26 1. BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian
Objek penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) yang secara lengkap telah menerbitkan laporan keuangan tahun 2018. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan keuangan tahunan yang sudah di audit dan annual report per 31 Desember tahun 2018. Data tersebut diperoleh melalu situs www.idx.co.id.
B. Jenis Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan dan tujuan penelitian yang telah disebutkan, maka jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara suatu variabel dengan variabel yang lain (Ulum dan Juanda.2016). hubungan ini dapat berupa hubungan biasa (korelasi) maupun hubungan kausalitas (sebab akibat). penelitian ini berusaha menjelaskan pengaruh good corporate governance dan Leverage terhadap profitabilitas perusahaan. good corporate governance (X1) diproksikan dengan proporsi dewan komisaris independen, dewan direksi, komite audit, kepemilikan manajerial dan kepemilikan konstitusional. Leverage (X2) diproksikan dengan Debt to equity ratio (DER), sementara profitabilitas di proksikan dengan ROA.
C. Populasi dan teknik pengambilan sampel
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Ulum dan Juanda.2016). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2018. Sampel adalah bagian dari populasi yang dapat mewakili seluruh seluruh populasi (Ulum dan Juanda.2016).
penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini melalui metode purposive sampling. Menurut (Ulum dan Juanda.2016), metode purposive sampling merupakan metode penetapan sampel dengan berdasarkan pada kriteria – kriteria tertentu.
Kriteria-kriteria pemilihan sampel sebagai berikut:
1. perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) pada tahun 2018
2. perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan (Annual Report) dan laporan keuangan secara lengkap pada tahun 2018
3. perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance
D. Definisi operasional dan pengukuran variabel
Ada dua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu ;
1. Variabel Dependen (Terikat)
Variabel Dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan. Kinerja keuangan adalah suatu gambaran sampai mana tingkat keberhasilan yang dicapai oleh perusahaan dalam kegiatan operasionalnya. Dalam penelitian ini, kinerja keuangan diukur menggunakan Return On Asset (ROA).
ROA merupakan rasio yang mampu menggambarkan kemampuan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba atau keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimiliki. Semakin besar ROA, maka akan semakin baik pula kinerja keuangan, karena return atau laba yang didapat perusahaan semakin besar. ROA dapat di hitung dengan rumus:
𝑹𝑶𝑨 =𝑬𝒂𝒓𝒏𝒊𝒏𝒈 𝑨𝒇𝒕𝒆𝒓 𝑻𝒂𝒙 (𝑬𝑨𝑻)
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕 𝑿 𝟏𝟎𝟎%
2. Variabel Independen (variabel bebas)
Variabel Independen merupakan variabel yang mempengaruhi perubahan dalam variabel terikat dam mempunyai hubungan yang posotif dan negative.
Variabel Independen dalam penelitian ini adalah good corporate governance (X1) yang memiliki unsur Dewan Komisaris Independen, Dewan Direksi, Komite audit, Kepemilikan Manajerial, dan Kepemilikan Konstitusional, serta Leverage (X2).
1. Dewan Komisari Idependen
Menurut S. dan Sanjaya (2018), Komisaris independen merupakan bagian dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan atau tidak terafiliasi dengan emiten atau perusahaan publik, komisaris, direksi atau pemegang saham emiten atau perusahaan publik yang bertugas secara independen dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja dewan komisaris. Menurut Sarafina dan Saifi (2017), Komisaris Independen bertujuan untuk penyeimbang pengambilan keputusan dewan komisaris.
Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), perusahaan tercatat wajib memiliki komisaris independen yang jumlahnya proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan pemegang saham pengendali dengan ketentuan jumlah komisaris independen sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari jumlah seluruh anggota komisaris. (Rimardhani et al. dalam Antonia 2004).
Pengukuran proporsi dewan komisaris independen sebagai berikut:
𝑲𝑶𝑴𝑰𝑵 =𝑲𝒐𝒎𝒊𝒔𝒂𝒓𝒊𝒔 𝑰𝒏𝒅𝒆𝒑𝒆𝒏𝒅𝒆𝒏
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒅𝒆𝒘𝒂𝒏 𝒌𝒐𝒎𝒊𝒔𝒂𝒓𝒊𝒔 𝑿 𝟏𝟎𝟎 2. Dewan Direksi
Menurut Rimardhani et al. (2016), Pengelolaan perusahaan bergantung pada kinerja dan kebijakan dari dewan direksi. Tugas dan tanggung jawab dari setiap anggota direksi adalah saling berkaitan dan mengikat serta merupakan
tanggung jawab sesama anggota direksi pada perusahaan. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014 meyebutkan paling kurang terdapat dua orang anggota direksi dalam perusahaan. Besar kecilnya perusahaan menentukan jumlah minimal anggota dewan direksi. Menurut peraturan Bank Indonesia No. 8/4/2006 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance.
Dewan direksi dihitung menggunakan:
Dewan Direksi = Jumlah Dewan Direksi
3. Komite Audit
Menurut Sarafina dan Saifi (2017), Komite Audit adalah suatu komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dan memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap laporan keuangan, audit eksternal dan mengamati system pengendalian internal. Menurut Umar (2014), Dewan komisaris membutuhkan komite audit untuk membatu melakukan pengawasan dala pengelolaan perusahaan. Komite audit bertanggungjawab mengawasi proses pelaporan keuangan. Komite audit juga menghubungkan para pemegang saham dan komisaris dengan manajemen dalam usaha menangani pengendalian. Paling tidak terdapat satu anggota komisaris independen sebagai ketua komite audit, dan dua orang dari luar perusahaan sebagai anggota komite audit. Komite audit dalam suatu perusahaan dapat diukur dengan jumlah anggota komite audit.
Komite Audit = Jumlah Komite Audit
4. Kepemilikan Manajerial
Menurut Tertius dan Christiawan (2015), Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemilik, dewan eksekutif, dan manajemen dalam suatu perusahaan. Kepemilikan Manajerial merupakan suatu kondisi dimana pihak manajemen perusahaan memiliki rangkap jabatan yaitu jabatanya sebagai manajemen perusahaan dan juga pemegang saham dan berperan aktif dalam pengambilan keputusan yang dilaksanakan. Variabel ini diukur menggunakan :
𝑴𝑵𝑱𝑹 =𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒎 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉 𝒅𝒊𝒓𝒆𝒌𝒕𝒖𝒓 𝒆𝒌𝒔𝒆𝒌𝒖𝒕𝒊𝒇
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒎 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒆𝒅𝒂𝒓 𝑿 𝟏𝟎𝟎 5. Kepemilikan Konstitusional
Menurut Boediono (2005), Kepemilikan institusional adalah saham yang dimiliki pemerintah, institusi berbadan hukum, dana perwalian, institusi asing, dan lain sebagainya yang dapat memonitor manajemen dalam pengelolaan perusahaan. Pihak institusi merupakan pemegang saham mayoritas yang memiliki sumber daya besar. Kepemilikan institusional diukur dari presentase jumlah saham pihak institusi dari seluruh jumlah saham perusahaan. Menurut Mahiswari. (2014), Kepemilikan institusional adalah jumlah persentase hak suara yang dimiliki oleh institusi. Variabel Kepemilikan institusional diukur
dari presentase jumlah saham pihak institusi dari seluruh jumlah saham perusahaan.
𝑰𝑵𝑺𝑻 =𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒎 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒊𝒏𝒔𝒕𝒊𝒕𝒖𝒔𝒊
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒎 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒆𝒅𝒂𝒓 𝑿 𝟏𝟎𝟎 6. Leverage
Menurut Nurhaiyani (2018), Leverage tidak berpengaruh secara individual terhadap kinerja perusahaan. Hal ini disebabkan sebagai besar investor saham tidak begitu memperhatikan leverage karena leverage cenderung tidak berpengaruh terhadap harga saham di pasar modal. Menurut Sambora (2014), Leverage digambarkan untuk melihat sejauh mana asset perusahaan dibiayai oleh hutang dibandingkan dengan modal sendiri. Leverage yang semakin besar menunjukkan risiko investasi yang semakin besar pula.
Sebaliknya perusahaan dengan leverage yang rendah memiliki risiko leverage yang rendah pula. Leverage dalam penelitian ini menggunakan tolak ukur Debt to equity ratio (DER).
Menurut Sambora (2014), Debt to equity ratio (DER) merupakan perbandingan antara jumlah hutang jangka panjang dengan modal sendiri atau ekuitas dalam pendanaan perusahaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya dengan modal sendiri.
Semakin tinggi nilai rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit disbanding dengan hutangnya. DER digunakan sebagai pengukur seberapa jauh suatu
perusahaan dibiayai oleh kreditur. DER dapat dihitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
𝑫𝑬𝑹 = 𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑫𝒆𝒃𝒕
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑬𝒒𝒖𝒊𝒕𝒚 𝑿 𝟏𝟎𝟎
E. Jenis dan sumber data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dimana merupakan penelitian yang menekankan pada pengujian teori-teori dan atau hipotesis-hipotesis melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dalam rangka melakukan analisis data dengan prosedur statistik dan atau permodelan matematis.
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari individu atau kelompok tertentu yang memiliki data secara spesifik. Data sekunder dalam penelitian ini berupa data laporan keuangan dan annual report periode 2018 yang diperoleh melalui situs resmi BEI www.idx.co.id.
F. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan tekhnik dokumentasi dari data-data yang dipublikasikan oleh seluruh perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesi melalui situs resmi BEI www.idx.co.id. dimana data tersebut dikumpulkan oleh pihak lain serta telah terdokumentasi. Data sekunder dalam penelitian ini yaitu, laporan keuangan dan annual report
perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index periode 2018 yang diperoleh melalui situs BEI
Metode dokumentasi adalah pengumpulan data yang bersumber pada benda – benda tertulis seperti buku – buku, dokumen, majalah, peraturan, laporan, notulen rapat, dan catatan – catatan.
G. Teknik analisis data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan software Smart Partial Least Squere (PLS). Menurut Ghozali (2008) Partial Least Squere (PLS) merupakan metode analisis yang powerful oleh karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil.
Tujuan Partial Least Squere (PLS) adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi dan juga digunakan untuk konfirmasi teori. Dengan pendekatan Partial Least Squere (PLS) diasumsikan bahwa semua ukuran variance adalah variance yang berguna untuk dijelaskan Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan SEM-PLS dengan warPLS 3.0. Teknik analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Analisis Statistik Inferensial
Statistik inferensial adalah teknik statistik untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Metode analisis statistik inferensial dalam penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS). PLS
dinilai tepat dalam penelitian ini karena model PLS berbentuk struktural yang terdiri lebih dari satu variabel dependen. Analisis data menggunakan software smartPLS, mulai dari pengukuran model (outer model), struktural model (inner model) dan pengujian hipotesis.
2. Menilai model pengukuran (Outer model)
Uji model dalam pendekatan PLS dilakukan melalui outer model. Outer model adalah menguji indikator terhadap variabel laten atau dengan kata lain mengukur seberapa jauh indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah indikator refleksi. Outer loadings dari model penelitian dengan indikator refleksi dapat dilihat dari korelasi antara nilai indikator dengan nilai construct-nya.
Untuk menguji kevaliditasan dan reliabilitas dari indikator perlu dilakukan pengujian, yang meliputi empat tahap yaitu convergent validity, discriminant validity, average variance extracted (AVE), dan composite reliability. Hasil outer loadings dapat diperoleh setelah melakukan bootstrapping dalam prosedur PLS terhadap model penelitian.
3. Menilai Model Structural (Inner Model)
Pengujian Inner model (Uji pengaruh/ Uji hipotesis) adalah menguji pengaruh antara saru variabel laten dengan variabel laten lainnya baik eksogen maupun endogen. Pengujian dilakukan dengan melihat persentase varian yang dijelaskan, yaitu R2 (R squer) untuk variabel laten dependen yang dimodelkan mendapatkan
pengaruh dari variabel laten independen dengan menggunakan ukuran stone – geisser Q square test, serta melihat besarnya koefisien jalur strukturalnya (path coefficients) dan T-statistik.
Menurut Hartono (2008), menjelaskan bahwa ukuran signifikansi keterdukungan hipotesis dapat digunakan perbandingan nilai T-table dan T- statistic, Jika T-statistic lebih tinggi dibandingkan nilai T-table, berarti hipotesis terdukung atau diterima.