• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Olahraga merupakan suatu kegiatan jasmani yang dilakukan dengan maksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot-otot tubuh. Kegiatan ini dalam perkembangannya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur, menyenangkan atau juga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi. Pemerintah sendiri menjadikan olahraga sebagai pendukung terwujudnya manusia Indonesia yang sehat dengan menempatkan olahraga sebagi salah satu arah kebijakan pembangunan yaitu menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan yang cukup.

Olahraga merupakan hal yang sangat dekat dengan manusia kapan dan dimana saja berada. Sebab olahraga merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Olahraga menempati salah satu kedudukan terpenting dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan modern sekarang ini manusia tidak bisa dipisahkan dari kegiatan olahraga baik sebagai salah satu pekerjaan khusus, sebagai tontonan, rekreasi, mata pencaharian, kesehatan maupun budaya. Salah satu penunjang dalam permainan olahraga tradisional adalah olahraga rekreasi, kareana didalam olahraga rekreasi terdapat bebrapa unsur kesenangan dan kegembiraan.

Indonesia memiliki kekayaan kultural yang beragam. Untaian indah kultur, etnis, suku dan agama menghiasi bumi nusantara ini. Setiap kultur, etnis, suku dan agama memiliki ekspresi dan cara pengungkapannya masing-masing. Salah satu ekspresi itu tercermin pada olahraga tradisional yang hidup dan berkembang subur pada setiap daerah. Olahraga tradisional merupakan salah satu peninggalan budaya nenek moyang yang memiliki kemurnian dan corak tradisi setempat. Indonesia dikenal memiliki kekayaan budaya tradisional yang sangat beraneka ragam.

(2)

Permainan olahraga tradisional adalah permainan rakyat yang hidup dalam suatu masyarakat yang telah mengakar, tumbuh dan berkembang dan secara turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi. Permainan olahraga tradisional adalah budaya bangsa yang hampir punah akibat perkembangan zaman. Permainan olahraga tradisional ini hampir tidak dipermainkan lagi oleh anak-anak maupun orang dewasa baik di daerah terpencil sampai di daerah perkotaan. Disamping itu permainan olahraga tradisional sebagai asset kekayaan budaya bangsa. Sudah sepatutnya diangkat kembali untuk menunjukkan perannya dalam usaha mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu permainan olahraga tradisional perlu mendapat perioritas yang lebih besar dari pemerintah pusat dan daerah untuk turut serta bahu membahu menggali, melestarikan dan mengembangkan kembali sehingga dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat di seluruh Indonesia.

Berbagai upaya pengembangan dan pelestarian permainan olahraga tradisional saat ini, masih belum optimal dan menghadapi berbagai kendala karena memang permainan olahraga tradisional di zaman modern sudah ditinggalkan oleh generasi muda akibat berbagai permainan modern yang begitu maju dan menarik serta dipengaruhi oleh budaya maju dari masyarakat di jaman modern pula. Banyak yang lebih memilih permainan yang canggih dan bersifat ototamis serta digital. Anak-anak dan pemuda kita memiliki kecenderungan kurang mengenal permainan olahraga tradisional. Padahal perlu kita ketahui bahwa olahraga tradisional bisa menjadi modal bagi ketahanan budaya menghadapi serbuan budaya global. Permainan olahraga tradisional bisa dijadikan perisai atau jati diri bangsa dalam pentas globalisasi. Permainan olahraga tradisional yang berasal dari permainan rakyat sebagai asset budaya bangsa perlu dilestarikan dan dikembangkan diseluruh Indonesia melalui tenaga-tenaga penggerak yang terampil.

