• Tidak ada hasil yang ditemukan

Martha Raile Alligood, (2016), Pakar Teori Keperawatan dan karya mereka, edisi indonesia ke 8 volume 2,: Elsevier Martini, F (2006).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Martha Raile Alligood, (2016), Pakar Teori Keperawatan dan karya mereka, edisi indonesia ke 8 volume 2,: Elsevier Martini, F (2006)."

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Amelia D. Madenski (2014) Improving Nurses Pain Management in the post anasthesia care unit http//www.mjournal.com/jornal of nursing/pain management pada tanggal 15 maret 2018 pkl. 21.32 wib

Amin Huda, Hardhi Kusuma (2015).Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis & Nanda Nic-Noc, Mediaaction

Arwani, (2007) Manajemen Bangsal Keperawatan, EGC, Jakarta

Al-Shaer.D., Hill. P.D., & Anderson. M.A. (2011). Nurses knowledge and attitudes regarding pain assessment and intervention. research for practice, 20(1), 7-11.

Abdalrahim, M.S., Majali, S.A., Stomberg, M.W., & Bergbom, I. (2011). The effect of postoperative pain management program on improving nurses knowledge and attitudes toward pain. Nurse Education in Practice, 11(4), 250-255..

Blais, Kathleen koening. Janice S, Hayes. Barbara Kozier. Glenora Erbi. 2002. Praktik Keperawatan Profesional Konsep dan Perspektif. Jakarta: EGC.

Casey & Georgina. (2011). Pain – the fifth vital sign. Continuing professional development. New Zealand.

Cotwin, J. Elizabeth (2009). Buku saku patosifiologi . Jakarta : EGC Daft, Richard L. 2002. Management. Jakarta: Salemba Empat.

Dahlan, M. Sopiyudin (2017). Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. Deskriptif, bivariat dan multivariat Dilengkapi aplikasi dengan menggunakan SPSS. Seri 6 Jakarta : Epidemiologi Indonesia

Direktorat Pelayanan Keperawatan, (2010) Standar Pelayanan keperawatan di rumah sakit, Depkes Jakarta.

Gloria M.Bulecheck,Howard K. Butcher,Jeanne M.Dochterman,Cheryl M.Wagner (2016) Nursing interventions classification (NIC), elsevier

Guyton, A.C, & Hall, J. E (2016). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Edisi Revisi Berwarna ke 12. Penterjemah : ErnitaI, Ibrahim Ilyas. Indonesia : Elsevier

Hastono, Sutanto,P (2016). Analisis Data pada Bidang Kesehatan. Depok : Rajagrafindo Persada

Hiadayat, A. Aziz Alilul (2017). Metodologi Penelitian Keperawatan dan Kesehatan.Jakarta : Salemba Medika

Kate becckett etc (2015) a mixed method study of pin management practice in a uk chidrens hospital : identification of barrier http//www.mjournal.com/jornal of nursing/pain management pada tanggal 12 maret 2018 pkl. 16.33 wib

Kumar, Vinay, Abbas K Abdul, Aster C. Jon (2015). Buku Ajar : Patologi. Robinson. Jakarta : EGC Ivancevich, dkk. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga

(2)

Martha Raile Alligood, (2016), Pakar Teori Keperawatan dan karya mereka, edisi indonesia ke 8 volume 2,: Elsevier

Martini, F (2006). Fundamentals of anatomy & Physiologi. Sevent Edition. Pearson, Benjamin Cumming Nursalam (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Potter & Perry (2011) Fundamental Keperwatan. Buku 2 Edisi 7 : Jakarta : Salemba Medika

Price, Sylvia, Wilson M. Lorraine (2006). Fatosiologi. Konsep klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 6 Volume 1, Jakarta : EGC

Robbins dan Judge. (2007). Perilaku Organisasi. Jakarta : salemba empat

Samba S, (2000), Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Untuk Perawat Klinis, Jakarta : EGC

Sabri, Luknis, Hastono P. Sutanto (2014). Statistik Kesehatan. Depok : Rajawali Press

Sheerwood, Lauralee (2016). Fisilogi Manusia dari sel ke sistem. Edisi 8, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Sue Moorhead,Marion Johnson,Meridean L.Maas,Elizabeth Swanson (2016). Nursing outcomes classification (NOC), Elsevier

Suarli, S dan Bahtiar, (2009), Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktik, Jakarta : Erlangga Suyanto (2008) Mengenal Kepemimpinan dan manajemen Keperawatan di rumah sakit, Yogyakarta,

Mitra Candikia

Sudigdo S, Sofyan Ismael (2014). Dasar-dasar Metologi Penelitian Klinis .Jakarta : Sagung Seto Sugiyono (2016) .Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung : Alfabeta

Soekijo Notoatmojo (2012) . Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka cipta

Sulistiyo Andarmoyo (2013). Konsep dan proses keperawatan nyeri . yogyakarta: Ar. Ruzzs Media Tamsuri. A (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri . Jakarta : EGC

(3)
(4)
(5)
(6)

BAHAN PELATIHAN MANAJEMEN NYERI KERANGKA ACUAN

MODUL PELATIHAN MANAJEMEN NYERI BAGI PERAWAT

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN

PEMINATAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

(7)

DAFTAR ISI Hal Halaman Judul ...…... 1 Latar Baelakang ... Tujuan ... Sasaran ... 2 3 3 Manfaat ... Materi ... Nara Sumber ... Waktu dan Tempat ...

Penutup ... 3 3 4 4 4

Modul Manajemen Nyeri 5

A. Deskripsi ………... 6

B. Tujuan Pembelajaran ..………...

C. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan

D Tahap Pelaksaan Kegiatan E Uraian Materi 6 6 9 11 Daftar Pustaka Identitas Penulis

(8)

BAHAN PELATIHAN MANAJEMEN NYERI KERANGKA ACUAN

MODUL PELATIHAN MANAJEMEN NYERI BAGI PERAWAT

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN

PEMINATAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

JAKARTA 2018

(9)

1. Latar Belakang

Pengkajian nyeri dan pengetahuan yang mendasari untuk melakukannya merupakan dasar tindakkan perawatan dan merupakan komponen kritis dari keefektifan manajemen nyeri (Al- Shaer, Hill dan Anderson, 2011). Sedangkan menurut Zhang et al, (2008) dalam penelitiannya mengenai efek pelatihan manajemen nyeri terhadap pengetahuan dan sikap perawat di China mengatakan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap perawat 15,6% ketika dievaluasi satu bulan setelah dilakukan pelatihan. Dari beberapa penelitian yang lain dikatakan bahwa pengetahuan yang tidak memadai dari perawat tentang manajemen nyeri merupakan hambatan dalam menilai keefektifan manajemen nyeri yang dilakukan.

Dalam beberapa elemen penilaian dari standar hak pasien dan keluarga , disebutkan bahwa rumah sakit mendukung hak pasien untuk mendapatkan asesmen dan manajemen nyeri dengan tepat (Komisi Akreditasi Rumah Sakit {KARS}, 2011). Secara khusus, perawat mempunyai peran penting dalam manajemen nyeri. Namun, dari hasil penelitian diungkapkan bahwa pengetahuan perawat tentang manajemen nyeri masih kurang (Zhang et al, 2008). Sesuai dengan Dep Kes (2008), mengatakan bahwa perawat berperan penting dalam upaya penyembuhan pasien, termasuk dalam menangani nyeri dengan tindakan non farmakologi. Manajemen nyeri bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien, dimana kenyamanan adalah salah satu indikator mutu pelayanan keperawatan. Perawat dengan ilmunya bertanggung jawab meningkatkan mutu layanan keperawatan.

Berdasarkan latar belakang diatas untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dirasa perlu untuk dilakukan pelatihan manajemen nyeri bagi perawat.

(10)

2. Tujuan

2.1.Tujuan Umum

Peserta pelatihan dapat menunjukkan pemahaman tentang penerapan manajemen nyeri.

2.2.Tujuan Khusus

2.2.1. Peserta pelatihan dapat memahami konsep nyeri

2.2.2. Peserta pelatihan dapat memahami pengertian manajemen nyeri 2.2.3. Peserta pelatihan dapat memahami penerapan manajemen nyeri

2.2.4. Peserta pelatihan dapat memahami dan mengimplementasikan manajemen nyeri

3. Sasaran

Sasaran dalam pelatihan manajemen nyeri ini adalah perawat di Instalasi Rawat Inap Penyakit Dalam Dewasa di rumah sakit padang pariaman tahun 2018

4. Manfaat

Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan manfaat :

a. Perawat memahami dan mampu menerapkan manajemen nyeri

b. Perawat mampu melakukan transfer pengetahuan mengenai manajemen nyeri

dengan tenaga kesehatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan

5. Materi

Materi yang akan disampaikan dalam pelatihan ini adalah : a. Konsep nyeri

b. Pengertian manajemen nyeri c. Tahapan manajemen nyeri

(11)

6. Metode

a. Ceramah / Diskusi b. Role Playing c. Behavior Modeling

7. Nara sumber

Narasumber dalam pelatihan manajemen nyeri ini adalah pelatih yang memiliki kompetensi dan telah memiliki sertifikat sebagai pelatih.

8. Waktu dan tempat

Pelatihan dilakukan pada akhir Juli 2018 selama 2 hari.

9. Penutup

Demikianlah kerangka acuan ini dibuat dengan harapan dapat ditindaklanjuti dan memperoleh dukungan dalam pelaksanaannya demi membawa kontribusi positif dalam peningkatan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit padang pariaman 2018

Jakarta, 2018 Peneliti,

(12)

MODUL

MANAJEMEN NYERI

Oleh : Adriyanti Amran NPM : 2016980026

PENERAPAN MANAJEMEN NYERI BAGI

PERAWAT

(13)

A. Deskripsi

Bahasan dalam modul ini memberikan gambaran mengenai nyeri dan penerapan manajemen nyeri .

B. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan Umum

Setelah dilakukan pembelajaran ini diharapkan perawat mampu memahami manajemen nyeri dan menerapkan manajemen nyeri

2. Tujuan Khusus

Setelah pembelajaran perawat mampu : a. Menjelaskan konsep nyeri

b. Menjelaskan pengertian manajemen nyeri c. Menerapkan manajemen nyeri

d. Mengimplementasikan manajemen nyeri

C. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan

a. Menjelaskan definisi nyeri b. Menjelaskan fisiologi nyeri c. Teori pengontrolan nyeri

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

e. Manajemen nyeri farmakologi (pemberian analgesik, efek samping therapy dan cara pemberian therapy)

f. Pelaksanaan Asuhan Keperawatan

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan perawat harus memiliki kemampuan dalam :

(14)

1). Mampu memperlihatkan sikap empati

2). Mampu mendengarkan secara aktif

3) Mampu memberikan respon verbal dan non verbal (sentuhan, bahasa tubuh) berdasarkan kebutuhan klien

Langkah – langkah asuhan keperawatan

1. Pengkajian :

a). Melakukan pengkajian secara holistik, tepat dan akurat pada klien melalui pendekatan sistemik yang meliputi lokasi, akrakteristik, durasi, frekuensi, intensitas dan beratnya nyeri dan faktor pencetus (PQRST) b) Melakukan anamnesa untuk mendapatkan riwayat kesehatan, penentuan

ada tidaknya nyeri

c) Melakukan pemeriksaan fisik dengan tepat

Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan, respon fisiologis, respon perilaku, respon afektif

d) Menggali abnormalitas hasil pemeriksaan untuk mendukung menetapkan masalah keperawatan sebagai landasan dalam merumuskan diagnosa keperawatan.

2. Diagnosa Keperawatan

Merumuskan diagnosa keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian a) Mengenal masalah

b) Menganalisa masalah

c) Merumuskan masalah dan faktor penyebab dan faktor resiko. 3. Perencanaan

(15)

a. Menentukan prioritas masalah b. Menentukan tujuan

Tujuan :

1). Mengurangi intensitas dan durasi keluhan nyeri

2). Menurunkan kemungkinan berubahnya nyeri akut menjadi gejala nyeri kronis yang persisten

3). Mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan akibat nyeri

4). Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri

5). Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengoptimalkan kemampuan pasien untuk menjalankan aktifitas sehari-hari

c. Menentukan kriteria keberhasilan

d. Menetapkan tindakan keperawatan yang dapat mengatasi masalah baik bersifat mandiri maupun kolaboratif dengan mempertimbangkan aspek budaya, etik dan legal.

4. Implementasi

a) Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai prosedur (SPO) dengan memperhatikan prioritas pada klien dalam mangatasi masalah kebutuhan dasar manusia.{teknik nafas dalam, imajinasi terbimbing dan teknik distraksi (visual,pendengaran, relaksasi, pernafasan, dan kognitif)} b) Menyampaikan pesan tepat dan jelas

c) Melakukan kolaborasi dengan tim medis

d) Melakukan tindakan melalui kegiatan observasi dan mandiri e) Memberikan pendidikan kesehatan sesuai masalah klien

(16)

5. Evaluasi

a. ) Melakukan eveluasi keperawatan 1) Menilai perkembangan kondisi klien

2) Memodifikasi, merubah intervensi keperawatan sesuai kebutuhan klien.

b). Mendokumentasikan asuhan keperawatan

1). Menuliskan data secara sistematis dan jelas , yang menggambarkan kondisi pasien sesungguhnya.

2). Mendokumentasikan dengan menggunakan teknologi informasi 3). Membuat catatan tentang perkembangan keadaan klien dan

(17)

D. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Hari Ke 1

No Tahap Pelaksanaan Kegiatan Peserta Alokasi Waktu Metode 1. Tahap pembukaan a. Memberikan salam

b. Menjelaskan tujuan kegiatan

Mendengarkan 10 menit Ceramah, diskusi dan tanya jawab

2. Tahap penyampaian materi

a. Menjelaskan definisi nyeri b. Menjelaskan fisiologi nyeri c. Menjelaskan teori

pengontrolan nyeri

d. Menjelaskan Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri e. Menjelaskan efek

membahayakan dari nyeri f. Menjelaskan manajemen

nyeri farmakologi (pemberian analgesik, efek samping pemberian therapy

dan cara pemberian therapy)

Mendengarkan dan diskusi 50 menit Ceramah, diskusi dan tanya jawab 3. Tahap Penutup a. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya

b. Mengevaluasi materi yang sudah disampaikan

c. Penutup

(18)

Hari Ke 2

No Tahap Pelaksanaan Kegiatan Peserta Alokasi Waktu Metode 1. Tahap pembukaan c. Memberikan salam

d. Menjelaskan tujuan kegiatan

Mendengarkan 10 menit Ceramah, diskusi dan tanya jawab

2. Tahap penyampaian materi a. Menjelaskan pengkajian

nyeri

b. Menjelaskan manajemen nyeri non farmakologi

c. Mendemonstrasikan pengkajian nyeri

d. Mendemonstrasikan cara

melakukan metode

manajemen nyeri non farmakologi (tekhnik nafas dalam, imajinasi terbimbing dan tekhik distraksi)

Mendengarkan dan diskusi 50 menit Ceramah, diskusi, tanya jawab dan mendemo nstrasikan 3. Tahap Penutup a.Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya b.Mengevaluasi materi yang

sudah disampaikan c.Penutup

(19)

E. Uraian Materi

1. Definisi nyeri

Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007). Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan (Smeltzer & Bare, 2012). Nyeri adalah suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan (Alimul, 2006). Nyeri juga dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, dan emosional (Alimul, 2006). Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa nyeri adalah suatu perasaan tidak nyaman yang bersifat subjektif dan tidak dapat dirasakan orang lain dan diungkapkan oleh individu yang bersangkutan.

2. Fisiologi nyeri

Proses terjadinya nyeri dimulai dari reseptor nyeri. Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh ini berupa ujung saraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat dan secara potensial dapat merusak. Reseptor nyeri disebut juga nociceptor (White, 2001). Menurut Potter & Perry (2011) berdasarkan letaknya, nociceptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagian tubuh yaitu pada kulit (kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah visceral. Letak yang berbeda-beda inilah yang akan menimbulkan sensasi yang berbeda pula terhadap nyeri yang dirasakan.

3. Teori Pengontrolan Nyeri

Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) dalam Smeltzer (2012), menjelaskan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri. Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta- A dan C melepaskan substansi C

(20)

melepaskan substansi P untuk mentransmisi impuls melalui mekanisme pertahanan (Smeltzer dan Bare, 2002).

4. Tujuan penatalaksanaan nyeri

a. Mengurangi intensitas dan durasi keluhan nyeri

b. Menurunkan kemungkinan berubahnya nyeri akut menjadi gejala nyeri kronis yang persisten

c. Mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan akibat nyeri

d. Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri

e. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengoptimalkan kemampuan pasien untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

5. Manajemen Nyeri

Dalam melakukan manajemen nyeri dapat dilakukan secara farmakologis dan Nonfarmakologis (Potter & Perry 2011). Menurut Cox(2010) menyatakan bahwa penatalaksanaan nyeri dapat dilakukan dengan mengkombinasikan antara majemen nyeri farmakologis dan nonfarmakologis.

a. Manajemen Nyeri Farmakologi

Prinsip penatalaksanaan nyeri, pengobatan nyeri harus dimulai dengan analgesik yang paling ringan sampai ke yang paling kuat. Penatalaksanaan nyeri secara farmakologis efektif untuk nyeri sedang dan berat. Penanganan farmakologis yang sering digunakan untuk menurunkan nyeri biasanya menggunakan obat analgesik yang terbagi menjadi dua golongan yaitu analgesik non narkotik dan analgesik

narkotik. Penatalaksanaan nyeri dengan farmakologis yaitu dengan menggunakan obat-obat analgesik (oral, intravena maupun intramuskuler). Pendekatan farmakologi, merupakan tindakan kolaborasi antara perawat dengan dokter, yang menekankan pada pemberian obat yang mampu menghilangkan sensasi nyeri.

Pemberian analgesik

Penatalaksanaan nyeri secara farmakologis meliputi pemberian analgesik diantaranya penggunaan opioid (narkotik), non opioid/NSAIDs (Non Steroid Anti Inflamation Drugs), dan adjuvan serta ko-analgesik.

(21)

Daftar Analgesik Yang Umum Diberikan

Kelompok Jenis Keterangan

Analgesik narkotik

Morfin sulfat, kodein sulfat, meperidin hidroklorid, metadon, pentazosin

NSAIDs Asetaminofen, asam asetilsalisilat (aspirin),kolin magnesium trisalisilat, diklofenak sodium, ibuprofen, piroksisam, tolmetil sodium.

Analgesik adjuvan

Amitriptillin, klorpromazin, diazepam, hidrozin

Analgesik opioid (narkotik) terdiri dari berbagai derivat dari opium seperti morfin dan kodein. Narkotik dapat menyebabkan penurunan nyeri dan memberi efek euforia (kegembiraan) karena obat ini mengadakan ikatan dengan reseptor opiat (ada beberapa tipe reseptor opiat seperti mu, delta dan kappa) dan mengaktifkan penekan nyeri endogen pada susunan saraf pusat. Narkotik tidak hanya menekan rangsang nyeri, tetapi juga menekan pusat pernafasan dan batuk di medula batang otak. Dampak lain dari obat narkotik adalah sedasi dan peningkatan toleransi obat sehingga kebutuhan dosis obat akan meningkat.

Analgesik non opioid ( non- narkotik) sering juga disebut Non Steroid Anti Inflamation Drugs (NSAIDs) seperti aspirin, asetaminofen, dan ibuprofen selain memiliki efek anti nyeri juga memiliki efek anti–inflamasi dan anti demam. Obat-obat golongan ini menyebabkan penurunan nyeri yang bekerja pada ujung saraf perifer didaerah yang megalami cedera. Obat kelompok ini memiliki efek maksimum, yaitu peningkatan dosis obat ini hingga kadar tertentu tidak menyebabkan peningkatan efek analgesia. Obat ini umumnya diberikan untuk mengatasi nyeri terdiri dari berbagai beri ringan sampai sedang.

(22)

Efek samping yang paling umum terjadi adalah gangguan pencernaan seperti adanya ulkus gaster dan perdarahan gaster. Untuk mengatasi gangguan ini biasanya pemberian obat dilakukan setelah atau bersama makanan dan atau memberikan antasid bersama-sama dengan obat. NSAIDs mungkin dikontra indikasikan pada klien dengan gangguan pembekuan darah, perdarahan gaster, penyakit ginjal dan trombositopeni

Analgesik adjuvan adalah obat yang dikembangkan bukan untuk memberikan efek analgesik tetapi ditemukan mampu menyebabkan penurunan nyeri pada berbagai nyeri kronis. Contohnya adalah sedatif ringan atau tranquilliser seperti diazepam (valium), mungkin membantu menurunkan spasme otot yang disertai nyeri selain menurunkan kecemasan, stress dan ketegangan sehingga klien mampu tidur dengan baik ( Potter & Perry, 2006 ).

Efek samping pemberian terapi dan tindakkan pencegahan 1) Konstipasi

Pencegahan : tingkatkan asupan cairan dan makanan tinggi serat, tingkatkan aktifitas, jika perlu berikan laksatif.

2) Mual dan muntah

Pencegahan : informasikan adanya mual dan selama beberapa hari awal pemberian, berikan anti emetik bila perlu, ganti dengan analgetik lain.

3) Sedasi

Pencegahan : jelaskan bahwa toleransi mungkin dicapai setelah 3-5 hari. 4) Depresi pernafasan

Pencegahan : berikan antagonis opium sampai pernafasan kembali normal. 5) Gatal

Pencegahan : berikan kompres dingin, cairan pelembab, berikan anti histamin dan informasikan toleransi dapat juga menimbulkan gatal.

6) Retensi obat

Pencegahan : beri antagonis narkotik seperti nalokson hidroklorid, mungkin perlu dilakukan pemasangan kateter.

(23)

Cara pemberian analgesik

a) Parenteral (intra muskuler, intra vena, dan sub kutan), efek yang dihasilkan lebih cepat dibanding pemberian oral, tetapi durasi efeknya lebih pendek. b) Oral , dipilih pada klien yang mampu minum obat karena pemberian seperti ini

mudah, non invasif dan tidak menyakitkan seperti pada injeksi. Nyeri berat dapat dihilangkan dengan narkotik oral jika dosisnya cukup tinggi.

c) Rektal , mungkin diindikasikan pada klien yang tidak mampu menggunakan obat-obat melalui cara pemberian lain. Cara pemberian ini juga diindikasikan bagi klien dengan masalah perdarahan seperti hemofilia

d) Transdermal, digunakan untuk mencapai kadar opioid yang konsisten dalam serum melalui absorpsi obat melalui kulit. Metode ini digunakan untuk menangani nyeri pasca operasi dan juga nyeri kanker.

e) Intraspinal, infus opioid atau agen anastesi lokal ke dalam ruang subarakhnoid atau ruang epidural, efektif untuk mengontrol nyeri pada klien pasca operatif dan nyeri kronis yang tidak reda dengan metode lain.

6. Pengkajian Nyeri a. Skrining Nyeri

Prosedur skrining dilakukan untuk mengidentifikasi pasien dengan rasa sakit, pasien dapat diobati di rumah sakit atau dirujuk. Lebih jauh dijelaskan bahwa apabila pasien dirawat di rumah sakit, lakukan assesment yang lebih komprehensif. (SNAR, 2017) b. Intensitas Nyeri

Gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu dinamakan intensitas nyeri. Pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologis tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).

Pada penelitian ini untuk intensitas nyeri digunakan Visual Analag Scale (VAS). Skala nyeri ini berbentuk garis horisontal sepanjang 10 cm. Ujung kiri biasanya menandakan tidak nyeri sedangkan ujung kanan biasanya menandakan nyeri berat. Cara kerjanya dengan meminta pasien untuk menunjuk titik pada garis yang

(24)

menunjukkan letak nyeri terjadi disepanjang rentang tersebut (Smeltzer & Bare, 2002).

c. Karakteristik Nyeri

Pendekatan pengkajian karakteristik nyeri dengan menggunakan PQRST dapat mempermudah perawat dalam melakukan pengkajian nyeri yang dirasakan pasien (Muttaqin, 2011). Pendekatan dengan menggunakan PQRST tersebut adalah sebagai berikut :

a) Provoking Incident : apakah ada faktor yang menjadi penyebab nyeri, apakah nyeri berkurang jika beristirahat. Faktor-faktor yang dapat meredakan nyeri dan apa yang dipercaya pasien untuk membantu mengatasi nyerinya.

b) Quality or Quantity of Pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan pasien, apakah seperti terbakar, berdenyut, tajam atau menusuk. c) Region radiation, relief : dimana lokasi nyeri harus ditunjukkan dengan tepat

oleh pasien, apakah rasa sakit itu menjalar atau menyebar dan dimana rasa sakit terjadi.

d) Severity (scale) of Pain : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan mempengaruhi kemampuan fungsinya terhadap aktifitas kehidupan sehari-hari misalnya tidur,makan, konsentrasi, interaksi dengan orang lain dan aktifitas.

e) Time : berapa lama nyeri berlangsung (bersifat akut atau kronis), kapan, apakah ada waktu-waktu tertentu yang menambah rasa nyeri.

7. Manajemen Nyeri Non Farmakologi

Pendekatan non farmakologi, merupakan tindakan mandiri perawat untuk

menghilangkan nyeri dengan menggunakan teknik manajemen nyeri diantaranya :

a. Distraksi

Adalah suatu tindakan pengalihan perhatian klien kehal-hal lain diluar nyeri, sehingga dengan demikian diharapkan dapat menurunkan kewaspadaan klien terhadap nyeri bahkan meningkatkan toleransi terhadap nyeri. Distraksi dapat dilakukan dengan meminta klien menonton tv, membaca, bernyanyi dan berdoa. Membaca Al Quran atau mendengarkan morrotal Al Quran.

(25)

b. Relaksasi nafas dalam

Adalah suatu tindakan untuk membebaskan mental dan fisik dari ketegangan dan stres sehingga dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri. Relaksasi terbagi menjadi relaksasi nafas dalam dan relaksasi otot. Tindakan relaksasi nafas dalam adalah tindakan yan sederhana tapi mampu mengurangi keluhan nyeri pada klien.

c. Imajinasi terbimbing

Adalah upaya untuk menciptakan kesan dalam fikiran klien, kemudian berkonsentrasi pada kesan tersebut sehingga secara bertahap dapat menurunkan persepsi nyeri klien. Tindakan ini dapat dilakukan secara bersamaan dengan tindakan relaksasi

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit , (2017). Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit. Jakarta

Muttaqin, A. (2011). Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan sistem persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2011). Buku ajar fundamental: konsep, proses dan praktik. Jakarta: EGC.

Smeltzer, S & Bare, B. (2012). Buku ajar keperawatan medikal bedah: Brunner & Suddarth. Vol 1. (Ed 8). Jakarta: EGC.

Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta: EGC. WHO Analgesic Ladder

(27)

IDENTITAS PENULIS

Nama : Adriyanti Amran

NPM : 2016980026

Tempat/Tgl. Lahir : Medan, 08 Desember 1972 Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat e-mail : [email protected]

Riwayat Pendidikan:

1. SD Negeri 060822 Medan : Lulus tahun 1985 2. SMP Negeri 3 Medan : Lulus tahun 1988 3. SMA Negeri 5 Medan : Lulus tahun 1991 4. DIII Keperawatan Dewi Maya Medan : Lulus tahun 1994 5. S1 Keperawatan PSIK Unand Padang : Lulus tahun 2003 6. Pogram Ners PSIK Unand Padang : Lulus tahun 2004 7. Program Akta 5 Universitas Negeri Padang : Lulus tahun 2004 8. Magister keperawatan : Tahun 2016 - sekarang

Riwayat Pekerjaan :

1. Perawat kamar bedah di rumah sakit Dewi Maya Medan, Tahun 1994 - 1996 2. Perawat ICU di rumah sakit Matha Friska Medan. Tahun 1996-1998

