REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari).

Teks penuh

(1)

Novel “Ronggeng Dukuh Par uk” Kar ya Ahmad Tohar i)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Per syar atan

dalam Memper oleh Gelar Sar jana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik J ur usan Ilmu Komunikasi

Oleh :

FARIHAH WACHDIN NPM. 0843010154

YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL“VETERAN”J AWATIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, dengan memanjatkan Puji dan syukur kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah_Nya dan serta salam shalawat kepada Rasulullah SAW, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul : “Repr esentasi Diskr iminasi Per empuan Dalam Novel Ronggeng Dukuh Par uk” (Studi Semiologi Tentang Repr esentasi Diskr iminasi Per empuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Par uk” Kar ya Ahmad Tohar i), dengan lancar.

Tentunya dalam proses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari pengarahan serta bimbingan, bantuan, semangat dan dukungan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik dan tepat pada waktunya. oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih atas segala bantuan, dorongan dan semangat serta inspirasi kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, Mp. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Ibu Dra. Ec. Hj. Suparwati, M.Si. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

(3)

4. Bapak Drs. Syaifuddin Zuhri, M.Si. Dosen Pembimbing yang telah sabar memberikan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan penulis demi sempurnanya penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Kusnarto, M.Si. Dosen Wali yang telah memberikan bantuan, nasehat serta motivasi yang sabar mengarahkan penulis demi kelancaran dalam penyusunan skripsi ini.

6. Secara khusus dengan rasa hormat menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Abah, Ummi, saudaraku dan keluarga besar yang telah mencurahkan kasih sayangnya, memberikan banyak dukungan dan semangat serta doa restu, baik secara moril maupun materil.

7. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi yang telah banyak membekali ilmu dan memberikan inspirasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Seluruh staf karyawan TU yang telah menjadi rekan dan membantu jalannya skripsi ini.

9. Sahabatku Arien, “jelek” yang senantiasa menemani hari-hariku dan membantu kesempurnaan skripsi ini.

10. Teman seperjuangan fadzi, tissa, ria yang turut serta membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

11. Seluruh teman-teman kampus tanpa terkecuali, terimakasih telah menjadi teman dalam susah maupun senang.

(4)

ini.

Semoga ALLAH SWT selalu melindungi, dan memberikan Rahmat serta Karunianya atas jasa yang telah diberikan kepada penulis baik secara moril maupun secara materi.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata, semoga laporan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak demi kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu komunikasi khususnya. Amin.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Surabaya, April 2012

Penulis

DAFTAR ISI

(5)

HALAMAN J UDUL………... i

HALAMAN PERSETUJ UAN UJ IAN SKRIPSI………. ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI………... iii

KATA PENGANTAR……… iv

DAFTAR ISI……… vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

ABSTRAKSI... xi

BAB I PENDAHULUAN....………... 1

1.1. Latar Belakang ...………... 1

1.2. Rumusan Masalah...………... 13

1.3. Tujuan Penelitian...…... 13

1.4. Manfaat penelitian... 14

1.4.1. Teoritis... 14

1.4.2. Praktis... 14

BAB II KAJ IAN PUSTAKA....……….……..….…………... 15

2.1 Landasan Teori... 15

2.1.1 Novel... 15

(6)

Komunikasi Massa... 17

2.1.4 Diskriminasi... 19

2.1.5 Gender yang melahirkan ketidakadilan dan membentuk Diskriminasi terhadap Perempuan……… 20

2.1.6 Representasi………. 31

2.1.7 Pengertian Semiotika... 34

2.1.8 Semiologi Roland Barthes... 37

2.1.9 Kode-kode pembacaan... 43

2.2. Kerangka Berfikir………. 46

BAB III METODELOGI PENELITIAN... 49

3.1. Metode Penelitian………. 49

3.2. Kerangka Konseptual……… 50

3.2.1. Definisi Operasional………. 50

3.2.1.1. Gender………. 50

3.2.1.2. Ketidakadilan……….. 50

3.2.1.3. Diskriminasi Perempuan……... 51

3.3. Obyek dan Subyek Penelitian……….. 52

3.4. Corpus dan Penyajian data………... 53

3.5. Unit Analisis………. 58

3.6. Teknik Pengumpulan Data……… 58

(7)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……… 62

4.1. Gambar Objek Penelitian……….. 62

4.2. Penyajian dan Analisis Data………. 64

4.2.1 Penyajian Data……… 64

4.2.2 Hasil Analisis Data……….. 69

4.3. Mitos……… 110

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan……….. 113

5.2 Saran………. 114

(8)

Tabel 4.2. Pembagian Leksia Dalam 5 Kode Pembacaan

Roland Barthes………. 72

DAFTAR GAMBAR

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

(10)

ABSTRAK

FARIHAH WACHDIN, REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Repr esentasi Diskr iminasi Per empuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Par uk” Kar ya Ahmad Tohar i)

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana representasi diskriminasi perempuan melalui novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis semiologi Roland Barthes.

(11)

penelitian adalah teks yang mempresentasikan “diskriminasi perempuan”. Corpusnya adalah semua teks yang mempresentasikan diskriminasi perempuan.

Landasan teori yang digunakan adalah novel, diskriminasi, representasi, semiologi Roland Barthes memaknai leksia-leksia yang dapat mempresentasikan diskriminasi perempuan pada teks novel “Ronggeng Dukuh Paruk”.

Dalam penyajian data dan hasil analisis data, peneliti memilah-milah 5 kode pembacaan dalam leksia yang telah ditentukan yaitu : kode hermeneutik, kode semik, kode simbolik, kode proaretik, dan kode gnomik. Setelah melalui kode pembacaan Barthes tersebut ditemukan makna representasi diskriminasi dalam bentuk pembatasan, pelecehan, pengucilan terhadap manusia.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat 22 leksia yang mempresentasikan diskriminasi perempuan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Kata kunci:Representasi,Semiologi,Diskriminasi,Novel,Ronggeng Dukuh Paruk

REPRESENTATION OF WOMEN DISCRIMINATION IN THE NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK”

This research purpose to know how women discriminations representation through “Ronggeng Dukuh Paruk novel” written by Ahmad Tohari. This reaserch is a qualitative research using analysis Roland Barthes semilogy approach.

Novel is the research subject, and texts which represent of women discrimination is research object. The whole texts which represent of women discrimination are the corpus.

The ground theory are novel, discrimination, representation, Roland Barthes semilogy approach, which give meaning at leksia-leksia, that represent of women discrimination in novel texts.

Researcher classify analysis data presentation into five leksian reading code: hermeneutic code, semic code, symbolic code, proaretik code, gnomic code. After through reading codes Barthes’s,representation discrimination can be found. In conclusion researcher find 22 leksian, which represent women discrimination in Ronggeng Dukuh Paruk novel.

Keyword: Representation, Semiology, Of Women Discrimination, Novel, Ronggeng Dukuh Paruk.

DAFTAR PUSTAKA

Moleong, lexy, 2005, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya

Eriyanto, 2001, Analisis Wacana, Jakarta.LKiS

Eriyanto, 2005. Fr aming konstr uksi, ideology, & politik media. Jakarta. LKiS Sobur, alex, 2004, Semiotika Komunikasi, Bandung.Remaja Rosdakarya

(12)

Utama.

Fakih, Mansour, 1996, Analisis Gender & Tranfor masi Sosial. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Kurniawan, 2001, Semiologi Roland Bar thes, magelang, Indonesiatera Budiman,kris,2003, Semiotika Visual, Jakarta, Buku Baik

Fiske, John,2006, Cultur al and Communication studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif, Jakarta, Jalasutra

Pericles trifonas, peter,2003, Bar thes dan Imper ium Tanda, yogyakarta. Penerbit Jendela

Ratna, Nyoman Kutha, 2003. Par adigma Sosiologi sastr a, Yogyakarta, pustaka Pelajar

Barthes Roland, 1948, Semiotika dan Komunikasi, Jakarta, Raja Gravindo Utama gravity.

Suharto, Ben. 1999. Tayub Per tunjukan & Ritus Kesubur an. Bandung:Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia bekerja sama dengan arti-line.

Surur, Miftahus. 2003. “Per empuan Tayub Na sibmu di Sana Nasibmu di Sini” dalam Sr inthil : Media Perempuan Multikultural. Jakarta: Kajian Perempuan Desantara.

Homzah, Siti. 2010. Keker asan ter hadap Per empuan. Bandumg :Refika Aditama

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan karya monumental. Pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk bernama Ahmad Tohari, seorang penulis dari Banyumas. Merupakan sastrawan Indonesia yang jeli dalam mengamati fenomena-fenomena sosial budaya. Kehidupan masyarakat yang kompleks dan rumit ia tuangkan dalam tulisan dengan menggunakan bahasa sederhana yang terkadang masih lekat dengan jawa. Lebih dari 50 skripsi dan tesis lahir dari novel ini. Selain itu novel ini telah diterjemahkan ke dalam 4 bahasa asing, yaitu bahasa, Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris, di samping dibuat pula dalam bahasa daerah Jawa. Bahkan di jurusan Sastra Asia Timur, novel ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa.

Diantara karya-karyanya, Ronggeng Dukuh Paruk sering disebut-sebut oleh para kritikus sastra Indonesia sebagai karya masterpeace-ny. Karya terbaik Ahmad Tohari ini merupakan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala (PT Gramedia Pustaka Utama, 1981-1986-2003).

(14)

dan pernah terjadi, hanya saja sebagian dari budaya yang ada itu sudah tidak bisa ditemukan lagi. Novel ini mengangkat beragam persoalan manusia, seperti : cinta, kemanusiaan, gender, tradisi, kebudayaan dan politik. Seluruhnya terjalin paduan dalam sebuah kisah apik yang mengalir wajar tanpa paksaan. Oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta diterbitkan kembali menjadi satu novel panjang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

Setelah dipublikasikan oleh Ahmad Tohari melalui karya masterpeace-nya, ronggeng bahkan telah ‘go international’. Novel Ronggeng Dukuh Paruk mengangkat kesenian ronggeng yang juga dikenal dengan nama Lengger atau Tayub. Kesenian ronggeng telah lama populer dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama Jawa.

(15)

digandrungi warga masyarakat pedesaan. Pada awal kelahirannya, tayub merupakan ritual untuk sesembahan demi kesuburan pertanian. Penyajian tayub diyakini memiliki kekuatan magic-simpatetis dan berpengarauh pada upacara sesembahan itu. Melalui upacara “bersih desa”, aparat desa mengajak warganya untuk melakukan tarian di sawah-sawah dengan harapan keberkatan itu muncul melalui prosesi yang mereka lakukan. Tanaman menjadi subur dan masyarakat terhindar dari marabahaya. Tayub menjadi pusat kekuatan penduduk desa seperti halnya slametan, atau bahkan salat tahajud bagi kaum santri (Surur, 2003: 10).

(16)

tasyakuran, ronggeng berubah menjadi seni hiburan rakyat (Surur, 2003: 10).

Perkembangan (kapitalisasi) sosial mengantarkan seni hiburan rakyat ini ‘dipaksakan hidup’ dengan imbalan. Upah pertunjukan dan tradisi saweran dalam pentas ronggeng telah menggeser makna dirinya yang bersifat ‘sakral’ menjadi ‘profan’. Masyarakat yang semula menggunakan ronggeng untuk upacara tasyakuran dan menambah kerukunan antarwarga mulai kehilangan keseimbangan kosmosnya. Ronggeng seolah menjadi lahan baru tempat sejumlah orang bisa mengais rezeki. Tak heran kalau banyak perempuan muda di desa mulai melirik belajar menari dan menyanyi untuk segera pentas ronggeng. Bahkan ketika grup-grup ronggeng mulai berdesakan dan kondisi ekonomi di pedesaan terasa kandas, banyak grup ronggeng yang melakukan migrasi ke kota untuk menjajakan kebolehannya dengan berkeliling.

(17)

penyambutan tamu agung di banyumas seperti Gubernur dan Presiden. Ronggeng juga sering menjadi duta kesenian Kabupaten Banyumas di luar negeri misalnya di Negara Cheko, Malaysia, dan Thailand.

Dalam novel karyanya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, kesenian ronggeng yang ditampilkan Ahmad Tohari mengisahkan dunia ronggeng dengan beragam persoalan yang ada. Dalam tradisi masyarakat Dukuh Paruk, ronggeng tidak hanya berpentas sebagai penari, tetapi bertugas pula melayani laki-laki yang berkeinginan kepadanya. Dalam masyarakatnya, ronggeng dikonstruksi oleh sistem religi yang ada untuk menampilkan perilaku atau peran yang menyokong kepentingan sepihak. Hal itu ditunjukkan dengan suatu realita bahwa ronggeng dicipta untuk memikat laki-laki sehingga perempuan ronggeng tidak dibenarkan terpikat kepada laki-laki tertentu atau berumah tangga dengan laki-laki tertentu. Hal itu merupakan suatu konvensi yang tidak bisa ditawar-tawar yang berlaku di Dukuh Paruk.

(18)

Salah satu permasalahan yang sedang gencar dibicarakan saat ini adalah ketidakadilan gender yang sangat merugikan kaum perempuan. Salah satu faktor penyebabnya adalah budaya patriarki. Dari kondisi inilah muncul dominasi kaum laki-laki terhadap kaum perempuan, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun masyarakat. Efek negatif pemilahan peran sosial (gender) dari budaya patriarki akan memunculkan ketidakadilan gender sehingga akan membentuk diskriminasi perempuan. Diskriminasi perempuan adalah bentuk ketidakadilan gender yang lebih mengutamakan laki-laki. Diskriminasi terhadap perempuan sudah terbentuk sejak dalam lingkungan keluarga terutama bagi keluarga yang secara ekonomi tidak mampu. Diskriminasi dianggap sebagai bagian dari proses terjadinya tindak kekerasan.

(19)

menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik bernama Srintil yang baru berusia belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng (Yudiono, 2003: 17-18).

Kisah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dimulai dengan menampilkan Srintil kecil yang bermain bersama teman-temannya yakni Rasus dan anak-anak dukuh Paruk lainnya. Ternyata Srintil telah membuktikan dirinya yang terlahir untuk menjadi ronggeng dukuh Paruk ketika dalam sebuah permainan bersama Rasus dan anak-anak dukuh Paruk lainnya Srintil mampu nembang (menyanyikan lagu) dan menari layaknya seorang ronggeng yang sebenarnya.

Kini Srintil telah menjadi ronggeng yang terkenal berkat kepiawaiannya nembang dan menari ditambah dengan kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuhnya yang membuat hampir setiap lelaki yang memandangnya terpukau dan gemetar dalam renjana birahi. Dalam waktu singkat, Srintil membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri. Srintil merupakan sosok perempuan yang berparas cantik. Sejak usia sebelas tahun ia sudah menjadi primadona karena menjadi ronggeng. Kecantikan Srintil banyak menarik perhatian orang terutama kaum laki-laki. Mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk sekedar bertayub dan tidur dengan Srintil.

(20)

yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapapun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Setelah melalui upacara ritual bukak klambu (semacam sayembara bagi laki-laki untuk menikmati virginitas calon ronggeng dengan membayar sejumlah uang, siapa yang paling banyak uangnya, dialah yang menang), resmilah Srintil menjadi ronggeng Dukuh Paruk.

Dalam tradisi seorang ronggeng tidak dibenarkan mengikatkan diri dengan seorang lelaki, namun Srintil tak dapat melupakan Rasus, pemuda pujaannya. Ketika Rasus menghilang dari Dukuh Paruk, jiwa Srintil terkoyak. Srintil tidak dapat menerima keadaan ini, dia berontak dengan caranya sendiri akan tetapi tidak dapat menjadi penentu dalam kepribadiannya. Dia tegar dalam melakukan ketentuan-ketentuan yang biasa berlaku dalam dunia peronggengan, terutama dalam hubungan antara ronggeng dengan dukunnya.

(21)

Lebih lanjut, Srintil ingin mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya. Ia ingin berhenti menjadi ronggeng dan menjadi perempuan seutuhnya, menikah dan mempunyai anak. Namun itu hanya teriakan keras Srintil yang hanya bergema dalam hati sendiri dan tak mungkin tejadi. Srintil sebagai ronggeng harus melakukan pengorbanan, ia mengorbankan sebuah kesucian dalam acara Bukak-Klambu. Kartareja sebagai dukun ronggeng telah menyembarakan kesucian Srintil pada laki-laki yang bisa memenuhi syarat. Seperti diceritakan dalam novel ini di lingkungan keluarga praktek budaya patriarki masi kerap terjadi.

Konsep patriarki ini digunakan juga untuk menggambarkan kekuasaan laki-laki secara umum dalam berbagai hal kehidupan masyarakat yang berada dibawah kekuasaan laki-laki. Sehubungan dengan hal itu, terjadilah pembedaan atau diskriminasi terhadap perempuan yang pada akhirnya menimbulkan ketidakadilan (Muhadjir Darwin dan Tukiran, 2001:122).

Banyak bentuk-bentuk diskriminasi terhadap perempuan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini yang berimbas pada ketidakadilan gender yang sudah lama ada.

(22)

ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan (Fakih, 1996:12).

Diskriminasi perempuan di lingkungan keluarga merupakan fenomena yang sulit sekali dihilangkan. Banyak terdapat diskriminasi perempuan pada sosok Srintil yang terjadi di keluarga Nyai Kartareja. Lingkungan dukuh paruk mengkonstruksi Srintil sebagai mahkluk yang harus patuh, taat dan tunduk terhadap aturan-aturan yang dibuat oleh Nyai Kartereja sebagai dukun ronggeng, atas dasar nenek moyang yang kadang diartikan secara mentah. Diskriminasi selalu mempengaruhi setiap individu dalam menentukan pilihan dalam kehidupannya

Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya.

(23)

keluar dari jeratan nasib yang kurang memihaknya. novel Ronggeng Dukuh Paruk juga menyuarakan resistensi kaum perempuan melalui tokoh Srintil.

Karya ini juga menampilkan permasalahan dan resistensi perempuan yang dikenal dengan women issues. Permasalahan yang dianggap sebagai sesuatu yang aktual, yang sering dibicarakan dan dibahas. Dalam seminar, gerakan-gerakan perempuan, dunia pendidikan dan juga di media massa. Ini karena women issue dianggap berkaitan dengan pandangan masyarakat yang secara tidak langsung merugikan kaum perempuan. Pandangan tersebut berasal dari paham patriarki (partriarchal power), yang menganggap bahwa kekuasaan berada pada kaum laki-laki.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini adalah salah satu karya terkenal yang sangat menarik, banyak tanggapan baik positif maupun negatife dari masyarakat. Pada tahun 2011, trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi menjadi sebuah film fitur yang berjudul Sang Penari yang disutradarai Ifa Isfansyah. Film ini memenangkan 4 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011.

(24)

dibahas dengan menggunakan perspektif ilmu komunikasi, karena komunikasi pada dasarnya merupakan interaksi antara pribadi yang menggunakan system symbol linguistic, misalnya meliputi verbal, kata-kata, para verbal, dan non verbal. Sehingga novel ini menarik untuk diteliti dalam kajian penelitian semiotik linguistik Roland Barthes, metode semiotik Roland Barthes menitikberatkan pada hubungan penanda dan petanda, denotative konotatif dan sistem sosial yang ada pada novel, melalui kata dan kalimat yang bersifat atomistis.

Hasil pengamatan yang diperoleh dari studi pustaka menunjukan bahwa permasalah dalam novel ronggeng dukuh paruk belum pernah diteliti secara ilmiah. Oleh karena itu peneliti memilih judul : REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK

1.2. Rumusan Masa lah

Agar pembahasan dalam penelitian ini menjadi jelas dan terarah perlu adanya perumusan masalah. Maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

“Bagaimana representasi tentang diskriminasi perempuan dalam novel ronggeng dukuh paruk?

(25)

Bedasarkan rumusan masalah yang telah peneliti kemukakan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi tentang diskriminasi perempuan dalam novel ronggeng dukuh paruk.

1.4. Manfaat penelitiaan 1.4.1. Teor itis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi seseorang. Dapat memperkaya jenis penelitian di bidang komunikasi, khususnya tentang representasi diskriminasi perempuan dalam sebuah karya sastra penelitian dengan menggunakan analisis semiotika

1.4.2. Pr aktis

(26)

BAB II KAJ IAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teor i 2.1.1. Novel

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, novel merupakan hasil karya naratif dan fiksi yang bukan menyajikan kenyataan di dunia ini tetapi perlambangan atau model dari kenyataan itu, wujud dari perlambangan itu berupa kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi sekaligus untuk merasakan dan berfikir tentang realitas yang tergantikan oleh kata-kata tersebut. Novel merupakan salah satu jenis buku dalam bentuk sastra sama seperti media cetak lainnya. Novel juga memberikan informasi kepada pembacanya, selain novel juga berfungsi menghibur dan mempersuasi para pembacanya. (Keraf, 1993: 187-188)

Novel sebagai salah satu karya sastra merupakan salah satu bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup. (Sunardi, 2004 : 14)

(27)

orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku.

Dalam arti umum novel diartikan sebagai bentuk karya sastra, novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekadar serangkaian tulisan yng menggairahkan ketika dibaca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun.

Melalui novel, penulis menuangkan gagasan, ide, pengruh, dan mempertukarkan makna, sedangkan makna adalah persepsi, pikiran, atau perasaan, yang dialami seseorang yang pada gilirannya akan dikomunikasikan kepada orang lain. (Liliweri, 2005: 5)

2.1.2 Kar ya Sastr a Sebagai Pr oses Komunikasi Massa

(28)

Karya sastra sebagai proses komunikasi menyediakan pemahaman yang sangat luas. Menurut Duncan, dalam karya seni terkandung bentuk-bentuk ideal komunikasi, karena karya seni menyajikan pengalaman dalam kualitas antar hubungan. (Ratna, 2003 : 142).

Komunikasi massa adalah proses penyampian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan media cetak dan elektronik antara lain: televisi, radio, koran, majalah, buku, film, dan bertujuan untuk mengirim sejumlah pesan kepada khalayak yang tersebar dan heterogen.

Hubungan karya sastra dengan masyarakat merupakan kompleksitas hubungan yang bermakna, antar hubungan yang bertujuan untuk saling menjelaskan fungsi-fungsi perilaku sosial yang terjadi pada saat-saat tetentu. (Ratna, 2003 : 137).

2.1.3. Kar ya Sastr a Novel Sebagai Media Komunikasi Massa Karya sastra adalah sebuah karya tulis yang memiliki berbagai ciri keunggulan sepeti orisinalitas, artistic, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. Dalam betuk kosakata yang digunakan seringkali tidak dapat dibedakan dari kosa-kata bahasa sehari-hari.

(29)

maupun orang lain, tetapi juga dipakai untuk menyatakan hasil rekamannya. Makna yang tersirat itu sering berfungsi sebagai pesan utama pengarang

Novel sebagai media komunikasi massa dimanfaatkan oleh para feminis sebagai alat untuk menggerakkan paham feminisme dan menyuarakan aspirasi dan perjuangan mereka. Melalui novel pesan-pesan tentang ketidakadilan perempuan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dapat tersampaikan dengan cara yang halus kepada mesyarakat. Novel dibuat sedemikian rupa agar dapat memberi masukan dan motivasi pada perempuan.

Novel merupakan salah satu jenis buku dalam bentuk sastra, merupakan hasil karya naratif dan fiksi yang bukan menyajikan kenyataan di dunia ini tetapi perlambangan atau model dari kenyataan itu.

(30)

2.1.4. Diskr iminasi

Berdasarkan pada Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 1 ayat (3) UU tersebut menyatakan bahwa diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya.

Tindak diskriminasi di tengah masyarakat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu

1. Diskriminasi langsung : Jika seseorang/golongan secara langsung menerima yang tidak baik atas dasar perbedaan ras/etnis, agama, cacat, usia dan jenis kelamin.

(31)

Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain.

2.1.5. Gender yang melahir kan ketidakadilan dan membentuk Diskr iminasi ter hadap Per empuan

Konsep gender secara mendasar berbeda dengan jenis kelamin biologis. Keduanya sering kali disamakan padahal dua hal tersebut sangat berbeda.

(32)

manusia jenis perempuan dan laki-laki selamanya. Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara alat biologis yang melekat pada manusia laki-laki dan perempuan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat. (Fakih, 1996: 8)

Adapun konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri dari sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional, perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain. Itulah yang dikenal dengan konsep gender. (Fakih, 1996: 9)

(33)

feminim. Maskulin identik dengan keperkasaan, bergelut di sektor publik, jantan dan agresif. Sedangkan feminim identik dengan lemah lembut, berkutat di sektor domestik (rumah), pesolek, pasif, dan lain-lain.

Permasalahan sosial tentang gender sebenarnya bertumpu pada ketidak-adilan peran dan beban antara laki-laki dan perempuan. Stereotipe-stereotipe terhadap laki-laki dan perempuan mendukung hubungan sosial yang tidak seimbang. Masih relatif jarang perempuan dianggap sebagai mitra, perempuan selalu terpinggir karena status keperempuannya. Hal ini juga sangat didukung dengan meratanya konsep status keperempuanannya. Hal ini juga sangat didukung dengan meratanya konsep patriarkhi yang dianut hampir seluruh masyarakat.

Menurut beberapa pendapat, segala tindak permasalahan terhadap perempuan tidak akan pernah berhenti terjadi selama system patriarki digunakan menjadi acuan berfikir, bersikap, berlaku pada masyarakat manusia. Selanjutnya kita juga bisa menyebut budaya patriarki sebagai sebuah ketidakadilan gender.

(34)

dalam masyarakat terjadi dominasi laki-laki atas perempuan di berbagai bidang kehidupan. Selama ini yang terjadi adalah kondisi sosial yang sangat menonjolkan peran laki-laki. Perempuan menjadi kaum marjinal, yang selalu terpinggir dan tergusur.

Dari kondisi inilah muncul dominasi kaum laki-laki terhadap kaum perempuan, baik dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat. Efek negatif pemilahan peran sosial (gender) dari budaya patriarki kemudian memunculkan adanya ketidakadilan gender.

Ketidakadilan gender menurut Mansour Fakih sangat merugikan kaum perempuan. Ia menjelaskan berbagai macam bentuk ketidakadilan gender, diantaranya: (1) gender dan marjinalisasi perempuan; (2) gender dan subordinasi; (3) gender dan stereotipe; (4) gender dan kekerasan; (5) gender dan beban kerja. (Fakih (1996: 13-23).

(35)

bentuk prostitusi, pemingiran perempuan tidak pantas mendapat pendidikan tinggi dan asumsi pengetahuan yang mengakibatkan perempuan tidak memperoleh kehidupan yang lebih layak (miskin). Marjinalisasi kaum perempuan sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat dan tempat bekerja. (Fakih, 1996: 14-15)

Kaum perempuan sering mendapat diskriminasi oleh anggota keluarga. dalam perlakuan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Kekuasan tertinggi ada di tangan laki-laki apapun yang terjadi kaum laki-laki-laki-lakilah yang boleh memberi keputusan.

(36)

sah untuk tidak memberiakan kesempatan perempuan muncul sebagai pribadi yang utuh. Ditegasan bahwa ideologi patriarkilah yang menyebabkan perempuan selalu dalam posisi subordinat.

3. Pandangan stereotipe masyarakat terhadap perempuan, yakni pembakuan diskriminatif antara perempuan dan laki-laki. Stereotipe laki-laki atas perempuan diungkapkan dalam bentuk kekuasaan laki-laki untuk melakukan kekerasan fisik, psikis baik verbal maupun nonverbal terhadap perempuan Stereotipe adalah pelabelan atau penanda terhadap sesuatu kelompok tertentu, dan stereotipe ini selalu menimbulkan ketidakadilan terhadap kaum perempuan pada umumnya. Anggapan masyarakat tentang tugas utama kaum perempuan kaum perempuan yang bersolek atau mempercantik diri hanya ingin diperhatikan oleh lawan jenis, dan bila terjadi pemerkosaan atau pelecehan seksual itu merupakan kesalahan perempuan. (Fakih, 1996: 16)

(37)

masyarakat yang sesat. Stereotipe tersebut digunakan untuk mengungkapkan berbagai bentuk pelabelan negatif yang merupakan akar penindasan laki-laki terhadap perempuan. 4. Kekerasan (Violence) adalah saranan atau invasi

(assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap semua manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber. Bias jender menjadi salah satu penyebab munculnya kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan berdasarkan bias jender disebut sebagi Gender-related violence (Fakih, 1996: 17). Contoh tindakan kekerasan terhadap perempuan adalah pelecehan dengan kekerasan fisik terhadap perempuan, kekerasan yang dialami perempuan dalam novel ini direpresentasikan dalam bentuk kekerasan seksual yang meliputi pelecehan seksual, pemerkosaan, serta prostitusi. Selain itu perempuan dalam novel ini juga mengalami kekerasan non fisik dalam bentuk makian kata-kata jorok, vulgar, membuka aib, mempermalukan dan sebagainya.

(38)

dengan sifat maskulinnya sudah sepatutnya berperan di sektor publik . Pekerjaan sektor domestik dipandang membutuhkan kehalusan, kesabaran dan kearifan karena akan melahirkan sifat-sifat atau perilaku yang dicontoh oleh anaknya. Sebaliknya pekerjaan sektor publik yang dipandang oleh masyarakat penuh dengan resiko membutuhkan sifat maskulin.

Fakih (1996: 12-13) mengemukakan bahwa untuk memahami bagaimana perbedaan gender yang menyebabkan ketidakadilan, dapat dilihat melalui berbagai manifestasi ketidakadilan yang ada. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni: marginalisasi atau proses kemiskinan, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stryeotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender.

Perluasan dari ketidakadilan gender sangat kuat terekam dalam kehidupan dan keterlibatan perempuan kerja pada umumnya dan di pedesaan khususnya, bukan merupakan suatu hal yang baru.

(39)

perempuan dalam status lebih rendah daripada laki-laki. Pembedaan yang tegas terhadap peran laki-laki dan perempuan yang selama ini terjadi didukung oleh budaya patriarkhi yang sangat mendominasi menyebabkan ketimpangan gender itu terjadi.

Ketimpangan Gender dapat diartikan sebagai suatu kesenjangan antara kondisi normative atau kondisi gender sebagaimana yang dicita-citakan dengan kondisi obyetif atau kondisi gender sebagaimana adanya.

Implikasi lebih luas dari ketimpangan gender adalah perempuan banyak kehilangan hak dan kebebasannya dalam mengambil setiap keputusan baik itu yang menyangkut dirinya sendiri maupun masyarakat.

Ketimpangan gender dewasa ini bisa saja berakar dalam ketimpangan hubungan gender tradisional atau adanya perbedaan antara kekuasaan hubungan dan kedudukan social perempuan yang berbeda dengan laki-laki dalam bebebagai masyarakat dan juga memperlihatkan bahwa hubungan yang awalnya egaliter berubah menjadi hubungan yang hirarkis. (Siti, 2010:14)

(40)

emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Bentuk ketidakadilan gender yang lebih mengutamakan laki-laki menyebabkan sifat diskriminatif pada perempuan dan hal ini sangat merugikan kaun perempuan pada umumnya.

Diskriminasi terhadap perempuan didefinisikan setiap perbedaan, pengucilan, atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok bidang politik, ekonomi, social, budaya, sipil atau apa pun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan selalu dikaitkan dengan segala sesuatu yang lemah, tak berdaya dan memilki peran yang tidak begitu berarti di kehidupan. Adanya konstruksi ide menanggap bahwa perempuan dicitrakan sebagai makhluk yang menempati peran yang tidak membahagiakan, ironisnya banyak perempuan yang menerima hal ini sebagai sesuatu yang sudah semestinya. (Suhendi, 2006 :29 )

(41)

sosial setiap perempuan tersebut. Isu diskriminasi, marginalisasi, pelecehan seksual, stereotipe, pemberdayaan sampai kepada isu aktual keadilan gender kerap melingkupi pada perempuan pada berbagai status dan peran apapun . Pelecehan seksual juga kerap kali terjadi.

Diskriminasi terhadap perempuan sudah terbentuk sejak dalam lingkungan keluarga terutama bagi keluarga yang secara ekonomi tidak mampu. Perempuan yang berasal dari keluarga kurang mampu identik dengan karakteristik perempuan berpendidikan rendah, kurang pengalaman dan cenderung nerimo. Kondisi perempuan seperti in sangat rentan dengan perlakuan tidak adil. Salah satu perlakuan tidak adil kaum perempuan adalah dalam bentuk pemaksaan, kekerasan fisik maupun non fisik, dan penjajahan hak.

2.1.5 Repr esentasi

(42)

sebagainnya. Elemen tersebut ditranmisikan ke dam kode representasional yang memasukkan diantara bagaimana obyek digambarkan : karakter, narasi, setting, dialog, dan sebagainya. (Eriyanto,2005:15) Secara ringkas, representasi adalah produksi makna melalui bahasa.

Bahasa adalah medium yang menjadi perantara kita dalam memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna. Bahasa mampu melakukan semua ini karena bahasa beroperasi sebagai system representasi. Lewat bahasa kita mengungkapkan pikiran, konsep,dan ide-ide kita tentang sesuatu. Makna sesuatu hal sangat tergantung dari cara kita mempresentasikannya. Dengan mengamati kata-kata yang kita gunakan dan imej-imej ynag kita gunakan dalam mempresentasikan sesuatu bias terlihat jelas nilai-nilai yang kita berikan pada sesuatu tersebut.

Menurut Stuart hall (1997), representasi merupakan salah satu praktek penting yang memproduksi kebudayan. Kebudayaan merupakan konsep yng sangat luas, kebudayaan yang sama, berbicara bahasa yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama.

(43)

representasi bahasa. Representasi mental adalah konsep tentang “sesuatu” yang ada di dikepala kita masing-masing (peta konseptual), repesentasi mental ini masih berbentuk seuatu yang abstrak.

Kedua, adalah reprsentasi bahasa yaitu yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksikan seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan system ”peta konseptual” dengan bahasa atau symbol yang berfungsi merepresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. Relasi antara “sesuatu”,”peta konseptual”,dan “bahasa /symbol” adalah jantung dari produksi makna lewat bahasa. Proses yang menghubungkan ketiga elemen ini secara bersama-sama itulah yag dinamakan representasi.

(44)

tersebut, kita dapat mempresentasikan pikiran, perasaan dan tindakan-tindakan kita.

Chris Barker menyebutkan bahwa Representasi merupakan kajian utama dalam cultural studies. Representasi sendiri dimaknai sebagai bagaimana dunia dikostruksikan secara sosial dan disajikan kepada kita oleh kita dalam pemknaan tertentu. Cultural Studies memfokuskan diri kepada bagaimana proses pamaknaan reprsentasi itu sendiri. (Barker, 2006 :9)

Konsep representasi bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru dan pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah ada. Intinya adalah ia selalu dokonstruksikan diproduksi lewat representasi. Ia adalah hasil dari praktek penandaan, praktek yang membuat sesuatu hal mempunyai sutu makna.

Istilah representasi itu meunjuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan, atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Jadi persoalaan utama dalam representasi adalah bagimana realitas atau obyek tertentu ditampilkan. (Eriyanto, 2001 : 113)

(45)

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji suatu tanda. Semiotika atau dalam istilah barthes semiologi pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal (thing). Memaknai berarti tidak dapat dicampur adukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa obyek-obyek itu hendak berkomunikasi. (Sobur, 2004:15)

Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan diEropa, sedangkan Semiotik lazim dipakai oleh ilmuan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani Semiom yang berarti “tanda” atau “sign” dalam bahasa inggris dalah ilmu yang mempelajari sistem tanda, seperti : bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotic didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan symbol-symbol sebagai bagian dari system kode yang digunakan untuk mengkomuniksikan informasi.

(46)

Saussure adalah tokoh cikal bakal linguistik umum. (Sobur, 2004:110)

(47)

(1988;179) Semiologi hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (things). (Kurniawan, 2001 : 153)

Dalam kajian ini huruf, dan kalimat jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya memiliki arti (significant) dalam kaitanya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yng ditandakan (signifie) sesuai dengan konveksi dalam system bahasa ang bersangkutan. (Sobur, 2004 : 17)

Pada dasarnya semiotik dapat dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diberikan dalam istilah semiotik sebagai suatu hubungan antara lima istilah

S ( s,i,e,r,e )

S adalah untuk semiotik relation (hubungan semiotik); s untuk sign (tanda); I untuk interpreter (penapsir); e untuk effect (pengaruh) (misalnya, suatu disposisi dalam i akan bereaksi dengan cara tertertu c karena s); r untuk reference (rujukan); dan c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi). (Sobur,2004:17)

(48)

untuk menunjukkan bagaimana terbentuknya tanda-tanda beserta kaidah-kaidah yang mengaturnya. (Sobur, 2004 :12)

2.1.7 Semiologi Roland Bar thes

Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang mempraktekkan model linguistik dan semiologi saussure. Ia juga intelektual dan kritikus sastra peranscis yang ternama, penerapan strukturaisme dan semiotika pada studi sastra Barthes, (2001:208) menyebukan sebagai tokoh yang memainkan peranan central dalam strukturalisme tahun 1960-an dan 1970-an.

Pendekatan karya strukturalis memberikan perhatian terhadap kode-kode yang digunakan untuk menyusun makna. Strukturalisme merupakan suatu pendekatan yang secara khusus memperhatikan struktur karya sastra atau seni. Fenomena kesastraan dan estetika didekati sebagaisystem tanda-tanda. (Budiman, 2003: 111)

(49)

“kebebasan” didalm memaknai sebuah tanda. (Kurniawan, 2001 :15)

Menurut Roland Barthes, Bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. (Sobur, 2004 : 63)

Barthes tertarik terhadap kenyatan bahwa kalimat yang sama, bisa saja menyampaikan akna yang berbeda situasinya. Dengan, kata lain, Barthes memperhatikan makna sebagai proses negosiasi antara pembaca dengan penulis melalui teks. Tanda-tanda yang terdapat dalam teks berinteraksi dengan pengalaman personal dan cultural peenggunannya dan juga secara konveksi dengan apa yang diharapkan dan dialami oleh penggunanya. (Fiske, 2006: 117)

(50)

Semiologi Barthes tersusun atas tingkatan-tingkatan system bahasa. Umumnya Barthes membuat dalam dua tingkatan bahasa, bahasa pada tingkat pertama adalah sebagai obyek dan bahasa tingkat kedua yang disebut sebagai metabahasa. Bahasa ini merupakan suatu system tanda yang memuat penanda dan petanda. System tanda kedua terbangun dengan menjadikan penanda dan petanda tingkat pertama sebagai petanda yang kemudian memiliki penanda aru sendiri dalam suatu system tanda pada tarf yang lebih tinggi. System tanda pertama kadang disebutnya dengan istilah denotasi atau system terminlogis, sedang sistem tanda tingkat kedua disebutnya sebagai konotasi atau system retoris atau mitologi. Fokus kajian Barthes terletak pada system tanda tingkat kedua atau metabahasa. (Kurniawan, 2001: 115)

(51)

leksia. Kan tetapi sebuah leksia sesungguhnya bias berupa apa saja, kadang hanya berupa satu-dua patah kata, kadang sebuah paragraph, tergantung pada ke “gampang”annya (convenience) saja.

Salah satu area penting yang di rambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Barhes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai system pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas system lain yang telah ada sebelumnya. Sastra merupakan contoh paling jelas system pemaknaan tataran kedua yang dibangun diatas bahasa sebagai system yang pertama. System kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau system pemaknaa tataran pertama. Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja.

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotative (3) terdiri dari atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi pada saat yang besamaan, tanda denotative adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain hal tersebut merupakan unsur material : hanya jika anda mengenal tanda “sign” barulah konotasi menjadi mungkin.

(52)

Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memeliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatife yang melandasi keberadaannya. (Sobur, 2004 : 69)

Dalam konsep Barthes, makna bersifat sekunder, terhalang oleh kekosongan tanda, dan, ketidak mampuanya untuk berada diluar sistem representasi konvensional dan, karena itu, bersifat arbitrer-yang telah memproduksi makna-makna itu berdasarkan logika kulturalnya sendiri. Bagi Barthes membaca adalah jalan untuk menyingkirkan kekusaan teks atas pembaca, mempertanyakan motivasinya, dan akhirnya menyelami maknanya. Dengan kata lain Barthes ingin menentang adeologi bentuk-bentuk representasional yang

1. signifier (penanda)

2. signified (petanda) 3. denotative sign

(tanda denotatif) 4. CONNOTATIVE

SIGNIFIER (PENANDA

KONOTATIF)

(53)

dipaksakan terhadap pembaca yang terjerat di dalam struktur-struktur semiologi teks. Barthes memfokuskan ullang lensa arsenal teoritisnya pada konsep-konsep yang berkaitan dengan pengolahan hasrat manusia. Jadi, penekanan pembaca diarahkan pada representasi tubuh, kenikmatan, cinta, nafsu, keterasingan, intersubjektifitas, budaya, perbedaan, memori dan tulisan. (Trifonas, 2003: 12).

2.1.8 Kode-kode pembacaan

(54)

Pertama, kode hermeneutika atau kode teka-teki adalah satuan-satuan dengan berbagai cara berfungsi untuk mengartikulasi suatu persoalan, penyelesaiannya, serta aneka peristiwa yang dapat memformulasi persoalan tersebut, atau bahkan yang menyusun semacam teka-teki (enigma) dan sekedar memberi isyarat bagi penyelesaiannya (Barthes,1990:17). Pada dasarnya kode ini adalah sebuah kode ”penceritaan”, yang dengannya sebuah narasi dapat mempertajam permasalahan, menciptakan ketegangan dan misteri, sebelum memberikan pemecahan atau jawaban. (Budiman, 2003 : 55)

(55)

ditimbulkan oleh penanda-penanda tertentu (Budiman, 2003 : 56)

Ketiga, kode simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural, atau pasca struktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bunyi menjadi fonemena dalam proses produksi produksi wicara, maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses. Dalam suatu teks verbal, perlawanan yang bersifat simbolik seperti ini dapat dikodekan melalui istilah-istilah retoris seperti antitesis, yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem Barthes. (Sobur, 2006: 66). Kode ini merupakan konfigurasi yang gampang dikenali karena kemunculnnya yang berulang-ulang secara teratur melalui berbgai macam cara dan saran tekstual (Budiman, 2003 : 56)

Keempat, kode proaretik atau kode tindakan/lakukan. mengimplikasikan suatu logika perilaku manusia seperti tindakan-tindakan membuahkan dampak-dampak dan masing-masing dampak memiliki nama generik tersendiri, semacam ”judul” bagi sekuens yang bersangkutan. (Budiman, 2003 : 56)

(56)

dapat dikodifikasi. Pada prakteknya, ia menerapvan beberapa prinsip seleksi (Sobur, 2006: 66)

Kelima, kode gnomic atau cultural yang banyak jumlahnya. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Menurut Barthes, realisme tradisional didefinisi oleh acuan kepada apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasikan yang di atasnya para penulis bertumpu (Sobur, 2006 : 66)

Tujuan analisis Barthes ini, bukan hanya untuk membangun suatu system klasifikasi unsur-unsur narasi yang sangat formal, namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal, rincian paling meyakinkan atau teka-teki yang paling menarik, merupakan pruduk buatan, dan bukan tiruan yang nyata. (Leche, 2001 :196)

2.2. Ker angka Ber fikir

(57)

sebuah karyanya, tentu tidak terlepas dari Frame of Reference, dan Field of Experience. Dua hal ini juga yang nantinya akan mempengaruhi peneliti dalam memakai pesan yang terdapat dalm teks novel tersebut.

Kerangka berfikir dalam penelitian ini, menggunakan metode deskriptif atau pemaparan dengan data kualitatif. Peneliti melakukan pemaknaan tehadap tanda dan lambang tulisan pada novel yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Dalam mempresentasikan penelitian ini menggunakan metode semiologi Roland Barthes, dengan menggunakan leksia, dan lima kode pembacaan.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk akan dipilah penanda-penandanya ke dalam serangkaian fragmen ringkas dan beruntun yang disebut leksia atau satuan bacaan, yaitu satuan pembacaan (unit of reading) dengan menggunakan kode-kode pembaca yang terdiri dari lima kode. Kelima kode tersebut meliputi kode hermeneutic (teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode symbolic, kode proaretik (logika tindakan), kode Gnomik (cultural).

Leksia ini dapat berupa satu kata, beberapa kata, satu kalimat, beberapa kalimat, atau beberapa paragraph.

(58)

system semiologi tingkat pertama sebagai landasannya. Dengan cara berikut :

1. Dalam tataran Linguistik, yaitu system semiologi tingkat pertama penanda-penanda sedemikian sehingga menghasilkn tanda.

2. Dalam tataran mitos, yaitu semiologi lapis dua, tanda-tanda pada tataran pertama ini pada gilirannya hanya akan berhubungan pula pada penanda-penanda yang behubungan pula pada petanda-petanda pada tataran kedua.

Dengan demikian pada akhirnya peneliti akan menghasilkan interpretasi yang mendalam dan tidak dangkal dengan disertai bukti dari pendeatan-pendekatan yang dilakukan secara ilmiah. Seperti yang ditunjukan pada gambar kerangka sebagai berikut :

Gambar 2.2 Ker angka Ber fikir

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk”

Analisis Menggunakan Metode Semiologi

Roland Barthes

Hasil Interpretasi

(59)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor (1975: 5) mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. ( Moleong, 2002 : 3)

Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif, selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipaN-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan-lapangan foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya. (Moleong, 2002 : 6)

(60)

perempuan pada novel Ronggeng Dukuh Paruk ini. Adapun digunakan metode deskriptif kualitatif karena metode ini akan lebih menyesuaikan diri dengan banyak pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. (Moleong, 2002 :5)

3.2. Ker angka Konseptual 3.2.1. Definisi Oper asional

3.2.1.1. Gender , ketidakadilan dan Diskr iminasi Per empuan

1. Gender

Konsep gender timbul dari konstruksi social maupun cultural. Pembagian sifatnya dapat dipertukarkan antara perempuan dan laki-laki, dapat berubah sesuai waktu, tempat dan kelas social.

Gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh factor-faktor social dan budaya, bukan kodrat, sehingga terbangun anggapan tentang peran social dan budaya antara laki-laki.

2. Ketidakadilan

(61)

daripada laki-laki. Pembedaan yang tegas terhadap peran laki-laki dan perempuan yang selama ini terjadi didukung oleh budaya patriarkhi yang sangat mendominasi menyebabkan ketimpangan gender itu terjadi.

3. Diskr iminasi Per empuan

Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya.

(62)

kebebasan-kebebasan pokok bidang politik, ekonomi, social, budaya, sipil atau apa pun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan.

Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain.

3.3. Obyek dan Subyek Penelitian

(63)

3.4. Cor pus dan Penyajian data

Didalam penelitian kualitatif diperlukan adanya suatu permasalahan yang disebut corpus. Corpus adalah sekumpulan bahan terbatas yang ditentukan pada perkembngannya oleh analisis kesemenaan. Corpus haruslah cukup luas untuk memberi harapan yang berlasan bahwa unsur-unsur akan memelihara sebuah sistem kemiripan dan perbedaan yang lengkap. Corpus juga berifat sehomogen mungkin, baik homogen pada taraf waktu (sincrony). (Kurniawan, 2007: 70)

Corpus dalam penelitian ini adalah leksia kata dan konteks data yang mengandung unsur diskriminasi perempuan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Corpus yang ditampilkan sebagai berikut :

1. Yang merisaukanku adalah ulah suami-istri Sakarya yang melarang Srintil keluar bermain-main di tepi kampung atau dibawah pohon nangka (hal 36)

2. Lagu-lagu pemancing berahi disuarakan. Tangan kirinya melingkari pinggang Srintil. Menyusul tangannya yang kanan. Kartareja mengangkat tubuh srintil tinggi-tinggi. Menurunkannnya kembali dan menciumi ronggeng itu dengan berahi. (hal 48)

(64)

uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu. (hal 51)

4. Dalam waktu satu malam Srintil akan menjadi barang yang sudah terbeli. Dower akan memperlakukannya sebagaimana dia suka (hal 60)

5. Seorang sepeti Kartareja tidak merasa perlu mencari orang-orang alim. Dia hanya memerlukan sebuaah ringgit emas sebagai nilai keperawanan Srintil. (hal 71) 6. “Rasus. Dengar, mereka bertengkar diluar. Aku takut,

sangat takut. Rasus, kau sungguh baik. Kau ada di sini ketika aku sedang diperjual-belikan.” Aku benci, benci.(hal 76)

7. Nanti bila Sulam terjaga, dia akan masuk kemari.”“Jadi aku harus melayani Sulam pula?”. “Tetapi perutku sakit, Nek. Amat sakit.” Pecayalah padaku. Semuanya tak mengapa kaulakukan (hal 77)

(65)

9. Nyai Kartareja telah memijat hingga mati indung telurnya, peranakannya. Suami-istri dukun ronggeng itu merasa perlu berbuat demikian sebab hukum Dukuh Paruk mengatakan karier seorang ronggeng terhenti sejak kehamilannya yang pertama (hal 90)

10. Srintil hanya ingin disebut sebagai seorang perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Pinta Srintil di tengah malam yang amat sepi. (hal 105)

11. Seorang laki-laki tergila-gila kepada ronggeng karena ronggeng memang dibuat untuk menarik hati laki-laki. Dia tidak boleh terikat kepada seorang pun. (hal 115) 12. Srintil disuruhnya melayani sebanyak mungkin laki-laki

tanpa menghiraukan adanya hari-hari pantangan, terutama pada hari kelahiran Srintil. Memang Nyai Kartareja ikut menjadi kaya. (hal 115)

(66)

14. Tentara itu tak merasa salah ketika tangannya menggamit pantat Srintil. Tak diduganya Srintil membalas dengan tatapan mata amarah. “Aku memang ronggeng, maka tangan laki-laki boleh hinggap di mana saja pada tubuhku. Tetapi kini hatiku bukan lagi ronggeng”! Sayang, teriakan keras Srintil hanya bergema dalam hati sendiri. (hal 132)

15. Selama ini Srintil hanya menurut pada Nyai Kartareja, lalu menerima uang atau perhiasan. Betapapun dirinya seorang ronggeng, Srintil merasa tidak mempunyai perbedaan dengan perempuan lain. Dia memiliki perasaan khusus terhadap laki-laki tertentu dan merasa harus memiliki kesempatan memilih.(hal 141)

16. Srintil masih menundukkan kepala. Kini matanya basah, setiap kali Sakum menyebut nama Rasus, setiap kali pula jantungnya berdenyut keras. Terngiang kembali ucapan terakhir yang masih sempat didengarnya, “Aku tak mungkin mengawinimu karena kamu seorang ronggeng. Kamu milik dukuh Paruk.” (hal 166)

(67)

18. Selama enam tahun Srintil menjadi anak asuhan yang patuh sepenuhnya kepada Nyai Kartareja (hal 205) 19. Siapa saja boleh naik panggung rakyat buat berjoget

atau mencium Srintil sepuas hati. Cuma-Cuma (hal 237) 20. Srintil tetap ditahan, bahkan ronggeng Dukuh Paruk itu dipindahkan entah kemana. Mereka juga tidak tahu mengapa Srintil diperlakukan tidak sama dengan mereka yang sudah dikeluarkan (hal 253)

21. Citra seseorang perempuan kebanyakan, itulah yang ingin digapai oleh Srintil sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. (hal 336)

22. “Nyai!” kata Srintil cepat dan keras. Aku ingin kawin seperti semua orang kawin. Itu saja.” (hal 370)

3.5. Unit Analisis

(68)

unsur diskriminasi perempuan dan sesuai subyek dan obyek penelitian.

3.6. Tek nik Pengumpulan Data 1) Sumber Data Primer.

Sumber data primer adalah sumber asli, sumber tangan pertama peneliti. Dari sumber data primer ini akan menghasilkan data primer yaitu data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan khusus. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah novel “Ronggeng Dukuh Paruk”, diterbitkan oleh PT Gramedia pustaka Utama, cetakan ketujuh tahun 2011.

2) Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang berkedudukan sebagai penunjang penelitian. Sumber data sekunder dalam penelitian ini yaitu: sumber data yang berasal dari kepustakaan atau buku, literature-literatur pendukung lain serta artikel-artikel yang dapat mendukung penelitian ini.

3.7. Tek nik Analisis Data

(69)

memudahkan menganalisis secara semilogi. Langkah-langkah ini merupkan pengembangan dari Roland Barthes dalam membaca semiologi teks tertulis.

Berikut ini peneliti akan menjelaskan beberapa langkah yang akan ditempuh, sebagai berikut :

1. Peneliti menggunakan semiologi Roland Barthes, dengan mengumpulkan seluruh unit analisis yang berupa leksia atau bacaan berupa beberapa kata, satu kalimat, beberap kalimat, sebuah paragraph, atau beberapa paragraph tertentu berdasarkan pemilihan atas teks novel “Ronggeng Dukuh Paruk” yang layak dan sesuai untuk dijadikan subyek penelitian.

2. peneliti membagi semua leksia yang terkumpul tersebut dalam aspek material dan aspek konseptual. Leksia-leksia tersebut dalam semiologi Roland Barthes dianggap sebagai tanda (sign). Yang dimaksud aspek material adalah teks tertulis dalam novel ”Ronggeng Dukuh Paruk” yang tedapat pada leksia, sedangkan aspek konseptual adalah gambaran yang muncul pada peneliti ketika membaca aspek material pada leksia tersebut.

(70)

konotatif), kode simbolik, kode proaretik (tindakan), kode gnomic (cultural) di dalam leksia tersebut. Melalui kode-kode pembacaan ini peneliti akan menemukakan tanda-tanda dan kode yang menghasilkan makna.

(71)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambar an Obyek Penelitian

Srintil adalah gadis Dukuh Paruk. Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main di tegalan bersama kawan-kawan sebayanya (Rasus, Warta, Darsun). Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, mereka sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Harapan Sakarya kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat.

(72)

bocah berusia sebelas tahun, menjadi ronggeng, mereka menganggap kehadiran Srintil akan mengembalikan citra pedukuhan yang sebenarnya.

Sebagaimana layaknya seorang ronggeng, Srintil harus melewati tahap- tahap untuk menjadi ronggeng yang sesungguhnya. Srintil harus dimandikan di depan cungkup makam Ki Secamenggala setelah ia diserahkan kepada Kertareja, dukun ronggeng di dukuh itu, Srintil juga harus melewati tiga tahap bukak- klambu. Dia tidak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran kalau tidak melewati tahap yang lebih mirip sebagai sayembara bagi setiap laki-laki yang mampu memberikan sejumlah uang sebagai syaratnya. Sayembara bukak-klambu tersebut terdengar sampai kemana-mana, banyak laki-laki yang berusaha mengikutinya dengan segala cara.

Srintil pun membuktikan kebolehannya menari dalam waktu singkat, disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional sebagai seorang ronggeng dan puncaknya adalah menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal.

(73)

dianggap milik orang banyak. Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk. Kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka

4.2. Penyajian dan Analisis Data 4.2.1. Penyajian Data

Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap novel “Ronggeng Dukuh Paruk”, maka hasil dari penelitian tersebut kemudian akan disajikan representasi novel “Ronggeng Dukuh Paruk” mengenai diskriminasi perempuan.

Selanjutnya novel “Ronggeng Dukuh Paruk”akan diinterpretasikan dan dianalisis berdasarkan landasan teori Roland Barthes. Mendefinisikan tanda berdasarkan aspek penanda (signifier), juga petanda (signified) denotative serta pemaknaan tataran tingkat kedua yaitu aspek penanda (signifier) dan juga petanda konotatif untuk mengetahui realitas yang sebenarnya muncul signification yang menghasilkan interpretasi secara keseluruhan.

(74)

1. Yang merisaukanku adalah ulah suami-istri Sakarya yang melarang Srintil keluar bermain-main di tepi kampung atau dibawah pohon nangka (hal 36).

2. Lagu-lagu pemancing berahi disuarakan. Tangan kirinya melingkari pinggang Srintil. Menyusul tangannya yang kanan. Kartareja mengangkat tubuh srintil tinggi-tinggi. Menurunkannnya kembali dan menciumi ronggeng itu dengan berahi. (hal 48).

3. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu. (hal 51)

4. Dalam waktu satu malam Srintil akan menjadi barang yang sudah terbeli. Dower akan memperlakukannya sebagaimana dia suka (hal 60)

5. Seorang sepeti Kartareja tidak merasa perlu mencari orang-orang alim. Dia hanya memerlukan sebuaah ringgit emas sebagai nilai keperawanan Srintil. (hal 71)

6. “Rasus. Dengar, mereka bertengkar diluar. Aku takut, sangat takut. Rasus, kau sungguh baik. Kau ada di sini ketika aku sedang diperjual-belikan.” Aku benci, benci.(hal 76)

(75)

8. Srintil mengisak seorang diri. Tak terpikir lagi soal ringgit emas atau lainnya. Yang dirasakannya sekarang adalah perutnya yang bagai teriris-iris. Ronggeng itu tak akan menghentikan tangis karena binatang jantan lainnya akan segera datang menyingkap kelambu dan mendengus. (hal 78)

9. Nyai Kartareja telah memijat hingga mati indung telurnya, peranakannya. Suami-istri dukun ronggeng itu merasa perlu berbuat demikian sebab hukum Dukuh Paruk mengatakan karier seorang ronggeng terhenti sejak kehamilannya yang pertama (hal 90)

10. Srintil hanya ingin disebut sebagai seorang perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Pinta Srintil di tengah malam yang amat sepi. (hal 105)

11. Seorang laki-laki tergila-gila kepada ronggeng karena ronggeng memang dibuat untuk menarik hati laki-laki. Dia tidak boleh terikat kepada seorang pun. (hal 115)

12. Srintil disuruhnya melayani sebanyak mungkin laki-laki tanpa menghiraukan adanya hari-hari pantangan, terutama pada hari kelahiran Srintil. Memang Nyai Kartareja ikut menjadi kaya. (hal 115)

Figur

Gambar 2.2  Kerangka Berfikir
Gambar 2 2 Kerangka Berfikir . View in document p.58
Table 4.2 Pembagian Leksia Dalam 5 Kode Pembacaan Roland Barthes
Table 4 2 Pembagian Leksia Dalam 5 Kode Pembacaan Roland Barthes . View in document p.80

Referensi

Memperbarui...