• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Sastra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Sastra"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Afifah Nuur Qory’ah, Sri Lestari

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 181

Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Sastra

http://kelasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kelasa

p-ISSN : 1907-7165 e-ISSN: 2721-4672

KRITIK SOSIAL DALAM KUMPULAN PUISI PERJAMUAN KHONG GUAN KARYA JOKO PINURBO

Social Criticism In a Poetry Collection of Perjamuan Khong Guan by Joko Pinurbo Afifah Nuur Qory’aha, Sri Lestarib

abTadris Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Negeri Surakarta Jalan Pandawa, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia

Pos-el: [email protected]

Abstrak

Kritik sosial merupakan penilaian baik dan buruk dari adanya suatu permasalahan sosial. Kritik sosial dapat disampaikan melalui berbagai media, salah satunya media sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kritik sosial yang muncul pada kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini adalah kutipan bait yang terdapat dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat. Analisis data menggunakan teknik interakif Miles dan Hubberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan mencerminkan keadaan sosial bangsa dan menggambarkan keadaan berbagai masalah yang terjadi di sekitarnya. Adapun kritik sosial dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan meliputi kritik sosial mengenai politik, agama, teknologi, dan moral.

Kata-kata kunci: kritik sosial, sosiologi sastra, puisi

Abstract

Social criticism is a good and bad assessment of the existence of a social problem. Social criticism can be conveyed through various media, one of which is literary media. This study aims to describe the social criticism that appears in the collection of poems Perjamuan Khong Guan by Joko Pinurbo by using a literary sociology approach. This type of research uses descriptive qualitative research. The data in this study are verse quotes contained in the collection of Perjamuan Khong Guan poems. The data collection of this research used the listening and note-taking technique. Data analysis used the interactive technique of Miles and Hubberman. The results of the study indicate that the collection of Perjamuan Khong Guan poems reflects the nation's social conditions and describes the state of various problems that

Naskah Diterima Tanggal 5 Juli 2021—Direvisi Akhir Tanggal 4 November 2021—Disetujui Tanggal 9 November 2021 doi: 10.26499/kelasa.v16i2.199

(2)

| 182 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 180 occur around it. The social criticism in the Perjamuan Khong Guan poetry collection includes social criticism regarding politics, religion, technology, and morals.

Keywords: social criticism, sociology of literature, poetry

PENDAHULUAN

Kritik sosial muncul di tengah kehidupan masyarakat karena adanya suatu kejadian yang melenceng dan perlu adanya pembenahan. Kritik sosial yang biasanya muncul adalah kritik sosial terhadap pemerintah. Keberpihakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah mampu memecah belah penerima kebijakan tersebut yaitu masyarakat.

Selain itu, kerap kali masyarakat dirugikan oleh kebijakan-kebijakan tersebut. Kritik sosial lainnya adalah kritik sosial terhadap gejala ekonomi. Hal ini muncul karena adanya ketimpangan yang terjadi antarmasyarakat. Selain itu, kritik sosial lain yang kerap muncul dalam masyarakat adalah kritik sosial budaya, dan masalah dalam keluarga.

Kritik sosial erat hubungannya dengan kajian sosiologi. Menurut Pitirim Sorokin dalam Soekanto (2019) Sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji kaitan serta pengaruh timbal balik terhadap berbagai ragam gejala sosial seperti gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral. Jadi tidak serta merta kritik sosial dalam masyarakat harus muncul hanya karena konflik masyarakat dengan pemerintah saja. Namun, kritik sosial juga muncul pada berbagai aspek kehidupan di masyarakat mulai dari pendidikan, ekonomi, budaya, teknologi, hingga dalam lingkup keluarga.

Kritik sosial muncul untuk mengontrol fungsi sosial serta nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Nilai yang ada di dalam masyarakat contohnya nilai hubungan antara masyarakat dengan pemerintah, masyarakat dengan masyarakat, ataupun individu dengan individu dalam keluarga. Nilai-nilai yang muncul dalam masyarakat ini dimaksudkan agar setiap orang yang menjalani kehidupan bermasyarakat dapat bersikap mengikuti aturan norma yang ada, sehingga perlu adanya kritik sosial agar kehidupan bermasyarakat dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Kritik sosial dapat disampaikan melalui berbagai media. Macam penyampaian kritik sosial dapat melalui media karya sastra seperti novel, cerpen, ataupun puisi. Sastra merupakan cerminan kenyataan dan tidak pernah lepas dari kenyataan (Slamet, 2018).

Karya sastra bukan dokumentasi dari suatu kenyataan, melainkan sebagai sebuah tiruan dari kenyataan yang ada. Maka dari itu, inspirasi dari seorang sastrawan dalam menulis

(3)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 183 karya sastra tidak jauh berbeda dengan kenyataan kehidupan yang terjadi. Hal ini menjadikan seorang sastrawan memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam masyarakat.

Sastrawan memiliki efek yang kuat dalam masyarakat karena sastrawan lebih mendapatkan perhatian khusus dibandingkan dengan masyarakat biasa. Salah. satu karya sastra yang digunakan sastrawan dalam mengutarakan kritik sosial yakni puisi.

Joko Pinurbo merupakan seorang sastrawan Indonesia yang kerap memberikan kritik sosial melalui karya-karya sastra puisi miliknya. Dalam penyampaian kritiknya, Joko Pinurbo lebih menggunakan bahasa yang lugu dan juga menggelitikBeliau mengambil tema atau objek dalam puisinya melalui hal-hal yang ditemui sehari-hari, seperti telepon genggam, celana, sarung, hingga kamar mandi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Joko Pinurbo bahwa kumpulan puisi Celana yang dibuatnya menjadi awal tumbuh kekreativitasannya dalam dunia perpuisian (Anindita, 2017). Joko Pinurbo juga mengatakan bahwa ide membuat karya sastra dapat ditemui di mana saja, dari peristiwa sehari-hari yang sederhana, bahkan kejadian biasa yang mungkin dialami oleh seluruh manusia. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Emka (2012) Puisi tidak harus selalu berawal dari tema yang serius, tetapi bisa juga berawal dari keisengan yang dituliskan secara spontan seperti seorang anak yang spontan menulis menggunakan kapur pada lantai yang sedang dihadapinya. Maka dari itu, banyak dari karya Joko Pinurbo yang terkesan sederhana, tetapi dapat memaparkan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan manusia.

Buku kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo merupakan kumpulan puisi yang berisi 80 puisi dengan empat bab di dalamnya. Menurut berita Kompas Khong Guan didirikan oleh Kakak adik asal Fujian, China yaitu Chew Choo Cheng dan Chew Choo Han, perusahaan ini mendirikan industri makanan khususnya produk biskuit dan wafer (Assifa, 2021). Produk biskuit ini sangat fenomenal karena kehadirannya sangat dinantikan khususnya pada perayaan hari raya Idulfitri. Khong Guan amat familiar dalam kehidupan kita, oleh sebab itu kekhasan dan juga kesederhanaannya tidak pernah luput dari benak masyarakat. Terlihat dalam pemakaian kaleng Khong Guan, walaupun sudah habis biskuit di dalamnya, kaleng Khong Guan masih bisa digunakan dan diberi isi yang lainnya semisal rempeyek ataupun rengginang.

Sama halnya dengan Joko Pinurbo yang meminjam istilah Khong Guan untuk menggambarkan kehidupan yang sebenarnya amat sederhana dijalani, tetapi pada

(4)

| 184 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 180 kenyataannya banyak berbagai permasalahan yang muncul dan menjadi momok bagi kehidupan masyarakat.

Khong Guan identik dengan kesederhanaannya. Kehadirannya saja cukup membuat senang seisi rumah. Namun, berbeda dengan keadaan zaman yang semakin mendegradasikan diri. Pertemuan-pertemuan berkualitas dalam keluarga kian berkurang, kepekaan sosial antar seisi rumah tergerus, ditambah dengan kemajuan teknologi menggantikan kehadiran hanya sebatas jumlah bukan kualitas. Masalah ini pun hanya mengenai ruang lingkup keluarga yang notabene merupakan unsur paling kecil dalam masyarakat.

Kalimat sederhana yang disampaikan oleh Joko Pinurbo dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan memunculkan adanya kritik sosial dari aspek politik, agama, teknologi, dan moral. Hal ini memberikan ketertarikan bagi penulis untuk melakukan penelitian dengan judul "Kritik Sosial dalam Kumpulan Puisi Perjamuan Khong Guan Karya Joko Pinurbo". Judul tersebut dipilih untuk dijadikan sebagai kajian ilmiah yang mendeskripsikan bentuk-bentuk kritik sosial dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo. Melalui penelitian tersebut, masyarakat dapat mengetahui berbagai permasalahan sosial yang ada di lingkungan sekitar mereka serta masyarakat secara umum mampu mencari pemecahan dari adanya penyelewengan gejala sosial tersebut.

Kajian mengenai kritik sosial telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Esa Klara Sukmawati (2020) dalam jurnal yang berjudul

“Kritik Sosial dalam Dua Puisi di kumpulan Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Majoi) Karya Taufiq Ismail” dalam penelitian tersebut sama-sama mengkaji kritik sosial. Kritik yang muncul pada penelitian tersebut berupa kritik masalah birokrasi, kritik masalah politik, kritik masalah hukum serta kritik terhadap lembaga pendidikan khususnya Universitas. Persamaan penelitian ini terletak pada subjek yang digunakan yaitu sama-sama mengkaji kritik sosial. Sedangkan perbedaannya terletak pada objeknya yaitu, penelitian terdahulu menelaah kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Majoi) karya Taufiq Ismail, sedangkan pada penelitian ini mengkaji kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo.

Penelitian lain yang relevan dengan kajian penulis adalah penelitian yang dilakukan oleh Haris, A. (2019) yang berjudul “Kajian Kritik Sosial pada Kumpulan Puisi Empat Kumpulan Sajak Karya W. S. Rendra serta Implikasinya terhadap

(5)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 185 Pendidikan Karakter” dalam penelitian ini dengan penelitian penulis sama-sama membicarakan kritik sosial yang ada dalam kumpulan puisi. Penelitian ini merujuk kepada pembahasan tentang kemiskinan, kejahatan, disorganisasi keluarga, dan pelanggaran dalam norma di masyarakat. Persamaan penelitian ini terletak pada subjek yang digunakan, yaitu sama-sama menelaah kritik sosial. Perbedaan penelitian terletak pada objeknya, yaitu penelitian terdahulu menelaah kumpulan puisi Empat Kumpulan Sajak karya W. S. Rendra, sedangkan pada penelitian ini menelaah kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo.

LANDASAN TEORI

Sosiologi merupakan bidang kajian ilmu mengenai masyarakat dalam suatu sistem sosial. Menurut Damono (1987) Sosiologi adalah kajian ilmu yang objektif tentang manusia dalam masyarakat serta mengenai badan organisasi dan rangkaian tindakan sosialnya. Kajian sosiologi tidak pernah luput dari adanya peran kelompok masyarakat atau biasa disebut sebagai kelompok sosial. Kelompok sosial merupakan suatu kumpulan masyarakat yang memiliki ciri khas dan cita-cita bersama.

Kajian sosiologi sastra itu sendiri tidak pernah luput dari adanya peran karya sastra. Seperti halnya dengan sosiologi, sastra bersangkutan dengan manusia dalam masyarakat, sastra tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Menurut Wiyatmi (2013) sastra dianggap sebagai salah satu fenomena sosial budaya, bahwa sastra merupakan produk masyarakat, sastra merepresentasikan realita dalam masyarakat, sastra menyampaikan ideologi kepada masyarakat pembaca, dan sastra menjadi sarana dalam melawan ketidakadilan dengan menginformasikan nilai-nilai kemanusiaan.

Sastra merupakan lembaga sosial yang memakai media bahasa. Sastra itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan. Sastra juga merupakan ciptaan dari seorang penyair dan penyair itu sendiri merupakan bagian dari masyarakat. Menurut Wellek dan Warren (2014), penyair merupakan anggota masyarakat yang mempunyai status istimewa dan memperoleh pengakuan dan penghargaan dari masyarakat. Masalah sastra dan masyarakat dapat ditempatkan pada ikatan yang bermakna yang merujuk terhadap kesatuan sistem kebudayaan dan hubungan antara berbagai macam kegiatan manusia, seperti keselarasan, keteraturan, koherensi, harmoni, identitas struktur, dan analogi stilistika (Wellek dan Waren, 2014).

(6)

| 186 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 Karya sastra adalah suatu gubahan yang setiap masa akan beregenerasi dan selalu menciptakan dunia yang baru dalam kehidupan sosial. Kritik merupakan bentuk penilaian terhadap suatu gagasan tertentu. Kritik sastra adalah bagian ilmu sastra yang bersangkutan dengan penilaian karya sastra mengenai baik atau buruk sastra tersebut.

Baik dan buruk penilaian juga terdapat dalam kehidupan sosial. Penilaian baik buruk kehidupan sosial yang dituangkan dalam karya sastra inilah yang dinamakan dengan kritik sastra.

Dalam penelitian ini kritik sosial diklasifikasikan berdasarkan konsep sosiologi Soekanto dengan konsep konflik sosial yang merujuk kepada lembaga-lembaga kemasyarakatan, sehingga peninjauan terhadap kritik berdasarkan permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat. Menurut Soekanto (1990) dalam (Retnasih, 2014) terdapat hubungan lembaga-lembaga di masyarakat yang terintegrasi secara harmonis di antaranya hubungan; rumah tangga, moral, politik, pendidikan, agama, kebiasaan, dan ekonomi. Apabila penyaluran antar aspek lembaga tersebut tidak merata, maka akan menimbulkan permasalahan sosial.

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan sosial dibagi menjadi sembilan aspek, yaitu politik, ekonomi, kebiasaan, pendidikan, keluarga, moral, gender, agama, dan teknologi. Pembagian tersebut berlandaskan pada konsep kelembagaan harmonisasi masyarakat yang disampaikan oleh Soekanto. Ketujuh aspek tersebut dikembangkan menjadi sembilan aspek dengan memecah aspek kebiasaan menjadi dua, yaitu aspek kebudayaan dan aspek gender. Kemudian memecah aspek ekonomi menjadi dua pula, yaitu aspek ekonomi dan teknologi. Berikut ini akan dipaparkan mengenai kritik sosial yang muncul pada kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo di antaranya:

1. Kritik Sosial Terhadap Politik

Kritik sosial merupakan bentuk penilaian terhadap masyarakat pada umumnya.

Penilaian tersebut berupa penilaian baik dan buruknya keadaan sosial. Munculnya penilaian ini didasarkan pada peraturan, norma, dan adat yang berkembang di dalam masyarakat. Kritik sosial mengenai politik membahas tentang penilaian baik dan buruknya tatanan politik yang terjadi khususnya di Indonesia.

Menurut Miriam Budiarjo (2008) Politik merupakan upaya untuk membuat peraturan-peraturan yang mampu berterima dengan mayoritas masyarakat, sehingga terwujud kehidupan manusia yang rukun dan harmonis. Politik selalu hadir dimana-

(7)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 187 mana dan menjadi bagian dari kehidupan negara. Maka dari itu, proses tatanan politik yang terjadi khususnya di Indonesia menjadi pembahasan yang penting karena berdampak langsung terhadap banyak pihak. Adanya penerapan politik diharapkan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Namun, pada kenyataannya politik tidak selamanya berdampak positif. Untuk mewujudkan politik yang ideal perlu adanya penilaian terhadap politik. Salah satunya melalui kritik sosial mengenai politik.

2. Kritik Sosial Terhadap Agama

Kritik sosial mengenai keagamaan membahas tentang penilaian baik dan buruknya aspek keagamaan yang berkembang di masyarakat. Agama merupakan keyakinan yang dipegang teguh oleh umat manusia. Hal ini dilakukan agar selama hidupnya manusia memiliki pedoman hidup untuk menuntun ke jalan yang benar.

Agama memiliki posisi yang penting dalam kehidupan manusia. Agama sebagai pedoman utama manusia berperilaku di dunia memengaruhi berbagai urusan yang berkaitan dengan kemanusiaan, moral, etika, dan estetika (Lubis, 2017). Agama selain membahas tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga membahas mengenai hubungan manusia dengan sesama manusia. Berdasarkan hal tersebut, agama digadang-gadang dapat menjadikan kehidupan manusia yang tentram dan harmonis. Akan tetapi, dalam prosesnya banyak pelanggaran norma agama yang terjadi.

3. Kritik Sosial Terhadap Teknologi

Kritik sosial mengenai teknologi membahas tentang penilaian baik dan buruknya penggunaan teknologi saat ini, khususnya yang terjadi pada generasi z.

Maraknya penggunaan gawai berdampak pada kualitas kehidupan yang terjadi pada manusia. Hal ini merupakan masalah yang penting untuk dibahas dan dicarikan solusinya.

Kemajuan teknologi tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia, karena kemajuan tersebut sejalan dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi saat ini membawa dampak yang besar bagi kehidupan manusia, salah satunya adalah efisiensi melakukan pekerjaan yang berat. Namun, perlu menjadi perhatian bahwa teknologi membawa dampak buruk pula bagi manusia. Menurut Ngafifi (2014) Kemajuan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah manusia, ketika suatu urusan menjadi lebih mudah maka akan muncul “kesepian” dan

(8)

| 188 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204

“keterasingan” baru. Seperti hilangnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan silaturahmi.

4. Kritik Sosial Terhadap Moral

Kritik sosial mengenai moral membahas tentang penilaian baik dan buruknya nilai moral yang berkembang di masyarakat. Nilai moral merupakan nilai etika yang seharusnya diikuti oleh seluruh masyarakat yang tinggal dalam suatu daerah sehingga terdapat keteraturan sosial di dalamnya.

Menurut Chaplin (2006) Moral merupakan tingkah laku dan perbuatan manusia yang sesuai dengan aturan hukum sosial dan adat yang berkembang di suatu daerah. Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu berinteraksi dengan manusia lainnya di masyarakat. Maka, perlu aturan sosial agar terjalin hubungan yang rukun dan harmonis. Sejalan dengan pendapat tersebut, Firwan (2017) menyatakan bahwa moral merupakan sistem nilai mengenai seorang manusia yang harus berperilaku baik, moral terkandung dalam norma dalam masyarakat seperti kebiasaan (petuah, nasihat, larangan, perintah, dan lain-lain).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskripstif kualitatif yang berorientasi pada pendekatan sosiologi sastra. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku kumpulan puisi berjudul Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo dan sumber buku referensi, jurnal, skripsi, tesis, maupun artikel yang mendukung dan menunjang permasalahan penelitian. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi teori. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan teknik interakif Miles dan Hubberman. Penyajian data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan kalimat yang terdapat dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo. Data-data yang diambil dilakukan dengan cara membaca, mengamati, mentranskripsikan, dan mengumpulkan sesuai dengan kategori yang diperlukan dalam penelitian ini.

PEMBAHASAN

Bagian pembahasan menjelaskan kategorisasi kritik sosial yang terdapat dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo. Kritik sosial yang ditemukan di antaranya; kritik sosial terhadap politik, agama, teknologi, dan nilai moral.

(9)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 189 Pembahasan kritik sosial mengenai politik menjelaskan mengenai kritik kepada anggota dewan yang gemar melakukan korupsi dan kritik mengenai esensi nilai yang berkurang dari pelaksanaan pemilu. Kritik sosial mengenai keagamaan menjelaskan terkait kritik tidak bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah hilang dan mengkirtik orang-orang yang tidak menyadari kesalahannya. Kritik sosial mengenai teknologi mengkritik orang- orang yang terlalu berlebihan dalam menggunakan ponsel mereka dan orang-orang yang terlena oleh kecanggihan teknologi masa kini. Kritik sosial mengenai nilai moral menjelaskan mengenai mengkritik orang-orang kaya yang enggan membagikan sebagian hartanya kepada orang lain dan kehadiran teknologi menjadikan manusia tidak dapat lagi menghargai dari adanya suatu kebersamaan.

Kritik Sosial Terhadap Politik

Kritik sosial merupakan bentuk penilaian terhadap masyarakat pada umumnya.

Penilaian tersebut berupa penilaian baik dan buruknya keadaan sosial. Munculnya penilaian ini didasarkan pada peraturan, norma, dan adat yang berkembang di dalam masyarakat. Kritik sosial mengenai politik membahas penilaian baik dan buruknya tatanan politik yang terjadi khususnya di Indonesia. Seperti puisi berjudul “Wawancara Kerja” dan “Pesta”. Puisi tersebut membahas mengenai sistem politik yang terjadi pada umumnya di Indonesia. Adapun penjelasan data lebih lanjut dapat dilihat pada uraian di bawah ini:

Wawancara Kerja

Terakhir saya bekerja sebagai kursi anggota dewan yang kerjanya nyinyir dan ngibul. Saya dipecat karena telah membuatnya terjungkal.

Saya ingin bekerja sebagai nomor rekening yang bertugas menampung kelebihan gaji pimpinan dan pegawai yang sebenarnya tidak layak mereka terima. Saya tidak perlu digaji.

Salah satu puisi dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan yang berjudul

“Wawancara Kerja” menggambarkan adanya kritik sosial mengenai politik. Joko Pinurbo menegaskan keberadaan seseorang yang menyalahgunakan jabatan yang didapat. Joko Pinurbo menjelaskan bahwa pencari kerja yang berperan sebagai kursi

(10)

| 190 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 tersebut diberhentikan fungsinya karena telah membuatnya terjungkal. Kalimat Telah membuatnya terjungkal memiliki arti bahwa seorang pejabat yang menduduki jabatan tersebut dipecat karena tidak mengindahkan esensi dari kesucian dan kejujuran yang seharusnya ditanamkan dalam diri seorang pejabat. Pejabat tersebut hanya sibuk ngibul dan nyinyir. Ngibul berarti seorang pejabat yang tidak bisa menepati janjinya terhadap masyarakat dan juga pejabat yang mengibuli rakyat dengan melakukan tindak korupsi yang menguntungkan diri sendiri. Nyinyir berarti seorang pejabat yang seakan tidak puas dengan jabatan atau penghasilan yang ia peroleh, sehingga menghalalkan segala cara untuk memakmurkan dirinya sendiri.

Lantas pada bait berikutnya yaitu saya ingin bekerja sebagai nomor rekening yang bertugas menampung kelebihan gaji pimpinan dan pegawai yang sebenarnya tidak layak mereka terima. Saya tidak perlu digaji menjelaskan adanya kritik sosial di mana sebagai seorang ingin turut berusaha untuk mencegah adanya tindakan korupsi tersebut, salah satu caranya dengan menjadi nomor rekening yang akan menerima gaji para pimpinan dan pegawai pemerintah yang seharusnya tidak mereka ambil. Pada bait saya tidak perlu digaji menegaskan bahwa pencari kerja tersebut tidak akan melakukan hal keji seperti yang dilakukan oleh pimpinan dan pegawai pemerintahan tersebut.

Berdasarkan pernyataan penggalan bait puisi “Wawancara Kerja” disimpulkan bahwasanya Joko Pinurbo mengkritik para anggota dewan dan pemerintahan yang gemar melakukan tindak korupsi. Menurut Danil (2016) Korupsi merupakan suatu perilaku yang dilakukan oleh manusia yang menyimpang serta membahayakan rakyat dan negara. Dalam hukum tindak pindana di Indonesia, korupsi merupakan bentuk tindak pidana khusus yang perlu dijatuhi hukuman yang berat. Tindakan korupsi merupakan tindakan tidak terpuji karena berdasar kepada mengambil hak milik orang lain. Selain merugikan rakyat, tindakan korupsi ini juga berdampak buruk pada keuangan negara. Maka dari itu, perlu adanya pemberantasan korupsi dengan mengetatkan hukuman, agar pelaku jera dan tidak melakukan tindakan korupsi lagi.

Pesta

Di balik demokrasi Yang boros dan brutal Ada pesta pembagian doa Untuk mengenang

Para petugas yang lembur Dan mati di tempat

Perniagaan suara

(11)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 191 Dengan honor tak seberapa.

Puisi “Pesta” merupakan salah satu puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan. Bait Di keadaan demokrasi di Indonesia yang boros dan brutal. Kata boros berarti balik demokrasi yang boros dan brutal menunjukkan bahwa Joko Pinurbo menggambarkan menunjukkan demokrasi yang selama ini berjalan menghabiskan banyak biaya, sedangkan kata brutal berarti menjelaskan bahwa tatanan demokrasi yang ada di Indonesia semakin tidak teratur. Bait selanjutnya menjelaskan mengenai dibalik demokrasi yang sudah semakin amburadul terdapat penyesalan yang begitu mendalam kepada banyak petugas pelaksana pemilu yang merelakan fisik dan pikirannya dalam mempertahankan sistem demokrasi di Indonesia yang selama ini sudah berjalan.

Puisi berjudul “Pesta” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan ini merupakan kritik sosial mengenai politik. Dalam puisi berjudul “Pesta” di atas sangat relevan dengan keadaan pemungutan suara tahun 2019. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KKPS) banyak yang sakit dan meninggal saat pemilu dan pilpres dilaksanakan. Seperti yang dikutip dalam Data Kementrian Kesehatan pada tanggal 16 Mei 2019 mencatat petugas KPPS yang sakit mencapai 11.239 orang dan korban meninggal 527 jiwa. Pemilu dan perpres yang dilaksanakan secara serentak pada tahun 2019 menjadi salah satu faktor banyaknya petugas yang sakit sampai kehilangan nyawa.

Pemilu yang dilaksakan serentak juga menguras banyak waktu, tenaga, dan pikiran petugas karena harus menyiapkan logistik yang begitu banyak. Padahal bertambahnya pekerjaan petugas ini tidak menambah pula honor yang mereka dapatkan. Dari pembahasan tersebut sangat relevan dengan bait puisi yang telah dibuat oleh pengarang.

Pemilu atau pemilihan umum merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses pergantian pemimpin. Pergantian pemimpin tersebut didasarkan pada kehendak rakyat sebagai pilar utamanya. Pemilu masih menjadi kegiatan yang amat penting, hal ini dibuktikan dengan seluruh masyarakat yang terlibat langsung dalam kegiatan ini. Rakyat bisa menjadi pemilih ataupun juga bisa dipilih sebagai pelaksana kegiatan pemilu. Pemilu yang berlandaskan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil Sekarang ini tidak diindahkan esensinya saat pelaksanaan. Seperti yang diberitakan oleh berita Kumparan terjadi berbagai permasalahan pelaksanaan pemilu saat itu, diantaranya surat suara yang telah tercoblos, kotak suara yang dibawa kabur,

(12)

| 192 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 pembongkaran kotak suara sebelum waktu pencoblosan, dan lain-lain. Joko Pinurbo melalui puisinya yang berjudul “Pesta” juga menegaskan kritik adanya wujud nyata permasalahan pemilu yaitu kelalaian dalam pelaksanaan pemilu yang mengakibatkan banyak para petugas yang diharuskan lembur demi lancarnya kegiatan pemilu.

Kritik Sosial Terhadap Agama

Kritik sosial mengenai keagamaan membahas tentang penilaian baik dan buruknya aspek keagamaan yang berkembang di masyarakat. Agama merupakan keyakinan yang dipegang teguh oleh umat manusia. Hal ini dilakukan agar selama hidupnya manusia memiliki pedoman hidup untuk menuntun ke jalan yang benar.

Seperti puisi berjudul “Belum” dan “Jalan Buntu”. Adapun penjelasan data lebih lanjut dapat dilihat pada uraian di bawah ini:

Belum

Dompet saya hilang.

Isinya masih penuh.

Saya cari dimana-mana, capek, tidak ketemu.

Semoga yang ngambil atau nemu rezekinya lancar.

Sudah saya ikhlaskan.

Tuhan akan beri saya ganti yang lebih besar.

Amin. Semoga jadi berkah.

Tapi dompetmu belum hilang dan kamu belum ikhlas.

Dompet itu masih ada dalam kepalamu. Amin?

Puisi “Belum” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan merupakan kritik sosial mengenai keagamaan. Puisi tersebut menjelaskan mengenai perilaku ikhlas atau menerima apa yang terjadi apabila kita kehilangan sesuatu. Salah satunya kehilangan dompet. Seperti pada bait semoga yang ngambil atau nemu rezekinya lancar. Sudah saya ikhlaskan. Tuhan akan beri saya ganti yang lebih besar. Keadaan menerima ini digambarkan dengan mendoakan orang yang menemukan dompet tersebut, serta berkeyakinan bahwa rezeki adalah ketentuan Tuhan dan nantinya akan diganti yang lebih besar. Sebagai seorang hamba Tuhan, manusia harus giat berusaha tanpa mengkhawatirkan apakah besok bisa makan atau tidak. Sejatinya rezeki tidak akan salah jumlah dan tangan dalam pembagiannya.

(13)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 193 Bait kedua yaitu Amin. Semoga jadi berkah. Tapi dompetmu belum hilang dan kamu belum ikhlas. Dompet itu masih ada dalam kepalamu. Amin? dijelaskan mengenai kehilangan yang belum terjadi pun, terkadang kita masih belum ikhlas jika membayangkan dompet tersebut akan hilang. Apalagi saat ketika kehilangan dompet dan dompet tersebut berisi surat-surat lengkap, atm, dan uang tunai. Walaupun pada awalnya mengikhlaskan tapi dalam pikiran selalu muncul penyesalan diwaktu kejadian dompet tersebut hilang dan mulai berandai-andai dan mulai meragukan serta menyalahkan takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Berdasarkan pada puisi “Belum” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan dapat disimpulkan bahwasanya Joko Pinurbo mengkritik orang-orang yang tidak sepenuh hati merelakan kepergian. Baik kepergian terhadap harta ataupun kepergian atas seseorang. Padahal sejatinya manusia paham, bahwa musibah apapun yang terjadi dalam hidupnya tidak akan terlepas dari adanya peran Tuhan dan manusia tidak akan sanggup mengubah ketetapan takdir tersebut. Berpasrah diri akan ketentuan yang telah Tuhan tetapkan merupakan perilaku ikhlas. Ikhlas merupakan dasar penerimaan atau penolakan segala kebajikan perbuatan. Menurut Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid (2008) dalam Abdul (2016) Salah satu ciri berperilaku ikhlas adalah sabar dan tidak mengeluh. Hal ini sesuai dengan perbuatan merelakan harta yang telah hilang.

Seperti yang telah digambarkan oleh Joko Pinurbo dalam puisi “Belum” yang mengisahkan mengenai seseorang yang kehilangan dompetnya. Seakan telah merelakan dompet itu hilang, akan tetapi gambaran dompetnya masih menghantui isi pikirannya.

Hal ini menunjukkan bahwa seseorang itu belum sepenuh hati merelakan harta yang hilang. Padahal segala suatu kejadian yang terjadi sudah menjadi ketetapan Tuhan.

Jalan Buntu

Sembilan

dari sepuluh jalan yang melintasi rimba tubuhmu adalah jalan buntu.

Dan satu-satunya jalan yang tidak buntu, jalan

sunyi menuju rumahKu,

justru jarang kaulalui.

(14)

| 194 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 Sebab kau

memang suka neko-neko, sok tahu, dan terlalu banyak mau.

Puisi berjudul “Jalan Buntu” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan tersebut berisi mengenai kritik sosial tentang keagamaan. Bait pertama dijelaskan mengenai beragamnya jalan yang dilalui oleh manusia dan terkadang tanpa disadari manusia akan memilih jalan yang salah. Jalan yang salah ini diibaratkan oleh Joko Pinurbo dengan “Jalan Buntu”. Selanjutnya pada bait kedua yang berbunyi Dan satu- satunya jalan yang tidak buntu, jalan sunyi menuju rumahKu, justru jarang kaulalui menjelaskan mengenai jalan yang benar dan tidak buntu adalah hanya jalan menuju Tuhan. Akan tetapi, terkadang manusia lupa akan kodrat hidupnya dilakukan untuk apa dan berakhir kepada melalui jalan yang benar. Sejatinya selama hidup manusia mengemban amanah untuk selalu mengabdi kepada Tuhan. Namun, pada kenyataannya kebanyakan manusia terlena akan nikmatnya dunia yang sementara dan melupakan akhiratnya. Hal ini sesuai dengan yang digambarkan pada bait ketiga yaitu Sebab kau memang suka neko-neko, sok tahu, dan terlalu banyak mau.

Bait suka neko-neko dijelaskan bahwasanya manusia memang orang yang terlalu banyak tingkah. Contoh perbuatan neko-neko tersebut seperti terlibat pada urusan orang lain, berbuat merugikan diri sendiri dan orang lain, berjudi, serta narkoba. Perilaku- perilaku tersebut adalah perilaku yang menyimpang dan dilarang oleh negara bahkan dilarang dalam ajaran agama. Kemudian pada kata sok tahu dijelaskan bahwasanya manusia terlalu mengagungkan pendapatnya sendiri tanpa mendengarkan orang lain terlebih dahulu. Seperti halnya orang-orang yang berbicara tanpa adanya dasar keilmuan, hal ini disebut dengan orang yang omdo (omong doang). Terakhir pada bait terlalu banyak mau dijelaskan bahwasanya manusia terlalu banyak menginginkan hal- hal yang tidak bisa mereka miliki. Contoh bentuk keinginan yang tidak bisa mereka miliki seperti selalu iri dengan apa yang dipunyai oleh orang lain, yaitu harta. Padahal rezeki manusia sejatinya sudah diatur oleh Tuhan dan tidak akan pernah salah tangan.

Manusia-manusia seperti ini merupakan manusia yang menuju jalan buntu atau jalan yang salah.

Puisi “Jalan Buntu” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan, Joko Pinurbo mengkritik orang-orang yang berakhir pada jalan yang salah. Menurut H.

Jalaluddin (2016) Agama memiliki beberapa fungsi dalam masyarakat salah satunya

(15)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 195 adalah fungsi kontrol sosial. Peran fungsi kontrol sosial pada agama ini agar masyarakat dapat peka terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi seperti kemaksiatan, kemiskinan, keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan. Berpeluk pada agama membuat manusia memiliki pedoman hidup yang kuat sehingga terhindar dari menuju jalan yang salah. Apabila mereka melalui jalan salah mereka akan merugikan diri mereka sendiri.

Akan tetapi, kebanyakan orang-orang tersebut menganggap mereka sudah di jalan yang benar dan akan dibutakan untuk menuju jalan tersebut. Hal ini relevan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nikmah (2020) bahwa sebagai seorang manusia yang mempunyai keyakinan beragama dan melakukan kesalahan terlebih lagi dosa yang besar, seharusnya sadar dan segera bertaubat kepada Tuhan.

Kritik Sosial Terhadap Teknologi

Kritik sosial mengenai teknologi membahas tentang penilaian baik dan buruknya penggunaan teknologi saat ini, khususnya yang terjadi pada generasi z.

Maraknya penggunaan gawai berdampak pada kualitas kehidupan yang terjadi pada manusia, sehingga hal ini merupakan masalah yang penting untuk dibahas. Seperti puisi berjudul “Fotoku Abadi” dan “Malam Virtual”. Adapun penjelasan data lebih lanjut dapat dilihat pada uraian di bawah ini:

Fotoku Abadi

Saban hari ia sibuk mengunggah foto barunya hanya untuk mendapatkan gambaran terbaik dirinya.

“Siapa yang merasa paling mirip denganku, ngacung!” ia berseru kepada foto-fotonya.

Semua menunduk, tak ada yang berani angkat tangan.

Dan ia makin rajin berfoto.

Teknologi narsisisme terus dikembangkan agar manusia selalu mampu menghibur diri dan merasa bisa abadi.

Puisi berjudul Fotoku Abadi dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan berisi kritik sosial mengenai teknologi. Bait pertama menjelaskan kesibukan seseorang

(16)

| 196 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 yang setiap harinya mengunggah foto terbarunya. Pengungguhan foto pada zaman teknologi sekarang dilakukan melalui berbagai macam media sosial. Media sosial yang telah menjadi teman sehari-hari dalam kehidupan manusia saat ini diartikan sebagai ajang unjuk menunjang citra diri seseorang. Bait kedua digambarkan mengenai banyaknya foto diri yang telah ia dapatkan. Hal ini sesuai dengan bait “Siapa yang merasa paling mirip denganku, ngacung!” ia berseru kepada foto-fotonya. Saking banyaknya foto yang telah ia ambil untuk mendapatkan gambaran terbaik dirinya, berakibat pada tidak adanya pengakuan dari foto-foto dirinya sendiri, seperti yang dijelaskan pada bait Semua menunduk, tak ada yang berani angkat tangan.

Pengaruh teknologi digital saat ini sangat besar dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Manusia sebagai seseorang yang memiliki nafsu dalam dirinya, tidak akan pernah puas kepada apa yang telah dipunyainya. Sama seperti kegiatan swafoto yang sering dilakukan zaman sekarang. Apabila swafoto yang dilakukan tidak menunjukkan hasil yang maksimal, maka swafoto akan terus dilakukan hingga memenuhi ruang penyimpanan ponsel. Hal ini sesuai dengan bait Dan ia makin rajin berfoto. Belum lagi banyak narsisme yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, hal ini sesuai dengan yang dituliskan Joko Pinurbo pada bait Teknologi narsisisme terus dikembangkan agar manusia selalu mampu menghibur diri dan merasa bisa abadi.

Puisi “Fotoku Abadi” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan menunjukkan adanya kegiatan berswafoto. Bentuk kegiatan swafoto dan mengunggahnya ke media sosial yang berlebihan disebut dengan narsisme. Narsisme merupakan bentuk kecintaan yang berpusat pada dirinya sendiri, orang yang narsisme biasanya membutuhkan pengakuan dan pujian atas kehebatannya dari orang lain (Esa, 2018). Berdasarkan pengertian di atas, menerangkan bahwasanya narsisme akan berdampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang dikarenakan ia akan selalu berorientasi terhadap pandangan orang lain. Hal ini yang mengakibatkan adanya sifat tidak akan pernah puas terhadap diri sendiri.

Berdasarkan pernyataan pada paragraf di atas, dapat disimpulkan bahwasanya Joko Pinurbo mengkritik orang-orang yang terlalu berlebihan dalam menggunakan ponsel mereka. Salah satunya kegiatan mengunggah foto di media sosial. Manusia memoles sedemikian hidupnya agar tergambar citra paling baik dihadapan orang lain.

Padahal pada kenyataannya kehidupan manusia tidak ada yang sempurna. Setiap individu memiliki permasalahan yang tidak dapat mereka hindari.

(17)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 197 Malam Virtual

Tuhan

yang menyalakan sinyal di antara bual-bual yang viral,

kucari Natal-ku yang sunyi di tengah

timbunan sampah digital.

Puisi yang berjudul “Malam Virtual” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan merupakan kritik sosial mengenai teknologi. Bait Tuhan yang menyalakan sinyal diantara bual-bual yang viral menjelaskan makna konotasi dari adanya seruan atau perintah dari Tuhan yang dihiraukan oleh manusia karena telah terlena oleh berita-berita yang viral. Kata viral mempunyai maksud sebagai momentum yang menyebar luas dengan sangat cepat. Apabila ada suatu berita baik dalam bentuk foto ataupun video yang menggemparkan maka berita tersebut akan ramai dengan perbincangan. Salah satu penunjang dari penyebaran berita yang cepat ini adalah melalui media sosial.

Perhatian yang besar pada hal-hal yang kecil ini membuat manusia lalai akan seruan dan perintah yang diberikan oleh Tuhan. Hal ini sesuai dengan bait kucari Natal- ku yang sunyi di tengah timbunan sampah digital. Hari raya yang seharusnya digunakan untuk beribadah semaksimal mungkin harus tersisihkan dengan adanya kecanggihan teknologi. Ketika seseorang telah nikmat berselancar dalam layar smartphone, kewajiban-kewajiban lainnya seakan tidak berarti. Terutama kewajiban menjalani seruan dari Tuhan.

Puisi “Malam Virtual” pada kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan menjelaskan mengenai peran Tuhan yang sudah tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Salah satunya adalah kemajuan media sosial. Media sosial yang menjadi media pergerakan masif berita-berita viral ini salah satunya adalah media Twitter.

Berdasarkan penuturan Jack Dorsey pada artikel yang dimuat di Los Angeles Time tahun 2009 nama Twitter itu sendiri berarti “ledakan singkat informasi yang tidak penting” dan “kicauan burung” (Pratomo, 2021). Sesuai dengan arti kata Twitter itu sendiri menunjukkan bahwasanya berita-berita yang menjadi bahan perbincangan adalah berita yang tidak menjadi permasalahan penting karena bersifat sementara.

Seperti pada sistem trending yang diberlakukan oleh Twitter. Berita yang viral akan

(18)

| 198 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 berganti setiap harinya, bahkan bisa hilang dalam beberapa detik saja dan digantikan hal-hal viral lainnya.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwasanya Joko Pinurbo mengkritik orang-orang yang terlena oleh kecanggihan teknologi masa kini. Kemudahan yang didapatkan manusia sekarang menjadi boomerang bagi mereka sendiri. Mereka diperbudak oleh barang ciptaan sesama manusia, sedangkan Tuhan sebagai pencipta sejati mereka lalaikan.

Kritik Sosial Terhadap Nilai Moral

Kritik sosial mengenai moral membahas tentang penilaian baik dan buruknya nilai moral yang berkembang di masyarakat. Nilai moral merupakan nilai etika yang seharusnya diikuti oleh seluruh masyarakat yang tinggal dalam suatu daerah sehingga terdapat keteraturan sosial di dalamnya. Seperti puisi berjudul “Uang Minnah” dan

“Simbah Khong Guan”. Adapun penjelasan data lebih lanjut dapat dilihat pada uraian di bawah ini:

Uang Minnah

Minnah ingin membahagiakan uang yang telah banyak membahagiakannya.

Ia ingin membebaskan

sebagian uangnya, menyilakannya pergi mencari seorang ibu tua yang, karena lagi kepepet banget, pernah menggedor pintu rumahnya sambil teriak tolong sehingga ia terbangun dari mimpinya, padahal saat itu ia sedang memeluk surga.

Pada hemat Minnah, merasa kaya kadang lebih

berguna daripada kaya sungguhan.

Puisi berjudul “Uang Minnah” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan berisi kritik sosial mengenai nilai moral. Bait Minnah ingin membahagiakan uang yang telah banyak membahagiakannya menjelaskan mengenai seorang Minnah yang akan membalas budi kepada uang yang selama ini telah memudahkan hidupnya. Bentuk balas budi yang akan dilakukan dijelaskan pada bait kedua yaitu Ia ingin membebaskan sebagian uangnya, menyilakannya pergi mencari ibu tua. Minnah akan menyedekahkan

(19)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 199 sebagian harta yang dimilikinya kepada orang-orang yang membutuhkan. Minnah menyadari bahwa rezeki yang diperolehnya tidak hanya miliknya semata tetapi ada hak- hak orang lain di sana. Oleh sebab itu, pada bait ketiga Pada hemat Minnah, merasa kaya kadang lebih berguna daripada kaya sungguhan menjelaskan bahwa hakikat kaya yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu memberikan sebagian rezeki kita kepada orang lain padahal kita juga memerlukan uang tersebut.

Puisi “Uang Minnah” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan Joko Pinurbo mengkritik orang-orang kaya yang enggan membagikan sebagian hartanya kepada orang lain. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa melihat orang- orang kurang mampu yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu, Joko Pinurbo menyebutkan bahwa orang yang benar-benar kaya tidak ada artinya dibandingkan dengan orang cukup harta tetapi masih bisa menyisakan sedikit atas rezekinya.

Kedermawanan merupakan karakter yang menggamabarkan kebaikan hati kepada sesama, kemurahan hati, daya untuk menolong dan membagikan sebagian rezekinya kepada orang lain dengan maksud mendapatkan ridho di jalan Tuhan (Nofiaturrahmah, 2017). Sebagai seorang manusia yang merupakan makhluk sosial kita diharuskan untuk memerhatikan lingkungan di sekitar kita. Karena sejatinya masih banyak orang-orang yang tidak mampu membutuhkan bantuan dan kemurahan dari manusia lainnya. Hal ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nisak (2020) menyatakan bahwa sebagai seorang manusia tindakan peduli kepada orang lain yang dilakukannya merupakan cerminan bagi orang yang sadar akan pentingnya membantu orang lain.

Simbah Khong Guan

Simbah muncul di kaleng Khong Guan:

duduk sendirian di meja makan,

mencelupkan biskuit ke dalam teh hangat dan menyantapnya pelan-pelan.

Anak cucunya sibuk ngeluyur

di jagat maya, tak mau mengerti perasaan orang tua yang tak lama lagi akan

mengucapkan selamat tinggal, dunia.

Simbah mencelupkan jarinya ke dalam teh hangat

dan berkata, “Kesepian sosial bagi simbah-simbah yang merana.”

(20)

| 200 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 Puisi berjudul “Simbah Khong Guan” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan berisi kritik sosial mengenai nilai moral. Bait pertama yaitu Simbah muncul di kaleng Khong Guan: duduk sendirian di meja makan, mencelupkan biskuit ke dalam teh hangat dan menyantapnya pelan-pelan menjelaskan mengenai seorang tua renta yang sedang menikmati waktunya dengan menghabiskan biskuit dan secangkir teh yang ada di hadapannya. Pada waktu yang bersamaan hadirlah anaknya yang sedang bersenang ria menghabiskan waktunya sendiri tanpa memedulikan kehadiran orang tua di hadapannya. Hal ini digambarkan Joko Pinurbo pada bait Anak cucunya sibuk ngeluyur di jagat maya, tak mau mengerti perasaan orang tua yang tak lama lagi akan mengucapkan selamat tinggal, dunia. Waktu berkumpul bersama keluarga pada generasi saat ini hanyalah sebagai kehadiran yang berdasar kepada jumlah anggota yang hadir. Fisik mereka bersama, tetapi batin mereka pergi entah ke mana. Salah satu faktor yang menyebabkan hal demikian terjadi adalah karena anak-anak yang lebih peduli terhadap gawai mereka. Mereka terlalu fokus memandang gawai hingga tidak memedulikan lingkungan sekitar. Mereka tidak saling bicara dan mendengarkan. Bait ketiga yaitu Simbah mencelupkan jarinya ke dalam teh hangat dan berkata, “Kesepian sosial bagi simbah-simbah merana.” Menjelaskan betapa pasrahnya orang tua yang hanya bisa menatap terjadinya degradasi budaya pada generasi sekarang ini.

Puisi “Simbah Khong Guan” dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan Joko Pinurbo mengkritik orang-orang yang tidak dapat mengelola kebersamaan secara bermutu. Orang-orang sekarang banyak yang tidak dapat menahan dan mengondisikan dirinya sendiri terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka terlalu fokus pada kesibukan masing-masing. Padahal sangat penting bagi seorang manusia untuk bisa saling berbicara dan mendengar dengan seseorang yang benar-benar hadir dalam pandangan dibandingkan dengan yang hanya dipandang di gawai.

Keluarga saat ini telah kehilangan dimensi fisiknya dan telah beralih pada dimensi virtual. Keluarga di perkotaan telah kehilangan keberadaan keluarga sebagai awal tempat proses kehidupan, tempat pendidikan, tempat pembentukan watak, karakter, dan moral anggota keluarga. Dalam keluarga pertemuan tatap muka kini digantikan oleh komunikasi virtual (Prasanti, 2016). Hal ini relevan dengan pendapat Martono (2012) dalam Ngafifi (2014) menyatakan bahwa penggunaan teknologi sekarang ini menimbulkan adanya perubahan sosial budaya di masyarakat. Salah satunya adanya perubahan sosial budaya di masyarakat yaitu pada dimensi

(21)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 201 interaksional. Dimensi interaksional ini meliputi adanya perubahan frekuensi, perubahan dalam jarak sosial, perubahan perantara, perubahan dari aturan atau pola- pola, dan perubahan dalam bentuk interaksi.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kehadiran teknologi menjadikan manusia tidak dapat lagi menghargai adanya suatu kebersamaan. Mereka sekadar bertemu dengan kedok silaturahmi padahal kenyataannya sibuk dengan diri mereka sendiri. Hal ini tidak sesuai dengan norma yang telah lama berlaku di masyarakat. Pertemuan yang dilakukan dengan sengaja seharusnya menjadi ajang untuk lebih mempererat hubungan antarsesama. Menggunakan waktu kebersamaan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan yang didekati menggunakan pendekatan sosiologi sastra ini menunjukkan adanya kritik atas kesenjangan sosial yang terjadi dalam masyarakat pada umumnya. Kesenjangan ini tidak hanya terjadi pada keberpihakan keputusan pemerintah saja melainkan juga pada kesenjangan agama, teknologi, dan juga moral yang dilakukan oleh masyarakat. Joko Pinurbo sebagai pengarang ingin menunjukkan bahwa kesenjangan ini tidak hanya bermula dari adanya tradisi masa lalu melainkan juga karena adanya peradaban barat yang telah meluas kemana-mana.

PENUTUP

Berdasarkan temuan penelitin pada analisis kritik sosial dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo, dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan yang berisi 4 bab yaitu Kaleng 1, Kaleng 2, Kaleng 3, dan Kaleng 4 dengan keseluruhan puisi yang berjumlah 80 puisi, ditemukan empat data kritik sosial. Di antaranya yaitu kritik sosial mengenai politik sebanyak dua data, kritik sosial mengenai keagamaan sebanyak dua data, kritik sosial mengenai teknologi sebanyak dua data, dan kritik sosial mengenai nilai moral sebanyak dua data. Secara umum, pembahasan kritik sosial mengenai politik menjelaskan mengenai kritik kepada anggota dewan yang gemar melakukan korupsi dan kritik mengenai esensi nilai yang berkurang dari pelaksanaan pemilu. Kritik sosial mengenai keagamaan menjelaskan terkait kritik tidak bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah hilang dan mengkirtik orang-orang yang tidak menyadari kesalahannya. Kritik sosial mengenai teknologi mengkritik orang-orang yang terlalu berlebihan dalam

(22)

| 202 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 menggunakan ponsel mereka dan orang-orang yang terlena oleh kecanggihan teknologi masa kini. Kritik sosial mengenai nilai moral menjelaskan mengenai mengkritik orang- orang kaya yang enggan membagikan sebagian hartanya kepada orang lain dan kehadiran teknologi menjadikan manusia tidak dapat lagi menghargai dari adanya suatu kebersamaan.

Pada pembahasan telah dipaparkan pada bab sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa kritik sosial mengenai politik lebih menekankan pada permainan politik yang merujuk kepada pemberitaan hoaks, tindak korupsi, kesewenangan pemerintah terhadap rakyat, dan parahnya pelaksanaan pemilu. Kritik sosial mengenai keagamaan lebih menekankan pada kurangnya penanaman nilai ikhlas, orang-orang yang munafik, goyahnya kepercayaan, dan orang-orang yang berbuat melenceng dalam beragama. Kritik sosial mengenai teknologi lebih menekankan pada bentuk penggunakan smartphone yang berlebihan, narsisme, dan peran Tuhan yang telah digantikan oleh kecanggihan teknologi. Kritik sosial mengenai moral lebih menekankan pada bentuk manusia yang gila kerja, pelayanan umum yang semakin diperumit, adanya degradasi diri bangsa Indonesia, manusia yang enggan menjadi dewasa, anak yang lupa melakukan kewajiban kepada orang tuanya, orang yang enggan berusaha, orang-orang yang pelit dan sombong.

Cara penyampaian kritik sosial yang dilakukan oleh Joko Pinurbo disampaikan secara tegas dan lugas yang dikemas dengan bahasa yang jenaka. Adapun sasaran yang ditujukan dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan adalah pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Adanya penelitian kritik sosial dalam kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan karya Joko Pinurbo ini menampilkan masih adanya kesenjangan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menimbulkan adanya kerenggangan hubungan antara sesama.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, H. K. (2016). Aktualisasi Keikhlasan dalam Pendidikan Telaah Novel Lakar Pelangi. Jurnal Ilmiah Al-Jauhari (JIAJ), 1(1), 66–82. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/291160-aktualisasi-keikhlasan-dalam- pendidikan-1d75c915.pdf

Anindita, F. (2017). Kata Sederhana bersama Joko Pinurbo. Retrieved from Whiteboard Jurnal website: https://www.whiteboardjournal.com/interview/ideas/joko-pinurbo/

(23)

©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204 | 203 Assifa, F. (2021). Arti Khong Guan dan Alasan Tidak Ada Ayah di Gambar Kalengnya.

Retrieved from Kompas.com website:

https://www.kompas.com/tren/read/2021/05/22/084936865/arti-khong-guan-dan- alasan-tidak-ada-ayah-di-gambar-kalengnya?page=all

Budiarjo, M. (2008). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Chaplin. (2006). Dasar-dasar Pendidikan Moral. Yogyakarta: Angkasa.

Damono, S. D. (1987). Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta Pusat:

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Danil, E. (2016). Korupsi: Konsep, Tindak Pidana, dan Pemberantasannya. Jakarta:

Rajawali Press.

Emka, H. (2012). Antologi Puisi Mbeling : Suara-suara yang Terpinggirkan. Semarang:

Kelompok Studi Sastra Bianglala.

Esa, N. D. (2018). Hubungan Antara Kecenderungan Narsisme dengan Motif Memposting Foto Selfie di Instagram pada Remaja di SMA Negeri 1 Sidayu Gresik (Universitas Muhammadiyah Gresik). Retrieved from http://eprints.umg.ac.id/2922/

Firwan, M. (2017). Nilai Moral dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasrey Basral. Jurnal Bahasa Dan Sastra, 2(2), 49–60. Retrieved from https://core.ac.uk/download/pdf/289713945.pdf

H, J. (2016). Psikologi Agama; Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip- prinsip Psikolgi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Haris, A. (2019). Kajian Kritik Sosial pada Kumpulan Puisi Empat Kumpulan Sajak Karya W. S. Rendra serta Implikasinya terhadap Pendidikan Karakter (Universitas

Muhammadiyah Malang). Retrieved from

http://eprints.umm.ac.id/57412/1/NASKAH.pdf

Lubis, R. (2017). Sosiologi Agama: Memahami Perkembangan Agama dalam Interaksi

Sosial (I. Syaukani, Ed.). Retrieved from

https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=vw63DwAAQBAJ&oi=fnd&pg=

PP1&dq=agama&ots=Ky1Lnx7oPJ&sig=w5zPofy1L40xvmz2N1qgNhLPdPI&red ir_esc=y#v=onepage&q=agama&f=false

Ngafifi, M. (2014). Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia dalam Perspektif Sosial Budaya. Jurnal Pembangunan Pendidikan : Fondasi Dan Aplikasi, 2(1), 33–

(24)

| 204 ©2021, Kelasa, 16 (2), 181 – 204

47. Retrieved from

https://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/view/2616/2171

Nisak, dan A. (2020). Kritik Sosial dalam Novel “Anak-Anak Tukang” Karya Baby Ahnan. ALINEA Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 9(2). Retrieved from https://jurnal.unsur.ac.id/ajbsi/article/view/990

Nofiaturrahmah, F. (2017). Penanaman Karakter Dermawan Melalui Sedekah. Jurnal Zizwaf (Zakat Dan Wakaf), 4(2), 313–326. Retrieved from https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Ziswaf/article/view/3048/2302

Prasanti, D. (2016). Perubahan Media Komunikasi dalam Pola Komunikasi Keluarga di Era Digital. Jurnal Commed, 1(1), 69–81. Retrieved from http://113.212.163.133/index.php/commed/article/view/115/47

Pratomo, Y. (2021, April 14). Sejarah Twitter, Media Sosial yang Terinspirasi dari

SMS. Kompas.Com. Retrieved from

https://tekno.kompas.com/read/2021/04/14/20420077/sejarah-twitter-jejaring- sosial-yang-terinspirasi-dari-sms

Retnasih, A. O. (2014). Kritik Sosial dalam Roman Momo Karya Michael Ende (Analisis Sosiologi Sastra) (Universitas Negeri Yogyakarta). Retrieved from https://eprints.uny.ac.id/18883/1/Anisa Octafinda Retnasih 09203241007.pdf Slamet, Y. B. M. (2018). Fungsi dan Peran Karya Sastra dari Masa ke Masa. PRAXIS,

1(1).

Soekanto, S. (2019). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGarfindo Persada.

Sukmawati, E. K. (2020). Kritik Sosial dalam Dua Puisi Dikumpulan Puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Majoi)” Karya Taufiq Ismail. Diskursus : Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 2(2).

Wellek, R. dan A. W. (2014). Teori Kesusastraan Terjemahan Melani Budianta.

Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wiyatmi. (2013). Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Kanwa Publisher.

Referensi

Dokumen terkait

Mendeskripsikan citraan dan makna citraan yang terdapat dalam kumpulan puisi Tuhan Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi W.M... Mendeskripsikan implementasi citraan dalam

Kritik Sosial dalam Antologi Puisi Aku Ingin Jadi Peluru Karya Wiji Thukul (Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra).. Jurnal Fakultas Bahasa dan

Tujuan penelitian ini yaitu, 1) mendeskripsikan struktur batin dan struktur fisik kumpulan puisi Stanza dan Blues Karya W.S. Rendra, 2) menjelaskan kritik sosial dalam

yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Unsur Pembangun pada Antologi Puisi Perjamuan Khong Guan

Analisis unsur pembangun sebagai alternatif bahan ajar puisi dalam penelitian ini yaitu hasil analisis pada antologi puisi Perjamuan Khong Guan akan dijadikan

Dari hasil refleksi berupa proses yang dilakukan bersama siswa bersama guru bertujuan membahas keseluruhan proses pembelajaran dalam menulis puisi pada siklus I.

Triangulasi teori dilakukan dengan memastikan pendekatan semiotika dari Roland Barthes (Barthes, 2007). Triangulasi sumber data dengan memastikan bahwa tangkapan

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra, STKIP Nurul Huda OKU Timur REALITAS SOSIAL DALAM PUISI KELUARGA KHONG GUAN KARYA JOKO PINURBO Dito Pramudyaseta1*, Gres Grasia Azmin2