HIKAYAT SRI
HIKAYAT SRI
RAM…
RAM…
24
24
MEI
MEI
HIKAYAT SRI RAMAHIKAYAT SRI RAMA
Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan rimba
Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan rimba
belantara namun tak juga mendapat kabar keberadaan Sita Dewi.
belantara namun tak juga mendapat kabar keberadaan Sita Dewi.
Saat Sri Rama dan Laksamana berjalan di dalam hutan, mereka bertemu dengan seekor burung jantan dan
Saat Sri Rama dan Laksamana berjalan di dalam hutan, mereka bertemu dengan seekor burung jantan dan
empat ekor burung betina. Lalu Sri Rama bertanya pada burung jantan tentang keberadaan Sita Dewi yang
empat ekor burung betina. Lalu Sri Rama bertanya pada burung jantan tentang keberadaan Sita Dewi yang
diculik orang. Burung jantan mengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya dengan baik, tak seperti
diculik orang. Burung jantan mengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya dengan baik, tak seperti
dia yang memiliki empat istri namun bisa menjaganya. Tersinggunglah Sri Rama mendengar perkataan burung
dia yang memiliki empat istri namun bisa menjaganya. Tersinggunglah Sri Rama mendengar perkataan burung
itu. Kemudian, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya agar memgutuk burung itu menjadi buta hingga
itu. Kemudian, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya agar memgutuk burung itu menjadi buta hingga
tak dapat melihat istri-istrinya lagi. Seketika burung itu buta atas takdir Dewata Mulia Raya.
tak dapat melihat istri-istrinya lagi. Seketika burung itu buta atas takdir Dewata Mulia Raya.
Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum
Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum
di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada bangau itu. Bangau mengatakan bahwa ia melihat bayang-bayang
di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada bangau itu. Bangau mengatakan bahwa ia melihat bayang-bayang
seorang wanita dibawa oleh Maharaja Rawana. Sri Rama merasa senang karena mendapat petunjuk dari
seorang wanita dibawa oleh Maharaja Rawana. Sri Rama merasa senang karena mendapat petunjuk dari
cerita bangau itu. Sebagai balas budi, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya untuk membuat leher
cerita bangau itu. Sebagai balas budi, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya untuk membuat leher
bangau menjadi lebih panjang sesuai dengan keinginan bangau. Namun, Sri Rama khawatir jika leher bangau
bangau menjadi lebih panjang sesuai dengan keinginan bangau. Namun, Sri Rama khawatir jika leher bangau
terlalu panjang maka dapat dijerat orang.
terlalu panjang maka dapat dijerat orang.
Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian datanglah seorang
Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian datanglah seorang
anak yang hendak mengail. Tetapi, anak itu melihat bangau yang sedang minum kemudian menjerat lehernya
anak yang hendak mengail. Tetapi, anak itu melihat bangau yang sedang minum kemudian menjerat lehernya
untuk dijual ke pasar. Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan membebaskan bangau dengan
untuk dijual ke pasar. Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan membebaskan bangau dengan
memberi anak itu sebuah cincin.
memberi anak itu sebuah cincin.
Ketika dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air. Sri
Ketika dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air. Sri
Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air. Setelah
Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air. Setelah
berhasil mendapatkan air itu, Laksamana membawanya pada Sri Rama. Saat Sri Rama meminum air itu,
ternyata air itu busuk. Sri Rama meminta Laksamana untuk mengantarnya ke tempat sumber air dimana
ternyata air itu busuk. Sri Rama meminta Laksamana untuk mengantarnya ke tempat sumber air dimana
Laksamana memperolehnya. Sesampai di tempat itu, dilihatnya air itu berlinang-linang. Sri Rama mengatakan
Laksamana memperolehnya. Sesampai di tempat itu, dilihatnya air itu berlinang-linang. Sri Rama mengatakan
bahwa dulu pernah ada binatang besar yang mati di hulu sungai itu. Kemudian, Sri Rama dan Laksamana
bahwa dulu pernah ada binatang besar yang mati di hulu sungai itu. Kemudian, Sri Rama dan Laksamana
memutuskan untuk mengikuti jalan ke hulu sungai itu.
memutuskan untuk mengikuti jalan ke hulu sungai itu.
Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah
Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah
rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya
rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya
pada Sri Rama tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai bercerita, ia lalu
pada Sri Rama tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai bercerita, ia lalu
memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat Jentayu gugur ke bumi saat berperang dengan Maharaja
memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat Jentayu gugur ke bumi saat berperang dengan Maharaja
Rawana. Kemudian, cincin itu diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama melihat cincin itu memang benar
Rawana. Kemudian, cincin itu diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama melihat cincin itu memang benar
cincin istrinya, Sita Dewi.
cincin istrinya, Sita Dewi.
Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh
Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh
singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit tersebut ada
singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit tersebut ada
saudara Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin saudaranya itu mengetahui
saudara Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin saudaranya itu mengetahui
bahwa dirinya akan segera mati. Setelah Jentayu selesai berpesan, ia pun mati.
bahwa dirinya akan segera mati. Setelah Jentayu selesai berpesan, ia pun mati.
Sri Rama menyuruh Laksamana
Sri Rama menyuruh Laksamana mencari tempat yang tidak terdapat manusia dengan mencari tempat yang tidak terdapat manusia dengan memberinya sebuahmemberinya sebuah
tongkat. Tetapi, Laksamana tidak berhasil menemukan tempat itu. Lalu ia kembali pada Sri Rama. Laksamana
tongkat. Tetapi, Laksamana tidak berhasil menemukan tempat itu. Lalu ia kembali pada Sri Rama. Laksamana
mengatakan pada Sri Rama bahwa ia tidak dapat menemukan tempat sesuai perintah Sri Rama. Kemudian,
mengatakan pada Sri Rama bahwa ia tidak dapat menemukan tempat sesuai perintah Sri Rama. Kemudian,
Sri Rama menyuruh Laksamana untuk menghimpun semua kayu api dan meletakkannya di tanagn Sri Rama.
Sri Rama menyuruh Laksamana untuk menghimpun semua kayu api dan meletakkannya di tanagn Sri Rama.
Lalu diletakkannya bangkai Jentayu di atas kayu api itu dan di bakar oleh Laksamana. Beberapa lama
Lalu diletakkannya bangkai Jentayu di atas kayu api itu dan di bakar oleh Laksamana. Beberapa lama
kemudian, api itu padam. Laksamana heran melihat kesaktian Sri Rama yang tangannya tidak terluka bakar
kemudian, api itu padam. Laksamana heran melihat kesaktian Sri Rama yang tangannya tidak terluka bakar
sedikitpun. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat itu.
sedikitpun. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat itu.
Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:
Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:
1.
1. TemaTema: Kesetiaan dan pengorbanan: Kesetiaan dan pengorbanan
bukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitanbukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan
mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri
mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri
Rama.
Rama.
1.
1. Alur Alur : Maju: Maju
bukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukanbukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan
petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah
petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah
menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan
menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan
Sri Rama.
Sri Rama.
1.
1. PenokohanPenokohan: diceritakan secara dramatik (tidak langsung): diceritakan secara dramatik (tidak langsung)
2.
2. TokohTokoh::
1.
1. Tokoh Tokoh utama: utama: Sri Sri RamaRama
2.
2. Tokoh tambahan: Tokoh tambahan: Laksamana, Sita Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Rawana, Jentayu, Dasampani, burung Dasampani, burung jantan, danjantan, dan
bangau.
bangau.
3.
3. Setting/latar ceritaSetting/latar cerita
1.
1. Latar Latar waktu: waktu: siang siang harihari
bukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayat
1.
1. Latar Latar tempat: tempat: di di hutan hutan rimba rimba belantarabelantara
bukti: pada paragraf pertama kalimat kedua
bukti: pada paragraf pertama kalimat kedua
1.
1. Latar Latar suasana: suasana: bahagia, bahagia, mengaharukanmengaharukan
bukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.
bukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.
1.
1. Sudut pandangSudut pandang: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utama: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utama
2.
2. AmanatAmanat: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.
http://desveeta.wordpress.com/2012/05/24/hikayat-sri-ram/
http://desveeta.wordpress.com/2012/05/24/hikayat-sri-ram/
HIKAYAT SERI RAMA HIKAYAT SERI RAMA Posted on
Posted on 27 Juni 201127 Juni 2011byby ayiestaayiesta
HIKAYAT SERI RAMA HIKAYAT SERI RAMA
Raja Dasarata di negeri Ayoda mohon kepada para dew
Raja Dasarata di negeri Ayoda mohon kepada para dew a agar dikaruniai anak.Permohonannyaa agar dikaruniai anak.Permohonannya dikabulkan,Dasarata dikaruniai 4 orang anak yaitu
dikabulkan,Dasarata dikaruniai 4 orang anak yaitu Rama,Barata,Laksamana,dan Satrugna.Rama,Barata,Laksamana,dan Satrugna.
Setelah besar Rama berhasil dalam mengikuti sayembara memanah,sehingga dapat memperistri Sita, anak Setelah besar Rama berhasil dalam mengikuti sayembara memanah,sehingga dapat memperistri Sita, anak raja Janaka di negeri Mantili.
raja Janaka di negeri Mantili.
Pada suatu hari salah seorang istri Dasarata bernama Kaikayi yang melahirkan barata,setelah berhasil Pada suatu hari salah seorang istri Dasarata bernama Kaikayi yang melahirkan barata,setelah berhasil menyembuhkan raja Dasarata ketika sakit,menuntut agar kelak yang me
menyembuhkan raja Dasarata ketika sakit,menuntut agar kelak yang me nggantikan Dasarata bukannggantikan Dasarata bukan Rama,melainkan Barata. Dengan perasaan sedih tuntutan itu dikabulkan oleh Dasarata.
Rama,melainkan Barata. Dengan perasaan sedih tuntutan itu dikabulkan oleh Dasarata. Sebenarnya Barata tidak mau menjadi raja me
Sebenarnya Barata tidak mau menjadi raja me nggantikan ayahnya, karena yang berhak menduduki takhtanggantikan ayahnya, karena yang berhak menduduki takhta adalah Rama. Sedangkan Rama sendiri mengambil langkah lebih bijaksana, yakni agar tidak menimbulkan adalah Rama. Sedangkan Rama sendiri mengambil langkah lebih bijaksana, yakni agar tidak menimbulkan keresahan dalam keluarga kerajaan, ia rela
keresahan dalam keluarga kerajaan, ia rela melepaskan haknya menjadi raja. Maka ia pun dengan disertaimelepaskan haknya menjadi raja. Maka ia pun dengan disertai Sitadan Laksamana meninggalkan kerajaan dan mengembara ke hutan selama 14
Sitadan Laksamana meninggalkan kerajaan dan mengembara ke hutan selama 14 tahun. Sebelum Ramatahun. Sebelum Rama meninggalkan kerajaan, Barata minta kepada Rama, agar sepatunya ditinggalkan untuk dijadikan lambang meninggalkan kerajaan, Barata minta kepada Rama, agar sepatunya ditinggalkan untuk dijadikan lambang bahwa Ramalah yang menjadi Raja, sedangkan Barata yang terpaksa menduduki takhta keraj
bahwa Ramalah yang menjadi Raja, sedangkan Barata yang terpaksa menduduki takhta keraj aan itu hanyalahaan itu hanyalah untuk mewakili Rama. Tak lama kemudian Dasarata meninggal dunia karena sedihnya.
untuk mewakili Rama. Tak lama kemudian Dasarata meninggal dunia karena sedihnya. Di dalam hutan, sita diculik Rahwana dan dilarikan ke negeri di kerajaan
Di dalam hutan, sita diculik Rahwana dan dilarikan ke negeri di kerajaan Langka Puri untuk diperistri. AkhirnyaLangka Puri untuk diperistri. Akhirnya dengan pertolongan Hanoman, Rama dapat membebaskan Sita setelah berhasil berhasil menaklukan dan dengan pertolongan Hanoman, Rama dapat membebaskan Sita setelah berhasil berhasil menaklukan dan menewaskan Rahwana.
menewaskan Rahwana.
Setelah Rama dan Sita bertemu, tiba-tiba
Setelah Rama dan Sita bertemu, tiba-tiba terdengar kabar buruk yang mencemarkan nama baik Sita.terdengar kabar buruk yang mencemarkan nama baik Sita. Diberitakan bahwa Sita sudah tidak suci lagi selama di kerajaan Langka Puri. Untuk
Diberitakan bahwa Sita sudah tidak suci lagi selama di kerajaan Langka Puri. Untuk memcampakkan aib danmemcampakkan aib dan malu, maka Sita pun dikucilkan oleh Rama, yang kemudian mendapat perlindungan seorang resi bernama malu, maka Sita pun dikucilkan oleh Rama, yang kemudian mendapat perlindungan seorang resi bernama Walmiki.
Walmiki.
Rama masih belum mempercayai kesucian Sita. Rama baru mau menerima sita
Rama masih belum mempercayai kesucian Sita. Rama baru mau menerima sita jika ia benar-benar suci.jika ia benar-benar suci. Mendengar hal itu Sita berkata, bahwa bumi akan
Mendengar hal itu Sita berkata, bahwa bumi akan terbuka dan menelannya jika ia benar-benar suci.terbuka dan menelannya jika ia benar-benar suci. Terkabullah permohonan Sita dan barulah Rama percaya akan kesucian Sita.
Terkabullah permohonan Sita dan barulah Rama percaya akan kesucian Sita.
Setelah kejadian itu Rama pun mengundurkan diri ke hutan ssampai akhir hayatnya dan kembalilah ia sebagai Setelah kejadian itu Rama pun mengundurkan diri ke hutan ssampai akhir hayatnya dan kembalilah ia sebagai Wisnu di keindraan.
Karakteristik Karakteristik
Bentuk
Bahasa : Melayu tradisional
Dipengaruhi : Kehidupan tradisi Sifat Masyarakat : statis
Sifat Karya Sastra : statis Sifat Isi : Khayal Pengarang :Anonim Penyajia : tertulis
Gaya : Menggunakan bahasa mudah dipahami Isi / Amanat / pesan : Pendidikan
Tokoh : Manusia
http://midu02.wordpress.com/2011/06/27/hikayat-seri-rama/
Hikayat Sri Rama
Hikayat Sri Rama
Raja Dasarata ialah raja di Ispahana Boga. Baginda keturunan Nabi Adam, dikatakan turunan yang keempat. Baginda hendak mendirikan negeri dan istana baru, lalu perdana menteri disuruh mencari tempat yang baik. Di tempat yang akan didirikan istana itu terdapat serumpun bamboo hijau. Berkali-kali dicoba orang mencabut rumpun bambu itu tetapi tidak tercabut. Akhirnya baginda sendirilah yang datang merubuhkan rumpun bambu itu, di sana terlihat oleh seorang perempuan sedang duduk di atas tahtanya Mandudari namanya, perempuan itu lalu djambil Raja Dasarata untuk dijadikan sebagai permaisurinya.
Sesudah perkawinan berlangsung barulah di tempat itu didirikan negeri lengkap dengan istananya yang bernama negeri Mandurapura. Mula-mula Raja, Dasarata tiada mendapatkan putra. Lama
kelamaanbarulah baginda mempunyai juga putra dari Mandudari, Rama, dan Laksamana nama putranya itu. Baginda mempunyai putra itu berkat bagawan (maharesi). Dari istri yang kedua baginda berputra tiga orang, yaitu dua laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki bernama Bardana serta Citradana serta yang perempuan bernama Kikurvi.
Baginda berjanji kepada Baliadari (gundik Baginda) bahwa anaknyalah yang akan diangkat menjadi raja kelak menggantikan baginda. Putri yang dijanjikan itu adalah Bardana, namun yang sebenarnya berhak menjadi raja adalah Sri Rama. Hal itu terjadi karena Jogi yang telah menyumpahi Dasarata bahwa Sri Rama tidak akan dilihat dewasa oleh bapaknya karena Dasarata berdosa telah membunuh anak Jogi. Timbullah berita ada seorang raja raksasa mencintai Mandudari. Mandudari yang dicintainya itu dikiranya Mandudari asli karena rupanya persis seperti Mandudari, Rawana lalu mengambil Mandudari dan disangkanya
sebagai Mandudari yang asli. Waktu diambil Rawana sebenarnya perempuan itu telah mengandung
anak Dasarata. Setelah sampai waktunya Mandudari melahirkan seorang anak perempuan yangsebenarnya bayi itu anak Dasarata.
Rawana tidak suka kepada anak yang dilahirkan Mandudari karena menurut ramalan anak itu akan dibinasakan oleh bakal suaminya kelak. Karena itu, Rawana hendak melenyapkan nya. Akan tetapi atas desakan istrinya, perbuatan itu tidak jadi dilakukannya. Anak itu kemudian dimasukkan ke dalam peti besi dan dihanyutkan. Anak itu kemudian ditemukan oleh Maharesi Kali, dan diberi nama Sita Dewi. Maharesi Kali menanam 40 batang pohon lontar serta berjanji barang siapa yang dapat menembusnya dengan satu kali panah saja maka ia akan dijadikan suami Sita Dewi. Rama dan Laksamana diundang oleh Maharesi Kali untuk ikut serta dalam perlombaan memanah yang diadakan dalam sayembara. Pada mulanya, Dasarata tidak suka kedua anaknya itu ikut sayembara. Dasarata mengirimkan saja saudara Rama yang lain,hanya tidak seorang pun diantaranya yang sanggup menembus keempat puluh pohon lontar itu. Karena tidak seorang pun yang berhasil, akhirnya Rama dan Laksamana diberi izin untuk turut dalam sayembara itu.
Dalam perjalanan menuju ke tempat Maharesi Kali, Rama melakukan beberapa perbuatan yang hebat, panah Rama lah yang dapat menembus keempat puluh pohon lontar itu dengan baik. Rawana yang menjadi saingannya hanya dapat menembus 35 pohon. Karena kemenangan itu, Rama lalu dikawinkan dengan Sita Dewi. Rama sebenarnya kawin dengan saudaranya sendiri karena sebelumnya Mandudari jatuh ke tangan Rawana, ia telah mengandung anak Dasarata Bapak Sri Rama.
Atas kemenangan, itu Rawana menaruh dengki dan amarah kepada Rama, tetapi ia belum
berani menyerang karena belum datang saatnya. Sebelum Rawana menyerang, Rama telah mengalahkan beberapa musuhnya. la telah memperlihatkan kesaktiannya pula dalan bermacam-macam hal, dia
telah berhasil mengalahkan Pusparama.
Seperti telah dikatakan bahwa Rama tidak dapat menggantikan ayahnya menjadi raja, Rama sendiri tidak menyesal tentang itu karena ia sendiri lebih suka bertapa. Tetapi sebaliknya, Dasarata, ayahnya, selalu
bersedih hati sampai meninggal. Kemudian, Sri Rama, Laksamana, dan Sita Dewi mengasingkan diri ke dalam hutan untuk bertapa.
Terdengar pula berita bahwa Rawana bermusuhan dengan raja-raja kera. Karena Balia dan Semburana, telah melanggar negeri kera. Istri Rawana, Belia Putri, dari raja kera yang lain. Hanoman melarikan 40 orang perempuan dariistana. Rawana telah kehilangan istrinya. Berkat pertolongan Maharesi, Rawana dapat
memperoleh istrinya kembali. Istrinya itu sudah hamil pula dan kandungannya itu dilahirkan dengan perantaraan seekor kambing. Anaknya laki-laki diberi nama Anggada. Rupanya persis seperti kera.
Dalam cerita itu, panjang lebar diuraikan asal-usul kera itu. Yang penting di dalamnya ialah kelahiran Hanoman. la dilahirkan oleh seorang putri, Dewi Anjani namanya. Dewi Anjani hamil dengan cara yang luar biasa sebab mani Sri Rama dengan perantaraan Bagu dimaksukkan ke dalam badan Dewi Anjani. Setelah
besar, Hanoman ingin mengetahuisiapa ayahnya dan karena itu ia pergi bertapa supaya mendapat pengetahuan.
Dalam hutan tempat pertapaan Rama, terdapat seorang gergasi (raksasa) perempuan, Sura Pendaki namanya, saudara perempuan Rawana. Anak raksasa itu akan dibunuh oleh Laksamana. Semula ia marah, tetapi akhirnya ia jatuh cinta kepada Laksamana, tetapi Laksamana menolaknya dan memotong hidung gergasi itu.
Rawana mencari akal untuk memisahkan untuk memisahkan Sita dan Rama. Dengan
bermacammacam tipu daya yang digunakan, Rawana agar berhasil melarikan Sita. Untuk melaksanakan itu Rawana agak sulit karena ia selalu berada di dalam lingkaran sakti. Akhirnya dengan segala tipu muslihat Rawana berhasil juga, Sita dibujuknya untuk mengeluarkan tangannya dari lingkaran itu lalu ia ditangkapnya. Kejadian itu disaksikan oleh burung jatayu. Burung itu pun dibunuh oleh Rawana. Sebelum meninggalkan tempat itu Sita berhasil meninggalkan cincinnya dalam burung itu dan akan jadi tanda bagi Rama. Dalam keadaan sakaratul maut, Jatayu berhasil juga memberitahukan tentang Sita kepada Rama, lima puluh hari lamanya Rama berduka cita.
http://fajarkurniadi1.blogspot.com/2011/11/hikayat-sri-rama.html
Hikayat Seri Rama
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Hikayat Seri Rama merupakan salah satu cerita adaptasi dalam bahasa Melayu dari epik Ramayana yang tersebar luas mulai dari India sampai ke seluruh Asia Tenggara, bersama denganHikayat Maharaja Wana. Garis besar cerita masih sama dengan cerita aslinya yang merupakan karya sastra berbahasa Sanskerta, tetapi ada perubahan dalam penyebutan nama dan tempat menyesuaikan dengan lidah Melayu. Ramayana versi Melayu telah dikembangkan oleh para sastrawan Melayu, sehingga mempunyai perbedaan dengan versi aslinya, contohnya
kisahLaksmana(Lakshman) adik dari Seri Rama yang diceritakan mempunyai peran yang lebih besar daripada kakaknya, hal ini mirip dengan cerita Ramayana versi Laos yaitu kisah Phra Lak Phra Lam (Laksamasa dan Rama) yang juga memberikan perhatian lebih besar kepada Laksamana daripada Rama.
Hikayat Seri Rama yang aslinya ditulis dalam huruf Jawi gundul, banyak menunjukkan variasi ejaan nama karena juru salin tidak mengenali nama-nama tokoh ini secara benar lagi. Beberapa contoh:
Rawana -> Duwana
(si) Hanuman -> Syah Numan
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Karakter
o 1.1 Dewa o 1.2 Manusia
o 1.3 Sekutu dari Seri Rama o 1.4 Musuh dari Seri Rama
2 Lihat pula [sunting]
Karakter
[sunting]Dewa
Iswara/Siwa (Iswara/Syiwa) Wisnu Berahma (Brahma) Indera (Indra) Suria (Surya) Bayu- Dewa angin dan ayah Hanuman
[sunting]
Manusia
Seri Rama (Sri Rama) Siti Dewi (Sita Devi)
Barata (Bharata), Laksmana (Lakshman) and Satrugna (Shatrughna)- saudara saudara Rama Dasarata (Dasaratha)- Ayah dari rama
[sunting]
Sekutu dari Seri Rama
Sugriwa Jatayu
[sunting]
Musuh dari Seri Rama
Rawana (Rahwana)- raksasa berlengan 20 dan ber-wajah 20 Raja dari Langkapuri
[sunting]
Lihat pula
Sastra Melayu Ramayana
Kakawin Ramayana - Ramayana versi Jawa
Reamker (Kemenangan Rama) - Puisi Epik Kamboja yang berdasar pada epik Ramayana Ramakien - Ramayana versi Thailand
Phra Lak Phra Lam - Ramayana versi Laos http://id.wikipedia.org/wiki/Hikayat_Seri_Rama
Hikayat Seri Rama
Ramayana, Cerita yang Tidak Pernah Usang
Judul : Hikajat Seri Rama Penerbit : Balai Poestaka Tahun : 1938
Tebal : 256 halaman
RAMA dan Sita (Sinta) merupakan sejoli yang berasal dari e pik Ramayana. Dalam proses perjalanan dari
negeri asalnya, kedua sosok tersebut telah ber ubah dari versi aslinya menjadi bentuk cerita yang sarat dengan muatan lokal di mana cerita itu berkembang. Sebenarnya kisah Ramayana bukanlah sekadar cerita cinta
seperti Romeo dan Juliet, tetapi sebuah drama ke hidupan yang penuh idealisme, nilai moral, penggambaran kondisi sosial, budaya, dan politik.
Inilah yang terjadi dengan Hikajat Ser i Rama yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1938. Tradisi lisan yang mengusung kisah Ramayana ke Nusantara pada abad ke-13 itu biasanya dibawakan oleh seorang penutur cerita atau pendongeng dalam sebuah pertunjukan.
Sejak abad ke-16, saling terjemah naskah genre "yang indah" atau kesusastraan antara Jawa dan Melayu terjadi. Itu pula yang terjadi dengan e pik Ramayana. Kisah tersebut pernah diterbitkan PP Roorda van Eysinga tahun 1843, dan pernah dimuat di majalah Journal of the S traits Branch of Royal Asiatic Society, April 1917. WH Rassers, seorang ahli ilmu bahasa Timur yang menulis Disertasi De Pandji Roman (1922) mengungkapkan
bahwa Hikajat Seri Rama, Rama Keling, dan lakon-lakon wayang purwa yang menceritakan tentang Rama sama dengan Rama Kekawin dan Serat Rama karangan Walmiki atau ada yang menyebut Valmiki.
Akan tetapi, tradisi lisan tidak mampu menjaga cerita itu sama persis seperti aslinya. Lingkungan sosial yang kemudian diadaptasikan oleh penutur cerita menjadikan cerita Ramayana sarat dengan muatan lokal. Hal ini pernah diungkapkan oleh WG Shellabear yang menerbitkan epik Ramayana tahun 1957. Menurut dia, ce rita itu sama sekali tidak sesuai dengan karangan Walmiki sebab pengaruh Islam tampak kuat dalam cerita tersebut. Sementara cerita Ramayana yang diterbitkan Balai Pustaka adalah hasil tulisan PP Roorda van Eysinga.
Sebenarnya sejak kapan Ramayana ditulis? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Perkiraan kasar antara tahun 1500 SM sampai 200 SM. Sebuah laporan Press Trust of India, yang dimuat oleh koran Ananda Bazar Patrika pada tanggal 24 Desember 1980, mengungkap bahwa jika hasil penyelidikan yang dilakukan ahli geologi Ahmedabad bisa dipercaya, maka Ramayana tidak mungkin berumur lebih dari 2.800 tahun.
Dalam Hikajat Seri Rama dikisahkan tentang Dasarata Maharaja dari negeri Ispaha Boga yang memiliki lima anak dari dua istri. Istri pertama Mandoe Daki memiliki anak S eri Rama dan Laksmana. Sementara dari Selir Balia Dari punya tiga anak, yaitu Tjitradana, Kikoewi Dewi, dan Berdana. Setelah dewasa, dikisahkan Dasarata menetapkan Seri Rama sebagai putra mahkota. Namun, atas de sakan selir, akhirnya Tjitradana-lah yang harus menjadi raja. Hingga akhirnya Seri Rama harus dibuang ke hutan dan ditemani oleh istrinya, Sita Dewi, serta adiknya, Laksmana. Dalam pengasingannya itu Seri Rama dan Laksmana berkelahi dengan Soera Pandaki, raksasa perempuan adik Rahwana. Kalah bertarung membuat Soera Pandaki meminta kakaknya untuk menculik Sita Dewi.
Cerita terbitan Balai Pustaka ini mengadaptasi kisah yang berasal dari India t ersebut menjadi bermuatan lokal dan dengan bahasa Melayu, seperti dialog yang muncul saat Sugriwa bertemu Rama : "Ja toeanku sjah alam, hambalah yang bernama Soegriwa, saudara maharadja Balia (Subali), radja segala kera, beroe k, lotong, dan koekang siamang, radja negeri Lagoer Katagina".
Penulis India, P Lal, menerjemahkan Ramayana dari tulisan asli Walmiki dalam bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Inggris, dengan judul The Ramayana of Valmiki tahun 1981, kemudian diterjemahkan kembali ke bahasa Indonesia oleh Djokolelono tahun 1995. P Lal mencoba menyingkat karya asli Walmiki menjadi sepertiganya, tetapi dia tidak memperluas, mengadaptasi, menafsirkan. Namun, yang ia lakukan hanyalah memperpendek dengan jalan menyunting dengan taat mengikuti naskah Sansekerta asli, meskipun dia mengakui penyingkatan itu sendiri semacam penafsiran. Dalam epik terjemahan P Lal menunjukkan bahwa Walmiki seorang penyair utama, banyak dialog antartokoh diungkapkan secara puitis dengan gaya tulisan yang baik. Sementara dalam buku Hikajat Seri Rama, tradisi lisan masih tampak kuat di dalamnya. Tulisannya menggunakan gaya bertutur sehingga pembaca merasa seolah-olah ada pendongeng yang membawakan cerita itu secara lisan.
Dalam tulisan P Lal dikisahkan, Dasarata, Raja Ayodya, mempunyai empat putra dari tiga istri. Yang tertua Rama dari permaisuri Kausalya, kemudian Laksmana dan Satrugna dari ibu Sumitra, serta Barata dari istri kesayangan raja, Keikayi. Menjelang usia tua, Dasarata memutuskan untuk menobatkan Rama sebagai putra mahkota. Namun, rencana itu berubah karena Dasarata pernah berjanji akan menjadikan putra Keikayi, Barata, sebagai penggantinya. Karena khawatir akan terjadi pere butan kekuasaan, maka Rama dibuang ke hutan selama 14 tahun. Ditemani istrinya, Sita, dan adiknya, Laksmana, Rama meninggalkan Ayodya. dalam pengasingan tersebut, Laksmana dan Rama berkelahi dengan Sarpakenaka, adik Rahwana, kemudian
hidungnya dipotong oleh Rama. Karena kekalahan tersebut, Sarpakenaka membujuk Rahwana untuk menculik Sita hingga terlaksana. Rahwana berkeras tidak akan mengembalikan Sita ke Rama hingga pertempuran terjadi.
TAMPAKNYA epik Ramayana telah menjelma dalam berbagai bentuk di Indonesia. Ini terbukti dengan adanya Kekawin Ramayana dalam bahasa Kawi (Jawa kuno), yaitu cerita dalam bentuk macapat. Macapat adalah syair tertulis menceritakan kehidupan dengan filosofi tinggi. Macapat juga merupakan bagian dari tradisi lisan Jawa karena disampaikan secara lisan sambil berdendang atau biasanya dikenal dengan nembang. Penerjemahan Kekawin Ramayana itu dilakukan oleh Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Dati I Bali dari bahasa Kawi (Jawa kuno) ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan tahun 1987. Buku ini tetap menggunakan bentuk asli macapat dalam huruf latin dan diberikan terjemahannya.
Ada lagi epik Ramayana yang ditulis Sunardi DM tahun 1976 bersumber dari buku Serat Padhalangan Ringgit Purwa Jilid 36 dan jilid 37, kemudian dipadu dengan cerita-ce rita silsilah yang terdapat dalam buku Arjuna Sasrabahu karangan Raden Ngabehi Sindusastra terbitan Balai Pustaka Weltevreden 1930. Penulis sendiri menyebut kisah Ramayana yang dibuatnya adalah versi Indonesia sebagai terjemahan bebas dari Kekawin Ramayana.
Nuansa Indonesia tampak dari ilustrasi tempat, seperti kutipan berikut: "Berbahagia juga Rama menyaksikan istrinya, Putri Mantili, itu bergembira selalu mengejar capung atau kupu-kupu, memetik bunga-bunga, atau duduk di bawah pohon-pohon rindang sambil mendengarkan burung-burung prenjak, srigunting, dan cocak berkicau bersahut-sahutan". Selain itu, kesan Jawa sangat terasa di sini, seper ti Anoman (Hanoman) dikatakan sangat pandai mendendangkan macapat, dan dalam buku itu pun masih memuat beberapa macapat.
Ada perbedaan mendasar tentang asal-usul Sita, dalam Hikajat Seri Rama diceritakan Sita adalah anak
Rahwana yang dibuang saat bayi karena dia tak menghendaki anak perempuan. Sementara ve rsi Sita tulisan P Lal mirip yang diceritakan Sunardi DM bahwa Sita adalah anak Janaka dari negeri Mantili.
Selain dari penulisan Ramayana dalam fiksi roman, RA Kosasih membuat epik Ramayana dalam bentuk komik dan membuat kisah India itu menjadi sangat Jawa dengan bahasa lisan dan kostum para tokoh yang
mengenakan pakaian seperti raja-raja Jawa. Sejak tahun 1980-an sampai sekarang, komik wayang ini masih beredar dan digemari masyarakat. (Umi Kulsum/Litbang Kompas)
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0306/21/pustaka/379292.htm http://klipingartikel.blogspot.com/2007/07/hikayat-seri-rama.html
Analisis Hikayat Sri Rama
ANALISIS HIKAYAT SRI RAMA (HSR) Oleh ASEP SAEPUDIN
Penyunting : Achadiati Ikram
Penerbit : Penerbit Universitas Indonesia
Jakarta, 1980 1. Ikhtisar Cerita
Awal hikayat, diceritakan perihal lahirnya Rawana setelah dikandung ibunya, Raksagandi, selama dua tahun. Pada usia 12 tahun Rawana sudah biasa memukul mati teman-teman sepermainannya sehingga ia dibuang oleh kakeknya, Bermaraja ke bukit Srandib. Setelah bertapa selama 12 tahun di sana, ia bertemu dengan Nabi Adam. Dengan syarat taat akan hukum Allah SWT., ia dianugerahi empat alam kearajaan yang kesemua
rajanya tunduk kepadanya, yaitu kerajaan alam keindraan, kerajaan di dalam bumi, kerajaan di laut, dan kerajaan di permukaan bumi. Di negeri ke indraan ia berkuasa, beristri Nila Utama dan beranak yang
dinamainya Indrajit. Di dalam bumi ia berkuasa, beristri Putri Pertiwi Dewi ber anak Patala Maharayan. Di laut ia berkuasa, beristri Gangga Mahadewi dan beranak Rawana Gangga Mahasura. Dalam usia 12 tahun anak-anaknya diangkatnya menjadi raja. Di Serandib sendiri Rawana mendirikan istana kerajaan besar, Langkapuri. Semua kerajaan di permukaan bumi (alam dunia) takluk kepadanya kecuali kerajaan Indrapuri,
Birukasyapurwa, Lakurkatakina, dan negeri Aspahaboga.
Sepeninggal Rawana, Negeri Indrapurinegara, Bermaraja, kakek Rawana meninggal digantikan oleh Badanul. Setelah Badanul meninggal, naik tahtalah Raja Citrabaha, ayah Rawana. Citrabaha memiliki tiga or ang anak, yaitu Kumbakarna, Bibusanam, dan Surapandaki. Citrabaha me ninggal digantikan oleh Naruna. Naruna meninggal digantikan oleh Raja Syaksya.
Alkisah, terjadi permusuhan antara kerajaan Biruhasyapurwa dengan kerajaan Indrapurinegara. Citrabaha menyerang Birukasyapurwa dan membunuh keluarga raja Datikawaca.Balikasya, anak adik Datikawaca, naik takhta. Setelah mengembalikan kejayaan Birukasyapurwa, Balikasya ingin membalas dendam, menyerang kerajaan Indrapuranegara. Untuk itu, Balikasya mengutus Sipanjalma dan hulubalang lainnya, menyelidiki negeri Indrapuranegara. Dalam penyelidikannya Sipanjalma meracuni menteri dan hulubalang musuh. Setelah meninggalkan surat tantangan, Sipanjalma mengundurkan diri ke negerinya. Sardal dan Kemendekata atas suruhan Raja Syaksya, mengejar Sipanjalma ke Biruhasyapurwa. Terjadilan perang besar-besaran. Rawana berusaha dan berhasil mendamaikan peperangan antara kerajaan-kerajaan tersebut.
Alkisah pula, Dasarata Raman cucu Nabi Adam dari Dasarata Cakrawati, m enikah dengan putri Mandudari, anak Mahabisnu. Dari perkawinan mereka, lahirlah Sri Rama dan Laksmana. Sebagai balas jasa atas
pertolongannya, Dasarata juga mengawini Baliadari. Dari baliadari Dasarata dikaruniai dua orang anak, yaitu Berdana dan Citradana.
Rawana mendengar kabar bahwa Dasarata memiliki seorang istri yang sangat c antik. Merasa tertarik, dia menemui Dasarata dan meminta Mandudari. Tanpa sepengetahuan suaminya, Mandudari berusaha menciptakan Mandudari tiruan. Mandudari tiruan inilah yang diberikan Dasar ata kepada Rawana. Dengan menyamar sebagai anak-anak, Dasarata menemuni Mandudari tiruan. Pada malam harinya, Dasarata kembali ke wujud aslinya dan bersetubuh dengan Mandudari tiruan. Pagi hari Dasarata kembali menjadi anak-anak dan pulang.
Beberapa bulan kemudian Mandudari tiruan melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik. Akan tetapi, karena ramalan Bibusyanam, saudaranya, bahwa suami anak tersebut akan membahayakannya, anak perempuan tersebut dimasukkan ke dalam lung besi dan dibuangnya ke laut.
Lung besi itu hanyut ke laut negeri D arwatipura dan ditemukan oleh raja negeri itu, Maharaja Kala. Dengan serta merta air susu istrinya, Minuram Dewi pun te rpancar. Putri temuannya itu dinamai oleh Maharaja Kala Sita Dewi.Maharaja Kala menamam 40 pohon lontar berbanjar dan berkata, “barang siapa yang berhasil memanah 40 pohon lontar tersebut dengan sekali panah, maka putri itu akan diberikan kepadanya”.
Mencapai usia 12 tahun, Sita Dewi tumbuh dan termashur sebagai putri M aharaja Kala yang sangat cantik. Banyak putra raja yang datang memintanya untuk dijadikan istri. Maka Maharaja Kala mengumumkan bahwa siap yang dapat memanah 40 pohon lontar yang ditanamnya dalam sekali panah, maka Sita Dewi akan
diberikan kepadanya. Dalam sayembara itu, atas panggilan langsung Maharaja Kala, Sri Rama datang mengikuti sayembara. Sri Rama memenangkan sayembara. Akhirnya Sri Rama menikah dengan Sita Dewi. Setelah berhasil melewati peperangan dengan empat anak r aja yang sama-sama menginginkan Sita Dewi, Sri Rama memutuskan untuk tinggal di hutan Dalinam, artinya rimba manikam. Mereka ditemani oleh Laksmana.
Di hutan itu, Sri Rama dan Sita Dewi mandi di kolam jernih Kala Sehari Bunting. Serta merta mereka jadi kera. Pada saat menjadi kera itu mereka melakukan hubungan intim. Akibatnya, kata Laksmana, Sita akan
melahirkan seekor kera. Dengan diurut, akhirnya Sita Dewi mengeluarkan manikam melalui
kerongkongannya. Dengan bantuan Bayu Bata, manikam yang telah dibungkus dengan daun budi,
dimasukkan ke dalam mulut Dewi Anjani yang sedang bertapa. Akhirnya Dewi Anjani melahirkan seorang anak laki-laki serupa kera yang dinaminyaHanuman.
Merasa sakit hati karena hidung Surapandaki, saudaranya, dirumpungkan oleh Laksmana, Rawana berniat membalas dendam melalui Sita Dewi. Dengan akal dan kesaktiannya, Rawana menculik Sita Dewi.
Dalam perjalanannya mencari Sita Dewi, Sri Rama bertemu dengan bangau yang memberikan kabar bahwa istrinya diculik Rawana. Sri Rama juga bertemu dengan Jentayu yang melawan Rawana ketika Rawana
menculik Sita Dewi. Rawana juga bertem ua dengan Sugriwa serta Baliraja. Pada saat di Negeri L akurkatakina, negeri baliraja itu, datanglah Citradana dan Berdana, dua saudaranya dari ne geri Indrapura. Mereka datang untuk mengabarkan kematian ayah mereka, Dasarata, dan ingin menjemput Sri Rama agar bersedia menjadi raja di Inderapuri. Sri Rama menolaknya.
Di negeri Lakurkatakina, Sri Rama memperoleh bantuan. Di sini Sri Rama bertemu dengan Hanuman, anaknya yang lahir melalui Dewi Anjani. Hanuman pula yang disuruhnya untuk menyelidiki keadaan Sita Dewi di
Langkapuri . Di Langkapuri Hanuman membakar semua istana kecuali tempat tinggal Sita Dewi. Kalau pada saat pergi bertumpukan lengan Sri Rama, m aka ketika pulang Hanuman bertumpukan batu kecil di bukit Serandib.
Berdasarkan informasi hasil penyelidikan Hanuman, Sri Rama memutuskan untuk menyerang negeri Rawana itu. Untuk menyeberang ke Langkapuri, dibuatlah tambak dan jembatan penyeberangan. Dalam pekerjaan itu Sri Rama dibantu oleh Maharesi Sahagentala. Setelah tambak dan jembatan penyeberangan selesai dibangun, dimulailah penyeberangan ke Langkapuri dan pecahlah perang antara pihak Sri Rama dan pihak Rawana. Betapa banyaknya rakyat dan prajurit dari kedua belah pihak yang gugur dalam peperangan itu. Sri Rama sendiri berhasil membinasakan Kumbakarna, Badubisa, Patala Marayan, Gangga Mahasura, Indrajit, dan Mulamatani.
Dalam peperangan itu, Sri Rama keluar sebagai pemenang. Dengan begitu Sri Rama berhak menguasai
Langkapuri dan menjadi raja yang kedaulatannya sangat luas. Ucapan selamat datang dari ker ajaan-kerajaan lain, antara lain dari Maharaja Kala dari negeri Dar wati dan Citradana serta Berdana, saudaranya, dari negeri Mandupuranegara. Karena ragu akan kesuciannya, Sita Dewi diuji Sri Rama dengan cara dibakar. Ternyata Sita Dewi tidak terbakar sedikit pun. Artinya, Sita Dewi m asih suci.
Atas saran Bibusanam, Sri Rama mendirikan negeri baru, yaitu negeri Daryapuranegara. Adapun kerajaan Langkapuri dikuasakan kepada Jamumenteri. Di negeri baru itu, Sri Rama me ndirikan pemerintahan yang adil dan makmur. Pada saat itu pula, Sita Dewi hamil atas upaya Maharesi Kala. Namun, Sita Dewi dipitnah Kikuwi, adik Sri Rama, sehingga Sita Dewi pergi dan menetap selama 12 tahun di negeri Darwati, bersama Maharesi Kala. Dalam pembuangannya itu Sita Dewi melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Tilawi. Karena kehilangan Tilawi, saat diasuhnya, Maharesi Kala menciptakan seorang anak laki-laki lain yaitu Gusi yang segalanya persis Tilawi. Kedua anak tersebut akhirnya hidup bersama seperti dua saudara kandung.
Setelah sekian lama, Sri Rama mmenyadari kekeliruannya. Menurut keyakinannya Sita Dewi tidak bersalah. Justru Kikuwilah yang bersalah. Karena itu, Sri Rama me njemput Sita Dewi. Sri Rama dan Sita Dewi
dikawinkan lagi dengan upacara kebesaran. Mereka kembali ke negeri Daryapuranegara, hidup rukun dan bahagia di negeri yang adil makmur.
Dalam kondisi yang sentosa itu, Sri Rama mengawinkan Tilawi dengan putri Indra Kusuma Dewi, anak Indrajit. Sedangkan Gusi dikawinkan dengan Gangga Surani Dewi, putri Gangga Mahasura. Adapun Hanuman menolak untuk dikawinkan dengan putri Balikasya dari negeri Biruhsyapurwa.
Hanuman sempat berperang dengan Tilawi dan Gusi. Peperangan terjadi karena Hanuman menodai istri muda Tilawi, Sendari Dewi. Peperangan terhenti karena Sri Rama turun tangan mendamaikan mereka. Setelah kejadian itu, Sri Rama mengasingkan diri bertapa di Indipuri bersama Sita Dewi. Di sana Sri Rama ditemani Laksmana dan Hanuman. Dalam masa pertapaan Sri Rama dan Sita Dewi mengajari anak-anaknya tentang tata tertib kerajaan. Demikian juga raja-raja lain banyak yang datang menemuinya. Setelah hampir selama empat puluh tahun, Sri Rama akhirnya meninggal dunia.
2. Struktur Hikayat 2.1 Alur
Secara garis besar alur hikayat ini sebagai berikut. Merasa sebagai raja besar di Langkapuri, Rawana meminta Mandudari istri Dasarata, kepada suaminya. Dasarata t idak menolak. Rawana diberi Mandudari tiruan oleh Mandudari Asli. Dasarata meniduri Mandudari tiruan. Mandudari tiruan melahirkan anak perempuan yang kemudian dibuang oleh Rawana. Maharaja Kala menemukan anak perempuan yang dinamainya Sita Dewi. Karena menang sayembara, Sri Rama berhasil memperistri Sita Dewi. Sita Dewi diculik Rawana sebagai balas dendam terhadap Laksmana yang telah menganiaya saudaranya, Surapandaki. Sri Rama berusaha mencari dan merebut Sita Dewi dari Rawana, mendapat bantuan dari Sugriwa dan Hanuman dari kerajaan
Lakurkatakina, dari Maharesi Sahagenta. Terjadilah perang besar-besaran antara pihak Sri Rama dan Rawana, dimenangkan Sri Rama. Sri Rama berkuasa di kerajaan Langkapuri kemudian mendirikan negeri
Daryapuranegara yang adil makmur aman sejahtera. Sri Rama memiliki anak Tilawi dan Gusi dari Sita Dewi. Sri Rama mengasingkan diri bertapa selama empat puluh tahun dan meninggal.
Pada umumnya alur dalamHikayat Sri Rama(HSR) ini terjalin rapi dan merupakan suatu unsur yang
menunjang amanat. Akan tetapi, walaupun dalam keseluruhannya demikian halnya, dalam bagian-bagiannya ia ciri khas lain, sehingga tampaknya menjadi amat kompleks. Ini disebabkan juga ole h gaya yang menyukai pengulangan, banyaknya tokoh, dan keanekaan peristiwa.
Unsur lain yang menambah kerumitan ialah kenyataan bahwa kisah utama ditinggalkan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa yang dimaksudkan sebagai persiapan, tumpuan, atau penjelasan dari kejadian-kejadian selanjutnya. Alur-alur kcil semacam itu, yang kemudian masuk dalam alur besar, dinamakan sub-alur (Ikram, 1980: 22). Dalam novel modern, bagian-bagian seperti ini ibarat sorot balik, yaitu sisipan yang menguraikan latar belakang suatu tokoh di masa lampau tanpa melepaskan alur utamanya. Perbedaannya, bahwa
dalamHSRhampir tak mengenal masa lampau dan tidak membedakan mana yang lebih pe nting: semuanya adalah sekarang.
Dalam (HSR) ini banyak subalur yang menjadi bagian dari alur. Bagian-bagian alur ini merupakan pengantar bagian yang sebenarnya atau bagian alur yang penting. Selain itu, ber fungsi sebagai sarana untuk
memperkenalkan tokoh yang akan memegang pernana penting dalam cerita. Hal ini m isalnya, terjadai pada kisah Rawana. Setelah memberi gamabaran yang sempurna mengenai pribadi Rawana, penulis
meninggalkannya dan beralih ke kejadian-kejadian yang berlangsung selama Rawana bertapa (HSRII). Setelah jelas, keadaan ini pun ditinggalkannya untuk beralih ke cerita yang menjelaskan asal usul Raja Baliksya dan
permusuhannya dengan keluarga Rawana (HSRIII). Kedua sub alur ini bertemu dalam HSRIV dan berpaut kembali denganHSRI dalamHSRV yang menceritakan Rawana mendamaikan kedua raja yang berpe rang dalamHSR IV tadi. Dua kali pergantian tempat dan pokok cerita ini cukup ditandai dengan kata ”alkisah” dan dengan menyebutkan nama tokoh utamanya: ” ... ini diceritakan orang yang empunya cerita ini. Tatkala
itu tersebut pulang perkataan Bermara ja.” (HSR : 12). Kata ”pulang” ini mengaitkan pokok baru ini kepada
cerita pembukaan (HSR: 1). Kadang-kadang juga didijelaskan tempatnya, ” ... datanglah kepada hikayat Maharaja Balikasya di negeri Biruhasyapurwa.” (HSR: hlm. 24).
Untuk memperjelas alur berikut ini adalah kutipan Garis BesarHSR(Ikram, 1980: 36-43). Lampiran A Garis BesarHikayat Sri Rama
I. Rawana jadi raja besar(h. 1)
1. Pembuangannya ke Bukit Srandib. (h. 1) 2. Pertapaannya selama dua belas tahun (h. 2)
3. Pertemuan dan perjanjian dengan Nabi Adam(h. 4) 4. Ra jadi raja dalam empat alam (h. 7)
5. Kelahiran anak-anaknya: Indrajit, Patala Maharayan, Gangga Mahasura (h. 8)
6. Rawana ajdi raja raja di Langkapuri (h. 11) II. Negeri
Indrapurinegara sepeninggal Rawana (h. 12)
1. Bermaraja, kakek Rawana, meninggal (h. 12) 2. Badanul jadi raja; meninggal (h. 12)
3. Citrabaha, ayah Rawana, jadi raja, kelahiran Kumbakarna, Bibusanam, dan Surapandaki, anak-anaknya; Citrabaha meninggal (h. 14)
4. Naruna jadi raja; meninggal (h. 18) 5. Syaksya jadi raja (h. 22)
III. Awal mula
permusuhan Balikasya terhadap Syakasya (h. 24)
1. Negeri Biruhasyapurwa dikalahkan Citrabaha; raja Datikawaca sekeluarga dibunuh (h. 24)
2. Kelahiran Balikasya, anak adik Datikawaca (h. 24) 3. Balikasya mengembalikan kebesaran negeri Biruhasyapurwa; ia ingin membalas (h. 25)
IV. Peperangan antara Balikasya dan Syaksya(h. 31)
1. Sipanjalma dikirim untuk menyelidiki negeri Indrapuranegara (h. 31)
2. Sipanjalma meracuni menteri dan hulubalang musuh; iameninggalkan surat tantangan (h. 40)
3. Sipanjalma mengundurkan diri ke negerinya (h. 49) 4. Sradal dan Kemendakata mengejar ke
Biruhsyapurwa (h. 61)
V. Rawana mendamaikan raja-raja (h. 93)
1. Rawana menemui Syaksya untuk usahaperdamaian (h. 93)
2. Indrajit diutus ke Baliksya (h. 96) 3. Perdamaian terlaksana (h. 126)
4. Rawana membawa saudara-saudaranya dan Jamumenteri ke Langkapuri (h. 136)
VI. Kelahiran Sri Rama (h. 140)
1. Dasarata mendirikan negeri (h. 140)
2. Ia mendapat putri Mandudari, anak Mahabisnu; mereka kawin (h. 143)
3. Baliadari menyelamatkan Dasarata dan Mandudari (h. 146)
4. Mandudari melahirkan Sri Rama dan Laksmana; Baliadari melahirkan Berdana dan Citradana (h. 148) 5. Dasarata diselamatkan oleh Baliadari (h. 152) VII. Kelahiran Sita Dewi (h.
153)
1. Rawana datang meminta Mandudari; diberi Mandudari tiruan (h. 153)
2. Kutukan Kisuberisu (h. 159)
3. Dasarata mengunjungi Mandudari tiruan (h. 159)
4. Rawana dan Mandudari kawin (h. 163) 5. Sita Dewi lahir dan dibuang (h. 165) VIII. Perkawinan Sri Rama
dan Sita Dewi (h. 168)
1. Sita Dewi ditemukan oleh Maharesi Kala (h. 172) 2. Sayembara Sita Dewi (h. 171)
3. Sri Rama dijemput oleh Maharesi Kala (h. 172) 4. Sri Rama membunuh Jagini dan Giaganda (h. 181) 5. Ia menang sayembara (h. 185)
6. Sri Rama mengusir Gagak Sura (h. 18 7)Sita Dewi disembunyikan (h. 190)
7. Perkawinan Sri Rama dan Sita Dewi (194) 8. Perkawinan Sri Rama dan Sita Dewi (h. 194) IX. Sri Rama, Sita Dewi,
dan Laksmana
menetap di hutan (h.
1. Peperangan dengan empat anak raja (h. 196) 2. Sri Rama memutuskan tidak akan pulang (h. 204)
196) 3. Kelahiran Hanuman dari Sri Rama dan Sita Dewi dengan perantaraan Anjani (h. 209)
4. Sri Rama membunuh Raksasa (h. 213) 5. Pemukiman di hutan (h. 214)
X. Penculikan Sita Dewi (h. 216)
1. Rawana ingin mengalahkan matahari (h. 216) 2. Kematian Bergasinga oleh Rawana (h. 217)
3. Anak Surapandaki terbunuh oleh Laksmana (h. 20) 4. Perkelahian antara Laksmana dan Surapandaki(h. 222)
5. Rawana melarikan Sita Dewi (h. 232) 6. Catayu dikalahkan oleh Rawana (h. 234) XI. Pencarian jejak Sita
Dewi (h. 214)
1. Kisah kerbau jantan yang dibunuh oleh anaknya(h. 214)
2. Baliraja mengalahkan kerbau Hamuk (h. 245) 3. Kekalahan dan pembuangan Sugriwa (h. 250)
4. Pertemuan Sri Rama dengan bangau (h. 254) 5. Pertemuan dengan Catayu (h. 258)
6. Pertemuan dengan raksasa (h. 263)
7. Pertemuan dan perjanjian dengan Sugriwa (h. 266) 8. Sri Rama dicobai (h. 269)
9. Kematian Baliraja oleh Sri Rama (h. 273) XII. Penyerahan kerajaan
kepada Berdana dan Citradana (h. 281)
1. Dasarata meninggal (h. 281)
2. Berdana dan Citradana menjemput Sri Rama(h. 284)
XIII. Perjalanan Hanuman menemui Sita Dewi (h. 290)
1. Sri Rama mencari orang yang dapat me lompat ke Langkapuri (h. 290)
2. Hanuman dikenal oleh Sri Rama sebagai anaknya; ia sanggup melompat (h. 297)
3. Hanuman berangkat (h. 303)
4. Pertemuan dengan Maharesi Kipabara (h. 304) 5. Hanuman menyelundupkan cincin Sri Rama kepada
Sita Dewi (h. 307)
6. Pertemuan dengan Sita Dewi (h. 309) 7. Hanuman merusak Langkapuri (h. 313) XIV. Persiapan pembuatan
tambak (h. 329)
1. Dua orang hulubalang mencari tempat terdekat(h. 329)
2. Sri Rama berangkat (h. 336)
3. Pengaduan maharesi Sahagentala kepada Sri Rama (h. 338)
4. Peperangan melawan jayasinga (h. 346)
XV. Pembangunan jembatan dan
peristiwa-peristiwa selama itu (h. 383)
1. Pekerjaan dimulai (h. 383)
2. Perkelahian Hanuman dengan Nola Nila (h. 385) 3. Penemuan maulhayat (h. 389)
4. Sita Dewi ditipu oleh Rawana dengan berita Sri Rama sudah mati (h. 393)
5. Sagasadana memata-matai tentara Sri Rama (h.409)
6. Gangga Mahasura merusak tambak (h. 418) 7. Tambak selesai (h. 421)
XVI. Permulaan
Peperangan (h. 421)
1. Sri Rama berangkat menyeberang ke Langkapuri. (h. 421)
2. Peringatan Bibusanam dan penyeberangannya ke pihak Sri Rama (h. 426)
3. Peringatan Indrajit kepada Rawana (h. 435) XVII. Kematian Kumbakarna
(h. 439)
1. Sepuluh hulubalang Rawana mati dalam peperangan (h. 439)
2. Kumbakarna dipanggil (h. 443) 3. Peringatan Kumbakarna (h. 446)
4. Kematian Kumbakarna oleh Sri rama (h. 449) XVIII. Kematian Badubisa (h.
461)
1. Hanuman diutus ke Rawana membawa surat (h. 461)
2. Badubisa dikeluarkan untuk melawan Sri Rama(h. 468)
3. Kematian Badubisa berkat petunjuk Bibusanam(h. 469)
XIX Kematian Patala Maharayan (h. 479)
1. Patala Maharayan sanggup melawan Rawana(h. 479)
2. Peringatan Jamu Menteri (h. 482) 3. Penculikan Sri Rama (h. 486)
4. Pengejaran oleh Hanuman (h. 498)
5. Perang dengan Laguda Indra dan Sampa Wadini (h. 499)
6. Pertemuan dengan Niwarani (h. 505) 7. Kisah tamanta Gangga (h. 511)
8. Amiraba dibunuh; Periaban dirajakan (h. 519) 9. Sri Rama dibawa pulang (h. 520)
10. Patala Maharayan dibunuh oleh Sri Rama (h. 523) XX. Kematian empat anak
Rawana (h. 529)
1. Mereka ditinggalkan oleh Indrajit (h. 530)
2. Mereka berperang dan mati (h. 532) XXI. Kematian Gangga
Mahasura (h. 543) XXII Kematian Indrajit (h.
549)
1. Indrajit akan maju (h. 549)
2. Sri Rama bersiap diri dengan petunjuk Hanuman (h. 551)
3. Indrajit menyerang (h. 552)
4. Sri Rama kena panah; Anggada mengambil obat (h. 555)
5. Indrajit mau membunuh Sri Rama dengan diam-diam (h. 557)
6. Hanuman mengambil obat untuk yang mati (h. 565)
7. Pemujaan Indrajit digagalkan oleh Laksmana(h. 577)
8. Peperangan (h. 582)
10. Indrajit melawan Laksmana; kematiannya oleh Sri Rama (h. 605). 11. Peringatan Mandudari (618) XXIII. Kematian Mulamantani (h. 620) 1. Sejarah Mulamantani (h. 620)
2. Mulamatani dibujuk oleh Rawana (h. 624) 3. kematiannya oleh Sri Rama (h. 632)
XXIV. Kemenangan Sri Rama atas Rawana (h. 648)
1. Peperangan (h. 648)
2. Laksmana kena panah Rawana (h. 655) 3. Hanuman memanggil obat (h. 656)
4. Ia mengiikat rambut Rawana dan Mandudari (h. 667)
5. Perang antara Sri Rama dan rawana (h. 672)
6. Hanuman menanyakan kematian Rawana kepada Sita Dewi (h. 690)
XXV. Sri Rama jadi raja di Langkapuri (h. 690)
1. Sri Rama masuk kota (h. 690)
2. Sita Dewi membakar diri (h. 692) 3. Sri Rama menata negeri (h. 695)
4. Berdana dan Citradana datang (h. 703) 5. Perkawinan Kikuwi dan Bibusanam (h. 706) 6. Kunjungan Maharesi Kala (h. 709)
7. Pengungkapan rahasia kelahiran Sita Dewi (h. 710) 8. Berdana dan Citradana pulang (h. 715)
XXVI. Pendirian negeri baru(h. 717)
1. Saran Bibusanam untuk mendirikan negeri (h. 717) 2. Pembangunan negeri idaman Daryapurenegara(h. 717)
3. Gambaran pemerintahan yang adil dan makmur(h. 725)
XXVII. Pengusiran Sita Dewi(h. 730)
1. Sita Dewi hamil (h. 730)
2. Ia dipitnah oleh Kikuwi (h. 733) 3. Ia pergi ke Maharesi Kala (h. 736)
XXVIII. Masa kanak-kanak Tilawi dan Gusi (h. 738)
1. Kelahiran Tilawi (h. 738)
2. Gusi diciptakan oleh maharesi Kala (h. 738) 3. Kepahlawanan mereka (h. 741)
XXIX Sri Rama dan Sita Dewi rukun kembali (h. 749)
1. Sri Rama insaf bahwa Sita Dewi tidak bersalah(h. 749)
2. Penjemputan Sita Dewi (h. 750)
3. Laksmana ditangkap oleh Tilawi dan Gusi (h. 751) 4. Sri Rama dan Sita Dewi dikawinkan lagi dengan upacara kebesaran (h. 757)
5. Mereka pulang ke daryapuranegara (h. 759) 6. Gambaran negeri yang makmur dan bahagia (h. 760)
XXX Sri Rama mengatur rakyatnya (h. 763)
1. Berdana dan Citradana dijemput (h. 762) 2. Perkawinan Tilawi dan Gusi (h. 764) 3. Hanuman tidak mau dikawinkan (h. 777)
4. Percakapan Laksmana, Berdana, dan Citradana mengenai Hanuman (h. 778)
5. Berturut-turut Sri Rama mengawinkan dan
merajakan Hanuman Tugangga, Pariaban, Jambuana, Sugriwa, anila, Anggada, Anggata, Mahabiru, Karang, Ketula, dan janda-janda raksasa (h. 781)
6. Bibusanam tidak mau menjadi raja (h. 784) 7. Perkawinan anak-anakBerdana dan Citradana(h. 785)
XXXI. Perkelahian Tilawi dan Hanuman (h. 787)
1. Tilawi kawin dengan anak Bibusanam (h. 787) 2. Hanuman menodai istrinya (h. 789)
3. Perang antara Tilawi dan Gusi melawan Hanuman (h. 792)
4. Pendamaian oleh Sri Rama (h. 796) XXXII. Pengunduran Sri
Rama(h. 798)
1. Sri Rama membuat negeri tempat bertapa (h. 797) 2. Sri rama dan Sita Dewi bertapa dan ditunggui oleh Laksmana dan Hanuman.(h. 802)
3. Ciradana dirajakan di Aspahaboga (h. 800)
XXXIII. Akhir hayat Sri Rama(h. 802)
1. Sri Rama memberi pelajaran kepada Tilawi dan raja-raja yang lain (h. 803)
2. Sri Rama wafat setelah empat puluh tahun bertapa (h. 806)
Berdasarkan Garis BesarHSRdi atas, kita bisa melihat bahwaHSRVI merupakan permulaan cerita
utama.HSRI –V merupakan sub-alur yang berfungsi untuk memperkenalkan Rawana yang nanti dalam hidup Rama akan memegang peranan yang penting. Pola semacam ini dijumpai berkali-kali dalam hubungan yang lebih sempit.HSRVI-IX memperlihatkan kejadian-kejadian yang membina ke arah pertemuan antara k edua tokoh utama; suatu tahap yang terutama merupakan perkembangan watak. DalamHSRX terjadi paeristiwa yang menentukan jalannya cerita setelah sebelumnya peristiwa tersebut dibina dengan baik: Sita Dewi diculik; dan tugas Rama jelas, yaitu ia harus merebutnya kembali. HSRX-XXVI merupakan penyelesaian tugas itu. Titik puncak terjadi padaHSRXXIV. Setelah itu alur mejadi sangat lemah karena cerita hanya menyoroti perkembangan pribadi Sri Rama, yaitu dalamHSRXXV-XXVI yang merupakan masa konsolidasi pertama bagi kedudukan Rama sebagai raja. Sesungguhnya di sini sudah terjadi penyelesaian yang memuaskan, tetapi kegoncangan timbul dengan pembuangan Sita Dewi. Seperti layaknya seorang raja, Sri Rama dapat juga memperbaiki kesalahannya. Pengalaman pahit serta masa konsolidasi yang kedua lebih mengokohkan kedudukannya dan mematangkan budinya sehingga petualangan Hanuman pada HSRXXXI dan XXXIII merupakan penutup yang pantas dari hidup seorang raja yang penuh kebaktian terhadap tugasnya sebagai pelindung alam.
Tokoh dan Perwatakan
Kisah dalamHSRdiceritakan dengan gayadiaan,dan si penutur adalah sebagaithe third person point of view.Pengarang bertindak sebagai orang yang menceritakan apa adanya secara objekt if. Para Pelaku yang diceritakan sangat banyak. Di antara para pelaku tersebut yang bisa dianggap sebagai tokoh ce rita adalah: 1) Sri Rama, seorang yang secara fisik sangat sempurna. Akan tetapi, dari segi watak sesekali diceritakan berwatak tidak seperti seorang pahlawan. Ia anak D asarata, cicit Nabi Adam, AS(?) yang dianugerahi Dewata Mulia Raya (Allah Swt) kerajaan, kekuatan, kekuasaan yang tiada bandingnya.
2) Rawana, seorang raja yang pada awalnya memiliki sifat agung sebgai raja. Akan tetapi, kemudian ia menjadi sangat sombong, serakah, kasar, kejam, dan bengis, Ia merupakan tokoh antagonis Sri Rama. 3) Hanuman, seorang anak Sri Rama dan Sita D ewi yang dilahirkan secara tak lazim melalui Anjani. Dia juga sebagai orang kepercayaan Sri Rama dalam melawan Rawana. Dia digambarkan sebagai seekor kera sakti yang terampil, penuh akal, dan tipu daya.
4) Laksmana, adik kandung dan sekaligus abdi Sri Rama. Hampir selama hidupnya, ia mengabdikan diri kepada Sri Rama.
5) Sita Dewi, istri Sri Rama. Ia seorang istri yang ideal model k uno, setia, pasif. Ia tahu akan kewajiban Sri Rama sebagai raja dan ksatria. Dia juga sangat tahu kewajibannya sebagai seorang seorang istri.
Tokoh-tokoh lainnya yang bisa dianggap sebagai pelaku cerita yang tidak terlalu penting, yaitu: Dasarata, Mandudari, Maharaja Kala, Citradana, Berdana, Gagak Sura, C atayu, Sugriwa, Kikuwi, Bibusanam, Tilawi, Gusi, Hanuman Tugangga, Pariaban, Janbuana, Anila, Anggada, Anggata, Mahabiru, Karang, dan Ketula (pelaku cerita pembatu Sri Rama); Surapandaki, Sagasadana, Gangga Mahasura, Indrajit, K umbakarna, Badubisa, Patala Maharayan, Laguda Indra, Sampa Wadini, Mulamatani (pelaku-pelaku pembantu Rawana); Bermaraja,
Raksagandi, Citrabaha,Naruna, Syaksya, Balikasya, Sipanjalma, sardal, Kemendakata, dan Jamu Menteri, Baliadari, Kisuberisu, Jagini, dan Gigandini (sebagai pelaku cerita yang netral).
Perwatakan para tokoh dilakukan dengan cara penjelasan langsung oleh pengarang, prilaku tokoh tersebut, dan dialog tokoh-tokoh lain.
Pengarang memaparkan secara lengsung watak tokoh cerit a, misalnya:
Adapun anak baginda yang bernama Sri Rama itu pun besarlah, terlalu maha e lok rupanya, dalam alam dunia ini seorang pun tiada sebagainya. Syahdan lagi perkasya dan berani. Datanglah usianya baginda kepada tujuh tahun tahun Maka terlalu sekali nakal. (HSR: 149).
Dari awal pemunculannya, Sri Rama ditampilkan sebagai seorang yang memang dipastikan akan menjadi penguasa dunia. Dari pihak ibunya, ia anak dasarata, cucu Maharaja Bisnu (HSR: 264, 278), sedangkan dari ayahnya ia cicit nabi Adam a alaihissalam (HSR: 140). Baik dari sudut agama Hindu maupun Islam ia amat berhak menjadi raja dunia. Ini dikemukakan olehpengarang secara langsung.
Pemaparan tokoh Sri Rama dilakukan juga melalui prilakunya atau peranannya. Hal ini tampak misalnya dalamHSRVIII-IX yang menggambarkan bagaimana gagah dan saktinya Sri Rama. Demikian juga padaHSR XI-XII, XVI-XXIV. PadaHSRXII Sri Rama tampak prilakunya sebagai seorang guru yang mengajarkan ajaran raja adil. MulaiHSRXII ini tampak ada perubahan yang substantif dalam watak Sri Rama. Sebelumnya ia berperan sebagai pahlawan yang bertindak; sekarang ia menjadi tokoh raja yang memer intah dan dijaga hambanya. Demikianlah, pengarang memberikan gambaran watak Sri Rama hampir seluruhnya dilakukan melalui
prilakunya. Cara demikian juga dilakukan oleh pengarang dalam menggambarkan watak Rawana (HSRI, V, X, XVI-XXIV). Dalam HSR X tampak prilaku Rawana yang sangat sombong sehingga ingin mengalahkan matahari.
”Aku hendak mengalahkan matahari. Sampaikan aku ke langit.” (HSR, 217).
Di bagian tertentu yang terbatas, misalnya pada HSRXIX, watak Sri Rama digambarkan melalui dialog tokoh
lain. ”jikalau dipanah tiada membunuh dia, jika ditikam dengan senjata tiadakan membunuh Sri Rama, jika
dibakar tiada hangus, jika dibuangkan ke air itu pun tiada ia mati, jika kamu beri makan racun pun tiada ia
mati” (HSR: 487-488). Latar
Kisah Sri Rama berlatarkan kerajaan-kerajaan yang tidak secara eksplisit disebutkan di mana persisnya. Bahkan nama beberapa kerajaan tidak disebutkan. Nama-nama kerajaan yang tersebut dalam kisah ini yaitu kerajaan Langkapuri, Inderapuranegara, Biruhsyapurwa, Mandupuranegara, Darwatipurwa, Daryapuranegara, Lakurkatakina, Asphaboga.Berdasarkan asal usul cerita HSR, diperkirakan nama-nama kerajaan itu berasal dari daerah India.
Di samping nama-nama kerajaan,HSRjuga menyebutkan nama tempat, yaitu bukit Serandib. Lokasi persisnya tempat tersebut juga tidak jelas. Kemungkinan juga berasal dari dari India. Selain itu disebutkan beberapa tempat lain sebagai latar khusus peristiwa, yaitu bumi, hutan, danau, lautan,
danlangit/udara(angkasa), taman dan kota. ”Maka tatkalala Catayu pun sampailah ke bumi maka ia
telentang-lentang ke langit lalu berkata, ”Ya tuhanku, pertemukan kiranya hambamu dengan Sri Rama.” (HSR: 238).
Berkenaan dengan latar waktu, dalamHSRini tidak banyak yang bisa dikemukakan.HSRmemberi kesan bahwa itu tidak merupakan faktor dalam cerita. Kejadian-kejadian dalam cerita diurutkan tanpa suatu petunjuk kapan terjadi, mana yang yang terj adi lebih dahulu, mana yang bersamaan, dan mana yang kemudian.
Unsur waktu yang bisa diperoleh dari kisah ini adalah waktu-waktu khusus kejadian suatu peristiwa cerita, waktu sehari-hari seperti pagi, siang, malam. Selain itu, kalaupun ada hanyalah penjelas lamanya suatu peristiwa terjadi. Berikut adalah sebagai contohnya:
Maka dengan kodrat Allah subhana (hu) wa taala itu Nabi Adam pun diturunkan Allah taala dari dalam syorga, berapa lamanya dalam dunia. Maka sekali peristiwa Nabi Adam alaihissalam berjalan-jalan pada waktu subuh. Maka tatkala itu Nnabi Adam pun bertemu dengan Rawanapertapa itu, kakinya digantungnya ke atas,
kepalanya ke bawah. Maka Adam bertanya, ”Hai Rawana ngapa engkau melakukan dirimu demikian dan berapa lama sekarang?” Maka sahut Rawana, ”Ya tuhankuNabi Allah, lama hamba sekarang baharu dua belas
tahun pertapa demikian ini.” (HSR: 4)
Perlu dikemukakan di sini bahwa rupanya bagi pengarang bilangan dua belas merupakan angka kesayangan (Ikram, 1980:22). Rawana bertapa dua belas tahun (HSR: 3), me njadi raja di dalam negeri keindraan, di dalam bumi, di laut masing-masing selama dua belas tahun (HSR: 8-9). Sita Dewi kawin waktu dua belas t ahun (HSR: 171), ditawan Rawana dua belas tahun (HSR: 615), juga waktu dibuang selama dua belas tahun (HSR: 749). Adapun latar sosial yang tampak dalam kisah ini adalah keadaan masyarakat di lingkungan istana kerajaan. Hal ini tampak pada status para pelaku yang terkelompokkan atas paduka raja yang disembah dan kawula yang mengabdi.
Maka hari pun malam. Maka Bibusanam menghadap Sri Rama. Maka titah Sri Rama pada maharaja S ugriwa dan maharaja Bibusanam dan Hanuman, A nila, Anggada dan hanuman Tugangga, Anggata, Mahabiru, Nola, Nila, Karang, Ketula dan segala raja-raja dan pada segala hulubalang tiga puluh tiga itu, ”Malam inikita
berjaga karena kita hendak menganugerahi ayapan akan segala ra’yat.” (HSR: 557).
Seluruh kawula selalu mengabdikan hidupnya bagi kepentingan sang raja sebagai tuannya.
Maka kata maharaja Bibusanam, ”Jikalau tuan hamba hendak berdatang sembah pun nantihari siang karena
Sri Rama lagi beradu. ”Maka Indrajit (sangat) diteguroleh maharaja Bibusanam maka Indrajit pun undur daripada tempat itu. Maka maharaja Bibusanam pun tahulah akan Indrajit. Maka oleh maharaja Bibusanam dihunusnya senjatanya maka ia turun ke tanah mendapatkan Indrajit. Maka ditegurnya Indrajit katanya,
”Mengapatah maka tuan hamba selaku ini menghilangkannnn nama segala laki-laki? Adapun Sri Rama dan Laksmana lagi beradu. Jikalau tuan hamba hendak bertikam marilah dengan hamba karena hamba seorang
juga yuang jaga.” (HSR: 560). 3. Bahasa Hikayat Sri Rama
Hikayat Sri Rama sebagai bagian dari sastra Melayu, menggunakan bahasa Melayu sebagai medianya. Dalam mengisahkan hikayat ini, pengarang menggunakan bahasa seperti orang yang menceritakan sejarah. Apa yang diceritakan dan digambarkan dari tokohnya adalah apa-apa yang teramati serta eksistensi kejiwaaan yang tersimpulkan dari prilaku para tokoh. Jadi, bahasa digunakan sebagai alat pemaparan (ekspositoris). Bahasa yang digunakan berkesan bahasa lugas, objektif. Bukan bahasa artifisial yang dibuat-buat demi keindahan cerita. Bahkan untuk menggambarkan watak tokoh yang luar biasa sekali pun, pengarang lebih m emilih kata-kata pembanding yang terbatas.
Adapun anak baginda yang bernama Sri Rama itu pun besarlah, terlalu m aha elok rupanya, dalam alam dunia ini seorang pun tiada sebagainya. Syahdan lagi perkasya dan berani. Datanglah usianya baginda kepada tujuh tahun Maka terlalu sekali nakal. (HSR: 149).
Dalam hal penggunaan kosakata,HSRcenderung menggunakan kata-kata yang sederhana, tanpa banyak variasi atau perbedaan nuansa. Katahenan, misalnya, digunakan belasan kali dalam pengertian yang
berbeda-beda; misalnya, menunjukkan ’heran’ (HSR: 42), ’kagum’ (HSR: 36), ’tertegun’ (HSR: 143), ’bingung’ (HSR: 202),’sedih’ (HSR: 677), prihatin’ (HSR: 658). Demikian pula halnya dengansukacitadandukacita. Kesedihan yang sangat mendalam pada suatu adegan dinyatakan dengan kata-kata sebagai berikut: Maka maharaja Rawana kembali ke istananya dengan dukacitanya .... empat puluh ari empat puluh malam dalam percintaan ”
(HSR:461) atau dengan menangisnya tokoh-tokoh, umpamanya, Laksmana ketika melihat Sri Rama telah diculik (HSR: 499).
DalamHSR, unsur bahasa selain sebagai media untuk mengantarkan cerita, j uga berfungsi sebagai pembentuk struktur cerita. Hal ini ditandai dengan penggunaan kalimat-kalimat tertentu sebagai judul dan pengawal episode. Dalam episode-episode awal peperangan mulaiHSRXIII sampai denganHSRXXXII tidak dipisah-pisahkan oleh kalimat-kalimat yang menandakan episode baru. Namun, Kematian Indrajit dalamHSRXXII dan kematian Mulamatani,HSRXXIII, diawali oleh semacam judul yang di sini digunakan untuk menekankan kepentingan peristiwa tersebut. Pemasangan kalimat-kalimat judul di sini selain sebagai pengantar episode baru, juga merupakan upaya penonjolan suatu kejadian, walaupun kecil. Selanjutnya, episode-episode yang berjudul ialahHSRI, II, III, V, VI, X, XI, XII, XXIII, XXVII, XXIX, dan XXXI dua di antaranya mendapat tekanan khsuus dengan ditandai oleh kata-kata ”Ini hikayat ...” . kata-kata ini tidak digunakan pada episode-episode lain. Pada dua puluh episode lainnya kalimat pertama langsung memasuki cerita, meskipun diantar juga dengan kata-kata khusus sepertihata, kalakian, berapa lamanya, alkisah, atau kombinasi kata-kata itu. Acapkali hanya dengan kata yang lebih umum, sepertimaka, sudah itu,dan sebagainya.
Hal yang menarik dari penggunaan bahasa Melayu dalam hikayat ini, setidaknya bagi penulis yang tidak pernah menggunakan (mengenal) bahasa tersebut adalah bahwa dalam kisah ini sangat sering digunakana katamaka. Berikut penulis kemukakan dua petikan:
Makabeberapa lamanyamakaputri itu pun bunting datang kepada masanya akan beranak.Makajadilah anak maharaja rawana seorang laki-laki terlalu baik rupanya dan maha besar panjang sekali.Makadinamai maharaja Rawana Indrajit. Apabila anak raja itu amarah maka keluar ke palanya tiga dan tanganya enam. Setelah datang umurnya kepada dua belas tahun usianyamakaanaknya itu dirajakan oleh maharaja Rawana (pada negeri) pada negeri keinderaan. Sudah itumakamaharaja Rawana pun masuk ke dalam bumimakaia jadi raja dalam bumi.makasegala raja jin dan sjaitan dalam bumi itu semuhanya dalam
hukumnya.Makamaharaja Rawana beristri mengambil anak raja dalam bumi bernama putri Pertiwi Dewi. Dengan demikian berapa lamanyamakaberanak seorang laki-laki anaknya itu terlalu elok rupanya lagi gagah (maka) [maka] dinamai baginda anak itu Patala Maharayan.Makadatang kepada dua belas tahun usia Patala Maharayanmakadirajakan ayahnya dalam bumi ... (HSR: 8-9).
MakaPatala Maharayan pun datang. Makadilihatnya istana Sri Rama tiada kelihatan karena roma Hanuman.Makaia naik ke udaramakadilihatnya roma Hanuman sempai ke uadara, tiada ia beroleh masuk.Makapatala maharayan pun turun ke bumi lalu masuk ke dalam bumi makadikelilinginya bumi dilihatnya roma Hanuman terus ke bawah bumi.Makaia keluar dari dalam bumimakaiamenjadikan dirinya hama masuk ke dalam roma Hanuman. maka dicaharinya istana Sri Rama. MakaPatala Maharayan pun bertemu dengan istana Sri Rama.Makadilihatnya para hulubalang berkawal, setengah mengelilingi istana Sri Rama, setengah di bawah istana Sri Rama.MakaPatala Maharayan pun pergi.Maka.... (HSR: 492).
4. Amanat Hikayat Sri Rama
Menurut Ikram (1980: 9), cerita Melayu, khusunya yang tertulis, tidak lepas dari sifatnya sebagai alat pengajaran. DalamHSRhal ini tampak pada bagian tertentu yang beberapa kali muncul, dapat dieknalnya sebagai’Leitmotif’.’Leitmotif’ini merupakan perumusan dari ajaran etika yang dikemukakan oleh cerita
sebagai keseluruhan, yang terkandung dalam segenap unsur ceritanya. Untuk pertama kali ’Leitmotif’ini
mencapai kemuliaan dan kebesaran, Nabi Adam meluluskan permohonannya dengan memohonkan kepada Allah dengan syarat Rawana harus menjadi raja yang baik.
”Sekarang engkau dijadikan Allah taala raja kepada keempat ne geri. Bukan barang-barang kebesaran kauperoleh karena itu kepada seseorang pun belum ada demikian dianugerahkan Allah taala; baharulah kepadamu juga jikalau dapat engkau baik kerajaanmu dan ingat engkau me nghukumkan karena Allah
subhanahu wa taala, karena dipinjaminya juga kerajaan itu dan berkata benar / dan jangan kaubinasakan hati
ra’yatmu dan teguh-teguh negerimu dengan kelengkapan dan segala senjatamu dan kasihi segala rakyatmu dengan hukum sebenarnya dan jangan kaukerjakan barang yang dilarangkan Allah taala. Sekarang engkau hendaklah berjanji engkau dengan aku apabila kauperbuat pekerjaan yang salah atau rakyatmu berbuat pekerjaan yang salah keuperkenankan dan tiada kauhukumkan dengan hukum sebenarnya dengan segala itu juga engkau dibinasakan Allah subhanahu wa taala. Jika engkau mau berjanji demikian, maka aku mau
memohonkan kehendakmu itu kepada Allah karena segala raja-raja dunia semuhanya raja pinjaman. Jangan kamu takabur karena kerajaan kamu dan kebesaran kamu semuhanya semuhanya pinjaman juga. Jangan kamu seperti aku inilah keluar dari dalam syorga sebab tiada menurut titah / Tuhanku dan melalui firmanNya. ... (HSR: 5-7).
Amanat yang hampir sama dengan yang dikemukakan Nabi Adam di atas, antara lain dikemukakan pula oleh Jamumenteri ketika ia akan diangkat menjadi raja. Pe ngangkatan itu ditolaknya karena ia merasa tidak dapat memenuhi persyaratan-persyaratannya (HSR: 18-19). Dari dialog penolakannya sebagai raja, Jamumenteri mengemukakan tujuh persyaratan sebagai raja. Tidak layak menjadi raja j ika seseorang tidak memenuhi tujuh persyaratan tersebut. Jika dianalisis dan disusun kembali maka diperoleh tujuh sifat raja yang ideal,
yaitu (1) kearifan, (2) keadilan, (3) kasih, (4) sifat-sifat lahiriah yang menarik, (5) keberanian demi harga diri, (6) keahlian perang, dan (7) pertapa.
Berikut adalah sekilas penjelasan amanat-amanat tersebut.
1) Kearifan
Arif diartikan tahu membedakan dan memilih antara yang baik dan yang buruk. rasa moral yang tinggi seharusnya melandasi semua pikiran dan tingkah laku raja, bahkan harus menjadi kepribadiannya.
DalamHSRdigambarkan, karena kurangnya sifat arif itu raja dapat berbuat hal yang akibatnya mencelakakan atau membuat sengsara orang. Rawana yang memperturutkan hawa nafsunya terjatuh dalam perbuatan yang tidak dapat dibenarkan: menculik Sita Dewi, dan keras kepala, menolak mengembalikan Sita De wi bahkan berniat melawan Sri Rama. Dalam hubungan ini disarankan agar dipertimbangkan baik buruknya suatu
perbuatan sebelum dilakukan. ”Itulah segala raja-raja hendak dengan budi bicara agar supaya ia sempurna
dalam dunia” (HSR: 243), karena ”manusia tiada pernah menyesal dahulu, kemudian juga ia menyesal”. (HSR: 436, 438).
2) Keadilan
DalamHSRkeadilan sering disebut bersamaan dengan kasih. Dapatlah ditafsirkan bahwa keadilan
berdasarkan kasih karena dalam hubungan ini raja adalah penguasa, sedangkan rakyat yang tidak berdaya ada dalam naungannya (HSR: 243, 285).
3) Kasih
Sri Rama menasihat kedua saudaranya, ”Jangan tiada mengasihi segala ra’yat yang teraniaya dan me ngasihi segala hamba”. (HSR: 286). Sifat ini mendapat penekanan yang utama dalamHSR. Raja harus merasa sayang kepada rakyat dan umat manusia pada umumnya; janganlah ia aniaya kepada siapa pun juga. Rawana telah