3. Perawat Accident and Emergency di rumah sakit Internasional Glenagles Medan , Tahun 1998-2000

4. Ka. Prodi D3 Keperawatan Stikes Ceria Buana – Sumbar, Tahun 2004 - 2006 5. Staff Puskesmas Kurai Taji – Pariaman , Sumbar , Tahun 2006 - 2009

6. Staff Seksi Jaminan Kesehatan – Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tahun 2009 – 2012 7. Staff Puskesmas Pejuang Kota Bekasi, Tahun 2012 – sekarang

(28)

MAHASISWA PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN FIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth: Bapak/Ibu Perawat Di

Tempat

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan dibawah ini , mahasiswa Manajemen Keperawatan Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta

Nama : Adriyanti Amran NRM : 2016980026

Akan mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Pelatihan Manajemen Nyeri

Terhadap Peningkatan Kompetensi Manajemen Nyeri oleh Perawat di ruang Penyakit Dalam Dewasa dirumah sakit padang pariaman tahun 2018”

Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi bapak dan ibuk sekalian. Kerahasiaan serta informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian.

Apabila Bapak/Ibu menyetujui maka dengan ini saya mohon kesediaannya untuk menanda tangani lembaran persetujuan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam lembaran kuesioner. Atas kesediaan Bapak/ Ibu sebagai responden saya mengucapkan terima kasih.

Jakarta , 2018 Peneliti

(Adriyanti Amran)

(29)

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN (INFORMED CONSENT)

Setelah mendapat penjelasan tentang tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian dari peneliti, saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh Adriyanti Amran Mahasiswa Magister Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta dengan judul “Pengaruh Pelatihan

Manajemen Nyeri Terhadap Peningkatan Kompetensi Perawat di ruang Penyakit Dalam Dewasa dirumah sakit padang pariaman tahun 2018”

Demikian persetujuan ini saya berikan untuk dapat dipergunakan semestinya.

Pariaman , 2018 Responden

(30)

KUESIONER PENELITIAN

Petunjuk Pengisian:

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan menulis pada tempat yang telah disediakan check list (√) pada salah satu pilihan yang sudah disediakan

Kode Responden : (Diisi oleh peneliti)

A. Identitas Responden

1. Inisial Responden : …. 2. Usia : …. Tahun

3. Masa Dinas : …. Tahun

4. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 5. Pendidikan : SPK/SPR DIII Kep

S1 Keperawatan/Ners S2 Keperawatan

(31)

Kuesioner Pengetahuan Perawat Petunjuk Pengisian

1. Berilah tanda cheklist (√) pada kolom “Betul”, jika pernyataan tersebut menurut Bapak/Ibu Betul

2. Berilah tanda cheklist (√) pada kolom “Salah”, jika pernyataan tersebut menurut Bapak/Ibu Salah

No Pernyataan Betul Salah

1. Pengkajian nyeri dapat dilakukan dengan dengan menanyakan faktor yang memicu timbulnya nyeri

2. Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang yang berfungsi untuk menerima ransangan nyeri

3. Teori gate kontrol mengatakan bahwa bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan disepanjang sistem saraf pusat

4. Skrining nyeri merupakan langkah awal bagi perawat sebelum melakukan manajemen nyeri non farmakologi

5. Nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang dapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial

6. Pendekatan farmakologi merupakan tindakan kolaburasi antara perawat dengan dokter, yang menekankan pada pemberian obat.

7. Manajemen nyeri adalah tindakan pemberian obat yang dilakukan oleh dokter

8. Menganjurkan pasien untuk mendengarkan ayat suci Alquran adalah salah satu contoh dari tekhnik relaksasi.

(32)

9. Non Steroid Anti Inflamation Drug (NSAID), dapat digunakan pada keadaan nyeri yang sangat hebat

10. Analgesik merupakan metode umum yang efektif untuk mengatasi nyeri

11. Depresi pernapasan jarang terjadi pada pasien yang telah menerima opioid selama beberapa bulan.

12. Pasien dengan nyeri harus dibantu untuk mengatasi nyeri sebelum terjadi peningkatan nyeri.

13. Pasien harus disarankan untuk menggunakan teknik non farmakologi saja, tidak bersamaan dengan tekhnik farmakologi.

14. Visual Analog Scale (VAS), adalah alat yang dapat membantu perawat menetapkan skala nyeri pasien, dengan cara memperkirakan berat ringannya nyeri yang dirasakan pasien

15. Analgesik non opioid adalah jenis analgesik narkotik

16. Aspirin dan agen anti-inflamasi nonsteroid lainnya tidak efektif untuk nyeri akibat metastase

17. Dalam pengkajian tidak penting menanyakan karakteristik nyeri dengan pendekatan menggunakan PQRS

18. Penataan nyeri non farmakologi antara lain relaksasi, distraksi dan imajinasi terbimbing

19. Tekhnik relaksasi adalah upaya menciptakan kesan dalam fikiran pasien dan pasien berkonsentrasi dengan kesan tersebut.

(33)

20. Opioid adalah jenis analgesik non narkotik yang dipakai dalam penanganan nyeri .

21. Pendekatan pengkajian karakteristik nyeri pasien menggunakan PQRST, dimana T adalah waktu kapan nyeri dirasakan pasien

22. Hipnosis merupakan tekhnik distraksi dalam manajemen non farmakologi

23. Yang termasuk teknik distraksi adalah alih fokus perhatian dan dukungan keluarga

24. Pendekatan pengkajian dengan metode PQRST, mempermudah perawat melakukan pengkajian nyeri

25. Manajemen nyeri non farmakologi adalah tugas kolaboratif perawat, sedangkan manajemen nyeri farmakologi merupakan tugas mandiri perawat.

26. Salah satu guna pengkajian respon nyeri adalah respon afektif

27. Mekanisme adaptasi klien terhadap nyeri terdapat dalam tujuan dalam pelaksanaan nyeri

28. Durasi keluhan nyeri dan mengurangi intensitas nyeri adalah merupakan bagian dari pengkajian

29. Salah satu tujuan dari pelaksanaan nyeri adalah mengurangi penderitaan dan ketidak mampuan akibat nyeri

30. Distraksi adalah merupakan tindakan farmakologi

(34)

31. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologis

32. Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri merupakan tujuan pelaksanaan nyeri 33. Proses nyeri dimulai dari reseptor non

nyeri

34. Impuls nyeri tdak dapat diatur , dihambat oleh mekanisme pertahanan

35. Letak yang berbeda pada rangsangan nyeri akan menimbulkan sensasi yang sama terhadap nyeri yang dirasakan

(35)

Kuesioner Sikap Perawat

Petunjuk :

Isilah pernyataan berikut dengan memberikan tanda ceklis (√) pada kolom jawaban yang disesuaikan dengan pemahaman anda

1. Selalu (SL), jika pernyataan tersebut selalu anda lakukan 2. Sering (SR), jika pernyataan tersebut sering dilakukan 3. Kadang-kadang (KD), jika pernyataan jarangdilakukan

4. Tidak Pernah (TP), jika pernyataan sama sekali tidak pernah dilakukan

No Pernyataan SL SR KD TP

1. Saya melakukan skrining nyeri dalam pengkajian awal terhadap pasien baru masuk

2. Saya mengkaji faktor yang menyebabkan nyeri pada pasien

3. Saya melakukan pengkajian nyeri guna menentukan ada tidaknya nyeri

4. Saya menggunakan metode PQRST dalam mengkaji karakteristik nyeri pasien

5. Saya melakukan pengkajian respon nyeri guna melihat respon afektif pasien 6. Saya menetapkan skala nyeri pasien

bersama pasien dengan menggunakan skala VAS

7. Saya memberikan analgesik sesuai anjuran dokter

8. Saya menanyakan keluhan pasien terhadap efek samping akibat pemberian analgesik 9. Saya mendemonstrasikan kepada pasien

salah satu metode manajemen nyeri non farmakologi

10. Saya melihat kemampuan pasien

melakukan salah satu metode manajemen nyeri yang saya contohkan

11. Saya mengevaluasi skala nyeri pasien setelah dilakukan manajemen nyeri farmakologi

12. Saya melakukan pencatatan atas peningkatan nyeri pasien menuju rasa nyaman

(36)

13. Saya mengevaluasi skala nyeri pasien setelah dilakukan manajemen nyeri non farmakologi

14. Saya melakukan salah satu distraksi untuk manajemen non farmakologi

15. Saya menjelaskan kepada pasien untuk prosedur tindakan

(37)

LEMBAR OBSERVASI PENERAPAN MANAJEMEN NYERI

No PERNYATAAN Dilakukan Tidak dilakukan

1. Perawat melakukan skrining nyeri pada pengkajian awal

2. Perawat mengkaji faktor yang menyebabkan nyeri pada pasien 3. Perawat menggunakan metode

PQRST dalam mengkaji karakteristik nyeri pasien

4. Perawat menetapkan skala nyeri pasien bersama pasien dengan menggunakan skala VAS

5. Perawat memberikan analgesik sesuai anjuran dokter

6. Perawat menanyakan keluhan pasien terhadap efek samping akibat

pemberian analgesik

7. Perawat mendemonstrasikan kepada pasien salah satu metode manajemen nyeri non farmakologi

8. Perawat melihat kemampuan pasien melakukan salah satu metode manajemen nyeri non farmakologi yang dicontohkan perawat

9. Perawat mengevaluasi skala nyeri pasien setelah dilakukan manajemen nyeri farmakologi dan non

farmakologi

10. Perawat melakukan pencatatan atas peningkatan kenyamanan atau peningkatan nyeri pasien

(38)

Draf SOP Manajemen Nyeri

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

PADANG PARIAMAN MANAJEMEN NYERI

Jl. Raya Bukit Tinggi Desa Parit Malintang

No. Dokumen .../.../2018

No. Revisi Halaman

STANDAR OPERASINAL PROSEDUR DITETAPKAN OLEH DIREKTUR RSUD PADANG PARIAMAN dr. ... I. PENGERTIAN : Menyiapkan pasien dan keluarga tentang strategi

mengurangi nyeri atau menurunkan nyeri ke level kenyamanan yang diterima oleh pasien

II. TUJUAN : Memfasilitasi pasien untuk tindakan pengurangan nyeri

III. KEBIJAKAN : Dilakukan pada pasien yang mengalami nyeri

IV. PROSEDUR : 1. Lakukan pengkajian yang komprehensif tentang nyeri, termasuk lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, atau beratnya nyeri dan faktor presipitasi 2. Amati perlakuan non verbal yang

menunjukkan ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan komunikasi efektif 3. Pastikan pasien menerima analgesik yang

tepat/ tindakan mandiri manajemen nyeri 4. Gunakan strategi komunikasi terapeutik yang

dapat diterima tentang pengalaman nyeri dan merasa menerima respon pasien terhadap nyeri

(39)

5. Identifikasi dampak pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup

6. Evaluasi pasca mengalami nyeri termasuk riwayat individu dan keluarga mengalami nyeri kronik atau yang menimbulkan ketidakmampuan

7. Evaluasi bersama klien tentang efektifitas pengukuran kontrol paska nyeri yang dapat digunakan

8. Bantu pasien dan keluarga untuk memperoleh dukungan

9. Bersama keluarga mengidentifikasi kebutuhan untuk mengkaji kenyamanan pasien dan merencanakan monitoring tindakan

10. Beri informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama berakhir, antisipasi

ketidaknyamanan dari prosedur

11. Ajarkan kepada pasien untuk mengontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien mengalami ketidaknyamanan (misal: temperature ruangan, cahaya, kebisingan)

12. Mengajarkan pada pasien bagaimana

mengurangi atau menghilangkan faktor yang menjadi presipitasi atau meningkatkan pengalaman nyeri (misal: ketakutan, kelemahan, monoton, dan rendahnya pengetahuan)

13. Pilih dan implementasikan berbagai pengukuran (misal: farmakologi,

nonfarmakologi, dan interpersonal) untuk memfasilitasi penurun nyeri

(40)

14. Mengajarkan kepada pasien untuk

mempertimbangkan jenis dan sumber nyeri ketika memilih strategi penurun nyeri 15. Anjurkan pasien untuk memantau nyerinya

sendiri dan intervensi segera

16. Ajarkan teknik penggunaan nonfarmakologi (misal: biofeedback, TENS, hypnosis, relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas, acupressure, terapi dingin/panas, dan pijatan) 17. Jelaskan tentang penggunaan analgetik untuk

penurun nyeri yang optimal

18. Gunakan pengukuran control nyeri sebelum nyeri meningkat

19. Lakukan verifikasi tingkat ketidaknyamanan dengan pasien, catat perubahan pada rekam medik.

20. Evaluasi keefektifan pengukuran kontrol nyeri yang dilakukan dengan pengkajian terus-menerus terhadap pengalaman nyeri 21. Modifikasi pengukuran kontrol nyeri pada

respon pasien

22. Dorong istirahat yang adekuat/tidur untuk memfasilitasi penurunan nyeri

23. Anjurkan pasien untuk mendiskusikan pengalaman nyeri, sesuai keperluan

24. Beri informasi yang akurat untuk mendukung pengetahuan keluarga dan respon untuk pengalaman nyeri

25. Melibatkan keluarga dalam modalitas penurun nyeri, jika mungkin

(41)

26. Pantau kepuasan pasien dengan manajemen nyeri pada rentang spesifik

(42)

DRAFT FORMAT TINDAKAN DISTRAKSI

No Aspek Yang dinilai

Tidak dilaku kan Dilaku kan Ket

1. Membina hubungan saling percaya 2. Menjelaskan prosedur tindakan

3. Anjurkan klien untuk mencari posisi yang nyaman

4. Duduk dengan klien tapi tidak mengganggu

5. Melakukan bimbingan kepada klien: a. Meminta klien memikirkan hal-hal

yang menyenangkan.

b. Ketika klien relaks dan berfokus pada bayangannya, perawat menunggu dalam kondisi diam c. Jika klien menunjukkan adanya

agitasi, gelisah dan tidak nyaman, hentikan latihan dan mulai lagi saat klien siap.

d. Relaksasi akan mempengaruhi klien selama 15 menit, catat daerah yang tegang dan biasanya klien akan relaks setelah menutup matanya sambil mendengarkan musik yang lembut

e. Catat hal-hal yang membantu klien untuk relaks untuk digunakan pada latihan selanjutnya

(43)

6. Dokumentasikan tindakan keperawatan

(44)

DRAFT FORMAT TINDAKAN RELAKSASI

No Aspek Yang dinilai Tidak Dilaku kan

Dilaku kan

Ket

1.

Posisi klien diatur sedemikian rupa hingga klien merasa nyaman, bisa duduk atau berbaring

2.

Instruksikan klien untuk menghirup nafas dalam hingga rongga dada berisi udara bersih.

3.

Pasien perlahan menghembuskan nafas dan membiarkannya keluar dari semua tubuh, saat itu suruh klien merasakan betapa rasanya.

4. Pasien bernafas normal beberapa saat (1-2 menit)

5. Pasien bernafas dalam dan menghembuskan perlahan dan rasakan udara mengalir dari tangan, kaki dan menuju ke paru. Kemudian ulangi kembali.

6. Setelah klien rileks kemudian irama nafas ditambah. Gunakan pernafasan dada dan abdomen. 7. Kaji respon klien setelah diberikan

terapi relaksasi nafas dalam 8. Dokumentasikan tindakan

(45)
(46)

Referensi

Dokumen terkait

Variabel dependen yang digunakan merupakan variabel binary , yaitu apakah perusahaan tersebut mengalami financial distress atau tidak.Variabel independen yang digunakan

ditandatangani oleh 147 kepala negara dan pemerintahan pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat pada

Dalam melakukan pengelolaan sumber daya yang baik dalam hal ini berupa modal intelektual ( intellectual capital ) yaitu human capital, structural capital, dan

Berdasarkan hal yang telah dijelaskan diatas, maka penulis mengambil judul dalam penelitian ini adalah “ RANCANG BANGUN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PICOHYDRO DI DUSUN CIBUNAR

Hasil yang ditemukan dilapangan menunjukkan bahwa Maintenance Reminder Appointment (MRA) dalam layanan purna jual di Agung Toyota Bengkulu mempunyai strategi

Pada kelompok perlakuan hari ke-15 pasca penghentian pajanan MSG menunjukkan penurunan rerata jumlah tubulus proksimal dan korpuskulum ginjal rusak bila dibandingkan

a. Peletakan penzoningan pada site yang disesuaikan dengan kebutuhan dari kegiatan Sekolah Mode dengan kondisi lingkungan sekitar, yang menghasilkan pola tatanan

Berdasarkan analisis data, pembahasan hasil penelitian, khususnya analisis data seperti yang telah diuraikan dalam pembahasan mengenai hubungan intensitas