• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR TEORI 2.1 Inter Symbol Interference (ISI) - Analisis Unjuk Kerja Ekualizer Pada Sistem Komunikasi Dengan Algoritma Stop And Go

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II DASAR TEORI 2.1 Inter Symbol Interference (ISI) - Analisis Unjuk Kerja Ekualizer Pada Sistem Komunikasi Dengan Algoritma Stop And Go"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II DASAR TEORI

2.1 Inter Symbol Interference (ISI)

Dalam telekomunikasi, gangguan ISI merupakan bentuk distorsi sinyal di mana

satu simbol mengganggu simbol berikutnya. ISI biasanya disebabkan oleh propagasi

multipath atau respons non-linier yang melekat pada frekuensi saluran menyebabkan

simbol berurutan untuk "blur" bersama-sama. Kehadiran ISI dalam sistem

memperkenalkan kesalahan dalam perangkat keputusan pada output penerima. Oleh

karena itu, dalam desain filter transmisi dan menerima, tujuannya adalah untuk

meminimalkan efek dari ISI, dan dengan demikian memberikan data digital ke tujuan

dengan tingkat kesalahan sekecil mungkin. Cara untuk melawan gangguan

intersymbol meliputi pemerataan adaptif dan kode koreksi kesalahan.

ISI dapat menyebabkan kesalahan penerjemahan bit dari informasi yang

diterima. Hal ini terjadi karena adanya penerimaan sinyal informasi yang berulang

dengan waktu yang berbeda, sehingga memungkinkan sebuah sinyal bertumpuk

dengan sinyal berikutnya.

Untuk menghilangkan ISI dapat dilakukan dengan memberikan filter ekualizer

disisi penerima. Selain gangguan yang berupa ISI, gangguan lain yang biasanya

terjadi adalah noise.

Pada Gambar 2.1 ditunjukkan terjadinya ISI dimana pada Gambar 2.1 (a)

menunjukkan ilustrasi data yang dikirimkan dan pada Gambar 2.1 (b) menunjukkan

(2)

akibat adanya delay dari saluran transmisi. Dimana keberadaan ISI ini sangat tidak

diperlukan seperti layaknya noise yang dapat mengakibatkan komunikasi kurang baik

untuk diandalkan [1].

Gambar 2.1 (a) Data yang dikirim

(b) Data yang diterima

Untuk menghilangkan gangguan tersebut, salah satu caranya adalah dengan

membuat jajaran filter yang nilai koefisien-koefisiennya harus direncanakan terlebih

dahulu. Dibawah ini ditunjukkan bagaimana pelebaran sinyal seperti diatas dapat

mengakibatkan dampak yang buruk pada sinyal. Gambar 2.2. menunjukkan sinyal

yang dikirimkan mengalami banyak peristiwa pada kanal yang mengakibatkan sinyal

tersebut tercampur dengan noise dan mengalami ISI sehingga pada saat diterima

(3)

Gambar 2.2 Inter Symbol Interference

2.2 Parameter Step Size

Kuantisasi merupakan proses pengelompokan pada selang-selang (interval)

tertentu. Besarnya selang kuantisasi ini disebut juga dengan istilah step size.

Berdasarkankan besarnya, step size dapat dibedakan dua jenis kuantisasi, yaitu:

1. Kuantisasi seragam \

2. Kuantisasi tak seragam

Banyaknya selang (interval) bergantung pada banyaknya bit yang akan digunakan

untuk proses penyandian. Jika konverter A/D n bit maka jangkauan sinyal analog

akan dikuantisasikan (dikelompokkan) menjadi sejumlah 2n selang (interval). ilustrasi

kuantisasi sinyal analog menjadi 16 selang (n = 4) diperlihatkan pada Gambar 2.3

(4)

