Karakteristik Benua Amerika:
Institusi-institusi Regional Amerika
Diajukan sebagai Syarat untuk Memperoleh Nilai Formatif Semester 6 Mata Kuliah Hubungan Internasional Kawasan Amerika
Disusun oleh:
Alif Daffa Satria Dores (11141130000096)
Allysa Julia Shafira (11141130000065)
Muhammad Aria Kusumawardhana (11141130000094)
Putri Larasati (11141130000043)
Dosen Pengampu:
Rahmi Fitriyanti, M.Si
PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Benua Amerika merupakan suatu wilayah daratan yang terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Atlantik. Benua Amerika termasuk benua terbesar ke-2 di dunia setelah Benua Asia, dengan luas wilayah 42.549.000 km2 (16.428.000 mil2) dan jumlah penduduk 954.000.000 (perkiraan Juli 2013). Benua Amerika terdiri dari 35 negara berdaulat yang secara umum dibagi menjadi 3 wilayah, yaitu Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada, Meksiko), Amerika Tengah (Antiqua, Belize, Dominika, El Savador, Guadelope, Guatemala, Haiti, Kepulauan Grenada, Honduras, Jamaika, Kosta Rika, Kuba, Martinique, Nikaragua, Panama, Puerto Rico, Republik Dominika, Saint Lucia, St. Vincent & Grenadines, Trinidad and Tobago), dan Amerika Selatan (Argentina, Bolivia, Brasil, Cile, Ekuador, Guyana, Guyana Prancis, Kolombia, Paraguay, Peru, Suriname, Uruguay, Venezuela).1
Karakteristik Benua Amerika dalam kaitannya dengan ilmu hubungan internasional dapat dilihat dari adanya hubungan yang terjalin di antara negara-negara di benua ini. Hubungan negara-negara-negara-negara ini biasanya dijalin dengan adanya kerjasama antarnegara. Hubungan kerjasama yang dapat mencirikan karakteristik Benua Amerika ini terceminkan dari interaksi yang tercipta di dalam organisasi internasional di Benua Amerika itu sendiri. Contoh organisasi internasional yang berada di Benua Amerika ini di antaranya, yaitu OAS (Organization of American State), NAFTA (North American Free Trade Area), FTAA (The Free Trade Area of Americas), dan BOAA (Bolivarian Alliance for the Peoples of Our Americ)
atau ALBA.
1 CIA, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/rankorder/2119rank.html,
2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam makalah ini penulis mencoba memaparkan mengenai “Karakteristik Benua Amerika” dengan menggunakan pertanyaan penelitian: “Bagaimana karakter Benua Amerika dapat dijelaskan?” dan “Apakah organisasi-organisasi di kawasan Benua Amerika yang mencerminkan karakter benua ini berjalan dengan efektif?”
3. Kerangka Teoritis
A. Liberalisme
Teorisme liberalisme ialah teori yang memiliki asumsi dasar yang mengutamakan konsep kerjasama dalam menjalin suatu hubungan yang harmonis, dan juga untuk menciptakan tatanan dunia internasional yang stabil atau damai, dan terhindar dari konflik. Terbukti dengan kondisi internasional saat ini di mana negara-negara saling bekerjasama demi hal yang lebih menguntungkan.2
Menurut John S. Mill, seorang pemikir liberal, pasar bebas dapat mengubah pola pikir orang-orang dari yang tadinya berorientasi pada perang dan konflik menjadi berorientasi pada kesejahteraan ekonomi dan kerjasama. Alih-alih berkonflik memperebutkan sumber daya yang terbatas, revolusi industri meningkatkan prospek dari kesejahteraan yang tak terbatas dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk semua; produksi material, asalkan itu bebas dipertukarkan, akan membawa kemajuan manusia.
Dari sisi ekonomi politik, para liberal internasionalis menjunjung tinggi semangat perdagangan. Pemikir liberal seperti Adam Smith berpendapat bahwa tujuan dari aktivitas ekonomi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan semua pihak dan untuk mencapainya dibutuhkan division of labor dan sistem laissez faire yang membebaskan pasar. Dalam sistem laissez faire ini negara berperan untuk melindungi masyarakat dari ancaman luar dan membuat pengaturan terhadap barang publik tertentu. Kebijakan politik luar negeri liberal biasanya
2 Robert Jackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Yogyakarta:
bertujuan untuk menyebarkan pasar bebas dan praktik-praktik perdagangan bebas melalui kerjasama bilateral maupun multilateral.3
B. Neoliberalisme Institusional
Menurut Robert O. Keohane, neoliberalisme institusional merupakan bagian dari aliran institusionalis yang meyakini bahwa struktur dunia yang anarki tidak selalu berujung dengan konflik. Para pemikir neoliberalisme institusional berpendapat bahwa situasi konfliktual dapat diredam dengan adanya suatu instrument yang disebut dengan institusi. Institusi adalah seperangkat ide yang dipahami dan dipatuhi bersama oleh aktor-aktor internasional, sehingga ide tersebut ikut membentuk perilaku mereka. Institusi internasional menurut Keohane dapat dibagi 3 secara garis besar, yaitu norms, agreement, dan regime.4
Beberapa asumsi dasar yang dimiliki oleh neoliberalisme institusional, yaitu struktur internasional berbentuk anarki, aktor utama dari struktur yang anarki tersebut adalah negara, negara menjadi aktor yang rasional: atomistic, profit-seeking, dan strategis, atribut yang dimiliki negara fungsinya sama-sama untuk survival, hal tersebut membuat hubungan internasional menjadi kompetitif dan konfliktual, kondisi kompetitif dan konfliktual tersebut dapat diubah melalui penciptaan institusi, negara-negara kemudian melakukan kerjasama dalam institusi tersebut demi mencapai absolute gain, lalu terciptalah interdependensi atau kesalingtergantungan antarnegara, interdependensi membuat negara-negara menghindari perang karena memilih alternatif yang lebih menguntungkan sehingga terciptalah perdamaian yang lebih sustainable.5
Salah satu bentuk institusi adalah organisasi regional yang biasanya direalisasikan dengan wajah organisasi perdagangan atau ekonomi.6 Neoliberalisme institusional memandang keberadaan organisasi regional sebagai jawaban atas kebutuhan collective action. Institusi ini penting mengingat banyaknya keuntungan yang dapat diberikan kepada negara-negara yang
3 M. Fakir, Bebas dari Neoliberalisme, Yogyakarta: Insist Press, 2003, hlm. 4.
4 Robert O. Keohane, International Institutions and State Power: Essays in International Relations
Theory, Westview, 1989.
5Loc.cit.
tergabung di dalamnya. Pandangan ini kemudian fokus pada pola interaksi strategis yang dilakukan para aktor untuk meningkatkan kerjasama.
Sebenarnya terdapat pandangan lain yang dapat mengkaji institusi dalam wujud organisasi regional, yaitu konstruktivisme yang menitikberatkan pada identitas regional sehingga lebih memandang regionalisme dari tatanan sosial daripada ekonomi. Namun jika melihat konteks regionalisme beberapa kawasan pada saat ini, institusi regional lebih didominasi atau didorong oleh motif ekonomi.7
C. Regionalisme
Menurut Ravenhill, regionalisme merupakan proses formal dari kolaborasi antar pemerintahan dua negara atau lebih. Regionalisme dapat dikategorikan menjadi formal maupun informal. Regionalisme informal dapat dijelaskan melalui rasa keterlibatan di dalam suatu komunitas sosio-kultural yang disebut sebagai identitas. Sedangkan dalam hal formal, regionalisme jika dilihat dari sudut pandang idealis, dibentuk untuk menciptakan keuntungan secara regional dan para anggota mendapat keuntungan yang setimpal.8
Berdasarkan aspek hubungan kerjasama, terdapat tiga tipe utama regionalisme. Yang pertama adalah regionalisme bilateral, yaitu kerjasama oleh dua negara. Lalu ada regionalisme trilateral yang terdiri dari tiga negara yang saling bekerja sama. Dan yang terakhir adalah regionalisme multilateral yang melibatkan banyak negara dalam kerjasamanya. Pada masa ini tidak dipungkiri lagi bahwa regionalisme dapat menjadi jalan keluar saat skema kerjasama internasional tidak berjalan dengan baik, ataupun pendekatan nasional tidak memuaskan. Selain itu juga regionalisme dapat menjadi penghubung antara masalah nasional dan global.
Setidaknya terdapat dua jenis motivasi yang membuat suatu negara mengikuti regionalisme, yaitu motivasi politik dan motivasi ekonomi Dari segi politik, yang membuat negara memilih regionalisme antara lain, untuk memperkuat rasa percaya diri dan sarana membentuk kerjasama ekonomi,
7 Louise Fawcett & Andrew Hurrel, Regionalism in World Politics, Oxford University Press, 2002,
hlm. 7-36.
8 John Ravenhill & Gilbert R, Regionalism: Global Political Economy, Oxford: Oxford University
memperkuat keamanan mereka baik dari segi kemanan tradisional maupun nontradisional, serta meningkatkan bargaining position mereka di level internasional. Selain itu, regionalisme juga dapat menjadi alat untuk memberikan sinyal kepada para investor bahwa mereka mempunyai keinginan untuk mereformasi sistem perekonomian khususnya untuk negara berkembang. Regionalisme juga dipilih oleh suatu negara karena alasan untuk memenuhi konstituensi domestik.
Dari segi ekonomi, negara lebih memilih regionalisme daripada multilateralisme, bilateralisme, maupun unilateralisme karena regionalisme memberikan akses kepada pasar domestik yang lebih besar. Selain itu, regionalisme memberikan kesempatan untuk menarik investor asing, kesempatan untuk terlibat dalam integrasi yang lebih dalam, serta regionalisme memberikan proteksi bagi sektor yang tidak kompetitif di level global.9
Menurut pandangan liberalisme, regionalisme menjadi penting karena (1) meningkatnya interdependensi yang meningkatkan kebutuhan untuk membentuk sebuah institusi kerjasama regional, (2) negara merupakan aktor rational egoist yang dapat diarahkan untuk bekerja sama, (3) regionalisme penting karena keuntungan yang mereka berikan dan karena pengaruh dari kalkulasi para pemainnya dan cara para negara mendefinisikan kepentingannya.10
9Loc.cit.
BAB II
PEMBAHASAN
1. OAS (Organization of American State)
Organisasi pertama yang mencerminkan karakteristik dari Benua Amerika adalah OAS (Organization of American State). Organisasi Negara-negara Amerika atau OAS merupakan organisasi regional tertua di dunia yang berdiri sejak tahun 1948. OAS berkantor pusat di Washington, DC, Amerika Serikat. Saat ini OAS terdiri dari 35 negara merdeka dari Benua Amerika.11
Pada pertengahan 1930-an, Presiden AS Franklin Delano Roosevelt menyelenggarakan konferensi antar-Amerika di Buenos Aires. Salah satu item di konferensi adalah "Liga Bangsa-Bangsa Amerika", sebuah ide yang diusulkan oleh Kolombia, Guatemala, dan Republik Dominika. Dengan hasil kesepakatan negara-negara tersebut untuk bersikap netral dalam perang dunia II. Kemudian setelah itu dilakukan pertemuan secara berkala antara negara-negara di benua Amerika, Konferensi Internasional Kesembilan Negara-negara Amerika diadakan di Bogotá antara Maret dan Mei 1948 dan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat George Marshall, sebuah pertemuan yang disepakati oleh anggota untuk melawan komunisme di Amerika.
Pertemuan tersebut merupakan kelahiran dari OAS, melalui kesepakatan yang ditandatangani oleh 21 negara Amerika (Argentina, Bolivia, Brasil, Chili, Kolombia, Kosta Rika, Kuba, Republik Dominika, Ekuador, El Salvador, Guatemala, Haiti, Honduras, Meksiko, Nikaragua, Panama, Paraguay, Peru, Amerika Serikat, Uruguay, dan Venezuela (Bolivar Republik)) dalam Piagam Organisasi Negara-negara Amerika pada tanggal 30 April 1948 (berlaku sejak Desember 1951). Pertemuan juga mengadopsi Deklarasi Amerika tentang Hak dan Kewajiban Manusia, instrumen hak asasi manusia yang pertama di dunia.12
Pada perkembangan selanjutnya, 14 Negara lainnya di Benua ini memutuskan untuk bergabung dengan OAS, negara-negara tesebut diantaranya: Barbados, Trinidad dan Tobago (1967); Jamaika (1969); Grenada (1975); Suriname (1977); Dominika (Persemakmuran), Saint Lucia (1979); Antigua dan Barbuda, Saint Vincent dan Grenadines (1981); Bahama (Persemakmuran) (1982); Saint Kitts & Nevis (1984), Kanada (1990); Belize dan Guyana (1991).13
Struktur organisasi dalam OAS terdiri dari Sekretariat Jenderal (GS / OAS), Dewan Tetap, Dewan Inter-Amerika untuk Pembangunan Integral, dan sejumlah komite, termasuk, Komite Urusan Yuridis dan Politik, Komite Urusan Administrasi dan Anggaran, Komite Keamanan Hemispheric, dan Komite Manajemen dan Partisipasi Masyarakat Antar-Amerika dalam Kegiatan OAS.14
Dari Pasal 1 Piagam PBB, tujuan dari negara-negara anggota dalam menciptakan OAS adalah "untuk mencapai urutan perdamaian dan keadilan, untuk mempromosikan solidaritas mereka, untuk memperkuat kolaborasi mereka, dan untuk mempertahankan kedaulatan, integritas teritorial mereka, dan kemandirian mereka. Pasal 2 menjabarkan delapan tujuan penting:
Untuk menjaga dan memperkuat perdamaian dan keamanan benua
Untuk mempromosikan dan mengkonsolidasi demokrasi perwakilan, dengan hormat untuk prinsip tidak-intervensi
Untuk memastikan penyelesaian sengketa Pasifik yang mungkin timbul di antara negara anggota
Untuk menyediakan untuk aksi bersama pada bagian dari negara dalam hal agresi;
Untuk mencari solusi dari masalah politik, hukum, dan ekonomi yang mungkin timbul di antara mereka
Untuk mempromosikan, dengan aksi kerja sama, pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya
13Loc.cit.
Untuk membasmi kemiskinan ekstrim, yang merupakan hambatan bagi pembangunan demokrasi penuh dari bangsa-bangsa belahan bumi
Untuk mencapai batasan efektif senjata konvensional yang akan memungkinkan untuk mencurahkan jumlah terbesar sumber daya terhadap pembangunan ekonomi dan sosial dari negara anggota.15
Selama tahun 1990-an, dengan berakhirnya Perang Dingin, kembali ke demokrasi di Amerika Latin, dan dorongan ke arah globalisasi, OAS melakukan upaya besar untuk mengubah dirinya agar sesuai dengan konteks baru. Prioritas yang dinyatakan sekarang diantaranya :
Penguatan demokrasi Bekerja untuk perdamaian Membela hak asasi manusia Membina perdagangan bebas Memerangi perdagangan narkoba
Mempromosikan pembangunan berkelanjutan.16
2. NAFTA (North American Free Trade Area)
North American Free Trade Area (NAFTA) adalah salah satu bentuk regionalisme di Amerika, tepatnya di Amerika Utara, yang berfokus pada hal yang berkaitan dengan perdagangan bebas. NAFTA beranggotakan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. NAFTA resmi ditandatangani di tiga kota yaitu: Washington DC (Amerika Serikat), Ottawa (Kanada) dan Mexico City (Meksiko) pada 17 Desember 1992, namun NAFTA sendiri baru diberlakukan secara legal pada tanggal 1 Januari 1994.17
Sebelumnya pada tahun 1988 pernah terdapat suatu kesepakatan perdagangan bebas antara Kanada dan Amerika Serikat, yakni Canada-United
15Loc.cit. 16Loc.cit.
17 Abim Galau Agasi, Pengaruh North American Free Trade Agreement (NAFTA) terhadap
States Free Trade Agreement (CUFTA). Dengan masuknya Meksiko sebagai anggota baru, maka Kongres Amerika Serikat memprakarsai hadirnya perjanjian perdagangan bebas baru yang disebut dengan North American Free Trade Area
(NAFTA). Secara umum, tujuan NAFTA adalah meningkatkan integrasi antarnegara dan memudahkan kerjasama perdagangan bebas di suatu kawasan dengan cara menghilangkan semua tarif dan mengurangi hambatan non-tarif secara substansial di antara negara-negara anggotanya.18
NAFTA memiliki tiga komisi yaitu: (1) the Free Trade Commission (FTC) yang bertugas untuk mengawasi pelaksanaan perdagangan bebas, merekomendasikan usulan, memediasi masalah atau sengketa yang terjadi di dalam NAFTA. FTC ini dikelola tiga menteri perdagangan dari ketiga negara anggota NAFTA. (2) Commission on Environmental Co-operation (CEC) yang bertugas untuk mengatur pelaksanaan North American Agreement on Environmental Co-operation (NAAEC). CEC ini dipimpin oleh menteri lingkungan hidup dari ketiga negara anggota NAFTA. (3) Commission on Labor Co-operation (CLC) yang bertugas untuk mengatur tentang North American Agreement on Labor Cooperation (NAALC). CLC ini dikelola oleh menteri tenaga kerja dari ketiga negara anggota NAFTA.19
NAFTA memiliki tiga perjanjian kerjasama, yaitu perjanjian perdagangan bebas (FTA), perjanjian kerjasama lingkungan (NAAEC), dan perjanjian kerjasama buruh (NAALC). Dalam perjanjian perdagangan bebas (FTA), terdapat beberapa kebijakan yang disepakati bersama oleh ketiga negara anggota, seperti penghapusan pajak bea dari beberapa jenis barang ekspor dan impor, perluasan peluang investasi di kawasan Amerika Utara, persaingan yang sehat di antara ketiga negara anggota, perlindungan hubungan ekonomi trilateral antara Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko, serta penjaminan atas hak-hak kekayaan intelektual ketiga negara anggota NAFTA. Sedangkan perjanjian kerjasama lingkungan (NAAEC) memuat kebijakan tentang perlindungan keanekaragaman
18Loc.cit.
19 Mark Aspinwall, NAFTA-ization: Regionalization and Domestic Political Adjustment in the North
hayati, urgensi memperhatikan kesehatan dengan mengelola limbah, dan sosialisasi tentang isu-isu lingkungan yang ada di Amerika Utara.20
Kemudian perjanjian kerjasama buruh (NAALC) memiliki tujuan, antara lain: (1) memperbaiki kondisi kerja dan standar hidup di masing-masing negara anggota; (2) meningkatkan prinsip-prinsip kerja yang dijalankan; (3) menginisiasi kerjasama untuk mengembangkan inovasi, produktivitas, dan kualitas; (4) menyarankan publikasi, pertukaran informasi, pengembangan data, koordinasi, dan studi kooperatif untuk menguntungkan hukum dan lembaga-lembaga yang mengatur tenaga kerja di wilayah masing-masing negara anggota; (5) meneruskan agenda kerjasama yang saling menguntungkan; (6) meningkatkan penegakan hukum dan mendorong transparasi dalam administrasi hukum perburuhan.21
Menurut Rafael Serrano, kepala sekretariat NAFTA dari Meksiko, NAFTA telah efektif dalam meningkatkan hubungan perdagangan antarnegara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan komunikasi yang lebih informal dan ramah, serta kesamaan pemahaman tentang solusi atas masalah-masalah perdagangan. Dari tahun 1994 sampai 2007, perdagangan di antara negara-negara NAFTA meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari $297 milyar ke $930 milyar. Salah satu prestasi NAFTA yang paling diingat dalam catatan sejarah adalah ketika NAFTA berhasil membantu Meksiko dalam menangani krisis ekonomi tahun 1994 dengan reformasi ekonomi.22
Pasca Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 2017, santer terdengar kabar bahwa NAFTA akan segera dibatalkan. Namun yang terjadi sesungguhnya adalah Presiden Trump berniat untuk melakukan renegosiasi dengan negara-negara anggota NAFTA yang lain. Alasan utama Presiden Trump mengkritik NAFTA adalah karena saat ini Amerika Serikat sedang berada dalam krisis defisit perdagangan, dnegan negara-negara anggota NAFTA lain. Dengan kata lain, Meksiko dan Kanada lebih banyak mengekspor ke Amerika Serikat
20Loc.cit. 21Loc.cit.
22 IM, How Has NAFTA Affected the Mexican Economy? Review and Evidence, Research
dibandingkan Amerika Serikat yang lebih sedikit mengekspor ke dua negara tersebut.23
Menurut analis perdagangan, terdapat beberapa hal yang akan menjadi usulan dari Presiden Trump terkait renegosiasi NAFTA. Pertama, hal yang berkaitan dengan tarif. Trump menginginkan pengecualian terhadap barang-barang tertentu untuk tidak dikenai zero-tariff. Trump menegaskan bahwa untuk komoditas tertentu, prinsip zero-tariff bukanlah pilihan yang efektif. Kedua, Trump kemungkinan besar akan melakukan renegosiasi tentang “rules of origin”. Untuk produk jadi, beberapa persen komponennya harus dibuat di Amerika Utara. Sebelumnya, NAFTA mengharuskan 62,5% komponen dari barang jadi dibuat oleh Amerika Utara. Namun Presiden Trump ingin meningkatkan persentase tersebut menjadi 80%. Ketiga, Trump akan bernegosiasi ulang tentang standar pekerja dan lingkungan. Trump akan mengevaluasi kembali isu-isu mengenai upah minimum, hak-hak serikat pengorganisasian, keselamatan kerja, dan dampak lingkungannya.24
3. FTAA (The Free Trade Area of Americas)
Perencanaan negosiasi FTAA dimulai pada tanggal 9-11 Desember 1994, dimana first summit diadakan untuk memulai proses negoisasi antara 34 negara yang dilibatkan. Didalam first summit ini, komitmen antar negara dibentuk dan penentuan agenda-agenda selanjutnya dalam pembahasan integrasi ekonomi ini. Negosisasi selanjutnya diadakan pada tanggal 19 April 1998 yang disebut dengan
second summit. Negosiasi yang dilakukan dalam FTAA ini secara garis besar membahas tentang akses pasar yang mudah antar negara anggota, peningkatan investasi dalam rangka peningkatan produktifitas, peningkatan sektor jasa,
government procurement, dispute settlement, perdagangan produk pertanian, perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, pengaturan kebijakan subsidi,
23 Zeeshan Aleem, Trump is Ready to Renegotiate NAFTA, Vox Media, 2017,
http://www.vox.com/world/2017/2/9/14362666/trump-renegotiate-nafta-mexico-canada, diakses pada 23 April 2017.
antidumping dan countervailing duties, serta kebijakan tentang kompetivitas produk antar negara.25
Negoisasi telah dilakukan dan FTAA memiliki declaration of principles
yang mana menegaskan kepada seluruh negara anggota untuk berkomitmen berbagi prinsip-prinsip demokrasi, integrasi ekonomi dan keadilan sosial. Tujuan dari deklarasi ini adalah untuk menguatkan demokrasi masyarakat di benua Amerika, mengedepankan kemakmuran dalam integrasi ekonomi dan perdagangan bebas, menghapuskan kemiskinan dan diskriminasi di benua Amerika, serta menjamin pembangunan berkelanjutan dan melakukan konservasi alam untuk generasi mendatang.26 FTAA pada dasarnya juga merupakan perjanjian penghapusan hambatan dagang antar negara anggota. Banyak metode yang digunakan oleh negara untuk menciptakan hambatan bagi perdagangan luar negeri. Metode ini termasuk tariff, pajak yang dikenakan pada barang impor agar harga barang impor lebih tinggi dari harga domestik, dan subsidi berupa uang untuk menurunkan harga produk domestik.
Perdagangan bebas FTAA ini adalah usaha untuk mengurangi hambatan-hambatan dagang tersebut agar terjadi liberalisasi perdagangan di benua Amerika. Langkah penghapusan hambatan ini, tidak dapat dipungkiri akan dapat menimbulkan goncangan terhadap perekonomian suatu negara jika negara tersebut belum siap terhadap arah perubahan kebijakan proteksionisme menuju liberalisme. Amerika Serikat memandang perdagangan bebas dengan melibatkan seluruh negara di benua Amerika akan menguatkan posisi dirinya sebagai negara industrialisasi yang besar. Amerika Serikat perlu untuk mentransformasi dan memperbaharui struktur industrialisasi dan teknologi Amerika, yang bertujuan untuk mengatasi defisit finansial dan perdagangan selama beberapa dekade terakhir. Liberalisasi perdagangan dan integrasi ekonomi adalah langkah yang ditempuh Amerika Serikat guna memperkuat dirinya sebagai world economy leader.’
25 Paul Rynerson, The Free Trade Area of the Americas: Dead Before It was Ever Born, Law and Business of the Americas, Proquest Online, 2007, hlm. 183.
4. BOAA (Bolivarian Alliance for the Peoples of Our America) / ALBA
Konflik yang sangat sentral baru-baru ini melibatkan upaya Amerika Serikat untuk mengambil alih sumber-sumber energi yang ada di Amerika Latin, serta menyelamatkan aset-aset mereka. Yang mana salah satu caranya ialah dengan upaya yang dilakukan Amerika Serikat dengan membentuk perdagangan bebas di kawasan Amerika dengan mengajukan program-program yang seolah-olah dapat menguntungkan bagi negara-negara di dalamnya. Salah stau upaya Amerika Serikat tersebut adalah membentuk Free Trade Area of The Americas
(FTAA) yang merupakan perjanjian untuk menghapus atau mengurangi batas perdagangan yang ada di benua Amerika. Negara Amerika Latin dengan latar belakang politik dan ekonominya, dengan tegas menolak perdagangan bebas yang diusulkan Amerika Serikat.
Salah satu yang merupakan bukti dari adanya penolakan atau counter
Amerika Serikat oleh Amerika Latin yaitu Amerika Latin menggagalkan perjanjian-perjanjian yang diadakan oleh FTAA, serta Amerika Latin mendeklarasikan pembentukan ALBA the Bolivarian Alternative for the Americas
(Alternatif Bolivarian untuk Rakyat Amerika). ALBA merupakan alternatif yang dibentuk guna menjalin kerjasama-kerjasama antar Amerika Latin yang digagas oleh negara Venezuela dan juga Cuba di mana tentunya ini dibentuk guna melawan intervensi pasar bebas imperialis AS.27 Jika FTAA dan lainnya berorientasi untuk kepentingan modal internasional dan mengejar liberalisasi mutlak dari perdagangan barang, jasa, dan investasi, ALBA menekankan pada perjuangan melawan kemiskinan dan ekslusi sosial.28
ALBA berdiri pada Desember 2004. Awalnya, ALBA terdiri dari hanya dua negara anggota: Venezuela dan Kuba. yang kemudian beberapa negara ikut bergabung yaitu Bolivia pada 2006, Nikaragua pada 2007, Honduras dan Dominica tahun 2008, dan Antigua serta Barbuda, Saint Vincent dan Grenadines, dan Ekuador masuk tahun 2009.29 ALBA menolak neoliberalisme dengan tujuan
27 Teresa Arreaza, ALBA: Bolivarian Alternative for Latin America and the Caribbean, Venezuela
Analysis, 2004.
28 Nurani Soyomukti, Hugo Chavez: Revolusi Bolivarian dan Politik Radikal, Yogyakarta: Resist
Book, 2007, hlm 138.
29 James Rochlin, Pembelokan Amerika Latin ke Kiri dan Medan Strategis Baru, Kasus: Bolivia,
untuk membentuk alternatif yang berbeda dari perdagangan bebas. Negara-negara anggota bekerjasama untuk mengintegrasikan ekonomi mereka, sehingga mereka akan mampu untuk melengkapi, bukannya bersaing dengan satu sama lain. Secara umum tujuan ALBA adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat.
ALBA memiliki beberapa tujuan khusus yang di antaranya adalah:30
Untuk mempromosikan perdagangan dan investasi antara negara-negara anggota, berdasarkan pada kerjasama, dan dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat, tidak membuat keuntungan.
Untuk negara-negara anggota untuk bekerja sama untuk menyediakan layanan kesehatan gratis dan pendidikan gratis kepada orang-orang di seluruh negara ALBA.
Untuk mengintegrasikan energi anggota ALBA sektor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Untuk membuat media alternatif untuk mengimbangi AS dan regional neo-liberal media dan mempromosikan identitas asli Amerika Latin.
Untuk mengembangkan industri dasar sehingga negara-negara anggota ALBA dapat mandiri secara ekonomi.
Untuk mempromosikan gerakan buruh, gerakan mahasiswa, dan gerakan sosial.
Dan yang dapat digarisbawahi tujuan ALBA adalah untuk membangun masa depan Amerika Latin yang sejahtera, menghilangkan ketidaksetaraan sosial yang ada dan menjadikan wilayah ini sebagai kekuatan yang mempu menjalankan model perekonomian sendiri di tengah dunia yang mengglobal, melalui strategi ekonomi alternative yang juga memajukan lapangan budaya, lingkungan hidup, politik, masyarakat, dan ekonomi dari kekayaan yang ada di kawasan Amerika Latin. ALBA tidak hanya mempromosikan demokrasi partisipatif dalam struktur sendiri, sebagai bukti komitmen negara-negara anggota untuk melaksanakan demokrasi partisipatoris dalam perbatasan mereka.
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan
Merujuk pada teori liberalisme, karakteristik benua Amerika pasca Perang Dunia II lebih menunjukkan pola kerjasama yang signifikan, khususnya dalam bidang ekonomi. Namun di balik kerjasama tersebut, masing-masing negara di kawasan Amerika tetap mengedepankan asas survival, sehingga situasi kompetitif dan konfliktual masih mungkin terjadi. Menurut teori liberalisme institusional, untuk dapat menghindari situasi yang memanas, maka di kawasan Amerika harus tercipta institusi-institusi. Untuk itulah didirikan OAS (Organization of American State), NAFTA (North American Free Trade Area), FTAA (The Free Trade Area of Americas), BOAA (Bolivarian Alliance for the Peoples of Our America) / ALBA.
Pendirian beberapa institusi regional tersebut bertujuan untuk meraih keuntungan absolut, di mana keuntungan yang didapat akan lebih menguntungkan daripada jika negara-negara Amerika tersebut berperang. Hal ini juga akan menimbulkan kesalingtergantungan antara negara-negara di kawasan Amerika sehingga konflik akan terhindari. Namun seiring berjalannya waktu, dengan bergantinya rezim di negara-negara kawasan Amerika, keberadaan institusi regional tertantang. Hal tersebut akan berkontribusi dalam dinamika hubungan internasional kawasan Amerika.
2. Saran
Kompleksitas regionalisme di kawasan Amerika merupakan topik yang menarik untuk dikaji. Untuk ke depannya, penulis menyarankan agar para pembaca yang budiman mampu menganalisis masing-masing institusi regional kawasan Amerika pada era Donald Trump yang kebijakannya disinyalir akan berbeda secara radikal dengan kebijakan-kebijakan presiden Amerika Serikat sebelumnya. Penulis juga menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, penulis dengan terbuka menyatakan bahwa penulis menerima saran dan kritik dari para pembaca.
Daftar Pustaka
Fakir, M. 2003. Bebas dari Neoliberalisme. Yogyakarta: Insist Press.
Farrel, Mary & Bjorn Hette. 2005. Global Politics of Regionalism. Pluto Press.
Fawcett, Louise & Andrew Hurrel. 2002. Regionalism in World Politics. Oxford University Press.
Jackson, Robert & George Sorensen. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keohane, Robert O. 1989. International Institutions and State Power: Essays in International Relations Theory. Westview.
Soyomukti, Nurani. 2007. Hugo Chavez: Revolusi Bolivarian dan Politik Radikal. Yogyakarta: Resist Book.
Jurnal dan Artikel Ilmiah
Agasi, Abim Galau. 2013. Pengaruh North American Free Trade Agreement (NAFTA) terhadap Perekonomian Meksiko. Global & Policy Vol. 1, No. 2.
Arreaza, Teresa. 2004. ALBA: Bolivarian Alternative for Latin America and the Caribbean. Venezuela Analysis.
Aspinwall, Mark. 2009. NAFTA-ization: Regionalization and Domestic Political Adjustment in the North American Economic Area. Journal of Common Market Studies, Vol. 47, No. 1. University of Edinburgh.
IM. 2004. How Has NAFTA Affected the Mexican Economy? Review and Evidence. Research Department and Western Hemisphere Department.
Integrating the Americas: FTAA and Beyond. 2004. Journal of Economic Literature.
Situs Online
Aleem, Zeeshan. 2017. Trump is Ready to Renegotiate NAFTA. Vox Media. http://www.vox.com/world/2017/2/9/14362666/trump-renegotiate-nafta-mexico-canada, diakses pada 23 April 2017.
CIA. https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/rankorder/2119rank.html, diakses pada 23 April 2017.
Our History. OAS. http://www.oas.org/en/about/our_history.asp, diakses pada 22 April 2017.
Rochlin, James. Pembelokan Amerika Latin ke Kiri dan Medan Strategis Baru,
Kasus: Bolivia. http://2008.nefos.org/node/32, diakses pada 24 April 2017.