• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN BERBASIS BALANCED SCORECARD (Studi Kasus PT. Semen Padang)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN MODEL PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN BERBASIS BALANCED SCORECARD (Studi Kasus PT. Semen Padang)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MODEL PENGUKURAN KINERJA

SUPPLY CHAIN BERBASIS BALANCED SCORECARD

(Studi Kasus PT. Semen Padang)

Riko Ervil1, Patdono Suwignjo2, Ahmad Rusdiansyah3

Magister Teknik Industri- Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya

Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111

email : 1 [email protected], 2 [email protected], 3 [email protected]

ABSTRAK

Salah satu aspek fundamental dalam suatu operasi perusahaan adalah manajemen kinerja dan perbaikan secara berkelanjutan. Begitu pula di dalam supply chain management diperlukan pengukuran performansi kinerja supply chain. Penelitian ini melakukan pengembangan model Balanced Scorecard yang digunakan untuk pengukuran kinerja supply chain pada internal supply chain PT. Semen Padang. Sistem pengukuran kinerja yang dikembangkan didasarkan atas strategi supply chain. Strategi supply chain tersebut diturunkan dari strategi perusahaan yang ada pada PT. Semen Padang. . Maka dari itu dalam penelitian ini dilakukan deployment strategi dari strategi bisnis ke strategi supply chain. Sesuai dengan strategi fokus organisasi seluruh kegiatan didalam suatu perusahaan haruslah didasarkan atas strategi yang ada. Balanced Scorecard digunakan dalam penelitian ini karena konsep dasar yang dikembangkan menerjemahkan sebuah visi, misi, dan strategi dari perusahaan ke dalam penentuan tujuan dan ukuran scorecard. Hasil dari penelitian ini adalah pengembangan model Balanced Scorecard yang digunakan untuk pengukuran kinerja supply chain, menetapkan strategi yang digunakan, mengembangkan framework, dan didapat dua puluh empat key performance indikator. Validasi dilakukan terhadap model yang dikembangkan ini dengan mengirimkan kuesioner kepada PT. Semen Padang. Kata kunci : Pengembangan model, strategi supply chain, framework, key performance indikator

ABSTRACT

One of the fundamental aspects of a company's operations is the performance management and continuous improvement. Likewise, in supply chain management performance measurement required supply chain performance. This research made the development of the Balanced Scorecard model is used for measuring supply chain performance in the internal supply chain PT. Semen Padang. Performance measurement system that was developed based on supply chain strategy. Supply chain strategy is derived from the existing corporate strategy at PT. Semen Padang. . Therefore this study conducted in strategic deployment of business strategy to supply chain strategy. In accordance with a strategy focused organization of all activities within a company must be based on the existing strategy. The Balanced Scorecard is used in this research because the basic concept that was developed to translate a vision, mission, and strategy of the company into the determination of objectives and scorecard measures. The results of this research is the development of the Balanced Scorecard model is used for measuring supply chain performance, which is used to set the strategy, develop a framework, and obtained twenty-four key performance indicators. Validation conducted on this model, developed by sending a questionnaire to PT. Semen Padang .

Keywords: Development models, supply chain strategy, framework, key performance indicators

Pendahuluan

Supply

chain

management

mulai

diperkenalkan pada tahun 1990 an sebagai

sebuah konsep baru yang dilatarbelakangi oleh

suatu kesadaran akan pentingnya peran semua

pihak dalam menciptakan produk yang murah,

berkualitas dan cepat. Konsep ini mengalami

perkembangan yang sangat cepat dalam dunia

industri, hal ini disebabkan supply chain

memiliki framework yang dapat mengatur

pergerakan material yang melalui proses

(2)

customer. Pada saat ini supply chain tidak hanya

di gunakan oleh industri manufaktur saja, akan

tetapi semua jenis industri telah menggunakan

supply chain dalam operasi, bahkan industri jasa

pun telah menggunakan supply chain.

Salah satu aspek fundamental dalam suatu

operasi perusahaan adalah manajemen kinerja

dan perbaikan secara berkelanjutan. Begitu pula

di dalam mangement supply chain pun

diperlukan pengukuran performansi kinerja

supply chain. Hal ini perlu dilakukan karena

supply chain bukan hanya melibatkan internal

perusahaan saja akan tetapi supplier pun harus

memiliki kinerja yang bagus.

Menurut Pujawan (2005) perkembangan

praktek maupun literatur yang terkait dengan

pengukuran kinerja supply chain saat ini belum

berada pada kondisi yang mapan. Banyak

kesepakatan yang masih harus dicapai, termasuk

membedakan antara sistem pengukuran kinerja

untuk aktivitas-aktivitas supply chain pada

sebuah perusahaan dan sistem pengukuran

kinerja terintegrasi antar organisasi pada sebuah

supply chain.

Metode yang banyak digunakan untuk

mengukur performansi kinerja supply chain

perusahaan pada saat ini adalah SCOR (supply

chain operational reference). SCOR hanya

menilai kinerja dari dua perspektif yaitu :

internal bisnis process dan customer. SCOR

hanya memberikan sistem pengukuran yang

hanya bersifat generik bagi para penggunanya.

Banyak penelitian yang dilakukan dengan latar

belakang

supply

chain,

terutama

yang

mengembangkan sistem pengukuran kinerja

bagi supply chain. Gunasekaran, et al (2001)

melakukan pengembangan model pengukuran

kinerja supply chain dengan menemukan

metrik-metrik yang terlibat dalam proses

pengukuran kinerja supply chain. Metrik-metrik

tersebut dikelompokkan ke dalam tingkatan

strategic,

tactical

dan

operational

serta

dikelompokkan kembali ke dalam fungsi

financial dan non financial.

Selanjutnya Gunasekaran, et al (2004)

mempublikasikan kembali hasil penelitian

tentang pengukuran kinerja supply chain.

Mereka mengembangkan framework untuk

pengukuran kinerja supply chain. Metrik-metrik

tersebut dikelompokkan berdasarkan aktifitas

supply

chain

yaitu

Plan,

Source,

Make/Assemble dan deliver. Kemudian

metrik-metrik tersebut juga akan dikelompokkan

kedalam tingkatan Strategic, Tactical dan

Operational. Kemudian Bhagwat, et al (2007)

melanjutkan penelitian tersebut diatas. Bhagwat,

et

al

melakukan

pengembangan

model

pengukuran kinerja supply chain dengan

menggunakan metoda Balanced Scorecard.

Bhagwat, et al melakukan pengembangan

metrik-metrik pengukuran kinerja supply chain.

Akan tetapi metrik-metrik ini masih bersifat

generik.

Pada sistem pengukuran kinerja supply chain

yang disebutkan diatas, metrik-metriknya tidak

diturunkan dari strategi yang digunakan.

Sedangkan pada metoda Balanced Scorecard

metrik-metrik haruslah diturunkan dari strategi

yang

digunakan.

Strategilah

yang

akan

menuntun organisasi menuju tujuan jangka

panjangnya. Begitu pula pada pengukuran

kinerja supply chain.

Penelitian tentang supply chain selama ini

tidak didasarkan atas strategi yang ada pada

perusahaan.

Kebanyakan

dalam

langkah

penentuan key performance indicator dilakukan

tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka

panjang

yang

ingin dicapai

perusahaan.

Perusahaan yang memiliki bidang usaha yang

sama belum tentu memiliki faktor-faktor kunci

penentu

keberhasilan

yang

sama

pula,

tergantung dari strategi fokus organisasi. Maka

dari itu dalam penelitian ini dilakukan

deployment strategi dari strategi bisnis ke

strategi supply chain. Sesuai dengan strategi

fokus organisasi seluruh kegiatan didalam suatu

perusahaan haruslah didasarkan atas strategi

yang ada.

Dengan dilakukannya deployment strategi dari

strategi korporasi ke strategi supply chain, hasil

dari key performance indicator yang didapat

benar-benar

sesuai

dengan

kebutuhan

perusahaan. Agar tujuan dan ukuran key

performance indicator sesuai dengan strategi

perusahaan, maka di dalam penelitian ini

digunakan Balanced Scorecard. Balanced

Scorecard digunakan dalam penelitian ini

karena konsep dasar yang dikembangkan oleh

Robert Kaplan (2000) menerjemahkan sebuah

visi, misi, dan strategi dari perusahaan ke dalam

penentuan tujuan dan ukuran scorecard.

Balanced Scorecard mengukur kinerja dari

empat perspektif yaitu : perspektif financial,

perspektif customer, perspektif internal business

process dan perspektif learning and growth.

Balanced

Scorecard

digunakan

untuk

menyeimbangkan penilaian kinerja pada sisi

keuangan dan non keuangan. Pada prinsip dasar

(3)

Balanced Scorecard perspektif financial adalah

yang utama, akan tetapi faktor utama ini

dapatlah

berbeda

untuk

masing-masing

perusahaan, tergantung dari strategi yang

digunakan oleh perusahaan. Maka dari itu pada

penelitian ini agar keempat perspektif yang ada

pada balanced scorecard menjadi sempurna dan

dapat diterapkan pada pengukuran kinerja

supply

chain,

maka

akan

dilakukan

pengembangan pengukuran kinerja supply chain

berbasis Balanced Scorecard yang diturunkan

dari strategi supply chain yang telah diturunkan

dari strategi korporasi.

PT. Semen Padang adalah produsen semen

yang

besar

dan

pertama

di

indonesia.

