• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASEAN Maritime Forum dalam Keamanan Mari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASEAN Maritime Forum dalam Keamanan Mari"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER

Mata Kuliah Studi Kawasan Asia Tenggara

Oleh Dosen Andaru Satnyoto, M.Si.

Tema : Masalah-Masalah Keamanan ASEAN atau Asia Tenggara

“ASEAN Maritime Forum dalam Keamanan

Maritim di Kawasan Asia Tenggara”

Disusun Oleh :

Danita Pravinska

1170750006

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HUBUNGAN INTERNASIONAL

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan keamanan maritim khususnya di wilayah Asia Tenggara dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir telah mengalami perubahan yang sangat mendasar. Keadaan ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan strategis keamanan global dimana fenomena baru ancaman terhadap keamanan maritim dunia telah muncul dan menjadi tantangan nyata bagi negara-negara, khususnya negara yang memiliki wilayah teritorial berupa laut. Seperti diketahui bahwa kawasan Asia tenggara lebih dibatasi oleh wilayah perairan dan batas negaranya pun masih saling tumpang tindih dengan negara lain. Kawasan laut adalah sebagai jalur utama untuk tindak kejahatan paling besar di dunia. Konsep keamanan non-tradisional yang mengalami perluasan makna ini menjadikan isu terpenting untuk keamanan maritim. Wilayah maritim atau jalur laut merupakan jalur yang mempunyai prospek tinggi untuk meluaskan kejahatan, yang bersifat lintas batas negara. Untuk mengatasi itu Asia tenggara (ASEAN) dengan program ASEAN Maritime Forum (AMF) lebih meningkatkan kerjasama pertahanan di wilayah laut.

Negara-negara yang terletak di Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN yang umumnya adalah negara maritim (wilayahnya memiliki laut), menyadari sepenuhnya akan potensi ancaman keamanan maritim, baik di wilayah teritorialnya sendiri maupun secara regional Asia Tenggara dan hampir 90% komoditas strategis dan kebutuhan energi diangkut dari satu negara ke negara lain melalui laut. Laut merupakan tempat penggalian sumber daya alam yang akan digunakan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, suatu insiden keamanan maritim bila terjadi akan sangat merugikan baik politik dan terlebih lagi ekonomi bagi negara secara individu maupun secara regional Asia Tenggara. Menurut Collins, perluasan isu-isu keamanan non-tradisional ini mencakup keamanan lingkungan dan keamanan ekonomi. Keamanan lingkungan berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan, kelangkaan sumber daya, dan konflik.1 Dalam pernyataan Collins, dapat dikatakan bahwa

(3)

ancaman atau masalah-masalah mengenai keamanan maritim di kawasan termasuk ke dalam perluasan keamanan non-tradisional terutama dalam bentuk keamanan lingkungan.

(4)

BAB II

RUMUSAN MASALAH

(5)

BAB III

PEMBAHASAN

Pembajakan atau perompakan atau piracy adalah bentuk kejahatan yang terorganisir yang merupakan salah satu ancaman utama keselamatan pelayaran di dunia terutama di kawasan Asia Tenggara. Ancaman kejahatan ini memang sudah berlangsung ratusan tahun di seluruh dunia. Biasanya pembajakan atau perompakan terjadi karena adanya sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab, seperti para pembajak-pembajak laut yang mengambil alih kapal-kapal dari negara lain di wilayah perairan internasional dan juga menyandra awak-awak kapal untuk meminta uang tebusan. Pada dasarnya para pembajak-pembajak laut tersebut merupakan masyarakat yang bekerja sebagai nelayan namun karena tingkat ekonomi mereka yang rendah, maka para nelayan-nelayan miskin tersebut akhirnya memilih untuk menjadi sekelompok pembajak laut. Gangguan terhadap keselamatan kapal tersebut terjadi pada umumnya saat kapal berada di pelabuhan dan sebagian besar target kejahatan adalah kapal-kapal kecil karena biasanya mengangkut barang-barang yang dapat dengan mudah dijual di pasar gelap.2 Secara umum perairan di Asia Tenggara dikenal penuh dengan

serangan bajak laut, yang juga sebagai kawasan paling mengkhawatirkan atas ancaman tersebut.

Secara umum perairan di Asia Tenggara dikenal penuh dengan serangan bajak laut dan yang paling mengkhawatirkan adalah pada tahun 2002. Sebagai contoh Selat Malaka dan India adalah kawasan lain yang rentan terhadap serangan bajak laut. Para bajak laut ini merampas sebgian kecil atau seluruh muatan kapal yang dibajak, bahkan tidak jarang mereka juga membunuh awak kapal yang dibajak.3 Lingkungan keamanan maritim khususnya di

wilayah Asia Tenggara dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir telah mengalami perubahan yang sangat mendasar. Ancaman dengan menggunakan laut sebagai wahana operasi dengan sasaran obyek yang berada, di dekat atau yang bergerak di laut, dalam keadaan tertentu dipandang lebih berbahaya daripada di daratan. Laut yang memiliki ciri-ciri tersendiri, oleh

2 Bambang Cipto, “Hubungan Internasional Di Asia Tenggara”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) hal. 226

(6)

karena itu penanggulangan terhadap bentuk ancaman semacam ini lebih sulit dilakukan bila dibandingkan dengan di daratan. Negara-negara yang terletak di Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN yang umumnya adalah negara maritim, menyadari sepenuhnya akan potensi ancaman keamanan maritim, baik di wilayah teritorialnya sendiri maupun secara regional Asia Tenggara.

Menurut laporan Biro Maritim Internasional (IMB), serangan perompak menurun drastis pada tahun 2012 lalu di seluruh dunia dan juga di perairan Asia dikarenakan meningkatnya kewaspadaan, pengetatan keamanan, dan membaiknya kerjasama antarnegara. Secara keseluruhan, di tahun 2012 perompakan di dunia berada pada titik terendahnya sejak tahun 200. IMB mengatakan bahwa sembilan bulan pertama pada tahun 2012 jauh lebih tenang daripada tahun sebelumnya. Tahun 2012 hanya terjadi 233 peristiwa, dibandingkan dengan 439 peristiwa sepanjang tahun 2011. Hingga saat ini, hanya terjadi 90 kali serangan di perairan Asia tahun 2012, dibandingkan 129 kali di tahun 2011. Sebagian besar dari serangan di perairan Asia tahun ini terjadi di Indonesia yaitu 51 kali hingga September 2012, dibandingkan dengan 46 kali sepanjang tahun 2011, ungkap IMB. Sebagian besar dari insiden terkini di Indonesia yang dilaporkan terjadi di pelabuhan atau dermaga Belawan, Pulau Batam, Samarinda, dan Taboneo. Sementara itu, situasi di Selat Malaka dan Singapura sudah membaik. Menurut Brigjen Hartind Asrin, juru bicara Kementerian Pertahanan Indonesia, menjaga keamanan alur pelayaran sangatlah penting. Karena selama sekitar seperempat abad terakhir, Asia Tenggara telah menjadi sarang masalah dunia dalam hal perompakan terhadap kapal niaga dan nelayan.4

Ketidakmampuan negara-negara ASEAN dalam melindungi kawasan perairannya dari serangan bajak laut berakibat meningkatnya serangan tersebut. Ketiadaan sarana yang memadai untuk mengamankan kawasan perairan ASEAN membuat para pembajak laut meningkatkan serangan mereka pada kapal-kapal muatan barang. Oleh karena itu sangat diperlukan sekali kekuatan ekstra untuk kegiatan mengawasi, melindungi, serta menjaga keamanan wilayah maritim kawasan. Kekhawatiran akan ancaman masalah perompakan ini bukanlah masalah yang dapat dianggap enteng, tetapi harus segera dicari jalan keluarnya dan lebih meningkatkan kerjasama antarnegara di Asia Tenggara dan setelah itu barulah meningkatkan kerjasama dengan negara-negara lain diluar kawasan.

(7)

Kekhawatiran akan ancaman pembajakan di wilayah perairan membuat negara-negara di Asia Tenggara ramai-ramai berbelanja alat pertahanan maritim. Indonesia membeli kapal-kapal selam dari Korea Selatan serta sistem radar wilayah pesisir dari Cina dan Amerika Serikat. Vietnam mendapatkan kapal selam dan jet tempurnya dari Rusia, sementara Singapura sedang menambahkan armada persenjataannya yang canggih. Negara-negara Asia Tenggara meningkatkan belanja peralatan militer untuk melindungi jalur perkapalan, pelabuhan dan perbatasan maritim yang vital bagi aliran ekspor dan energi. Namun jika harus memprioritaskan mana saja peralatan maritim yang penting yaitu kapal perang, perahu patroli, sistem radar dan pesawat tempur, serta kapal selam dan kapal anti rudal yang terutama efektif dalam menutup akses ke jalur laut. Seiring melonjaknya ekonomi di Asia Tenggara, belanja untuk sektor pertahanan tumbuh 42 persen dari tahun 2002 sampai tahun 2011, menutur data dari Institut Riset Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI).5

Melihat situasi dan keadaan yang melanda kawasan Asia Tenggara mengenai ancaman pembajakan atau perompakan di wilayah laut, peran ASEAN sangat diperlukan sebagai wadah yang menengahi negara-negara anggota ASEAN untuk membicarakan masalah-masalah menyangkut tentang pembajakan di wilayah perairan negara mereka masing-masing dan juga di perairan sekitar Asia Tenggara. Berkurangnya jaminan keamanan negara-negara besar di kawasan telah mendorong negara-negara ASEAN untuk meningkatkan pertahanannya masing-masing. Peningkatan kemampuan pembelanjaan alat maritim demi pertahanan masing-masing negara ASEAN, apabila tetap dalam kerangka kerjasama regional, tentu akan mempunyai pengaruh yang positif bagi pertahanan regional secara keseluruhan. Akan tetapi jika masing-masing negara anggota ASEAN meningkatkan sistem pertahanan secara sendiri-sendiri, maka ditakutkan akan memicu adanya perlombaan senjata. Hal ini jelas sangat mengancam stabilitas dan kondisi keamanan regional pada masa-masa mendatang.

5

(8)

Keamanan maritim telah dipandang sebagai salah satu elemen penting dalam gagasan ASEAN Security Community. Dalam kerangka itu pula kemudian organisasi regional ini menciptakan mekanisme ASEAN Maritime Forum (AMF). Namun, menurut Informal Consultative Process (ICP) oleh PBB, tidak terdapat defenisi tentang apa yang dimaksud dengan keamanan maritim. Hanya disebutkan bahwa Forum Maritim ASEAN dirancang sebagai forum untuk membahas langkah untuk memberikan respons terhadap ancaman-ancaman keamanan maritim. Ancaman keamanan maritim yang disebut itu adalah (1) pembajakan, (2) perampokan bersenjata, (3) lingkungan kelautan, (4) penangkapan ikan yang ilegal, dan (5) penyeludupan barang, manusia, senjata dan obat-obatan.6 Forum Maritim

ASEAN merupakan forum yang dibentuk oleh ASEAN, pembentukan AMF dirancang pada saat ASEAN Summit ke-14 di Cha-am Hua Hin, Vietnam, 1 Maret 2009, kemudian mengadopsi blueprint Komunitas Politik-Keamanan ASEAN yang mengacu pada pembentukan ASEAN Maritime Forum.

Kompleksitas isu-isu maritim di kawasan Asia Tenggara memerlukan upaya bersama negara-negara anggota ASEAN untuk mengatasi konflik dan berbagai permasalahan yang sangat potensial, karena dalam kenyataannya bahwa Asia Tenggara merupakan jalur laut internasional dan rute perdagangan yang vital. Untuk itu sebagai tindak lanjut dari upaya negara-negara anggota ASEAN yaitu upaya ASEAN dalam menerapkan Deklarasi ASEAN Concord II (Bali Concord II) yang ditandatangani di Bali, 7 Oktober 2003, menegaskan bahwa isu maritim dan semua yang terkait dengannya adalah isu yang bersifat lintas batas, karenanya harus dibahas dalam forum regional melalui suatu pendekatan yang menyeluruh dan integral. Lebih jauh, pembentukan ASEAN Maritime Forum (AMF) adalah salah satu tindakan penting yang harus dilakukan sesuai Cetak Biru Komunitas Politik-Keamanan.7

AMF merupakan forum dialog instansi-instansi yang terkait dengan isu-isu maritim dalam kerangka ASEAN dan ASEAN Regional Forum (ARF). Pembentukan ASEAN Maritime Forum (AMF) yang merupakan komitmen politik bersama seluruh negara anggota ASEAN, dimaksudkan sebagai wahana untuk membicarakan segala sesuatu yang menyangkut masalah maritim untuk kepentingan bersama. Prinsip AMF adalah berkontribusi pada diskusi tentang isu-isu yang berhubungan dengan maritim yang dijalankan oleh badan-badan ASEAN. Keamanan dan keselamatan pelabuhan-pelabuhan serta jalur-jalur

6 Dr. Makmur Keliat, “Keamanan Maritim dan Implikasi Kebijakannya Bagi Indonesia”, (Jakarta: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2009) Vol 13 No 1.

(9)

perhubungan laut di perairan Asia Tenggara harus terjamin, oleh sebab itu negara-negara anggota bersama-sama bertanggung jawab untuk mengerahkan kekuatan maritimnya untuk melaksanakan tugas itu. Melalui Forum Maritim ASEAN ini mungkin dapat menyatukan pendapat, pikiran, dan tujuan untuk mengkerahkan tugas seta tanggungjawab masing-masing negara dalam meminimalisir masalah maritim tersebut. Penciptaan keamanan regional merupakan salah satu tujuan utama dari ASEAN dalam menunjang interaksi kerjasama antarnegara anggota di ASEAN yang secara luas mencakup keamanan bersama, dari ancaman tradisional menuju non-tradisional. AMF sendiri adalah merupakan komunitas yang dibentuk oleh negara-negara di Asia Tenggara untuk membahas masalah keamanan wilayah laut.

Peran dari ASEAN Maritime Forum dalam kawasan maritim adalah untuk menciptakan kawasan yang aman dan terkendali mengingat frekuensi ancaman non-traditional (kejahatan dan perdagangan terorganisir, pembajakan, perdagangan obat-obatan, penyelundupan dan perdagangan manusia, keamanan lingkungan, dan terorisme) yang tidak lagi bersifat internal tetapi lebih kepada eksternal memberikan tanda bahwa AMF dapat memberikan solusi yang tepat dan damai dengan konsep cooperative security (kerjasama keamanan) yang dibangun. Kerjasama pertahanan bersama dalam pengawasan perbatasan ini dapat menjadikan hubungan yang harmonis bagi setiap negara ataupun bilateral. Misalnya kerjasama perairan patroli bersama di daerah perairan selat yang sering terjadi, penyelundupan senjata, penangkapan ikan ilegal, perusakan laut secara ilegal dan pengamanan sumber daya kelautan. Faktor tersebut dapat dikatakan keamanan maritim sangat penting dan vital, untuk dijaga, dengan arti bahwa keamanan regional perlu ditingkatkan secara bersama-sama. Seperti contoh pada Selat Malaka sebagai jalur utama pelayaran perdagangan internasional yang berpotensi tindak kejahatan transnasional, pembajakan, dan penyelundupan, yang mana di selat malaka tidak mempunyai pengamanan khusus dari negara yang bersangkutan. Dan dari contoh persolan yang dihadapi tersebut menjadi tantangan nyata bagi ASEAN dalam pembentukan AMF karena Asia Tenggara dengan wilayah perairan yang besar dan strategis akan memberi pengaruh serius bagi kelangsungan ekonomi masing-masing negara.8

Inti dari peran ASEAN Maritime Forum (AMF) disini adalah membentuk opini kesadaran negara di Asia Tenggara untuk bekerjasama dalam pengamanan wilayah perairan

8

(10)

laut, yang menjadi titik startegis pelayaran international. Serta AMF mampu menciptakan keamanan regional, dimanan wilayah negara berbatas dengan laut tanpa mengurangi kedaulatan masing-masing. AMF yang merupakan konsep dari APSC (Asean Security Political Community), dari blueprint tersebut menjadi landasan pembentukan AMF tersebut, dimana salah satu isinya adalah adanya kerjasama dalam penanganan wilayah maritim di ASEAN. Dari konsep yang dibentuk AMF dalam blueprint APSC, konsep cooperative security dipakai untuk menangani permasalahan maritim yang kesemua negara memiliki permasalahan yang sama, oleh sebab itu keamanan maritim di ASEAN membutuhkan kesadaran keamanan bersama untuk menjaga instabilitas kawasan.

Peran AMF yang memberikan konsep hubungan kerjasama di wilayah perairan untuk mengurangi dan memberikan solusi terhadap masalah yang tengah dihadapi. Kekuatan maritim yang dimiliki oleh masing-masing negara dituntut untuk melaksanakan tugas keamanan dan keselamatan di laut sampai diluar wilayah yurisdiksi (perairan kawasan Asia Tenggara) yang mengikat semua negara maritim di Asia Tenggara hendaknya menjadi pegangan utama. Peran atau fungsi dari AMF belum sepenuhnya terealisasikan dengan baik karena yang dirasakan masih kurang saat ini adalah kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN dalam melaksanakan kegiatan kerjasama. Oleh karena itu, fungsi AMF yang diharapkan dapat menangani permasalahan regional yang kian marak di era global ini, dapat dikatakan masih belum memaksimalkan fungsi serta perannya sebagai tempat atau forum untuk membicarakan masalah-masalah mengenai keamanan maritim di kawasan Asia Tenggara. Dalam menjalankan perannya, ASEAN Maritime Forum membahas serangkaian masalah terkait bidang maritim seperti konektivitas maritim, dimana dalam hal ini diharapkan adanya pendiskusian dan pengidentifikasian kerjasama maritim yang dapat memberikan kontribusi bagi upaya peningkatan integrasi kawasan dalam Komunitas ASEAN serta memupuk rasa kebersamaan dalam hubungan budaya dan sejarah.9

BAB IV

9

http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/104-agustus-2010/903-asean-maritime-forum-akan-dapat-mengatasi-berbagai-isu-terkait-wilayah-maritim.html diakses pada 28

(11)

PENUTUP

Kawasan Asia Tenggara tengah mengalami isu-isu ancaman dan masalah yang terkait dalam keamanan non-tradisional, salah satunya adalah masalah mengenai pembajakan kapal atau perompakan. Wilayah perairan di Asia Tenggara merupakan wilayah yang sering dilalui oleh kapal-kapal negara asing baik untuk patroli keamanan negara-negara di Asia Tenggara, jalur perdagangan internasional ataupun bentuk kegiatan lainnya yang menggunakan wilayah laut sebagai sarana dan jalur transportasi. Sebagai jalur pelayaran dan perdagangan yang strategis, faktor keamanan laut menjadi isu yang sangat penting sekaligus tidak dapat terelakkan. Isu keamanan laut cenderung memiliki tingkat permasalahan yang cukup tinggi terutama keamanan maritim di Asia Tenggara. Oleh karena itu dalam kerangka organisasi regional, ASEAN membentuk suatu forum yang bertujuan untuk menjajaki dan memberikan resolusi-resolusi terhadap masalah keamanan perairan kawasan karena bahwa 80% dari wilayah Asia Tenggara merupakan wilayah lautan, dan lebih dari 60% masyarakat Asia Tenggara hidup dengan mengandalkan sektor perikanan sebagai tulang punggung perekonomian mereka.

(12)
(13)

DAFTAR PUSTAKA

Bahan Bacaan:

Collins, Alan. “Security and Southeast Asia: Domestic, Regional, and Global Issues”, dalam Bambang Cipto, “Hubungan Internasional Di Asia Tenggara”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Cipto, Bambang. “Hubungan Internasional Di Asia Tenggara”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Keliat, Dr. Makmur. “Keamanan Maritim dan Implikasi Kebijakannya Bagi Indonesia”, Volume 13 No 1, Juli 2009, Jakarta: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Website:

http://apdforum.com/id/article/rmiap/articles/online/features/2012/12/28/asia-pirate-attacks. Html diakses 24 Januari 2013.

http://www.deplu.go.id/Pages/PressRelease.aspx?IDP=972&l=id. Html diakses 28 Januari 2013.

http://labhi.staff.umm.ac.id/2011/05/12/peran-asean-maritime-forum-amf-dalam-keamanan-perairan-di-asia-tenggara/. Html diakses 18 Januari 2013.

http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/104-agustus-2010/903-asean-maritime-forum-akan-dapat-mengatasi-berbagai-isu-terkait-wilayah-maritim.html. Html diakses pada 28 Januari 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat awam masih banyak mempromosikan barang dagangan mereka dengan hanya menggunakan relasi sekitarnya karena keterbatasan tempat, waktu, dan biaya yang

Pengertian pergaulan bebas adalah bentuk perilaku yang tidak wajar atau menyimpang dimana makna bebas tersebut adalah menyelisihi dari batas norma agama maupun

Dengan VB.NET gambar, teks, dan suara dapat dipadukan ke dalam perangkat komputer untuk kemudian diproses dan diolah sehingga menjadi suatu bentuk informasi yang ditampilkan

11 Penelitian yang dilakukan oleh Pramono (2012) menunjukkan bahwa ada perubahan histopatologis hati tikus wistar berupa degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropik,

PEMBELAJARAN GEOMETRI DENGAN METODE GUIDED-DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN KEMANDIRIAN BELAJAR MATEMATIK SISWA.. Universitas Pendidikan Indonesia |

As Seth Jayson recently said in his article about the same topic entitled How Google is Killing the Internet ˆI think when you pit a few hundred Google Smarty Pantses -- who are

[r]

Mūsų mokslinio tiriamojo darbo tikslas – išvys- tyti informacinės sistemos funkcijas, kad būtų galima prognozuoti elektros sąnaudas išmaniojo būsto sistemoje ir