BAB II KAJIAN PUSTAKA. tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku, interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan-aturan dan nilai–nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing–masing,maka proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Di dalam kehidupan sehari–hari tentunya manusia tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya,ia akan selalu perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk dapat berinteraksi ataupun bertukar pikiran. Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan– kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi (Soekanto 2006:55).

Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

(2)

1. Kontak sosial

Kata kontak (Inggris: contact) berasal dari bahasa Latin con atau cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi, kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, sebab orang bisa melakukan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon, radio, atau surat elektronik. Oleh karena itu, hubungan fisik tidak menjadi syarat utama terjadinya kontak. Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut.

a. Kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik.

b. Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial primer terjadi apabila para peserta interaksi bertemu muka secara langsung. Misalnya, kontak antara guru dan murid di dalam kelas, penjual dan pembeli di pasar tradisional, atau pertemuan ayah dan anak di meja makan. Sementara itu, kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara. Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya terjadi saat ketua RW mengundang ketua RT datang ke rumahnya melalui telepon. Sementara jika Ketua RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan pesan kepada ketua RT agar datang ke rumahnya, yang terjadi adalah kontak sekunder tidak langsung.

(3)

2. Komunikasi

Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Ada lima unsur pokok dalam komunikasi yaitu sebagai berikut.

a. Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.

b. Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.

c. Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi, instruksi, dan perasaan.

d. Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.

e. Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan pesan dari komunikator.(Soekanto 2006:58)

Di dalam berkomunikasi manusia menggunakan kata-kata, yakni symbol-simbol suara yang mengandung arti bersama dan bersifat standar. Dalam hal ini tidak perlu selalu ada hubungan yang intristik antara satu bunyi tertentu dengan respons yang disimbolkannya Simbol di sini berbeda dengan tanda. Makna sebuah tanda biasanya identik dengan bentuk fisiknya dan dapat ditangkap dengan panca indra, sedangkan symbol bisa abstrak. Menurut Karp dan Yoels dalam (dalam Narwoko,Suyanto) simbol mengarahkan tanggapan-tanggapan kita, membantu mempersatukan atau mengonsepsikan aspek-aspek dunia (Narwoko 2007:17).

(4)

Simbol adalah sesuatu yang lepas dari apa yang disimbolkan, karena komunikasi manusia itu tidak terbatas pada ruang, penampilan atau sosok fisik, dan waktu dimana pengalaman inderawi itu berlangsung, sebaliknya manusia dapat berkomunikasi tentang objek dan tindakan jauh di luar batas waktu dan ruang.

Makna simbol tertentu tidak selalu bersifat universal: berlaku sama di setiap situasi dan daerah. Nilai atau makna sebuah simbol tergantung kepada kesepakatan orang-orang atau kelompok yang mempergunakan simbol itu. Menurut Leslie White (1968), makna suatu simbol hanya dapat ditangkap melalui cara-cara nonsensoris, yakni melalui proses penafsiran interpretative process. Makna dari suatu simbol tertentu dalam proses interaksi sosial tidak begitu saja bisa langsung diterima dan dimengerti oleh semua orang, melainkan harus dahulu ditafsirkan. (Narwoko, 2007:18).

2.2 Etika Jawa

Etnis Jawa merupakan kelompok etnis bangsa yang mendominasi pernyataan ini dapat dilihat di setiap daerah Indonesia terdapat etnis Jawa. Sifat dan karakter etnis Jawa identik dengan sikap yang sopan, segan, beretika dalam berbicara, jujur, disiplin, ramah, suka membantu atau bergotong-royong. Etnis jawa umumnya mereka lebih suka menyembunyikan perasaan. Menampik tawaran dengan halus demi sebuah etika dan sopan santun sikap yang dijaga(.http://www.anneahira.com/jawa.htm). Etnis Jawa bersikap ramah dapat dilihat apabila ada yang bertamu kerumah orang Jawa tanpa ditanya mereka akan langsung menyunguhkan minum dan tidak memandang asal atau suku. Hal

(5)

tersebut berbeda dengan Etnis Karo dan Etnis Batak yang bertanya dulu apakah seorang tamu ingin minum apa tidak.

Semula di Jawa dipergunakan empat bahasa yang berbeda. Penduduk-penduduk asli ibukota Jakarta berbicara dalam suatu dialek bahasa melayu yang disebut Melayu-Betawi. Di bagian tengah dan selatan Jawa Barat dipakai bahasa Sunda, sedangkan Jawa Timur bagian Utara dan Timur sudah lama dihuni oleh imigran-imigran dari Madura yang tetap mempertahankan bahasa mereka.(Magnis-Suseno 1983:11).

Dalam wilayah kebudayaan jawa sendiri dibedakan lagi antara para penduduk pesisir utara di mana hubungan perdagangan, pekerjaan nelayan, dan pengaruh Islam lebih kuat menghasilkan bentuk kebudayaan Jawa yang khas, yaitu kebudayaan pesisir, dan daerah-daerah Jawa pedalaman, sering juga disebut Kejawen yang mempunyai pusat budaya dalam kota-kota kerajaan Surakarta dan Yogyakarta dan di samping dua karesidenan ini juga termasuk karesidenan Banyumas, Kedu, Madiun, Kediri, dan Malang.

Kebanyakan orang Jawa hidup sebagai petani atau buruh tani. Sebagian besar Pulau Jawa bersifat agraris, penduduknya masih hidup di desa-desa. Di desa kebanyakan keluarga mempunyai rumah Gedeg. Orang Jawa sendiri membedakan dua golongan sosial: Wong Cilik, orang kecil, terdiri dari sebagian besar massa petani dan mereka yang berpendapat rendah di kota, dan kaum Priyayi di mana termasuk kaum pegawai dan orang-orang intelektual. Kecuali itu masih ada kelompok ketiga yang kecil tetapi mempunyai prestise yang cukup tinggi, yaitu kaum NingratNdara. ( Magnis-Suseno 1983: 11)

(6)

Lapisan-lapisan sosial ekonomi ini masih dibedakan dua kelompok atas dasar keagamaan, kedua-duanya secara nominal termasuk agama Islam, tetapi golongan pertama dalam kesadaran dan cara hidupnya lebih ditentukan oleh tradisi-tradisi Jawa Pra-Islam, sedangkan golongan kedua memahami diri sebagai orang Islam dan berusaha untuk hidup menurut ajaran agama Islam. Yang pertama dapat kita sebut Jawa Kejawen dalam kepustakaan, kelompok pertama sering juga disebut abangan, yang kedua santri.(Magnis-Suseno 1983:12).

Hildred Geertz (dalam Magnis-Suseno 1983:38) bahwa ada dua kaidah yang paling menentukan pola pergaulan dalam masyarakat Jawa, yaitu

1. Mengatakan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa hingga tidak dapat menimbulkan konflik.

2. Menuntut agar manusia dalam cara berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap rasa hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya.

Kaidah pertama disebut prinsip kerukunan, kaidah kedua sebagai prinsip hormat. Kedua prinsip ini merupakan kerangka normatif yang menentukan bentuk-bentuk kongret semua interaksi. Tuntutan dua prinsip ini selalu disadari oleh orang Jawa sebagai anak ia telah membatinkan dan ia sadar bahwa masyarakat mengharapkan agar kelakuannya selalu sesuai dengan dua prinsip ini.

Pandangan orang Jawa tentang hakekat hidup sangat dipengaruhi oleh pengalamannya dimasa lalu dan konsep-konsep religious yang bernuansa mistis. Hakekat hidup ini terlihat pada berbagai filsafah hidup yang menunjukkan sikap

(7)

pasrah kepada yang Maha Kuasa. Filsafah hidup masyarakat Jawa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, agama (Hindu dan Islam) dan pada batas-batas tertentu dipengaruhi pula oleh kondisi geografis wilayahnya. Banyak Filsafah Jawa yang berisi hakekat hidup dan hamper semua orang Jawa mengenal falsafah nrima ing pandum yang artinya menerima apa-apa yang telah diberikan oleh Tuhan secara apa adanya. Filsafah ini orang Jawa menggangap hidup harus dijalankan dengan tabah dan pasrah. Nrima ing pandum diikuti falsafah mawas diri. Artinya, orang Jawa harus senantiasa melakukan intropeksi terhadap diri sendiri sebagai pedoman dalam bertindak.(Gauthama 2003:15)

2.3 Pilar Budaya Karo

Karakter etnis Karo atau orang karo bilang Kita Kalak Karo mempunya sifat yang jujur, orang Karo umumnya tinggal di kampung. Mereka hidup dengan kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi di lingkungan tradisional tersebut. Memiliki sifat pemberani, Sejak kecil seorang Karo diajar oleh orang tuanya atau neneknya bahwa setiap manusia sederajat, tidak ada yang lebih istimewa tidak ada yang lebih hina. Yang berbeda hanyalah suratan tangan dan takdirnya. Mungkin hal ini lah yang menyebabkan seorang Karo tidak pernah ragu untuk berbuat atau pergi ke mana pun. Mempunyai rasa percaya diri, Umumnya orang Karo percaya pada kekuatannya sendiri. Mereka jarang menggantungkan nasib pada orang lain. Tidak serakah, Secara umum orang Karo tidak serakah atau tamak. Mereka memang mendambakan hidup sejahtera namun bukan melalu cara serakah. Mereka gigih mempertahankan sesuatu kalau memang itu adalah haknya. Mudah tersinggung dan pendendam, Kebanyakan orang Karo cepat tersinggung jika

(8)

dirinya atau keluarganya dikata-katai secara negatif oleh orang lain, baik secara terbuka maupun terselubung. Kalau sudah tersinggung orang tersebut segera menjumpai orang yang menghinanya dan menyelesaikan dengan segera. Kalau tidak maka akan berlarut menjadi dendam. Biasanya dendam itu ingin dilunasi dengan cara yang kurang pertimbangan rasional.

Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah:

1. Karo-karo : Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu, Surbakti, Sinulingga, Sitepu

2. Tarigan : Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero

3. Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata, Manik, Babo, Mburak 4. Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan

anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi, kembaren, pandia, Colia, Gurky.

5. Perangin-angin: Bangun, Sukatendel ,Kacinambun, Perbesi,Sebayang,Pinem, Sinurat, Keliat.

Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara turun termurun dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai

(9)

merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut bersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga bersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah di antara mereka.

Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu atau daliken sitelu (artinya secara metaforik adalah tungku nan tiga), yang berarti ikatan yang tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah sangkep nggeluh (kelengkapan hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu, kalimbubu, anak beru, senina. Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi isteri, anak beru keluarga yang mengambil atau menerima isteri, dan senina keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti.

Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:

1. Puang kalimbubu 2. Kalimbubu 3. Senina 4. Sembuyak 5. Senina sipemeren 6. Senina sepengalon/sedalanen

(10)

7. Anak beru

8. Anak beru menteri

Dalam pelaksanaan upacara adat, tutur siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:

1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang

2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:

a. Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberi isteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.

b. Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.

c. Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.

(11)

3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.

4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).

5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.

6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.

7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri.Anak beru ini terdiri lagi atas:

a. anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam

(12)

upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.

b. Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.

8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.( Sitepu, Sempa 1996)

2.4 Struktur dan Kekerabatan Masyarakat Batak

Etnis Batak identik dengan gaya berbicaranya yang kasar, blak-blakan, bicara apa adannya, tidak sabaran. Dan dapat diketahui dari wajah apakah dia orang Batak atau tidak, logatnya yang kental yang selalu mengucapkan kata Bah. Masyarakat Batak Toba menarik garis keturunan dari pihak ayah atau pihak laki-laki yang dinamakan dengan prinsip patrilineal. Suatu kelompok adat dihitung dari satu ayah disebut saama, atau satu nenek disebut dengan saompung dan kelompok kekerabatan yang besar adalah marga. Kelompok kekerabatan yang

(13)

terkecil atau keluarga batih disebut ripe. Istilah ripe dapat juga dipakai untuk menyebut keluarga luas patrilineal. Saompu dapat disebut klen istilah ini dipakai juga untuk menyebut kerabat yang terikat dalam satu nenek moyang (Lubis, 1999:112)

Berdasarkan prinsip keturunan Masyarakat Batak Toba yang berarti garis keturunan etnis adalah dari keturunan laki-laki. Keturunan laki-laki memegang peranan penting dalam kelanjutan generasi. Berarti apabila seseorang tidak mempunyai keturunan laki-laki, maka dianggap napunu karena tidak dapat melanjutkan silsilah ayahna. Silsilah yang tidak dapat berlanjut lagi sama halnya bahwa seseorang itu tidak akian pernah diingat atau diperhitungkan lagi dalam silsilah keluarga ( Rajamarpodang, 19992: 105 dalam Gultom)

Hubungan kekerabatan yang timbul sebagai akibat dari penarikan garis keturunan patrilineal mempunyai nilai yang sangat penting. Pada urutan generasi setiap ayah yang mempunyai keturunan laki-laki menjadi bukti nyata dalam silsilah kelompok patrilinealnya. Seorang ayah mempunyai dua atau lebih kelompok keturunan yang masing-masing mempunyai identitas sendiri. Apabila mereka berkumpul maka akan menyebut ayah tadi ompu parsadaan. Ompu berarti kakek, moyang laki-laki; sada adalah satu, jadi merupakan titik temu mereka. Mereka yang berasal dari nenek moyang yang satu (nasaompu) dari generasi ke generasi akan menjadi satu marga. Marga merupakan suatu pertanda bahwa orang yang menggunakannya masih mempunyai kakek bersama atau percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang kakek menurut garis patrilineal (Bruner dalam Lubis, 1999: 112).

(14)

Berdasarkan prinsip patrilineal, Masyarakat Batak Toba mengartikannya bahwa laki-laki mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam meneruskan silsilah dan keturunan keluarga. Laki-lakilah yang dapat menurunkan marga bagi keturunanya. Setiap anak yang dilahirkan baik laki-laki maupun perempuan mencatumkan marga ayahnya dan bukan marga ibunya dibelakan nama pribadinya. Berdasarkan prinsip patrilineal, maka kekuasaan berada ditangan laki-laki.

Masyarakat Batak Toba menurut ketentuan dalam kebudayaanya harus selalu memelihara kepribadian dan rasa kekeluargaan harus tetap terpupuk. Hal tersebut dilakukan bukan saja terhadap keluarga dekat, tetapi juga terhadap keluarga jauh yang semarga. Nama panggilan terhadap seseorang adalah nama marganya dan bukan nama pribadinya. Apabila sesama orang Batak bertemu, maka yang pertama ditanya adalah nama marganya dan bukan nama pribadi atau tempat tinggal. Dengan mengetahui marga, mereka akan mengikuti proses penelusuran silsilah untuk mengetahui hubungan kekerabatan diantara mereka.

Selain hubungan marga secara garis keturunan antara marga-marga juga mempunyai hubungan lain fungsional. Marga mempunyai fungsi tertentu terhadap marga lain yang terjadi akibat perkawinan. Hubungan fungsional ini mengakibatkan adanya penggolongan marga didalam kaitannya dengan marga lain yang menimbulkan suatu system kekerabatan Masyarakat Batak Toba yang disebut dengan Dalihan na Tolu.

Dalihan na Tolu dalam Bahasa Indonesia adalah tungku nan tiga. Tungku adalah alat memasak, dimana periuk dan belanga diletakkan diatasnya untuk

(15)

memasak makanan. Orang Batak melambangkan alat memasak makanan dalihan yang tiga batunya sebagai lambing struktur social mereka. Sebab terdapat tiga golongan penting didalam Masyarakat Batak Toba yaitu hula-hula, boru, dan dongan sabutuha (Simanjuntak, 2006: 99-103).

Menurut (Koentjaraningrat 1984, 125-128 dalam Gultom) Dalihan na Tolu tersebut selalu tercermin dalam setiap aspek-aspek kehidupan Masyarakat Batak Toba, aktivitas-aktivitas hidup bersama terdapat pada pesta-pesta seperti: perkawinan, mendirikan rumah, dan upacara keagamaan. Pada setiap pesta dalam Masyarakat Batak Toba, harus kelihatan tiga kelompok kerabat yaitu: hula-hula, dongan sabutuha, dan boru yang mempunyai hubungan khusus dengan orang yang menyelenggarakan pesta (suhut). Ketiga kelompok tersebutlah yang h yang disebut dengan Dalihan na Tolu. (Gultom, Dj.1992. Dalihan Na Tolu : nilai budaya Suku Batak. Medan TV armada.)

2.5. Kelompok Sosial

Kelompok sosial merupakan suatu gejala yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung di dalamnya. Kelompok didefinisikan sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang saling bergabung untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu. Kelompok dapat bersifat formal dan informal di dalam sistem sosial. Kelompok formal adalah kelompok yang didefinisikan sebagai struktur organisasi dengan pembagian kerja yang jelas. Sedangkan kelompok informal adalah kelompok yang didefinisikan sebagai aliansi yang tidak berstruktur secara formal atau tidak ditetapkan secara organisasi. Kelompok

(16)

informal ini terbentuk secara alamiah dalam suasana kerja yang muncul sebagai tanggapan terhadap kebutuhan akan kontak sosial.

Menurut Muzafer Sherif (dalam Santosa 1992:48) ciri-ciri kelompok sosial adalah sebagai berikut:

1. Adanya dorongan/motif yang sama pada setaip individu, sehingga terjadi interaksi sosial sesamanya dan tertuju dalam tujuan bersama.

2. Adanya reaksi dan kecakapan yang berbeda di anatar individu satu dengan yang lain, akibat terjadinya interaksi sosial.

3. Adanya pembentukan dan penegasan struktur kelompok yang jelas, terdiri dari peranan dan kedudukan yang berkembang dengan sendirinya di dalam rangka mencapai tujuan bersama.

4. Adanya penegasan dan peneguhan norma-norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasi tujuan kelompok.

Situasi kelompok sosial menyebabkan terbentuknya kelompok sosial artinya suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interkasi sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga di antara individu itu sudah pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu. Situasi kelompok sosial artinya sesuatu situasi di mana terdapat dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang mendalam satu sama lain.

Secara umum kelompok sosial tersebut diikat oleh beberapa faktor, seperti:

a. Bagi anggota kelompok, suatu tujuan yang realistis, sederhana dan memiliki nilai keuntungan bagi pribadi.

(17)

b. Masalah kepemimpinan dalam kelompok cukup berperan dalam menentukan kekuatan ikatan antar anggota.

c. Interaksi dalam kelompok secara seimbang merupakan alat perekat yang baik dalam membina kesatuan dan persatuan anggota.

Menurut Charles H (dalam Santosa 1992:46). Cooleg situasi kelompok sosial dapat menimbulkan bermacam-macam kelompok sosial, seperti:

1. Kelompok primer primary group artinya suatu kelompok di mana anggota-anggota mempunyai hubungan/interaksi yang lebih intensif dan lebih erat antara anggotanya.

2. Kelompok sekundersecondary group artinya suatu kelompok di mana anggota-anggotanya salind mengadakan hubungan yang tidak langsung, berjauhan dan formal, kurang bersifat kekeluargaan.

Soekanto (2002:115) mengemukakan beberapa persyaratan sebuah kelompok sosial sebagai berikut:

a. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.

b. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainnya. c. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama sehingga hubungan antar mereka

bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, ideologi politik yang sama-sama dan lain-lain. Tentunya faktor mempunyai musuh bersama misalnya dan dapat pula menjadi faktor pengikat atau pemersatu di antara mereka.

(18)

Menurut Summer (dalam Kamanto) masyarakat manusia terdiri dari in-groups dan out-in-groups atau we-in-groups dan other-in-groups yang artinya kelompok dalam dan kelompok luar atau kelompok kami dan kelompok mereka (Kamanto 2004:130). Seseorang itu termasuk ke dalam beberapa kelompok yang baginya adalah kelompok dalam, dan selebihnya baginya adalah kelompok luar. Dalam in-groups terdapat perasaan persaudaraan, sedangkan out-in-groups terdapat perasaan yang lebih dingin. Anggota-anggota dalam in-groupsmenunjukkan adanya kerja sama, hubungan yang baik good will, saling membantu dan saling menghormati. Mereka mempunyai perasaan solidaritas, kesetiaan terhadap kelompoknya dan kesediaan berkorban demi kelompoknya. Tetapi sikap mereka terhadap orang lain atau luar kelompoknya selalu menunjukkan kebencian, perasaan menghina dan permusuhan.

2.6. Adaptasi

Adaptasi dapat diartikan sebagai penyesuaian diri di suatu tempat. Para perantau yang datang dan tinggal serta menetap di luar daerah asalnya, akan selalu disertai dengan pola tingkah laku dan sikap tertentu. Dalam melakukan perpindahan Etnis bangsa pendatang akan turut membawa adapt-astiadat, norma dan berbagai bentuk organisasi sosial kedalam lingkungan sosial budaya setempat. Budaya setempat ini bisa merupakan sesuatu yang baru bagi suku pendatang. Ditempat tujuan kebiasaan-kebiasaan yang dibawa dari daerah asal akan mengalami perubahan termasuk orientasi nilai terhadap kampung halaman ( Naim : 73 ).

(19)

Masuknya Etnis pendatang kedaerah tertentu yang ditempati oleh bangsa Etnis lain akan melahirkan terjadinya kontak sosial atau hubungan sosial diantara mereka. Kondisi seperti ini memungkinkan untuk terjadinya peminjaman unsur-unsur budaya bagi masing-masing suku bangsa. Ditempat baru, Etnis pendatang di dalam proses adaptasi akan sampai kepada dua pilihan, pertama apakah pola-pola sosial budaya yang diwariskan oleh nenek moyang akan dipertahankan dan yang kedua, adalah apakah pendatang baru itu akan mengadaptasikan dirinya dengan pola-pola sosal budaya suku bangsa setempat.

Menurut Cohen ( 1985:2 ) kelompok suku bangsa yang memasuki suatu daerah yang masih baru baginya, dimana kebudayaanya itu terpisah secara fisik dengan kebutuhannya akan mlakukan adaptasi terhadap lingkungan sosial budaya dan fisik ditempat yang lain.Bila suku pendatang ingin hidup survive di tempat yang baru, biasanya mereka akan mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan sosial budaya setempat dan suku bangsa setempat. Dan Etnis bangsa setempat mempertahankan budayanya dari jamahan atau pengaruh kebudayaan dari luar khususnya unsur budaya luar yang bersifat negatif. Untuk mempertahankan agar Etnis bangsa pendatang dapat hidup bertahan di daerah lain, setiap suku bangsa mempunyai kebudayaan untuk itu umunya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan itu melengkapi manusia denga cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan fisiologis dari badan dari mereka, dan penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik geografis maupun lingkungan sosialnya.

Menurut Suharso (1997:48) didalam kebudayaan itu manusia memiliki seperangkat pengesahan yang dipakai untuk memahami serta menginpretasikan

(20)

dan mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang baru. Manusia yang mempunyai pengetahuan, kebudayaan yang dipakai sehubungan dalam menghadapai kebudayaan asal Etnis setempat. Pengetahuan itu tentunya banyak mendukung terhadap proses adaptasi. Manusia berusaha untuk menyesuaikan dirinya di lingkungan yang baru karena didorong untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan itu sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Jika manusia itu berhasil dalam memenuhi kebutuhannya maka dia akan merasa puas dan apabila tidak maka akan menimbulkan masalah. Kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam mengadaptasikan dirinya adalah tuntutan kebutuhan akan merasa aman, untuk dikenal dan memperoleh harga diri.

Proses adapatasi bangsa suku bangsa tertentu sehingga adapat diterima dilingkungan yang baru, akan memakan waktu cukup yang lama sehingga dapat hidup serasi. Etnis bangsa pendatang dapat bekerjasama untuk tujuan tertentu dengan suku setempat. Menurut Suyatno ( 1974: 15 ) proses adaptasi akan cepat terjadi apabila suku bangsa pendatang lebih terbuka terhadapa budaya suku setempat.

2.7 Toleransi

Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda.Istilah toleransi juga digunakan dengan

(21)

menggunakan definisi "kelompok" yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif.

Sebagai makhluk sosial manusia tentunya harus hidup sebuah masyarakat yang kompleks akan nilai karena terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Untuk menjaga persatuan antar umat beragama maka diperlukan sikap toleransi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sikap memiliki arti perbuatan dsb yang berdasarkan pada pendirian, dan atau keyakinan sedangkan toleransi berasal dari bahasa Latin yaitu tolerare artinya menahan diri, bersikap sabar,membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda.Toleransi sendiri terbagi atas tiga yaitu :

1. Negatif

Isi ajaran dan penganutnya tidak dihargai. Isi ajaran dan penganutnya hanya dibiarkan saja karena menguntungkan dalam keadaan terpaksa.Contoh PKI atau orang-orang yang beraliran komunis di Indonesia pada zamanIndonesia baru merdeka.

2. Positif

Isi ajaran ditolak, tetapi penganutnya diterima serta dihargai.Contoh Anda beragama Islam wajib hukumnya menolak ajaran agama lain didasari oleh keyakinan pada ajaran agama Anda, tetapi penganutnya atau manusianya Anda hargai.

(22)

3. Ekumenis

Isi ajaran serta penganutnya dihargai, karena dalam ajaran mereka itu terdapat unsur-unsur kebenaran yang berguna untuk memperdalam pendirian dan kepercayaan sendiri.Contoh Anda dengan teman Anda sama-sama beragama Islam atau Kristen tetapi berbeda aliran atau paham. Dalam kehidupan beragama sikap toleransi ini sangatlah dibutuhkan, karena dengan sikap toleransi ini kehidupan antar umat beragama dapat tetap berlangsung dengan tetap saling menghargai dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing.

.(http://mohamadhidayatulloh.worpressm/?s=keberagaman+pada+kehidupan+s osial+di+indonesia diakses Jumat 2 may 2014, Jam 22.00).

2.8 Teori Interaksionis Simbolis

MenururtBlumer(dalam Poloma 2003:254) pertama kali mengemukakan istilah interaksionis simbolispada tahun 1937 dan menulis beberapa esai yang berperan penting dalam perkembangannya. Menurut Blumer dalam Little Jhon (1996) mencatat bahwa dalam masyarakat yang maju, porsi terbesar dari tindakan kelompok sosialnya, terdiri dari kejadian yang kembali lagi secara cepat frekuensinya, pola-polayang stabil untuk partisipasinya. Blumer memperingatkan kita bahwa situasi baru mengenalkan pendefinisian kembali masalah-masalah.

Menurut Blumer (dalam Poloma 2004:258) interaksionisme simbolis bertumpu pada tiga premis;

1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.

(23)

2. Makan tersebut berasal dan interaksi sosial seseorang dengan orang lain.

3. Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlangsung.

Tidak ada yang inheren dalam suatu obyek sehingga ia menyediakan makna bagi manusia. Demikian juga dengan semua objek lain yang kita temukan tidak secara langsung, tetapi dengan makna-makna yang terkait dengannya. Makna-makna tersebut berasal dari interaksi dengan orang lain, terutma dengan orang yang dianggapcukup berarti. Sebagai mana dinyatakan Blumerbagi seorang makna dari sesuatu berasal dari cara-cara orang lain bertindak terhadapnya dalam kaitannya dengan sesuatu itu. Tindakan-tindakan yang mereka lakukan akan melahirkan batasan sesuatu bagi orang lain.

Aktor memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokkan, dan mentransformir makna dalam hubungannya dengan situasi dimana dia ditempatkan dan arah tindakannya. Sebenarnya, interprestasinya seharusnya tidak dianggap hanya sebagai penerapan makna-makna yang telah ditetapkan, tetapi sebagai suatu proses pembentukan dimana makna yang dipakai dan disempurnakan sebagai instrument bagi pengarahan dan pembentukan tindakan ( Poloma 2003:263)

Menyanggah individu bukan dikelilingi oleh lingkungan objek-objek potensial yang mempermainkannya dan membentuk perilakunya. Gambaran yang benar ialah dia membentuk objek-objek itu misalnya, berpakaina atau mempersiapkan diri untuk karir professional-individu sebenarnya sedang merancang objek-objek yang berbeda, memberikannya arti, menilai kesesuainnya

(24)

dengan tindakan, dan mengambil keputusan berdasarkan penilaian tersebut. Inilah yang dimaksud dengan penafsiran atau bertindak berdasarkan simbol-simbol.Blumer (dalam Poloma 2004:264)

Dengan demikian manusia merupakan aktor yang sadar dan refleksif, yang menyatukan objek-objek yang diketahuinya melalui apa yang disebut Blumer (dalam Poloma 2004:264) sebagai proses self-indication. Self-indicationadalah proses komunikasi yang sedang berjalan dimana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberikan makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu. Proses self-indication ini terjadi dalam konteks sosial di mana individu mencoba mengantisipasi tindakan-tindakan orang lain dan menyesuaikan tindakannya sebagaimana dia menafsirkan tindakan itu. Pertimbangan yang diberikan wanita muda terhadap undangan dati teman sekerja itu dihubungkan dengan konteks di mana hal itu disampaikan dan pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang membuat dia bisa menilai masalah dan memberinya makna, kemudian member tanggapan berdasarkan makna itu.

Tindakan manusia penuh dengan penafsiran dan pengertian. Tindakan-tindakan mana saling diselaraskan dan menjadi apa yang disebut kaum fungsionalis sebagai struktural-sosial. Blumer lebih senang menyebut fenomena ini sebagai tindakan bersama, ataupengorganisasian secara sosial tindakan-tindakan yang berbeda dari pertisipan yang berbeda pula. Setiap tindakan-tindakan berjalan dalam bentuk prosesual, dan masing-masing saling berkaitan dengan tindakan-tindakan prosesual dari orang lain. Bagi tindakan-tindakan dari hanya sekedar performance tunggal yang diuraikan dalam penjelasan impression management Goffman.

(25)

Orang terlibat dalam tindakan bersama yang merupakan struktur sosial. Lembaga seperti gereja, korporasi bisnis, atau keluarga hanya merupakan kolektivitas yang terlibat dalam tindakan bersama. Tetapi lembaga-lembaga tersebut bukan merupakan struktur-struktur yang statis, sebab pertalian perilaku tidak pernah identik (walau mereka mungkin serupa) sekalipun pola-pola sudah ditetapkan sedemikian rupa. Blumer menegaskan prioritas interaksi kepada struktur dengan menyatakan bahwa “proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menghancurkan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menghancurkan kehidupan kelompok (Poloma 2003:262).

2.8.1 Masyarakat Sebagai Interaksi Simbolis

Bagi Blumer(dalam Poloma 2003:263) studi masyarakat harus merupakan studi dari tindakan bersama, ketimbang prasangka terhadap apa yang dirasakannya sebagai sistem yang kabur dan berbagai parasyarat fungsional yang sukar dipahami. Masyarakat merupakan hasil interaksi-simbolis dan aspek inilah yang harus merupakan masalah bagi para sosiolog. Bagi Blumer keistimewaan pendekatan kaum interaksionis simbolis ialah manusia dilihat saling menafsirkan atau membatasi masing-masing tindakan mereka dan bukan hanya saling bereaksi kepada setiap tindakan itu menurut mode stimulus-respon. Blumer menyatakan “dengan demikian interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol, oleh penafsiran, oleh kepastian makna dari tindakan-tindakan orang lain. Dalam kasus perilaku manusia, mediasi ini sama dengan penyisipan suatu proses penafsiran di antara stimulus dan respon.

(26)

Blumer(dalam Poloma 2004:264) tidak mendesakkan prioritas dominasi kelompok atau struktur, tetapi melihat tindakan kelompok sebagai kumpulan dari tindakan individu: “Masyarakat harus dilihat sebagai terdiri dari tindakan orang-orang, dan kehidupan masyarakat terdiri dari tindakan-tindakan orang itu. Blumer melanjutkan ide ini dengan menunjukkan bahwa kehidupan kelompok yang demikian merupakan respon pada situasi-situasi di mana orang menemukan dirinya.situasi tersebut dapat terstruktur, tetapi Blumer berhati-hati menantang pengabaian arti penting penafsiran sekalipun dalam lembaga-lembaga yang relatif tetap. Dalam melihat masyarakat menegaskan dua perbedaan kaum fungsional struktural dan interaksionis-simbolis

1. Dari sudut interaksi simbolis. Organisasi masyrakat manusia merupakan suatu kerangka di mana tindakan sosial berlangsung dan bukan merupakan penentu tindakan itu.

2. Organisasi yang demikian dan perubahan yang terjadi di dalamnya adalah produk dari kegiatan unit-unit yang bertindak dan tidak oleh kekuatan-kekuatan yang membuat unit-unit itu berada di luar penjelasan.

Interaksionisme-simbolis yang diketengahkan Blumer (dalam Poloma 2004:264) mengandung sejumlah root images atau ide-ide dasar, yang dapat diringkas sebagai berikut

1. Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi. Kegiatan tersebut saling bersesuaian melalui tindakan bersama, membentuk apa yang dikenal sebagai organisasi atau struktur sosial.

(27)

2. Interaksi terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi-interaksi nonsimbolis mencakup stimulus-respon yang sederhana, seperti halnya batuk untuk membersihkan tenggorokan seseorang. Interaksi simbolis mencakup penafsiran tindakan.

3. Objek-objek, tidak mempunyai makna yang intrinsik; makna lebih merupakan produk interaksi-simbolis. Obyek-obyek dapat diklasifikasikan ke dalam tiga katagori yang luas: (1) objek fisik,seperti meja,tanaman, atau mobil ; (2) objek sosial seperti ibu, guru, menteri atau teman; dan (3) objek abstrak seperti nilai-nilai, hak dan peraturan. Blumer membatasi obyek sebagaisegala sesuatu yang berkaitan dengannya. Dunia objek diciptakan, disetujui, ditransformir dan dikesampingkan lewat interaksi-simbolis.

4. Manusia tidak hanya mengenal obyek eksternal, mereka dapat melihat dirinya sebagai obyek. Jadi seseorang pemuda dapat melihat dirinya sebagai mahasiswa, suami, dan seorang yang baru saja menjadi ayah. Pandangan ini terrhadap diri sendiri ini, sebagaimana dengan semua obyek, lahir di saat proses intraksi simbolis.

5. Tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

6. Tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok, hal ini disebut sebagai tindakan bersama yang dibatasi sebagai organisasi sosial dari perilaku tindakan-tindakan berbagai manusia. Blumer Sebagian besar tindakan bersama tersebut berulang-ulang dan stabil, melahirkan apa yang disebut para sosiolog sebagai kebudayaan dan aturan sosial.

(28)

Pada dasarnya tindakan manusia terdiri dari pertimbangan atas berbagai hal yang diketahuinya dan melahirkan serangkaian kelakuan atas dasar bagaimana mereka menafsirkan hal tersebut. Hal-hal yang dipertimbangkan itu mencakup berbagai masalah seperti keinginan dan kemauan, tujuan dan sarana yang bersedia untuk mencapainya, serta tindakan yang diharapkan dari orang lain, gambaran tentang diri sendiri, dan mungkin hasil dari cara bertindak tertentu.Bila orang-orang dengan etnis yang berbeda berinteraksi memerlukan, diharapkan perbedaan-perbedaan akan berkurang, sebab interaksi memerlukan dan membentn tanda dan nilai, atau dengan kata lain, harus ada etnis yang sama atau umum.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :