Manusia dan Kebudayaan
Latar Belakang
Pada dasarnya manusia adalah makhluk budaya yang harus membudayakan
dirinya. Manusia sebagai makhluk budaya mampu melepaskan diri dari ikatan dan dorongan nalurinya dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan mempelajari keadaan sekitar dengan pengetahuan yang dimilikinya. Kebudayaan juga mengajarkan kepada manusia beberapa hal penting dalam kehidupan seperti etika sopan dan santun menjadikan ciri khas kebudayaan orang Indonesia.
Kebudayaan juga dapat mempersatukan laposan elemen masyarakat yang sebelumnya meregang akibat konflik yang berkepanjangan dan dapat pula dijadikan alat komunikasi antar masyarakat. Rasa saling menghormati dan menghargai akan tumbuh apabila antar sesama manusia menjunjung tinggi
kebudayaan sebagai alat pemersatu kehidupan, alat komunikasi antar sesama dan sebagai ciri khas suatu kelompok masyarakat. Banyak hal dapat di kaji mengenai manusia dan kebudayaan, dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat tentang hubungan erat antara manusia yang sebenarnya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Kebudayaan berperan penting bagi kehidupan manusia dan menjadi alat
untuk bersosialisasi dengan manusia yang lain dan pada akhirnya menjadi ciri khas suatu kelompok manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan alat
Rumusan Masalah dan
Hipotesa
•
Rumusan Masalah :
▫ Apa definisi dari
kebudayaan?
▫ Apa saja unsur dan wujud
dari kebudayaan?
▫ Bagaimana perubahan
kebudayaan?
▫ Apakah terdapat
hubungan antara
manusia dan
kebudayaan?
•
Hipotesa :
▫ Adanya unsur dan wujud
dari kebudayaan
▫ Kebudayaan mengalami
perubahan
Definisi Manusia
Hampir semua disiplin ilmu pengetahuan berusaha menyelidiki dan mengerti tentang makhluk yang bernama manusia. Begitu juga pendidikan, secara khusus tujuannya adalah memahami dan mendalami hakikat manusia. Bagi Aristoteles (384-322 SM), manusia adalah hewan berakal sehat, yang
mengeluarkan pendapatnya dan berbicara berdasarkan akal pikirannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, manusia adalah makhluk berakal budi.Sedangkan dalam Ilmu mantiq, manusia disebut sebagai hayawan al-nathiq (hewan yang berpikir). Berpikir di sini maksudnya adalah berkata-kata dan mengeluarkan pendapat serta pikiran. Dengan demikian pada hakekatnya manusia merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap dan bertindak, sikap dan tindakannya bersumber dari pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan berpikir dan dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari
Menurut tinjauan Islam, manusia adalah pribadi atau individu yang berkeluarga, selalu bersilaturahmi dan pengabdi Tuhan. Manusia juga pemelihara alam sekitar, wakil Allah Swt. di atas muka bumi ini. Islam
memandang manusia sebagai makhluk sempurna dibandingkan dengan hewan dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, karena itu manusia disuruh
Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an
•
Di dalam Al-Qur’an banyak kita temukan
ayat-ayat yang membahas tentang
manusia, mulai dari proses penciptaan
manusia, tujuan diciptakannya manusia,
ciri-ciri dan sifat-sifatnya.
•
Secara umum, dalam membahas manusia,
Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah
seperti
An-Nas, insan, basyar, bani Adam
,
Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an
Istilah basyar dalam Al-Qur’an
Istilah basyar dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 27 kali. Dalam seluruh ayat tersebut basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. Lihatlah firman Allah Swt. dalam Surat Al-Kahfi ayat 110
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa (basyar) seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an
Begitu pula pada Surat Yusuf ayat 31
﴿ مميرهكح كملحمح لبحإه اذحـهح ننإه اارشحبح اذحـهح امح ههلبله شحاحح نحلنققوح
٣١ ﴾
Terjemah:
Dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."
Pada ayat tersebut di atas juga sama, diceritakan bahwa ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf a.s. mereka berkata; “Maha sempurna Allah ini bukanlah manusia (basyar), sesungguhnya ini tidak lain adalah
malaikat yang mulia.” Kata basyar juga digunakan untuk menjelaskan bahwa
Nabi Yusuf adalah manusia biasa secara biologis.
Secara singkat , konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat biologis manusia, yaitu makan, minum, berjalan. Dalam analisis Quraish Shihab,
disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri, fungsi fisik dan memiliki kebutuhan, tetapi bukan dalam
Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an
Istilah insan dalam Al-Qur’an
Insan disebut sebanyak 65 kali dalam Al-Qur’an. Kita dapat mengelompokkan konteks
insan dalam tiga kategori.Pertama, insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai
khalifah atau pemikul amanah. Kedua, insan dihubungkan dengan predsiposisi negatif dari
manusia, Dan ketiga, insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Kecuali
kategori yang ketiga, semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual.
Pada kategori pertama, manusia adalah makluk yang mulia yaitu makhluk yang diberi ilmu, dapat kita lihat pada Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq ayat 4-5
﴿ مهلحقحلنابه محلبحعح يذهلبحا
“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dan manusia juga diberi wasiat untuk berbuat baik, sebagaimana surat Al Ankabut ayat 8
اانسك حي هة يكددلةاودبة ند اسد نلكة ا انديكصن ودود
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya”
Zaprulkhan, Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik, Jakarta: Rajawali Pers, 2014, hal. 117
Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an
Pada ketegori kedua, dalam meyembah kepada Allah,
insan
sangat dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri
manusia. Menurut Al-Qur’an manusia cenderung zalim dan
kafir, sebagaimana Surat Ibrahim ayat 14
﴿ رمافبحكح ممولقظحلح نحاسحنلها نبحإه
٣٤
﴾
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat
mengingkari (nikmat Allah)”
Dan manusia cenderung tergesa-gesa, sebagaimana Surat
Al-Isra ayat 11
﴿ لاوجقعح نقاسحنلها نحاكحوح
١١
﴾
Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an
Pada kategori ketiga, secara menarik proses penciptaan manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar. Sebagai insan, manusia diciptakan dari tanah liat, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 26
﴿ ننونقسنمبح إنمححح ننمبه لناصحلنصح نمه نحاسحنلها انحقنلحخح دنقحلحوح
٢٦ ﴾
“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
Demikian pula sebagai basyar, manusia diciptakan dari tanah liat, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al Hijr ayat28
﴿ ننونقسنمبح إنمححح ننمبه لناصحلنصح نمبه اارشحبح قملهاخح ينبهإه ةهكحئهلحمحلنله كحببقرح لحاقح ذنإهوح
٢٨ ﴾ “Dan (ingatlah), ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Dari kedua ayat tersebut di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolik karakter basyari dan karakter insani pada manusia
Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an
Istilah An-Nas dalam Al-Qur’an
Konsep ketiga mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. Inilah istilah manusia yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an yaitu sebanyak 240 kali. Sebagai contoh dalam kaitannya manusia sebagai makhluk sosial ada dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 204:
﴿ مهاصحخهلنا دبقلحأح وحهقوح ههبهلنقح يفه امح ىلحعح هحلبلا دقههشنيقوح ايحنندبقلا ةهايحححلنا يفه هقلقونقح كحبقجهعنيق نمح سهانبحلا نحمهوح
٢٠٤ ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras”.
Al-Qur’an juga diturunkan bukanlah hanya kepada manusia secara individual, tapi juga manusia secara sosial, sebagaimana dalam Surat An-Nisa ayat 170
ااميكة حد ااميلةعد هيلللا ند اكد ودضة ركلد اود تةاودامدسن لايفة امدهةلنلةنن إةفد اكوريفيككتدنإةودمككيلن ااريكخد اكونيمةآفدمككيببرن نمةقب حد لكابة لي وسي رنلامي كي ءاجد دكقدسي اننلا اهدييأد ايد
﴿
١٧٠ ﴾
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan
(membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena
sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Masih banyak ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an yang menjelaskan manusia sebagai
makhluk sosial, dan kebanyakan menggunakan istilah wan min an-nas (dan di antara manusia) yang mununjukan manusia di antara manusia-manusia lainnya. Dengan kata lain manusia adalah makluk yang membutuhkan manusia lainnya, dan pasti akan berhubungan dengan manusia lainnya untuk keberlangsungan hidupnya. Di sini lah letaknya kenapa manusia harus dikenai aturan-aturan dan harus bertanggung jawab atas amanat yang diembannya.
Definisi Kebudayaan
“Kebudayaan berarti buah budi manusia
adalah hasil perjuangan manusia terhadap
dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam
yang merupakan bukti kejayaan hidup
manusia untuk mengatasi berbagai
rintangan dan kesukaran didalam hidup dan
penghidupannya guna mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang pada
lahirnya bersifat tertib dan damai”
Unsur Kebudayaan
1) Sistem Religi (Sistem Kepercayaan)
Merupakan produk manusia sebagai homo religieus. Manusia yang
memiliki kecerdasan pikiran dan persaaan luhur, tanggap bahwa di
atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang Maha Besar.
Karena itu manusia takut sehingga menyembahnya dan lahirlah
kepercayaan yang sekarang menjadi agama.
2) Sistem Organisasi Kemasyarakatan
Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. Manusia
sadar bahwa tubuhnya lemah, namun memiliki akal. Maka
3) Sistem Pengetahuan
Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan
dapat diperoleh dari pemikiran sendiri, disamping itu didapat juga
dari orang lain. Kemamapuan manusia mengingat-ingat apa yang
telah diketahui kemudian menyampaikannya kepada orang lain
melalui bahasa, menyebabkan pengetahuan menyebar luas.
Lebih-lebih bila pengetahuan itu dibukukan, maka penyebarannya dapat
dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
4) Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem-Sistem Ekonomi
Merupakan produk manusia sebagai homo economicus menjadikan
tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.
Unsur Kebudayaan
5) Sistem Teknologi dan Peralatan
Merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Bersumber
pemikirannya yang cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat
memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat membuat dan
mempergunakan alat. Dengan alat-alat ciptaannya itulah manusia
dapat lebih mampu mencukupi kebutuhannya daripada binatan.
6) Bahasa
Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa
manusia apada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode) yang
kemudian disempurnakan dalam bentuk bahasa lisan, dan akhirnya
menjadi bentuk bahasa tulisan.
7) Kesenian
Merupakan hasil dari manusia sebagai homo aesteticus. Setelah
manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka dibutuhkan
kebutuhan psikisnya untuk dipuaskan. Manusia bukan lagi
semata-mata memenuhi isi perut saja, mereka juga perlu pandangan semata-mata
Wujud Kebudayaan
• Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu :
▫ Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia
Wujud ini disebut sebagai sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkut hidup.
▫ Kompleks aktivitas
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial
▫ Wujud sebagai benda
Perubahan Kebudayaan
Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh karena ia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya.
Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :
1) Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri. Misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. 2) Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur
hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain cenderung untuk berubah lebih cepat.
3) Adanya difusi kebudayaan dan penemuan-penemuan baru khususnya teknologi dan inovasi.
Perubahan kebudayaan atau akulturasi terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah kedalam
Perubahan Kebudayaan
Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayan terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnyadan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebagainya. Pada saat itulah unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut. Beberapa masalah yang
menyangkut proses tadi adalah :
• Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima
Unsur-unsur tersebut misalnya unsur yang terbukti membawa manfaat besar seperti radio, komputer dan telepon yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi.
• Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima
Unsur-unsur tersebut misalnya unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain.
• Individu-individu makah yang cepat menerima unsur-unsur baru
Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru.
• Ketegangan-ketegangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut
Perubahan Kebudayaan
Proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat
menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan
asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan
demikian unsur-unsur kebudayaan asing tidak lagi
dirasakan sebagai hal yang berasal dari luar. Akan tetapi
dianggap sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri.
Unsur-unsur asing yang diterima, tentunya terlebih
dahulu mengalami proses pengolahan, sehingga
bentuknya tidaklah asli lagi sebagai semula. Misalnya
sistem pendidikan di Indonesia, untuk sebagian besar
Hubungan Antara Manusia dan
Kebudayaan
•Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan objek yang dilaksanakan manusia.
•Dalam sosiologi, manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal.
Maksudnya adalah walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai
dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia. Setelah peraturan itu jadi, maka manusia yang
Hubungan Antara Manusia dan
Kebudayaan
•Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan
sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap, yaitu :
▫Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini, masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
▫Objektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi relitas objektif atau suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi
bahkan membentuk perilaku manusia.
▫Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakat sendiri agar dia dapat hidup dengan baik sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.