• Tidak ada hasil yang ditemukan

Presentasi Manusia dan Kebudayaan pptx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Presentasi Manusia dan Kebudayaan pptx"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Manusia dan Kebudayaan

(2)
(3)

Latar Belakang

Pada dasarnya manusia adalah makhluk budaya yang harus membudayakan

dirinya. Manusia sebagai makhluk budaya mampu melepaskan diri dari ikatan dan dorongan nalurinya dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan mempelajari keadaan sekitar dengan pengetahuan yang dimilikinya. Kebudayaan juga mengajarkan kepada manusia beberapa hal penting dalam kehidupan seperti etika sopan dan santun menjadikan ciri khas kebudayaan orang Indonesia.

Kebudayaan juga dapat mempersatukan laposan elemen masyarakat yang sebelumnya meregang akibat konflik yang berkepanjangan dan dapat pula dijadikan alat komunikasi antar masyarakat. Rasa saling menghormati dan menghargai akan tumbuh apabila antar sesama manusia menjunjung tinggi

kebudayaan sebagai alat pemersatu kehidupan, alat komunikasi antar sesama dan sebagai ciri khas suatu kelompok masyarakat. Banyak hal dapat di kaji mengenai manusia dan kebudayaan, dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat tentang hubungan erat antara manusia yang sebenarnya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Kebudayaan berperan penting bagi kehidupan manusia dan menjadi alat

untuk bersosialisasi dengan manusia yang lain dan pada akhirnya menjadi ciri khas suatu kelompok manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan alat

(4)

Rumusan Masalah dan

Hipotesa

Rumusan Masalah :

▫ Apa definisi dari

kebudayaan?

▫ Apa saja unsur dan wujud

dari kebudayaan?

▫ Bagaimana perubahan

kebudayaan?

▫ Apakah terdapat

hubungan antara

manusia dan

kebudayaan?

Hipotesa :

▫ Adanya unsur dan wujud

dari kebudayaan

▫ Kebudayaan mengalami

perubahan

(5)
(6)

Definisi Manusia

Hampir semua disiplin ilmu pengetahuan berusaha menyelidiki dan mengerti tentang makhluk yang bernama manusia. Begitu juga pendidikan, secara khusus tujuannya adalah memahami dan mendalami hakikat manusia. Bagi Aristoteles (384-322 SM), manusia adalah hewan berakal sehat, yang

mengeluarkan pendapatnya dan berbicara berdasarkan akal pikirannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, manusia adalah makhluk berakal budi.Sedangkan dalam Ilmu mantiq, manusia disebut sebagai hayawan al-nathiq (hewan yang berpikir). Berpikir di sini maksudnya adalah berkata-kata dan mengeluarkan pendapat serta pikiran. Dengan demikian pada hakekatnya manusia merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap dan bertindak, sikap dan tindakannya bersumber dari pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan berpikir dan dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari

Menurut tinjauan Islam, manusia adalah pribadi atau individu yang berkeluarga, selalu bersilaturahmi dan pengabdi Tuhan. Manusia juga pemelihara alam sekitar, wakil Allah Swt. di atas muka bumi ini. Islam

memandang manusia sebagai makhluk sempurna dibandingkan dengan hewan dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, karena itu manusia disuruh

(7)

Manusia dari Perspektif

Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an banyak kita temukan

ayat-ayat yang membahas tentang

manusia, mulai dari proses penciptaan

manusia, tujuan diciptakannya manusia,

ciri-ciri dan sifat-sifatnya.

Secara umum, dalam membahas manusia,

Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah

seperti

An-Nas, insan, basyar, bani Adam

,

(8)

Manusia dari Perspektif

Al-Qur’an

Istilah basyar dalam Al-Qur’an

Istilah basyar dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 27 kali. Dalam seluruh ayat tersebut basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. Lihatlah firman Allah Swt. dalam Surat Al-Kahfi ayat 110

 

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa (basyar) seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan

Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

 

(9)

Manusia dari Perspektif

Al-Qur’an

Begitu pula pada Surat Yusuf ayat 31  

﴿ مميرهكح كملحمح لبحإه اذحـهح ننإه اارشحبح اذحـهح امح ههلبله شحاحح نحلنققوح

٣١

Terjemah:

Dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."

 

Pada ayat tersebut di atas juga sama, diceritakan bahwa ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf a.s. mereka berkata; “Maha sempurna Allah ini bukanlah manusia (basyar), sesungguhnya ini tidak lain adalah

malaikat yang mulia.” Kata basyar juga digunakan untuk menjelaskan bahwa

Nabi Yusuf adalah manusia biasa secara biologis.

Secara singkat , konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat biologis manusia, yaitu makan, minum, berjalan. Dalam analisis Quraish Shihab,

disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri, fungsi fisik dan memiliki kebutuhan, tetapi bukan dalam

(10)

Manusia dari Perspektif

Al-Qur’an

Istilah insan dalam Al-Qur’an

Insan disebut sebanyak 65 kali dalam Al-Qur’an. Kita dapat mengelompokkan konteks

insan dalam tiga kategori.Pertama, insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai

khalifah atau pemikul amanah. Kedua, insan dihubungkan dengan predsiposisi negatif dari

manusia, Dan ketiga, insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Kecuali

kategori yang ketiga, semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual.

Pada kategori pertama, manusia adalah makluk yang mulia yaitu makhluk yang diberi ilmu, dapat kita lihat pada Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq ayat 4-5

﴿ مهلحقحلنابه محلبحعح يذهلبحا

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Dan manusia juga diberi wasiat untuk berbuat baik, sebagaimana surat Al Ankabut ayat 8

اانسك حي هة يكددلةاودبة ند اسد نلكة ا انديكصن ودود

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya”

Zaprulkhan, Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik, Jakarta: Rajawali Pers, 2014, hal. 117

(11)

Manusia dari Perspektif

Al-Qur’an

Pada ketegori kedua, dalam meyembah kepada Allah,

insan

sangat dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri

manusia. Menurut Al-Qur’an manusia cenderung zalim dan

kafir, sebagaimana Surat Ibrahim ayat 14

﴿ رمافبحكح ممولقظحلح نحاسحنلها نبحإه

٣٤

“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat

mengingkari (nikmat Allah)”

Dan manusia cenderung tergesa-gesa, sebagaimana Surat

Al-Isra ayat 11

﴿ لاوجقعح نقاسحنلها نحاكحوح

١١

(12)

Manusia dari Perspektif

Al-Qur’an

Pada kategori ketiga, secara menarik proses penciptaan manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar. Sebagai insan, manusia diciptakan dari tanah liat, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 26

﴿ ننونقسنمبح إنمححح ننمبه لناصحلنصح نمه نحاسحنلها انحقنلحخح دنقحلحوح

٢٦

“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Demikian pula sebagai basyar, manusia diciptakan dari tanah liat, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al Hijr ayat28

﴿ ننونقسنمبح إنمححح ننمبه لناصحلنصح نمبه اارشحبح قملهاخح ينبهإه ةهكحئهلحمحلنله كحببقرح لحاقح ذنإهوح

٢٨ ﴾ “Dan (ingatlah), ketika

Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan

menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

 

Dari kedua ayat tersebut di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolik karakter basyari dan karakter insani pada manusia

(13)

Manusia dari Perspektif

Al-Qur’an

Istilah An-Nas dalam Al-Qur’an

Konsep ketiga mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. Inilah istilah manusia yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an yaitu sebanyak 240 kali. Sebagai contoh dalam kaitannya manusia sebagai makhluk sosial ada dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 204:

﴿ مهاصحخهلنا دبقلحأح وحهقوح ههبهلنقح يفه امح ىلحعح هحلبلا دقههشنيقوح ايحنندبقلا ةهايحححلنا يفه هقلقونقح كحبقجهعنيق نمح سهانبحلا نحمهوح

٢٠٤

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras”.

Al-Qur’an juga diturunkan bukanlah hanya kepada manusia secara individual, tapi juga manusia secara sosial, sebagaimana dalam Surat An-Nisa ayat 170

ااميكة حد ااميلةعد هيلللا ند اكد ودضة ركلد اود تةاودامدسن لايفة امدهةلنلةنن إةفد اكوريفيككتدنإةودمككيلن ااريكخد اكونيمةآفدمككيببرن نمةقب حد لكابة لي وسي رنلامي كي ءاجد دكقدسي اننلا اهدييأد ايد

﴿

١٧٠

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan

(membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena

sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Masih banyak ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an yang menjelaskan manusia sebagai

makhluk sosial, dan kebanyakan menggunakan istilah wan min an-nas (dan di antara manusia) yang mununjukan manusia di antara manusia-manusia lainnya. Dengan kata lain manusia adalah makluk yang membutuhkan manusia lainnya, dan pasti akan berhubungan dengan manusia lainnya untuk keberlangsungan hidupnya. Di sini lah letaknya kenapa manusia harus dikenai aturan-aturan dan harus bertanggung jawab atas amanat yang diembannya. 

(14)

Definisi Kebudayaan

“Kebudayaan berarti buah budi manusia

adalah hasil perjuangan manusia terhadap

dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam

yang merupakan bukti kejayaan hidup

manusia untuk mengatasi berbagai

rintangan dan kesukaran didalam hidup dan

penghidupannya guna mencapai

keselamatan dan kebahagiaan yang pada

lahirnya bersifat tertib dan damai”

(15)

Unsur Kebudayaan

1) Sistem Religi (Sistem Kepercayaan)

Merupakan produk manusia sebagai homo religieus. Manusia yang

memiliki kecerdasan pikiran dan persaaan luhur, tanggap bahwa di

atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang Maha Besar.

Karena itu manusia takut sehingga menyembahnya dan lahirlah

kepercayaan yang sekarang menjadi agama.

2) Sistem Organisasi Kemasyarakatan

Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia

sadar bahwa tubuhnya lemah, namun memiliki akal. Maka

(16)

3) Sistem Pengetahuan

Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan

dapat diperoleh dari pemikiran sendiri, disamping itu didapat juga

dari orang lain. Kemamapuan manusia mengingat-ingat apa yang

telah diketahui kemudian menyampaikannya kepada orang lain

melalui bahasa, menyebabkan pengetahuan menyebar luas.

Lebih-lebih bila pengetahuan itu dibukukan, maka penyebarannya dapat

dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

4) Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem-Sistem Ekonomi

Merupakan produk manusia sebagai homo economicus menjadikan

tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.

(17)

Unsur Kebudayaan

5) Sistem Teknologi dan Peralatan

Merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Bersumber

pemikirannya yang cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat

memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat membuat dan

mempergunakan alat. Dengan alat-alat ciptaannya itulah manusia

dapat lebih mampu mencukupi kebutuhannya daripada binatan.

6) Bahasa

Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa

manusia apada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode) yang

kemudian disempurnakan dalam bentuk bahasa lisan, dan akhirnya

menjadi bentuk bahasa tulisan.

7) Kesenian

Merupakan hasil dari manusia sebagai homo aesteticus. Setelah

manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka dibutuhkan

kebutuhan psikisnya untuk dipuaskan. Manusia bukan lagi

semata-mata memenuhi isi perut saja, mereka juga perlu pandangan semata-mata

(18)

Wujud Kebudayaan

• Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu :

▫ Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia

Wujud ini disebut sebagai sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkut hidup.

 

▫ Kompleks aktivitas

Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial

▫ Wujud sebagai benda

(19)

Perubahan Kebudayaan

Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh karena ia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya.

Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :

1) Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri. Misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.

Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. 2) Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur

hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain cenderung untuk berubah lebih cepat.

3) Adanya difusi kebudayaan dan penemuan-penemuan baru khususnya teknologi dan inovasi.

Perubahan kebudayaan atau akulturasi terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah kedalam

(20)

Perubahan Kebudayaan

Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayan terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnyadan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebagainya. Pada saat itulah unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut. Beberapa masalah yang

menyangkut proses tadi adalah :

• Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima

Unsur-unsur tersebut misalnya unsur yang terbukti membawa manfaat besar seperti radio, komputer dan telepon yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi.

• Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima

Unsur-unsur tersebut misalnya unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain.

• Individu-individu makah yang cepat menerima unsur-unsur baru

Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru.

• Ketegangan-ketegangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut

(21)

Perubahan Kebudayaan

Proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat

menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan

asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan

demikian unsur-unsur kebudayaan asing tidak lagi

dirasakan sebagai hal yang berasal dari luar. Akan tetapi

dianggap sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri.

Unsur-unsur asing yang diterima, tentunya terlebih

dahulu mengalami proses pengolahan, sehingga

bentuknya tidaklah asli lagi sebagai semula. Misalnya

sistem pendidikan di Indonesia, untuk sebagian besar

(22)

Hubungan Antara Manusia dan

Kebudayaan

•Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan objek yang dilaksanakan manusia.

•Dalam sosiologi, manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal.

Maksudnya adalah walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai

dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia. Setelah peraturan itu jadi, maka manusia yang

(23)

Hubungan Antara Manusia dan

Kebudayaan

•Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan

sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap, yaitu :

▫Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini, masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.

▫Objektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi relitas objektif atau suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi

bahkan membentuk perilaku manusia.

▫Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakat sendiri agar dia dapat hidup dengan baik sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.

(24)
(25)

Kesimpulan

Secara sederhana kaitan manusia dan kebudayaan adalah sebagai

perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan obyek yang

dilaksanakan manusia. Dalam ilmu sosiologi manusia dan

kebudayaan dinilai sebagai dwi tunggal yang berarti walaupun

keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan.

Manusia menciptakan kebudayaan setelah kebudayaan tercipta maka

kebudayaan mengatur kehiduapan manusia yang sesuai dengannya,

contohnya adlah hubungan dengan peraturan-peraturan

kemasyarakatan.

Manusia dan kebudayaan atau manusia dan masyarakat, oleh karena

itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain. Pada

kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang

lebih awal muncul manusia atau kebudayaan. Analisa terhadap

Referensi

Dokumen terkait

• Tetapi, alam pikiran manusia berkembang dg cepat dan baik terutama krn rasa ingin tahu (dorongan dari dalam).. Sejarah

Di provinsiku yang disebut "Seribu Pulau" ini, kalian dapat menjumpai beberapa jenis objek wisata, yaitu wisata alam, wisata pantai, wisata budaya, dan

Skripsi mendapatkan bahwa, dalam pemikiran Rendra, kebudayaan adalah hasil buah alam pikir manusia tentang aturan hidup bersama yang diciptakan menggunakan pikiran dan

Layanan Jempol MaMa dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Barat Nomor: W.33.OT.01.02-10 Tahun

Menurut Koentjaraningrat (2002:190), sistem nilai budaya adalah suatu rangkaian konsepsi-konsepsi abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu

Warisan budaya fisik dalam pasal 1 Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya disebut sebagai ‘benda cagar budaya’ yang berupa benda buatan manusia dan benda

Krisis ekologi dapat teratasi jika manusia mampu menjalankan tugas tanggung jawab yang diberikan Allah untuk menjaga dan melestarikan alam lingkungannya. Tanggung jawab ini

Kajian in i bettujuan untuk menguji samada wujud hubungan di antara amalan pengurusan sumber manusia dengan dimensi budaya organisasi yang terdiri dari pengurusan budaya, kecenderungan