Gambar 2.3. Sinyal yang di cuplik dari berbagai macam frekuensi pencuplik

Banyaknya jumlah bit yang akan digunakan untuk proses penyandian akan

menentukan banyaknya jumlah selang (interval) kuantisasi. Semakin besar n maka

semakin besar pula jumlah selang (interval) yang digunakan. Hal ini juga berarti nilai

step size semakin kecil. Semakin kecil nilai step size, maka proses pemodulasian akan

(5)

2.3 SNR (Signal To Noise Ratio)

SNR merupakan perbandingan antara daya sinyal yang diinginkan terhadap

daya noise yang diterima pada suatu titik pengukuran. SNR ini merupakan sebuah

parameter untuk menunjukkan tingkat kualitas sinyal pada jalur koneksi. Makin besar

nilai SNR, makin tinggi kualitas jalur tersebut. Artinya, makin besar pula

kemungkinan jalur itu dipakai untuk lalu lintas komunikasi data dan sinyal dalam

kecepatan tinggi. Biasanya SNR diukur pada sisi penerima, karena nantinya

digunakan untuk memproses sinyal yang diterima dan menghilangkan derau yang

tidah diinginkan. Secara matematis, SNR dinyatakan dalam satuan decibel (dB).

Adapun persamaannya adalah sebagai berikut [2] :

𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑑𝑑𝑑𝑑 = 10 log10�𝑃𝑃𝑛𝑛𝑃𝑃𝑠𝑠� (2.1)

Dimana Ps=Power Signal ( Watt )

Pn =Power Noise ( Watt).

2.4 Perhitungan Panjang Filter berdasarkan Metode Windowing

Ada beberapa pilihan motode dalam merancang filter digital. Salah satu nya

metode windowing. Ide dasar metode windowing adalah untuk memperoleh

respon frekuensi ideal filter dan menghitung respon impulse nya. Masalah nya

respon impulse suatu filter panjang nya tidak hingga (infinite), berlawanan

dengan filter yang kita inginkan. Untuk mengatasinya dilakukan pemotongan

respon impulse, namun ternyata mengakibatkan ripple berlebihan pada

(6)

filter maka diterapkan teknik windowing. Bila dimisalkan w(n) adalah fungsi

window dan hd (n) adalah respon impulse dari filter ideal, maka respon impulse

dari filter yang sebenarnya akan dirumuskan sebagai [13] :

h(n) = hd (n) w(n) (2.2)

Ada beberapa fungsi window yang tersedia. Masing-masing memiliki

karakteristik yang berbeda dalam domain waktu dan domain frekuensi, yaitu:

1. Rectangular window. Ini adalah fungsi windowing paling sederhana tetapi

memberikan performasi terburuk dari sisi stopband attenuation. Fungsi ini

didefenisikan sebagai :

w(n) = 1, 0 ≤ n ≤ M-1

0, lainnya (2.3)

2. Hanning Window

(2.4)

3. Hamming Window

(2.5)

4. Blackman Window

(7)

Penentuan panjang filter dilakukan dengan menggunakan suatu pendekatan nilai

transittionband width yang besarnya berbeda-beda untuk tiap window.

Pendekatan nya dapat di tujukkan pada Tabel 2.1 [13] berikut.

No Window Transittionband width

(Δω)

Dari tabel 2.1 di atas, dapat dilakukan pendekatan panjang filter untuk setiap

(8)

Secara teoritis semakin pendek transitionband width maka dikatakan filter tersebut

semakin bagus.

Jika dalam domain frekuensi fungsinya terbatas (non periodik) maka fungsi

tersebut dalam domain waktu adalah tak terbatas (periodic), begitu juga sebaliknya.

Karena filter sifatnya adalah terbatas dalam domain frekuensi (hanya melewatkan

frekuensi tertentu) fungsi sistem tersebut dalam domain waktu adalah tak terbatas,

padahal kita menginginkan suatu filter yang panjang nya terbatas (finite). Karena itu

kita “membatasi” panjang filter dalam domain waktu dengan metode windowing.

Efek dari pembatasan jumlah koefisien pada domain waktu itu adalah filter yang

panjang nya tidak terbatas dalam domain frekuensi.

Suatu fenomena yang disebut fenomena Gibbs berkaitan dengan ripple dan

panjang filter. Fenomena Gibbs menunjukkan bahwa semakin panjang jumlah

koefisien atau panjang filter maka ripple akan semakin berkurang [14].

2.5 Konsep Modulasi

Modulasi adalah suatu proses untuk merubah gelombang pembawa (carrier)

(9)

sinyal modulasi yang dibentuk kembali seperti sinyal aslinya dari suatu gelombang

pembawa (carrier) yang termodulasi oleh ragkaian. Kegunaan dari modulasi adalah

untuk memudahkan radiasi, multiplexing, mengatasi keterbatasan peralatan,

pembagian frekuensi dan mengurangi noise dan interferensi. Sistem modulasi dibagi

menjadi 2 yaitu antara lain [4] :

1. Modulasi Analog

Yaitu teknik modulasi dimana gelombang pembawa (carrier) merupakan

gelombang analog (kontinyu). Meliputi antara lain :

a. Modulasi Amplitudo (AM)

b. Modulasi Frekuensi (FM)

c. Modulasi Phase (PM)

2. Modulasi Digital

Yaitu teknik modulasi dimana gelombang pembawanya (carrier) adalah

merupakan gelombang pulsa, meliputi antara lain :

a. Amplitude-Shift Keying (ASK)

b. Frekuensi-Shift Keying (FSK)

c. Phase-Shift Keying (PSK)

d. Quadrature Amplitude Modulation (QAM)

Quadrature Amplitude Modulation (QAM) merupakan salah satu teknik

modulasi digital. Pada QAM, informasi yang akan dikirimkan diubah menjadi simbol

QAM yang dapat direpresentasikan sebagai sinyal analog pemodulasi. Sinyal

pemodulasi ini mengubah amplitude dan fase dari sinyal pembawa. Setiap perubahan

(10)

sejumlah bit informasi. Orde QAM yang sering dinyatakan sebagai M-ary QAM

menunjukkan jumlah simbol QAM yang dapat dihasilkan (M = 2 n ), dengan n adalah

jumlah bit penyusun satu simbol. Bentuk sinyal modulasi QAM dapat ditunjukkan

pada Gambar 2.4 [4] . Sedangkan diagram konstelasinya ditunjukkan pada Gambar

2.5 dan Gambar 2.6 [4].

Gambar 2.4 Bentuk sinyal 8-QAM untuk jumlah bit = 3

(11)

Gambar 2.5 Diagram kontelasi modulasi 16-QAM

Pengubah bit ke simbol berfungsi memetakan runtun bit informasi menjadi

simbol QAM. Runtun bit informasi dibagi menurut banyak bit dalam satu simbol dan

diubah ke bentuk paralel kemudian dirutekan menjadi bit ganjil dan bit genap. Pada

umumnya, keluaran pengubah bit-ke-simbol akan dipetakan ke bentuk kode Gray

(Gray Code) terlebih dulu sebelum dipetakan ke analog. Dengan dipetakan ke kode

Gray, antar simbol terdekat pada diagram konstelasi hanya akan berbeda satu bit. Hal

ini akan membantu mengurangi error di penerima dan untuk mempermudah dalam

desain perangkat keras. Jika misalnya di penerima terjadi satu kesalahan pembacaan

simbol maka hanya akan ada satu bit yang salah karena jarak antar simbol terdekat

hanya berbeda satu bit [4].

2.6 Filter Digital Finite Impuls Respons (FIR)

Filter adalah sebuah sistem atau jaringan yang secara selektif merubah

karakteristik (bentuk gelombang, frekuensi, fase dan amplitudo) dari sebuah sinyal.

Secara umum tujuan dari pemfilteran adalah untuk meningkatkan kualitas dari sebuah

sinyal sebagai contoh untuk menghilangkan atau mengurangi noise, mendapatkan

informasi yang dibawa oleh sinyal atau untuk memisahkan dua atau lebih sinyal yang

sebelumnya dikombinasikan, dimana sinyal tersebut dikombinasikan dengan tujuan

(12)

Filter digital adalah sebuah implementasi algoritma matematik ke dalam

perangkat keras dan/atau perangkat lunak yang beroperasi pada sebuah sinyal input

digital untuk menghasilkan sebuah output sinyal digital agar tujuan pemfilteran

tercapai. Filter digital memainkan peranan yang sangat penting dalam pemrosesan

sinyal digital. Diagram blok filter digital dapat dilihat pada Gambar 2.7 [5].

Berdasarkan diagram blok tersebut secara garis besar filter digital dapat dibagi

menjadi dua yaitu filter digital dengan tanggapan impuls berhingga (FIR) dan filter

digital dengan tanggapan impuls tak berhingga (IIR) [5].

1

Gambar 2.7 Blok Diagram Dari Bentuk Langsung Filter Digital FIR

Filter digital FIR dapat dituliskan dengan persamaan [5]:

𝑦𝑦(𝑛𝑛) = ∑𝑆𝑆−𝑘𝑘=01ℎ(𝑘𝑘)𝑥𝑥(𝑛𝑛 − 𝑘𝑘) (2.12)

𝐻𝐻(𝑧𝑧) = ∑𝑆𝑆−𝑘𝑘=01ℎ(𝑘𝑘)𝑧𝑧−1 (2.13)

Dimana : h(k), k = 0,1,….,N-1 adalah respons impuls atau koefisien dari filter

(13)

N adalah panjang dari filter yang merupakan jumlah dari koefisien filter.

Persamaan (2.12) adalah persamaan selisih untuk FIR, ini adalah persamaan

dalam domain waktu dan menyatakan filter FIR dalam bentuk tidak rekursif yaitu

output pada suatu saat, y(n) merupakan sebuah fungsi yang hanya bergantung pada

input yang sebelumnya dan input yang sekarang, x(n). jika filter FIR dinyatakan

dengan persamaan (2.12) maka filter tersebut akan selalu stabil. Persamaan (2.13)

merupakan fungsi alih dari filter, persamaan ini digunakan untuk maenganalisa

tanggapan frekuensi dari filter.

Realisasi struktur untuk filter FIR adalah penggambaran fungsi alih filter ke

dalam bentuk blok diagram. Struktur yang sering dipakai adalah struktur transversal

yang diperoleh dan digambarkan pada Gambar 2.8 [5].

1

(14)

z-1 melambangkan penundaan sebesar satu satuan waktu pencuplikan. Pada

implementasi ke dalam program kotak dengan label z-1 dapat direalisasikan dengan

shift register atau lokasi memori pada sebuah RAM. Pada Gambar 2.8 terlihat

struktur transversal filter FIR.

2.7 Fading Rayleigh

Pada sistem komunikasi amplitudo terdapat gangguan khusus berupa komponen

multipath dari sinyal yang dipancarkan. Multipath merupakan jalur propagasi yang

berbeda-beda, yang dilalui sinyal antara pengirim dan penerima, yang disebabkan

karena pantulan oleh halangan-halangan dan benda-benda yang ada sepanjang

propagasi. Lingkungan kanal multipath ditunjukkan pada Gambar 2.9 [3].

Gambar 2.9 Lingkungan Kanal Multipath

Perbedaan jalur propagasi menimbulkan komponen multipath dari sinyal

(15)

waktu yang berbeda pula. Perbedaan waktu tiba pada penerima tersebut

menyebabkan sinyal yang diterima mengalami interferensi, yang akan menimbulkan

fenomena fluktuasi amplitudo dan fasa sinyal yang diterima, dan menimbulkan

fenomena mendasar yang disebut fading. Efek dari multipath fading adalah fluktuasi

dari amplitudo, fasa dan sudut dari sinyal yang masuk ke penerima. Ada tiga

mekanisme dasar yang terjadi pada propagasi sinyal dalam sistem komunikasi

bergerak, yaitu [3] :

1. Refleksi, terjadi ketika gelombang elektromagnet yang merambat mengenai

permukaan halus dengan dimensi besar dibandingkan dengan panjang

gelombang sinyal.

2. Difraksi, terjadi ketika lintasan radio terhalang oleh objek padat yang lebih

besar dari pada panjang gelombang sinyal. Biasa disebut juga dengan

shadowing.

3. Hamburan, terjadi ketika gelombang yang merambat mengenai permukaan

kasar dengan dimensi yang lebih besar dibandingkan dengan panjang

gelombang sinyal atau mengenai permukaan yang berdimensi kecil.

Fluktuasi amplitudo sinyal yang terjadi adalah acak dan tidak dapat

ditentukan sebelumnya, besar dan kapan terjadinya. Namun berdasarkan penelitian,

fading tersebut dapat diperkirakan secara statistik, berupa perubahan nilai secara acak

dengan distribusi tertentu. Salah satu distribusi tersebut Distribusi Rayleigh.

Distribusi Rayleigh merupakan salah satu distribusi yang dapat menjadi model untuk

mewakili fading, sehingga fading memiliki Distribusi Rayleigh ini disebut Fading

(16)

Pada Fading Rayleigh, setiba sinyal yang melalui jalur yang berbeda-beda

tersebut, memberikan sejumlah energy yang sama terhadap sinyal gabungan yang ada

pada penerima. Sinyal yang dipengaruhi Fading Rayleigh yang sampai pada penerima

dapat dipresentasikan dengan persamaan [3] :

𝑒𝑒(𝑡𝑡) =𝑟𝑟(𝑡𝑡)cos⁡[2𝜋𝜋𝜋𝜋𝑡𝑡+𝜃𝜃(𝑡𝑡)] (2.14)

Dimana : r (t) = fluktuasi amplitudo sinyal e(t) sebagai fungsi waktu = |𝑒𝑒(𝑡𝑡)|

𝜃𝜃(𝑡𝑡) = fluktuasi fasa sinyal e(t) sebagai fungsi waktu = ∠𝑒𝑒(𝑡𝑡)

Fluktuasi amplitude gelombang pembawa pada sinyal yang dipengaruhi Fading

Rayleigh mengikuti Distribusi Rayleigh, dengan persamaan [6].

𝑝𝑝(𝑟𝑟) = 𝑟𝑟

𝜎𝜎2𝑒𝑒

−�2𝑟𝑟𝜎𝜎22� dengan ( r 0) (2.15)

Dimana: p(r) = fungsi kepadatan probabilitas munculnya r

r = amplitudo acak

𝜎𝜎2 = varians

2.8 AWGN (Additive White Gaussian Noise)

Salah satu jenis noise yang ada pada sistem komunikasi adalah noise thermal.

Noise thermal ini disebabkan oleh pergerakan-pergerakan elektron di dalam

konduktor yang ada pada sistem telekomunikasi, misalnya pada perangkat penerima.

Pada bidang frekuensi, noise thermal ini memiliki nilai kepadatan spektrum daya

yang sama untuk daerah frekuensi yang lebar, yaitu sebesar N0/2, seperti yang dapat

dilihat pada Gambar 2.10 (a) sedangkan fungsi kepadatan probabilitas AWGN

(17)

Prob f(n)

Gambar 2.10 (a) Grafik Kepadatan Spektrum Daya White Noise

(b) Fungsi Kepadatan Probabilitas AWGN

Karakteristik seperti ini disebut white. Noise yang memiliki karakteristik

white disebut white noise, sehingga noise thermal merupakan white noise. Pergerakan

elektron menyebabkan noise thermal bersifat acak, sehingga besarnya noise thermal

juga berubah secara acak terhadap waktu. Perubahan secara acak tersebut dapat

diperkirakan secara statistik, yaitu mengikuti Distribusi Gaussian, dengan rata-rata

nol. Noise ini merusak sinyal dalam bentuk aditif, yaitu ditambahkan ke sinyal utama,

sehingga noise thermal pada perangkat penerima ini disebut Additive White Gaussian

Noise (AWGN). Arti dari kata Additive ialah bahwa noise ini bersifat menambah

power spectral density dari sinyal transmisi, White artinya memiliki persebaran

merata pada semua band, dan memiliki distribusi Gaussian. Maka, dapat dikatakan

bahwa AWGN ialah efek dari thermal noise yang dihasilkan dari gerakan-gerakan

elektron yang ada di dalam semua komponen-komponen elektrikal, seperti resistor,

kabel, dan lain sebagainya

(18)

𝜋𝜋(𝑛𝑛) = 𝑒𝑒

−� 𝑧𝑧2 2𝜎𝜎2�

√2𝜋𝜋𝜎𝜎2 (2.16)

Dimana: mean = 0 dan varians = 𝜎𝜎2

varians memiliki nilai [3]:

𝜎𝜎2 = 𝑆𝑆0

2𝑇𝑇𝑏𝑏 (2.17)

Dimana 𝑆𝑆0

2 =

𝑘𝑘𝑇𝑇𝑥𝑥𝑑𝑑

2 adalah kerapatan spektral daya dari noise Tb adalah laju bit.

Sehingga [3] :

Ekualizer merupakan alat yang digunakan untuk memperbaiki data yang rusak

akibat distorsi kanal. Ekualizer merupakan filter digital yang dipasang pada sisi

penerima yang bertujuan agar sinyal yang masuk pada sisi penerima tidak lagi berupa

sinyal yang mengalami interferensi. Untuk kanal komunikasi yang karakteristiknya

tidak diketahui filter di penerima tidak dapat didesain secara langsung. Proses

ekualisasi dapat mengurangi efek ISI (Inter Symbol Interference), dan noise untuk

demodulasi yang lebih baik [5].

(19)

1. Maximum Likelihood (ML) Sequence Detetction, optimal namun tidak ada

dalam praktik.

2. Linear Equalization, tidak begitu optimal namun sederhana.

3. Non-Linear Equalization digunakan untuk beberapa jenis ISI.

Linear equalization sangat mudah diimplementasikan dan sangat efektif untuk

kanal yang tidak mengandung ISI (seperti kanal dalam kabel telephone) maupun

kanal yang mengandung ISI (seperti kanal wireless). Kebanyakan linear equalizer

diimplementasikan sebagai linear transversal filter. Struktur ekualizer seperti yang

ditunjukkan pada Gambar 2.11 [2].

Gambar 2.11 Struktur equalizer

2.10 Algoritma STOP And GO

Stop And Go adalah salah satu algoritma untuk sistem adaptif yang baru dan

(20)

mengatasi gangguan dari berbagai sumber yang berubah-ubah dengan menyesuaikan

terhadap perubahan yang terjadi.

Algoritma Stop And Go diperkenalkan pertama kali oleh Giorgio Picchi dan

Giancarlo Prati yang tidak didasarkan oleh error kompleks output en.

Istilah “STOP AND GO” menunjukkan bahwa pada setiap waktu koefisien tap tidak

disesuaikan. Sebagai gantinya reabilitas error dicek dan kemudian algoritma

memutuskan apakah koefisien tap harus disesuaikan atau tidak. Model saluran linier

ekualiser dapat ditunjukkan dengan Gambar 2.12 [3].

