BAB II
LANDASAN TEORI
Merupakan landasan yang bersifat teoretis yang relevan dengan pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Landasan teori digunakan sebagai kerangka pikir untuk mendekati permasalahan dan bekal untuk menganalisis data penelitian.
A. Pengertian Sosiolinguistik
Menurut Nancy (1980) , Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it’s focus, viewing variation or it social context.
Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistic variation, (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang linguistik yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran, serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor soaial itu dengan variasi bahasa (dalam Abdul Chaer dan Leonie Agustina, 2004 :4).
Berbeda dengan pengertian sosiolinguistik ditinjau dari segi nama, menyangkut sosiologi dan linguistik dan keduanya berkaitan erat. Sosiologi adalah kajian yang bersifat objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, dan mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Serta linguistik adalah bidang ilmu yag mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang
mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian Sosiolinguistik adalah bidang ilmu interdisipliner yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Abdul Chaer dan Leonie Agustina, 2004:2). Pendapat tersebut dikuatkan dengan pengertian sosiolinguistik menurut Sumarsono dan Paina Partana (2004;1) yang menyatakan bahwa sosiolinguistik menyangkut sosiologi dan linguistik, sosio adalah masyarakat, sedangkan linguistik adalah kajian tentang bahasa, sehingga sosiolinguistik dapat diartikan kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan(dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi)
Menurut Harimurti Kridalaksana (2011:225) sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Sosiolinguistik bukan saja menyoroti masalah bahasa dalam suatu masyarakat, melainkan bahasa berkaitan dengan perilaku sosial. Dalam pandangan sosiolinguitik bahasa dipandang sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi serta bagian kebudayaan masyarakat. Antara bahasa dengan budaya dan masyarakat penuturya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya atau tidak dapat berdiri sendiri. Dalam konferensi sosiolinguistik yang berlangsung di University of California, Los Angeles tahun 1964 (dalam Abdul Chaer dan Leonie Agustina. 2004:5) telah berhasil merumuskan ada tujuh dimensi yang berkaitan dengan masalah sosiolinguistik, yakni : 1) identitas sosial dari penutur, 2)dentitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi, 3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi, 4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek
social, 5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran, 6) Tingkatan variasi dan ragam linguistik, dan 7) Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik
Abdul Chaer dan Leoni Agustina (2004: 4) berpendapat bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi, dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur. Pendapat tersebut diperkuat dengan pendapat berikut ini, sosiolinguistik adalah studi tentang aspek-aspek kemasyarakatan bahasa , khususnya perbedaan-perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan (Nababan, 1993:2). Dari pandangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dan bahasa itu tidak dapat berdiri sendiri. Sehingga penelitian bahasa itu selalu memperhitungkan faktor-faktor lain di luar bahasa. Faktor itu bisa dari faktor sosial, misalnya status sosial, umur tingkat pendidikan, jenis kelamin, dan sebagainya.
Sedang faktor situasional misalnya siapa pembicara, kepada siapa dia berbicara, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa.
Dari beberapa pendapat tersebut, pendapat yang dapat digunakan untuk penelitian penggunaan bahasa di pedagang handphone di Plaza Singosaren kota Surakarta adalah pendapat dari Abdul Chaer dan Leoni Agustina serta pendapat Sumarsono dan Paina Partana, karena kedua pendapat tersebut menjelaskan bahwa bahasa itu memiliki hubungan dengan faktor-faktor sosial. Penggunaan bahasa Jawa
di pedagang handphone di Plaza Singosaren kota Surakarta memiliki hubungan antara bahasa dan faktor-faktor sosial masyarakat.
B. Masyarakat Bahasa
Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah yang banyaknya relatif), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang memiliki kepentingan sosial yang sama. Menurut Abdul Chaer (2003:59) masyarakat bahasa adalah kelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Lain halnya menurut Harimurti Kridalaksana (2001:147) mendefinisikan masyarakat bahasa dengan sebutan masyarakat tutur (speech community), yang artinya sekelompok orang yang merasa memiliki bahasa bersama atau yang merasa termasuk dalam kelompok itu, atau yang berpegang pada bahasa standar yang sama.
Konsep masyarakat tutur homogen (homogenous speech community) jelas-jelas mengingkari fakta bahwa masyarakat tutur tersusun atas anggota-anggota yang memiliki ciri fisik, kepribadian, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, asal kedaerahan yang memang hakikatnya berbeda-beda (Chomsky dalam Wijana dan Rohmadi, 2006 :45)
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat bahasa yaitu suatu kelompok masyarakat yang memiliki penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasanya yang dapat membentuk masyarakat tutur atau masyarakat bahasa. Sehingga sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa
yang sama serta mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasanya, mereka dapat disebut sebagai masyarakat bahasa atau masyarakat tutur.