Permainan olahraga tradisional adalah salah satu unsur kebudayaan nasional yang masih hidup dan berkembang di setiap daerah-daerah di Indonesia. Peranan olahraga tradisional dalam masyarakat tidak perlu disangsikan lagi mengingat pentingnya nilai-nilai budaya (potensi didalam menyampaikan gagasan yang

(3)

mengandung pembangunan manusia seutuhnya secara keseluruhan). Dengan demikian permainan olahraga tradisional tersebut telah mampu membuat tempat kehidupan sosial budaya bangsa Indonesia, sehingga mudah dipahami bahwa permaianan olahraga tradisional yang berkembang didaerah-daerah sangat berarti dalam kehidupan bangsa Indonesia. Permainan olahraga tradisional juga memiliki dimensi lain, yakni potensi bagi upaya untuk mendukung pariwisata. Keunikan permaianan olahraga tradisional akan banyak menarik minat banyak wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia. Permainan olahraga tradsional pun memiliki dampak ekonomis terutama bagi masyarakat didaerah-daerah tersebut. Selain itu, permaianan olahraga tradisional ini berdampak positif pula bagi terwujudnya masyarakat yang sehat, bugar dan berkecukupan gerak. Karena didalamnya terkandung berbagai aktivitas dan gerak fisik yang mendukung kesehatan. Permaianan olahraga tradisional sebagai aset kekayaan budaya bangsa dapat menjadi pondasi yang kokoh dan kuat dalam membangun “nation and character” sebagai upaya mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Salah satau permaianan olahraga tradisional yang akan di angakat dan diteliti oleh penulis adalah permaianan olahraga tradisional asal Sulawesi selatan yaitu “Paraga”. Paraga merupakan permaianan tradisional yang dimaiankan oleh masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.

Orang Bugis menyebutnya “Ma’raga” untuk menyebut sebuah tradisi permainan bola (raga) yang disepak menggunakan kaki. Orang Makassar menyebutnya a’raga. Permainan ini memiliki nilai olahraga dan seni yang tinggi, yakni memadukan antara seni pencak silat dan ketangkasan. Di pedesaan Sulawesi Selatan, permainan ini masih bertahan hingga kini (Mattulada, 1979). Menurut (Mangemba 1959) “Permainan Paraga dalam masyarakat Bugis Makassar Sulawesi di Selatan juga disebabkan oleh makna filosofis yang diajarkan nenek moyang yang turun-temurun dari beberapa aspek dari permainan ini diantaranya adalah sebagai berikut”:

1. Tendangan membumbung (massempeq aratiga) dimaknai sebagai kewaspadaan yang harus dimiliki kerajaan dan masyarakat terhadap semua kemungkinan adanya bahaya dari musuh.

(4)

2. Tendangan balasan (massempeq mappalece) bermakna bahwa konflik harus dihindari dalam masyarakat.

Taradisi permaianan paraga ini merupakan permainan dan olahraga sekaligus kesenian tradisional asal Bugis Makassar, Sulawesi Selatan. Berbeda dengan permainan dan olahraga tradisional sepak takraw, paraga dipertunjukandan dipertandingkan namun tidak menggunakan skor atau angka, melainkan sebagai atraksi unjuk kebolehan. paraga juga dimainkan secara beregu dengan jumlah anggota 6 (enam) orang. Dalam paraga, bola rotan dipantul-pantulkan tidak hanya menggunakan kaki, tapi juga kepala dan tangan. Keberadaan passapu, topi segitiga yang diberi lapisan kanji agar mampu menegak, sangat membantu para pemain paraga saat melakukan olah bola dengan kepala.

Para pemain paraga juga kerap memanfaatkan sarung yang menjadi bagian dari kostum mereka untuk mengolah bola paraga. Posisi pemain dalam mengolah bola paraga pun beragam. Mulai dari berdiri, duduk, jongkok, hingga berbaring. paraga pun dimainkan dalam berbagai formasi. Salah satunya, formasi menara yang terbentuk dari tumpukan para pemain yang berdiri di atas bahu pemain lainnya hingga berbentuk seperti menara. Bola paraga juga berbeda dengan bola rotan yang kerap digunakan untuk sepak takraw. Satu bola paraga utuh memiliki tiga lapis anyaman rotan. Satu lapis anyaman membutuhkan waktu pembuatan sekitar 45 menit. Jadi, dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menganyam satu bola paraga. Kebanyakan pemain paraga bisa membuat sendiri bola raga. Jadi, jika ada bagian bola yang rusak, mereka bisa memperbaikinya. Usai dibuat, bola Paraga ini memerlukan perlakuan khusus sebelum dimainkan. Konon, bola yang di pakai para paraga diberi mantra khusus oleh guru atau pemain senior para pemain Paraga, agar keselamatan dan kekompakan para pemain tetap terjaga saat memainkan paraga.

Paraga merupakan perpaduan unsur permainan, olahraga, sekaligus kesenian tradisional Bugis Mskassar yang mimiliki nilai keindahan tersendiri. Kesenian olahraga budaya ini selalu dimainkan dengan iringan musik yang terdiri dari gendang dan gong, juga calung-calung yakni alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan potongan kayu agar para

(5)

pemainnya tetap bersemangat. Para pemain paraga ini bergerak memantul-mantulkan bola sambil menari mengikuti iringan tetabuhan musik yang dimainkan. Pada umumnya di Makassar, dalam berbagai seremonial atau pesta rakyat, permainan paraga masih digelar sebagai pendukung acara. Para pemain paraga biasanya adalah para pemuda yang terampil dan terlatih. Mereka mengenakan pakaian adat yang terdiri dari passappu (penutup kepala khas Makassar berbetuk segi tiga), baju tutup (jas tradisional), dan lipa sabbe (sarung khas Makassar yang terbuat dari kain sutera), para pemuda ini beratraksi. Hingga kini, kentalnya corak Islami masih melekat pada atraksi permainan paraga, setiap kali melakukan atraksi paraga, para pemainnya kerap melafalkan ”Lailahaillalah” dengan nada yang teratur.Demikian dilakukan untuk menjaga konsentrasi permainan yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. Kini gerakan paraga mampu dilakukan dengan formasi tingkat tiga, dimana gerakan membentuk tingkatan manusia sambil terus memainkan bola raga hingga pemain yang berada paling atas telah berdiri di posisinya. Gerakan inilah yang sekarang pada setiap penampilannya membuat penonton cemas bercampur kagum menyaksikan kepiawaian para pemaian Paraga memadukan seni, kemampuan fisik dan nuansa religius.Padaumumnya di Indonesia terdapat beragam daerah yang memiliki budaya olahraga permainan yang patut untuk di lestarikan dan dikenalkan ke manca negara. Contohnya di sulawesi selatan mempunyai budaya oalhraga permainan paraga dan di Sumatra Utara tepatnya di kabupaten Nias ada tradisi lompat batu (fahombo).

Salah satu kelompok etnik yang memainkan tradisi permaianan Paraga ini adalah masyarakat suku Bugis Makassar yang berada di Sulawesi Selatan. Suku Bugis Makassar adalah dua Etnik Suku yang bertetangga bahkan bisa di katakan kita tidak dapat membedakan kedua suku tersebut, namun dari beberapa aspek budaya, seni dan tradisi masing-masing suku tersebut memiliki perbedaan. Bahkan sangat sering kita mendengar ‘Bugis’ dan ‘Makassar’ disandingkan sehingga banyak yang menilai kata ‘Bugis’ dan ‘Makassar’ adalah sinonim. Bahkan para ilmuwan setempat sendiri ikut peran menghilangkan perbedaan kedua suku tersebut dengan melafal dan menuliskan kedua istilah tersebut menjadi kesatuan : “Bugis Makassar”. Kecenderungan ini memang berdasarkan

(6)

atas beragamnya kesamaan identitas mereka sebagai dua suku bertetangga yang mengatasi perbedaan suku dan bahasa mereka. Mereka mungkin dua suku di nusantara yang sistem hierarkinya paling kaku dan rumit. Sangat hitam putih.Proses alkulturasi di segala aspek kehidupan, termasuk dalam seni sastra, menciptakan berbagai kesamaan budaya diantara kedua suku tersebut. Sepanjang peradaban kedua suku tersebut, sejumlah ciri khas melekat pada manusianya. Salah satunya bagaimana tetap berpandangan hierarki sekaligus modern, dorongan untuk kompetitif sekaligus berkompromi, menjunjung tinggi kehormatan tapi juga merawat kesetiakawanan.

Nilai-nilai keberanaian, kecerdasan, ketaatan terhadap ajaran agama, kelihaian dalam bisnis merupakan varibael yang menggerakkan kehidupan dinamis Bugis dan Makassar selama ini. Mereka tipikal orang berkarakter keras dan sangat menjujunjung tinggi kehormatan, bila perlu demi mempertahankan kehormatan, mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Tak peduli hukum positif mengancam mereka. Perilaku ini sering dialibikan dengan istilah “Siri”.Dalam kehidupan orang Bugis dan Makassar, Siri adalah unsur yang sangat prinsipil dalam diri mereka. Tak adasatu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan dimuka bumi selain daripada Siri. Siri adalah jiwa mereka, harga diri, dam martabat mereka sebagai manusia. Tak ada lagi gunanya hidup bagi orang Bugis dan orang Makassar ketika rasa bangga dan malunya tercemar atau dicemarkan oleh orang lain.

Terlepas dari banyaknya persamaan dan eratnya hubungan serta saling menaruh hormat, sangat perlu ditegaskan bahwa orang Bugis dan Makassar tetaplah dua suku yang berbeda. Orang Bugis berpopulasi lebih dari empat juta orang, menghuni hampir seluruh daratan dan perbukitan sebelah tengah dan selatan. Sedangkan orang Makassar dengan populasi lebih dari dua juta orang menetap di ujung selatan semenanjung, tersebar di sepanjang tepi pantai maupun dipegunungan. Contohnya dari segi bahasa, Kedua pihak baik Bugis maupun Makassar tidak dapat saling mengerti manakala mereka berinteraksi dengan bahasa masing-masing.

(7)

Sulawesi Selatan merupakan Salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan sulawesi ibu kotanya adalah Makassar terletak pada koordinat 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 45.764,53 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan. Daerah sulawesi selatan di Mandar dan Toraja. Dari empat suku ini masing-masing memiliki adat istiadat yang berbeda-beda sehingga masing-masing suku mempunyai cara pandang kehidupan yang berbeda pula dalam aspek sosial dan budaya.

Keterampilan gerak olahraga adalah suatu tugas gerak secara maksimal sesuai dengan kemampuannya. Salah satu hal yang menunjang dalam pelaksanaan olahrga tradisional yaitu pembentukan keterampilan gerak, hiburan, kesenangan, dan kebutuhan interaksi sosial, olahraga ini juga mempunyai potensi untuk meningkatkan kualitas jasmani bagi pelakunya, hal ini sangat penting dalam pelaksanaan tradisi olahraga permainan, perlu diketahui bahwa penguasaan keteampilan dan teknik dalam olahraga permaianan ini sangat diperlukan bagi pemain demi keberlangsungan dan kelancaran dalam memainkan suatu gerakan yang sesuai dengan semestinya.

Keterampilan gerak merupakan salah satu hal yang paling penting dalam olahraga, karena tanpa ketarampilan gerak yang baik dan sempurna maka seseorang tidak mampu melaksanakan gerakan-gerakan yang baik pula dalam melaksanakan aktifitas berolahraga. Maka dari itu keterampilan gerak sangat di butuhkan dan sangat berperan penting dalam berolahraga. Keterampilan merupakan gambaran kemampuan gerak seseoarang yang ditunjukkan melalui peningkatan suatu gerakan. Keterampilan gerak merupakan perubahan yang diperoleh melalui program pembelajaran gerak yang terencana, sistematis dan berkelanjutan. Tujuan utama proses belajar gerak adalah peningkatan keterampilan. Orang dikatakan memiliki keterampilan jika dirinya terampil melakukan sesuatu gerakkan tertentu dengan baik. Istilah keterampilan gerak (motor skill) secara konseptual dapat diartikan dalam dua cara. pertama, keterampilan dipandang sebagai sebuah tugas atau kerja (task), dan yang kedua keterampilan dipandang sebagai taraf kecakapan unjuk kerja (level of performance

(8)

proficiency) yang dapat membedakan taraf keterampilan tinggi dan rendah. Agar tujuan pembelajaran dan keterampilan gerak yang dicapai dengan baik, maka setiap individu harus mempunyai unsur keterampilan gerak yang baik, yang meliputi : (1) Unsur kemampuan fisik yang meliputi : kekuatan, daya tahan, kelincahan beraktifitas dan ketajaman indera, (2) unsur kemampuan mental.

Ketangkasan fisik adalah kemampuan merubah secara tepat arah tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan. Ketangkasan sebagai kebolehan untuk mengubah posisi badan dengan cepat dan tepat. Oleh sebab itu didalam melakukan permaianan paraga sangat diperlukan ketangkasan fisik, demi terciptanya permainan paraga yang sempurna. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tampa ketangkasan fisik yang baik kita tidak dapat memainkan bola raga dengan baik.

Berdasarkan dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka penulis ingin melakukan suatu penelitian yang berjudul “Permainan Paraga Sebagai Olahraga Tradisional Masyarakat Suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan dengan anak judul Studi Fenomenologis Ditinjau dari Aspek Keterampilan Gerak Dan Ketangkasan Fisik”.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana sejarah dan perkembangan permainan paraga yang dimainkan oleh masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan ?

2. Bagaimana pandangan masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan terhadap permainan paraga ?

3. Bagaimana cara pelaksanaan permainan paraga yang dimainkan oleh masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi selatan ?

4. Bagaimana aspek keterampilan gerak yang terdapat pada permainan paraga yang dimainkan oleh masyarakat Suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan ? 5. Bagaimana aspek ketangkasan fisik yang terdapat pada permainan paraga

(9)

C. Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengidentifikasi sejarah dan perkembangan permainan paraga yang dimainkan oleh masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.

2. Untuk mengidentifikasi pandangan masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan terhadap permainan paraga.

3. Untuk mengidentifikasi tata cara pelaksanaan masyarakat suku Bugis Makassar dalam melakukan permainan paraga.

4. Untuk mengidentifikasi aspek keterampilan gerak yang terdapat pada permaianan paraga yang dimainkan oleh masyarakat Suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.

5. Untuk mengidentifikasi aspek ketangkasan fisik yang terdapat pada permaianan paraga yang dimainkan oleh masyarakat Suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.

D. Manfaat penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Agar masyarakat dan pembaca bisa mengetahui bagaimana sejarah dan perkembangan permainan paraga yang dimainkan oleh masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.

2. Agar masyarakat dan pembaca bisa mengetahui bagaimana pandangan masyarakat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan terhadap permainan paraga.

3. Agar masyarakat dan pembaca bisa mengetahuibagaimana tata cara pelaksanaan masyarakat suku Bugis Makassar dalam melakukan permainan paraga.

4. Agar masyarakat dan pembaca bisa mengetahui bagaimana aspek keterampilan gerak yang terdapat pada permaianan paraga yang dimainkan oleh masyarakat Suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.

(10)

5. Agar masyarakat dan pembaca bisa mengetahi bagaimana aspek ketangkasan fisik yang terdapat pada permaianan paraga yang dimainkan oleh masyarakat Suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan.

Referensi

Dokumen terkait

Latar belakang di atas menjadi dasar pemikiran penulis untuk melakukan penelitian tentang penerapan hasil belajar “Menggambar Ornamen” pada pembuatan desain motif batik

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Efektifitas model pembelajaran konstruktivisme menggunakan

Berdasarkan uraian di atas, maka melalui penelitian ini penulis mencoba untuk menjabarkan latar belakang pembentukan idiom ini berupa pendeskripsian hubungan

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai implementasi nilai- nilai toleransi pada

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul “STUDI EKSPERIMENTAL VAPOR CARBURETOR

Berdasarkan latar belakang diatas, maka Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi dengan judul OPTIMALISASI FUNGSI REGULEREND PAJAK

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Penerapan Media E-learning Berbasis

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka akan dibahas mengenai upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan penelitian yang berjudul: PENERAPAN MODEL