URGENSI METODOLOGI STUDI ISLAM INTERDISI (3)

14  10 

Teks penuh

(1)

URGENSI METODOLOGI STUDI ISLAM INTERDISIPLENER DI ERA

MILLENIAL

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Study Islam Dosen pengampu: Prof. Zackiyuddin Baidhawi, M.Ag

Disusun Oleh :

Muhamad Muhlas 120 101 70018

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PASCA SARJANA)

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

(2)

URGENSI METODOLOGI STUDY ISLAM INTERDISIPLINER DI ERA

MILLENIAL

A. Pendahuluan

Keberadaan Islam bukan hanya sebagai agama monodimensi. Islam bukan hanya agama yang didasarkan pada intuisi mistis manusia dan terbatas hanya pada hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ini hanyalah satu dari sekian banyak dimensi agama Islam. Untuk mempelajari aspek multidimensional dari Islam, metode filosofis niscaya dipergunakan untuk menemukan sisi-sisi terdalam dari hubungan manusia dengan Tuhan dengan segenap pemikiran metafisikanya yang umum dan bebas(Thahir: 2004). Dimensi lain dari agama Islam adalah masalah kehidupan manusia di bumi ini. Untuk

mempelajari dimensi ini harus dipergunakan metode-metode yang selama ini

dipergunakan dalam “ilmu manusia”(Ali: 1991: 47). Thahir (2004) dalam pengantarnya menjelaskan bahwa agama dengan cara pandang seperti ini, tidak lagi berwajah tunggal (Single Face) melainkan memiliki banyak wajah (Multiface).

Keragaman dimensi Islam mengindikasikan bahwa memahami Islam tidak cukup dengan satu pendekatan atau keilmuan tertentu saja, akan tetapi membutuhkan banyak pendekatan yang didasarkan pada berbagai disiplin ilmu. Dengan kata lain, perlu pengkajian secara interdisipliner yang berparadigma dengan menggunakan berbagai perspektif, tidak hanya secara normatif-teologis. Dalam hal ini pendekatan-pendekatan keilmuan yang telah dibahas sebelumnya seperti Historis, Filosofis, Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Filologi, Fenomenologi, Hermeneutik, dan seterusnya sangat

diperlukan.

(3)

dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayah sendiri-sendiri, terpisah antara satu dan lainnya, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan maupun status teori masing-masing bahkan sampai ke institusi penyelenggaranya. Dengan lain ungkapan, ilmu tidak memperdulikan agama dan agama tidak memperdulikan ilmu. Begitulah sebuah gambaran praktik kependidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air sekarang ini dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat luas. Oleh karenanya, anggapan yang tidak tepat tersebut perlu dikoreksi dan diluruskan (Abdullah: 2010: 92-94).

Kajian agama termasuk Islam, seperti disebutkan di atas dilakukan oleh sarjana Barat dengan menggunakan berbagai macam ilmu, sehingga muncul sejarah agama, psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dan lain-lain. Dalam perjalanan dan pengembangannya, sarjana Barat bukan hanya menjadikan masyarakat Barat sebagai lapangan penelitiannya, namun juga masyarakat di Negara-negara berkembang, yang kemudian memunculkan Orientalisme.

Sementara itu, agama atau keagamaan sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang Islam khususnya, sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran kegamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Demikianlah, maka pembahasan dalam makalah ini ingin menegaskan perlunya pengembangan Studi Islam dalam segala aspek kehidupan, dikaji secara interdisipliner dengan teoretis, praktis-metodis ingin menggambarkan betapa kajian tentang Islam membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi aplikasi metodologi dari disiplin keilmuan lain, utamanya pendekatan secara humanities dan social sciences.

B. Pengertian Metodologi Study Islam

(4)

langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian (Mudzhar: 2007: 11).

Menurut istilah“metodologi” berasal dari bahasa yunani yakni metodhos dan logos, methodos berarti cara, kiat dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelsaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan wawasan. Dengan demikian metodologi adalah metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian (Rozak: 2008: 68)

Ketika metodologi digabungkan dengan Study Islam, maka artinyapun juga akan berbeda. Studi Islam atau Islamic Studies merupakan sebuah kajian mengenai ajaran-ajaran Islam. Suleiman dan Shihadeh dalam Bidhawy (2011: 2) menawarkan dua pendekatan mendasar mengenai definisi studi islam, yaitu definisi sempit dan definisi yang lebih luas. Definisi pertama melihat studi islam sebagai disiplin dengan metodologi, materi, dan teks-teks kuncinya sendiri. Lebih lanjut penulis menjelaskan bahwa studi ini berkaitan dengan teks-teks keagamaan klasik dan ilmu-ilmu keagamaan klasik dengan catatan memperluas ruang lingkupnya berarti akan mengurangi kualitas kajiaanya.

Pendekatan kedua, mendefinisikan Islamic Studies berdasarkan pernyataan bahwa Islam perlu dikaji dalam konteks evolusi Islam modern yang penuh teka-teki. Selain itu, adanya kebutuhan untuk memahami tentang teks-teks dan cara orang-orang mengalami serta menjalani kehidupan mereka (Baidhawy : 2011: 3). Membatasi bidang kajiannya akan menimbulkan kesan yang salah tentang seperangkat praktik keagamaan Islam, sehingga menutupi ralitas yang lebih kompleks.

Dari pemaparan pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metodologi studi Islam adalah seperangkat cara untuk memahami atau mengkaji ajaran-ajaran Islam. dengan kata lain, istilah metodologi studi islam dapat digunakan untuk mengkaji seputar ragam metode yang biasa digunakan dalam studi islam. Objek kajian ini bisa berupa teks-teks tradisional ataupun budaya-budaya dalam Islam itu sendiri.

(5)

Dalam satu hadist rasulallah SAW bersabda:

Sesungguhnya bani israil (kaum yahudi dan nasraani) telah berpecah belah menjadi 72 aliran, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 aliran, mereka semua akan masuk neraka kecuali satu aliran saja. Para sahabat bertanya “siapakah mereka itu wahai rasulallah?” beliau menjawab, “siapa yang mengikuti jejakku dan para sahabatku.” (HR. tirmidzi al-hakim dan al-Aajumi, diharuskan oleh al-albani)

Dari hadist diatas kita tahu bahwa sejak jauh-jauh hari rasulallah telah menginformasikan (mensinyalir) tentang adanya perpecahan umat, hadis diatas bukanlah isapan jempol belaka di Indonesia saja, telah muncul beberapa aliran agama baru yang muncul dari satu agama, terutama islam sejak puluhan tahun yang lalu pada umumnya, pelopor sekaligus pemimpinnya mengaku sebagai orang pilihan yang diutus oleh tuhan sebagai juru selamat atau penyempurna suatu agama bagi umat manusia.

Mereka aliran-aliran baru tersebut mengindikasikan adanya kebutuhan besar terhadap agama yang benar-benar bias memenuhi kebutuhan rohaniah perubahan masyarakat akibat modernism, globalisme dan terhadap era post industry yang menyebabkan krisis kemanusiaan serta kurangnya pengetahuan tentang agamalah yang menjadi pangkal-pangkal utama munculnya berbagai macam aliran tersebut.penyimpangan-penyimpangan tersebut tidak akan terjadi jika manusia khususnya umat islam memahami dan menguasai metodelogi study Agama, yang dalam hal ini adalah metodelogi study islam.

Studi terhadap misi ajaran Islam secara komprehensif dan mendalam adalah sangat diperlukan karena beberapa sebab sebagai berikut :

(6)

b. Untuk membuktikan kepada umat manusia bahwa Islam baik secara

normatif maupun secara kultural dan rasional adalah ajaran yang dapat membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, tanpa harus mengganggu keyakinan agama Islam.

c. Untuk menghilangkan citra negatif dan sebagian Masyarakat terhadap ajaran Islam (Abdullah: 2002: 76).

Terdapat sejumlah argumentasi yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Argumentasi tersebut dikemukakan sebagai berikut :

Pertama, untuk menunjukkan bahwa Islam sebagai pembawa rahmat

dapat dilihat dari pengertian Islam itu sendiri. Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian, dan oran Muslim ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Damai dengan Allah, artinya berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya dan damai dengan manusia bukah saja berarti menyingkiri berbuat jahat dan sewenang-wenang kepada sesamanya, melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya. Dua pengertian ini dinyatakan dalam Alqur’an sebagai inti agama Islam yang sebenar-benarnya. Al-Qur’an menyatakan sebagai berikut :

(7)

Misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari peran yang dimainkan Islam dalam menangani berbagai problematika agama, sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya. Dari sejak kelahirannya lima belas abad yang lalu Islam senantiasa hadir memberikan jawaban terhadap permasalahan di atas. Islam sebagaimana dikatakan H.A.R. Gibb bukan semata-mata ajaran tentang keyakinan saja, melainkan sebagia sebuah sistem kehidupan yang multi dimensial (Abdullah : 2006: 43).

Dalam bidang sosial, keadaan masyarakat terbagi-bagi kedalam sosial atau kasta yang dibedakan berdasarkan suku bangsa, bahasa, warna kulit, harta benda, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Dengan sistem kelas yang demikian, maka tidak akan terjadi mobilitas vertikal yang didasarkan pada pretasinya masing-masing.

Selanjutnya dalam bidang ekonomi, ditandai oleh praktik mendapatkan uang dengan menghalalkan segala cara, seperti dengan praktik riba, mengurangi timbangan, menipu, monopoli, kapitalisme, dan sebagainya. Keadaan yang demikian itu pada gilirannya membawa mereka yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Persaingan yang tidak sehat terjadi diantara mereka. Manusia telah menjadi budah dari harta benda.

Selanjutnya dalam bidang pendidikan, ditandai oleh keadaana di mana pendidikan atau ilmu pengetahuan hanya milik kaum elit. Rakyat dibiarkan bodoh sehingga dengan mudah dapat disesatkan akidahnya dan selanjutnya dengan mudah dapat diperbudak.

Dalam pada itu pada masa kedatangan Islam di bidang kebudayaan ditandai oleh keadaan masyarakat yang semata-mata mengikuti hawa nafsu syahwat dan nafsu duniawi. mereka gemar melakukan mabuk-mabukan, foya,foya, berzina, berjudi, dan sebagainya. Mereka tenggelam dalam dosa- dosa maksiat.

(8)

Jelasnya untuk mengenal Islam, kita tidak memilih satu pendekatan saja, karena Islam bukanlah berdimensi satu. Islam bukanlah agama yang didasarkan semata-mata pada perasaan-perasaan mistik manusia atau hanya terbatas kepada hubungan antara Tuhan dan manusia. Ini hanya dimensi dari akidah Islam

Untuk itulah umat islam harus mempelajari Metodelogi Study Islam karena agama islam bukanlah agama teoritis saja tetapi butuh kepada explementasi, sehingga umat islam dapat memahami islam secara mendetail. Dalam studi islam kita dikenalkan apa itu agama dan bagaimana kedudukan agama islam dimuka bumi ini, sehingga orang islam bias mencapai tujuan akhir dalam menjalankan agama islam itu sendiri.

Dalam studi Islam dengan pendekatan ilmiah-empiris terhadap fenomena agama yang muncul akan membangun keilmuan Islam pemilahan tersebut akan lebih menjernihkan fenomena agama secara jelas dalam lingkaran Apllied scences yang berhubungan dengan persoalan yang berhubungan dengan persoalan agama yang bersifat Tabbudy eksklusif dan lingkaran pure sciences yang berhubungan dengan persoalan

agama yang bersifat tazquly (Abdullah, 2000 : 17). Perkembangan studi agama yang nampak terutama pada model pendekatan diatas memberi peluang pesat munculnya cabang keilmuan keagamaan seperti, sejarah agama, psikologi agama, antropologi agama, dan lain-lain (Abuddin: 2005: 95).

Jika dilihat dari segi normatif islam lebih merupakan agama yang dapat berlakukan kepada paradigma ilmu pengetahuan yaitu paradigma analisis, kritis, jika dilihat dari segi historis islam dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena ia dipraktikan oleh manusia dan tumbuh serta berkembang dalam kehidupan manusia, sehingga ia bisa disebut sebagai ilmu keislaman atau islamic studies.

(9)

agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran tentang akidah ibadah, membaca Al Qur’an dan akhlak.

Kini jelaslah bahwa yang dimaksud dengan metodologi studi islam adalah sebuah kajian yang sistematis menggunakan pendekatan empiris tentang islam sebagai ajaran agama dan islam yang berwujud kebudayaan dalam kehidupan umat islam dengan tujuan untuk dapat lebih memahami islam secara rasional dan dapat dipraktikan dalam kehidupan umat secara nyata.

D. Pengertian Dan Karakteristik Era Millenial

Istilah generasi millenial atau sering juga disebut generasi Y memang sedang akrab terdengar, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dua pakar sejarah dan juga penulis amerika, William strauss dan Neill howe dalam beberapa bukunya. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini, namun pada awalnya penggolongan pada generasi ini terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1990 dan juga pada awal 2000,dan seterusnya (Farizna: 2017).

Pada saat ini generasi millenial lebih memilih ponsel dibanding TV, sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi, dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup mereka, maka televisi bukanlah prioritas generasi millenial untuk mendapatkan informasi atau melihat iklan yang tidak ada pentingnya. Generasi millenial lebih suka mendapatkan informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti generasi ini untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar. Jika dihadapkan pada sebuah pilihan, mayoritas generasi sekarang akan lebih memilih ponsel daripada TV.

Winastiti (2016) mengutip penelitian dari Pew Research Center menyebutkan bahwa karakteristik pemuda era millenial sebagai berikut:

a. Millennial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah. b. Millennial lebih memilih ponsel dibanding TV

c. Millennial wajib punya media sosial.

d. Millennial kurang suka membaca secara konvensional. e. Millennial lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka. f. Millennial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif.

(10)

Islam merupakan agama yang rahmatal lil ‘alamiin. Ajaran- ajaran yang terkandung di dalamnya menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Baik dari segi moral, sosial, ekonomi, maupun politik. Oleh karenannya Islam mudah diterima oleh masyarakat. Kehiudupan di dunia dalam Islam, diatur dalam hukum mua’malah (fiqih mu’amalah). Sementara untuk menuju kehidupan akhirat, diatur dalam hukum ibadah

(fiqih ibadah).

Islam lahir kurang lebih sejak 1500 tahun yang lalu. Al-Qur’an sebagai hukum tertinggi di dalam Islam mempunyai peranan penting untuk menjawab persoalan-persoalan manusia saat ini. Sementara redaksi Al-Qur’an tidak pernah berubah sejak diturunkannya kepada Nabi Muhammad. Selain itu, permasalahan-permasalahan saat ini tentunya berbeda dengan permasalahan yang ada pada zaman Rosulullah.

Karakteristik yang dibawa era millenial merupakan tantangan tersendiri bagi umat Islam. Sebagai umat Islam tentunya tidak mungkin untuk menepis arus perubahan yang begitu cepat. Mengkaji ulang sumber-sumber hukum Islam adalah salah satu cara agar umat Islam mampu mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari pada itu, metode pengkajian-pengkajian teks-teks hukum juga perlu dikembangkan lebih luas. Sebab, metode ataupun pendekatan ulama’ terdahulu atau pun ulama’ kontemporer dirasa belum menjawab persoalan-persoalan umat saat ini.

Baidhawy (2011: 15-16) menunjukan kekeliruan-kekeliruan metodologis umat Islam sebagai berikut:

a. Kesalahan pemahaman realitas dan bagaimana berhubungan dengannya disebabkan mangabaikan sepenuhnya apa yang nyata dan apa yang merupakan ideal-ideal nyata tanpa menerapkan apa yang nyata kepada yang ideal dalam kehidupan sehari-sehari. b. Kesalahan memahami hubungan antara sebab dengan akibat, khususnya tentang doktrin yang tergantung kepada Tuhan kemudian dimaknai dengan pengahapusan peran sebab dalam penciptaanya dan akibatnya.

c. Kekeliruan dalam memahami pandangan komprehensif Islam tentang alam.

(11)

kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut pandang (Perspektif). Lebih lanjut penulis menjelaskan studi interdisipliner menghasilkan ahli hukum, ahli ekonomi, ahli fisika, ahli teknik yang memiliki wawasan dasar Islam; termasuk juga mampu menampilkan konsep-konsep yang berwawasan Islami (Muhadjir 1994: 182). Dengan kata lain, interdisipliner merupakan kajian yang menggabungkan beberapa bidang keilmuan.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) tidak mungkin bisa ditepis lagi. Paradigma interdisipliner menawarkan pandangan dunia manusia beragama dan ilmuan yang baru yang lebih terbuka mampu membuka dialog dan kerjasama, transparan, dapat dipertanggungjawabkan kepada public dan berpandangan ke depan. Hubungannya dengan berbagai disiplin keilmuan menjadi semakin terbuka dan cair, meskipun blok-blok dan batas-batas wilayah antara budaya pendukung keilmuan yang bersumber pada teks-teks dan budaya pendukung keilmuan factual-historis-empiris, yakni ilmu-ilmu sosial dan kealaman serta budaya pendukung keilmuan etis filosofis masih tetap ada. Hanya saja, cara berfikir dan sikap ilmuan yang membidangi dan menekuni ilmu-ilmu ini yang perlu berubah. Tegur dan saling menyapa antara ketiganya dalam birokrasi pendidik, baik dalam level prodi, jurusan maupun fakultas, dan terlebih lagi dalam diri para ilmuan, dosen, akademisi atau researchers, yang termanifestasikan dalam keanekaragaman perspektif yang digunakan untuk mengkaji dan menganalisa persoalan, program penelitian, tatap muka perkuliahan, pengembangan kurikulum serta evaluasi pembelajarannya menjadi sibghah dan core values yang harus dipegang teguh dan dikembangkan terus-menerus oleh para pelaku transformasi (M.Amin Abdullah, 2010). Oleh karenanya, sebagai umat Islam, hendaknya juga tidak menutup diri dari bidang-bidang keilmuan yang lain.

(12)

di era millenial ini, banyak orang lebih suka bertransaksi secara online. Hal ini tentunya menjadi problematika tersendiri bagi umat Islam. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian dengan pendekatan sosio-historis. Yaitu, dalam memahami Al-Qur’an dan sunah tidak hanya berdasarkan teks saja, akan tetapi sebab turunya ayat, serta kondisi budaya masyarakat pada waktu itu juga perlu di kaji. Sehingga akan mendapatkan pemahaman yang utuh dari maksut dan tujuan ayat tersebut.

Selain itu, menanggapi karakteristik generasi saat ini, yang cenderung lebih suka menggunakan smartphone. Hal ini tentunya menimbulkan beberapa dampak, baik negatif ataupun positif. Negatifnya adalah berkurangnya kepekaan sosial atau dalam istilahnya adalah anti sosial. Sebab mereka sibuk dengan smartphon yang mereka miliki. Positifnya adalah mereka lebih mudah mendapatkan informasi dari berbagai bidang. Maka dari itu, hendaknya sebagai umat Islam harus lebih bijak dalam penggunaan teknologi. Lebih lanjut penulis menjelaskan penggunaan teknologi haruslah didasarkan pada prinsip efektivitas dan efisiensi. Selain itu, dalam hal pengkajian teks-teks keagamaan,

hendaknya umat Islam tidak menutup diri dari bidang keilmuan yang lain. hal ini dimaksudkan dalam rangka untuk mendapat produk hukum yang sesuai dengan tuntutan zaman saat ini.

F. Penutup

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam melakukan kajian terhadap keilmuan, ada berbagai pendekatan keilmuan yang dapat digunakan untuk menguak dan menemukan formulasi terhadap kajian secara mendalam dan spesifik. Namun sesuai perkembangan waktu, kajian monodisiplin yang hanya membidik pada satu frame of work. Sementara tuntutan era millenial dibutuhkan kajian yang dapat membidik dari berbagai sudut sehingga akan mendapatkan pemahaman yang holistik dan komprehensif.

(13)

pendekatan antropologis, sosiologis, filosofis, hukum dan sebagainya secara bersama-sama (interdisipliner), akan dapat menguak fakta secara utuh tanpa ada potongan-potongan pemahaman. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa antara pendekatan monodisiplin maupun interdisiplin tetap membawa karakteristik masing-masing sebagai ciri dan kosekuensi pilihan bagi orang yang menggunakannya.

Demikian uraian yang bisa penulis sajikan, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk mendapatkan kajian yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Abdullah, Yatimin. 2006. Studi Islam Kontenporer. Jakarta : Amzah.

Abdul Rozak. 2008. Metodologi Studi Islam, Bandung : Pustaka Setia

Abdullah ,Muhammad Amin. 2010. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif,Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Abdullah, Muhammad Amin. 2000. Rekonstruksi Metodologi Studi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multireligius, dalam M. Amin Abdullah, dkk. (Ed.),

(14)

Ali ,Mukti. 1991. Metodologi Ilmu Agama Islam, dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (Ed.). Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Tiara Wacana. Baidhawy, Zakiyuddin. 2011. Islamic Studies : Pendekatan dan Metode. Yogyakarta: Insan

Madani.

Farizna, Aldilla. 2017. Zaman Generasi Millenial (Online), (

https://www.kompasiana.com/121199/59f9bccd5169955a6c2aba62/zaman-generasi-milenial, diakses 25 Desember 2017)

Mudzahar , Atho. 2007. Pendekatan Studi Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Muhadjir, Noer, 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Bayu Indra Grafika. Nata, Abuddin. 2005. Metodologi Studi Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Winastiti, Agnes. 2016. Genereasi Millenial dan Karakteristiknya (Online), ( https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20160823145217-445-153268/generasi-millenial-dan-karakteristiknya, diakses 25 Desember 2017)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...