MAKALAH
SEJARAH HADIST PRA MODIFIKASI
Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu Mata Kuliah Studi Hadits Dosen pembimbing
Nilna Fauza,M. H. I
Oleh
Muhammad Khoiruddin
PROGRAN STUDI EKONOMI SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL ‘ULA
( STAIM )
NGLAWAK-KERTOSONO-NGANJUK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Apabila kita menggunakan kata sejarah, kita secara naluri berfikir masa lampau, ini adalah sebuah kekeliruan. Sebab sejarah sebenarnya adalah sebuah jembatan yang menghubungkan masa lampau dan masa kini dan sekaligus menunjukan arah masa depan.
Hadist adalah salah satu pedoman hidup umat islam dimana kedudukan hadits disini adalah sebagai sumber hukum islam yang ke-2 setelah al-Quran. Didalam ilmu hadits pun terdapat pula sejarah dan perkembangan hadits pada masa prakodifikasi. Mudah-mudahan dengan mengetahui sejarah prakodifikasi hadits kita menjadi bijak dan arif dalam menghadapi zaman yang serba instan dan bisa membawa misi islam Rahmatan lil’alamin.
Tiada gading yang tak retak, begitulah pepatah mengatakan. Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan dalam penyusunan makalah-makalah selanjutnya.
2.1 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka timbullah masalah-masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana Hadist Pada Periode Rosululloh SAW?
2. Bagaimana Hadist Pada Periode Sahabat? 3. Bagaimana Hadist Pada Periode Tabi’in? 3.1 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas,maka tujuan yang hendak dicapai adlah sebagai berikut :
1. Mengetahui Hadist Pada Periode Rosululloh SAW 2. Mengetahui Hadist Pada Periode Sahabat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hadist pada Masa Rasulullah SAW
Membicarakan hadits pada masa Rasul SAW berarti membicarakan hadits pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rasul sebagai sumber hadits.
Rasul membina umatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadist. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama ajaran islam. Ajaj al-khotib menjelaskan, bahwa proses terjadinya hadis bisa jadi timbul dari berbagai sisi yakni ada tiga sisi:
1. Terjadi pada nabi sendiri kemudian dijelaskan hukumnya kepada sahabat dan kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain.misalnya, suatu ketika nabi nabi melewati pedagang makanan dalam karung, beliau memasukkan tangan beliau ternyata basah, lantas beliau bersabda:شغ نم انم سيل
Tidak tergolong umatku ( umat yang mendapat petunjuk) manusia yang menipu.(HR. Ahmad
2. Terjadi pada sahabat atau kaum muslimin karena mengalami suatu problem masalah kemudian bertanya kepada rosulullah. Banyak sekali hadis yang timbul disebabkan dari pertanyaan seorang sahabat, kemudian menjawab dan memberi penjelasan-penjelasan. 3. Segala amal perbuatan dan tindakan nabi dalam melaksanakan syari’ah islamiah baik menyangkut ibadah dan akhlak yang disaksikan para sahabat, kemudian mereka sampaikan kepada para tabi’in
Cara Rasulullah menyampaikan hadist
Selain para sahabat yang tidak berkumpul dalam majelis Nabi Saw. untuk
memperoleh patuah-patuah Rosulullah, karena tempat tingal mereka berjauhan, ada di kota dan di desa begitu juga profesi mereka berbeda, sebagai pedagang, buruh dll. Kecuali mereka berkumpul bersama Nabi Saw. pada saat-saat tertentu seperti hari jumat dan hari raya. Cara rasulullah menyampaikan tausiahnya kepada sahabat kemudian sahabat menyampaikan tausiah tersebut kepada sahabat lain yang tidak bisa hadir (ikhadz)
Keadaan para sahabat dalam menerima dan menguasai hadist
Perhatian sahabat terhadap hadis sangatlah tinggi terutama diberbagai majlis nabi atau tempat untuk menyampaikan risalah islamiah seperti masjid, halaqoh ilmu, dan berbagai tempat yang dijanjikan rosulullaoh. Perhatian mereka sangat tinggi untuk diingat dan disampaikan kepada sahabat yang tidak bisa hadir. Dan juga sahabat yang tidak bisa hadir sangat antusias sekali dengan mencari informasi tentang apa yang disampaikan oleh rosululloh.
Kebiasaan para sahabat dalam menerima hadits bertanya langsung kepada Nabi Saw. dalam problematika yang dihadapi oleh mereka, Seperti masalah hukum syara’ dan teologi. Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitabnya dari ‘Uqbah bin al-Harits tentang masalah pernikahan satu saudara karena radla’ (sepersusuan). Tapi perlu diketahui, tidak selamanya para sahabat bertanya langsung. Apa bila masalah biologis dan rumah tangga, mereka
bertanya kepada istri-istri beliau melalui utusan istri mereka, seperti masalah suami mencium istrinya dalam keadaan puasa.
Telah kita ketahui, bahwa kebanyakan sahabat untuk menguasai hadist Nabi Saw., melalui hafalan tidak melalui tulisan, karena difokuskan untuk mengumpulkan Al-Quran dan dikhawatirkan apabila hadist ditulis maka timbul kesamaran dengan Al-Quran.
Larangan menulis hadis dimasa nabi Muhammad SAW
Hadis pada zaman nabi Muhammad saw belum ditulis secara umum sebagaimana Al-Quran. Hal ini disebabkan oleh dua factor ;
1. para sahabat mengandalkan kekuatan hafalan dan kecerdasan otaknya, disamping alat-alat tulis masih kuarang.
Abu Sa’id Al-Khudry berkata bahwa Rosululloh SAW bersabda:
هحميلف اييش بتك نمو نارقلا لا اييش ينع اوبتكت ل
“Janganlah menulis sesuatu dariku selain Al-Qua’an, dan barang siapa yang menulis dariku hendaklah ia menghapusnya”. ( H.R Muslim )
Larangan tersebut disebabkan karena adanya kekawatiran bercampur aduknya hadis dengan Al-Qur’an, atau mereka bisa melalaikan Al-Qua’an, atau larangan khusus bagi orang yang dipercaya hafalannya. Tetapi bagi orang yang tidak lagi dikawatirkan, seperti yang pandai baca tulis, atau mereka kawatir akan lupa, maka penulisan hadis bagi sahabat tertentu diperbolehkan.
Aktifitas Menulis Hadist
Bahwasanya sebagian sahabat telah menulis hadist pada masa Rosulullah, ada yang mendapatkan izin khusus dari Nabi SAW.,hanya saja kebanyakan dari mereka yang senang dan kompeten menulis hadist menjelang akhir kehidupan Rosulullah.
Keadaan Sunnah pada masa Nabi SAW belum ditulis (dibukukan) secara resmi, walaupun ada beberapa sahabat yang menulisnya. Hal ini dikarenakan ada larangan penulisan hadist dari Nabi Saw. penulis akan mengutip satu hadist yang lebih shahih dari hadist tentang larangan menulis. Rasulullah Saw. bersabda:
هحميلف نا رقلا ريغ ائيش ىىنع بتك نمف نارقلا ريغ ائيش ىنىعا وبتكتل.
” Jangan menulis apa-apa selain Al-Qur’an dari saya, barang siapa yang menulis dari saya selain Al-Qur’an hendaklah menghapusnya”. (HR. Muslim dari Abu Sa;id Al-Khudry).
Tetapi disamping ada hadist yang melarang penulisan ada juga hadist yang membolehkan penulisan hadist,diantaranya:
memberitakannya. Kemudian mengadu pada Rosululloh tentang hafalannya yang minim tersebut. maka Nabi SAW. Bersabda.
كنىيميب كظفح ىلع عتسا
“ Bantulah hafalanmu dengan tanganmu ”. (HR. At-Tirmidzi)
b. Dari Abu Hurairah pada saat Nabi menaklukkan Mekkah,beliau berdiri dan berkhotbah, maka berdirilah seorang laki-laki yaman yang bernama Abu Syah dan bertanya: ” Tuliskanlah aku”.? Maka Rosululloh bersabda:
:
هل اوبتكا دمحا ةياور يفو ةاش يبل اوبتكا
Tuliskanlah untuk Abi Syah (HR.Al- Bukhori dan Abu Dawud). Dalam riwayat Imam Ahmad: Tuliskanlah dia.
Dari hadist diatas tampaknya bertentangan, maka para ulama mengompromikannya sebagai berikut:
a. Bahwa larangan menulis hadist itu terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadist tidak tercampur dengan al-Quran. Tetapi setelah itu jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal Al-Quran, maka hukum larangan menulisnya telah dinaskhkan dengan perintah yang membolehkannya.
b. Bahwa larangan menulis hadist itu bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang memiliki keahlian tulis menulis. Hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya, dan tidak akan dikhawatirkan salah seperti Abdullah bin Amr bin Ash. c. Bahwa larangan menulis hadist ditujukan pada orang yang kuat hafalannya dari pada menulis, sedangkan perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat
hafalannya.
2) Hadist Pada Masa Sahabat
Pada masa menjelang kerasulannya, Rasul SAW berpesan kepada para sahabat agar ”Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan tersesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnahku ” (H.R Malik).
Setelah nabi Muhammad SAW wafat para sahabat belum memikirkan penghimpunan dan pengkodifikasian hadis, karena banyak problem yang dihadapi, diantaranya timbulnya kelomok orang yang murtad, timbulnya peperangan. ini mengakibatkan banyak penghafal Al-Qur’an gugur dimedan peperangan, sehingga jumlah orang yang hafal Al-Al-Qur’an tinggal sedikit, dan banyak orang asing yang datang kearab dan mereka tidak tau bahasa arab, sehingga takut Al-Qur’an tercampur aduk dengan hadis sehingga para sahabat berkonsentrasi bersama Abu Bakar untuk membukukan hadis
Imam Hakim meriwayatkan dari Qasim bin Muhammad dari siti ‘Aisyah ra., ia berkata:” Ayahku telah mengumpulkan 500 hadist dari Nabi Saw., setiap malam ia mengulang-ulang beberapa kali…, setelah itu ia membakarnya.
Umar bin Khatab ra. ingin mengumpulkan dan menulis hadist, beliau bermusyawarah dengan para sahabat Rasul lainya dan mereka menyetujui ide tersebut. Kemudian Umar beristikharah selama sebulan. Namun, rupanya Allah belum menghendaki.
Kemudian ia berkata:” Aku ingin menulis sunnah, setelah itu aku ingat kaum sebelum kamu sekalian menulis kitab, mereka memfokuskan pada tulisan itu, kemudian ia
meninggalkan kitab Allah. Demi Allah sesungguhnya aku tidak akan mencampur kitab Allah (al-Quran) dengan yang lain selamanaya.
b. Periwayatan hadis
Penyampaian periwayatan dilakukan secara lisan dan jika benar diperlukan saja yaitu ketika umat islam benar-benar memerlukan penjelasan hukum. Kedua kholifah diatas
menerimanya jika disertai dengan sumpah disamping saksi. Oleh karena itu, pada masa khulafa Ar-Rosyidin ini disebut sebagai masa pembatasan periwayatan ( taqlil Ar- riwayah ).
Pada mulanya para sahabat melarang untuk menulis hadis akan tetapi setelah mereka merasa tidak ada yang dikawatirkan tentang campur aduknya Al-Qur’an maka sedikit banyak sahabat telah menulis hadis tapi dibuat sebagai simpanan, seperti sahabat Abdulloh bin mas’ud, Ali bin Abi Tholib, Hasan bin Ali, Muawiyah, Abdulloh Bin Abbas, Abdulloh bin Umar, Anas bin Malik dan lain- lain.
2.3 Hadits Pada Masa Tabi’in
Tabi’in telah belajar kepada para sahabat, sehingga ia banyak mengetahui hadist Rasulullah dari para guru-guru mereka (sahabat), disamping itu mereka mengetahui para sahabat tentang keengganan menulis hadist dan sahabat membolehkannya, sehingga karakter tersebut diwariskan kepada para tabi’in besar, sehingga masa ini belum ada hadist yang terkodifikasikan.
Sehingga pada abad ke-4 maka para sahabat banyak yang memulai untuk pengkodifikasian hadis, sehingga pada abad ini dikenal dengan masa kejayaan sunnah.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Sejarah hadist pra kodifikasi terbagi menjadi beberapa bagian, untuk lebih mudah memahaminya,berikut uraianya.
A. Hadist Pada Masa Rasul SAW
Dalam masa ini ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan masa itu:
2. Pemeliharaan hadist melalui hafalan dan tulisan.
B. Hadist Pada Masa Sahabat
Kehati-hatian para sahabat dalam hal pembukuan hadist dan pada masa itu belum ada pembukuan secara resmi, dikarenakan beberapa hal yang diantaranya adalah :
1. Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
2. Para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam.
3. Soal membukukan hadist, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat.
C. Hadist pada masa tabi’in
Pada masa ini juga kejadianya seperti pada masa sahabat, sehingga belum ada hadist yang terkodifikasi. karena para tabi’in mengangggap bahwa nabi masih tidak secara jelas menyuruh untuk menulis hadis, sehingga ap yang dilakukan para tabi’n sama dengan para sahabat.
Jadi para sahabat maupun tabi’in sama – sama mengandalkan hafalan, tetapi masih ada yang menulis hadis tapi itu Cuma sebagai perantara saja, yaitu untuk menunjang hafalan tapi setelah itu disuruh membakarnya.begitulalh perjalanan prakodifikasi baik pada masa sahabat maupun tabi’in tidak banyak perubahan, merka masih ,mengandalkan hafalan.
DAFTAR PUSTAKA
Imam Malik. Muatha. Maktabah Syamilah. Vol 2 hlm. 900.
Surabaya: Pustaka Progressif.
Muhammad Ajjaj al-Khatib. 1998. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin. Kairo: Maktabah wahbah.
Mushtafa as-Suba’i. 2003 Assunnah. Kairo: Dar-Assalam.
Mana’ al-Qathan. 1989. Tarikh al-Tasyri’ al-Islami. Kairo: Maktabah Wahbah.