HYGIENE SANITASI RUMAHDENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE Sanitation Hygiene Home with Events Dengue
*Indra **Elvi Juliansyah
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kapuas Raya Sintang Abstract
Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virusdengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes.
Tahun 2012 di Kabupaten Sintang terjadi 129 kasus DBD menyebar di 11 kecamatan dan yang meninggal 1 orang dengan angka kematian 0,78 %.Metode penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan analitik dan desain cross sectional. Total populasi 2829 Responden. 102 responden sebagai sampel diambil dengan teknik random sampling.
Hasil uji statistik diketahui ada hubungan sarana air bersih dengan kejadian DBD (p=0,03), tidak ada hubungan sarana pembuangan sampah (p=0,480), tidak ada hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian DBD (p=0,297). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara sarana air bersih dengan kejadian DBD, sedangkan sarana pembuangan sampah dan pembuangan air limbah tidak ada hubungan bermakna.
Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Sarana air bersih, Sarana Pembuangan Sampah, Pembuangan air limbah.
Abstract
Dengue fever (DF) is an acute febrile disease caused by the dengue virus, which goes into the human circulatory system by mosquitoes of the genus Aedes. In 2012 Sintang occurred 129 cases of dengue spread in 11 districts and the dead one person with a mortality rate of 0.78%. This research method is observational analytic approach and cross-sectional design. The total population of 2829 respondents. 102 respondents as samples taken by random sampling technique. Statistical test results are known there is a relationship of clean water with incidence of dengue (p = 0.03), no garbage disposal facilities relationship (p = 0.480), there was no relationship wastewater disposal with dengue incidence (p = 0.297). The conclusion of this study is there a significant relationship between the water systems in the incidence of dengue, while the means of waste disposal and waste water disposal there is no significant relationship.
Key Words: Dengue, Water supply systems, Waste Disposal Facility, Sewage Disposal.
A. Pendahuluan
Tujuan pembangunan Nasional di bidang kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat.Menurut World Health
Organization (WHO) tahun 1948 menyebutkan bahwa Sehat adalah sebagai
“suatu keadaan fisik, mental,sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”.Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk
memenuhi salah satu hak dasar masyarakat yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang undang Dasar 1945 khususnya Pasal 28 H ayat 1 dan Undang Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 71 ayat 2 dan 3 yang membahas mengenai kesehatan reproduksi termasuk dilaksanakan melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Demam berdarah (DB)
adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virusdengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah. Virus dengue merupakan virus dari genusFlavivirus, famili Flaviviridae. Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembab.
(Indrawan, 2001).
Kasus denguetelah tumbuh secara dramatisdi seluruh duniadalam beberapa dekade terakhir. Lebih dari2,5 miliarorang- lebih dari 40% dari populasi dunia- sekarangberisikodengue. World Health Organization (WHO) memperkirakan saat ini mungkin ada 50-100000000 infeksi dengue di seluruh dunia setiaptahun. (WHO, 2014)
Sebelumtahun 1970, hanya sembilannegara
telahmengalamiepidemidemam berdarah yang parah. Penyakit ini sekarang endemik dilebih dari 100 negaradi Afrika, Amerika, Mediterania Timur, AsiaTenggara
danPasifik Baratdaerahyangmenderita paling parah.
Tahun 2013 kasus yang terjadi di Florida (Amerika Serikat) dan provinsi Yunnan di Cina. Dengue juga terus mempengaruhi beberapa negara Amerika selatan terutama Honduras, Kosta Rika dan Meksiko. Di Asia, Singapura telah melaporkan peningkatan kasus setelah selang beberapa tahun dan wabah juga telah dilaporkan di Laos. Tahun 2014, menunjukkan tren peningkatan jumlah kasus di Kepulauan Cook, Malaysia , Fiji dan Vanuatu , dengan Dengue Tipe 3 ( DEN 3 ) yang mempengaruhi negara-negara Kepulauan Pasifik setelah selang lebih dari 10 tahun.Diperkirakan 500 000 orang dengan demam berdarah yang parah memerlukan rawat inap setiap tahun, sebagian besar di antaranya adalah anakanak.Sekitar2,5%
penderita DBD terjadi kematian. (WHO, 2014)
Indonesia, DBD cenderung semakin meningkat jumlah penderitanya dan semakin menyebar luas. Tahun 2011 pasien laki-laki 30.232 dan pasien perempuan 28.883, dengan jumlah yang meninggal dunia 325dengan angka kematian kejadian 0,55
%.Semula diperkirakan bahwa penyakit DBD hanya terjadi di daerahperkotaan saja tetapi ternyata dugaan tersebut salah, karena sekarangbanyak daerah indonesia (Profil Dinas Kesehatan Kalimantan Barat).
Kalimantan Barat, tahun 2011 sampai dengan bulan April telahdilaporkan sebanyak: 729 penderita DBD dengan kematian: 10 penderita dengan angka kematian kejadian1,37%. Jumlah kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten
cenderung mengalami peningkatan.
Hasilpendataan dari instansi terkait jumlah kejadian DBD adalah sebagaiberikut:
33orang (tahun 2012), 9 orang (tahun 2013), 27 orang (tahun 2014) sampai dengan bulan Mei (Profil Dinas Kesehatan. Sintang, Kalimantan Barat).
Tahun 2012 di Kabupaten Sintangterjadi 129 kasus DBD menyebar di 11 kecamatan dan yang meninggal 1 orang dengan angka kematian 0,78 %, Tahun 2011terjadi 41 kasus DBD di 8 kecamatan dari 14 kecamatan, yang meninggal dunia tidak ada, tahun 2010 dengan angka kematian kejadian 1,3 %. Tahun 2012 merupakan kasus puncak DBD yang merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan siklus 3 tahunan, Dimana tahun 2012 lonjakan kasus DBD dapat ditekan karena dilakukan intervensi untuk menekan lonjakan kasus DBD tersebut. (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang).
Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Durian tahun 2010 Kecamatan Sintang Kabupaten Sintangditemukan penyakit DBD sebanyak 17 kasus. tahun 2011 ditemukan sebanyak 10 kasus. tahun 2012 ditemukan sebanyak 33 kasus. tahun 2013 ditemukan sebanyak 9 kasus dan tahun 2014 ditemukan sebanyak 27 kasus DBD.
Kasus DBD di kelurahan Kapuas Kanan Hulu tahun 2010 ditemukan penyakit DBD sebanyak 10 kasus. tahun 2011 ditemukan sebanyak 8 kasus. tahun 2012 ditemukan sebanyak 22 kasus. tahun 2013 ditemukan sebanyak 8 kasus dan tahun 2014 ditemukan sebanyak 19 kasus Melihat data tersebut dapat diartikan bahwa tahun 2015 dimungkinkan akan terjadi lonjakan kasus DBD.
Untuk menanggulangi lonjakan kasus DBD pada tahun 2015 perlu ada intervensi pada daerah-daerah kasus DBD sehingga tidak terjadi KLB DBD. Khususnya perlu memperhatikan aspek lingkungan dan kesadaran masyarakat perlu dilakukan sebagai upayauntuk menurunkan angka kejadian Demam Berdarah.
B. Metode
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional study yang bertujuan untuk melihat hubungan antara beberapa variable yaitu variable independen dan variabel dependen dimana variable diamati secara bersamaan dan waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010).
Jenis penelitian ini berusaha mempelajari dinamika hubungan hubungan atau korelasi antara faktor-faktor risiko dengan dampak atau efeknya. Faktor risiko dan dampak atau efeknya diobservasi pada saat yang sama, artinya setiap subyek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor risiko serta dampak diukur menurut keadaan atau status pada saat observasi.Angka rasio prevalensi memberi gambaran tentang prevalensi suatu penyakit di dalam populasi yang berkaitan dengan faktor risiko yang dipelajari atau yang timbul akibat faktor-faktor risiko tertentu.
Setelah dilakukan perhitungan jumlah populasi 2829, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 92 responden dan untuk menjaga tidak ada sampel yang drop out selama penelitian maka ditambahkan 10 sampel sehingga didapatkan hasil total sampel untuk penelitian sebanyak 102 sampel.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan Simple Random Sampling yaitu metode pengambilan sampel secara acak dimana masing-masing populasi mempunyai peluang yang sama besar untuk terpilih sebagai sampel. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan observasi oleh peneliti secara langsung kepada responden
tentang mengenai Hygiene Sanitasi Rumah Sehat, Perilaku Penghuni Rumah dan Pelayanan Kesehatan sedangkan data sekunder diperoleh dari diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Puskesmas Sungai Durian dan instansi terkait. Selain itu data juga diperoleh melalui studi pustaka dan data berbasis elektronik.
C. Hasil
1. Hasil Univariat Tabel 1
Distribusi frekuensi Kejadian DBD responden di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014
Variabel Responden
n %
Terkena DBD 54 52.92
Tidak Terkena DBD 48 47.04
Total 102 100.0
BerdasarkanTabel4.6diketahuibahwakej adian DBDresponden paling banyak yaitu Terkena DBD sebanyak 54 responden (52.92%) dan Tidak Terkena DBD yaitu sebanyak 48 responden (47.04%).
2. Hasil Bivariat
Tabel 2
Hasil hubungan antara Sarana air bersih dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten
Sintang tahun 2014 B
erd asa rka n Tab el 2 dik eta hui
bahwa Sarana Air Bersih Memenuhi Persyaratan pada responden dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 22responden (40.7%) dan Sarana Air Bersih Tidak Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 32 responden (59.3%). Hasil analisis statistik
berarti disimpulkan ada hubungan Sarana air bersih dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014. Dari hasil analisis statistic diperoleh Odds Ratio (OR) = 4.812 artinya sumber air
Variabel Kejadian Demam Berdarah Total P
Value OR Tidak Pernah 95%
n % n % n %
4,812 0,030 Sarana Air
Bersih
Memenuhi 6 21,4 22 78,6 28 100
Tdk memenuhi 42 58,6 32 43,2 74 100 Sarana
Sampah Memenuhi 4 33,3 8 66,7 12 100 1,913 0,480
Tdk memenuhi 44 48,9 46 51,1 90 100
SPAL Memenuhi 12 60 8 40 20 100 0,522 0,297
Tdk memenuhi 36 43,9 46 56,1 82 100
kejadian DBD dibandingkan dengan sumber air bersih yang memenuhi persyaratan.
Sarana Pembuangan sampah Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 8 responden (14.8%) dan Sarana Pembuangan sampah Tidak Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 46 responden (85.2%). Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p-value
= 0.480> 0,05 berarti disimpulkan tidak ada hubungan Sarana air bersih dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014. Dari hasil analisis statistic diperoleh Odds Ratio (OR) = 1.913 artinya sarana pembuangan sampah yang tidak memenuhi persyaratan mempunyai risiko 1.812 kali mengalami kejadian DBD dibandingkan dengan sarana pembuangan sampah yang memenuhi persyaratan.
Sarana Pembuangan Air Limbah Memenuhi Persyaratan pada responden dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 8 responden (40%) dan Sarana Pembuangan Air Limbah Tidak Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 46 responden (56.09%). Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p-value = 0.297> 0,05 berarti disimpulkan tidak ada hubungan Sarana Pembuangan Air Limbah dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014. Dari hasil analisis statistic diperoleh Odds Ratio (OR) = 0.522 artinya Sarana Pembuangan Air Limbah yang tidak memenuhi persyaratan mempunyai risiko 0.522 kali mengalami kejadian DBD dibandingkan denganSarana Pembuangan Air Limbah yang memenuhi persyaratan.
D. Pembahasan
1. Hubungan Sarana air bersih dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue
Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p-value = 0.03 ≤ 0,05 berarti disimpulkan ada hubungan Sarana air bersih dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014. Data menunjukan sarana air bersih yang dimiliki oleh responden sangat berhubungan dengan kejadian penyakit DBD.
Nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan.
Nyamuk Aedes aegypti, seperti halnya culicines lain, meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual.
Telur berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain. Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva.
Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar.
Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan waktu sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman.
Pupa bertahan selama 2 hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa.
Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari, namun dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung. (Iasakari 2014)
Hal ini serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh yuniati dengan judul
”Pengaruh sanitasi lingkungan pemukiman terhadap kejadian demam berdarah Dengue (DBD) di daerah aliran sungai deli kota“
pada tahun 2012 yang mendapatkan hasil ada pengaruh yang signifikan antara sampah, SPAL, tempat perindukan nyamuk, pencahayaan dan kelembaban, ventilasi
terhadap kejadian DBD di DAS Deli kota Medan.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Anastasia Pramudyawardhani (2012)Hubungan faktor lingkungan dan perilaku masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Klaten Utara Kab Klaten. Dan didapatkan hasil Kesimpulan bahwa faktor lingkungan berhubungan dengan kejadian DBD, sedangkan perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kejadian DBD yaitu kebiasaan menggantung pakaian, menguras tempat penampungan air, membuang sampah dan menggunakan anti nyamuk
Dengan keadaan lingkungan yang sangat memungkinkan berkembang biaknya nyamuk maka hal ini sangat berpengaruh, apalagi dengan kondisi sumber air bersih yang masih sangat kurang aman atau memiliki tutup yang membuat nyamuk dapat berkembang biak di dalam tempat tersebut.
Nyamuk Aedes aegypti tidak seperti nyamuk pada umumnya, Nyamuk Aedes aegypti memilih lokasi perkembang biakan di air yang bersih dan tidak terkontaminasi oleh tanah sehingga sumber-sumber air bersih yang terdapat di sekitar lingkungan rumah dijadikan saasaran yang baik untuk Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
Sarana air bersih yang tidak memenuhi persyaratan beresiko menjadi tempat berkembang biaknya vector pembawa penyakit di dalam penelitian ini khususnya nyamuk Aedes Aegypt yang pada dasarnya hanya bisa berkembang biak di air yang bersih sehingga sarana iar bersih yang kurang diperhatikan oleh pemilik menjadi sasaran untuk berkembang biak yang sangat baik oleh nyamuk.
2. Hubungan Sarana Pembuangan sampah dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue
Hasil analisis statistik menunjukkan nilai
tidak ada hubungan Sarana air bersih dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014. Data menunjukan bahwa Sarana Pembuangan sampah Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 8 responden (14.8%) dan Sarana Pembuangan sampah Tidak Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 46 responden (85.2%)
Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Apabila dibakar akan menimbulkan pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir.
Dan sampah bisa dapat menjadi tempat perkembang biakan vektor penyakit seperti nyamuk, lalat dan kecoa. Dari hasil penelitian yang dilakukan tampak jelas bahwa sampah tidak mempengaruhi kejadian DBD hal dimana lokasi yang dijadikan objek penelitian tidak memiliki tempat pembuangan sementara untuk menampung sampah rumah tangga bagi warga sekitar sehingga warga dengan mudahnya membuang sampah sembarangan tetapi ada kemungkinan tidak dapat menampung air bersih yang dapat dijadikan lokasi berkembang biak bagi nyamuk DBD.
3. Hubungan Sarana Pembuangan Air Limbah dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue
Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang memiliki Sarana Pembuangan Air Limbah Memenuhi Persyaratan pada responden dengan
responden (40%) dan Sarana Pembuangan Air Limbah Tidak Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 46 responden (56.09%). Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p-value = 0.297> 0,05 berarti disimpulkan tidak ada hubungan Sarana Pembuangan Air Limbah dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014.
Pengolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut.
Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaraan air limbah tersebut. Demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu dibuang.
Dalam kasus yang ditemukan dilapangan sangatlah menyedihkan hal ini dikarenakan pembuangan limbah yang dilapangan sangatlah tidak sesuai dengan standar kebersihan. Drainase yang bercampur aduk dengan sampah menyebabkan sarang nyamuk menjadi lebih mudah untuk berkembang biak.tetapi ini hanya untuk nyamuk biasa berkembang biak, khusus nyamuk DBD dhal ini tidak memungkinkan terjadi dikarenak an nyamuk dbd tidak dapat berkembang biak di air yang terkontaminasi oleh tanah.
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang bertempat tinggal di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014 dapat diambil keseimpulan sebagai berikut :Ada hubungan Sarana air bersih dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten
Sintang tahun 2014.dengan hasil analisis statistik menunjukkan nilai p-value = 0,03.Tidak ada hubungan Sarana Pembuangan sampah Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 8 responden (14.8%) dan Sarana Pembuangan sampah Tidak Memenuhi Persyaratan dengan kejadian Terkena DBD sebanyak 46 responden (85.2%). Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p-value = 0.480> 0,05 Tidak ada hubungan Sarana Pembuangan Air Limbah dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian Kabupaten Sintang tahun 2014 dengan hasil analisis statistik menunjukkan nilai p-value = 0.297 DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia .2011. Profil Kesehatan Indonesia.
Jakarta
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat.
2012. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang. 2013.
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang
Humolungo. Sri A. 2013. Hubungan Antara Pengetahuan dan sikap dengan tindakan ibu rumah tangga tentang pemberantasan sarang nyamuk DBD di Kel Malalayang Satu Kota Manado.
Jambi.
Kemenkes Republik Indonesia.2009.
Undang-Undang No 36 tentang Kesehatan, Jakarta.
Notoatmodjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan Rineka Cipta :Jakarta
Pramudyawardhani. Anastasia. 2012.
Hubungan factor lingkungan dan perilaku masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Klaten Utara Kab Klaten. Klaten..
Puskesmas Sui Durian. 2013. Profil Puskesmas Sui Durian
Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen.