• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN SIST

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROPOSAL TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN SIST"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Pengawasan dan pemeliharaan persediaan adalah masalah dalam semua organisasi di setiap sektor ekonomi. Masalah persediaan tidak hanya terbatas

pada perusahaan berdasarkan keuntungan saja, tetapi juga dialami oleh organisasi sosial (Yamit, 1999). Guna lebih dapat bersaing di dalam dunia usaha sekarang diperlukan efisiensi yang sangat tinggi. Suatu sistem yang terkomputerisasi dengan baik sangat diperlukan dalam pencapaian efisiensi tersebut, terutama pada suatu perusahaan yang mempunyai rutinitas transaksi yang tinggi dan memiliki banyak data yang harus diolah. Sehingga diperlukan manajemen persediaan pada setiap perusahaan tersebut.

Tujuan utama manajemen persediaan adalah mengendalikan persediaan agar dapat melayani kebutuhan konsumen akan barang dari waktu ke waktu serta dapat meminimalkan total biaya operasi perusahaan (Mitra, 2004). Minimarket KopataMart adalah minimarket yang bergerak di dalam penjualan barang kebutuhan sehari-hari. Dalam operasional sehari-hari proses Minimarket tersebut sudah mempunyai sistem yang terkomputerisasi pada proses penjualan barang. Namun pada proses pendataan masih bersifat manual sehingga banyak terjadi kesalahan dari bagian-bagian yang bertanggung jawab seperti bagian penjualan. Tidak terdapatnya peramalan kebutuhan barang juga menjadi permasalahan untuk efisiensi biaya operasional minimarket.

Proses pembelian barang pada Minimarket KopataMart dilakukan dengan dua cara. Cara pertama pembelian barang dilakukan kepada supplier yang datang menurut jadwal kedatangan supplier, sedangkan cara kedua adalah

(2)

pengambilan keputusan persediaan barang secara tepat yang nantinya berpengaruh pada efisiensi dan optimasi keuntungan.

Sistem pembelian barang tersebut digunakan untuk mengetahui kebutuhan dengan tiga kriteria untuk menjawab permasalahan utama yaitu prioritas pembelian, berapa jumlah yang akan dibeli dan kapan waktu yang tepat untuk pembelian barang. Sehingga diharapkan sistem yang dibuat ini dapat

diimplementasikan secara langsung oleh pemilik minimarket.

Metode Analitycal Hierarchy Process akan digunakan dalam perancangan dan pembuatan sistem pendukung keputusan di minimarket KopataMart. Alasan penggunaan Analitycal Hierarchy Process adalah kriteria dalam perancangan sistem yang akan dibuat sudah jelas. Kriteria tersebut adalah prioritas pembelian, berapa jumlah yang akan dibeli dan kapan waktu yang tepat untuk pembelian barang.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana mekanisme inventory minimarket, khususnya di KopataMart Purwokerto ?

2. Bagaimana cara merancang dan mengembangkan sistem pendukung keputusan menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process pada proses inventory di KopataMart Purwokerto ?

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah diperlukan supaya permasalahan yang dikaji tidak terlalu luas. Sehingga penelitian dapat lebih terarah sesuai dengan tujuan penulis.

Adapun batasan masalah yang digunakan pada penelitian ini adalah:

(3)

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah maka dapat diketahui tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui dan menyempurnakan mekanisme inventory minimarket, khususnya di KopataMart Purwokerto.

2. Merancang dan Mengembangkan sistem pendukung keputusan menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process pada proses inventory di KopataMart Purwokerto.

1.4.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat untuk 1. Bagi Minimarket Kopatamart:

a. Mempermudah proses inventory barang dengan aplikasi berbasis desktop.

b. Mengembangkan kinerja KopataMart sebagai minimarket yang dapat memenuhi dan menyediakan kebutuhan masyarakat.

c. Memudahkan user dalam menginventori barang serta mempermudah

administrator untuk mengelola data hasil penjualan. 2. Bagi mahasiswa:

a. Menerapkan dan membandingkan pengetahuan yang diperoleh dalam perkuliahan dengan apa yang dilakukan pada penelitian.

b. Menumbuhkan kesiapan mental mahasiswa untuk memasuki dunia kerja.

(4)

1.5 Sistematika Penulisan

Dalam penulisan ini disusun sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tentang konsep dasar sistem, sistem pendukung keputusan, manajemen persediaan (Inventory), metode analitycal hierarchy process (AHP), matriks, nilai dan vektor eigen, metode pengembangan sistem (Metode Waterfall), dan basisdata.

BAB III METODE PENELITIAN

(5)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Sistem

Suatu sistem beroperasi dan berinteraksi dengan lingkungannya untuk mencapai sasaran (objective) tertentu. Suatu sistem menunjukkan tingkah

lakunya melalui interaksi diantara komponen-komponen di dalam sistem dan diantara lingkungannya (Frederick, 1984). Lingkungan sistem adalah apapun di luar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem.

Suatu sistem yang memiliki komponen terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Dengan adanya interaksi antara komponen dengan lingkungan tempat keberadaan sistem maka akan membentuk suatu sistem yang digunakan untuk mencapai sasaran tertentu. Jika suatu sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya.

2.2 Sistem Pendukung Keputusan

Sistem pendukung keputusan (SPK) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer yang termasuk sistem berbasis pengetahuan atau manajemen pengetahuan yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi terstruktur yang spesifik (Suryadi, K. dan Ramdhani, MA. 1998).

Menurut Moore (1980) SPK dapat digambarkan sebagai sistem yang

berkemampuan mendukung analisis ad hoc data, dan pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat yang tidak biasa.

(6)

memperbaiki kualitas keputusan. Sistem Pendukung Keputusan juga merupakan sistem informasi berbasis komputer untuk manajemen pengambilan keputusan yang menangani masalah-masalah semistruktur . Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa SPK bukan merupakan alat pengambilan keputusan, melainkan merupakan sistem yang membantu pengambil keputusan dengan melengkapi mereka dengan

informasi dari data yang telah diolah dengan relevan dan diperlukan untuk membuat keputusan tentang suatu masalah dengan lebih cepat dan akurat. Sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengambilan keputusan dalam proses pembuatan keputusan.

2.2.1 Karakteristik dan Kemampuan Sistem Pendukung Keputusan

Menurut Turban (2005), ada beberapa karakteristik dari SPK, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mendukung seluruh kegiatan organisasi.

2. Mendukung beberapa keputusan yang saling berinteraksi.

3. Dapat digunakan berulang kali dan bersifat konstan.

4. Terdapat dua komponen utama, yaitu data dan model.

5. Menggunakan baik data ekternal maupun internal.

6. Memiliki kemampuan what-if analysis dan goal seeking analysis.

7. Menggunakan beberapa model kuantitatif.

Selain itu, Turban juga menjelaskan kemampuan yang harus dimiliki oleh sebuah sistem pendukung keputusan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menunjang pembuatan keputusan manajemen dalam menangani masalah semi terstruktur dan tidak terstruktur.

2. Membantu manajer pada berbagai tingkatan manajemen, mulai dari manajemen tingkat atas sampai manajemen tingkat bawah.

3. Menunjang pembuatan keputusan secara kelompok dan perorangan. 4. Menunjang pembuatan keputusan yang saling bergantungan dan

(7)

5. Menunjang tahap-tahap pembuatan keputusan antara lain intelligence, design, choice dan implementation.

6. Menunjang berbagai bentuk proses pembuatan keputusan dan jenis keputusan.

7. Kemampuan untuk melakukan adaptasi setiap saat dan bersifat fleksibel. 8. Kemudahan melakukan interaksi sistem.

9. Meningkatkan efektivitas dalam pembuatan keputusan daripada efisiensi.

10.Mudah dikembangkan oleh pemakai akhir.

11.Kemampuan pemodelan dan analisis dalam pembuatan keputusan. 12.Kemudahan melakukan pengaksesan berbagai sumber dan format data. Secara implisit, sistem pendukung keputusan berlandaskan pada kemampuan dari sebuah sistem berbasis komputer dan dapat melayani penyelesaian masalah.

2.2.2 Keuntungan dan Komponen Sistem Pendukung Keputusan

SPK digunakan karena mempunyai keuntungan-keuntungan daripada sistem yang masih tradisional. Beberapa keuntungan penggunaan SPK adalah sebagai berikut (Turban, 2005):

1. Dapat merespon dengan cepat pada situasi yang tidak diharapkan dalam konsisi yang berubah-ubah.

2. Pandangan dan pembelajaran baru.

3. Sebagai fasilitator dalam komunikasi.

4. Meningkatkan kontrol manajemen dan kinerja.

5. Menghemat biaya dan sumber daya manusia (SDM).

6. Menghemat waktu karena keputusan dapat diambil dengan cepat.

(8)

SPK mempunyai beberapa komponen utama. Adapun komponen-komponen dari SPK adalah sebagai berikut (Suryadi, K. dan Ramdhani, MA. 1998): 1. Data Management

Mengandung data yang relevan untuk berbagai situasi dan diatur oleh software yang disebut Database Management Sistem (DBMS).

2. Model Management

Melibatkan model finansial, statistikal, management science, atau berbagai model kualitatif lainnya, sehingga dapat memberikan ke sistem suatu kemampuan analitis, dan manajemen software yang dibutuhkan. 3. Communication

User dapat berkomunikasi dan memberikan perintah pada SPK melalui subsistem ini. Ini berarti menyediakan antarmuka.

4. Knowledge Management

Subsistem optional ini dapat mendukung subsistem lain atau bertindak atau bertindak sebagai komponen yang berdiri sendiri.

2.3 Manajemen Persediaan (Inventory)

Setiap perusahaan, baik jasa maupun manufaktur, selalu memerlukan persediaan, tanpa persediaan perusahaan akan dihadapkan pada risiko jika suatu ketika tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan. Hal ini bisa terjadi karena tidak selamanya barang atau jasa selalu tersedia pada setiap saat, dan jika hal ini terjadi akan berakibat perusahaan akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan. Tujuan manajemen persediaan adalah

meminimumkan biaya, oleh karena itu perusahaan perlu mengadakan analisis untuk menentukan tingkat persediaan yang dapat meminimumkan biaya atau

(9)

2.3.1 Pengertian Persediaan

Secara umum, persediaan adalah segala sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan (Yamit, 1999). Persediaan (inventory) dalam konteks produksi, dapat diartikan sebagai sumber daya tidak terpakai (idle resource). Sumber daya tidak terpakai ini belum digunakan karena menunggu proses lebih lanjut. Yang

dimaksud proses lebih lanjut disini dapat berupa kegiatan produksi seperti dijumpai pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran seperti dijumpai pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi seperti pada sistem rumah tangga.

Keberadaan persediaan atau sumber daya tidak terpakai ini dalam suatu sistem mempunyai suatu tujuan tertentu. Alasan utamanya adalah karena sumber daya tertentu tidak bisa didatangkan ketika sumber daya tersebut dibutuhkan. Sehingga, untuk menjamin tersedianya sumber daya tersebut perlu adanya persediaan yang siap digunakan ketika dibutuhkan.

2.3.2 Konsep Dasar Sistem Persediaan

Sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola masukan-masukan yang berhubungan dengan persediaan menjadi output, dimana untuk itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi

standar tertentu (Yamit, 1999). Mekanisme sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin

tersedianya produk jadi, barang dalam proses, komponen, bahan baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal dan pada waktu yang optimal. Kriteria

(10)

variabel keputusan pada pengendalian sistem persediaan adalah sebagai berikut:

1. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau dibuat. 2. Kapan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan.

3. Berapa jumlah persediaan pengaman.

Secara kualitatif, masalah persediaan berkaitan dengan sistem

pengoperasian persediaan yang akan menjamin kelancaran pengelolaan persediaan adalah sebagai berikut:

1. Jenis barang apa yang dimiliki. 2. Dimana barang tersebut ditempatkan.

3. Siapa saja yang menjadi pemasok masing-masing item.

Secara luas tujuan sistem persediaan adalah menemukan solusi optimal terhadap seluruh masalah yang terkait dengan persediaan. Dikaitkan dengan tujuan umum perusahaan, maka ukuran optimalitas pengendalian persediaan seringkali diukur dengan keuntungan maksimum yang dicapai. Karena perusahaan memiliki banyak subsistem lain selain persediaan, maka mengukur kontribusi pengendalian persediaan dalam mencapai total keuntungan bukan hal mudah. Optimalisasi pengendalian persediaan biasanya diukur dengan total biaya minimal pada suatu periode tertentu (Yamit, 1999).

2.4 Metode Analitycal Hierarchy Process

Analitycal Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang

kompleks menjadi suatu hirarki. Menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam

(11)

suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis.

AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut (Saaty, 1993):

1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam.

2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.

3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.

