Permasalahan Tambang di Indonesia
Pertambangan merupakan pilar penting pembangunan di Indonesia. Sektor ini telah lama menjadi sektor utama penyumbang pemasukan kas negara. Namun, mulai tahun 2011 hingga saat ini sektor ini sedang mengalami tren penurunan. Harga komoditi barang tambang mineral dan batubara mengalami pemerosotan dan belum menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Indonesia sebagai negara yang kaya akan komiditi tambangnya pun merasakan pengaruhnya. Mirisnya, Indonesia tidak dapat menentukan harga komoditi-komodi tambangnya sendiri. Harga semua komoditi tersebut ditentukan oleh pasar sehingga harga komoditi sangat rentan terhadap dinamika permintaan dan penawaran dunia. Selain itu, perang, iklim ekonomi, embargo ekonomi, kebijakan luar negeri, dan harga komoditi energi lain seperti minyak bumi juga dapat turut memengaruhi penentuan harga pasar.
Dilihat dari segi peran pelaku pertambangan di Indonesia, permasalahan pertambangan di Indonesia dapat dibagi menjadi dua, yakni permasalahan yang dimiliki oleh pemerintah selaku pemilik lahan dan regulator dan perusahaan selaku pengeksploitasi lahan , pengelola, pengekspor dan pihak yang menaati regulasi komoditi tambang. Masing-masing memiliki kepentingan dan tujuan. Kepentingan dan tujuan tersebut mungkin berbeda, tetapi dibutuhkan kerjasama yang sinergis dari kedua pihak tersebut demi pembangunan bangsa Indonesia. Hal tersebut yang menjadi tantangan Indonesia saat ini dan di masa depan. Pemerintah dan perusahaan harus saling berkompromi memecahkan permasalahan yang timbul tanpa ada pihak yang dirugikan.
Permasalahan bagi perusahaan-perusahaan tambang ditimbulkan dari luar maupun dari dalam perusahaan. Dari luar berkaitan dengan permintaan pasar dan berlakunya UU Minerba No.4 tahun 2009. Dari komoditi batubara misalnya, harganya sedang turun di Indonesia karena ekonomi dunia juga sedang turun. Indonesia memproduksi sekitar 450 juta mton batubara pertahun, tetapi hanya 30% yang digunakan di dalam negeri, sisanya diekspor. Namun, sejak tahun 2011 permintaan batubara dari luar negeri seperti Eropa dan Asia Timur yang dahulu merupakan pasarnya Indonesia sangat jauh lebih sedikit daripada produksi batubara negara-negara pengekspor seperti Indonesia. Itu berakibat dengan penurunan harga komoditi batubara hingga saat ini. Saat ini, nikel dan bauksit sendiri pasarnya tidak ada (minim). Dahulu, harga nikel dan bauksit sempat naik tinggi saat ada pembangunan di negara-negara lain. Efeknya ekspor tambang nikel dan bauksit juga semakin meningkat. Tujuan negara penerima ekspor utama saat itu Cina. Namun, sejak Cina memberlakukan kebijakan larangan impor dan menggenjot pemanfaatan sumber daya mereka sendiri, nilai ekspor nikel dan bauksit jadi turun kembali dan berdampak kepada turunnya harga keduanya.
menurun drastis bahkan ada yang rugi. Contohnya adalah yang dialami PT ANTAM. Tahun lalu (2014), ANTAM merugi sebesar 200 Milyar rupiah. Untuk tahun 2015 ini, pada kuartal pertama saja ANTAM sudah merugi 50 Miliyar rupiah. Itu disebabkan ANTAM juga membangun smelter-smelternya sendiri. Di Pemala, Sulawesi Tenggara, ada tiga smelter milik ANTAM yang ketiganya adalah tempat pengolahan nikel. Modal untuk membangun ketiga smelter ini sebesar 750 Milyar USD. Itu alasan mengapa pembangunan smelter oleh perusahaan-perusahaan tambang sampai saat ini belum dilakukan? Hal ini dikarenakan pemabangunan smelter itu biayanya besar. Setiap perusahaan tambang memiliki feasibility study. Contohnya adalah Valley. Valley ini sampai saat ini punya Kontrak Karya yang besar sekali di Pemala. Lebih besar dari yang dimiliki ANTAM. Namun, mereka tetap saja sampai saat ini belum membangun smelter. Mengapa? Karena berdasarkan feasibility study yang mereka lakukan memang memberikan kesimpulan ketidaklayakan untuk membangun smelter disana. Hal yang sama juga dialami PT Freeport Indonesia di Mimika. Mereka terpaksa menjalin kerjasama dengan perusahaan lainnya di Gresik untuk ekspansi smelter di sana. Karena Freeport adalah perusahaan yang memiliki sumber daya yang besar , mereka dapat bertahan. Perusahaan tambang yang kecil dengan modal minim banyak gulung tikar.
