ABSTRAK
Kelapa sawit telah menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia di sektor perkebunan.
Keberadaan perkebunan kelapa sawit yang tersebar di 190 kabupaten telah memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah sentra tersebut. Peningkatan produksi CPO sebagai produk utama kelapa sawit berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah-daerah sentra sawit tersebut. Melalui peningkatan produksi CPO juga, memberikan manfaat sebesar 40% bagi masyarakat di luar perkebunan kelapa sawit dengan berkembangnya lembaga keuangan, perdagangan/restoran, hotel, transportasi, infrastruktur, dan sektor-sektor lain. Perkebunan kelapa sawit juga masih berpotensi dikembangkan melalui integrasi dengan tanaman atau ternak. Program integrasi tersebut akan meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat karena memiliki penghasilan lain diluar produksi sawit.
Keywords : integrasi, kesejahteraan petani, produk domestik regional bruto (PDRB), produksi CPO
KELAPA SAWIT DALAM EKONOMI DAERAH DAN POTENSI INTEGRASI KELAPA SAWIT
Oleh Tim Riset PASPI
m nitor
Analisis Isu Strategis Sawit Vol. IV, No. 22/06/2018
“Dapat dikutip untuk pemberitaan”
PENDAHULUAN
Kelapa sawit telah menjadi komoditas strategis bagi Indonesia. Manfaat ekonomi yang Indonesia peroleh dengan adanya perkebunan kelapa sawit tidak dapat dibantah. Dengan luas perkebunan kelapa sawit yang telah mencapai 12,3 juta hektar pada tahun 2017, Indonesia mampu memproduksi minyak sawit sebesar 35,3 juta ton (Ditjenbun 2017). Pada tahun yang sama ekspor Indonesia mencapai 31,05 juta ton dengan nilai ekspor USD 23 Milyar. Hal ini menunjukkan kelapa sawit telah memberikan devisa yang besar bagi Negara.
Perkebunan kelapa sawit Indonesia tersebar di 190 Kabupaten di beberapa provinsi sehingga kelapa sawit memiliki potensi dijadikan sebagai sumber pengembangan pedesaan. Kehadiran perusahaan – perusaan swasta di daerah pedesaan memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan petani di pedesaan. Melalui program kemitraan petani dan pihak swasta yang dimulai sejak periode 1980 telah melahirkan revolusi pada agribisnis kelapa sawit Indonesia. Proporsi perkebunan rakyat dalam total area perkebunan kelapa sawit Indonesia meningkat drastis hingga tahun 2017 telah mencapai 38.6 persen. Namun masih ada anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa industri kelapa sawit hanya dikuasai dan dinikmati oleh perusahan skala besar dan tidak memberikan kontribusi pada perekonomian daerah sentra produksi.
Selain itu, manfaat perkebunan kelapa sawit masih bisa ditingkatkan dengan melakukan integrasi sawit dengan komoditas lain. Integrasi ini potensial dilakukan mengingat luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia serta teknis budidaya kelapa sawit yang menyediakan ruang bagi tanaman sela. Mengoptimalkan perkebunan kelapa sawit dengan integrasi diharapkan mampu memberikan manfaat
ganda bagi petani sawit di pedesaan. Tulisan ini akan mendiskusikan terkait kontribusi perkebunan kelapa sawit bagi perekonomian masyarakat pedesaan. Selain itu akan dijelaskan juga potensi integrasi perkebunan kelapa sawit dengan sektor lainnya.
KELAPA SAWIT DALAM PEREKONOMIAN DAERAH
Awal pengembangan kelapa sawit dimulai di Pulau Sumatera, namun kini pulau Kalimantan juga telah menjadi sentra produksi kelapa sawit. Ekspansi perkebunan kelapa sawit menyebar di sekitar 190 kabupaten di beberapa provinsi. Menurut Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja (2014), sampai tahun 2013 setidaknya 50 kawasan pedesaan terbelakang/terisolir telah berkembang menjadi kawasan pertumbuhan baru dengan basis sentra produksi CPO. Antara lain Sungai Bahar (Jambi), Pematang Panggang dan Peninjauan (Sumatera Selatan), Arga Makmur (Bengkulu), Sungai Pasar dan Lipat Kain (Riau), Paranggean (Kalimantan Tengah) dan kawasan lain. Ekspansi tersebut telah menunjukkan adanya manfaat baik dari segi ekonomi, sosial, serta lingkungan di daerah perkebunan kelapa sawit (PASPI 2015).
