BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Guna untuk mempercepat penelitian ini, maka pengumpulan data dilakukan

25  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB IV

ANALISIS HASIL PENELITIAN

4.1. Pengumpulan Data

Guna untuk mempercepat penelitian ini, maka pengumpulan data dilakukan melalui banyak cara yaitu penyebaran kuesioner secara langsung, direct mail, ataupun dengan memanfaatkan mailing list yang ada pada database pelanggan. Pengumpulan data yang dilakukan memakan waktu selama ± 1 (satu) bulan. Penyebaran kuisioner dilakukan dengan memanfaatkan pelanggan yang sedang melakukan service berkala dan pelanggan walk-in yang datang ke seluruh showroom Auto 2000 yang akan sangat membantu dalam proses pengisian kuesioner secara langsung. Selain itu, penyebaran kuesioner juga dilakukan dalam bentuk email dengan memanfaatkan beberapa mailing list database pelanggan Auto 2000 yang ada di bagian customer relation officer. Total responden yang menerima permintaan mengisi kuisioner melalui online survey tersebut sebanyak 100 responden. Namun tidak semua jumlah responden menanggapi kuesioner yang dibagikan. Dari total 100 kuesioner yang dibagikan kepada responden melalui email, hanya 80 kuisioner yang di kembalikan dan memenuhi persyaratan untuk dipakai dalam pengolahan data. Lain halnya melalui pembagian kuesioner langsung di showroom Toyota Auto 2000, kuisioner langsung diisi dan dapat langsung diterima kembali sebanyak 120 buah. Disamping itu, sisa kuesioner dari mailing list sebanyak 35 buah akan dilanjutkan untuk dibagikan secara langsung kepada pelanggan di showroom.

(2)

Para pelanggan sangat antusias dalam mengisi kuesioner yang dibagikan, dan total keseluruhan kuesioner yang didapat adalah 235 buah.

4.2. Profil Responden Penelitian

Bagian ini akan membahas karakteristik responden pengguna / pemakai mobil Toyota Avanza berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan setiap bulan, dan lama waktu pemakaian kendaraan saat ini. Berikut profil responden pada penelitian ini.

Gambar 4.1. Jenis Kelamin Responden

Sumber : Survey Kuesioner

Dari Gambar 4.1 di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden laki-laki mendominasi pengisian kuesioner dengan 72% dibandingkan dengan responden perempuan sebesar 28%.

(3)

4.2.2. Usia

Usia memiliki kaitan dengan perilaku dan cara berpikir seseorang karena dengan bertambahnya usia, perilaku dan pemikiran seseorang juga ikut berubah. Dalam penelitian ini, usia responden dikategorikan kedalam empat kelompok yaitu dibawah 20 tahun, antara 20 tahun sampai 30 tahun, antara 30 tahun sampai 40 tahun dan diatas 40 tahun (Gambar 4.2).

Gambar 4.2. Usia Responden

Sumber : Survey Kuesioner

Dari data tersebut mayoritas usia responden adalah antara 20-30 tahun yaitu sebesar 39%. Sedangkan usia diatas 30-40 tahun adalah sebesar 33% dan usia dibawah 20 tahun sebesar 10%.

(4)

4.2.3. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu karakteristik yang dapat mempengaruhi seseorang dalam membuat keputusan pembelian. Latar belakang pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini.

Gambar 4.3. Tingkat Pendidikan Responden

Sumber : Survey Kuisioner

Berdasarkan Gambar 4.3 mengenai tingkat pendidikan responden, diketahui bahwa responden dengan tingkat pendidikan S1 merupakan mayoritas responden dengan persentase sebesar 60%. Sementara responden dengan tingkat pendidikan dibawah S1 sebesar 11% dan S2 sebesar 23%. Dan persentase terkecil adalah responden dengan tingkat pendidikan S3 yaitu hanya sebesar 6%.

(5)

4.2.4. Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan menggambarkan karakteristik dan status responden yang membeli mobil Toyota Avanza tersebut. Jenis pekerjaan responden dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4. Jenis Pekerjaan Responden

Sumber : Survey Kuisioner

Berdasarkan Gambar 4.4 mengenai jenis pekerjaan responden yang membeli mobil Toyota Avanza, mayoritas bekerja sebagai wiraswasta dengan persentase sebesar 56%. Sementara responden yang bekerja sebagai pegawai negri sebesar 21% diikuti oleh professional dengan presentase sebesar 18%. Persentase terkecil adalah responden yang bekerja sebagai dokter dengan persentase sebesar 5%.

(6)

4.2.5 Tingkat Pengeluaran

Tingkat pengeluaran juga dapat mempengaruhi responden dalam mengambil keputusan untuk membeli mobil atau tidak. Berikut ini dapat dilihat data responden menurut tingkat pengeluaran perbulan.

Gambar 4.5. Tingkat Pengeluaran per Bulan Responden

Sumber : Survey Kuisioner

Hasil penelitian menemukan bahwa 9% responden memiliki tingkat pengeluaran antara 20-30 juta, diikuti dengan responden yang memiliki tingkat pengeluaran antara 10-20 juta yaitu sebesar 39%. Sementara presentase terbesar adalah responden yang memiliki tingkat pengeluaran lebih dari 10 juta yaitu sebesar 48%, sedangkan persentase terkecil adalah responden dengan tingkat pengeluaran diatas 30 juta yaitu hanya sebesar 4%.

(7)

4.2.6. Lama Penggunaan Mobil

Lama penggunaan atau pemakaian mobil juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli sebuah mobil dimana faktor ini berhubungan dengan pengalaman dan pengetahuan responden akan mobil yang dia gunakan selama ini. Data mengenai lamanya waktu penggunaan mobil Toyota Avanza dapat dilihat pada Gambar 4.6 berikut.

Gambar 4.6. Lama Penggunaan Mobil Toyota Avanza Saat

Ini.

Sumber : Survey Kuisioner

Gambar 4.6 tersebut menjelaskan bahwa mayoritas responden dengan persentase sebesar 58% telah menggunakan mobil Toyota Avanza selama kurang dari 2 tahun, sedangkan presentase terkecil adalah sebesar 3% yaitu responden menggunakan mobil Toyota Avanza selama lebih dari 5 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah responden yang telah lama menggunakan mobil Toyota Avanza lebih sedikit

(8)

dibandingkan dengan jumlah responden yang belum terlalu lama menggunakan mobil Toyota Avanza.

4.3. Uji Validitas.

Pada awal penelitian ini dilakukan pretest dengan cara menyebarkan kuisioner kepada 30 responden pengguna mobil Toyota Avanza dengan maksud untuk mengetahui model pengukuran serta indikator yang valid dan reliable untuk mengukur model penelitian. Dalam menyusun kuisioner, terdapat beberapa indikator yang diwakili oleh lebih dari satu pertanyaan. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mempermudah proses penelitian dan analisis data sehingga apabila ditemui satu pertanyaan yang tidak mampu mengukur indikator tertentu maka diharapkan pertanyaan yang lain bisa mewakili indikator tersebut. Pengujian hasil pretest tersebut dilakukan dengan menggunakan metode factor analysis sehingga diperoleh model pengukuran pretest yang tampak pada tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1. Indikator Model Pengukuran Pretest

Indikator Variabel

X1 Model Dinamis Karakteristik Produk

X2 Model Sporty Karakteristik Produk

X3 Bahan Bakar Irit Karakteristik Produk X4 Maintenance yang mudah Karakteristik Produk X5 Tempat service yang mudah Karakteristik Produk X6 Sparepart yang mudah Karakteristik Produk X7 Pengoperasian yang mudah Karakteristik Produk

(9)

X8 Daya angkut yang banyak Karakteristik Produk X9 Cocok untuk daerah perkotaan Karakteristik Produk X10 Harga jual kembali yang tinggi Harga Jual Kembali X11 Tidak memerlukan waktu yang lama,

jika ingin dijual

Harga Jual Kembali X12 Unit bekasnya menjadi incaran Harga Jual Kembali

X13 Harga Jual Kembali yang stabil Harga Jual Kembali X14 Tidak rugi jika membeli Toyota

Avanza jika dikalkulasikan

Harga Jual Kembali X15 Harga sparepart bekas yang murah Harga Jual Kembali X16 Ongkos perbaikan yang murah Harga Jual Kembali X17 Pajak kendaraan yang murah Harga Jual Kembali X18 Merek yang telah dikenal public Ekuitas Merek X19 Image Toyota yang bagus Ekuitas Merek X20 Market leader di Indonesia Ekuitas Merek X21 Layanan purna jual yang handal Ekuitas Merek X22 Mobil keluarga yang paling laku di

Indonesia Ekuitas Merek

X23 Banyak kerabat dan saudara yang

menggunakan Ekuitas Merek

X24 Pengalaman yang dibangun saat mengendarai

Ekuitas Merek X25 Banyak distributor yang menaungi

merek Toyota

Ekuitas Merek Y1 Rencana pembelian Toyota Avanza

tahun ini

Intensi Pembelian Y2 Merekomendasikan Toyota Avanza

kepada kerabat / rekan kerja

Intensi Pembelian Y3 Merekomendasikan Toyota Avanza

kepada saudara

Intensi Pembelian Y4 Berinvestasi dengan membeli Toyota

Avanza Intensi Pembelian

Y5 Berharap dapat membeli Toyota

Avanza di masa yang akan datang Intensi Pembelian Y6 Membeli Toyota Avanza lebih dari

satu unit

Intensi Pembelian Y7 Membeli Toyota Avanza karena

diskon

Intensi Pembelian Y8 Membeli Toyota Avanza karena

harganya yang terjangkau

Intensi Pembelian Y9 Toyota Avanza akan menjadi mobil Loyalitas Pelanggan

(10)

kesayangan saya

Y10 Tidak akan dijual dalam waktu dekat Loyalitas Pelanggan Y11 Akan dirawat dengan baik Loyalitas Pelanggan Y12 Menjadi mobil yang akan sering saya

pakai

Loyalitas Pelanggan Y13 Mobil yang akan saya beli, apabila

mengeluarkan model yang baru

Loyalitas Pelanggan Y14 Tetap menjadi pilihan pertama,

apabila harga mengalami kenaikan

Loyalitas Pelanggan Y15 Tetap menjadi mobil pilihan keluarga Loyalitas Pelanggan

Model yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode estimasi maximum likelihood. Metode ini merupakan metode estimasi yang sering digunakan untuk analisis data dengan menggunakan metode structural equation model (SEM). Dasar pemilihan metode analisis ini adalah karena jumlah responden yang diambil melebihi jumlah minimum yang ditetapkan yaitu 5 kali jumlah variabel observasi, dimana jumlah minimum yang diperoleh adalah sebesar 200 responden sementara penelitian ini dilakukan terhadap 235 responden.

Dalam menganalisis model penelitian maka langkah awal yang dilakukan adalah menguji dengan menggunakan metode factor analysis. Dengan menggunakan SPSS versi 16.0 diperoleh beberapa indikator penelitian yang tidak memenuhi syarat untuk masing-masing variabel penelitian seperti disajikan pada tabel – tabel berikut ini.

(11)

Tabel 4.2. Hasil Uji Validitas Terhadap 235 Responden

Variabel Kode KMO MSA Keterangan

Karakteristik Produk KP1 0.858 0.632 Valid KP2 0.653 Valid KP3 0.555 Valid KP4 0.757 Valid KP5 0.792 Valid KP6 0.638 Valid KP7 0.788 Valid KP8 0.528 Valid

Harga Jual Kembali

HJK1 0.811 0.573 Valid HJK2 0.652 Valid HJK3 0.567 Valid HJK4 0.671 Valid HJK5 0.687 Valid HJK6 0.580 Valid HJK7 0.508 Valid Ekuitas Merek EM1 0.865 0.580 Valid EM2 0.627 Valid EM3 0.505 Valid EM4 0.595 Valid EM5 0.702 Valid EM6 0.610 Valid EM7 0.642 Valid Intensi Pembelian IP1 0.889 0.541 Valid IP2 0.601 Valid IP3 0.659 Valid IP4 0.678 Valid IP5 0.739 Valid IP6 0.544 Valid Loyalitas Pelanggan LP1 0.865 0.580 Valid LP2 0.627 Valid LP3 0.505 Valid LP4 0.595 Valid LP5 0.702 Valid

(12)

LP6 0.610 Valid

LP7 0.642 Valid

Sumber: output PASW Statistic 16

4.4. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan data dari 235 responden dan dengan menggunakan PASW Statistic 16 metode analisis reliabilitas.

Tabel 4.3. Hasil Uji Reliabilitas Terhadap 235 Responden

Pengujian Koefisien Alpha

Cronbach Keterangan Karakteristik Produk 0.928 Reliable Harga Jual Kembali 0.890 Reliable

Ekuitas Merek 0.885 Reliable

Intensi Pembelian 0.878 Reliable

Loyalitas Pelanggan 0.885 Reliable

Sumber: output PASW Statistic 16

Pada tabel 4.3 dapat disimpulkan bahwa semua variabel memiliki tingkat reliabilitas yang baik karena telah memenuhi persyaratan yang ada dimana menurut Malhotra (2004), construct reliability memenuhi syarat apabila variabel memiliki nilai construct variable sebesar >0.70 dan nilai Koefisien Alpha Cronbach lebih besar dari 0.6.

(13)

4.5. Pengujian Kecocokan Model

Tahapan ini ditujukan untuk mengevaluasi tingkat kecocokan antara data dengan model, validitas dan reliabilitas model pengukuran serta signifikasi koefisien-koefisien dari model struktural dengan menggunakan SEM (Structural Equation Modeling) dengan aplikasi LISREL 8.70. SEM menggambarkan hubungan antar konstruk yang telah dihipotesiskan. Hasil perhitungan pengujian kecocokan keseluruhan model dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini.

Tabel 4.4. Uji Kecocokan Model Indeks

Ketepatan Model

Tingkat Kecocokan yang

bisa diterima Indeks Model Keterangan Chi Square Semakin kecil semakin baik

(P-values ≥ 0.05)

1155,83

(P-value=0.0) Cukup baik Goodness of Fit

Index (GFI)

GFI≥0.90 = good fit dan 0.80≤GFI<0.90 = marginal fit 0.83 Marginal fit Root Mean Square Residual (RMSR)

RMSR≤0.05 = good fit 0.043 Good fit Root Mean

Square Error of Approximation

(RMSEA)

RMSEA≤0.08 = good fit dan

RMSEA<0.05 = close fit 0.072 Good fit

Adjusted Goodness of Fit

Index (AGFI)

nilai antara 0-1, lebih tinggi lebih baik

AGFI≥0.90 = good fit dan 0.80≤AGFI<0.90 = marginal

fit

0.8 Marginal fit

(14)

Dalam tabel tersebut dapat dilihat hasil uji kecocokan keseluruhan model SEM. Hasil uji tersebut berturut-turut tampak pada indeks Chi Square sebesar 1155,83 dalam kategori cukup baik, GFI sebesar 0.83 dalam kategori marginal fit, RMSR sebesar 0.043 dalam kategori good fit, RMSEA sebesar 0.072 dalam kategori good fit, dan AGFI sebesar 0.8 dalam kategori marginal fit, sehingga dapat disimpulkan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijadikan dasar analisa terhadap permasalahan penelitian ini.

4.5. Hasil Pengujian Hubungan Antar Variabel

Model struktural pada gambar 4.7. memiliki nilai Chi-Square sebesar 1187,85. Seperti yang telah dinyatakan diatas, statistik Chi-Square mengikuti uji statistik yang berkaitan dengan dengan persyaratan signifikan, dimana semakin kecil nilai Chi-Square maka semakin baik pula kecocokan model dengan data. Goodness of Fit Index (GFI) yang dimiliki model juga relatif memiliki kecocokan yang marginal karena bernilai 0.83, dimana GFI berada pada kisaran 0.80≤GFI<0.90 adalah dalam skala marginal fit. Residual rata-rata antara matrik (korelasi atau kovarian) teramati dari hasil estimasi (RMSR = 0.043≤0.05) dinilai good-fit. Rata-rata perbedaan per degree of freedom yang diharapkan terjadi dalam populasi dan bukan dalam sampel juga telah good fit (RMSEA = 0.072<0.05). Demikian juga dengan nilai AGFI yang bernilai 0.80 (0.80≤AGFI<0.90) dinilai dalam skala marginal fit.

(15)

Gambar 4.7. Path Diagram dengan Indikator Masing-Masing Variabel

Sumber: output Standardized LISREL 8.70

Mengacu pada model diatas, dapat dijelaskan hubungan antar variabel penelitian sebagai berikut. Pengaruh karakteristik produk terhadap intensi pembelian ditunjukkan dengan koefisien path yang positif sebesar 0.19. Selain itu intensi pembelian juga dipengaruhi oleh variabel harga jual kembali dan ekuitas merek dengan koefisien path masing-masing sebesar 0.18, dan -0.17. Besarnya pengaruh ketiga variabel ini terhadap variabel intensi pembelian terlihat dari nilai determinasi (R²) yang besarnya 0.20. Hal ini menandakan bahwa ketiga variabel-variabel tersebut memberikan kontribusi secara

(16)

bersama-sama terhadap variabel intensi pembelian sebesar 20% dan 80% yang diduga dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak terdapat dalam model.