Dengan ukuran-ukuran yang sangat relatif dalam sebuah masyarakat tutur sekurang-kurangnya dapat dibedakan dua jenis penutur, yakni penutur yang berkompeten (fully fledge speaker) dan penutur partisipatif (unfully fledge speaker) (Wijana dan Rohmadi, 2006:48). Penutur berkompeten adalah penutur yang benar- benar mampu menggunakan bahasa dalam berbagai tindak komunikasi. Penutur berkompeten tidak hanya memiliki pengetahuan tentang kosa kata dan struktur bahasa yang bersangkutan, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikannya secara pragmatis.
C. Alih Kode
Dell Hymes(1975:103) mendefinisikan alih kode sebagai istilah umum untuk menyebut pergantian atau peralihan pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi dari suatu bahasa, atau bahkan beberapa gaya dari suatu ragam (dalam Kunjana Rahardi, 2001:20). Dell Hymes juga membedakan alih kode menjadi dua, yakni alih kode intern (internal code switching) serta alih kode ekstern (external code switching). Alih kode intern (internal code switching) yakni alih kode yang terjadi antar bahasa daerah dalam suatu bahasa nasional, antar dialek dalam suatu bahasa daerah, atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam suatu dialek.
Berbeda dengan alih kode ekstern (external code switching) yakni alih kode yang terjadi antara bahasa asli dengan bahasa asing (dalam Kunjana Rahardi, 2001:20).
Sementara itu Harimurti Kridalaksana (2011:9) berpendapat bahwa alih kode adalah penggunaan variasai bahasa atau bahasa lain kedalam suatu bahasa untuk menyesuaikan diri dengan situasi lain atau karena adanya partisipasi lain.
Dalam situasi kedwibahasaan atau keanekabahasaan, sering kita melihat orang mengganti bahasa atau ragam bahasa, hal ini tergantung pada keadaan atau keperluan berbahasa itu sendiri. Kalau bahasa dipandang sebagai sistem kode, maka peralihan bahasa yang satu ke bahasa yang lain disebut alih kode, misalnya seorang penutur menggunakan bahasa Indonesia, dan kemudian beralih dengan menggunakan bahasa yang lain. Peralihan dari bahasa Indonesia ke bahasa yang lain itu disebut peristiwa alih kode (code switching). Namun, seperti telah diuraikan di atas, dalam suatu bahasa terdapat kemungkinan varian bahasa baik dialek, tingkat tutur, ragam maupun register. Dalam kaitan ini konsep alih kode ini mencakup juga dimana seseorang beralih dari satu ragam fungsiolek (misalnya ragam santai) ke ragam lain (misalnya ragam formal), atau dari satu dialek ke dialek yang lain (Nababan, 1993:31).
Lebih lanjut jika kita berpijak pada bahasa Jawa atau bahasa daerah yang memiliki sejumlah tingkat tutur yang mempunyai tingkat tutur yang kompleks, alih kode ini dapat diperluas dengan alih tingkat tutur. Alih kode ini terjadi, misalnya pada waktu seseorang berbicara dalam bahasa daerah yang formal dan hormat (krama), tiba-tiba penutur itu beralih ke bahasa Indonesia ragam formal, kemudian kembali ke krama lagi, lalu berganti ke ngoko, lalu ke bahasa Indonesia lagi, lalu ke krama, begitu selanjutnya.
Alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi (Apple dalam Rahardi, 2001:20). Secara sosial perubahan pemakaiana bahasa itu memang harus dilakuakan karena sangat tidak pantas atau tidak etis secara sosial untuk terus menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang ketiga. Oleh karena itu alih kode dapat dikatan memiliki fungsi sosial.
Abdul Chaer dan Leoni Agustina (2004:108) mamaparkan beberapa faktor penyebab terjadinya alih kode, antara lain :1) Pembicara atau penutur, 2) Pendengar atau lawan tutur, 3) Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, 4) Perubahan dari situasi formal ke informal atau sebaliknya, serta 5) Perubahan topik pembicaraan.
Alih kode ada yang disadari oleh penuturnya dan ada juga yang tidak disadari oleh penutur. Alih kode yang tidak disadari oleh penutur adalah biasanya penutur mencari jalan termudah dalam menyampaikan jalan pikirannya. Sedangkan alih kode yang disadari oleh penuturnya karena penutur mempunyai maksud-maksud tertentu.
Terjadinya alih kode itu disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Fishman (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 108) penyebab terjadinya alih kode dikembalikan kepada pokok persoalan sosiolinguistik yaitu siapa dia berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa alih kode adalah peristiwa peralihan bahasa dari bahasa satu kebahasa yang lain, dapat berupa alih kode intern ataupun alih kode ekstern yang dipengaruhi oleh beberapa faktor dan dilatar belakangi oleh maksud tertentu.
