Pengaruh stress kerja terhadap kinerja guru di Sekolah Dasar Negeri Sampangagung Kutorejo.

74 

Teks penuh

(1)

PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KINERJA GURU DI

SEKOLAH DASAR NEGERI SAMPANGAGUNG KUTOREJO

MOJOKERTO

SKRIPSI

Disusun Oleh:

M. Badrus Sholeh

D73209073

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini disusun oleh M. Badrus Sholeh (D73209073) ini telah dipertahankan di depan

Tim Penguji Skripsi

Surabaya, 27/ Agustus / 2016

Mengesahkan

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Dekan

Prof. Dr. H. ALI MUDLOFIR, M.Ag NIP. 196311161989031003

Ketua

Prof. Dr. H. IMAM BAWANI, MA

Sekretaris

Drs. MUKHLISHAH, A.M.M.Pd

Penguji I

Dr. H. A.FANANI, M.Ag

Penguji II

(3)
(4)

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi ini telah ditulis oleh :

Nama : M. Badrus Sholeh

NIM : D 73209073

Judul :PENGARUH STRESS KERJA TERHADAP KINERJA GURU DI

SEKOLAH DASAR NEGERI SAMPANGAGUNG KUTOREJO

MOJOKERTO

Ini telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan.

Surabaya, 30 Desember 2015 Pembimbing,

Dra. Lilick Channa AW. M.Ag.

(5)
(6)

ABSTRAK

‘’Pengaruh stress kerja terhadap kinerja guru di Sekolah Dasar Negeri Sampangagung Kutorejo,’’2016. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK), jurusan Kependidikan Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.

Kata kunci : Stres Kerja, Kinerja Guru

Guru sebagai faktor penentu dan paling berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran, di samping ada kemauan siswa. Guru juga perlu memperhatikan karakteristik siswa dalam pembelajaran.

Dalam hal ini Guru di SDN Sampangagung mengalami stress kerja yang diakibatkan karakteristik siswa sebagai pelajar dalam kegiatan belajar dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mempengaruhi kinerjanya dalam kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan dari adanya permasalahan di atas , penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang :” Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Guru Di SDN Sampangagung Kutorejo Mojokerto,”

Jenis penelitian yang di butuhkan dan digunakan dalam penelitian studi komparasi antara stress kerja terhadap kinerja guru, pengaruh stress kerja adalah penelitian kuantitatif , karena penelitian yang di lakukan oleh peneliti lebih banyak menggunakan logika hipotetika Verifikatif, yang mana penelitian tersebut di mulai dengan berfikir deduktif untuk menurunkan hipotesis, kemudian melakukan pengujian di lapangan

Analisis hasil penelitian mengenai pengaruh steres kerja terhadap kinerja guru di SDN Sampangagung kutorejo Mojokertodi analisis dengan metode dengan kualitataf dan kuantitatif.

Dari penelitian tersebut memperoleh nilai hasil dari koefisien korelasi parsial antara factor individu terhadap kinerja guru adalah sebesar 0,258 yang berarti terdapat pengaruh yang sanat kuat diantara faktor individu mempengaruhi kinerja karyawan sebesar 25,8% dengan asumsi Variabel lain tetap

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ...v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Definisi Operasonal ... 6

(8)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Umum tentang stress kerja ... 9

1. Pengertian stress kerja ... 9

2. Sumber- sumber stress kerja ... 12

3. Indikator Stres ... 15

4. Faktor- factor yang menimbulkan stres ... 18

5. Konsekuensi Stres Kerja ... 18

6. Strategi Manajemen Stres kerja ... 20

B. Tinjauan umum tentang kinerja Guru ... 23

1. Pengertian Kinerja Guru ... 24

2. Penilaian kinerja Guru ... 24

3. Tujuan Penilaian kinerja ... 25

4. Karakteristik guru yang memiliki kinerja yang tinggi ... 25

C. Pengaruh Stres Kerja Terhadap kinerja Guru ... 28

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan pendekatan Penelitian ... 33

B. Sumber Data ... 34

C. Kerangka Pikir ... 35

D. Hipotesis ... 35

E. Sumber Data ... 36

F. Populasi dan Sampel ... 36

(9)

H. Metode analisis Data ... 37

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISA DATA

A. Analisis Deskriptif ... 47

B. Analisis dan Pembahasan ... 48

C. Data Tabulasi ... 56

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 62

B. Saran-Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(10)

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan,

maka setiap usaha peningkatan mutu pendidikan perlu memberikan perhatian besar

kepada peningkatan kinerja guru. Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan

dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum

yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Untuk meraih

mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan

tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan

pendidikan

Beratnya tuntutan tugas seorang guru seperti mereka yang mengajar pada sekolah dasar

negeri (SDN) misalnya, menyebabkan guru sering mengalami merasa bosan, jenuh dan

mengakibatkan stres. Guru cenderung akan mengalami stres apabila kurang mampu

beradaptasi keinginan dengan kenyataan yang ada, baik kenyatan yang ada di dalam maupun

di luar dirinya. 1

Pada dasarnya segala bentuk stress itu dapat disebabkan kurang mengertinya manusia

akan keterbatasannya sendiri. Ketidakmampuan untuk melawan keterbatasan inilah yang

akan menimbulkan frustasi, konflik, gelisah dan rasa bersalah.

1

(11)

Istilah stres sering digunakan untuk menunjukkan suatu kondisi yang dinamis, yang di

dalamnya seseorang dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala, atau tuntutan yang

dikaitkan dengan apa yang diinginkannya dan hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan

penting. Istilah stres merupakan netral, artinya stres juga mempunyai nilai positif. Maka

dalam hal ini stress merupakan kondisi dinamis dimana seorang individu dihadapkan dengan

kesempatan , keterbatasan, atau tuntutan sesuai dengan harapan dan hasil yang di ingin dia

capai dalam kondisi penting dan tidak menentu2

Dampak positif stres pada tingkat rendah sampai tingkat sedang bersifat fungsional

dalam arti berperan sebagai pendorong peningkatan kinerja seseorang termasuk guru.

Sedangkan dampak negatif pada tingkat yang tinggi adalah penurunan pada tingkat kinerja

yang drastis. Hal ini akan berdampak pada menigkatnya keinginan untuk keluar,

meningkatnya absensi, dan menurunnya komitmen terhadap institusi tempat kerja.

Jadi hal yang ini merupakan keadaan yang berbahaya bagi institusi, karena bisa

menyebabkan pelaksanaan pekerjaan terganggu, yang akhirnya bisa menurunnya kinerja

institusi, Hal ini berarti bahwa stres kerja yang di alami oleh guru sebagai tenaga pendidik

juga dapat menurunkan kinerja institusi pendidikan tempat guru itu mengajar.

Begitu besar dampak dari stres kerja, oleh para ahli pelaku organisasi telah dinyatakan

sebagai agen penyebab dari berbagai masalah fisik, mental, bahkan output organisasi.

Berbagai alasan pun cukup relevan menjadi pendukung penelitian ini untuk dilakukan.

Kesuksesan dari kinerja lembaga pendidikan menuntut agar para guru mampu menampilkan

2

(12)

kinerja yang optimal karena baik buruknya kinerja yang dicapai oleh guru akan berpengaruh

pada kinerja dan keberhasilan lembaga pendidikan secara keseluruhan.

Kinerja SDN Sampangagung 1 Mojokerto, tidak terlepas dari kinerja guru sebagai

tenaga pendidik yang mengajar di sekolah tersebut. Apalagi layanan yang diberikan oleh

sekolah tersebut terkait dengan layanan jasa pendidikan, dan guru merupakan smber daya

utama dalam mendukung lancarnya proses belajar mengajar. Hingga saat ini Sekolah Dasar

memiliki 50 orang Guru yang terdiri dari 25 orang Guru dengan status PNS dan orang Guru

dengan status honorer.

Kinerja seorang guru pada SDN Sampangagung 1 Mojokerto, dapat dilihat dari kualitas

proses belajar mengajar yang disajikan dalam mendidik siswa sebagai peserta didik.