Selain masalah smelter, permasalahan utamanya adalah masalah regulasi proyek pertambangan. Di Indonesia regulasi cepat sekali berubah. Contohnya, mengurus IUP sering kali berubah. Awalnya melalui pemerintah daerah. Namun, kemudian regulasi meminta para pelaku industri untuk mengurus IUP secara terpusat. Padahal kan menjaga hubungan baik dengan Pemda itu kan mahal. Yang paling disakiti itu para pelaku industri tambang. Apalagi yang modalnya pas-pasan. Terkait tambang emas, Indonesia memiliki permasalahannya sendiri berkaitan dengan regulasi sistem penambangan. Permasalahannya adalah tidak ada daerah di Indonesia yang boleh dilakukan penambangan secara open pit. Padahal tambang emas dengan kadar yang tinggi biasanya dapat dimaksimalkan dengan tambang open pit. Kalaupun ada, tambang open pit tersebut pasti langsung dijadikan hutan lindung. Salah satu contoh kasusnya di Jambi. Pada awalnya sudah ada IUP yang mengizinkan pertambangan Open Pit di daerah tersebut dan sudah ada pernyataan bahwa di daerah tersebut tidak akan ada area yang akan dijadikan hutan lindung. Namun, pada akhirnya tambang tersebut akhirnya ditutup dan dijadikan hutan lindung. Jadi, tambang open pit sebenarnya secara regulasi tidak diperbolehkan di Indonesia. Apalagi di Pulau Jawa. Kebanyakan tambang open pit yang masih beroperasi adalah tambang-tambang ilegal.
Perusahaan tambang mengeluhkan beberapa masalah internal, umumnya seperti musim penghujan yang berkepanjangan selama berbulan-bulan sehingga produksi kami tidak optimal, masalah pembebasan lahan masyarakat yang tidak menyetujui adanaya pertambangan di wilayah tempat tinggal mereka, dan adanya kesulitan negosiasi dengan perusahaan-perusahaan di bidang lain, seperti perusahaan kelapa sawit yang memiliki lahan prospek tambang. Selain itu ada perusahaan yang memiliki masalah khusus, seperti PT Freeport Indonesia. Pertama, keterbatasan infrastruktur papua yang menyulitan untuk melakukan operasi penambangan. Kedua, tentang pelayanan publik dan sosial yang mana permasalahan penduduk sekitar seutuhnya diserahkan kepada PT Freeport Indonesia. Karena kota Mimika merupakan kota berkembang, banyak penduduk papua dan luar papua yang migrasi ke Mimika dan memicu masalah sosial. Ketiga, penetapan regulasi (masalah kepemilikan tanah) masih lemah. Keempat, terdapat banyak pendulang emas ilegal yang menggunakan bahan berbahaya terhadap lingkungan. Kelima, permasalahan keamanan banyak terjadi kasus penembakan yang meresahkan para pekerja di PT. Freeport Indonesia.
Tidak hanya perusahaan saja yang memiliki masalah, tetapi pemerintah juga kerap memiliki masalah. Setiap perusahaan pertambangan harus memiliki amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) agar lingkungan tidak rusak dan dapat dijadikan tempat yang dapat bermanfaat. Jadi, Good Mining Practice seharusnya dapat terlaksana. Namun kenyataannya, banyak yang meninggalkan tempat bekas penambangan dalam kondisi tidak layak, karena penegakan hukum di Indonesia belum maksimal. Dinas sebenarnya hanya akan memberikan perizinan jika rancangan pertambangan sesuai dengan kriteria. Izin juga mempermudah pengawasan terhadap aktivitas penambangan. Penambangan liar yang mengatasnamakan rakyat adalah penambangan yang tidak bisa diawasi, karena rakyat merasa tanah yang ditambang merupakan milik sendiri dan bukan milik negara. Dinas tidak bisa menjamin keselamatan kerja rakyat, serta aktifitas penambangannya sehingga tidak dapat memastikan apakah penambangan yang dilakukan secara liar itu aman bagi masyarakat maupun lingkungan.
Kurangnya SDM di instansi pemerintah turut memperlemah fungsi pengawasan pemerintah khususnya di daerah. Permasalahan di Dinas ESDM Jabar yaitu kurangnya SDM lulusan tambang. Hanya ada 5-10 lulusan tambang dari 200 karyawan yang mengurusi 800 perusahaan tambang. Pemerintah merekrut orang berdasarkan anggaran dan prioritas. Misalnya, gubernur mempunyai program yang condong ke pendidikan maka anggaran lebih banyak ke pendidikan. Lalu jika 1 orang mengawasi pertambangan selama 1 hari dengan anggaran sebesar sesuatu, maka kalikan dengan 1000 hari kerja hasilnya akan sangat banyak. Kadang media juga salah kaprah tentang pengawasan pertambangan yang diisukan hanya “jalan-jalan”. Padahal pengawasan harus ada di lapangan dan mengawasi lereng, teknik, alat, safety ,dsb. Sistem pengawasan juga membingungkan karena adanya beberapa instansi yang bertumpang tindih kepentingan. Masalahnya UU itu tidak berkoordinasi dengan UU sektor lain, misalnya kehutanan dan lingkungan. Banyak tambang yang berada di dalam hutan lindung.
harusnya sudah ada koordinasi dengan baik agar dapat berkoordinasi dengan kementrian lain dengan baik. Masalah lingkungan akan teratasi jika dokumen amdal dilaksanakan dengan baik disertai pengawasan ketat oleh Dinas ESDM sendiri. Perizinan mengenai kegiatan penambangan serta penegakan hukum di Indonesia harus dibenahi, agar kekayaan alam di Indonesia dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3, yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”.