PROLIFERASI LIMFOSIT MENCIT YANG DIIMUNISASI DENGAN Plasmodium berghei RADIASI 175 Gy

Teks penuh

(1)

PROLIFERASI LIMFOSIT MENCIT YANG DIIMUNISASI DENGAN

Plasmodium berghei RADIASI 175 Gy

Darlina, Teja Kisnanto, Wiwin Mailani

Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi-BATAN Jl. Lebak Bulus Raya No. 49, Jakarta 12440

Email : ptkmr@batan.go.id

ABSTRAK

PROLIFERASI LIMFOSIT MENCIT YANG DIIMUNISASI DENGAN Plasmodium berghei RADIASI 175 Gy. Imunisasi terhadap P.berghei merupakan model yang cocok untuk mempelajari respon imunitas

inang terhadap infeksi malaria. Respon imunitas merupakan kombinasi antara reaksi molekuler dan selular. Penelitian ini untuk mengevaluasi pengaruh imunisasi pada mencit Swiss yang diinfeksi dengan P.berghei yang diradiasi. Efek imunisasi ini dievaluasi respon imunitas selularnya yang meliputi viabilitas dan tranformasi blas pada mencit yang diinfeksi dengan P.berghei infeksius dengan mencit yang diimunisasi ulang atau tanpa imunisasi ulang. Hasilnya menunjukkan bahwa viabilitas limfosit limpa mencit yang diimunisasi lebih tinggi daripada mencit yang tidak diimunisasi. Transformasi blas limfosit limpa mencit yang diimunisasi berulang lebih tinggi daripada mencit yang diimunisasi tanpa pengulangan dan mencit yang tidak diimunisasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Imunisasi dengan P.berghei yang dilemahkan dengan dosis radiasi 175 Gy dapat meningkatkan viabilitas limfosit serta Imunisasi berulang

dapat meningkatkan proliferasi dari limfosit limpa.

Kata kunci : Imunisasi, imunitas malaria, radiasi, transformasi blas.

ABSTRACT

LYMPHOCYTE PROLIFERATION OF MICE IMMUNIZED BY Plasmodium berghei IRRADIATED 175 Gy. Immunization against P.berghei is a suitable model to study the host immune response to malaria

infection. Immune response is a combination of molecular and cellular reactions. This study is aimed to evaluate the effect of immunization in Swiss mice infected with the irradiated P.berghei. The Cellular immune response of immunization effect was evaluated covering the viability and blast transformation Swiss mice infected with infectious P.berghei with mice immunized with or without a booster. The results showed that the viability of spleen lymphocytes of the immunized mice were higher than the mice that were not immunized. Blast transformation of spleen lymphocytes of mice immunized repeatedly is higher than the immunized mice and mice without repetition are not immunized. From these results, it can be concluded that immunization with attenuated P.berghei with 175 Gy dose of radiation can increase the viability of lymphocytes and repeated immunization may enhance the proliferation of spleen lymphocytes.

Key words: Immunization, malaria immunity, radiation, blast transformation.

PENDAHULUAN

alaria masíh merupakan penyakit endemis di Indonesia. Diperkirakan 50 persen penduduk Indonesia masih tinggal di daerah endemik malaria(1). Menurut perkiraan WHO, tidak kurang

dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di Indonesia, dengan 30.000 kematian. Seiring dengan munculnya galur parasit yang kebal terhadap obat antimalaria dan adanya nyamuk vektor yang tahan terhadap insektisida mengakibatkan program pemberantasan malaria di Indonesia menghadapi kendala. Salah satu alternatif untuk menjembatani masalah tersebut adalah tindakan pencegahan terhadap terjadinya infeksi malaria dengan imunisasi (2).

Pada malaria ada beberapa kemungkinan strategi untuk pembuatan vaksin malaria yaitu: 1) Vaksin pre-eritrositik yang dirancang untuk

mengaktifkan respon imun untuk membunuh atau menginaktifkan sporozoit, 2) vaksin eritrositik (stadium darah) dengan target merozoit bebas untuk mencegah invasi merozoit ke eritrosit atau sel darah merah yang terinfeksi sehingga dapat mencegah infeksi yang terjadi menjadi penyakit, 3) vaksin penghambat transmisi, yang dibuat untuk menghancurkan bentuk gametosit sehingga dapat mencegah transmisi dari strain resisten yang mungkin lolos dari sistem imun(3).

Pengembangan vaksin pertama oleh Jenner hampir dua ratus tahun yang lalu, sejak saat itu telah banyak vaksin berhasil guna yang dikembangkan oleh manusia(4). Pelemahan

(atenuasi) mikroorganisma patogen merupakan strategi untuk pengembangan vaksin sejak pertama kali vaksin ditemukan oleh Louis Pasteur. Radiasi dapat digunakan untuk menginaktifkan mikroorganisma untuk preparasi vaksin, disamping

(2)

metode inaktifasi secara pemanasan atau kimia(5).

Radiasi dapat memberikan efek yang bersifat spesifik yaitu, dapat melemahkan dan mematikan sel. Dalam pembuatan bahan vaksin, jenis radiasi yang biasanya digunakan adalah sinar gamma yang memiliki sifat daya tembus tinggi dan panjang gelombang pendek. Radiasi pengion ini memiliki ciri khusus karena kemampuannya untuk penetrasi sel dan jaringan sehingga memberikan energi pada sel dalam bentuk ionisasi. Efek yang ditimbulkan oleh sinar gamma dapat digunakan untuk mengiradiasi agen penyakit yang berasal dari virus, bakteri, protozoa dan cacing(6). Dosis iradiasi yang

optimum akan menghancurkan DNA, sehingga membuat mikroorganisme tidak mampu melakukan replikasi dan tidak menimbulkan infeksi. Parasit yang diiradiasi dengan radiasi pengion dapat dinonaktifkan dengan tetap mempertahankan sifat-sifat parasit seperti hemaglutinasi, antigenisitas, ketidakefektifan dan lain sebagainya. Hilangnya kemampuan infektif dari parasit memungkinkan untuk memproduksi bahan yang layak untuk pembuatan vaksin. Berdasarkan hasil-hasil penelitian dan percobaan, keberhasilan memperoleh bahan tidak aktif ini tergantung pada faktor eksternal (dosis radiasi, laju dosis, jenis radiasi, suhu dan sifat inang) dan faktor internal (DNA atau struktur molekul parasit).

Iradiasi gamma digunakan untuk melemahkan parasit malaria dalam stadium darah untuk preparasi vaksin stadium darah yang sehingga diharapkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan plasmodium di dalam eritrosit dan menyebabkan reduksi parsial parasitemia. Pengembangan vaksin untuk manusia harus melalui beberapa fase dan tahapan penelitian yang cukup panjang sebelum digunakan manusia. Studi awal dalam pengembangan vaksin umumnya menggunakan hewan coba. Plasmodium berghei serta mencit sebagai inangnya merupakan model malaria yang umum digunakan dalam tahap awal pengembangan vaksin(7). Melalui model ini ada

kemungkinan dilakukan manipulasi pada hospes sehingga dapat dipelajari perubahan imunologis yang terjadi selama infeksi malaria.

Respon imun inang terhadap imunisasi meliputi respon imunitas humoral dan selular. Adanya respon imunitas humoral dapat diketahui dari titer antibodi yang disekresi. Respon imunitas selular diperankan oleh limfosit T dan sel sel efektor yang diaktifkan. Respon tersebut diantaranya dapat diketahui dari respon proliferasi limfosit. Dengan demikian pada penelitian ini dipelajari pengaruh imunisasi dengan parasit stadium eritrositik yang diradiasi pada dosis 175 Gy dengan laju dosis 680,5 Gy/jam dibandingkan dengan P.berghei yang infeksius pada mencit Swiss jantan. Efek imunisasi yang diamati meliputi

parasitemia, periode prepaten, dan proliferasi mencit.

