TESIS
PERSEPSI APOTEKER DAN DOKTER SERTA ANALISIS POTENSI INTERAKSI ANTIDIABETIK ORAL PADA RESEP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD KUMPULAN
PANE KOTA TEBING TINGGI
OLEH:
NURHASANAH RUMANDA NIM 197014008
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
PERSEPSI APOTEKER DAN DOKTER SERTA ANALISIS POTENSI INTERAKSI ANTIDIABETIK ORAL PADA RESEP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD KUMPULAN
PANE KOTA TEBING TINGGI
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister dalam Ilmu Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
OLEH:
NURHASANAH RUMANDA NIM 197014008
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
PERSETUJUAN TESIS
Nama Mahasiswa : Nurhasanah Rumanda Nomor Induk Mahasiswa : 197014008
Program Studi : Magister Ilmu Farmasi
Judul Tesis : Persepsi Apoteker Dan Dokter Serta Analisis Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Resep
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi
Telah diuji dan dinyatakan LULUS di depan Komisi Penguji Tesis pada hari kamis tanggal lima bulan Agustus tahun dua ribu dua puluh satu.
Menyetujui:
Komisi Penguji Tesis
Ketua : Khairunnisa, M. Pharm., Ph. D., Apt.
Sekretaris : Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
Anggota : Prof. Azizah Nasution, M. Sc., Ph. D., Apt.
Dr. Aminah Dalimunthe, M. Si., Apt.
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Mahasiswa : Nurhasanah Rumanda Nomor Induk Mahasiswa : 197014008
Program Studi : Magister Ilmu Farmasi
Judul Tesis : Persepsi Apoteker Dan Dokter Serta Analisis Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Resep
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi
Dengan ini menyatakan bahwa hasil penelitian pada Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan plagist dan apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Ilmu Farmasi Universitas Sumatera Utara. Saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan, 05 Agustus 2021 Yang Menyatakan,
Nurhasanah Rumanda NIM 197014008
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan ridhoNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul
“Persepsi Apoteker Dan Dokter Serta Analisis Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Resep Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi”. Tesis ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa persepsi apoteker dan dokter masih kurang terhadap potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien diabetes melitus tipe 2 sehingga masih banyak ditemukan potensi interaksi pada resep tersebut. Hal ini terlihat pada hasil analisis resep yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa potensi interaksi antidiabetik oral cukup tinggi. Penelitian ini diharapkan memperoleh informasi untuk perbaikan pengetahuan bagi apoteker dan dokter untuk kemudian dikembangkan dalam publikasi ilmiah.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Ibu Khairunnisa, M. Pharm., Ph. D., Apt. dan Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt. atas waktu, arahan, dan bimbingan yang diberikan selama penyelesaian Tesis ini. Pada kesempatan juga peneliti menyampaikan terima kasih kepada Ibu Khairunnisa, M. Pharm., Ph. D., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama menjalani Pendidikan di Program Magister Ilmu Farmasi. Kepada orang tua, Ayahanda Giman S.Pd.SD, Kakak Sri Arnita Rumanda, S.Pd., Suami Apt. Noval Sahputra, S. Farm., Ibu Mertua Rukiah, S.Pd.SD tercinta, penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas semua pengorbanan, doa, dan dorongannya, sehingga Tesis ini dapat diselesaikan. Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang telah mendanai Pendidikan Magister Ilmu farmasi dan penelitian saya.
Medan, 05 Agustus 2021 Penulis,
Nurhasanah Rumanda NIM 197014008
PERSEPSI APOTEKER DAN DOKTER SERTA ANALISIS POTENSI INTERAKSI ANTIDIABETIK ORAL PADA RESEP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD KUMPULAN PANE KOTA TEBING TINGGI
ABSTRAK
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang dapat menyebabkan munculnya penyakit lain, sehingga pemberian obat-obatan semakin banyak dan cenderung berpotensi mengalami interaksi antar obat. Apoteker dan Dokter berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang baik bagi apoteker dan dokter dalam keterkaitan antara obat-obat yang digunakan oleh pasien.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pemahaman apoteker dan dokter serta menganalisis Potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane kota Tebing Tinggi.
Metode penelitian ini ada 2 jenis yaitu kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif digunakan untuk menggambarkan persepsi terhadap potensi interaksi antidiabetik oral dengan melakukan wawancara mendalam kepada apoteker dan dokter.
Sedangkan kuantitatif yang bersifat deskriptif retrospektif digunakan untuk menganalisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep. Resep yang dipakai adalah resep pasien rawat jalan dan inap periode Januari – Desember 2020 yang mendapatkan antidiabetik oral disertai rekam medis pasien. Analisis potensi interaksi obat menggunakan situs Medscape dan Drugs.com. Uji korelasi antara potensi interaksi terhadap faktor penyakit dan jumlah obat menggunakan Chi - Square Test pada SPSS.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan 21 pertanyaan menunjukkan bahwa apoteker dan dokter tidak sepenuhnya memahami dan mengetahui potensi interaksi antidiabetik oral. Berdasarkan analisis resep diperoleh 5.246 lembar resep pasien diabetes melitus tipe 2. Potensi interaksi yang ditemukan sebesar 78,4%
dengan Pola mekanisme interaksi farmakodinamik 66,57% dan tingkat keparahan sedang 84,23% serta jenis antidiabetik oral yang banyak berinteraksi yaitu biguanid 34,04%. Faktor penyakit P=0,016 dan jumlah obat p=0,000 memiliki hubungan yang bermakna (P<0,05) terhadap potensi interaksi.
Kesimpulan penelitian ini bahwa persepsi apoteker dan dokter mengenai potensi interaksi antidiabetik oral pada pasien diabetes melitus tipe 2 masih kurang sehingga hal ini menyebabkan potensi interaksi antidiabetik oral masih banyak ditemukan pada resep di RSUD Kumpulan Pane.
Kata kunci : Persepsi, Potensi Interaksi Obat, Antidiabetik Oral, Apoteker, Dokter
PERCEPTION OF PHARMACISTS AND DOCTORS AS WELL AS ANALYSIS OF POTENTIAL ORAL ANTIDIABETIC INTERACTIONS ON PRESCRIPTIONS OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS AT
KUMPULAN PANE HOSPITAL IN TEBING TINGGI ABSTRACT
Diabetes mellitus (DM) is a degenerative disease that can cause the emergence of other diseases, so that the administration of drugs more and more and tend to potentially interactions between drugs. Pharmacists and Doctors play an important role in improving the patient's quality of life. Therefore, good understanding and knowledge is required for pharmacists and doctors in the relationship with medication used by patients.
The purpose of this study are to describe the understanding of pharmacists and doctors and to analyze the potential of oral antidiabetic interactions on prescriptions of type 2 diabetes mellitus patients at Kumpulan Pane Hospital in Tebing Tinggi.
