12 MORAL PAJAK: SEBUAH OPSI PENINGKATAN KEPATUHAN PAJAK MASYARAKAT MUSLIM Imanda Firmantyas Putri Pertiwi IAIN Surakarta Email: imanda.fpiain-surakarta.ac.id Abstract - MORAL PAJAK: SEBUAH OPSI PENINGKATAN KEPATUHAN PAJAK MASYARAKAT MUSLIM

14 

Teks penuh

(1)

Imanda Firmantyas Putri Pertiwi IAIN Surakarta

Email: imanda.fp@iain-surakarta.ac.id

Abstract

This study aims to deter mine the significance of taxpayer inter nal factor s to comply w ith applicable tax law s. Var iable r eligiosity and nationalism become exogenous var iables to define tax mor ale, w hile tax mor ale w ill define tax compliance. Samples taken over 200 individual taxpayer s w hose Islam r eligion. Data analysis w as done using Str uctur al Equation Model (SEM) by dividing the step into outer test and inner test. The r esults show ed that statistically r eligiosity influence tax mor ale, but on the contr ar y, nationalism is not show n significant r esults. Tax mor ale on tax compliance show ed positive r esults and significant. Based on these r esults, can be concluded that r eligiosity still plays an impor tant r ole in moslem society’s decision making. Thus, if the tax policy maker s can touch the side ofr eligiosity of the moslem societies, that in fact as major ity in this countr y, it is expected that tax r evenues can be incr eased.

Keywords: r eligiosit y, t ax mor ale, nat ional pr ide, t ax compliance

PENDAHULUAN

Secar a histor is, w ajib pajak diasumsikan selalu melakukan penghindar an pajak sehingga dibutuhkan pengetahuan mengenai faktor -faktor apa saja yang setidaknya dapat mengur angi sikap negatif par a w ajib pajak ter sebut (Benk et.al., 2016). Menur ut James and Alley (2004), ter dapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisa faktor -faktor yang mem-pengar uhi kepatuhan pajak, yaitu pendekatan ekonomi dan per ekonomi dan pendekatan per ilaku.

Penelitian yang menggunakan pendekatan ekonomi pada umumnya mengangkat var iabel pemer iksaan pajak dan denda pajak.1 Melalui pendekatan ekonomi ada juga peneliti yang mengangkat dar i sisi pendapatan w ajib pajak,2 sisi tar if pajak (Takats, 2008), dan sisi audit pajak.3 Sedangkan pada pendekatan per ilaku, aspek ter penting yang diangkat adalah aspek psikis yang dimiliki oleh w ajib pajak, yang mer upakan manusia-manusia yang secar a fitr ahnya menur ut Anw ar memiliki fitr ah jasmani (aspek biologis), fitr ah r uhani (aspek psikis) maupun fitr ah nafs (aspek psiko fisik).

Beber apa penelitian yang mengangkat dar i pendekatan per ilaku adalah Togler yang mengangkat isu r eligiusitas,4 Razak dengan var iabel sikapnya,5 dan Cyan dengan tema mor al pajak.6 Ada pula penelitian yang mengangkat isu patr iotisme atau nasionalisme, namun belum ada penelitian yang secar a ber sama-sama mengangkat r eligiusitas dan nasionalisme secar a ber sama-sama dalam mempengar uhi kepatuhan pajak. Hal ini bar angkali dipengar uhi oleh

1 Cahyonow ati, N., Model Mor al Dan Kepatuhan Per pajakan : JAAI, Vol. 15 No, 2011, 161–177.

2 Bloomqui st, K. M., Tax Evasion , I ncome I nequali ty And Oppor tunity Costs Of Compliance Office Of Resear ch Paper Pr esented At

The 96 Th Annual Confer ence. In Paper Pr esented At The 96t h Annual Confer ence Of The National Tax Association, h.

3 Modugu, K. P, I mpact Of Tax Audi t On Tax Compliance I n Niger ia, 5(9), 2014, h. 207–215.

4 Tor gler , B., The I mpor tance Of Faith : Tax Morale And Religiosity. Jour nal Of Economic Behavior &Or ganization, 61, 2006, h. 81–109. 5 Razak, A. A., &Adaful a, C. J, Evaluati ng Taxpayer s ’ At tit ude And Its I nflu Ence On Tax Compl iance Decisions I n Tamale , Ghana,

5(September ), 2013, h. 48–57.

6 Cyan, M. R., Koumpi as, A. M., &Mar tinez-Vazquez, J., The Deter minant s Of Tax Mor ale In Pakistan. Jour nal Of Asian Economics, 47,

(2)

kar akter suatu bangsa, dimana dengan kar akter bangsa yang sekuler , maka hal yang ber kaitan dengan agama dan kenegar aan akan dipisahkan jauh-jauh.7

Penelitian ini ingin menonjolkan kar akter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang me-nempatkan agama sebagai bagian yang tak ter pisahkan dar i negar a, bahkan dijadikan unsur utama (w alaupun bukan satu-satunya), ter bukti dengan apa yang ada pada sila per tama Pancasila. Penelitian ini hendak mengakomodasi aspek psikis yang ber kaitan dengan “r asa”. Rasa cinta kepada agama (r eligiusitas) maupun kepada bangsa dan negar a (nasionalisme). Religiusitas mer upakan nilai-nilai atau pr insip yang dianut oleh seseor ang yang didasar i oleh agama yang dianutnya.8 Sedangkan nasionalisme adalah suatu paham, yang ber pendapat bahw a kesetiaan ter tinggi individu har us diser ahkan kepada negar a kebangsaan.