Pengaruh variabel lainnya yaitu karakteristik produk, ekuitas merek dan intensi pembelian yang mempengaruhi variabel loyalitas pelanggan ditunjukkan dengan koefisien path masing-masing sebesar 0.20, 0.12, 0,22. Hal ini menandakan bahwa ketiga variabel eksogen tersebut memberikan kontribusi secara bersama-sama terhadap variabel loyalitas pelanggan sebesar 27% dan 73% yang diduga dipengaruhi oleh variabel eksogen lainnya yang tidak terdapat dalam model.

4.6. Hasil Pengujian Hipotesis

Model struktural yang diajukan acuan dalam menguji hipotesis penelitian seperti yang tampak dalam gambar 4.8 dengan melihat nilai t (t-values) dari masing-masing parameter yang bersangkutan.

(17)

Gambar 4.8. Path Diagram dengan Melihat T-values

Sumber: output T-values LISREL 8.70

Pengujian hipotesis penelitian yang pertama (H1): terdapat pengaruh positif antara karakteristik produk terhadap intensi pembelian, ternyata hasil penelitian menemukan besaran koefisien path 0.19 dengan nilai-t sebesar 2.46 > 1.96, yang berarti signifikan. Ini menandakan bahwa hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian adalah didukung oleh data dimana terdapat pengaruh positif antara karakteristik produk

(18)

terhadap intensi pembelian. Pemaparan penelitian oleh Wildt (1994), menjelaskan bahwa fitur-fitur produk dan harga adalah keputusan penting yang digunakan oleh para marketer untuk mengevaluasi keseluruhan produk dan perilaku pembelian konsumen. Pemaparan lainnya oleh Trout (2004) dimana minat pembelian terbanyak, terletak pada pemilihan atribut-atribut produk seperti warna, desain, spesifikasi, dan manfaat yang dapat memposisikan produk tersebut pada kelasnya. Dari hasil penelitian diatas, maka dilakukan wawancara kepada responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perihal keadaan ini sebagai berikut :

“ Saya memutuskan untuk memilih Toyota Avanza karena suka melihat penampilan Toyota Avanza yang baru, penambahan sensor parking, chrome grill dan side skirt pada body pada Toyota Avanza Type-S makin menunjukkan kelengkapan fitur dan keseriusan yang diberikan Toyota pada produknya di kelas mini-SUV “. (Rendy, Pengusaha, 30 tahun)

“ Toyota Avanza kini hadir dengan Type-E Automatic Tranmission, dimana harga sesuai dengan katong saya walaupun fitur tidak terlalu lengkap seperti tipe-tipe diatasnya “.(Suheni, Pegawai Negri, 35 tahun)

Pengujian hipotesis penelitian yang kedua (H2): terdapat pengaruh positif antara harga jual kembali terhadap intensi pembelian dengan hasil penelitian menemukan besaran koefisien path 0.18 dengan nilai-t sebesar 2.43. Besar nilai-t = 2.43 < 1.96 adalah signifikan. Ini menandakan bahwa hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian adalah didukung data dimana terdapat pengaruh positif antara harga jual kembali terhadap intensi pembelian. Pemaparan oleh Kidwell 2008 yang meneliti produk telepon selular menjelaskan bahwa pembelian produk telepon selular oleh

(19)

konsumen sangat memperhatikan harga jual kembali. Hal ini karena produk telepon selular selalu berkembang dengan sangat cepat, sehingga memungkin konsumen unutk berganti produk dengan tipe yang lebih baru meskipun produk yang lama masih dapat berfungsi dengan baik. Merek yang terkenal akan jauh memiliki harga jual kembali yang lebih tinggi dibandingkan dengan merek yang tidak terkenal. Begitu pula mobil, yang mempunyai karakteristik yang sama dengan telepon selular yaitu memiliki perkembangan modifikasi produk yang sangat cepat. Dari hasil penelitian diatas, maka dilakukan wawancara kepada responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perihal keadaan ini sebagai berikut :

“ Harga jual kembali jelas penting untuk dipertimbangkan sebelum membeli mobil. Saya memiliki mobil Toyota Avanza tahun 2008 yang masih stabil di harga Rp.130.000.000, selisih tidak terpaut jauh dengan harga Toyota Avanza yang baru yaitu Rp.146.550.000. Itulah mengapa saya membeli Toyota Avanza. (Syahrul, Pegawai Negri, 38 tahun).

