• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah tentang Konsep Risk Management T

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah tentang Konsep Risk Management T"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah tentang Konsep

Risk Management Topics Credits Risk and

Market Risk

Studi Kasus Bank Negara Indonesia

Mata Kuliah Manajemen Perbankan

Disusun Oleh:

Kelompok 1

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PEMASARAN

PROGRAM DIPLOMA III

FAKULTAS EKONOMI BISNIS

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2016

1. Inggrida Wisnu S. NPM. 120203140054

2. Anasthasia

NPM. 120203140047

3. Feby Fitriani J.

NPM. 120203140061

4. Rizqiani V.P.

NPM. 120203140062

(2)

Daftar Isi

2.2 Pengertian Manajemen Risiko Kredit...11

2.2.1 Macam-Macam Risiko Kredit...13

2.3 Pengertian Manajemen Risiko Pasar...13

2.3.1 Bentuk – Bentuk Risiko Pasar...14

2.3.2 Kategori yang Masuk General Market Risk...16

2.3.3 Hubungan Foreign Exchange Risk dan Perbankan...22

2.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Gejolak Harga di Pasar...23

2.3.5 Teknik Pengukuran Risiko Pasar...23

2.3.6 Definisi Risiko Spekulatif Lainnya (Risiko Perubahan Kurs)...23

2.3.7 Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Kurs...25

2.3.8 Eksposur Terhadap Perubahan Kurs...27

2.4 Penerapan Manajemen Risiko pada Bank Negara Indonesia...28

2.4.1 Infrastruktur Manajemen Risiko...29

2.4.2 Pengelolaan Jenis Risiko Kredit...32

2.4.3 Pengelolaan Jenis Risiko Pasar...43

BAB III Kesimpulan dan Saran... 47

3.1 Kesimpulan... 47

(3)
(4)

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-Nya, penulis dapat memiliki kesempatan untuk menyelesaikan sebuah Makalah. Besar harapan penulis agar makalah yang berjudul

Konsep Risk Management Topics Credits Risk and Market Risk Studi Kasus Bank Negara Indonesia”. dalam memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Perbankan. Yang terutama, penulis berharap karya tulis ini dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk mengetahui manajemen risiko kredit dan pasar Bank Negara Indonesia. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, serta penulis sangat bersyukur atas kesediaan pembaca dalam memberi umpan balik berupa kritik dan saran terhadap karya tulis ini.

Bandung, 26 Desember 2016

(5)

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Manajemen Risiko adalah suatu pendekatan metodologi yang terstruktur dalam mengelola (Manage) sesuatu yang berkaitan dengan sebuah ancaman karena ketidakpastian. Ancaman yang dimaksud disini adalah akibat dari aktivitas individu / manusia termasuk yang terdapat / berperan didalamnya. Aktivitas ini meliputi penilaian risiko yang mengancam, pengembangan strategi untuk menanggulangi risiko dengan pengelolaan sumber daya yang ada. Risiko itu sendiri dibagi menjadi 2 kategori besar, yaitu : Risiko Murni (Pure Risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Risk Pure ini contohnya adalah bencana alam, kebakaran, dll. Risiko Spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi oleh perusahaan / Individu yang dapat memberikan keuntungan dan dapat memberikan kerugian. Resiko Spekulatif ini adalah risiko yang ada dalam segala hal. Misalnya dalam berbisnis, kita bisa untung dan juga bisa rugi. Risiko ini juga dapat disebut sebagai Business Risk (Resiko Bisnis).

(6)

business risk bank sebagai tingkat ketidakpastian mengenai pendapatan yang diperkirakan akan diterima. Risiko usaha yang dapat dihadapi bank antara lain risiko kredit, risiko investasi, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko penyelewengan (fraud risk), risiko fidusia, risiko tingkat bunga, risiko solvensi, risiko valuta asing, dan risiko persaingan.

Risiko kredit ternyata merupakan perkara besar bagi dunia perbankan. Oleh karena itu, risiko kredit perlu mendapat perhatian khusus dan serius, karena setiap rupiah yang tidak tertagih menjadi macet, yang kemudian menimbulkan masalah besar. Masalah tersebut adalah timbulnya biaya penyisihan dalam laporan laba/rugi bank.

Besarnya risiko kredit ditunjukkan dalam bentuk non performing loan (NPL). Tingginya nilai NPL menunjukkan banyaknya kredit pihak debitur yang tidak dapat membayar secara kontinu pinjaman kreditnya, baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunga pinjaman sebagaimana yang telah dipersyaratkan oleh perjanjian kredit. Kredit dengan kolektibilitas kurang lancar, maka kredit tersebut diragukan dan macet, serta nilai NPL diragukan. Semakin besar rasio NPL berarti risiko kredit semakin tinggi. Risiko kredit perlu dikelola dengan baik, karena apabila tidak dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan proporsi kredit yang bermasalah semakin besar, sehingga akan berdampak negatif pada kondisi perbankan.

(7)

disebabkan karena harga saham bergerak kearah yang kurang menguntungkan (dalam hal ini turun).

Risiko pasar merupakan kondisi yang dialami oleh suatu bank yang disebabkan oleh perubahan kondisi dan situasi pasar di luar dari kendali perusahaan. Risiko pasar sering disebut juga sebagai risiko yang menyeluruh, karena sifat umumnya adalah bersifat menyeluruh dan di alami oleh seluruh perusahaan. Contohnya krisis ekonomi dunia tahun 1930-an, krisis ekonomi Indonesia 1997 dan 1998, coupd’tat yang terjadi di Filipina pada saat presiden Marcos di ambil alih oleh kekuatan People Power hingga Corazon Aquino menjadi presiden, Amerika Serikat pada kasus Subrime Mortgage 2007, Thailand pada saat Bank Sentral Thailand melakukan devaluasi Bath yang menyebabkan terjadinya kegoncangan pada ekonomi Thailand secara keseluruhan, perang Teluk yang menyebabkan beberapa Negara di kawasan Timur Tengah seperti Irak dan Kuwait mengalami kegoncangan ekonomi, dan berbagai kasus yang menyeluruh lainnya.

(8)

Pengembangan manajemen risiko di BNI selalu berpedoman pada peraturan Bank Indonesia tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum serta dokumen-dokumen dari Basel Committee on Banking Supervision, terutama konsep Basel Accord II. Pengelolaan risiko di BNI mencakup keseluruhan lingkup aktivitas usaha di BNI, berdasarkan kebutuhan akan keseimbangan antara fungsi operasional bisnis dengan pengelolaan risikonya. Dengan kebijakan dan manajemen risiko yang berfungsi baik, maka manajemen risiko akan menjadi strategic partner bagi unit bisnis dalam mendapatkan hasil optimal dari operasi perusahaan.

Dalam rangka pengembangan manajemen risiko yang sesuai dengan standar perbankan internasional, BNI secara kontinu dan berkelanjutan, terus mengembangkan dan meningkatkan kerangka sistem pengelolaan risiko dan struktur pengendalian internal yang terpadu dan komprehensif, sehingga dapat memberikan informasi adanya potensi risiko secara lebih dini dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang memadai untuk meminimalkan dampak risiko. Kerangka manajemen risiko ini dituangkan dalam kebijakan, prosedur, limit-limit transaksi, kewenangan dan ketentuan lain serta berbagai perangkat manajemen risiko, yang berlaku di seluruh lingkup aktivitas usaha. Untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur tersebut sesuai dengan perkembangan bisnis yang ada, maka evaluasi selalu dilakukan secara berkala sesuai dengan perubahan parameter risikonya.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari latar belakang tersebut, dapat disusun identifikasi masalah sebagai berikut. a. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Risiko Kredit?

b. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Risiko Pasar?

(9)

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

a. Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan mengenai Manajemen Risiko Kredit. b. Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan mengenai Manajemen Risiko Pasar.

c. Untuk mengetahui penerapan Manajemen Risiko Kredit dan Pasar pada Bank Negara Indonesia.

1.4 Manfaat

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu:

1.4.1 Bagi Perusahaan

Diharapkan hasil penulisan ini dapat bermanfaat dan memberikan masukan untuk mengembangkan Manajemen Risiko Bank Negara Indonesia.

1.4.2 Bagi Pihak lain

Manfaat yang diperoleh dari penulisan ini bagi pihak lain adalah sebagai referensi penelitian yang berhubungan dengan Manajemen Risiko Bank Negara Indonesia.

1.4.3 Bagi Penulis

(10)

BAB II

Pembahasan

2.1 Manajemen Risiko

Pada setiap usaha, risiko merupakan suatu hal yang mutlak. Risiko juga dapat muncul dari berbagai sumber. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara menangani risiko tersebut. Proses manajemen risiko merupakan suatu hal yang mutlak juga jika kita ingin menghindari kerugian usaha. Proses ini diyakini mempunyai peranan penting dalam keberlangsungan bisnis lembaga keuangan agar dapat bertahan dan terus bersaing di industry perbankan.

Risiko merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan maupun yang tidak dapat diperkirakan yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan yakni suatu kerugian. Manajemen risiko adalah serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.

Esensi dari penerapan manajemen risiko adalah kecukupan prosedur dan metodologi untuk kepentingan proses pengelolaan risiko sehingga kegiatan usaha bank tetap terkendali dan aman. Tujuan dari manajemen risiko yaitu :

 Menyediakan informasi tentang risiko kepada pihak regulator.

(11)

2.2 Pengertian Manajemen Risiko Kredit

Risiko kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian yang terkait dengan kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajibannya atau risiko bahwa debitur tidak membayar kembali utangnya.

Risiko kredit dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Risiko ini lazim disebut Risiko konsentrasi kredit dan wajib diperhitungkan pula dalam penilaian risiko inheren. Risiko kredit juga timbul dari tidak dipenuhinya berbagai bentuk kewajiban pihak lain kepada bank, seperti kegagalan memenuhi kewajiban pembayaran dalam kontrak derivatif. Untuk sebagian Bank, Risiko kredit merupakan risiko terbesar yang dihadapi. Pada umumnya, marjin yang diperhitungkan untuk mengantisipasi risiko kredit hanyalah merupakan bagian kecil dari total kredit yang diberikan bank dan oleh karenanya kerugian pada kredit dapat menghancurkan modal bank dalam waktu singkat.

Penyebab utama terjadinya risiko pembiayaan adalah terlalu mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena terlalu dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas, sehingga penilaian kredit kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko usaha yang dibiayainya.

(12)

a. Lancar : 0 hari

b. Dalam perhatian khusus : 1 - 90 hari. c. Kurang lancer : 91 - 120 hari.

d. Diragukan : 121 - 180 hari. e. Macet : >181 hari.

Penaksiran klasifikasi risiko kredit yaitu :

a. Risiko rendah (low) bila risiko kredit masih berada di bawah 5%. b. Risiko sedang (moderate) bila risiko kredit berada pada 5%-10%. c. Risiko tinggi (high) bila risiko kredit berada di atas 10%.

Beberapa risiko kredit tak dapat dihindari, karena tanpa risiko tidak akan ada pendapatan. Bank dapat mengkompensasikan dengan mengatur, bahwa pemberian kredit yang mempunyai risiko tinggi harus diimbangi dengan pendapatan yang lebih tinggi, dengan suku bunga di atas normal. Namun, pemberian putusan kredit harus dapat dijamin, apakah akan lebih banyak memberikan kredit dengan tingkat pendapatan dan pengembalian tinggi, atau terlalu berisiko, karena dapat mengakibatkan risiko potensial dalam bisnis.

Manajeman Risiko Kredit akan membantu dalam menentukan tingkat risiko yang dapat diterima, dengan membuat sistim, guna menentukan risiko yang dapat diterima sebelum kredit diberikan, sehingga dapat diketahui apakah sebaiknya semua permintaan kredit akan diterima atau ditolak. Sekali kredit diberikan, kondisi dari nasabah harus dapat dipantau, dan bilamana terjadi tanda-tanda kemunduran terhadap posisi nasabah akan dapat diketahui, sehingga risiko kemungkinan pembayaran terlambat dapat diantisipasi secara dini.

2.2.1 Macam-Macam Risiko Kredit

(13)

Risiko yang bersifat jangka pendek (Short Term Risk) adalah risiko yang disebabkan karena ketidakmampuan suatu perusahaan memenuhi dan menyelesaikan kewajiban yang bersifat jangka pendek. Risiko Kredit Jangka Panjang Risiko yang bersifat jangka panjang (Long Term Risk) adalah ketidakmampuan suatu perusahaan menyelesaikan kewajiban jangka panjangnya.

2.3 Pengertian Manajemen Risiko Pasar

Risiko pasar muncul adanya pergerakan harga pasar (adverse movement) dari portofolio aset yang dimiliki oleh bank dan dapat merugikan bank. Risiko ini hanya muncul jika bank memegang aset, namun tidak untuk dimiliki atau dipegang hingga jatuh tempo, melainkan untuk dijual kembali. Lazimnya, cakupan risiko pasar meliputi risiko nilai tukar, risiko komoditas, dan risiko ekuitas. Risiko nilai tukar muncul ketika aset bank dinilai dalam satu mata uang asing.

Satu-satunya risiko yang dihadapi oleh bank konvensional dan tidak dihadapi oleh bank islam adalah risiko suku bunga. Namun, karena pemberlakuan dual banking system dalam sistem perbankan di indonesia, peningkatan tingkat bunga di bank konvensional bisa berdampak merugikan pada bank islam. Bank islam bisa mengalami risiko likuiditas akibat penarikan dana nasabah. Nasabah menarik dananya dari bank islam dan memindahkannya ke bank konvensional untuk mendapatkan bunga lebih tinggi dibandingkan bagi hasil dari bank islam.

(14)

2.3.1 Bentuk – Bentuk Risiko Pasar

Risiko pasar secara umum ada 2 (dua) bentuk yaitu :

a. General market risk (risiko pasar secara umum)

General market risk ini di alami oleh seluruh perusahaan yang disebabkan oleh suatu kebijakan yang dilakukan oleh lembaga terkait yang mana kebijakan tersebut mampu memberi pengaruh bagi seluruh sektor bisnis.Contohnya pada saat bank sentral suatu Negara melakukan kebijakan tight money policy (kebijakan uang ketat) dengan berbagai instrumennya seperti menaikkan suku bunga BI rate. Dimana kebijakan menaikkan BI rate ini akan membawa pengaruh secaramenyeluruh pada seluruh sektor bisnis yang berhubungan dengan interest rate related instrument (berbagai instrument yang berhubungan dengan suku bunga). Bahwa salah satu pihak yang saling urgen dianggap langsung berhubungan dekat dengan interest rate related instrument adalah perbankan.

Dengan begitu mereka mengambil kredit dan mendepositokan sejumlah uangnya ke bank. Contoh pada saat BI rate dinaikkan maka suku bunga kredit diperbankan akan mengikuti kondisi tersebut yaitu turut menaikkan suku bunga kredit, terutama jika perbankan tersebut menerapkan perhitungan bunga secara sliding rate. Perhitungan berupa kredit secara sliding rate adalah hitungan pada pembebanan bunga terhadap nilai pokok pinjaman akan mengalami penurunan dari setiap bulan ke bulan berikutnya, yang mana ini disesuaikan dengan menurunnya besar nilai dari pokok pinjaman sebagai efek dari adanya pembayaran cicilan pokok pinjaman yang dilakukan oleh seorang debitur.

(15)

Specific market risk adalah suatu bentuk risiko yang hanya dialami secara khusus pada satu sektor atau sebagian bisnis saja tanpa bersifat menyeluruh. Contohnya adalah sebagai berikut.

 Pengumuman yang dikeluarkan oleh suatu lembaga penilai dimana lembaga penilai tersebut memiliki reputasi yang baik dan diakui oleh publik. Bahwa mereka mengumumkan PT.XYZ memiliki kinerja yang rendah dan memiliki utang yang besar serta laporan yang dipublikasikan selama ini kepada publik tidak sesuai dengan sebenarnya. Sehingga atas berita tersebut saham dan obligasi perusahaan tersebut langsung jatuh. Dan jatuhnya saham serta obligasi perusahaan tersebut tidak diikuti oleh perusahaan lain.

 Salah satu perusahaan dimana pihak manajemen atau komisaris perusahaan terlibat tindak kriminal yang luar biasa dan diekspose oleh berbagai media. Sehingga opini publik telah terbentuk bahwa perusahaan tersebut tidak baik dan jelek.

