Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 253 VISUALISASI“RWA BHINEDA”PADA DESAIN INTERIOR
RUMAH SAKIT SURYA HUSADHA DENPASAR I MADE JAYADI WAISNAWA
Dosen ISI Denpasar E-mail: [email protected]
ABSTRACT
Surya Husadha is one private hospital in Bali are now beginning to make improvements in terms of physical appearance especially the interior. This effort is intended to attract the attention and interest of the community so the impression of space is presented different from the hospital in general. The method used is descriptive qualitative to clarify the application of the concept. Rwa bhineda is the concept of Hindu’s society believes in Bali of the existence of two different things but always in related. This concept is associated with the hospital logo is a circle with an accent stripe forming the letter “S”. In its application into space, this concept is a combination between a design vocabulary and philosophy of the Hindu community in Bali. Design in a form of shapes and colors will be associated with the meanings of philosophy as a system of upstream - teben (mountain - sea), the orientation of the cosmological (east - west), the gods of nine directions of the compass (dewata nawa sanga) and also supported by the application of ornaments which reflects the distinctive culture of the Balinese.
Keywords: Visualization, Rwa-Bhineda, interior, surya husadha hospital ABSTRAK
Surya Husadha merupakan salah satu rumah sakit swasta di Bali yang sedang mengembangkan penampilan fisik khususnya interior. Usaha ini dimaksudkan untuk menarik perhatian dan minat masyarakat sehingga kesan ruang yang dihadirkan berbeda dari ruamh sakit pada umumnya. Metoda yang dipergunakan adalah deskriptif kualitatif untuk memperjelas aplikasi konsep. Rwa Bhineda merupakan konsep kepercayaan masyarakat Hindu diBali akan adanya dua hal yang berbeda namun selalu berkaitan. Konsep ini dihubungkan dengan logo rumah sakit yang berbentuk lingkaran dengan aksen garis membentuk huruf
“S”.Dalam aplikasinya ke dalam ruang, konsep ini merupakan kombinasi antara perbendaharaan desain serta filosofi masyarakat Hindu di Bali. Desain berupa bentuk dan warna akan dihubungkan dengan makna- makna filosofi seperti adanya sistem hulu-teben (gunung-laut),orientasi kosmologis (timur-barat), dewa- dewa disembilan penjuru mata angin (dewata nawa sanga) serta didukung dengan penerapan ornamen yang mencerminkan budaya khas daerah Bali.
Kata Kunci: visualisasi, Rwa Bhineda, interior, Rumah Sakit Surya Husadha I. PENDAHULUAN
Kondisi lingkungan yang tidak menentu pada saat sekarang ini akan sangat berdampak bagi kelangsungan hidup masyarakat. Polusi udara, cuaca panas sertaaktivitas yang padat akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Selain factor yang disebabkan oleh alam, berkembangnya jenis makanan dan minuman yang sering dikonsumsi masyarakat juga memberikan pengaruh kuat akan turunnya kualitas kesehatan. Fakta ini dapat dilihat dari tempat-tempat yang menyediakan makanan cepat saji yang bias ditemukan hampir diseluruh sudut kota. Makanan ringan dengan tambahan bahan pengawet kini ditawarkan dengan harga dijangkau, bahkan maraknya penggunaan bahan–bahan kimia pada makanan membuat masyarakat semakin waspada dalam mengkonsumsi makanan.Kondisi ini semakin diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, menjaga pola makan serta berolahraga. Kemajuan jaman seolah – olah menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utama dalam hidup sehingga melupakan waktu untuk menjaga
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 254 kesehatan. Pada kenyataanya, tubuh memang mampu mengatasi penyakit yang masuk melalui makanan dan minuman, tapi dengan jumlah yang berlebihan dan dalam jangka waktu tertentu akan dapat menggangu kesehatan. Dengan kondisi seperti ini, kesehatan menjadi hal yang sangat penting dalam rangka kelangsungan hidup jasmani dan rohani. Tanpa kondisi badan yang sehat segala sesuatunya bisa terhambat bahkan tidak mampu dijalankan. Kesadaran akan kesehatan sangat membantu kita dalam memahami keseimbangan antara kekuatan tubuh dalam melakukan aktivitas dengan keperluan tubuh untuk beristirahat. Disamping cukup dalam beristirahat, menjaga pola makan dan selalu meluangkan waktu untuk berolahraga menjadi usaha yang wajib dalam menjaga kesehatan.
Kesadaran yang tumbuh dari dalam diri sendiri akan semakin lengkap dengan pemerikasaan kesehatan yang berkelanjutan pada fasilitas publik yang menyediakan layanan kesehatan, seperti puskesmas, konsultan kesehatan dan rumah sakit.
Sebagai salah satu fasilitas public yang memberikan layanan kesehatan untuk masyarakat, rumah sakit diharapkan mampu berkembang baik dari segi fisik maupun nonfisik. Cara pandang masyarakat terhadap rumah sakit sedikit demi sedikit harus dibenahi. Kesan rumah sakit yang negative harus dirubah menjadi hal yang positif. Beberapa upaya yang telah dilakukan seperti memberikan pelayanan yang cepat terhadap pasien, fasilitas yang lengkap serta suasana konsultasi yang nyaman telah dilakukan. Namun pada kenyataannya rasa tidak puas dan kesan negatif masih tetap dirasakan. Surya Husadha merupakan salah satu rumah sakit swasta di Bali yang kini mulai melakukan pembenahan baik dari segi fisik maupun non fisik. Beberapa cabang dan klinik kesehatan kini dibangun di beberapa tempat yang memiliki potensi strategis guna melayani kesehatan masyarakat. Menanggapi rendahnya kesadaran akan kesehatan dan kesan negative masyarakat terhadap rumah sakit, Surya Husadha mencoba mengembangkan penampilan fisik khususnya interior yang berbeda dari rumah sakit pada umumnya. Langkah ini diambil dengan harapan membangun kembali kesan positif terkait ruang pada rumah sakit. Penampilan ruang yang berbeda dimaksudkan untuk menarik perhatian dan minat masyarakat sehingga mengunjungi rumah sakit layaknya berekreasi. Mengunjungi rumah sakit untuk berkonsultasi maupun berobat menjadi menyenangkan seperti halnya mengunjungi pusat perbelanjaan atau fasilitas publik yang menawarkan suasana santai.
Rwa Bhineda merupakan konsep yang dirasakan mampu menghubungkan budaya masyarakat Hindu di Bali dengan kasus yang diambil yaitu rumah sakit Surya Husadha. Filosofi konsep Rwa Bhineda merupakan kepercayaan masyarakat Hindu di Bali akan adanya dua hal yang berbeda namun selalu berkaitan. Konsep ini dihubungkan dengan logo rumah sakit yang berbentuk lingkaran dengan aksen garis membentuk huruf“S”. Aksen huruf “S”pada logo memisahkan dua bidang seperti halnya simbol Yin dan Yang pada kepercyaan masyarakat Cina. Makna dari logo rumah sakit ini pun sejalan dengan makna filosofi yang terdapat pada konsep Rwa Bhineda. Dua bidang yang terpisah inilah yang menjadi inspirasi konsep Rwa Bhineda seperti adanya lelaki- perempuan, siang -malam, utara-selatan, hidup- mati serta dua hal berbeda yang bertentangan namun akan menimbulkan sebuah keseimbangan. Dalam aplikasinya kedalam ruang, konsep ini merupakan kombinasi antara perbendaharaan desain serta filosofi masyarakat Hindu di Bali.
Desain berupa bentuk dan warna akan dihubungkan dengan makna-makna filosofi seperti adanya sistem hulu-teben (gunung-laut), orientasi kosmologis (timur-barat), dewa-dewa disembilan penjuru mata angin(dewata nawa sanga) serta didukung dengan penerapan ornamen yang mencerminkan budaya khas daerah Bali.
Pengembangan desain melalui konsep Rwa Bhineda ini diharapkan tidak hanya mampu menumbuhkan kesadaran mengenai kesehatan dan memperbaiki kesan rumah sakit di mata masyarakat, namun juga mampu menghadirkan suasana budaya Bali pada setiap ruangnya.
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 255 II. PEMBAHASAN
Makna Konsep Rwa Bhineda
Lahirnya manusia dipercaya merupakan hasil dari bersatunya unsure purusa (lelaki) dan pradhana (perempuan). Dasar ini menjadikan manusia sebagai objek yang paling berpengaruh terhadap makna konsep Rwa Bhineda. Manusialah yang melahirkan pemahaman tentang kehidupan melalui pola dua baik dari pemahaman diri sendiri maupun terhadap alam. Sebagai maklhuk yang memiliki kemampuan paling lengkap, manusia mampu membedakan situasi yang dialami dan dirasakan. Perkembangan pengetahuan membawa manusia untuk meyakini bahwa ada dual hal yang selalu berdampingan atau berpasangan dalam menjalani hidup. Adanya manusia yang meninggal kemudian diikuti dengan lahirnya manusia yang baru, atau sebaliknya. Sesuatu yang dianggap benar karena disepakati memberikan hasil yang berguna, kemudian dianggap salah karena tidak bermanfaat. Ketika ada orang jatuh sakit, kemudian diobati dan akhirnya sembuh.
Selain memahami diri sendiri, pemahaman terhadap alam juga membawa manusia mengenal pola dua. Matahari muncul disatu sisi bumi, kemudian menghilang disisi lainnya dipahami sebagai terbit dan terbenamnya matahari. Saat sinar matahari memancarkan cahaya terasa terang dan saat matahari menghilang terasa gelap, situasi ini disebut dengan siang dan malam (Rupawan, 2008). Kepercayaan masyarakat Hindu juga memaknai arah utara(hulu) yang berwujud gunung sebagai area utama dan arah selatan (teben) yang berwujud laut sebagai area nista.
Bahkan dalam filosofi masyarakat tradisional Hindu di Bali mencerminkan alam (makrokosmos) pada diri manusia yang disebut dengan bhuana alit (mikrokosmos).
Terdapat lingkungan yang besar atau bersifat agung yang didalamnya dihuni oleh wujud kecil (Dwijendra, 2009).
Pemaparan di atas mengandung pengertian bahwa secara mendasar, Rwa Bhineda merupakan pemahaman manusia mengenai apa yang dialami dan dilihat dari lingkungannya. Manusia memegang peranan dalam mengilustrasikanbentuk, suasana maupun memaknai alam. Pengetahuan menjadikan manusia mampu memahami alam secara lebih kompleks. Bentuk-bentuk alam disederhanakan menjadi bentuk-bentuk dasar yang kemudian dikelompokkan sehingga lebih mudah untuk dipelajari. Warna-warna yang dihadirkan alam mulai disadari berpengaruh terhadap kehidupan khususnya psikologis manusia. Sebagai tahap awal dalam memaknainya, manusia akan berusaha untuk mengklasifikasikan segala sesuatu menjadi pola dua. Pola sederhana dimana terdapat dua hal yang berbeda amun akan selalu berpasangan dan saling membutuhkan (Sumarjo, 2010).
Masyarakat tradisional khususnya Bali mengenal konsep Rwa Bhineda melalui simbol warna hitam dan putih, seperti halnya konsep Yin dan Yang. Warna hitam melambangkan kejahatan, sedangkan warna putih melambangkan kebaikan. Aplikasi warna hitam putih ini dapat dijumpai pada sarana upacara yang bersifat sakral dan kain yang membentang menutupi sebagian batang pohon besar. Kesan yang melekat pada kain hitam dan putih dari pemahaman masyarakat tradisional sampai sekarang adalah suasana angker, religius dan sakral. Namun, filosofi warna hitam dan putih (Rwa Bhineda) ini sebenarnya melambangkan dua sifat atau wujud berbeda yang harus dipandang dan diyakini sebagai kemahakuasaan Tuhan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah lebih menekankan pada adanya perbedaan dan keseimbangan. Dua hal yang memiliki perbedaan dan saling berdampingan atau berpasangan, namun jika dua hal ini mampu diseimbangkan maka akan memberikan keharmonisan.
Garis, Bidang dan Volume
Konsep Rwa Bhineda jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari akan dapat diilustrasikan dan di contohkan dengan banyak hal yang mungkin tidak terbatas. Namun jika diamati dan disederhanakan, ilustrasi atau contoh dari makna konsep Rwa Bhineda dapat dibagi menjadi tiga yaitu berdasarkan sifat, posisi atau letak dan visual. Senang-sedih, sehat-sakit, manis- pahit, panas-dingin merupakan ilustrasi yang di dasarkan atas sifat. Dua hal yang berbeda ini hanya
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 256 dapat dirasakan oleh tubuh manusia melalui dua indra yaitu kulit dan lidah atau pun oleh rasa. Berdasarkan letak atau posisi berupa kanan-kiri, utara-selatan, atas-bawah, jauh-dekat dan masih banyak yang lainnya. Dua yang berbeda dimaksudkan disini adalah suatu hal yang dapat dilihat dan dirasakan namun cukup sulit untuk divisualkan. Yang ketiga adalah berdasarkan wujud atau dapat divisualkan,beberapa contohnya seperti besar-kecil, tinggi-rendah, panjang- pendek, kasar- halus, keras-lunak. Dua hal yang berbeda ini dapat kita rasakan, dilihat dan dikembangkan secara visual. Desain interior merupakan ilmu yang berkaitan erat dengan unsur visual sehingga mata menjadi instrument penting didalamnya. Berdasarkan pembagian dari contoh yang mengandung makna konsep Rwa Bhineda, maka kelompok ketiga memiliki kesesuaian hubungan dengan desain interior sehingga memudahkan dalam aplikasinya. Besar-kecil, tinggi- rendah, panjang-pendek, kasar-halus, keras-lunak merupakan beberapa wujud visual yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam proses desain interior. Untuk menghubungkan kebutuhan desain dengan konsep Rwa Bhineda maka wujud visual akan dikembangkan melalui unsure dasar seni rupa yaitu garis, bidang dan volume.
Visualisasi bentuk bidang konsep Rwa Bhineda Sumber: produksi penulis
Laki-laki dan perempuan merupakan salah satu contoh terlengkap dari konsep Rwa Bhineda, dimana dua unsure ini memiliki perbedaan fisik maupun nonfisik namun dalam kehidupan ditakdirkan untuk berpasangan atau berdampingan. Sebagai salah satu unsur terlengkap yang merepresentasikan perbedaan, maka laki-laki dan perempuan akan dijadikan dasar dalam menghubungkan konsep Rwa Bhineda dengan unsur-unsur dasar seni rupa.
Manusia (bhuana alit) sebagai cerminan terkecil dari alam (bhuana agung) melalui ilmu pengetahuan sering disimbolkan dengan unsur dasar seni rupa yaitu garis, bidang dan volume. Simbolisasi ini didasarkan atas penampilan fisik dan non fisik secara norrmal dari manusia itu sendiri. Penampilan fisik dapat dilihat langsung oleh mata dan nonfisik biasanya didasarkan oleh karakter manusia secara normal.
Anggota tubuh manusia telah menjadi salah satu dasar dalam menentukan simbol laki-laki dan perempuan. Tangan kanan pada manusia biasanya memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan dengan tangan kiri sehingga bagian kanan sebagai simbol laki-laki dan bagian kiri sebagai simbol perempuan. Hal serupa juga dipercayai oleh masyarakat Hindu di Bali bahwa kanan sebagai simbol laki-laki
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 257 dan kiri sebaga isimbol perempuan. Pada salah satu alat music (gambelan) masyarakat Bali yaitu kendang atau genderang sisi dengan dimensi lebih besar akan dimainkan menggunakan tangan kanan sedangkan sisi yang memiliki dimensi lebih kecil akan dimainkan menggunakan tangan kiri. Sisi kanan disebut dengan lanang (laki-laki) dan sisi kiri disebut wadon (perempuan). Contoh lain dapat ditemui pada salah satu tempat pemujaan leluhur. Sisi kanan diperuntukkan bagi leluhur laki-laki dan sisi kiri bagi leluhur perempuan.Pada tiang penyangga rumah tradisional masyarakat Bali dibagian tengah terdapat ornament yang melambangkan laki-laki dan permpuan. Ornamen dengan dimensi paling panjang merupakan simbol laki-laki dan yang lebih pendek sebagai simbolperempuan. Beberapa contoh tersebut jika diilustrasikan ke dalam unsur- unsur dasar seni rupa akan tampak seperti gambar diatas. Simbolisasi dari laki- laki dan perempuan tersebut jika ditransformaasikan kedalam unsure seni rupa akan berwujud garis lurus-lengkung, bidang persegi-lingkaran dan bangun/
volume balok- silinder (Sanyoto, 2009). Unsur seni rupa inilah yang akan dikembangkan untuk membentuk elemen pembentuk ruang maupun fasilitas.
Warna
Masyarakat Hindu diBali mengenal warna hitam dan putihsebagai simbol dari konsep Rwa Bhineda. Hal ini dapat dilihat dari pemakaian warna dalam setiap upacara agama dan adat di Bali. Jika dilihat dari hubungan makna bahwa antara Rwa Bhineda dan pelaksanaan upacara memiliki kesamaan dalam mewujudkan keseimbangan antara alam dan manusia.
Visualisasi warna konsep Rwa Bhineda Sumber: produksi penulis
Hubungan lainnya dapat dilihat dari keyakinan masyarakat Hindu di Bali akan adanya sembilan penjuru arah mata angin. Setia arah dijaga oleh dewa dengan berbagai kelengkapan seperti warna, angka, hari baik, lambang, senjata dan kekuatannya. Dari sembilan arah tersebut terdapat empat arah utama yaitu utara-selatan dan timur-barat.Empat penjuru arah mata angin ini jika dilambangkan dengan warna akan menjadi hitam-merah (utara-selatan) dan putih- kuning (timur- barat).Empat warna dipandang menjadi cirri utama akan adanya dualism dalam kehidupan antara manusia dan alam.
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 258 Empat warna yaitu hitam, merah, putih dan kuning jika diaplikasikan kedalam ruang akan memberikan pengaruh terhadap pikologis manusia yang berada di dalamnya. Berdasarkan ilmu seni rupa, masing-masing warna memiliki arti atau mengilustrasikan suatu hal. Seperti halnya warna hitam yang melambangkan ketegasan, penekanan, kekuatan serta mampu menghadirkan unsur-unsur positif. Merah melambangkan sifat yang agresif, memiliki energy dan memberikan semangat. Warna putih melambangkan kebersihan, cerah, merangsang dan memberikan kesan ringan atau sederhana. Warna kuning mengilustrasikan sinar mata hari yang menunjukkan keadaan terang dan hangat.
Kuning juga berarti kecemerlangan, kemenangan, kegembiraan, kehidupan serta mampu memberikan rasa optimis. Dalam hubungannya dengan interior, warna- warna ini akan sangat membantu suasana dan aktivitas manusia yang berada dalam ruangan khususnya dari segi psikologis (Darma prawira, 2002). Arti secara psikologis dari keempat warna ini juga memiliki kesamaan dengan keyakinan masyarakat Hindu dibali terhadap dewa-dewa pada masing-masing penjuru arah mata angin. Arah utara adalah stana dewa Wisnu dengan warna hitam yang melambangkan kekuatan dalam memelihara alam. Arah timur adalah dewa Iswara dengan warna putih yang melambangkan kesucian (bersih). Arah selatan adalah dewa Brahma dengan warna merah yang melambangkan api sebagai energi untuk menciptakan alam semesta dan arah barat adalah dewa Mahadewa dengan warna kuning yang melambangkan matahari dengan sinarnya yang hangat.
Aplikasi Konsep Rwa Bhineda
Konsep Rwa Bhineda akan dikembangkan berdasarkan simbolisasi dari laki-laki dan perempuan yang wujudnya akan disesuaikan dengan makna visual dari konsep (besar-kecil,tinggi- rendah, panjang-pendek dll). Simbolisasi laki-laki dan perempuan yang berwujud unsur-unsur seni rupa akan ditransformasikan secara substraktif dan aditif. Transformasi substraktif maksudnya adalah penggabungan dua bidang dimana terdapat bagian bidang pertama yang akan dihilangkan atau dikurangi oleh bidang kedua. Hasil dari transformasi ini akan membentuk bidang baru namun masih tetap memperlihatkan ilustrasi dari dua bidang sebelumnya. Transformasi aditif merupakan penambahan bidang dimana kedua bidang yang dipasangkan namun wujudnya tetap (Ching, 2008). Proses transformasi ini dilakukan untuk mempertahankan makna konsep yaitu dua hal yang berbeda namun saling berdampingan atau berpasangan.
Visualisasi transformasi konsep Rwa Bhineda Sumber: produksi penulis
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 259 Secara mendasar proses transformasi subtraktif dan aditif adalah seperti gambar di atas. Pengembangan desainnya akan dilakukan lebih lanjut disesuaikan dengan bentuk ruang maupun fasilitas. Selain berwujud tiga dimensi, hasil transformasi ini juga akan berbentuk dua dimensi yang teraplikasi dalam motif furnishing maupun pada elemen pembentuk ruang. Aplikasi warna didasarkan atas makna konsep yaitu adanya perbedaan yang berdampingan. Dari unsure warna, desain elemen pembentuk ruang dan fasilitas akan didominasi oleh keempat warna yang memiliki keterkaitan dengan konsep Rwa Bhineda. Hitam dan putih yang menjadi cirri khas konsep Rwa Bhineda menurut filosofi Hindu akan sedikit mendominasi dalam ruang. Secara keseluruhan warna hitam, putih, merah dan kuning akan ditempatkan dalam posisi yang bersilangan namun tetap memperhatikan prinsip kesatuan dan keharmonisan. Keempat warna tersebut juga akan dipadukan dengan warna-warna alam seperti kayu dan batu. Sebagai tahap akhir dari proses transformasi, baik bentuk maupun warna akan diberikan sentuhan budaya Bali. Nuansa budaya bali akan dihadirkan melalui ornament pada batu alam dan kayu. Bentuk-bentuk ornament akan dideformasi untuk mendapatkan bentuk baru tanpa menghilangkan ciri dan maknanya.
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 260 Visualisasi konsep Rwa Bhineda pada ruang dan furniture
Sumber: produksi penulis
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 261 III. PENUTUP
Pengembangan konsep Rwa Bhineda pada ruang dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa makna visual yang terkandung di dalamnya. Simbol atau pun makna konsep Rwa Bhineda dapat ditransformasikan kedalam elemen desain.
Garis, bidang, volume dan warna merupakan beberapa elemen visual dari hasil transformasi makna konsep Rwa Bhineda.
Substraktif dan aditif merupakan metoda yang dipergunakan untuk mendapatkan visual konsep Rwa Bhineda yang dapat diaplikasikan ke dalam ruang.
Seminar Nasional Filsafat, 17 Maret 2017 | 262 DAFTAR PUSTAKA
Ching, Francis.D.K.(2007), ArchitectureForm, Space and Order atau Arsitektur Bentuk, Ruangdan Tatanan, terjemahan Hanggan Situmorang (2008), Erlangga, Jakarta.
Darma prawira, Sulasmi W.A.(2002),Warna, Teori dan Kreativitas Penggunanya.
ITB, Bandung.
Dwijendra. N.K.Acwin. (2009), Arsitektur Rumah Tradisional Bali, Udayana University Press dan CV Bali Media Adhi karya, Denpasar.
Rupawan, IKetut. (2008), Saput Poleng Dalam Kehidupan Beragama Hindu diBali, Pustaka Bali Post, Denpasar.
Sanyoto, Sadjiman Ebdi. (2010), Nirmana, Jalasutra, Yogyakarta.
Sudarsana, I. K. (2016, April). Meningkatkan Perilaku Kewirausahaan Wanita Hindu melalui Pemberian Pelatihan Upakara. In Seminar Nasional (No. ISBN : 978- 602-72630-5-5, pp. 79-85). Pusat Studi Gender dan Anak LP2M IHDN Denpasar.
Sumardjo, Jakob. (2010),Estetika Paradoks, Sunan Ambu Press STSI Bandung, Bandung.