“ Untuk keperluan niaga mobil bekas, membeli Toyota Avanza lebih menguntungkan daripada mobil lainnya karena didukung oleh harga jual kembali yang tinggi dan banyak peminatnya. (Darma, Pengusaha, 31 tahun).

Pengujian hipotesis penelitian yang ketiga (H3): terdapat pengaruh positif antara ekuitas merek terhadap intensi pembelian, ternyata hasil penelitian menemukan besaran koefisien path -0.17 dengan nilai-t sebesar -2.19. Besar nilai-t = -2.19 < 1.96 adalah tidak signifikan. Ini menandakan bahwa hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian adalah tidak didukung data dimana tidak terdapat pengaruh positif antara ekuitas merek terhadap intensi pembelian. Sedangkan merek merupakan suatu asset perusahaan yang

(20)

sangat berharga. Suatu merek yang kuat dan terkenal memberikan efek emosional yang sangat besar bagi konsumen (Riana, 2008;Adaval, 2003). Pemamparan lainnya oleh Kidwell (2008) yang mengembangkan konsep kecerdasan emosional konsumen, menjelaskan bahwa emosional yang ditimbulkan oleh merek tersebut berpengaruh terhadap proses penilaian suatu produk, yang selanjutnya berpengaruh kepada intensi pembelian. Oleh karena itu, kemampuan konsumen dalam mengelola emosinya akan berpengaruh pada penilaian konsumen terhadap suatu produk bermerek.

Hal yang menyebabkan hipotesis penelitian ketiga (H3) tidak signifikan : karena menurut hasil dari pengisian kuisioner, rata-rata responden yang telah memiliki mobil lebih dari satu unit, sehingga ekuitas merek bukan merupakan faktor utama mengapa responden ingin membeli sebuah mobil. Oleh sebab itu, menimbulkan hasil pengisian kuisioner yang kurang baik, sehingga pada saat dikaitkan antara variabel ekuitas merek dengan intensi pembelian, hasil hipotesis yang diperoleh tidak signifikan atau tidak didukung data. Hal tersebut juga diperkuat dengan hasil koefisien determinasi (R²) sebesar 0,0235 yang berarti variabel ekuitas merek hanya memberikan kontribusi terhadap variabel intensi pembelian sebesar 23,5% dan 76,5% diduga dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak terdapat dalam model. Untuk mendukung hasil penelitian diatas, maka dilakukan wawancara kepada responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perihal keadaan ini sebagai berikut :

“ Sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk, maka kita tentu akan memperhatikan banyak faktor. Apalagi produk tersebut adalah mobil yang harganya tidaklah murah. Bagi saya pribadi, kualitas dan harga adalah faktor yang sangat penting sebelum melakukan pembelian. Saya membeli Toyota

(21)

Avanza karena harganya yang terjangkau dengan uang kantong saya dan mudah dalam pemeliharaannya. Disamping itu Toyota Avanza juga cocok untuk didaerah perkotaan seperti Jakarta “. (Robby, Pegawai Swasta, 27 tahun)

“ Brand merupakan atribut yang sangat kuat dalam purchase decision. Tetapi produk yang laku dipasaran tidak semua dikarenakan oleh besarnya brand tersebut dimata masyarakat, melainkan banyaknya faktor lain yang menyebabkan produk tersebut laris di pasaran. Saya menggunakan Toyota Avanza karena karakteristik medium suv car-nya yang irit bahan bakar dan model yang dinamis, cocok untuk para pekerja kantoran seperti saya “. (Dewi, Pegawai Swasta, 24 tahun)

Pengujian hipotesis penelitian yang keempat (H4): terdapat pengaruh positif antara intensi pembelian terhadap loyalitas pelanggan, ternyata hasil penelitian menemukan besaran koefisien path 0.22 dengan nilai-t sebesar 2.80. Besar nilai-t = 2.80 > 1.96 adalah signifikan. Ini menandakan bahwa hipotesis keempat yang diajukan dalam penelitian adalah didukung data dimana terdapat pengaruh positif antara intensi pembelian terhadap loyalitas pelanggan. Hal ini didukung oleh pemaparan Mowen dan Minor (1998) dalam Dharmmesta (1999) menggunakan definisi loyalitas dalam arti kondisi dimana konsumen mempunyai sikap positif terhadap sebuah merek, mempunyai komitmen pada merek tersebut, dan bermaksud meneruskan pembeliannya dimasa mendatang. Dari hasil penelitian diatas, maka dilakukan wawancara kepada responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perihal keadaan ini sebagai berikut :

(22)

“ Mobil merupakan trend yang di masa sekarang tampaknya sudah menjadi kebutuhan primer. Minat untuk membeli suatu mobil akan terus meningkat apabila Toyota Avanza di masa yang akan datang mampu menampilkan kualitas, desain, dan fitur-fitur lainnya yang lebih bermanfaat. Apabila penampilan dari produk Toyota Avanza yang terbaru mampu diterima dengan baik oleh masyarakat, loyalitas akan terbentuk dengan sendirinya. (Henny, Proffesional, 29 tahun)

“ Saya tidak tau menahu soal spesifikasi mobil, sparepart, mesin, perawatan dan pola pemeliharaannya, tetapi saudara dan kerabat dekat sering mereferensikan Toyota Avanza kepada saya karena sangat menunjang aktivitas sehari-hari saya. Sampai sekarang saya telah menggunakan Toyota Avanza selama kurang lebih 3 tahun, dan saya enggan untuk beralih dalam waktu dekat ini. (Santy, Pegawai Negri, 28 tahun)

Pengujian hipotesis penelitian yang kelima (H5): terdapat pengaruh positif antara karakteristik produk terhadap loyalitas pelanggan, ternyata hasil penelitian menemukan besaran koefisien path 0.20 dengan nilai-t sebesar 2.93. Besar nilai-t = 2.93 > 1.96 adalah signifikan. Ini menandakan bahwa hipotesis kelima yang diajukan dalam penelitian adalah didukung data dimana terdapat pengaruh positif antara karakteristik produk terhadap loyalitas pelanggan. Pemaparan oleh Kotler & Amstrong (1996) menjelaskan bahwa atribut – atribut produk seperti (spesifikasi, desain, manfaat, dll) dari suatu produk dapat menimbulkan manfaat fungsional dan emosional kepada konsumen untuk selalu mengingat produk tersebut. Dari hasil penelitian diatas, maka dilakukan wawancara kepada responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perihal keadaan ini sebagai berikut :

(23)

“ Dari saya membeli pertama kali sampai kali ketiga saya melakukan pembelian, Toyota Avanza mengalami perkembangan model yang menurut saya sangat bagus. Sekarang Toyota Avanza diperlengkap dengan side skirt dan bumper facelift di depan dan belakang. Model yang sekarang menarik perhatian saya untuk beralih ke model yang baru (Mamat, Pegawai Swasta, 33 tahun).

“ Saya itu dari dulu selalu pilih Toyota Avanza karena ngurusnya gampang, onderdilnya murah dan bisa muat banyak barang dibagasinya. Sampai keluar model yang baru dengan tipe automatic saya tetap menggunakan Toyota Avanza. (Wenny, Dokter, 29 tahun)

“Toyota Avanza itu irit trus ngga boros, makanya saya tertarik membeli Toyota Avanza. Selain itu banyak varian – varian dan pilihan warnanya. (Aang, Pengusaha, 34 tahun)

Pengujian hipotesis penelitian yang keenam (H6): terdapat pengaruh positif antara ekuitas merek terhadap loyalitas pelanggan, ternyata hasil penelitian menemukan besaran koefisien path 0.08 dengan nilai-t sebesar 1.53. Besar nilai-t = 1.53 < 1.96 adalah tidak signifikan. Ini menandakan bahwa hipotesis keenam yang diajukan dalam penelitian adalah tidak didukung data dimana tidak terdapat pengaruh positif antara ekuitas merek terhadap loyalitas pelanggan. Loyalitas terhadap sebuah merek adalah elemen yang lebih penting daripada semua elemen lain yang berkontribusi terhadap ekuitas merek. Aaker (1991) menjelaskan bahwa loyalitas pelanggan berhubungan dengan pengalaman yang dibangun sewaktu menggunakan merek itu sendiri. Pemaparan lainnya oleh Chaudri dan Holbrook (2002) dimana loyalitas pelanggan dengan merek memainkan peran penting dalam kesuksesan masa depan dan keuntungan lingkungan dalam jangka panjang. Selain itu, tingkat loyalitas yang ditunjukkan oleh para pelanggan

(24)

untuk sebuah merek tertentu memainkan sebuah peranan penting dalam pembentukan ekuitas merek.

Hal yang menyebabkan hipotesis penelitian keenam (H6) tidak signifikan adalah jumlah presentase responden, dilihat dari lama penggunaan mobil Toyota Avanza. Pada gambar 4.6 tersebut menjelaskan bahwa mayoritas responden dengan persentase sebesar 58% telah menggunakan mobil Toyota Avanza selama kurang dari 2 tahun, sedangkan presentase terkecil adalah sebesar 3% yaitu responden menggunakan mobil Toyota Avanza selama lebih dari 5 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah responden yang telah lama menggunakan mobil Toyota Avanza lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah responden yang belum terlalu lama menggunakan mobil Toyota Avanza. Lama pemakaian kurang dari 2 tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk mengukur sebuah loyalitas pelanggan pada Toyota Avanza, sehingga hasil yang diperoleh dari kuisioner tidak relevan dengan hipotesis awal penelitian.

Untuk memperkuat hasil analisa, maka dilakukan wawancara kepada beberapa responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perihal keadaan ini sebagai berikut :

“ Besarnya sebuah merek seperti Toyota, bukanlah jaminan untuk dapat menarik loyalty para pelanggannya. Banyak hal yang lebih penting, selain besarnya ekuitas merek yang dapat membuat pelanggan menjadi loyal. Untuk mobil sekelas Toyota Avanza tidak bijak apabila kita mengatakan bahwa mobil tersebut akan selalu menjadi mobil kesayangan saya, karena saya membeli Toyota Avanza hanya untuk keperluan operasional perusahaan dan kebetulan harga sesuai dengan anggaran pengeluaran perusahaan. (David, Proffesional, 32 tahun)

(25)

“ Bicara soal manfaat saya memang pilih Toyota Avanza karena memang cocok untuk kegiatan dan keperluan sehari - hari, tetapi kalau bicara soal kebesaran suatu merek jelas saya pilih Mercedes-Benz karena kualitas keamanan, kenyamanan, kecanggihan, dan kemewahan yang sangat jauh berbeda apabila dibandingkan dengan Toyota Avanza walaupun harganya juga berbeda. (Ignas, Pengusaha, 35 tahun)

Berikut kesimpulan hasil uji hipotesis pada tabel 4.5. Tabel 4.5. Hasil Uji Hipotesis Hipotesis Jalur

(path)

Nilai-t > 1.96 (signifikan)

Keterangan

H1 KPÆIP 2.46 didukung data

H2 HJKÆIP 2.43 didukung data

H3 EMÆIP -2.19 tidak didukung data

H4 IPÆLP 2.80 didukung data

H5 KPÆLP 2.93 didukung data

Figur

Gambar 4.1. Jenis Kelamin Responden

Gambar 4.1.

Jenis Kelamin Responden p.2
Gambar 4.2. Usia Responden

Gambar 4.2.

Usia Responden p.3
Gambar 4.3. Tingkat Pendidikan Responden

Gambar 4.3.

Tingkat Pendidikan Responden p.4
Gambar 4.4. Jenis Pekerjaan Responden

Gambar 4.4.

Jenis Pekerjaan Responden p.5
Gambar 4.5. Tingkat Pengeluaran per Bulan Responden

Gambar 4.5.

Tingkat Pengeluaran per Bulan Responden p.6
Gambar 4.6. Lama Penggunaan Mobil Toyota Avanza Saat

Gambar 4.6.

Lama Penggunaan Mobil Toyota Avanza Saat p.7
Tabel 4.1. Indikator Model Pengukuran Pretest

Tabel 4.1.

Indikator Model Pengukuran Pretest p.8
Tabel 4.2. Hasil Uji Validitas Terhadap 235 Responden

Tabel 4.2.

Hasil Uji Validitas Terhadap 235 Responden p.11
Tabel 4.3. Hasil Uji Reliabilitas Terhadap 235 Responden

Tabel 4.3.

Hasil Uji Reliabilitas Terhadap 235 Responden p.12
Tabel 4.4. Uji Kecocokan Model  Indeks

Tabel 4.4.

Uji Kecocokan Model Indeks p.13
Gambar 4.7. Path Diagram dengan Indikator Masing-Masing Variabel

Gambar 4.7.

Path Diagram dengan Indikator Masing-Masing Variabel p.15
Gambar 4.8. Path Diagram dengan Melihat T-values

Gambar 4.8.

Path Diagram dengan Melihat T-values p.17
Tabel 4.5. Hasil Uji Hipotesis  Hipotesis  Jalur

Tabel 4.5.

Hasil Uji Hipotesis Hipotesis Jalur p.25

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di