Bab 2 | 1
GAMBARAN UMUM
KABUPATEN PURBALINGGA
2.1.PROFIL KONDISI GEOGRAFIS KABUPATEN PURBALINGGA
Kabupaten Purbalingga termasuk wilayah Propinsi Jawa Tengah bagian barat daya, dimana memiliki posisi 101°11’ – 109°35’ Bujur Timur, dan 7°10’ – 7°29’ Lintang Selatan, memiliki batas administratif
sebagai berikut :
Sebelah utara : Kabupaten Pemalang;
Sebelah Selatan : Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara; Sebelah Timur : Kabupaten Banjarnegara
Sebelah Barat : Kabupaten Banyumas
Jarak Ibukota Purbalingga ke Ibukota Propinsi Jawa Tengah yaitu Kota Semarang adalah 191 Km, Purwokerto 20 Km, Cilacap 60 Km, Banjarnegara 45 Km, dan Wonosobo 75 Km. Luas wilayah Kabupaten Purbalingga adalah 77.764 Km2 atau sekitar 2,39% dari luas wilayah Propinsi Jawa Tengah. Adapun lingkup wilayah administrasi Kabupaten Purbalingga meliputi 18 kecamatan, dengan Kecamatan Rembang sebagai wilayah terluas (9.160 Ha atau 11,79%) dan Kecamatan Purbalingga sebagai wilayah tersempit (1.473 Ha atau 1,92%). Adapun distribusi luasan dari tiap-tiap wilayah kecamatan ditampilkan dalam tabel 2.1.
Tabel 2.1
Luas Wilayah Administrasi Kabupaten Purbalingga Dirinci Tiap Kecamatan Tahun 2012
No Kecamatan Luas Daerah (Ha) Prosentase (%)
1 Kemangkon 4.514 5.80
2 Bukateja 4.240 5.45
3 Kejobong 3.998 5.14
4 Pengadegan 4.174 5.37
5 Kaligondang 5.054 6.45
6 Purbalingga 1.473 1.92
7 Kalimanah 2.251 2.89
Bab 2 | 2
No Kecamatan Luas Daerah (Ha) Prosentase (%)
8 Padamara 1.726 2.23
9 Kutasari 5.289 6.80
10 Bojonsari 2.925 3.76
11 Mrebet 4.788 6.16
12 Bobotsari 3.228 4.16
13 Kerangreja 6.459 8.31
14 Karangjambu 5.621 7.23
15 Karanganyar 3.459 4.45
16 Kertanegara 3.377 4.34
17 Karangmoncol 6.028 7.75
18 Rembang 9.160 11.79
Jumlah 77.764 100.00
Sumber : Kabupaten Purbalingga Dalam Angka Tahun 2012
Gambar 2.1
Grafik Pembagian Dan Luas Wilayah Administrasi Kabupaten Purbalingga Tahun 2012
Bab 2 | 4 2.2.PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN PURBALINGGA
Kabupaten Purbalingga memiliki luas wilayah 77.764,122 Ha atau sekitar 2,39 persen dari luas wilayah Propinsi Jawa Tengah secara administratif terbagi dalam 18 kecamatan, 224 desa dan 15 kelurahan. Wilayah Kabupaten Purbalingga dari segi pemanfaatan lahan, sebagian besar berupa lahan sawah yaitu
seluas 21.209,4576 Ha (27,27%), peruntukan permukiman seluas 16.470,50828 Ha (21,18%), tegalan 16.664,0427 Ha (21,42%) serta Hutan 14.722,021 Ha (18,94%). Sedang sisanya terdiri dari perkebunan, kebun campur, tegalan, lahan usaha perikanan dan lain-lain.
Tabel 2.2
Luas Kabupaten Purbalingga Menurut Penggunaan Tahun 2011 (Ha)
No Penggunaan Lahan Luas %
1 Lahan Pertanian 48579 62.47
a Lahan Sawah 21209 27.27
- Pengairan Teknis 5194 6.68
- Pengairan setengah teknis 7509 9.66
- pengairan sederhana 3876 4.98
- Lainnya (Pekarangan yang diatanami tanaman) 4602 5.92
2 Lahan Bukan Pertanian 29185 37.53
- Rumah, Bangunan dan Halaman Sekitar 16470 21.18
- Hutan Negara 9647 12.41
- Lainnya (Jalan, Sungai, danau, Lahan Tandus dll) 3068 3.95
Jumlah/Total 77764 100
Bab 2 | 5 Dari 18 Kecamatan di wilayah Kabupaten Purbalingga yang terluas adalah Kecamatan Rembang yaitu 9.160 Ha. Kemudian kecamatan yang terluas kedua adalah Kecamatan Karangreja dengan luas 6.459 Ha, sedangkan kecamatan terluas ketiga adalah Kecamatan Karangmoncol yaitu 6.028 Ha. Sedangkan kecamatan yang memiliki luas terkecil adalah Kecamatan Purbalingga dengan luas 1.473 Ha, Kecamatan Padamara dengan luas 1.726 Ha dan Kecamatan Kalimanah dengan luas 2.251 Ha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel dibawah ini:
Tabel 2.3
Penggunan Lahan di Kabupaten Purbalingga Tahun 2011 (Ha)
No Kecamatan Lahan
Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga 2012
2.3.PROFIL KONDISI FISIK KABUPATEN PURBALINGGA
2.3.1. Topografi Dan Geomorfologi
Bab 2 | 6 klasifikasi antara 0 – 1.500 meter dari permukaan laut. Menurut klasifikasi ketinggian wilayah Kabupaten Purbalingga tersebut masing-masing mempunyai sifat-sifat khusus seperti diuraikan sebagai berikut:
a. Daerah Ketinggian 7 – 25 meter dpl merupakan daerah potensi persawahan dengan pengairan yang memadai.
b. Daerah Ketinggian 25 – 100 meter dpl merupakan daerah dengan sebagian wilayah masih berpotensi untuk tanah persawahan dan sebagian wilayah pada ketinggiannya antara 50 – 100 meter dpl berpotensi untuk pertanian tanah kering, mengingat topografi yang lebih besar. c. Daerah Ketinggian 100 – 500 meter dpl merupakan daerah berpotensi utama untuk pertanian
tanah kering, mengingat topografi wilayah bergelombang dan berbukit-bukit.
d. Daerah Ketinggian 500 – 1.000 meter dpl merupakan daerah berpotensi untuk wilayah perkebunan dan baik untuk dikembangkan budidaya tanaman sayur-sayuran, mengingat wilayah tersebut cukup dingin.
e. Daerah Ketinggian diatas 1.000 meter dpl merupakan daerah yang terbatas untuk usaha pertanian karena topografi wilayah bergelombang. Daerah dengan topografi demikian berpotensi sebagai wilayah non budidaya atau kawasan hutan lindung.
Dataran tinggi di Kabupaten Purbalingga meliputi Kecamatan Rembang, Kecamatan Karangmoncol, Kecamatan Karangreja, Kecamatan Karangjambu, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Kertanegara dan sebagian Kecamatan Kutasari, sebagian Kecamatan Bojongsari, Kecamatan Mrebet dan Kecamatan Bobotsari.
Sedangkan dataran rendah di Kabupaten Purbalingga meliputi Kecamatan Purbalingga, Kecamatan Kalimanah, Kecamatan Bukateja, Kecamatan Kaligondang, Kecamatan Pengadegan, sebagian Kecamatan Bojongsari, Kecamatan Kejobong, sebagian Kecamatan Kutasari, Kecamatan Padamara dan Kecamatan Kemangkon.
Kabupaten Purbalingga memiliki karakter topografi yang beragam, dari dataran rendah, daerah perbukitan hingga daerah pegunungan. Karakteristik wilayah berdasarkan kondisi permukaan tanah menunjukkan sebaran sebagai berikut:
Bab 2 | 7 b. Bagian selatan merupakan daerah dengan tingkat kemiringan berkisar antara 0 - 25%. Wilayah
ini meliputi Kecamatan Kalimanah, Padamara, Purbalingga, Kemangkon, Bukateja, Kejobong, Pengadegan, sebagian wilayah Kecamatan Kutasari, Bojongsari dan Mrebet.
2.3.2. Kondisi Hidrologi
Pada umumnya, sungai-sungai di Kabupaten Purbalingga belum dimanfaatkan secara optimal, baik untuk pengairan tanah pertanian maupun untuk kebutuhan lainnya. Tetapi sungai yang memungkinkan untuk dibuat bendungan, dam dan waduk-waduk kecil lainnya yang tidak banyak mengeluarkan dana, telah dimanfaatkan sebagaimana mestinya untuk pengairan sawah, perikanan dan sebagainya.
Debit air sungai itu sendiri dalam setahunnya tidak tetap, karena debit air sungai dipengaruhi oleh curah hujan di daerah hulu. Sungai di Kabupaten Purbalingga terdiri dari 2 (dua) macam aliran, yaitu sungai yang mengalir melewati Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya serta sungai yang hanya mengalir di Kabupaten Purbalingga saja. Sungai yang mengalir melewati Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya, yaitu:
Sungai Pekacangan
Sungai Serayu
Sungai Klawing
Sedangkan sungai yang hanya mengalir di Kabupaten Purbalingga dan berpotensi untuk pengairan yaitu:
Sungai Ponggawa
Air tanah dan akuifer di Kabupaten Purbalingga menurut peta hidrogeologi Indonesia dari Direktorat Geologi Tata Lingkungan, terdiri atas:
Akuifer produktif dengan penyebaran luas
Bab 2 | 8
Akuifer dengan produktivitas tinggi dengan penyebaran luas
Akuifer ini berupa akuifer dengan keterusan dan kisaran kedalaman muka air tanah beragam. Debit sumur umumnya lebih dari 5 liter/detik
Akuifer dengan produktivitas kecil setempat berarti
Akuifer ini berupa akuifer dengan keterusan rendah sampai sangat rendah. Air tanah setempat dalam jumlah terbatas dapat diperoleh pada daerah lembah atau zona pelapukan.
Daerah air tanah langka
Tabel 2.4
Sumber Mata Air Kabupaten Purbalingga
No Kecamatan Desa Dukuh Nama Mata Air Debit
(lt/dt) Penggunaan
1 Kemangkon 1. Pelumutan 1. Kedung ketur 2 Air Bersih Penduduk
2. Kedung betur 3 Air Bersih Penduduk 2. Panican 1. Tuk Putih 2 Air Bersih Penduduk
2. Langgar 1. Karangsari 1. Warudoyong 2 Air Bersih Penduduk 3. Krenceng 1. Juranggrawah 1. Sibenda 5 Air Bersih Penduduk
2. Lempong 2. Lempong 5 Air Bersih Penduduk
3. Krenceng kidul 3. Sigumet 5 Air Bersih Penduduk
4. Kejobong 1. Kejobong 1. Cangkring 5 Air Bersih Penduduk
5. Kedarepan 1. Bojongsari 1. Banyumudal 4 Air Bersih Penduduk 4 Kaligondang
1. Kembaran wetan
1. Kalikidang 1. Kalikidang 10 Air Bersih Penduduk 2. Sumur
Bendung
2. Sumur
Bendung 10 Air Bersih Penduduk 2. Slinga 1. Pagendangan 1. Pagendangan 10 Air Bersih Penduduk
3. Kalikajar 1. Trengiling 1. Trenggiling 20 Air Bersih Penduduk
4. Sidanegara 1. sidanegara 1. Sidanegara 10 Air Bersih Penduduk
5. Pagerandong 1. Makam wangi 1. Makam Wangi 10 Air Bersih Penduduk
5 Purbalingga
6 Kalimanah
7 Kutasari 1. Candinata 1. Belokan 1. Sikalbut 15 Air Bersih Penduduk
Bab 2 | 9
Karangpandang 3. Tuk wringin 100
Air Bersih Penduduk dan Irigasi
3. Kutasari 1. walik 1. Teleng 200 Air Bersih Penduduk Pemandian dan irigasi
4. Semingkir 1. Karangpelus 1. Tuk Pelus 50 Air Bersih Penduduk 2. Lemah meteng 2. Sirah 75 Air Bersih Penduduk
5. Limbangan 1. Kuyukan 1. Tuk Gunung 100 Air Bersih Penduduk dan Irigasi
8 Mrebet 1. Cipaku 1. Pangebonan 1. Tuk Bata Putih 15 Irigasi
2. Serayu Larangan
1. Karang Tengah 1. Tlaga 150 Air Bersih penduduk
2. Putut 2. Tuk arus 200 Air bersih Penduduk dan Irigasi
3. winong 3. Pajetan 75 Air Bersih Penduduk dan Irigasi
4. Laji 4. Rachang 25 Air Bersih Penduduk 9 Bobotsari 1. Karangduren 1. Bandawayu 100 Ari Bersih Penduduk
2. Talagening 1. Sambeng 15 Air Bersih Penduduk 2. Lemberang 20 Air Bersih Penduduk
3. Tlagayasa 1. Longrang 10 Air Bersih Penduduk 2. Tlaga 36 Air Bersih Penduduk
1. Serang 1. Gunungmalang 1. Gunungmalang 10 Air Bersih Penduduk 2. Kaliurip 1. Sikopyah 15 Air Bersih
2. Siwarak 2. Sipetung 15 Air Bersih Penduduk 3. Pejangan 30 Air Bersih Penduduk
3. Karangreja
1. Siaren 1. Banyumudal 75 Air Bersih Penduduk
2. Prumpang I 5 Air Bersih Penduduk
Bab 2 | 10
9. Karang Jambu 1. Pringgading 15 Air Bersih Penduduk 2. Keburen 25 Air Bersih Penduduk
10. Sanguwatang 1. Gunungmalaya 20 Air Bersih Penduduk
11. Jingkang 1. Cangkir
Pejatan 30 Air Bersih Penduduk 11 Rembang 1. Losari 1. Balong 1. Sanaliran 10
2. Bedahan 1. Salanasu 10 Irigasi 3. Losari
1. Kalibodas 15 Air Bersih Penduduk dan Irigasi
2. Tuk Kalisenjang 15 Irigasi
2. Bantarbarang 1. Sumingkir 1. Tuk Kali Joko 10 Air Bersih penduduk
2. Bantarbarang
1. Tuk Trondo 10 Air Bersih Penduduk dan Irigasi
2. Pancur Alas 25 Air Bersih Penduduk dan Irigasi
3.
Bodaskarangjati
1. Gohong 1. Gohong 3 Irigasi 2.
Bodaskarangjati 1. Kali warak 5 Air Bersih penduduk
4. Tenalum
Payung 10 Air Bersih penduduk 2. Wanogara
Kulon 1. Laban bede 9 Air Bersih penduduk 2. Gunung Putri 15 Air Bersih penduduk 6. Wanogara
wetan 1. RT 4 Kadus III 1. Pancuran 3 Air Bersih penduduk 7. Mlahar 1. Tlaga 1. Suteng 5 Air Bersih penduduk
2. Pelemahan 1. Pelemahan 2 Air Bersih penduduk
12 Karanganyar 1. Kalingi 1. Kaliori 1. Pendeta Cara 4 Air Bersih penduduk
2. Cangkring 5 Air Bersih penduduk
3. Kali apa 4 Air Bersih penduduk
4. Sigowak 4 Irigasi
2. Margasana 1. Margasana 1. Tlagasari 5 Air Bersih penduduk 2. Nilamsari 5 Air Bersih penduduk
3. Kertanegara 1. Kertanegara 1. Sidok 7 Air Bersih penduduk
2. Jati 4 Air Bersih penduduk
Bab 2 | 11
No Kecamatan Desa Dukuh Nama Mata Air Debit
(lt/dt) Penggunaan
Blinten
4. Kasih 1. Kasih 1. Belik Pucung 7
5. kalijaran 1. kalijaran 1. Belik wadas 3 Air Bersih penduduk
2. Belik banda I 3 Air Bersih penduduk
3. Belik Jurig 5 Air Bersih penduduk
4. Belik K.Jaran 5 Air Bersih penduduk
5. Belik Rukem 4 Air Bersih penduduk
6. Belik hulu 5 Air Bersih penduduk
7. Belik II 4 Air Bersih penduduk
8. Belik Palang 4 Air Bersih penduduk
6. Karanganyar 1. Karanganyar 1. Kalimundu 5 Air Bersih penduduk
7. Karanggedang 1. Karanggedang 1. Braja 5 Air Bersih penduduk
8. Jambu desa 1. Jambu desa 1. Tuk Balong
Tusun 4 Air Bersih penduduk 9. Karang tengah 1. Karang tengah 1. Belik Depok 4 Air Bersih penduduk
2. Belik Desapi 5 Air Bersih penduduk
3. Belik Hulu 6 Air Bersih penduduk
4. Belik Embel 5 Air Bersih penduduk
5. Belok Dodong 5 Air Bersih penduduk
6. Belik Bacin 5 Air Bersih penduduk
7. Belik Gasal 8 Air Bersih penduduk
10. Karangasem 1. Karangasem 1. Belik Sengon 10 Air Bersih penduduk
11. Ardiasa 1. Ardiasa 1. Tuk Bawang 5 12. Langkap 1. Langkap 1. Lawa Ijo 5
2. Siarus 5
3. Sungai Arus 9 Air Bersih penduduk 13. Maribaya 1. Martibaya 1. Belik Binangun 4 Air Bersih penduduk
2. Belik Larangan 5 Air Bersih penduduk
14. Desa Lumpang 1. Lumpang 1. Blok Beringin 10 Air Bersih penduduk 15. Brakas 1. Brakas 1. Blok ampel 8 Air Bersih penduduk
cangring 2 Air Bersih penduduk 2. Kadus II 1. Sumur Pelas 2 Air Bersih penduduk
2. Kramat 1. Kalisinga 1. kramat 10 Air Bersih penduduk
3. Grantung 1. Bantar benda 1. Cahyana Air Bersih penduduk
4. Tamansari 1. Irisi/merbung 1. Rawa 3 Air Bersih penduduk
2. Ketjiban 1. Rupak selan 3 Air Bersih penduduk
Bab 2 | 12
5. Karangbanjar 1. Munjul luhur 1. Sirah 10 Air Bersih penduduk
6. Mentenggeng 1. Mentenggeng 1. Kertaurip 10 Air Bersih penduduk
7. Punisari 1. Karangsari 1. cimongah 10 Air Bersih penduduk
2. Bayur 2,5 Air Bersih penduduk
Kembangruncang 50 MCK
6. Larangan 1. Simabaya 1.
Kembangruncang 60 MCK
7. Petel 1. Masjid Al Huda 1.
Kembangruncang 45 MCK
16 Padamara 1. Karanggambas 1. Kali Talun 100 Air Bersih/MCK
2. Cupit Urang 75 Air Bersih/MCK
3. K.Pulus 100 Air Bersih/MCK
2. Mipiran 1. Mipiran 50
Sumber : DPU Bidang Pengairan Kabupaten Purbalingga Tahun 2011
2.3.3. Kondisi Iklim Dan Curah Hujan
Bab 2 | 13 Rata-rata curah hujan pada tahun 2002 sampai dengan Bulan April berkisar antara 286 mm – 360 mm per bulan, suhu udara bervariasi antara 26o C-27o C. Kondisi alam sangat cocok untuk pengembangan sektor pertanian yang membutuhkan curah hujan rata-rata bulanan di atas 200 mm.
Tabel 2.4 Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga 2012
R: Alat Rusak 2.3.4. Geologi
Komposisi litologi batuan yang terdapat di Kabupaten Purbalingga terdiri atas:
Alluvium endapan rawa dan danau, terutama tersusun oleh lempung, umumnya bersifat kedap air.
Endapan alluvium gunung api, terdiri dari bahan-bahan tak mengeras, mengandung bongkah-bongkah batuan gunung api, bergaris tengah 10 – 15 Cm, tersusun oleh andesit sampai basalt dengan kelulusan terhadap air rendah sampai tinggi.
Lava andesit berongga asal Gunung Slamet dengan kelulusan terhadap air tinggi sampai sedang.
Endapan vulkanik tua yang terdiri dari aliran lava yang bersifat andesit sampai basalt dan breksi. Kelulusan terhadap air rendah sampai sedang.
Bab 2 | 14
Napal, napal lempungan dan napal globigerina dengan sisipan tipis tufa pasiran, batu gamping pasiran, batu pasir, batu lempung dan lempung tufaan dengan kelulusan terhadap air rendah.
2.3.5. Jenis Tanah
Jenis tanah yang ada di Kabupaten Purbalingga dikategorikan menjadi 9 jenis dengan karakteristik yang berbeda. Jenis tanah yang mendominasi wilayah Kabupaten Purbalingga adalah latosol coklat dan regosol coklat seluar 14.943,75 Ha (19,22%) dari seluruh wilayah Kabupaten Purbalingga dan yang terkecil adalah jenis tanah litosol yang hanya sebesar 568,75 Ha (0,73%). Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.5
Jenis Tanah di Kabupaten Purbalingga
NO Jenis Tanah Luas Wilayah
Ha %
1 Latosol coklat dan Regosol coklat 14.943,750 19,22 2 Aluvial Coklat tua 13.837,500 17,79 3 Latosol coklat dari bahan induk Vulkanik 8.490,625 10,92 4 Latosol merah kuning 4.498,375 5,78 5 Latosol coklat tua 6.237,500 8,02
6 Andosol coklat 5.662,500 7,28
7 Litosol 568,750 0,73
8 Padmolik merah kuning 10.050,000 12,92 9 Gromosol kelabu 13.475,122 17,33
Jumlah 77.764,122 100
Sumber: RTRW Kabupaten Purbalingga 2011-2031
1. Tanah Latosol
Di Kabupaten Purbalingga tanah latosol dirinci menjadi:
Tanah Latosol coklat yang berasosiasi dengan regosol coklat
Tanah Latosol coklat dari bahan induk vulkanik
Tanah latosol merah kuning, dan
Tanah Latosol coklat tua 2. Tanah alluvial
Bab 2 | 15 seperti Sungai Gintung bagian tengah dan hilir, Sungai Klawing, Sungai Pekacangan dan Sungai Serayu bagian tengah dan hilir.
3. Tanah Andosol
Jenis tanah ini berbentuk dari batuan bekuan dan intermedior, mempuyai sifat peka terhadap erosi, berwarna coklat atau hitam kelabu. Jenis tanah ini banyak terdapat di sekitar puncak Gunung Slamet.
4. Tanah litosol
Tanah ini berbentuk dari batuan endapan dan bekuan, sangat peka terhadap erosi, kurang baik untuk pertanian. Jenis tanah ini banyak terdapat di Kecamatan Rembang bagian timur.
5. Tanah Gromosol
Bab 2 | 18 2.3.6. Daerah Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana di Kabupaten Purbalingga terbagi atas: 1. Kawasan rawan bencana longsor
Kawasan rawan bencana longsor di Kabupaten Purbalingga terdapat di sebagian kecil Kecamatan Kemangkon (Desa Jetis),sebagian kecil Kecamatan Kaligondang (Desa Sidareja), sebagian Kecamatan Karangjambu, sebagian kecil Kecamatan Karanganyar, sebagian kecil Kecamatan Kertanegara (Desa Karangjambum, Sirandu, Sanguwatang, Purbasari, Jingkang, Danasari), sebagian kecil Kecamatan Bojongsari (Desa Banjaran, sebagian kecil Kecamatan Bobotsari (Desa Banjarsari), sebagian kecil Kecamatan Karanganyar (Desa Kalijaran), dan sebagian kecil Kecamatan Mrebet (Desa Sindang, Tangkisan), sebagian Kecamatan Rembang (Desa Wlahar, Tanalum, Bodaskarangjati, Bantarbarang, Wonogarawetan, Panusupan), dan sebagian Kecamatan Karangmoncol (Desa Sirau, Tajug, Pepedan). 2. Kawasan rawan bencana banjir
Kawasan rawan bencana banjir di Kabupaten Purbalingga terdapat di Sungai Klawing, Sungai Serayu, dan Sungai Pekacangan, serta sungai-sungai yang mengalir di dalam Kabupaten Purbalingga. Kawasan rawan bencana banjir yang terdapat di Kabupaten Purbalingga, yaitu Kecamatan Kemangkon (Desa Kalialang, Muntang, Sumilir, Jetis, Gambarsari, Toyareka), Kecamatan Purbalingga (Desa Toyareja, Jatisaba, Bancar), Kecamatan Kaligondang (Desa Lamongan, Penaruban, Tejasari, Cilapar), Kecamatan Kalimanah (Desa Sidakangen, Blater), Kecamatan Bojongsari (Desa Galuh, Banjaran), Kecamatan Bobotsari (Desa Banjarsari), Kecamatan Karanganyar (Desa Kaliori, Margasana, Kalijaran, Ponjen), Kecamatan Mrebet (Desa Sindang, Tangkisan), Kecamatan Bukateja (Desa Bajong, Kedungjati), Kecamatan Kejobong (Desa Lamuk), Kecamatan Rembang (Desa Makam, Sumampir, Bodaskarangjati, Bantarbarang, Wonogarawetan). Kecamatan Karangmoncol (Desa Tajug, Pekiringan, Pepedan, Grantung), dan Kecamatan Kertanegara (Desa Kertanegara).
3. Kawasan rawan bencana angin ribut
Bab 2 | 19 Purbasari, Sirandu, Karangjambu, Jingkang, Danasari), Kecamatan Karanganyar (Desa Ponjen, Krangean, Langkat, Kalijajar, Brakas, Maribaya), Kecamatan Mrebet (Desa Sangkanayu, Pengalusan, Cipaku), Kecamatan Kejobong (Desa Kejobong, Pangempon, Langgar, Nangkod, Kedarpan), Kecamatan Pengadegan (Desa Tetel, Tumanggal, Bedagas, Larangan, Karangjoho), Kecamatan Rembang (Desa Panunggalan, Tegalpingen, Gunungwuled, Losari, Bantarbarang, Wanogara Wetan, Lahar, Tanalun, Panusupan, Wanogara Kulon), Kecamatan Karangmoncol (Desa Kramat, Tunjungmuli, Tamansari), Kecamatan Padamara, (Desa Purbayasa, Bojanegara.
2.4.PROFIL DEMOGRAFI KABUPATEN PURBALINGGA
Gambaran umum yang menjelaskan mengenai profil demografi Kabupaten Purbalingga dapat dijelaskan sebagai berikut, antara lain:
1. Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Struktur Umur
Penduduk Kabupaten Purbalingga tahun 2011 berjumlah 863.391 yang terdiri dari 428.887 laki-laki dan 434.504 perempuan dengan demikian rasio jenis kelamin 98,71. Jumlah rumah tangga berjumlah 217.448 atau rata-rata anggota per rumah tangga 4 orang.
Struktur penduduk per kecamatan berdasarkan jenis kelamin di Kabupaten Purbalingga untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.6
Jumlah Penduduk Tahun 2011 Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin (Jiwa)
No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah
Bab 2 | 20
16 Kertanegara 15031 15349 30380
17 Karangmoncol 25149 25190 50339
18 Rembang 29137 28724 57861
Total 428887 434504 863391
Sumber: Kabupaten Purbalinggan Dalam Angka Tahun 2012
Gambar 2.2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2011
Dari 863.391 penduduk Kabupaten Purbalingga terdiri dari 863.311 WNI dan 80 WNA. Jika dilihat dari usianya ternyata penduduk Kabupaten Purbalingga terdiri dari 0-14 tahun sebesar 27,28% dan 15 tahun keatas sebesar 72,72%, dengan demikian laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Purbalingga tahun 2011 adalah 1,34 % sehingga kepadatan penduduk adalah 1.285 orang per Km2, dengan kepadatan tertinggi di Kecamatan Purbalingga sebesar 3.828 orang per Km2 dan yang terendah di Kecamatan Karangjambu yang hanya 644 orang per Km2
.
Tabel 2.7
Kepadatan Penduduk Tahun 2011 Menurut Kecamatan
no Kecamatan
Luas Daerah
(Km2)
Jumlah Penduduk
Kepadatan Penduduk
Per Km2 1 Kemangkon 45.13 53077 1.176
2 Bukateja 42.4 66431 1.567
3 Kejobong 39.98 42831 1.071
4 Pengadegan 41.74 35698 855
Bab 2 | 21
Berdasarkan hasil Sakernas tahun 2011 persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang merupakan angkatan kerja sebanyak 70,50 %, sedangkan yang bukan angkatan kerja sebanyak 29,50%. Penduduk yang bekerja sebanyak 94,46% terdiri dari 95,45% laki-laki
2. Struktur Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Dari tabel dibawah ini penduduk usia 10 tahun keatas sebesar 4,53% nya tidak/belum pernah sekolah, 27,36 % tidak/belum tamat SD, 36,65 % Tamat SD/MI, 19,24% tamat SLTP, 9,27% tamat SLTA, 1,32 % tamat D1/D2, 1,63 % tamat DIII (D3)/ diploma IV/ S1 keatas.
Struktur penduduk Kabupaten Purbalingga berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 2.8
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Pendidikan Tertinggi Yang
Bab 2 | 22
No Pendidikan Tertinggi Yang
Ditamatkan
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
3 SD/MI 36.58 36.72 36.65
4 SLTP 19.33 19.16 19.24
5 SLTA 10.62 7.99 9.27
6 D1/D2 0.81 1.8 1.32
7 DIII/DIV/S1,S2,S3 1.73 1.52 1.63
Total 100 100 100
Sumber: Kabupaten Purbalinggan Dalam Angka Tahun 2012
Gambar 2.3
Persentase Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2011
Bab 2 | 25 2.5.KPROFIL PEREKONOMIAN KABUPATEN PURBALINGGA
2.5.1 Kondisi EKonomi Kabupaten Purbalingga
Kondisi perekonomian Kabupaten Purbalingga saat ini dapat dilihat dari beberapa indikator ekonomi seperti meningkatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pendapatan regional, meningkatnya pendapatan per kapita dengan distribusi yang semakin merata, tingkat inflasi yang terkendali, serta terjadinya pergeseran struktur ekonomi dengan semakin berkurangnya peran sektor primer sejalan dengan semakin meningkatnya peran sektor sekunder dan tersier.
Data PDRB menggambarkan kemampuan mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki untuk melakukan suatu proses produksi. Oleh karena itu besaran PDRB yang dihasilkan oleh Kabupaten Purbalingga tergantung kepada potensi sumber daya alam dan faktor produksi daerah. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Purbalingga sejalan dengan kondisi ekonomi Nasional dan Jawa Tengah pada tahun 2011 yang ditujukan oleh PDRB atas dasar Harga Konstan tahun 2000 dapat tumbuh sebesar 6,03%, pertumbuhan ini lebih tinggi disbanding tahun sebelumnya.
Peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Purbalingga secara langsung dapat diperhatikan dari nilai PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan. Nilai PDRB Kabupaten Purbalingga dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 2.9
Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Purbalingga Tahun 2009-2011 (Jutaan Rupiah)
Lapang Usaha 2009 2010 2011
1.Pertanian 1,653,354.62 1,803,788.14 1,992.098.21
2.Pertambangan dan Penggalian 36,453.91 40,495.52 45,896.23
3.Industri pengolahan 545,342.41 614,589.99 723,023.50
4.Listrik, Gas dan Air Bersih 45,920.86 51,477.20 55,456.86
5.Bangunan 417,159.68 462,817.78 517,541.42
6.Perdagangan, Hotel dan restoran 954,597.23 1,063,274.28 1,208,055.22
7.Pengangkutan dan Komunikasi 280,121.30 308,640.84 334,437.67
8.Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 339,923.11 378,642.40 422,622.60
9.Jasa-Jasa 888,937.08 1,046,409.26 1,222,490.42
Produk Domestik Regional Bruto 5,161,810.20 5,770,135.41 6,521,622.12
Sumber: BPS Kabupaten Purbalingga Tahun 2012
Bab 2 | 26 perlu didorong intensitasnya adalah sektor pertambangan dan penggalian. Dominasi sektor primer (pertanian) dalam perekonomian Kabupaten Purbalingga akibat kurang berkembangnya sektor industri, perdagangan dan jasa, walaupun terjadi peningkatannya namun belum signifikan. Kondisi tersebut disebabkan posisi geografis wilayah yang jauh dari jalur lalu lintas besar di Pulau Jawa baik melalui jalur Utara maupun jalur Selatan. Salah satu pertimbangan investor dalam menanamkan investasi adalah kemudahan transportasi karena biaya transportasi bahan baku maupun produk akan berpengaruh terhadap biaya produksi. Struktur ekonomi Kabupaten Purbalingga terus mengalami pergeseran meskipun tingkat perubahannya masih relatif lambat.
Apabila dilihat dari angka pertumbuhan sektoral atas dasar harga konstan tahun 2000, pada tahun 2011 sektor pertambangan dan penggalian menempati urutan pertama. Urutan kedua adalah sektor bangunan, ketiga sektor perdagangan, hotel dan restoran dan keempat adalah sektor jasa-jasa.
Sedangkan PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan di Kabupaten Purbalingga pada tahun 2009-2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.10
Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan di Kabupaten Purbalingga Tahun 2005-2007 (Jutaan Rupiah)
Lapang Usaha 2009 2010 2011
1.Pertanian 781,982.34 807,874.04 824,777.74
2.Pertambangan dan Penggalian 17,025.03 18,262.68 19,875.81
3.Industri pengolahan 241,342.73 257,831.28 277,886.71
4.Listrik, Gas dan Air Bersih 15,254.86 16,423.57 17,251.39
5.Bangunan 197,642.60 211,341.46 229,134.17
6.Perdagangan, Hotel dan restoran 440,212.70 467,661.59 506,087.52
7.Pengangkutan dan Komunikasi 130,268.95 138,087.04 146,335.20 8.Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 146,302.90 154,213.75 165,831.61
9.Jasa-Jasa 420,212.46 454,177.33 490,904.94
Produk Domestik Regional Bruto 2,390,244.57 2,525,872.74 2,678,085.09 Jumlah Penduduk Pertengahan
Tahun 899,121 849,555 858,798
PDRB Perkapita (Rupiah) 2,658,423.69 2,973,171.53 3,118,410.95 Sumber: BPS Kabupaten Purbalingga Tahun 2012
Bab 2 | 27 sektor basis, yang nampak dari analisis Location Quotien (LQ). Selama 5 tahun terakhir sektor pertanian merupakan sektor basis dengan nilai LQ rata-rata 1,57. Artinya sektor pertanian dapat memenuhi kebutuhan daerah dan mampu mengekspor produknya ke luar daerah.
Salah satu alat untuk mengukur atau menilai tingkat kesejahteraan penduduk suatu daerah adalah dari pendapatan perkapita. Pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Purbalingga dari tahun ketahun terus meningkat. Pada tahun 2010 dimana tahun tersebut dijadikan tahun dasar pendapatan perkapita penduduk tahun 2010 sebesar Rp 2.973,171,- meningkat menjadi Rp 3.118.410,- ditahun 2011 yang berarti naik sekitar 4,88%.
Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan adalah pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dan ramah lingkungan, sehingga berdampak besar pada penurunan pengangguran, peningkatan pendapatan dan mengurangi kemiskinan, dengan tetap menjaga fungsi dan kualitas lingkungan. Upaya yang dilakukan adalah melalui peningkatan investasi yang bersifat padat karya, pengembangan pariwisata, pengembangan industri pengolahan dan ekonomi kerakyatan serta pembangunan perdesaan.
Pengembangan investasi merupakan peningkatan investasi didorong dengan meningkatkan daya tarik investasi baik di dalam maupun di luar negeri, mengurangi hambatan prosedur perijinan, meningkatkan kepastian hukum termasuk terhadap peraturan-peraturan daerah yang menghambat, serta meningkatkan diversifikasi pasar dan mendorong komoditi lokal yang bernilai tambah tinggi. Investasi juga akan didorong dengan meningkatkan akses UKM pada sumberdaya produktivitas.
2.5.2 Pendapatan Perkapita
Penduduk Kabupaten Purbalingga pada tahun 2010 rata-rata menghasilkan PDRB perkapita sebesar 6.791.950,38 rupiah, dari penduduk sebanyak 849.555 jiwa. Dengan kata lain nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh setiap penduduk di Purbalingga baru mencapai Rp. 566.000,- per-bulan.
Bab 2 | 28 Tabel 2.11
PDRB Perkapita Kabupaten Purbalingga tahun 2010 Berdasarkan Harga Konstan 2000
No Kecamatan
PDRB Perkapita 1 Kemangkon 2.912.389,94
2 Bukateja 2.844.067,68
3 Kejobong 3.048.208,19
4 Pengadegan 3.551.733,16
5 Kaligondang 2.575.644,38
6 Purbalingga 7.800.565,90
7 Kalimanah 3.932.573,12
8 Padamara 3.173.742,39
9 Kutasari 2.493.095,58
10 Bojongsari 1.939.975,42
11 Mrebet 2.061.798,57
12 Bobotsari 2.949.267.90
13 Karangreja 2.326.836,21
14 Karangjambu 2.276.800,10
15 Karanganyar 2.538.280,67
16 Kertanegara 2.167.232,03
17 Karangmoncol 2.161.253,99
18 Rembang 2.115.736,44
Total 2.973.171,52
Sumber: BPS Kabupaten Purbalingga Tahun 2012
2.6.KONDISI PRASARANA KABUPATEN PURBALINGGA
2.6.1. Sub Bidang Air Minum
Kebutuhan air bersih dalam suatu kawasan permukiman adalah sangat penting/ pokok untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi dan cuci yang ditujukan kepada peningkatan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Disamping itu, penyediaan sarana air minum/ bersih dapat menunjang aktivitas sosial dan ekonomi seperti: Pertokoan, Pendidikan, Kesehatan, Peribadatan dll. Sumber air baku yang digunakan di Kabupaten Purbalingga sebagian besar diperoleh dari mata air dan potensi air bawah tanah (sumur).