Luar an yang dihar apkan dapat dihasilkan oleh penelitian ini adalah r ekomendasi bagi par a pemangku kebijakan yang ber kaitan dengan pajak mengenai pentingnya memper timbang-kan faktor mor al pajak yang dibentuk oleh var iabel r eligiusitas dan nasionalisme. Hal ini menjadi suatu ur gensi mengingat suatu fakta bahw a t ax r at io Indonesia masih pada tingkat yang sangat r endah dan belum memenuhi tar get. Bahkan, di tahun 2015, t ax r at io mengalami penur unan dar i angka 11,9% di tahun 2014 menjadi 10,88 di tahun 2015. Bila dibandingkan dengan negar a tetangga, Indonesia juga ter tinggal cukup jauh, Filipina t ax r at io-nya mencapai 12%, Malaysia memiliki t ax r at io 16% dan Singapur a 22%.9

“Ungkap, tebus, lega”, t agline ini dibuat oleh Dir ektor at Jendr al Pajak Kementer ian Ke-uangan dalam r angka sosialisasi pr ogr am t ax amnest y yang pada r encananya akan diselenggar a-kan dar i bulan Oktober 2015 hingga Mar et 2017. Amnesti pajak adalah pr ogr am pengampunan yang diber ikan oleh pemer intah kepada Wajib Pajak meliputi penghapusan pajak yang sehar usnya ter utang, penghapusan sanksi administr asi per pajakan, ser ta penghapusan sanksi pidana di bidang per pajakan atas har ta yang diperoleh pada tahun 2015 dan sebelumnya yang belum dilapor kan dalam SPT, dengan car a melunasi selur uh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan.10

Pr ogr am t ax amnest yini mer upakan bukti bahw a masih banyaknya ketidakpatuhan per pajakan (t ax avoidance) dar i par a w ajib pajak sehingga pemer intah mer asa per lu untuk lebi h baik member ikan pengampunan dan kelonggar an pembayar an untuk kemudian mendapatkan pemasukan ber upa uang tebusan dibanding menunggu kesadar an w ajib pajak yang memiliki pajak ter utang untuk membayar kan pajak ter utangnya.

Kajian Teoretis

Religiusitas, Mor al Pajak dan Kepatuhan Pajak

Kajian yang mengkaitkan antar a r eligiusitas dan mor al pajak dilakukan oleh Togler . Penelitiannya yang dilakukan dengan mengambil data dar i 32 negar a menyatakan bahw a faktor r eligiusitas secar a signifikan meningkatkan mor al pajak. Per tanyaan umum yang diajukan Togler sebagai indikator untuk menjelaskan var i abel r eligiusitas adalah mengenai seber apa ser ingnya datang ke ger eja, bagaimana pendidikan agamanya, apakah aktif atau tidak di suatu or ganisasi keagamaan, r eligiusitas yang dir asakan, seber apa dalam memahami tuntunan agama-nya, seber apa besar keper cayaannya kepada ger eja, dan untuk mengontr olnya maka agama 9http:/ / w w w .kemenkeu.go.id/ Ber i ta/ dir jen-pajak-t ax-r atio-i ndonesia-masihr endah, diakses 17 November 2016.

(3)

Var iabel mor al pajak diukur oleh Togler dengan menggunakan apakah individu ter sebut per nah melalukan (1) kebohongan, yaitu dengan mengklaim tunjangan yang diber ikan pemer intah, padahal ia tak ber hak untuk mener imanya; (2) kecur angan, yaitu dengan tidak membayar tar if di angkutan umum; (3) membeli bar ang cur ian sementar a or ang ter sebut tau bahw a bar ang ter sebut mer upakan hasil cur i an.11

Beber apa penelitian yang menghubungkan antar a r eligiusitas dan kepatuhan pajak telah dilakukan, dimana salah satunya adalah penelitian oleh Mohdali yang meneliti tentang pengar uh r eligiusitas masyar akat Muslim di Tur ki ter hadap kepatuhan pajak. Mohdali menemukan bahw a ter dapat pengar uh yang signifikan untuk r eligiusitas intr aper sonal dan tidak untuk r eligiusitas inter per sonal. Mohdali membedakan var iabel r eli giusitas ke dalam dua tipe. Yang per tama adalah r eligiusitas inter per sonal dan r eligiusitas intr aper sonal. Yang dimaksud dengan r eligiusitas inter per sonal ber kaitan dengan keyakinan dan sikap individu, dan komitmen agama inter per sonal yang ber asal dar i keter libatan individu dengan komunitas atau or ganisasi ke-agamaan. Penelitian sejenis dilakukan oleh Utama dan Wahyudi yang sebaliknya menemukan bahw a r eligiusitas inter per sonal ber pengar uh signifikan pada kepatuhan pajak dan r eligiusitas intr aper sonal tidak.

Dalam teor i etika, mor al diistilahkan sebagai nilai-ni lai atau pr insip-pr insip individu untuk membuat keputusan yang benar atau salah. Ber angkat dar i logika ini, tentunya keputusan untuk taat pajak ataupun tidak juga dipengar uhi oleh suatu nilai atau pr insip yang dianut oleh individu yang ber sangkutan. Nilai atau pr insip ter sebut apabila dikaitkan dengan agama dapat disebut dengan r eligiusitas. Religiusitas menur ut Johnson dipandang sebagai sejauh mana individu ber komitmen ter hadap agamanya ser ta keimanan dan mener apkan ajar annya sehingga sikap dan per ilaku individu mencer minkan komitmen ini.12

Mor al pajak dapat diar tikan lebih luas dar i r eligiusitas, dimana menur ut Yucedogr u sesuai dengan Gambar 1 ter lihat bahw a r eligiusitas adalah bagian dar i mor al pajak yang dapat meningkatkan mor al pajak. Mor al pajak disepakati sebagai motivasi int er nal dir i untuk membayar pajak.13

Gambar 1. Yucedogru’s Figur e

(4)

Model yang lebih lengkap untuk menjelaskan mor al pajak dir umuskan oleh Cahyonow ati. Model yang ia buat lebih kompr ehensif, mor al pajak dipengar uhi oleh tiga var iabel, dimana masing-masing var iabel ter sebut mempunyai ber agam indikator . Ber ikut adalah model yang dikembangkan oleh Cahyonow ati.14

Gambar 2. Model Teor etis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Perpajakan ( Cahyonowati, 2011)

Hasil dar i penelitian Cahyonow ati (2011) menyatakan bahw a dar i sekian banyak var iabel dan indikator yang mempengar uhi mor al per pajakan, r upanya hanya denda pajak yang secar a signifikan mempengar uhi mor al per pajakan. Namun mor al per pajakan sebagai motivasi intrinsik individu mempunyai deter minan positif ter hadap kepatuhan per pajakan.

Ada sebuah klaim bahw a penelitian pada komunitas non-muslim dengan komunitas muslim akan ter dapat beber apa per bedaan (Yucedogr u, 2013), oleh kar enanya penelitian ini akan dibatasi mengukur r eligiusitas dalam scope komunitas muslim. Religiusitas dalam Islam menur ut Ancok dan Sur oso (2008) mencakup lima hal, yaitu (1) akidah, menyangkut keyakinan ber agama, inti dimensi akidah dalam Islam adalah t auhid; (2) ibadah, menyangkut pelaksanaan hubungan antar manusia dengan Allah, ber kaitan dengan r itual-r itual keagamaan; (3) amal (akhlak), menyangkut pelaksanaan hubungan manusia dengan sesama makhluk, saling tolong menolong, mennghor mati, toler ansi, dan lain sebagainya; (4) pengetahuan, menyangkut sebe-r apa banyak seseosebe-r ang memahami ajasebe-r an Islam, hukum-hukum Islam, sejasebe-r ah Islam, dan lain se-bagainya; dan (5) penghayatan, menyangkut per asaan kedekatan dengan Allah dan kenyamanan dalam ber agama.

14Cahyonow ati, N., Model Mor al Dan Kepatuhan Per paj akan : JAAI, Vol. 15 No, 2011, h. 161–177 Var iabel Sosial Kemasyarakatan

-Keper cayaan ter hadap sistem hukum

-Keper cayaan ter hadap sistem per pajakan

-Kebanggaan Nasional

-Penghindar an pajak per sepsian -Par tisipasi politik

-Religiusitas -Desentr alisasi

Var iabel Demogr afi

-Umur -Jenis kelamin -Tingkat pendidikan -Tingkat pendapatan

-Per sepsi ter hadap kondisi ekonomi

Faktor yang memaksa

-Audit pajak -Denda pajak

(5)

ﱠﺮِ ﺒْ ﻟا ﱠ ﻦِﻜَﻟَ و ِبِ ﺮْ ﻐَ ﻤْ ﻟاَ و ِ قِ ﺮْ ﺸَ ﻤْ ﻟا َﻞَﺒِﻗ ْ ﻢُ ﻜَھﻮُﺟُو اﻮﱡ ﻟَ ﻮُﺗ ْ نَ أ ﱠﺮِ ﺒْ ﻟا َ ﺲْﯿَﻟ sesungguhnya kebajikan itu ialah ber iman kepada Allah, har i kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan member ikan har ta yang dicintainya kepada ker abatnya, anak-anak yatim, or ang-or ang miskin, musafir (yang memer lukan per tolongan) dan or ang-or ang yang meminta-minta; dan (memer dekakan) hamba sahaya, mendir ikan shalat, dan menunaikan zakat ; dan or ang-or ang yang menepati janjinya apabila ia ber janji, dan or ang-or ang yang sabar dalam kesempitan, pender itaan dan dalam peper angan. Mer eka itulah or ang-or ang yang benar (iman-nya); dan mer eka itulah or ang-or ang yang ber takw a (Al Baqar ah: 177).

Nasionalisme, Moral Pajak dan Kepatuhan Pajak

Menghubungkan nasionalisme dengan kepatuhan dalam per pajakan telah dilakukan oleh beber apa liter atur . Penelitian Lavoui menghubungkan patr iotisme dengan kepatuhan pajak dalam hubungannya dengan ger akan “Tea Par t y Movement ”. Tea par t y movement adalah ger akan sebagian w ar ga Amer ika dalam r angka mempr otes pemer intah dan kebijakan pajaknya. Dalam kesimpulannya Lavoui mengatakan bahw a ber kaitan dengan tea par t y movement , patr iotisme justr u menjadi faktor penghalang bagi kepatuhan pajak. 15

Ber beda dengan Lavoui, Konr ad and Qar i menemukan hubungan sangat kuat antar a patr iotisme dengan kepatuhan pajak, bahkan setelah dilakukan r obust ness t est ber kali-kali. Penelitian Konr ad and Qar i ini didukung oleh Pur namasar i et.al. yang menyatakan bahw a nasionalisme ber pengar uh positif signifikan ter hadap kepatuhan membayar pajak. Masih me-nur ut Pur namasar i, w ajib pajak dihar apkan tetap memiliki r asa nasionalisme yang tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daer ah yang dapat membantu ter hadap pe-menuhan kesejahter aan masyar akat melalui pembayar an PBB.

Yucedogr u menyampaikan bahw a mayor itas r espondennya mengatakan bahw a tidak ter dapat hubungan antar a patriotisme dengan membayar pajak. Mer eka menyatakan bahw a jikapun mer eka tetap membayar pajak adalah bukan kar ena jiw a nasionalisme mer eka, melain-kan agar sistem yang ada tetap ber jalan.

Ber dasar kan teor i atr ibusi, nasionalisme mer upakan penyebab inter nal yang dapat mem-pengar uhi per sepsi w ajib pajak dalam membuat keputusan mengenai per ilaku kepatuhan w ajib pajak dalam melaksanakan kew ajiban per pajakannya. Beber apa indikator nasionalime menur ut Iskandar adalah (1) bangga menjadi bangsa dan menjadi bagian dar i masyar akatIndonesia; (2) mengakui dan menghar gai sepenuhnya keanekar agaman pada dir i bangsa Indonesia; (3) ber -sedia memper tahankan dan memajukan negar a ser ta nama baik bangsa; (4) senantiasa mem-bangun r asa per saudar aan, solidar itas dan kedamaian antar kelompok masyar akat dengan semangat per satuan; (5) menyadar i sepenuhnya sebagai bagian dar i bangsa lain untuk men-ciptakan hubungan ker ja sama saling menguntungkan; (6) memiliki r asa cinta tanah air Indo-nesia; dan (7) menempatkan kepentingan ber sama di atas kepentingan sendiri dan golongan atau kelompok.

15Lavoie, R., Digital Commons At Loyola Mar ymount Patr iot ism And Taxation : The Tax Compliance Implications Of The Tea Party

(6)

Religiusitas dan Nasionalisme

Islam mer upakan agama yang nasionalis.Bagi kaum muslimin, kehadir an paham nasiona-lisme ber sentuhan langsung dengan nilai-nilai Islam yang telah lebih lama ber ada di tengah-tengah mer eka. Bagi mer eka, nasionalisme har us memper hatikan kepentingan selur uh w ar ga bangsa dengan basis ukhuw ah Islamiyah. Nasionalisme yang demikian ini mer upakan bagian integr al dar i konsep “Pemer intahan Madinah” yang dibangun oleh Rasulullah Saw ber sama par a sahabatnya. Inilah yang disebut nasionalisme Islam.

Beber apa dalil tentang nasionalisme dalam Islam ter cer min dalam beber apa ayat dalam Al Qur ’an yang menyebut tentang neger i. Rasulullah pun sangat mencintai neger inya, kar ena apabila suatu neger i tidak makmur , aman, sentosa maka r akyatnya pun tak dapat hidup tenter am di dalamnya.

ِ ّ ﺎِ ﺑ ﻢُﮭْ ﻨِﻣ َ ﻦَ ﻣآ ْ ﻦَ ﻣ ِتاَﺮَ ﻤﱠ ﺜﻟا َﻦِﻣ ُﮫَﻠْھَ أ ْقُ زْ راَ و ً ﺎﻨِﻣآ ً اﺪَﻠَﺑ اَﺬَ ـَھ ْ ﻞَﻌْ ﺟا ﱢ بَر ُﻢﯿِھاَﺮْﺑِ إ َلﺎَﻗ ْ ذِ إَ و َﯿْ ﻟاَ و

ُهﱡﺮَﻄ ْ ﺿَ أ ﱠﻢُ ﺛ ًﻼﯿِﻠَﻗ ُﮫُﻌﱢﺘَ ﻣُ ﺄَﻓ َﺮَﻔَﻛ ﻦَ ﻣَ و َلﺎَﻗ ِ ﺮِ ﺧﻵا ِ مْﻮ

ُﺮﯿِ ﺼَ ﻤْ ﻟا َ ﺲْ ﺌِ ﺑَ و ِ رﺎﱠﻨﻟا ِباَﺬَﻋ ﻰَﻟِ إ

Dan (ingat lah), ket ika Ibr ahim ber doa: “Ya Tuhanku, jadikanlah neger i ini neger i yang aman, dan ber ikanlah r ezki kepada penduduknya dar i (ber bagai macam) buah-buahan, (yait u penduduknya)yang ber iman di ant ar a mer eka kepada Allah dan har i kemudian.” Allah ber fir man: “Dan siapa yang kafir maka Aku ber i kesenangan sement ar a, kemudian Aku memaksanya menjalani siksa ner aka dan it ulah sebur uk-bur uk t empat kembali“ (Al

Baqar ah: 126).

Moral Pajak dan Kepatuhan Pajak

Mor al pajak mer upakan motivasi intr insik w ajib pajak untuk mematuhi dan membayar pajak, sehingga sudah selayaknya menjadi fokus utama kebijakan otor itas pajak.16 Ditambah dengan sistem pajak Indonesia yang masih menganut self assesment syst em untuk diter apkan bagi w ajib pajak or ang pr ibadi, yaitu sistem yang member ikan keleluasaan dalam menghitung, melapor , menyetor dan memper tanggungjaw abkan kew ajiban pajak WPOP kepada otor itas pajak. Sistem self assesment ini r aw an sekali dengan kemungkinan adanya kebohongan, kecur angan dan penundaan dalam pelapor an maupun penyetor an, sehingga diper lukan suatu motivasi yang kuat dar i masing-masing WP yang ber asal dar i dalam dirinya sendiri untuk patuh dan taat pada undang-undang perpajakan yang ber laku.

Banyak topik dan faktor yang telah ditelaah dalam penelitian ter dahulu mengenai mor al pajak ini. Beber apa faktor inter nal atau yang ber hubungan dengan masing-masing individu w ajib pajak dan memper ngar uhi mor al pajak yang telah ter ungkap di beber apa penelitian ter-dahulu diantar anya adalah pengetahuan, kesadar an, pendidikan, keluar ga, nilai-nilai keper caya-an dcaya-an agama (r eligiusitas), nilai-nilai mor al, usia dcaya-an gender ser ta keper cayacaya-an kepada pe-mer intah. Selain faktor -faktor ekster nal yang ber upa tar if pajak, sanksi pajak, audit pajak, pelayanan fiskus, kor upsi, keadilan dan ketegasan sistem pajak, kemudahan tr ansaksi pelapor an dan pembayar an pajak.

Penelitian ini mengkr itisi penelitian Muthia yang mengambil indikator mor al pajak ber dasar kan kebanggaan nasional, keper cayaan pada pemer intah, kondisi ekonomi, sistem per pajakan dan sanksi pajak. Penulis ber pendapat bahw a indikator kondisi ekonomi, sistem per -pajakan ser ta sanksi pajak tidaklah dapat digolongkan sebagai unsur intr insik. Kebanggaan

(7)

nasional dan keper cayaan pada pemer intah juga penulis anggap bukan mer upakan indikator mor al pajak melainkan lebih tepat disebut sebagai faktor yang mempengar uhi mor al pajak.

Ber dasar kan kr itisi diatas, penelitian ini mengangkat beber apa indikator dibaw ah ini untuk menjelaskan mor al pajak adalah (1) adanya niat yang baik untuk menaati per atur an per pajakan; (2) per caya bahw a pajak ber manfaat untuk keber langsungan negar a; (3) per caya bahw a sudah mer upakan kew ajiban seor ang w ar ga negar a untuk patuh dan taat pada undang-undang dan per atur an yang ber laku di negar anya, ter masuk dalam hal ini per atur an per pajakan.

Indikator -indikator ter sebut diatas diambil dengan per timbangan bahw a mor al pajak menur ut penulis mer upakan suatu motivasi dalam dir i masing-masing pr ibadi yang per caya bahw a pajak adalah suatu kew ajiban w ar ga negar a dan dibutuhkan oleh negar a untuk me-langsungkan pemer intahan dan pembangunan sehingga ada niat untuk melapor kan dan mem-bayar kannya.

Kepatuhan Pajak

Kepatuhan pajak dapat didefinisikan sebagai tingkat dimana seor ang w ajib pajak me-menuhi atau gagal untuk meme-menuhi per atur an per pajakan yang ber laku di negar anya. Kepatuh-an pajak dapat ter jadi secar a sukar ela maupun secar a paksaKepatuh-an. Secar a sukar ela apabila w ajib pajak memiliki motivasi untuk melapor kan dan membayar pajak dengan jujur dan tanpa ada keinginan untuk melakukan kecur angan. Sebaliknya, kepatuhan yang dipaksakan adalah apabila dalam memenuhi kew ajiban per pajakannya w ajib pajak didasar i oleh ketakutan dengan adanya sanksi pajak, pemer iksaan pajak, denda pajak dan hukuman apabila ter bukti melakukan ke-cur angan.

Sedikit ber beda pendekatan yang diambil oleh Nur mantu dalam Cahyonow ati dalam menjelaskan kepatuhan. Menur ut Nur mantu kepatuhan dibedakan menjadikepatuhan for mal dan kepatuhan mater iil. Kepatuhan for mal adalah apabilaw ajib pajak memenuhi kew ajiban per pajakan sebatas ketentuan for mal dalam undang-undang perpajakan, sedangkankepatuhan mater iil adalah suatu keadaan di mana WP secar a substantif memenuhi semua ketentuan mater iil per pajakan yakni sesuai isi dan jiw a undang-undang per pajakan.17

Kepatuhan pajak menur ut Inter nal Revenue Ser vice (IRS) dapat didefinisikan melalui tiga var iabel, yaitu (1) kepatuhan penyer ahan SPT (filling compliance), (2)kepatuhan pembayar an

(payment compliance), dan (3) kepatuhan pelapor an (r epor t ing compliance).

METODE

Penelitian ini mer upakan penelitian kuantitatif yang menggunakan data pr imer . Sumber data didapatkan dar i kuesioner yang disebar kan kepada 238 w ajib pajak or ang pr ibadi yang ber agama Islam. Pengambilan sample sebanyak 238 r esponden ini ber dasar kan asumsi bahw a sample yang dapat diambil adalah dengan mengalikan antar a jumlah indikator dengan 15. Dalam penelitian ini ter dapat 16 indikator , sehingga jumlah per kali annya menjadi 240. Namun pada saat kuesioner disebar hingga batas w aktu yang ditentukan, peneliti hanya ber hasil men-dapatkan sebanyak 238 kuesioner .

Jumlah var i abel laten dalam penelitian ini tidak sampai dengan lima buah (hanya 4 buah) dan setiap var iabel laten dijelaskan oleh tiga atau lebih indikator , sehingga jumlah sample sebanyak 100-150 dianggap sudah memadai (Santoso, 2015). Sample dipilih secar a acak atau dengan metode r andom sampling. Analisis data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan

St r uctur al Equat ion Modelling (SEM) dan diolah dengan menggunakan pr ogr am AMOS 21.

(8)

Uji asumsi yang har us dipenuhi dalam penger jaan model dengan menggunakan SEM adalah uji goodness of fit , nor malitas, outlier s dan multikolinier itas. Setelah uji asumsi tadi ter -penuhi maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan analisa out er model (pengujian validitas dan r eliabilitas konstr uk), dan inner model (pengujian hubungan str uktur al). Di baw ah ini adalah model pengujian hipotesis yang dibentuk pada penelitian ini.

Gambar 1. Model Kepatuhan Pajak

Kuesioner yang dibagikan ber isikan per tanyaan masing-masing dua buah untuk menjelas-kan setiap indikator yang diber imenjelas-kan. Masing-masing per tanyaan diukur dengan menggunamenjelas-kan skala liker t dengan level per setujuan 1 hingga 5, dimana 1 ber ar ti r esponden ber pendapat sangat tidak setuju, sementar a 5 ber ar ti r esponden menyatakan sangat setuju.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Outer Model

Pengujian outer model dilakukan dengan melakukan over all model fit t est dan conver gent

and discr iminant validit y t est . Pengujian ini dilakukan untuk memastikan bahw a indikator untuk

tiap-tiap konstr uk dapat menjelaskan konstr uk tersebut dengan tepat. Hasil dar i over all model

fit t est menunjukkan bahw a pr obablility level ter dapat di angka 0,24 yang ber ar ti ada jauh diatas

0.05 atau model dapat dianggap fit. Dengan alat uji lain pun, model masih bisa dianggap fit. Nilai GFI dan AGFI adalah 0.961 dan 0.928, angka ter sebut menunjukkan kedekatan dengan 1 yang ber ar ti ter dapat indikasi bahw a model dapat dianggapp fit. Selain itu nilai RMSEA juga menun-jukkan indikasi yang baik di angka 0.000.

(9)

Tabel 1. Regression Weights: ( Group Number 1 - Default Model)

Estimate S.E. C.R. PLabel

aqidah <---r eligiusitas .983 .2813.502 ***

ibadah <---r eligiusitas .826 .2653.852 ***

akhlaq <---r eligiusitas .887 .2983.963 ***

pengetahuan <---r eligiusitas .845 .2604.014 ***

penghayatan <---r eligiusitas .340 .4161.475 .030

kebanggaan <---nasionalisme 1.000

kesediaan <---nasionalisme 1.000

solidar itas <---nasionalisme .910 .2303.472 ***

per saudar aan <---nasionalisme .840 .2733.988 ***

cinta <---nasionalisme .742 .1345.522 ***

niat <---mor al .804 .1395.770 ***

keber manfaatan <---mor al 1.000

kew ajiban <---mor al .292 .499 .585 .558

filling <---kepatuhan .809 .2714.280 ***

payment <---kepatuhan .704 .1265.290 ***

r epor ting <---kepatuhan .804 .1395.770 ***

Hasil di atas menunjukkan pr obabilitas dengan tanda *** yang ber ar ti ber ada di level jauh dar i angka 0.05 dimana hal ter sebut mengindikasikan bahw a indikator sesuai untuk men-jelaskan konstr uk yang dimaksud kecuali untuk indikator kew ajiban yang ber ada diatas 0.05.

Hasil Inner Model

Tabel 2. Hasil Uji Struktural Model

Estimate S.E. C.R. P Label Mor al <--- r eligiusitas .578 .106 2.437 .022

Mor al <--- nasionalisme .048 .248 .196 .645

kepatuhan <--- mor al .412 .176 2.167 .031

Ber dasar kan tabel di atas dapat diketahui bahw a hasil penelitian ini menunjukkan ter -dapat r elasi yang signifikan antar a var iabel r eligiusitas ter hadap mor al pajak dan mor al pajak ter hadap kepatuhan pajak, sedangkan nasionalisme r upanya tak signifikan dalam mem-pengar uhi mor al pajak. Sedangkan hubungan antar a r eligiusitas dan nasionalisme menunjukkan kor elasi yang tidak kuat, dapat dilihat dar i hasil Tabel 3.

Tabel 3. Covariances: ( Group number 1 - Default model)

Estimate S.E. C.R. P Label

(10)

Tabel 4. Korelasi Antar Variabel Eksogen Estimate

r eligiusitas <--> nasionalisme .224

Religiusitas, Moral Pajak Dan Kepatuhan Pajak

Var iabel r eligiusitas mempunyai pengar uh yang cukup kuat dengan mor al pajak, ditunjuk-kan dengan angka p (pr obabilit y) sebesar 0.022 atau ber ada dibaw ah 0.05. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian(Tor gler , 2006) yang mengatakan bahw a r eligiusitas mer upakan faktor yang dapat meningkatkan mor al pajak.

Hasil penelitian ini juga mendukung hasil yang diper oleh oleh Yucedogr u. Pada penelitian-nya yang dilakukan secar a kualitatif dengan mengadakan int er view secar a mendalam kepada par a r esponden yang ber agama Islam, Yucedogr u menemukan bahw a mayor itas r esponden yang ter indikasi r eligius menganggap bahw a menghindar i pajak adalah mer upakan suatu dosa. Dar i penelitian ter dahulu dengan didukung oleh hasil kuantitatif penelitian ini, dapat disimpul-kan bahw a tingkat r eligiusitas seseor ang dapat mempengar uhi mor al pajaknya hingga mem-ber ikannya motivasi untuk mematuhi per atur an per undangan yang mem-ber laku.

Dalam agama Islam, menghindar i pajak dengan car a melakukan kecur angan atau ke-bohongan diyakini mer upakan suatu per buatan yang tidak baik. Selama pajak yang diw ajibkan oleh negar a diambil secar a adil dan memenuhi syar atnya maka sudah mer upakan kew ajiban w ar ga negar a untuk memenuhinya.18

ِإ ْ ﻢِﮭِﻟاَ ﻮْ ﻣَ ﺄِ ﺑ اوُﺪَھﺎَﺟَ و اﻮُﺑﺎَﺗْ ﺮَﯾ ْ ﻢَﻟ ﱠﻢُ ﺛ ِﮫِﻟﻮُﺳَرَ و ِ ﱠ ﺎِ ﺑ اﻮُﻨَ ﻣآ َ ﻦﯾِﺬﱠ ﻟا َ نﻮُﻨِﻣْ ﺆُﻤْ ﻟا ﺎ َ ﻤﱠﻧ َنﻮُ ﻗِدﺎﱠﺼﻟا ُﻢُھ َﻚِﺌَﻟوُ أ ِ ﱠ ﷲ ِ ﻞﯿِ ﺒَﺳ ﻲِﻓ ْ ﻢِ ﮭِ ﺴُ ﻔْ ﻧَ أَ و Sesungguhnya or ang-or ang yang ber iman itu hanyalah or ang-or ang yang per caya

(ber iman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mer eka tidak r agu-r agu dan mer eka ber juang (ber jihad) dengan har ta dan jiw a mer eka pada jalan Allah. Mer eka itulah or ang-or ang yang benar [ Al Hujur aat: 15]

Nasionalisme, Moral Pajak dan Kepatuhan Pajak

Nilai p pada kor elasi antar a nasionalisme dan mor al pajak menunjukkan angka yang tidak signifikan di angka 0.645, jauh diatas 0.05 dan nilai estimasinya juga menunjukkam ketidak-ker atan, 0.048, jauh dibaw ah 0.5. Hasil penelitian ini ber tentangan dengan penelitian yang di-lakukan oleh Konr ad and Qar i dan Pur namasar i. Namun lagi-lagi hasil penelitian ini menemukan kata sepaham dengan Yucedogr u.

Yucedogr u mencer itakan bahw a mayor itas r espondennya menganggap bahw a nasionalis-me dan kepatuhan nasionalis-membayar pajak adalah dua hal yang ber beda. Mer eka nasionalis-menekankan bahw a adanya r asa patr iotisme tak cukup untuk menegaskan kepatuhan pajak. Adanya kesamaan hasil antar a penelitian ini dan penelitian Yucedogr u dimungkinkan kar ena adanya per samaan kar akter istik sample yang diambil, yaitu membatasi penelitian dengan mengambil komunitas muslim dan dilaksanakan di negar a yang mayor itas penduduknya ber agama Islam (Tur ki dan Indonesia).

Hal ini apabila dikaitkan dengan penelitian milik Pur namasar i, maka akan menyentuh isu adanya w ajib pajak yang belum per caya ter hadap apar at pemer intah maupun sistem hukum yang ber laku di negar anya. Ketidakper cayaan ter hadap pemer intah dan sistem hukum negar a sedikit banyak mempengar uhi hubungan antar a nasionalisme dengan mor al pajak. Sudah

(11)

mer upakan suatu kepastian, bahw a kor upsi dan pr aktik penghindar an pajak ser ingkali memiliki ser ingkali memiliki tingkat per sistensi dan kor elasi yang tinggi.19

Responden membedakan antar a r asa cinta tanah air dan kesiapan membelanya kapanpun dibutuhkan dengan kepatuhan menaati pemer intah dan sistem hukum yang dibuat oleh pe-mer intah kar ena pe-mer asa bahw a pepe-mer intah bukanlah r epr esentasi dar i negar a. Bahkan me-nur ut ger akan t ea par t y movement patr iotisme seseor ang justr u ditunjukkan dengan ger akan

ant i-t ax. Dengan dilakukannya ger akan ant i t ax, dihar apkan pemer intah mau mendengar kan

suar a dar i par a demonstr an itu. Walau jumlah pengikut ger akan ini sedikit untuk saat ini dan dampaknya pun tidak signifikan, namun apabila pemer intah tidak mengambil langkah untuk menghadapinya maka dikhaw atir kan pengikutnya akan semakin banyak dan efeknya pun semakin besar .

Nasionalisme dan Religiusitas

Hubungan antar a var iabel eksogen ditelaah juga dalam penelitian ini, dan hasilnya me-nunjukkan ketidaker atan diantar a keduanya, dengan nilai estimasi sebesar 0.224 dan nilai p sebesar 0.247. Hasil ini mendapatkan pembuktian dar i asumsi yang dimiliki oleh Br ubaker mengenai adanya pemahaman kr itikal bahw a nasionalisme adalah fenomena khas sekular , dan sekuler isme adalah sesuatu yang ber law anan dengan r eligiusitas. Sekuler isme adalah suatu paham yang memisahkan antar a ur usan negar a dengan agama.20

Ketidaker atan hubungan antar a nasionalisme dan r eligiusitas menur ut hasil dar i pe-nelitian ini ber beda dengan per nyataan yang diusung oleh Capelos and Chr ona (2012) yang menyatakan bahw a dua hal ini –nasionalisme dan r eligiusitas- mer upakan dua elemen yang saling mendukung dalam membentuk per ilaku seor ang w ar ga negar a.

Per bedaan hasil ini kembali lagi bar angkali dikar enakan adanya unsur ketidakper cayaan kepada pemer intah, kar ena pada per hitungan statistik deskriptif dar i masing-masing indikator , nilai kesediaan lah yang menempati nilai r ata-r ata ter endah, dimana dalam kuesioner , indikator kesediaan ter sebut disusun melalui dua per tanyaan, yaitu (1) Anda ber sedia untuk memenuhi segala per atur an yang dibuat oleh pemer intah Republik Indonesia; (2) Anda ber sedia dan siap untuk member ikan kontr ibusi nyata bagi bangsa dan negar a kapanpun diminta. Hasil dar i indikator ini cukup r endah kar ena setelah dilakukan w aw ancar a dengan lebih mendalam, di-ketahui bahw a beber apa r esponden mer asa pemer intah belum melindungi r akyatnya dengan sepenuhnya.

Moral Pajak dan Kepatuhan Pajak

Mor al pajak secar a signifikan dan cukup er at mempengar uhi kepatuhan pajak dengan tingkat p sebesar 0.031 dan nilai estimasi yang ber ada di angka 0.412. Sesuai dengan penelitian Cahyonow ati, mor al pajak menentukan kepatuhan seseor ang dalam mematuhi per atur an per -pajakan, w alau menur ut Cahyonow ati kepatuhan yang ada di Indonesia ini masih mer upakan kepatuhan yang dipaksakan, bukan kepatuhan sukar ela.21

Hubungan yang kuat antar a mor al pajak dan kepatuhan pajak ini sesuai dengan temuan empir is Togler yang mendukung r elevansi penggabungan faktor non-ekonomike dalam analisis kepatuhan pajak. Per luasan dar i model ekonomi manusia dengan menyer takan faktor

19Litina, A., &Palivo, Cor r uption , Tax Evasion And Social Val ues. Jour nal Of Economic Behavior And Or ganization, 2015, h. 1–14. 20Br ubaker , R., Religion And National ism: Four Appr oaches Roger s Br ubaker For thcomi ng In, 2011, h. 1–29.

(12)

r eligiusitas menghasilkan instr umen bar u tanpa har us kehi langan r obust ness-nya. Didalam Togler Iannaccone menunjukkan:22

"Ekonomi agama pada akhir nya akan mengubur dua mitos, bahw a manusia sebagai homo

economicus menjadi makhluk tanpa r asa yang tidak mempunyai belas kasih apabila, atau

sebaliknya homo r eligiosus sajayang pr a-r asional".

PENUTUP

Hasil yang dapat disimpulkan dar i penelitian ini adalah (1) r eligiusitas ber pengar uh ter hadap mor al pajak; (2) nasionalisme tidak ber pengar uh ter hadap mor al pajak; (3) mor al pajak mempunyai pengar uh ter hadap kepatuhan pajak; dan (4) r eligiusitas dan nasionalime tidak saling mempengar uhi. Ber dasar kan simpulan ini dapat ditar ik suatu benang mer ah bahw a masyar akat muslim yang diw akili oleh 238 r esponden mengganggap bahw a kepatuhan mem-bayar pajak bukan dipengar uhi oleh r asa cinta kepada bangsa melainkan dipengar uhi oleh keper cayaan dalam agama bahw a apabila seseor ang melakukan kecur angan atau penghindar an pajak maka hal itu ter masuk sebuah dosa, antar a r eligiusitas dan nasionalisme juga mer upakan dua hal yang ber beda dan tidak saling mempengar uhi.

Ber dasar kan hasil ter sebut, dapat disimpulkan bahw a r eligiusitas masih memainkan per an penting dalam pengambilan keputusan masyar akat muslim ini. Dengan demikian, jika par a pembuat kebijakan pajak dapat menyentuh sisi r eligiusitas masyar akat muslim, yang

not abene sebagai mayor itas di neger i ini, dihar apkan pener imaan pajak dapat ditingkatkan.

Penelitian ini masih memiliki beber apa kekur angan, di antar anya tidak memasukkan var iabel tingkat keper cayaan pada pemer intah. Mengingat dalam beber apa penelitian ter dahulu tingkat keper cayaan kepada pemer intah ini memainkan per an penting dalam menjelaskan hubungan antar a nasionalisme dan kepatuhan pajak. Selain itu pada saat secar a kualitatif di-lakukan int er view mendalam kepada beber apa or ang r esponden, r upanya tingkat keper cayaan pada pemer intah inilah yang membuat r asa nasionalisme ber kur ang. Sehingga sar an untuk penelitian selanjutnya adalah untuk memasukkan var iabel kepr cayaan kepada pemer intah se-bagai var iabel pendukung.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. 2012. Fact or s Affect ing Tax Compliant At t it ude In Afr ica : Evidence Fr om Kenya , Tanzania ,

Uganda And Sout h Afr ica. N.D, 1–26.

Alm, J., Mar tinez-Vazquez, J., &Tor gler , B. 2005. Russian At t it udes Towar d Paying Taxes – Befor e, Dur ing, And Aft er The Tr ansit ion.

Alm, J., Mar tinez-Vazquez, J., &Wallace, S. 2009. Do Tax Amnesties Wor k ? The Revenue Effects Of Tax Amnesties Dur ing The Tr ansition In The Russian Feder ation. Economic Analysis And

Policy, 39(2), 235–253.

Anggr aeni, M. D. 2011. Pengar uh Pemanfaatan Fasilitas Per pajakan Sunset Policy Ter hadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak.

Basr i, Y. M. (N.D.). Pengar uh Gender , Religiusitas Dan Sikap Love Of Money Pada Per sepsi Etika Penggelapan Pajak, 45–54.

(13)

Bloomquist, K. M. 2003. Tax Evasion , Income Inequality And Oppor tunity Costs Of Compliance Office Of Resear ch Paper Pr esented At The 96 Th Annual Confer ence. In Paper Pr esent ed At

The 96t h Annual Confer ence Of The Nat ional Tax Associat ion.

Br ubaker , R. 2011. Religion And Nationalism: Four Appr oaches Roger s Br ubaker For thcoming In, 1–29.

Cahyonow ati, N. 2011. Model Mor al Dan Kepatuhan Per pajakan : JAAI, Vol. 15 No, 161–177.

Chuenjit, P. 2014. The Cultur e Of Taxation : Defi nition And Conceptual Appr oaches For Tax Administr ation, 22(1), 14–34.

Cyan, M. R., Koumpias, A. M., &Mar tinez-Vazquez, J. 2016. The Deter minants Of Tax Mor ale In Pakistan. Jour nal Of Asian Economics, 47, 23–34.

Gungor , G., &Izgi, K. 2015. Compar ison Of Tax Mor ale Of Tur kish And Spanish Higher Education Students : The Samples Of Sakar ya Univer sity And The Univer sity Of Zar agoza. Pr ocedia -

Social And Behavior al Sciences, 186, 222–230.

Huslin, D. 2015. Pengar uh Sunset Policy , Tax Amnesty , Dan Sanksi Pajak Ter hadap Kepatuhan Wajib Pajak( Studi Empir is Di Kantor Pelayanan Pajak Pr atama Jakar ta Kembangan), XIX(02), 225–241.

Kok, M., Xin, H., &Chen, N. H. 2015. Factor s Affecting Individual Taxpayer s ’ Compliance In Malaysian Tax Filing System Abstr act : The Int er nat ional Jour nal Of Business &

Management, 3(9), 339–347.

Kr istiaji, B. B., Febr iyanto, T., &Abiyunus, Y. F. 2013. Memahami Ke ( Tidak ) Patuhan Pajak, 6– 14.

Lavoie, R. 2011. Digital Commons At Loyola Mar ymount Patr iotism And Taxation : The Tax Compliance Implications Of The Tea Par ty Movement, 45.

Litina, A., &Palivos, T. 2015. Cor r uption , Tax Evasion And Social Values. Jour nal Of Economic

Behavior And Or ganizat ion, 1–14.

Modugu, K. P. 2014. Impact Of Tax Audit On Tax Compliance In Niger ia, 5(9), 207–215.

Nasionalisme, R., Islam, D. A. N., Pengar uhnya, S., Kebangkitan, T., Islam, D., Oleh, G., … Shadily, H. 1983. Relasi Nasionalisme Dan Islam Ser ta Pengar uhnya Ter hadap Kebangkitan Dunia Islam Global Oleh Mugiyono 1, 1–11.

S. N., &Pur namasar i, A. (N.D.). Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar PBB-P2, 1–20.

Rahar djo, H. N. 2010. Keter kaitan Sunset Policy Ter hadap Pr ogr am Pascasar jana.

(14)

Compliance Decisions In Tamale , Ghana, 5(September ), 48–57.

Richar dson, G. 2008. Jour nal Of Inter national Accounting, Auditing And Taxation The Relationship Betw een Cultur e And Tax Evasion Acr oss Countries: Additional Evidence And Extensions, 17, 67–78.

Stella, P. 1991. An Economic Analysis OfTax Amnesties, 46, 383–400.

Syafr ida, F. N. (N.D.). Analisis Pener apan Tax Amnesty Di Indonesia Dalam Analysis Ofapplica-tion of Tax Amnesty In Indonesia, 1–2.

Taxpayer s, T. S., Benk, S., Budak, T., &Yüzba, B. 2016. The Impact Of Religiosity On Tax Com-pliance Among, 1–10.

Tor gler , B. 2006. The Impor tance Of Faith : Tax Mor ale And Religiosity. Jour nal Of Economic Behavior &Or ganizat ion, 61, 81–109.

Utama, A. 2016. Pengar uh Religiusitas Ter hadap Per ilaku Kepatuhan Wajib Pajak Or ang Pr ibadi Di Pr ovinsi DKI Jakar ta, (2), 1–13.

Weeden, J., &Kur zban, R. 2013. Evolution And Human Behavior What Pr edicts Religiosity ? A Multinational Analysis Of Repr oductive And Cooper ative Mor als. Evolut ion And Human

Behavior, 8–13.

Http:/ / File.Upi.Edu/ Dir ektor i/ FPIPS/ M_K_D_U/ SAEPUL_ANWAR/ Ar tikel,_Dll/ KOSEP_FITRAH_ DALAM_ISLAM.Pdf., Diunduh Pada 17 November 2016.

Http:/ / Www .Kemenkeu.Go.Id/ Ber ita/ Dir jen-Pajak-Tax-Ratio-Indonesia-Masihr endah, Diakses 17 November 2016.

Http:/ / Muslim.Or .Id/ 6283-Pajak-Dalam-Islam.Html, Diakses 16 November 2016. Http:/ / Www .Pajak.Go.Id, Diakses 12 November 2016.

Figur

Gambar 1. Yucedogru’s Figure
Gambar 1 Yucedogru s Figure . View in document p.3
Gambar 2. Model Teoretis Faktor-faktor yang Mempengaruhi  Kepatuhan Perpajakan (Cahyonowati, 2011)
Gambar 2 Model Teoretis Faktor faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Perpajakan Cahyonowati 2011 . View in document p.4
Gambar 1. Model Kepatuhan Pajak
Gambar 1 Model Kepatuhan Pajak . View in document p.8
Tabel 1. Regression Weights: (Group Number 1 - Default Model)
Tabel 1 Regression Weights Group Number 1 Default Model . View in document p.9
Tabel 2. Hasil Uji Struktural Model
Tabel 2 Hasil Uji Struktural Model . View in document p.9

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : tax moral dan kepatuhan pajak