penelitian ... 24

3.4 Prosedur Penelitian ... 26

3.4.1 Tahap Pembuatan ... 26

3.4.1.1 Tepung Daun Cincau Hitam ... 26

3.4.1.2 Ekstrak Daun Cincau Hitam ... 26

3.4.1.3 Enkapsulasi ... 27

3.4.2 Persiapan Kandang ... 27

3.5 Variabel Penelitian ... 28

3.5.1 Viskositas ... 28

3.5.2 Mikroflora ... 28

3.6 Analisis Data ... 28

3.7 Batasan Istilah ... 29

BAB IV HASIL DAN EVALUASI KEGIATAN ... 31

4.1 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging ... 31

4.1.1 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas ... 31

4.1.2 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap BAL ... 33

(17)

xiii

4.1.3 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan

terhadap Escherichia coli... 35

4.2 Pengaruh Level Tersarang Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging ... 37

4.2.1 Pengaruh Level Tersarang Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas... 38

4.2.2 Pengaruh Level Tersarang Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap BAL ... 40

4.2.3 Pengaruh Level Tersarang Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap Escherichia coli ... 42

BAB V PENUTUP ... 45

5.1. Kesimpulan ... 45

5.2. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 47

LAMPIRAN ... 59

(18)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 1. Komposisi Kimia Daun Cincau Hitam ... 14 2. Kebutuhan Zat Makanan Ayam Pedaging ... 20 3. Jumlah Koloni Mikroflora Usus (Ileum) Ayam

Pedaging ... 21 4. Komposisi Dan Kandungan Pakan Periode Starter

dan Finisher ... 25 5. Data Rata-Rata Viskositas, Jumlah Koloni BAL Dan

Escherichia coli Pada Usus Halus Ayam Pedaging Berdasarkan Penggunaan Cincau Hitam (Mesona palustris BL) Bentuk Tepung Dan Enkapsulasi ... 31 6. Data Rata-Rata Viskositas, Jumlah Koloni BAL Dan

Escherichia coli Pada Usus Halus Ayam Pedaging Berdasarkan Level Penggunaan Cincau Hitam (Mesona palustris BL) Bentuk Tepung Dan Enkapsulasi . ... 37

(19)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 1. Kerangka Konsep Penelitian ... 8 2. Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL)... 11

(20)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Bobot Badan DOC Ayam Pedaging Yang Digunakan Dalam Penelitian... 59 2. Prosedur Perhitungan Mikroflora Usus Halus ... 67 3. Analisis Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap

Viskositas (cps) ... 70 4. Analisis Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap

BAL (log cfu/g) ... 72 5. Analisis Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap

Escherichia coli (log cfu/g) ... 75 6. Dokumentasi ... 78

(21)

xvii

DAFTAR SINGKATAN DAN SIMBOL

% : Persentase

°C : Derajat Celcius ANOVA : Analysis of Variance BAL : Bakteri Asam Laktat BHT : Butylated Hidroxy Toluene cfu : colony forming unit cm : sentimeter

cps : sentipoise

dkk. : dan kawan-kawan et al : et alii

g : gram

GE : Gross Energi

IC : Inhibitory Concentration Kkal : Kilo kalori

log : Logaritma

m : meter

ME : Metabolism Energi mg : miligram

ml : mililiter mm : milimeter

NSP : non starch polysaccharide

P : Phospor

pH : Potential of Hydrogen ppm : part per milion

RAL : Rancangan Acak Lengkap rpm : revolutions per minute s/d : sampai dengan

SK : Serat Kasar

SNI : Standar Nasional Indonesia

(22)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tingkat konsumsi daging ayam pedaging di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini ditunjukkan dengan data Badan Pusat Statistik (2016) pada tahun 2015 konsumsi daging ayam pedaging penduduk Indonesia adalah 4,797 kg/kapita dan pada tahun 2016 5,110 kg/kapita. Kondisi tersebut menunjukan bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap daging ayam pedaging terus mengalami peningkatan.

Populasi ternak ayam pedaging harus sesuai dengan permintaan masyarakat. Populasi ternak yang mencukupi kebutuhan masyarakat dapat diwujudkan dengan produktifitas ternak yang baik. Produktifitas ayam pedaging baik dapat dicapai dengan sistem peternakan intensif modern yang bercirikan pemakaian bibit unggul, pakan berkualitas, serta perkandangan yang memperhatikan aspek kenyamanan dan kesehatan ternak (Nuriyasa, 2003).

Pakan menjadi salah satu faktor penentu dalam pemeliharaan ayam pedaging supaya pertumbuhan berat badan yang diinginkan tercapai (Yemima, 2014). Pemberian pakan yang berkualitas kepada ternak ayam pedaging akan menghasilkan produktifitas yang baik dari ayam pedaging dan sebaliknya. Menurut Suherman (2000) pakan merupakan biaya yang memiliki kontribusi paling besar pada biaya produksi peternakan ayam pedaging bahkan bisa mencapai 60-80%. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pakan yang berkualitas juga harus diiringi dengan efesiensi pemberian pakan kepada ternak ayam pedaging. Salah satu solusi yang digunakan untuk

(23)

2

mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penggunaan aditif pakan.

Aditif pakan merupakan bahan yang digunakan sebagai tambahan pakan untuk meningkatkan nilai guna dari pakan yang dikonsumsi ternak (Rifqi, 2008). Aditif pakan dapat berupa antibiotik, probiotik, prebiotik, fitobiotik dan asam organik. Aditif pakan yang banyak digunakan oleh peternak adalah antibiotik, padahal penggunaan antibiotik pada pakan akan menyebabkan terdapatnya residu pada tubuh ternak yang tidak aman untuk kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Pemerintah melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mengeluarkan peraturan yang melarang penggunaan antibiotik sebagai pakan ternak yang dituangkan dalam undang-undang nomor 14 tahun 2017. Sehingga perlu adanya alternatif solusi pengganti antibiotik sebagai aditif pakan.

Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan sebagai solusi terhadap masalah diatas adalah mengganti penggunaan antibiotik dengan fitobiotik. Menurut Ulfah (2006) fitobiotik adalah tanaman herbal yang dapat dijadikan antibakteri dapat memperbaiki kondisi saluran pencernaan (keseimbangan pH dan mikroflora) dan konversi pakan, meningkatkan kecernaan zat-zat makanan. Fitobiotik yang dapat digunakan untuk menggantikan penggunaan antibiotik adalah tanaman cincau hitam (Mesona palustris BL). Daun cincau hitam mengandung senyawa bioaktif polifenol, oleanolic acid, ursolic acid dan ceffeic acid yang bersifat antioksidan, antikanker, antimutagenik, antihipertensi, antidiabetes dan imunomodulator (Sani dkk., 2014). Fitobiotik berupa produk cair mudah mengalami kerusakan sehingga diperlukan perlakuan untuk melindungi dari sensitifitas kerusakan. Salah

(24)

3

satu yang dapat dilakukan adalah dengan proses enkapsulasi.

Menurut Natsir, Widodo dan Muharlien (2015) enkapsulasi adalah proses melapisi satu atau lebih material untuk melindungi komponen pakan yang sensitif dan mengurangi degradasi pakan diusus halus. Prinsip enkapsulasi juga bertujuan untuk mengurangi kehilangan nutrisi, melindungi flavor, aroma dan pigmen, meningkatkan kelarutan, merubah bahan pakan bentuk cair ke bentuk padat atau tepung yang memudahkan dalam penanganan dan pemberian pakan. Daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai fitobiotik dalam pemanfaatannya dapat dilakukan dengan cara enkapsulasi atau dengan menjadikan bentuk tepung.

Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan penelitian tentang penggunaan aditif pakan berupa daun cincau hitam dalam bentuk tepung dan enkapsulasi untuk mendapatkan hasil terbaik dan maksimal sebagai aditif pakan ditinjau dari viskositas dan mikroflora usus halus pada ayam pedaging.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat ditentukan rumusan masalah yaitu :

1. Bagaimana pengaruh penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging.

2. Bagaimana pengaruh penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) dengan berbagai level penambahan dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging.

(25)

4 1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi.

2. Mengetahui pengaruh perbedaan level penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk tepung dan enkapsulasi terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi pengaruh penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai fitobiotik dalam bentuk tepung dan enkapsulasi terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging.

1.5 Kerangka Pikir

Produktifitas ayam pedaging yang berkualitas ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor tersebut adalah pakan. Pakan memiliki kontribusi biaya paling besar dalam produksi peternakan ayam pedaging yang bisa mencapai 60-80%. Pemberian pakan berkualitas juga harus diiringi dengan efesiensi pemberian pakan. Aditif pakan menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pakan sekaligus efesiensi pemberian pakan ayam pedaging. Feed additive dapat berupa antibiotik, fitobiotik, probiotik, prebiotik, enzim, dan hormon atau suplement pakan seperti mineral, asam amino, dan vitamin.

Pemberian

(26)

5

Feed additive selain untuk meningkatkan nilai guna pakan (dapat memacu proses metabolisme dalam tubuh ternak), merangsang kekebalan tubuh ternak dan dapat meningkatkan keseimbangan zat makanan (karbohidrat, protein, mineral dan vitamin) (Rifqi, 2008).

Penggunaan aditif pakan berupa antibiotik akan meninggalakan residu pada daging ayam yang tidak aman untuk kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Sehingga dibutuhkan aditif pakan yang tidak hanya baik untuk ayam pedaging tapi juga baik untuk manusia yang akan mengkonsumsinya. Feed additive yang baik digunakan adalah Fitobiotik dan Probiotik (Zuprizal, 2004). Fitobiotik adalah aditif pakan yang berasal dari tanaman herbal. Tujuan penggunaan fitobiotik adalah menstimulasi sistem saraf pusat selanjutnya menstimulasi kelenjar saliva dan sekresi cairan pencernaan dari lambung, hati, pankreas dan usus kecil (Ulfah, 2006).

Cincau hitam banyak digunakan sebagai obat herbal oleh masyarakat Indonesia. Ekstrak cincau hitam dapat berperan sebagai antimutagenik, hepatoprotektor, antioksidan dan antibakteri, imunomodulator. Cincau hitam memiliki kandungan senyawa bioaktif yang terkandung didalamnya seperti antioksidan, flavonoid, alkaloid, fenol, dan lain – lain (Wahyono, Fitriani dan Widyaningsih, 2015). Ekstrak air cincau hitam mengandung senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan dan hidrokoloid berupa komponen pembentuk gel atau gum.

(27)

6

Nilai IC50 ekstrak etanolik dan ekstrak air cincau hitam mempunyai nilai IC50 berturut – turut sebesar 49.92±1.86 ppm dan 66.67±2.54 ppm (Maslukhah, Widyaningsih, Waziiroh dan Wijayanti, 2016).

Enkapsulasi merupakan teknologi yang digunakan untuk melindungi komponen bahan aktif yang sensitif terhadap kerusakan karena oksidasi, mengurangi kehilangan nutrisi, mengurangi flavor, aroma, pigmen, meningkatkan kelarutan, merubah komponen bahan pakan bentuk cair ke bentuk padat atau tepung yang bersifat stabil dan free flowing, sehingga mudah untuk ditangani dan dimasukkan ke dalam pakan. Enkapsulasi dilakukan dengan menggunakan microwave oven dengan suhu 50ᵒC selama 15 menit dan diperlukan enkapsulen sebagai bahan untuk melindungi komponen senyawa aktif (Fahimdanesh, Mohammadi, Hamed, Mohammad, Fariba and Kasra, 2012).

Lavinia, Gabi, Drinceanu, Stef, Daniela, Julean, Ramano and Corcionivoaschi (2009) menyatakan bahwa senyawa flavonoid dan minyak atsiri dapat menyebabkan peningkatan mukosa villi, sehingga dapat menurunkan viskositas usus. Efek negatif jika viskositas isi usus meningkat adalah mengurangi efesiensi pencernaan dengan memperlambat laju difusi enzim endogenous untuk bereaksi dengan substrat dan nutrien serta menempatkan penyerapan dalam villi di dinding usus halus (Natsir dkk., 2016). Bakteri asam laktat (BAL) merupakan golongan mikroorganisme yang bermanfaat dengan sifat tidak toksik dan mampu menghasilkan senyawa yang dapat membunuh bakteri patogen (Simbolon, 2016).

(28)

7

BAL dapat menghambat bakteri patogen dengan penghambatan sebesar 15 mm diameter zona hambat.

Penggunaan acidifier dan fitobiotik secara nyata meningkatkan jumlah BAL dan menurunkan jumlah enterobacteriaceae di ileum dan cecum ayam pedaging (Saki, et al., 2012). Asam laktat akan memproduksi asam organik (asam laktat dan asetat) yang menyebabkan penurunan pH dan dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli (Zhang, et al., 2003). Bakteri usus memiliki peran penting terhadap kesehatan ternak melalui pengaruh pada morfologi saluran pencernaan, pathogenesis penyakit usus, penyerapan nutrisi dan imunitas. Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadap pengaruh daun cincau hitam dalam bentuk tepung dan enkapsulasi sebagai aditif pakan terhadap viskositas dan mikroflora BAL dan Escherichia coli Usus halus ayam pedaging. Konsep penelitian dan kerangka pikir dapat dilihat pada Gambar 1.

(29)

8

Gambar 1. Kerangka pikir penelitian Usus halus Daun cincau hitam (Mesona palustris BL).

Kandungan senyawa bioaktif yang terkandung didalamnya seperti antioksidan, flavonoid, alkaloid, fenol, dan lain – lain

(Wahyono dkk., 2015).

 Antioksidan alami

 Anti mikroba pathogen

 Kesehatan usus

 Peningkatan daya imun

 Penurunan kolesterol

 Pengganti antibiotik

Enkapsulan :

 Gum Arab

Sebagai emulsifier, viskositas rendah,melindungi dari oksidasi, mudah larut, tidak memiliki rasa dan warna, penyerapan dan evaporasi (Bertolini et al, 2001).

 Whey

Sebagai emulsifier dan pembentuk film, dapat

bersinergi dengan

maltodekstrin dan

menghasilkan emulsi yang lebih baikterhadap bahan inti.

Enkapsulasi Tepung

Level penggunaan feed additive (0%, 0,5%, 1,0%, 1,5%)

Viskositas Mikroflora

Escherichia coli BAL

(30)

9 1.6 Hipotesis

1. Penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) dalam bentuk enkapsulasi sebagai aditif pakan memberikan hasil lebih baik daripada bentuk tepung pada viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging

2. Semakin meningkatnya level pemberian daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai aditif pakan memberikan hasil lebih baik terhadap viskositas dan mikroflora usus halus ayam pedaging.

(31)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Daun Cincau Hitam

Rahmawansah, (2006) Klasifikasi tanaman cincau hitam adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Sub-kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan

berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (Berkeping dua) Sub kelas : Asteridae

Ordo : Lamiales Famili : Lamiaceae Genus : Mesona

Spesies : Mesona palustris BL.

Gambar 2. Daun cincau hitam Sumber: www.bibitbunga.com

(32)

12

Tanaman cincau hitam atau yang sering disebut dengan nama jenggelan merupakan salah satu dari jenis tanaman cincau yang dibudayakan oleh masyarakat indonesia untuk dimanfaatkan. Tanaman cincau hitam dalam pemanfaatannya oleh masyarakat digunakan sebagai obat herbal untuk menyembuhkan penyakit. Secara umum tanaman cincau hitam hidup pada dataran tinggi dan menengah.

Wahyono dkk., (2015) melaporkan bahwa tanaman cincau hitam merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 30-60 cm dan tumbuh pada ketinggian 150-1800m diatas permukaan laut. Batangnya beruas, berbulu halus dengan bentuk menyerupai segiempat, kebanyakan cabang pada bagian dasarnya, dan berwarna agak kemerahan. Daunnya berwarna hijau, lonjong, tipis lemas, ujungnya runcing, pangkal tepi daun bergerigi, dan memiliki bulu halus dengan panjang sekitar 10 cm Ciri-ciri tanaman ini adalah berbatang kecil dan ramping, pada ujung batang tumbuh batang-batang kecil, ada yang tumbuh menjalar ke tanah dan ada pula yang tegak.

Tanaman ini memiliki bentuk daun yang lonjong dan berujung runcing. Bentuk bunganya mirip dengan kembang kemangi berwarna merah muda atau putih keunguan. Berasal dari daun dan batang inilah yang kemudian menghasilkan gelatin hijau kehitaman. Bagian tanaman cincau hitam yang mempunyai kegunaan adalah bagian daun dan bagian batangnya yang dapat menghasilkan ekstrak gel cincau yang lebih banyak (Tasia dan Tri, 2014).

Tanaman cincau ini merupakan tanaman yang memiliki komponen pembentuk gel, sehingga dapat tergolong ke dalam tanaman penghasil hidrokoloid. Memperoleh komponen pembentuk gel dari tanaman cincau dilakukan melalui ekstraksi dalam waktu tertentu. Ekstraksi dilakukan

(33)

13

menggunakan bahan baku tanaman cincau hitam yang telah dikeringkan. Komponen pembentuk gel dari tanaman cincau hitam ini jika berdiri sendiri tidak mampu menghasilkan gel yang kokoh. Akan tetapi apabila komponen pembentuk gel cincau dicampurkan dengan pati maka akan dihasilkan gel yang kokoh (Rahmawansah, 2006).

Tanaman cincau hitam memiliki senyawa bioaktif antara lain flavonoid, polifenol, glikosida saponin, terpenoid, dan steroid. Senyawa fenol yang terdapat pada cincau hitam berkontribusi pada aktivitas antioksidan dan efek scavenging pada radikal bebas Senyawa bioaktif pada cincau hitam dapat bersifat sebagai imunomodulator karena mampu meningkatkan proliferasi sel limfosit. Cincau hitam sangat potensial digunakan sebagai bahan baku pembuatan minuman yang dapat menurunkan tekanan darah tinggi atau antihipertensi.

Dikarenakan kandungan bioaktif salah satunya fenol yang dalam sebuah penelitian baru-baru ini mengandung 217.80μg/ml (Sani dkk., 2014).

Menurut Hung and Yen (2002), aktivitas yang dimiliki oleh cincau hitam dikarenakan adanya senyawa fenol seperti protocatheic acid, p-hydroxy benzoic acid, vanilic acid, caffeic acid dan syringic acid. Aktivitas terbanyak disebabkan oleh adanya caffeic acid. Aktivitas antioksidan dari cincau hitam pada konsentrasi 50mg/ml (98,9%) lebih kuat dibandingkan 50mg/ml α-tocopherol (78%). Aktivitas antioksidan dari cincau hitam ini akan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi gum. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak cincau hitam menunjukkan yield dan aktivitas oksidan paling tinggi (Tasia dan Tri, 2014).

(34)

14

Menurut Nurdin et al. (2005) cincau dapat diekstrak kadar serat dan pektin nya dengan menggunakan larutan asam sitrat 0,3%. Dewanti dkk. (2012) menyatakan bahwa cincau hitam yang diekstrak dengan air yang diberikan pada mencit dapat meningkatkan kadar immunomodulator dan meningkatkan ekspresi imun. Ekstrak cincau hitam yang diberikan pada mencit juga dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan dapat memproteksi hati (Widyaningsih dan Adilaras, 2013). Berikut adalah kandungan kimia daun cincau hitam tiap 100 gr bahan dapat dilihat pada Tabel 1:

Tabel 1. Komposisi Kimia Daun Cincau Hitam

Komposisi Kimia Jumlah dalam tiap 100 g

Kalori 122 kal

Protein 6 g

Lemak 1 g

Karbohidrat 26 g

Kalsium 0,1 g

Fosfor 0,1 g

Besi 0,0033 g

Vitamin A 10,75 SI

Vitamin B1 0,08 g

Vitamin C 0,017 g

Air 66.0 g

Bahan yng dapat dicerna (b.d.d) %

40 Sumber : Tasia dan Tri (2014).

(35)

15 2.2 Aditif Pakan

Aditif pakan adalah bahan tambahan pakan yang dicampur kedalam pakan. Aditif pakan dapat mempengaruhi kesehatan maupun zat makanan ternak. Tujuan pemberiannya yaitu untuk memacu pertumbuhan atau meningkatkan efesiensi produksi (Adams and Mess, 2000). Menurut Zuprizal (2004) aditif pakan adalah bahan yang tidak mengandung nutrient dan sengaja ditambahkan dalam pakan ternak (pakan jadi) dalam jumlah sedikit dengan tujuan untuk mendapatkan penampilan ternak yang lebih baik. Pemberian Feed additive selain untuk meningkatkan nilai guna pakan (dapat memacu proses metabolisme dalam tubuh ternak), merangsang kekebalan tubuh ternak dan dapat meningkatkan keseimbangan zat makanan (karbohidrat, protein, mineral dan vitamin) (Rifqi, 2008).

Aditif pakan dapat berupa antibiotik, probiotik, prebiotik, fitobiotik dan asam organik. Aditif pakan yang banyak digunakan oleh peternak adalah antibiotik. Antibiotik yang digunakan sebagai aditif pakan tidak hanya digunakan sebagai pengobatan namun juga dapat meningkatkan laju pertumbuhan ayam pedaging (Rusdi dan Harlia, 2004).

Penggunaan antibiotik pada dosis tertentu pada ternak sebagai aditif pakan dapat meningkatkan efesiensi penggunaaan pakan (Bintang dkk., 2008). Fakta lain menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik pada pakan akan menyebabkan terdapatnya residu pada tubuh ternak yang tidak aman untuk kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Swastike (2012) menambahkan bahwa penggunaan antibiotik untuk ayam pedaging dapat menimbulkan residu pada hasil akhir produk ternak tersebut, karena antibiotik tidak dapat disekresikan secara total dan menyebabkan residu dalam daging.

(36)

16

Feed additive yang baik digunakan adalah Fitobiotik dan Probiotik (Zuprizal, 2004). Fitobiotik adalah aditif pakan yang berasal dari tanaman herbal. Secara umum mekanisme kerja senyawa aktif tanaman herbal didalam tubuh ternak berperan dalam mempengaruhi kondisi pencernaan, metabolisme dan kekebalan tubuh. Tujuan penggunaan fitobiotik adalah menstimulasi sistem saraf pusat selanjutnya menstimulasi kelenjar saliva dan sekresi cairan pencernaan dari lambung, hati, pankreas dan usus kecil (Ulfah, 2006).

Fitobiotik dapat memacu pertumbuhan ayam pedaging dengan sistem ternak organik. Tanaman herbal dapat digunakan dan aman karena tidak meninggalkan residu (racun) (Destiawan dkk., 2015).

2.3 Ekstraksi

Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan bahan (Berk, 2009). Terdapat proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Menurut Rahayu (2009), ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut lain. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman.

Metode ekstraksi yang umum digunakan adalah metode maserasi. Hal ini dikarenakan prosedur dan peralatannya sederhana. Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri (Agoes, 2007). Proses dari metode maserasi adalah dengan cara memasukkan serbuk

(37)

17

tanaman dan pelarut ke dalam inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang.

Selain itu beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar. Metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang bersifat termolabil (Mukhriani, 2014). Simanjuntak (2008) melaporkan bahwa pada metode ini diperlukan pelarut yang banyak dan waktu yang cukup lama untuk dapat mengekstraksi bahan baku.

2.4 Enkapsulasi

Enkapsulasi merupakan teknologi untuk memproteksi komponen senyawa aktif yang sensitif terhadap kerusakan yang diakibatkan karena adanya proses oksidasi. Enkapsulasi juga dapat meminimalkan kehilangan nutrisi, melindungi flavor, aroma dan pigmen, meningkatkan kelarutan, merubah bahan pakan bentuk cair ke bentuk padat atau tepung yang memudahkan dalam penangan dan pemberian pakan. Menurut Natsir dkk. (2015) enkapsulasi adalah proses melapisi satu atau lebih material untuk melindungi komponen pakan yang sensitif dan mengurangi degradasi pakan diusus halus.

Metode yang banyak dilakukan dalam proses enkapsulasi adalah spray drying atau extrution (Reineccius, 1991). Metode lain yang dapat dilakukan antara lain coacervation, molecular indusion, via beta cyclodextrin, fat encapsulation dan crocrystallization. Setiap proses pada enkapsulasi tersebut memberikan hasil yang berbeda-beda pada produk akhirnya. Pemilihan teknik enkapsulasi disesuaikan pada pemnfaatan produk enkapsulasi tersebut dan kondisi proses yang diinginkan (Bhandari and D’Arcy, 1996).

(38)

18

Enkapsulasi dilakukan dengan menggunakan microwave oven dengan suhu 50ᵒC selama 15 menit dan diperlukan enkapsulen sebagai bahan untuk melindungi komponen senyawa aktif (Fahimdanesh, et al., 2012). Bahan yang digunakan sebagai material untuk melapisi disebut dengan enkapsulan.

Bahan enkapsulan adalah bahan yang digunakan bahan yang digunakan untuk menyalut inti dengan tujuan tertentu. Bahan enkapsulan harus mampu memberikan suatu lapisan tipis yang kohesif dengan bahan inti dan mempunyai sifatyang sesuai dengan tujuan enkapsulan (Shu, 2006). Gum Arab dapat diaplikasikan sebagai binding agent bahan pangan maupun obat. Gum Arab sebagai enkapsulan dapat mempertahan flavor dari makanan yang dikeringkan dengan metode spray drying karena gum ini dapat membentuk lapisan yang dapat melindungi dari oksidasi, penyerapan dan evaporasi (Bertolini, et al., 2001). Gum Arab bersifat sebagai emulsifier sehingga bahan yang telah diproses dengan penambahan Gum Arab akan mudah dilarutkan dalam air maupun minyak (Desmawarni, 2007).

Protein whey merupakan emulsifier dan sering digunakan sebagai enkapsulan. Menurut Nasrullah (2010) whey menyusun 14-24% dari total protein susu skim. Protein whey juga banyak digunakan sebagai bahan pengkapsul.

Protein whey telah berhasil digunakan sebagai sistem dinding untuk mengenkapsulasi lemak susu anhidrat dengan spray dryer dan dengan rendemen lebih dari 90%. Protein whey berfungsi sebagai pengemulsi dan agen pembentuk film.

2.5 Kebutuhan zat pakan ayam pedaging

Ayam pedaging merupakan jenis ayam ras unggulan hasil persilangan antara bangsa-bangsa ayam yang memiliki

(39)

19

produktivitas tinggi terutama dalam memproduksi daging.

Keunggulan jenis ayam ini yaitu hanya dalam waktu lima sampai enam minggu pemeliharaan ayam sudah dapat dipanen, dengan bobot badan rata-rata 1,3-1,6kg. Pakan untuk ayam pedaging merupakan unsur penting sebagai penunjang kesehatan, pertumbuhan dan suplai energi sehingga proses metabolisme dapat berjalan dengan baik.

Menurut Winedar dkk. (2006) kandungan energi dan protein pada pakan harus seimbang agar produksi yang dihasilkan dapat maksimal. Kebutuhan seperti vitamin dan mineral juga harus diperhatikan. Kesesuain secara kulitas dan kuantitas sangat diperlukan untuk menunjang produktifitas yang maksimal pada ayam pedaging.

Pemberian pakan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan ayam pedaging.

Menurut Ketaren (2010) Kebutuhan zat makanan pada unggas dipengaruhi oleh jenis unggas, bangsa, umur, fase, produksi dan jenis kelaminnya. Secara umum kebutuhan zat pakan ayam pedaging dapat dikelompokkan menjadi 2 fase yaitu starter dan finisher. Kebutuhan zat pakan ayam pedaging sesuai SNI 2006 dapat dilihat pada tabel 2.

2.6 Viskositas

Viskositas merupakan kekentalan mukosa usus dalam melakukan pencernaan. Salah satu indikasi pencernaan pakan yang baik dalam saluran pencernaan unggas adalah dengan mengamati karakteristik usus yaitu viskositas usus dan aktivitas enzim proteolitik serta berat organ dalam yaitu berat empedu, pankreas, dan hati. Menurut Fitasari (2009) semakin rendah viskositas usus dan semakin tinggi aktivitas enzim proteolitik berkorelasi dengan berat badan ayam pedaging

(40)

20

yang semakin besar. Hal ini menunjukkan bahwa pakan dapat dicerna dengan baik ketika berada di dalam usus halus. Jumlah bakteri yang tidak seimbang di usus dapat menyebabkan peningkatan viskositas usus (Bird, 1993).

Viskositas merupakan daya perlawanan untuk mengalir dari suatu sistem yang disebabkan oleh adanya geseran. Makin besar daya perlawanan atau geseran tersebut maka sistem semakin kental. Kekentalan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, berat, molekul larutan, konsentrasi larutran, dan bahan larutan yang ada (Fennema, 1996). Efek negatif jika viskositas isi usus meningkat adalah mengurangi efesiensi pencernaan dengan memperlambat laju difusi enzim endogenous untuk bereaksi dengan substrat dan nutrien serta menempatkan penyerapan dalam villi di dinding usus halus (Natsir dkk., 2016). Lavinia, et al. (2009) menyatakan bahwa senyawa flavonoid dan minyak atsiri dapat menyebabkan peningkatan mukosa villi sehingga dapat menurunkan viskositas usus.

Tabel 2. Kebutuhan zat makanan ayam pedaging

Zat Makanan Starter Finisher

Kadar air (%) Protein (%)

Energi (Kkal EM/kg) Lisin (%)

Metionin (%)

Metionin + sistin (%) Ca (%)

P tersedia (%)

P total (perkiraan, %)

Maks. 14,0 Min. 19,0 Min. 2900 Min. 1,10 Min. 0,40 Min. 0,60 0,90 – 1,20

Min. 0,40 0,60 – 1,00

Maks. 14,0 Min. 18,0 Min. 2900 Min. 0,90 Min. 0,30 Min. 0,50 0,90 – 1,20

Min. 0,40 0,60 – 1,00 Sumber : SNI (2008)

(41)

21 2.7 Mikroflora

Saluran pencernaan ternak unggas merupakan tempat hidup berbagai mikroflora yang segera terbentuk setelah ayam menetas (Lu, et al., 2003). Terbentuknya mikroflora yang seimbang dan mantap di saluran digesti ayam, berpengaruh positif dan sangat ber manfaat terhadap inang serta menjamin tercapainya kesehatan ayam yang prima (Huang dkk., 2004).

Mikroflora merupakan mikroorganisme yang hidup pada saluran pencernaan ayam pedaging yang terdiri dari mikroorganisme patogen (Eschericia coli dan Salmonella sp.) dan non patogen (Bakteri Asam Laktat). Menurut Widodo dkk. (2015) fungsi saluran pencernaan sangat mudah terganggu oleh keberadaan bakteri patogen dalam saluran pencernaan. Bakteri patogen dapat ditekan dengan mempertahankan keberadaan dan jumlah bakteri asam laktat.

Jumlah koloni mikroflora usus (ileum) menurut Putra dkk.

(2013) dapat dilihat di Tabel 3 :

Tabel 3. Jumlah koloni mikroflora usus (ileum) ayam pedaging

No Mikroflora Jumlah

Koloni (log cfu/ml) 1

2 3

Bakteri Asam Laktat (BAL) Escherichia coli

Salmonella sp.

5,83 3,40 3,61 Sumber : Putra dkk. (2013)

Bakteri asam laktat (BAL) adalah kelompok bakteri gram positif berbentuk kokus atau batang, tidak membentuk spora, suhu optimum +400 ᵒC, pada umumnya bersifat anaerob, katalase negatif dan oksidase positif, dengan asam

(42)

22

laktat sebagai produk utama fermentasi karbohidrat (Hardiningsih dan Nurhidayat, 2006). BAL merupakan bakteri anaerob fakultatif yang mampu hidup pada berbagai habitat yang cukup luas di alam seperti pada tanaman, saluran pencernaan hewan dan manusia, pada produk makan kalengan, produk susu, produk fermentasi, buah-buahan dan sayur- sayuran tropis (Misgiyarta dan Widowati, 2003). Peningkatan jumlah BAL dapat menurunkan pH, asam laktat dalam saluran pencernaan akan terjadi ionisasi dengan melepaskan hydrogen dan membuat pH menjadi asam (Cahyaningsih, 2013).

Escherichia coli adalah jenis bakteri yang merupakan bagian dari mikroflora yang secara normal ada dalam saluran pencernaan manusia dan hewan berdarah panas. Escherichia coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa zat organik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya (Engelkrik, 2007). Menurut Jamin (2015) Escherichia coli adalah jenis bakteri yang secara normal hidup didalam saluran pencernaan baik manusia maupun hewan yang sehat. Infeksi Escherichia coli pada peternakan unggas dapat menyebabkan penyakit kolabasilis yang dapat menyebabkan kematian pada ayam. Bakteri Escherichia coli menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan meningkatkan atau berada diluar usus (Brooks, et al., 2004).

(43)

23 BAB III

MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus s/d 4 Oktober 2017 di Laboratorium Lapang Sumbersekar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang untuk pemeliharaan ayam pedaging periode starter dan finisher. Laboratorium Nutrisi Makanan Ternak untuk proses ekstraksi dan enkapsulasi aditif pakan serta pengukuran viskositas. dan Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya untuk perhitungan mikroflora.

3.2 Materi Penelitian 3.2.1 Ayam Pedaging

Penelitian ini menggunakan Day Old Chick (DOC) ayam pedaging strain Lohman MB-202 Platinum sebanyak 192 ekor dan dipelihara selama 35 hari. Rata- rata bobot badan awal 37,4±2,87g/ekor dan koefisien keragaman 7,67%. Data bobot badan awal dan koefisien keragaman dapat dilihat pada Lampiran 1.

3.2.2 Kandang dan Peralatan

Sitem perkandangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem litter yang telah diberi sekat menjadi 24 petak yang masing-masing diisi 8 ekor ayam pedaging.

Ukuran masing-masing petak yaitu (100 x 100 x 70 cm).

Setiap petaknya dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Kandang juga dilengkapi dengan lampu penerangan, pemanas dan timbangan digital kapasitas 5 kg.

(44)

24 3.2.3 Pakan dan air minum

Pakan yang digunakan pada penelitian adalah pakan yang telah dicampur sendiri. Fitobiotik yang digunakan dalam pakan adalah daun cincau hitam dalam bnetuk tepung dan enkapsulasi. Pemberian pakan perlakuan dimulai sejak DOC. Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum. Komposisi dan kandungan pakan yang digunakan pada periode starter dan finisher ditunjukkan pada Tabel 4.

3.2.4 Media perhitungan BAL

Pembuatan media yang digunakan pada perhitungan mikroflora usus halus adalah Mann Raroga Sharpe (MRS) dan Violet Red Bile Agar (VRBA). MRS digunakan untuk uji BAL dan VRBA digunakan untuk uji pada Escherichia coli.

3.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan metode in vivo dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola tersarang yang terdiri dari dua faktor, yaitu faktor bentuk daun cincau yang terdiri dari tepung daun cincau hitam (B1) dan ekstrak daun cincau hitam enkapsulasi (B2). F aktor lainnya adalah level penggunaan yang terdiri dari 0% (L0), 0,5% (L1), 1,0%

(L2) dan 1,5% (L3). Ulangan sebanyak 3 kali dengan 8 ekor ayam pedaging pada setiap ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut :

B1L0 : Pakan basal + Tepung daun cincau hitam 0%

B1L1 : Pakan basal + Tepung daun cincau hitam 0,5%

(45)

25

B1L2 : Pakan basal + Tepung daun cincau hitam 1,0%

B1L3 : Pakan basal + Tepung daun cincau hitam 1,5%

B2L0 : Pakan basal + Ekstrak daun cincau hitam enkapsulasi 0%

B2L1 : Pakan basal + Ekstrak daun cincau hitam enkapsulasi 0,5%

B2L2 : Pakan basal + Ekstrak daun cincau hitam enkapsulasi 1,0%

B2L3 : Pakan basal + Ekstrak daun cincau hitam enkapsulasi 1,5%

Tabel 4. Komposisi dan kandungan pakan basal periode starter dan finiher

Bahan pakan Starter (%) Finisher (%)

Jagung 55,16 55,73

Bungkil kedelai 23,34 17,27

Bekatul - 5

Tepung ikan 10 10

Meat and bone meal 5 5

Bungkil kelapa 3 3

Premix 0,93 0,44

Garam 0,25 0,15

DL-metionin 0,25 0,1

Minyak kelapa 2,07 3,31

Jumlah 100 100

(46)

26

Kandungan pakan* Starter Finisher

Bahan kering (%) 89,92 91,03

ME (kkal/kg)** 3061,39 3127,63

Protein kasar (%) 23,16 20,84

Serat kasar (%) 3,10 3,88

Lemak kasar(%) 6,57 7,28

Abu (%) 6,92 6,86

Keterangan : * Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan

Universitas Brawijaya.

**ME hasil perhitungan analisis Laboratorium 70 % GE (Patrick and Schaible, 1980)

3.4 Prosedur Penelitian 3.4.1 Tahap Pembuatan

3.4.1.1 Tepung daun cincau hitam

a. Daun cincau hitam yang dilayukan tanpa terkena sinar matahari secara langsung.

b. Daun cincau hitam yang telah dilayukan dipotong kecil-kecil.

c. Dihaluskan dengan menggunakan blender.

d. Tepung daun cincau hitam siap digunakan.

3.4.1.2 Ekstrak daun cincau hitam

a. Daun cincau hitam yang dilayukan tanpa terkena sinar matahari secara langsung.

b. Daun cincau hitam yang telah dilayukan dipotong kecil-kecil.

(47)

27

c. Dihaluskan dengan menggunakan blender.

d. Diekstrak dengan cara maserasi dan destilasi uap.

e. Proses ekstraksi melalui cara maserasi menggunakan perbandingan daun cincau hitam dan air (1:6) selama 24 jam.

f. Dilakukan penguapan air dengan cara destilasi menggunakan microwave oven yang telah dimodifikasi.

g. Ekstrak siap digunakan.

3.4.1.3 Enkapsulasi

a. Ditambahkan 25% bahan enkapsulan (Gum Arab dan whey) perbandingan (4:1) dan 0,06% BHT (Butylated Hydroxy Toluene).

b. Dilakukan pengadukan dengan mixer selama 15 menit.

c. Dimasukkan ke microwave oven hasil dari pengadukan dengan suhu maksimal 55°C selama 20 menit.

d. Ekstrak daun cincau hitam enkapsulasi siap digunakan.

3.4.2 Persiapan Kandang

Persiapan kandang yang dilakukan sebelum proses chick in DOC adalah sebagai berikut : a. Pembersihan kandang

b. Penaburan gamping c. Penutupan jendela kandang

d. Pembersihan tempat pakan dan minum e. Pengaturan lampu kandang

f. Pemberian sekat antar petak

g. Pengaturan gasolek untuk brooding

(48)

28

h. Pemberian sekam sebagai alas i. Peletakan kertas koran diatas sekam

Setelah proses persiapan kandang selesai maka selanjutnya adalah pemeliharaan ayam pedaging. Pemeliharaan ayam pedaging dimulai dengan chick in DOC hingga pemanenan umur 35 hari. Pada masa brooding 192 ekor ayam pedaging dipelihara dalam kandang yang telah diberi sekat dan dilengkapi dengan pemanas.

3.5 Variabel Penelitian 3.5.1 Viskositas

Viskositas usus halus ayam pedaging diukur dengan mengeluarkan digesta pada bagian ileum ayam pedaging, kemudian diencerkan 1 g digesta dengan aquadest hingga volume 10 ml. Larutan tersebut disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5- 10 menit. Cairan supernatan hasil sentrifugasi diambil untuk pengukuran viskositas menggunakan viskometer (Piel, et al., 2005).

3.5.2 Mikroflora

Pengukuran mikroflora pada usus halus ayam pedaging dengan mengamati jumlah bakteri, yaitu : a. Jumlah Bakteri Asam Laktat (BAL)

b. Jumlah Bakteri Escherichia coli

Penghitungan koloni dilakukan dengan menggunakan metode Total Plate Count (Yudistira, 2015).

(49)

29 3.6 Analisis Data

Data yang didapatkan selama penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dari Rancangan Acak Lengkap pola tersarang. Apabila diperoleh hasil yang berbeda atau signifikan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Model Matematik untuk Rancangan Acak Lengkap pola tersarang adalah :

Yijk = µ + Ai + Bj(i) + €ijk Keterangan :

Yijk : Pengamatan Faktor A taraf ke-i , Faktor B taraf ke-j dan ulangan ke-k

μ : Rataan Umum

Ai : Pengaruh Faktor A pada taraf ke-i

Bj(i) : Pengaruh Faktor B pada taraf ke-j pada Ai

Єijk : Pengaruh galat Faktor A taraf ke-i, Faktor B taraf ke-j dan Ulangan ke-k

i : 1, 2 j : 1,2,3,4 k : 1.2.3 3.7 Batasan Istilah

Ayam pedaging : Ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat 5-6 minggu.

DOC (day old chick) : Ayam umur 1 hari.

Enkapsulasi : Proses penambahan bahan enkapsulan ke dalam ekstrak daun cincau hitam. Arti lainnya yaitu suatu cara yang

(50)

30

dilakukan untuk melindungi bahan dari pengaruh kerusakan akibat proses pemanasan.

Enkapsulan : Bahan yang digunakan sebagai penyalut bahan inti dalam hal ini berupa Gum Arab dan whey.

Fitobiotik : Tanaman yang mengandung zat aktif yang diperoleh dari daun cincau hitam.

Maserasi : Proses ekstraksi simplisia

paling sederhana

menggunakan pelarut yang cocok dengan beberapa kali pengadukan pada temperature ruangan.

Mikroflora : Biota renik yang tidak dapat dilihat secara langsung, dalam pengamatannya menggunakan alat bantu.

Timbang sisa pakan

(51)

48 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) Dalam Bentuk Tepung dan Enkapsulasi Sebagai Aditif Pakan Terhadap Viskositas dan Mikroflora Usus Halus Ayam Pedaging.

Hasil pengamatan usus halus ayam pedaging meliputi viskositas, jumlah koloni BAL dan Escherichia coli dalam bentuk tepung (B1) dan enkapsulasi (B2) dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Nilai viskositas, jumlah koloni BAL dan Escherichia coli usus halus ayam pedaging berdasarkan penggunaan cincau hitram (Mesona palustris BL) bentuk tepung dan enkapsulasi.

Perlakuan Viskositas (cps)

Hasil transformasi logaritma BAL Escherichia

coli (log cfu/g) B1

B2

5,52±0,36 5,71±0,58

8,03±0,32 8,17±0,40

4,30±0,15b 3,84±0,36a Keterangan : Superskrip (a-b) pada kolom yang sama

menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05).

4.1.1 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) Dalam Bentuk Tepung dan Enkapsulasi Sebagai Aditif Pakan Terhadap Viskositas Digesta

Tabel 5 menunjukkan hasil dari rata-rata viskositas digesta ayam pedaging berdasarkan bentuk penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai aditif pakan.

(52)

49

Berdasarkan hasil dari analisis statistik pada Lampiran 3, perlakuan penggunaan cincau hitam sebagai aditif pakan dalam bentuk tepung dan enkapsulasi menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) terhadap viskositas usus halus ayam pedaging. Hal ini dikarenakan waktu perlakuan pemberian pakan pada unggas dalam penelitian ini kurang lama sehingga perubahan belum terlihat. Penelitian sebelumnya oleh Wiryawan dkk. (2012) dengan perlakuan pemberian probiotik (EM-4) sampai hari ke-42 menunjukkan hasil yang terlihat dari peningkatan bobot badan ayam pedaging sebanyak 18%

jika dibandingkan dengan pakan kontrol.

Penggunaan daun cincau hitam sebagai aditif pakan bentuk tepung diperoleh hasil sebesar 5,52±0,36 dan pada bentuk enkapsulasi menunjukkan hasil sebesar 5,71±0,58.

Secara rata-rata perhitungan untuk perlakuan penggunaan aditif pakan daun cincau hitam dalam bentuk tepung (B1) terhadap viskositas menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan perlakuan penggunaan aditif pakan cincau hitam hitam bentuk enkapsulasi (B2) terhadap viskositas.

Perbandingan antara rata-rata aditif pakan dalam bentuk tepung (B1) dengan enkapsulasi (B2) tidak memiliki perbedaan yang signifikan sehingga sesuai dengan analisis ragam yang menunjukkan perlakuan tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap perbedaan bentuk aditif pakan tersebut.

Rata-rata aditif pakan enkapsulasi (B2) terhadap viskositas yang sedikit lebih tinggi mungkin dikarenakan adanya penambahan bahan yaitu Gum Arab dan whey pada aditif pakan cincau hitam dalam bentuk enkapsulasi (B2).

Hasil tersebut didukung dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa Gum Arab sebagai enkapsulan dapat membentuk lapisan yang dapat melindungi dari oksidasi,

(53)

50

penyerapan dan evaporasi (Bertolini, et al., 2001) sehingga dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan keselarasan hasil karena rata-rata aditif pakan dengan bentuk enkapsulan yang mengandung Gum Arab lebih tinggi dibandingkan bentuk aditif tepung yang tidak mengandung Gum Arab. Adapun protein whey sebagai enkapsulan dalam bentuk enkapsulasi telah berhasil digunakan sebagai sistem dinding untuk mengenkapsulasi lemak susu anhidrat (Nasrullah, 2010).

Viskositas merupakan kekentalan mukosa usus dalam melakukan pencernaan. Efek negatif jika viskositas usus halus meningkat adalah mengurangi efesiensi pencernaan dengan memperlambat laju difusi enzim endogenous untuk bereaksi dengan substrat dan nutrien serta menempatkan penyerapan dalam villi di dinding usus halus (Natsir dkk., 2016). Hasil rata-rata viskositas pada perlakuan penggunaan cincau hitam sebagai aditif pakan dalam bentuk enkapsulasi dibandingkan dengan bentuk tepung menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan sehingga tidak terdapat adanya perbedaan yang nyata.

4.1.2 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) Dalam Bentuk Tepung dan Enkapsulasi Sebagai Aditif Pakan Terhadap BAL

Tabel 5 menunjukkan hasil dari rata-rata jumlah koloni BAL usus halus ayam pedaging berdasarkan bentuk penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai aditif pakan. Berdasarkan hasil dari analisis statistik pada Lampiran 4, perlakuan penggunaan cincau hitam sebagai aditif pakan dalam bentuk tepung dan enkapsulasi menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) terhadap Jumlah koloni

(54)

51

BAL usus halus ayam pedaging. Hal ini dikarenakan pemberian pakan dengan kandungan yang sama pada pada setiap pemberiannya. Hal ini diperkuat oleh Ara, et al. (2002) dalam penelitiannya melaporkan bahwa pemberian jumlah protein yang sama tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah BAL. Kandungan pakan merupakan faktor pertumbuhan BAL dalam saluran pencernaan ayam pedaging.

Penggunaan daun cincau hitam sebagai aditif pakan bentuk tepung diperoleh hasil sebesar 8,03±0,32 dan pada bentuk enkapsulasi menunjukkan hasil sebesar 8,17±0,40.

Secara rata-rata perhitungan untuk perlakuan penggunaan aditif pakan daun cincau hitam dalam bentuk tepung (B1) terhadap jumlah koloni BAL menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan perlakuan penggunaan aditif pakan cincau hitam hitam bentuk enkapsulasi (B2) terhadap jumlah koloni BAL.

Peningkatan Jumlah BAL sejatinya menguntungkan karena fungsi saluran pencernaan sangat mudah terganggu oleh keberadaan bakteri patogen dalam saluran pencernaan, adapun bakteri patogen dapat ditekan dengan memperthankan keberadaan dan jumlah bakteri asam laktat (Widodo dkk., 2015). Bakteri asam laktat (BAL) umumnya dapat bekerja lebih baik dalam usus sebagai saluran pencernaan yang berfungsi dalam menyerap nutrien pakan. Peningkatan Jumlah koloni BAL pada aditif pakan cincau hitam dalam bentuk enkapsulasi dikarenakan adanya kandungan antioksidan yang terdapat dalam enkapsulan. Menurut Bertolini, et al. (2001) penggunaan Gum Arab sebagai enkapsulan dikarenakan kemampuan Gum Arab menghasilkan lapisan yang mampu melindungi pakan dari oksidasi, penyerapan serta evaporasi.

Fahimdanesh, et al. (2012) dalam penelitiannya melaporkan

(55)

52

bahwa enkapsulasi merupakan penerapan teknologi yang digunakan untuk memproteksi komponen senyawa aktif yang sensisitif terhadap kerusakan karena oksidasi.

Berdasarkan hasil rata-rata jumlah koloni BAL pada penggunaan cincau hitam sebagai aditif pakan dalam bentuk yang berbeda menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dan sesuai dengan hasil dari analisis ragam yang menyatakan bahwa penggunaan aditif pakan dalam bentuk tepung dan enkapsulasi tidak memberikan perbedaan yang nyata. Adapun numerik rara-rata membuktikan enkapsulasi dapat menghasilkan kondisi yang lebih baik.

4.1.3 Pengaruh Penggunaan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris BL) Dalam Bentuk Tepung dan Enkapsulasi Sebagai Aditif Pakan Terhadap Escherichia coli

Tabel 5 menunjukkan hasil dari rata-rata jumlah koloni Escherichia coli usus halus ayam pedaging berdasarkan bentuk penggunaan daun cincau hitam (Mesona palustris BL) sebagai aditif pakan. Berdasarkan hasil dari analisis statistik pada Lampiran 5, perlakuan penggunaan cincau hitam sebagai aditif pakan dalam bentuk tepung dan enkapsulasi menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap Jumlah koloni Escherichia coli usus halus ayam pedaging.

Penggunaan daun cincau hitam sebagai aditif pakan bentuk tepung diperoleh hasil sebesar 4,30±0,15 dan pada bentuk enkapsulasi menunjukkan hasil sebesar 3,84±0,36.

Secara rata-rata perhitungan untuk perlakuan penggunaan aditif pakan daun cincau hitam dalam bentuk tepung (B1) terhadap Escherichia coli menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan penggunaan aditif pakan cincau hitam hitam bentuk enkapsulasi (B2) terhadap Escherichia coli. Hal

Referensi

Dokumen terkait

( in depth interview ) yang menyesuaikan panduan oleh Ibrahim (2015), pada beberapa pihak meliputi Kepala Seksi Operasional Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan dan

Kekuatan impak yang nilainya paling tinggi didapat oleh pengujian impak pada spesimen sampel elektroda E1 yang memiliki nilai kekuatan impak sebesar 277,72

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh lifestyle dan price fainess terhadap customer loyalty melalui purchase decision sebagai variabel intervening pada

Penulisan tugas akhir berjudul “ Pengaruh product quality dan brand image terhadap minat pembelian ulang melalui customer trust pada pelanggan Sari Roti di

Definisi operasional variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah definisi operasional dari minat beli ulang konsumen untuk melakukan pembelian

Pembahasan dalam penelitian menguraikan pengaruh persepsi kemudahan dan persepsi kemanfaatan terhadap minat konsumen menggunakan Kartu Brizzi yang sejalan dengan teori

Untuk menghitung besarnya gaya yang terjadi kita dapat menghitung perubahan defleksi membran karena gaya yang menekan- nya dengan menggunakan transduser pengukur

Pendidikan budi pekerti adalah usaha sadar penanaman / internalisasi nilai-nilai akhlak / moral dalam sikap dan perilaku manusia peserta didik agar memiliki