MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PpEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) (mardani)

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS

(STAD)

Mardani SMP N 3 Segeri

ABSTRAK

Artikel ini mengemukakan tentang kegiatan siswa ketika mereka belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kelompok tipe STAD. Pengamatan dilakukan pada satu kelas (kelas IX semester 2 tahun ajaran 2010/2011) tempat ujicoba perangkat pembelajaran Model Kooperatif tipe STAD yang dilakukan oleh guru model. Data dikumpulkan melalui observasi kelas pada saat siswa bekerja kelompok. Hasil observasi tentang 1) kemampuan guru melakukan kegiatan pembelajran, 2) aktivitas siswa ketika pembelajaran bberlangsung, 3) Respon siswa terhadap penerapan Model Kooperatif tipe STAD, 4) hasil belajar siswa berupa hasil bekajar kognitif dan hasil belajar kelompok dengan menggunakan LKS. Ketiga pengamatan tersebut mengarah pada hasil memberikan dampak positif terhadap kegiatan pembelajaran. Kegiatan belajar kelompok memungkinkan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru akan tetapi guru kadang-kadang tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan bimbingan terhadap setiap kelompok yang memiliki kesulitan berbeda-beda.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Kesulitan belajar, Kooperatif, Tipe STAD

PENDAHULUAN

(2)

berhasil untuk sebagian siswa saja sedangkan siswa lain tetap dengan pikiran bahwa mata pelajaran matematika itu menakutkan dan memusingkan.

Dari pengematan sebagian siswa merasa matematika itu menakutkan dan memusingkan karena siswa takut dan pusing tidak bisa menjawab soal serta malu untuk meminta bantuan pada teman ataupun guru, untuk menyikapi hal ini guru melakukan pendekatan dengan memberikan tugas berpasangan dan hasilnya adalah siswa yang berpasangan dengan siswa yang memiliki intelegensi di atas rata-rata mampu menyelesaikan soal dengan baik sedangkan pasangan siswa yang keduanya memiliki intelegensi yang dibawah rata-rata akan kesulitan menyelesaikan soal. Hal ini menjadi momok tersendiri karena perbandingan siswa yang memiliki intelegensi yang di atas rata dengan yang dibawah rata-rata sangan berbeda jauh. Oleh karena itu dikembangkan pendekatan dengan memberikan soal secara berkelompok dengan tingkat intelegensi yang siswa yang homogen dengan catatan bahwa tiap kelompok memiliki satu siswa komando yang mampu membantu siswa lain, tugas diberikan setiap kelompok akan tetapi penilaian dilakukan perkelompok dan perindividu sehingga setiap siswa harus mampu mejawab soal dengan baik dengan cara berdiskusi dengan teman kelompok. Model pembelajaran yang tepat sesuai dengan keadaan di atas adalah medel pembelajaran Kooperatif.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pengajaran kooperatif memiliki ciri-ciri:

(3)

aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.

Dalam buku Ricard, 2008 dikemukan bahwa langkah-langkah model pengajaran kooperatif berupa proses demokrasi dan peran aktif siswa di kelas sangat menonjol dibandingkan dengan model-model pengajaran yang lain.

Salah satu bentuk pembelajaran dengan model Kooperatif adalah student teams-achievement divisions (Tim Siswa Kelompok Prestasi), pada tipe ini siswa dibuat berkelompok kemudian masing-masing kelompok mendapatkan tugas dari guru, dalam satu kelompok harus saling berinteraksi karena kerja sama lebih dominan, anggota kelompok harus dipastikan telah paham kemudian bisa mempresentasekan hasil diskusi. Jika masih ada yang belum paham maka persentase harus ditunda. Aggota kelompok yang mewakili ditunjuk secara acak sehingga semua anggota kelompok harus memahami dengan baik permasalahan dan penyelesaian hasil diskusi

Menurut SLAVIN, 1995, Langkah-langkah : 1) Membentuk kelompok yang anggotanya + 4 orang secara heterogen (prestasi, jenis kelamin, suku, dll), 2) Guru menyajikan pelajaran, 3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok, 4) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, 5) Memberi evaluasi dan Kesimpulan.

Pada tipe ini siswa yang mewakili kelompok untuk menyelesaikan soal akan menyajikan persentasenya di papan tulis tanpa bantuan teman kelompok dan tanpa buku catatan sehingga semua siswa yang harus paham betul materi/soal karena siswa yang mewakili kelompok dipilih secara aca oleh guru dan hasilnya akan menjadi penilaian kelompok. Jadi pada tipe ini setiap anggota kelompok harus bekerja sama dan saling membantu dalam pemahaman materi/soal.

(4)

METODE PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah siswa-siswa kelas IX SMP Negeri 3 Segeri Pangkep yang tercatat sebagai siswa pada tahun pelajaran 2010/2011, yang banyaknya 16 orang. di Jalan Manjelling Kelurahan Bone Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam kurun waktu dua siklus, yakni siklus I dan siklus II, yang masing-masing ditempuh dalam tiga pertemuan

Data penelitian ini adalah (1) kemampuan guru melaksanakan tindakan atau mengelola pembelajaran Kooperatif, (2) persentase siswa aktif pada aktivitas belajar matematika model kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions, dan (3) Respon siswa terhadap penerapan Model Kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions serta (4) Hasil belajar matematika siswa, yang mencakup hasil belajar yang bersifat kognitif, motorik, dan hasil belajar yang bersifat afektif.

Data hasil observasi berupa kemampuan mengajar guru dan aktivitas siswa dianalisis secara kualitatif sedangkan data mengenai hasil belajar siswa yang terdiri dari hasil belajar kognitif dan kelompok dianalisis secara kuantitatif. Pada indikator kinerja kemampuan guru melakukan tindakan pembelajaran (KMP) ditentukan dengan menggunakan criteria yang diadaptasi dari Nurdin, (2007:156) yaitu guru dinyatakan mampu melakukan tindakan pembelajaran apabila rata-rata minimal tindakan pembelajaran guru dalam kategori tinggi, seedangkan indikator kinerja aktivitas belajar siswa mengacu pada criteria ketuntasan hasil belajar motorik yang melibatkan aktivitas fsik, mental, dan social dalam belajar, sebagaimana dikemukakan oleh Mulyasa (2003:101) yiatu persentase siswa aktif pada aktivitas belajar sesuai tahapan pembelajaran dengan rata-rata minimal 75% siswa aktif pada sepanjang proses pembelajaran pada suatu siklus.

data respon siswa

terhadap pembelajaran matematika dapat dideskripsikan

bahwa terdapat minimal 12 siswa atau 75% siswa

memberikan respon minimal positif terhadap kegiatan

pembelajaran matematika yang menerapkan model

Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division

yang

(5)

Siswa dinyatakan tuntas belajar (kognitif) apabila rata-rata penilaian semua indicator yang diukur minimal sebesar 60. Kriteria ini sesuai dengan KKM pada KTSP SMP Negeri 3 Segeri, khususnya pada indicator-indikator yang materinya menjadi materi ajar ketika penelitian dilakukan. Batasan minimal ketuntasan tersebut berdasarkan penilaian yang dilakukan secara individual. Indikator keberhasilan hasil belajar kelas dinyatakan tuntas belajar menurut Mulyasa, (2003:99) apabila minimal 85% siswa mencapai ketuntasan minimal.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penenliti diperoleh bahwa:

1.

Kemampuan guru melakukan kegiatan pengajaran pada siklus I dan siklus II diperoleh secara rata-rata dalam kategori tinggi yaitu 3,52 dan 4,10 dengan rincian sebagai berikut: Pada kegiatan awal dengan rata-rata hasil pengamatan sebesar 3,83 dan 4,17 termasuk dalam kategori tinggi. Kegiatan inti dengan rata-rata hasil pengamatan sebesar 3,82 dan 4,07 termasuk dalam kategori tinggi, dan kegiatan akhir dengan rata-rata hasil pengamatan sebesar 2,42 dan 3,92, serta aspek umum dengan rata-rata sebesar 4,0 dan 4,52 dalam kategori tinggi.

2.

Aktivitas siswa pada tiap siklus diperoleh rata-rata nilai aktivitas siswa sebesar 56,78% dan 82,83%. Pada kegiatan awal dengan rata-rata hasil pengamatan sebesar 61,31% dan 72,63%, kegiatan inti dengan rata-rata hasil pengamatan sebesar 52,30% dan 84,95%, kegiatan akhir dengan rata-rata hasil pengamatan sebesar 28,38% dan 79,5% serta aspek umum dengan rata-rata sebesar 85,13 dan 94,38%.

(6)

4.

Hasil belajar kognitif tiap siklus mencapai rata-rata pencapaian hasil belajar sebesar 73,13 dan 86 dengan standar deviasi 19,14 dan 15,39, persentase ketuntasan 68,75% dan 87,50%.

PEMBAHASAN

Mempelajari perkembangan hasil analisis dan interpretasi data semua faktor yang diteliti dari siklus I ke siklus II, dan dengan memperhatikan data awal tentang pelaksanaan pembelajaran matematika pada kelas subjek penelitian, maka beberapa tinjauan dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Terdapat peningkatan pelaksanaan pembelajaran matematika dari sebelum dilaksanakan diadakan perbaikan pelaksanaan pembelajaran dengan sesudah dilaksanakan pembelajaran pada siklus I. Begitu pula terdapat peningkatan pelaksanaan pembelajaran matematika dari siklus I ke siklus II, yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata skor hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran dari 3,52 menjadi 4,10. Walaupun dalam kualifkasi yang sama, yakni kategori tinggi. Adanya peningkatan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor perencanaan pembelajaran yang dipersiapkan sebelumnya. Ketersediaan perangkat pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif sangat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran dan tentunya adalah hasil-hasilnya. Tersedianya perangkat pelaksanaan tindakan yang memadai menjadi bentuk kesiapan guru melakukan tindakan pembelajaran dan akan memudahkan guru melaksanakannya di kelas yang diperbaiki masalah pembelajarannya.

(7)

berarti peningkatan pelaksanaan pembelajaran yang didukung oleh peningkatan perencanaan yang mantap berdampak pada peningkatan siswa aktif pada aktivitas belajar siswa.

3. Meningkatnya siswa aktif pada aktivitas belajar siswa ditunjukkan pula pada dampaknya dalam mengerjakan tugas-tugas belajar kelompok yang dirancang dalam LKS, yakni hasil belajar penemuan siklus I dengan rata-rata 77,66, jangkauan 17,5 (minimum 68,7 dan maksimum 86,25) dan hasil belajar kelompok siklus II dengan rata-rata 85,63 pada jangkauan nilai 21,25 (minimum 73,75 dan maksimum 95,25). Peningkatan hasil belajar kelompok ditunjukkan juga oleh penurunan standar deviasi dari 5,74 siklus I menjadi 5,65 siklus II. Ini menunjukkan peningkatan ada peningkatan rata-rata dan homogenitas data hasil belajar kelompok siswa walaupun peningkatannya sangat minimum.

4. Peningkatan penerapan pembelajaran penemuan (KMP) dari siklus I ke siklus II, yang berdampak pada peningkatan siswa aktif pada aktivitas belajar siswa (AS) dari siklus I ke siklus II, yang diiringi dengan peningkatan hasil belajar kelompok (HBK) dari siklus I ke siklus II, berdampak pula pada peningkatan hasil belajar matematika siswa yang diperoleh melalui test akhir pertemuan setiap siklus, yaitu rata-rata sebesar 71,44 siklus I dan rata-rata sebesar 88,38 siklus II. Persentase ketuntasan sebesar 69% (11 orang siswa) siklus I dan persentase ketuntasan kelas sebesar 94,00% (14 orang siswa) siklus II.

5. Indikasi peningkatan hasil belajar sebagai dampak pelaksanaan tindakan pembelajaran yang menerapkan pembelajaran penemuan dapat dilihat juga dari hasil belajar yang bersifat afektif, yang diperoleh dari penilaian diri siswa atau respon siswa terhadap partisipasi dan pengalaman belajarnya sepanjang pertemuan pembelajaran matematika yang menerapkan Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division. Indikasi itu adalah sebanyak 13 orang (81,25% siswa) memberikan respon positif dan sagat positif pada akhir siklus I, dan sebanyak 14 orang (87,50% siswa) memberikan respon positif pada akhir siklus II.

(8)

pembelajaran matematika yang sudah dilakukan, yang perlu dipertahankan, dan pertanyaan yang meminta saran dan masukan demi perbaikan pembelajaran matematika.

Melihat fakta-fakta hasil penelitian di atas, nampak bahwa perbaikan masalah pembelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP Negeri 3 Segeri yang ditempuh melalui pembelajaran matematika yang menerapkan model Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division berdampak positif pada beberapa aspek pembelajaran, yakni banyak siswa aktif dalam aktivitas belajar matematika dan hasil-hasil belajar matematika, baik yang bersifat kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ini berarti bahwa pembelajaran matematika yang menerapkan model Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division pada kelas IX SMP Negeri 3 Segeri yang dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, secara empiris menunjukkan dampak yang efektif pada peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa.

KESIMPULAN

Memperhatikan simpulan hasil penelitian di atas, berikut dapat diajukan saran-saran berkaitan dengan hasil penelitian ini.

1.

Kemampuan guru melakukan tindakan pembelajaran matematika yang menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division pada kela IX SMP Negeri 3 Segeri dalam kategori tinggi, yaitu rata-rata sebesar 3,52 pada siklus I dan 4,10 pada siklus II.

2.

Siswa aktif pada aktivitas belajar matematika yang menerapkan dalam kategori cukup aktif atau aktif, dengan rata-rata sebesar 50,8% dan 75,4% pada siklus I dan siklus II dan aktif pada siklus II.

(9)

4.

Penerapan Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 3 Segeri.

Daftar Pustaka

Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Arends, R. 2008. Lerning To Teach (Belajar Untuk Mengajar). Yokyakarta: Pustaka Belajar

Depdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ginnis,P. 2008. Trik dan taktik Mengajar. Jakarta.:PT. Indeks A sobel, M. 2001. Mengajar Matematika. Jakarta: Erlangga Hadis, A. 2006. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Hasanuddin. 2002. Afeksi Kesulitan Belajar Matematika Dikaitkan dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri 3 Polewali Kabupaten Polewali Mamasa. Skripsi. Makassar: UNM

Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.Ismail. 1998. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka.

Makmun, A. S. 2000. Psikologi Kependidikan. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya

Muhkal, Mappaita. 2005. Pengembangan Program Pembelajaran Matematika. Makassar: Jurusan Matematika FMIPA UNM.

Nurdin. 2007. Model Pembelajaran Matematika yang Menumbuhkan Kemampuan Metakognitif untuk Menguasai Bahan Ajar. Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA

Porter, Bobby De & Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Kaifa. Bandung.Ruseffendi, E. T. 1988. Pengantar Kepada Guru Mengembangkan Kompetensinya Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.

(10)

Suherman, E. dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Tim Kurikulum 2004. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan

Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Trisdyanto. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Materi Bangun

Ruang Sisi Lengkung Berbasis Konstruktivistik. Tesis tidak diterbitkan. Makassar: PPs UNM Makassar.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...