Perusahaan

memproduksi

semen

dengan

berbagai tipe. Pasar yang dimiliki tidak hanya

pasar domestik akan tetapi juga pasar eksport.

Maka dari itu perusahaan banyak terlibat dengan

pemasok lokal dan internasional bahkan juga

dengan pembeli mancanegara. Maka dari itu

perusahaan mempunyai rangkaian supply chain

yang kompleks. Sehubungan dengan itu, untuk

mengetahui apakah rantai supply chain sudah

beroperasi dalam perusahaan dengan baik, maka

diperlukan sistem pengukuran kinerja supply

chain. Dengan adanya suatu sistem pengukuran

kinerja supply chain secara simultan dan

berkesinambungan, serta dapat mengidentifikasi

peningkatan dan tingkat kesuksesan yang

dicapai.

Penulis memilih PT. Semen Padang karena

perusahaan ini telah mempunyai visi, misi dan

strategi yang komplit dan selalu dilakukan

langkah

monitoring

dan

evaluasi

yang

berkesinambungan agar sesuai dengan tuntutan

pasar. Maka dari itu akan menjadi sangat mudah

bagi pihak perusahaan dalam melakukan

deployment strategi. Dalam melakukan

langkah-langkah

deployment

strategi

hingga

menghasilkan

key

performance

indicator,

penulis banyak dibantu oleh pihak-pihak di

dalam perusahaan yang selalu terlibat dalam

pengembangan strategi pada perusahaan. Pada

saat ini perusahaan sudah mempunyai sistem

pengukuran kinerja yang mengukur kinerja

perusahaan secara keseluruhan. Maka dari itu

dicoba mengembangkan model pengukuran

kinerja supply chain yang diturunkan dari sistem

pengukuran kinerja perusahaan yang sudah ada.

Perumusan masalah pada penelitian ini adalah

bagaimana mengembangan model Balanced

Scorecard yang sebaiknya digunakan untuk

mengukur kinerja supply chain perusahaan yang

bersifat spesifik.Sedangkan tujuan penelitian

sebagai

berikut

mengembangkan

model

pengukuran kinerja supply chain yang berbasis

Balanced Scorecar dan menerapkan model

pengukuran kinerja supply chain yang berbasis

Balanced Scorecard pada PT. Semen Padang.

Dalam rangka menjaga agar fokus penelitian

tidak melebar, perlu ditegaskan batasan dalam

penelitian ini adalah melakukan pengembangan

model pengukuran kinerja supply chain berbasis

Balanced Scorecard tanpa melakukan proses

pengukuran

pada

perusahaan

dan

pengembangan

model

pengukuran

kinerja

supply chain dilakukan hanya pada internal

supply chain PT. Semen Padang saja. Yang

dimaksud dengan internal supply chain adalah

proses supply chain yang hanya berlangsung

pada PT. Semen Padang saja.

Metodologi Penelitian

Tahap awal penelitian ini adalah melakukan

identifikasi dan perumusan masalah dan

penetapan

tujuan

dilakukan

pendefinisian

masalah yang akan dipecahkan. Dilanjutkan

dengan penetapan tujuan penelitian. Studi

literatur dilakukan untuk mencari referensi –

referensi pendukung penelitian. Studi literatur

ini dilakukan melalui buku teks, internet, jurnal

– jurnal ilmiah serta penelitian – penelitian

terdahulu. Dilanjutkan dengan studi lapangan

dilakukan sebagai alat untuk melakukan

observasi

pada

objek

penelitian.

Tahap

pengembangan

model

merupakan

proses

pengembangan

model

pengukuran

kinerja

supply chain yang akan diterapkan pada

penelitian ini. Langkah awal adalah melakukan

identifikasi terhadap sistem pengukuran kinerja

supply chain yang sudah ada. Selanjutnya

melakukan analisa kelemahan dari model

pengukuran kinerja supply chain yang sudah

ada. Dari analisa kelemahan tersebut dilakukan

perbaikan untuk menutupi kelemahan tersebut.

Perbaikan model pengukuran kinerja supply

chain dilakukan berdasarkan literatur yang ada,

sehingga di hasilkan pengembangan model

pengukuran kinerja supply chain berbasis

Balanced Scorecard. Selanjutnya dilakukan

penerapan model pada PT. Semen Padang.

Dimana langkah-langkah yang dilakukan dalam

penerapan ini adalah identifikasi pengukuran

kinerja perusahaan yang diturunkan dari visi,

misi dan strategi korporasi. Membuat strategy

map dari sistem pengukuran kinerja perusahaan

saat ini dan selanjutnya melakukan identifikasi

(4)

key

performance

indicator.

Selanjutnya

dilakukan Deployment strategi supply chain

perusahaan dari strategi bisnis perusahaan. Lalu

dilakukan Deployment strategic initiatives

pengukuran kinerja supply chain dari strategic

initiatives perusahaan yang telah didapat.

Dilanjutkan

dengan

Deployment

key

performance indicator supply chain dari key

performance indicator pengukuran kinerja

perusahaan. ke pengukuran kinerja supply

chain. Selanjutnya dilakukan pengelompokan

key performance indicator supply chain ke

dalam empat

perspektif Balanced Scorecard.

Perancangan framework sistem pengukuran

kinerja

supply

chain

berbasis

Balanced

Scorecard. Untuk memperjelas hubungan dari

sistem pengukuran kinerja perusahaan dan

sistem

pengukuran kinerja

supply

chain

perusahaan maka dibuatkan framework nya.

Langkah terakhir yang dilakukan adalah validasi

dari model apakah strategi supply chain,

strategic initiatives supply chain dan key

performance

indicator

hasil

perancangan

tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan

supply chain perusahaan. Pada tahap ini

diberikan kuesioner pada pihak perusahaan.

Identifikasi Model Supply Chain Operation

Reference (SCOR)

Model SCOR dikembangkan oleh Supply

Chain Council (SCC). SCOR model adalah

sebuah

model

referensi

proses

yang

menggabungkan konsep-konsep yang telah

dikenal pada reengineering proses bisnis,

benchmarking dan ukuran proses di dalam

sebuah kerangka lintas fungsi Pujawan (2005).

Ada lima proses utama supply chain yaitu plan,

source, make, deliver dan return. SCOR model

memberikan petunjuk mengenai tipe-tipe metrik

yang

dipergunakan

untuk

mengukur

performansi suatu perusahaan.

Analisis Kelemahan Model Supply Chain

Operation Reference (SCOR)

Analisis kelemahan dari model SCOR

dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan

model

SCOR.

Analisis

kelemahan

ini

didasarkan pada penggunaan model SCOR pada

penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal

ini dilakukan agar model pengukuran kinerja

supply chain yang dikembangkan sesuai

permasalahan pada objek penelitian. Untuk

memudahkan pemahaman terhadap kelemahan

dari SCOR, dapat dilihat pada tabel 1 .

Tabel 1. Identifikasi Kelemahan Model SCOR

Model

Identifikasi Kelemahan

SCOR

1. Bersifat generik, tidak

didasarkan

atas

strategi bisnis.

2. KPI yang ada tinggal

disesuaikan

dengan

kebutuhan

perusahaan.

Tidak

didasarkan

dari

strategi supply chain

yang ada.

3. Tidak

menerjemahkan visi,

misi, dan strategi dari

perusahaan ke dalam

penentuan tujuan dan

ukuran scorecard.

Dapat dilihat kelemahan dari model SCOR

yang digunakan. Kelemahan dari SCOR adalah

tidak melakukan allignment antara sistem

pengukuran kinerja dengan strategi bisnis dan

strategi fungsional. Menurut Robert Kaplan

(2000) menerjemahkan sebuah visi, misi, dan

strategi dari perusahaan ke dalam penentuan

tujuan dan ukuran scorecard, sesuai dengan

strategi fokus organisasi.

Dengan demikian pada penelitian selanjutnya

adalah mengembangkan model pengukuran

kinerja supply chain yang diturunkan dari

strategi supply chain. Pengembangan model ini

melakukan deployment strategi bisnis ke strategi

supply

chain,

sehingga

dihasilkan

key

performance indicator yang sesuai dengan

kebutuhan strategi perusahaan.

Pengembangan Model

Didalam

penelitian

ini

dilakukan

pengembangan

model

pengukuran

kinerja

supply chain berbasis Balanced Scorecard.

Maka dari itu perlu digambarkan dengan jelas

langkah-langkah pengembangan model yang

dilakukan.

Pengembangan

model

yang

dilakukan pada penelitian ini dimulai dari

strategi bisnis yang ada pada perusahaan.

Dengan demikian strategi yang dihasilkan

adalah strategi yang mempunyai kaitan dengan

strategi yang sudah ada. Strategi functional

harus selaras dengan strategi bisnis. Maka

strategi supply chain harus sesuai dengan

strategi bisnis.. Sehubungan dengan gambar

diatas dan dihubungkan tujuan penelitian ini,

maka

dibuatlah

suatu

diagram

proses

(5)

kinerja supply chain yang berbasis Balanced

Scorecard.

Gambar 1. Pengembangan Model Pengukuran Kinerja Supply Chain Berbasis Balanced Scorecard

Pada gambar 1 dapat dilihat secara umum

pengembangan model tersebut dapat dijelaskan

sebagai berikut :

Deployment Strategic Initiatives Perusahaan

Dari Strategi Bisnis

Strategic initiative perusahaan di deployment

dari

strategi

bisnis.

Strategic

initiative

merupakan penjabaran dari strategi bisnis

perusahaan. Agar dapat dilihat bahwa strategic

initiatives perusahaan merupakan penjabaran

dari strategi bisnis.

Gambar 2. Deployment Strategic Initiatives Perusahaan dari Strategi Bisnis

Dari gambar 2 dapat dilihat cara deployment

strategi

bisnis

dan

strategic

initiatives

perusahaan, satu strategi bisnis bisa bisa di

deployment

menjadi

beberapa

strategic

initiatives perusahaan.

Deployment Sistem Pengukuran Kinerja

Perusahaan

dari

Strategic

Initiatives

Perusahaan

Dari

strategic

initiatives

perusahaan

dilakukan langkah deployment selanjutnya agar

didapat sistem pengukuran kinerja perusahaan.

Jadi sistem pengukuran kinerja perusahaan

merupakan penjabaran dari strategi bisnis yang

ada. Pada tahapan ini menjelaskan hubungan

antara strategic initiatives dan key performance

indicator yang ada.

Gambar 3. Deployment Sistem Pengukuran Kinerja Perusahaan dari Strategic Initiatives

Tahapan yang menjelaskan deployment

antara strategic initiatives dan key performance

indicator dapat dilihat pada gambar 3. Pada

gambar 3 terlihat kembali bahwa satu strategic

initiatives perusahaan dapat di deployment

menjadi beberapa key performance indicator

tergantung dari kebutuhan strategic initiatives

terhadap key performance indicator yang

diperlukan. Akan tetapi tidak ada satu key

performance indicator mewakili dua strategic

initiatives.

Deployment Strategi Supply Chain

dari

Strategi Bisnis

Selanjutnya sesuai dengan tujuan dari penelitian

ini untuk mengembangkan sistem pengukuran

kinerja supply chain yang berbasis Balanced

Scorecard,

maka

langkah

pertama

yang

dilakukan adalah melakukan deployment strategi

supply chain yang berasal dari strategi bisnis.

Strategi

supply

chain

harus

mempunyai

hubungan yang erat dengan strategi bisnis

perusahaan. Gambar 4 menerangkan bahwa dari

proses deployment, satu strategi bisnis bisa

diwakili beberapa strategi supply chain.

Gambar 4. Deployment Strategi Supply Chain dari Strategi Bisnis

Deployment Strategic Initiatives Supply Chain

dari Strategi Supply Chain dan Strategic

Initiatives Perusahaan

Dari strategic initiatives perusahaan dan

strategi supply chain yang sudah didapat

dilakukan

deployment

terhadap

strategic

initiatives supply chain. Strategic

initiatives

supply chain mempunyai hubungan yang erat

dengan strategic initiatives perusahaan dan

strategi supply chain.

Langkah pertama yang dilakukan adalah

pemilihan strategic initiatives perusahaan yang

(6)

mempunyai hubungan dengan fungsi supply

chain.

Gambar 5. Deployment Strategic Initiatives Supply Chain

Nama yang digunakan pada strategic

initiatives perusahaan dilakukan penyesuaian

dengan nama yang berhubungan dengan supply

chain, jadi tidak selalu nama yang ada pada

strategic initiatives perusahaan dapat digunakan

langsung pada strategic initiatives supply chain.

Antara satu strategic initiatives perusahaan

mempunyai hubungan dengan lebih dari satu

strategic

initiatives

supply

chain,

menggambarkan bahwa strategic initiatives

supply chain yang didapat mendukung strategic

initiatives perusahaan.

Dari seluruh strategic initiatives supply chain

yang didapat haruslah mempunyai hubungan

dengan strategi supply chain yang didapat.

Gambar 5 menjelaskan bahwa pada proses

Deployment,

satu

strategic

initiatives

perusahaan dapat berhubungan dengan lebih

dari satu strategic initiatives supply chain,

bahkan ada strategic initiatives perusahaan yang

tidak berhubungan dengan strategic initiatives

supply chain, karena tidak mewakili fungsi

supply chain . Kemudian satu strategi supply

chain berhubungan dengan beberapa strategic

initiatives.

Deployment Sistem Pengukuran Kinerja

Supply Chain Berbasis Balanced Scorecard

dari Sistem Pengukuran Kinerja Perusahaan

dan Strategic Initiatives Supply Chain

Langkah terakhir yang dilakukan adalah

melakukan deployment sistem pengukuran

kinerja supply chain yang berbasis Balanced

Scorecard. Sistem pengukuran kinerja supply

chain di dapat dari deployment sistem

pengukuran

kinerja

perusahaan

dan

strategic initiatives supply chain. Hal ini

dilakukan untuk menunjukkan bahwa key

performance indicator supply chain yang ada

bisa mengakomodir strategic initiative supply

chain.

Dari

key

performance

indicator

perusahaan

yang

telah

didapat,

maka

dilakukan proses seleksi terhadap key

performance

indicator

tersebut

yang

berhubungan dengan proses supply chain

perusahaan dipilih menjadi key performance

indicator supply chain. Dari proses pemilihan

dilakukan proses penyesuaian yaitu dari satu key

performance

indicator

perusahaan

bisa

dijadikan beberapa key performance indicator

supply chain tergantung dari fungsi dan

kebutuhan perusahaan. Dari seluruh key

performance indicator supply chain yang

didapat harus ada keterkaitan dengan strategic

initiatives supplychain yang telah didapat

sebelumnya. Langkah-langkah

singkatnya

dapat dilihat pada gambar 6. Gambar 6

menerangkan bahwa key performance indicator

pengukuran kinerja

perusahaanada

yang

berhubungan dengan lebih dari satu key

performance indicator supply chain, bahkan ada

yang

tidak

berhubungan

karena

tidak

mempunyai

fungsi

supply

chain.

Selanjutnya key performance indicator supply

chain yang di deployment harus mempunyai

keterkaitan dengan strategic initiatives supply

chain.

Gambar 6. Deployment Sistem Pengukuran Kinerja Supply Chain Berbasis Balanced Scorecard

Pengelompokkan Key Performance Indicator

Supply Chain

Langkah selanjutnya yang dilakukan pada

gambar 7 adalah melakukan pengelompokkan

key performance indicator supply chain yang

didapat ke dalam empat perspektif Balanced

Scorecard sesuai dengan kaedah yang berlaku.

Gambar 7. Pengelompokkan Key Performance Indicator Supply Chain

Langkah terakhir yang dilakukan dalam

pengembangan

model

pengukuran

kinerja

(7)

performance indicator supply chain yang ada ke

dalam empat perspektif Balanced Scorecard.

Pada perspektif financial keputusan dalam

pengelompokkan dilakukan berdasarkan isu

strategis yang muncul dari perspektif keuangan

adalah :

Pertumbuhan dan peragaman sumber

pendapatan serta pertumbuhan

penjualan.

Penurunan biaya dan perbaikan

produktivitas

Mempertinggi utilitas aset-aset

perusahaan.

Untuk pengelompokkan ke dalam perspektif

customer ada beberapa hal yang harus

diperhatikan, yaitu :

Kepuasan

pelanggan

(customer

satisfaction)

Retensi pelanggan (customer retention)

Akuisisi

pelanggan

(customer

acquisition)

Pangsa pasar (market share)

Keuntungan

pelanggan

(customer

profitability)

Sedangkan untuk proses pengelompokkan ke

dalam perspektif internal business process,

proses-proses yang harus di perhatikan adalah :

Proses inovasi

Organisasi melakukan riset tentang

kebutuhan pelanggan dan mengubah

data kebutuhan pelanggan tersebut

menjadi berbagai atribut yang didesain

ke dalam bentuk produk dan jasa.

Proses operasi

Produk dan jasa yang telah didesain

kemudian diproduksi dan diserahkan

kepada pelanggan.

Proses layanan pasca penjualan

Dalam proses layanan pasca jual,

organisasi menyediakan layanan bagi

pelanggan untuk produk dan jasa yang

telah sampai ketangan pelanggan.

Perspektif learning and growth berfokus

pada kemampuan organisasi untuk terus

menerus

melakukan

improvement

guna

meningkatkan kepuasan konsumen. Untuk masa

depan perusahaan, terus belajar, tumbuh dan

berkembang. Harus terus mengasah kompetensi,

mempertajam keunggulan serta memberikan

suasana yang kondusif untuk bekerja.

Analisis Pengembangan Model Pengukuran

Kinerja Supply Chain

Pengembangan model pengukuran kinerja

supply chain yang sudah dilakukan pada

penelitian ini merupakan pengembangan model

dari supply chain operation reference (SCOR).

Tabel 2. Perbandingan Model Pengukuran Kinerja Supply Chain SCOR dan Berbasis Balanced

Scorecard

SCOR

Berbasis Balanced

Scorecard

1. Bersifat

generik,

tidak

didasarkan

atas strategi bisnis.

2. KPI

yang

ada

tinggal disesuaikan

dengan

kebutuhan

perusahaan.

Tidak

didasarkan

dari

strategi supply chain

yang ada.

3. Tidak

menerjemahkan visi,

misi, dan strategi

dari perusahaan ke

dalam

penentuan

tujuan dan ukuran

scorecard.

1. Di

turunkan

dari

strategi

bisnis

perusahaan.

2. KPI didasarkan dari

strategi supply chain

yang didapat.

3. Telah

melalui

tahapan

penterjemahan visi,

misi dan strategi ke

dalam

penentuan

tujuan dan ukuran

scorecard.

Model pengukuran kinerja supply chain ini

dikembangkan agar dapat digunakan untuk

mengukur kinerja supply chain perusahaan yang

belum mempunyai sistem pengukuran kinerja

perusahaan bahkan bagi perusahaan yang telah

mempunyai dan ingin mengembangkan sistem

pengukuran kinerja supply chain mereka. Dari

pengembangan model kinerja supply chain ini

kelebihan yang didapat tampak pada tabel 2.

Pengembangan Penelitian Selanjutnya

Dari kelebihan model yang telah

dikembangkan dalam penelitian ini, tidak

tertutup

kemungkinan

untuk

dapat

dikembangkan

kembali.

Beberapa

usulan

pengembangan yang dapat dilakukan pada

penelitian berikut adalah :

1. Mempersingkat langkah-langkah dalam tahap

strategi deployment, tergantung dari strategi

yang dimiliki.

2. Mengembangkan key performance indicator

supply chain, tergantung dari strategi yang

didapat,

key

performance

indicator

perusahaan dan kebutuhan dari perusahaan.

Langkah-langkah

pengembangan

pada

(8)

lebih

lanjut,

diharapkan

dengan

adanya

pengembangan

lebih

lanjut

dapat

menyempurnakan sistem pengukuran kinerja

supply chain berbasis Balanced Scorecard.

Penerapan Model

Dari langkah-langkah pengembangan model

pengukuran kinerja supply chain yang telah

dilakukan, maka dilakukan penerapan pada PT.

Semen Padang. Key performance indicator

supply chain berbasis Balanced Scorecard yang

didapat adalah :

Tabel 3. Key Performance Indicator Supply Chain

Perspektif Key Performance Indicator

Financial

F1. Sales

F2. Transport cost per ton

F3. Distribution cost per ton

Customer

C1.Distribution Satisfaction Index

C2. Customer Satisfaction Index

C3. Distributor Complaint Solves

C4. Domestic Market Share

Internal

Business

Process

I1. Sales volume domestic

I2. Sales volume eksport

I3. Procurement Cycle Time

I4. Inventory turnover sparepart

I5.Inventory turn over batu kapur

I6. Inventory turn over batu silika

I7. Inventory turn over batu bara

I8.Inventory turn over craft paper

I9. Inventory turn over tanah liat

I10. Inventory turn over gypsum

I11.Inventory turn over pasir besi

I12. Clinker Production

I13. Cement Production

I14. Vessel Availability

I15. Product Availability

Learning

& Growth

L1. Employee Productivity

L2. Percentage of EDI transaction

Dengan mengikuti seluruh langkah-langkah

pengembangan

model

dan

dapat

dikelompokkannya seluruh key performance

indicator ke dalam empat perspektif Balanced

Scorecard,

maka

langkah-langkah

pengembangan model yang dilakukan dapat

diterapkan pada PT. Semen Padang.

Validasi Model

Validasi

adalah

proses

permintaan

persetujuan

atau

pengesahan

terhadap

kesesuaian

model

yang

dibuat

dengan

kebutuhan

pihak

perusahaan.

Untuk

mendapatkan pengakuan kesesuaian tersebut,

validasi dilakukan dengan melibatkan pihak

yang ahli sesuai dengan bidang terkait ataupun

pihak yang menggunakan model tersebut.

Validasi perlu dilakukan untuk mendapatkan

masukan yang komprehensif dan objektif dari

model yang telah dikembangkan. Hal penting

yang diperoleh dari proses validasi adalah:

Kesesuaian antara model penukuran kinerja

supply

chain

dengan

strategi

bisnis

perusahaan.

Kesesuaian dari key performance indicator

yang didapat dengan tuntutan supply chain

perusahaan.

Fleksibilitas

untuk

pengembangan

key

performance

indicator

sesuai

dengan

kebutuhan dan perkembangan perusahaan.

Kesimpulan

1. Pengembangan model pengukuran kinerja

supply

chain

dilakukan

untuk

lebih

meningkatkan ketepatan dan keakuratan

pengukuran kinerja pada fungsi supply chain

perusahaan. Akan tetapi sistem pengukuran

kinerja supply chain tersebut haruslah

didasarkan pada strategi supply chain yang

diturunkan dari strategi korporasi yang ada

pada perusahaan. Dari strategi perusahaan

kemudian diturunkan strategic initiatives dan

selanjutnya dilakukan deployment menjadi

strategic initiatives supply chain. Dari

strategic initiatives perusahaan didapat key

performance indicator pengukuran kinerja

perusahaan,

lalu

dilanjutkan

langkah

deployment

key

performance

indicator

tersebut menjadi key performance indicator

supply chain. Dari key performance indicator

yang diperoleh dilakukan pengelompokkan

ke

dalam

empat

perspektif

Balanced

Scorecard. Pengukuran kinerja supply chain

dapat digambarkan bahwa sistem pengukuran

kinerja supply chain perusahaan harus

mempunyai hubungan yang erat dengan

sistem pengukuran kinerja perusahaan.

2. Penerapan pengembangan model pengukuran

kinerja supply chain berbasis Balanced

Scorecard pada PT. Semen Padang dapat

merumuskan 24 buah key performance

indicator yang dikelompokkan ke dalam

empat perspektif dengan didasarkan atas

kaedah-kaedah yang berlaku pada Balanced

Scorecard. Key performance indicator yang

telah

dihasilkan

dapat

menggambarkan

kondisi kinerja internal supply chain PT.

Semen Padang pada saat ini.

(9)

Daftar Pustaka

Bhagwat,

R.,

Sharma,

M.K.,

(2007),

Performance Measurement of Supply Chain

Management : A Balanced Scorecard

Approach,

Computers

&

Industrial

Engineering ,53 (2007) ,43-62.

Bozarth,

C.C.,

Hanfield,

R.B.,

(2006),

Introduction to Operations and Supply Chain

Management, Prentice Hall, New Jersey,

USA.

Chopra, S., Meindl, P., (2007), Supply Chain

Management : Strategy, Planning and

Operation third edition, , Prentice Hall, New

Jersey, USA.

David, F.R., (2005), Strategic Management:

concept and cases, 10 th ed.Pearson

Education, Prentice Hall, New Jersey, USA.

Fisher, M.L., (1997), What is the Right Supply

Chain

For

Your

Product?,

Harvard

Busioness Review.

Gunasekaran, A., Patel, C., Tirtiroglu, E.,

(2001), Performance Measurement and

Metrics in a Supply Chain Environment,

International Journal of Production and

Operations Management, 21(2001), 71-87.

Gunasekaran, A., Patel, C., Ronald, E.,

McGaughey, R., (2004), A Framework for

Supply Chain Performance Measurement,

International

Journal

of

Paroduction

Economics, 87(2004), 333-347.

Kaplan, R.S., and Norton, D.P., (1996),

Translating Strategi Into Action – The

Balanced

Scorecard,

Harvard Business

School Press, Boston, Massachussets.

Lee,Y., Kozar, A.K., Larsen, K.R.T., (2003), The

Technology acceptance Model: Past, Present,

and Future, CAIS vol. 12/50, page 752-780 .

Neely,

A.D.,

(1999),

The

Performance

Revolution: Why Now and What Next?,

International

Journal

of

Operation

&

Production

Management,

Vol.19

No.2,

pp.205-208.

Neely, A.D., and Kennerly, M., (2000),

Performance Measurement Frameworks – A

Review, Centre for Business Performance,

Cranfield School of Management, UK

Porter, M.E., (1980), Competitive Strategy,

Macmillan Publishing Co., Inc., New York,

USA.

Pujawan,

I.P.,

(2005),

Supply

Chain

Management,

Penerbit

Guna

Widya,

Surabaya.

Richardus I., Djokopranoto, (2002), Konsep

Manajemen Supply Chain. PT Grasindo.

Vincent, G., (2007), Organizational Excelence:

Model Strategik menuju World Class Quality

Company, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gambar

Tabel 1. Identifikasi Kelemahan Model SCOR  Model  Identifikasi Kelemahan  SCOR  1. Bersifat generik, tidak
Gambar 1. Pengembangan Model Pengukuran  Kinerja Supply Chain Berbasis Balanced Scorecard
Gambar 6. Deployment Sistem Pengukuran Kinerja  Supply Chain Berbasis Balanced Scorecard
Tabel 2. Perbandingan Model Pengukuran Kinerja  Supply Chain SCOR dan Berbasis Balanced
+2

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu alternatif penyelesaian masalahnya adalah dengan menerapkan sistem pengukuran kinerja dengan menggunakan Balanced Scorecard, sebagai suatu sistem pengukuran

All in One 150 Key Performance Indicators and Balanced Scorecard, Malcolm Baldrige, Lean Six Sigma Supply

Oleh karena itu, diterapkan sistem pengukuran kinerja dengan metode Balanced Scorecard yang dilihat dari empat perspektif yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis internal,

Pada implementasi balanced scorecard perspektif pelanggan pada masing-masing standar menggunakan output nilai persentase yang dihasilkan oleh pengukuran kinerja

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengukur kinerja aplikasi menggunakan metode IT Balanced Scorecard adalah melakukan penyelarasan terhadap visi, misi, dan tujuan

1.) Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard dapat memberikan informasi yang jelas kepada mana-jemen terhadap pencapaian target

1.) Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard dapat memberikan informasi yang jelas kepada mana-jemen terhadap pencapaian target

RANCANGAN KEY PERFORMANCE INDICATORS BERBASIS BALANCED SCORECARD SEBAGAI PENGUKURAN KINERJA PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN