• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Setiap lembaga, organisasi, perusahaan, milik swasta maupun pemerintah terdiri sejumlah individu yang membentuk kelompok sosial dengan ciri-ciri tertentu yang disebut publik. Suatu publik adalah sekelompok orang yang memiliki kepentingan yang sama terhadap perusahaan (organisasi). Publik ini terbentuk karena adanya kepentingan yang tertentu yang disebut publik.

Publik ini terbentuk karena adanya kepentingan yang sama dan dirasakan oleh masing-masing individu sehingga dalam suatu perusahaan ada terdapat publik internal, yaitu orang-orang atau pihak yang terlibat dalam kegiatan kelompok sosial tersebut.

Suatu perusahaan yang terdiri atas inisiatif seseorang atau beberapa orang yang mempunyai modal. Atas inisiatif maka dibentuklah suatu kelompok atau badan pengusaha yang kemudian mengadakan rencana-rencana dalam melengkapi keperluan-keperluan untuk mewujudkan organisasi perusahaan itu.

Suatu perusahaan yang didirikan akan melahirkan jenjang kepangkatan atas pembagian tugas yaitu unsur pimpinan (atasan) dan yang dipimpin (bawahan) yang mempunyai kepentingan masing-masing, dan situasi kerja dapat mempengaruhi sikap dan cara kerja karyawan, sehingga dengan demikian akan banyak menimbulkan persoalan-persoalan yang apabila dibiarkan begitu saja tanpa dicari pemecahannya dapat terjadi konflik yang menimbulkan pertentangan dalam perusahaan dan akhirnya menyebabkan terganggunya kelancaran dalam mencapai tujuan yang ditentukan.

Untuk menghindari hal ini perlu diupayakan suatu cara yang dapat menciptakan hubungan kerja yang harmonis, kerjasama yang saling menguntungkan serta saling pengertian yang pada akhirnya semua pihak dapat memperoleh kepuasan bersama.

(2)

Dalam sebuah organisasi setiap orang yang terlibat didalamnya ketika melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya baik selaku pimpinan diberbagai tingkatan maupun para staf, agar pekerjaannya dapat terlaksana dengan lancer dan harmonis untuk mencapai tujuan bersama yang disepakati dan ditetapkan, maka unsur kerjasama harus senantiasa tercipta dengan baik. Dengan terjadinya proses kerjasama maka unsur komunikasi pun dengan sendirinya akan tercipta dalam sebuah organisasi, karena apapun bentuk intruksi, informasi dar pimpinan ke bawahan maupun sebaliknya masukan, laporan dari bawahan ke pimpinan, antara sesame bawahan senantiasa dilakukan melalui proses komunikasi. Semua aktivitas kebanyakan dicakup dalam komunikasi, dimana komunikasi merupakan dasar bagi tindakan dan kerjasama.

PT. Telkomsel sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi yang tetap eksis dan berkembang berdiri pada 26 Mei 1995. PT. Telkomsel memiliki jaringan network terbesar di seluruh Indonesia yang meliputi propinsi, kabupaten dan sdh mencapai kecamatan di seluruh Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Baru-baru ini Telkomsel kembali mendapat pengakuan sebagai yang terbaik dari ajang bergengsi Top Brand Award 2010 untuk kedua produk SIM Card-nya, yakni simPATI (prabayar) dan kartuHALO (paskabayar) sebagai kartu pilihan utama selama sepuluh tahun berturut-turut (2000-2010) sejak award ini diadakan. Keberhasilan mempertahankan predikat ini membuat Telkomsel berhak memperoleh predikat “Top of The Top” dalam merek-merek terbaik. (www.telkomsel.co.id)

Menurut pendapat Effendy (2000:13) “ Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang bermakna bagi kedua pihak, dalam situasi yang tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk merubah sikap atau tingkah laku seorang atau sejumlah orang sehingga ada efek tertentu yang diharapkan.

Schein (1982) mengatakan bahwa organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fugsi melalui hiearki otoritas dan tanggung jawab.

Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi. Sebagai tempat terjadinya kegiatan, maka tidak luput dari pentingnya kegiatan komunikasi. Pimpinan perusahaan selaku pimpinan bertanggung

(3)

selaku komunikator dengan para staf administrasi selaku komunikan, “yang menjadi persoalan sebenarnya bukan apakah manajer berkomunikasi atau tidak, karena komunikasi merupakan bagian dari fungsi organisasi. Persoalan sebenarnya adalah apakah manajer dapat berkomunikasi dengan baik atau tidak. Dengan kata lain, komunikasi sendiri tidak dapat dielakan dalam setiap fungsi organisasi ; tetapi komunikasi itu mungkin tidak efektif. Setiap manajer harus menjadi seorang komunikator.

Selanjutnya menurut Permata Wulandari (2007) mengatakan bahwa “peran pimpinan dalam peningkatan komunikasi pada sebuah organisasi membutuhkan tiga hal : pertama, semua pemain harus memiliki kemampuan yang tepat dan mengerti komunikasi yang baik. Komunikasi bukanlah proses yang indah dan banyak orang membutuhkan pengertian yang mendalam mengenai issue komunikasi. Kedua, komunikasi organisasi yang efektif membutuhkan iklim atau budaya yang mendukung komunikasi yang efektif. Lebih spesifik iklim ini akan membutuhkan kejujuran, keterbukaan, praktik komunikasi yang baik dan tanggung jawab untuk membuat komunikasi lebih efektif. Ketiga, komunikasi yang efektif membutuhkan perhatian. Hal ini bukanlah sesuatu yang langsung terjadi tetapi dikembangkan sebagai hasil usaha staf dan jajaran manajemen”. Oleh karena itu pimpinan perusahaan dan staf marketing harus tahu betul tentang konsep komunikasi itu sendiri agar nantinya didalam menjalankan aktivitas organisasinya dapat terlaksana dengan baiks esuai dengan yang diharapkan, “secara umum komunikasi dapat disebut sebagai proses pegiriman dan penerimaan pesan atau berita (informasi) antara dua orang atau lebih denga cara yang efektif, sehingga pesan dimaksud dapat dipahami”. Marketing dalam suatu perusahaanlah yang mampu mengkomunikasikan perusahaan itu ke khalayak atau masyarakat umum, sehingga peneliti tertarik meneliti di bagian Staf Marketing Telkomsel

Komunikasi merupakan suatu proses simana yang terlibat, menciptakan dan berbagi informasi satu sama lain untuk mencapai saling pengertian (Everett M. Rogers).

Bersesuaian pendapat-pendapat di atas Arni Muhammad (2005: 4-5) mengemukakan bahwa :

Komunikasi adalah pertukaran pesan verbal maupun nonverbal antara si pengirim dan si penerima pesan untuk mengubah tingkah laku. Si pengirim pesan dapat berupa seorang individu, kelompok, atau organisasi. Begitu juga halnya dengan

(4)

si penerima pesan dapat berupa seorang anggota organisasi, seorang kepala bagian, pimpinan, kelompok orang dalam organisasi, atau organisasi secara keseluruhan. Istilah proses maksudnya bahwa komunikasi itu berlangsung melalui tahap-tahap tertentu secara terus menerus, berubah-ubah, dan tidak henti-hentinya. Proses komunikasi merupakan proses yang timbal balik karena antara si pengirim dan si penerima saling mempengaruhi satu sama lain. Perubahan tingkah laku maksudnya dalam pengertian yang luas yaitu perubahan yang terjadi didalam diri individu mungkin dalam aspek kognitif, efektif atau psikomotor.

Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan diatas jelaslah bahwa pesan yang disampaikan oleh pimpinan selaku komunikator kepada para staf selaku komunikan tidak lain tujuannya adalah sebagai upaya untuk merubah pemikiran, sikap dan perilaku para staf agar mau melakukan pekerjaan organisasi sebagaimana mestinya melalui komunikasi yang diciptakan oleh pimpinan.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh komunikasi dan motivasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staf marketing perusahaan PT. Telkomsel Pematang Siantar.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perumusan masalah yang dapat ditarik peneliti dalam penelitian ini adalah :

Apakah terdapat pengaruh komunikasi dan motivasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staf marketing perusahaan PT. Telkomsel Pematang Siantar..

1.3 Pembatasan Masalah

Untuk menghindari terlalu luasnya ruang lingkup penelitian maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti sebagai berikut :

1. Pengaruh komunikasi organisasi dan motivasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staf marketing perusahaan PT. Telkomsel Pematang Siantar

2. Perusahaan yang dipilih adalah PT. Telkomsel Pematang Siantar yang terletak di Komp Megaland A/53 Jl. Sang Nawaluh Pematang Siantar

3. Objek penelitian adalah pegawai yang masih aktif yang ada di lingkungan kantor tersebut.

(5)

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh komunikasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staf marketing di PT. Telkomsel Pematang Siantar

2. Untuk mengetahui pengaruh motivasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staf marketing di PT. Telkomsel Pematang Siantar

3. Untuk mengetahui hubungan komunikasi dan motivasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staf marketing di PT. Telkomsel Pematang Siantar.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian mengenai komunikasi.

2. Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dan informasi bagi masyarakat pada umumnya serta perusahaan atau instansi yang bersangkutan pada khususnya.

1.6 Kerangka Teori

Dalam penelitian ini ilmiah, teori berperan sebagai landasan berfikir.

Dengan demikian pemecahan masalah yang diteliti tampak jelas dan sistematis sesuai dengan pengertian teori sendiri yakni serangkaian asumsi, konstruk, defenisi dan proporsi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep. (Mecardo, 1984:84).

Nawawi (1991:39-41) mempertegas bahwa kerangka teori merupakan mempertegas bahwa kerangka toeri merupakan landasan dan kerangka berfikir yang berguna sebagai pendukung pemecahan masalah atau menyoroti masalahnya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang meggambarkan dari sudut mana masalah penelitian disoroti.

Dalam penelitian ini landasan teori yang digunakan adalah teori mengenai komunikasi dalam organisasi, dan motivasi.

(6)

1.6.1 Komunikasi dalam organisasi.

Komunikasi merupakan istilah umum, ia dipergunakan dalam semua kesempatan baik dalam pembahasan, maupun dalam membicarakan berbagai masalah. Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris, “communication” yang berarti “sama”. Sama disini maksudnya sama makna (Effendy, 1990:2). Interaksi yang terjadi didalam organisasi, baik antara atasan dengan bawahan hanya dapat dimungkinkan dengan adanya komunikasi.

Menurut Carl I Hovland di dalam bukunya “Social Communication Proccduring of The American Philosophical Society” (dalam Effendy, 1984:2) menyatakan bahwa, “Ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara azas-azas penyampaian informasi serta pembentukan opini dan sikap.

Dengan demikian naka komunikasi merupakan proses merubah pikiran orang lain. William F Gluech dalam bukunya yang berjudul “Management” seperti dikutip oleh Widjaya(1983:8) menyatakan bahwa komunikasi dapat dibagi dalam dua bagian yaitu :

Interpersonal communication (komunikasi antar pribadi) ; yaitu proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang lebih didalam sutu kelompok kecil manusia.

Organizational communication (komunikasi organisasi) ; yaitu pembicara secara sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian kepada orang banyak di dalam organisasi dan kepada pribadi-pribadi dan lembaga-lenbaga diluar yang ada hubungannya dengan kebutuhan kegiatan pengintegrasian dan modifikasi kepentingan-kepentingan yang berbeda ataupun berlawanan, agar tercapailah kerjasama yang harmonis.

Informasi seperti itu mengalir baik melalui struktur formal maupun informal, dan ia mengalir ke arah bawah, ke atas, dan dalam samping.

1. Teori Komunikasi ke Bawah

Menurut Haryani (2001 :43) bahwa komunikasi ke bawah (downward communication) merupakan aliran komunikasi dari manajemen tingkat atas ke manajemen yang tingkatannya lebih rendah atau kepada karyawan. Komunikasi ke

(7)

bawah biasanya merupakan aliran atau penyampaian informasi dari atasan kepada bawahannya, yang dapat berupa perintah kerja, evaluasi, prosedur organisasi, pelatihan, dan pengarahan.

Katz dan Khan yang dikutip oleh Pace & Faules dan diterjemahkan oleh Mulyana (2000 :185) manyatakan bahwa ada 5 jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan kepada bawahan :

• Informasi mengenai bagaiman melakukan pekerjaan.

• Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan. • Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik organisasi. • Informasi mengenai kinerja pegawai.

• Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas

2. Teori Komunikasi ke Atas

Effendy (2005 :43) mengemukakan bahwa : “Komunikais ke atas (upward communication) adalah komunikasi dari bawahan kepada pimpinan”

Pace dan Faules (2000:190) yang diterjemahkan oleh Mulyana mengungkapkan beberapa pendapat ahli mengenai pentingnya komunikasi ke atas, yaitu :

• Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya.

• Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahan mereka siap menerima informasi dari mereka dan seberapa baik bawahan menerima apa yang dikatakan mereka.

• Komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas kepada organisasi dengan memberi kesempatan kepada pegawai untuk mengajukan pertanyaan dan menyumbang gagasan serta saran – saran mengenai operasi organisasi. • Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan apakah

(8)

• Komunikasi ke atas membantu pengawai mengatasi masalah pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut.

1.6.2 Teori Motivasi

Salah satu faktor penting yang mendorong karyawan mau bekerja secara produktif adalah adanya motivasi untuk berprestasi yang pada akhirnya dapat menimbulkan semangat kerja. Untuk mengetahui konsep dasar motivasi kerja karyawan maka perlu diuraikan pengertian motivasi serta teori motivasi.

Menurut Stanford dalam Mangkunegara (2000: 93) menyatakan bahwa motivasi didefinisikan sebagai suatu perusahaan karena dengan adanya motivasi diharapkan setiap karyawan mau kerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.

Selanjutnya dikemukakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan orang untuk mencapai rasa memiliki tujuan bersama dengan memastikan bahwa sejauh mungkin keinginan dan kebutuhan organisasi serta keinginan dan kebutuhan anggotanya berada dalam keadaan yang harmonis atau seimbang. Menurut Stoner et. al. (1995: 134), motivasi merupakan karakteristik psikologi manusia yang memberikan kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Dengan kata lain, motivasi adalah proses manajemen untuk mempengaruhi tingkah laku manusia untuk mencapai tujuan tertentu.

Malayu S.P. Hasibuan (2000: 140) menyatakan bahwa motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.

Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi semakin penting karena manajer membagikan pekerjaan pada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan. Sebagaimana yang dikemukakan Cokroaminoto “ bahwa faktor motivasi memiliki hubungan lansung dengan kinerja individual karyawan “.

(9)

Selanjutnya menurut Arni Muhammad (2005:17-18) berpendapat bahwa komponen dasar komunikasi yaitu :

• Pengirim Pesan, adalah individu atau orang yang mengirim pesan. • Pesan, adalah informasi yang akan dikirimkan kepada si penerima.

• Saluran, adalah jalan yang dilalui pesan dari si pengirim dengan si penerima. • Penerima Pesan, adalah yang menganalisis dan menginterpretasikan isi pesan

yang diterimanya.

• Balikan, adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan.

Dari berbagai pendapat para ahli diatas, mengindikasikan bahwa komponen-komponen yang terdapat dalam proses komunikasi, merupakan unsur yang berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya masing-masing komponen mempunyai peran dan fungsi masing-masing sesuai maksud dan tujuan komunikasi yang dilakukan oleh pimpinan kepada para staf, maupun antara sesame staf marketing di perusahaan.

1.6.3 Kinerja

Kinerja adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia dari kata dasar "kerja" yang menterjemahkan kata dari bahasa asing prestasi. Bisa pula berarti hasil kerja.

Pengertian Kinerja Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan atau manajer sering tidak memperhatikan kecuali sudah amat buruk atau segala sesuatu jadi serba salah. Terlalu sering manajer tidak mengetahui betapa buruknya kinerja telah merosot sehingga perusahaan / instansi menghadapi krisis yang serius. Kesan – kesan buruk organisasi yang mendalam berakibat dan mengabaikan tanda – tanda peringatan adanya kinerja yang merosot.

Kinerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2000 : 67) “Kinerja ( prestasi kerja ) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan

(10)

Kemudian menurut Ambar Teguh Sulistiyani (2003 : 223) “Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”. Maluyu S.P. Hasibuan (2001:34) mengemukakan “kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.

1.6.3.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2001 : 82) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:

1.Kemampuan mereka, 2.Motivasi,

3.Dukungan yang diterima,

4.Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan

5.Hubungan mereka dengan organisasi. Berdasarkaan pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk berprestasi.

Menurut Mangkunegara (2000) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain :

a. Faktor kemampuan Secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu dtempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahlihannya.

b. Faktor motivasi Motivasi terbentuk dari sikap (attiude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situasion) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal.

David C. Mc Cleland (1997) seperti dikutip Mangkunegara (2001 : 68), berpendapat bahwa “Ada hubungan yang positif antara motif berprestasi dengan pencapaian kerja”. Motif berprestasi dengan pencapaian kerja. Motif berprestasi

(11)

tugas dengan sebaik baiknya agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji.

Selanjutnya Mc. Clelland, mengemukakan 6 karakteristik dari seseorang yang memiliki motif yang tinggi yaitu :

1) Memiliki tanggung jawab yang tinggi 2) Berani mengambil risiko

3) Memiliki tujuan yang realistis

4) Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasi tujuan.

5) Memanfaatkan umpan balik yang kongkrit dalam seluruh kegiatan kerja yang dilakukan

6) Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogamkan

Menurut Gibson (1987) ada 3 faktor yang berpengaruh terhadap kinerja : 1) Faktor individu : kemampuan, ketrampilan, latar belakang keluarga,

pengalaman kerja, tingkat sosial dan demografi seseorang.

2) Faktor psikologis : persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan kepuasan kerja

3) Faktor organisasi : struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan, sistem penghargaan (reward system)

1.6.3.2 Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja ( performance appraisal ) pada dasarnya merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien, karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi. Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja karyawan.

Menurut Bambang Wahyudi ( 2002 : 101 ) “penilaian kinerja adalah suatu evaluasi yang dilakukan secara periodik dan sistematis tentang prestasi kerja / jabatan seorang tenaga kerja, termasuk potensi pengembangannya”.

(12)

Menurut Henry Simamora ( 338 : 2004 ) “ penilaian kinerja adalah proses yang dipakai oleh organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja individu karyawan”.

1.6.3.3 Tujuan Penilaian Kinerja

Menurut Syafarudin Alwi ( 2001 : 187 ) secara teoritis tujuan penilaian dikategorikan sebagai suatu yang bersifat evaluation dan development yang bersifat efaluation harus menyelesaikan :

1.Hasil penilaian digunakan sebagai dasar pemberian kompensasi 2.Hasil penilaian digunakan sebagai staffing decision

3.Hasil penilaian digunakan sebagai dasar meengevaluasi sistem seleksi. Sedangkan yang bersifat development penilai harus menyelesaikan :

1.Prestasi riil yang dicapai individu

2.Kelemahan- kelemahan individu yang menghambat kinerja 3.Prestasi- pestasi yang dikembangkan.

Manfaat Penilaian Kinerja Kontribusi hasil-hasil penilaian merupakan suatu yang sangat bermanfaat bagi perencanaan kebijakan organisasi adapun secara terperinci penilaian kinerja bagi organisasi adalah :

1.Penyesuaian-penyesuaian kompensasi 2.Perbaikan kinerja

3.Kebutuhan latihan dan pengembangan

4.Pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi, pemecatan, pemberhentian dan perencanaan tenaga kerja.

5.Untuk kepentingan penelitian pegawai

6.Membantu diaknosis terhadap kesalahan desain pegawai

1.7 Kerangka Konsep

Didalam setiap penelitian sosial, seorang peneliti harus terlebih dahulu menetapkan variabel-variabel penelitian sebelum memulai pengumpulan data. Hal ini tertuang dalam kerangka konsep dengan menetapkan variabel akan memudahkan si peneliti untuk melaksanakan penelitiannya.

(13)

Kerangka Konseptual merupakan defenisi yang dipakai untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena sosial ataupun fenomena alami. (Singarimbun, 1989 :17)

Guna membantu untuk lebih mengarahkan penelitian ini sesuai objek sasaran yang diharapkan maka dirasakan perlu untuk memberikan pengertian-pengertian tentang konsep variabel sebagai berikut :

a Variabel Bebas X1 ( Komunikasi ) adalah :

Proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan yang bertujuan untuk merubah pengetahuan, sikap dan prilaku penerima pesan (komunikan).

a Variabel Bebas X2 ( Motivasi) adalah :

Suatu keadaan fisikologi yang muncul akibat adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan.

a Variabel Terikat Y ( Kinerja staf ) adalah :

Hasil kerja yang dapat dicapai oleh pegawai atau sekelompok pegawai dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.

1.8 Operasional Variabel

Operasionalisasi adalah upaya membuat konsep-konsep yang telah dikelompokkan dalam variabel agar dapat diteliti dengan rinci, maka diperlukan suatu operasionalisasi variabel-variabel yaitu sebagai berikut :

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Husnuzzan (2013) menyatakan perusahaan harus meningkatkan integrated marketing communication capability agar marketing perfomance

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar prolaktin plasma pada subyek psoriasis vulgaris lebih tinggi dari subyek bukan psoriasis vulgaris ( p < 0,001) serta

Gerakan Buang Air Besar Sembarangan Nol yang selanjutnya disingkat BASNO adalah kebijakan Pemerintah Daerah untuk mewujudkan perubahan perilaku yang hygine dan

Jenis- jenis puring diantaranya adalah puring kura, puring emping, puring walet, puring apel malang, puring anting, puring gelatik, puring jengkol, dan puring oscar.Tanaman

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai proses belajar mengajar PJOK di masa pandemi covid-19 Se-Kota Bengkulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dan ideology masyarakat konsumen media bukan lagi bertumpu pada “budaya yang mereka anut selama ini” tetapi telah bergeser, digantikan oleh budaya media. Secara teoritis budaya

Dalam Pasal 1 angka 7 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana Bagi Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha 7 Berdasarkan Prinsip