APABILA PIH TIDAK DIPAHAMI DENGAN BAIK MAKA SULITLAH UNTUK DAPAT MEMAHAMI KAJIAN BIDANG-BIDANG HUKUM YANG ADA

38 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGANTAR

ILMU HUKUM

(2)

PENGANTAR ILMU HUKUM

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PIH

PIH ADALAH ILMU YANG MEMPELAJARI TENTANG

DASAR-DASAR ILMU HUKUM YANG BERTUJUAN

UNTUK MENGHANTARKAN DALAM MEMPELAJARI

HUKUM LEBIH LANJUT.

APABILA PIH TIDAK DIPAHAMI DENGAN

BAIK MAKA SULITLAH UNTUK DAPAT

MEMAHAMI KAJIAN BIDANG-BIDANG

(3)

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

ARISTOTELES MENGATAKAN BAHWA MANUSIA ADALAH ZOON POLITICON, ARTINYA MANUSIA ADALAH MAKHLUK SOSIAL YANG SELALU INGIN

BERGAUL

PENDORONG HIDUP BERMASYARAKAT:

‡MERASA TERTARIK SATU SAMA LAIN

‡MERASA MEMERLUKAN

BANTUAN/PERLINDUNGAN DARI ORANG LAIN

(4)

DILIHAT DARI KESATUAN

BIOLOGISNYA YANG TERDAPAT

PADA NALURI MANUSIA, HIDUP

BERMASYARAKAT TERJADI

KARENA:

Ø

HASRAT UNTUK MEMENUHI

KEPERLUAN MAKAN DAN MINUM

Ø

HASRAT UNTUK MENGEMBANGKAN

KETURUNANNYA

(5)

MANUSIA DALAM BERMASYARAKAT UNTUK SALING MEMENUHI KEPENTINGAN HIDUPNYA,

TIDAK JARANG TERJADI PERGESERAN ATAU PERTENTANGAN (CONFLICT OF INTEREST), OLEH

KARENA SETIAP ORANG DAPAT MEMPUNYAI KEPENTINGAN YANG BERTENTANGAN

UNTUK MELINDUNGI KEPENTINGAN MANUSIA TERHADAP ANCAMAN DARI MANUSIA YANG LAIN

MAKA DIPERLUKAN KAIDAH ATAU NORMA

UBI SOCIETAS IBI IUS (CICERO)

(6)

PENGERTIAN NORMA

NORMA ADALAH PEDOMAN

TINGKAH LAKU MANUSIA DI DALAM

HIDUP BERMASYARAKAT YANG

TUJUANNYA UNTUK MELINDUNGI

KEPENTINGAN MANUSIA BAIK

SEBAGAI INDIVIDU MAUPUN DALAM

KELOMPOK DENGAN JALAN

(7)

MACAM-MACAM NORMA SOSIAL

1. NORMA AGAMA

ATURAN HIDUP YANG OLEH PARA

PENGIKUTNYA DIANGGAP SEBAGAI PERINTAH DARI TUHAN, DAN BARANG SIAPA YANG

MELANGGARNYA AKAN MENDAPATKAN HUKUMAN DI AKHIRAT

DAN JANGANLAH KAMU MENDEKATI ZINA: SESUNGUHNYA ZINA ADALAH SUATU

PERBUATAN YANG KEJI DAN SUATU JALAN YANG BURUK (SURAT AL ISRA AYAT 32)

(8)

2.NORMA KESUSILAAN

ATURAN HIDUP YANG BERSUMBER PADA

RASA KESUSILAAN ATAU HATI NURANI

DALAM DIRI MANUSIA

JANGANLAH MEMBUNUH, BERZINAH, MENCURI, BERBOHONG, MENIPU, DLL

TUJUAN NORMA KESUSILAAN UNTUK KEBAIKAN AKHLAK PRIBADI GUNA

PENYEMPURNAAN MANUSIA DAN MELARANG MANUSIA MELAKUKAN

(9)

3.NORMA KESOPANAN

ATURAN HIDUP YANG BERSUMBER, PADA KEPATUTAN ATAU KESOPANAN DALAM MASYARAKAT YANG BERLAKU DALAM

LINGKUNGAN KECIL ATAU KELOMPOK KECIL MANUSIA, DAN BARANG SIAPA YANG

MELANGGARNYA AKAN MENDAPAT UMPATAN ATAU CEMOOHAN DARI ANGGOTA MASYARAKAT YANG

LAIN.

BERPAIKAIANLAH YANG SOPAN

KETUKLAH PINTU SEBELUM MASUK RUANGAN ATAU RUMAH ORANG,

HORMATILAH ORANG TUA

TUJUANYA MENCIPTAKAN KENYAMANAN DAN MEMBUAT KESEDAPAN DALAM PERGAULAN HIDUP

(10)

4.NORMA HUKUM

ATURAN HIDUP YANG DIBUAT OLEH PENGUASA DAN BARANG SIAPA YANG MELANGGARNYA AKAN MENDAPATKAN SANKSI BERUPA HUKUMAN YANG DAPAT

DIPAKSAKAN

NORMA HUKUM PIDANA,

NORMA HUKUM PERDATA, DLL

TUJUAN NORMA HUKUM UNTUK KETERTIBAN MASYARAKAT AGAR MASYARAKAT TERTIB, AGAR JANGAN

(11)

ARTI PENTINGNYA NORMA HUKUM WALAUPUN

SUDAH ADA NORMA-NORMA YANG LAIN

1. UNTUK MELINDUNGI SECARA TEGAS TERHADAP KEPENTINGAN-KEPENTINGAN MANUSIA YANG TELAH DILINDUNGI OLEH NORMA AGAMA, KESUSILAAN DAN

KESOPANAN

2. UNTUK MELINDUNGI KEPENTINGAN-KEPENTINGAN MANUSIA YANG BELUM DILINDUNGI OLEH NORMA

AGAMA, KESUSILAAN DAN KESOPANAN

ØJIKA TERJADI PELANGGARAN TERHADAP NORMA AGAMA, KESUSILAAN DAN KESOPANAN SANKSINYA KURANG TEGAS

KURANG DIRASAKAN

Ø MASIH BANYAK KEPENTINGAN-KEPENTINGAN DARI MANUSIA YANG BELUM DILINDUNGI OLEH NORMA AGAMA, KESUSILAAN DAN

KESOPANAN

(12)

PENGERTIAN HUKUM

J. van Kan:

hukum sebagai “keseluruhan

ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa, yang melindungi kepentingan-kepentingan

orang dalam masyarakat”.

Rudolf von Jhering, :

“hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu

negara”

L.J. van Apeldoorn:

hukum itu banyak seginya dan demikian luasnya, sehingga tidak mungkin orang dapat

(13)

ANEKA ARTI HUKUM

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto: Terdapat sembilaan arti hukum:

1) ilmu pengetahuan yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan

pemikiran;

2) disiplin hukum, yakni suatu ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi; 3) norma, yakni pedoman atau patokan sikap

tindak atau perikelakuan yang pantas dan diharapkan;

4) tata hukum, yakni struktur dan proses

perangkat norma-norma hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu serta bentuk

(14)

ANEKA ARTI HUKUM

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto: Terdapat sembilaan arti hukum:

5) petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang berhubungan erat dengan penegakan

hukum;

6) keputusan penguasa, yakni hasil proses diskresi; 7) proses pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan;

8) sikap tindak ajeg atau perikelakuan yang teratur,

yakni perikelakuan yang diulang-ulang dengan cara yang sama, yang bertujuan untuk mencapai kedamaian;

dan

9) jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari konsepsi-konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap baik dan

(15)

ISI DAN SIFAT NORMA HUKUM ISI NORMA HUKUM :

SURUHAN (GEBOD):

EX: PASAL 103 KUHPerdata: SUAMI ISTERI, MEREKA HARUS SETIA MENSETIAI, TOLONG MENOLONG DAN

BANTU MEMBANTU

LARANGAN (VERBOD):

EX: PASAL 8 UU NO.1 TH 1974 (UU PERKAWINAN) TTG FIHAK-FIHAK YANG DILARANG MELAKUKAN

PERKAWINAN

KEBOLEHAN (MOGEN):

EX: PASAL 29 AYAT (1) UU NOMOR 1 TH 1974. TENTANG KEBOLEHAN BAGI CALON SUAMI-ISTERI

MEMBUAT PERJANJIAN, PADA WAKTU ATAU SEBELUM PERNIKAHAN DILANGSUNGKAN, ASAL TIDAK MELANGGAR NORMA HUKUM, AGAMA DAN

(16)

SIFAT NORMA HUKUM

1. IMPERATIF ATAU MEMAKSA (DWINGEN RECHT):

SUATU NORMA HUKUM YANG SECARA APRIORI HATUS DITAATI ATAU NORMA HUKUM DALAM HAL KONKRIT

TIDAK DAPAT DIKESAMPINGKAN OLEH SUATU PERJANJIAN YANG DIBUAT OLEH PARA PIHAK

EX: PASAL 27 BUKU I KUHPerdata “DALAM WAKTU YANG SAMA SEORANG LAKI-LAKI HANYA DIPERBOLEHKAN MEMPUNYAI SATU

ORANG PEREMPUAN SEBAGAI ISTERINYA, DAN SEORANG PEREMPUAN HANYA SATU LAKI-LAKI SEBAGAI SUAMINYA”

2. FAKULTATIF ATAU HUKUM YANG MENGATUR ATAU MENAMBAH (REGELEND RECHT ATAU

AANVULLEND RECHT):

ADALAH PERATURAN YANG TUNDUK PADA PERATURAN YANG DIBUAT DENGAN PERJANJIAN OLEH PARA PIHAK

YANG BERKEPENTINGAN

(17)

TUJUAN HUKUM

TEORI ETHIS:

TUJUAN HUKUM ADALAH SEMATA-MATA UNTUK MENCAPAI KEADILAN, ISI HUKUM SEMATA-MATA HARUS DITENTUKAN OLEH KESADARAN ETHIS KITA

(ETHIKA KITA) MENGENAI APA YANG ADIL DAN APA YANG TIDAK ADIL

TOKOH: ARISTOTELES (ETHICA NICOMACHEA DAN

RHETORICA) KEADILAN MELIPUTI: 1. KEADILAN DISTRIBUTIF (JUSTITIA

DISTRIBUTIFA): MEMBERIKAN TIAP ORANG SESUAI JASANYA.

(18)

TEORI UTILITIS:

TUJUAN HUKUM ADALAH MENJAMIN ADANYA KEBAHAGIAAN SEBESAR-BESARNYA UNTUK JUMLAH ORANG SEBANYAK-BANYAKNYA (THE GREATEST GOOD OF THE GREATEST NUMBER)

TOKOH: JEREMY BENTHAM.

TEORI CAMPURAN:

TUJUAN HUKUM ADALAH TATA TERTIB MASYARAKAT YANG ADIL DAN DAMAI

TOKOH: LJ.VAN APELDOORN : TUJUAN HUKUM ADALAH MENGATUR PERGAULAN HIDUP SECARA

DAMAI DAN ADIL

(19)

MENGAPA HUKUM DITAATI

1. TEORI TEOKRASI:

HUKUM ADALAH KEMAUAN TUHAN DAN MENDASARKAN KEKUATAN HUKUM ATAS

KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN TOKOH: FREDERICH STAHL

2. TEORI PERJANJIAN:

ORANG MENTAATI HUKUM KARENA MEREKA TELAH BERJANJI UNTUK MENTAATINYA

(20)

MENGAPA HUKUM DITAATI

3. TEORI KEDAULATAN NEGARA:

KETAATAN KEPADA HUKUM KARENA KEHENDAK NEGARA BUKAN KARENA MEREKA TELAH

BERJANJI ATAU MENGIKATKAN DIRI TOKOH: JELLINEK DAN PAUL LABAND

3. TEORI KEDAULATAN HUKUM :

HUKUM DITAATI KARENA HUKUM BERASAL DARI PERASAAN HUKUM YANG ADA PADA SEBAGIAN

BESAR MASYARAKAT

(21)

SUBJEK DAN OBJEK HUKUM

SUBJEK HUKUM:

ADALAH SEGALA SESUATU YANG MEMPUNYAI KEWENANGAN HUKUM. KEWENANGAN HUKUM

ADALAH KECAKAPAN UNTUK MENJADI PENDUKUNG (SUBJEK) HUKUM

MACAM SUBJEK HUKUM:

1.MANUSIA (NATUURLIJK PERSOON)

(22)

1. MANUSIA SEBAGAI SUBJEK HUKUM :

ØØSETIAP MANUSIA TANPA KECUALI ADALAH SUBJEK HUKUM. PASAL 3 KUH.Perdata MELARANG KEMATIAN

PERDATA

EX: PERBUDAKAN

ØØ MELARANG MANUSIA DIJADIKAN OBJEK HUKUM

EX: DIJUAL BELIKAN, DIGADAIKAN

ØØ WEWENANG UNTUK BERTINDAK HUKUM INI SUDAH TIMBUL PADA SAAT MANUSIA ITU DILAHIRKAN PADA SAAT MANUSIA ITU DILAHIRKAN DAN BARU BERAKHIR SETELAH

MENINGGAL KECUALI PS.2 KUHPdt. (ANAK DALAM

KANNDUNGAN SEKALIPUN BELUM LAHIR DIANGGAP TELAH ADA APABILA KEPENTINGAN MEMERLUKAN)

ØØ SESEORANG YANG SUDAH DEWASA NORMAL “CAKAP HUKUM” TETAPI DALAM HAL-HAL TERTENTU IA DAPAT

DINYATAKAN TIDAK CAKAP HUKUM APABILA:

(23)

2. BADAN HUKUM SEBAGAI SUBJEK HUKUM:

ØØ TIAP PENDUKUNG HAK YANG BUKAN MANUSIA BADAN HUKUM MERUPAKAN PERSEKUTUAN

MANUSIA YANG BERTINDAK DALAM HUBUNGAN HUKUM SEOLAH-OLAH SUATU SUBJEK HUKUM

YANG TUNGGAL

(24)

DISIPLIN HUKUM

DISIPLIN:

SISTEM AJARAN MENGENAI KENYATAAN ATAU GEJALA-GEJALA YANG DIHADAPI

DISIPLIN ANALITIS:

SISTEM AJARAN YANG MENGANALISIS, MEMAHAMI, SERTA MENJELASKAN GEJALA-GEJALA YANG

DIHADAPI EX: SOSIOLOGI, PSIKOLOGI, DAN EKONOMI

DISIPLIN PRESKRIPTIF:

SISTEM AJARAN YANG MENENTUKAN APAKAH SEYOGYANYA ATAU SEHARUSNYA DILAKUKAN DI

DALAM MENGHADAPI KENYATAAN-KENYATAAN TERTENTU.

(25)

DISIPLIN HUKUM

1. ILMU HUKUM:

A. ILMU TENTANG NORMA (NORMWISSENSCHAFT/SOLLEN-WISSENSCHAFT): ILMU YANG MENELAAH HUKUM SEBAGAI NORMA ATAU SISTEM NORMA DENGAN DOGMATIK HUKUM

DAN SISTEMATIK HUKUM

B. ILMU PENGERTIAN (BEGRIFFENWISSENSCHAFT)

ILMU TENTANG PENGERTIAN POKOK DALAM ILMU HUKUM EX:SUBJEK HUKUM, HAK DAN KEWAJIBAN, PERISTIWA

HUKUM, HUBUNGAN HUKUM DAN OBJEK HUKUM C. ILMU TENTANG KENYATAAN

(TAATSACHENWISSENSCHAFT/SEINWISSENSCHAFT) ILMU YANG MENELAAH HUKUM SEBAGAI PERILAKU ATAU

SIKAP TINDAK. ANTARA LAIN: SOSIOLOGI HUKUM,

ANTROPOLOGI HUKUM, PSIKOLOGI HUKUM, PERBANDINGAN HUKUM, SEJARAH HUKUM

1.ILMU HUKUM 2. POLITIK

(26)

2. POLITIK HUKUM :

MENCAKUP KEGIATAN MEMILIH DAN MENERAPKAN NILAI

3. FILSAFAT HUKUM :

“Filsafat Hukum adalah perenungan dan perumusan nilai-nilai kecuali itu filsafat hukum juga mencakup penyerasian

nilai-nilai misalnya: penyerasian antara ketertiban dengan ketentraman, antara kebendaan dengan keakhlakan, dan antara

(27)

PERISTIWA HUKUM :

PERISTIWA-PERISTIWA TERTENTU YANG

MEMPUNYAI AKIBAT HUKUM ATAU PERISTIWA YANG MENGAKIBATKAN TIMBUL ATAU LENYAPNYA

HAK DAN KEWAJIBAN

A. PERBUATAN SUBJEK HUKUM (MANUSIA) 1. MERUPAKAN PERBUATAN HUKUM

PERBUATAN YANG OLEH PERATURAN HUKUM DIKAITKAN DENGAN TIMBUL ATAU LENYAPNYA

HAK/KEWAJIBAN

a. PERBUATAN SEPIHAK

HANYA MENGANDUNG PERNYATAAN KEHENDAK DARI SATU SUBJEK HUKUM (SEORANG) SAJA UNTUK

TIMBULYA AKIBAT HUKUM

(28)

A. PERBUATAN SUBJEK HUKUM (MANUSIA) 1. MERUPAKAN PERBUATAN HUKUM

b. PERBUATAN HUKUM GANDA

TERJADI KARENA ADANYA PERSESUAIAN DARI DUA SUBJEK HUKUM ATAU LEBIH

EX: PERJANJIAN, PENDIRIN CV, PT, DLL

2. BUKAN MERUPAKAN PERBUATAN HUKUM a. PERBUATAN YANG OLEH PERATURAN HUKUM DIHUBUNGKAN DENGAN SUATU AKIBAT DI LUAR KEHENDAK ORANG YBS, TIDAK PEDULI APAKAH

AKIBAT ITU DIKEHENDAKI ATAU TIDAK

EX: PERBUATAN MENGURUSI KEPENTINGAN ORANG LAIN TANPA DIMINTA OLEH ORANG YANG

(29)

2. BUKAN MERUPAKAN PERBUATAN HUKUM

b. PERBUATAN MELAWAN (ONRECHTMATIGEDAAD)

SUATU PERBUATAN YANG OLEH PERATURAN HUKUM DIIKATKAN DENGAN SUATU AKIBAT, YAITU UNTUK

MEMBAYAR GANTI KERUGIAN YANG DIAKIBATKAN OLEH PERBUATAN ITU

EX: PASAL 1365 KUHPdt.

TERDAPAT PERLUASAN PENGERTIAN

ONRECHTMATIGEDAAD (PERBUATAN MELANGGAR UNDANG-UNDANG) DASAR: PUTUSAN HOGE RAAD BELANDA 31 JANUARI 1919 (LINDENBOUN COHEN ARREST) PERBUATAN

MELAWAN HUKUM: BERBUAT ATAU TIDAK BERBUAT SESUATU (MELALAIKAN SESUATU) YANG:

1. MELANGGAR HAK ORANG LAIN;

2. BERTENTANGAN DENGAN KEWAJIBAN HUKUM DARI ORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN ITU;

3. BERTENTANGAN DENGAN KESOPANAN MAUPUN ASAS-ASAS PERGAULAN MASYARAKAT MENGENAI KEHORMATAN

(30)

B. BUKAN PERBUATAN SUBJEK HUKUM 1. KELAHIRAN:

MERUPAKAN PERISTIWA YANG OLEH PERATURAN HUKUM DIHUBUNGKAN DENGAN TIMBUL DAN

LENYAPNYA HAK DAN KEWAJIBAN. DENGAN LAHIRNYA ANAK, KEDUA ORANG TUA WAJIB MEMELIHARA DAN

MENDIDIK ANAKNYA SEBAIK MUNGKIN SAMPAI

DEWASA. DAN MUNCULNYA KEWAJIBAN ALIMENTASI (PS.45 S/D 49 UU NO.1 T 1974)

2. KEMATIAN:

MERUPAKAN PERISTIWA YANG OLEH PERATURAN HUKUM DIHUBUNGKAN DENGAN TIMBUL DAN

LENYAPNYA HAK DAN KEWAJIBAN.

DENGAN KEMATIAN ORANG TUA, MAKA SEMUA AHLI WARIS BERHAK ATAS HARTA PENINGGALAN YANG ADA, DAN MEREKA WAJIB MEMBAGI SESUAI DENGAN NORMA

(31)

B. BUKAN PERBUATAN SUBJEK HUKUM

3. DALUWARSA (VERJARING)

DENGAN LAMPAUNYA WAKTU TERTENTU OLEH PERATURAN HUKUM DIHUBUNGKAN DENGAN

TIMBULNYA ATAU LENYAPNYA HAK DAN KEWAJIBAN.

DALUWARSA ADALAH SUATU UPAYA UNTUK

MEMPEROLEH SESUATU ATAU UNTUK DIBEBASKAN DARI SUATU PERIKATAN DENGAN LEWATNYA

SUATU WAKTU TERTENTU DAN SYARAT-SYARAT YANG TELAH DITENTUKAN OLEH UNDANG-UNDANG

(32)

3. DALUWARSA (VERJARING)

a. DALUWARSA AKUISITIF

(AQUASITIEF VERJARING)

DALUWARSA SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPROLEH HAK MILIK ATAU HAK-HAK LAINNYA, DENGAN

SYARAT-SYARAT TERTENTU KARENA LEWAT WAKTU (PASAL 1963 KUHPdt).

3. DALUWARSA (VERJARING)

b. DALUWARSA EKSTINKTIF

(EXTINCTIEF VERJARING)

DALUWARSA SEBAGAI UPAYA UNTUK DIBEBASKAN DARI SUATU KEWAJIBAN DENGAN SYARAT-SYARAT

TERTENTU KARENA LEWATNYA WAKTUTU (PASAL 1967 KUHPdt). DALUWARSA HUTANG 30TH TIDAK

(33)

KLASIFIKASI HUKUM

1. FUNGSI HUKUM:

1.HUKUM MATERIIL (SUBSTANTIVE LAW) : TERDIRI ATAS PERATURAN-PERATURAN YANG

MEMBERI HAK DAN DAPAT MEMBEBANI KEWAJIBAN

2. HUKUM FORMIL (ADJECTIVE LAW):

HUKUM FORMIL MENENTUKAN BAGAIMANA CARANYA MELAKSANAKAN HUKUM MATERIIL, BAGAIMANA CARANYA MEWUJUDKAN HAK DAN

KEWAJIBAN DALAM HAL TERDAPAT

(34)

KLASIFIKASI HUKUM

2. UJUD ATAU BENTUK HUKUM: 1.HUKUM TERTULIS:

HUKUM YANG DITUANGKAN DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

2. HUKUM TIDAK TERTULIS:

HUKUM KEBIASAAN DAN HUKUM ADAT

3. WILAYAH BERLAKUNYA HUKUM:

1.HUKUM NASIONAL:

HUKUM YANG BERLAKU PADA SUATU WILAYAH NEGARA TERTENTU

2. HUKUM INTERNASIONAL:

HUKUM YANG MENGATUR HUBUNGAN-HUBUNGAN HUKUM YANG TERJADI DALAM

(35)

KLASIFIKASI HUKUM

4. ISI ATAU KEPENTINGAN HUKUM :

1.HUKUM PUBLIK:

HUKUM YANG OBJEKNYA KEPENTINGAN UMUM, ATAU DAPAT DIKATAKAN SEBAGAI ATURAN HUKUM YANG MENGATUR HUBUNGAN ANTARA NEGARA DENGAN PERSEORANGAN ATAU

HUBUNGAN ANTARA NEGRA DENGAN ALAT PERLENGKAPANNYA.

EX: HTN, HTP, HK PIDANA, HUKUM ACARA PIDANA

2. HUKUM PRIVAT:

HUKUM YANG OBJEKNYA KEPENTINGAN KHUSUS, ATAU KEPENTINGAN PERSEORANGAN, ATAU DAPAT DIKATAKAN

SEBAGAI ATURAN HUKUM YANG MENGATUR HUBUNGAN PERSEORANGAN ANTARA ORANG YANG SATU DENGAN ORANG

(36)

KLASIFIKASI HUKUM

5. SAAT ATAU MASA BERLAKUNYA HUKUM :

1.IUS CONSTITUTUM:

HUKUM YANG TELAH DITETAPKAN, ATAU HUKUM YANG BERLAKU SEKARANG ATAU DISEBUT JUGA SEBAGAI HUKUM

POSITIF. HUKUM POSITIF ADALAH HUKUM YANG BERLAKU SAAT INI DI SUATU TEMPAT ATAU NEGARA

2. IUS CONSTITUENDUM:

HUKUM YANG MASIH HARUS DITETAPKAN ATAU HUKUM YANG AKAN DATANG ATAU HUKUM YANG DICITA-CITAKAN.

6. SIFAT ATAU DAYAKERJANYA HUKUM :

1.MENGATUR (REGELEND RECHT):

HUKUM YANG DALAM KEADAAN KONKRIT DAPAT

DIKESAMPINGKAN OLEH PERJANNJIAN YANG DIBUAT OLEH PARA PIHAK

2. MEMAKSA (DWINGEND RECHT):

HUKUM YANG DALAM KEADAAN KONKRIT TIDAK DAPAT DIKESAMPINGKAN OLEH PERJANNJIAN YANG DIBUAT OLEH

(37)

KLASIFIKASI HUKUM

7. LUAS BERLAKUNYA HUKUM :

1.HUKUM UMUM (IUS GENERALE):

HUKUM YANG YANG BERLAKU UMUM ATAU BERLAKU BAGI SETIAP ORANG

2. HUKUM KHUSUS (IUS SPECIALE):

HUKUM YANG BERLAKUNYA KHUSUS UNTUK HAL-HAL

TERTENTU SAJA ATAU BERTALIAN DENGAN SEGI TERTENTU BERKAITAN DENGAN HAL TERSEBUT DI ATAS DIKENAL DENGAN ASAS “LEX SPECIALIS DEROGAT LEGI GENERALE”

(38)

BEBERAPA ASAS HUKUM BILA TERJADI KONFLIK HUKUM

“LEX SPECIALIS DEROGAT LEGI GENERALE”

(HUKUM YANG KHUSUS MENGESAMPINGKAN HUKUM YANG UMUM) EX: KUHD TERHADAP KUHPdt.

“LEX POSTERIORI DEROGAT LEGI PRIORI”

(HUKUM YANG KEMUDIAN MENGESAMPINGKAN HUKUM YANG TERDAHULU) EX: UU PENGADILAN ANAK TERHADAP KUHP

“LEX SUPERIOR DEROGAT LEGI INFERIORI”

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...