Hasil studi PASPI (2014) menunjukan bahwa pertumbuhan produksi minyak sawit (CPO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah-daerah sentra sawit. Pertumbuhan ekonomi daerah bahkan sangat responsif terhadap peningkatan produksi minyak sawit. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi minyak sawit menarik pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih besar dari peningkatan produksi CPO (Gambar 1).
Gambar 1 Pengaruh Produksi CPO terhadap Produk Domestik Regional Bruto Hasil kajian tersebut semakin dikuatkan
dengan penelitian Syahza (2011) yang menyatakan bahwa kegiatan pembangunan perkebunan kelapa sawit di Riau telah memberikan dampak terhadap percepatan pembangunan ekonomi masyarakat dalam upaya mengentaskan kemiskinan di daerah pedesaan. Kegiatan perkebunan kelapa sawit di pedesaan menciptakan angka multiplier effect sebesar 3,03, terutama dalam lapangan pekerjaan dan peluang berusaha. Secara ekonomi dengan adanya perkebunan kelapa sawit akan menciptakan daya beli di daerah pedesaan, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap barang kebutuhan masyarakat.
Peningkatan produksi CPO (misalnya akibat konsumsi, investasi hilir, ekspor) maka akan menciptakan manfaat ekonomi sekitar 60 persen yang terjadi pada perkebunan kelapa sawit dan sekitar 40 persen manfaat tersebut terjadi di luar perkebunan kelapa sawit (sektor pedesaan) seperti lembaga keuangan, perdagangan/restoran, hotel, transportasi, infrastruktur, dan sektor-sektor lain. Hal ini berarti manfaat ekonomi yang diciptakan akibat pertumbuhan perkebunan kelapa sawit tidak hanya dinikmati oleh masyarakat pelaku/bekerja pada perkebunan kelapa sawit, melainkan sebagian (40 persen) dinikmati oleh masyarakat yang bekerja di luar perkebunan kelapa sawit di pedesaan.
Masyarakat yang bekerja pada perkebunan kelapa sawit adalah konsumen bagi produk-produk pangan maupun non pangan yang dihasilkan oleh masyarakat perkotaan dan pedesaan. Berdasarkan pengeluaran penduduk (BPS, 2016) nilai transaksi antara masyarakat kebun sawit dengan masyarakat perkotaan mencapai Rp.
336 triliun/tahun. Sementara transaksi dengan masyarakat pedesaan sebesar Rp. 92 triliun/tahun (Gambar 2). Hal ini berarti total transaksi antara masyarakat kebun sawit dengan masyarakat di luar kebun sawit secara nasional mencapai Rp. 428 triliun/tahun.
Dengan perkataan lain, pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di kawasan pedesaan meningkatkan kapasitas perekonomian daerah pedesaan dalam menghasilkan output, pendapatan, dan kesempatan kerja baik pada perkebunan kelapa sawit maupun pada sektor lain (rural non-farm) di kawasan pedesaan. Bahkan dampak multiplier pembangunan perkebunan kelapa sawit, melainkan juga dinikmati sektor perkotaan seperti lembaga keuangan, restoran dan hotel, food processing dan electric equipment and manufacturing sector. Membangun perkebunan kelapa sawit bukan hanya membangun pedesaan tetapi juga bagian dari cara membangun perkotaan.
PDRB = -194 + 231.66 CPO R-square = 0.91
Elastisitas = 2.46
- 50 100 150 200 250 300
- 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00
Rp. miliar
000 ton
Gambar 2 Nilai Transaksi antara Masyarakat Kebun Sawit dengan Ekonomi Pedesaan dan Perkotaan
INTEGRASI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN
KESEJAHTERAAN PETANI
Luas area perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2017 telah mencapai angka 12,3 juta hektar memiliki potensi untuk diintegrasikan dengan sektor lain.
Kelapa sawit merupakan tanaman tahunan dengan periode umur ekonomis mencapai 25 tahun. Secara teknis, budidaya kelapa sawit memiliki jarak tanam sekitar 9 meter x 9 meter sehingga terdapat ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
Pemanfaatan ruang terbuka diantara perkebunan kelapa sawit ini dengan tanaman atau peternakan dinamakan proses integrasi. Berbagai hasil penelitian telah menunjukkan bahwa integrasi perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan pendapatan petani. Seperti halnya hasil penelitian Zaimah et al. (2017) menunjukkan bahwa sebagian besar petani sawit kecil di Malaysia mengalami peningkatan pendapatan keluarga dengan menerapkan integrasi pada perkebunan sawitnya.
Kelapa sawit sebagai tanaman tahunan membutuhkan waktu hingga mampu menghasilkan tandan buah yang siap panen.
Selama masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), petani sawit dapat melakukan integrasi kelapa sawit muda dengan tanaman lain seperti tanaman pangan jagung, ubikayu, atau tanaman temu temuan.
Sifat tanaman temu-temuan yang toleran terhadap naungan hingga 40 persen memberikan peluang pengembangannya di sela-sela TBM kelapa sawit. Integrasi dengan
tanaman temu-temuan ini sangat potensial dilakukan petani sawit karena kebutuhannya dalam industry obat di Indonesia juga besar sehingga diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan selama sawit belum menghasilkan (Yusron &
Januwati 2004).
Menurut Partohardjo (2003), pada kebun kelapa sawit seluas 2,5 hektar dengan 143 pohon tiap hektar, dapat diintegrasikan dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela selama 2 tahun. Namun saat kelapa sawit mulai menghasilkan TBS dan dipanen, tanaman sela harus dipindah ke lokasi lain.
Menurut hasil penelitiannya, petani sawit disamping menjalankan tugas utamanya mengelola kebun sawit, juga memiliki kemampuan menanam tanaman pangan seluas 0,7 hektar. Tanaman ini akan menjadi sumber penghasilan lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani sawit.
Mekanisme integrasi pada perkebunan kelapa sawit yang banyak dilakukan adalah integrasi dengan sektor peternakan.
Kambing salah satu komoditas yang potensial dikembangkan secara komersial karena permintaannya yang tinggi terutama saat Idul Adha. Kendala tidak tersedianya lahan sebagai sumber hijauan akan teratasi dengan integrasi sawit dan kambing karena area perkebunan sawit sangat luas. Menurut Batubara (2004), daya dukung hijauan dari perkebunan kelapa sawit juga dapat dilakukan dengan introduksi rumput unggul, merubah pola tanam, serta pemanfaatan daun dan pelepah sawit. Integrasi usaha kambing dengan perkebunan sawit harus disertai dengan pendekatan agribisnis yang menuntut adanya rancang bangun
Rp. 336 triliun/tahun Rp. 92 triliun/tahun
pengembangan meliputi besaran skala usaha/petani, besaran kelompok, besaran hamparan dan kawasan usaha.
Integrasi lainnya dapat dilakukan antara sawit dan sapi. Kegiatan integrasi sawit-sapi memunculkan tiga kegiatan terpadu sekaligus, yaitu penyediaan pakan (industry pakan), usaha perkembangbiakan sapi (cow calf operation), dan penggemukan sapi. Masing-masing kegiatan saling berkontribusi dan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas, termasuk produksi kelapa sawit. Secara ekonomis kegiatan tersebut menguntungkan dan secara sosial budaya dapat diterima masyarakat (Utomo & Widjaja 2012).
Pada sistem integrasi sawit dan sapi, industry sawi akan menjadi sumber pakan bagi ternak sapi sementara ternak sapi menjadi sumber tenaga dan pupuk bagi industri sawit. Bahkan limbah dari industry sawit dapat diolah menjadi pakan untuk ternak sapi seperti pengolahan lumpur sawit dan bungkil inti sawit melalui proses fermentasi. Produk fermentasi tersebut mengandung protein yang cukup tinggi sehingga bisa digunakan sebagai sumber protein dalam penyusunan ransum komplit untuk sapi (Sinurat et al. 2004).
Integrasi yang dilakukan tentu akan memberikan keuntungan bagi petani kelapa sawit yang sebagian besar berada di pedesaan. Kelayakan integrasi kelapa sawit dan sapi telah diteliti Ilham dan Saliem (2011), dan menunjukkan bahwa usahatani pembibitan sapi yang diintegrasikan dengan perkebunan sawit yang diusahakan dengan pola penggembalaan, pola kemitraan pemanen/plasma-pengusaha, dan pola kelompok petani kebun sawit memberikan keuntungan dengan nilai R/C berkisar 1,05 – 2,84. Artinya setiap Rp1.000.000 biaya yang dikeluarkan, petani sawit akan memperoleh pendapatan berkisar antara Rp 1.050.000 hingga Rp. 2.840.000. Hal tersebut tentu akan memberikan tambahan pendapatan bagi petani sawit yang berdampak pada peningkatan kesejahteraannya.
Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa lama pengembalian modal integrasi sawit dan sapi potong yaitu berkisar 4,91 – 6,4 tahun. Hal ini menunjukkan usaha pembibitan sapi potong yang terintegrasi dengan perkebunan sawit layak secara
finansial karena tidak sampai 7 tahun modal sudah kembali sementara periode umur ekonomis kelapa sawit mencapai 25 tahun.
KESIMPULAN
Kelapa sawit sebagai komoditas strategis telah memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian Indonesia.
Keberadaan perkebunan kelapa sawit terbukti memberikan dampak pada peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) pada daerah – daerah sentra kelapa sawit. Peningkatan produksi CPO (misalnya akibat konsumsi, investasi hilir, ekspor) maka akan menciptakan manfaat ekonomi sekitar 60 persen yang terjadi pada perkebunan kelapa sawit dan sekitar 40 persen manfaat tersebut terjadi di luar perkebunan kelapa sawit (sektor pedesaan) seperti lembaga keuangan, perdagangan/restoran, hotel, transportasi, infrastruktur, dan sektor-sektor lain.
Manfaat perkebunan kelapa sawit juga masih memiliki potensi untuk ditingkatan melalui program integrasi sawit dengan tanaman atau ternak. Berdasarkan berbagai kajian yang dilakukan, menunjukkan bahwa dengan luasnya perkebunan kelapa sawit menjadi peluang untuk pengembangan ternak sebagai sumber pakan. Selain itu, saat tanaman kelapa sawit belum menghasilkan dapat dilakukan integrasi dengan tanaman pangan atau tanaman temu temuan.
Integrasi ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sawit selama proses menunggu periode kelapa sawit menghasilkan tandan buah segar.
DAFTAR PUSTAKA
Batubara LP. 2004. Pola Pengembangan Usaha Ternak Kambing Melalui Pendekatan Integrasi dengan Sistem Usaha Perkebunan Karet dan Kelapa Sawit. Lokakarya Nasional Kambing Potong.
[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan.
2017. Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 :Kelapa Sawit. Jakarta (ID):
Kementerian Pertanian
Ilham N, Saliem HP. 2011. Kelayakan Finansial Sistem Integrasi Sawit – Sapi Melalui Program Kredit Usaha Pembibitan Sapi. Analisis Kebijakan Pertanian. 9(4): 349-369.
Partohardjono S. 2003. Integrasi Tanaman Kelapa Sawit dengan Tanaman Pangan Jagung dan Ubi Kayu di Lahan Kering.
Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi.
PASPI. 2014. Industri Minyak Sawit Indonesia Berkelanjutan: Peranan Industri Minyak Sawit dalam Pertumbuhan Ekonomi, Pembangunan Pedesaan, Pengurangan Kemiskinan dan Pelestarian Lingkungan. Bogor.
PASPI. 2015. Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Sebagai Strategi Pengembangan Pedesaan Tertinggal.
Jurnal Monitor. 1(38): p 265-272.
Sinurat A, Purwadaria T, Mathius IW, Sitompul DM, Manurung BP. 2004.
Integrasi Sapi-Sawit : Upaya
Pemenuhan Gizi Sapi dari Produk Samping. Seminar Nasional Integrasi Tanaman-Ternak.
Syahza A. 2011. Percepatan Ekonomi Pedesaan Melalui Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Ekonomi Pembangunan. 12 (2): 297- 310.
Utomo BN, Widjaja E. 2012. Pengembangan Sapi Potong Berbasis Industri Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Litbang Pertanian. 31(4): 153-161.
Yusron M, Januwati M. 2004. Pemanfaatan Lahan Kelapa Sawit Muda dengan Temu-Temuan sebagai Tanaman Sela.
Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi.
Zaimah R, Lyndon N, Sarmila MS, Hussain MY. 2017. Keberkesanan Integrasi Sawit Meningkatkan Pendapatan Pekebun Kecil Sawit: Kajian Kes di Johor, Malaysia. Journal of Social Sciences and Humanities. Special Issue 2: 152- 163.