(16)

2.3.2 Kategori yang Masuk General Market Risk

Ada beberapa sebab yang menimbulkan terjadinya general market risk (risiko pasar secara umum) yaitu :

a. Foreign exchange risk

Secara umum dalam ilmu keuangan dikenal dua bentuk pasar yaitu pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market). Kedua bentuk pasar ini pada prinsipnya saling memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Di Negara Indonesia pasar modal berada dalam pengawasan menteri keuangan dalam hal ini melalui BAPEPAM-LK (Badan Pengawasan Pasar Modal dam Lembaga Keuangan), sedangkan pasar uang berada di bawah pengawasan Gubernur Bank Indonesia (BI).

Kedua jenis pasar ini saling membahu bekerjasama dalam usahanya menciptakan kondisi ekonomi yang kondusif dan dinamis sehingga dengan harapan nantinya akan mampu untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Negara yang bersangkutan secara sistematis. Independent Bank Indonesia dalam menetapkan berbagai kebijakannya adalah dijamin oleh pemerintah walapun kita menyadari secara penuh kalau berbagai kebijakan tersebut belum tentu baik dan tepat.Karena hasil pengalaman menyebutkan tidak seluruh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah merupakan bentuk manifestasi keinginan para pebisnis.Mungkin saja keputusan tersebut lahir karena sebab–sebab tertentu seperti misalnya tarik ulur politik anatar berbagai elit politik di dalam begeri atau bahkan tekanan dari dunia internasional yang menginginkan agar dilakukannya pengkajian terhadap keputusan yang telah dijalankan selama ini.

(17)

dilakukan oleh pasar modal dan juga penjualan mata uang (currency) seperti yang dilakukan di pasar uang.

Untuk dimengerti bahwa kedua pasar ini saling mempengaruhi dan dipengaruhi karena itu menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk selalu menjaga pasar ini berada dalam kondisi yang diharapkan.

Pada bagian ini kita akan lebih menfokuskan pada pembahasan tentang foreign exchange risk yang merupakan bagian dari money market (pasar keuangan). Saat ini aktivitas perdagangan di foreign exchange mengalami peningkatan yang signifikan di berbagai Negara di dunia. Menurut survey yang diselenggarakan pada tahun 2004 antara lain oleh Bank for international Settlements, volumeglobal foreign exchange trading telah mencapai USD 1,9 triliun perhari. Keterlibatan dan ketertarikan banyak pihak untuk ikut dalam bisnis foreign exchange ini telah menciptakan dinamika bisnis dengan tingkat perputaran yang tinggi.

(18)

Pada pasar valas ini kita dapat menggabungkan mata uang dalam dua bentuk kategori yaitu :

1) Hard currencies

Hard currencies (mata uang keras) mencakup mata uang yang berasal dari Negara-negara yang memiliki tingkat kestabilan moneter tinggi atau biasanya berasal dari Negara maju dan sering berbagai pihak menjadikan mata uang Negara tersebut sebagai ukuran dalam mengkonversikan dengan mata uang negaranya.Contohnya USD/JPY atau dollar Amerika dengan Yen Jepang, USD/EUR atau dollar Amerika dengan Euro, dan sebagainya.

2) Soft curriencies

Soft curriencies ( mata uang yang lembut) adalah jenis mata uang yang diterbitkan oleh suatu Negara namun jarang dipakai sebagai standar acuan dalam transaksi pasar bisnis internasional, dengan alasan dianggap belum memiliki nilai kelayakan.

Pasar keuangan sangat bebas dari berbagai intervensi.Pengertian bebas dari intervensi ini mencakup dimana berbagai regulator didunia baik otoritas moneter berbagai Negara maupun lembaga keuangan internasonal tidak memiliki kekuatan maksimal untuk melakukan interval secara mutlak.Kondisi ini terjadi karena berbagai sebab.Yaitu :

(19)

2) Maksudnya berbagai investor dari berbagai Negara untuk ikut bermain valas. Para investor dengan jumlah kepemilikan dan ayang besar dan berbagai saran dan prasarana yang dimiliki seperti perangkat teknologi dan para karyawan yang memiliki kualitas dan kompetensi yang tinggi.

3) Berbagai pihak baik analisis ekonomi dan non ekonomi serta para pelaku pasar dan juga pemerintah sebagai regulator tidak pernah mengetahui dengan pasti dimana “equilibrium point” itu berada. Titik equilibrium bias saja setiap saat berpindah-pindah sesuai dengan berbagai situasi dang kondisi yang terjadi.

4) Setiap pihak memiliki berbagai bentuk data dan informasi. Namun seluruh data dan informasi tersebut bersifat masa lalu, dan tidak ada satu pihakpun yang bias memperoleh data masa depan. Karena itu sering sekali data masa itu hanya bias dijadikan sebagai alat prediksi untuk mengetahui apa yang terjadi di masa depan.

b. Interest rate risk

Risiko suku bunga adalah risiko yang di alami akibat dari perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengauh bagi pendapatan perusahaan. Untuk pembahasan yang lebih dalam tentang interest rate risk ini dapat dilihat pada bab khusus membahas tentang risiko suku bunga.

c. Commodity position risk

(20)

komoditi tersebut telah terikat kontrak dalam suatu kontrak perjanjian (commodity contrack) serta informasi tersebut telah sampai ke pasar.

Adapun pengertian commodity position risk dalam perspektif perbankan Masyhud Ali mengatakan Commodity position risk adalah risiko terjadinya potensial kerugian bagi bank sebagai akibat dari perubahan yang memberi pengaruh buruk dari commodity price terhadap posisi bank yang terkait dengan kontrak komoditas. Lebih jauh Masyud Ali memberi contoh pada perbankan adalah “dimana kerugian yang diderita oleh investment bank yang melakukan trading atau commodity derivative product sebagai akibat dari terjadinya volatility atas harga dari suatu commodity tertentu.

Perbankan adalah lembaga mediasi yang bertugas menjembatani pihak-pihak yang membutuhkan bantuan dengan tujuan mngefektifikan dan mengefisienkan berbagai urusan. Dalam konteks ini perbankan bias saja terserat dalam ruang risiko pada saat pihak-pihak tersbut tidak dapat melaksanakan tugasnya secara efektif.

Jual beli di bursa komoditi sebagai bersifat fluktuatif, naik dan turun terjadi dalam waktu yang cepat. Kondisi ini sering dijadikan keuntungan oleh pihak spekulan yaitu dengan cara membeli pada saat harga rendah dan menjual pada saat harga tinggi, dimana jarak ini dilihat sebagai capital gain yaitu keuntungan yang diperoleh dari selisih harga beli dan harga jual. Kasus di lapangan sering sekali para spekulan melakukan aksi ambil untung dengan informasi yang tidak lengkap.Kondisi informasi yang tidak lengkap menciptakan pasar yang tidak efisien.

(21)

informasi tentang semua harga dapat diperoleh secara terbuka dan cepat tanpa ada hambatan yang khusus.

Memang harus diakui mendapatkan berbagai informasi bukan sesuatu yang mudah. Dan lebih jauh salah satu masalah dalam informasi adalah menyangkut berbagai data dan informasi yang ada seperti

1) Seluruh informasi yang diterima adalah informasi masa lalu termasuk informasi keuangan, karena catatan-catatan akuntansi merupakan catatan masa lalu.

2) Data-data masa lalu tersebut bersifat time series

3) Data-data tersebut kemudian dipakai untuk diprediksi guna mengetahui kondisi yang akan terjadi kedepannya, artinya data-data tersebut sebagai alat prediksi

4) Perusahaan tidak pernah memiliki data masa depan karena belum tercatat dan belum terjadi Kondisi pasar tidak efisien ini memiliki ruang besar untuk melakukan spekulasi (speculation).Dan spekulasi ini tidak selamanya kita memperoleh kondisi seperti seperti yang kita perkirakan.Ada waktu dimana itu benar-benar di luar kendali dan rencana yang dibuat.

d. Equity position risk

(22)

e. Politic risk

Stabilitas politik adalah sesuatu sangat pening bagi suatu Negara. Stabilitas politik menjanjikan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan, namun jika pemimpin dan pihak terkait di suatu Negara tidak mampu menciptakan iklim kondusif dalam bidang politik maka artinya seluruh pemimpin dan aparatur di Negara tersebut tidak memiliki semangat kemimpinan.Jika kondisin ini terus terjadi maka yang terjadi adalah krisis kepemimpinan. Krisis kepemimpinan akan berakibat pada pencarian kepemimpinan di luar lembaga resmi, yaitu memungkinkan orang-orang yang berasal dari masyarakat atau oposisi akan muncul sebagai pemimpin dan berusaha mengambil alih kepemimpinan.

Pada prinsipnya pemimpin eksternal tersebut memiliki bangunan konsep dan ideology dan kadang kala sering ditemui memiliki konsep serta ideologi yang berbeda dengan pemerintah yang berkuasa. Jika kelompok tersebut lama semakin besar jumlah dan dukungannya maka akibatnya pemerintah akan kewalahan dalam mengatasi perbedaan ideology dan padangan tersebut.

2.3.3 Hubungan Foreign Exchange Risk dan Perbankan

Perbankan adalah lembaga mediasi yang menghubungkan mereka yang kelebihan dana (surplus) dan mereka yang kekurangan dana (deficit). Penempatan posisi ini menyebabkan banyak pihak menjadikan perbankan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam ruang lingkup kerja dan aktivitas bisnis mereka, artinya secara otomatis perbankan terseret dengan sendirinya untuk masuk ke dalam risiko pasar (market risk).

(23)

seperti naik dan stabil, perubahan nilai tukar, dan lain sebagainya. Lebih jauh perubahan tersebut telah mampu mendorong untuk ikut berubahnya beberapa produk perbankan seperti deposito, tabungan , giro, keputusan kredit, keputusan investasi, dan lain sebagainya.

2.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Gejolak Harga di Pasar

Menurut Masyhud Ali ada 6 (enam) faktor yang mempengaruhi terjadinya gejolak harga di pasar yaitu :

a. Faktor fundamental ekonomi

b. Terjadinya peristiwa besar dalam ekonomi dan politik c. Campur tangannya financial authorities

Jika kita membicarakan distribusi normal, kita hanya memerlukan dua parameter yaitu nilai rata-rata (atau disebut juga sebagai nilai yang diharapkan) dan deviasi standarnya.Dengan dua parameter tersebut, kita bisa melakukan banyak hal seperti menghitung probabilitas nilai tertentu.

2.3.6 Definisi Risiko Spekulatif Lainnya (Risiko Perubahan Kurs)

(24)

kecenderungan melemah terhadap dolar AS, maka kecenderungan tersebut bisa mengindikasikan sesuatu.Mata uang suatu negara merupakan cerminan kondisi ekonomi suatu Negara.Jika perekonomian suatu negara membaik, maka mata uang Negara tersebut cenderung menguat tehadap mata uang negara lainnya. Karena itu, jika mata uang suatu Negara melemah terhadap mata uang Negara lain, maka ada kemungkinan bahwa kondisi Negara tersebut melemah dibandingkan dengan sebelumya.

Jika suatu Negara menetapkan kurs mata uangnya terhadap mata uang lain, maka perubahan kurs tidak lagi terjadi mekanisme pasar. Perubahan kurs dilakukan oleh pemerintah secara resmi. Istilah menguat atau melemahnya mata uang dengan sistem kurs yang tetap dan bebas bisa dilihat pada tabel berikut :

Mata uang menguat Mata uang melemah Sistem kurs bebas Apresiasi Depresiasi

Sistem kurs tetap Revaluasi Devaluasi

Indonesia pernah mengalami dua sistem kurs yang berbeda. Sebelum krisis pada tahun 1997, Indonesia menggunakan sistem kurs tetap.Perubahan kurs dilakukan secara resmi oleh pemerintah.Biasanya pemerintah mendevaluasikan rupiah tehadap dolar. Sebagi contoh, kurs sebelumnya misalkan Rp 2.500/$. Kemudian pemerintah mendevaluasikan rupiah terhadap dolar menjadi, misal, Rp 3.000/$. Perhatikan nilai rupiah menjadi turun (lebih murah) terhadap dolar.Pemerintah mengumumkan secara resmi keputusan tersebut.

(25)

tergantung mekanisme pasar. Sebagai contoh, jika perusahaan membutuhkan dolar untuk melunasi hutang dalam dolar, permintaan terhadap dolar akan meningkat, yang menyebabkan naiknya nilai dolar tehadap rupiah ( atau turunnya rupiah terhadap dolar). Pada waktu terjadi bom, rupiah jatuh nilainya terhadap dolar.Dalam kedua contoh tersebut, Rupiah mengalami depresiasi tehadap dolar AS. Dalam situasi sebaliknya, rupiah bisa menguat tehadap dolar (apresiasi), misal dari Rp 10.000/dolar menjadi Rp 9.000/$. Perubahan tesebut ditentukan oleh mekanisme pasar, bukannya oleh pemerintah.Bank Sentral bisa saja melakukan intervensi jika mereka menginginkan kurs yang tertentu.Tetapi intervensi tersebut biasanya dilakukan untuk melakukan mekanisme pasar.

2.3.7 Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Kurs

1. Perbedaan Inflasi

Inflasi suatu Negara yang lebih tinggi dibandingkan dengan Negara lainnya menyebabkan kurs mata uang Negara tersebut melemah.

2. Perbedaan Tingkat Bunga

Tingkat bunga bisa dibedakan menjadi tingkat bunga nominal dan tingkat bunga riil.Tingkat bunga nominal adalah tingkat bunga yang bisa diobservasi. Tingkat bunga nominal bisa diketahui setelah kita memperoleh informasi dari pemerintah. Tetapi tingkat bunga riil tidak bisa diobservasi secara langsung.Tingkat bunga riil berpengaruh positif terhadap nilai mata uang. Dengan kata lain, Negara mempunyai tingkat bunga riil, maka mata uang Negara tersebut cenderung menguat. Alasannya adalah, uang akan mengalir ke Negara dengan tingkat keuntungan yang lebih tinggi.

(26)

Yang dimaksud indepedensi disini adalah kemampuan bertahan dari tekanan (biasanya) pemerintah sedang berkuasa. Negara yang bank sentral kurang independen akan gampang ditekan untuk mencetak uang lebih banyak, yang mendorong tingkat inflasi dan menurunkan nilai mata uang Negara tersebut.

4. Pertumbuhan Ekonomi

Negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menarik banyak investor. Banayak investor yang ingin masuk, yang menyebabkan naiknya permintaan terhadap mata uang Negara tersebut.

5. Espektasi

Mata uang bisa dilihat dari sekuritas, sehingga bisa digunakan sebagi alat investasi. Jika investor memperkirakan perusahaan tertentu akan mempunyai prospek yang baik, maka saham perusahaan tersebut akan meningkat, meskipun saat ini perusahaan tersebut tidak atau belum mengalami perubahan yang signifikan. Tetapi karena investor cenderung mengantisipasi, maka investor akan membeli tanpa menunggu kenyataan yang terjadi di lapangan. Investor harus bertindak cepat atas informasi yang diperolehnya, jika tidak, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

2.3.8 Eksposur Terhadap Perubahan Kurs

a. Eksposur Transaksi

Eksposur transaksi adalah eksposur yang terjadi karena perusahaan memasuki kontrak tertentu, yang kemudian memunculkan sejumlah nilai uang yang rentan terhadap perubahan kurs.

(27)

Eksposur akuntansi terjadi karena laporan keuangan dengan mata uang tertentu, kemudian dikonversikanke laporan keuangan dengan mata uang lain, rentan (terekspos) terhadap perubahan kurs.

c. Eksposur Operasi

Eksposur operasi adalah operasi perusahaan yang rentan (terekspos) terhadap perubahn kurs.

d. Eksposur Ekonomi

Eksposur operasi digabung dengan eksposur transaksi menjadi eksposur ekonomi.Eksposur operasi adalah nilai perusahaan yang rentan terhadap perubahan kurs.

2.4 Penerapan Manajemen Risiko pada Bank Negara Indonesia

(28)

sejakperusahaan ini berdiri, meskipun dengan cara yang masih konvensional dan berkembang sesuai dengan perkembangan kondisi internal dan eksternal.

Pengembangan manajemen risiko di BNI selalu berpedoman pada peraturan Bank Indonesia tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum serta dokumen-dokumen dari Basel Committee on Banking Supervision, terutama konsep Basel Accord II. Pengelolaan risiko di BNI mencakup keseluruhan lingkup aktivitas usaha di BNI, berdasarkan kebutuhan akan keseimbangan antara fungsi operasional bisnis dengan pengelolaan risikonya. Dengan kebijakan dan manajemen risiko yang berfungsi baik, maka manajemen risiko akan menjadi

strategic partner bagi unit bisnis dalam mendapatkan hasil optimal dari operasi perusahaan. Dalam rangka pengembangan manajemen risiko yang sesuai dengan standar perbankan internasional, BNI secara kontinu dan berkelanjutan, terus mengembangkan dan meningkatkan kerangka sistem pengelolaan risiko dan struktur pengendalian internal yang terpadu dan komprehensif, sehingga dapat memberikan informasi adanya potensi risiko secara lebih dini dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang memadai untuk meminimalkan dampak risiko. Kerangka manajemen risiko ini dituangkan dalam kebijakan, prosedur, limit-limit transaksi, kewenangan dan ketentuan lain serta berbagai perangkat manajemen risiko, yang berlaku di seluruh lingkup aktivitas usaha. Untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur tersebut sesuai dengan perkembangan bisnis yang ada, maka evaluasi selalu dilakukan secara berkala sesuai dengan perubahan parameter risikonya.

2.4.1 Infrastruktur Manajemen Risiko

(29)

A. Organisasi

 BNI telah menunjuk seorang Direktur yang bertanggungjawab dalam pengelolaan risiko di BNI. Untuk membantu Direktur Manajemen Risiko, BNI juga telah membentuk Satuan Kerja Manajemen Risiko yang bertanggungjawab terhadap manajemen risiko, yaitu Divisi Manajemen Risiko (MAR). Divisi ini independen terhadap Divisi/satuan yang melakukan fungsi operasional/bisnis maupun yang melakukan fungsi audit.

 Dalam rangka membantu pelaksanaan proses dan sistem Manajemen Risiko yang efektif, BNI juga telah membentuk Komite Risiko & Kapital (KRK), yang beranggotakan Direksi dan Pemimpin Divisi dan diketuai langsung oleh Direktur Utama. Komite Risiko & Kapital ini terdiri dari 3 sub Komite, yaitu Sub Komite Manajemen Risiko (RMC), Sub Komite Kebijakan Kredit (CPC), dan Sub Komite Asset & Liability (ALCO).

B. Strategi

 BNI telah meletakkan kerangka pengembangan manajemen bank berbasis risiko dalam format Arsitektur Manajemen Risiko BNI. Konsep tersebut berisi tahapan-tahapan yang harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Bank Indonesia (diantaranya adalah Road Map Bank Indonesia dalam rencana implementasi Basel II) maupun prinsip-prinsip dan pedoman dari Basel Committee on Banking Supervision. Pengembangan dan implementasi manajemen bank berbasis risiko telah dimulai sejak tahun 2000 dengan menggunakan pendekatan metode internal sebagai bagian dari pengelolaan risiko serta diharapkan selesai seluruhnya pada tahun 2010. Di sisi lain, dalam hal perhitungan kecukupan modal, BNI juga mempersiapkan diri sesuai dengan arahan Bank Indonesia. Di tahap awal, perhitungan kecukupan modal dilakukan dengan metode yang paling sederhana yang merupakan model yang dapat diaplikasikan di seluruh bank.

(30)

Manajemen Risiko dan Kepatuhan terhadap ketentuan yang ada, baik internal maupun eksternal.

C. Sistem Informasi & Operasi

 Untuk menjamin ketersediaan data risiko yang terkini dan komprehensif, BNI telah meng-upgrade sistem operasi perusahaan yang ada menjadi centralized systemyang dikenal dengan iCONS. Dengan dukungan sistem ini, data risiko secara bankwide dapat secara cepat diketahui, sebagai contoh kualitas pinjaman dapat dilihat secara harian.

 Sebagai sarana pendukung dalam pengelolaan risiko, secara bertahap juga sudah dikembangkan database per masing-masing jenis risiko, yang bermanfaat dalam pengukuran, pemantauan, pengendalian, dan modeling terhadap risiko tersebut.

D. Budaya Sadar Risiko

 Menanamkan budaya sadar risiko di kalangan karyawan BNI dengan memberikan pemahaman yang memadai mengenai faktor-faktor risiko yang terkait dengan pekerjaan atau fungsinya sehari-hari. Komunikasi dengan karyawan dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti sosialisasi ke unit-unit, penyampaian buku glosari manajemen risiko dan booklet pemberdayaan & aktualisasi manajemen risiko ke seluruh unit, sisipan mengenai perkembangan manajemen risiko pada pertemuan rutin pegawai, menyisipkan materi risk management ke dalam seluruh pelatihan pegawai, serta pembahasan dan informasi manajemen risiko di website internal BNI.

 BNI juga telah menyertakan pegawainya dalam Program Sertifikasi Manajemen Risiko baik Level 1, Level 2 maupun Level 3. Dengan mengikuti Program Sertifikasi tersebut diharapkan pemahaman dan kesadaran risiko di kalangan pegawai akan meningkat.

E. Proses dan Penilaian Risiko

(31)

Manajemen Risiko. Tugas utama Divisi Manajemen Risiko adalah menetapkan kebijakan dan prosedur manajemen risiko serta melakukan serangkaian proses untuk mengumpulkan dan menguji pengukuran dan pelaporan risiko yang dilaporkan oleh para pemilik risiko tersebut. Penetapan kebijakan manajemen risiko dilakukan melalui proses persetujuan Direksi.

Divisi Manajemen Risiko menyampaikan Laporan Evaluasi Risiko kepada Direksi secara periodik, yaitu harian, mingguan dan bulanan serta menyampaikan beberapa jenis laporan lainnya kepada Dewan Komisaris serta kepada pihak eksternal terkait, seperti Bank Indonesia.

Sejalan dengan peraturan Bank Indonesia, BNI juga melakukan assessment risiko yang berasal dari unit-unit terkait termasuk unit operasional atas seluruh produk dan aktivitas baru, antara lain peluncuran produk Internet Banking, Tapenas Syariah, Pertamina BizCard, dan agen penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI).

2.4.2 Pengelolaan Jenis Risiko Kredit

Selama tahun 2013, BNI berhasil mengelola dan membatasi risiko kreditnya dengan baik, dimana portofolio kredit tumbuh sebesar 24,9% dengan rasio pinjaman bermasalah (Non Performing Loan) bruto turun menjadi 2,2% dan rasio cadangan kredit bermasalah meningkat menjadi 128,4%. Konsentransi persektor ekonomi juga membaik ditandai dengan penurunan angka Herfindahl Indexmenjadi 13,88 dari 14,00 di tahun sebelumnya.

Tata Kelola dan Organisasi

(32)

unit risiko bisnis. Unit bisnis dan unit risiko bisnis berperan sebagai first line of defence atau risk owner yang mengelola dan mengendalikan risiko kredit pada kegiatan operasional harian unit tersebut.

Sesuai dengan pendekatan Customer Centric, organisasi risiko kredit dikembangkan sesuai dengan segmennya. Unit risiko bisnis di BNI terdiri dari Divisi Risiko Bisnis Korporasi, Divisi Risiko Bisnis Komersial & Usaha Kecil, dan Divisi Risiko Bisnis Konsumer & Ritel yang bertanggung jawab kepada Direktur Risiko Bisnis.

Menurut fungsinya, organisasi risiko kredit pada dasarnya terbagi atas 3 (tiga) jenis aktivitas, yaitu:

a. Credit Risk Operation

Merupakan partner dari unit bisnis dalam proses kredit baik dari analisa, persetujuan, pemantauan serta remedial dan recovery. Fungsi ini dijalankan oleh Divisi BNR, CMR, CNR, RRC dan RRM.

b. Credit Policy

Bertugas menyiapkan kebijakan dan prosedur perkreditan yang diperlukan dalam proses kredit, seperti limit kewenangan, persyaratan-persyaratan perkreditan dan sebagainya. Fungsi ini dijalankan oleh Divisi Tata Kelola Kebijakan sebagai second line of defence.

c. Credit Risk Management

(33)

Kebijakan dan Prosedur

Dalam rangka mendukung target bisnis dengan tetap menjaga kualitas portofolio, BNI telah memiliki Kebijakan Perkreditan Bank (KPB) yang diputus oleh Forum Komite Kebijakan Perkreditan (KKP) dan disetujui oleh Dewan Komisaris. KPB ini diterjemahkan ke dalam pedoman perusahaan perkreditan yang diputus oleh Forum Komite

Prosedur Perkreditan (KPP) untuk selanjutnya dilakukan pembakuan kedalam Pedoman Perusahaan Perkreditan Business Banking seluruh segmen dan Pedoman Perusahaan Perkreditan Konsumer & Ritel yang merupakan pedoman kerja aktivitas perkreditan di BNI. Saat ini BNI telah memiliki pedoman perusahaan dalam bentuk online yaitu BNI ePP (elektronik Pedoman Perusahaan).

Proses

Proses manajemen risiko kredit berlangsung secara berkesinambungan dalam suatu value chain activity, diawali dengan customer insight, portfolio planning, product development, loan origination/monitoring, loan administration & portfolio optimization. Pada tataran eksposur individu, proses manajemen risiko kredit dilaksanakan oleh Unit Bisnis dan Unit Risiko Bisnis melalui identifikasi (antara lain verifikasi kebenaran data), pengukuran (menggunakan perangkat analisa kredit), proses persetujuan kredit, pemantauan (melalui kunjungan berkala kepada nasabah dan review rating nasabah), dan pengendalian (antara lain melalui penetapan limit-limit, covenant, dan faktor mitigant).

(34)

Manajemen Risiko dilakukan evaluasi atas pencapaian target, penetapan langkah-langkah dan koordinasi tindaklanjut perbaikan, serta evaluasi atas efektivitas langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan. Secara umum governance dan alur proses perkreditan di BNI digambarkan sebagai berikut :

Perangkat dan Metode

Untuk mendukung proses bisnis dan pengelolaan risiko kredit, BNI telah mengembangkan beberapa perangkat manajemen risiko kredit baik pada tataran eksposur portofolio maupun individu. Pada tataran eksposur individu, BNI telah membangun dan mengembangkan model rating debitur yang mencakup seluruh segmen (Corporate, Commercial, Small, Retail dan Consumer ) untuk menetapkan kualitas debitur dalam proses analisa kredit dan penetapan parameter Risiko Kredit mencakup Probability of Default (PD), Loss Given Default (LGD), Exposure at Default (EAD) sesuai dengan ketentuan Basel II. Model-model kuantitatif tersebut direview dan divalidasi secara berkala. Pada tataran eksposur portofolio, Loan Exposure Limit merupakan batas maksimum pinjaman dalam negeri di akhir tahun untuk setiap sektor ekonomi pada masing-masing segmen, yang digunakan sebagai pedoman ekspansi pinjaman dan sebagai salah satu upaya mengurangi risiko konsentrasi pinjaman. Selain itu, ditetapkan pula Industry Risk Rating (IRR) yang merupakan penilaian tingkat risiko industri, serta referensi rasio keuangan untuk masing-masing segmen. Sebagai bagian dari pengukuran risiko kredit, telah dilakukan stress testing risiko kredit untuk menilai ketahanan bank dalam menghadapi kondisi terburuk.

(35)

Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana nilai tercatat dari suatu aset melebihi dari nilai yang dapat dipulihkan dari aset yang bersangkutan. BNI melakukan evaluasi penurunan nilai atas seluruh aset keuangan kecuali aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok yang nilai wajarnya diukur melalui Laporan Laba Rugi (Fair Value Through Profit and Loss). Pada setiap tanggal neraca (setiap akhir bulan), BNI mengevaluasi apakah terdapat bukti objektif bahwa Aset Keuangan atau kelompok Aset Keuangan mengalami penurunan nilai. Bukti objektif tersebut adalah bukti terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.

Adapun bukti objektif aset keuangan terjadi penurunan nilai adalah sebagai berikut :

 Kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau debitur.

 Pelanggaran kontrak, yaitu terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran kewajiban debitur baik pokok, bunga dan denda.

 BNI dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam, memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan keuangan tersebut.

 Terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan ainnya.

 Hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan, atau

(36)

Assessment penurunan nilai (perhitungan CKPN) di BNI menggunakan 2 (dua) metode yaitu assessment secara individual dan assessment secara kolektif.

Perhitungan CKPN dilakukan secara individual apabila suatu aset keuangan yang signifikan mempunyai bukti obyektif mengalami penurunan nilai. Aset yang dikategorikan sebagai signifikan adalah aset keuangan dari segmen Korporasi dan Usaha Menengah, serta kepemilikan surat berharga. CKPN secara individual dihitung dengan menggunakan metode nilai kini dari estimasi arus kas suatu aset keuangan. Proses estimasi arus kas untuk pinjaman dilakukan langsung oleh pejabat yang mengelola masing-masing debitur. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai secara kolektif dihitung dengan menggunakan data kerugian historis perhitungan Incurred Loss berdasarkan estimasi PD dan LGD dari masing-masing kelompok aset tertentu. Metode perhitungan PD dan LGD untuk CKPN Kolektif menggunakan migration analysis dan roll rate analysis dengan periode observasi data selama 5 tahun.

Perhitungan CKPN secara Kolektif dilakukan bagi semua aset keuangan yang:

 Tidak dievaluasi secara individual, yaitu antara lain kredit dari segmen Usaha Kecil, Kredit Konsumtif, Kartu Kredit, Tagihan Akseptasi, Tagihan Dokumen dan Fasilitas.

 Tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari aset keuangan yang dievaluasi, yaitu pinjaman dalam segmen korporasi dan usaha menengah yang tidak terdapat bukti objektif penurunan nilai.

 Terdapat bukti objektif penurunan nilai dari aset keuangan yang dievaluasi secara individual namun tidak terdapat kerugian penurunan nilai. Pengungkapan tagihan bersih dan rincian mutasi cadangan penurunan nilai Bank secara individual dan konsolidasi

(37)

Kebijakan penggunaan Peringkat dalam Perhitungan ATMR mengacu pada Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/6/DPnP tanggal 18 Februari 2011 yaitu:

 Peringkat suatu perusahaan hanya berlaku untuk perusahaan tersebut, sehingga walaupun berada dalam satu kelompok usaha peringkat suatu perusahaan tidak dapat digunakan untuk menetapkan bobot risiko dari perusahaan lain.

 Peringkat domestik (Pefindo, Fitch Indonesia dan ICRA Indonesia) hanya digunakan untuk penetapan bobot risiko tagihan dalam mata uang Rupiah, sedangkan peringkat internasional (Moody’s, S&P dan Fitch) digunakan untuk penetapan bobot risiko tagihan dalam valuta asing.

 Penetapan bobot risiko atas tagihan dalam bentuk surat berharga didasarkan pada peringkat dari surat berharga dimaksud (issue rating). Dalam hal surat berharga tidak memiliki peringkat maka penetapan bobot risiko didasarkan pada bobot risiko dari tagihan tanpa peringkat. Penetapan bobot risiko atas tagihan dalam bentuk selain surat berharga, didasarkan pada peringkat debitur (issuer rating). Dalamhal tagihan dalam bentuk selain surat berharga tidak memiliki peringkat maka penetapan bobot risiko didasarkan pada bobot risiko dari tagihan tanpa peringkat.

 Peringkat jangka pendek digunakan untuk penetapan bobot risiko dari surat berharga yang memiliki peringkat jangka pendek dan diterbitkan oleh pihak yang termasuk dalam cakupan Tagihan Kepada Bank atau Tagihan Kepada Korporasi. Dalam hal tagihan jangka pendek tidak mempunyai peringkat jangka pendek, maka penetapan bobot risiko menggunakan peringkat jangka panjang.

(38)

Penentuan bobot risiko berdasarkan peringkat eksposur sebagaimana tersebut di atas hanya diberlakukan untuk kategori portofolio sebagai berikut:

 Tagihan Kepada Pemerintah Negara lain

 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik

 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional

 Tagihan Kepada Bank (Jangka Panjang dan Jangka Pendek)

 Tagihan Kepada Korporasi (Jangka Panjang dan Jangka Pendek)

Komposisi Eksposur Risiko Kredit per Bobot Risiko 31 Desember 2013 (%)

Peringkat yang digunakan adalah peringkat terkini yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat yang diakui oleh Bank Indonesia sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/31/DPNP tanggal 22 Desember 2011 perihal Lembaga Pemeringkat dan Peringkat yang Diakui Bank Indonesia. Daftar lembaga pemeringkat dan peringkat yang diakui sebagaimana dapat diakses pada website Bank Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Fitch Ratings

2. Moody’s Investor Service 3. Standard and Poor’s

4. PT. Fitch Ratings Indonesia 5. PT ICRA Indonesia

6. PT. Pemeringkat Efek Indonesia

Pengungkapan tagihan bersih berdasarkan kategori portofolio dan skala peringkat bank secara individu dan konsolidasi

a. Transaksi Derivatif

(39)

transaksi dan jumlah marginal deposit yang harus disetor oleh nasabah sesuai dengan jenis dan risiko yang melekat dalam transaksi derivatif.

b. Transaksi Repo dan Reverse Repo

Secara umum, selama ini BNI hanya melakukan transaksi repo maupun reverse repo dengan underlying aset Surat Berharga Pemerintah Republik Indonesia (Surat Utang Negara).

c. Penerapan Teknik Mitigasi Risiko Kredit dengan Pendekatan Standar

Jenis agunan utama yang diterima dalam rangka mitigasi risiko kredit adalah objek yang dibiayai oleh bank. Sedangkan sebagai pelengkap, bank dapat menerima agunan tambahan. Jenis agunan utama dan tambahan pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi:

 Agunan, yang dapat berupa aset fisik (tanah, bangunan, mesin, peralatan, dan sebagainya) maupun asset keuangan (cash collateral, marginal deposit, emas, piutang, surat hutang maupun surat berharga lainnya). Dalam teknik mitigasi risko kredit, aset fisik tidak diperhitungkan sebagai teknik mitigasi risiko kredit.

 Garansi, yang diterima dari Pemerintah Republik Indonesia, Bank koresponden, maupun perusahaan Asuransi. Dalam teknik mitigasi risiko kredit, garansi yang diperhitungkan hanya garansi yang diterbitkan oleh pihak yang termasuk dalam cakupan kategori Tagihan Kepada Pemerintah Indonesia, Tagihan Kepada Pemerintah Negara Lain, Tagihan Kepada Bank serta lembaga penjaminan/asuransi dengan memperhatikan pemenuhan persyaratan garansi dan penerbit garansi.

(40)

agunan berdasarkan jenis eksposur dan skim pembiayaan yang diberikan. Saat ini penetapan besarnya maksimum kredit untuk kredit produktif segmen kecil ditetapkan sebesar 110% dari nilai taksasi jaminan fixed asset yang diserahkan. Sementara untuk kredit produktif korporasi dan menengah penilaian kecukupan agunan yang diterima tetap memperhitungkan adanya cash equivalent value. Untuk eksposur kredit (loan), penilaian agunan harus dilakukan minimum setiap 24 bulan. Penerbit jaminan/garansi yang diakui dalam perhitungan teknik mitigasi risiko kredit pada umumnya adalah bank koresponden yang memenuhi persyaratan sebagai prime bank ataupun berstatus Badan Usaha Milik Negara.

Penggunaan garansi sebagai salah satu bentuk teknik mitigasi risiko masih terbatas pada transaksi jasa perdagangan.

 Eksposur Sekuritisasi

Aktivitas sekuritisasi BNI sementara ini hanya terbatas pada kepemilikan credit linked notes, namun demikian per 31 Desember 2013 tidak memiliki eksposur sekuritisasi aset.

Implementasi Manajemen Risiko Kredit BNI

 Implementasi Four-eye Principless dalam manajemen risiko kredit, dimana persetujuan kredit dilakukan oleh minimal 2 (dua) orang pemegang kewenangan pemutus kredit yaitu 1(satu) orang dari unit bisnis dan 1(satu) orang dari unit risiko.

 Melakukan penyempurnaan Perangkat Aplikasi Kredit (PAK) seluruh segmen dan penyempurnaan kewenangan memutus kredit.

(41)

 Menetapkan standar keuangan industri (termasuk referensi rasio keuangan) untuk segmenKorporasi, Menengah dan Kecil secara berkala.

 Penetapan Loan Exposure Limit (LEL), yaitu batas maksimum pinjaman di akhir tahun untuk setiap sektor ekonomi di masing-masing segmen. LEL ditetapkan sebagai pedoman ekspansi pinjaman dan sebagai salah satu upaya mengurangi risiko konsentrasi pinjaman.

 Pengembangan dan pengkajian sistem pemeringkatan debitur di seluruh segmen.

 Mengembangkan dan menyempurnakan aplikasi Internal Rating System debitur segmen Korporasi, Menengah dan Kecil.

 Mengevaluasi portofolio pinjaman secara berkala berdasarkan volume, kualitas, komposisi dan tingkat profitability termasuk rekomendasi perbaikannya.

 Melakukan pemantauan dan simulasi (scenario analysis) NPL guna meningkatkan kualitas pinjaman.

 Membangun database risiko kredit antara lain mencakup peringkat debitur, default history, default probability, recovery rate dan expected loss.

 Melakukan uji coba perhitungan risiko kredit dalam Quantitative Impact Study (suatu survey untuk melihat kesiapan dan dampak implementasi Basel II bagi perbankan).

2.4.3 Pengelolaan Jenis Risiko Pasar

Sebagian besar risiko pasar trading book bersumber dari aktivitas bisnis tresuri, sementara risiko pasar banking book, khususnya Interest Rate Risk in Banking Book (IRRBB) dan Posisi Devisa Neto (PDN) bersumber dari seluruh aktivitas bank. Untuk mengelola eksposur risiko pasar yang dinamis sesuai perkembangan pasar domestik dan pasar global, bank memantau dan mengelola risiko pasar secara kontinu dan ketat.

(42)

Dalam rangka pengelolaan risiko pasar yang efektif dan independen, organisasi Treasury dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu front office, middle office, dan back office. Front office melakukan aktivitas bisnis dan berhubungan dengan nasabah. Dalam melakukan aktivitasnya, bisnis tresuri dibatasi dengan risk appetite, risk tolerance dan risk limit yang ditetapkan oleh unit independen yaitu Divisi Manajemen Risiko Bank, Divisi Tata Kelola Kebijakan dan Divisi Risiko Bisnis Korporasi. Fungsi pemantauan risiko pasar dilakukan oleh Divisi Manajemen Risiko Bank. Pemantauan eksposur risiko dan kepatuhan terhadap limit-limit risiko menjadi semakin independen setelah berpindahnya Unit Middle Office dari unit bisnis ke Divisi Manajemen Risiko Bank. Untuk aktivitas pembukuan dan settlement dilakukan oleh Divisi Operasional sebagai back office.

b. Kebijakan dan Prosedur

Dalam rangka mendukung target bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, BNI telah memiliki kebijakan dan prosedur bisnis tresuri dan internasional. Selain itu agar pengelolaan risiko pasar berjalan efektif, BNI berpedoman pada pedoman penerapan Manajemen Risiko pasar serta prosedur risiko pasar (trading book) dan risiko suku bunga pada banking book. Identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko pasar dilakukan oleh unit yang independen dari unit bisnis. Identifikasi risiko pasar terutama dilakukan untuk setiap produk atau aktivitas baru.

(43)

portofolio trading book untuk risiko suku bunga dan portofolio trading book dan banking book untuk risiko nilai tukar. Eksposur risiko pasar bank secara individu dan konsolidasi dengan menggunakan metode standar. Eksposur risiko pasar yang diukur dengan VaR senantiasa dipantau secara harian dan disampaikan kepada manajemen secara mingguan dan bulanan. Valuasi harga untuk instrumen yang aktif menggunakan harga pasar (mark to market), sedangkan untuk instrumen yang kurang aktif menggunakan harga wajar dari sumber yang independen.

Untuk melengkapi model VaR, BNI melakukan stress testing risiko pasar untuk menilai ketahanan bank dalam menghadapi perubahan nilai tukar dan suku bunga yang ekstrem, dengan skenario mengacu pada ketentuan Bank Indonesia dan skenario internal bank. Hasil stress testing tersebut dipergunakan untuk menyiapkan contingency plan jika kondisi ekstrem terjadi. Tingkat akurasi model pengukuran VaR diuji dengan validasi model secara periodik.

Perkembangan risiko suku bunga dan nilai tukar pada banking book secara keseluruhan dipantau ketat secara periodik sesuai metode pengukuran yang ditetapkan regulator dan disampaikan kepada manajemen melalui Forum Komite Risiko dan Kapital Bidang Asset & Liability. Front officeatau unit bisnis selain berupaya mencapai target bisnis, sebagai bagian sistem pengendalian internal, juga berfungsi sebagai first line of defense dengan berupaya membatasi dan mengantisipasi risiko pasar yang disebabkan perubahan nilai tukar dan suku bunga sesuai limit-limit yang telah ditetapkan. Sementara sebagai second line of defense, Divisi Manajemen Risiko Bank melakukan pemantauan antara lain memantau penggunaan dan kepatuhan terhadap limit risiko, melakukan penetapan fixing price, memeriksa kewajaran harga atas transaksi tresuri dan investigasi terjadinya off market.

(44)

Untuk mendukung proses bisnis dan sejalan dengan pengelolaan risiko pasar, BNI telah memiliki market risk management tools. Sedangkan untuk memperoleh data pasar diperoleh dari sumber-sumber harga best practice yang independen. Untuk mengelola potensi kerugian Risiko Pasar telah ditetapkan limit-limit sebagai berikut:

 VaR Limit, yang merupakan maksimum potensi kerugian yang mungkin terjadi pada waktu tertentu di masa datang dengan tingkat kepercayaan tertentu.

 Budget Loss limit yang dipergunakan untuk membatasi realisasi kerugian aktivitas bisnis. Limit pembelian surat berharga yang digunakan untuk membatasi konsentrasi pembelian surat berharga korporat berdasarkan rating dan jenis mata uang surat berharga.

 Limit asset & liability repricing gap untuk membatasi risiko suku bunga dalam banking book.

Implementasi Manajemen Risiko Pasar pada BNI

 Melakukan perhitungan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) dengan menggunakan

metode standar sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. Selain itu, mengkaji dan

mengembangkan kemungkinan penerapan Metode Internal dalam menghitung KPMM dengan

memperhitungkan risiko pasar.

 Mengembangkan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi dan diaplikasikan ke segenap unit

bisnis termasuk risiko pasar di cabang-cabang luar negeri.

 Menyusun dan menerbitkan laporan dan analisis risiko pasar secara berkala (harian, mingguan,

bulanan dan triwulanan).

 Mengembangkan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi ke dalam Treasury Management

Information System untuk pengendalian risiko nilai tukar, risiko tingkat bunga dan risiko

likuiditas.

 Melakukan evaluasi secara berkala terhadap limit risiko pasar yang terdiri dari limit VaR

dan budget loss limit untuk trading book serta banking book bagi unit bisnis Tresuri dan dealing

(45)

(secondary reserve) Ideal, limitAsset Liability Gap dan limit on-shore loan. Limit-limit tersebut

dipantau secara harian, mingguan dan bulanan.

 Menyempurnakan sistem pengendalian risiko pasar untuk transaksi treasury (dealing room) dan

melengkapinya dengan sistem pemantauan limit (Market Limit System) serta penetapan harga

(46)

BAB III

Kesimpulan dan Saran

3.1

Kesimpulan

a. Risiko kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian yang terkait dengan kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajibannya atau risiko bahwa debitur tidak membayar kembali utangnya.

b. Risiko pasar adalah risiko dari suatu entitas yang munkin mengalami kerugian sebagai akibat dari fluktuasi pergerakan harga pasar, karena perubahan harga (volatilitas) instrumen-instrumen pendapatan tetap, instrumen-instrumen ekuitas, komoditas, kurs mata uang, dan kontrak-kontrak di luar neraca terkait.

c. Implementasi Manajemen Risiko Kredit BNI

 Implementasi Four-eye Principless dalam manajemen risiko kredit, dimana persetujuan kredit dilakukan oleh minimal 2 (dua) orang pemegang kewenangan pemutus kredit yaitu 1(satu) orang dari unit bisnis dan 1(satu) orang dari unit risiko.

 Melakukan penyempurnaan Perangkat Aplikasi Kredit (PAK) seluruh segmen dan penyempurnaan kewenangan memutus kredit.

 Mengembangkan Industry Risk Rating (IRR), yaitu penilaian tingkat risiko industri berdasarkan kondisi makro ekonomi, struktur industri, karakteristik industri, prospek industri, riwayat pinjaman, kinerja keuangan industri dan penyesuaian kondisi regional.

 Menetapkan standar keuangan industri (termasuk referensi rasio keuangan) untuk segmenKorporasi, Menengah dan Kecil secara berkala.

(47)

pedoman ekspansi pinjaman dan sebagai salah satu upaya mengurangi risiko konsentrasi pinjaman.

 Pengembangan dan pengkajian sistem pemeringkatan debitur di seluruh segmen.

 Mengembangkan dan menyempurnakan aplikasi Internal Rating System debitur segmen Korporasi, Menengah dan Kecil.

 Mengevaluasi portofolio pinjaman secara berkala berdasarkan volume, kualitas, komposisi dan tingkat profitability termasuk rekomendasi perbaikannya.

 Melakukan pemantauan dan simulasi (scenario analysis) NPL guna meningkatkan kualitas pinjaman.

 Membangun database risiko kredit antara lain mencakup peringkat debitur, default history, default probability, recovery rate dan expected loss.

 Melakukan uji coba perhitungan risiko kredit dalam Quantitative Impact Study (suatu survey untuk melihat kesiapan dan dampak implementasi Basel II bagi perbankan). d. Implementasi Manajemen Risiko Pasar pada BNI

 Melakukan perhitungan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) dengan menggunakan metode standar sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. Selain itu, mengkaji dan mengembangkan kemungkinan penerapan Metode Internal dalam menghitung KPMM dengan memperhitungkan risiko pasar.

 Mengembangkan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi dan diaplikasikan ke segenap unit bisnis termasuk risiko pasar di cabang-cabang luar negeri.

 Menyusun dan menerbitkan laporan dan analisis risiko pasar secara berkala (harian, mingguan, bulanan dan triwulanan).

 Mengembangkan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi ke dalam Treasury Management Information System untuk pengendalian risiko nilai tukar, risiko tingkat bunga dan risiko likuiditas.

(48)

limit on-shore loan. Limit-limit tersebut dipantau secara harian, mingguan dan bulanan.

 Menyempurnakan sistem pengendalian risiko pasar untuk transaksi treasury (dealing room) dan melengkapinya dengan sistem pemantauan limit (Market Limit System) serta penetapan harga pasar (Market Conformity Modul) yang terintegrasi denganfront office system.

3.2

Saran

a. Bank BNI harus mulai berbenah atau paling tidak harus mempertahankan hasil dari penilaian profil resiko selama tiap tiga bulan yang menunjukkan bahwa inherent risk BNI memperoleh predikat rendah dengan tingkat pengendalian risiko kuat, agar tidak terjadi lagi ‘kecelakaan’ dengan bobolnya Bank BNI akibat transaksi surat kredit (letter of credit) fiktif dengan variasi penyimpangan prosedur operasi bank. Beruntung, program penjaminan pemerintah (blanket guarantee) belum dilepaskan sehingga kasus ini yang ditimbulkan oleh fraud (penipuan), baik secara internal ataupun eksternal tidak perlu membuat nasabah bank pada pening dan dampaknya mudah-mudahan tidak sistemik. b. Manajemen risiko yang harus dilakukan bni diantaranya:

 Adanya pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi.

 Kecukupan kebijakan.

 Prosedur dan penetapan limit.

 Kecukupan proses identifikasi.

 Pengukuran.

 Pemantauan dan pengendalian risiko.

 Serta sistem informasi manajemen risiko.

(49)

DAFTAR PUSTAKA

1. Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tetang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum

2. Drs. Sugeng Widodo,MM, Manajemen Dana & Manajemen Risiko BUS,ppt, 20 Desember 2016

3. https://edratna.wordpress.com/2008/03/17/mengapa-diperlukan-manajemen-risiko-kredit/, diakses pada 20 Desember 2016

4. Bank Indonesia. 2001. “Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum” Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 Tanggal 19 Mei 2003. Jakarta.

5. Masyhud, Ali. 2006. “Manajemen Risiko Strategi Perbankan dan Dunia Usaha Menghadapi Tantangan Globalisasi Bisnis”. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. 6. Siamat. 2005. Jurnal Manajemen dan Organisasi Vol I. Cipta Ilmu: Semarang

7. http://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2013/12/03/mengenal-8-jenis-risiko-perbankan-part-4.html (diakses 20 Desember 2016)

8. http://id.m.wikipedia.org/wiki/risiko_kredit.html (diakses 20 Desember 2016) 9. http://ircboy.wordpress.com/2011/06/25/risiko-kredit-credit-risk.html (diakses 20

Desember 2016)

10. http://www.google.com/url?q=http://abg01.blogspot.com/2014/08/pengertian-kredit-macet-penyebab-dan.html (diakses 20 Desember 2016)

11. http://www.google.com/url?q=http://abg01.blogspot.com/2014/08/pengertian-kredit-macet-penyebab-dan.html (diakses 20 Desember 2016)

12. LaporanTahunan Bank BNI 2013, pada bagian risiko kredit

Referensi

Dokumen terkait