TATA KERJA

Hewan coba dan pembuatan crude

vaksin

Mencit Swiss Webster jantan, berumur sekitar 2,5 bulan dengan berat sekitar 30-35 gram yang diperoleh dari kementrian kesehatan Jakarta dikarantina selama sekitar 7 hari. Mencit dipelihara dalam kandang fiber glass dengan tutup stainless stel serta makanan pelet dan minuman secara ad libitum (secukupnya). Mencit Swiss dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing 12 ekor. Kelompok 1 adalah kelompok mencit yang diinfeksi dengan parasit stadium eritrositik yang tidak diiradiasi. Kelompok 2 adalah kelompok mencit yang diinfeksi dengan parasit stadium eritrositik yang diiradiasi 175 Gy. Kelompok 3 adalah kelompok mencit yang diinfeksi dengan parasit stadium eritrositik yang diiradiasi 175 Gy dengan vaksinasi pengulangan.

Bahan vaksin merupakan stok beku Plasmodium berghei strain ANKA yang diperoleh dari Lembaga Eijkman dan Depkes Jakarta. Pengembang biakan parasit dilakukan pada mencit donor dengan cara Stok parasit dari simpanan beku dilakukan proses pencairan (thawing) kemudian sediaan tersebut disuntikkan pada 3 ekor mencit donor sebanyak 200 μL secara intraperitonial. Setiap hari dilakukan pemeriksaan terhadap tingkat parasitemia dari mencit donor. Bila tingkat parasitemia mencit donor telah mencapai 10-20% maka dapat dilakukan pengambilan darah untuk pembuatan crude vaksin.

Apabila parasitemia telah mencapai 20%, mencit dianastesi dengan eter dan darahnya dikoleksi dari fungsi jantung menggunakan syringe 1 ml yang berisi anti koagulan (citrat phospat dextrose/CPD). Darah ditampung dalam tabung mikrosentrifuse kemudian dibagi menjadi 2 tabung yaitu darah dengan parasit yang tidak diradiasi dan parasit yang akan diradiasi. Selanjutnya dilakukan radiasi pada dosis 175 Gy dengan laju dosis 680,5 Gy/jam dengan menggunakan sumber Cobalt 60 pada fasilitas Gamma cell, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN.

Dilakukan imunisasi pada mencit diimunisasi dengan 0,2 ml vaksin P.berghei stadium eritrositik yang mengandung ±1 x 107

parasit stadium eritrositik secara intraperitoneal. Pada kontrol positif mencit diinfeksikan atau disuntik dengan 1x107 P. berghei aktif. Dilakukan

pengamatan parasitemia, pada hari ke 2,4,6,8,10,12,14 paska infeksi.

(3)

Cara infeksi/vaksinasi

Inokulum disiapkan dengan cara mengencerkan sejumlah darah donor dengan parasitemia 30-40% dalam RPMI 1640. Infeksi dilakukan dengan cara menyuntikkan 0,2 ml inokulum yang mengandung 1 x 107 parasit

stadium eritrositik ke dalam rongga peritoneum, 2 minggu setelah imunisasi terakhir.

Perhitungan parasitemia

Pemeriksaan hematologi dan parasitemia dilakukan setiap dua hari paska infeksi. Pengambilan darah dilakukan dengan sedikit memotong ekor mencit. Dilakukan pengurutan dari pangkal hingga ujung ekor untuk mengeluarkan darah kemudian ditaruh pada ujung gelas preparat kemudian dibuat apusan tipis. Setelah apusan kering kemudian difiksasi dengan metanol dan diwarnai dengan larutan Giemsa 10% didiamkan selama 30 menit setelah itu dicuci diair mengalir. Sediaan apus darah disiapkan untuk hitung parasitemia. Pemeriksaan dengan mikroskop pembesaran 1000 X dengan penambahan minyak imersi.

Parasitemia menunjukkan kepadatan sel darah terinfeksi parasit dalam sel darah merah. Pada apusan darah tipis, sel darah merah dihitung hingga mencapai ± 5000 sel atau 10 lapang pandang. Rumus Perhitungan nilai persentase sel darah merah yang terinfeksi parasit malaria yang ditemukan pada sediaan darah tipis adalah :

Penentuan respon imun inang dengan

uji transformasi blas

Isolasi dan kultur limfosit limpa mencit Swisss. Dari 3 kelompok mencit masing-masing kelompok dibunuh 3 ekor mencit dengan narkose menggunakan kloroform. Mencit diletakkan dengan posisi telentang, kulit dibersihkan dengan alkohol 70%. Kulit bagian perut dan selubung peritoneal dibuka, limpa diangkat dan diletakkan dalam cawan petri diameter 50 mm yang berisi 5 ml RPMI 1640. RPMI disuntikkaan Pada ujung limpa untuk mendapatkan sel tunggal, kemudian dimasukkan ke tabung sentrifus 10 ml. Untuk mendapatkan pelet, sel disentrifus pada 1200 rpm, 40C selama 10

menit. Pelet yang didapat diresuspensikan dalam 2 ml tris buffered ammonium chlorid untuk melisiskan eritrosit. Sel dicampur dengan menggunakan pipet dan diamkan 2 menit. Ditambahkan 1 ml Fetal Bovine Serum (FBS) pada dasar tabung dengan menggunakan pipet. Suspensi tersebut kemudian disentrifus pada 1200 rpm 40C

selama 5 menit, dan supernatannya dibuang. Pelet dicuci dengan RPMI 2 kali dengan cara dipipet

berulang n pulang dan disentrifus pada 1200 rpm 40C selama 5 menit. Pelet yang didapat

diresuspensikan pada 4 ml medium komplit. Suspensi sel dikultur pada cawan petri dan inkubasi dalam inkubator CO2 5%, 370C selama 2

jam. Suspensi sel kemudian dipindahkan kedalam sentrifus dan sentrifus pada 1200 rpm 40C selama 5

menit. Supernatan dibuang dan pelet diresuspensikan dalam 1 ml medium lengkap. Sel dihitung dengan hemositometer dan ditentukan viabilitasnya dengan trypan blue sehingga didapat suspensi sel dengan kepadatan 1x 106 sel/ml.

Limfosit kemudian dikultur pada well pada microplate 24 dengan volume 300 ul/sumuran ditambahkan Phytohaemoaglutinin (PHA) dengan konsentrasi 5 ug/ml sebanyak 30 ul/sumuran. Kemudian diinkubasi dalam inkubator CO2 5%,

370C selama 72 jam. Selanjutnya 100 ul suspensi

sel dimasukkan kedalam well microplate 96 kemudian ditambahkan dimethylthiazol-diphenyltetrazolium bromide-thiazol blue (MTT) pada masing-masing sumuran dengan konsentrasi 5 mg/ml sebanyak 10 ul dan inkubasi dalam inkubator CO2 5%, 370C selama 4 jam. Reaksi

dihentikan dengan menambah HCL-isopropanol 0,04 M sebanyak 100 ul/sumuran. Hasilnya dibaca dengan ELISA reader pada OD 490 nm.

Analisis data

Uji statistik yang digunakan untuk menentukan perbedaan respon proliferasi sel limfosit limpa mencit pada ketiga kelompok adalah analisis varians satu jalan dengan batas kemaknaan 5%. Jika ada perbedaan yang bermakna dilanjutkan dengan Turkey’s HSD test.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Iradiasi gamma digunakan untuk melemahkan parasit malaria dalam stadium darah untuk preparasi vaksin stadium darah yang sehingga diharapkan dapat memicu respon imun yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan plasmodium di dalam eritrosit. Respon imun terhadap malaria meliputi 2 mekanisme yaitu mekanisme imun alamiah atau nonspesifik dan respon imun yang didapat atau spesifik. Mekanisme imunitas nonspesifik memberikan pertahanan terhadap infeksi. Imunitas nonspesifik timbul lebih cepat dibandingkan imunitas spesifik yang lebih lambat(5).

Imunitas nonspesifik selular terdiri dari sel leukosit mononuklear dan polimorfonuklear. Sel limfosit merupakan sel leukosit mononuclear yang mempunyai kedudukan penting dalam sistem imunitas tubuh, sehingga sel-sel tersebut tidak saja terdapat dalam darah, melainkan dalam jaringan khusus yang dinamakan jaringan limfoid.

Jumlah sel darah merah terinfeksi parasit x100% Jumlah total sel darah merah

(4)

Limpa merupakan tempat mempertemukan antigen parasit dengan sistim imun dan diduga limpa adalah tempat utama pengaturan sistem imun untuk menentukan komponen imunitas yang akan diaktifkan. Limpa merupakan salah satu organ yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan limfosit. Salah satu cara untuk mengetahui respon imun dari inang adalah dengan uji aktivitas proliferasi limfosit. Aktivitas proliferasi sel limfosit limpa mencit yang diimunisasi dan tidak diimunisasi diamati dengan melihat reaksi

transformasi blas setelah dirangsang dengan PHA. Uji transformasi blas limfosit limpa mencit Swiss dilakukan 15 hari setelah imunisasi pertama. Sebelum dikultur dengan PHA viabilitas limfosit limpa dihitung dengan menggunakan bilik hitung dengan bantuan mikroskop cahaya dengan penambahan tryphan blue 1%. Viabilitas limfosit yang terdapat pada limpa mencit dari kelompok kontrol positif, kelompok mencit yang divaksinasi dan mencit yang divaksinasi ulang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Viabilitas sel limfosit limpa pada hari ke-15 paska infeksi Kelompok perlakuan Replikasi Mean SD 1 2 3 Kelompok 1 0,375x106 0,853x106 0,610x106 0,612x106 0,23x106 Kelompok 2 0,96x106 1,2x106 1,0x106 1,05x106 0,12x106 Kelompok 3 1,095x106 0,967x106 1,15x106 1,07x106 0,09x106 Keterangan:

Kelompok 1: Kelompok mencit yang diinfeksi dengan parasit infeksius

Kelompok 2 : Kelompok mencit yang diimunisasi dengan parasit yang diradiasi tanpa booster Kelompok 3 : Kelompok mencit yang diimunisasi ulang (booster)

Dari hasil penghitungan viabilitas limfosit ini didapat nilai rerata viabilitas dari masing masing perlakuan (Tabel 1). Kemudian dilakukan analisa data dengan analisis varians satu jalan. Berdasarkan uji ANOVA Ho ditolak untuk taraf signifikansi lebih dari 2,4%, hal ini menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara rerata viabilitas pada ketiga kelompok. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok maka dilanjutkan dengan uji Turkey’HSD. Dari hasil perhitungan rerata viabilitas terlihat kelompok mencit kontrol positif paling kecil viabilitas limfositnya dibandingkan mencit yang divaksinasi (kelompok 2 dan 3). Hasil uji Turkey’s terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara kelompok 1 dengan kelompok 2 pada taraf signifikansi lebih dari 4% serta terdapat perbedaan bermakna antara kelompok 1 dan kelompok 3 pada taraf signifikansi lebih dari 3,4%. Pada kelompok 2 dan kelompok 3 mencit yang vaksinasi baik yang dibooster (kelompok 3) maupun tanpa booster (kelompok 2) nilai rerata viabilitasnya hampir sama. Hasil uji Turkey’HSD membuktikan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok 2 dan kelompok 3 pada taraf signifikansi lebih dari 9,9%.

Setelah dilakukan penghitungan viabilitas kemudian dari masing masing kelompok dilakukan uji transformasi blas. Limfosit dikultur pada

microplate 24 dengan kepadatan 1x 106 sel/ml per

sumuran dan ditambahkan Phytohaemoaglutinin (PHA) dengan konsentrasi 5 ug/ml. Aktivitas proliferasi limfosit diuji dengan MTT assays. Hasil dari MTT assays diukur ODnya dengan

menggunakan ELISA reader pada panjang gelombang 493 nm.

Tabel 2. Nilai OD pada proliferasi limfosit limpa mencit Swiss dengan PHA 5 ug/ml Kelompok perlakuan Replikasi Mean SD 1 2 3 Kel I 0,753 0,853 0,910 0,838 0,079 Kel II 0,874 0,778 0,826 0,826 0,048 Kel II 1,102 1,114 1,046 1,087 0,013 Keterangan:

Kelompok 1: Kelompok mencit yang diinfeksi dengan parasit infeksius

Kelompok 2 : Kelompok mencit yang diimunisasi dengan parasit yang diradiasi tanpa booster

Kelompok 3 : Kelompok mencit yang diimunisasi ulang (booster)

Dari hasil uji transformasi blas pada ketiga kelompok percobaan didapatkan nilai rerata OD yang menggambarkan reaksi proliferasi limfosit limpa dari masing masing kelompok mencit (Tabel 2). Untuk mengetahui adanya perbedaan nilai OD dari ketiga kelompok mencit tersebut maka dilakukan uji analisa varians satu faktor. Berdasarkan uji ANOVA Ho ditolak untuk taraf signifikansi lebih dari 1%, hal ini menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara rerata OD pada ketiga kelompok. Untuk mengetahui perbedaan antar kelompok maka dilanjutkan dengan uji Turkey’HSD. Dari Hasil uji Turkey’s tidak terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara kelompok 1 dengan kelompok 2 pada taraf signifikansi lebih dari 9,5 % serta terdapat perbedaan bermakna antara kelompok 1 dan kelompok 3 pada taraf

(5)

signifikansi lebih dari 0,2%. Hasil uji Turkey’HSD kelompok mencit yang vaksinasi baik yang dibooster (kelompok 3) maupun tanpa booster (kelompok 2) membuktikan ada perbedaan bermakna diantara kelompok 2 dan kelompok 3 pada taraf signifikansi lebih dari 0,2%.

Peningkatan proliferasi sel limfosit pada limpa mencit yang diimunisasi menunjukkan bahwa pada limfosit yang terpacu akan terjadi perubahan biokimiawi disertai pembelahan sel. Pada penelitian ini limfosit terpacu oleh PHA yang berperan sebagai mitogen dan selanjutnya limfosit berproliferasi. Pada kelompok mencit yang diimunisasi ulang (booster) terjadi peningkatan yang nyata dari kemampuan proliferasi limfosit. Keadaan tersebut ditunjukkan dari adanya aktivasi dan diferensiasi limfosit pada mencit yang diimunisasi ulang. Respon proliferasi limfosit pada mencit yang tanpa imunisasi ulang tidak ada perbedaan bermakna dengan kelompok mencit yang tidak diimunisasi sedangkan pada hitung viabilitas tedapat perbedaan bermakna diantara kedua kelompok mencit. Hal ini menunjukkan kenaikkan jumlah viabilitas limfosit tidak diikuti dengan peningkatan proliferasi limfosit dengan demikian kemampuan proliferasi limfosit pada mencit bukan hanya dipacu oleh PHA tetapi juga adanya antigen.

Transformasi blas menggambarkan limfosit yang telah terstimulasi oleh antigen, dan akan membelah diri. Limfosit yang mengalami stimulasi akan mengalami perubahan biokimia maupun morfologis. Secara biokimiawi terjadi perubahan kecepatan metabolisme oksidatif, sintesis protein dan RNA. Secara morfologis terjadi perubahan yang disebut transformasi blast dengan tanda tanda diameter sel bertambah, kromatin menjadi longgar dan terpulas pucat. Dalam 8 – 12 jam perubahan ini sudah dapat dilihat dengan mikroskop cahaya sebagai limfoblast. Dengan demikian transformasi blast dapat dipakai sebagai penanda bahwa limfosit terpacu oleh mitogen atau antigen (8).

Limfosit merupakan sel yang berperan dalam respon imun karena mempunyai kemampuan untuk mengenali antigen melalui reseptor permukaan khusus dan membelah diri menjadi sejumlah sel dengan spesifitas yang identik serta masa hidup yang panjang menjadikan sel yang ideal untuk respons adaptif. Dua populasi besar limfosit yaitu limfosit T dan B. Ketika sel B dan sel T diaktifkan oleh memori, patogen sel-B dan T-sel berkembang. Sepanjang masa hidup binatang sel-sel memori akan "mengingat" setiap patogen tertentu yang dihadapi, dan dapat memberi respon kuat jika patogen terdeteksi kembali. Imunisasi ulangan (booster) adalah imunisasi tambahan setelah dosis sebelumnya. Setelah imunisasi awal,

suntikan penguat atau dosis booster adalah kembali paparan antigen. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kekebalan terhadap antigen itu kembali ke tingkat pelindung setelah setelah periode yang ditentukan(9).

KESIMPULAN

Imunisasi dengan P.berghei yang dilemahkan dengan radiasi dapat memacu respon imunitas selular. Adanya respon imunitas selular dapat dilihat dari peningkatan viabilitas dan aktivitas proliferasi limfosit limpa mencit yang diimunisasi. Aktivitas proliferasi sel limfosit limpa mencit diamati dengan melihat reaksi transformasi blas setelah dirangsang dengan PHA. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Imunisasi dengan P.berghei yang dilemahkan dengan dosis radiasi 175 Gy dapat meningkatkan viabilitas limfosit serta Imunisasi berulang dapat meningkatkan proliferasi dari limfosit limpa.

SARAN

Pada penelitian ini digunakan bahan vaksin yang dilemahkan dengan dosis radiasi 175 Gy dengan imunisasi berulang (booster) dengan penyuntikkan secara intraperitoneal. Dengan melihat hasil penelitian ini maka perlu dilakukan optimasi booster dengan cara imunisasi yang berbeda dan perlu dilakukan variasi dengan berbagai adjuvant sehingga diperoleh imunitas protektif yang optimal.

DAFTAR PUSTAKA

1. ANONIM, Malaria pada manusia, Info Penyakit Menular; Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan, DepKes RI, 2 Desember (2004).

2. WORLD HEALTH ORGANIZATION, Initiative for Vaccine Research, State the art of vaccine research and development, (2005), http:/www.who.int/vaccines-documents.

3. LAIHAD F.J., SURIADI GUNAWAN, Malaria di Indonesia, In; Harijanto (ed); Epidemiologi, patogenesis dan manifestasi klinis, Penerbit Buku Kedokteran EGC, P. 17-25, (2000).

4. PLOTKIN, S.L., and PLOTKIN,S.,A., A short history of vaccination. In “Vaccine” 3rd

ed., S. A Plotkin and W.A. Orenstein, Eds., pp. 1-12. Philadelpia Saunders.(1999).

5. BIELLO, D., Irradiated pathogens used to create potent vaccine, Science News, July 26, (2006).

6. HALL, E.J., Radiobiology for the radiobiologist, Lippincott Williams and Walkin, Philadelphia, (1994).

(6)

7. LANDAU, I. AND BOULARD, Y. Life cycles and Morphology. In: Rodent Malaria (R. Killick-Kendrick and W. Peters, eds.) pp 53-84.Academic Press, London, (1978). 8. MELANKO-KAPLAN J., WEIDANZ WP.

Role of cell-mediated immunity in resistance to Malaria in Stevenson, MM (editor), Malaria Host Responses to infection, Boca Ratton; C.R.C. Press Inc. 1989.

9. MELANKO-KAPLAN J., BURNS JR., JM VAIDYA AB., WEBSTER HK., WEIDANZ WP., Malaria, In; KS Warren (editor), Immunology and molecular biology parasite infection, 3rd ed, New York: Blackwell

Scientic Publication, 1993:322.

TANYAJAWAB

Anang P. (PRR)

− Apa tuuan dari proliferasi limfosit?

Darlina

• Tujuan dari penelitian proliferasi limfosit adalah untuk melihat kemampuan respon imunologik dari inang (mencit) yang telah diinokulasi dengan plasmodium berghei yang dilemahkan dengan radiasi 175 Gy dimana proliferasi limfosit merupakan indikator dari kualitas respon imun dari inang.

Indra Saptiama (PRR)

− Bagaimana ethical clearance dalam percobaan ini?

Darlina

• Ethical clearance pada penelitian kami sudah dilakukan pada tahun 2011 di Deartemen Kesehatan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :