• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN SUSPENSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN SUSPENSI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

FARMASEUTIKA 1

SEDIAAN SUSPENSI I,II,III & SUSPENSI REKONSTITUSI KLORAMFENIKOL PALMITAT & PARASETAMOL

1 - 22 Mei & 5 juni 2013

DISUSUN OLEH KELOMPOK 8 :

1. LAMBANG NURCAHYO (0661 12 ) (ketua)

2. RISNAWATI (0661 11 146)

3. ERLINDA SARI (0661 11 147)

4. AFIF PERMADI (0661 11 148)

DOSEN PEMBIMBING : Septia Andini, S.Farm., Apt. Drs. Muztabadihardja., Apt.

Siti Sa’diah, M.Si., Apt.

LABORATORIUM FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PAKUAN

BOGOR 2013 BAB I PENDAHULUAN I.1. Tujuan Percobaan

a. Suspensi I

Mengetahui cara membuat formula sediaan suspensi, pengaruh bahan pembasah dan cara pengembangan bahan pensuspensi yang digunakan.

(2)

Mengetahui dan melihat pengaruh bahan suspensi alam dan semi sintetis tunggal dan campuran dalam suspensi, dengan penambahan konsentrasi bahan pembasah yang paling baik dari hasil pengamatan praktikum suspensi I.

c. Suspensi III

Melihat pengaruh bahan pengental dan alat pengaduk dengan konsentrasi bahan pensuspensi serta konsentrasi bahan pembasah yang paling baik hasil pengamatan praktikum suspensi II.

d. Suspensi Rekonstitusi

Mengetahui cara membuat formula suspensi kering / rekonstitusi , dan mengamati pengaruh bahan pembantu terhadap formula suspensi kering.

I.2. Dasar Teori

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan– lahan, endapan harus terdispersi kembali. Dapat di tambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah di gojog dan di tuang .

Secara umum sediaan suspensi terdiri dari :

1. Bahan berkhasiat dengan kelarutan yang relatif kecil didalam fasa pendispersi.

Sifat partikel yang harus diperhatikan adalah : ukuran partikel dan sifat permukaan padat-cair. Partikel yang terdispersi dapat bersifat hidrofilik dan hidrofobik. Untuk partikel yang hidrofobik perlu dilakukan proses pembasahan terlebih dahulu agar dapat terdispersi dengan sempurna dalam pelarut. Bahan pembasah yang lazim dipakai adalah surfaktan yang mempunyai sifat dapat menurunkan tegangan permukaan antara zat padat dengan zat cair. Humektan merupakan bahan pembasah yang dapat menghilangkan lapisan udara di sekitar zat padat yang terdispersi, sehingga lebih mudah dibasahi oleh pelarut. Untuk zat padat yang bersifat hidrofob lebih baik digunakan surfaktan sebagai zat pembasah, karena dengan berkurangnya tegangan permukaan padat-cair proses pembasahan zat padat yang terdispersi akan lebih baik.

2. Bahan pembantu

(3)

Bahan pensuspensi yang ditambahkan kedalam sediaan suspense adalah untuk memodifikasi viskositas fasa luar dan mencegah terjadinya proses pengendapan zat padat yang terdispersi dalam fasa luar.

Pembawa atau fasa luar : sirup, sorbitol, air Dapar

Pengawet

Flavor : pewarna, pemanis, penutup rasa.

Dalam pembuatan suspensi harus diperhatikan beberapa faktor anatara lain sifat partikel terdispersi ( derajat pembasahan partikel ), Zat pembasah, Medium pendispersi serta komponen – komponen formulasi seperti pewarna, pengaroma, pemberi rasa dan pengawet yang digunakan. Suspensi harus dikemas dalam wadah yang memadai di atas cairan sehigga dapat dikocok dan mudah dituang. Pada etiket harus tertera “Kocok dahulu dan di simpan dalam wadah tertutup baik dan disimpan di tempat yang sejuk “.

Bahan penambah yang ditambahkan ke dalam sediaan suspensi selain bahan berkhasiat dan pembawa,ditambahkan juga bahan lain yaitu :

1. Bahan pendispersi

Bahan pendispersi dalam suspensi dikelompokan menjadi 4 kelompok yang digunakan berdasarkan tipe dispersi, konsentrasi yang di butuhkan dan sifat fisika kikia bahan yang didispersikan.

 Bahan pembasah

Bahan pembasah biasanya digunakan surfaktan yang dapat memperkecil sudut kontak antara partikel zat padat dan larutan pembasah. Surfaktan yang diabsorpsi pada permukaan gas cair dan permukaan padat cair akan menurunkan tegangan permukaan sehingga mempermudah pembasahan serbuk. Sebagai pembasah lainnya dapat digunakan alkohol, polietilen glikol dan propilenglikol yang berfungsi sebagai humektan dengan cara memperbesar penetrasi serbuk ke dalam pembawa.

 Deflokulan

Partikel padat yang terdispersi akan terdeflokulasi di dalam pembawa. Sebagai deflokulan dipakai garam organik asam sulfat yang berfungsi merubah muatan pada permukaan karena terjadi adsorpsi secara fisik.

 Koloid pelindung

Yang dapat teradsorpsi oleh partikel padat yang terdispersi, membentuk ikatan hidrogen yang dapat menguraikan interaksi molekul partikel yang terdispersi

(4)

 Elektrolit anorganik

Daya dispersi tergantung dari ukuran partikel dan valensi dari elektrolit. Yang banyak digunakan adalah NaCL,alummunium klorida, trisodium fosfat.

2. Bahan pensuspensi

Yang digunakan untuk mencegah pengendapan dengan merubah rhelogi dari sediaan suspensi dan menaikan viskositasnlarutan.

Keuntungan Sediaan Suspensi :

a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya obat .

b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan.

c. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.

Kerugian Bentuk Suspensi :

a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.

b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.

c. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .

Sifat Fisik untuk Formulasi Suspensi yang Baik.

Ada beberapa faktor yang harus dipenuhi dalam mengembangkan suatu bentuk suspensi yaitu:

a. Suspensi harus tetap homogen pada suatu periode, paling tidak pada periode pengocokan dan penuangan sesuai dengan dosis yang dikehendaki.

b. Pengendapan yang terjadi saat penyimpanan harus mudah didispersikan kembali pada saat pengocokan.

c. Suspensi harus kental untuk mengurangi kecepatan pengendapan partikel yang terdispersi, tapi viskositas tidak boleh terlalu kental sehingga menyulitkan saat penuangan.

d. Partikel suspensi harus kecil dan seragam sehingga memberikan penampilan hasil jadi yang baik dan tidak kasar.

(5)

BAB II

DATA PREFORMULASI Suspensi I, II, dan III

Data yang diperlukan sebagai berikut :

Tanggal : 1 - 22 Mei 2013

 Penelusuran Pustaka : Farmakope Indonesia Edisi III dan IV, MIMS

 Tanggal : 22 Mei 2013

 Nama senyawa : CHLORAMPHENICOLUM

Kloramfenikol  Rumus Molekul : C11H12Cl2N2O5

 Data Preformulasi

1. Warna : Putih sampai putih kelabu atau putih kekuningan

2. Rasa : Sangat pahit

3. Bau : Tidak berbau

4. Organoleptik : Hablur halus berbentuk jarum atau Lempeng memanjang 5. Sifat : Higroskopis 6. Mikroskopik : 7. Polimorfisa : 8. Ukuran Partikel : 9. Berat Molekul : 323,13 10. Kelarutan

a. Air : Larut (< 400 bagian)

b. Etanol (95%) : Larut (2,5 bagian) c. Propilen glikol : Larut (7 bagian)

(6)

d. Kloroform : Tidak larut

e. Eter : Tidak larut

11. Titik didih :

12. Titik Lebur : Antara 1490 Cdan 1530 C.

13. Kerapataan massa : 1,52 g/cm3 (20C)

14. pH (% dalam air) : Antara 4,5 dan 7,5. II. Suspensi Rekonstitusi

Data yang diperlukan sebagai berikut :

Tanggal : 5 juni 2013

Nama Bahan Berkhasiat : Paracetamol Data Preformulasi

1. Warna : Putih

2. Rasa : Sedikit pahit

3. Bau : Tidak berbau

4. Organoleptik : 5. Mikroskopik : 6. Polimorfisa : 7. Ukuran partikel : 8. Kelarutan dalam

Air : Larut dalam air mendidih, mudah larut dalametanol.

Etanol : Mudah larut dalam etanol 70 dalam air, 1: 20 dalam air panas, 1 : 7-10 dalam alkohol

9. Titik leleh :

10. Kerapatan masa bahan berkhasiat tunggal dan dalam sediaan ruahan : 11. pH ( % dalan air ) :

12. pKa koefisien partisi : 13. Kecepatan disolusi :

14. Data stabilitas sediaan ruahan dan sediaan jadi :

BAB III METODE KERJA III.1 Alat dan Bahan

(7)

Alat - Alumunium foil - Beaker glass - Cawan uap - Gelas ukur - Kaca arloji - Kain batis - Kompor lisrik - Lap - Pipe ttetes - Mortar alu - Spatel - Sudip - Tabung sedimentasi - Timbangan  Bahan Suspensi I : - Aqua ad 60 ml - Gliserin - Kloramfenikol - Na – Benzoat - Tragakan Suspensi II : - Aqua ad 60 ml

- Bahan pembasah (gliserin) - Kloramfenikol

- Bahan pensuspensi ( PGA : CMC, 1:1 ),(tragakan : PGA 1 : 1), (Tilosa : CMC 1:1 ), (Tragakan : CMC 1:1 ) - Na – benzoate Suspensi III : - Aqua ad 60 ml - ( Tragakan : PGA) - Kloramfenikol - Na- benzoate - Sirup simplek - Sorbitol

- Zat warna (Biru) dan essence (blueberry) Suspensi Rekonstitusi : - Aerosil - Air ad 60 ml - CMC na - Corn starch - Essence - Gula

(8)

- Na – benzoate - Parasetamol III. 2 Formula Suspensi I Formula 1 2 3 4 Khloramfenikol 2% Gliserin 0% 1,5% 3% 3% Na-Benzoat 0,1% 0,1% 0,1% 0,1% Tragakan 2% 2% 2% 0% Aqua ad 60ml 60ml 60ml 60ml Penimbangan :  Khloramfenikol palmitat : Formula I,II,III,IV= 100 x 60ml =1200mg 2  15 ml60 ml x 1200mg = 300mg  Gliserin: Formula I = 0 gr Formula II = 100 x 60 ml = 0,9 gr1,5 Formula III = 100 x 60 ml = 1,8 gr3 Formula IV = 100 x 60 ml = 1,8 gr3  Na-Benzoat:

(9)

Formula I,II,III,IV = 100 x 60 ml = 0,06 gr0,1  Tragakan: Formula I,II,III= 100 x 60 ml = 1,2 gr2 Formula IV = 0 gr  Aqua ad: Formula I,II,III,IV= 60 ml Suspensi II Bahan 1 2 Formula 3 4 Khloramfenikol 2% 2% 2% 2% Gliserin 3% 3% 3% 3% Na-Benzoat 0,1% 0,1% 0,1% 0,1%

Suspending agent PGA:CMC 1% : 1% Tragakan:PGA 1%:1% Tilosa:CMC 1%:1% Tragakan:CM C 1%:1% Aqua ad 60ml 60ml 60ml 60ml Penimbangan :  Khloramfenikol : Formula I,II,III,IV= 100 x 60ml =1200mg 2  15 ml60 ml x 1200mg = 300mg  Gliserin: Formula I,II,III,IV = 100 x 60 ml = 1,8 gr3  Na-Benzoat: Formula I,II,III,IV = 100 x 60 ml = 0,06 gr0,1  Suspending agent: Tragakan = 100 x 60 ml = 0,6 gr1

(10)

PGA = 100 x 60 ml = 0,6 gr1 CMC = 100 x 60 ml = 0,6 gr1 Tilosa = 100 x 60 ml = 0,6 gr1  Aqua ad: Formula I,II,III,IV= 60 ml Suspensi III Bahan Formula 1 2 Khloramfenikol 2% 2%

Gliserin (wetting agent) 3% 3%

Tilosa: CMC (Supending agent) 1%:1% 1%:1%

Pengental Sirupus simplex 30% Sirup:Sorbitol

Pengawet Na-Benzoat Na-Benzoat

Aqua ad 60ml 60ml Penimbangan :  Khloramfenikol : Formula I,II= 100 x 60ml =1200mg 2  15 ml60 ml x 1200mg = 300mg  Gliserin: Formula I,II= 100 x 60 ml = 1,8 gr3  Na-Benzoat: Formula I,II= 100 x 60 ml = 0,06 gr0,1  Suspending agent: Tragakan = 100 x 60 ml = 0,6 gr1

(11)

PGA = 100 x 60 ml = 0,6 gr1  Pengental :

Sirupus simplex (Formula I) = 100 x 60 ml = 18 gr30 Sirupus simplex (Formula II) = 100 x 60 ml = 12 gr20 Sorbitol = 100 x 60 ml = 6 gr10  Aqua ad: Formula I,II,III,IV= 60 ml Suspensi Rekonstitusi Bahan Formula B Paracetamol 2,5 gr Gula 30% CMC-Na 0,25% Aerosil 0,8% NaCl 1%

Zat warna 3 tetes

Essence 3 tetes Aqua ad 60ml Penimbangan :  Paracetamol = 2,5 gr  Gula 30% = 100 x 60 ml = 18 gr30  CMC-Na = 0,25100 x 60 ml = 0,15 gr  Aerosil = 100 x 60 ml = 0,48 gr0,8  NaCl = 100 x 60 ml = 0,6 gr1  Aqua ad = 60 ml

(12)

III. 3 Cara kerja

SUSPENSI I

1. Disiapkan alat dan bahan

2. Dikaliberasikan botol 60 ml, timbangan disetarakan, ditimbang bahan obat 3. Dididihkan air secukupnya

4. Dikembangkan tragakan 1,2 ml dengan air mendidih 1,8 ml (m1)

5. Dimasukan kloramfenikol kedalam mortar sebanyak 1,2 gram , Na-Benzoat sebanyak 0,06 gram, dan kloramfenikol pada formula 1 (0 ml), formula 2 ( 0,9 ml), formula 3 (1,8 ml), dan formula 4 (1,8 ml) gerus ad homogen.

6. Ditambahkan tragakan yang telah dikembangkan (m1) pada formula I, II, dan III,

sedangkan formula IV tidak menggunakan tragakan gerus ad homogen kemudian ditambahkan air ad 60ml.

7. Dituang kedalam tabung sedimentasi kemudian ditutup dengan alumunium foil.

8. Diamati tinngi larutan suspense dan tinggi endapan setelah 1 jam 1 dan 2 hari setelah pembuatan.

SUSPENSI II

1. Dipilih hasil dari suspense I yang paling baik (formula III)

2. Ditimbang kloramfenikol sebanyak 1,2 gr pada tiap-tiap formula (I,II,III,dan IV) 3. Ditambahkan Na-benzoat aduk ad homogen

4. Ditambahkan bahan pembasah gliserin 1,8ml masing-masing pada ke 4 formula 5. Dikembangkan bahan pensuspensi

6. Ditambahkan bahan pensuspensi yang telah dikembangkan, pada formula I (PGA : CMC, 1:1) , formula II (Tragakan : PGA, 1:1), formula III

(Tiloca : CMC, 1:1), formula IV (Tragakan : CMC, 1:1). 7. Aduk ad homogen kemudian ditambahkan aqua ad 60 ml

8. Dimasukan kedalam tabung sedimentasi yang telah dikalibrasi ad 60 ml, tutup dengan menggunakan alumunium foil.

9. Diamati tinngi larutan suspensi dan tinggi endapan setelah 1 jam 1 dan 2 hari setelah pembuatan.

SUSPENSI III

1. Dipilih hasil dari suspensi II yang paling baik (formula II)

2. Ditimbang kloramfenikol sebanyak 1,2 gr pada tiap-tiap formula (I dan II) 3. Ditambahkan Na-benzoat aduk ad homogen

4. Ditambahkan bahan pembasah gliserin 1,8ml masing-masing pada ke 2 formula aduk ad homogen

5. Dikembangkan bahan pensuspensi

6. Ditambahkan bahan pensuspensi yang telah dikembangkan, pada formula I dan II (Tragakan : PGA, 1:1)

(13)

7. Ditambahkan sirup simplek 18 ml pada formula I, sedangkan pada formula II ditambahkan sirup simplek:sorbitol (12ml:6ml) aduk ad homogen

8. Ditambahkan zat warna (Biru) dan essence (Blueberry) aduk ad homogen kemudian ditambahkan aqua ad 60 ml

9. Dimasukan kedalam tabung sedimentasi yang telah dikalibrasi ad 60 ml, tutup dengan menggunakan alumunium foil.

10. Diamati tinngi larutan suspensi dan tinggi endapan setelah 1 jam 1 dan 2 hari setelah pembuatan.

Suspensi Rekonstitusi

Tabung 1

1. Dididihkan aqua didalam beaker glass diatas penangas air. 2. Tabung Sedimentasi dikalibrasi 60 ml.

3. Ditimbang bahan berkhasiat (paracetamol) dan bahan pembantu (gula, CMC-Na, aerosil, NaCl) yang sesuai dengan formula.

4. Dihaluskan gula sampai ukuran partikel tertentu.

5. Dihaluskan bahan berkhasiat (Paracetamol) sampai ukuran partikel tertentu. 6. NaCl dilarutkan dalam air panas sambil diaduk hingga larut sempurna.

7. Dicampurkan bahan-bahan (gula, paracetamol, CMC-Na, aerosil, NaCl) digerus hingga halus.

8. Ditambahkan zat warna yang telah dilarutkan dalam air lalu gerus hingga homogen. 9. Masukkan kedalam tabung sedimentasi

10. Ditambahkan essence 3 tetes

11. Ditambahkan aqua ad 60 ml dan tabung kemudian ditutup dengan alumunium foil.

Tabung 2

1. Dididihkan aqua didalam beaker glass diatas penangas air. 2. Tabung Sedimentasi dikalibrasi 60 ml.

3. Ditimbang bahan berkhasiat (paracetamol) dan bahan pembantu (gula, CMC-Na, aerosil, NaCl) yang sesuai dengan formula.

4. Dihaluskan gula sampai ukuran partikel tertentu.

5. Dihaluskan bahan berkhasiat (Paracetamol) sampai ukuran partikel tertentu. 6. NaCl dilarutkan dalam air panas sambil diaduk hingga larut sempurna.

7. Dicampurkan bahan-bahan (gula, paracetamol, aerosil, NaCl) digerus hingga halus. 8. Ditambahkan zat warna yang telah dilarutkan dalam air sedikit demi sedikit 9. Lalu di ayak dengan pengayak no 16

(14)

10. Dimasukkan kedalam oven dengan dilapisi kain batis 11. Masukkan kedalam tabung sedimentasi

12. Ditambahkan essence 3 tetes

13. Ditambahkan aqua ad 60 ml dan tabung kemudian ditutup dengan alumunium foil.

BAB IV

HASIL & PEMBAHASAN

IV.1. Hasil Percobaan Suspensi I 1. Hari ke-1

Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

I 10,5 cm - - Agak sulit

(15)

II 10,1 cm - - Agak sulit dikocok III 10,3 cm - - Mudah dikocok IV 10,6 cm 0,5 cm 0,047cm Cepat mengendap 2. Hari ke-2 Formula

Perbandingan tinggi larutan suspensi dengan tinggi

endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

I 10,5

cm - - Agak sulit dikocok

II 10,2

cm - - Agak sulit dikocok

III 10,4 cm - - Mudah dikocok IV 10,4 cm 0,5 cm 0,048 cm Cepat mengendap 3. Hari ke-3 Formula

Perbandingan tinggi larutan suspensi dengan tinggi

endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

I 10,5

cm - - Agak sulit dikocok

II 10,2

(16)

III 10,3 cm - - Mudah dikocok IV 10,6cm 0,5 cm 0,047 cm Cepat mengendap Suspensi II Hari ke-1 Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho I 10,8 cm - - -II 10,1 cm - - -III 10,7 cm - - -IV 10,4 cm 0,5 cm 0,048cm Sulit dikocok Hari ke-2 Formula

Perbandingan tinggi larutan suspensi dengan tinggi

endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

I 10,7 cm - - Sulit dikocok, endapan keras

II 10 cm - - Mudah dikocok

III 10,6 cm - - Kental, agak mudah dikocok

IV 10,5 cm 0,5 cm 0,047cm Sulit dikocok, endapan keras

Hari ke-3

(17)

dengan tinggi endapan

Ho Hv Hv/ Ho

I 10,7 cm 0,8cm 0,074 cm Sulit dikocok, endapan keras

II 10,2 cm - - Mudah dikocok

III 10,2 cm 1 cm 0,98cm Kental, sulit dikocok IV 10,6 cm 0,7 cm 0,066cm Sulit dikocok,

endapan keras

Hari ke-4

Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

I 10,8 cm 0,8cm 0,074cm Cepat mengendap

II 10,3 cm 9,7cm 0,941cm Mudah dikocok

III 10,2 cm 3,8 cm 0,372cm Mudah dikocok

IV 10,6 cm 0,6 cm 0,056cm Agak mudah dikocok

Suspensi 3

Hari ke-1

Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

I 11,2 cm 0,7cm 0,062cm

-II 10,8 cm 0,6 cm 0,055cm

-Hari ke-2

Formula Perbandingan tinggi larutan suspensi dengan tinggi endapan

(18)

Ho Hv Hv/ Ho

I 10 cm 1.5cm 0,15 cm

-II 10.6 cm 2 cm 0,18 cm

-Hari ke-3

Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho I 10,1 cm 0,8 cm 0,07 cm -II 10 cm 1,5 cm 0,15 cm -Suspensi Rekonstitusi 1. Hari ke-1 Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho I (tanpa granulasi) 10,1 cm 0,5 cm - -II (granulasi) 10,2 cm - - -2. Hari ke-2 Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

(19)

-II 10,3 cm 4,4 cm -3. Hari ke-3

Formula

Perbandingan tinggi larutan

suspensi dengan tinggi endapan Keterangan

Ho Hv Hv/ Ho

I 10,1 cm 5 cm

-II 10,4 cm 4,4 cm

-IV .3 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, kelompok kami membuat suspensi dengan bahan aktif klorampenikol. Dimana klorampenikol ini merupakan zat aktif yang sukar larut dalam air. Dan Formulasi yang digunakan dalam praktikum pembuatan suspensi adalah menggunakan zat pembasah seperti gliserin dan tragakan yang bersifat melarutkan zat aktif yaitu klorampenikol yang tergolong kedalam golongan sukar larut dalam air.

Pada suspensi I terdapat 4 formula yaitu formulasi yang dibedakan pada jumlah pembasah yang digunakan. Formula I menggunakan zat pembasah yaitu tragakan, formula II menggunakan zat pembasah yaitu gliserin dan tragakan, formula III menggunakan zat pembasah yaitu gliserin dan tragakan sedangkan untuk formula IV hanya menggunakan zat pembasah yaitu gliserin saja dan tidak menggunakan tragakan. Dari formulasi-formulasi tersebut terlihat perbedaan pada suspensi yang telah dibuat.

Perbedaan terlihat dengan adanya endapan yang terbentuk pada larutan suspensi. Perbedaan yang terlihat pada semua formula, formula I,II dan III tidak terbentuk endapan sedangkan pada formula IV terbentuk sedikit endapan. Tetapi perbedaan yang paling signifikan terlihat pada perbandingan antara formula I dan IV. Karena yang terjadi pada formula I tidak terbentuk endapan disebabkan penggunaan tragakan yang dapat menurunkan tegangan permukaan tetapi tidak menggunakan gliserin yang tidak mempengaruhi lebih jelas perbedaan formula. Tetapi terbentuknya endapan pada formula IV dikarenakan suspensi ini tidak menggunakan tragakan sebagai surfaktan yang dapat menurunkan tegangan permukaan antara zat yang saling tidak larut, tetapi hanya mengandung gliserin yang hanya berguna sebagai

(20)

humektan yang dapat meningkatkan kelarutan dengan membasahi permukaan antar zat sehingga tidak terbentuk misel yang dapat mempengaruhi kelarutan zat.

Pada suspensi II digunakan formula yang terbaik pada suspensi I, pada suspensi II ini dibuat 4 formula, hanya saja yang membedakan adalah suspending agent yang digunakan. Formula I menggunakan bahan pensuspensi yaitu PGA dan CMC dengan perbandingan 1% :1%. Formula II menggunakan bahan pensuspensi yaitu tragakan dan PGA dengan perbandingan 1%:1%. Pada formula III menggunakan bahan pensuspensi yaitu tilosa dan CMC dengan perbandingan 1%:1%. Sedangakan pada formula IV menggunakan bahan pensuspensi yaitu tragakan dan CMC dengan perbandingan 1%:1%. Dari formulasi-formulasi yang telah dibuat terdapat perbedaan pada saat pengocokan.

Perbedaan itu terlihat dengan adanya endapan yang terbentuk pada larutan suspensi setelah proses pengocokan. Perbedaan terlihat pada hari ke-1 pada formula I,II,III larutan suspensi terlihat stabil dan pada saat pengocokan berlangsung mudah terdispersi tetapi berbeda pada formula IV larutan suspensi terdapat endapan, endapan ini sulit terdispersi dan mudah mengendap pada wktu yang singkat. Hal ini terjadi karena sifat dari bahan suspending agent yang digunakan .

Pada pengecekan hari ke-2 formula I tidak terbentuk endapan tetapi suspensi yang terjadi sulit terdispersi kembali karena suspensi cenderung mengeras, hal ini terjadi pada formula IV, pada formula IV terdapat endapan, endapan mengeras dan sulit dikocok. Sedangakan pada formula II suspensi sangat mudah terdispersi dan terlihat stabil tidak terlalu kental. Tetapi pada formula III suspensi sangat kental dan agak mudah terdispersi.

Pada pengecekan hari ke-3 terjadi endapan yang terlihat pada formula I,III dan IV. Endapan ini terjadi ketika pada saat hari ke-2 proses pengocokan sulit terdispersi dan suspensi mengeras atau kental tidak adanya perbedaan yang terlihat jauh, maka timbul endapan pada hari ke-3. Tetapi yang terjadi pada formula II larutan suspensi sangat baik, dapat mudah terdispersi dan stabil.

Pada pengecekan hari ke-4 ini terjadi endapan yang terlihat pada semua formula. Endapan ini terjadi karena faktor penyimpanan. Pada formula I,III,IV larutan suspensi yang

(21)

terjadi masih tetap sama sulit terdispersi dan endapan keras. Pada hari terakhir yang masih satbil dan mudah terdispersi hanya formula II.

Pada suspensi III digunakan formula yang terbaik pada suspensi II, suspending agent yang digunakan yaitu tragakan dan PGA. Pada suspensi III dibuat dua formula, yang membedakan pada suspensi III ini adalah ditambahkannya zat pengental seperti sirupus simpleks dan sorbitol. Formula I menggunakan zat pengental sirupus simpleks. Formula II menggunakan zat pengental sirupus simpleks dan sorbitol dengan perbandingan 20%:30%. Pada formula III menggunakan bahan pensuspensi yaitu tragakan dan PGA dengan perbandingan 1%:1%.

Pada rekonstitusi dibuat sediaan suspensi dengan granulasi dan tanpa granulasi. Pada formula 1 dibuat dengan suspensi tanpa granul dan formula II dibuat dengan granul. Dan sediaan yang paling baik adalah sediaan yang granul. Suatu ketidakstabialan suspensi paracetamol tanpa granulasi disebabkan karna suatu formula yang dibuat tidak ditambahkan zat pengikat sehinga granul tidak membuat iktan yang kuat dan suspensi yang dibuat tidak stabil. Sedangkan formula suspensi dengan granulasi ditambahkan zat pengikat didapat kestabilan suspensi karena antar ikatan granul dengan granul yang lain kuat karena adanya zat pengikat. Pengeringan dengan oven ditujukan agar granul memiliki kadar air yang seimbang. Apabila kadar air teelalu rendah granul akan rapuh dan hncur. Sedangkan kadar air tetlalu tinggi akan menjadi basah.

(22)

BAB V KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan yaitu membuat sediaan larutan suspensi I,II,III dan suspensi rekonstitusi. Pada suspensi 1 formula yang terbaik adalah formula III, dengan larutan suspensi yang mudah terdispersi dan stabil dan tidak terbentik endapan. Pada suspensi II formula yang trerbaik adalah formula II dengan larutan suspensi yang stabil, mudah terdispersi dan mengendap dalam waktu yang lama.

Suspensai rekonstitusi yang paling baik adalah suspense yang menggunakan metode granul.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

DepKes RI. Farmakope Indonesia. Edisi III. Ditjen POM. Departemen Kesehatan RI. 1979.

DepKes RI. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Ditjen POM. Departemen Kesehatan RI. 1995.

Sa’diah, Siti, dkk. Penuntun Praktikum Semester Genap Farmaseutika I. Bogor: Universitas Pakuan.

Referensi

Dokumen terkait

Surfaktan memiliki peranan penting dalam pemisahan bitumen menggunakan media air panas karena dapat menurunkan tegangan permukaan antara bitumen dengan mineral yang

Untuk menguatkan dugaan awal, kebocoran yang terjadi pada sambungan molding pipa apung pada pipa baja pengikat lebih disebabkan karena adanya permukaan tegangan siklis

Tampak perubahan kontur pada permukaan gingiva pada kontrol 4 bulan setelah dilakukan gingivektomi, tidak terjadi rekuren hiperplasia gingiva, attached gingiva

Dari persamaan di atas didapatkan bahwa panas yang terjadi pada spesimen 1 selama proses pengelasan, dengan menggunakan tegangan (E) sebesar 220 V, arus listrik (i) 65 A, dan

Perak juga tidak dapat ditetapkan dengan titrasi menggunakan NaCl sebagai titran karena endapan perak kromat yang mula/mula terbentuk sukar bereaksi pada titik akhir.. Larutan

 Terjadi pemadatan permukaan akibat pukulan butir air hujan sehingga terbentuk lapisan kerak (crust) tipis yang akan menurunkan jumlah partikel tanah yang terlempar ke udara

Tegangan permukaan terjadi karena pada permukaan adanya gaya adhesi (antara cairan dan udara) lebih kecil dari pada gaya kohesi antara molekul-molekul cairan sehingga menyebabkan

Untuk menguatkan dugaan awal, kebocoran yang terjadi pada sambungan molding pipa apung pada pipa baja pengikat lebih disebabkan karena adanya permukaan tegangan siklis