PERBANYAKAN BENIH PADI DAN KEDELAI
MENDUKUNG PROGRAM SL-PTT
O
Ol
le
eh
h
:
:
T
Ta
am
mr
ri
in
n
T
T.
.
I
Is
sk
ka
a
nd
n
da
ar
r
E
Em
ml
la
an
n
F
Fa
au
uz
z
i
i
J
Ja
am
ma
a
l
l
k
kh
h
al
a
li
id
d
M
M.
.
F
Fe
e
ri
r
iz
za
a
l
l
B
BA
AL
LA
AI
I
P
PE
EN
NG
GK
KA
AJ
JI
IA
AN
N
T
TE
EK
KN
NO
OL
LO
OG
GI
I
P
PE
ER
RT
TA
AN
NI
IA
AN
N
(
(B
BP
PT
TP
P)
)
N
NA
AD
D
B
B
AD
A
DA
AN
N
P
PE
EN
NE
EL
LI
IT
TI
IA
AN
N
D
DA
AN
N
P
PE
EN
NG
GE
EM
MB
BA
AN
NG
GA
AN
N
P
PE
ER
RT
TA
AN
NI
IA
AN
N
K
KAATTAA PPEENNGGAANNTTAARR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadhirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan tahunan kegiatan Perbanyakan Benih Padi dan Kedelai mendukung program SL-PTT di Provinsi NAD tahun anggaran 2011.
Kegiatan perbanyakan benih padi mendukung program SL-PTT di Provinsi NAD ini bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan benih padi dan kedelai unggul di tingkat petani dalam rangka percepatan target peningkatan produksi gabah. Selama ini petani kesulitan mendapatkan benih unggul bermutu yang terjamin keunggulannya, walaupun ketersediaan benih yang berlabel dipasaran cukup, namun petani belum tentu dapat membelinya karena keterbatasan modal usahatani. Oleh karena itu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NAD selaku lembaga yang berwenang di untuk melakukan perbanyakan benih mencoba melalui kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai ini untuk memfasilitasi ketersediaan benih sekaligus membina petani penangkar benih padi dan kedelai yang ada di Provinsi NAD dengan harapan dapat menyediakan benih yang bermutu di tingkat petani.
Ucapan terima kasih kepada Bapak Kepala Balai dan teman-teman yang terlibat di dalam tim kegiatan ini yang telah banyak membantu dalam melaksanakan kegiatan ini dilapangan sejak dari awal sehingga kegiatan pengembagan benih sumber ini terlaksana dengan baik hingga siapnya laporan akhir ini.
Demikian laporan ini kami buat dan kami sampaikan segala kritikan dan saran yang membangun terhadap laporan ini kami ucapkan terima kasih.
Banda Aceh, Desember 2011 Penanggung Jawab Kegiatan,
Ir. Tamrin, M.P
R
RIINNGGKKAASSAANN
Tamrin dkk. Perbanyakan benih padi dan kedelai mendukung program SL-PTT di Provinsi NAD bertujuan memfasilitasi ketersediaan benih padi kelas FS = 1 ton, SS = 2 ton dan ES 7 serta benih kedelai kelas SS = 0,7 ton untuk mendukung program SL-PTT pada tiga kabupaten (Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Barat Daya), serta membentuk 3 kelompok tani penangkar padi dan kedelai yang mandiri di wilayah kegiatan SL-PTT (Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Barat daya). Lokasi kegiatan perbanyakan benih padi ada pada dua Kabupaten yaitu; Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), sedangkan lokasi untuk perbanyakan benih kedelai ada pada dua kabupaten yaitu Kabupaten Pidie dan, Kabupaten Pidie Jaya. Untuk lokasi Kabupaten Pidie di tempatkan Kecamatan sakti Desa Gampong Baro, Kabupaten Pidie Jaya di Desa Meunasah Mulieng Kecamatan Meureudu dan Kabupaten Aceh Barat Daya di Desa Durian Rampak Kecamatan Susoh. Luas hamparan kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai ini adalah untuk komoditi padi di Kabupaten Pidie MT-I 1,2 ha dan MT-II 1,25 ha, Kabupaten Aceh Barat Daya MT-I 0,6 ha dan MT-II 0,75 ha, sedangkan untuk komoditi kedelai di Kabupaten Pidie 0,7 ha (hanya MT-I) dan Kabupaten Pidie Jaya 0,7 ha (hanya MT-I). Varietas yang digunakan adalah ; padi (Inpari-13 BS, Inpari-10 BS dan SS, Inpari-3 FS dan SS yang berasal dari BB padi Sukamandi dan Ciherang SS berasal dari penangkar Kabupaten Pidie, sedangkan untuk kedelai digunakan varietas Anjasmoro berasal dari penangkar benih kedelai di Malang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa benih yang diproduksi sebagian besar sudah disertifikasi dengan rincian adalah Kabupaten Pidie produksi gabah (padi) 10.914 kg, produksi benih 10.016 kg, benih milik BPTP ACEH (60 %) 6.010 kg dan milik petani (40 %) 4.006 kg, Kabupaten Aceh Barat Daya produksi gabah (padi) 3.395 kg, produksi benih 3.065 kg, porsi BPTP ACEH (60 %) 1.840 kg dan milik petani (40 %) 1.225 kg. Sedangkan untuk benih kedelai Kabupaten Pidie produksi gabah 1.200 kg, produksi benih 1.108 kg porsi BPTP ACEH (60 %) 665 kg dan milik petani (40 %) 443 kg dan Kabupaten Pidie Jaya produksi gabah 550 kg, produksi benih 450 ton porsi BPTP ACEH (60 %) 270 kg dan milik petani (40 %) 180 kg. Produksi benih padi milik BPTP ACEH sudah disertifikasi kecuali untuk kedelai di Kabupaten Pidie Jaya tidak disertifikasi karena terjadi kekeringan yang mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman. Kata Kunci : Benih sumber bermutu kelas BS, FS dan SS, padi sawah, dan kedelai
ABSTRACT
Tamrin dkk. Rice and soybean seed multiplication program supports PTT SL-NAD aims at facilitating the availability of rice seed class FS = 1 ton, SS = 2 tons and soybean seed ES 7 and SS = 0.7 ton class to support the SL-PTT on three districts (Pidie, Pidie Jaya and West Aceh), and formed three groups of rice and soybean farmer breeder independent in the activities of SL-PTT (Pidie, Pidie Jaya and West Aceh power). Location of existing rice seed multiplication activities in two districts namely; Pidie and Southwest Aceh (Abdya), while the location for the multiplication of soybean seed is in two districts namely Pidie and, Pidie Jaya district. For locations in Pidie District magical place Gampong Baro village, Pidie Jaya district in Meunasah Mulieng Meureudu District and Southwest Aceh District in the Village District Susoh Rampak Durian. Vast expanse of rice seed multiplication activities and this is for commodity soybean rice in the district of Pidie MT-I 1.2 ha and 1.25 ha of MT-II, Southwest Aceh Regency 0.6 MT ha-I and MT-II 0.75 ha, while for soybean commodity in Pidie 0.7 ha (only MT-I) and Pidie Jaya 0.7 ha (only MT-I). Varieties used were: rice (Inpari-13 BS, Inpari BS and SS-10, Inpari FS and SS-3 derived from rice Sukamandi BB and SS derived from breeder Ciherang Pidie, whereas for the soybean varieties used Anjasmoro derived from breeder seed soybeans in Malang. The results indicate that the activity of seed produced most of the details is already certified by Pidie production of grain (rice) 10 914 kg, 10,016 kg of seed production, seed belongs to BPTP ACEH (60%), 6010 kg and owned by farmers (40%) 4006 kg, Southwest Aceh Regency production of grain (rice) 3.395 kg, 3065 kg of seed production, BPTP ACEH portion (60%) 1 840 kg and owned by farmers (40%) 1 225 kg. As for soybean seed Pidie 1,200 kg of grain production, 1108 kg of seed production BPTP ACEH portion (60%) 665 kg and farmer-owned (40%) and 443 kg Pidie Jaya 550 kg of grain production, seed production of 450 tons BPTP ACEH portion (60%) 270 kg and farmer-owned (40% ) 180 kg. Production of rice seed belongs to BPTP ACEH certified except for soy in the District of Pidie Jaya is not certified because of a drought that interfere with crop growth and yield.
D DAAFFTTAARR IISSII Halaman LEMBAR PENGESAHAN ... i KATA PENGANTAR ... ii RINGKASAN ... iii ABSTRACT ... iv DAFTAR ISI ... v DAFTAR TABEL ... vi I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 4 1.5. Perkiraan Keluaran ... 4 1.6. Perkiraan hasil ... 4
1.7. Perkiraan manfaat dan dampak ... 5
II. PROSEDUR PELAKSANAAN ... 6
2.1. Persiapan ... 6
2.2. Bahan dan Alat ... 6
2.3 Ruang Lingkup kegiatan ... 6
2.4 Pendekatan ... 7
2.5. Waktu dan tempat ... 8
2.6. Metode analisis ... 9
2.7. Pelaporan ... 15
III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16
3.1. Ketersediaan Benih di tingkat Petani ... 16
3.2. Perkembangan Penangkar Benih ... 17
3.3. Potensi Wilayah dan Hasil Perbanyakan Benih ... 17
3.4. Kebutuhan Benih dan Jenis Varietas yang digunakan ... 26
3.5. Pembinaan Kelompok Penangkaran Benih ... 37
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 39
DAFTAR PUSTAKA ... 40
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 41
D
DAAFFTTAARR TTAABBEELL
No. Judul Hal
1. Ruang lingkup Kegiatan Perbanyakan Benih Padi dan Kedelai
Mendukung Program SLPTT di Provinsi Aceh... 7 2. Perbanyakan Benih Padi dan kedelai Mendukung Program SLPTT di
Provinsi Aceh ... 9 3. Daftar jenis varietas, kelas benih, luas tanam dan jumlah petani yang
terlibat dalam kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Aceh Barat
Daya... 19 4. Daftar jenis varietas padi, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta yang
disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Aceh Barat
Daya ... 20 5. Daftar jenis varietas padi, kelas benih, luas tanam dan jumlah petani
yang terlibat dalam kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie ... 22 6. Daftar jenis varietas padi, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta yang
disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie ... 22 7. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, luas tanam dan jumlah
petani pelaksana dalam kegiatan perbanyakan benih kedelai di
Kabupaten Pidie... 23 8. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta
yang disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten
Pidie... 23 9. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, luas tanam dan jumlah petani
pelaksana dalam kegiatan perbanyakan benih kedelai di Kabupaten Pidie Jaya... 25 10. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta
yang disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie
Jaya... 25
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Revitalisasi pembangunan pertanian adalah dalam rangka mewujutkan pertanian yang tangguh, pemantapan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan daya saing produksi pertanian serta peningkatan kesejahteraan masyarakat tani, sehingga akan dapat mengurangi angka kemiskinan penduduk di Indonesia.
Pada masa yang akan datang komoditas padi dan kedelai tampaknya masih menjadi andalan bagi sumber pendapatan perekonomian sebahagian besar petani dipedesaan. Ketahanan pangan nasionalpun masih banyak ditentukan oleh kecukupan pangan bagi hampir semua lapisan masyarakat Indonesia umumnya dan Nanggroe Aceh Darussalam khususnya. Oleh sebab itu upaya peningkatan produksi padi dan kedelai tidak terlepas dari upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani yang menjadi prioritas utama dalam pembangunan pertanian.
Disamping itu juga, pertumbuhan ekonomi mikro di pedesaan akan mengalami gangguan apabila jumlah produksi padi dan kedelai menurun yang diakibat oleh kegagalan panen, hal terjadi karena sebagian besar dari industri kecil dan menengah yang ada ditingkat petani bahan bakunya adalah berasal dari komoditi padi dan kedelai. Oleh karena itu perhatian terhadap kecukupan dan ketersediaan komoditi padi dan kedelai ini perlu menjadi perhatian yang serius bagi kita semua.
Benih adalah merupakan salah satu faktor produksi yang paling utama dalam usaha meningkatkan produksi padi dan kedelai, tanpa benih yang baik dan bermutu mustahil padi dan kedelai dapat berproduksi dengan baik. Penurunan produksi padi dan kedelai sangat dipengaruhi oleh ketersediaan benih, benih yang tidak berkualitas akan memberi produksi yang rendah. Tanpa benih yang baik walaupun faktor lain sudah memadai baik pupuk dan pengolahan tanah demikian pula pengairan produksi tetap tidak dapat meningkat.
Penggunaan benih yang bermutu dan bersertifikat sudah tidak diragukan lagi, banyak hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan benih yang bermutu dapat memberikan peningkatan produksi tanaman pertanian. Hasil pengkajian Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NAD pada tiga kabupaten yaitu; Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Pidie dan Kabupaten Pidie Jaya penanaman padi dengan menggunakan benih bermutu kelas FS dapat meningkatkan produksi dari 6 t/ha menjadi 8 - 9 t/ha (BPTP ACEH, 2009).
Oleh karena itu ketersediaan benih yang bersertifikat di tingkat petani merupakan syarat mutlak dalam mendukung peningkatan produksi dan kualitas hasil komoditas pertanian. Penggunaan benih yang bersertifikat akan memperoleh beberapa keuntungan antara lain dapat meningkatkan produksi per satuan luas dan satuan waktu, di samping itu juga dapat meningkatkan kualitas hasil yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani. Mengingat beberapa keuntungan tersebut, maka benih unggul padi dan kedelai yang bermutu dan bersertifikat dapat hendaknya tersedia di tingkat petani secara keseluruhan. Oleh karena itu ketersediaan beniih tersebut harus memenuhi enam prinsip tepat yaitu ; tepat varietas, tepat mutu, tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat harga. Untuk ketersediaan menih yang bermutu tersebu maka peran BBI, BBU dan BPTP sangat diharapkan.
Makarim et al (2000), menyatakan bahwa belum optimalnya produktivitas padi di lahan sawah, antara lain disebabkan oleh rendahnya efisiensi pemupukan, belum efektifnya pengendalian hama dan penyakit, penggunaan benih kurang bermutu dan varietas yang dipilih kurang adaptif, kahat hara K dan unsur mikro, sifat fisik tanah tidak optimal serta pengendalian gulma kurang optimal.
Sejak lebih dari satu dekade yang lalu sebahagian lahan sawah mengalami penurunan produktivitas, sebagaimana tercermin pada laju pelandaian produksi padi. Puslitbang tanaman pangan telah berupaya menghasilkan inovasi peningkatan produksi padi melalui penelitian secara intensif terhadap perbanyakan benih bermutu.
Laju peningkatan produksi padi di Nanggroe Aceh Darussalam mengalami penurunan dan peningkatan. Pada tahun 2004, 2005 dan 2006 terjadi penurunan hal ini diakibatkan karena pengaruh berbagai faktor terutama kurang tersedianya benih yang terjamin mutunya. Dengan demikian sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara signifikan, sehingga petani pada beberapa tahun tersebut
mengalami penurunan produksi. Dengan demikian proses inovasi teknologi juga terabaikan yang akhirnya memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap peningkatan produksi. Pada tahun 2007 dan 2008 petani mulai bangkit berbenah diri untuk meningkatkan produksinya demi menunjang kesejahteraan hidupnya. Disamping adanya dukungan dari berbagai pihak seperti NGO juga bantuan dari pemerintah daerah baik dari segi pembangunan kembali infrastruktur, pengadaan sarana dan prasarana produksi dalam rangka meningkatkan dan memulihkan tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya petani.
Untuk lebih inovatifnya petani terhadap penggunaan teknologi yang telah dihasilkan, peranan BPTP sangat diharapkan. Pada beberapa tahun belangkangan ini petani juga sudah begitu mengenal BPTP akibat adanya sosialisasi melalui berbagai macam kegiatan-kegiatan lapangan yang langsung bersentuhan dengan usaha petani itu sendiri.
Pada Tahun 2011 BPTP ACEH melaksanakan kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai adalah dalam rangka mendukung program pemerintah melalui Kementrian Pertanian terhadap target produksi Gabah 70,01 juta ton gabah dan 43,93 juta ton beras, upaya ini ditempuh melalaui beberapa strategi salah satunya adalah program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT), disamping itu juga untuk menunjang kegiatan P2BN, pada akhirnya kegiatan ini juga merupakan pendekatan pada tingkat usaha tani dalam rangka menigkatkan produksi padi.
BPTP ACEH merupakan salah satu lembaga pelayanan teknis dibawah Litbang Pertanian yang turut berperan dalam menghasilkan inovasi teknologi sekaligus berfungsi sebagai penyebar informasi teknologi hasil pengkajian kepada pengguna melalui kegiatan desiminasi. Penelitian/pengkajian yang diimplementasikan dalam bentuk pengembangan benih sumber bersifat lokal spesifik, dinamis dan partisipatif dimana petani terlibat langsung sejak perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pengembangannya. Petani dapat mengadopsi secara parsial atau paket spesifik tergantung kemampuan petani. Dengan pendekatan seperti ini teknologi hasil penelitian akan cepat sampai dan diadopsi petani karena paket tersebut sudah teruji
Sasaran yang akan dicapai pada kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai ini adalah untuk dapat meningkatkan ketersediaan benih padi dan kedelai yang bermutu ditingkat petani, kemudian juga diharapkan kepada petani penangkar untuk selanjutnya dapat memproduksi benih sendiri dengan kualitas yang bermutu dan juga dapat menjadi produsen benih untuk wilayah sekitarnya.
1.2. Tujuan :
1. Memfasilitasi ketersediaan benih padi kelas FS = 1 ton, SS = 2 ton dan ES 7 serta benih kedelai kelas SS = 0,7 ton untuk mendukung program SL-PTT pada tiga kabupaten (Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Barat Daya).
2. Membentuk 3 kelompok tani penangkar padi dan kedelai yang mandiri di wilayah kegiatan SL-PTT (Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Barat daya).
1.3. Perkiraan Keluaran
1. Tersedianya benih padi kelas FS = 1 ton, SS = 2 ton dan ES = 7 ton serta benih kedelai kelas SS = 0,7 ton mendukung program SL-PTT pada tiga Kabupaten (Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Barat Daya).
2. Terbentuknya 3 kelompok penangkar benih padi dan kedelai secara mandiri di wilayah kegiatan SL-PTT (Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Barat Daya).
1.4. Perkiraan Hasil
Perkiraan hasil yang ditargetkan dalam kegiatan ini adalah persediaan benih pada UPBS BPTP ACEH pada akhir kegiatan yang dapat dimanfaatkan oleh petani penangkar dan mendukung persediaan benih pada program SL-PTT di Provinsi NAD adalah ; benih padi kelas FS 1 ton, kelas SS 2 ton dan kelas ES 7 ton, sedangkan untuk benih kedelai kelas SS 0,7 ton. Diharapkan dengan tersedianya benih sumber pada UPBS BPTP ACEH ini petani penangkar dapat memanfaatkannya sebagai benih sumber pada kegiatan penangkaran benih padi maupun penangkaran benih kedelai.
1.5. Perkiraan Manfaat dan Dampak
Manfaat dan dampak yang diharapkan dari kegiatan ini adalah tersedianya benih padi dan kedelai yang bermutu ditingkat petani sehingga produktivitas padi dan kedelai dapat ditingkatkan serta dapat meningkatkan motivasi petani penangkar.
II. PROSEDUR PELAKSANAAN
2.1. Persiapan
Sebelum kegiatan dilaksanakan tentunya dilakukan persiapan–persiapan yang menyangkut dengan pelaksanaan seperti pembuatan ROPP, seminar ROPP, persiapan administrasi, sosialisasi, koordinasi, persiapan benih unggul dan perencanaan lokasi yang terpilih. Persiapan lain yang sangat perlu dilakukan adalah dalam rangka penentuan lokasi tempat perbanyakan benih, karena BPTP ACEH sampai saat ini belum memiliki lahan sawah yang dapat digunakan untuk kegiatan perbanyakan benih padi. Persiapan terhadap telah dilakukan melalui berkordinasi dengan beberapa petani pada beberapa kabupaten antara lain; Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Aceh Barat Daya. Dalam kerjasama penggunaan lahan ini telah disepakati melalui sebuah perjanjian bagi hasil antara pihak pertama yaitu BPTP ACEH dan pihak kedua petani pelaksana, isi kesepakatan kerjasama ini antara lain adalah pihak pertama menyediakan semua saprodi dan upah kerja mendapat bagian 60 % dari hasil padi yang diperoleh, sedangkan pihak kedua menyediakan lahan untuk kegiatan perbanyakan benih ini mendapat 40 % dari hasil padi yang diperoleh.
2.2. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan berupa ATK, saprodi (benih padi varietas unggul baru komposit: Inpari-13, Inpari-10, Inpari-6, Ciherang dan Inpari-3), benih kedelai (Anjasmoro) pupuk Urea, NPK Ponska, pestisida, cangkul, timbangan, meteran, tali ajir, handspayer, dan lain-lain.
2.3. Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai mendukung program SL-PTT di Provinsi Aceh ini seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Ruang lingkup Kegiatan Perbanyakan Benih Padi dan Kedelai Mendukung Program SLPTT di Provinsi Aceh.
No Kegiatan Keluaran
1. Identifikasi Lokasi Data potensi dan sumberdaya wilayah
kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai serta sarana pendukung kegiatan. 2. Pembentukan tim pelaksana untuk
penentuan petani kooperator
• Tim Pelaksana • Lokasi kegiatan • Petani kooperator
• Model paket teknologi yang akan diterapkan
3. Penyusunan petunjuk teknis dan pelaksanaan di lapangan
Petunjuk teknis pelaksanaan perbanyakan benih padi dan kedelai sebagai pedoman petani dan petugas lapangan.
4. Pelatihan petugas dan petani koperator
Petani dan petugas memahami teknis perbanyakan benih padi dan kedelai serta melanjutkan kepada proses sertifikasi benih.
5. Pelaporan • Laporan bulanan
• Laporan tengah tahunan • Laporan akhir
6. Seminar • Seminar hasil kegiatan
2.4. Pendekatan
Kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai mendukung program SL-PTT ini dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif bersama petani yaitu dengan metoda
Participatory Rural Appraisal (PRA), pelaksanaan metoda menyangkut tentang studi potensi wilayah, identifikasi permasalahan serta solusi pemecahan masalah khususnya terhadap sistem perbenihan padi lahan sawah irigasi.
Pelaksanaan pengembangan benih padi dan kedelai ini dilakukan pada daerah–daerah sentra produksi padi dan kedelai yang permasalahan utama dalam meningkatkan produksi terkendala akibat kurang tersedianya benih unggul yang bermutu. Kegiatan ini juga dilaksanakan terutama di daerah yang masyarakat taninya sudah mengenal dan mau menggunakan teknologi yang sudah ada termasuk penggunaan varietas-varietas unggul yang telah dilepas.
Pengembangan benih ini sangat diperlukan karena selama ini petani agak kesulitan mendapat benih bermutu, walaupun ada tetapi jaminan kemurniannya tidak
dapat dipercaya. Dengan adanya pengembangan benih sumber ini akan terbina kelompok-kelompok penangkar benih yang nantinya diharapkan akan memudahkan penyebaran benih di tingkat petani. Kegiatan ini dilaksanakan melalui pendekatan dengan Dinas Pertanian setempat dan BPP yang ada di lokasi masing–masing yang wilayah kerjanya terlibat dengan kegiatan ini. BPP yang menentukan lokasi dan petani yang terlibat didalamnya sehingga diharapkan nantinya penyuluh baik yang PNS ataupun yang THL yang ada di BPP tersebut dapat ikut serta terlibat didalam kegiatan tersebut sehingga dapat menambah pengetahuan bagi mereka.
2.5. Waktu dan Tempat
Secara umum waktu pelaksanaan kegiatan perbanyakan benih padi ini telah dimulai pada bulan Januari s/d Desember 2011. Namun dalam pelaksanaannya disesuaikan kembali dengan musim tanam pada wilayah kegiatan masing-masing. Untuk Kabupaten Pidie penanaman padi musim tanam (MT-I) adalah pada bulan Februari 2011 dan panen pada bulan Mei 2011, untuk MT-II penanaman dilakukan pada bulan Juli 2011 dan panen bulan September 2011, Kabupaten Aceh Barat Daya penanaman padi dilakukan pada bulan April 2011 dan panen bulan Juli 2011, sedangkan untuk MT-II penanaman padi dilakukan pada bulan Nopember 2011, Sedangkan untuk komoditi kedelai di Kabupaten Pidie di tanam pada bulan April 2011 dan panen bulan Agustus 2011. Kabupaten Pidie Jaya penanaman kedelai dimulai pada bulan Mei 2011 dan panen bulan Agustus 2011.
Untuk memandu pelaksanaan kegiatan di lapangan di persiapkan petunjuk teknis budidaya tanaman padi sawah sistem legowo dan teknik produksi benih kedelai. Rencana model kegiatan yang akan dilaksanakan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perbanyakan Benih Padi dan kedelai Mendukung Program SLPTT di Provinsi Aceh.
No Komponen Teknologi Uraian perlakuan
1. Lahan Sawah dan tegalan
2. Varietas Varietas padi yang digunakan, (Inpari-13, Inpari-10,
Inpari-6, Ciherang dan Inpari-3) dengan kelas benih BS, FS dan SS, sedangkan kedelai adalah varietas Anjasmoro
3. Persemaian/perlakuan benih (seed treatment)
Direndam 24 jam dan diperam selama 48 jam. Untuk benih kedelai langsung di tanam dilapangan dengan menugal (dua biji per lubang tanam)
4. Pengolahan tanah Sesuai petunjuk teknis
5. Penanaman 1-2 batang per lubang tanam, sistem legowo 2:1, 3:1
dan 4:1. Kedelai dengan tugal dua biji per lubang tanam
6. Pemupukan • Urea
• NPK
7. Pengendalian hama/ penyakit Pengendalian Hama Terpadu
8. Umur bibit Khusus untuk padi, penanaman benih muda umur
10-15 hari setelah semai.
2.6. Metode Analisis
Kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai mendukung program SL-PTT dengan target penyediaan benih berkualitas adalah merupakan salah satu kegiatan produksi benih dan pembinaan petani penangkar yang tergabung di dalam suatu kelompok tani. Hal ini dilakukan adalah karena kecenderungan saat ini sebagian besar petani masih menggunakan benih yang tidak murni atau benih yang berasal dari hasil penanaman sebelumnya sehingga produksi tanaman padi selalu rendah.
Data yang dianalisis dalam kegiatan ini adalah meliputi produksi gabah, produksi gabah yang menjadi benih bersertifikat, jumlah kelompok tani yang terbentuk selama kegiatan ini dilaksanakan serta tingkat keberhasilan di dalam melakukan seleksi tahap demi tahap di dalam kegiatan penangkaran benih padi.
Semua data yang diperlukan tersebut dikumpulkan melalui hasil pengamatan dilapangan kemudian dibuat dalam bentuk tabulasi data untuk dijadikan sebagai bahan informasi di dalam pelaporan akhir kegiatan perbanyakan benih. Pengumpulan
petani pelaksana sampai pada tahap akhir pelaksanaan kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai.
Teknis pelaksanaan penangkaran benih :
Pada dasarnya untuk menghasilkan benih bersertifikat harus melalui 27 tahap kegiatan seperti di bawah ini :
Tahap 1. Menentukan varietas, memilih areal dan konsultasi pekerjaan ini dimulai sejak awal atau 9 minggu s/d 11 minggu sebelum tanam.
a. Varietasnya disesuai dengan kehendak penangkar benih dan kebutuhan petani pemakai benih, kelas benih yang ditanam lebih tinggi dari pada kelas benih yang akan dihasilkan, benih yang akan ditanam harus mempunyai label/segel.
b. Areal pertanaman sebaiknya dipilih: pengairannya terjamin, bekas pertanaman yang tidak sejenis, bekas pertanaman yang tidak sejenis dari varietas yang sama.
Tahap 2. Mengajukan Permohonan Sertifikasi Benih
Penangkar benih harus mengajukan permohonan sertifikasi benih kepada UPTD Balai Perbenihan Pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam melalui petugas pada masing-masing Kabupaten setempat dan paling lambat 10 hari sebelum tabur.
Tahap 3. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah baik untuk pertanaman maupun untuk persemaian dimulai sejak 6 s/d 8 minggu sebelum tanam. Hal ini bertujuan untuk menghindari pengaruh sampingan dari proses pelapukan bahan organik dan rumput-rumputan yang berakibat buruk terhadap pertumbuhan tanama. Tahap 4. Pemeriksaan lapangan pendahuluan
Pemeriksaan lapangan pendahuluan dilakukan pada waktu sebelum pengolahan tanah sampai dengan sebelum tanam. Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh petugas lapangan/pengawasan benih yang ditunjuk/ ditugaskan oleh UPTD Balai Perbenihan Pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Tahap 5. Menabur dan memelihara persemaian
Penangkar benih dapat menaburkan benihnya pada persemaian kurang lebih 3 minggu sebelum tanam dan selanjutnya persemaian dipelihara sampai cukup waktunya untuk dicabut/dipindahkan ke lapangan. Disini juga dilakukan pemupukan, pengairan, pemberantasan hama/penyakit, seleksi/ roguing.
Tahap 6. Menanam Bibit/Benih
Batas waktu tanam dalam satu blok pertanaman adalah maksimal 7 hari, apabila waktu penanaman lebih dari 7 hari, maka hendaknya blok ini dijadikan sebagai blok yang lain.
Tahap 7. Seleksi atau Roguing Fase Vegetatif
Seleksi dimulai pada umur 48 hari setelah tanam atau disesuaikan dengan masing-masing komoditi tanaman. Seleksi ini didasarkan pada sifat-sifat tanaman misalnya : bentuk tanaman, warna pangkal batang, warna permukaan daun, warna telinga dan lidah daun, warna hypokotil dan sebagainya.
Tahap 8. Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan Fase Vegetatif
Penangkar benih harus menyampaikan pemberitahuan untuk pemeriksaan lapangan untuk fase vegetatif kepada UPTD Balai Perbenihan Pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam melalui petugas lapangan/pengawas benih di Kabupaten setempat pada minggu keempat setelah tanam atau menurut jadwal masing-masing jenis komoditi.
Tahap 9. Pemeriksaan lapangan fase vegetatif (pertama)
Pemeriksaan lapangan fase vegetatif (pertama) dilakukan pada minggu kelima s/d keenam setelah tanam. Apabila pada pemeriksaan ini areal pertanaman tidak memenuhi standar, maka dilakukan pemeriksaan lapangan pertama (ulangan) pada minggu kedelapan setelah tanam.
Tahap 10. Seleksi/Roguing Fase Berbunga
Seleksi dimulai pada umur 9 s/d 10 minggu atau sesuai dengan komoditi masing-masing, yaitu apabila tanaman sudah berbunga. Seleksi fase
menyimpang dari diskripsi yang telah ditetapkan oleh pemulia tanaman/instansinya, misalnya: tinggi tanaman, berbunga terlalu cepat, bentuk gabah, ukuran gabah, warna ujung gabah dan sebagainya.
Tahap 11. Pemberitahuan Pemeriksaan Fase Berbunga Termasuk Ulangan
Penangkar benih harus memberitahukan pemeriksaan lapangan fase berbunga pada minggu kesembilan, pemeriksaan lapangan harus tepat pada waktunya, sehingga apabila pada pemeriksaan lapangan tidak memenuhi standar lapangan masih mempunyai kesempatan untuk mengulang.
Tahap 12. Pemeriksaan lapangan fase berbunga (kedua)
Pemeriksaan lapangan fase berbunga (kedua) dilakukan pada minggu kesepuluh setelah tanam atau sesuai dengan jadwal masing-masing komoditi. Apabila pada pemeriksaan lapangan ini areal pertanaman tidak memenuhi standar lapangan, maka pemeriksaan lapangan ulangan dilakukan selambat-lambatnya minggu kesebelas setelah tanam atau sesuai dengan jadwal masing-masing komoditi.
Tahap 13. Seleksi fase masak
Seleksi ini dilakukan pada minggu ke-12 sampai 15 setelah tanam, seleksi fase masak bertujuan untuk menghilangkan tanaman yang sifatnya menyimpang dari diskripsi seperti : tinggi tanaman, berbunga terlalu lambat, bentuk gabah, warna gabah dan warna ujung gabah.
Tahap 14. Pemberitahuan pemeriksaan lapangan fase masak
Penangkar benih harus memberitahukan pemeriksaan lapangan fase masak kepada UPTD Balai Perbenihan Pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam atau kepada petugas lapangan/pengawas benih kabupaten setempat pada minggu ketiga belas setelah tanam atau 2 sampai 3 minggu sebelum saat panen.
Tahap 15. Pemeriksaan lapangan fase masak
Pemeriksaan lapangan fase masak dilakukan hanya satu kali. Apabila hasil lapangan memenuhi standar untuk kelas benih yang dimaksud maka
Sedangkan apabila hasil pemeriksaan lapangan ternyata tidak memenuhi standar, maka penurunan kelas benih diizinkan sepanjang data hasil pemeriksaan lapangan memenuhi standar untuk kelas benih yang bersangkutan.
Tahap 16. Pelaksanaan panen
Pelaksanaan panen dilakukan setelah tanaman atau apabila butir-butir/polong benih telah menunjukkan kemasakan di atas 80%. Kalau untuk tanaman kedelai panen terbaik untuk persiapan benih adalah setelah pase matang fisiologis, sebagian besar daun sudah mulai rontok.
Tahap 17. Pengawasan panen
Pengawasan panen dilakukan oleh petugas lapangan/pengawas benih UPTD Balai Perbenihan Pertanian di Kabupaten setempat pada saat pelaksanaan panen. Pengawasan panen bertujuan untuk memeriksa : benih yang sedang dipanen pada satu blok pertanaman terhindar dari percampuran dengan benih dari blok lainnya, kemudian alat atau wadah untuk panen, bersih dan terhindar dari percampuran dengan varietas lain.
Tahap 18. Pemberitahuan pemeriksaan alat-alat prosessing/gudang
Penangkar benih padi dan kedelai harus mengajukan memberitahukan pemeriksaan alat-alat prosessing/gudang paling lambat satu bulan sebelum panen.
Tahap 19. Pemeriksaan alat-alat prosessing/gudang, dilakukan sebelum alat-alat prosessing/gudang tersebut digunakan.
Tahap 20. Pengolahan benih.
Pengolahan benih adalah kegiatan perontokan, pengeringan, pembersihan, pemberian obat-obatan pencegah hama/penyakit, pengepakan benih dan pekerjaan lain sebelum benih dipasarkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah benih tersebut tidak tercampur dengan varietas lain, identifikasi kelompok penangkar, seperti nomor kelompok, jenis tanaman/varietas, asal lapangan jumlah benih dan taggal panen, kadar air yang tepat, benih diusahakan agar seminimal mungkin
Tahap 21. Pengawasan pengolahan benih
Pengawasan pengolahan benih dilakukan oleh petugas lapangan/ pengawas benih di Kabupaten setempat pada saat pengolahan benih dilaksanakan. Tahap 22. Pemberitahuan pengambilan contoh benih
Pemberitahuan pengambilan contoh benih diajukan apabila :
a. Benih yang akan diambil contohnya telah dimasukkan kedalam wadah yang bersih.
b. Benih telah diatur dan disimpan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu kelompok benih yang homogen disertai dengan tanda/keterangan mengenai : nomor kelompok benih, jenis tanaman/varietas, areal lapangan, jumlah benih dan tanggal panen.
Tahap 23. Pengambilan contoh benih
Pengambilan contoh benih dilakukan oleh petugas lapangan/ pengawas benih yang ditunjuk/ditugaskan oleh UPTD Balai Perbenihan Pertanian di Kabupaten setempat atas dasar pemberitahuan dari penangkar benih.
Tahap 24. Pengujian benih di laboratorium
Pengujian benih dilakukan di laboratorium benih UPTD Balai Perbenihan Pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di Banda Aceh.
Tahap 25. Permintaan label
Penangkar benih dapat memesan atau membeli label serta pemasangannya kepada UPTD Balai Perbenihan Pertanian atau melalui petugas lapangan/pengawas benih UPTD Balai Perbenihan Pertanian Kabupaten setempat. Jumlah label sesuai dengan Tonase (volume benih) dari kelompok benih yang telah lulus pengujian laboratoris untuk masing-masing kelas benihnya. Setiap label harus dilegalisir dan mempunyai nomor-nomor seri label yang dikeluarkan oleh UPTD Balai Perbenihan Pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Tahap 26. Pemasaran benih.
Batas waktu maksimum benih tersebut dipasarkan adalah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan untuk masing-masing komoditi tanaman.
kembali di laboratorium. Apabila benih yang diuji kembali itu memenuhi standar mutu yang ditetapkan, untuk masing-masing kelas benih maka benih tersebut dapat dipasarkan kembali. Tetapi apabila tidak memenuhi standar mutu yang ditetapkan, maka penurunan kelas benih diujikan sepanjang benih tersebut memenuhi standar mut untuk kelas benih yang bersangkutan.
Tahap 27. Pengawasan pemasaran benih
Pengawasan pemasaran benih dilakukan oleh pengawas benih yang ditunjuk ditugaskan oleh UPTD Balai Perbenihan Pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Pada benih yang dipasarkan sewaktu-waktu akan datang pengawas benih untuk memeriksa serta mengambil contoh benih dalam rangka pengecekan mutu benih untuk menghindari manipulasi data yang tercantum pada label.
2.7. Pelaporan
Pada pertengahan kegiatan akan dibuat laporan tengah tahunan dan akhir kegiatan akan dibuat laporan akhir. Lapuran akhir yang dibuat dilengkapi dengan gambar – gambar kegiatan lapangan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Ketersediaan Benih di Tingkat Petani
Benih merupakan salah satu faktor penting yang mendukung peningkatan produksi komoditas pertanian, dengan menggunakan benih yang bermutu pada tanaman padi peningkatan produksi dapat dicapai sampai 20 % apabila faktor lain dalam kondisi normal.
Ditingkat petani, pemakaian benih sangat bervariasi mulai dari varietas lokal sampai dengan varietas unggul, hal ini sangat tergantung kepada pengetahuan dan modal yang dimilliki petani. Namun benih yang banyak digunakan oleh masyarakat sekarang ini adalah Ciherang, Mekongga, dan Cibogo, sedangkan untuk varietas yang baru di perkenalkan seperti Inpari-13, Inpari-10, Inpari-6, Inpari-3, Mekongga, Cigeulis dan juga ada Cimelati, Merauke dan lainnya penggunaan di tingkat petani baru sebagian kecil.
Dalam hal pemilihan varietas yang akan ditanam oleh petani, maka rasa nasi dari varietas tersebut adalah sangat menentukan untuk petani menjatuhkan pemilihannya. Hal ini kemungkinan sebagian besar petani di Aceh adalah petani subsisten, lahan yang dimilikinya kecil dan hasil padi yang diperoleh hanya untuk dikonsumsi di dalam keluarga.
Dari segi ketersediaan benih di tingkat petani secara umum sudah memadai, namun varietas padi yang murni (berlabel) harganya cukup mahal, sehingga dapat menjadi hambatan bagi petani yang tidak memiliki modal yang cukup. Pada kondisi seperti ini petani cenderung menjatuhkan pilihan dengan menggunakan benih dari hasil penanaman sebelumnya, walaupun benih tersebut berasal dari generasi yang sudah cukup lama.
Bagi petani yang mempunyai cukup modal mereka akan selalu berusaha mencari informasi tentang ketersediaan benih yang berasal dari varietas unggul baru. Biasanya petani seperti ini memiliki lahan garapan di atas 1 ha per petani dan juga mereka cenderung menjadikan usahatani ini sebagai usaha agribisnis yang dapat mendatangkan keuntungan, oleh karena itu mereka akan mempelajari permintaan
3.2. Perkembangan Penangkar Benih
Keberadaan penangkar benih di tingkat petani adalah cukup penting, karena melalui penangkar ini petani mendapatkan informasi tentang keberadaan benih-benih baru yang berproduksi tinggi terutama varietas unggul dan juga varietas hibrida dan juga petani dapat memperoleh langsung benih yang bekualitas tanpa harus mencarinya kepasar. Kemudian juga keuntungan lain yang dirasakan adalah harga benih di tingkat penangkar biasanya lebih rendah bila dibandingkan dengan harga benih yang dijual di pasaran, oleh karena itu petani petani lebih cenderung menggunakan benih yang berasal dari penangkar.
Namun, kendala yang dihadapi penangkar selama ini adalah kurangnya perhatian dan pembinaan dari pemerintah terhadap keberadaan penangkar benih, akibatnya benih yang dihasilkan oleh penangkar sering tidak lolos pada saat uji laboratorium yang dilakukan oleh petugas perbenihan sebagai salah satu syarat untuk benih tersebut dapat disertifikasi, kemudian juga dari segi pemasaran benih masih sangat terbatas hanya dikalangan petani disekitarnya saja dengan harga yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan harga benih menurut standar pemerintah.
Untuk mangatasi pemermasalahan seperti ini diharapkan adanya kebijakan pemerintah daerah tentang keberlanjutan keberadaan penangkar benih ditingkat petani ini, sehingga penangkar benih dapat berkembang dan dapat menjadi sumber benih yang bermutu bagi petani dan pemerintah. Kebijakan yang diharapkan adalah mulai dari pembinaan teknis penangkaran sampai kepada pemasaran benih yang dihasilkan oleh petani.
3.3. Potensi Wilayah dan Hasil Perbanyakan Benih 3.3.1. Kabupaten Aceh Barat Daya
Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten baru yang merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan. Semenjak masih tergabung dengan Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten ini sudah merupakan lumbung pangan bagi Kabupaten Aceh Selatan, hal ini karena potensi wilayahnya yang luas dan
sawah. Luas baku lahan sawah di Kabupaten Aceh Barat Daya adalah mencapai 23.050 ha yang terdiri dari luas lahan sawah irigasi 17.945 ha, tadah hujan 5.105 (Aceh Barat Daya dalam Angka, 2010). Pada periode tahun 2007-2008 peningkatan produksi padi di kabupaten ini adalah sangat signifikan akibat adanya perhatian pemerintah kabupatennya terhadap upaya peningkatan produksi padi. Upaya pencapaian peningkatan produksi di kabupaten Aceh Barat Daya telah memunculkan suatu program yang disebut program acong singkatan dari pada adu carong atau adu kepandaian petani dengan petugas pertanian. Program ini dilakukan oleh pemerintah kabupaten melalui dinas pertanian setempat. Pemerintah kabupaten merangsang petani dengan memberikan bantuan benih secara gratis kepada petani yang mau mengikuti program anjuran ini, serta juga membantu sebagian dari kegiatan pengolahan tanah, dan saprodi pupuk. Pada program ini Bupati Aceh Barta Daya yaitu Akmal Ibrahim SH sangat antusias dan selalu siap turun bersama-sama petani kesawah baik untuk untuk penanaman ataupun pengolahan tanah. Gerakan ini merupakan salah satu rangsangan bagi petani untuk memaksimalkan produksi padi sawah dikabupaten tersebut (Aceh Agri, 2007).
Kegiatan perbanyakan benih pada tahun 2011 ini merupakan lanjutan dari kegiatan tahun 2010, namun pada tahun 2010 kegiatannya hanya bersifat pembinaan terhadap petani penangkar benih yang ada di kabupaten, sementara hasil yang diperoleh adalah milik petani penangkar, namun untuk kegiatan tahun 2011 ini kegiatannya sudah diikat dalam sebuah perjanjian kerjasama sehingga pihak BPTP ACEH juga mendapatkan hasil padi tersebut.
Jenis varietas yang diperbanyak pada kabupaten ini ada lima varietas yaitu Varietas Inpari-10 kelas BS, Inpari-13 dengan kelas BS, Inpari-3 dengan kelas FS dan SS, Inpari-6 kelas SS serta Ciherang kelas SS. Empat varietas berasal dari Balai Besar Padi di Sukamandi, Subang, Jawa Barat dan satu varietas berasal dari petani penangkar setempat.
Adapun jenis varietas yang dikembangkan, kelas benih, luas tanam serta jumlah petani yang terlibat dalam kegiatan ini dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 3. Daftar jenis varietas, kelas benih, luas tanam dan jumlah petani yang terlibat dalam kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Aceh Barat Daya. No Jenis varietas Kelas benih Luas tanam
(ha) Jumlah petani (orang) I. 1. Inpari-10 BS 0,25 1 2. Inpari-3 FS 0,25 1 II. 1. Inpari-13 BS 0,25 1 2. Inpari-10 FS 0,25 1 3. Inpari-3 SS 0,10 1 Jumlah... 1,1 5
Penanaman padi kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Aceh Barat Daya dilakukan pada tanggal 14 April 2011 melalui kegiatan tanam perdana yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Aceh Barat Daya beserta staf, Kepala KPPKP dan penyuluh, peneliti dari BPTP Aceh serta petani pelaksana dan petani yang berada disekitar lokasi kegiatan.
Selama pertumbuhan tanaman padi di lapangan banyak mengalami gangguan antara lain adanya gangguan hama keong mas, karena pada saat tanam tersebut hujan masih cukup tinggi sehingga air tidak dapat diatur. Akibatnya adalah perkembangan hama keong mas di lahan sawah tidak dapat dikendalikan walaupun telah dilakukan upaya pengendaliannya dengan cara mekanis dan kimia, akhirnya banyaka tanaman yang terserang.
Pada lokasi ini juga diperkenalkan penanaman dengan sistem tanam legowo 2 : 1 dan legowo 3 : 1 seluas 0,25 ha, diharapkan sistim tanam legowo ini dapat menjadi contoh bagi petani, karena menurut hasil penelitian sistim tanam legowo dapat memberikan peningkatan jumlah populasi tanaman sekaligus dapat memberikan peningkatan produksi gabah.
Pada acara tanam perdana ini juga dilakukan temu wicara antara pengambil kebijakan, peneliti, penyuluh, dan petani yang tergabung dalam kelompoktani. Materi yang disampaikan meliputi tentang kebijakan pemerintah daerah terhadap sistim perbenihan di Kabupaten Aceh Barat Daya, teknologi dan manajemen penangkaran benih oleh peneliti dari BPTP ACEH.
Hasil diskusi temu wicara ini memberikan banyak masukan baik kepada pemerintah daerah maupun kepada peneliti dari BPTP, terutama terhadap pembinaan penangkar benih yang telah terbentuk dan proses pemasaran benih oleh penangkar yang selama ini masih menjadi kendala.
Penanaman untuk musim tanam kedua kegiatan perbanyakan benih padi telah dilakukan pada tanggal 12 Nopember 2011, hal ini telah terjadi keterlambatan dari jadwal yang direncakanan pada bulan September 2011. Keterlambatan ini diakibatkan oleh faktor teknis di lapangan, walaupun secara umum pihak pemerintah telah menetapkan jadwal turun ke sawah bulan Agustus, namun dalam pelaksanaannya di lapangan petani masih belum mau melaksanakannya karena di dalam hamparan tersebut belum ada yang memulainya, artinya ada tradisi saling menunggu diantara petani dalma memulai turun ke sawah.
Tabel 4. Daftar jenis varietas padi, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta yang disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Aceh Barat Daya.
No Jenis varietas Kelas benih Jumlah benih (kg) Jumlah yang disertifikasi (kg) I.1. Inpari-10 FS 490 490 2. Inpari-3 SS 450 450 3. Inpari-3 ES 900 900 II.1. Inpari-13 BS - - 2. Inpari-10 FS - - 3. Inpari-3 SS - - Jumlah... 1.840 1.840
Panen padi kegiatan perbanyakan benih padi telah dilakukan pada tanggal 25 Juli 2011. Hasil produksi gabah (padi) mencapai 3.395 kg, setelah dilakukan prosesing benih maka produksi calon benih yang diperoleh adalah 3.065 kg, sehingga benih yang diperoleh pihak BPTP ACEH (60 %) 1.840 kg dan pihak petani (40 %) 1.225 kg. Benih milik BPTP ACEH seluruhnya disertifikasi, sedangkan benih milik petani tidak disertifikasi karena belum adanya jaminan pemasaran benih tersebut.
3.1.2. Kabupaten Pidie
Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten yang cukup potensial untuk pengembangan pertanian khususnya padi. Luas lahan sawah Potensial di Kabupaten ini mencapai 29.309 ha. Luas sawah irigasi tehnis mencapai 15569 ha, semi tehnis 9.956 ha dan selebihnya lahan sawah irigasi sederhana 1.524 ha. Potensi Produksi padi saat ini rata-rata 6,8 ton/ha sedangkan produksi real mencapai 5,2 ton/ha. Hal ini disebabkan akibat adopsi teknologi sudah hampir mencapai 50 % dari luas sawah yang ada. Khususnya di Kecamatan Sakti umumnya petani sudah hampir semuanya menggunakan bibit yang dianjurkan sepeti ciherang, cigeulis, cibogo dan beberapa varietas lain yang mempu berproduksi tinggi. Penggunaan varietas unggul sudah merupakan suatu hal yang cukup dimengerti oleh petani setempat. Disamping penggunaan varietas unggul petani juga sudah melakukan sistim tanam legowo 2:1, 3:1, dan 4:1. Pemupukan berimbang sudah dilaksanakan oleh petani setempat, walaupun belum maksimal dilakukan oleh semua petani karena pada saat–saat tertentu ada petani yang masih kurang biaya untuk membeli pupuk dan tekadang pupuk terlalu mahal dipasaran atau memang langka disaat mereka butuh sehingga penggunaan pupuk terpaksa berkurang tidak sesuai denga anjuran.
Kegiatan perbanyakan benih padi dan kedelai pada Kabupaten Pidie dilaksanakan di Kecamatan Sakti pada 1 desa, yaitu Desa Gampong Baro, luas lokasi perbanyakan adalah mencapai 1,2 ha dengan jumlah petani yang terlibat 1 oarang yaitu Saifullah, SP. Adapun jenis varietas yang diperbanyak dan luas tanam serta jumlah petani yang dalam kerjasama ini dapat dilihat pada tabel 3 dan 4 di bawah ini.
Tabel 5. Daftar jenis varietas padi, kelas benih, luas tanam dan jumlah petani yang terlibat dalam kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie.
No Jenis Varietas Kelas Benih Luas Tanam Jumlah Petani
I.1. Inpari-10 SS 1,0 Ha 1
2. Inpari-3 SS 0,2 Ha 1
II.1. Ciherang SS 0,8 Ha 1
2. Inpari-6 SS 0,3 Ha 1
Jumlah 2,3 ha 4
Kegiatan perbanyakan benih padi di Kabupaten Pidie penanamannya dilaksanakan pada bulan Februari 2011 dan panen bulan Mei 2011. Selama pertumbuhannya banyak mengalami gangguan hama dan penyakit terutama adanya serangan hama ganjur, oleh karena itu hasil yang diperoleh terlihat sedikit menurun jika dibandingkan dengan hasil rata-rata produksi padi di Kabupaten Pidie.
Untuk mengatasi hama ganjur ini telah dilakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida Prephaton dengan intensitas semprotan 7 hari sekali, karena populasi hama yang cukup tinggi. Setelah penyemprotan yang ke tiga kalinya maka terlihat populasi hama menjadi berkurang di pertanaman padi.
Tabel 6. Daftar jenis varietas padi, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta yang disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie.
No Jenis Varietas Kelas Benih Jumlah benih (kg) Jumlah yang disertifikasi (kg) I.1. Inpari-10 ES 2.500 2.500 2. Inpari-3 ES 230 - II.1. Ciherang ES 2.100 2.100 2. Inpari-6 ES 1.180 1.180 Jumlah ... 6.010 5.780
Penanaman kedelai di Kabupaten Pidie dilakukan pada bulan April 2011 dan panen bulan Agustus 2011, selama pertumbuhannya tanaman kedelai mengalami beberapa kendala terutama terhadap ketersediaan air tanah.
Tabel 7. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, luas tanam dan jumlah petani pelaksana dalam kegiatan perbanyakan benih kedelai di Kabupaten Pidie.
No Jenis Varietas Kelas Benih Luas Tanam Jumlah Petani
1. Anjasmoro FS 0,7 1
Pada saat memasuki masa pengisian polong air kurang tersedia di lapangan, karena pada saat tersebut telah memasuki musim kemarau, sehingga kebutuhan air dicukupi dengan mengupayakan menggunakan sumur yang ada di sekitar lokasi pertanaman kedelai. Untuk lebih jelas perkembangan hasil tanaman kedelai dapat dillihat pada Tabel 8 berikut ini.
Tabel 8. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta yang disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie.
No Jenis Varietas Kelas Benih Jumlah benih (kg) Jumlah yang disertifikasi (kg) 1. Anjasmoro SS 665 665 Jumlah ... 665 665
Dari tabel 8 diatas terlihat bahwa tingkat hasil kedelai yang diperoleh masih lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata produksi kedelai di Kabupaten Pidie apabila di tanam pada kondisi yan normal seperti tidak adanya serangan hama dan penyakit ataupun adanya musim kering pada saat pertumbuhannya.
3.1.4. Kabupaten Pidie Jaya
Kebutuhan benih kedelai yang bermutu untuk menunjang peningkatan produksi kedelai di kabupaten ini agaknya sulit dicapai, karena ketersediaan benih kedelai yang murni dan bermutu menjadi permasalahan di tingkat petani, walaupun daerah ini dikenal dengan daerah sentra penanaman kedelai. Disamping itu Kabupaten Pidie Jaya juga merupakan salah satu kabupaten yang disebut sebagai lumbung pangan Provinsi NAD yang dapat menjadi sumber pangan bagi Kabupaten lain. Oleh karena itu pembinaan petani penangkar benih di kabupaten ini diharapkan dapat mendukung ketersediaan benih murni yang bermutu di tingkat petani sehingga dapat meningkatkan produksi komoditas tanaman pangan.
Kabupaten Pidie Jaya juga merupakan daerah sentra produksi padi dan kedelai dengan luas wilayah mencapai 1.102,84 hektar yang terdiri dari 8 Kecamatan, 34 Kemukiman dan 122 gampong. Dari 8 Kecamatan, ada 3 Kecamatan yang melakukan kegiatan penangkaran benih padi dengan melibatkan 8 kelompok tani dengan luas lahan 169 hektar.
Saat ini pola tanam padi yang berlaku di Kabupaten ini setahun hanya 2 kali tanam padi atau padi palawija, kedepan direncanakan akan ditingkatkan menjadi 3 kali tanam dalam satu tahun atau yang sering disebut dengan Indek Pertanaman (IP) 300 seperti yang dinginkan oleh Pemda setempat. Salah satu kendala dalam upaya peningkatan produksiyaitu sulitnya didapat benih bermutu yang betul-betul menjamin mutu kemurniaannya.
Kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie Jaya ini hanya dilakukan terhadap komoditi Kedelai dengan luasan 0,7 ha yang berlokasi di Desa Mulieng Kecamatan Meureudu. Kegiatan melibatkan satu orang petani pelaksana yang bernama Mahdi, dalam pelaksanaan sehari-hari Mahdi dibantu oleh beberapa petani lain. Untuk lebih jelas daftar jenis varietas, kelas benih, luas tanam, dan jumlah petani yang terlibat dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini.
Tabel 9. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, luas tanam dan jumlah petani pelaksana dalam kegiatan perbanyakan benih kedelai di Kabupaten Pidie Jaya
No Jenis Varietas Kelas Benih Luas Tanam Jumlah Petani
1. Anjasmoro FS 0,7 1
Penanaman telah dimulai bulan Mei 2011 dan panen pada bulan Agustus 2011, pada saat kegiatan penanaman kedelai ini juga dilakukan kegiatan diseminasi yaitu merupakan penanaman perdana yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya, penyuluh pertanian lapangan, peneliti dari BPTP, dalam acara ini juga disampaikan beberapa materi tentang kedelai, antara lain teknologi budidaya kedelai, kebijakan Badan Litbang Pertanian terhadap pengembangan kedelai dalam mendukung kegiatan SL-PTT, kebijakan daerah terhadap pengembangan kedelai dalam mendukung kegiatan SL-PTT dan pengalaman budidaya kedelai oleh salah seorang petani, setelah penyampaian materi ini dilanjutkan dengan acara diskusi.
Tabel 10. Daftar jenis varietas kedelai, kelas benih, jumlah benih hasilkan serta yang disertifikasi pada kegiatan perbanyakan benih di Kabupaten Pidie Jaya.
No Jenis Varietas Kelas Benih Jumlah benih
(kg)
Jumlah yang disertifikasi (kg)
1. Anjasmoro SS 270 0
Panen kedelai dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2011, panen dilakukan oleh petani pelaksana, setelah panen kemudian dibersihkan dan diseleksi sesuai dengan criteria sebagai benih kedelai.
Menurut tabel 10 diatas menujukkan bahwa hasil yang diperoleh tersebut adalah jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata produktivitas kedelai di Provinsi Aceh. Rendahnya produksi benih kedelai ini diakibatkan oleh karena pada
kebutuhan pertumbuhan tanaman kedelai, karena pada bulan Juni dan Agustus 2011 curah hujan sangat rendah sekali seperti menurut data curah hujan pada penangkar curah hujan BPP Plus Meureudu yaitu;bulan Juni 2011 jumlah curah hujan 19 mm dan jumlah hari hujan 2 hari sedangkan bulan Juli 2011 jumlah curah hujan 19 mm dan jumlah hari hujan 1 hari. Akibat dari tidak tersedianya air pada stadia ini pertumbuhan vegetative menjadi terhambat dan pembentukan bunga berkurang sehingga produksi menjadi menurun yaitu; produksi total kedelai 550 kg setelah diseleksi menjadi 450 kg bagi hasil untuk BPTP 60 % adalah 270 dan untyuk petani 40% 180 kg.
3.4. Kebutuhan Benih dan Jenis Varietas yang digunakan 3.4.1. Kabupaten Pidie
Kabupaten Pidie mempunyai luas lahan sawah baku seluas 29.337 ha, lahan sawah irigasi 26.052 ha dan tadah hujan sebesar 3.285 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 45.708 ha, sedangkan luas panen sebesar 49.365ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 1.142,7 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 80 % sisanya Cibogo, Mekongga,Cigeulis, Luk Ulo, Inpari dan varietas lokal. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, disamping itu juga ada beberapa produksen benih lokal yang berperan sebagai penyedia benih untuk Kabupaten Pidie, produsen benih tersebut antara lain Koptan Bintang Kejora, CV. Karya Tani, UD. Bina Jaya, UPB. Bijeh Pade Aceh, BBI Keumala, Gapoktan Hudep Beusare, Kelompok Mulia Tani dan Kelompok Blang Guyui.
Produksi benih yang di hasil oleh kedua kelompok penangkar tersebut pada muism tanam yang lalu baru mencapai 367 ton.Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 7.500/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.3.500. Kendala yang dihadapi petani di Pidie adalah serangan hama tikus, babi dan gajah. Rata-rata produktivitas padi sawah di Kabupaten Pidie adalah sebesar 6,9 ton/ha.
3.4.2. Kabupaten Pidie Jaya
Kabupaten Pidie Jaya mempunyai luas lahan sawah baku seluas 8..015,25 ha, lahan sawah irigasi 6.455 ha dan tadah hujan sebesar 1.560 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 13.340 ha, sedangkan luas panen sebesar 12.355 ha.Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 40 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 533,6 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 80 %, Cigeulis, Cibogo, Mekongga, Situbagendit sisanya Mekongga dan varietas lokal.
Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, karena keberadaan penangkar benih padi belum mampu memenuhi kebutuhan benih, kelompok penangkar yang telah terbentuk adalah Palaidang, Teupin Jaya, Udep Sare, Tgk di Patra dan Makmue Beusare. Produksi benih yang di hasil oleh kedua kelompok penangkar tersebut pada muism tanam yang lalu baru mencapai 140 ton. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp.7.000 sampai Rp.7.500/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.3.850. Kendala yang dihadapi petani di Pidie Jaya adalah serangan hama tikus, burung, keong mas Rata-rata produktivitas padi sawah di Kabupaten Pidie Jaya adalah sebesar 7,19 ton/ha.
3.4.3. Kabupaten Bireuen
Kabupaten Bireuen mempunyai luas lahan sawah baku seluas 22.786 ha, lahan sawah irigasi 14.268 ha dan tadah hujan sebesar 8.158 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 45.138 ha, sedangkan luas panen sebesar 42.834 ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25-30 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 1.268 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 75 % sisanya Mekongga, Inpari, Cibogo dan varietas lokal. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, disamping itu juga ada beberapa produsen benih lokal yang berperan sebagai penyedia benih untuk Kabupaten Bireuen seperti BBU Peudada, UD. AA, KT. Maju Bersama, KT. Kupula
tersebut pada muism tanam yang lalu baru mencapai 1.600 ton. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 8.000/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.4.000. Kendala yang dihadapi petani di Bireuen adalah serangan hama tikus, keong mas dan ulat grayak, kepinding tanah dan walang sangit. Rata-rata produktivitas padi sawah di Kabupaten Bireuen adalah sebesar 5 ton/ha.
3.4.4. Kabupaten Aceh Utara
Kabupaten Aceh Utara mempunyai luas lahan sawah baku seluas 44.266 ha, lahan sawah irigasi 35.735 ha dan tadah hujan sebesar 8.326 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 60.492 ha, sedangkan luas panen sebesar 60.097 ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25-40 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 1.814,2 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 75 % sisanya Mekongga, Inpari, Cibogo dan Mira-1. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, disamping itu juga ada beberapa produsen benih lokal yang berperan sebagai penyedia benih untuk Kabupaten Aceh Utara seperti BBI Keumala, Kelompok Penangkar (KP) Ingin Jaya, KP. Tgk. Diseupeng, KP. Harapan Tani, KP. Rantona, BBI Lhoksukon, dan KP. Ingin Sejahtera. Produksi benih yang di hasil oleh kedua kelompok penangkar tersebut pada muism tanam yang lalu baru mencapai 30 ton. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 7.500/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.4.000. Kendala yang dihadapi petani di Aceh Utara adalah serangan hama tikus, keong mas dan ulat. Rata-rata produktivitas padi sawah di Kabupaten Aceh Utara adalah sebesar 5,3 ton/ha.
3.4.5. Kota Lhokseumawe
Kota Lhokseumawe mempunyai luas lahan sawah baku seluas 2.196 ha, lahan sawah irigasi 953 ha dan tadah hujan sebesar 568 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 1.975 ha, sedangkan luas panen sebesar 1.965 ha. Secara umum penggunaan benih padi per
Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 75 % sisanya IR-64, Inpari dan varietas lokal. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 7.500/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.3.500. Kendala yang dihadapi petani di Lhokseumawe adalah serangan hama tikus, keong mas dan ulat. Rata-rata produktivitas padi sawah di Kota Lhokseumawe adalah sebesar 5,1 ton/ha.
3.4.6. Kabupaten Aceh Timur
Kabupaten Aceh Timur mempunyai luas lahan sawah baku seluas 34.011 ha, lahan sawah irigasi 15.067 ha dan sawah tadah hujan sebesar 18.994 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 46.272 ha, sedangkan luas panen sebesar 43.484 ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 1.156 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 80 % sisanya Inpari 20 %. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, disamping itu juga ada beberapa produsen benih lokal (kelompok penangkar benih) yang berperan sebagai penyedia benih untuk Kabupaten Aceh Timur antara lain; Mtg. Weng Putra, Bina Bersama, Mon Keulayu, Bungong Jeumpa, Annur, Tunas Baru, Baroena, Makmur Beusare. Produksi benih yang di hasil oleh kedua kelompok penangkar tersebut pada muism tanam yang lalu baru mencapai 450 ton. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 8.000/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.6.500. Kendala yang dihadapi petani di Aceh Timur adalah serangan hama tikus, keong mas dan ulat. Rata-rata produktivitas padi sawah di Aceh Timur adalah sebesar 4,5 ton/ha.
3.4.7. Kabupaten Aceh Tamiang
Kabupaten Aceh Tamiang mempunyai luas lahan sawah baku seluas 18.197 ha, lahan sawah irigasi 1.286 ha dan sawah tadah hujan sebesar 16.911 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Oktober 2011 adalah
benih padi per hektar adalah 25 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 590 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 60 % sisanya Inpari 25 %, Cibogo dan Cigeulis (15 %). Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, disamping itu juga ada beberapa produsen benih lokal (kelompok penangkar benih) yang berperan sebagai penyedia benih untuk Kabupaten Aceh Tamiang antara lain; Karya Makmur dan Makmur Jaya. Produksi benih yang di hasil oleh kedua kelompok penangkar tersebut pada muism tanam yang lalu baru mencapai 150 ton. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 10.000/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.6.000. Kendala yang dihadapi petani di Aceh Tamiang adalah serangan hama tikus, keong mas dan ulat. Rata-rata produktivitas padi sawah di Aceh Tamiang adalah sebesar 4,5 ton/ha.
3.4.8. Kota Langsa
Kota Langsa mempunyai luas lahan sawah baku seluas 1.925 ha, lahan sawah irigasi 495 ha dan sawah tadah hujan sebesar 1.430 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Oktober 2011 adalah 26.697 ha, sedangkan luas panen sebesar 26.697 ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 67,5 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 80 % sisanya 20 % adalah Cibogo, Inpari dan Cigeulis. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, dan distribusi benih antar kelompok. Produksi benih yang di hasil oleh kedua kelompok penangkar tersebut pada musim tanam yang lalu baru mencapai 150 ton. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 10.000/kg, sedangkan ditingkat petani Rp.6.500. Kendala yang dihadapi petani di Kota Langsa adalah serangan hama tikus, keong mas dan ulat. Rata-rata produktivitas padi sawah di Kota Langsa adalah sebesar 4,2 ton/ha.
3.4.9. Kabupaten Aceh Tenggara
tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 23.023 ha, sedangkan luas panen sebesar 22.355 ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 575,6 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 90 % sisanya Mekongga dan varietas lainnya 10 % %. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, karena kelompok penangkar benih padi belum terbentuk. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 7.000/kg. Kendala yang dihadapi petani di Aceh Tenggara adalah serangan hama tikus. Rata-rata produktivitas padi sawah di Kabupaten Aceh Tenggara Lues adalah sebesar 4,6 ton/ha.
3.4.10. Kabupaten Gayo Lues
Kabupaten Gayo Lues mempunyai luas lahan sawah baku seluas 8.340 ha, lahan sawah irigasi 8.180 ha dan tadah hujan sebesar 160 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 8.340 ha, sedangkan luas panen sebesar 8.260 ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 208,5 ton. Penggunaan varietas yang paling dominan adalah varietas Ciherang sebanyak 75 % sisanya Mekongga dan varietas lokal. Sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari PT. Shang Hyang Seri dan PT. Pertani, karena kelompok penangkar benih padi belum terbentuk. Sementara itu harga benih di toko saprodi mencapai Rp. 6.000/kg. Kendala yang dihadapi petani di Gayo Lues adalah serangan hama tikus. Rata-rata produktivitas padi sawah di Kabupaten Gayo Lues adalah sebesar 4,25 ton/ha.
3.4.11. Kabupaten Aceh Tengah
Kabupaten Aceh Tengah mempunyai luas lahan sawah baku seluas 7.087 ha, lahan sawah irigasi 6.962 ha dan tadah hujan sebesar 125 ha. Data luas tanam padi menurut dinas pertanian sampai dengan Nopember 2011 adalah 8.163 ha, sedangkan luas panen sebesar 8.163 ha. Secara umum penggunaan benih padi per hektar adalah 25 kg, sehingga kebutuhan benih pertahun mencapai 204 ton.