Permasalahan mengenai kinerja guru merupakan permasalahan yang selalu dihadapi oleh

pihak manajemen sekolah, karena itu manajemen sekolah terutama kepala sekolah

dipandang perlu mengetahui faktor-faktor yang mempenaruhi kinerja guru tersebut akan

membuat manajemen sekolah dapat mengambil berbagai kebijakan yang diperlukan

sehingga dapat meningkatkan kinerja guru agar dapat sesuai dengan harapan organisasi

sekolah.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru sebagai tenaga pendidik

diantaranya yaitu : pendidikan dan latihan, disiplin, sikap dan aktivitas kerja, penghasilan,

jaminan sosial, lingkungan kerja serta kebutuhan untuk berprestasi. Faktor-faktor tersebut

berpengaruh terhadap guru dalam melaksanakan tugas-tugas mengajar yang diberikan

(13)

kegiatan sebagai tenaga pendidik. Selain itu faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja

guru dalam proses belajar mengajar adaah stress kerja yang dialami oleh guru.3

Sesuai tugas dan fungsinya, SDN Sampangagung 1 Mojokerto merupakan harapan

masyarakat dalam mendidik siswa atau anak usia seolah. Sekolah tersebut juga diharapkan

mampu menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyediakan jasa pendidikan bagi

anak usia sekolah sebagai peserta didik. Fenomena yang terjadi di SDN Sampangagung 1

Mojokerto, ada sebagian guru yang merasa terbebani dengan pekerjaan mereka dalam

mengajar. Persoalan-persoalan inilah yang perlu mendapat perhatian dari pihak kepala

sekolah agar kegiatan beajar mengajar dapat terlaksana sebaik mungkin.

Setiap orang di manapun ia berada dalam suatu organisasi, dapat berperan sebagai

sumber stres bagi orang lain. Mengelola stres diri sendiri berarti mengendalikan diri sendiri

dalam kehidupan. Sebagai seorang Guru, mengelola stres lebih bersifat pemahaman akan

penyebab stres orang lain dan mengambil tindakan untuk menguranginya dalam rangka

pencapain tujuan organisasi. Efektivitas proses komunikasi dua arah antara manajer dan

pekerja adalah penting untuk mengidentifikasikan penyebab terjadinya stres yang potensial

dan pemecahannya. Stres sebagai suatu ketidak seimbangan antara keinginan dan

kemampuan memenuhinya sehingga menimbulkan konsekuensi penting bagi dirinya.

Guru sebagai faktor penentu dan paling berpengaruh terhadap keberhasilan

pembelajaran, di samping ada potensi kemauan siswa. Guru juga perlu memperhatikan

karakteristik siswa dalam pembelajaran.

3

(14)

Dalam hal ini Guru di SDN Sampangagung 1 Mojokerto mengalami stress kerja yang

di akibatkan oleh karakteristik siswa sebagai pelajar dalam kegiatan belajar mengajar

sehingga dapat mempengaruhi kinerjanya dala kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan dari adanya permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang: “Pengaruh stres kerja terhadap kinerja Guru di SDN Sampangagung Kutorejo Mojokerto.’’

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai

berikut :

1. Bagaimana kondisi stress guru di SDN Sampangagung 1 Kutorejo Mojokerto?

2. Bagaimana kinerja guru di SDN Sampangagung 1 Kutorejo Mojokerto?

3. Bagaimana pengaruh stres kerja terhadap kinerja guru di SDN Sampangagung 1 Kutorejo

Mojokerto ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, peneliti maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Untuk mendiskripsikan apa pengertian dari stres kerja.

2. Untuk mendiskripsikan kinerja guru di SDN Sampangagung 1 Kutorejo Mojokerto .

3. Untuk melihat bagaimana pengaruh stres kerja terhadap kinerja guru di SDN

Sampangagung Kutorejo Mojokerto.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, adapun manfaat bagi penelitian yang diharabkan

(15)

1. Bagi akademik Fakultas Tarbiyah

a. Untuk menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan , kususnya di bidang

manajemen pendidikan .

b. Untuk memberikan sumbangan tentang korelasi stress kerja dengan kinerja guru.

2. Bagi individu.

a. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan sekaligus pengetahuan sekaligus sebagai

bahan pembelajaran bagi peneliti untuk mengembangkan di bidang manajemen

pendidikan.

b. Sebagai tugas akhir penulis memperoleh gelar sarjana strata 1 (S1) pada jurusan

kependidikan islam.

3. Bagi Sekolah

a. Sebagai masukan dalam rangkah prilaku guru yang mempunyai latar belakang

stress kerja di SDN Sampangagung 1 Kutorejo Mojokerto.

b. Bagi Guru SD dapat merubah prilaku negatifnya menjadi prilaku yang positif

sehingga dapat meningkatkan produktifitas mengajar.

E. Definisi Operasional

1. Stres kerja

Stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk

ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stres dapat membuat

produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress

adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental.4

4 Diambil dari

(16)

Secara sederhana stress, sebenarnya merupakan suatu bentuk tanggapan seseorang,

baik fisik maupun mental, terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan

mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. Jadi sebenarnya ada dua faktor utama

yang diberikan langsung dengan stress, yaitu perubahan dalam lingkungan dan diri

manusianya sendiri.

Maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan stres kerja adalah

bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental serta bentuk tanggapan

seseorang, baik fisik maupun psikis, terhadap suatu perubahan di lingkungan kerja dimana ia

bekerja.

2. Kinerja Guru

Menurut Mangkunegara, kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang

dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung

jawab yang diberikan kepadanya.

Guru adalah jabatan atau profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Pekerjaan

sebagai guru ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang tanpa mempunyai keahlian sebagai

guru.5

Jadi yang dimaksud dalam judul skripsi ini tentang pengaruh stres kerja terhadap

kinerja guru di SDN Sampangagung 1 Mojokerto adalah terjadinya bentuk ketegangan baik

secara fisik maupun psikis yang menyebabkan perubahan di lingkungan kerja sehingga

5

(17)

mempengaruhi hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh guru di SDN

Sampangagung 1 Mojokerto.

F. Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis dua arah yaitu

Hipotesis alternatif dan hipotesis Nol. Hipotesis benar jika Hipotesis alternatif (Ha) terbukti

kebenarannya.

Ha : Ada pengaruh antara stres kerja dengan kinerja Guru di SDN Sampangagung 1

Mojokerto.

Ho : Tidak ada pengaruh antara stres kerja dengan kinerja Guru di SDN Sampangagung 1

(18)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Umum tentang Stres Kerja

1. Pengertian stres kerja

Dalam istilah stres kerja terdiri dari dua suku kata yang masing-masing mempunyai

pengertian tersendiri, yaitu kata stres dan kerja. Ditinjau dari segi bahasa Stres mempunyai

arti ketegangan atau tekanan.1 Dalam kamus besar, stres adalah gangguan atau kekacauan mental

dan emosional. Dengan Beberapa pengertian tersebut maka stres dapat diartika sebagai tekanan

batin karena adanya pengaruh dari luar yang menimpanya.2

Adapun pengertian stres secara terminologi atau istilah stres merupakan reaksi yang

dirasakan seseorang mendapatkan tekanan dari luar. Stres merupakan suatu kekuatan atau

tekanan fisik yang ditimpakan pada suatu obyek dan mempunyai konskwensi yang tidak

terhindarkan. Atau dengan pengertian lain stres merupakan interaksi antara kemampuan

seeorang dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi yang menekan. Stres adalah

tanggapan atau reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban atasnya yang bersifat non

spesifik.3

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lazarus & Folkman bahwa stres adalah keadaan

internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan

1

John M. Echols, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta : Gramedia, 1992), hlm. 561.

2

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Indonesia, (Jakarta : Balai pustaka, 1990), hlm. 860.

3

(19)

sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan

individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik

maupun psikologis.4 Menurut Lazarus & Folkman, Stres memiliki memiliki tiga bentuk yaitu:

a. Stimulus, yaitu stres merupakan kondisiatau kejadian tertentu yang menimbulkan stres

atau disebut juga dengan stressor.

b. Respon, yaitu stres yang merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena

adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara

psikologis, seperti: jantung berdebar, gemetar, pusing, serta respon psikologis seperti:

takut, cemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah tersinggung.

c. Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimanaindividu secara aktif dapat

mempengaruhi dampak stres melalui strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi. 5

Menurut Robbins stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan

keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai

kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress

dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang

mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam

ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.6

Dari beberapa definisi di atas, Penulis menyimpulkan bahwa stres adalah reaksi non

spesifik dalam segala tuntutan penyesuain diri terhadap suatu tekanan yang mengganggu

keseimbangan jiwa serta menimbulkan rasa tidak tenang. Memang tidak bisa dipungkiri dari

kehidupan manusia, karena manusia tidak lepas dari suatu permasalahan jika manusia tidak

4

Tay Swee Noi dan Peter J. Smith, Bagaimana Mengendalikan Stres, (Jakarta : Grafiti, 1994), hlm. 25.

5

Ibid, hlm 26 6

(20)

bisa menyelesaikan maka tekanan jiwa yang muncul bahkan tidak hanya jiwa, mental yang

terkena, bahkan fisik terpengaruhi yang memunculkan penyakit fisik seperti sakit perut,

tekanan darah rendah, pusing dan lain-lain.

Selanjutnya untuk mengetahui pengertian yang jelas tentang kerja, penulis kemukakan

beberapa pendapat tentang definisi kerja sabagai berikut :

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, kerja adalah aktivitas yang dinamis dan

bernilai, tidak dapat dilepaskan dari faktor fisik, psikis dan sosial. Nilai yang terkandung

dalam kerja bagi individu yang satu dengan lainnya tidaklah sama. Nilai tersebut dapat

mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam bekerja.7

Menurut Malayu Hasibuan bahwa kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental

yang dilakukan seseorang untuk melakukan sebuah pekerjaan. Sedangkan menurut Osborn

mengatakan bahwa kerja adalah kegiatan yang menghasilkan suatu nilai bagi orang lain.

Ketika seorang individu bekerja pada suatu organisasi, instansi ataupun perusahaan

maka hasil kerjayang ia selesaikan akan mempengaruhi terhadap tingkat produktivitas

organisasi. oleh karena itu, pandangan dan juga perasaan individu terhadap pekerjaannya

harus tetap terjaga pada sisi positif dari pekerjannya dengan kata lain individu tersebut harus

memiliki dan menjaga kepuasan kerjanya agar produktivitasnya dapat terus ditingkatkan.

Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa

kerja adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan seseorang untuk bisa mencapai suatu

tujuan yang diinginkan oleh orang tersebut, tujuan tersebut seperti imbalan berupa uang atau

barang.

Berdasarkan pemahaman tentang pengertian stres dan kerja, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa stres kerja secara utuh, yaitu suatu keadaan yang bersifat internal, yang

7

(21)

bisa disebabkan oleh tuntutan fisik, atau lingkungan, dan situasi sosial yang berpotensi

merusak dan tidak terkontrol. Dan stres kerja juga dapat simpulkan yakni tanggapan atau

proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai

pada batas atau melebihi batas kemampuan pegawai.

2. Sumber-Sumber Stres Kerja

Sumber stres kerja dikenal dengan job stressoryang sangat beragam dan reaksinya

beragam pula pada setiap orang. Berikut ini beberapa sumber stres kerja menurut Cary

Cooper, yaitu :

a. Kondisi Kerja

Kondisi kerja ini meliput i kondisi kerja quantitative work overload, qualitative

work overload, assembli line- hysteria , pengambilan keputusan, kondisi fisik yang

berbahaya, pembagian waktu kerja, dan kemajuan teknologi (technostres). Pengertian dari

masing-masing kondisi kerja tersebut adalah sebagai berikut :

1) Quantitative work overload

Work overload (beban kerja yang berlebihan) biasanya terbagi dua, yaitu quantitative

dan qualitative overload. Quantitative overload adalah ketika kerja fisik pegawai

melebihi kemampuan nya. Hal ini disebabkan karena pegawai harus menyelesaikan

pekerjaan yang sangat banyak dalam waktu yang singkat. Qualitative overload terjadi

ketika pekrejaan yang harus dilakukan oleh pegawai terlalu sulit dan kompleks.

2) Assembli line - hysteria

Beban kerja yang kurang dapat terjadi karena pekerjaanyang harus dilakukan tidak

(22)

3) Pengambilan keputusan dan tanggung jawab

Pengambilan keputusan yang akan berdampak pada perusahaan dan pegawaisering

membuat seorang manajer menjadi tertekan. Terlebih lagi apabila pengambilan

putusan itu juga menuntut tanggungjawabnya, kemungkinan peningkatan stres juga

dapat terjadi.

4) Kondisi fisik yang berbahaya

Pekerjaan seperti SAR, Polisi, penjinak bom sering berhadapan dengan stres. Mereka

harus siap menghadapi bahaya fisik sewaktu -waktu.

5) Pembagian waktu kerja

Pembagian waktu kerja kadang-kadang mengganggu ritme hidup pegawai sehari -

hari, misalnya pegawai yang memperoleh jatah jam kerja berganti-ganti. Hal seperti

ini tidak selalu berlaku sama bagi setiap orang yang ada yang mudah menyesuaikan

diri, tetapi ada yang sulit sehingga menimbulkan persoalan.

6) Stres karena kemajuan teknologi (technostres).

Technostres adalah kondisi yang terjadi akibat ketidakmampuan individu atau

organisasi menghadapi teknologi baru.

b. Ambiguitas Dalam Berperan

Pegawai kadang tidak tahu apa yang sebenarnya diharapkan oleh lembaga atau

perusahaan, sehingga ia bekerja tanpa arah yang jelas. Kondisi ini akan menjadi ancaman

bagi pegawai yang berada pada masa karier tengah baya, karena harus berhadapan dengan

ketidakpastian. Akibatnya dapat menurunkan kinerja, meningkatkan ketegangan dan

(23)

c. Faktor Interpersonal

Hubungan interpersonal dalam pekerjaan merupakan faktor penting untuk

mencapai kepuasan kerja. Adanya dukungan sosial dari teman sepekerjaan.

pihak manajemen maupun keluarga diyakini dapat menghambat timbulnya stres. Dengan

demikian perlu kepedulian dari pihak manjemen pada pegawai agar selalu tercipta

hubungan yang harmonis.

d. Perkembangan Karier

Pegawai biasanya mempunyai berbagai harapan dalam kehidupan karier kerjanya,

yang ditujukan pada pencapaian prestasi dan pemenuhan kebutuhan untuk

mengaktualisasikan diri. Apabila perusahaan tidak memenuhi kebutuhan tersebut,

misalnya sistem promosi yang tidak jelas, pegawai akan merasa kehilangan harapan yang

dapat menimbulkan gejala perilaku stres.

e. Struktur Organisasi

Struktur organisai berpotensi menimbulkan stres apabila diberlakukan secara kaku,

pihak manajemen kurang memperdulikan inisiatif pegawai, tidak melibatkan pegawai

dalam proses pengambilan keputusan dan tidak adanya dukungan bagi kreatifitas pegawai.

f. Hubungan antara pekerjaan dan rumah

Rumah adalah sebuah tempat yang nyaman yang memungkinkan membangun dan

mengumpulkan semangat dari dalam diri individu untuk memenuhi kebutuhan luar. Ketika

tekanan menyerang ketenangan seseorang, ini dapat memperkuat efek stres kerja.

Spillover mengatakan kekurangan dukungan dari pasangan, konflik dalam rumah tangga

(24)

3. Indikator Stres

Indikator stres berat jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan depresi, tidak

bisa tidur, makan berlebihan, penyakit ringan, tidak harmonis dalam berteman, merosotnya

efisiensi dan produktifitas, konsumsi alcohol berlebihan dan sebagainya. Kehidupan saat ini

dengan persaingan yang ketat bisa membuat orang mengalami stres, salah satu penyebabnya

adalah beban pekerjaan yang semakin menumpuk.

Adapun beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui stres yang

disebabkan oleh pekerjaan, diantaranya :

a. Peran dalam organisasi

Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organsasi, artinya setiap

tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus dilakukan sesuai dengan

aturan-aturan yang ada sesuai dengan yang diharapkan oleh atasannya.

Namun demikian tenaga kerja tidak selalu berhasil untuk memainkan perannya tanpa

menimbulkan masalah. Jurang bauk berfungsinya peran, yang merupakan pembangkit stres

yaitu meliputi : konflik peran dan ketidaksamaan peran (role ambiguity).

b. Konflik peran (role conflict)

Konflik peran timbul jika seorang tenaga kerja mengalami adanya :

1) Pertentangan antara tugas-tugas yang harus ia lakukan dan antara

tanggungjawab yang ia miliki.

2) Tugas-tugas yang harus ia lakukan yang menurut pandangannya bukan

merupakan bagian dari pekerjaannya. Tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari

(25)

3) Pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu melakukan

tugas pekerjaannya. 8

c. Beban Kerja

Jika seorang pekerja tidak memilki cukup informasi untuk dapat melaksanakan

tugasnya, atau tidak mengerti atau merealisasi harapan-harapan yang berkaitan dengan

peran tertentu. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan peran yang tidak jelas meliputi :

1) Ketidak jelasan dari saran-saran (tujuan-tujuan kerja).

2) Kesamaran tentang tanggung jawab.

3) Ketidak jelasan tentang prosedur kerja.

4) Kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain.

5) Kurang adanya balikan, atau ketidakpastian tentang produktifitas

kerja.

d. Pengembangan Karir

Unsur-unsur penting pengembangan karir meliputi :

1) Peluang untuk menggunakan keterampilan jabatan sepenuhnya.

2) Peluang mengembangkan keterampilan yang baru.

3) Penyuluhan karir memudahkan keputusan-keputusan yang menyangkut karir

Pengembangan karir merupakan aspek-aspek sebagai hasil dari interaksi antara

individu dengan lingkungan organisasi yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap

kualitas dari pengembangan karirnya. Stres ini dapat terjadi jika pekerja merasakan

kehilangan akan rasa aman terhadap pekerjaannya.

8

(26)

Promosi yang dirasakan tidak sesuai yang secara umum disebabkan karena adanya

ketidaksesuain antara karir yang diharapkan dengan apa yang diperoleh selama ini atau juga

tidak ada kejelasan perkembangan karir. Terbatasnya peluang karir tidak akan menimbulkan

stres pada tenaga kerja yang tidak memiliki aspirasi karir.

e. Hubungan dalam Pekerjaan

Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala adanya kepercayaan

yang rendah, dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah dalam organisasi.

Ketidakpercayaan secara positif berhubungan dengan ketaksaan peran yang tinggi, yang

mengarah ke komunikasi antar pribadi yang tidak sesuai antara pekerja dan ketegangan

psikologikal dalam bentuk kepuasan pekerjaan yang rendah, penurunan dari kondisi

kesehatan, dan rasa diancam oleh atasan dan rekan-rekan kerjanya. 9

f. Struktur dan Iklim Organsasi

Faktor stres yang dikenali dalam kategori ini adalah stres yang timbul oleh bentuk

struktur organisasi yang berlaku di lembaga yang bersangkutan. Apabila bentuk atau struktur

organisasi kurang jelas dan jangka waktu yang lama tidak ada perubahan atau pembaharuan,

maka hal tersebut dapat menjadi sumber stres. Posisi individu dalam suatu struktur organsiasi

juga dapat menggambarkan bagaimana stres yang dialami Selain itu menurut Hurrel (dalam

Munandar, 2001: 381-401).

9

(27)

4. Faktor-faktor yang menimbulkan Stres

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres adalah termasuk faktor-faktor Intrinsik

dalam pekerjaan dimana tuntutan fisik dan tuntutan tugas. Tuntutan fisik misalnya faktor

kebisingan. Sedangkan faktor-faktor tugas mencakup : kerja malam, beban kerja, dan

penghayatan dari resiko dan bahaya.

a. Tuntutan fisik

Kondisi fisik kerja mempunyai pengaruh fatal dan terhadap fisik dan psikologis diri

seorang tenaga kerja. Kondisi fisik dapat merupakan pembangkit stres (stressor). Suara

bising selain dapat menimbulkan gangguan sementara atau tetap pada alat pendengaran kita,

juga dapat merupakan sumber stres yang menyebabkan peningkatan dari kesiagaan dan

ketidakseimbangan psikologis kita. Kondisi demikian memudahkan timbulnya kecelakaan,

misalnya tidak mendengar suara-suara peringatan sehingga timbul kecelakaan.

b. Tuntutan tugas

Penelitian menunjukkan bahwa shift atau kerja malam merupakan sumber utama dan

stres bagi para pekerja pabrik. Para pekerja shift malam lebih sering mengeluh tentang

kelelahan dan gangguan perut daripada para pekerja pagi atau siang dan dampak dari kerja

shift terhadap kebiasaan makan yang mungkin menyebabkan gangguan-gangguan pada perut.

5. Konsekuensi Stres Kerja

Pergerakan dari mekanisme pertahanan tubuh bukanlah satu-satunya konsekuensi

yang mungkin timbul dari adanya kontak dengan sumber stres. Akibat dari stres banyak

bermacam-macam. Ada sebagian yang positif seperti meningkatkan motivasi, terangsang

(28)

banyak diantaranya yang merusak dan berbahaya. menurut Cox telah mengidentifikasi efek

stres, yang mungkin muncul. Kategori yang di susun Cox meliputi : 10

a. Dampak Subjektif (subjective effect)

Kekhawatiran/kegelisahan, kelesuhan, kebosanan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan

kesabaran, perasaan terkucil dan merasa kesepian.

b. Dampak Perilaku (Behavioral effect)

Akibat stres yang berdampak pada perilaku pekerja dalam bekerja di

antaranya peledakan emosi dan perilaku implusif.

c. Dampak Kognitif (Cognitive effect)

Ketidakmampuan mengambil keputusan yang sehat, daya konsentrasi menurun, kurang

perhatian/rentang perhatian pendek, sangat peka terhadap kritik/kecaman dan hambatan

mental.

d. Dampak Fisiologis (Physiological effect)

Kecanduan glukosa darah meninggi, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, mulut

kering, berkeringat, bola mata melebar dan tubuh panas dingin.

e. Dampak Kesehatan (Health effect)

Sakit kepala dan migrant, mimpi buruk, sulit tidur, gangguan psikosomatis.

f. Dampak Organisasi (Organizational effect)

Produktivitas menurun/rendah, terasing dari mitra kerja,, ketidakpuasan kerja,

menurunnya kekuatan kerja dan loyalitas terhadap instansi.

Keenam jenis tersebut tidak mencakup seluruhnya, juga tetapi tidak terbatas ada

dampak-dampak dimana ada kesepakatan universal dan untuk hal itu ada bukti ilmiah yang

10

(29)

jelas. Kesemuanya hanya mewakili beberapa dampak potensial yang sering dikaitkan

dengan stres. Akan tetapi, jangan diartikan bahwa stres selalu meyebabkan dampak seperti

yang disebutkan diatas.

6. Strategi Manajemen Stres Kerja

Stres dalam pekerjaan dapat dicegah timbulnya dan dapat dihadapi tanpa memperoleh

dampak yang negatif. Manajemen stres lebih dari pada sekedar mengatasinya, yakni belajar

menanggulanginya secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk mengetahui

apa yang tidak boleh dan apa yang harus dicoba. Sebagian para pengidap stres di tempat

kerja akibat persaingan, sering melampiaskan dengan cara bekerja keras yang berlebihan. Ini

bukanlah cara efektif yang bahkan tidak menghasilkan apa-apa untuk memecahkan sebab

dari stres, justru akan menambah masalah lebih jauh. 11

Secara umum strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi strategi

penanganan individual, organisasional dan dukungan sosial 12

a. Strategi Penanganan individual

Strategi Penanganan individual yaitu strategi yang dikembangkan secara pribadi atau

individual. Strategi individual ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

1) Melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif. Artinya, jika

seorang karyawan merasa dirinya ada kenaikan ketegangan, para karyawan tersebut

seharusnya (time out) terlebih dahulu. Cara time out ini bisa macam-macam, seperti

istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja, keluar ke ruang istirahat (jika

menyediakan), pergi sebentar ke kamar kecil untuk membasuh muka air dingin atau

berwudhu bagi orang Islam, dan sebagainya.

11 Ibid

12

(30)

2) Melakukan relaksasi dan meditasi. Kegiatan relaksasi dan meditasi ini bisa dilakukan

di rumah pada malam hari atau hari-hari libur kerja. Dengan melakukan relaksasi,

karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan demikian

karyawan yang melakukan relaksasi diharapkan dapat mentransfer kemampuan dalam

membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami

situasi stres. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup

atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang mengganggu, kemudian

perlahan-lahan mengucapkan doa.Melakukan diet dan fitnes. Beberapa cara meditasi

yang bisa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan

pikiran yang mengganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa.

3) Melakukan diet dan fitness. Beberapa cara yang bisa ditmpuh adalah mengurangi

masukan atau konsumsi makanan mengandung lemak memperbanyak konsumsi

makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, dan banyak

melakukan olahraga, seperti lari secara rutin, tennis, bulutangkis, dan sebagaianya.

b. Strategi Penanganan Organisasional

Strategi ini didesain oleh manajemen untuk menghilangkan atau mengontrol penekan

tingkat organisasional untuk mencegah atau mengurangi stres kerja untuk pekerja individual.

Manajemen stres melalui organisasi dapat dilakukan dengan:

1) Menciptakan iklim organisasional yang mendukung. Banyak organisasi besar saat ini

cenderung memformulasi struktur birokratik yang tinggi dengan menyertakan

infleksibel, iklim impersonal. Ini dapat membawa pada stres kerja yang

sungguh-sungguh. Sebuah strategi pengaturan mungkin membuat struktur tebih

(31)

komunikasi ke atas. Perubahan struktur dan proses struktural mungkin menciptakan

Iklim yang lebih mendukung bagi pekerja, memberikan mereka lebih banyak kontrol

terhadap pekerjaan mereka, dan mungkin mencegah atau mengurangi stres kerja

mereka. 13

2) Memperkaya desain tugas-tugas dengan memperkaya kerja baik dengan

meningkatkan faktor isi pekerjaaan (seperti tanggung jawab, pengakuan, dan

kesempatan untuk pencapaian, peningkatan, dan pertumbuhan) atau dengan

meningkatkan karakteristik pekerjaan pusat seperti variasi skill, identitas tugas,

signifikansi tugas, otonomi, dan timbal balik mungkin membawa pada pernyataan

motivasional atau pengalaman berani, tanggung jawab, pengetahuan hasil-hasil.

c. Mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional.

Konflik peran dan ketidakjelasan diidentifikasi lebih awal sebagai sebuah penekan

individual utama. Ini mengacu pada manajemen untuk mengurangi konflik dan

mengklarifikasi peran organisasional sehingga penyebab stress ini dapat dihilangkan atau

dikurangi. Masing-masing pekerjaan mempunyai ekspektansi yang jelas dan penting atau

sebuah pengertian yang ambigi dari apa yang dia kerjakan.

d. Strategi Dukungan Sosial

Untuk mengurangi stres kerja, dibutuhkan dukungan sosial terutama orang yang

terdekat, seperti keluarga, teman sekerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh

dukungan maksimal, dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga

dukungan sosial dapat diperoleh seperti dikatakan Landy dan Goldberger & Breznitz

Karyawan dapat mengajak berbicara orang lain tentang masalah yang dihadapi, atau

13

(32)

setidaknya ada tempat mengadu atas keluh kesahnya. Ada empat pendekatan terhadap stres

kerja menurut pendapat Keith Davis & John W. Newstrom,14 yaitu :

1) Pendekatan Dukungan Sosial Pendekatan ini dilakukan melalui aktivitas yang bertujuan

memberikan kepuasan sosial kepada karyawan. Misalnya : bermain game, dan bercanda.

2) Pendekatan melalui meditasi Pendekatan ini perlu dilakukan karyawan dengan cara

berkonsentrasi kea lam pikiran, mengondorkan kerja otot, dan menenangkan emosi.

Meditasi ini dapat dilakukan selama dua periode waktu yang masing-masing 15-20 menit.

Meditasi bisa dilakukan di ruangan khusus. Karyawan yang beragama islam bisa

melakukannya setelah Dzuhur melalui dzikir dan doa kepada Allah SWT.

3) Pendekatan Biofeed Back Pendekatan ini dilakukan melalui bimbingan medis. Melalui

bimbingan dokter, psikiater, dan psikolog, sehingga diharapkan karyawan dapat

menghilangkan stres yang dialaminya.

4) Pendekatan kesehatan pribadi Pendekatan ini merupakan pendekatan preventif sebelum

terjadinya stres. Dalam hal ini karyawan secara periode waktu yang kontiyu memeriksa

kesehatan, melakukan relaksasi otot, pengaturan gizi, dan olahraga secara teratur. 15

B. Tujuan Umum tentang Kinerja Guru

Kinerja pada dasarnya merupakan perilaku nyata yang dihasilkan setiap orang sebagai

prestasi kerja yang dihasilkan oleh guru sesuai dengan perannya dalam lembaga sekolah. Untuk

mendapatkan kinerja yang baik dari seorang guru pada sebuah organisasi harus dapat

memberikan sarana dan prasarana sebagai penunjang dalam penyelesaian pekerjaan.

14

.keith Davis dan jon W hal 80-82 15

(33)

Istilah kinerja sendiri merupakan tujuan dari kata Job Performance atau Actual

Performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang).

1. Pengertian Kinerja Guru

Kinerja guru adalah hasil kerja yang dicapai seseorang atau kelompok orang sesuai

dengan wewenang/tanggung jawab masing-masing guru selama periode tertentu. Sebuah

lembaga pendidikan perlu melakukan penilaian kinerja pada guru. Penilaian kinerja

memainkan peranan yang sangat penting dalam peningkatan motivasi di tempat kerja.

Penilaian hendaknya memberikan suatu gambaran akurat mengenai prestasi kerja

Dalam buku yang berjudul: “Manajemen Sumber Daya Manusia” 16

, menurut Hendry

Simamora kinerja guru adalah tingkat dimana para guru mencapai persyaratan-persyaratan

pekerjaan.

2. Penilaian kinerja guru

Yang dimaksud dengan sistem penilaian kinerja ialah proses yang mengukur kinerja

guru. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian kinerja guru adalah :

a. Karakteristik situasi

b. Deskripsi pekerjaan, spesifikasi pekerjaan dan standar kinerja pekerjaan.

c. Tujuan-tujuan penilaian kinerja.

d. Sikap para guru dan manajer terhadap evaluasi.

16

(34)

3. Tujuan Penilaian Kinerja

Tujuan diadakannya penilaian kinerja bagi para guru dapat kita ketahui di bagi

menjadi dua, yaitu :

a. Tujuan evaluasi

Seorang manajer menilai kinerja dari masalalu seorang guru dengan

menggunakan ratings deskriptif untuk menilai kinerja dan dengan data tersebut berguna

dalam keputusan-keputusan promosi, demosi, terminasi, dan kompensasi.

b. Tujuan pengembangan

Seorang manajer mencoba untuk meningkatkan kinerja seorang guru dimasa yang

akan datang. Kusriyanto, dalam Mangkunegara (2005: 9), mendefenisikan “kinerja sebagai perbandingan hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu

(lazimnya per jam)”. Selanjutnya menurut Faustino Cadosa Gomes dalam Mangkunegara, mengatakan bahwa defenisi kerja guru sebagai: “Ungkapan seperti

output, efisiensi serta efektifitas sering dihubungkan dengan produktifitas”.

4. Karakteristik guru yang memiliki Kinerja Yang Tinggi

Sebuah studi tentang kinerja menemukan beberapa karakteristik guru yang memiliki

kinerja yang tinggi. Mink dalam Raharjo menyebutkan beberapa karakteristik karyawan yang

memiliki kinerja yang tinggi, meliputi :

a. Berorientasi Pada Prestasi guru yang memiliki kinerja yang tinggi, keinginan yang

kuat membangun sebuah mimpi tentang apa yang mereka inginka untuk dirinya.

(35)

guru yang kinerja tinggi memiliki sikap mental positif yang mengarahkannya

bertindak dengan tingkat percaya diri yang tinggi.

c. Pengendalian Diri

guru yang memiliki kinerja yang tinggi mempunyai rasa percaya diri yang sangat

mendalam.

d. Kompetensi

guru yang kinerjanya tinggi telah mengembangkan kemampuan spesifik atau

kompetensi berprestasi dalam daerah pilihan mereka.

e. Persisten

guru yang kinerjanya tinggi mempunyai piranti kerja, didukung oleh suasana

psikologis, dan pekerja keras terus-menerus.

5. Indikator Kinerja

Sebuah organisasi didirikan tentunya dengan suatu tujuan tertentu. Sementara tujuan

itu sendiri tidak sepenuhnya akan dapat dicapai jika guru tidak memahami tujuan dari

pekerjaan yang dilakukannya. Artinya, pencapaian tujuan dari setiap pekerjaan yang

dilakukan oleh guru akan berdampak secara menyeluruh terhadap tujuan organisasi. Oleh

karena itu, seorang guru harus memahami indikator-indikator kinerja sebagai bagian dari

pemahaman terhadap hasil akhir dari pekerjaannya Sementara itu, dalam kaitannya dengan

indikator kinerja guru, Simamora (1995) mengemukakan bahwa kinerja guru dapat diukur

dengan indikator-indikator sebagai berikut :

(36)

b.Kuantitas Kerja, yaitu berlaku sebagai standar proses pelaksanaan kegiatan rencana

organisasi.

c. Ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan, yaitu pemenuhan kesesuaian waktu yang

dibutuhkan atau diharapkan dalam pelaksanaa kegiatan.

Indikator-indikator kinerja guru sebagaimana disebutkan diatas memberikan pengertian

bahwa pekerjaan yang dilakukan guru dilandasi oleh ketentuan-ketentuan dalam organisasi.

Disamping itu, guru juga harus mampu melaksanakan pekerjaannya secara benar dan tepat

waktu. 17

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja guru

Para pemimpin organisasi sangat menyadari adanya perbedaan kinerja antara satu

guru dengan guru lainnya berada di bawah pengawasannya. Walaupun guru bekerja pada

tempat yang sama namun produktivitas mereka tidaklah sama. Secara garis besar perbedaan

kinerja ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor individu dan situasi kerja.

Menurut Tiffin dan Mc. Cornick ada dua variabel yang dapat mempengaruhi kinerja,

yaitu

a. Variabel Individu, meliputi : sikap, karakteristik, sifat-sifat fisik, imnat dan motivasi,

pengalaman, umur, jenis kelamin, pendidikan, serta fsaktor individu lainnya.

b. Variabel Organisasi meliputi :

1) Faktor fisik dan pekerjaan, terdiri dari : metode kerja, kondisi dan desain

perlengkapan kerja, penataan ruang dan lingkungan fisik (penyinaran, temperature,

dan fentilasi).

17

(37)

b. Faktor sosial dan organisasi, meliputi : peraturan-peraturan organisasi, sifat organisasi,

jenis latihan dan pengawasan, sistem upah dan lingkungan sosial.

Menurut Davis dan J.W Newstrom mengemukakan pendapatnya, bahwa kinerja

dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu 18:

a. Faktor kemampuan

1) Pengetahuan : pendidikan, pengalaman, latihan dan minta

2) Keterampilan : kecakapan dan kepribadian

b. Faktor motivasi

1) Kondisi sosial : organisasi formal dan informal, kepemimpinan

2) Serikat kerja kebutuhan inidvidu fisiologi, sosial dan egoistic

3) Kondisi fisik : lingkungan kerja.

Dari berbagai pendapat ahli tersebut, maka sesuai dengan penelitian ini, maka kinerja

guru secara umum dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu variabel organisasi dan

individual.

C. Pengaruh Stres Kerja terhadap Kinerja Guru

Hubungan antara stress kerja dengan kinerja guru sangatlah berpengaruh dimana

dengan kondisi guru yang fit dan tidak stress merupakan faktor utama yang mempengaruhi

terhadap kinerja guru. Dalam Fattah kinerja atau prestasi kerja (performance) merupakan

ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan keterampilan dan motivasi

dalam menghasilkan sesuatu. Hasil karya atau kerja yang diperoleh19 guru dalam usaha

dalam pencapaian tujuan atau pemenuhan tugas tertentu berdasarkan ukuran yang berlaku

18

Menurut Davis dan J.W Newstrom Hal. 40-41

(38)

dan dalam waktu yang telah ditetapkan suatu organisasi. Oleh karena itu tingkat stress kerja

sangatlah berpengaruh dalam pencapaian kinerja guru karena pengaruh negatif stres

menimbulkan perasaan-perasaan tidak nyaman, tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi,

dan memicu sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi atau stroke.

Handoko menyatakan, stress dapat membantu atau fungsional, tetapi juga dapat

berperan salah (disfunctional) atau merusak prestasi kerja.20 secara sederhana hal ini berarti

bahwa stress mempunyai potensi untuk mendorong atau mengganggu pelaksanaan kerja,

tergantung seberapa besar tingkat stress. Hubungan antara stres kerja dengan kinerja guru

seperti terlihat dalam berikut.

Gambar 2.1

Hubungan stress dengan prestasi kerja guru

Bila tidak ada stress, tantangan-tantangan kerja juga tidak ada, dan prestasi kerja

cenderung rendah. Sejalan dengan meningkatnya stress, prestasi kerja cenderung naik, karena

stress membantu guru untuk mengarahkan segala sumber daya dalam memenuhi berbagai

persyaratan atau kebutuhan pekerjaan. Adalah suatu rangsangan sehat untuk mendorong para

20

(39)

guru agar memberikan tanggapan terhadap tantangan-tantangan pekerjaan. Bila stress telah

mencapai “puncak”, yang dicerminkan kemampuan pelaksanaan kerja harian guru, maka stres tambahan akan cenderung tidak menghasilkan perbaikan prestasi kerja. Akhirnya, bila

stress menjadi terlalu besar, prestasi kerja akan mulai menurun, karena stress mengganggu

pelaksanaan pekerjaan. Guru kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya, menjadi

tidak mampu untuk mengambil keputusan-keputusan dan perilakunya menjadi tidak teratur.

Akibat paling ekstrim, adalah prestasi kerja menjadi nol, karena guru menjadi sakit atau tidak

kuat bekerja lagi, putus asa, keluar atau “melarikan diri” dari pekerjaan, dan mungkin diberhentikan. Hubungan antara stres kerja dengan kinerja guru juga dijelaskan oleh Robin

menyatakan bahwa banyak riset telah menyelidiki hubungan stres-kinerja. Pola yang paling

meluas yang dipelajari dalam literatur stres-kinerja adalah hubungan U terbalik seperti

terlihat dalam Gambar 2.2.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Robin logika U terbaik adalah21 bahwa stres pada tingkat

rendah sampai sedang merangsang tubuh dan meningkatkan kemampuan bereaksi. Pada saat

itulah individu bisanya akan mampu melakukan tugasnya dengan lebih baik, lebih intensif,

atau lebih cepat. Tetapi kalau banyak stres menempatkan tuntutan yang tidak dapat dicapai

atau kendala ke seseorang, yang mengakibatkan kinerja menurun. Pola U-terbalik ini juga

menggambarkan reaksi terhadap stres dari waktu ke waktu, dan terhadap perubahan

intensitas stres. Artinya, stres tingkat sedang sekalipun dapat mempunyai pengaruh yang

negatif pada kinerja jangka panjang karena intensitas stres yang berkelanjutan itu

meruntuhkan individu itu dan melemahkan sumber daya energinya.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengaruh stres terhadap kinerja

ada yang positif dan ada yang negatif. Menurut Supriyanto, dkk (2003:64), hubungan

21

(40)

motivasi, prestasi (kinerja), dan stress tampak jelas bahwa stres yang terlalu rendah atau

terlalu tinggi dapat menyebabkan tingkat prestasi (kinerja) yang rendah (tidak optimum).

Bagi seorang pimpinan tekanan-tekanan yang diberikan kepada seorang guru

Gambar 2.2

Hubungan terbalik antara stress kerja dengan kinerja pekerjaan

haruslah dikaitkan dengan apakah stres yang ditimbulkan oleh tekanan-tekanan

tersebut masih dalam keadaan wajar. Stres yang berlebihan akan menyebabkan guru tersebut

frustasi dan dapat menurunkan prestasinya, sebaliknya stress yang terlalu rendah

(41)

Gambar 2.3

Hubungan prestas kerja dengan stress

tersebut tidak bermotivasi untuk berprestasi. Berdasarkan gambar 4 dapat dipahami

bahwa stres yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tingkat prestasi (kinerja) yang rendah

(tidak optimum). Stres kerja yang dihadapi oleh seseorang guru dapat dilihat dari gejala

fisiologis, psikologis dan gejala perilaku. Sesuai dengan topik penelitian yakni stres kerja dan

kinerja guru, maka stres kerja yang dimaksudkan dapat diukur dari tiga gejala stres tersebut.

Dengan demikian fokus kajian terhadap stres kerja tidak menelaah faktor penyebab stres

kerja itu sendiri. Akan tetapi melihat intensitas stres kerja dikalangan guru dengan mengacu

pada gejala fisiologis, psikologis dan gejala perilaku sebagai sub variabel dari variabel stres

kerja.

Mengacu pada teori yang telah dikemukakan bahwa kinerja guru dapat dipegnaruhi

oleh stres kerja yang dialami oleh guru itu sendiri. Hal ini berarti bahwa secara implisit

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang dibutuhkan dan digunakan dalam penelitian studi komparasi

antara pengaruh stress kerja dengan kinerja guru, pengaruh stress kerja adalah penelitian

kuantitatif, karena penelitianyang dilakukan oleh peneliti lebih banyak menggunakan logika

hipotetiko verifikatif, yang mana penelitian tersebut dimulai dengan berfikir deduktif untuk

menurunkan hipotesis, kemudian melakukan pengujian dilapangan1, penelitian ini banyak

menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta

menampilkan dari hasilnya2 dan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena

data yang kami ambil dalam bentuk angka yang akan diproses secara statistik 3, kemudian

menggambarkan objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya

tanpa melakukan analisis, oleh sebab itu dinamakan statistik deskriptif.4

Selain memakai jenis penelitian kuantitatif, penelitian ini juga menggunakan desain

non eksperimen dengan alasan karena penelitian yang dilakukan sudah ada data-data yang

dibutuhkan oleh peneliti dan peneliti tinggal1

11

S. Margono Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta; PT. Rineka Cipta, 1997), hal 35 2

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta; PT. Rineka Cipta, 2006) hal. 12

3

Ibid., hal. 10 4

Sugiyono, Statistik untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 29

5

Ibid., hal. 151 6

Nana Sudjana dan Ibrahim, M.A., Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung; Sinar Baru Offset, 1989), hal. 56

7

Ibnu Hadjar, Dasar-dassar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 120

8

(43)

mengadakan pengumpulan data-data di lapangan dan menganalisisnya.5 Karena tugas

peneliti hanya mengumpulkan dan menganalisis data yang ada pada lapangan dan tidak

memanipulasi data, serta peneliti tidak perlu memberikan perlakuan lagi, maka penelitian

kali ini dinamakan penelitian desain ex post facto.6

Penelitian desain ex post facto ini digunakan untuk menjajagi kemungkinan adanya

hubungan kausal (sebab akibat) antara variabel yang tidak dapat dimanipulasi7 serta dimulai

dengan mendeskripsikan situasi sekarang yang diasumsikan sebagai akibat dari faktor-faktor

yang telah terjadi atau bereaksi sebelumnya. Adapun prosedur penelitian desain ex post facto

adalah sebagai

berikut:8

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti melakukan

penelitian SDN Sampangagung 1 yang beralamat di Kutorejo Mojokerto.

B. Sumber Data

Guna mendukung penulisan, maka jenis data yang digunakan sebagai berikut:

1) Data Kuantitatif

Data yang dapat dihitung berupa angka-angka yang diperoleh dari SDN

Sampangagung Kutorejo Mojokerto yang dihitung, seperti jumlah guru dan data-data

lainnya yang menunjang penelitian.

2) Data Kualitatif

Data yang yang diperoleh dari SDN Sampangagung Kutorejo Mojokerto tidak

berbentuk angka, seperti gambaran umum perusahaan, hasil kuesioner, dan

(44)

informasi yang diperoleh dari pihak lain yang menunjang penelitian. Adapun data

kualitatif adalah sebagai berikut:

1) Stres Individu (X1)

a) Konflik Peran

b) Beban Kerja

c) Pengembangan karir

2) Stres Organisasi (X2)

a) Struktur Organisasi

b) Kepemimpinan

3) Stres Kerja Kinerja Guru (Y)

C. Kerangka Pikir

Kerangka pemikiran akan mengarahkan proses penelitian sesuai tujuan yang

ingin dicapai dan akan menjadi alur pemikiran penelitian. Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Penelitian Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja guru Pada SDN Sampangagung

Kutorejo Mojokerto.

D. Hipotesis

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian maka

dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

Tingkat stres kerja baik bersifat individu maupun organisasi mempunyai pengaruh

terhadap kinerja karyawan pada SDN Sampangagung Kutorejo Mojokerto.

(45)

1) Konflik Peran

2) Beban Kerja

3) Pengembangan karir

b. Stres Organisasi (X2)

1) Struktur Organisasi

2) Kepemimpinan

c. Stres Kerja Kinerja Guru (Y)

E. Sumber Data

Berdasarkan sumbernya, data yang dikumpulkan penulis dapat dibedakan dalam

dua jenis, yaitu:

a. Data Primer

Data yang diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung terhadap

responden yang dalam hal ini adalah guru. Selain itu, juga penulis melakukan wawancara

langsung dengan kepala Sekolah tentang pengaruh stres kerja terhadap kinerja guru.

b. Data Sekunder

Data yang diperoleh dari dokumen-dokumen serta arsip-arsip yang ada di lembaga

tersebut, dan hasil penelitian kepustakaan dan dari instansi lainnya yg terkait.

F. Populasi dan Sampel

Adapun yang akan menjadi populasi dalam penelitian ini adalah guru SDN

(46)

Dengan mempertimbangkan kecilnya jumlah populasi, maka jumlah sampel dalam penelitian

ini adalah semua populasi yang akan diteliti yaitu berjumlah sekitar 30 orang.

G. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data di dalam penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut .

a. Kuesioner yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan dan memberikan daftar

pertanyaan yang telah disiapkan kemudian dibagikan kepada setiap responden untuk

diisi dan dijawab.

b. Wawancara, yaitu data yang diperoleh dengan mengadakan wawancara langsung dengan

kepala sekolah SDN Sampangagung Kutorejo Mojokerto Dokumentasi yaitu teknik

pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data mengenai keadaan sekolah

SDN Sampangagung Kutorejo Mojokerto secara umum, keadaan stres dan kinerja guru.

2

H. Metode Analisis Data

Untuk membuktikan hipotesis yang telah dikemukakan, maka dalam penelitian ini digunakan

dua macam metode analisis, yaitu :

a. Analisis Deskriptif : analisis deskriptif kuantitatif yang menggambarkan secara umum

tentang stres kerja dan kinerja guru.

b. Analisis Kuantitatif : yaitu metode analisis yang digunakan dengan cara mengumpulkan

data, dan menyatakan variabel-variabel yang menggambarkan persepsi guru terhadap

stres kerja serta kinerja karyawan dalam kategori yang pada akhirnya akan menjadi total

2

(47)

skor dari pengisian kuesioner oleh responden. Pengisian kuesioner diukur dengan

menggunakan skala Likert dengan lima poin. Adapun skor yang diberikan pada setiap

jawaban responden, adalah :

1) Sangat Setuju (SS) dengan bobot 5

2) Setuju (S) diberi bobot 4

3) Ragu-Ragu (RR) diberi bobot 3

4) Tidak Setuju (TR) diberi bobot 2

5) Sangat Tidak Setuju (STS) diberi bobot

1. Analisis Regresi Linear Berganda

untuk menghitung besarnya pengaruh secara kuantitatif dari perubahan kejadian

(Variabel Y) dipengaruhi oleh variabel bebas X1, X2 sehingga rumus umum dari regresi linear

berganda ini adalah :

Y = a + b1X1 + b2X2

Dimana: Y = Variabel dependen yaitu Kinerja Karyawan

X1 = Variabel Independen yaitu Stressor Individu

X2 = Variabel dependen yaitu Stressor Organisasi

a = Nilai konstanta

b = Koefisien arah regresi

2. Uji Koefisien Korelasi

Data yang diperoleh melalui hasil wawancara, studi dokumen, serta hasil dari kuesioner

(48)

Sedangkan hasil data yang diperoleh dengan menggunakan angket menggunakan analisis

koefisien Korelasi dengan HA : r ≠ 0 ; artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel

predikator (X1) dengan variabel terikat.

Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi kontanta dari setiap variabel independen

terhadap variabel terikat, maka dilakukan Uji t, yang sebagaimana yang dikemukakan oleh

Sugiyono (2005:184) dengan rumus:

t = √√

Dimana: t = nilai t yang dihitung selanjutnya disebut t-hitung

r = Koefisien korelasi

n = Jumlah Sampel

Kriteria pengujian adalah:

a). Apabila nilai pada taraf signifikansi 5% maka Ho ditolak dan H1 diterima. Artinya

terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat stres terhadap guru.

b). Apabila nilai pada taraf signifikansi 5% maka H1 ditolak dan Ho diterima. Artinya

tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara stres kerja terhadap kinerja guru.

I. Definisi Operasional

Untuk memudahkan arah penelitian ini, definisi operasional penelitian ini adalah sebagai berikut

menggunakan rumus koefisien sederhana menurut (Ridwan dan Sunarto, 2009:80) sebagai

berikut :

= ( )( )√( ( ) )( ( ) )

Pada hakekatnya, nilai r dapat bervarasi dari -1 melalui 0 hingga +1. Bila r = 0 atau

(49)

Bila r = + 1 atau mendekati 1 maka korelasi antara dua variabel dikatakan positif dan sangat kuat

sekali. Bila r = -1 atau mendekati -1, maka korelasinya dikatakan sangat kuat dan negatif.

1. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model

dalam menerangkan variasi variabel dependennya. Nilai koefisien determinasi (R2) yang

mendekati satu berarti variabel-variabel independennya menjelaskan hampir semua informasi

yang dibutuhkan untuk memprediksi variable dependen (Ghozali, 2009).

2. Uji t

Untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas mempunyai pengaruh

yang nyata atau tidak terhadap variabel terikat, maka dilakukan uji hipotesis. Bentuk

pengujiannya adalah sebagai berikut :

H0 : r = 0 ; artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel predikator (Xi)

dengan variabel terikat (Yi

Variabel Definisi Indikator Item Pertanyaan

Kinerja Hasil kerja yang 1. Kualitas Kerja - Menyelesaikan

(50)

(51)

3. Variabel Independent (Stres (X))

Variabel bebas (Independent variabel) adalah variabel yang fungsinya mempengaruhi

(menerangkan) variabel lainnya. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Stres Kerja. Stres

Kerja adalah suatu tanggapan adaktif, ditengahi oleh perdebatan individual atau proses

psikologis, yaitu suatu konsekuensi dari setiap kegiatan (lingkungan), situasi, atau kejadian

eksternal yang membebani tuntutan psikologis atau fisik yang berlebihan terhadap seseorang

Gibson (1987:204).

Dalam penelitian ini stres kerja guru dilihat dari jawaban kuesioner dari para guru SDN

(52)
(53)

kali terjadi dalam

pekerjaan saya.

- Saya memiliki

beban kerja yang

berlebihan.

pekerjaan

- saya punya jumlah

konflik yang besar

yang banyak

menuntut saya.

- Saya mengalami

kesulitan

berkomunikasi

dengan rekan kerja

di lembaga ini.

- Saya diharuskan

menghadiri rapat

yang jumlahnya

sangat banyak.

- Saya tidak

memiliki ruang

kantor yang cukup

luas untuk

menjalankan

(54)

Stressor

Organisasi (X2)

1.Struktur

Organisasi

2.Kepemimpinan

- Saya memperoleh peralatan kantor yang memadai

untuk bekerja.

- Saya mendapat dukungan layanan yang cukup untuk

melaksanakan pekerjaan saya.

- Saya mengalami kesulitan memperoleh bahan-bahan

habis pakai (seperti kertas, klip dan balpoin) yang

saya butuhkan dalam pekerjaan saya.

- Saya tidak tahu apa yang menjadi tanggungjawab

pekerjaan yang saya jalankan.

- Saya tidak tahu dengan pasti apa yang diharapkan

perusahaan dari saya sehubungan dengan posisi

pekerjaan yang saya terima.

- Saya mengalami konflik dalam menjalankan

berbagai tugas yang diberikan atasan-atasan saya

yang berlainan.

- Saya merasakan konflik dari tugas pekerjaan yang

dibebankan atasan langsung saya.

- Alat-alat kantor yang saya butuhkan untuk

menjalankan pekerjaan sering kali rusak atau tidak

berfungsi.

- Target dan tuntutan tugas terlalu tinggi sehingga

(55)
(56)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Analisis Deskriptif

Pada bagian ini akan digambarkan atau dideskripsikan dari data masing-masing informasi

mengenai identitas diri mulai jenis kelamin, usia, dan pendidikan dalam bentuk deskriptif akan

menampilkan karakteristik sampel yang digunakan didalam penelitian yang disajikan dalam

(57)

1 - 5 Tahun 35 58,34

6 -10 Tahun 17 28,33

11 -15 Tahun 6 10

>16 Tahun 2 3,33

Jumlah 100 60

B. Analisis dan Pembahasan

Dari tabel 5.1 diatas hasil olahan data berdasarkan hasil kuesioner mengenai

tanggapan responden, dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Jenis kelamin yang paling dominan adalah Laki-laki yang berjumlah sebanyak 40 orang

dengan persentase 66,7% dan yang terendah adalah perempuan dengan 20 orang dengan

persentase 33,3%.

2. Usia yang di miliki responden yang paling dominan adalah 31-35 tahun dengan

persentase 53,33 % sedangkan yang terendah adalah yang berusia >41 tahun sebanyak 2

orang dengan persentase 3,33 %.

3. Tingkat pendidikan dimiliki responden yang paling dominan adalah Strata 1 dengan 50

dengan persentase 83,34 % dan terendah Strata 2 sebanyak 2 orang dengan responden

3,33 %.

4. Masa kerja yang diperoleh responden yang paling dominan adalah 1-5 tahun sebanyak

35 orang dengan persentase 58,34 % dan terendah >16 tahun sebanyak 2 orang dengan

Figur

 Gambar 2.1
Gambar 2 1 . View in document p.38
  Gambar 2.2 Hubungan terbalik antara stress kerja dengan kinerja pekerjaan
Gambar 2 2 Hubungan terbalik antara stress kerja dengan kinerja pekerjaan . View in document p.40
   Gambar 2.3
Gambar 2 3 . View in document p.41
Tabel 3.2
Tabel 3 2 . View in document p.52
Tabel 5.1
Tabel 5 1 . View in document p.56
Tabel 5.2
Tabel 5 2 . View in document p.58
  Tabel 5.4 Tanggapan Responden Terhadap Variabel Kinerja Guru
Tabel 5 4 Tanggapan Responden Terhadap Variabel Kinerja Guru. View in document p.63
Tabel 5.5
Tabel 5 5 . View in document p.66
  Tabel 5.7 Koefisien Determinasi
Tabel 5 7 Koefisien Determinasi . View in document p.70

Referensi

Memperbarui...