This research method have 2 types, qualitative and quantitative. Qualitatively it is used to describe perceptions of potential oral antidiabetic interactions by in- depth interviews to pharmacists and doctors. While quantitative retrospective descriptive is used to analyze the potential of oral antidiabetic interactions on prescription. Prescriptions used are prescriptions of outpatients and hospitalizations for the period January – December 2020 that obtain oral antidiabetics accompanied by the patient's medical records. Analyze the potential of oral antidiabetic interactions used Medscape and Drugs.com. Test correlation between potential interactions to disease factors and the number of medications using Chi-Square Test on SPSS.
Based on the results of in-depth interviews with 21 questions showed that pharmacists and doctors did not fully understand and know the potential oral antidiabetic interactions. Based on the analysis of prescriptions obtained 5.246 prescription sheets of patients with type 2 diabetes mellitus. The potential interaction was found at 78.4% with the pattern of interaction mechanisms was pharmacodynamic 66.57% and the severity of interaction was moderate 84.23%
and a type of oral antidiabetic that interacts more often was biguanid 34.04%.
Disease factors P=0.016 and the number of medications p=0.000 have a meaningful relationship (P<0.05) to potential interactions.
The conclusion of this study that the perception of pharmacists and doctors regarding the potential of oral antidiabetic interactions in patients with type 2 diabetes mellitus is still lacking so that this causes the potential for oral antidiabetic interactions are still found in prescriptions at Kumpulan Pane Hospital.
Keywords: Perception, Potential Drug Interactions, Oral Antidiabetics, Pharmacists, Doctors
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN TESIS ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN TESIS ... iv
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
DAFTAR SINGKATAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 16
1.1 Latar Belakang ... 16
1.2 Perumusan Masalah ... 20
1.3 Tujuan Penelitian ... 21
1.4 Manfaat Penelitian ... 21
1.5 Kerangka Pikir Penelitian ... 22
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 23
2.1 Diabetes Melitus ... 23
2.1.1 Pengertian Diabetes Melitus ... 23
2.1.2 Epidemiologi ... 23
2.1.3 Klasifikasi ... 24
2.1.4 Faktor Risiko ... 26
2.1.5 Gejala klinis ... 28
2.1.6 Diagnosis ... 29
2.1.7 Penatalaksanaan Diabetes Melitus ... 30
2.1.8 Terapi Farmakologi Diabetes Melitus ... 33
2.2 Interaksi Obat ... 36
2.2.1 Mekanisme Interaksi Obat ... 37
2.2.1.1Interaksi farmakokinetik ... 37
2.2.1.2 Interaksi farmakodinamik ... 41
2.2.2 Tingkat Keparahan Interaksi Obat ... 42
2.2.3 Strategi Pelaksanaan Interaksi Obat ... 43
2.3 Rumah Sakit, Apoteker dan Dokter ... 46
2.4 Pengetahuan ... 46
2.4.1 Pengertian Pengetahuan ... 46
2.4.2 Tingkat Pengetahuan ... 46
2.4.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ... 48
2.5 Kerangka Teori Penelitian ... 48
BAB III METODE PENELITIAN ... 50
3.1 Metode Penelitian ... 50
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 50
3.3 Populasi dan Sampel ... 50
3.3.1 Populasi ... 50
3.3.2 Sampel ... 51
3.4 Instrumen Penelitian ... 52
3.4.1 Sumber data ... 52
3.4.2 Teknik pengumpulan data ... 52
3.5 Analisis Data ... 53
3.6 Prosedur Operasional ... 53
3.7 Defenisi Operasional ... 54
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 56
4.1 Penilaian Persepsi Apoteker Dan Dokter Terhadap Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 . 56 4.1.1 Definisi Diabetes Melitus ... 56
4.1.2 Faktor Penyebab Diabetes Melitus ... 57
4.1.3 Jenis Diabetes Melitus ... 58
4.1.4 Perbedaan Diabetes Melitus Tipe 1 Dan Tipe 2 ... 59
4.1.5 Nilai KGD Normal Puasa, Sewaktu, 2 Jam Setelah Makan ... 61
4.1.6 Golongan Antidiabetik Oral ... 62
4.1.7 Definisi DRP (Drug Related Problem) ... 64
4.1.8 Definisi Interaksi Obat ... 66
4.1.9 Efek yang Muncul Ketika Terjadi Interaksi Obat Pada Sistem Reseptor Sama ... 68
4.1.10 Mekanisme Interaksi Obat ... 69
4.1.11 Tingkat Keparahan Interaksi Obat ... 70
4.1.12 Aplikasi Interaksi Obat ... 71
4.1.13 Peristiwa Nyata Terkait Interaksi Obat di Lapangan ... 72
4.1.14 Kesalahan Terjadinya Interaksi Obat ... 73
4.1.15 Pasangan Interaksi Antidiabetik Oral Dengan Obat Lain ... 74
4.1.16 Makna Potensi Interaksi Obat-Obat ... 75
4.1.17 Apoteker ... 76
4.1.18 Dokter ... 77
4.2 Analisis Potenasi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Resep Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 ... 83
4.2.1 Analisis Resep Pasien Rawat Jalan dan Inap Tahun 2020 ... 83
4.2.2 Analisis Resep Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 ... 83
4.2.3 Analisis Resep Berdasarkan Karakteristik Obat dan Pasien ... 84
4.2.4 Profil Penggunaan Antidiabetik Oral ... 85
4.2.5 Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Pasien DM Tipe 2 ... 87
4.2.6 Analisis Potensi Interaksi Obat Pada Golongan Antidiabetik Oral 89
4.2.7 Kejadian Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Berdasarkan Pola Mekanisme Interaksi Obat Dan Tingkat Keparahan Interaksi Obat … 90 4.2.8 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Menggunakan Uji Chi-Square ... 96
4.2.8.1 Faktor Penyakit ... 96
4.2.8.2 Faktor Jumlah Obat ... 97
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 98
5.1 Kesimpulan ... 98
5.2 Saran ... 100
DAFTAR PUSTAKA ... 101
LAMPIRAN ... 105
DAFTAR TABEL
2.1 Klasifikasi DM Menurut ADA 2010 ... 26
2.2 Kadar Tes Laboratorium Darah Untuk Diagnosis Diabetes, Prediabetes ... 30
3.1 Definisi Operasional ... 54
4.1 Rangkuman Hasil Wawancara Terhadap Informan ... 79
4.2 Hasil Pengamatan Lembar Resep Keseluruhan Tahun 2020 ... 83
4.3 Hasil Pengamatan Lembar Resep Pasien DM Tahun 2020 ... 84
4.4 Karakteristik Obat ... 85
4.5 Karakteristik Pasien ... 85
4.6 Profil Penggunaan Antidiabetik Oral ... 86
4.7 Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien DM Tipe 2 ... 87
4.8 Hasil Analisis Potensi Interaksi Golongan Antidiabetik Oral ... 89
4.9 Jenis Kejadian Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Berdasarkan Pola Mekanisme Interaksi Obat Dan Tingkat Keparahan Interaksi Obat 90
4.10 Jenis Mekanisme Interaksi Antidiabetik Oral ………. 93
4.11 Tingkat Keparahan Interaksi Antidiabetik Oral ……….. 94
4.12 Kejadian Potensi Interaksi Obat Berdasarkan Kelompok penyakit ….. 96
4.13 Kejadian Potensi Interaksi Obat Berdasarkan Jumlah Obat ………… 97
DAFTAR GAMBAR
1.1 Kerangka Pikir Penelitian ... 22 2.1 Algoritma Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia ... 36 2.2 Kerangka Teori Penelitian ... 49
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1 Hasil Analisis Bivariat Beberapa Variabel Bebas Terhadap
Kejadian Potensi Interaksi Obat Dengan Menggunakan
Uji Chi-Square Pada Program SPSS Advanced 26.0 ………. 105 2 Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Melitus Tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi ….. 109 3 Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada
Dokter dan Apoteker ……….. 127 4 Surat Izin Penelitian dari Fakultas ke RSUD Kumpulan Pane ….. 146 5 Surat Izin Penelitian dari RSUD Kumpulan Pane ………. 147 6 Surat Selesai Penelitian dari RSUD Kumpulan Pane ………….. 148 7 Surat Ethical Clereance dari Fakultas Kedokteran USU ……… 149
DAFTAR SINGKATAN DM : Diabetes Melitus
DRP : Drug Related Problem RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
IDF : International Of Diabetic Federation RM : Rekam Medis
IMT : Indeks Massa Tubuh HDL : High Density Lipoprotein PJK : Penyakit Jantung Koroner
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Gejala yang dikeluhkan pada diabetes melitus yaitu polidipsia (perasaan haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya), poliuria (sering buang air kecil dan banyak), polifagia (nafsu makan meningkat), penurunan berat badan dan kesemutan (Fatimah, 2015).
Global Report on Diabetes (2016) melaporkan bahwa diabetes melitus menyebabkan 1,5 juta orang meninggal pada tahun 2012. Menurut International of Diabetic Federation, bahwa telah terjadi peningkatan kasus diabetes melitus di dunia dari tahun 2013 sampai tahun 2017.
Menurut International of Diabetic Federation (IDF) (2017) tingkat prevalensi global penderita diabetes melitus di Asia Tenggara pada tahun 2017 adalah sebesar 8,5% . Diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 11,1% pada tahun 2045 dimana Indonesia menempati urutan ke-6 setelah Cina, India, Amerika Serikat, Brazil dan Mexico dengan jumlah penderita diabetes melitus sebesar 10,3 juta penderita. Menurut data Sample Registration Survey (2014) tahun 2014 menunjukkan bahwa diabetes merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia 6,7% setelah penyakit jantung koroner 12,9% dan stroke 21,1%.
Diabetes melitus merupakan penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya keluhan-keluhan lain atau bahkan penyakit baru. Diabetes melitus juga merupakan salah satu penyakit yang berpotensi tinggi menyebabkan munculnya penyakit lain misalnya penyakit komplikasi kardiovaskuler seperti stroke, hipertensi dan hiperlipidemia. Pengobatan suatu penyakit biasanya berorientasi pada gejala-gejala penyakit tersebut. Oleh karena itu sering kali terjadi berbagai pengobatan terhadap setiap gejala yang muncul sehingga menyebabkan pemberian obat-obatan yang bermacam-macam dan cenderung mendorong terjadinya pola pengobatan yang tidak rasional. Seringkali dokter memberikan obat berdasarkan gejala-gejala yang dikeluhkan penderita tanpa mempertimbangkan penting atau tidaknya gejala yang dihadapi. Oleh karena itulah banyak mendorong terjadinya pemakaian obat lebih dari satu macam yang sebenarnya tidak perlu. Pengobatan ini yang menjadi kebiasaan para dokter dapat memudahkan terjadinya interaksi obat (Utami, 2013).
Pengobatan dengan antidiabetik oral kombinasi untuk pasien diabetes melitus memiliki potensi tinggi dalam menurunkan kadar gula darah secara baik. Namun, pada pasien diabetes melitus dengan riwayat penyakit penyerta maka pengobatan yang akan diberikan menjadi lebih banyak dan hal ini berpotensi terjadinya interaksi antar obat yang dapat mempengaruhi kondisi fisiologi pasien (Nurlaelah dkk., 2015).
Pada umumnya pasien rawat inap maupun rawat jalan yang berada di rumah sakit mendapatkan berbagai macam obat, baik itu secara oral ataupun injeksi.
Sehingga kemungkinan terjadinya interaksi antara obat-obat juga meningkat.
Interaksi obat – obat ada yang bersifat menguntungkan dalam arti interaksi itu memang diharapkan guna menghasilkan efek terapi yang lebih baik dan bersifat merugikan ketika interaksi tersebut tidak diharapkan dan berakibat pada penurunan
efek terapi. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas kesehatan yang menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien yang dipantau oleh dokter berperan besar terhadap kejadian interaksi obat- obat pada pasien. Selain itu, apoteker sebagai tenaga kefarmasian penyedia layanan terkait obat-obatan juga berperan besar terhadap kejadian interaksi obat pada pasien (Rochjana dkk., 2019).
Pelaksanaan pelayanan kefarmasian tidak mudah karena menyangkut peningkatan pengetahuan dan keterampilan, serta perubahan perilaku apoteker.
Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan dan mengidentifikasi, mencegah, serta mengatasi masalah terkait obat (Menkes RI, 2016).
Pelaksanaan pelayanan kedokteran merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya yang dapat berupa pelayanan promotif, preventif, diagnostik, konsultatif atau rehabilitatif (Menkes RI, 2011). Untuk dapat menuliskan resep yang tepat dan rasional seorang dokter harus memiliki cukup pengetahuan dasar mengenai ilmu-ilmu farmakologi yaitu tentang farmakodinamik, farmakokinetik dan sifat-sifat fisiko kimia obat yang diberikan sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan menjadi kecil atau bahkan tidak ada. Oleh karena itu dokter memainkan peranan penting dalam proses pelayanan kesehatan khususnya dalam melaksanakan pengobatan melalui pemberian obat kepada pasien (Herawati dkk., 2016; Aziz dkk., 2018).
Suatu studi yang dilakukan pada rumah sakit di perancis (2013) tentang penilaian intervensi terhadap farmasis klinik yang ada di rumah sakit bahwa keberadaan farmasis sangat berkontribusi untuk mencegah terjadinya DRPs dalam pengobatan. Hal ini didukung dengan pemahaman dan pengetahuan farmasis
terhadap DRPs. Sebaliknya, tanpa pemahaman yang cukup seorang farmasis akan sulit untuk berkontribusi dalam mencegah DRPs.
Interaksi obat atau drug-drug interactions (DDIs) didefinisikan sebagai modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan atau bila dua atau lebih obat berinteraksi sehingga keefektifan atau toksisitas suatu obat atau lebih berubah. Interaksi yang lebih sering terjadi adalah yang terjadi didalam tubuh dibandingkan diluar tubuh. Interaksi dalam tubuh dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu interaksi farmakokinetik dan interaksi farmakodinamik. Risiko interaksi obat akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah obat yang digunakan oleh individu ( Zhou et al., 2012).
Penelitian yang dilakukan di rumah sakit etiopia utara (2016) tentang potensi interaksi obat-obat pada pasien degeneratif yang mendapat pengobatan variasi menunjukan bahwa potensi interaksi obat empat kali lebih besar dari pasien dengan satu penyakit.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mega Gustiani Utami (2013) tentang Analisis Potensi Interaksi Obat Antidiabetik Oral pada Pasien di Instalasi Rawat Jalan Askes Rumah Sakit Dokter Soedarso Pontianak diperoleh bahwa interaksi obat terjadi pada 62,16% resep obat yang menerima obat antidiabetik oral dengan kejadian interaksi obat 6 kali lebih tinggi pada subjek yang menerima lebih dari 5 macam obat. Jenis obat yang sering berinteraksi adalah metformin dan glikazid. Berdasarkan penelitian tersebut bahwa masih tingginya kejadian potensi DDIs pada resep yang berisi obat antidiabetik oral di rumah sakit.
Berdasarkan hal di atas peneliti tertarik untuk melakukan penilaian Persepsi Apoteker Dan Dokter Serta Analisis Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Resep Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi. Hal
ini dikarenakan RSUD Kumpulan Pane merupakan salah satu rumah sakit umum di kota Tebing Tinggi yang memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh warga baik warga Kota Tebing Tinggi maupun warga luar sekitar Tebing Tinggi sehingga pelayanan pasien terhadap penyakit degeneratif maupun kronis termasuk diabetes melitus sangat besar. Apoteker sebagai tenaga ahli di bidang obat-obatan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien seperti mengidentifikasi, mengawasi dan memantau penggunaan obat pasien. Dokter sebagai tenaga kesehatan yang menjadi kontak pertama dengan pasien melakukan pemeriksaan pada pasien untuk mendiagnosa penyakit pasien secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat. Maka dari itu diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang baik bagi apoteker dan dokter dalam menjalankan pekerjaannya, salah satunya berupa hubungan atau keterkaitan antara obat-obat yang digunakan oleh pasien.
Baik itu merugikan maupun menguntungkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, maka dari itu dilakukan penelitian ini.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
a. bagaimana persepsi apoteker dan dokter mengenai potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi?
b. bagaimana gambaran potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : a. untuk menggambarkan pemahaman apoteker dan dokter yang ada di
RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi terhadap potensi interaksi antidiabetik oral pada pasien DM tipe 2.
b. untuk menganalisis Potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan di atas, maka manfaat penelitian ini adalah :
a. bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai persepsi apoteker dan dokter serta analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi serta membangun hubungan sosial dan komunikasi yang baik antara peneliti dengan apoteker serta dokter.
b. bagi apoteker dan dokter, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu informasi dan menambah wawasan serta menyegarkan keilmuan mereka sehingga membantu memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
c. bagi RSUD Kumpulan Pane, hasil penelitian ini diharapkan sebagai wadah informasi bagi rumah sakit untuk meningkatkan dan menambah ilmu dan wawasan dengan melakukan workshop ataupun seminar bagi para dokter dan apoteker terkait interaksi obat.
d. bagi peneliti lain dan dunia pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan untuk penelitian selanjutnya berkenaan
dengan persepsi apoteker dan dokter serta analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 untuk penyakit lain.
1.5 Kerangka Pikir Penelitian
Penelitian ini membahas tentang persepsi apoteker dan dokter serta analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi. Dalam hal ini apoteker, dokter dan karakteristik umum resep obat adalah variabel bebas (Independent Variable).
persepsi apoteker dan dokter dan potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 sebagai variabel terikat (Dependent Variable). Hubungan kedua variabel itulah yang akan di uji dalam penelitian ini (Gambar 1.1).
Variable Bebas Variabel Terikat Parameter
Gambar 1.1 Kerangka Pikir Penelitian Potensi Interaksi
antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe
2
- Frekuensi Interaksi - Mekanisme
Interaksi
- Jenis Obat yang Berinteraksi - Tingkat
Keparahan Interaksi Persepsi tentang
Potensi Interaksi antidiabetik oral pasien DM tipe
2
Pemahaman apoteker dan dokter melalui
wawancara mendalam
Resep Pasien DM:
a. Karakteristik obat:
i. Jumlah obat b. Karakteristik
pasien:
i. tanpa penyakit penyerta ii. dengan
penyakit penyerta a. Apoteker b. Dokter
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diabetes Melitus
2.1.1 Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemik yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati (Utami, 2013).
Insulin dalam tubuh dibutuhkan untuk memfasilitasi masuknya glukosa dalam sel agar dapat digunakan untuk metabolisme dan pertumbuhan sel. Berkurang atau tidak adanya insulin menjadikan glukosa tertahan di dalam darah dan menimbulkan peningkatan gula darah, sementara sel menjadi kekurangan glukosa yang sangat dibutuhkan dalam kelangsungan dan fungsi sel (Tarwoto, 2012).
2.1.2 Epidemiologi
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia pada tahun-tahun mendatang. WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Senada dengan WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2014, memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035 (Perkeni, 2015).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2007, diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun sebanyak 133 juta jiwa. Dengan prevalensi DM sebesar 8,2 juta penyandang diabetes pada daerah urban dan 5,5 juta penyandang diabetes pada daerah rural dan diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta penduduk yang berusia di atas 20 tahun, maka diperkirakan prevalensi DM pada daerah urban terdapat 12 juta penyandang diabetes dan 8,1 juta di daerah rural dan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RisKesda) (2013) Prevalensi DM di Indonesia yang terdiagnosis dokter atau gejala adalah 2,1%, dan yang paling tinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur (3,3%) dan untuk Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebesar 2,6%.
Penyakit DM sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan berdampak pada peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar. Penyandang DM dengan kadar glukosa darah yang sulit dikendalikan atau yang berpotensi mengalami penyulit DM perlu secara periodik dikonsultasikan kepada dokter spesialis penyakit dalam di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi di rumah sakit rujukan (Parkeni, 2015).
Pengelolaan penyakit DM memerlukan peran serta dokter, apoteker dan tenaga kesehatan lain. Pasien dan keluarga juga ikut berperan penting, sehingga perlu mendapatkan edukasi untuk memberikan pemahaman mengenai perjalanan penyakit, pencegahan, penyulit dan penatalaksanaan DM (Parkeni, 2015).
2.1.3 Klasifikasi
Klasifikasi etiologis DM menurut American Diabetes Association (ADA) 2010 dibagi dalam 4 jenis yaitu (Ndraha, 2014):
a. diabetes melitus tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM).
Diabetes Melitus Tipe 1 terjadi karena adanya destruksi sel beta pankreas karena sebab autoimun. Pada DM tipe ini terdapat sedikit atau tidak sama sekali sekresi insulin. Manifestasi klinik pertama dari penyakit ini adalah ketoasidosis.
b. diabetes melitus tipe 2 atau Insulin Non-dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Pada penderita DM tipe ini terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin tidak bisa membawa glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi resistensi insulin yang merupakan turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Oleh karena terjadinya resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap kadarnya masih tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi relatif insulin. Onset DM tipe ini terjadi perlahan-lahan karena itu gejalanya asimtomatik.
Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan mengakibatkan sensitivitas reseptor akan glukosa berkurang. Diabetes Melitus tipe ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi.
c. diabetes melitus tipe lain
Diabetes Melitus tipe ini terjadi karena etiologi lain, misalnya pada efek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, penyakit metabolik endokrin lain, infeksi virus, penyakit autoimun dan kelainan genetik lain. Penyebab terjadinya DM tipe lain dapat dilihat pada Tabel 2.1.
d. diabetes melitus gestasional
Diabetes Melitus tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana intoleransi glukosa didapati pertama kali pada masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua dan ketiga. Penderita DM gestasional memiliki risiko lebih besar untuk menderita Diabetes Melitus yang menetap dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan.
Tabel 2.1 Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (ADA) 2010.
No. Tipe Diabetes Melitus
1
Diabetes melitus tipe 1
(destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defesiensi insulin absolute) a. Melalui proses imunologik
b. Idiopati
2
Diabetes melitus tipe 2
(bervariasi mulai dari predominan resistensi insulin disertai defesiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)
3
Diabetes melitus tipe lain
a. Defek genetik fungsi sel beta b. Defek genetik kerja insulin c. Penyakit eksokrin pankreas d. Endrokinopati
e. Karena obat/zat kimia f. Infeksi
g. Imunologi
h. Sindroma genetik lain
4
Diabetes Kehamilan
Atau Diabetes Gestasional, (diabetes melitus yang muncul pada masa kehamilan, umumnya bersifat sementara, tetapi merupakan faktor risiko untuk DM tipe 2
2.1.4 Faktor risiko
Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan dengan beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko yang dapat diubah dan faktor lain. Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa DM berkaitan dengan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan DM, umur ≥45 tahun, etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi >4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (<2,5 kg). Faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25kg/m2 atau lingkar perut ≥80 cm pada
wanita dan ≥90 cm pada laki-laki, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemi dan diet tidak sehat. Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes adalah penderita polycystic ovarysindrome (PCOS), penderita sindrom metabolic memiliki riwatyat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya, memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau peripheral arterial Diseases (PAD), konsumsi alkohol, faktor stres, kebiasaan merokok, jenis kelamin, konsumsi kopi dan kafein.
a. obesitas (kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada derajat kegemukan dengan IMT>23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg/dL.
b. hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.
c. riwayat keluarga diabetes melitus
Seorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen diabetes.
Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Melitus.
d. dislipedimia
Dislipedimia merupakan keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida >250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (< 35 mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.
e. umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Melitus adalah
> 45 tahun.
f. riwayat persalinan
Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan bayi > 4000 gram.
g. faktor genetik
Diabetes Melitus tipe 2 berasal dari interaksi genetik dan berbagai faktor mental. Penyakit ini sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial.
Risiko emperis dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika orang tua atau saudara kandung mengalami penyakit ini.
h. alkohol dan rokok
Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan peningkatan obesitas dan pengurangan ketidak aktifan fisik, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional ke lingkungan kebarat- baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita DM, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Seseorang akan meningkat tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60ml/hari yang setara dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.
2.1.5 Gejala klinis
Gejala diabetes melitus dibedakan menjadi akut dan kronik Gejala akut diabetes melitus yaitu: Poliphagia (banyak makan), polidipsia (banyak minum),
Poliuria (banyak kencing/sering kencing di malam hari), nafsu makan bertambah namu berat badan turun dengan cepat (5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu), mudah lelah. Gejala kronik diabetes melitus yaitu: Kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk tusuk jarum, rasa kebas di kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk, pandangan mulai kabur, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun bahkan pada pria bisa terjadi impotensi, pada ibu hamil sering terjadi keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4kg.
2.1.6 Diagnosis
Keluhan dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl, glukosa darah puasa >126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Untuk diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Sekurang- kurangnya diperlukan kadar glukosa darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM pada hari yang lain atau Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) yang abnormal.
Konfirmasi tidak diperlukan pada keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosis, berat badan yang menurun cepat . Ada perbedaan antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostik dilakukan pada mereka yang menunjukkan gejala DM, sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasi mereka yang tidak bergejala, tetapi punya resiko DM (usia > 45 tahun, berat badan lebih, hipertensi, riwayat keluarga DM, riwayat abortus berulang, melahirkan bayi >4000 gr, kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl, atau trigliserida ≥ 250 mg/dl). Uji diagnostik dilakukan pada mereka yang positif uji penyaring. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa,
kemudian dapat diikuti dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar (Fatimah, 2015).
Berdasarkan kriteria diagnosis DM, maka hasil pemeriksaan laboratorium pada darah seseorang yang akan menunjukkan seseorang itu normal, prediabetes dan diabetes dapat dilihat pada Tabel 2.2 (Parkeni, 2015).
Tabel 2.2 Kadar Tes Laboratorium Darah Untuk Diagnosis Diabetes, Prediabetes HbA1c (%)
Glukosa Darah Puasa (mg/dL)
Glukosa Plasma 2 Jam Setelah TTGO (mg/dL)
Diabetes ≥6,5 ≥126 mg/dL ≥200 mg/dL
Prediabetes 5,7-6,4 100-125 140-199
Normal <5,7 <100 <140
2.1.7 Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Penatalaksanaan diabetes melitus didasarkan pada rencana diet, latihan fisik dan pengaturan aktivitas fisik, agen-agen hipoglikemik oral, terapi insulin, pengawasan glukosa dirumah, dan pengetahuan tentang diabetes dan perawatan diri. Diabetes adalah penyakit kronik, dan pasien perlu menguasai pengobatan dan belajar bagaimana menyesuaikannya agar tercapai kontrol metabolik yang optimal.
Pasien-pasien dengan gejala diabetes melitus tipe 2 dini, dapat mempertahankan kadar glukosa darah normal hanya dengan menjalankan rencana diet dan latihan fisik saja. Tetapi, sebagai penyakit yang progresif, obat-obat oral hipoglikemik juga dianjurkan (Fatimah, 2015).
Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas DM, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai 2 target utama, yaitu:
a. menjaga agar kadar glukosa plasma berada dalam kisaran normal
b. mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes Pada dasarnya ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan diabetes, yang pertama pendekatan tanpa obat dan yang kedua adalah pendekatan dengan obat.
Dalam penatalaksanaan DM, langkah pertama yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah raga. Apabila dengan langkah pertama ini tujuan penatalaksanaan belum tercapai, dapat dikombinasikan dengan langkah farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral, atau kombinasi keduanya (Fatimah, 2015).
Dalam penatalaksanaan DM menurut Perkeni, (2015) ada 4 pilar utama penatalaksanaan diabetes melitus yaitu:
a. edukasi
Keberhasilan pengelolaan diabetes mandiri membutuhkan partisipasi aktif penderita, keluarga dan masyarakat. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif pengembangan ketrampilan dan motivasi. Edukasi secara individual dan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil. Perubahan perilaku hampir sama dengan proses edukasi yang memerlukan penilaian, perencanaan, implementasi, dokumentasi dan evaluasi. Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia serta cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus.
b. terapi nutrisi medis
Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total. Kunci keberhasilan TNM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien dan
keluarganya). Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal kabohidrat, protein, lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik yaitu: Kabohidrat 60-70%, Protein 10-15%, Lemak 20-25 %.
c. latihan jasmani
Latihan jasmani sehari-hari secara teratur 3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit, merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan.
d. terapi farmakologis
Terapi dan pengelolaan farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis diabetes melitus dapat berupa Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan terapi Insulin.
2.1.8 Terapi Farmakologi Diabetes Melitus a. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan yaitu:
i. Pemicu Sekresi Insulin a) Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang.
b) Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati.
ii. Penambah Sensitivitas Terhadap Insulin a) Tiazolidindion
Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-γ), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat
edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala.
b) Metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.
Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin
> 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro-vaskular, sepsis, renjatan, gagal jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan.
iii. Penghambat Absorpsi Glukosa di Saluran Pencernaan a) Penghambat Alfa Glukosidase
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens.
iv. DPP-IV Inhibitor (Dipeptidyl Peptidase – IV)
Glucagon-like peptide-1 (GLP-1) merupakan suatu hormon peptida yang dihasilkan oleh sel L di mukosa usus. Peptida ini disekresi oleh sel mukosa usus bila ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. GLP-1 merupakan perangsang kuat penglepasan insulin dan sekaligus sebagai penghambat sekresi glukagon. Namun demikian, secara cepat GLP-1 diubah oleh enzim dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4), menjadi metabolit GLP-1-(9,36)-amide yang tidak aktif.
Sekresi GLP-1 menurun pada DM tipe 2, peningkatan konsentrasi GLP-1 dapat
dicapai dengan pemberian obat yang menghambat kinerja enzim DPP-4 (penghambat DPP-4). Berbagai obat yang masuk golongan DPP-4 inhibitor, mampu menghambat kerja DPP-4 sehingga GLP-1 tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif dan mampu merangsang penglepasan insulin serta menghambat penglepasan glukagon.
v. Penghambat SGLT-2 (Sodium Glucose Co-Transporter 2)
Obat golongan penghambat SGLT-2 merupakan obat antidiabetes oral jenis baru yang menghambat penyerapan kembali glukosa di tubuli distal ginjal dengan cara menghambat kinerja transporter glukosa SGLT-2. Obat yang termasuk golongan ini Canagliflozin, Empagliflozin.
b. Terapi Insulin
Insulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam pengendalian metabolisme. Insulin yang disekresikan oleh sel-sel ß pankreas akan langsung diinfusikan ke dalam hati melalui vena porta, yang kemudian akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Efek kerja insulin yang sudah sangat dikenal adalah membantu transpor glukosa dari darah ke dalam sel. Kekurangan insulin menyebabkan glukosa darah tidak dapat atau terhambat masuk ke dalam sel.
Akibatnya, glukosa darah akan meningkat, dan sebaliknya sel-sel tubuh kekurangan bahan sumber energi sehingga tidak dapat memproduksi energi sebagaimana seharusnya (Fatimah, 2015).
Insulin berperan penting dalam pengendalian metabolisme dalam tubuh. Pada DM Tipe I, sel-sel ß langerhans kelenjar pankreas penderita rusak, sehingga terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita DM Tipe 1. Walaupun sebagian besar penderita DM Tipe 2 tidak memerlukan terapi insulin, namun hampir 30%
ternyata memerlukan terapi insulin disamping terapi obat antidiabetes oral.
Penderita DM yang hamil membutuhkan terapi insulin, apabila diet saja tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah. Penderita DM yang mendapat nutrisi parenteral atau yang memerlukan suplemen tinggi kalori untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat, secara bertahap memerlukan insulin eksogen untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal selama periode resistensi insulin atau ketika terjadi peningkatan kebutuhan insulin (Fatimah, 2015).
Berdasarkan Konsensus Parkeni (2015), algoritma pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Algoritma Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2.2 Interaksi Obat
Interaksi obat-obat dapat didefinisikan sebagai respon farmakologis atau klinis terhadap kombinasi obat berbeda ketika obat-obat tersebut diberikan tunggal. Hasil klinis interaksi obat-obat dapat dikategorikan sebagai antagonisme, sinergisme (Chatsisvili dkk., 2010).
Interaksi obat didefinisikan ketika obat bersaing satu dengan yang lainnya, atau yang terjadi ketika satu obat hadir bersama dengan obat yang lainnya (Sari dkk., 2012).
Efek dan keparahan interaksi obat dapat sangat bervariasi antara pasien yang satu dengan yang lain. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerentanan pasien terhadap interaksi obat. Pasien yang rentan terhadap interaksi obat antara lain:
a. Pasien lanjut usia
b. Pasien yang minum lebih dari satu macam obat
c. Pasien yang mempunyai gangguan fungsi hati dan ginjal d. Pasien dengan penyakit akut
e. Pasien dengan penyakit yang tidak stabil
f. Pasien yang mempunyai karakteristik genetik tertentu g. Pasien yang dirawat lebih dari satu dokter
2.2.1 Mekanisme interaksi obat
Sepasang interaksi obat terdiri dari obat objek dan obat presipitan. Obat objek merupakan obat yang dipengaruhi, dan obat presipitan merupakan obat yang mempengaruhi. Secara umum mekanisme interaksi obat terbagi menjadi dua yaitu interaksi farmakokinetik dan interaksi farmakodinamik.
2.2.1.1 Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik adalah interaksi yang terjadi bila satu obat mengubah tingkat absorpsi, distribusi, metabolisme atau ekskresi obat lain. Hal ini paling sering diukur dengan perubahan dalam satu atau lebih parameter kinetik, seperti konsentrasi serum puncak, area di bawah kurva, konsentrasi waktu paruh, jumlah total obat diekskresikan dalam urin (Sari dkk., 2012).
Interaksi farmakokinetik terdiri dari beberapa tipe:
a. Interaksi pada Absorbsi Obat i. Efek Perubahan pH Gastrointestinal
Obat melintasi membran mukosa dengan difusi pasif tergantung pada apakah obat terdapat dalam bentuk terlarut lemak yang tidak terionkan. Absorpsi ditentukan oleh kelarutannya dalam lemak, pH isi usus dan sejumlah parameter yang terkait dengan formulasi obat. Sebagai contoh adalah absorpsi asam salisilat oleh lambung lebih besar terjadi pada pH rendah daripada pada pH tinggi.
ii. Adsorpsi,Khelasi, dan Mekanisme Pembentukan Komplek
Arang aktif dimaksudkan bertindak sebagai agen penyerap di dalam usus untuk pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun lainnya, tetapi dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam dosis teraupetik. Antasida juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan. Sebagai contoh, antibakteri tetrasiklin dengan kalsium, bismut aluminium, dan besi, membentuk kompleks yang kurang diserap sehingga mengurangi efek antibakteri.
iii. Perubahan Motilitas Gastrointestinal
Karena kebanyakan obat sebagian besar diserap di bagian atas usus kecil, obat- obatan yang mengubah laju pengosongan lambung dapat mempengaruhi absorpsi.
Misalnya metoklopramid mempercepat pengosongan lambung sehingga meningkatkan penyerapan parasetamol (asetaminofen).
iv. Malabsorbsi dikarenakan Obat
Neomisin menyebabkan sindrom malabsorpsi dan dapat mengganggu penyerapan sejumlah obat-obatan termasuk digoksin dan metotreksat.
b. Interaksi pada Distribusi Obat i. Interaksi Ikatan Protein
setelah absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh sirkulasi. Beberapa obat secara total terlarut dalam cairan plasma, banyak yang lainnya diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam larutan dan sisanya terikat dengan protein plasma, terutama albumin. Ikatan obat dengan protein plasma bersifat reversibel, kesetimbangan dibentuk antara molekul -molekul yang terikat dan yang tidak. Hanya molekul tidak terikat yang tetap bebas dan aktif secara farmakologi.
ii. Induksi dan Inhibisi Protein Transport Obat
Distribusi obat ke otak, dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh aksi protein transporter obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif. Obat yang termasuk inhibitor transporter dapat meningkatkan penyerapan substrat obat ke dalam otak, yang dapat meningkatkan efek samping Central Nervous System (CNS).
c. Interaksi pada Metabolisme Obat
i. Perubahan pada Metabolisme Fase Pertama
Meskipun beberapa obat dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk tidak berubah dalam urin, banyak diantaranya secara kimia diubah menjadi yang lebih mudah diekskresikan oleh ginjal. Jika tidak demikian, banyak obat yang akan bertahan dalam tubuh dan terus memberikan efeknya untuk waktu yang lama. Perubahan kimia ini disebut metabolisme, biotransformasi, degradasi biokimia, atau kadang- kadang detoksifikasi. Beberapa metabolisme obat terjadi di dalam serum, ginjal, kulit dan usus, tetapi proporsi terbesar dilakukan oleh enzim yang ditemukan di membran retikulum endoplasma sel-sel hati. Ada dua jenis reaksi utama
metabolisme obat. Yang pertama, reaksi tahap I (melibatkan oksidasi, reduksi atau hidrolisis) obat-obatan menjadi senyawa yang lebih polar. Sedangkan, reaksi tahap II melibatkan terikatnya obat dengan zat lain (misalnya asam glukuronat, yang dikenal sebagai glukuronidasi) untuk membuat senyawa yang tidak aktif.
Mayoritas reaksi oksidasi fase I dilakukan oleh enzim sitokrom P450.
ii. Induksi Enzim
Ketika barbiturat secara luas digunakan sebagai hipnotik, perlu terus dilakukan peningkatan dosis seiring waktu untuk mencapai efek hipnotik yang sama, alasannya bahwa barbiturat meningkatkan aktivitas enzim mikrosom sehingga meningkatkan laju metabolisme dan ekskresinya (Stockley, 2013).
iii.Inhibisi Enzim
Inhibisi enzim menyebabkan berkurangnya metabolisme obat, sehingga obat terakumulasi di dalam tubuh. Jalur metabolisme yang paling sering dihambat adalah fase oksidasi oleh isoenzim sitokrom P450. Signifikansi klinis dari banyak interaksi inhibisi enzim tergantung pada sejauh mana tingkat kenaikan serum obat.
Jika serum tetap berada dalam kisaran terapeutik interaksi tidak penting secara klinis (Stockley, 2013).
iv.Interaksi Isoenzim Sitokrom P450 dan Obat yang diprediksi
Parasetamol dimetabolisme oleh CYP2E1, metronidazole menghambatnya, sehingga tidak mengherankan bahwa metronidazole meningkatkan efek parasetamol (Medscape, 2019).
d. Interaksi pada ekskresi obat i. Perubahan pH urin
Nilai pH tinggi (basa), obat yang bersifat asam lemah (pKa 3-7,5) sebagian besar terdapat sebagai molekul terionisasi, yang tidak dapat berdifusi ke dalam sel
tubulus maka akan tetap dalam urin dan dikeluarkan dari tubuh. Sebaliknya, basa lemah dengan nilai pKa 7,5 sampai 10.5. Dengan demikian, perubahan pH yang meningkatkan jumlah obat dalam bentuk terionisasi, meningkatkan hilangnya obat (Stockley, 2013).
ii. Perubahan ekskresi aktif tubular renal
Obat yang menggunakan sistem transportasi aktif yang sama ditubulus ginjal dapat bersaing satu sama lain dalam hal ekskresi. Sebagai contoh, probenesid mengurangi ekskresi penisilin dan obat lainnya. (Stockley, 2013).
iii.Perubahan aliran darah renal
Aliran darah melalui ginjal dikendalikan oleh produksi vasodilator prostaglandin ginjal. Jika sintesis prostaglandin ini dihambat, ekskresi beberapa obat dari ginjal dapat berkurang (Stockley, 2013).
2.2.1.2 Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja pada sistem reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologik yang sama sehingga terjadi efek yang aditif, sinergistik, atau antagonistik tanpa ada perubahan kadar plasma ataupun profil farmakokinetik lainnya. Salah satu contoh dari perubahan ini adalah peningkatan toksisitas digoksin akibat penggunaan diuretik tiazid. Interaksi farmakologis, yaitu, penggunaan bersamaan dari dua atau lebih obat dengan tindakan farmakologis yang sama atau menentang (misalnya, penggunaan alkohol dengan obat antiansietas dan hipnotik atau antihistamin), adalah bentuk interaksi farmakodinamik.
a. Interaksi Aditif atau Sinergis
Jika dua obat yang memiliki efek farmakologis yang sama diberikan bersamaan efeknya bisa bersifat aditif. Sebagai contoh, alkohol menekan SSP, jika diberikan
dalam jumlah sedang dengan dosis teraupetik normal sejumlah besar obat (misalnya ansiolitik, hipnotik, dan lain-lain), dapat menyebabkan mengantuk berlebihan.
Kadang-kadang efek aditif menyebabkan toksik (misalnya aditif ototoksisitas, nefrotoksisitas dan depresi sumsum tulang (Stockley, 2013).
b. Antagonisme
Interaksi terjadi bila obat yang berinteraksi memiliki efek farmakologi yang berlawanan sehingga mengakibatkan pengurangan hasil yang diinginkan dari satu atau lebih obat.
2.2.2 Tingkat Keparahan Interaksi Obat
Potensi keparahan interaksi sangat penting dalam menilai risiko dan manfaat terapi alternatif. Dengan penyesuaian dosis yang tepat atau modifikasi jadwal penggunaan obat, efek negatif dari kebanyakan interaksi dapat dihindari. Tiga derajat keparahan didefinisikan sebagai:
a. Keparahan Ringan (minor)
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan minor jika efek biasanya ringan; konsekuensi mungkin mengganggu atau tidak terlalu mencolok tapi tidak signifikan mempengaruhi hasil terapi. Pengobatan tambahan biasanya tidak diperlukan. Interaksi dengan tingkat keparahan minor ini risikonya minimal, untuk itu perlu diambil tindakan yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko.
b. Keparahan Sedang (moderate)
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan moderate jika efek yang terjadi dapat menyebabkan penurunan status klinis pasien. Pengobatan tambahan, perpanjangan pengobatan dan rawat inap mungkin diperlukan perawatan di rumah sakit. Interaksi dengan tingkat keparahan moderate biasanya kombinasi obat dihindari, sebaiknya penggunaan kombinasi tersebut hanya pada keadaan khusus.
c. Keparahan Berat (major)
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan major jika terdapat probabilitas yang tinggi, berpotensi mengancam jiwa atau dapat menyebabkan kerusakan permanen. Interaksi dengan tingkat keparahan major sebaiknya dihindari karena lebih besar risikonya dibandingkan keuntungannya.
2.2.3 Strategi Pelaksanaan Interaksi Obat a. Menghindari kombinasi obat yang berinteraksi
Jika risiko interaksi pemakaian obat lebih besar daripada manfaatnya maka harus dipertimbangkan untuk memakai obat pengganti. Pemilihan obat pengganti tergantung pada apakah interaksi obat tersebut merupakan interaksi yang berkaitan dengan kelas obat tersebut atau merupakan efek obat yang spesifik.
b. Penyesuaian dosis obat
Jika interaksi obat meningkatkan atau menurunkan efek obat maka perlu dilakukan modifikasi dosis salah satu atau kedua obat untuk mengimbangi kenaikan atau penurunan efek obat tersebut. Penyesuaian dosis diperlukan pada saat mulai atau menghentikan penggunaan obat yang berinteraksi.
c. Pemantauan pasien
Jika kombinasi yang saling berinteraksi diberikan, maka diperlukan pemantauan pasien. Keputusan untuk memantau atau tidak tergantung pada berbagai faktor, seperti karaktteristik pasien, penyakit lain yang diderita pasien, waktu mulai menggunakan obat yang menyebabkan interaksi dan waktu timbulnya reaksi interaksi obat.
d. Melanjutkan pengobatan seperti sebelumnya
Jika interaksi obat tidak bermakna klinis atau jika kombinasi obat yang berinteraksi tersebut merupakan pengobatan optimal, pengobatan pasien dapat diteruskan.
Profesional perawatan kesehatan perlu menyadari sumber interaksi obat yang mengidentifikasi kedekatan dan tingkat keparahan interaksi dan mampu menggambarkan hasil potensi interaksi dan menyarankan intervensi yang tepat. Hal ini juga tugas pada profesional kesehatan untuk dapat menerapkan literatur yang tersedia untuk setiap situasi. Profesional kesehatan harus mampu untuk merekomendasi secara individu berdasarkan parameter pasien tertentu. Meskipun beberapa pihak berwenang menyarankan efek samping yang dihasilkan dari interaksi obat mungkin kurang sering daripada yang dipercaya, profesional perawatan kesehatan harus melindungi pasien terhadap efek berbahaya dari obat- obatan, terutama ketika interaksi tersebut dapat diantisipasi dan dicegah.
2.3 Rumah Sakit, Apoteker dan Dokter
Rumah sakit merupakan salah satu instalasi kesehatan terbesar, dimana terdapat jenis pelayanan yang mendukung kesehatan masyarakat seperti pelayanan medik, penunjang klinik, kefarmasian, penunjang nonklinik, keperawatan, kebidanan dan rawat inap (Nabila dkk., 2014).
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. Upaya penyelenggaraan kesehatan tersebut meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat (Menkes RI, 2008).
Peran apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien yang membutuhkan. Apoteker harus memahami dan menyadari
kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan dan mengidentifikasi, mencegah serta mengatasi masalah terkait obat (drug related problems), masalah farmakoekonomi, dan farmasi sosial. Untuk menghindari hal tersebut, apoteker harus menjalankan praktik sesuai standar pelayanan. Apoteker juga harus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional. Dalam melakukan praktik tersebut, apoteker juga dituntut untuk melakukan monitoring penggunaan obat, melakukan evaluasi serta mendokumentasikan segala aktivitas kegiatannya (Menkes RI, 2016). Dalam pelayanan obat ini apoteker harus berorientasi pada pasien/penderita, apakah obat yang diinginkan pasien tersebut dapat menyembuhkan penyakitnya serta ada tidaknya efek samping yang ditimbulkan (Rasdianah, 2011).
Peran dan tugas seorang dokter yaitu melakukan pemeriksaan pada pasien untuk mendiagnosa penyakit pasien secara cepat dan memberikan terapi secara tepat, memberikan terapi untuk kesembuhan penyakit pasien, menangani penyakit akut dan kronik (Aziz dkk., 2018).
Terapi dengan obat biasanya terwujudkan dalam penulisan resep sebagai tindakan terakhir konsultasi penderita dengan dokternya setelah seorang dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan penunjang, diagnosis dan prognosis penderita.
Oleh karena itu seorang dokter harus mampu memahami titik-titik rawan yang terdapat pada penulisan resep guna menghindari terjadinya medication error (Aziz dkk., 2018).
Kolaborasi antar tenaga kesehatan diperlukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada pasien. Kolaborasi antar tenaga kesehatan didefinisikan sebagai professional tenaga kesehatan dengan peran yang saling melengkapi dan kooperatif
bekerja sama, berbagi tanggung jawab untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk merumuskan dan melaksanakan rencana perawatan pasien. Oleh karena itu diperlukan kesepahaman dokter dan apoteker tentang masalah terkait obat (Herawati dkk., 2016).
2.4 Pengetahuan
2.4.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2014).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif akan lebih bertahan lama dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang tidak positif (Notoatmodjo, 2014).
2.4.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2014) dalam domain kognitif, pengetahuan mempunyai 6 tingkat, yakni:
a. Tahu (know)
Tahu merupakan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesfik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh sebab itu ‘tahu’ ini adalah merupakan tingkat pengetahuan