D. Campur Kode
Campur kode adalah suatu keadaan berbahasa bilamana orang mencampur dua atau lebih bahasa dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu kedalam bahasa yang lain. Unsur yang menyisip tersebut tidak lagi mempunyai fungsi sendiri (Wijana dan Rohmadi, 2006: 68). Menurut Harimurti Kridalaksana (2011:), campur kode (code mixing) adalah penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa kebahasa lain untuk memperluas gaya bahasa atau ragam bahasa, termasuk di dalamnya pemakaian kata, klausa, idiom, sapaan, dan sebagainya. Lain halnya menurut Nababan, campur kode adalah suatu keadaaan berbahasa bilamana orang mencampur dua bahasa atau lebih dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut adanya percampuran bahasa tersebut (1993:32).
Dari pendapat di atas dapat dilihat pada dasarnya campur kode adalah suatu peristiwa tutur yang menggunakan bahasa lebih dari satu dan saling memasukkan unsur bahasa yang satu ke dalam unsur bahasa yang lain. Ciri yang menonjol dalam campur kode ialah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi yang formal, jarang terdapat campur kode. Bila terdapat campur kode dalam keadaan demikian , itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa lain.
Hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya campur kode pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi dua tipe yaitu tipe yang berlatar belakang pada sikap attitudinal type dan tipe bahasa yang berlatar belakang kebahasaan linguistic type.
Campur kode dapat terjadi itu karena adanya hubungan timbal balik anatar penutur, bentuk bahasa dan fungsi bahasa (Suwito, 1997: 90). Pemilihan bentuk campur kode yang demikian dimaksudkan untuk menunjukan status sosial dan identitas pribadi di dalam masyarakat.
Dalam penutur melakukan campur kode ada tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh pemakai bahasa. Menurut Suwito (1997: 17) dalam campur kode ciri-ciri ketergantungan ditandai dengan adanya hubungan timbal balik antara peranan dan fungsi kebahasaan. Peranan maksud siapa yang menggunakan bahasa itu, sedangkan fungsi kebahasaan berarti apa yang hendak dicapai penutur dengan tuturannya.
Berdasarkan pendapat Suwito tersebut, Dwi Sutana (2000, 76-89) membagi beberapa fungsi terjadinya campur kode sebagai berikut :
1. Fungsi campur kode untuk penghormatan
2. Fungsi campur kode untuk menegaskan suatu maksud tertentu 3. Fungsi campur kode untuk menunjukan identitas diri
4. Fungsi campur kode untuk pengaruh materi pembicaraan Dari beberapa teori tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa campur kode adalah pemakaian suatu bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain yang berbentuk kata, frasa, idiom, bentuk baster, pengulangan kata, dan klausa. Pemilihan atau penggunaan bahasa dan ragam bahasa tersebut tidak ada maksud tertentu tetapi hanya karena kebiasaan atau enaknya perasaan atau mudahnya pengungkapan seseorang pengguna bahasa. Campur kode pada umumnya terjadi pada suasana santai atau
terjadi karena faktor kebiasaan. Pengguna campur kode memiliki fungsi yang berhubungan dengan peranan pengguna bahasa.
E. Interferensi
Interferensi adalah (1) bilingualisme, penggunaan unsur bahasa lain oleh bahasawan yang bilingual secara individual dalam suatu bahasa, ciri-ciri bahasa lain masih kentara (berlainan dengan integrasi); interferensi berbeda-beda sesuai dengan medium, gaya, ragam, dan konteks yang digunakan oleh orang yang bilingual tersebut, dan (2) pengajaran bahasa, kesalahan bahasa yang berupa unsur bahasa sendiri yang dibawa ke dalam bahasa atau dialek bahasa lain yang dipelajari (Harimurti Kridalaksana, 2011: 95). Sedangkan Markhamah (2000: 21) berpendapat bahwa interferensi adalah masuknya unsur bahasa satu ke dalam bahasa lain karena penutur tidak menguasai bahasa-bahasa itu.
Abdul Chaer dan Leoni (2004:122) Agustina membagi interferensi kedalam beberapa tataran yaitu :
1) Interferensi fonologi
Interferensi fonologi ini terlihat pada pelafalan bahasa yang terpengaruh oleh bahasa aslinya, misalnya penutur yang berasal dari Tapanuli fonem /ә/ pada kata
<dengan> dan <rembes> dilafalkan menjadi [dEGan] dan [rEmbEs]
2) Interferensi morfologi
Interferensi morfologi antara lain terdapat dalam pembentukan kata dengan afiks. Misalnya kata Indonesia afiksnya Jawa seperti kata bawang merahe. Sufiks –e
itu bahasa Jawa yang dimasukkan dalam kata bawang merah yang merupakan bahasa Indonesia.
3) Interferensi sintaksis
Interferensi sintaksis diambil contoh kalimat dalam bahasa Indonesia dari seorang bilingual Indonesia-Inggris dalam berbahasa Indonesia. Misalnya “Mereka akan married bulan depan”. Data married adalah bahasa Inggris yang dimasukkan ke dalam kalimat berbahasa Indonesia.
4) Interferensi leksikon
Interferensi leksikon dimasukkannya unsur bahasa lain yang berupa leksikon dalam bahasa yang digunakan.
Interferensi menurut Weinreich (dalam Abdul Chaer dan Leoni Agustina 2005: 120) menyebutkan adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Penutur yang bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian, dan penutur multilingual kalau ada, yaitu penutur kalau dapat menggunakan banyak bahasa secara bergantian.
Kesimpulan yang diambil dari beberapa pendapat tersebut adalah interferensi merupakan masuknya unsur bahasa satu ke dalam bahasa lain yang dikarenakan kurangnya kemampuan penutur terhadapa bahasa tersebut atau terbawanya kebiasaan-kebiasaan bahasa ibunya terhadap bahasa lain selain itu.
F. Komponen Tutur
Peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, situasi tertentu (Chaer dan Agustina, 2004: 47). Sebuah percakapan baru dapat disebut sebagai sebuah peristiwa tutur harus memenuhi syarat delapan komponen, yang bila huruf- huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING (Dell Hymes dalam Wijana dan Rohmadi, 2006: 9), kedelapan komponen tersebut adalah :
S = Setting and scene P = Participant
E = Ends: purpose and gaga A = Act sequences
K = Key: tone or spirit of act I = Instrumentalitas
N = Norms of interaction and interpretation G = Genres
Setting and scene, disini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturanya berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasai bahasa yang berbeda pula.
Participant adalah pihak-pihak yang terlibat dalam tuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima (lisan). Dua orang
yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara (penutur) atau pendengar (mitra tutur).
Ends yaitu maksud dan hasil percakapan. Suatu peristiwa tutur itu terjadi pasti ada maksud dari penutur maupun mitra tutur.
Act sequences yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.
Bentuk pesan mencakup bagaimana topik itu dituturkan sedangkan isi percakapan ini berkaitan dengan persoalan apa yang dikatakan oleh penutur.
Key yaitu menunjuk pada cara atau semangat (nada/ jiwa) dalam melaksanakan percakapan. Tuturan tersebut akan berbeda antara serius dan santai, resmi dan tidak resmi, dan lain sebagainya.
Instrumentalities yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan. Jalur yang digunakan dalam percakapan itu dapat melalui lisan, telegraf, telepon, surat dan lain sebagainya. Percakapan secara lisan dapat seperti berbicara, menyanyi, bersiul, dan sebagainya.
Norms of interaction and interpretation yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan yang termasuk di dalamnya adalah semua kaidah yang mempunyai peristiwa yang bersifat memerintah. Misalnya bagaimana cara berinterupsi, bertanya, berbicara yang sopan dan sebagainya.
Genres yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang
digunakan. Misalnya jenis penyampaiannya berupa puisi, narasi, dos, dan sebagainya.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi peristiwa tutur tersebut menurut Halliday (dalam Wijana dan Rohmadi, 2006 :10) terkemas ke dalam tiga unsur, yakni:
a. Field
Field yakni yang berhubungan dengan apa yang sedang terjadi pada bidang tertentu.
b. Tenor
Tenor yakni yang berkaitan dengan pelibat atau partisipan yang tersangkut dalam interaksi verbal.
c. Mode
Mode yakni yang berkaitan dengan pemilihan bentuk bahasa atau wacana yang harus digunakan dalam interaksi yang secara mutlak akan mempengaruhi cara- cara berinteraksi antara pengirim (penutur atau penulis) dan lawan tutur (pendengar atau pembaca).
G. Pedagang Handphone di Plaza Singosaren kota Surakarta
Pedagang (kb) adalah pengusaha niaga; penjual; orang yang pekerjaannya berdagang. Handphone (kb) adalah telepon genggam; telepon yang tanpa menggunakan jaringan nirkabel. Plaza (kb) adalah alun-alun; aula besar tempat berkumpulnya orang-orang. Singosaren adalah suatu wilayah pusat perdagangan di kota Surakarta.
Pedagang handphone di Plaza Singosaren kota Surakarta adalah sekumpulan orang yang pekerjaannya menjual handphone beserta aksesorisnya (casing, charger, baterai, dsb) di dalam Plaza Singosaren kota Surakarta.