PENGARUH PEMBERIAN PAKAN DAUN MANGROVE API-API (Avicennia marina) DAN RUMPUT LAPANGAN TERHADAP PERTAMBAHAN
BOBOT BADAN HARIAN (PBBH) KAMBING KACANG (Capra aegagrus)
SKRIPSI
MUHAMMAD RISKY RIZALDI 151201073
DEPARTEMEN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN DAUN MANGROVE API-API (Avicennia marina) DAN RUMPUT LAPANGAN TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN
(PBBH) KAMBING KACANG (Capra aegagrus)
SKRIPSI
Oleh:
MUHAMMAD RISKY RIZALDI 151201073
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Muhammad Risky Rizaldi
NIM : 151201073
Judul Skripsi : Pengaruh Pemberian Pakan Daun Mangrove Api-Api (Avicennia marina) dan Rumput Lapangan terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Kambing Kacang (Capra aegagrus) menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Medan, April 2019
Muhammad Risky Rizaldi
151201073
ABSTRAK
MUHAMMAD RISKY RIZALDI: Pengaruh Pemberian Pakan Daun Mangrove Api-Api (Avicennia marina) dan Rumput Lapangan terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Kambing Kacang (Capra aegagrus), dibimbing oleh MOHAMMAD BASYUNI
Hutan mangrove merupakan kawasan hutan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut, bersalinitas tinggi, di daerah tropis maupun subtropis. Deforestasi mengakibatkan penurunan luasan sehingga diperlukan pemanfaatan terhadap sumber dayanya. Avicennia marina merupakan salah satu mangrove sejati yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pakan daun A. marina dan rumput lapangan terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) kambing kacang (Capra aegagrus). Metode yang digunakan merupakan metode kuantitatif dengan menghitung konsumsi pakan dan mengukur bobot badan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial dengan 2 taraf perlakuan (daun A.marina dan rumput lapangan) masing- masing 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap PBBH C. aegagrus yakni 24,13 (g/ekor/hari) daun A.marina dan 74,46 (g/ekor/hari) rumput lapangan. Perlakuan terbaik dalam menaikan bobot badan C. aegagrus adalah rumput lapangan namun A.marina juga dapat digunakan sebagai pakan ternak berdasarkan kandungan nutrien: lemak kasar, karbohidrat, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), berat kering, vitamin C, dan unsur mineral makro Ca, Na yang lebih tinggi dibandingkan rumput lapangan.
Kata kunci: Avicennia marina, Nutrien, PBBH, Rumput Lapangan, Unsur Mineral
ABSTRACT
MUHAMMAD RISKY RIZALDI: The Effect of Leaf of Api-Api Mangrove (Avicennia marina) and Field Grass on Daily Wieght Gain (DWG) of Kacang Goat (Capra aegagrus), supervised by MOHAMMAD BASYUNI
Mangrove forest is a characterized forest area that affected by the tidal inundation and high salinity, in tropical or subtropical latitude. Deforestation induce decreased area which make the resource utilization is required. A. marina is a mangroves that can be used as an animal feed. The study aims to determine the A. marina and field grass leaves feed effect to the kacang goat (C. aegagrus) daily weight gain (DWG). The method used was non factorial completely randomized design (CRD) using two standart treatment (A. marina leaves and field grass) with three repetition on by calculating the feed consumption and body weight. The result of the research showed the feeding treatment give significant effect (P<0.05) to C. aegagrus daily weight gain with A. marina leaves 24.13 (g/goat/day) and field grass is 74.46 (g/goat/day). The best treatment to increase the C. aegagrus body weight is with field grass but, by the nutrition contained in A. marina which is crude fat, carbohydrate, dry weight, vitamin C (ascorbic acid), non nitrogen free extract (NNFE), and higher macro minerals like Ca and Na then the field grass.
Keywords: Avicennia marina, DWG, field grass, Mineral Elements, Nutrient
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Muhammad Risky Rizaldi, dilahirkan di Desa Penggalangan 30 November 1997. Penulis merupakan anak ke empat dari empat bersaudara oleh pasangan Alm Munajir Piliang dan Mariani Sitepu. Penulis memulai pendidikan di SD Negeri 104301 Pematang Ganjang pada tahun 2003 – 2009. Penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah pertama di SMP Swasta Teladan Sei-Rampah pada tahun 2009-2012 dan menengah atas di SMA Negeri 1 Sei-Rampah pada tahun 2012-2015. Penulis melanjutkan studi ke jenjang strata 1 di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Kehutanan, Departemen Budidaya Hutan pada tahun 2015 melalui jalur SBMPTN.
Penulis menempuh pendidikan melalui program beasiswa Bidikmisi.
Semasa perkuliahan penulis mengikuti beberapa kegiatan dan organisasi.
Penulis merupakan anggota dan sekaligus pernah menjabat sebagai ketua divisi LitBang organisasi Rain Forest pada tahun 2018. Kegiatan yang pernah penulis ikuti meliputi:
1. Seminar Indonesia Interpreneur club Sumatera Utara tahun 2016.
2. Peringatan World Rhino Day Fakultas Kehutanan USU 2017.
3. Dialog antar umat beragama (At The World Alliance Of Religions’ Peace Dialogue) tahun 2016.
4. Olimpiade Nasional FMIPA USU tahun 2018.
5. Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Kehutanan USU dan mendapatkan penghargaan sebagai Best academic.
6. Panitia dalam acara Seminar Workshop dan Pelatihan Kromatografi Lapis Tipis Kehutanan USU 2018.
7. Panitia seminar International Conference on Natural Resources and Technology (ICONART) tahun 2019.
Penulis telah mengikuti beberapa kegiatan praktik yang berhubungan dengan kehutanan diantaranya yaitu:
1. Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di KHDTK Pondok Bulu tahun 2016.
2. Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Perhutani KPH Malang pada tahun 2018.
3. Asisten Praktikum Dendrologi tahun 2016-2018.
4. Asisten Praktikum Silvikultur tahun 2017-2018.
Penulis memilih minat Budidaya Hutan di Semester 5 pada tahun 2017. Pada tahun 2018 penulis melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Pakan Daun Mangrove Api-Api (Avicennia marina) dan Rumput Lapangan terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Kambing Kacang (Capra aegagrus)” di bawah bimbingan Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D. Penelitian ini mendapatkan bantuan dari program hibah dosen pembimbing.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT berkat rahmat dan karunia- Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Pakan Daun Mangrove Api-Api (Avicennia marina) dan Rumput Lapangan terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Kambing Kacang (Capra aegagrus)”. Penulisan skripsi ini merupakan syarat dalam mencapai gelar sarjana di Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis menghaturkan terima kasih kepada kedua orang tua dan Bapak Mohammad Basyuni., S.Hut., M.Si., Ph.D. selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan yang bersifat membangun demi tercapainya skripsi yang berkualitas. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan – rekan tim penelitian yang telah membantu dan mendukung dalam penyelesaian skripsi ini.
Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang telah memberikan bantuan biaya perkuliahan dan tunjungan hidup dalam program beasiswa Bidikmisi serta semua staf pengajar dan pegawai di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini terlaksana atas bantuan hibah penelitian dosen pembimbing. Semoga skripsi ini memberikan manfaat terhadap berbagai pihak dan dapat digunakan sebagai acuan sumber refrensi untuk penelitian lanjutan. Akhir kata penulis mengucapkan semoga kebahagian di dunia dan akhirat diberikan oleh Allah SWT terhadap hambanya.
Medan, April 2019
Muhammad Risky Rizaldi
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ... i
PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Hipotesis ... 3
Kegunaan Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Mangrove Api-Api (A. marina) sebagai Pakan Ternak ... 4
Deskripsi Kambing Kacang (C. aegagrus) ... 6
Pakan Ternak ... 7
Pertambahan Bobot Badan ... 8
Konversi Pakan... 9
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 11
Alat dan Bahan ... 11
Prosedur Penelitian ... 11
Estimasi Bobot Badan ... 12
Variabel Pengamatan ... 13
Analisis Proksimat ... 14
Analisis Data ... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ... 18
Analisis Kandungan Nutrisi ... 19
Kandungan Mineral Pakan ... 22
Pendugaan Bobot Badan ... 23
Konsumsi Pakan ... 25
Pertambahan Bobot Badan ... 27
Konversi Pakan... 28
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 30
Saran ... 30 DAFTAR PUSTAKA ... 31 DAFTAR LAMPIRAN ... 41
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman
1. Kandungan Bahan Berpotensi Pangan/Pakan pada Daun Mangrove
Api-Api (A. marina) ...5
2. Karakteristik Morfologik Tubuh Kambing Kacang (C. aegagrus) ...7
3. Kandungan Nutrien Pakan Kambing Kacang (C. aegagrus) ...19
4. Kandungan Mineral Pakan Kambing Kacang (C. aegagrus) ...22
5. Lingkar Dada, Panjang Badan, dan Bobot Badan C. aegagrus ...24
6. Konsumsi Pakan Ternak C. aegagrus ...25
7. Rataan PBBH (g/ekor/hari) C. aegagrus ...27
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
1. A. Daun A. marina dan B. Buah A. marina ... 4
2. Kambing Kacang (C. aegagrus) ... 6
3. Pengukuran Vital Tubuh C. aegagrus ... 12
4. Rataan PBB dan PBBH C. aegagrus ... 27
5. Konversi Pakan ... 29
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Pengamatan kambing kacang (Capra aegagrus) selama penelitian ... 41
2. Pengujian Analisis proksimat pakan ... 42
3. Konsumsi Pakan ... 43
4. Pendugaan Bobot Badan ... 44
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan kawasan hutan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut di daerah tropis maupun subtropis. Indonesia merupakan negara yang mempunyai luas hutan mangrove terbesar di dunia. Ekosistem produktif dan mampu beradaptasi pada kondisi ekstrim seperti kondisi salinitas tinggi, angin kencang, suhu tinggi, substrat berlumpur, serta tanah anaerob mengindikasikan karakteristik hutan mangrove (Kathiresan et al., 2001).
Indonesia memiliki luas hutan mangrove 22,6% dari luas total mangrove di dunia atau sekitar 3,1 juta ha (Giri et al., 2011). Luasan tersebut, tersebar di sepanjang pesisir pantai Indonesia dan sekitar 199.478 ha berada di Sumatera Utara berdasarkan data BP2HM (Hafni, 2016). Deforestasi mengakibatkan kondisi hutan mangrove dalam keadaan sangat baik tersisa 6% (Haryani, 2013).
Dampak deforestasi mengakibatkan penurunan luasan dan kondisi ini terjadi di Kabupaten Langkat yakni 25.816,01 ha atau sekitar 68,80% dalam rentang tahun 1989 hingga tahun 2010 (Restu et al., 2012).
Stabilitas ekologi hutan mangrove dapat terjaga dengan memanfaatkan ekosistem penyusun hutan mangrove dalam berbagai keperluan. Contohnya di India, memanfaatkan daun Avicennia alba dalam bentuk terapi, obat, fitokimia, dan farmakologi (Kar et al., 2015). Mangrove yang dimanfaatkan dapat berupa kayu, daun, buah, maupun lahan dengan mempertimbangkan status ekologi.
Pemanfaatan tersebut berupa bahan pangan, obat-obatan maupun pakan ternak yang demikian akan menurunkan laju deforestasi hutan mangrove.
Pakan ternak dari tumbuhan mangrove umumnya mencakup daun/ranting dari genus Rhizophora, Sonneratia, Avicennia, di pantai utara dan selatan (Setyawan et al., 2006). Avicennia marina merupakan salah satu jenis mangrove sejati yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kondisi tumbuh A. marina yaitu pada substrat berlumpur dan tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90o/oo (Noor et al., 2006). Budidaya A. marina dapat dilakukan di habitat asli maupun diluar habitatnya. Budidaya merupakan kegiatan
2
pemeliharaan yang terencana yang dilakukan pada suatu areal lahan guna mendapatkan hasil dari kegiatan yang telah dilakukan.
Daun A. marina digunakan untuk pakan ternak unta di wilayah sekitar Laut Merah, India dan Australia. Daerah pesisir Indonesia, masyarakat memanfaatkan daun api-api untuk pakan ternak kambing. Kandungan kimia yang terdapat pada daun api-api menunjukan bahwa daun berpotensi sebagai sumber hijauan untuk pakan ternak. Menurut (Halidah, 2014) hasil analisis kimia tersebut mengandung vitamin B sebesar 2,64 mg/100 g, vitamin C sebesar 15,32 mg/100 g, serat sebanyak 8,7% dan karbohidrat sebanyak 13% dan kandungan mineral yang tinggi. Unsur mineral makro tersebut memperkaya nutrisi pakan ternak (Wibowo et al., 2009).
Kebutuhan ternak akan pakan hijauan bersifat mutlak. Hijauan pakan ternak (HPT) merupakan bahan sumber serat mutlak yang berperan dalam sistem produksi ternak ruminansia yang diperlukan sepanjang tahun (Abdullah et al., 2005).
Ketersediaan pakan hijauan khususnya hijauan segar terkadang menjadi kendala dalam pemeliharaan ternak ruminansia. Suplai hijauan pakan ternak menjadi kendala utama di negara berkembang disebabkan oleh kelangkaan dan berfluktuasi sepanjang tahun baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya (Ajayi et al., 2005).
Rosadi et al. (2018) mengemukakan bahwa suplai zat gizi rumput alam sangat terbatas terutama protein dibandingkan tanaman lain. Eksplorasi sumber hijauan diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut yakni dengan memanfaatkan daun A. marina sebagai pakan ternak.
Ternak lokal ruminansia yang sering dipelihara oleh masyarakat adalah kambing. Kambing dipelihara oleh masyarakat luas dikarenakan mudah dalam pemeliharaannya, bersifat ekonomis, dan memerlukan modal awal yang relatif lebih sedikit. Dikenal dua rumpun kambing dominan di Indonesia yaitu kambing kacang dan kambing ettawah. Kambing kacang (Capra aegagrus) memiliki sistem ketahanan terhadap kekeringan dan efisiensi terhadap pakan (Suyasa et al., 2016).
Elieser et al. (2016) menambahkan bahwa kambing kacang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat dan performan reproduksi yang baik.
Kambing kacang (C. aegagrus) memiliki ukuran tubuh kecil dan sudah ada di Indonesia sejak tahun 1900-an dan termasuk dalam populasi terbanyak. Kambing kacang memiliki ciri-ciri antara lain berbulu pendek, berwarna tunggal (putih, hitam,
3
dan coklat) maupun kombinasi antara ketiga warna tersebut. Kambing kacang sangat cepat berkembang biak, pada umur 15-18 bulan sudah bisa menghasilkan keturunan dan tahan pada berbagai kondisi lingungan yang berbeda (Pamungkas et al., 2009).
Atas dasar pemaparan tersebut, kambing kacang dapat digunakan sebagai parameter uji.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menguji pengaruh pemberian pakan daun A. marina dan rumput lapangan (RL) terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) kambing kacang (C. aegagrus).
2. Menguji analisis kandungan proksimat daun A. marina dan RL sebagai pakan ternak.
3. Menguji kandungan unsur mineral daun A. marina dan RL dalam memperkaya nutrisi pakan.
Hipotesis
Perlakuan pemberian pakan daun mangrove api-api (A. marina) dan RL berpengaruh nyata terhadap PBBH kambing kacang (C. aegagrus) dengan taraf uji 5%.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna dalam perihal:
1. Memberikan data informasi kepada masyarakat khususnya para peternak tentang manfaat hutan mangrove sebagai pakan ternak.
2. Memperkaya sumber hijauan pakan ternak ruminansia berdasarkan hasil analisis gizi dan pengaruh perlakuan daun api-api (A. marina) sebagai pakan.
3. Memungkinkan laju deforestasi menurun disebabkan sifat dependensi masyarakat terhadap hutan mangrove dengan mengeksplor sumber dayanya.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Mangrove Api-Api (A. marina) sebagai Pakan Ternak
A. marina dikenal oleh masyarakat lokal dengan nama api-api putih, api-api abang, sia-sia putih, sie-sie, pejapi, nyapi, hajusia, dan pai. Deskripsi umum A. marina berupa belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar, ketinggian pohon mencapai 30 m dan memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit. Habitus penyebaran api-api yaitu di daerah Afrika, Asia, Amerika Selatan, Australia, Polynesia, Selandia Baru, dan ditemukan di seluruh Indonesia (Noor et al., 2006).
A. marina termasuk salah satu tumbuhan mangrove yang digolongkan kedalam famili Avicenniaceae/Verbenaceae. Api-api banyak ditemukan di ekosistem terluar yang dekat dengan laut, hidup di tanah berlumpur agak lembek atau dangkal, dengan substrat berpasir, sedikit bahan organik dan kadar garam tinggi. A. marina biasa berasosiasi dengan jenis mangrove Rhizophora sp. mempunyai akar napas, tumbuh dengan tegak, serta memiliki banyak cabang. Klasifikasi A. marina (Forks.) Vierh menurut (Rofik et al., 2012) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae Filum : Thacheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Lamiales Famili : Acanthaceae Genus : Avicennia
Spesies : Avicennia marina (Forsk.) Vierh
Gambar 1. Daun A. marina (A) dan Buah A. marina (B)
A B
5
Mangrove api-api (A. marina) memiliki banyak manfaat selain sebagai pakan ternak juga sebagai antiviral (Zandi et al., 2009), antioksidan, antitumor, antialergi, dan anticholinergic (Prabhu et al., 2012). Daun api-api memiliki senyawa bioaktif berupa alkaloid, terpenoid dan flavonoid dan memiliki sifat antibakteri pada bakteri Staphylococcus aureus (Johannes et al., 2017). Kandungan senyawa bioaktif tersebut menjadikan daun api-api digunakan oleh masyarakat sejak lama untuk pengobatan tradisional seperti penyakit kulit, rematik, cacar, bisul dan juga pakan hewan di peternakan. Api-api merupakan salah satu spesies mangrove yang sangat penting untuk dikembangkan (Mahera et al., 2011).
Kandungan gizi yang terdapat pada daun mangrove api-api berdasarkan analisis proksimat menurut (Handayani, 2013) yaitu air 69,2%, abu 14,91%, protein 11,04%, dan lemak 2,21% didasarkan atas penghitungan bobot kering.
Menurut (Rinto, 2012) komposisi kimiawi daun api-api yaitu air 68,16%, protein 3,67%, lemak 0,72%, abu 4,45%, karbohidrat 23,00% dan serat kasar 4,12%.
Berdasarkan kandungan gizi yang terdapat pada daun mangrove api-api mengindikasikan bahwa daun tersebut layak digunakan sebagai sumber hijauan pakan ternak.
Kandungan gizi yang terdapat pada daun mangrove api-api berdasarkan analisis proksimat lebih rinci dijabarkan pada (Tabel 1) adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Kandungan Bahan Berpotensi Pangan/Pakan pada Daun Mangrove Api- Api (A. marina)
No Parameter Satuan Jenis jaringan
Daun A. marina
1 Protein % b.b 5,09
2 Kadar lemak % b.b 0,34
3 Kadar air % b.b 70,59
4 Serat kasar % b.b 8,76
5 Karbohidrat % b.b 13,17
6 Kadar abu % b.b 4,59
7 Besi (Fe) mg/kg (b.k) 107,76
8 Magnesium (Mg) mg/kg (b.k) 57,27
9 Calsium (Ca) mg/kg (b.k) 4027,14
10 Kalium (K) mg/kg (b.k) 1136,70
11 Natrium (Na) mg/kg (b.k) 696,07
12 Kalori Kal/g 3632
13 Vitamin B Mg 2,64
14 Vitamin C Mg 15,32
(Sumber: Wibowo et al., 2009)
6
Budidaya Mangrove Api-Api (A. marina)
Budidaya berperan dalam perkembangbiakan suatu jenis tanaman. Kondisi pantai yang baik untuk ditumbuhi mangrove adalah pantai yang mempunyai sifat- sifat yaitu air tenang/ombak tidak besar, air payau, mengandung endapan lumpur, dan lereng endapan tidak lebih dari 0,25% - 0,50%. Perkembangbiakan mangrove api-api dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Perkembangbiakan yang sering dilakukan yaitu secara generatif dengan mengambil buah dari mangrove api- api.
Kematangan buah dari jenis Avicennia spp ditandai dengan warna kulit buah kekuningan dan kadang kulit buah sedikit terbuka. Buah yang sudah matang mudah terlepas dari kelopaknya. Buah dilepas dari kelopaknya dan dipilih buah yang bebas hama dan beratnya 1,5 gram atau lebih. Setelah kelopak terlepas, buah direndam air selama satu hari agar kulitnya terkelupas namun apabila kulitnya tidak terkelupas maka dapat dikelupas dengan tangan. Buah dipindahkan ke dalam ember berisi air payau yang bersih. Buah disemaikan masing-masing satu buah dalam satu polibek, dengan cara ditancapkan kurang lebih sepertiga panjang buah ke dalam tanah/media (Priyono, 2010).
Buah api-api sebelum ditanam sebaiknya disemaikan terlebih dahulu.
Penanaman secara langsung, terutama di pinggir laut, sulit dilaksanakan karena buah/bijinya terlalu kecil sehingga mudah dibawa arus. Kegiatan budidaya api-api (A. marina) meluputi:
1. Pemilihan lokasi persemaian
Lokasi persemaian diusahakan pada tanah lapang dan datar. Selain itu, hindari lokasi persemaian di daerah ketam/kepiting atau mudah dijangkau kambing. Lokasi persemaian diusahakan sedekat mungkin dengan lokasi penanaman dan sebaiknya terendam air pasang lebih kurang 20 kali/bulan agar tidak dilakukan kegiatan penyiraman bibit.
2. Pembangunan tempat dan bedeng persemaian
Dari luas areal yang ditentukan untuk tempat persemaian, sekitar 70 % dipergunakan untuk keperluan bedeng pembibitan, sisanya 30 % digunakan untuk jalan inspeksi, saluran air, gubuk kerja dan bangunan ringan lainnya. Ukuran tempat persemaian tergantung kepada kebutuhan jumlah buah yang akan dibibitkan.
7
3. Pembuatan bibit
Dalam pembibitan, terlebih dahulu harus dipersiapkan media tanam yaitu tanah lumpur dari sekitar persemaian. Buah api-api, benih dapat ditebarkan langsung di bak persemaian atau kulit buah dibelah dua terlebih dahulu sebelum disemaikan di bak persemaian (Khazali, 1999).
Deskripsi Kambing Kacang (C. aegagrus)
Kambing merupakan jenis ternak ruminansia yang sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat lokal di Indonesia. Kambing kacang di klasifikasikan ke dalam (Mileski et al., 2004):
Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Artiodactyla Famili : Bovidae Upafamili : Caprinae Genus : Capra Spesies : C. aegagrus
Gambar 2. Kambing Kacang (C. aegagrus)
Kambing kacang merupakan salah satu jenis kambing asal Indonesia yang populasi terbesar diantara jenis yang lainnya. C. aegagrus dicirikan dengan ukuran badan yang kecil, pendek, leher pendek, punggung meninggi, jantan dan betina bertanduk, tinggi badan jantan dewasa rata-rata 60-65 cm, betina dewasa 56 cm, bobot dewasa untuk betina rata-rata 20 kg dan jantan 25 kg (Sasongko et al., 2009).
Kambing kacang (C. aegagrus) merupakan kambing asli Indonesia juga didapati di Malaysia dan Philipina. Perbedaan yang mendasar antara kambing kacang
8
jantan dan betina terletak pada janggutnya yakni pada betina jarang ditemukan.
Kambing kacang memiliki potensi yang adatif untuk dikembangkan di Indonesia karena ketahanannya terhadap lingkungan. Karakteristik morfologik kambing kacang tertera pada tabel dibawah ini (Pamungkas et al., 2009):
Tabel 2. Karakteristik Morfologik Tubuh Kambing Kacang (C. aegagrus)
No Uraian Kambing kacang
Betina Jantan
1 Bobot/kg 22 25
2 Panjang badan/cm 47 55
3 Tinggi pundak/cm 55,3 55,7
4 Tinggi pinggul/cm 54,7 58,4
5 Lingkar dada/cm 62,1 67,6
6 Lebar dada/cm - -
7 Dalam dada/cm - -
8 Panjang tanduk/cm 7 7,8
9 Panjang telinga/cm 4 4,5
10 Lebar telinga/cm - -
11 Type telinga Tegak Tegak
12 Panjang ekor/cm 12 12
13 Lebar ekor/cm 2 2,5
Pakan Ternak
Pakan merupakan bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan hidup, berproduksi dan berkembang biak. Berdasarkan kandungan serat kasarnya bahan makanan ternak dapat dibagi kedalam dua golongan yaitu bahan penguat (konsentrat) dan hijauan. Konsentrat dapat berasal dari bahan pangan atau dari tanaman seperti serealia (misalnya jagung, padi atau gandum), kacang-kacangan (misalnya kacang hijau atau kedelai), umbi-umbian dan buah-buahan. Hijauan dapat berupa rumput- rumputan dan leguminosa segar atau kering serta silase yang dapat berupa jerami yang berasal dari limbah pangan atau yang berasal dari pohon-pohonan.
Komposisi kimia bahan pakan sangat beragam tergantung pada varieteas, kondisi tanah, pupuk, iklim, cara pengolahan, lama penyimpanan dan lain-lain.
Kualitas nutrisi bahan makanan ternak merupakan faktor utama dalam menentukan kebijakan dalam pemilihan dan penggunaan bahan makanan tersebut sebagai sumber zat makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksinya (Sejahtera, 2012).
Berbagai penelitian tentang pakan sebagai sumber hijauan atau konsentrat telah dilakukan untuk mendapatkan jenis-jenis apa saja yang dapat dikonsumsi oleh ternak
9
dan baik untuk produktivitasnya. Susanti et al., (2016) melakukan penelitian tentang proporsi penggunaan berbagai jenis daun untuk pakan ternak kambing, hasil yang diperoleh terdapat lima pakan yang sering digunakan oleh peternak yaitu daun sengon, lamtoro, kaliandra, nangka, dan gamal pada kondisi ketinggian yang berbeda.
Eksperimen yang demikian, juga dilakukan oleh (Agustina, 2013) yang menambahkan suplemen katalitik untuk meningkatkan bobot badan dan efisiensi penggunaan pakan pada kambing peranakan ettawah. Berdasarkan penelitian tersebut, penggunaan suplemen katalitik dengan perlakuan penambahan 73,8 g/ekor/hari dapat meningkatkan penambahan bobot badan yang tertinggi.
Efisiensi pakan merupakan salah satu indikator dalam penentu pertambahan bobot badan. Efisiensi pakan adalah besarnya pemanfaatan makanan oleh tubuh kambing untuk dimanfataankan didalam tubuh. Pada kambing kacang pemberian probiotik belum dapat meningkatkan pertambahan bobot badan (Adriani, 2009). Oleh karena itu, eksplorasi pakan perlu dilakukan guna mendapatkatkan jenis-jenis pakan yang berpengaruh positif tehadap produktivitas ternak.
Pertambahan Bobot Badan
Bobot badan memiliki peran penting dalam dunia peternakan. Keberhasilan dalam beternak salah satunya dilihat dari segi pertambahan bobot badan. Bobot badan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan ukuran tubuh ternak. Mengetahui bobot badan memudahkan untuk penentuan jumlah pakan yang diberikan.
Produktifitas seekor ternak dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu genetik dan lingkungan.
Faktor genetik menentukan kemampuan produksi suatu ternak berdasarkan karakteristik genetik yang diturunkan oleh induknya. Faktor lingkungan berkaitan dengan faktor luar seperti iklim, suhu, pakan, dan cuaca yang mendukung dalam kemampuan ternak untuk berproduksi. Pertambahan bobot badan kambing dapat diketahui melalui penimbangan dan pendugaan. Metode pendugaan melalui pengukuran ukuran vital tubuh ternak seperti lingkar dada, panjang badan, lebar dada dengan mengkonversinya kedalam rumus. Hasil penelitian (Tama et al., 2016) memperoleh ukuran statistik vital kambing senduro jantan yang meliputi lingkar dada, panjang badan dan tinggi badan memiliki hubungan yang sangat erat dengan bobot badan.
10
Penelitian (Permatasari et al., 2013) menunjukan variabel ukuran-ukuran tubuh pada kambing kacang (panjang muka, panjang telinga, lingkar dada, lebar dada, panjang badan, tinggi pundak, lebar pinggul dan panjang kaki belakang) dapat digunakan untuk estimasi bobot badan. Hasil yang diperoleh yaitu estimasi bobot badan kambing kacang dengan koefisien determinasi 81,4% sampai 97,8%.
Pertambahan bobot badan kambing kacang juga dipengaruhi oleh umur. Semakin tinggi umur ternak, bobot badan dan ukuran tubuh kambing kacang juga bertambah.
Nilai koefisien determinasi tertinggi pada bobot badan yaitu sebesar 97,2%
(Septian et al., 2015).
Perubahan dimensi tubuh ternak yang umum menunjukan perubahan saat pengukuran adalah lingkaran dada. Hasil penelitian (Marewa, 2014) menyatakan, perubahan dimensi tubuh kambing marica yang dipelihara secara intensif dengan pemberian level protein yang berbeda pada pengukuran tinggi pundak dan panjang badan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata, namun pada lingkar dada berbeda nyata. Pendapat (Ni’am et al., 2012) juga menyatakan, bahwa keeratan hubungan ukuran tubuh dengan bobot badan berdasarkan analisis korelasi yang tertinggi yaitu antara lingkar dada dengan bobot badan. Kenaikan bobot badan dipengaruhi oleh nilai kecernaan pakan (Ekawati et al., 2014).
Konversi Pakan
Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mendapatkan kenaikan satu-satuan bobot hidup. Konversi pakan digunakan untuk mengetahui efisiensi produksi karena berkaitan dengan biaya produksi, semakin rendah nilai konversi pakan maka efisiensi penggunaan pakan makin tinggi (Alwi, 2015). Setiadi et al. (2016) konversi pakan, khususnya ternak ruminansia kecil, dipengaruhi oleh kualitas pakan, nilai kecernaan dan efisiensi pemanfaatan zat gizi dalam proses metabolisme di dalam jaringan tubuh ternak.
Konversi pakan menurut (Amien et al., 2012) juga dipengaruhi oleh kesediaan nutrien dalam ransum dan kesehatan ternak. Konversi pakan sangat dipengaruhi oleh kondisi ternak, daya cerna ternak, jenis kelamin, bangsa, kualitas dan kuantitas pakan, juga faktor lingkungan. Semakin baik kualitas pakan yang di konsumsi ternak, akan diikuti dengan PBB yang lebih tinggi dan makin efisien.
11
Efisiensi pakan dapat diukur dari konversi pakan atas bobot badan hidup ternak. Penelitian yang dilakukan (Nur’adhadinia, 2011) dengan menggunakan ampas kurma sebagai pakan domba menunjukan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap konversi pakan. Penelitian (Akhadiarto, 2011) menunjukan hasil bahwa perlakuan ransum nyata (P<0,05) mempengaruhi nilai konversi ransum pada ternak domba. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, menunjukan perbedaan terhadap konversi pakan ternak karena dipengaruhi jenis pakan yang diberikan.
Nilai yang tinggi terhadap konversi pakan memperlihatkan penggunaan pakan yang kurang efisien. Angka konversi selain dipengaruhi oleh strain dan faktor lingkungan termasuk juga faktor makanan terutama nilai gizi yang rendah (Rasyid, 2012).
Pakan yang dapat dicerna oleh tubuh pada setiap ternak berbeda-beda.
Kebutuhan akan pakan tergantung dari usia, faktor kesehatan, dan ukuran tubuh.
Pendapat (Suwignyo et al., 2016) pembatasan pakan (feed restriction) sampai 50%
menurunkan kinerja produksi kambing, akan tetapi tidak mengganggu status kesehatan ternak (terindikasikan dari status fisiologi berada pada kisaran normal).
Peningkatan konsumsi pakan, konversi dan pertambahan bobot badan dapat ditingkatkan dengan memberi pakan berkualitas baik dan gizi yang seimbang serta sumber energi yang dibutuhkan ternak.
Sanan (2018) menyatakan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum ternak kambing kacang dapat ditingkatkan dengan penambahan jagung sebagai sumber energi. Penelitian yang dilakukan (Bello et al., 2016) pada kambing kanyal konkan (Capra hircus) yang diberikan pakan jerami milet (serealia) ditambah dengan kotoran unggas kering menunjukan hasil penurunan konsumsi air hingga 3,5 L/individu/hari sehingga pemanfaatan pakan menjadi optimal.
Kandungan nutrisi pakan berperan penting terhadap konversi pakan. Nilai nutrisi pakan tergantung dari kualitas dan kuantitas nutrien yang terkandung didalamnya yang demikian berpengaruh terhadap tinggi rendahnya nilai nutrisi.
Herdiana et al. (2014) menyatakan keseimbangan energi dan protein dalam pakan akan mempengaruhi nilai konversi pakan, yang berkaitan dengan energi metabolis dalam pakan.
12
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2018-Maret 2019 di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat. Pengambilan data konsumsi pakan dan bobot badan dilaksanakan pada bulan Juli-September 2018 dan pengujian analisis kimia pakan dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2019.
Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Ilmu Teknologi Pangan Univeritas Sumatera Utara. Pengujian kadar mineral dilakukan oleh Laboratorium Socfindo Medan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan duduk (Kap:10 kg untuk menimbang pakan ternak), pita ukur (mengukur lingkaran dada dan panjang badan), alat tulis, pilox, kandang, ember (tempat minum ternak), tally sheet (perhitungan konsumsi ternak/hari) dan kamera serta seperangkat alat analisis proksimat. Adapun bahan yang digunakan yaitu pakan rumput lapangan (RL), daun mangrove api-api (A. marina), kambing kacang (C. aegagrus) sebanyak 6 ekor dan bahan analisis proksimat.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini diawali dengan pemilihan kambing kacang dengan penampilan yang sehat dan tidak cacat. Kambing kacang (C. aegagrus) yang dipilih berumur ± 6 bulan. Kambing kacang dipilih sebanyak 6 ekor yang terdiri atas 3 ekor pakan rumput lapangan dan 3 ekor pakan daun mangrove A. marina.
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan 21 hari yang terbagi atas 21 hari tahap persiapan dan 3 bulan tahap pengambilan data.
Tahap persiapan meliputi: pembuatan kandang selama 1 minggu, dan 2 minggu masa adaptasi. Tahap pengambilan data meliputi pengambilan data konsumsi pakan ternak/hari dan pengukuran lingkaran dada dan panjang badan per bulan untuk pendugaan bobot badan. Sebelum dilakukan perlakuan pakan, diukur panjang badan dan lingkar dada kambing terlebih dahulu untuk mengetahui bobot awal.
13
Tahap pertama diawali dengan pemberian tanda pada badan kambing kacang menggunakan cat pilox. Selanjutnya, kambing kacang diletakan pada kandang individu secara acak. Setelah itu, kandang diberikan tanda sesuai dengan nomor yang tertera pada badan kambing untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan data. Kambing kacang diberi pakan pada pagi hari secara ad-libitum (semaunya) dengan menimbangnya terlebih dahulu. Air yang diberikan pada kambing kacang tidak ditentukan jumlahnya (sesuai kondisi).
Estimasi Bobot Badan
Pengukuran bobot badan kambing kacang dilakukan dengan pendugaan.
Pendugaan dilakukan dengan pengukuran vital tubuh kambing meliputi lingkaran dada dan panjang badan. Ukuran vital tubuh tersebut diamati dan diukur melalui petunjuk(Malewa et al., 2008) adalah sebagai berikut (Gambar 3).
Gambar 3. Pengukuran Vital Tubuh Kambing Kacang 1. Lingkar dada diukur melingkari dada di belakang siku.
2. Panjang badan diukur dari sendi bahu sampai benjolan tulang tapis.
Pendugaan bobot badan dengan mengukur lingkaran dada dan panjang badan didasarkan atas penelitian (Ni’am et al., 2012) yang menyatakan, bahwa hubungan keeratan terbaik terhadap bobot badan yaitu lingkaran dada dan panjang badan. Pendapat ini juga didukung oleh penelitian (Marewa, 2014) pada kambing merica, (Tama et al., 2016) pada kambing senduro, (Haryanti et al., 2015) pada domba wonosobo, dan (Malewa, 2009) pada domba donggala yang menyatakan korelasi terbaik antara ukuran vital tubuh dengan bobot badan adalah lingkar dada. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan, bahwa pengukuran lingkaran
2 1
14
dada dan panjang badan dapat digunakan untuk estimasi bobot badan kambing dengan menggunakan berbagai rumus tertentu.
Estimasi bobot badan kambing menggunakan rumus Winter. Berdasarkan penelitian (Syamyono et al., 2013) rumus Winter merupakan rumus pendugaan bobot badan dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan rumus Ningsih, Schoorl dan Denmark pada kambing kejobong. Rumus Winter memadukan pengukuran lingkaran dada dan panjang badan dengan bias yang dihasilkan ≤0,2 kg. Adapun rumus Winter yang digunakan yaitu sebagai berikut:
𝐵𝐵 𝑘𝑔 = 𝐿𝐷2 𝑋 𝑃𝐵 10000
Keterangan:
BB = Bobot badan (kg) LD = Lingkaran dada (cm) PB = Panjang badan (cm) Variabel Pengamatan
Peubah yang diukur dalam penelitian ini berlandaskan atas penelitian sebelumnya (Prasetiadi et al., 2017; Alim, 2014; Bahar, 2014) adalah sebagai berikut:
1. Konsumsi pakan
Perhitungan konsumsi pakan dilakukan dengan cara pengurangan berat pakan yang diberikan (BA) dikurangi dengan berat sisa pakan (BS). Rumus yang digunakan yaitu:
Konsumsi pakan (gram/ekor/hari) = BA − BS
2. Pertambahan bobot badan
Pertambahan bobot badan (PBB) kambing kacang diukur melalui rumus:
PBB kg = Bobot akhir − Bobot awal
Sedangkan pertambahan bobot badan harian (PBBH) dihitung menggunakan rumus:
PBBH (gram/ekor/hari) =Bobot akhir – Bobot awal Lamanya pengamatan
15
3. Konversi pakan
Konversi pakan adalah perbandingan atau rasio antar jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak dengan produk yang dihasilkan oleh ternak tersebut.
Rumus yang digunakan yaitu:
Konversi pakan =Konsumsi pakan (gram/ekor/hari) PBBH (gram/ekor/hari)
4. Persentase bobot hidup
Persentase bobot hidup dihitung dengan cara:
Persentase bobot hidup =Konsumsi pakan (gram/ekor/hari)
PBBH (gram/ekor/hari) × 100%
5. Rataan bobot hidup
Rataan bobot hidup kambing kacang dihitung dengan cara:
Rataan bobot hidup =Jumlah hasil penimbangan selama pengamatan Frekuensi penimbangan
Analisis Proksimat
Analisis proksimat atau Weende dilakukan untuk mengetahui kandungan gizi secara kasar (crude) yang terdapat di daun mangrove api-api dan rumput yang meliputi kadar air, kadar abu, protein kasar (PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), berat kering (BK), karbohidrat, vitamin C, dan bahan ekstrak tanpa nitogen (BETN). Analisis proksimat sebagai pakan ternak mengacu pada penelitian (Fitriana et al., 2017) yang meneliti kandungan nutrisi pada rumput.
1. Kadar Air (AOAC, 2005)
Analisis kadar air bertujuan untuk mengetahui kandungan atau jumlah air yang terdapat pada suatu bahan pakan baik hijauan maupun konsentrat. Rumus yang digunakan yaitu:
% Kadar air =B − C
B − A × 100%
Keterangan:
A = Berat cawan kosong (gram)
B = Berat cawan yang diisi dengan sampel (gram)
C = Berat cawan dengan sampel yang sudah dikeringkan (gram)
16
2. Kadar Abu (AOAC, 2005)
Analisis kadar abu yaitu untuk mengetahui jumlah abu yang terdapat pada suatu bahan terkait dengan mineral dari bahan yang dianalisis. Rumus yang digunakan yaitu:
% Kadar abu =C − A
B − A × 100%
Keterangan:
A = Berat cawan abu porselen kosong (gram)
B = Berat cawan abu porselen dengan sampel (gram)
C = Berat cawan abu porselen + sampel setelah dikeringkan (gram) 3. Protein Kasar (PK) (AOAC, 2005)
Penentuan kadar protein kasar yaitu dengan menggunakan rumus:
% Protein kasar = A − B × N × 0,014 × FK
Bobot sampel × 100%
Keterangan:
A = ml NaOH untuk blanko B = ml NaOH untuk sampel N = Normalitas NaOH FK = Faktor Konversi
4. Lemak Kasar (AOAC, 2005)
Lemak kasar merupakan semua senyawa pakan/ransum yang dapat larut dalam pelarut organik. Kadar lemak ditentukan dengan rumus sebagai beikut:
% Kadar lemak kasar =W3 – W2
W1 × 100%
Keterangan:
W1 = Berat sampel (gram)
W2 = Berat labu lemak tanpa lemak (gram) W3 = Berat labu lemak dengan lemak (gram) 5. Serat Kasar (AOAC, 2005)
Serat kasar merupakan komponen karbohidrat yang terdiri atas polisakarida yang tidak larut. Penentuan serat kasar menggunakan rumus yaitu:
% Serat kasar =Berat akhir – Berat kertas saring
Berat contoh × 100%
17
6. Berat Kering (AOAC, 2005)
Perhitungan penetapan berat kering berdasarkan rumus yaitu:
% Berat kering =C − A
B − A × 100%
Keterangan:
BK = Berat Kering A = Berat cawan
B = Berat cawan + Berat sampel C = Berat akhir
7. Karbohidrat (AOAC, 2005)
Penentuan kadar karbohidrat dihitung berdasarkan rumus:
% Karbohidrat = 100% − Air + Abu + PK + LK %
8. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) merupakan karbohidrat tanpa serat kasar dan komponen karbohidrat yang mudah dicerna. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) dihitung berdasarkan rumus:
% BETN = 100% − Air + Abu + PK + LK + SK %
9. Vitamin C (Yusuf et al., 2017)
Analisis kadar vitamin C dilakukan dengan metode titrasi iodin. Penentuan kadar vitamin C menggunakan rumus:
% Kadar Vitamin C (mg/100g) = ml Iodin 0,01N × 0,88 mg × FP × 100 Berat sampel (g)
Keterangan:
ml Iodin (ml I2) = Volume Iodium (ml)
FP = Faktor Pengenceran
Analisis Data
Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk mengetahui pengaruh perlakuan pakan terhadap hasil pertambahan bobot badan harian (PBBH) kambing kacang (C. aegagrus). Desain rancangan dilakukan dengan 2 taraf perlakuan (pakan RL dan daun mangrove A. marina) dan masing-masing 3 ulangan.
18
Analisis rancangan yang digunakan menurut (Hanafiah, 2011) adalah sebagai berikut:
Yijk = μ + τi + εij Keterangan:
Yijk : Nilai pengamatan dari perlakuan ke- i ulangan ke-j μ : Rataan umum
αi : Pengaruh pemberian pakan daun mangrove api-api (A. marina) dan RL terhadap pertambahan bobot badan harian kambing kacang (C. aegagrus) ke-i (1,2)
εij : Pengaruh galat percobaan perlakuan ke-i pada ulangan ke-j (1, 2, 3)
Apabila perlakuan pemberian pakan daun (A. marina) dan RL berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap PBBH kambing kacang (C. aegagrus) maka akan dilakukan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT).
19
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat. Kabupaten Langkat memiliki luas hutan mangrove 50.650,93 ha dan merupakan yang paling dominan di Sumatera Utara. Kondisi hutan mangrove di Kabupaten Langkat menempati posisi pertama yang mengalami kerusakan terbesar di hutan mangrove Sumatera Utara. Desa Lubuk Kertang merupakan desa yang mengalami kerusakan terluas (Hafni, 2016).
Kegiatan rehabilitasi telah dilakukan guna mengurangi kerusakan yang terjadi.
Selain itu, masyarakat juga telah memanfaatkan hutan mangrove sebagai bahan pangan.
Desa Lubuk Kertang merupakan salah satu desa dari 7 Desa/Kelurahan di Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Desa Lubuk Kertang memiliki luas hutan mangrove 617,73 ha (Desa, 2019). Kondisi geografis Desa Lubuk Kertang terletak di 04o 04’ 00.6” LU dan 098o 17’ 00.1” BT dengan ketinggian 16 m (BMKG, 2019). Kondisi Curah Hujan pada saat penelitian berfluktuasi yaitu 105 mm, 177 mm, dan 157 mm pada bulan Juli, Agustus, dan September 2018.
Penelitian dilaksanakan dirumah warga yang merupakan ketua dalam kelompok lestari hutan mangrove. Pakan daun api-api (A. marina) diambil dari hutan mangrove yang berdekatan dengan lokasi tambak sedangkan pakan rumput lapangan diambil di lahan perladangan dan semak belukar. Jenis rumput lapangan yang digunakan terdiri atas rumput bebek (Echinochloa colona), rumput belulang (Eluisine indica), rumput suket lorodan (Centotheca lappaceae), rumput bobontengan (Leptochloa chinensis) dan rumput jarum (Chrisopogon ariculatus).
Kandang yang digunakan merupakan kandang individu dengan luas ± 30 m2 yang terbagi kedalam 6 bagian. Setiap ekor kambing diberi pakan dengan bobot awal yang sama pada perlakuan yang sama namun berbeda pada taraf perlakuan.
Pemberian minum kambing menggunakan ember dan air diambil dari keran yang berdekatan dengan lokasi kandang. Pakan daun A. marina dan RL disajikan pada Gambar 4.
20
Gambar 4. Pakan Daun A. marina (A) dan Rumput Lapangan (B) Analisis Kandungan Nutrisi
Kandungan nutrisi pakan mempengaruhi konsumsi pakan, bobot badan dan produktivitas ternak. Ternak membutuhkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Penentuan kualitas nutrisi pakan harus dipertimbangkan karena berkaitan dengan sumber zat makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksinya. Kualitas nutrisi bahan pakan terdiri atas komposisi nilai gizi, serat, energi serta aplikasinya pada nilai palatabilitas dan daya cerna (Sejahtera, 2012).
Rataan kandungan nutrien pakan RL dan daun mangrove A. marina pada penelitian yang dilakukan tertera pada (Tabel 3).
Tabel 3. Kandungan Nutrien Pakan Kambing Kacang (C. aegagrus)
Nutrien Jenis sampel
RL Avicennia marina
Kadar Air (%) 57,54 ± 7,90 55,08 ± 3,99
Kadar Abu (%) 6,40 ± 0,19 6,09 ± 0,10
Kadar Protein Kasar (%) 14,21 ± 0,55 6,08 ± 0,24
Kadar Lemak Kasar (%) 2,50 ± 1,18 4,26 ± 1,28
Kadar Karbohidrat (%) 19,35 ± 9,05 28,48 ± 5,15
Kadar Serat Kasar (%) 31,44 ± 0,13 15,15 ± 0,35
Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) (%) 45,45 ± 1,13 68,41 ± 1,39
Berat Kering (%) 42,46 ± 7,90 44,92 ± 3,99
Kadar Vitamin C (mg/100g) 7,50 ± 0,99 11,58 ± 1,06 Data merupakan nilai rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Analisa kandungan proksimat pakan yang dilakukan menunjukan kandungan nutrien rumput lapangan lebih rendah dibandingkan dengan A. marina.
Komposisi nutrien yang tinggi dari RL berupa kadar air, abu, protein kasar, dan serat kasar berdasarkan rataan sampel. Kandungan nutrien RL memiliki 4
A B
21
komposisi nutrien sedangkan daun mangrove A. marina memiliki 5 komposisi nutrien yang lebih tinggi yakni lemak kasar, karbohidrat, BETN, berat kering dan vitamin C dari 9 contoh uji. Sumber energi pakan berupa karbohidrat, lemak, dan protein yang ketiga komponen tersebut berfungsi sebagai energi bagi ternak untuk melakukan aktifitas.
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama yang berperan dalam menentukan karakteristik bahan makanan seperti warna, rasa, dan tekstur (Wulandari et al., 2016). Peningkatan nutrien yang dikonsumsi terutama karbohidrat mudah larut akan digunakan oleh rumen sebagai sumber energi, sehingga populasi mikroba rumen meningkat menyebabkan enzim yang dikeluarkan untuk mencerna zat-zat makanan terutama serat akan meningkat pula (Wirawan et al., 2008). Nilai rataan karbohidrat daun A. marina sebesar 28,48%
dan RL 19,35%.
Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air, namun larut dalam pelarut organik sebagai sumber energi terpenting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Penelitian (Yurleni et al., 2016) menyatakan pemberian asam lemak pada pakan memberikan kualitas karkas dan irisan komersial karkas lebih baik. Kandungan lemak daun A. marina sebesar 4,26% sedangkan RL 2,50%.
Kandungan protein kasar RL 14,21% lebih baik dibandingkan daun A. marina 6,08%. Nilai kandungan protein kasar daun A. marina tidak jauh berbeda dengan (Wibowo et al., 2009) yaitu 5,09%. Perbedaan ini mungkin dikarenakan rumput yang digunakan sebagai pakan lebih dari satu jenis sehingga menghasilkan nilai protein yang lebih tinggi. Menurut Banjarnahor et al. (2017) kandungan protein kasar yang tinggi pada rumput gajah dipengaruhi fase pertumbuhan yakni semakin tua akan semakin menurun. Pemberian pupuk nitrogen juga akan mempengaruhi kandungan protein kasar bahan pakan.
Pemberian pupuk nitrogen pada rumput gajah meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan serat kasar (Febriani, 2018).
Protein kasar adalah semua zat yang mengandung nitrogen. Menurut (Iskandar et al., 2017) protein berperan penting dalam pertumbuhan, karena mengandung asam amino esensial dan non-esensial. Sari et al. (2014) menyatakan
22
asupan protein berupa asam amino yang masuk ke dalam tubuh ternak akan digunakan untuk pertumbuhan dan metabolisme sel-sel dalam tubuh ternak.
Faktor yang mempengaruhi asupan protein yaitu bahan pakan, konsumsi protein dan kecernaan protein (Varianti et al., 2017).
Kadar air RL 57,54% lebih tinggi dibandingkan daun A. marina 55,08%.
Kadar air merupakan indikasi dari kandungan air di dalam pakan. Air berfungsi sebagai sirkulasi di dalam tubuh yang digunakan untuk aktivitas metabolik baik yang dimanfaatkan maupun tidak. Kadar air berkaitan erat dengan penyimpanan.
Kadar air yang terlalu tinggi dapat menurunkan kualitas pakan akibat tumbuhnya mikroorganisme sehingga diperlukan penanganan yang baik terhadap pakan yang diberikan untuk mempertahankan kualitas pakan (Retnani et al., 2009).
Penentuan kadar air digunakan untuk mengetahui berat/bahan kering pakan.
Ramadhan et al. (2017) menyatakan semakin tua umur tanaman maka semakin sedikit kandungan airnya dan proporsi dinding sel menjadi lebih tinggi yang demikian akan mempengaruhi bahan kering dari tanaman tersebut. Menurut Salim et al. (2016) bahan kering bahan juga dipengaruhi oleh naungan. Faktor naungan berinteraksi menurunkan hasil bahan kering rumput B. humidicola.
Kadar abu berhubungan dengan kandungan mineral dalam bahan pakan.
Abu merupakan zat anorganik atau mineral yang melalui proses pembakaran dalam tanur dengan suhu 400-600oC. Kadar abu dalam pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam menghitung kadar BETN. Penurunan kadar abu mengindenfikasikan peningkatan bahan organik substrat (Samadi et al., 2015).
Kadar abu RL tidak terlalu jauh dengan daun mangrove A. marina yakni 6,40%
sedangkan daun api-api 6,09%.
Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) merupakan kandungan suatu bahan pakan yang sangat tergantung dari komponen nutrien lainnya seperti air, abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Perbandingan nilai BETN RL dan daun A. marina 45,45% : 68,41%. Penurunan kadar BETN dipandang dari aspek nutrisi kurang menguntungkan, karena semakin sedikit BETN, berarti semakin sedikit komponen bahan organik yang dapat dicerna sehingga semakin sedikit pula energi yang dapat dihasilkan (Sari et al., 2015).
23
Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dan efektif untuk menangkal radikal bebas yang merusak jaringan sel (Putri et al., 2015). Vitamin yang larut dalam air berfungsi sebagai enzim dalam berbagai reaksi metabolisme tertentu. Penelitian (Wicaksono et al., 2015) menunjukan pemberian vitamin C dapat mengurangi stress pada saat pengangkutan sapi sehingga meminimalisir penyusutan bobot badan sapi. Vitamin C yang dimiliki daun A. marina 11,58 mg/100 g lebih baik dibandingkan RL 7,50 mg/100 g, hal ini menunjukan daun A. marina layak digunakan sebagai pakan ternak berdasarkan suplai gizi yang
terkandung.
Serat kasar merupakan komponen dinding sel yang kehadirannya di dalam ransum sangat penting karena serat kasar ternyata mempunyai fungsi fisiologis dan nutrisi bagi ternak unggas (Bidura, 2016). Andriawan et al. (2014) menyatakan serat kasar pakan mempengaruhi produksi susu 7,6% dan kandungan lemak 3%
pada sapi perah. Konsumsi serat kasar juga berfungsi sebagai peningkatan total solid dan lemak susu, yakni semakin tinggi konsumsi serat akan meningkatkan komponen tersebut (Nurhajah et al., 2016). Kandungan serat kasar yang dimiliki RL jauh lebih tinggi yakni 31,44% dan daun ap-api 15,15%. Menurut (Pangestu et al., 2018) menyatakan kandungan serat kasar dalam ransum yang diberikan berpengaruh terhadap konsumsi pakan karena serat kasar bersifat bulky (pengganjal).
Kandungan Mineral Pakan
Mineral merupakan unsur yang dibutuhkan tubuh ternak. Mineral terdiri atas mineral makro (dibutuhkan dalam jumlah besar) dan mikro (dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit). Mineral makro diperlukan untuk pembentukan organ di dalam tubuh contohnya adalah Ca yang berfungsi dalam pembentukan tulang.
Mineral mikro berperan dalam sirkulasi darah seperti pembentukan hemoglobin.
Manggara et al. (2018) menyatakan Fe dalam tubuh berfungsi untuk pembentukan hemoglobin (pencegahan terhadap anemia), sistem kekebalan tubuh, dan komponen enzim sitokrom (enzim dalam respirasi).
Rataan kandungan mineral pakan RL dan daun mangrove api-api (A. marina) berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disajikan pada (Tabel 4).
24
Tabel 4. Kandungan Mineral Pakan Kambing Kacang (C. aegagrus)
Unsur mineral Jenis sampel
RL A. marina
Unsur makro
P-Total 0,21 ± 0,04 0,16 ± 0,03
K-Total 2,24 ± 1,20 0,86 ± 0,04
Ca-Total 0,45 ± 0,10 0,58 ± 0,02
S (%) 0,28 ± 0,05 0,23 ± 0,01
Na (%) 0,63 ± 0,82 1,53 ± 0,05
Unsur mikro
Fe-Total 556,41 ± 260,03 291,06 ± 30,77 Zn-Total 33,89 ± 11,63 19,28 ± 2,20
Cu-Total 10,26 ± 0,43 9,59 ± 0,19
Mn-Total 232,2 ± 169,40 41,67 ± 4,01 Data merupakan nilai rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Kadar mineral tertinggi dari RL yaitu unsur mineral P, K, Fe, Zn, Cu,S dan Mn sedangkan A. marina yaitu unsur Ca dan Na. Kandungan mineral dalam hijauan dipengaruhi oleh kandungan air, tanah, dan udara di sekitar tempat tumbuhnya hijauan tersebut (Irma et al., 2012). Kandungan mineral makro yang tinggi memperkaya nutrisi pakan ternak.
Mineral makro merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh ternak dalam jumlah lebih dari 100 mg/hari sedangkan mineral mikro dibutuhkan dalam jumlah kurang dari 100 mg/hari. Kandungan mineral makro utama yang dimiliki pakan RL yaitu unsur 2,24 K-total, 0,21 P-total, dan 0,28% S sedangkan pakan A. marina memiliki 2 unsur yang lebih tinggi yakni Ca dan Na dengan nilai berturut-turut (0,58) dan (1,53%). Arifin (2007) menyatakan pemberian mineral tembaga (Cu) memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup hewan, bila kelebihan atau kekurangan akan menyebabkan penyakit.
Penelitian Gunawan et al. (2016) memperlihatkan bahwa pemberian mineral berpengaruh sangat nyata meningkatkan lingkar dada sapi bali jantan.
Ditambahkan oleh (Adelina, 2007) bahwa perlakuan dengan penambahan mineral Ca + P + S memberikan pertambahan bobot badan dan (Zainuddin, 2010) penambahan Ca dan P di dalam pakan menyebabkan perubahan pertumbuhan bobot relatif,efisiensi pakan, komposisi proksimat tubuh dan kandungan mineral tubuh juvenil ikan kerapu.
Pendapat yang berbeda dari (Sriagtula, 2008) yang menyatakan penambahan mineral Ca, P, Mg dan S dalam ransum menyebabkan status mineral Ca, P dan Mg dalam plasma kambing kacang semakin menurun sedangkan S tidak. Status mineral Ca dan P dalam tuIang juga mengalami penurunan, namun status mineral
25
ini secara angka masih berkisar normal. Unsur mineral pakan dibutuhkan ternak sesuai dengan kebutuhan dan keseimbangan dalam tubuh. Kelebihan maupun defisiensi unsur mineral menyebabkan gangguan fisiologis terhadap ternak.
Pendugaan Bobot Badan
Bobot badan ternak dapat diketahui dengan cara penimbangan dan metode pendugaan. Metode pendugaan dilakukan dengan cara pengukuran vital tubuh ternak dan mengkonversinya kedalam rumus tertentu. Ukuran vital tubuh yang dapat digunakan untuk estimasi bobot badan kambing kacang yaitu panjang muka, panjang telinga, lingkar dada, lebar dada, panjang badan, tinggi pundak, lebar pinggul dan panjang kaki belakang. Lingkar dada memiliki tingkat korelasi yang lebih tinggi dibandingkan ukuran vital tubuh lainnya berdasarkan berbagai penelitian sebelumnya.
Estimasi bobot badan telah banyak dilakukan karena mudah dan praktis dalam pelaksanaannya. Pendugaan bobot badan kambing kacang dalam penelitian ini menggunakan parameter Lingkar Dada dan Panjang Badan dengan menggunakan rumus Winter. Nilai rataan lingkar dada, panjang badan, dan bobot badan dirangkum pada (Tabel 5).
Tabel 5. Lingkar Dada, Panjang Badan, dan Bobot Badan Kambing Kacang No Parameter
Pakan
RL A. marina
U1 U2 U3 U1 U2 U3
1 Panjang badan (cm) 42,00 44,00 46,00 42,60 41,30 0 2 Lingkar dada (cm) 53,00 55,25 57,25 54,50 53,25 0 3 Bobot badan (kg) 11,91 13,60 15,45 12,67 11,72 0 Data merupakan nilai rata-rata selama pengamatan (n=3 bulan)
Nilai rataan panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan tertinggi pada pakan RL terdapat pada kambing U3 yakni (46,00 cm), (57,25 cm), dan (15,45 kg). Selanjutnya, disusul pada kambing U2 yaitu (44,00 cm), (55,25 cm), (13,60 kg) dan terakhir pada kambing U3 dengan nilai rataan (42,00 cm), (53,00 cm), dan (11,91 kg). Penggunaan rumus Winter pada penelitian ini mengasumsikan bias yang kecil terhadap bobot badan ternak sebenarnya.
Berdasarkan penelitian (Syamyono et al., 2013) rumus Winter merupakan rumus pendugaan bobot badan dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan rumus Ningsih, Schoorl dan Denmark pada kambing kejobong.
26
Rumus Winter memadukan pengukuran lingkaran dada dan panjang badan dengan bias yang dihasilkan ≤0,2 kg.
Parameter Lingkar Dada merupakan ukuran yang paling baik dalam pendugaan. Menurut (Trisnawanto et al., 2012) lingkar dada mempunyai nilai korelasi yang tertinggi diantara ukuran tubuh yang lain pada pendugaan dombos jantan. Ukuran vital tubuh merupakan visualisasi dari pertumbuhan dan perkembangan ternak sehingga dapat digunakan sebagai pendugaan bobot badan.
Pertambahan bobot badan diikuti dengan bertambahnya ukuran vital tubuh ternak.
Pendugaan bobot badan kambing kacang sebelumnya telah dilakukan oleh (Permatasari et al., 2013) dengan koefisien determinasi 81,4% sampai 97,8%.
Menurut (Lake, 2016) terdapat hubungan yang positif antara perubahan ukuran linear tubuh ternak (lingkar dada, panjang badan, tinggi pundak) dengan pertambahan bobot badan harian ternak kambing kacang betina yang diberi kombinasi hijauan berupa rumput alam, lamtoro dan turi.
Nilai rataan panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan tertinggi pada pakan A. marina terdapat pada kambing U1 (42, 60 cm), (54,50 cm), dan (12,67 kg) dan diikuti dengan kambing U2 yakni (41,30 cm), (53,25 cm), dan (11,72 kg) sedangkan pada kambing U3 mengalami kematian diduga kembung perut (bloat).
Kembung rumen (bloat) disebabkan oleh eruktasi terganggu dan laju produksi gas melebihi kemampuan hewan untuk mengeluarkannya gejala ini ditandai dengan hilangnya nafsu makan (Yanuartono et al., 2018). Kembung juga disebabkan oleh pemberian pakan. Pemberian pakan hijauan yang masih muda atau basah dan cuaca cukup dingin menjadi penyebab utama terjadinya kembung (Ilham dan Mukhtar, 2018).
Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan merupakan faktor yang esensial untuk pertumbuhan dan produktifitas bagi ternak. Konsumsi menentukan jumlah pakan dalam ransum yang dikonsumsi ternak/harinya. Meningkatnya jumlah pakan yang dikonsumsi ternak memaksimalkan aktifitas mikroba rumen dalam menghasilkan nutrisi dan energi yang dibutuhkan ternak (Yustendi et al., 2013). Rataan konsumsi pakan daun mangrove api-api (A. marina) dan RL disajikan pada (Tabel 6).
27
Tabel 6. Konsumsi Pakan Ternak Kambing Kacang (C. aegagrus)
No Ulangan
Perlakuan pakan (g/ekor/hari)
RL A. marina
Jumlah
Waktu
(hari) Rata-rata Jumlah
Waktu
(hari) Rata-rata
1 U1 35001 92 380,45 14740 92 160,22
2 U2 35179 92 382,38 13808 92 150,09
3 U3 35390 92 384,67 595 38 15,66
Data merupakan nilai rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Perlakuan RL memiliki nilai konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan A. marina. Nilai rata-rata konsumsi pakan tertinggi pada perlakuan rumput yaitu pada U3 sebesar (384,67 g/ekor/hari) sedangkan pada perlakuan A. marina pada U1 sebesar (160,22 g/ekor/hari). Perbedaan konsumsi pakan diduga karena kambing kacang (C. aegagrus) memiliki tingkat kesukaan dan massa adaptasi terhadap pakan RL lebih tinggi dibandingkan dengan A. marina. Selain itu, diduga karena daun A. marina memiliki kadar tanin yang menyebabkan rasa sepat dan bau langu, karena mengandung enzim lipoksigenase. Tanin dihasilkan oleh tumbuhan hijau baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tingkat rendah dengan kadar dan kualitas yang berbeda-beda (Soenardjo dan Supriyantini, 2017).
Tanin bersifat positif terhadap tubuh ternak apabila kandungan dalam bahan pakan tidak melebihi 4%. Kusmartono (2018) menyatakan penambahan sumber condense tannin (CT) berupa daun ketela pohon cenderung meningkatkan nilai konsumsi bahan kering (KBK), bahan organik (KBO), dan protein kasar (KPK) tetapi menurunkan nilai kecernaan BK, BO, PK, konsentrasi amonia, dan pertambahan bobot badan (PBB). Salido et al. (2016) menyatakan penambahan 15% bungkil kedelai terproteksi tanin pada level 0,5%, 1%, dan 1,5% dalam pakan komplit tidak memengaruhi komposisi tubuh (air, protein dan lemak tubuh), pada domba ekor tipis jantan yang berumur delapan bulan. Pemberian pakan pada ternak harus mempertimbangkan kandungan gizi serta senyawa yang bersifat toksik yang terkandung di dalamnya sehingga meningkatkan nilai efisiensi terhadap pakan yang diberikan.
Penelitian yang dilakukan oleh (Ngitung et al., 2013) terhadap kambing marica menunjukan bahwa kambing tersebut memiliki palatabilitas yang lebih baik yang diberi pakan rumput unggul. Selain itu, kebiasaan ternak ruminansia mengkonsumsi pakan hijauan rumput menjadi faktor pendukung hal tersebut.