PELAJARAN PPKN PADA MATERI DINAMIKA PERWUJUDAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN PANDANGAN HIDUP BANGSA MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE EXAMPLE NON EXAMPLE DI KELAS IX SMP HARAPAN MASA DEPAN CERAH
OLEH:
HERMANTO, S.Pd.
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN BANYUASIN
2020/2021
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga mampu menyelesaikan penelitian Tindakan kelas ini dengan baik. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. Terimakasih atas kerja keras dan masukan berharganya dan semoga penelitian ini bermanfaat untuk peserta didik dan guru nantinya, ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada: Ibu Nina Anggraeni, S.Pd. dan Ibu Fauziah, S.Pd., Gr. selaku pemberi masukan atas penyusunan penelitian ini. Akhir kata semoga penelitian ini bermanfaat bagi dunia pendidikan.
Pulau Rimau, 30 Juli 2020
Hermanto S.Pd.
iii DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
Daftar Tabel ... v
Daftar Gambar ... vi
Daftar Lampiran ... vii
Abstrak ... viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori ... 5
2.1.1 Definisi Belajar ... 5
2.2.2 Hasil Belajar ... 5
2.2 Pembelajaran Kooperatif ... 6
2.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif ... 6
2.2.2 Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif ... 7
2.3 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example Non Example ... 8
2.4 Penerapan Model Example Non Example dalam Pembelajaran PPKn di SMP ... 11
2.5 Materi Pembelajaran PPKn ... 12
2.5.1 Dinamika Perwujudan Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Pandangan Hidup Bangsa ... 12
2.5.2 Ancaman Merubah Pancasila di Era Millenial... 15
2.6 Penelitian Relevan ... 16
2.7 Kerangka Berfikir... 16
2.8 Hipotesis Tindakan... 17
iv BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ... 18
3.2 Setting Penelitian ... 18
3.2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 18
3.2.2 Subjek Penelitian ... 18
3.3 Prosedur Penelitian... 18
3.4 Rancangan Penelitian ... 19
3.4.1 Siklus I ... 19
3.4.2 Silus II ... 21
3.5 Instrumen Pengumpulan Data ... 23
3.5.1 Tes ... 23
3.5.2 Dokumentasi ... 21
3.6 Analisa Data ... 24
3.6.1 Analisa Data Tes ... 24
3.6.2 Penilaian Ketuntasan Belajar ... 25
3.7 Indikator Keberhasilan ... 26
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Siklus I ... 27
4.1.1 Siklus I Pertemuan Pertama ... 27
4.1.2 Siklus I Pertemuan Kedua ... 31
4.2 Hasil Penelitian Siklus II ... 35
4.2.1 Siklus II Pertemuan Pertama ... 36
4.2.2 Siklus II Pertemuan Kedua ... 39
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 45
5.2 Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 46
v
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Konversi Skor ... 25
Tabel 3.2 Kriteria Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa dalam % ... 25
Tabel 4.1 Hasil Belajar Siklus Pertama... 34
Tabel 4.2 Hasil Belajar Siklus II ... 43
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar. 4.1 Guru menayangkan gambar ... 28
Gambar. 4.2 Peserta Didik saat Diskusi ... 29
Gambar 4.3 Penyampaian Hasil Diskusi ... 30
Gambar 4.4 Peserta Didik Menempelkan Gambar Dinamika Perwujudan nilai – nilai Pancasila... 32
Gambar 4.5 Grafik Persentase Hasil Belajar Siklus I ... 34
Gambar 4.6 Peserta Didik Menempelkan gambar bentuk ancaman merubah Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa pada era millennial ... 37
Gambar 4.7 Guru Membimbing Peserta Didik saat Pengerjaan LKPD ... 41
Gambar 4.8 Peserta Didik Memberikan Pendapat ... 42
Gambar 4.9 Peserta Didik Melakukan Post Test Siklus II ... 43
Gambar 4.10 Peserta Didik Menyanyikan Lagu Wajib Nasional ... 43
Gambar 4.11 Grafik Persentase Hasil Belajar Siklus II ... 44
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Rpp
Lampiran 2 Lembar Kerja Peserta Didik ( LKPD)
Lampiran 3 Lembar Observasi Kegiatan Pebelajaran Guru Lampiran 4 Panduan Wawancara Responden Siswa Lampiran 5 Panduan Wawancarateman Sejawat Lampiran 6 Photo Dokumentasi Penelitian
viii ABSTRAK
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PPKN PADA MATERI DINAMIKA PERWUJUDAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN PANDANGAN HIDUP BANGSA MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE EXAMPLE NON EXAMPLE DI KELAS IX SMP HARAPAN MASA DEPAN CERAH
Hermanto, S.Pd.
Guru SMP Harapan Masa Depan Cerah Inti Pulau Rimau Mukut E-mail : [email protected]
Abstract: The title of this study is " Efforts to Improve Student Learning Outcomes in Civics Subjects on the Dynamics of the Embodiment of Pancasila as the Basic State and View of the Nation's Life Using Cooperative Models of Non- Example Type in Class IX at the SMP Harapan Masa Depan Cerah
" With the research problem "Can learning with the Example Non Example model improve student learning outcomes in Civics subjects on the dynamics of materializing the realization of Pancasila values as the basis of the state and the nation's view of life". The method used is classroom action research, which consists of 4 actions, namely planning, implementation, observation and reflection. This study aims to improve the learning outcomes of grade IX students in Civics subjects at SMP Harapan Masa Depan Cerah through examples and non- examples learning models. The results of the study indicate that learning using examples and non-examples models can improve student learning outcomes in class IX in subjects at Harapan Masa Depan Cerah Inti Pulau Rimau Mukut Junior High School.
Keywords: Learning Outcomes PPKn , Non Cooperative Learning Example Example , Classroom Action Research
Abstrak: Judul penelitian ini adalah “upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ppkn pada materi dinamika perwujudan pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa menggunakan model kooperatif tipe example non example di kelas ix smp harapan masa depan cerah”.Dengan masalah penelitian “Apakah pembelajaran dengan model Example Non Example dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn pada materi dinamika perwujudan nilai – nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa”. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas, yang terdiri dari 4 tindakan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pangamatan dan refleksi.
Penelitian bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX pada mata pelajaran PPKn di SMP Harapan Masa Depan cerah melalui model pembelajaran examples and non examples. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakana model examples and non examples dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX pada mata pelajaran di SMP Harapan Masa Depan Cerah Inti Pulau Rimau Mukut.
Kata kunci: Hasil Belajar PPKn, Model Pembelajaran Examples And Non Examples, Penelitian Tindakan Kelas
1
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara adekwat dalam kehidupan masyarakat. Pengajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dari perubahan itu dapat dipercaya sebagaimana yang diinginkan dalam tujuan pendidikan nasional. (Hamalik, 2011:13).
Menurut Permendiknas No.22 Tahun 2006 tentang standar Isi Pendidikan Nasional, PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. PKn adalah aspek pendidikan politik yang fokus materinya peranan warga negara dalam kehidupan bernegara yang kesemuanya itu diproses dalam rangka untuk membina peranan tersebut sesuai dengan ketentuan Pancasila dan UUD 1945 agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara (Cholisin 2000: 9).
Sebagai guru di SMP, Pengetahuan yang berhubungan dengan Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan yang telah dilaksanakan di sekolah - sekolah masih sebagai pembelajaran yang besifat abstrak, dikarenakan penyampaian materi yang dilakukan secara langsung sehingga menimbulkan rasa bosan dan rasa tidak ingin tahu pada siswa, sehingga dapat berpengaruh pada hasil belajar siswa dan tidak tercapainya tujuan pembelajaran.
Berdasarkan hasil pada kelas IX di SMP Harapan Masa Depan Cerah, menunjukan bahwa hasil belajar PPKn masih rendah. Hal ini terlihat pada hasil ulangan harian PPKn siswa pada semester ganjil dari 38 siswa hanya 19 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 65 atau dipersentasikan 50,00 % sedangkan siswa yang belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 65 yaitu 19 siswa atau dipersentasikan 50,00 %. Menurut
2
Hamdani (2011:60) suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya apabila ≥ 85 % siswa secara klasikal dapat mencapai KKM yang telah diterapkan.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran PPKn di kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah ini yaitu adalah keterampilan guru yang kurang maksimal dalam pengelolaan kelas, guru dalam menggunakan media kurang optimal, minimnya strategi yang dilakukan guru saat mengajar, cara mengajar guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, guru belum menjadikan pembelajaran menjadi menarik dan berkesan bagi siswa, siswa menerima materi secara pasif, siswa kurang aktif bertanya, dan siswa kurang memperhatikan saat guru menjelaskan materi pelajaran sehingga kurangnya rasa ingin tahu siswa tehadap materi pembelajaran.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ketuntasan belajar peserta didik yaitu dengan menerapkan model pembelajaran (Hamdani, 2010:60).
Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Dimana terdapat berbagai jenis model pembelajaran kooperatif yang bisa digunakan.
Menurut Nur (2011:1-2) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif yang mengutamakan kerja sama antar siswa dapat memotivasi seluruh siswa, saling membantu atau kerjasama satu sama lain dan dapat memanfaatkan seluruh energi sosial siswa sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa.
Salah satu upaya yang ingin diterapkan peneliti untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menerapkan model pembelajaran Example Non Example sehingga memudahkan siswa untuk menangkap isi materi pelajaran dan siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain. Model pembelajaran Example Non Example dirancang untuk mempengaruhi pola berpikir siswa agar dapat berkembang sehingga tercipta kondisi pembelajaran yang aktif, menyenangkan dan meningkatkan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat serta
pengetahuannya. Judul penelitian yang diambil peneliti adalah “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Pada Materi Dinamika Perwujudan Pancasila Sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa Menggunakan Model Kooperatif Tipe Example Non Example di Kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah pembelajaran dengan model Example Non Example dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn pada materi dinamika perwujudan nilai – nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa ?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn pada materi dinamika perwujudan nilai – nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang terlibat, khususnya:
1) Bagi Siswa
a. Dapat mengaktifkan belajar siswa dalam proses pembelajaran PPKn.
b. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn.
2) Bagi Guru
a. Dapat memberikan wawasan dan kreatifitas guru tentang manfaat dari model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example dalam memberikan pembelajaran yang aktif dan mencerdaskan.
4
b. Dapat menambah gambaran sebagai strategi untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa.
3) Bagi Sekolah
Digunakan sebagai bahan masukan untuk mengembangkan model pembelajaran yang kooperatif tipe Example Non Example untuk pembelajaran pada mata pelajaran lainnya.
5 2.1 Kajian Teori
2.1.1 Definisi Belajar
Belajar adalah salah satu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengkokohkan kepribadian. Dalam konteks menjadi tahu atau proses memperoleh pengetahuan (Suyono & Harianto, 2011:9).
Menurut Slameto (2010:2) “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseoarang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri sebagai hasil pengalamannya sendiri interaksi dengan lingkungannya”. Sedangkan menurut Hamalik (2011:36) Belajar merupakan suatu proses dalam suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Dalam artian, belajar bukan sekedar untuk mengingat, akan tetapi leih luas daripada itu yakni pengalaman yang memberika hasil perubahan kelauanpada seseorang.
Dari definisi-definsi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian seseorang melalui interaksi dengan lingkungan yang merupakan hasil pengalaman.
2.1.2 Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran, perilaku yang harus dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran (Anni, 2007:5).
6
Perubaan tingkah laku pada orang tersebut berupa dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Dalam Kurikulum satu kompetensi dasar terdiri dari beberapa kompetensi dasar dan setiap kompetensi dasar dijabarkan ke dalam indikator-indikator pencapaian hasil belajar yang dirumuskan atau dikembangkan oleh guru dengan mempertimbangkan situasi sekolah/daerah masing-masing. Indikator yang dikembangkan merupakan acuan yang digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi dasar bersangkutan. Dan Bloom pada tahun 1956 mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu cognitive, affective, dan psychomotor (Poerwanti, 2008:1-23). Kognitif (cognitive) adalah ranah yang menekankan pada pengembangan kemampuan dan keterampilan intelektual. Ranah afektif (affective) berkaitan dengan sikap dan nilai. Sedangkan psikomotor (psychomotor) adalah ranah yang berkaitan dengan kegiatan motorik. (poerwanti, 2008:1-22).
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan tinggi rendahnya nilai yang diperoleh siswa setelah melakukan proses pembelajaran.
Tinggi rendahnya nilai tersebut dilihat dari penguasaan konsep oleh siswa dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dibuat guru sebelumnya. Jika proses pembelajaran tersebut dilaksanakan dengan pembelajaran tematik maka penilaiannya sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator tujuan pembelajaran mata pelajaran masing-masing.
2.2 Pembelajaran Kooperatif
2.2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk mengajarkan kemampuan akademik sekaligus keterampilan sosial (interpersonal).
Model pembelajaran kooperatif membantu siswa pada setiap mata pelajaran mulai dari keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks.
Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena adanya perbedaan, manusia dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan
interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.
Manusia adalah makhluk individual, berbeda satu dengan sama lain.
Karena sifatnya yang individual maka manusia yang satu membutuhkan manusia lainnya sehingga sebagai konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena satu sama lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi yang silih asih (saling menyayangi atau saling mencintai). Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa.
Perbedaan antar manusia yang tidak terkelola secara baik dapat menimbulkan ketersinggungan dan kesalahpahaman antar sesamanya. Agar manusia terhindar dari ketersinggungan dan kesalahpahaman maka diperlukan interaksi yang silih asuh (saling tenggang rasa). Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro (2000: 78) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata”.
2.2.2 Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya: “(1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan”
(Abdurrahman & Bintoro, 2000:78-79).
8
2.3 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example Non Example
Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Teori belajar yang mendasari model Example Non Example adalah konstruktivisme. Teori ini mengajarkan kepada siswa untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, dan guru memberi-kan kemudahan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri (Suprijono, 2010).
Teori konstruktivisme memandang bahwa belajar lebih dari sekedar mengingat. Siswa yang memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka berusaha menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Guru bukan orang yang mampu memberikan pengetahuan kepada siswa sebab siswa yang harus mengkonstruksikan pengetahuan di dalam memorinya sendiri. Untuk mengetahui lebih dalam tentang metode ini, maka perlu mengetahui hakikat model Example Non Example terlebih dahulu.
Teori belajar yang mendasari model Example Non Example adalah konstruktivisme (Suprijono, 2010). Teori konstruktivisme memandang bahwa belajar lebih dari sekedar mengingat. Siswa yang memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka berusaha menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Guru bukan orang yang mampu memberikan pengetahuan kepada siswa sebab siswa yang harus mengkonstruksikan pengetahuan di dalam memorinya sendiri. Untuk mengetahui lebih dalam tentang metode ini, maka perlu mengetahui hakikat model Example Non Example terlebih dahulu.
Example Non Example adalah medel yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Model ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari Example Non Example dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Example memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan
Non Example memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas (Hamzah, 2005: 113).
Example Non Example dianggap perlu dilakukan karena suatu definisi konsep adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi definisinya daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap Example dan Non Example diharapkan akan dapat mendorong siswa untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.Maka untuk memahami suatu konsep dari sifat fisik dapat menggunakan media gambar.
Gambar adalah tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan, dsb) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas dan sebagainya, yang tidak bisa berubah-ubah, hanya bisa digerakkan oleh guru tanpa alat apapun dan wujud bendanya tepat (Sufanti, 2008: 70).
Model pembelajaran Example dan Non-Example ini merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompakpartipatif), tiap anggota kelompok terdiri atas 4-5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karakter), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. (Suyatno, 2009: 51-52). Langkah-langkah dari proses pembelajaran Example dan Non-Example menurut Slavin dalam Hamdayama adalah:
a. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Guru menempelkan gambar di papan tulis atau ditayangkan melalui OHP atau LCD.
c. Guru memberikan petunjuk dan kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan atau menganalisis gambar.
d. Melalui diskusi kelompok 4-5 orang siswa, hasil diskusi dari analisis gambar 2tersebut dicatat pada kertas kerja siswa.
e. Tiap kelompok diberikan kesempatan memberikan hasil diskusinya.
10
f. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru menjelaskan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
(Hamdayama, 2014: 99)
Sedangkan menurut Suprijono (2009: 12), langkah-langkah model pembelajaran Example dan Non-Example, diantaranya berikut ini:
a) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Gambar yang digunakan tentunya dengan tujuan yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan kompetensi dasar.
b) Guru menempelkan gambar dipapan atau ditayangkan melalui LCD atau OHP, jika ada dapat pula menggunakan proyektor. Pada tahapan ini, guru juga meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar yang telah dibuat dan sekaligus pembentukan kelompok.
c) Guru memberikan petunjuk dan memberikan kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan / menganalisis gambar. Biarkan siswa melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama, agar detail gambar dapat dipahami oleh siswa. Selain itu, guru juga memberikan deskripsi jelas tentang gambar yang sedang diamati oleh siswa.
d) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas.
e) Tiap kelompok diberikan kesempatan membacakan hasil disakusinya.
f) Siswa dilatih untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing.
g) Mulai dari komentar / hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Setelah memahami hasil dari analisis yang dilakukan siswa, maka guru mulaimenjelaskan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
h) Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Keuntungan dari Model pembelajaran Example dan Non-Example:
a) Siswa berangkat dari satu definisi, yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih kompleks.
b) Siswa terlibat dalam proses discovery, yang mendorong mereka menggabungkan konsep secara progresif lewat pengalaman dari Example dan Non-Example.
c) Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian Non Example yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian Example.
(Hamdayama, 2014: 101).
Kebaikan dari model pembelajaran Example dan Non-Example:
a) Siswa lebih kritis dalam menganalisis gambar.
b) Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
c) Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran Example dan Non-Example adalah:
a) Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
b) Memakan waktu yang cukup lama
2.4 Penerapan Model Example Non Example Dalam Pembelajaran PPKn di SMP
Untuk melaksanakan pembelajaran PPKn dengan menggunakan model Example Non Example dalam pembelajaran di kelas, harus memperhatikan beberapa tahap atau tipe pelaksanaanya. Sintak model Example Non Example sebagai berikut:
1) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran yang akan dicapai harus jelas agar memudahkan guru dalam menyampaikan pembelajaran serta sebagai alat untuk mengukur ketercapaian tujuan yang hendak dicapai.
12
2) Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD. Media gambar dalam apersepsi membantu siswa dalam memahami konsep yang masih abstrak.
3) Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memerhatikan/ menganalisis gambar
4) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. Meminta siswa untuk bekerja berpasangan untuk menggeneralisasikan konsep Example Non Example mereka.
5) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikannya secara klasikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik.
6) Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
7) Kesimpulan
( Suprijono: 2010: 125)
2.5 Materi Pembelajaran PPKn
2.5.1 Dinamika Perwujudan Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Pandangan Hidup Bangsa
Pada awal kemerdekaan ini, penerapan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup menghadapi berbagai masalah. Ada upaya-upaya untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dan penyimpangan terhadap nilai- nilai Pancasila, sebagai berikut.
1. Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Pemberontakan ini dipimpin oleh Muso. Tujuan utamanya adalah mendirikan Negara Soviet Indonesia yang berideologi komunis.
2. Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia dipimpin oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Pemberontakan ini ditandai dengan didirikannya Negara Islam Indonesia (NII) oleh Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1949. Tujuan utama didirikannya NII adalah untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan syari’at Islam. Tetapi, gerakannya bertentangan dengan ajaran Islam sebenarnya.
3. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Republik Maluku Selatan (RMS) merupakan sebuah gerakan separatisme dipimpin oleh Christian Robert Steven Soumokil, bertujuan untuk membentuk negara sendiri, yang didirikan tanggal 25 April 1950.
4. Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) atau Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang dipimpin oleh Sjarifuddin Prawiranegara dan Ventje Sumual tahun 1957-1958 di Sumatra dan Sulawesi. Gerakan ini merupakan bentuk koreksi untuk pemerintahan pusat pada waktu itu yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Soekarno pada saat itu sudah tidak bisa lagi diberikan nasihat dalam menjalankan pemerintahan sehingga terjadi ketimpangan sosial.
5. APRA (Angkatan Perang Ratu Adil). Angkatan Perang Ratu Adil merupakan milisi yang didirikan oleh Kapten KNIL Raymond Westerling pada tanggal 15 Januari 1949. Westerling memandang dirinya sebagai sang “Ratu Adil” yang diramalkan akan membebaskan Indonesia dari tirani. Gerakan APRA bertujuan untuk mempertahankan bentuk negara federal di Indonesia, serta memiliki tentara sendiri bagi negara-negara RIS. APRA melakukan pemberontakan pada tanggal 23 Januari 1950, dengan melakukan serangan dan menduduki kota Bandung, serta menguasai mar- kas Staf Divisi Siliwangi.
6. Perubahan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedangkan konstitusi yang berlaku adalah Undang-Undang Dasar Sementara 1950. Dalam perjalanannya berhasil melaksanakan pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955 yang selama itu dianggap paling demokratis. Tetapi anggota Konstituante hasil pemilu tidak dapat menyusun Undang-Undang Dasar seperti yang diharapkan. Hal ini menimbulkan krisis politik, ekonomi, dan keamanan, yang menyebabkan Pemerintah mengeluarkan Dekrit Presiden 1959. Dekrit tersebut dikenal dengan Dekrit 5 Juli 1959 yang berisi: membubarkan Badan Konstituante; Undang-Undang Dasar Tahun 1945 berlaku kembali dan Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 tidak berlaku; serta segera akan dibentuk MPRS dan DPAS. Pada periode ini, dasar negara tetap Pancasila. Akan tetapi, dalam penerapannya lebih diarahkan seperti ideologi liberal yang ternyata tidak menjamin stabilitas pemerintahan.
Yang kedua, Masa Orde Lama (1959-1966).
Periode ini dikenal sebagai periode demokrasi terpimpin. Demokrasi terpimpin merupakan sebuah sistem demokrasi yang seluruh keputusan dan pemikiran dalam pemerintahan negara, berpusat pada pemimpin negara. Pemimpin negara sa at itu adalah Presiden Soekarno. Walaupun konstitusi negara sudah kembali pada UUD NRI Tahun 1945, namun pelaksanaannya masih terdapat penyimpangan terhadap UUD NRI Tahun 1945. Beberapa penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945, diantaranya sebagai berikut.
14
1. Presiden Soekarno ditetapkan sebagai Presiden seumur hidup berdasarkan TAP MPRS No. XX/1963, yang menyebabkan kekuasaan presiden semakin besar dan tidak terbatas.
2. Presiden mengeluarkan penetapan Presiden No. 3/1960 tanggal 5 Maret 1960 yang membubarkan DPR hasil Pemilu 1955.
3. Presiden membentuk MPRS yang anggota-anggotanya terdiri atas anggota DPR-GR, utusan daerah, dan utusan golongan yang semuanya diangkat serta diberhentikan oleh presiden.
Pada periode ini, terjadi Pemberontakan PKI tanggal 30 September 1965 yang dipimpin oleh D.N Aidit. Tujuan pemberontakan ini adalah menjadikan negara Indonesia sebagai negara komunis yang berkiblat ke negara Uni Soviet serta meng ganti Pancasila dengan paham komunis.
Yang ketiga adalah Masa Orde Baru Era demokrasi terpimpin di bawah pimpinan Presiden Soekarno mendapat tamparan yang keras ketika terjadinya peristiwa tanggal 30 September 1965, yang disinyalir didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan PKI tersebut membawa akibat yang teramat fatal bagi partai itu sendiri, yaitu dibubarkannya PKI dengan seluruh organisasi di bawah naungannya, dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia.
Yang keempat adalah Masa Reformasi (1998 – sekarang)
Pada masa Reformasi, penerapan Pancasila sebagai dasar negara terus menghadapi berbagai tantangan. Penerapan Pancasila tidak lagi dihadapkan pada ancaman pemberontakan-pemberontakan yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Akan tetapi, lebih dihadapkan pada kondisi kehidupan masyarakat yang diwarnai oleh kehidupan yang serba bebas.
Kebebasan yang mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, meliputi berbagai macam bentuk, mulai dari kebebasan berbicara, berorganisasi, berekspresi, dan sebagainya. Kebebasan tersebut, di satu sisi dapat memacu kreativitas masyarakat, tapi di sisi lain juga bisa mendatangkan dampak negatif yang merugikan bangsa Indonesia sendiri.
Terdapat beberapa hal negatif yang timbul sebagai akibat penerapan konsep kebebasan yang tanpa batas, seperti munculnya pergaulan bebas, pola komunikasi yang tidak beretika, peredaran narkoba dan minuman keras, aksi anarkisme, serta
vandalisme, sehingga memicu terjadinya perpecahan, dan penurunan moral.
Tantangan lain dalam penerapan Pancasila di era Reformasi adalah menurunnya rasa persatuan dan kesatuan di antara sesama warga bangsa saat ini.
Demikianlah penjelasan singkat tentang materi pembelajaran PPKn kelas 9 Bab 1 tentang “Dinamika Perwujudan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa | Penerapan Pancasila dari Masa ke Masa”.
2.5.2 Ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara pada era Milineal Ancaman terhadap ideologi Pancasila tidak hanya datang dari Ideologi luar semisal Komunisme, Liberalisme tapi sesungguhnya ancaman terbesar pada ideologi Pancasila adalah sikap Intoleransi dan radikalisme yang ada di tengah masyarakat.
"Sebenarnya ancaman terhadap ideologi Pancasila bukan hanya datang dari ideologi lain seperti komunis dan Liberalisme tapi ancaman yang terbesar ada sikap Intoleransi dan radikalisme yang tumbuh di tengah masyarakat, Kalau komunisme dan Liberalisme pasti kita sudah waspada tapi kalau ada masyarakat yang mempunyai sikap toleransi atau gerakan radikal ini yang sangat berbahaya tidak hanya bagi Pancasila rapi juga bagi keutuhan Negara Republik Indonesia,"
jelasnya.
Dikatakannya untuk mencegah sikap intoleran dan Radikalisme perlu diajarkan secara dini kepada anak anak tentang norma dan nilai nilai Pancasila.
"Yang paling penting bagaimana memberikan pendidikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kepada anak anak termasuk memasukan nilai toleransi kepada sesama dan anak anak harus dijelaskan bahwa anak-anak Indonesia harus berkawan dengan saudara-saudara mereka yang berbeda beda mulai dari Miangas hingga pulau Rote dari Aceh sampai Merauke," katanya.
Lebih lanjut Agus Sujono mencontohkan kalau masyarakat mau mengamalkan Pancasila bangsa ini tidak perlu khawatir menghadapi persaingan dan ancaman global asalkan mau berdikari dan bergotong royong menghadapi persolan secara bersama sama
16
2.6 Penelitian Relevan
Hasil penelitian Muhammad Nugroho dengan judul “ Upaya Peningkatan Examples Pada Mata Pelajaran PPKn Di Kelas VII C SMP Negeri 14 Pekalongan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran Example Non Examples, prestasi belajar siswa kelas VIIC SMP Negeri 14 Pekalongan dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari masing-masing siklus yaitu pada siklus I nilai rata-rata siswa mencapai 65,6, dengan ketuntasan klasikal sebesar 65,6%.
Pada siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 76,1 dengan ketuntasan klasikal 87,5%. Peningkatan juga terjadi pada aktivitas siswa, pada siklus I keaktifan siswa mencapai 78% dan pada siklus II meningkat menjadi 92%.
Hasil penelitian Awang candra Widhi (2010) dengan judul” Peningkatan keterampilan Menulis Pengalaman Pribadi Melalui Metode Examples Non Examples pada siswa kelas VIIB SMP Negeri 3 Kandangan Kabupaten Temanggung”. Dari hasil analisis data tes penelitian ini diketahui bahwa adanya peningkatan keterampilan menulis pengalaman pribadi melalui metode Examples Non Examples. Hasil tes prasiklus diperoleh nilai rata-rata 59,27, pada siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 61,64, adapun pada siklus II terjadi peningkatan , yaitu memperoleh nilai rata-rata sebesar 70,09. Peningkatan keberhasilan dari prasiklus ke siklus I sebesar 3,4 %, siklus I ke siklus II sebesar 13,71 %, adapu prasiklus ke siklus II yaitu sebesar 18,25%. Peningkatan keterampilan menulis pengalaman pribadi tersebut diikuti dengan perubahan perilaku siswa ke arah positip, yaitu semakin aktif dan antusias dengan pembelajaran menulis pengalaman pribadi melalui model Examples Non Examples.
2.7 Kerangka Berfikir
Berdasarkan hasil observasi dikelas rendahnya kualitas pembelajaran PPKn seperti keterampilan guru yang kurang maksimal dalam pengelolaan kelas, guru dalam menggunakan media pembelajaran kurang optimal, minimya strategi yang dilakukan oleh guru saat mengajar, metode mengajar kebanyakan hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, guru belum menjadikan
pembelajaran menjadi menarik dan berkesan, siswa kurang aktif bertanya sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang masih rendah.
Model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example diharapkan dapat memecakan masalah atau menjadi alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran dikelas berlangsung secara efektif dan optimal. Caranya adalah dengan melatih guru PPKn, kemudian mengaplikasikannya secara kolaboratif dengan peneliti. Hasilnya, diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example dapat memudahkan siswa untuk menangkap isi materi pelajaran PPKn dan dapat berinteraksi dengan siswa yang lainya, serta terciptanya kondisi pembelajaran aktif, menyenangkan dan meningkatkan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat serta dapat meningkatkan hasil belajar PPKn siswa.
2.8 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dijabarkan diatas, dapat ditarik hipotesis tindakan sebagai berikut: Pembelajaran PPKn tentang materi dinamika perwujudan nilai – nilai Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa dengan menggunakan model Example Non Example dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PPKn pada siswa kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah Kecamatan Pulau Rimau.
18 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Suharismi, PTK melalui paparan gabungan definisi dari tiga kata: Penelitian + Tindakan + Kelas sebagai berikut:
1. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2. Tindakan adalah sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.
(Arikunto dkk, 2012 : 58)
3.2 Setting Penelitian
3.2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Harapan Masa Depan Cerah Kecamatan Pulau Rimau. Pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021.
3.2.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah dengan jumlah siswa sebanyak 38 siswa, yang terdiri dari 20 perempuan dan 18 laki-laki.
3.3 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus (tiap sikus terdapat dua kali pertemuan). Bahwasannya setiap siklus terdiri dari 4 tahapan.
Yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi.
3.4 Rancangan Penelitian
PTK ini direncanakan dalam beberapa siklus. Siklus I terdiri dari dua kali pertemuan dan siklus II terdiri dari dua kali pertemuan.
1. Rancangan atau perencanaan awal, sebelum mengadakan penelitian menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk didalamnya instrument penelitian dan perangkat pembelajaran.
2. Pelaksanaan dan pengamatan, dalam hal ini meliputi tindakan yang dilakukan oleh penelitian sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkan model pembelajaran yang digunakan.
3. Refleksi, dalam hal ini peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diidi oleh pengamat.
4. Rancangan atau rencana yang direvisi, hal ini berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
(Daryanto, 2011:184)
Kegiatan pada siklus kedua berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya. Akan tetapi, pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditunjukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama. Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa uraian dari siklus tersebut adalah sebagai berikut:
3.4.1 Siklus I 1. Perencanaan
a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b. Mempersiapkan sumber dan media pembelajaran berupa gambar pemberontakan Gerakan 30 September PKI (G30SPKI).
c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.
20
d. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati proses pembelajaran, keterampilan guru dan aktivitas siswa, serta hasil belajar menyebutkan serta menjelaskan dinamika perwujudan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangasa.
2. Pelaksanaan tindakan Kegiatan Awal
1. Persiapan
Mengucapkan salam, berdoa bersama, mengecek kehadiran siswa dan mengkondisikan kelas.
2. Apersepsi:
“Pernahkah kalian menonton flim Gerakan 30 september PKI?”
3. Motivasi
Menuliskan judul pembelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti (Eksplorasi)
1. Guru mempersiapkan gambar macam-macam ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.
2. Guru menempelkan gambar macam-macam ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. ditayangkan melalui LCD.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memerhatikan/menganalisis macam ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa”
(Elaborasi)
1. Guru membagi kelompok, 1 kelompok beranggotakan 5-6 orang siswa.
2. Melalui diskusi kelompok 5-6 orang siswa, diminta untuk menganalisis macam ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa dicatat dikertas.
