• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN MOBILISASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Mobilisasi adalah pengerahan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang. Mobilisasi adalah pusat utuk berpartisipasi dalam menikmati kehidupan. Mempertahankan mobilitas optimal sangat penting untuk kesehatan mental dan fisik semua lansia. Mobilitas bukan merupakan sesuatu yang absolut dan statis dalam menentukan kemampuan untuk berjalan, tetapi mobilitas optimal merupakan sesuatu yang individualistis, relatif dan dinamis yang tergantung pada interaksi antara faktor-faktor lingkungan dan sosial, afektif dan fungsi fisik. Mobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal. Studi-studi tentang insidens diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia yang berada di institusi perawatan mengungkapakan bahwa hambatan mobilitas fisik adalah diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul. Keletihan dan kelemahan batasan karakteristik intoleransi aktivitas, telah diketahui sebagai penyebab paling umum kedua yang paling sering terjadi yang menjadi keluhan pada lansia. Sekitar 43% lansia telah diidentifikasi memiliki gaya hidup kurang gerak, akhirnya sekitar 50% penurunan funsional pada lansia dihubungkan dengan disease. Penyebab imobilitas bermacam-macam, berbagai ancaman dari imobilitas fisik dapat dikategorikan berhubungan dengan lingkungan internal dan eksternal atau dengan kompetensi dan sumber-sumber internal dan eksternal klien. B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan mobilisasi.

2. Tujuan Khusus

a. Agar mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada lansia dengan gangguan mobilisasi.

(2)

c. Agar mahasiswa mampu melaksanakan intervensi pada lansia dengan gangguan mobilisasi.

d. Agar mahasiswa mampu melaksanakan implementasi pada lansia dengan gangguan mobilisasi.

e. Agar mahasiswa mampu malakukan evaluasi pada lansia dengan gangguan mobilisasi.

(3)

PEMBAHASAN 1. KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Definisi

Gangguan mobilitas fisik yaitu suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang. B. Faktor-Faktor yang Menyebabkan atau Turut Berperan Terhadap

Imobilitas

1. Penurunan fungsi muskuloskeletal

Otot-otot (atrofi, distrofi, atau cedera), tulang (infeksi, fraktur, tumor, osteoporosis, atau osteomalasia), sendi (athritis dan tumor), atau kombinasi struktur (kanker dan obat-obatan).

2. Perubahan fungsi neurologis

Infeksi, tumor, trauma, obat-obatan, penyakit vaskular (mis, stroke), penyakit demelinasi, penyakit degeneratif (ex: penyakit parkinson), gangguan metabolik (mis, hiperglikemia), gangguan nutrisi.

3. Nyeri

Penyebabnya multipel dan bervariasi seperti penyakit kronis dan traum

4. Defisit perseptual

Kelebihan atau kekurangan masukan persepsi sensori. 5. Berkurangnya kemampuan kognitif

Gangguan proses kognitif, seperti demensia berat jauh. 6. Jatuh Efek fisik: cedera atau fraktur.

Efek psikologis: sindrom setelah jatuh. 7. Perubahan hubungan sosial

Faktor-faktor aktual (mis, kehilangan pasangan, pindah jauh dari keluarga atau teman-teman), faktor-faktor persepsi (mis, perubahan pola pikir seperti depresi).

8. Aspek psikologis

Ketidakberdayaan dalam belajar. C. Program Terapeutik

Program penanganan medis memiliki pengaruh yang kuat terhadap kualitas dan kuantitas pergerakan pasien.

(4)

dihubungkan dengan pemberian cairan intravena, pengisapan gaster, kateter urine, dan pemberian oksigen).

Sebagai intervensi dianjurkan istirahat dapat menurunkan kebutuhan metabolik, kebutuhan oksigen dan beban kerja jantung. Selain itu istirahat memberikan kesempatan pada sistem muskuloskeletal untuk relaksasi menghilangkan nyeri, mencegah iritasi yang berlebihan dari jaringan yang cedera, dan meminimalkan efek gravitasi. Secara fisiologis, suplai oksigen yang tidak adekuat mengganggu pemeliharaan fungsi sel untuk meningkatkan aktivitas. Secara psikologis, depresi menurunkan energi yang tersedia.

D. Dampak Masalah pada Lansia

Lansia sangat rentan terhadap konsekuensi fisiologis dan psikologis dari imobilitas, perubahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini imobilitas mempengaruhi tubuh yang telah terpengaruh sebelumnya.

Kompetensi fisik seseorang lansia mungkin berada atau dekat dengan tingkat ambang batas untuk aktivitas mobilitas tertentu. Perubahan lebih lanjut atau kehilangan dari imobilitas dapat membuat seseorang menjadi tergantung. Semakin besar jumlah penyebab imobilitas, semakin besar potensial untuk mengalami efek-efek akibat imobilitas.

Keuntungan latihan secara teratur untuk lansia termasuk memperlambat proses penuaan, memperpanjang usia. Fungsi kardiovaskular yang lebih baik dan peningkatan perasaan sejahtera.

E. Penatalaksanaan 1. Pencegahan Primer

(5)

hidup kurang gerak. Program latihan juga dihubungkan dengan peningkatan mood atau tingkat ketegangan ansietas dan depresi. Hambatan terhadap latihan : Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Hambatan lingkungan termasuk kuranganya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung. Sikap budaya adalah hambatan lain untuk melakukan latihan. Model peran yang kurang gerak, gangguan citra tubuh, dan ketakutan akan kegagalan atau ketidaksetujuan semuanya turut berperan terhadap kegagalan lansia untuk berpartisipasi dalam latihan yang teratur.

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi, disgnosa keperawatan yang dihubungkan dengan pencegahan sekunder adalah: gangguan mobilitas fisik.

3. Pencegahan Tersier

Upaya-upaya rehabilitatif untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, ahli fisioterapi dan terapi okupasi seseorang ahli gizi, aktivis sosial, dan keluarga serta teman-teman.

2. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian

1. Aktivitas/Istirahat:

Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.

Tanda : Malaise, keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.

2. Kardiovaskular:

Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).

3. Integritas Ego

(6)

ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ), ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).

4. Makanan/Cairan

Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia, kesulitan untuk mengunyah.

Tanda : Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.

5. Hygiene

Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi, ketergantungan.

6. Neurosensori

Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.

Tanda : Pembengkakan sendi simetris. 7. Nyeri/Kenyamanan

Gejala : Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).

8. Keamanan

Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada mata dan membran mukosa.

9. Interaksi Sosial

Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.

B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

1. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan destruksi sendi. Kriteria Hasil:

a) Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol.

- Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.

- Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.

- Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.

(7)

1) Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.

Rasional : Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program.

2) Berikan matras/kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.

Rasional : Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri.

3) Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu. Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.

4) Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk.

Rasional : Sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas. 5) Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan.

Rasional : Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kekuatan otot. Kriteria Hasil :

a) Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/pembatasan kontraktur. - Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau konpensasi bagian tubuh.

- Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas.

Intervensi dan Rasional:

(8)

Rasional : Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan.

2) Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif.

Rasional : Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.

3) Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan.

Rasional : Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.

4) Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda.

Rasional : Menghindari cidera akibat kecelakaan/jatuh. 5) Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi.

Rasional : Berguna dalam memformulasikan program latihan/aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat.

3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan nyeri pada waktu bergerak.

Kriteria Hasil :

a) Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual.

b) Mendemonstrasikan perubahan teknik/gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.

c) Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.

Intervensi dan Rasional:

1) Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi.

Rasional : Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini. 2) Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program

latihan.

(9)

3) Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi/rencana untuk modifikasi lingkungan.

Rasional : Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan harga diri.

4) Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi.

Rasional : Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran.

BAB III

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN MASALAH MOBILISASI

Tanggal Pengkajian : 14 Januari 2018 PENGKAJIAN

IDENTITAS

(10)

Umur : 72 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa/Indonesia

Bahasa : Jawa

Pendidikan Terakhir : SMP

Pekerjaan : Tidak bekerja

Alamat : Timunsari Hargojari Tanjungsari Gunungkidul

KELUHAN UTAMA

Pasien mengatakan kakinya pegal-pegal dan sulit untuk digerakkan. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Dari data RM bahwa Ny.A mempunyai riwayat jatuh 1 tahun yang lalu. Dan sebulan sebelum masuk rusah sakit kaki pasien membengkak

RIWAYAT PENYAKIT SEBELUM SAKIT

a. Penyakit yang pernah diderita : hipertensi b. Obat yang biasa dikonsumsi : amlodipine 5mg

c. Kebiasaan berobat : Dokter

d. Perawatan di RS terakhir : Tidak ada

e. Alat bantu yang digunakan : Tidak menggunakan alat bantu

(11)

Anggota keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit keturunan ataupun menular.

RIWAYAT PSIKOLOGI

Pasien hidup bersama 2 anak beserta menantunya serta 4 cucu. POLA AKTIVITAS SEHARI – HARI

1. Makan Dan Minum

 Kebiasaan makan sebelum sakit  frekuensi : 3x / hari

 jenis : nasi sayur ,lauk + buah-buahan  Pantangan : tidak ada

 Makanan yang disukai : Semua makanan disukai  Makanan yang tidak disukai : Tidak ada

 Alergi makanan : Tidak alergi

makanan

 Kebiasaan minum sebelum sakit

 frekuensi : 5 x/hari @ 250 cc

 jenis : Air putih

 Pantangan : tidak ada

 Minuman yang diskai : Air putih

(12)

 frekuensi : 3x / hari

 jenis : bubur, sayur, lauk + buah

 Pantangan : Tidak ada

 Makanan yang diskai : Semua makanan disukai  Makanan yang tidak disukai : Tidak ada

 Alergi makanan : Tidak alergi makanan  Klien makan dengan dibantu

 Kebiasaan saat sakit

 frekuensi : 5 x/hari @ 250 cc

 jenis : Air putih

 Pantangan : tidak ada  Minuman yang diskai : Air putih

 Minuman yang tidak disukai : Tidak ada  Alergi minuman : Tidak alergi minuman  Klien minum dengan dibantu

2. Eliminasi

 Sebelum sakit

Klien mampu BAB dan BAK sendiri tanpa bantuan orang lain. BAK 5x/hari BAB 1x/hari tanpa obat pencahar

(13)

Klien masih mampu BAB dan BAK sendiri tanpa bantuan orang lain BAK 5 x/hari BAB 1x/hari tanpa bantuan orang lain

3. Kebersihan  Sebelum sakit

klien mandi 2x/ hari dan ganti pakaian 2x/ hari keramas 3 x/ minggu, sikat gigi 2x/hari memotong kuku 1x/minggu. Semua tindakan dilakukan secara mandiri.

 Saat sakit

Klien mandi 1x/ hari hanya diseka dan ganti pakaian 1x/ hari keramas -, sikat gigi 1 x/hari memotong kuku -. Semua tindakan dengan dibantu.

4. Pola Istirahat Dan Aktivitas  Sebelum sakit

klien tidur siang kurang lebih1 2 jam/hari mulai pukul 13.00 – 15.00 WIB

klien tidur malam kurang lebih 6 jam/hari mulai pukul 22.00 - 04.00 WIB

aktivitas 4 jam/hari pukul 07.00 – 11.00 WIB  Saat sakit

klien tidur siang 1 jam/hari

klien tidur malam kurang lebih 5 jam / hari, sering terbangun aktivitas tidak ada

(14)

Hubungan klien di masyarakat sangat baik dan bisa bersosialisasi dengan siapa saja

6. Pola Kognitif

Klien dapat berfikir dengan baik dan dapat berbincang-bincang dengan baik

II. PENGKAJIAN PER SYSTEM

1. Pernafasan (Breathing)

a. Bentuk dada : Simetris

b. Batuk : Kadang

c. Nyeri waktu bernapas : Tidak

d. Pola napas : Regular

e. Frekuensi napas : 24 x/menit

f. Bunyi napas Abnormal : Ronchi – / - , wheezing + / +

g. Alat bantu napas : Tidak pakai alat

bantu napas

2. Kardiovaskuler (Blood)

a. Nadi : Regular

b. Frekuensi : 88 x/menit

c. Tekanan darah : 150/90 mmHg d. Bunyi jantung : Normal

e. Suhu : 37 oC

f. Pembesaran jantung : Tidak ada

g. Nyeri dada : Tidak ada

(15)

a. Kesadaran : Compos Mentis

b. GCS : 4-5-6

c. Reflek : Normal

d. Kejang : Tidak ada

e. Koordinasi gerak : Baik

4. Perkemihan (Blader)

Masalah kandung kemih, tidak ada masalah, klien tidak terpasang kateter, produksi urine ±200 cc setiap berkemih, warna jernih, kuning, bau khas urine.

5. Otot, Tulang Dan Integumen (Bone)

a. Otot dan tulang

Kemampuan pergerakan sendi lengan dan tungkai bebas Tidak ada fraktur, dislokasi, haematum, Kekuatan otot 5 5

3 3

b. Integumen

- Warna kulit : Kemerahan

- Akral :

Hangat

- Turgor :

Elastik, kembali dalam < 2detik ANALISA DATA

(16)

Umur : 72 tahun

No.

Dx Data Penunjang Masalah Etiologi

I

II

DS :

 Klien mengatakan

segala aktivitasnya dibantu

 Klien mengatakan

kakinya pegal pegal DO :

 Kaki klien terlihat bengkak, pitting uedem derajat 3

 Kedua kaki terlihat kaku

DS :

 Klien mengatakan

tidak bisa mandi sendiri

 klien mengatakan

mandi dibantu oleh keluarga

 klien mengatakan

mandi ditempat tidur dengan cara di lap.

DO :

 indeks kartz 0

Gangguan mobilitas fisik

Deficit

perawatan diri : mandi

kelemahan

(17)

 klien tidak bisa pergi ke kamar mandi

 kekuatan otot 5 5 4 4

PRIORITAS MASALAH

Nama Pasien : Ny. A

Umur : 72 tahun

Tanggal / Jam Diagnosa Keperawatan Paraf

14 Januari 2018

14 Januari 2018

Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan

(18)

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny.A

Umur : 72 tahun

Tanggal NO.

Dx Tujuan / Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional

14 Januari 2018

1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, gangguan mobilitas fisik berkurang dengan Kriteria hasil :

 uedem pada kaki berkurang

 ekstremitas klien lemas/ tidak kaku

1. Kaji

kemampuan mobilisasi klien

2. Latih ROM

pasif

3. Posisikan

kaki lebih tinggi dari jantung

4. Edukasi

kepada klien untuk tetap mobilisasi semampunya semisal miring kiri kanan

5. Kolaborasi

dengan dokter terkait dengan oedem pada klien

1. Sebagai acuan dalam melakukan tindakan

2. ROM dapat mencegah kekakuan pada otot

3. Posisi yang lebih tinggi dapat mengurangi edema

4. Edukasi dapat meningkatkan motivasi klien

(19)
(20)

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny. A

Umur : 72 tahun

Tangga l

NO.

Dx Tujuan / Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional

14 Januari 2018

2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan deficit perawatan diri: mandi teratasi dengan Kriteria hasil :

1. Klien mandi secara teratur 2x sehari

2. Klien tampak

bersih

1. Kaji kebutuhan perawatan diri klien 2. Bantu klien dalam memenuhu perawatan

mandinya

3. Edukasi klien untuk melapor kepada perawat apabila badan terasa kotor dan tidak enak

4. Kolaborasi dengan praktikan dalam pemenuhan perawatan diri klien

1. Sebagai acuan untuk menentukan tindakan keperawatan

2. Bantuan yang diberikan untuk klien dapat memenuhi kebutuhan personal hygiene klien.

3. Edukasi dapat meningkatkan motivasi klien sertadapat meningkatkan mawas diri klien tentang kebersihan dirinya 4. Kolaborasi dapat lebih intensif dalam

(21)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Mobilitas bukan merupakan sesuatu yang absolut dan statis dalam menentukan kemampuan untuk berjalan, tetapi mobilitas optimal merupakan sesuatu yang individualistis, relatif dan dinamis yang tergantung pada interaksi antara faktor-faktor lingkungan dan sosial, afektif dan fungsi fisik. Keparahan imobilitas pada sistem muskuloskeletal adalah penurunan tonus, kekuatan, ketahanan otot, rentang gerak sendi dan kekuatan skeletal. Pengkajian pada pasien gangguan mobilisasi dapat ditemukan adanya atrofi otot, mengecilnya tendon, ketidakadekuatnya sendi, nyeri pada saat bergerak, keterbatasan gerak, penurunan kekuatan otot, paralisis, serta kifosis. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gangguan mobilisasi adalah : Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan destruksi sendi, Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, dan Kurang perawatan diri berhubungan dengan nyeri pada waktu bergerak.

B. Saran

Pada kesempatan ini kelompok akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :

a. Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan gangguan mobilisasi, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.

(22)

Referensi

Dokumen terkait

Intervensi yang dilakukan pada diagnosa keperawatan pre operasi untuk nyeri dengan relaksasi nafas dalam, mempertahankan immobilisasi dengan tirah baring dan sling,

jam pasien akan : 1) Mengatakan 1) Ajarkan klien untuk latihan ROM. 2) Bantu mengembangka n keseimbangan duduk dan berdiri 3) Motivasi untuk menggerakan kaki terus

Tingkat kesadaran dapat berflukutasi pada yang paling ekstrim untuk pasien yang sama, atau dapat muncul dengan tanda yang lebih ringan seperti mengantuk atau gangguan tingkat

Menurut Capenito (2009), Intoleransi aktivitas, kondisi ini kemungkinan berhubungan dengan,tirah baring atau imobilisasi, kelemahan umum, ketidak seimbangan antara suplai

Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik dapat mengakibatkan instruksi pembatasan gerak dalam bentuk tirah baring, pembatasan gerak fisik selama pengguanaan alat bantu eksternal

 Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic menghemat energi untuk penyembuhan, pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon

cairan dan memberikan makanan padat sesuai toleransi. Rasional : Istirahat usus penuh dapat menurunkan nyeri, kram. - Kolaborasi : Berikan obat

diderita dapat membangunkan anda dari tidur pada malam