Review Chapter Emosi dan Sentimen
Jan E. Stets
Delamater, J. (2006). Hand Book of Social Psychology: USA. Springer
Muh. Fitrah Ramadhan Umar, S.Psi
Magister Sains Psikologi Komunitas
Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga Surabaya
A. Definisi
peristiwa yang dialami oleh individu dan individu belajar mengekspresikan sesuai pertistiwa tersebut.
Terdapat empat komponen dari emosi menurut Thoits yaitu:
Isyarat situasional Perubahan fisiologis Gerakan ekspresif
Label emosi yang menyebutkan konfigurasi spesifik dari komponen tersebut.
B. Emosi Primer dan Sekunder
Ekman dan Freisen melakukan penelitian tentang emosi. Mereka berdua memperlihatkan foto ekspresi wajah terhadap individu dalam budaya yang berbeda dan mereka diminta untuk memeriksa daftar emosi yang mereka lihat. Lima emosi yang terlihat oleh pengamat adalah kemarahan, ketakutan, kesedihan, jijik dan kebahagiaan. Kelima emosi di atas merupakan emosi dasar dari manusia.
Dalam sosiologi, Kemper (1987) mengemukakan empat emosi utama yang dimiliki manusia adalah kemarahan, ketakutan, depresi, kepuasan yang sejalan dengan teori Ekman yang mengatur emosi dasar. Kemper berpendapat bahwa emosi ini sangat mendasar karena masing-masing memiliki nilai keberlangsungan hidup evolusioner, emosi muncul pada tahapan awal perkembangan individu, emosi dikenali secara universal di wajah, emosi memiliki respon otonom yang unik dan muncul dalam hubungan sosial.
bersalah, malu, empati dan simpati. Berdasrkan dari pemaparan di atas yaitu emosi terbagi atas dua yaitu emosi primer dan emosi sekunder. Emosi primer adalah emosi emosi dasar yang timbul langsung dari dalam diri individu sedangkan emosi sekunder adalah emosi yang dibangun sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungan sosial.
C. Emosi dan Akal
Secara historis, emosi dan akal merupakan kekuatan yang berlawanan dimana kognisi atau akal diarahkan ke tindakan rasional sedangkan emosi mengarahkan kepada tindakan irasional. Emosi adalah merupakan sumber informasi yang penting dalam memproses suatu informasi. Keterampilan ini disebut kecerdasan emosional. Terdapat empat kompetensi dalam kecerdasan emosional yaitu:
Memahami dan mengeskpresikan emosi Mengintegrasikan emosi ke dalam pikiran Memahami emosi
Mengelolah emosi
Kecerdasan emosi sangat mirip dengan ide dari kompetensi emosional. Keterampilan yang termaksud ke dalam kompetensi emosional yaitu:
Kesadaran akan keadaan emosional individu dengan individu lain
Kemampuan individu dalam menggunakan emosi dan ekspresi yang terdapat pada budaya seseorang.
Kapasitas untuk empati dan simpati
Kemampuan untuk mengatasi emosi yang tidak menyenangkan dan keadaan yang menyedihkan
D. Teori Emosi dan Sentimen
a) Teori non sosiologi
1. Teori Evolusioner
Perlakuan pertama terhadap emosi pertama kali ditemukan oleh Darwin. Darwin menerbitkan treatment klasik tentang ekspresi emosi. Darwin menamakan treatment tersebut dengan nama ungkapan emosi manusia dan hewan. Darwin tidak membahas emosi secara langsung akan tetapi Darwin membahas tentang ekspresi emosi. Darwin berpendapat bahwa ekspresi apapun pernah menjadi bagian dari tindakan yang memiliki tujuan pada pendahulu kita. Sebagai contoh ekspresi marah yaitu dengan mulut terbuka dan menunjukkan gigi sama seperti ketika hewan menunjukkan gigi untuk mengancam lawan lalu mengigit lawan binatang tersebut.
2. Teori Biologi
Jika Darwin lebih berfokus kepada ekspresi emosional, William James (1890) lebih berfokus kepada pengalaman batin emosi dan perasaan individu. William James melihat perasaan individu berawal dari persepsi individu terhadap perubahan keadaan tubuh mereka. Contohnya ketika individu merasakan sesuatu di lingkungan, maka akan terjadi perubahan virperal secara langsung contohnya meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatik yang mempengaruhi organ dan bagian tubuh lain. Perubahan fisiologis ini menghubungkan sensasi tubuh dan emosi individu.
3. Teori Psikoanalisis
Teori psikoanalisis ini terfokus kepada apa yang terjadi dalam individu yang mempengaruhi emosi tapi penekanannya lebih kepada proses psikologis seperti represi, proyeksi, dan perpindahan proses fisiologis. Freud (1905) berfokus kepada kecemasan dan rasa bersalah. Freud melihat emosi berawal pada hasrat seksual yang tertekan.
4. Teori Kognitif
proses penilaian, yaitu mengevaluasi suatu objek atau peristiwa dalam hal apakah peristiwa tersebut membahayakan atau bermanfaat bagi individu tersebut. Ketika peristiwa tersebut dinilai berpotensi membahayakan diri individu tersebut maka emosi negatif yang dimunculkan sedangkan ketika suatu peristiwa dinilai berpotensi bermanfaat dan menguntungkan bagi individu maka emosi positif yang dimunculkan.
b) Teori Sosiologi
1.
Teori KlasikTeori emosi dan sentiment dapat dilihat pada karya-karya dari Marx, Webber, Durkheim, dan Cooley. Marx melihat emosi berawal pada struktur ekonomi masyarakat, Weber dan Durkheim berfokus kepada emosi dalam budaya masyarakat terutama pada agama, dan Cooley melihat sentiment muncul dari interaksi tatap muka antara individu.
2.
Teori Pertengahan Abad Ke-20Pada tahun 1900an mulai bermunculan peneliti yang berfokus kepada emosi. Bales (1950) membawa emosi kedalam kelompok dalam memecahkan masalah dengan mengidentifikasi perilaku sosioemosional dalam kelompok, yaitu tindakan yang dirancang untuk mengelolah masalah interpersonal yang muncul. Homasn (1961) tertarik pada masalah keadilan distibutif: penghargaan dan nilai antar individu. Ketika individu menerima reward yang kurang dari apa yang mereka harapkan maka mereka akan menampilkan emosi kemarahan. Ketika mereka menerima reward yang lebih maka mereka akan memperlihatkan rasa bersalah.
3. Pandangan Kontemporer 1) Pendekatan struktur sosial
individu tersebut dinilai tidak berharga. Kempers melihat setiap pertukaran terjadi di sepanjang dimensi kekuasaan dan status. Dalam interaksi kemungkinan besar terdapat perubahan pada kekuasaan dan status. Emosi sering muncul ketika terjadi perubahan pada kekuasaan dan status. Sebagai contoh kegunaan power memicu kebahagiaan sedangkan kehilangan power menimbulkan rasa takut. Hegtvedt (1990) meneliti tentang struktur statsus pada suatu hubungan dan bagaimana hal ini mempengaruhi reaksi emosional terhadap ketidaksetaraan dalam situasi pertukaran yang impersional. Contohnya ketika individu mendapatkan posisi yang menguntungkan dari sebuah kekuasaan maka emosi positif yang dimunculkan.
2) Persektif Budaya
Peneliti perspektif budaya melihat normal sosial yang mempengaruhi sentiment individu. Analisis histori tentang perubahan emosi, mengingat perubahan konteks lingkungan dan memberikan pemahaman tentang peran budaya. Sebagai contoh perdebatan antara industri dan pemisahan pekerjaan di rumah dan kantor yang menimbulkan emosi negatif seperti kemarahan. 3) Kerangka Interaksionis Simbilik
Hal yang mempengaruhi pengalaman dan ungkapan emosional individu yaitu sosialisasi. Terdapat dua pendekatan untuk mempelajari sosialisasi emosional yaitu:
Pendekatan perkembangan kognitif
Pendekatan kognitif berfokus pada proses mental internal yang berkembang seiring usia anak-anak dan yang menengahi antara diri dan pengalaman emosional. Sebagai contoh Lewis (2000) memberikan model munculnya emosi yang berbeda selama 3 tahun pertama kehidupan. Dia mengasumsikan bahwa saat lahir, anak-anak menunjukkan pembagian kesenangan, minat, dan tekanan tripartit. Dengan 6 bulan pertama kehidupan, anak-anak menunjukkan tanda-tanda semua emosi dasar: kebahagiaan, kesedihan, jijik, amarah, ketakutan, dan kejutan.Selama paruh kedua tahun kedua kehidupan, kemunculan kesadaran memunculkan emosi kelas kedua, emosi yang sadar diri seperti rasa malu, iri hati, dan empati. Pada usia 3 tahun, anak-anak memiliki rasa diri dan mampu mengevaluasi perilaku mereka terhadap standar. Evaluasi ini memunculkan emosi evaluatif yang sadar diri seperti kebanggaan, rasa malu, dan rasa bersalah. Jadi, pada usia 3, kehidupan emosional seorang anak telah menjadi sangat terbedakan dengan baik. Hoffman (2000) lebih berfokus kepada pengembangan empati anak. Hoffman menghubungkan perkembangan empati dengan perkembangan anak tentang rasa diri, orang lain, dan hubungan antara diri sendiri dan orang lain.
Perspektif interaksi
E. Emosi Sosial: Referensi tentang Diri, Interaksi dan Masyarakat
Perkembangan litelatur emosi saat ini adalah kesadaran diri. Emosi yang telah diteliti adalah rasa bersalah, malu, keadaan memalukan, empati dan simpati. Kelima emosi tersebut sebagian besar diturunkan secara negatif, yang menunjukkan bahwa manusia lebih melihat isyarat negatif dibandingkan isyarat positif di lingkungan mereka. Emosi kesadaran diri termaksud ke dalam emosi sosial dikarenakan:
1.
Individu mengacu bahwa diri adalah perasaan diri ( melihat diri sebagai objek tindakan sendiri) adalah prasyaratan yang diperlukan. Lewis (2000) menjelaskan peran diri dalam emosi kesadaran diri dengan mengidentifikasi emosi sebagai evaluatif, yaitu ketika individu mengevaluasi pikiran, perasaan, atau tindakan mereka melawan standar atau tujuan yang membimbing mereka. Dalam proses evaluasi, individu bertanggung jawab atas hasil yang dievaluasi (atribusi internal), atau tidak bertanggung jawab (sebuah atribusi eksternal). Sifat referensi diri dari emosi kesadaran diri juga terungkap dalam kenyataan bahwa mereka membantu dalam pengembangan diri sejauh orang belajar tentang diri mereka melalui emosi ini, termasuk mempertahankan atau memodifikasi tindakan di masa depan.2.
Emosi merupakan dasar dari interaksi sosial. Emosi muncul dari interaksi dengan individu lain. Hal ini terbukti selama sosialisasi yang terpenting adalah interaksi dengan individu lain.3.
Emosi sosial menjadi referensi masyarakat dikarenakan individu sering berangkat dari pertimbangan masyarakat yang berhadapan dengan tindakannya sendiri.Berikut penjelasan lebih lanjut tentang emosi rasa bersalah, malu, keadaan memalukan, empati dan simpati:
Rasa bersalah melibatkan rasa ketegangan, penyesalan, dan rasa sesal karena telah melakukan hal buruk (Tangney,1995). Rasa bersalah merupakan emosi moral karena perasaan itu memotivasi orang tersebut untuk melakukan tindakan korektif. Hoffman (1998) menunjukkan bahwa metode disiplin orang tua yang paling efektif untuk menghasilkan rasa bersalah pada anak dengan cara induksi. Induksi melibatkan ketidaksetujuan orang tua terhadap tindakan berbahaya anak, dan kemudian meminta perhatian pada kesusahan korban dan tanggung jawab anak untuk menyebabkan kesusahan tersebut. Membuat korban penting harus membangkitkan perasaan empatik pada anak. Setelah seorang anak melihat bahwa dia telah menyebabkan penderitaan korban, menyalahkan diri sendiri harus mengubah perasaan empati menjadi rasa bersalah. Ketidaksetujuan orang tua memperkuat rasa bersalah ini. Pelanggaran diikuti oleh induksi, tekanan empatik, dan rasa bersalah, anak membentuk Transisi-Induksi-Rasa Bersalah.
2. Perasaan Malu
Rasa malu adalah perasaan yang jauh lebih intens daripada rasa bersalah terutama karena seluruh diri terlibat evaluasi beberapa kesalahan. Ada perasaan rasa malu, merasa kecil, tidak berharga, dan tak berdaya (Tangney, 1995). Fokus pada perasan malu ini adalah pada diri sendiri yang buruk. Hasil revaluasi pola ini pada orang yang ingin menyembunyikan, menghilang, atau melarikan diri dari situasi. Terkadang, orang yang malu merasa marah dan menyalahkan orang lain karena pengalaman memalukan rasa malu mereka sendiri.
3. Keadaan Memalukan
orang sering merasa marah pada diri mereka sendiri. Dengan malu, evaluasi sosial menjadi penting. Ada kekhawatiran tentang apa yang dipikirkan orang lain karena paparan publik mereka tampak tidak kompeten (canggung atau pelupa). Dalam insiden yang memalukan, evaluasi diri lebih penting. Rasa malu bisa melibatkan tersipu malu, tapi lebih andal dicirikan dengan melihat jauh dari yang lain, kontrol senyum, penurunan kepala, dan sentuhan wajah (mungkin untuk menyembunyikan senyuman atau menyembunyikan mata untuk menghindari kontak mata) (Miller, 1 996)
4. Empati
Sementara beberapa psikolog sosial mengkonseptualisasikan empati sebagai proses kognitif (Clark, 1 997; Ickes, 1 997) dalam satu "membaca" yang lain, yang lain melihat empati sebagai proses afektif dalam perasaan yang dirasakan seperti yang dirasakan orang lain (Hoffman, 2000). Empati memiliki komponen kognitif dan afektif Clark (1 997) yang membuat perbedaan antara empati kognitif (mengenali yang lain sedang dalam kesulitan), empati fisik (melihat ekspresi emosional orang lain dan yang mendorong ungkapan serupa pada diri sendiri), dan empati emosional (merasakan emosi yang mengacu pada keadaan orang lain). Clark mempertahankan empati itu biasanya dimulai secara kognitif dan mungkin tidak pernah menjadi emosional atau fisik. Empati jelas menguntungkan masyarakat. Ini mempromosikan perilaku membantu dan cenderung menghambat perilaku agresif.
5. Simpati
F. EMOSI DAN SENTIMEN DALAM MENGEMBANGKAN TEORI
DAN PENELITIAN
Perhatian lebih diberikan pada peran emosi dan sentimen dalam teori dan penelitian psikologis sosial. Berikut secara singkat membahas perkembangan ini karena mereka memberi wawasan lebih jauh tentang peran emosi dan sentimen bagi diri dan interaksi:
1.
Teori IdentitasDalam model identitas, perbedaan antara makna situasi diri yang dirasakan dan makna standar identitas mencerminkan masalah dalam memverifikasi gairah emosional diri dan emosional seperti hasil tertekan (Burke, 1991). Selanjutnya, gangguan berulang dalam proses identifikasi diri menyebabkan lebih banyak emosi negatif daripada gangguan sesekali atau jarang terjadi. Dua asumsi di atas dengan mempelajari proses keadilan distributif dan tanggapan emosional individu terhadap ketidakadilan di lingkungan yang mensimulasikan situasi kerja. Jika seseorang menerjemahkan gagasan tentang ketidaksesuaian menjadi terlalu dibesar-besarkan atau kurang mendapat penghargaan dalam situasi keadilan, emosi negatif harus terjadi, dan lebih banyak lagi Emosi negatif yang intens harus terjadi karena proses pendistribusian yang tidak merata terus berlanjut. Kekuatan respons emosional terhadap diskonfirmasi identitas telah ada juga telah diperiksa dalam karya terbaru lainnya. Dengan menggunakan sampel probabilitas nasional, Tsushima dan saya menemukan bahwa kemarahan yang lebih kuat dikaitkan dengan kurangnya verifikasi identitas berbasis kelompok yang intim seperti identitas keluarga yang memenuhi kebutuhan kita untuk merasa berharga, layak, dan diterima (Stets & Tsushima, 2001)
2.
Teori Pertukaranberinteraksi dengan orang-orang di mana ketergantungan relatif sama. Namun, apa yang menentukan kekompakan unit tidak begitu banyak dampak langsung dari saling ketergantungan sama seperti frekuensi kesepakatan pertukaran dan emosi positif yang terjadi. Perjanjian pertukaran berulang dan sukses menghasilkan "buzz" emosional antara individu dalam bentuk kepuasan atau kegembiraan. Emosi positif ini mengarah pada kohesi relasional atau persepsi bahwa seseorang adalah bagian dari kelompok. Sebagai gantinya, sebagai bagian dari kelompok, individu akan lebih bersedia mengambil risiko atau berkorban atas nama kelompok tersebut. Pada akhirnya, ini menyebabkan aktor menjadi berkomitmen terhadap hubungan pertukaran yang terdiri dari kelompok tersebut.
3.
Teori HarapanDaftar Pustaka