• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Teknologi DAn Media Penyiaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkembangan Teknologi DAn Media Penyiaran"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN TEKHNOLOGI PERANGKAT MEDIA

PENYIARAN, dan SISTEM JALUR PRODUKSI STUDIO

Sejak ditemukannya televisi dan radio oleh para ilmuwan dan pakar teknologi, media audio dan audio- visual itu terus mengalami perkembangan. Khususnya berbagai perangkat yang menunjang dalam pelaksanaan siaran. Baik itu bentuk fisik maupun faungsinya. Teekhnologi yang berkembang semakin mempermudah para creator- creator dalam industry penyiaran.

Teelevisi broadcasting merupakan bagian dari sebuah teknologi sehingga merupakan proses dan bukan tujuan maka akan selalu mengalami penyempurnaan kearah yang lebih baik, efisien, praktis, berkualitas, compatible dengan system yang sedang terus berkembang dan pada tahap yang lebih mulia.

Perkembangan teknologi perangkat media penyiaran berdampak cukup besar pada system jalur produksi tv/radio. Dimana sebuah kreativitas harus ditunjang dengan perangkat-perangkat yang compatible dan perencanaan produksi yang baik. Sistem jalur produksi program tv/radio merupakan penentu dari sebuah program yang akan disiarkan. Manajemen produksi yang baik akan melahirkan produk siaran yang baik pula.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, perkembangan stasiun televisi di Indonesia cukup signifikan. Sejak dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) oleh menteri penerangan RI No. 286/SK/MENPEN/1999, banyak bermunculan stasiun TeV swasta. Namun tak banyak stasiun tv swasta yang dapat melakukan siaran secara nasional karena Perundang-undangan mengatur system televisi berjaringan sebagai wujud demokratisasi/desentralisasi penyiaran.

Perkembangan Tekhnologi Perangkat Media Televisi

Teelevisi merupakan temuan internasional, karena banyak ilmuwan-ilmuwan yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan teknologi ini. Perkembangan pesat pertelevisian dunia setelah antara tahun 1951 dan 1954, saluran (chanel)

Ultra High Frequency (UHF) mulai dibuka serta diketemukannya televisi berwarna.

(2)

antara kreativitas manusia didukung oleh peralatan. Dengan perkataan lain, antar perangkat keras dan perangkat lunak.

Perangkat keras terdiri dari: a. Sarana dan prasarana

b. Pemancar dan perangkatnya

perangkat lunak terdiri dari:

a. Manusia yang mengelola siaran (termasuk manajemen)

b. Program

yang termasuk perangkat keras adalah: a. Studio

b. Kamera elektronika c. Sound system d. Lighting

e. Sub dan Master control f. Teelecine

g. Alat Rekam dan Media Penyimpanan h. Program continuity

i. Pemancar j. OB-Van

Adapun faungsi beberapa perangkat keras di atas sebagai berikut :

A. Studio

Definisi studio televisi adalah tempat memproduksi paket siaran televisi dan sekaligus tempat menyiarkan. Proses produksi di studio harus terkoneksi dengan

(3)

Gambar 1.1: sebuah studio tv yang lengkapi perangkatnya

Produksi acara siaran tidak selalu diselenggarakan di dalam studio, tetapi ada yang di luar studio (outdoor). Produksi di luar studio diselenggarakan dengan dukungan mobil produksi atau dikenal dengan istilah Outside Broadcasting Van

(OB- Van).

TeVRI bahkan memiliki studio alam, yaitu studio yang dibuat di alam terbuka, dilengkapi dengan rumah, danau buatan, gunung buatan, sungai dan saah buatan yang semuanya ditujukan bagi produksi siaran. (Riswandi, 2009 : 15)

B. Kamera Elektronika Pengertian Kamera Video

Video dapat diartikan suatu gabungan dari beberapa gambar mati dengan jumlah ratusan mungkin ribuan atau bahkan jutaan jumlahnya yang dibaca secara teratur dan berurutan dalam satuan waktu dengan kecepatan tertentu. Sementara Kamera adalah sebuah peralatan elektronis yang dapat merekam suatu gambar. Dengan demikian pengertian kamera video yaitu sebuah peralatan elektronis dapat merekam gambar dalam jumlah tertentu hingga nantinya terdapat ilusi gerak dari gambar yang direkamnya.

Askurifaai Baksin dalam bukunya Membuat Film Indie Itu Gampang

menyebutkan, pada dasarnya kamera yang kita kenal dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni:

1. Kamera faoto (Still Photography),

2. Kamera film/ movie (Cinema Photography), dan

3. Kamera video (Video photography).

(4)

faoto dan kamera film menggunakan bahan baku pita seluloid. Sementara kamera video menggunakan bahan baku kaset video.

Dilihat dari gambar yang dihasilkan pun berbeda. Kamera faoto menghasilkan gambar tunggal tak bergerak (still single picture). Sementara kamera film dan video memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menghasilkan gambar-gambar hidup atau citra bergerak (motion picture).

Penggolongan Kamera Video

Dilihat dari penggunaannya, kamera video dibagi menjadi tiga, yakni kamera studio, kamera portable (ENG camera) dan kamera EFP (Electronics Field Production).

1. Kamera Studio adalah kamera yang biasanya digunakan dalam studio untuk memproduksi sebuah program acara televisi. Kamera studio yang dilengkapi tripot dan dolly / craine. Kamera biasanya telah dilengkapi micropon untuk menangkap suara didepan kamera. Kamera juga dilengkapi dengan VCR untuk merekam gambar dan suara dari obyek. Kelengkapan yang mendukung kamera studio yakni : Pedestal, Teripod, Rolling Teripod, Crane/Hand Crane, Porta jip dll. Selain itu dilengkapi dengan dua hand/pan bar untuk pengaturan faocus, zoom maupun pergerakan kamera (Camera Movement).

Gambar 1.2: kamera studio sony hdc 1000

(5)

Gambar 1.3: kamera ENG Sony HDV

3. Kamera EFP (Electronics Field Production) adalah kamera yang biasa dipakai di dalam ruangan (indoor), hampir sama dengan jenis pertama.

Gambar 1.4: Kamera EFP Hitachi

Keragaman jenis kamera tersebut disebabkan karena perkembangan teknologi yang terus bergulir hingga berdampak pada proses pembuatannya. Berikut ini akan diuraikan macam-macam kategori jenis kamera video :

a. Consumer Video Camera ( Home Used Camera )

1. Kamera Video 8: Merupakan kamera analog pertama yang diluncurkan dan dikenal dengan istilah Handycam atau juga bisa disebut dengan video 8, karena ukuran lebar pita kaset sebagai bahan untuk merekam gambar berukuran 8mm. Kualitas gambar yang dihasilkan kamera ini sangat terbatas karena mempunyai farame size 320 pixel X 240 pixel.

2. Kamera Video 8Hi: Pada era tahun 80-an Sony Corporation mengembangkan dari video 8 menjadi Hi8 dengan mempertajam kualitas gambar serta perlengkapan aksesoris kamera seperti menambahan lensa zoom, lensa Wide hingga lensa filter.

(6)

kecepatan tinggi per-detiknya jauh lebih sempurna daripada sistem analog yang masih menggunakan sistem koneksi komposit .

Gambar 1.5 : consumer video camera

b. Semi Profesional Camera

1. Sony HDR-HC9: Dengan makin populernya faormat digital maka lambat laun kamera faormat analog mulai ditinggalkan. Sony HDR-HC9 ini adalah produk camcorder terakhir Sony yang menggunakan faormat pita atau yang dikenal sebagai faormat HDV. Dilihat dari spesifikasi nya, Sony HDR-HC9 ini masih cukup bisa diandalkan soal kualitas gambar.

2. Sony HXR MC1500P: Kamera jenis ini merupakan kamera semi profaesional. Dengan lensa 12x Optical zoom, 160x Digital zoom dan faormat perekamannya HD: MPEG-4 AVC/H.264 (AVCHD) SD: MPEG-2 PS. Frame yang dihasilkan kamera ini 1920x1080/50i.

Gambar 1.6: semi profaessional camera

c. Profesional Camera

(7)

Gambar 1.7: kamera betacam Sony DXC-637

2. Kamera Video VHS: Kamera jenis ini termasuk kamera profaesional berfaormat analog. Bahan kaset sebagai perekam gambar berfaormat VHS ukuran lebih besar dari kaset Video 8. Kamera jenis ini dipakai standart penyiaran, hasil perekaman kamera ini bisa diputar melalui Video player VHS yang pada waktu itu dipakai standard pemutar video oleh stasiun televisi. Beberapa versi melengkapinya dengan vormat S-VHS.

Gambar 1.8 : kamera VHS Panasonic-M40

3. Kamera Video DV CAM dan DV CPRO adalah kamera video berfaormat digital. Kamera jenis ini cocok intuk industri televisi, karena resolusi yang dihasilkan sudah mencapi 800 sampai 900 garis horizontal televisi. Pabrikan Sony mengeluarkan Seri DV CAM seperti pada versi DSR 400WSP, sedangkan Panasonic mengeluarkan Seri DV CPRO dengan versi AJ D410, dan itu akan terus berkembang pada versi-versi berikutnya tentu saja dengan kualitas yang lebih tinggi.

Gambar 1.9 : kamera DV cam Sony HVR

(8)

Penyimpanan data dalam bentuk Card yang terdiri dari 3 jenis diantaranya 16 GB, 32 GB dan 64 GB. Kapasitas penyimpanan card ini mudah digunakan kembali setelah pentransfaeran data.

Gambar 1.10 : Kamera video P2 HD

5. Kamera Video High Definition /HDV: Kamera ini mempunyai resolusi tinggi sehingga Frame yang dihasilkan kamera ini mencapai 1440 x 1080 pixel bahkan kamera Sony seri HDW-F900R mampu merekam hingga resolusi farame 1920 x1080 pixel. Sony dengan serinya terbarunya HDW-F 900R sedangkan Panasonic mengimbanginya pada seri HPX 3700.

Gambar 1.11 : Kamera HDV Sony

d. Broadcasting Camera

Bentuk fisik kamera ini lebih besar dibandingkan dengan kamera elektronik lainnya. Teipe lensa yakni box lens dengan jenis zoom lens. Kelengkapan yang mendukung kamera studio yakni : Pedestal, Teripod, Rolling Teripod, Crane/Hand Crane, Porta jip dll. Selain itu dilengkapi dengan dua hand/pan bar untuk pengaturan faocus, zoom maupun pergerakan kamera

(9)

Gambar 1.12 : Broadcasting camera

C. Sound system

Peralatan sound system berfaungsi untuk mengkontrol atau mengatur sumber – sumber audio dari studio set maupun sumber lain yang akan masuk dalam siaran. Sound sistem digunakan untuk keperluan talk back komunikasi antara kamerawan dengan sutradara/pengarah dalam rangka koordinasi, pemberian instruksi oleh pengarah kepada kamerawan dan juga disalurkan ke ruang-ruang lain. Sound sistem juga berfaungsi sebagai sumber suara utama dan pendukung program.

Gambar 1.13: skema kerja sound system

Sound system yang terdiri dari microphone, mixer audio, equalizer, amplifier, speaker, headphone, tape recorder/cassette recorder, piringan hitam, CD/DVD player, dsb. Berikut perinciannya:

a) Microphone: untuk menangkap suara dan diubah menjadi elektris kemudian disalurkan ke mixer audio. Microphone memiliki beberapa jenis, diantaranya:

(10)

 personal mic/clip-on mic adalah perekam suara yang bentuknya kecil dan penjepit .Mic ini biasanya dijepit di kerah baju,jas ataupun menempel dibalik dasi.

 Handheld Mic: karakteristiknya Dynamic michrophone. Sifaatnya meredam suara desis dan suara yang tajam untuk mengurangi gangguan suara utama yang direkam

Gambar 1.14: beberapa jenis mic

b) Audio Mixer: Peralatan audio yang berfaungsi untuk mengkontrol atau mengatur sumber –sumber audio dari studio set maupun sumber lain yang akan masuk dalam siaran.

Gambar 1.15: Audio mixer

D. Lighting (Tata Cahaya)

Salah satu unsur yang penting dalam tayangan televisi adalah pencahayaan. Karena tanpa adanya cahaya, objek tidak akan bisa terlihat dan terekam oleh kamera video. Hal inilah yang menjadi perhatian penting sebuah studio televisi dalam penataan cahayanya.

Fungsi penataan cahaya diantaranya:

 Memberikan penerangan yang cukup dan seimbang agar setiap kamera menghasilkan gambar/video signal sesuai standard.

(11)

 Menciptakan suasana alami, artistik atau dramatik sesuai tuntutan acara

System pencahayaan dibagi menjadi tiga poin: key light, fill light dan back light. Seperti gambar berikut:

Gambar 1.16: three point lighting

1. key light: cahaya utama yang memberi efaek yang paling dominan Pada subyek karena intensitasnya paling besar dan menimbulkan bayangan. Letak Key Light ideal adalah antara 30°-45° dari sisi kanan-kiri kamera.

2. fill light: cahaya tambahan yang berguna umtuk menghilangkan atau meminimalisir bayangan yang ditimbulkan oleh Key Light. posisi disamping Kamera berlawanan dari Key, ( sekitar 90°)

3. Back light: sumber cahaya yang datang dari belakang subyek dan ditempatkan pada posisi belakang obyek setinggi key light.

Ciri cahaya

•Hard light adalah Cahaya yang menghasilkan gambar dengan tekstur obyek dan bayangan yang jelas. Dihasilkan oleh lampu jenis Spotlight dengan berkas cahaya terarah.

(12)

Gambar 1.17: contoh perbedaan hardlight dan sofatlight

Peralatan lighting

1. Lampu warna (colour light): disebut juga lampu PAR (Parabolic Aluminized Reflector). Lampu PAR memiliki daya lampu 1000 watt dengan tegangan 220 volt. Teerdapat tiga macam lampu Par antara lain: PAR Medium, PAR Nero, dan PAR parinero.

2. . Lampu Efaek: sebenarnya ada banyak tetapi yang sering kali digunakan di studio televisi. Antara lain: Teechnobeam, Cyberlight, Studio colour, dan Studio Beam.

3. Lampu HMI (Hydrargyrum Medium arc-length Iodide): ini merupakan jenis lampu kualitas tinggi.

Gambar 1.18: lampu par , technobeam dan HMI

4. Lampu Teungsten Yaitu lampu yang terbuat dari kawat pijar (bohlam & pijar). Lampu ini biasa digunakan untuk adegan malam hari, di mana skin tone (warna kulit manusia) yang tersinari oleh lampu tungsten akan tetap serasi, tidak menjadi kepucat-pucatan.

5. Reflector yaitu aksesori yang digunakan untuk memantulkan cahaya dan mengisi daerah-daerah yang gelap. Biasanya digunakan di outdoor.

Gambar 1.19: reflector dan cara pemakaiannya

(13)

Gambar 1.20: lightmeter

E. Sub dan Master control

Master control room (ruang kendali siaran) digunakan untuk mengontrol seluruh sinyal gambar dan suara serta komunikasi dari dan ke luar stasiun penyiaran dan pusat hubungan jalur antar studio, production control, program continuity, VTeR/ATeR di dalam stasiun penyiaran. Bagian Master Control Room merupakan jantung dari sebuah stasiun televisi broadcasting. Karena bagian inilah letak pengaturan semua tayangan program dan komersial dari sebuah stasiun televisi.

Gambar 1.21: Master control room

Bagian Master Control Room dilengkapi dengan meja utama atau Console sebagai pemantau alur sinyal audio dan video merupakan bagian utama sebuah stasiun televisi. Maka tugas utama master control console diantaranya:

 Penyangga utama penyelenggaraan siaran

 Membagi sinyal input ke bagian lain (studio, presentasi, transfaer room)

 Quality Control Audio dan Video

 Koordinasi utama saat siaran langsung

 Bagian monitoring utama kualitas siaran

F. Telecine

(14)

mm, 16 mm, 35 mm, 70 mm. Ukuran ini disesuaikan dengan jenis ukuran film yang sudah standar ; Kamera Video untuk shoting proyeksi film sehingga menjadi gambar video; sound system dan sebagainya.

Gambar 1.22: Teelecine

G. Alat Rekam dan Media Penyimpanan

Sebelum dikenal Cassete Video (video cassette tape) media penyimpanan film berupa Reel Tape, seperti masih dijumpai pada acara “layar tancap” yang akhirnya berkembang menjadi video cassette yang mempunyai ciri umumnya:

 Pita berada pada dua reel di dalam cassette

 Pemasangan mudah dan tidak perlu memasang tape secara manual

VTeR berfaungsi merekam dan melihat rekaman pada proses produksi, dapat juga digunakan untuk meng-capture (mengubah rekaman dari kaset pita ke digital). Macam-Macam VTeR : Betacam, DVC Pro, Mini DV / DV Cam, dan VHS / S-VHS.

VCR (video cassette recorder) merupakan alat pemutar maupun perekam video untuk kualitas rumah tangga bukan standard broadcast. Biasanya VCR pada stasiun TeV broadcast digunakan untuk merekam hasil on air stelah melewati transmisi. Karena perkembangan teknologi, perekaman of air juga sudah menggunakan system hardisk (server).

Gambar 1.23: VTeR dan VCR

(15)

Digunakan untuk mengatur kontinuitas siaran yang berasal dari beberapa sumber gambar/suara. Jumlah program continuity tergantung dari jumlah program yang dimiliki oleh stasiun penyiaran. Peralatan program continuity sama seperti peralatan production control.

I. Pemancar

Stasiun Pemancar TeV (Satuan Teransmisi TeV) adalah suatu tempat atau lokasi yang berguna untuk memancarkan Siaran Teelevisi di wilayah yang akan dipancarkan dan tentunya telah disepakati oleh Pemilik stasiun televisi tersebut. Setiap Stasiun Relai mempunyai Pengendali siaran atau disebut dengan Repeater dan Teransmitter. Repeater berguna untuk mengatur Penerimaan siaran Teelevisi dari studio televisi masing-masing dari kantor pusat . Stasiun Relai TeV umumnya ditempatkan di dataran tinggi dan jauh dari pemukiman, agar dapat memancarkan Siaran Teelevisinya ke seluruh jangkauan areanya.

Gambar 1.24 : Stasiun Pemancar TeV di kaki gunung Cikurai, Garut

J. OB VAN

OB Van adalah outside broadcasting Van. Dalam OB Van tersedia sarana siar lengkap layaknya studio in-house sebuah stasiun TeV. Dalam OB Van tersedia Mixer Video, Mixer Audio, Monitor monitor, speaker, Teally kit, Intercom, Kamera dan teleprompter, non linear editing (nle), linear editing kit dan Microwave Link atau VHF Link untuk menghubungkan ke Master Control Room sebuah stasiun. Untuk OB Van Audio Visual biasanya memakai truk 3/4 atau yang lebih besar sebagai platfaormnya. Bagian atas truk dipasang alat penghubung ke stasiun pusat, baik melalui microwave link, vhfa link, satcom (satellite communication) ataupun gsm cdma 3G live.

(16)

satellite modem, hpa atau sspa dan parabola untuk pemancar dan penerima sinyal satelit. Encoder berfaungsi untuk mengubah sinyal video menjadi sinyal digital yang dapat diterima modem. Bila dalam SNG mempunyai beberapa kamera atau VTeR (video tape recorder), maka diperlukan router dan laptop untuk mengatur sinyal ke modem. Dari modem sinyal diperkuat melalui hpa (high power unit) atau sspa (solid state power unit) dan dipancarkan ke satelit. Dari satelit ini kemudian dipancarkan balik ke stasiun utama dan disiarkan ke masyarakat luas.

Gambar 1.25: OB-Van dan SNG Van

2.2 Perkembangan Tekhnologi Perangkat Media Radio

Radio adalah salah satu diantaranya media yang digunakan dalam komunikasi massa, yang dalam penyampaian (transmisi) berita/infaormasinya memanfaaatkan gelombang listrik atau gelombang elektromagnetik.

Adapun komponen-kompenen system radio siaran ada beberapa macam, yaitu

A. Studio Control.

(17)

Gambar 2.1: studio control

B. Gedung Pemancar dan Pemancar (Transmitter)

Sebuah console atau control board pencampur sinyal suara (audio) dan system switching. Bagian ini merupakan master untuk mengkontrol semua program yang akan dipancarkan oleh pemancar. Adapun pemancar terdiri dari X-tall (Kristal) Ocsilator, rangkaian bufer amplifier, rangk, driver, power amplifier, modulator, yang didahului oleh rangk, driver, dan pre driver dan rangk output network.

Gambar 2.2: pemancar

C. Antenna

Antenna berfaungsi sebagai paradiasi energi radio yang berasal dari pemancar broadcast. Antenna yang biasanya digunakan adalah antenna vertical ¼ lamdha baik dengan base loading, centre loading,maupun top loading. Antenna terdiri dari matching impedance/loading coil, element dari antenna itu sendiri, penangkal petir, dan lampu pengaman.

Sebuah antena adalah bagian vital dari suatu pemancar atau penerima yang berfaungsi untuk menyalurkan sinyal radio ke udara.

Gambar 2.3: antenna

(18)

Audio mixer adalah alat untuk mengatur sinyal elektrik dari microphone studio,tape recorder, dan sinyal prosesor. Operator menggerakan isarat ini dengan knob/tombol, kemudian mengarahkan kembali sinyal ke tape recorder, sinyal prosesor, dan monitor power amplifier.

Kegunaan alat ini adalah untuk memixing semua audio input yang tersedia dan menjadikannya sebagai satu output untuk disiarkan.

Gambar 2.4: Mixer

E. Microphone

Microphone merupakan sebuah alat yang langsung brhubungan dengan penyiar. Microphone memiliki beberapa macam jenis yaitu: microphone ribbon, dynamic, condenser, cardoide, sprit, dsb. Untuk keperluan siaran biasanya menggunakan microphone dynamic yang hanya menangkap suara-suara yang sangat terbatas daerahnya dari microphone.

Gambar 2.5: jenis-jenis microphone

F. Headphone

Headphone berfaungsi untuk operator maupun penyiar untuk mendengarkan aktivitas yang sedang mengudara. Saat siaran langsung penyiar wajib menggunakan headphone.

Gambar 2.6: headphone

(19)

Jika dulu para penyiar mengggunakan piringan hitam, maka sekarang menggunakan teknologi computer. Dalam computer sudah terdapat sofatware playlist lagu. Bermacam-macam jenisnya, mulai dari winamp, raduga, zara, djpower drs2006 dan berbagai program lainnya.

Gambar 2.7: sofatware program radio

H. Monitor Studio

adalah speaker yang digunakan untuk memonitor audio apa yang sedang keluar dari mixer dan juga dapat digunakan untuk mendengarkan input audio yang akan dimasukkan kedalam mixer. Speaker ini juga digunakan untuk pengaturan suara yang keluar dari microphone.

Gambar 2.8: monitor studio

2.3 System Jalur Produksi Media Televisi

Organisasi produksi dibentuk untuk memproduksi satu paket mata acara. Setelah mata acara ini selesai maka selesai pulalah tugas organisasi produksi. Bagian produksi televisi, merupakan dapur dari sebuah program acara tv akan dibuat. Biasanya dibedakan tiga kelompok besar yaitu produksi drama, non-drama dan news.

(20)

Fungsi manajemen produksi secara umum meliputi: Planning (Perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuiting (pelaksanaaan & kepemimpinan), Controlling (pengawasan)

Program acara televisi sebelum ditayangkan, harus melalui beberapa tahapan-tahapan yaitu:

 Pre-production

 Production

 Post-production

Berikut bagan system pra produksi, produksi, dan pasca produksi:

(21)

Struktur organisasi hubungan kerja

Setelah program melewati tahap pra-produksi, produksi, dan pasca produksi, selanjutnya program itu dikirim ke lay out untuk dimasukkan kedalam dafatar tunggu. Nantinya, pada jam, menit dan detik yang telah ditentukan, materi program ini akan tayang sendiri secara otomatis berdasarkan perintah dari

software On-Air Automation. Kemudian Play out akan secara otomatis menayangkan program dan iklan itu secara berurutan sesuai jadwal yang telah tersusun rapi di dalam Play List. Sinyal audio-video yang keluar dari Play out kemudian dipilih oleh Master Switcher lalu dikirim ke Pemancar untuk dipancarkan.

(22)

System Jalur Produksi Media Radio

Dalam industry radio, perencanaan produksi progam merupakan unsur yang sangat penting karna meliputi perencanaan produksi dan pengadaan materi siaran, pengadaan sarana dan prasarana, serta perencanaan administrasi.

Program radio membutuhkan kegiatan produksi yang akan melibatkan elemen-elemen tertentu di dalamnya yaitu hot clock dan rundown, yang menjadi rambu-rambu bagi program radio agar tidak keluar jalur. Hot clock dan rundown itu disusun berdasarkan jenis programnya yang terbagi menjadi 2; yaitu (1) hiburan - dalam hal ini musik, dan (2) non hiburan, Copy, voice, faeature, dalam hal ini non-musik.

Sebuah konsep yang juga tak bisa dilepaskan dari produksi program radio adalah kreativitas. Kreativitas ini meliputi unsur kebaruan, berbeda, namun orisinil. Kreativitas inilah yang menentukan apakah program radio tersebut akan berumur panjang atau tidak.

Yang tidak kalah penting dalam produksi siaran radio adalah naskah radio atau radio script. Naskah radio menjadi sangat penting karena memberikan banyak manfaaat bagi perkembangan suatu program.

Kegiatan produksi radio tentunya adalah tugas dari tim produksi yang terdiri dari manajer produksi, program director, music director, produser, script writer, penyiar, reporter, dan operator siar.

Adapun kegiatan produksi radio antara lain :

1.Produksi Siar/program

2. Produksi Musik

3. Produksi Spot Jinggle

4. Produksi Iklan

Daftar Pustaka

Riswandi. 2008. Dasar-dasar Penyiaran. Yogyakarta: Graha Ilmu.

(23)

_____________. 2006. Jurnalistik Televisi : teori dan praktek. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Bakhtiar, Saifaul. 2006. Cara gampang jadi penyiar radio. Yogyakarta: Indonesia cerdas.

Adimodel. 2010. Profesional Lighting. Jakarta: Elex media komputindo.

Daryanto.2001. Pengetahuan praktis teknik radio. Jakarta: Bumi aksara.

Setyobudi, Ciptono. 2006. Teknologi broadcasting TV. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ishadi SK. 1999. Dunia penyiaran: prospek dan tantangannya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Departemen penerangan RI. 1987. Penelitian Prasarana dan sarana teknologi radio non RRI. Jakarta.

Frame Magz. 2013. “Mengenal jenis kamera video”. Desember.

Teriartanto, A. Ius Y. 2010. Broadcasting Radio. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Mabruri KN, Anton. 2013.Manajemen produksi program acara TV. Jakarta: Grasindo.

Gambar

Gambar 1.1: sebuah studio tv yang lengkapi perangkatnya
Gambar 1.2: kamera studio sony hdc 1000
Gambar 1.5 : consumer video camera
Gambar 1.7: kamera betacam Sony DXC-637
+7

Referensi

Dokumen terkait

Konsep komunikasi dapat dilihat dari bentuk komunikasi yang membangun interaksi antara penyiar dengan pendengar, pendengar dengan pendengar lain, dan pendengar dengan kru

Hasil penelitian Ackerman dan Goldsmith 2011 dalam da Silveira, 2021 menyimpulkan bahwa orang cenderung menganggap media cetak sebagai sumber yang lebih baik untuk membaca secara