• Tidak ada hasil yang ditemukan

stratifikasi sosial kekuasaan dan wewena (5)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "stratifikasi sosial kekuasaan dan wewena (5)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Muhammad Fajrul Amin Mutalis Kelas : Sosiologi 3B

NIM : 1112111000043

Ujian Akhir Semester

Perempuan dan Kelas

PENDAHULUAN

Jika kita berbicara mengenai kelas maka kita akan terfokus kepada membedakan kedudukan antara satu dengan lainnya. Kedudukan seseorang dalam masyarakat pastilah berbeda-beda, tergantung dari faktor apa suatu masyarakat tersebut memandang kedudukan seseorang sehingga dapat dinilai berkedudukan tinggi ataupun rendah. Dalam kaitannya dengan kelas, topik yang akan dibahas ialah mengenai perempuan dan hubungannya dengan kelas. Jika kita melihat fenomena yang terjadi dalam banyak masyarakat dimanapun termasuk di Indonesia sendiri, kedudukan antara laki-laki dan perempuan pastilah berbeda. perbedaan tersebut terjadi di dalam lingkup pekerjaan, dalam kekuasaan atau ranah politik, di dalam lingkup keluarga, dan dalam ruang-ruang publik lainnya yang selalu menekankan kedudukan seorang perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Ketidaksetaraan gender tersebut sudah terjadi sejak dahulu dan tertanam di dalam masyarakat hingga kini. Walaupun sekarang ini ketidaksetaraan gender sudah mulai berkurang namun perlu kita ketahui apa yang menciptakan terjadinya ketidaksetaraan tersebut. Nilai, norma, dan budaya yang membentuk masyarakat merupakan faktor yang menciptakan pandangan maupun persepsi masyarakat terhadap gender itu sendiri. Pandangan dan persepsi tersebut muncul karena penanaman nilai, norma, dan budaya yang berlangsung selama bertahun-tahun serta terus menerus dan pengaplikasian melalui sekolah, keluarga, media massa, dan pergaulan lingkungan sekitar sehingga membentuk pandangan mengenai gender dianggap sebagai sesuatu yang “wajar”. Dan ketidaksetaraan gender ini berada baik dalam masyarakat kelas atas, menengah, maupun kelas bawah.

(2)

A. Pengaruh Agama terhadap Ideologi Gender

Agama mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk pandangan masyarakat, termasuk pandangan dalam gender. Agama juga bisa menjadi faktor terhadap munculnya ketidaksetaraan gender. “potensi ketidakadilan itu bukan bersumber dari prinsip agama, melainkan karena proses perkembangan agama yang di dominasi oleh budaya patriarkhat” (A. Nunuk P. Murniati, 2004, h. 3).

Faktor biologis dan sosiologis memang saling berkaitan dan mempengaruhi. Perbedaan memang pada dasarnya bersifat alamiah. Lalu dengan pengaruh kebudayaan, hidup manusia dikembangkan, direkayasa, dipaksa, dicegah, atau bahkan diberlakukan secara berlawanan dengan sifat alamiah yang ada. Manusia yang sudah sejah lahir diberikan identitas oleh orang tuanya, dengan pembelajaran yang diberikan, manusia dapat membedakan jenis laki-laki dan perempuan. Selain itu juga dikaitkan dengan fungsi dasarnya dan kesesuaian pekerjaannya. Maka, dari proses belajar ini muncul teori gender yang dijadikan landasan berfikir dan pedoman hidup yang menjadikannya sebuah ideologi. Dalam kehidupan masyarakat yang berbudaya, diciptakanlah aturan-aturan yang dibuat oleh manusia untuk mengatur hubungan antar manusia maupun dengan Tuhan. Dan agama adalah salah satu wujud dari kebudayaan manusia (A. Nunuk P. Murniati, 2004).

Di dalam Islam oleh sebagian kalangan, penafsiran terhadap Al-Qur’an dan Hadis terutama yang berkaitan dengan kedudukan dan peran antara perempuan dan laki-laki cenderung membuat laki-laki lebih superior dibandingkan dengan perempuan walaupun sebagian lainnya berpendapat lain dan dalam perkembangannya sekarang ini masih mengalami perdebatan. Dalam Surah An-Nisa misalnya, yang banyak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan, kedudukan, peran, serta hukum terhadap hak-hak perempuan. Azizah al-Hibri, dkk (2001) menerangkan jika dilihat dari kenyataan yang ada, bahwa posisi laki-laki atas perempuan bersifat relatif dan jika superioritas kaum laki-laki atas perempuan dalam Alquran dan masyarakat bersifat relatif, menyebabkan lahirnya para ahli tafsir Alquran yang memberikan nuansa baru yang lebih condong pada nilai-nilai kesetaraan dan kebebasan kaum wanita dalam berperan di segala bidang kehidupan.

(3)

perempuan yang telah menikah. Dari tradisi yang terdapat di dalam agama Hindu menggambarkan bahwa perempuan tidak bisa mandiri, karena jika ingin menjadi perempuan yang ideal mereka diberikan tanggung jawab dan tugas yang berat. Dalam contoh lainnya yaitu pada agama Yahudi yang tradisinya juga diterapkan dalam agama Kristen dan Katolik. “dalam Kitab Kejadian disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sama, namun manusia juga mempunyai orientasi duniawi, manusiawi, rapuh, lemah, dan saling ketergantungan. Manusia dapat jatuh ke dalam dosa, status perempuan dijadikan subjek penyebab dosa, sehingga dihukum dengan kesakitan waktu melahirkan dan dikuasai laki-laki” (A. Nunuk P. Murniati, 2004, h. 9). Hukum-hukum tersebut semakin tidak manusiawi dan menimbulkan ketidakadilan. Tradisi ini masih diteruskan sampai sekarang ini.

Dari beberapa contoh ajaran agama menggambarkan budaya patriarki yang dilegalkan oleh manusia dengan mengatasnamakan ajaran agama sehingga menyebabkan adanya ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan yang seolah menjadi sah, telah menjadi kodrat, dan akan mendapat hukuman jika dilanggar. Hal ini terjadi di dalam masyarakat pada semua lapisan sosial baik kelas atas hingga kelas bawah.

B. Keluarga dan Posisi Perempuan

Keluarga merupakan sebuah organisasi yang didalamnya terdiri dari suami, istri, dan adanya anak ataupun juga tidak. Diikat oleh pernikahan sehingga hubungan diantara keduanya menjadi sah. Di dalam sebuah keluarga pastinya menempati posisi dan mempunyai tugas dan perannya masing-masing. Namun di dalam keluarga tersebut bisa terjadi sebuah ketidakadilan yang menyebabkan ketidakbahagian, penindasan, kekerasan, dan lain sebagainya yang kebanyakan perempuanlah yang menjadi korbannya. Di dalam suatu masyarakat sudah mengakar dalam pembagian tugas dan tanggung jawab sangat erat dikaitkan dengan jenis kelamin. Imbasnya ialah dapat mengakibatkan munculnya ketidakadilan di dalam berbagai bidang. Persepsi masyarakat yang demikian menciptakan konstruksi stereotip atau pelebelan yang mengundang ketidaksetaraan dan menyebabkan tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki tidak dapat bebas mengembangkan diri.

(4)

untuk melakukan hal itu. Dalam hal lainnya seperti labeling yang mengharuskan suami sebagai kepala keluarga, yang pada kenyataanya tidak jarang pula sebuah keluarga menjadi berantakan karena tuntutan terhadap laki-laki yang harus menjadi kepala keluarga. Ini dikarenakan tidak semua laki-laki mampu menjadi pemimpin dan mengorganisasikan keluarga. Suami yang berumah tangga karena ia di PHK atau memang tidak bekerja menjadi terlihat rendah dimata orang lain dan membuat sang suami merasa dirinya tidak berguna. Ditambah lagi jika sang istri yang bekerja dan mempunyai penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarga. Hal itu dapat mengundang situasi yang tidak mengenakan atau masalah dalam keluarga (A. Nunuk P. Murniati, 2004).

Apa sebenarnya peran dan tugas perempuan yang secara biologis berbeda dengan laki-laki, begitu pula dalam hal psikologis juga berbeda. perempuan masih dipandang sebagai pribadi hanya dari sudut biologisnya saja belum sebagai biopsikis. A. Nunuk P. Murniati (2004) menjelaskan suatu variasi perilaku perempuan merupakan gabungan antara fakta biologis dan fakkta psikisnya kurang dipandang. Stereotip telah banyak mempengaruhi cara pandang terhadap laki-laki dan perempuan yang merupakan akibat dari budaya patriarki. Di Indonesia sendiri perempuan masih belum diberi kebebasan untuk menentukan kariernya sendiri, dan masih didorong untuk berperan penuh pada sektor domestik saja (urusan rumah tangga). Hal ini menggambarkan pembatasan peran perempuan pada sektor publik karena dapat kita lihat pada konsep-konsep yang ditentukan pemerintah yang memposisikan perempuan sebagai subordinasi laki-laki. Kecenderungan politik pembangunan bangsa Indonesia masih menganut ideologi gender walaupun terdapat undang-undang yang menyebutkan tidak menoleransi diskriminasi perempuan, namun pada praktiknya masih sangat bertolak belakang.

(5)

C. Perempuan dan Hukum di Indonesia

Sebelum kita masuk dalam hukum di Indonesia yang lebih tepatnya akan membahas pokok-pokok dari hukum keluarga yang ada, kita akan melihat pada era abad ke 17-19 mengenai hukum-hukum yang berlaku pada saat itu. Cherlin (2005) dalam bukunya Public and Private Famillies : an Introduction menggambarkan pada saat itu hak-hak kaum wanita cenderung kurang diprioritaskan dibandingkan dengan kaum lelaki yang terkesan memihak salah satu saja. Pada era tersebut hukum menganggap urusan keluarga merupakan urusan individu dan tidak termasuk dalam ranah publik. Apabila terjadi kekerasan dalam rumah tangga, maka negara tidak dapat ikut campur dalam membantu menyelesaikan masalah. Hal itu mengakibatkan banyak perempuan pada saat itu menderita kekerasan yang dilakukan oleh suaminya. Dan pada abad ke 20 kaum perempuan mengangkat masalah kekerasan dalam rumah tangga kedalam ranah hukum dan politis. Akhirnya perjuangan kaum perempuan khususnya para kaum feminis membuahkan hasil dimana hak-hak kaum perempuan telah setara dengan pria. Dan menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan di mata publik dan hukum.

Di Indonesia sendiri terdapat undang-undang yang mengatur hukum keluarga yaitu pada UU no. 1/1974 yang didalamnya mengatur tentang kesamaan kedudukan suami dan istri, harta bersama, pemeliharaan anak, perceraian dan kewarisan. Pengaturan dalam bidang-bidang ini juga terdapat pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berbunyi pada pasal 1: perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketentuan Yang Maha Esa. Untuk mewujudkantercapainya tujuan perkawinan tersebut, terdapat pula pasal yang mengatur hak dan kewajiban suami dan istri. Yaitu pada (bab VI), pasal 30 s/d 34, sebagai berikut:

Pasal 30 : suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Pasal 31: 1) hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. 2) masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum. 3) suami adalah kepala rumah tangga dan istri ibu rumah tangga.

Pasal 32: 1) suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap. 2) rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat 1) ini ditentukan oleh suami isteri bersama (Busthanul Arifin, dkk, 2001, 101-103).

(6)

perempuan dalam hukum yang berlaku akan merefleksikan status dan kedudukannya dalam masyarakat.

D. Perempuan dalam Lingkup Tenaga Kerja

Dalam kaitannya perempuan dengan lingkup pekerjaan maka itu tergantung sekali di kelas mana ia berada. Jika pada kelas atas dan kelas menengah perempuan bekerja cenderung lebih kepada untuk mengmbangkan dirinya atau pengembangkan kariernya dan bisa juga untuk mendapatkan prestise pada dirinya, bukan untuk memebuhi kebutuhan ekonomi keluarga atau semacamnya. Karena kebutuhan keluarga dan yang lainnya sudah dapat dipenuhi oleh suaminya. Tanpa bekerja pun perempuan pada kelas atas dan menengah, sudah dapat terpenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya dari sang suami. Sehingga pola relasi gendernya akan tetap yaitu laki-laki atau suami lah yang lebih dominan. Lain halnya dengan kelas bawah yang di dalam keluarganya sang istri juga ikut bekerja atau malah istrilah yang menjadi tulang punggung keluarga. Hal tersebut bisa membuat pala relasi gender akan berubah menjadi perempuan mempunyai kekuasaan lebih dari suami di dalam kelarga. “data dan fakta menunjukan bahwa perempuan yang telah berkeluarga mencari nafkah karena: kemampuan yang dimiliki sejak masih gadis, kebutuhan rumah tangga, tersedianya peluang, lingkungan yang mendukung” (Eris Arifin Mundayat, dkk, 2008, h. 189).

Untuk perempuan yang bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka tetap tidak akan terlepas dari tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan lainnya sehingga perempuan mempunyai beban ganda dan kebanyakan laki-laki hanya mengemban tugas sebagai pencari nafkah saja. Upah yang rendah yang diterima oleh perempuan yang bekerja misalnya pada sebuah pabrik rokok tidak terlepas dari sebuah anggapan “bahwa konstruksi gender yang menganggap laki-laki “harus” dinilai dengan pekarjaan fisik yang berat; kerja perempuan dengan keteliti dan kecermatan dinilai lebih ringan dari laki-laki dan prempuan bukan pencari nafkah utama dalam rumah tangga” (Eris Arifin Mundayat, dkk, 2008, h. 190).

(7)

masyarakat. Konstruksi gender tersebut ada karena pola piker pabrik melulu berorientasi ekonomis dan pola relasi gender dalam masyarakat yang patriarkis (Eris Arifin Mundayat, dkk, 2008, h. 193).

KESIMPULAN

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hibri, Azizah, dkk. WANITA DALAM MASYARAKAT INDONESIA: Akses, Pemberdayaan dan kesempatan,cet.1, Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press, 2001.

Cherlin, Andrew J. Public and Private Famillies : an Introduction. New York : McGraw Hill, 2005.

Mundayat, Aris Arif, dkk. Bertahan Hidup di Desa atau Tahan Hidup di Kota: BALADA BURUH PEREMPUAN, cet. 1, Jakarta: Women Research Institute, 2008.

Referensi

Dokumen terkait

Perkawinan yang terdapat dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yang berisi: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai

Pasal ini menyatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang

Menurut U U No : 1 tahun 1974, Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah

Selanjutnya, menurut hukum perkawinan agama Budha, bahwa perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria sebagai suami dan seorang wanita sebagai

Menurut Pasal 1 butir 1 UU Perkawinan menyebutkan bahwa, “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seoarang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan

Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai

1 tahun 1974 pasal 1 dinyatakan bahwa “perkawinan ialah ikatan lahir batin, antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga rumah tangga