Bab 2 | 29 paling banyak terdapat di kecamatan Purbalingga yaitu sebesar 12.619 M3 atau 9,03 % dari air yang disalurkan di Kabupaten Purbalingga.
Tabel 3.9
Banyaknya Pelanggan dan Air Minumyang Disalurkan PDAM di Kabupaten Purbalingga Tahun 2011
No Jenis Pelanggan Banyaknya
Pelanggan
Air Minum yang Disalurkan
Jumlah Prosentase
1 Rumah Tempat Tinggal 25609 6217907 82.03
2 Hotel/Obyek Wisata/Niaga Besar/Niaga Kecil 592 261343 3.45 3 Badan Sosial, Rumah Sakit dan tempat Perbadatan 418 116164 1.53
4 Sarana Umum/HU 55 76788 1.01
5 Toko, Industri dan Perusahaan Industri
Besar/Industri kecil 70 232188 3.06
6 Instansi Pemerintah 1081 675840 8.92
Jumlah 27825 7580230 100
2010 26246 7273239 100
2009 29449 7273239 100
2008 22829 6052938 100
2007 22025 5799692 100
Sumber: PDAM Kabupaten Purbalingga
Tinjauan terhadap kualitas air baku suatu sumber air sebelum digunakan untuk sarana penyediaan air minum/ bersih sangatlah diperlukan, hal ini mengingat beberapa persyaratan terhadap parameter kualitas air minum yang perlu diperhatikan antara lain: persyaratan terhadap parameter kimiawi, fisik dan bakteriologi. Kondisi pelayanan air bersih di Kabupaten Purbalingga dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 2.4
Kondisi Air Bersih di Kabupaten Purbalingga
Bab 2 | 30 Gambar 2.5
Kondisi Pelayanan Sarana dan Prasarana Air Bersih di Kawasan Permukiman Kabupaten Purbalingga
2.6.2. Sub Bidang Listrik
Listrik merupakan salah satu produk energi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Jumlah pelanggan pada PT PLN (Persero) Ranting Purbalingga sebanyak 139.822 pelanggan pada tahun 2011 dengan Kwh yang terjual adalah sebanyak 205.100.326 Kwh.
2.6.3. Sub Bidang Persampahan
Sistem pembuangan sampah yang direncanakan hanya berupa suatu organisasi pengelolaan pengambilan sampah dimana pengumpulan sampah dari wilayah blok lingkungan dilakukan dengan menggunakan gerobak yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat, dan pengumpulan selanjutnya dilakukan dengan truk pengangkut sampah (truk kontainer) yang dikelola oleh dinas teknis yang bersangkutan. Direncanakan bahwa 40% dari jumlah produksi sampah sebesar 732 m3 per hari dapat dilayani oleh dinas terkait tersebut. Tampaknya upaya menuju kepada jumlah pelayanan tersebut masih belum mendekati optimal. Adapun perencanaan secara lokasional telah dinyatakan dan telah ada.
Penyediaan sarana persampahan di Kabupaten Purbalingga terdiri dari truk sampah, truk container yang jumlahnya masih minim. Untuk container saja hanya terdapat 6 buah dan truk sampah 6 buah yang melayani masyarakat Sekabupaten Purbalingga. jumlah ini masih relatif sedikit mengingat jumlah masyarakat Kabupaten Purbalingga yang teris meningkat dari tahun ketahun. Ditahun 2011 saja jumlah produksi sampah di kabupaten mencapai 190 M3 dan hanya terangkut kurang lebih 150 M3 jelasnya dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
Bab 2 | 31 Tabel 3.10
Sarana Persampahan Yang ada Di Kabupaten Purbalingga Tahun 2012
No Sarana 2012
1 Container 6
2 Gerobak Sampah 3
3 TPS 20
4 TPA 1
5 Drump Truck 6
6 Arm Roll Truck 2
7 Transfer Depo 2
8 Buldoser 1
9 Excavator 1
10 Mobil Tangki Air 1
11 Kijang Pick up 1
Total 50
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Purbalingga,2012
Tabel 3.11
Produksi Sampah Yang ada Di Kabupaten Purbalingga Tahun 2011
Produksi Sampah Rata-Rata per Hari (m3)
2010 2011
Produksi 179 190,68
Terangkut 149.20 150.20
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Purbalingga,2012
Luas lahan TPA 4,72 Ha yang berlokasi di Desa Banjaran Kec. Bojongsari dengan pemakaian lahan saat ini sebesar 1,8 hektar. TPA memiliki jarak ke permukiman terdekat 0,5 km dan jarak ke sungai 1 km. Rencana pemakaian TPA dari tahun 1994-2020 dengan sarana penunjang 1 unit buldozer. Pengolahan sampah dengan menggunakan open dumping didukung dengan
Bab 2 | 32 Kondisi sarana dan prasarana penanganan persampahan di Kabupaten Purbalingga dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 2.3
Kondisi Pelayanan Sarana dan Prasarana Sampah di Kabupaten Purbalingga
2.6.4. Sub Bidang Air Limbah
Penanganan sarana prasarana air limbah meliputi pengumpulan dengan on-site (individual/ komunal dan septik tank) dan Off site (dari rumah ke jaringan perpipaan tersier). Pelayanan air limbah Kabupaten Purbalingga secara umum sudah menggunakan prasarana dan sarana sanitasi sistem on-site yang meliputi pengumpulan dan pengolahan.
Penggunaan sarana sanitasi di wilayah Kabupaten
Purbalingga menggunakan jamban keluarga, MCK, septic tank dan cubluk. Saat ini pengangkutan limbah dengan menggunakan mobil IPLT dan realisasinya pembuangan menggunakan sarana pengolahan IPLT
Sarana pengumpul sampah yang telah dipisahkan antara sampah kering dan sampah basah akan mudah dalam pengolahan sampah.
Bab 2 | 33 dan IPAL. Jumlah penduduk Kota Purbalingga yang sudah terlayani pembangunan IPAL untuk industri kecil sebesar 125 jiwa dengan area yang terlayani 8 hektar. Sedangkan cakupan area pelayanan seluas 2.470,863 hektar dengan debit air kotor (limbah industri kecil) sebesar 625 m 3/ hari dengan aliran puncak (aliran air limbah tertinggi) sebesar 625 m3/ hari. Pelayanan dengan mobil IPLT (Tinja) sebanyak 2 unit (swasta).
2.6.5. Sub Bidang Drainase
Kondisi jaringan drainase di wilayah Kabupaten Purbalingga saat ini sebagian besar sudah berupa saluran-saluran permanen, terutama pada daerah perkotaan, sedangkan pada sebagian kecil wilayah terdapat daerah permukiman yang memiliki saluran drainase yang terbuat dari tanah biasa di samping juga dibuat lubang-lubang pada tanah sebagai penampung buangan air kotor dari rumah tangga. Mengingat wilayah Kabupaten Purbalingga merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian tanah yang relatif sedang sampai dengan tinggi, permasalahan pengaturan jaringan drainase menjadi sangat penting ketika musim penghujan. Sistem pengendalian banjir di dalam area kota dilintasi atau dilewati sungai yang digunakan sebagai major drain
Kondisi sarana dan prasarana drainase di wilayah Kabupaten Purbalingga dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 2.4
Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase di Kabupaten Purbalingga
Sistem drainase sekunder yang berfungsi sebagai saluran pembuangan air kotor dari saluran rumah tangga menuju ke saluran drainase primer.
Sungai Klawing sebagai sistem drainase primer yang berfungsi sebagai saluran pembuangan utama yang melintasi ibukota kabupaten
Bab 2 | 34 Ketersediaan sistem drainase perkotaan juga perlu diintegrasikan dengan jaringan sekunder maupun tertier. Pembangunan saluran sekunder dan tertier yang tidak terpadu maupun kondisi yang tidak dibuat permanen / semi permanen mengakibatkan beberapa lokasi di wilayah Kabupaten Purbalingga mengalami genangan pada saat banjir, terutama di daerah perkotaan.
2.6.6. Sub Bidang Tata Bangunan Lingkungan
Kabupaten dan Kota di setiap wilayah Provinsi Jawa Tengah baik itu memiliki bangunan kuno dan bersejarah. Keberadaan bangunan kuno dan bersejarah tersebut mempunyai arti penting sebagai tanda bukti peradaban kebudayaan dan perjuangan bangsa ini. Bangunan Kuno dan bersejarah yang terdapat di Provinsi Jawa Tengah meliputi: bangunan candi, bangunan situs, bangunan museum, bangunan monumen, bangunan benteng, bangunan makam, bangunan masjid, bangunan gereja, bangunan kuil, bangunan sejarah dan bangunan gapura. Potensi bangunan kuno dan bersejarah di Kabupaten Purbalingga dapat diuraikan pada tabel berikut
.Tabel 3.12
Bangunan Kuno dan Bersejarah di Kabupaten Purbalingga
No Bangunan Keterangan
1. Gardu Penjagaan Ds. Tlahap Kec. Karangrejo Kab. Purbalingga Bangunan Bersejarah 2. Gardu Penjagaan Kec. Bobotsari Kab. Purbalingga
3. Gardu Penjagaan Ds. Karanggandul Kec. Bobotsari Kab. Purbalingga 4. Gardu Penjagaan Ds. Siwarak Kec. Karangreja Kab. Purbalingga 5. Gedung Penjara Buen Ds. Purbalingga Kidul Kab. Purbalingga 6. Pendopo Kabupaten Kab. Purbalingga
7. Pendopo Kabupaten Kab. Purbalingga 8. Gedung Kodim 0702 Kab. Purbalingga 9. Gedung Pengadilan Negeri Kab. Purbalingga 10. Gedung Kejaksaan Negeri Kab. Purbalingga 11. Gedung SMP 1 Purbalingga Kab. Purbalingga 12. Gedung Mesiu Kab. Purbalingga
Bab 2 | 35
No Bangunan Keterangan
13. Gedung Kawedanan Ds. Bukoteja, Kab. Purbalingga
14. Monumen Juang Ds. Makam Kec. Rembang Kab. Purbalingga Monumen
15. Monumen Blater Ds. Blater Kab. Purbalingga 16. Monumen Jembatan Gatot Subroto
17. Ds. Karangtengah Kec. Karanganyar Kab. Purbalingga
18. Monumen Jendral Sudirman Ds. Bentar Kec. Barong Rembang Kab. Purbalingga
19. Makam Suro (Syeh Mahdun Cahyana) Ds. Gentang Kec. Karangmoncol Kab. Purbalingga
Makam pendiri kabupaten/ tokoh agama 20. Makam Syeh Jambukarang Ds. Penusunan Kec. Rembang Kab. Purbalingga
21. Masjid Ds. Purbolinggo Kab. Purbalingga Masjid yang memiliki aset sejarah
Sumber: Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah Bagian I Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kanwil Departemen Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah
Gambar 2.5
Kondisi Sarana Bangunan dan Lingkungan
Monumen Tempat Lahir Jenderal Sudirman dan Taman makam pahlawan yang bernilai historis
Bab 2 | 36 2.6.7. Sub Pengembangan Permukiman
Kondisi pengembangan permukiman di perkotaan yang sangat rentan akan terjadinya kekumuhan yang disebabkan oleh kepadatan jumlah penduduk dan keterbatasan tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Permasalahan permukiman kumuh perkotaan di Kabupaten Purbalingga dapat diuraikan sebagai berikut:
Isu persebaran permukiman kumuh sangat terkait dengan keberadaan rumah yang tidak layak huni. Keberadaan rumah tidak layak huni memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Rumah dengan lantai yang tidak kedap air
2. Luas lantai rumah per kapita kurang dari 8 meter persegi
3. Dinding dan atap rumah terbuat dari bahan bangunan yang tidak permanen atau dalam kondisi yang sudah rusak , sehingga tidak dapat berfungsi menahan penetrasi binatang, angin, air atau dapat dimasuki orang secara tidak semestinya
4. Rumah tidak memiliki ventilasi yang cukup
5. Kurangnya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah.