• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Mitra Manajemen (JMM Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal Mitra Manajemen (JMM Online)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Siswanto Effendi 11

ANALISIS TERHADAP SISTEM PENGENDALIAN PERSEDIAAN PERUSAHAAN MANUFAKTU

(Studi Kasus di PT. Arfi Indah Surabaya)

Siswanto Effendi Ardi Indah dengan memberikan solusi alternatif bagi permasalahan yang dihadapinya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu studi pustaka, observasi langsung, dan melakukan wawancara atau diskusi dengan pejabat terkait dalam perusahaan. Solusi awal untuk permasalahan ini adalah dengan memberikan alternatif pembenahan data dan konsolidasi data dengan usulan

pembuatan sistem pengkodean yang baru dengan

mengklasifikasikan persediaan menjadi barang yang perlu

di-stok dan tidak perlu di-stok. Dengan alternatif

pengklasifikasian barang yang baru ini diharapkan dapat membenahi data persediaan yang sudah ada dan mengurangi persediaan yang terlalu berlebihan. Analisis dilanjutkan dengan memberikan solusi terhadap terlalu lambannya sistem pengadaan. Dengan membenahi sistem pembelian dan prosedur perencanaan dan pengendalian material diharapkan sistem pengadaan barang dapat menjadi lebih cepat namun tetap terkendali dengan baik.

Pembenahan data dan pembenahan prosedur dengan tujuan efisiensi dan efektifitas ini dapat terlaksana dengan lebih baik dan terkendali dengan baik pula dengan sistem yang terintegrasi. Dengan alasan tersebut penulis mengusulkan untuk membuat sistem yang terkomputerisasi. PT. Ardi Indah sudah mengembangkan sistem Local Area Network (LAN), hanya saja belum diimplementasikan seluruhnya dan belum terintegrasi di tiga site pabrik yang saling berjauhan. Dengan memanfaatkan sistem satelit maka tiga bagian pabrik yang memiliki LAN tersebut dapat diintegrasikan. Penelitian ini memang belum bisa memberikan solusi tentang standar persediaan yang layak namun solusi alternatif yang ditawarkan dapat dipertimbangkan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi se-optimal mungkin.

Kata Kunci : Sistem Pengendalian Persediaan

(2)

Siswanto Effendi 12

PENDAHULUAN Latar Belakang

Logistik dan pemeliharaan memiliki keterkaitan yang sangat erat, yaitu pemeliharaan memerlukan sparepart yang sesuai dan tepat waktu. Sedangkan logistik harus memenuhi kebutuhan tersebut. Bagian produksi memerlukan bagian pemeliharaan agar bekerja dengan baik agar pabrik selalu dalam kondisi yang baik sehingga proses produksi menjadi lancar. Demikian juga dengan persediaan bahan baku, bagian produksi memerlukan ketersediaan bahan baku yang memadai agar proses produksi juga menjadi lancar. Dari keadaan diatas dapat diketahui bahwa sangat penting sekali koordinasi yang baik antara bagian pemeliharaan dan produksi dengan pengadaan bahan baku dan suku cadang agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.

Agar fleksibilitas kegiatan produksi perusahaan dapat terjaga serta berkesinambungan dalam satu garis perencanaan jangka pendek dan jangka panjang perusahaan maka diperlukan motivasi untuk dapat mengendalikan tingkat persediaan baik dalam bahan mentah, barang dalam proses maupun barang jadi. Hal tersebut tidak berarti bahwa perusahaan harus menyediakan persediaan sebesar-besarnya, karena dapat mengakibatkan investasi yang terlalu besar dalam hal biaya simpan dan kemungkinan kerusakan dari persediaan tersebut. Dengan demikian perlu diterapkan suatu sistem yang kondusif yang dapat memonitor aktifitas-aktifitas didalam pengadaan serta pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan.

Sistem pengendalian persediaan merupakan salah satu bagian dari sistem-sistem yang diterapkan didalam pengendalian manajemen perusahaan. Pengendalian persediaan memiliki hubungan dengan perencanaan dan pengembangan- pengembangan sistem pengendalian Menurut Schroeder (2003), terdapat beberapa jenis penerapan dari sistem pengendalian persediaan, yaitu: Sistem P (The Single Bin System), Sistem Q (The Two-Bin System), Sistem Catatan Kartu (Card File System), dan Sistem Terkomputerisasi.

Keputusan penerapan dari keempat sistem tersebut diatas, secara relatif tergantung kepada biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang dapat diberikan (cost dan benefit). Secara umum dapat dikatan bahwa rasio antara biaya-biaya dan manfaatnya pada perusahaan dengan tingkat persediaan yang cukup besar akan lebih baik untuk menggunakan komputer. Namun demikian, bagi perusahaan dengan tingkat persediaan yang kecil sekalipun akan memberikan nilai ekonomis apabila dikelola secara terkomputerisasi.

Salah satu tujuan dari manajemen persediaan adalah mengendalikan persediaan pada harga terendah. Melalui identifikasi persediaan barang-barang secara individual, manajemen dapat lebih efektif mengalokasikan sumberdaya-sumberdayanya untuk mengendalikan barang-barang yang relatif sedikit dengan nilai tertinggi yang memerlukan perhatian lebih nesar dalam hal pengawasan terhadap permintaan dan penggunaan barang tersebut, penyimpanan, sistem permintaan material dan penetapan jumlah pemesanan dan stok pengamanannya.

(3)

Siswanto Effendi 13 yang terlihat dari tingginya persediaan suku cadang yang seharusnya tidak perlu di stok sehingga ada stok suku cadang yang terlalu lama tidak terpakai (lebih dari 10 tahun) dan masih adanya duplikasi stok yang diakibatkan kurang baiknya sistem pengendalian persediaan di perusahaan tersebut.

Dilain pihak timbul juga permasalahan yang berhubungan dengan pengadaan bahan baku semen yang juga menimbulkan terlalu besarnya nilai persediaan bahan baku, khususnya bahan baku penolong. Permasalahan yang timbul antara lain adalah permasalahan transportasi antar pulau sehingga perusahaan harus membeli persediaan bahan baku penolong untuk waktu yang terlalu lama. Pembenahan sistem persediaan merupakan satu alternatif untukmeningkatkan efisiensi dan melakukan penghematan biaya. Persediaan merupakan komponen yang penting bagi perusahaan, maka diusahakan agar persediaan selalu tersedia cukup untuk menghindari resiko bahwa pada suatu saat perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang memerlukan barang atau jasa. Selain itu dihindarkan tejadinya kehilangan barang dan memanipulasi persediaan.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu pengendalian intern di bidang persediaan. Pengendalian meliputi baik tindakan untuk menuntun dan memotivasi usaha pencapaian tujuan maupun tindakan untuk mendeteksi dan memperbaiki pelaksanaan yang efektif dan efisien

Rumusan Masalah

1. Bagaimana kebijakan sistem pengendalian persediaan yang dilaksanakan ?

2. Bagaimana kajian terhadap penerapan sistem pengendalian persediaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dengan berbagai faktor internal dan eksternal yang mendukung dan/atau menghambatnya ?

Tujuan Penelitain

1. Mengetahui kebijakan sistem pengendalian persediaan yang dilaksanakan.

2. Melakukan kajian terhadap penerapan sistem pengendalian persediaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dengan berbagai faktor internal dan eksternal yang mendukung dan/atau menghambatnya.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat yang penting bagi pihak-pihak yang baik secara langsung maupun tidak lagsung berkaitan dengan hasil yang diperoleh yaitu:

a) Perusahaan

Sebagai bahan input (masukan) informasi yang dipandang perlu untuk dipertimbangkan bagi pengembangan manajerial perusahaan dan proses penetapan kebijakan-kebijakan dalam sistem pengendalian intern perusahaan.

b) Peneliti

(4)

Siswanto Effendi 14 bangku kuliah

c) Pihak-pihak Lainnya

Sebagai bahan acuan dan perbandingan yang dapat mendukung kelengkapan serta keakuratan hasil-hasil penelitian terdahulu maupun penelitian-penelitian yang akan dilakukan pada masa yang akan dating.

KAJIAN PUSTAKA

Sistem Pengendalian Bahan Baku dan Sparepart

Paul D.Larson (2009), melakukan penelitian tentang integrasi antara keputusan persediaan dan kualitas dalam logistik dengan pendekatan analitis. Dengan diilhami oleh filosofi Just-in time (JIT), perhatian terhadap hubungan antara keputusan persediaan dan kualitas dalam literatur-literatur bisnis menjadi semakin meningkat. Sebagai contohnya, Bowersox, Closs dan Helferich memasukkan faktor-faktor persediaan dan pengendalian kualitas dalam lima tujuan logistik mereka. JIT berfungsi dalam mengurangi lot size yang berakibat pada turunnya tingkat persediaan dan peningkatan kualitas, sebagian dengan membuat aktivitas inspeksi dan rework menjadi berkurang.

Model yang telah dipublikasikan sebelumnya telah mempertimbangkan trade-off yang terjadi antara biaya rework dan investasi pada produk rusak dalam rerangka EOQ. Namun, model ini sangat berbeda dengan inspeksi pada bahan baku yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan di Amerika pada umumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Larson ini menyajikan beberapa modifikasi pada EOQ. Model yang ditampilkan mengidentifikasi adanya alternatif pembelian atau pengadaan barang material untuk (1) inspeksi pada material yang datang dan (2) penanganan material yang rusak. Sebagaimana yang telah dilakukan dalam sistem logistik, model EOQ didasarkan pada asumsi bahwa jumlah material ditambahkan langsung dalam persediaan sekaligus, sedangkan item-itemnya tetap pada rasio yang konstan.

Dengan mengimplementasikan model persediaan/kualitas perusahaan dapat belajar mengenai keterkaitan antara bagian-bagian sistem operasinya dan dapat meningkatkan kinerjanya secara bersamaan. Tantangan terbesar dalam mengimplementasikan model ini adalah mengestimasikan parameter yang diperlukan untuk menjalankan model tersebut. Pengaruh keputusan persediaan/kualitas adalah memangkas aktivitas antar departemen dalam perusahaan seperti pembelian, produksi, pengendalian kualitas dan pemasaran. Lebih jauh lagi, keputusan tersebut mempengaruhi pemasok perusahaan dan pelanggan. Sehingga, usaha pengintegrasian dalam perusahaan itu sendiri maupun dengan pemasoknya memerlukan implementasi model persediaan/kualitas secara menyeluruh.

(5)

Siswanto Effendi 15 satu. Akan tetapi apabila ditinjau hanya dari salah satu aspek biaya, dari biaya total persediaan. Yaitu biaya pemesanan, simpan dan shotage, model pengendalian persediaan yang dikembangkan tidak selalu lebih baik dari model pengendalian persediaan multi-stockpoint independen. Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa perbaikan atau penghematan biaya total persediaan yang dihasilkan oleh model pengendalian persediaan yang dikembangkan dibandingkan dengan model pengendalian persediaan multi-stockpoint independen pada tiap-tiap stockpoint tidak sama.

Prosedur Pengendalian

Prosedur pengendalian adalah kebijakan dan prosedur sebagai tambahan terhadap lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi, untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan tertentu kesatuan usaha akan tercapai. Prosedur pengendalian mempunyai beberapa tujuan dan diterapkan pada berbagai tingkatan organisasi dan pemrosesan data. Secara umum, prosedur pengendalian dapat digolongkan kedalam lima kelompok:

1. Otorisasi yang semestinya atas transaksi dan kegiatan

2. Pemisahan tugas yang mengurangi kesempatan yang memungkinkan seseorang dalam posisi yang dapat melakukan dan sekaligus menutupi kekeliruan atau ketidak beresan dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk memberikan otorisasi transaksi, mencatat transaksi, dan menyimpan aktiva perlu dipisahkan ditangan karyawan yang berbeda.

3. Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai untuk membantu pencatatan transaksi dan peristiwa secara semestinya, misalnya dengan memantau penggunaan dokumen pengiriman barang yang bernomor urut tercetak.

4. Pengamanan yang cukup atas akses dan penggunaan aktiva serta catatan perusahaan, misalnya penetapan fasilitas yang dilindungi dan otorisasi untuk akses ke program dan arsip data komputer.

5. Pengecekan secara independen atas pelaksanaan dan penilaian yang semestinya atas jumlah yang dicatat, misalnya pengecekan atas pekerjaan klerikal, rekonsiliasi, pembandingan aktiva yang ada dengan pertanggungjawaban yang tercatat, pengawasan penggunaan program komputer, penelaahan oleh manajemen atas laporan yang mengikhtisarkan rincian akuntansi (misalnya; saldo piutang yang dirinci menurut umur piutang)

Pengertian Persediaan

(6)

Siswanto Effendi 16 Menurut prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) istilah persediaan digunakan untuk menyatakan barang berwujud yang tersedia untuk dijual, masih dalam proses produksi untuk diselesaikan kemudian dijual dan barang yang akan dipergunakan untuk produksi barang-barang jadi yang akan dijual dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud persediaan adalah barang-barang yang memiliki ciri-ciri:

1) Dimiliki oleh perusahaan

2) Dimaksudkan untuk dijual atau untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual.

3) Dalam kondisi normal perusahaan

Pengendalian Intern Terhadap Persediaan

Seperti telah disebut diatas, struktur pengendalian intern mempunyai tiga unsur yaitu lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedur pengendalian. Unsur lingkungan pengendalian merupakan unsur yang bersifat umum dan berlaku untuk semua siklus kegiatan perusahaan, sehingga tidak memerlukan rincian yang spesifik. Sistem akuntansi dan prosedur pengendalian lebih bersifat khusus dan berbeda-beda untuk setiap siklus kegiatan perusahaan. Oleh karena itu berikut ini akan dirinci mengenai sistem akuntansi dan prosedur pengendalian sebagai unsur dari struktur pengendalian intern terhadap persediaan.

Uraian mengenai sistem akuntasi dan prosedur pengendalian terhadap persediaan dibagi menjadi empat bagian sebagai berikut:

1) Sistem pembelian.

2) Prosedur permintaan dan pengeluaran suku cadang. 3) Prosedur penghitungan fisik persediaan.

4) Prosedur pengembalian persediaan ke gudang.

METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan data

Dalam penelitian ini metode yang dipakai yaitu : Wawancara, Observasi dan Studi Pustaka.

Metode Analisis

(7)

Siswanto Effendi 17

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Selama ini kegiatan gudang di PT. Ardi Indah telah berlangsung dengan baik dan tidak ditemukan permasalahan yang cukup signifikan. Dilihat dari sistem penyimpanannya, teknik yang digunakan oleh PT. Ardi Indah juga sudah efektif dan efisien. Dari pengamatan di lapangan gudang PT. Ardi Indah sudah berjalan dengan efektif dan keadaannya sangat rapi. Kecuali untuk gudang yang ada di Pabrik Baturaja, dengan sistem yang sama namun keadaannya tidak sama dengan yang ada di Palembang dan Panjang. Hal ini lebih disebabkan oleh sumber daya manusia atau staf yang ada di gudang belum melaksanakan sistem dengan baik. Penulis mengusulkan agar permasalahan dengan sumber daya manusia ini diatasi dengan segera dengan beberapa alternatif yang ada seperti pelatihan, pengendalian dan pengawasan dari atasan langsung atau yang lebih ekstrem lagi seperti penggantian sumberdaya manusia yang ada saat ini yang dinilai kurang memiliki kompetensi atau keterampilan yang baik. Sebagaimana yang diketahui penulis, sumber daya manusia di PT. Ardi Indah memang kekurangan tenaga tingkat sarjana yang benar-benar berkompeten. Sebagaimana perusahaan BUMN pada umumnya, PT. Ardi Indah memang masih dipenuhi unsur nepotisme, seperti masuknya para pegawai tanpa ada seleksi yang ketat. Jadi penulis mengusulkan juga agar PT. Ardi Indah membenahi sistem penerimaan pegawai dengan cara-cara yang lebih selektif lagi.

Sistem Pengkodean dan Klasifikasi Barang

Selama ini permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem pengkodean PT. Ardi Indah tersebut adalah untuk barang-barang slow moving yang usianya lebih dari 3 tahun banyak yang rusak karena ketidak pastian dalam pemanfaatan barang-barang slow moving tersebut. Bahkan ada stok yang tidak terpakai selama lebih dari 10 tahun dan menjadi barang yang tidak berguna. Setelah dilakukan identifikasi, ternyata salah satu penyebab masalah adalah data barang yang tidak jelas dan kode barang lebih dari satu untuk barang yang sama. Jadi penulis mengusulkan kepada perusahaan untuk membuat sistem pengkodean barang yang baru, dengan melakukan penyeragaman/standarisasi nama barang dan melengkapi data spesifikasi barang.

Kemudian melakukan penggabungan kode barang dari barang-barang yang

sama. Pengklasifikasian barang yang lama berdasarkan ‘slow moving’ dan ‘fast moving’. Penulis mengusulkan untuk melakukan pengklasifikasian barang yang baru,

yaitu mengklasifikasikan barang dengan barang ‘stok gudang’ dan ‘non-stok gudang’. Barang stok gudang terdiri dari barang rutin dan barang security part barang-barang non-stok gudang terdiri dari barang-barang yang ‘just-in-time’, barang-barang untuk pekerjaan yang terencana/dapat direncanakan.

Analisa Terhadap Struktur Organisasi

(8)

Siswanto Effendi 18 di dalam organisasi menjadi lebih efektif. Karena faktor keterbatasan manajer untuk dapat mengawasi jumlah personel yang besar, sebagai akibatnya timbul tingkatan organisasi. PT. Ardi Indah menggunakan rentang organisasi yang lebar, dengan sistem departementalisasi berdasarkan fungsi. PT. Ardi Indah mengelompokkan fungsi-fungsi kegiatan tertentu, seperti fungsi produksi, pemasaran, teknik, keuangan dan sumberdaya manusia.

Selama ini kelemahan-kelemahan dalam sistem organisasi tersebut tidak menimbulkan masalah, hanya saja untuk sistem pengendalian persediaan yang baik PT. Ardi Indah merasa perlu dibentuk satu Biro khusus yang berfungsi melakukan perencanaan dan pengendalian yang lebih baik dan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Biro ini dinamakan Biro Perencanaan dan Pengendalian Material (PPM) yang baru saja dibentuk, sehingga fungsinya masih belum jelas dan tugasnya secara teknis juga belum ada.

Penulis mengusulkan agar Biro ini difungsikan dengan segera agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Biro yang baru ini dapat menjalankan fungsinya melakukan perencanaan dan pengendalian material dengan baik dengan memanfaatkan sistem komputerisasi yang sudah ada dan berusahan untuk mengoptimalkan fungsinya. Penulis juga melakukan analisis dengan sudut pandang Biro ini untuk membantu pelaksanaan perencanaan dan pengendalian material dengan Baik

Analisa Terhadap Sistem Pembelian

Prosedur yang lama masih terlalu berbelit-belit dan tidak efisien dan terlalu banyak fungsi otorisasi sehingga pembelian barang membutuhkan waktu yang terlalu lama. Sebagaimana dalam prakteknya, prosedur pembelian yang melibatkan otorisasi yang terlalu banyak ini menyebabkan pengadaan barang/bahan menjadi sangat lama, bahkan kadang-kadang untuk satu otorisasi saja membutuhkan waktu berminggu-minggu akibat keteledoran pengotorisasi, sehingga pengadaan barang/bahan sering terlambat dan menyebabkan tidak lancarnya proses produksi maupun pemeliharaan. Dengan fungsi pembelian yang baru diusulkan, prosedur dapat lebih dipersingkat dengan sekali otorisasi oleh kepala departemen operasi dan kepala biro pabrik Panjang saja. Dengan penyederhanaan ini pengadaan barang/bahan dapat lebih dipercepat.

Usulan sistem pembelian yang baru ini melibatkan fungsi Biro PPM sebagai pengendali persediaan. Apabila sistem ini dilakukan dengan sistem terkomputerisasi maka sistem akan dapat lebih efisien lagi. Karena pada usulan Sistem Pembelian yang baru melibatkan Pengadaan Pusat untuk Barang Non-Rutin sehingga dengan sistem komputerisasi terpusat dapat informasi dapat langsung diterima oleh Pengadaan Pusat (PAN-PUS) sehingga proses pengadaan dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Sistem perencanaan dan pengendalian barang/material yang ada dinilai penulis tidak efisien. Seperti misalnya untuk pengadaan barang non-rutin User memberikan usulan PP kepada PPM, PPM melakukan evaluasi apakah dapat dilakukan dengan substitusi barang lokal atau tidak. Menurut penulis keputusan menggunakan barang subtitusi lokal tidak perlu diinformasikan kepada staf direksi namun cukup dengan otorisasi Biro PPM saja, dengan demikian prosedur dapat dipersingkat dan pengadaan barang dapat dipercepat.

(9)

Siswanto Effendi 19 pendek dan ringkas sesuai dengan tujuan efisiensi dalam pengadaan barang. Sebagai contoh, pengadaan barang untuk barang yang bisa dilakukan dengan substitusi lokal tidak perlu dilakukan evaluasi dan pemberian informasi ke staf direksi.

Apabila dilakukan dengan sistem komputerisasi, maka User dapat langsung melihat ke database Gudang dan menerbitkan usulan PP, sehingga tanpa melakukan evaluasi, barang/bahan dapat langsung diadakan. Prosedur pengendalian yang dilakukan PT. Ardi Indah sudah cukup baik hanya saja penulis mengusulkan untuk poin 6.4.4. Pajiksa yang melakukan pemeriksaan, minimal dilakukan oleh 2 Unit Kerja dari point 3.6 dan personil yang melaksanakan pemeriksaan sesuai daftar personil yang telah ditetapkan, perlu dihilangkan dengan maksud efisiensi atau penyederhanaan prosedur. Penulis menyarankan agar setelah melakukan verifikasi langsung dilakukan konsesi apakah barang sudah sesuai atau tidak apabila sesuai langsung diterbitkan LPB bila tidak langsung diinformasikan ke Pengadaan dan supplier.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan penerapan sistem pengendalian persediaan PT. Semen Baturaja, sebagai berikut:

Sistem pengendalian merupakan serangkaian alur pekerjaan antara unit-unit/departemen-departemen yang ada dalam suatu organisasi dan berada dalam suatu garis perencanaan jangka pendek dan jangka panjang perusahaan. Dengan penerapan pengendalian persediaan yang terencana dan terkoordinasi dengan baik akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan dalam meminimalkan beban tetap perusahaan, pengurangan siklus waktu dan peningkatan pelayanan kepada customer, yang secara langsung berdampak terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan. 1. Selama ini Sistem pengendalian persediaan PT Ardi Indah belum berjalan dengan

baik, yang ditunjukkan oleh berbagai permasalahan yang ada dalam perusahaan tersebut. Indikator permasalahannya terlihat dari tingginya investasi yang dikeluarkan untuk persediaan dalam artian nilai persediaan terlalu tinggi. Nilai persediaan yang besar ini setelah diidentifikasi secara umum diakibatkan karena stok yang terlalu besar yang terlihat dari tingginya persediaan suku cadang yang seharusnya tidak perlu di-stok, sehingga ada stok suku cadang yang tidak terpakai selama lebih dari 10 tahun dan masih adanya duplikasi stok. Permasalahan ini dapat diselesaikan dengan reidentifikasi ulang sistem pengkodean barang menjadi 1. Barang Rutin, 2. Security Part, 3. Barang Non-Stock, dan 4. Barang Obsolence. 2. Sistem pengendalian persediaan yang dilakukan di PT Ardi Indah bertujuan untuk

(10)

Siswanto Effendi 20 pengadaan barang maka jumlah persediaan dapat diatur sedemikian rupa seminimal mungkin. Pembenahan sistem merupakan alternatif yang paling sesuai untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di perusahaan tersebut yaitu;

1) Pembenahan data

Pembenahan data meliputi:

a. Pengklasifikasian data menjadi lima macam jenis barang I. Stok Gudang

 Barang Rutin  Security part II. Non Stok Gudang

 Tools  Investasi  Proyek

 Kebutuhan mendesak/sesaat b. Pendataan part-list peralatan pabrik

c. Konsolidasi data, sehingga barang-barang yang sama, hanya satu kode barang, tempat pemakaiannya, dan berapa banyak jumlah terpasang.

2) Pembenahan Sistem

a. Pengendalian stok selama ini praktis dilakukan oleh unit kerja pemakai. Karena bukan pekerjaan utama unit kerja tersebut, kualitas pengendaliannya masih jauh dari yang diharapkan. PT. Ardi Indah telah membentuk Biro khusus untuk menangani masalah pengendalian stok tersebut yaitu Biro Perencanaan Pengadaan Material (BPPM).

b. Pengendalian kode barang, standarisasi barang, penambahan barang baru, yang selama ini belum memadai, akan dibuat suatu sistem pengendaliannya sehingga didapat jumlah item barang yang minimal

c. Dibuat prosedur penghapusan barang yang tidak berguna (obsolence).

Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang direkomendasikan sebagai berikut : 1. Sebaiknya PT. Ardi Indah lebih mengoptimalkan pemanfaatan sistem komputerisasi

yang sudah ada untuk mengatasi permasalahan sistem pengendaliannya dan melakukan pengembangan-pengembangan pengendalian secara rutin atau periodik dengan sistem komputerisasinya tersebut.

1. Sistem komputerisasi yang ditawarkan penulis akan memberikan manfaat yang besar untuk kelancaran operasional sistem manajemen persediaan perusahaan. Sistem yang ditawarkan tersebut memanfaatkan teknologi Local Area Network (LAN) yang sudah ada dengan usulan tambahan pemanfaatan satelit untuk mengintegrasikan tiga site Pabrik yang memang sangat jauh untuk LAN yang menggunkan jaringan kabel.

DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, Agus, Drs, M.B.A., 2009. Manajemen Produksi, Buku Satu, Edisi 4, Yogyakarta: BPFE

(11)

Siswanto Effendi 21 Edition, Irwin Mc Graw-hill

Dawe, Richard L., 2004. An Investigation of The Pace and Determinationof Informastion Technology Use in The Manufacturing Materials Logistics System, Journal of Business Logistics. Vol 15, No. 1

Gitosudarmo, Indriyo. Drs, H., Mulyono, Agus, Drs., 2010. Manajemen Bisnis Logistik, Edisi Pertama, Yogyakarta:BPFE

Jogiyanto H.M., Dr, M.B.A., Akt., 2009. Sistem Informasi Berbasis Komputer, Edisi 2, Yogyakarta :BPFE

Marciariello, Joseph A., Kirby, Calvin J., 2004. Management Control System, Second Edition, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey 07632

Martinich, Joseph S., 2007. “Production and Operation Management: An Applied ModernApproach,” John Wiley & Sons, Inc, Ney York

Wilkinson, Joseph W., Cerullo, Michael J., Raval, Vasant., Wong-On-Wing, Bernard., 2010. Accounting Information System, Fourth Edition, Jhon Wiley and Son. Inc, United States of America

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbandingan kadar hormone progesteron antara kerbau betina yang belum melahirkan dengan kerbau betina yang sudah melahirkan

Saya adalah mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang mengadakan penelitian dengan judul Pengaruh Terpaan Tweet Informasi Penjualan

Secara bertutut-turut hasil nilai signifikansi pada variabel indepen- den yaitu harga di tingkat koperasi sebesar 0,997 dan harga di tingkat Dinas Perkebunan

Peneliti menganalisa representasi hedonisme dan keharmonisan keluarga pada akun Rans Entertainment di media online dengan kajian nilai-nilai Islam menggunakan metodologi

Langkah aksi Cetak Biru Pilar Polkam ASEAN 2025 memuat kerjasama dalam bidang politik, keamanan, pertahanan dan hukum yang mencakup spektrum yang luas dari

Untuk menandai bahwa sebuah file teks merupakan file HTML, maka ciri yang paling nampak jelas adalah ekstensi filenya, yaitu .htm atau .html.. Setelahdisimpan, buka internet

Hal tersebut menandakan bahwa akselerasi pada selang waktu tersebut berada pada himpunan fuzzy AccLow (akselerasi rendah) dan pengaruh handtorque wheel yang berada pada

Pemasaran Mitsubishi Yogyakarta (Studi Deskriptif Kualitatif Strategi Komunikasi Pemasaran PT. Borobudur Oto Mobil Mitsubishi Dalam Meningkatkan Penjualan Pajero