2.4.1 Kelebihan dan Kelemahan Analitycal Hierarchy Process

Layaknya sebuah metode analisis, AHP pun memiliki kelebihan dan kelemahan dalam system analisisnya. Kelebihan-kelebihan analisis ini adalah (Saaty, 1993):

1. Kesatuan (Unity)

AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.

2. Kompleksitas (Complexity)

AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif.

3. Saling ketergantungan (Inter Dependence)

AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.

4. Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring)

(12)

5. Pengukuran (Measurement)

AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan prioritas.

6. Konsistensi (Consistency)

AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas.

Sedangkan kelemahan metode AHP adalah sebagai berikut (Saaty, 1993): 1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa

persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.

2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk.

2.4.2 Tahapan Analitycal Hierarchy Process

Setiap metode mempunyai tahapan tertentu yang harus dikerjakan mulai dari awal hingga akhir. Dalam metode AHP dilakukan tahapan sebagai berikut (Suryadi, K. dan Ramdhani, MA. 1998):

1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. Dalam tahap ini dilakukan penentuan masalah yang akan dipecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada ditentukan solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya akan

dikembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.

(13)

berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin diperlukan).

3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya.

Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat

untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3,E4,E5.

4. Mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.

Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah

terbukti dapat diterima dan bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian dengan

(14)

Intensitas Kepentingan

1 = Kedua elemen sama pentingnya, Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar

3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yanga lainnya, Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya

5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya, Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya

7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya, Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek. 9 = Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya, Bukti yang

mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan.

2,4,6,8 = Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan, Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara 2 pilihan

Kebalikan = Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka dibanding dengan aktivitas j , maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i.

5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.

6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.

7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan, yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai mencapai

(15)

8. Memeriksa konsistensi hirarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat indeks konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 persen.

2.5 Matriks

Matriks adalah susunan elemen-elemen yang berbentuk persegi panjang yang terdiri dari baris dan kolom dan dibatasi dengan tanda [ ] atau ( ). Bilangan-bilangan dalam susunan tersebut dinamakan entri dalam matriks. Jenis-jenis Matriks Matriks dapat dibedakan menurut jenisnya, antara lain: a) Matriks Nol Suatu matriks dikatakan sebagai matriks nol, jika semua

elemennya sama dengan nol.

b) Matriks Baris Suatu matriks dikatakan sebagai matriks baris, jika matriks tersebut hanya terdiri atas satu baris,

c) Matriks Kolom Suatu matriks dikatakan sebagai matriks kolom, jika matriks tersebut hanya terdiri dari satu kolom.

d) Matriks Persegi atau Matriks Kuadrat Suatu matriks dikatakan sebagai matriks persegi atau matriks kuadrat, jika jumlah baris pada matriks tersebut sama dengan jumlah kolomnya.

e) Matriks Segitiga Suatu matriks persegi dikatakan sebagai matriks segitiga jika elemenelemen yang ada di bawah atau di atas diagonal utamanya (salah satu, tidak kedua-duanya) bernilai nol. Jika elemen-elemen yang

ada di bawah diagonal utama bernilai nol maka disebut sebagai matriks segitiga atas. Sebaliknya, jika elemen-elemen yang ada di atas diagonal

utamanya bernilai nol maka disebut sebagai matriks segitiga bawah. f) Matriks Diagonal Suatu matriks persegi dikatakan sebagai matriks

(16)

g) Matriks Skalar Suatu matriks diagonal dikatakan sebagai matriks skalar jika semua elemen-elemen yang terletak pada diagonal utamanya memiliki nilai yang sama,

h) Matriks Identitas atau Matriks Satuan Suatu matriks skalar dikatakan sebagai matriks identitas jika semua elemen yang terletak pada diagonal utamanya bernilai satu, sehingga matriks identitas disebut juga matriks

satuan.

2.6 Nilai dan Vektor Eigen

Misalkan A adalah sebuah matriks bujur sangkar dengan orde n * n dan sebuah X adalah vektor kolom. Vektor X adalah vektor dalam ruang

Euclidean n

R yang dihubungkan dengan sebuah persamaan: X

AX  (2.1)

 adalah suatu skalar dan X adalah vektor yang tidak nol Skalar  dinamakan nilai Eigen dari matriks A. Nilai eigen adalah nilai karakteristik dari suatu matriks bujur sangkar. Vektor X dalam persamaan (2.1) adalah suatu vektor yang tidak nol yang memenuhi persamaan (2.1) untuk nilai eigen yang sesuai dan disebut dengan vektor eigen. Jadi vektor X mempunyai nilai tertentu untuk nilai eigen tertentu.

Contoh 2.1

(17)

matriks bujur sangkar

(18)

2.7 Metode Pengembangan Sistem

Metode Pengembangan Sistem yang akan dipakai untuk penelitian ini adalah metode waterfall. Metode waterfall merupakan metode yang sering digunakan oleh penganalisa sistem pada umumnya. Inti dari metode waterfall adalah pengerjaan dari suatu sistem dilakukan secara berurutan atau secara linear. Jadi jika langkah ke-1 belum dikerjakan, maka langkah 2 tidak dapat

dikerjakan. Jika langkah ke-2 belum dikerjakan maka langkah ke-3 juga tidak dapat dikerjakan, begitu seterusnya. Secara otomatis langkah ke-3 akan bisa dilakukan jika langkah ke-1 dan ke-2 sudah dilakukan.

Analisa Kebutuhan

Desain Sistem

Penulisan Kode Pogram

Pengujian Program

Penerapan Program

Gambar 2.1 Tahapan Metode Waterfall (Kadir, 2003)

Secara garis besar metode waterfall mempunyai langkah-langkah sebagai berikut : Analisa, Desain, Penulisan, Pengujian dan Penerapan.

2.7.1 Tahapan Metode Waterfall 1. Analisa Kebutuhan

(19)

komputer yang bisa melakukan tugas-tugas yang diinginkan oleh user tersebut. Tahapan ini akan menghasilkan dokumen user requirment atau bisa dikatakan sebagai data yang berhubungan dengan keinginan user dalam pembuatan sistem. Dokumen ini lah yang akan menjadi acuan sistem analis untuk menerjemahkan ke dalam bahasa pemrogram.

2. Desain Sistem

Tahapan dimana dilakukan penuangan pikiran dan perancangan sistem terhadap solusi dari permasalahan yang ada dengan menggunakan perangkat pemodelan sistem seperti diagram alir data (data flow diagram), diagram hubungan entitas (entity relationship diagram) serta struktur dan bahasan data.

3. Penulisan Kode Program

Penulisan kode program atau coding merupakan penerjemahan design dalam bahasa yang bisa dikenali oleh komputer. Dilakukan oleh programmer yang akan meterjemahkan transaksi yang diminta oleh user. Tahapan ini lah yang merupakan tahapan secara nyata dalam

mengerjakan suatu sistem. Dalam artian penggunaan komputer akan dimaksimalkan dalam tahapan ini. Setelah pengkodean selesai maka akan dilakukan testing terhadap sistem yang telah dibuat tadi. Tujuan

testing adalah menemukan kesalahan-kesalahan terhadap sistem tersebut dan kemudian bisa diperbaiki.

4. Pengujian Program

Tahapan akhir dimana sistem yang baru diuji kemampuan dan keefektifannya sehingga didapatkan kekurangan dan kelemahan sistem

yang kemudian dilakukan pengkajian ulang dan perbaikan terhadap aplikasi menjadi lebih baik dan sempurna.

5. Penerapan Program dan Pemeliharaan

(20)

lingkungan (periperal atau sistem operasi baru) baru, atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan fungsional.

2.7.2 Keunggulan dan Kelemahan Metode Waterfall

Metode pengembangan waterfall mempunyai keunggulan dalam membangun dan mengembangkan suatu sistem, antara lain:

a. Kualitas dari sistem yang dihasilkan akan baik. Ini dikarenakan oleh pelaksanaannya secara bertahap. Sehingga tidak terfokus pada tahapan tertentu.

b. Dokumen pengembangan sistem sangat terorganisir, karena setiap fase harus terselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya. Jadi setiap fase atau tahapan akan mempunyai dokumen tertentu.

Dalam proses membangun dan mengembangkan suatu sistem, metode waterfall mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

a. Diperlukan majemen yang baik, karena proses pengembangan tidak dapat dilakukan secara berulang sebelum terjadinya suatu produk.. b. Kesalahan kecil akan menjadi masalah besar jika tidak diketahui sejak

awal pengembangan.

c. Pelanggan sulit menyatakan kebutuhan secara eksplisit sehingga tidak dapat mengakomodasi ketidakpastian pada saat awal pengembangan.

2.8 Basisdata

Basisdata (database), adalah kumpulan informasi yang disimpan di

dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program komputer untuk memperoleh informasi dari basisdata

(21)

Konsep dasar dari basisdata adalah kumpulan dari catatan-catatan, atau potongan dari pengetahuan (Nugroho, 2005). Sebuah basisdata memiliki penjelasan terstruktur dari jenis fakta yang tersimpan di dalamnya: penjelasan ini disebut skema. Skema menggambarkan obyek yang diwakili suatu basisdata, dan hubungan di antara obyek tersebut. Ada banyak cara untuk mengorganisasi skema, atau memodelkan struktur basisdata yang

dikenal sebagai model basisdata atau model data.

Model yang umum digunakan sekarang adalah model relasional, yang menurut istilah layanan mewakili semua informasi dalam bentuk tabel-tabel yang saling berhubungan dimana setiap tabel terdiri dari baris dan kolom (Definisi yang sebenarnya menggunakan terminologi matematika). Dalam model ini, hubungan antar tabel diwakili dengan menggunakan nilai yang sama antar tabel. Model yang lain seperti model hierarkis dan model jaringan menggunakan cara yang lebih eksplisit untuk mewakili hubungan antar tabel.

Istilah basisdata mengacu pada koleksi dari data-data yang saling berhubungan, dan perangkat lunaknya seharusnya mengacu sebagai sistem manajemen basisdata (database management system/DBMS). Jika konteksnya sudah jelas, banyak administrator dan programer menggunakan istilah basisdata untuk kedua arti tersebut.

Basisdata juga mempunyai keuntungan dalam penggunaannya, antara lain: 1. Mereduksi redundansi yang akibatnya mengurangi inkonsistensi. 2. Data dapat di-share antar aplikasi.

3. Standarisasi data dapat dilakukan.

4. Batasan security dapat diterapkan.

(22)

III. METODE PENELITIAN

3.1Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di KopataMart Purwokerto selama 4 bulan yaitu dari bulan Mei 2012 sampai bulan September 2012.

3.2Data dan Alat 3.2.1 Data

Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data inventory, data penjualan, data administrator, dan data barang.

3.2.2 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras terdiri dari sistem komputer dengan spesifikasi Processor AMD Dual Core, RAM 2 GB, monitor dengan resolusi 1280 x 800 pixel 32 bit, printer Canon iP1900. Perangkat lunak yang digunakan antara lain sistem operasi Microsoft Windows 7 Ultimate 32 bit, Microsoft Visual Basic 6, database Microsoft Access 2010, Microsoft Visio 2010, Adobe Photoshop CS4, CorelDRAW Graphics Suite X4, Microsoft Word 2010, Microsoft Project 2010.

3.3 Metode Pengambilan Data

Pengambilan data dan informasi dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:

a.Studi Pustaka dan Dokumentasi - Studi Pustaka

(23)

pengambil keputusan, buku tentang pembahasan Microsoft Visual Basic 6 dan buku tentang basis data.

- Dokumentasi

Metode pengumpulan data yang ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan dan data yang relevan untuk penelitian. Buku

dokumentasi yang digunakan antara lain buku pedoman kerja untuk masing-masing karyawan dan laporan harian/mingguan/bulanan minimarket.

b. Wawancara dan Observasi

Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain:

- Wawancara

Wawancara (interview) yaitu suatu model data dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau tanya jawab secara langsung kepada karyawan perusahaan/instansi. Wawancara dilakukan dengan karyawan minimarket KopataMart Purwokerto untuk mengetahui permasalahan-permasalahan proses inventory dan pembelian barang/produk. Wawancara juga dilakukan pada pemilik minimarket dengan tujuan untuk mengetahui data apa saja yang nantinya bisa dimonitoring. (Wawancara Terlampir)

- Observasi

Metode observasi atau pengamatan merupakan salah satu metode pengumpulan data/fakta yang cukup efektif. Observasi merupakan pengamatan langsung yaitu suatu kegiatan yang bertujuan untuk

memperoleh informasi yang diperlukan dengan cara melakukan pengamatan dan pencatatan dengan peninjauan langsung ke perusahaan

(24)

3.4 Metode Pengembangan Sistem 3.4.1Analisa Kebutuhan

Langkah ini merupakan analisa terhadap kebutuhan sistem. Di dalam analisa kebutuhan akan dilakukan penentuan kriteria dan subkriteria yang dipakai pada sistem inventory yang kemudian dibuat sistem pendukung keputusannya dan menentukan software yang akan digunakan.

3.4.2 Desain Sistem

Pemodelan sistem yang digunakan adalah pembuatan diagram alir data (data flow diagram) dari form-form user interface sistem, dan fungsi form sistem pendukung keputusan. Diagram hubungan entitas (entity relationship diagram) meliputi form-form user interface sistem, dan fungsi form sistem

pendukung keputusan.

3.4.3 Penulisan Kode Program

Penulisan kode program antara lain untuk pembuatan sistem pendukung keputusan, perancangan tampilan form-form user interface sistem, dan perancangan fungsi form sistem pendukung keputusan dengan sebelumnya melakukan perancangan database sistem inventory.

3.4.4 Pengujian Program

Pengujian dilakukan pada sistem inventory yang sudah diaplikasikan di minimarket. User yang akan ikut menguji sistem pendukung keputusan tersebut antara lain pegawai, supervisor dan pemilik minimarket. Hal yang

perlu diperhatikan saat pengujian adalah, apakah sistem tersebut sudah sesuai dengan keinginan user. Sistem pendukung keputusan tersebut dipakai

saat akan menentukan keputusan perlunya pembelian suatu barang kepada distributor. Selain sebagai sistem pendukung keputusan, sistem juga

(25)

3.4.5 Penerapan Program

Penerapan sistem pada tempat penelitian dilakukan untuk melakukan adaptasi daripada sistem terhadap lingkungan yang ada. Dilakukan selama beberapa waktu, untuk mengetahui kinerja dari sistem tersebut.

3.4.6 Pemeliharaan Program

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Turban, E. Decision Support Systems and Intelligent Systems, edisi Bahasa Indonesia jilid 1, Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2005

Frederick, H. Wu. 1984. Accounting Information System Theory and Practice. McGraw-Hill Book Company Japan, International Student Edition. Tokyo.

Jogiyanto, H.M. 2008. Metodologi Penelitian Sistem Informasi. Andi. Yogyakarta.

Kadir, A. 2003, Pengenalan Sistem Informasi, Andi, Yogyakarta.

Keen, P.G.W., and Morton, M.S. Scott. (1978). Decision Support Systems: An Organizational Perspective. Reading, MA: Addison-Wesley.

McLeod, Jr. R. 1995. Sistem Informasi Jilid I. Edisi Bahasa Indonesia. Salemba Empat. Jakarta.

Mitra, B. 2004. Manajemen Persediaan. Ekonisia. Yogyakarta.

Moore, J.H. (1980). Design of Decision Support Systems. Database. Vol.l2. Nos. I and2.

Nugroho, B. 2005. Da tabase Relasional dengan MySQL. Informatika. Bandung.

Suryadi, K. dan Ramdhani, MA. 1998. Sistem Pendukung Keputusan. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Saaty, T.L. The Hierarchon: A Dictionary of Hierarchies. Forman, Vol. V, AHP Series, 496 pp., RWS Publ., 1993.

Gambar

Gambar 2.1 Tahapan Metode Waterfall (Kadir, 2003)

Referensi

Dokumen terkait

Tahap pertama yaitu tahap thumbnails menentukan bentuk sign system dan pictogram (parkir motor, mobil, dan arah mata angin) berupa sketsa kasar. Tahap kedua yaitu

You’ve used aspects to have a nice separation of concerns: one class for reversing a string and one class for logging, but when it comes time to run the unit test,

Lutut difleksikan 90 derajat dan pemeriksa duduk pada kaki pasien untuk mencegah gerakan kaki. Dengan meletakkan kedua tangan di belakang tibia bagian proksimal dan kedua ibu

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang sudah dilakukan di bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh strategi pembelajaran terhadap pemahaman

Laporan Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi persyaratan kelulusan Diploma III Teknik Informatika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

PERANCANGAN KAMPANYE EDUKASI PADA ANAK USIA DINI 4-6 TAHUN AGAR LEBIH MENGHARGAI MAKANAN.. ELISSA

Penelitian ini membahas tentang pembuatan komponen yang terbuat dari tuangan paduan aluminium dengan menggunakan proses penuangan sentrifugal vertical, cetakan diputar

Solusinya adalah membuat aplikasi pengolahan data tamu hotel yang akan mempermudah front office dalam melakukan pendataan reservasi, penginputan check in dan check out