Gambar 2.12 Sistem Adaptif Ekualizer

Fungsi dari ekualiser pada penerima adalah untuk memperkirakan data asli

{an} dari penerima sinyal xn. Hubungan dari masukan dan keluaran dari sistem QAM

dapat dituliskan [8]:

xn = ∑𝐾𝐾−𝑖𝑖=01an-iTci +Vn (2.19)

dimana T adalah symbol perioda dan K adalah panjang kanal dari impulse-response.

Kanal Vn diasumsikan untuk berdiri sendiri dari kanal input an. , vector parameter

ekualiser dengan elemen N+1 sebagai 𝑋𝑋𝑛𝑛 = [𝑥𝑥𝑛𝑛,𝑥𝑥𝑛𝑛−1, … ,𝑥𝑥𝑛𝑛 − 𝑆𝑆+ 1] T dimana T

menyatakan transpose. dan sinyal output dari ekualiser yaitu [8] :

(21)

Dan untuk pembaharuan koefisien dari ekualiser adaptif adalah [8] :

𝑊𝑊𝑛𝑛+1 =𝑊𝑊𝑛𝑛 − 𝜇𝜇(𝑦𝑦𝑛𝑛 − 𝐷𝐷[𝑦𝑦𝑛𝑛])𝑋𝑋𝑛𝑛 ∗ (2.21)

fungsi nilai minimisasi dianggap sama dengan algoritma MMSE. Dan fungsi harga

tengah nya di defenisikan sebagai [8] :

J(w)=E[𝜓𝜓[yn] ] (2.22)

Dan untuk estimasi kesalahan nya adalah [8] :

e (k) =y(k)- 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑛𝑛(𝑦𝑦(𝑘𝑘))−y (k) (2.23)

Untuk mengetahui kinerja dari algoritma Stop and Go tersebut diperlukan

penambahan noise dengan cara menambahkan Fading Rayleigh dan AWGN [8].

2.11 Symbol Error Rate (SER)

Informasi digital diubah menjadi deretan pulsa. Setiap pulsa memiliki durasi

dan merepresentasikan informasi digital yang spesifik. Dalam bentuk pensinyalan ini

simbol 1 dan 0 diwakili oleh positif dan negatif pulsa-pulsa kotak yang sama

amplitude dan durasinya. Sebagai contoh, jika sebuah pulsa dianggap rectangular,

maka arus informasi biner 1001101 diubah menjadi sinyal baseband seperti yang

ditunjukkan pada Gambar 2.13 (a), dimana waktu (Tb) diasumsikan menjadi satu

detik.

Dalam persamaan matematis, m adalah bit yang ditransmisikan, sehingga kita

mempunyai persamaan sinyal transmisi sebagai berikut [15].

(22)

untuk 0 < t < Tb. Dalam kasus ini, 1/Tb disebut juga pesat bit.

Diasumsikan bahwa penerima telah mengerti tentang starting dan ending setiap

pentransmisian pulsa; dengan kata lain, penerima mengerti akan bentuk pulsa, tetapi

bukan polaritas. Mengingat sinyal yang diterima, penerima diperlukan untuk

membuat keputusan dalam setiap interval pensinyalan, apakah simbol yang

ditransmisikan adalah 1 atau 0. Untuk sinyal yang di transmisikan pada pulsa

baseband dapat dilihat di Gambar 2.13 berikut ini [15].

Gambar 2.13 . Sinyal pada transmisi pulsa baseband: (a) sinyal pulsa baseband;

(b) sinyal terima yang dirusak noise,dan titik-titik sampel;

(23)

Pada penerima, cara paling sederhana memulihkan aliran digital asli adalah

mencoba sinyal yang diterima di tingkat sampling 1/Tb. Kemudian perangkat

keputusan digunakan untuk 'menebak' simbol yang ditransmisikan berdasarkan nilai

sampel di setiap contoh. Contoh sampling pada umumnya dipilih untuk berada di

tengah-tengah interval pensinyalan. Jika nilai sampel positif, berarti jelas bahwa 1

ditransmisikan. Jika nilai sampel adalah negatif, berarti 0 ditransmisikan. Skema ini

digunakan sebagai standar dalam jarak pendek kabel transmisi (misalnya standar

RS232). Namun, untuk transmisi jarak jauh, noise akan ditambahkan ke sinyal.,

Selain itu, sinyal yang ingin ditransmisikan akan dilemahkan dalam jarak yang jauh.

Akibatnya, sinyal yang diterima tidak akan bersih dibandingkan dengan sinyal asli.

Gambar 2.13 (b) memberikan noise versi sinyal yang diterima dan titik-titik sampel

yang sesuai yang ditandai dengan lingkaran. Dalam kasus ini, jika nilai sampel

langsung digunakan untuk memutuskan simbol mana yang ditransmisikan oleh

pemancar, sangat mungkin bahwa nilai sampel berpindah ke polaritas yang

berlawanan pada contoh sampling. Perangkat keputusan akan membuat keputusan

yang salah berdasarkan nilai sampel ini. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.13

(b), keputusan yang dibuat berdasarkan nilai-nilai sampel menghasilkan output

1l0l00l, yang berisi dua error. Oleh karena itu, skema ini tidak cocok untuk transmisi

jarak jauh.

Selanjutnya, dari Gambar 2.13 (c). Jika hanya satu nilai sampel yang

digunakan oleh perangkat keputusan, seluruh bentuk gelombang (0, Tb) akan diamati

hanya pada satu contoh. Skema ini jelas tidak optimal, karena kita tidak mengambil

(24)

akhir pulsa diketahui, prosedur yang lebih baik adalah dengan membandingkan luas

daerah penerimaan sinyal plus bentuk gelombang suara dengan mengintegrasikan

sinyal yang diterima melalui interval pensinyalan waktu Tb.

Nilai Symbol Error Rate (SER) diperoleh dengan membandingkan jumlah kesalahan

symbol yang diterima dengan jumlah symbol yang dikirimkan, dan mengikuti

persamaan berikut [6] :

𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆 = 𝑆𝑆𝑡𝑡

𝑆𝑆𝑑𝑑 (2.23)

St = jumlah kesalahan symbol yang diterima

Gambar

Gambar 2.1 (a) Data yang dikirim
Gambar 2.2 Inter Symbol Interference
Gambar 2.3.  Sinyal yang di cuplik dari berbagai macam frekuensi pencuplik
Tabel 2.1 Transittionband width
+7

Referensi

Dokumen terkait

Membawa Dokumen Penawaran Asli dan Foto copy sesuai dengan yang telah di unggah. dalam

Untuk tujuan ini, baik Fakultas maupun Sekolah menyediakan sumber daya akademik maupuan sumber daya pendukung akademik (laboratorium, studio, perpustakaan), bukan

baik sehingga kita bisa mendapatkan perbandingan dan informasi yang lebih lengkap Kelebihan dan kekurangan metode. ini lihat hlm 176

dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Bupati Bantul tentang Pembentukan Tim Pelaksana Penertiban Kegiatan di Kawasan Obyek Wisata Parangtritis Desa Parangtritis,

• Perusahaan anda yang bergerak di bidang jasa perhotelan, memperoleh kenaikan peringkat. Dari yang semula bintang 3 memperoleh peringkat menjadi bintang

Kompensasi sebagai sesuatu yang diterima sebagai pengganti jasa mereka pada perusahaan dan pemberian kompensasi merupakan salah satu pelaksanaan fungsi manajemen sumber

Dari aktifitas yang dilakukan dan indikator perilaku konsumtif yang ditunjukkan oleh pengunjung BTC dapat diketahui bahwa pengunjung BTC berbelanja bukan dikarenakan

Deictic gesture, gerture menunjuk suatu objek atau lokasi sehingga membawa perhatian lawan bicara pada objek yang dimaksud untuk membantu siswa dalam