3. Selain itu juga siswa diberikan LKPD untuk didiskusikan dalam kelompok masing-masing.
4. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
(Konfirmasi)
1. Guru memberikan umpan balik kepada siswa.
2. siswa diberikan soal evaluasi untuk dikerjakan secara individu.
Kegiatan akhir
1. Siswa dibimbing guru membuat kesimpulan.
2. Tindak lanjut, yaitu bagi siswa yang nilainya kurang maka guru akan memberikan perbaikan, sedangkan bagi siswa yang mendapat nilai bagus maka guru akan memberikan pengayaan.
3. Observasi
1) Melakukan pengamatan keterampilan guru dalam pembelajaran melalui model Example Non Example yang berlangsung didalam kelas.
2) Melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran melalui model Example Non Example yang berlangsung didalam kelas.
3) Melakukan pengamatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran melalui model Example Non Example yang berlangsung didalam kelas.
4. Refleksi
1) Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran pada siklus 1.
2) Mengkaji pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan pada siklus 1.
3) Membuat daftar permasalahan yang terjadi pada siklus 1.
4) Merencanakan perencanaan tindak lanjut untuk siklus 2.
3.4.2 Siklus II 1. Perencanaan
a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b. Mempersiapkan sumber dan media pembelajaran berupa gambar Gerakan 30 September PKI.
c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis dan lembar kerja siswa.
d. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati proses pembelajaran, keterampilan guru dan aktivitas siswa, serta hasil belajar.
2. Pelaksanaan tindakan Kegiatan Awal
22
1. Persiapan
Mengucapkan salam, berdoa bersama, mengecek kehadiran siswa dan mengkondisikan kelas.
2. Apersepsi:
“Apakah ada yang tahu apa latar belakang terjadinya Gerakan 30 September PKI?”
3. Motivasi
Menuliskan judul pembelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti (Eksplorasi)
1. Guru mempersiapkan gambar macam-macam ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.
2. Guru menempelkan gambar macam-macam alat ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa ditayangkan melalui LCD.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memerhatikan/menganalisis “ancaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa”.
(Elaborasi)
1. Guru membagi kelompok, 1 kelompok beranggotakan 2-3 orang siswa.
2. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dan analisis gambar alat ukur waktu serta data-data dicatat dikertas.
3. Selain itu juga siswa diberikan LKPD untuk didiskusikan dalam kelompok
4. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
(Konfirmasi)
1. Guru memberikan umpan balik kepada siswa.
2. Siswa diberikan soal evaluasi untuk dikerjakan secara individu.
Kegiatan akhir
1. Siswa dibimbing guru membuat kesimpulan.
2. Tindak lanjut, yaitu bagi siswa yang nilainya kurang maka guru akan memberikan perbaikan, sedangkan bagi siswa yang mendapat nilai bagus maka guru akan memberikan pengayaan.
3. Observasi
1) Melakukan pengamatan keterampilan guru dalam pembelajaran melalui model Example Non Example yang berlangsung didalam kelas.
2) Melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran melalui model Example Non Example yang berlangsung didalam kelas.
3) Melakukan pengamatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran melalui model Example Non Example yang berlangsung didalam kelas.
4. Refleksi
1) Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran pada siklus II.
2) Mengkaji pelaksanaan pembelajaran dan efek tindakan pada siklus II.
3) Mengidentifikasi keberhasilan pelaksanaan tindakan pada siklus II.
4) Mengukur keberhasilan aktivitas siswa dalam pembelajaran PPKn melalui model Example Non Example pada siklus II.
3.5 Instrumen Pengumpulan Data
Instrument adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur dalam rangka pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Dalam kegiatan PTK ini, instrument yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data adalah dengan menggunakan tes, observasi dan dokumentasi.
3.5.1 Tes
Menurut Arikunto (2012:150) tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.
Adapun tes yang digunakan peneliti sebagai berikut:
1. LKPD yaitu tes yang diberikan dalam proses pembelajaran, tes ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah diajarkan.
24
2. Tes akhir (Post Test) yaitu tes yang diberikan setelah dilaksanakan proses pembelajaran, tes tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan intelektual peserta didik.
3.5.2 Dokumentasi
Dokumentasi dari asal katanya dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda- benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2006: 158). Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan dan mengetahui data-data siswa kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah terutama nilai PPKn dengan materi dinamika perwujudan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa melalui model Example Non Example.
3.6 Analisa Data
Analisa data yang digunakan adalah dengan cara memunculkan data test awal dan data test akhir lewat tabel dan dicari persentasinya. Keberhasilan tindakan dilihat dari dua aspek yaitu aspek proses dan aspek hasil atau produk (nilai tes) dari segi proses tindakan dikatagorikan berhasil apabila siswa terlihat antusias yang ditandai dengan keaktifan, senang, dan kreatif dalam mengikuti proses pembelajaran.
Proses tindakan dikatakan berhasil apabila siswa mencapai kriteria penilaian yang telah ditetapkan, dan keterampilan menyimak dengan menggunakan media audio visual keantusiasan siswa tersebut dapat ditandai dari keterlibatannya dalam melakukan kegiatan.
3.6.1 Analisa Data Tes
Untuk memperoleh nilai akhir yang diperoleh siswa diperlukan dengan rumus sebagai berikut:
100 Maksimal x
Skor
n Pemeroleha NA = Skor
Hasil penskoran akan dikatagorikan berdasarkan nilai atau skor kriteria Ketuntasan Minimal untuk mata pelajaran PPKn kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Konversi Skor
Skor Tes Ketuntasan
65-100 Tuntas
0-64 Tidak Tuntas
(Sesuai dengan KKM SMP Harapan Masa Depan Cerah) Selanjutnya peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa yang kemudian dibagi dengan jumlah siswa kelas tersebut sehingga diperoleh nilai rata- rata.
𝑿 = ∑ 𝑿
∑ 𝑵 (Aqib, dkk, 2008:40)
3.6.2 Penilaian Ketuntasan Belajar
Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar, digunakan rumus sebagai berikut:
Kriteria tingkat keberhasilan siswa dalam belajar menggunakan kategori sangat baik, baik, cukup, kurang baik, dan buruk. Kriteria tersebut dibuat berdasarkanrerensi yang dikemukakan oleh Aqib dkk, (2008:41) seperti pada tabel berikut:
Tabel 3.2 Kriteria Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa dalam % Tingkat Keberhasilan % Kategori
➢ 80 % Sangat Baik
60 – 79 % Baik
% 100 siswa x
belajar tuntas
yang siswa
P=
26
40 – 59 % Cukup
20 – 39 % Kurang Baik
<20 % Buruk
Menurut Aqib dkk (2008:41)
3.7 Indikator Keberhasilan
Model Example Non Example dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah dengan indikator sebagai berikut:
1. Keterampilan guru dalam pembelajaran PPKn menggunakan model Example Non Example meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
2. 85% siswa kelas IX SMP Harapan Masa Depan Cerah mengalami ketuntasan belajar klasikal, artinya siswa mencapai nilai KKM yaitu 65 dalam pembelajaran PPKn menggunakan model Example Non Example.
27 4.1 Hasil Penelitian Siklus I
Penelitian siklus I dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021 terdiri dari dua kali pertemuan, yaitu pada hari Selasa 6 Oktober dan Senin, 12 Oktober 2020. Pertemuan pertama dan kedua dilaksanakan kegiatan pembelajaran, dan tes siklus pertama dilakukan pada akhir pertemuan kedua siklus I.
4.1.1 Siklus I Pertemuan Pertama
Siklus I pertemuan pertama dilakukan pada hari Selasa 6 Oktober 2020.
Sebelumnya peneliti melakukan perencanaan dimana pada tahap awal ini peneliti melakukan pengamatan awal untuk melihat masalah dari kegiatan belajar siswa sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Kegiatan ini merupakan tahap awal untuk menyusun penelitian tindakan kelas. Langkah selanjutnya mempersiapkan perangkat pembelajaran yang berguna sebagai permulaan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Perencanaan dalam penelitian tersebut terdiri dari:
• Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Sub Pokok bahasan mengenai alat ukur panjang dan tangga ukurannya.
• Membuat media pembelajaran berupa gambar alat ukur panjang.
• Menyiapkan sumber belajar (Buku Matematika KTSP dan lainnya)
• Membuat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang terdiri dari 4 soal.
• Merancang pembentukan kelompok dengan membagi 38 siswa menjadi 6 kelompok secara heterogen. Setiap kelompok terdiri dari 6 – 8 anggota.
Pertemuan pertama ini membahas mengenai dinamika perwujudan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Pada kegiatan awal, sebelum memulai pembelajaran guru membuka kegiatan dengan mengucapkan salam “Assalammualakum Wr. Wb”
dan seluruh peserta didik menjawab salam guru dengan mengucapkan
28
“Waalaikumsalam Wr.Wb”. Kemudian ketua kelas memimpin dan menyiapkan teman-temannya untuk berdoa bersama.
Setelah berdoa guru mengkondusifkan kelas dengan meminta peserta didik untuk merapikan tempat duduk mereka masing-masing dan mengabsen peserta didik dengan menanyakan peserta didik yang tidak hadir. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan apersepsi: “ kita bersama-sama menyanyikan lagu wajib nasional Indonesia Raya”.” Ayo kita menyanyi bersama, 1,..,2,..,3...” semua peserta didik mulai bernyanyi. Kemudian guru menjelaskan model pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran untuk beberapa pertemuan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example. Setelah semua peserta didik paham mengenai teknis pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example . Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan ini”
Agar siswa mampu memahami macam-macam dinamika perwujudan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.
Gambar. 4.1 Guru menayangkan gambar
Setelah itu guru memberikan materi tentang dinamika perwujudan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Saat pemaparan materi berlangsung, sebagian peserta didik tampak diam dan tenang mendengarkan serta meperhatikan penjelasan dari guru. Namun selang beberapa menit ada beberapa peserta didik yang duduk dibelakang tampak asyik mengobrol
dengan teman sebangkunya. Kemudian guru menegur siswa tersebut agar tetap fokus terhadap penjelasan guru.
Selama kegiatan pemberian materi, guru bertanya pada peserta didik
“Adakah yang ingin ditanyakan?” peserta didik tidak ada yang bertanya. Selesai pemberian materi guru pun membagi kelompok menjadi kelompok yang terdiri dari 5 orang peserta didik setiap kelompoknya. Dimana kelompok-kelompok tersebut diacak secara heterogen dan diberi nama-nama bunga seperti dahlia, anggrek, mawar, kenanga, melati dan lili.
Setelah selesai membagi kelompok dan peserta didik telah duduk berdasarkan kelompoknya masing-masing, guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) yang akan dijadikan bahan diskusi didalam kelompoknya masing-masing, termasuk guru meminta peserta didik untuk menganalsis gambar alat ukur panjang yang ada di papan tulis. Peserta didikpun berdiskusi secara bersama-sama dalam kelompknya masing-masing untuk menyelesaikan beberapa soal-soal diskusi yang ada pada lembar kerja siswa. Gurupun membimbing peserta didik dalam pegerjaan LKPD tersebut. Setelah mengerjakan soal diskusi peserta didik menyatukan pendapat-pendapat mereka dan ditulis dilembar kerja mereka.
Gambar. 4.2 Peserta Didik saat Diskusi
Kemudian guru meminta salah satu peserta didik dalam setiap perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mereka masing-masing. Dimana setiap kelompok dapat memberikan pendapat mereka masing-masing mengenai
30
alat ukur panjang yang ada dipapan tulis dan LKPD yang telah didiskusikan mereka.
Gambar 4.3 Penyampaian Hasil Diskusi
Setelah itu guru memberikan beberapa soal test yang ditayangkan di proyektor untuk melihat kemampuan peserta didik didalam kelompok. Diakhir pertemuan guru mengajak peserta didik untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Dan meminta salah satu peserta didik untuk maju kedepan kelas menyampaikan kesimpulan yang dipelajari pada pertemuan kali ini. Kemudian guru meminta peserta didik untuk mempelajari materi selanjutnya pada pertemuan selanjunya mengenai “Mengevaluasi Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya.”
Dari hasil pengamatan pada Siklus I Pertemuan Pertama memilki kelemahan-kelemahannya yaitu:
• Beberapa peserta didik belum menampakan kesiapan dalam mengikuti pembelajaran, seperti mengobrol dengan teman sebangkunya dan tidak menyiapkan buku serta alat tulis ketika pembelajaran akan dimulai.
• Beberapa peserta didik belum memahami prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kooperatif Example Non Example
Kelemahan-kelemahan diatas perlu dilakukannya perbaikan atau refleksi agar hasil belajar peserta didik dapat meningkat sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Maka tindak lanjut yang perlu dilakukan oleh guru untuk pertemuan selanjutnya yaitu:
• Memberikan perhatian lebih kepada peserta didik yang sering mengobrol dengan menegur atau meberikan pertanyaan agar peserta didik tersebut dapat lebih berkonsentrasi dalam pembelajaran.
• Menyampaikan kembali prosedur pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example sebelum melaksanakannya.
• Memilih ketua kelompok agar didalam kelompok terhandle secara baik dan benar.
4.1.2. Siklus I Pertemuan Kedua
Siklus I pertemuan kedua peserta didik mempelajari mengenai sub pokok bahasan Mengevaluasi Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya. Pada tahap ini peneliti melakukan perencanaan ulang dengan tujuan dapat mengatasi kekurangan yang ada pada pertemuan sebelumnya sehingga hasil belajar peserta didik dapat meningkat.
Perencanaan dalam penelitian ini yaitu:
• Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Sub Pokok bahasan mengenai Mengevaluasi Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya.
• Membuat media pembelajaran berupa gambar pelanggaran terhadap nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya. .
• Menyiapkan sumber belajar (Buku PPKn dan sumber belajar lainnya)
• Membuat Lembar Kerja Siswa (LKPD) yang terdiri dari 4 soal.
• Membuat soal tes (evaluasi) yang terdiri dari 5 soal essay.
• Membuat kunci jawaban untuk soal test (evaluasi).
Pertemuan kedua ini membahas mengenai Mengevaluasi Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya. sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Pada kegiatan awal, sebelum memulai pembelajaran guru membuka kegiatan dengan mengucapkan salam
“Assalammualakum Wr. Wb” dan seluruh peserta didik menjawab salam guru
32
dengan mengucapkan “Waalaikumsalam Wr.Wb”. Kemudian ketua kelas memimpin dan menyiapkan teman-temannya untuk berdoa bersama.
Setelah berdoa guru mengkondusifkan kelas dengan meminta peserta didik untuk merapikan tempat duduk mereka masing-masing dan mengabsen peserta didik dengan menanyakan peserta didik yang tidak hadir. kemudian dilanjutkan dengan kegiatan apersepsi: “ kita bersama-sama menyanyikan lagu wajib nasional Garuda Pancasila”.” Ayo kita menyanyi bersama, 1,..,2,..,3...” semua peserta didik mulai bernyanyi bersama. Kemudian guru mengingatkan kembali tahapan model pembelajaran pertemuan kedua ini yaitu model pembelajaran koopeatif tipe Example Non Example (diharapkan peseta didik paham tahapan pelaksanannya).
Setelah semua peserta didik paham mengenai teknis pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example . Guru melakukan apersepsi untuk mengingat kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya yaitu dengan mengajukan petanyaan “Ayo... siapa yang tahu Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya. ?” Jaka menjawab
“menghormati orang tua ”. Lalu guru membenarkan jawaban Jaka “ Iya..Betul”.
Kemudian Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan ini”
agar peserta didik mampu memahami macam-macam Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya. ”.
Selanjutnya guru meminta beberapa peserta didik untuk membantu menempelkan gambar-gambar Mengevaluasi Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya di papan tulis.
Gambar 4.4 Peserta Didik Menempelkan Gambar Dinamika Perwujudan nilai – nilai Pancasila
Setelah itu guru memberikan materi tentang Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya.. Saat pemaparan materi berlangsung, sebagian peserta didik tampak diam dan tenang mendengarkan serta meperhatikan penjelasan dari guru. Namun bahawasannya guru sudah mengingatkan peserta didik untuk tidak asyik sendiri dan mengobrol dengan teman sebangkunya agar proses pebelaara berlangsung kondusif.
Selama kegiatan pemberian materi, guru bertanya pada peserta didik
“Adakah yang ingin ditanyakan?” Ada salah satu siswa bernama Agus” Pak, alat Pancasila sebagai dasar negara sama tidak dengan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa?”. Guru menjawab “ Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila dijadikan dasar dalam penyelenggaraan negara, sedangkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila dijadikan pedoman dalam berbuat dan bertindak dalam kehidupan bermasyarakat” . Selesai pemberian materi guru pun meminta peserta didik untuk membentuk kelompoknya masing-masing.
Setelah selesai mementuk kelompok dan peserta didik telah duduk berdasakan kelompoknya masing-masing, guru membagikan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang akan dijadikan bahan diskusi didalam kelompoknya masing- masing, termasuk guru meminta siswa untuk menganalisis gambar Perwujudan nilai - nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dalam bidang sosial budaya di papan tulis. Peserta didikpun berdiskusi secara bersama-sama dalam kelompoknya masing-masing untuk menyelesaikan beberapa soal-soal diskusi yang ada pada lembar kerja siswa. Guru pun membimbing peserta didik dalam pengerjaan LKPD tersebut. Setelah mengerjakan soal diskusi peserta didik menyatukan pendapat- pendapat mereka dan ditulis dilembar kerja mereka.
Kemudian guru meminta salah satu peserta didik dalam setiap perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mereka masing-masing. Maka setiap kelompok berlomba-lomba untuk memberikan pendapat mereka mengenai soal yang ada pada lembar kerja tersebut. Setelah itu guru memberikan beberapa soal test yang ditulis dipapan tulis untuk melihat kemampuan peserta didik didalam kelompok. Maka berlomba-lomba peseta didik untuk maju menyelesaikan soal tersebut.
34
Diakhir pertemuan guru mengajak peserta didik unuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari, dan meminta salah satu peserta didik untuk maju kedepan kelas menyampaikan kesimpulan yang dipelajari pada pertemuan kali ini.
Kemudian guru meminta peserta didik untuk mempelajari materi selanjunya pada pertemuan selanjunya mengenai “Mengevaluasi ancaman merubah Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa pada era millennial.”
Kemudian guru melakukan post test yang berkisar 20 menit pada akhir siklus I pertemuan kedua ini dengan memberikan soal yang berbentuk essay.
Terdapat beberapa peserta didik yang masih tampak bingung mengerjakan soal tersebut.
Setelah mengadakan ulangan harian siklus I dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai beikut:
Tabel 4.1 Hasil Belajar Siklus Pertama
NO HASIL BELAJAR BANYAK PERSENTASE
1 TUNTAS 22 73,33%
2 TIDAK TUNTAS 8 26,67%
JUMLAH 30 100%
Hasil belajar Siklus I pertemuan kedua ini juga dapat dilihat dari diagram berikut:
Gambar 4.5 Grafik Persentase Hasil Belajar Siklus I
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
70.00%
80.00%
Tuntas Tidak Tuntas
Persentase Hasil Belajar Siklus I
Persentase Hasil Belajar Siklus I