• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh Eldayanti 1, Damanhuri Daud 2, Otang Kurniaman 3. Tipe Numbered Head Together (NHT), the result of

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh Eldayanti 1, Damanhuri Daud 2, Otang Kurniaman 3. Tipe Numbered Head Together (NHT), the result of"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI 183

PEKANBARU Oleh

Eldayanti

1

, Damanhuri Daud

2

, Otang Kurniaman

3

ABSTRACT

The purpose of this research is to increase students learning outcomes at saint in class IV students elementary school number 183 Pekanbaru whit using cooperative learning type numbered head together (NHT). This research doing from 25

th

February until 9

thj

April 2013. subject of his research are students of class IV elementary school number 183 Pekanbaru. Inntrument of collected data in this research are observation and test. From the data of research can to know students learning outcomes can be increase, while before did act or before used cooperative learning type numbered head together (NHT),the avarage of students learning outcomes at sainst only 68,83%, in first cycle increase be 77,67%, with increased 8,84 point or 12,84%, and in second cycle increase be 80,67% whit increased 11,84 point or 17,20%. Beside that students learning outcomes in classical also increase, while in elementary skor only 50,00%, in first cycle increase be 66,67, in this situation be happen increase 16,67%,and in second cycle increase be 93,33%,whit increased 26,675.

Key words: Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT), the result of Science

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Selain itu, Pembelajaran IPA juga sebagai proses pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman lansung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inquiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas 2006:57).

Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan di lokasi penelitian, dapat diketahui bahwa hasil belajar IPA siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru belum mencapai KKM yang telah ditetapkan sekolah yaitu 80%, di mana dari 30 orang siswa hanya 15 orang siswa yang mencapai KKM yang telah ditetapkan dengan persentase 50,00%, sedangkan 15 orang siswa atau 50,00%

lainnya masih mendapat nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan sekolah, dengan nilai rata-rata 68,83.

1. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Riau, NIM 1105186865

2. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Riau. Sebagai Pembimbing I

3. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Riau. Sebagai

Pembimbing II

(2)

Penyebab rendahnya hasil belajar siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru khususnya pada pembelajaran IPA disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut: (1) Apabila guru memberikan pertanyaan, hanya sebagian kecil siswa yang menjawab. (2) Apabila diberi kesempatan untuk menanyakan materi pembelajaran yang belum dipahami siswa, hanya sebagian kecil siswa yang bertanya. (3) Pada saat diadakan ulangan harian sebagian besar siswa tidak dapat menyelesaikannya dengan tuntas. (4) Kegiatan pembelajaran di kelas didominasi guru dan anak yang berkemampuan lebih.

Adapun usaha yang telah dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah di atas adalah dengan memberikan motivasi secara lisan pada awal pembelajaran, dengan harapan agar siswa aktif bertanya dan menyampaikan kesulitannya terhadap materi pembelajaran. Selain itu, setiap selesai menyampaikan materi guru berusaha memberikan jedah waktu agar siswa bertanya. Namun hal ini masih belum efektif karena siswa masih banyak yang belum punya keberanian untuk menyampaikan permasalahannya, hanya sebagian kecil saja terlihat aktif, sehingga pelaksanaan pembelajaran di kelas belum sesuai dengan yang diharapkan.

Dari gejala-gejala permasalahan di atas, maka langkah yang dilakukan guru untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran di kelas adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together, karena model pembelajaran ini dapat membuat siswa lebih aktif, bergairah dan siswa tidak menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber informasi, sehingga semua akan bermuara pada tercapainya tujuan pembelajaran, baik dari segi proses maupun target capaian penguasaan kompetensi dasar.

Menurut Trianto (2010: 82) Numbered Head Together atau penomoran berpikir bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu suatu perencanaan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Menurut Arikunto (2010: 137) pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas meliputi: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, dan (4) Refleksi.

Penelitian ini dilakukan di Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru pada semester genap (semester II). Dimana penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan, terhitung dari bulan Februari 2013 sampai dengan bulan April 2013.

Sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru yang berjumlah 30 orang siswa terdiri dari 15 orang laki- laki dan 15 orang perempuan.

Instrumen penelitian dalam penelitian ini meliputi: (1) Perangkat pembelajaran, yang terdiri dari: jadwal penelitian, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan LKS. (2) Instrumen pengumpulan data, yang terdiri dari:

soal evaluasi, lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi aktivitas siswa,

kisi-kisi soal ulangan akhir siklus pertama dan kedua, dan soal ulangan akhir

(3)

siklus pertama dan kedua. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi dan tes.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui kessesuaian aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar serta untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

Aktivitas Guru dan Siswa

Setelah data aktivitas guru dan siswa terkumpul maka dicari persentasenya dengan menggunakan rumus :

% 100 SM x

NRJS (KTSP dalam Syahrilfuddin, dkk, 2011: 114) Keterangan:

NR = Persentase rata-rata aktivitas guru/siswa JS = Jumlah skor aktivitas yang dilakukan

SM = Skor Maksimal yang di dapat dari aktivitas guru dan siswa Hasil Belajar Siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa digunakan rumus sebagai berikut:

100 N x

SR (Purwanto, 2010: 112) Keterangan:

S = Nilai yang diharapkan (dicari)

R = Jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar N = Skor Maksimum dari tes tersebut

Peningkatan Hasil Belajar

Untuk mencari peningkatan hasil belajar siswa dari nilai skor dasar, nilai ulangan akhir siklus pertama, dan nilai ulangan akhir siklus kedua, dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

% 100 Baserate x

Baserate Posrate

P

Keterangan:

P = Persentase peningkatan

Posrate = Nilai sesudah diberikan tindakan Baserate = Nilai sebelum tindakan

Ketuntasan Belajar Siswa

Rumus yang digunakan untuk mencari hasil belajar siswa secara klasikal adalah sebagai berikut:

% 100 N x

PKST (Purwanto dalam Syahrilpuddin, dkk, 2011:116) Keterangan:

PK = Ketuntasan Klasikal

ST = Jumlah Siswa Yang Tuntas

N = Jumlah Siswa Seluruhnya

(4)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Tindakan

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru Kelas IV tahun ajaran 2011/2012, pada tanggal 25 Februari sampai tanggal 9 April 2013 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada standar kompetensi Memahami hubungan antar sumber daya alam dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat.

Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, siklus pertama dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan, di mana tiga kali pertemuan menyampaikan materi pembelajaran sesuai RPP dan 1 kali pertemuan ulangan akhir siklus.

Pada setiap kali pertemuan, peneliti dibantu oleh observer yaitu Hartati, S.Pd. Adapun tugas observer dalam penelitian ini adalah mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa selama proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).

Tahap Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan, peneliti telah merancang perangkat pembelajaran dan istrumen pengumpulan data. Perangkat pembelajaran dalam penelitian ini terdiri dari jadwal penelitian, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan soal evaluasi. Sedangkan instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari lembar observasi aktivitas guru, lembar pengamatan aktivitas siswa, kisi-kisi soal ulangan akhir siklus, dan soal ulangan akhir siklus.

Pelaksanaan Tindakan Siklus Pertama

Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama terdiri dari empat kali pertemuan yaitu: (1) Pertemuan pertama siklus pertama dilakukan pada tanggal 25 Februari 2013 dengan materi benda yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. (2) Pertemuan kedua siklus pertama dilakukan pada tanggal 26 Februari 2013 dengan materi benda yang berasal dari hewan. (3) Pertemuan ketiga siklus pertama dilakukan pada tanggal 4 Maret 2013 dengan materi benda yang berasal dari bahan alam tidak hidup. (4) Pertemuan keempat dilakukan pada tanggal 5 maret 2013 guru mengadakan ulangan akhir siklus pertama.

Refleksi Siklus Pertama

Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru dan siswa yang diperoleh dari dua kali pertemuan, hasilnya sudah baik, hal ini dapat diketahui dari peningkatan hasil belajar siswa. Namun disamping memiliki kelebihan masih ada kelemahan yang penulis temukan. Kelebihan yang peneliti temukan selama proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) adalah: (1) Siswa mulai aktif dalam mengikuti pembelajaran. (2) Sebagian siswa mulai berani mengungkapkan pendapatnya saat menjawab pertanyaan guru dan saat diadakan diskusi kelompok.

Sedangkan kekurangan-kekurangan yang penulis temukan selama proses

pembelajaran adalah: (1) Siswa kurang termotivasi untuk bekerjasama dengan

kelompok masing-masing dalam mengerjakan LKS, sehingga pada saat diadakan

diskusi kelompok siswa kurang mau atau hanya bekerja secara individu. (2) Pada

saat siswa mendiskusikan LKS guru kurang memberikan bimbingan, hal ini

(5)

disebabkan guru masih belum terbiasa menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).

Pelaksanaan Tindakan Siklus Kedua

Pelaksanaan tindakan pada siklus kedua juga terdiri dari empat kali pertemuan yaitu: (1) Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 1 April 2013 dengan materi proses pembuatan benda. (2) Pertemuan kedua dilakukan pada tanggal 2 April 2013 dengan materi dampak pengambilan bahan alam tanpa pelestarian. (3) Pertemuan ketiga dilakukan pada tanggal 8 April 2013 dengan materi menghemat energi dan mengurangi pencemaran. (4) Pertemuan keempat dilakukan guru pada tanggal 9 april 2013. Pada pertemuan ini guru mengadakan ulangan akhir siklus kedua.

Refleksi Siklus Kedua

Selama penelitian berlangsung, untuk siklus kedua ini sudah berjalan lancar dibandingkan dengan siklus pertama, adapun refleksi siklus kedua yang dilakukan tiga kali pertemuan aktivitas guru dan siswa sudah dikategorikan sangat baik bila di lihat dari lembar pengamatan (observasi), di mana pelaksanaan pembelajaran telah sesuai dengan langkah-langkah yang direncanakan.

Pada siklus kedua ini, siswa juga sudah terbiasa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), sehingga pada saat diberikan LKS untuk didiskusikan dengan kelompok masing-masing, semua siswa aktif dalam berdiskusi, siswa sudah berani mengungkapkan pendapatnya, dan siswa juga saling memotivasi saat berdiskusi dengan kelompoknya.

Analisis Hasil Penelitian

Hasil tindakan yang akan di analisis dalam penelitian ini adalah aktivitas guru dan aktivitas siswa selama proses pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan hasil belajar IPA siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru.

Aktivitas Guru

Observasi aktivitas guru dilakukan oleh observer bersamaan dengan proses pembelajaran IPA di kelas, dengan mengacu pada lembaran observasi dan rumbrik penilaian yang telah dipersiapkan sebelumnya. Aktivitas guru selama proses pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1

Analisis Perbandingan Persentase Aktivitas Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

Pada Siklus I dan Siklus II

Siklus Pertemuan Jumlah

Skor Persentase Kategori Pertama

I 19 47,50% Sangat Tidak Baik

II 22 55,00% Kurang Baik

III 25 62,50% Baik

Kedua

I 29 72,50% Baik

II 35 87,50% Sangat Baik

III 40 100,00% Sangat Baik

(6)

Sumber : Data Olahan Hasil Penelitian, 2013

Dari tabel di atas dapat dilihat perbandingan persentase aktivitas guru pada siklus I dan siklus II dengan 6 kali pertemuan yang secara umum terdapat peningkatan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Di mana pada siklus I pertemuan pertama persentase yang diperoleh terhadap aktivitas guru yaitu 47,50%, pertemuan kedua persentase yang diperoleh meningkat menjadi 55,00% dengan peningkatan sebesar 7,5%, dan pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 62,50% dengan peningkatan 10,50%.

Aktivitas guru pada siklus II pertemuan pertama persentase yang diperoleh yaitu 72,50% meningkat dari pertemuan sebelumnya sebesar 10,00%. Pada pertemuan kedua persentase yang diperoleh terhadap aktivitas guru adalah 87,50%, terjadi peningkatan sebesar 15,00% dan pada pertemuan ketiga aktivitas guru mencapai angka yang memuaskan yaitu 100%, terjadi peningkatan sebesar 12,50%.

Aktivitas Siswa

Secara umum aktivitas siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) telah sesuai dengan perencanaan pembelajaran. Walaupun masih terdapat beberapa indikator aktivitas siswa masih kurang, namun pada setiap pertemuan aktivitas siswa mengalami peningkatan.

Untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Gambar 1: Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa Setiap Pertemuan Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan gambar di atas, maka terdapat peningkatan aktivitas siswa secara signifikan. Dimana pada siklus I pertemuan pertama persentase yang diperoleh terhadap aktivitas siswa yaitu 40,00%, pertemuan kedua persentase yang diperoleh meningkat menjadi 50,00% dengan peningkatan sebesar 10,00%, dan pada pertemuan ketiga aktivitas siswa mengkat menjadi 57,50, terjadi peningkatan sebesar 7,50%.

Aktivitas siswa pada siklus II pertemuan pertama persentase yang diperoleh yaitu 70,00% meningkat dari pertemuan sebelumnya sebesar 12,50%, pada pertemuan kedua persentase yang diperoleh terhadap aktivitas siswa adalah

40,00

50,00

57,50

70,00 77,50

97,50

- 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Pertemuan IV Pertemuan V Pertemuan VI

(7)

77,50%, terjadi peningkatan sebesar 7,50%, dan pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 97,50%, terjadi peningkatan sebesar 20,00%.

Hasil Belajar Siswa Secara Individu

Hasil belajar siswa secara individu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada mata pelajaran IPA Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru berdasarkan nilai skor dasar, nilai ulangan akhir siklus pertama, dan nilai ulangan akhir siklus kedua. Berdasarkan hasil analisis nilai skor dasar, nilai ulangan akhir siklus pertama, dan nilai ulangan akhir siklus kedua, maka hasil belajar siswa secara individu dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2

Analisis Hasil Belajar Siswa Secara Individu Pada Setiap Siklus Interval

(%) Kategori

Nilai Skor Dasar

Ulangan Akhir Siklus Pertama

Ulangan Akhir Siklus Kedua

Siswa % Siswa % Siswa %

90-100 Baik Sekali 0 0.00 6 20.00 7 23.33

80-89 Baik 8 26.67 9 30.00 8 26.67

70-79 Cukup 8 26.67 11 36.67 13 43.33

< 69 Kurang 14 46.67 4 13.33 2 6.67

Jumlah 30 100.00 30 100.00 30 100.00

Rata-Rata 68,83 77,67 80,67

Kategori Kurang Cukup Baik

Sumber : Data Olahan Hasil Penelitian, 2013

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa secara individu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) terjadi peningkatan, bila dibandingkan dengan skor dasar.

Dimana pada skor dasar terdapat 8 orang siswa (26,67%) dengan kategori baik, 8 orang siswa (26,67%) dengan kategori cukup, dan 14 orang siswa (46,67%) dengan kategori kurang. Pada ulangan akhir siklus pertama, 6 orang siswa (20,00%) dengan kategori baik sekali, 9 orang siswa (30,00%) dengan kategori baik, 11 orang siswa (36,67%) dengan kategori cukup, dan 4 orang siswa (13,33%) dengan kategori kurang. Sedangkan pada ulangan akhir siklus kedua, terdapat 7 orang siswa (23,33%) dengan kategori baik sekali, 8 orang siswa (26,67%) dengan kategori baik, 13 orang siswa (43,33%) dengan kategori cukup, dan 2 orang siswa (6,67%) dengan kategori kurang.

Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru dianalisis dari nilai rata-rata skor dasar, nilai rata-rata ulangan akhir siklus pertama, dan nilai rata-rata ulangan akhir siklus kedua. Hasil belajar siswa secara individu akan terpenuhi apabila setiap individu memperoleh nilai mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang telah ditentukan sekolah yaitu 75 untuk mata pelajaran IPA.

Untuk mengetahui peningkatan ketuntasan belajar siswa kelas IV Sekolah

Dasar Negeri 183 Pekanbaru secara individu dari skor dasar, siklus pertama dan

siklus kedua dapat di lihat pada grafik di bawah ini:

(8)

Gambar 2: Peningkatan Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Dari Skor Dasar, Siklus Pertama dan Siklus Kedua

Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari skor dasar sampai ke ulangan akhir siklus pertama dan ulangan akhir siklus kedua, dimana pada skor dasar nilai rata-rata yang diperoleh siswa hanya 68,83, pada ulangan akhir siklus pertama meningkat menjadi 77,67 dengan peningkatan sebesar 8,84 poin atau 12,84%. Sedangkan pada ulangan akhir siklus kedua, nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 80,67 dengan peningkatan sebesar 11,84 poin atau 17,20%.

Hasil Belajar Siswa Secara Klasikal

Berdasarkan hasil analisis nilai skor dasar, nilai ulangan akhir siklus I, dan ulang akhir siklus kedua, maka ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal dapat di lihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3

Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Secara Klasikal Dari Skor Dasar, Siklus I, Sampai Siklus II

No Ulangan Harian

Jumlah Siswa

Ketuntasan Belajar

Tuntas % Tidak

Tuntas %

1 Skor Dasar 30 15 50,00 15 50,00

2 Siklus I 30 20 66,67 10 33,33

3 Siklus II 30 28 93,33 2 6,67

Sumber : Data Olahan Hasil Penelitian, 2012

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa pada skor dasar terdapat 15 orang siswa (50,00%) yang tuntas dan 15 orang siswa (50,00%) yang tidak tuntas. Pada siklus I terdapat 20 orang siswa (66,67%) tuntas dan 10 orang siswa

68,83

77,67 80,67

- 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Skor Dasar Siklus I Siklus II

(9)

(33,33%) yang tidak tuntas. Hal ini disebabkan siswa belum memahami dan terbiasa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT), sehingga siswa kurang aktif dalam mendiskusikan tugas yang dipandu LKS. Selain itu, guru juga kurang memberi bimbingan kepada siswa.

Pada siklus II siswa yang tuntas mencapai 28 orang (93,33%) dan siswa yang tidak tuntas menurun menjadi 2 orang (6,67%). Peningkatan ketuntasan belajar pada siklus II karena siswa sudah terbiasa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT), sehingga pada saat diberikan LKS untuk didiskusikan dengan kelompok masing-masing semua siswa aktif dalam berdiskusi, siswa juga sudah melaksanakan setiap tugas yang dipandu LKS dengan arahan dan bimbingan guru.

Penghargaan Kelompok

Peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh motivasi yang diberikan guru. Motivasi guru adalah pemberian penghargaan kelompok berdasarkan nilai perkembangan yang disumbangkan siswa kepada kelompoknya.

Peningkatan penghargaan kelompok dari siklus I ke siklus II dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Gambar 3 : Perbandingan Penghargaan Kelompok Siklus I dan II

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui penghargaan kelompok pada setiap siklus, di mana siklus pertama seluruh kelompok sama-sama mendapat predikat tim hebat. Sedangkan pada siklus kedua, 4 kelompok mendapat predikat tim hebat dan 2 kelompok mendapat predikat tim super.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 183 Pekanbaru, ini terlihat dari:

0 0

6 4

0 2

0 2 4 6

Tim Baik Tim Hebat Tim Super

Siklus I Siklus II

(10)

1. Peningkatan aktivitas guru, di mana pada siklus pertama pertemuan pertama persentase yang diperoleh terhadap aktivitas guru yaitu 47,50%, pertemuan kedua meningkat menjadi 55,00% dengan peningkatan sebesar 7,5%, pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 62,50% dengan peningkatan 10,50%.

Sedangkan pada siklus II pertemuan pertama yaitu 72,50% meningkat dari pertemuan sebelumnya sebesar 10,00%. Pada pertemuan kedua meningkat menjadi 87,50%, terjadi peningkatan sebesar 15,00% dan pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 100%, terjadi peningkatan sebesar 12,50%.

2. Peningkatan aktivitas siswa, di mana pada siklus I pertemuan pertama persentase yang diperoleh terhadap aktivitas siswa yaitu 40,00%, pertemuan kedua meningkat menjadi 50,00% dengan peningkatan sebesar 10,00%, dan pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 57,50, terjadi peningkatan sebesar 7,50%. Sedangkan pada siklus II pertemuan pertama persentase yang diperoleh yaitu 70,00% meningkat dari pertemuan sebelumnya sebesar 12,50%, pada pertemuan kedua meningkat menjadi 77,50%, terjadi peningkatan sebesar 7,50%, dan pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 97,50%, terjadi peningkatan sebesar 20,00%.

3. Peningkatan rata-rata hasil belajar IPA siswa, di mana pada skor dasar rata- rata hasil belajar siswa hanya 68,83, pada siklus pertama meningkat menjadi 77,67 dengan peningkatan sebesar 8,84 poin atau 12,84%, dan pada siklus II meningkat menjadi 80,67 dengan peningkatan sebesar 11,84 poin atau 17,20%.

4. Peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal, di mana pada skor dasar persentase ketuntasan klasikal hanya 50,00%, pada siklus pertama meningkat menjadi 66,67, terjadi peningkatan sebesar 16,67%, dan pada siklus kedua persentase ketuntasan klasikal hasil belajar siswa meningkat menjadi 93,33%, dengan peningkatan sebesar 26,66%.

Melalui penulisan skripsi ini penulis mengajukan beberapa saran yang berhubungan dengan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT), yaitu:

1. Bagi guru, sebelum memulai proses belajar mengajar sebaiknya membuat dan mempersiapkan perangkat pembelajaran seperti: Silabus, RPP dan LKS, yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Bagi sekolah SDN 183 Pekanbaru, hendaknya mau menerapkan model pembelajaran yang bervariasi dan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) pada mata pelajaran IPA, karena model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa

3. Bagi peneliti, yang ingin mengadakan penelitian dengan model pembelajaran

kooperatif tipe numbered head together (NHT) hendaknya mempersiapkan

segala sesuatu yang berhubungan dengan materi pembelajaran yang akan

diajarkan seperti media pembelajaran.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono. 2009. Cooperatif Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM).

Pustaka Belajar. Yogyakarta.

Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, 2010, Teori Belajar dan Pembelajaran. Ar- Ruzz Media. Jakarta.

Depdiknas. 2006. Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu, SD/MI.

Jakarta: Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional.

Hasan Fauzi Maufur. 2009. Sejuta Jurus Mengajar Mengasikan. PT. Sindur Press.

Semarang.

Hartono. 2003. Metodologi Penelitian. Pekanbaru: LSFK

2

P.

Kunandar, 2011. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas. Sebagai Pengembang Profesi Guru. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Mulyono Abdurrahman, 2008. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. PT.

Asdi Mahasatya. Jakarta.

Nana Sudjana, 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung.

Ngalim Purwanto. 2010. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.

Bandung: Remaja Rosda Karya.

Rusman, 2010. Model-Model Pembelajaran. Mengembangkan Profesional Guru.

Rajawali Pers. Jakarta.

. 2009. Manajemen Kurikulum. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Suharsimi Arikunto, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Rinaka Cipta. Jakarta.

Syahrilfuddin, dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Pekanbaru: Cendikia Insani.

Syaiful Bahri Djamarah dan Asman Zain, 2006. Strategi Belajar Mengajar.

Rineka Cipta. Jakarta.

Tohirin, 2005. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Integrasi dan Kompetensi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Trianto, 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kencana. Jakarta.

,..2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka, Jakarta.

Tukiran Tanireja, dkk, 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Alfabeta, Bandung.

Winarno Surahmad, 1981. Metodologi Pengajaran. Rineka Cipta. Jakarta.

Zakiah Darajat, dkk, , 2008. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. PT. Bumi

Aksara. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

grade students’ of MTs Abnaul Amir vocabulary mastery (Nouns) impro ved by using Collaboration between Quantum Teaching Method &amp; Speed Drawing Games by the increase of the

Tingkatan dimana siswa sudah ada hubungan yang jelas dan cukup sederhana mengenai keterkaitan satu konsep dengan konsep yang lainnya akan tetapi inti dari konsep

Pada pasien hipertensi terjadi peningkatan stress oksidatif, yaitu suatu keadaan ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan antioksidan.. Apabila ketersediaan antioksidan

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan untuk meneliti pengaruh keaktifan siswa dalam

59 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat xxx xxx 60 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx 61 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri -

Dalam simulasi perancangan pengaturan putaran motor satu fasa digunakan untuk merancang rangkaian penyearah gelombang penuh, osilator astable, inverter thyristor,

Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis Komponen Kimia Buah Labu Siam (Sechium edule Jacq. Swartz.) dalam

Pembukuan Grup diselenggarakan dalam mata uang Rupiah, kecuali Intiland International Pte. Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs