BAB I PENDAHULUAN. diperolehnya dari investasi yang dilakukannya, yang bisa ia lakukan adalah

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keputusan investasi bagi para investor mengandung risiko dan ketidakpastian. Investor tidak mengetahui dengan pasti hasil yang akan diperolehnya dari investasi yang dilakukannya, yang bisa ia lakukan adalah memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dari investasinya, dan seberapa jauh kemungkinan hasil yang sebenarnya nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Apabila investor mengharapkan untuk memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, maka ia harus bersedia menanggung risiko yang tinggi pula. Banyak masyarakat yang tertarik untuk menginvestasikan dananya di sektor property dan real estate dikarenakan harganya yang cenderung selalu naik, supply bersifat tetap sedangkan demand-nya akan selalu bertambah besar seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta bertambahnya kebutuhan manusia akan tempat tinggal, perkantoran, pusat perbelanjaan, taman hiburan dan lain-lain.

Industri property dan real estate pada umumnya merupakan dua hal yang berbeda. Menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia, definisi property menurut SK Menteri Perumahan Rakyat no.05/KPTS/BKP4N/1995, Ps 1.a:4 adalah tanah hak dan atau bangunan permanen yang menjadi objek pemilik dan pembangunan. Sedangkan pengertian mengenai industri real estate tercantum dalam PDMN No.5 Tahun 1974 adalah perusahaan property yang bergerak dalam bidang penyediaan, pengadaan, serta pematangan tanah bagi keperluan

(2)

usaha-usaha industri, termasuk industri pariwisata. Real estate merupakan tanah dan semua peningkatan permanen di atasnya termasuk bangunan-bangunan, seperti gedung, pembangunan jalan, tanah terbuka, dan segala bentuk pengembangan lainnya yang melekat secara permanen.

Perusahaan sebagai sebuah entitas tidak hanya berorientasi pada perolehan laba yang maksimal, tetapi juga berusaha untuk menghasilkan laba yang berkualitas. Dalam pemenuhan tujuan tersebut, maka diperlukan perencanaan dan pengambilan keputusan yang tepat dari manajer perusahaan agar perusahaan dapat memperoleh respons positif dari para pemegang kepentingan laporan keuangan dan dapat menghasilkan laba yang berkualitas.

Menurut PSAK 1 (Revisi 2013) yang efektif berlaku pada 1 Januari 2015, laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan, kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

Laporan keuangan terdiri dari:

1. Laporan posisi keuangan (statement of financial position) pada akhir periode. 2. Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain (statement of income

and other comprehensive income) selama periode. Laba rugi memberikan informasi mengenai pendapatan, beban, dan laba rugi suatu entitas selama

(3)

suatu periode tertentu. Pendapatan komprehensif lainnya berisi pos-pos pendapatan dan beban yang tidak diakui dalam laba rugi.

3. Laporan perubahan ekuitas (statement of changes in equities) selama periode. 4. Laporan arus kas (statement of cash flows) selama periode.

5. Catatan atas laporan keuangan (notes to financial statement), berisi kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lain.

6. Informasi komparatif, dapat terdiri dari satu atau lebih laporan keuangan, namun tidak terdiri dari laporan keuangan lengkap.

7. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif sebelumnya yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya

Dijelaskan dalam Statement of Financial Accounting (SFAC) Nomor 2 dalam Kartika dan Nikmah (2011:98), salah satu informasi yang terdapat di dalam laporan keuangan adalah informasi mengenai laba perusahaan. Informasi laba merupakan unsur utama dalam laporan keuangan dan sangat penting bagi pihak-pihak yang menggunakannya karena memiliki nilai prediktif. Informasi laba (earnings) mempunyai peran sangat penting bagi pihak yang berkepentingan terhadap suatu perusahaan. Pihak internal dan eksternal perusahaan sering menggunakan laba sebagai dasar pengambilan keputusan seperti pemberian kompensasi dan pembagian bonus kepada manajer, pengukur prestasi atau kinerja manajemen, dasar penentuan besarnya pengenaan pajak, dan berguna untuk pembagian dividen kepada pemegang saham dan investor.

(4)

Parawiyati (1996) dalam Wulansari (2013:2) menyatakan bahwa informasi tentang laba mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan operasi yang ditetapkan. Laba yang berhasil dicapai oleh suatu perusahaan merupakan salah satu ukuran kinerja dan menjadi pertimbangan oleh para investor atau kreditur dalam pengambilan keputusan untuk melakukan investasi atau untuk memberikan tambahan kredit.

Menurut Bandi (2009) dalam Wulansari (2013:4) untuk menjadi informasi yang berguna, laba sebagai bagian dari laporan keuangan harus berkualitas. Boediono (2005) dalam Kurnia (2010:3) menjelaskan kualitas laba menjadi pusat perhatian bagi para pengguna laporan keuangan, khususnya bagi mereka yang mengharap kualitas laba yang tinggi. Laporan ini diakui oleh investor, kreditur, supplier, organisasi buruh, bursa efek dan para analis keuangan sebagai sumber informasi penting mengenai keberadaan sumber daya ekonomi perusahaan yang diharapkan berguna untuk pengambilan keputusan. Dan informasi ini juga diharapkan menjadi pedoman untuk pemegang saham dan investor potensial untuk menentukan kepentingan investasi mereka terhadap saham emiten.

Laba perusahaan bersinggungan dengan siklus operasi, karena ada faktor penjualan di dalam siklus operasi. Laba ini nantinya akan digunakan untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang. Laba yang digunakan untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang harus benar-benar laba yang berkualitas. Kualitas laba merupakan suatu ukuran untuk mencocokkan apakah laba yang dihasilkan sama dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya. Jika laba dalam penyajiannya tidak sesuai dengan laba sebenarnya, informasi yang di

(5)

dapat dari laporan laba menjadi bias dan dapat menyesatkan kreditor dan investor dalam mengambil keputusan.

Menurut Cho dan Jung (1991) dalam Ratna dan Ery (2013:15), laba yang dipublikasikan dapat memberikan respon bervariasi, yang menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap informasi laba. Reaksi yang diberikan tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Laba yang dilaporkan memiliki kekuatan respon (power of response). Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari tingginya ERC (Earnings Response Coefficient), menunjukkan laba yang dilaporkan berkualitas. Lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari rendahnya ERC, menunjukkan laba yang dilaporkan kurang atau tidak berkualitas.

Menurut Collins et al. (1984) dalam Devi (2013:26) ERC (Earnings Response Coefficient) merupakan salah satu ukuran atau proksi yang digunakan untuk mengukur kualitas laba. ERC mengukur seberapa besar return saham dalam merespon angka laba yang dilaporkan oleh perusahaan yang mengeluarkan sekuritas tersebut. Scott (2000); Cho dan Jung (1991) dalam Ratna dan Ery (2013:15), ERC adalah reaksi atas laba yang diumumkan (published) oleh perusahaan. Reaksi ini mencerminkan kualitas dari laba yang dilaporkan perusahaan. Semakin berkualitas laba suatu perusahaan maka semakin tinggi ERC.

Kallapur dan Trombley (2001) dalam Kartina dan Nikmah (2011:101) menyatakan bahwa kesempatan investasi perusahaan merupakan komponen penting dari nilai pasar, ini disebabkan Investment Opportunity Set (IOS) atau set

(6)

kesempatan investasi dari suatu perusahaan mempengaruhi cara pandang manajer, pemilik, investor dan kreditor terhadap perusahaan. Investment Opportunity Set (IOS) atau set kesempatan investasi juga bisa dianggap sebagai kesempatan tumbuh dari suatu perusahaan. Perusahaan yang mempunyai kesempatan tumbuh yang tinggi dianggap dapat menghasilkan return yang tinggi pula.

Fenomena yang berkaitan dengan menurunnya kualitas laba perusahaan diantaranya adalah Satyam Computer Service. Dikutip dari mukhsonrofi.wordpress.com, Pada Maret 2008, Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3 % menjadi 2,1 milyar dolar AS. Di Oktober 2008, Satyam mengatakan bahwa revenue-nya akan meningkat sebesar 19-21 % menjadi 2,55-2,59 milyar dolar pada bulan Maret 2009. Melihat semua reputasinya, pantas saja jika Satyam dinobatkan menjadi raksasa IT terbesar keempat di India.

Satyam didirikan dan dipimpin oleh Ramalinga Raju, lulusan MBA Ohio University dan alumnus Harvard University. Ramalinga Raju mendapatkan berbagai penghargaan di antaranya Ernst & Young Entrepreneur of the Year for Services (1999), Dataquest IT Man of the Year (2000), dan CNBC’s Asian Business Leader-Corporate Citizen of the Year award (2002). Pada 2004, jumlah kekayaan Ramalinga Raju mencapai US$495 juta. Sungguh ironis, pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa sekitar US$1,04 milyar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara dengan 94% nilai kas & bank Satyam di akhir September 2008). Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran direksi Satyam, Ramalinga Raju mengatakan telah membesar-besarkan laba perusahaan selama bertahun-tahun dan meningkatkan neracanya hingga lebih dari

(7)

US$ 1 milyar, dia juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan bunga diterima di muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya (understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang (overstated debtors).

Awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai keuntungan perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih antara keuntungan yang sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar. Begitu kompleksnya situasi yang dihadapi Ramalinga Raju karena fraud yang dilakukannya. Pada 10 Januari 2009 harga saham Satyam jatuh menjadi 11,5 rupees, atau hanya senilai 2% dari harga saham tertingginya di tahun 2008 sebesar 544 rupees.

Satyam adalah pemenang penghargaan the coveted Golden Peacock Award for Corporate Governance under Risk Management and Compliance Issues di tahun 2008. Gelar itu kemudian dicabut karena skandal tersebut. Adapun Raju dan saudaranya, B. Rama Raju, yang juga terkait Satyam fraud, kemudian ditahan dengan tuduhan melakukan konspirasi kriminal, penipuan, pemalsuan dokumen, dan menghadapi ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Skandal akuntansi lainnya menimpa perusahaan besar yang telah berdiri selama 140 tahun, yaitu Toshiba Corporation. Mengutip dari kompas.com, Presiden dan CEO Toshiba Corporation, Hisao Tanaka dan pendahulunya yang kini menjadi Wakil Komisaris Utama Toshiba Corporation, Norio Sasaki yang melakukan penggelembungan laba tiga kali lipat dari perkiraan awal Toshiba selama tahun 2008 hingga 2014, yaitu ¥ 151.8 milyar atau sebesar US$ 1,22

(8)

milyar. Skandal akuntansi Toshiba dimulai ketika regulator sekuritas menemukan kejanggalan setelah menyelidiki neraca perusahaan awal tahun ini. Dengan temuan yang dirilis Senin (20/7/2015), Toshiba harus menyatakan kembali keuntungan sebesar ¥ 151,8 milyar untuk periode antara April 2008 hingga Maret 2014. Penggelembungan laba sebesar ¥ 151,8 milyar atau US$ 1,22 milyar ini yang awalnya ingin menciptakan investor’s confidence ternyata telah mencoreng nama besar Toshiba selama ini.

Menurut sebuah laporan, Tanaka dan Sasaki ditekan divisi bisnis untuk memenuhi target yang sulit sehingga mereka melebih-lebihkan laba dan menunda pelaporan kerugian di tengah budaya tidak akan melawan keinginan atasan. "Ini bukan pemahaman saya bahwa saya memberi perintah untuk akuntansi yang tidak tepat, tetapi kenyataannya adalah bahwa pengamatan seperti itu telah dibuat. Para eksekutif dan manajemen baru harus mengambil tindakan pencegahan yang sesuai," tambah Tanaka.

Kutipan dari metrotvnews.com, kepala eksekutif Toshiba Corporation mengundurkan diri pada Selasa ini setelah penyelidikan independen menemukan ia telah membesar-besarkan peningkatan keuntungan perusahaan. Pendahulu Tanaka sebagai CEO, Wakil Ketua Norio Sasaki dan penasihat Atsutoshi Nishida, akan juga mundur setelah laporan pihak ketiga menunjukkan mereka memainkan bagian dalam aksi itu dalam keuntungan dengan cara menggunakan tahun buku 2008. Mengutip Reuters, Rabu (22/7/2015), posisi Tanaka sementara digantikan oleh Direktur Masashi Muromachi. Muromachi dianggap bersih untuk memimpin Toshiba dalam menghadapi gejolak saat ini, sebelum menyerahkan kendali

(9)

kepada penggantinya. Berdasarkan Liputan6.com, sebanyak delapan pejabat mengundurkan diri pada Selasa (21/7/2015) dan Tanaka mengatakan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan penunjukan direksi dan disetujui mayoritas anggota dewan.

Dikutip dari cnnindonesia.com, pengawas keuangan Jepang berencana memberi hukuman kepada perusahaan teknologi Toshiba Corporation atas skandal ini. Sumber-sumber yang dekat dengan lingkungan pemerintah mengatakan kepada harian bisnis Nikkei, bahwa Securities and Exchange Surveillance Commission (SESC) berencana memberlakukan denda terhadap Toshiba pada September. Regulator setempat sedang memelajari kasus ini dan menimbang hukuman potensial setelah komite independen mengumumkan temuannya dalam waktu dekat ini, termasuk soal dugaan kesengajaan melebih-lebihkan pendapatan perusahaan yang dilakukan para petinggi. Komite independen mengatakan Toshiba membutuhkan perbaikan tata kelola perusahaan. "Kami sangat meminta maaf kepada para pemegang saham, investor dan semua pemangku kepentingan lainnya," kata jelas perseroan dalam sebuah surat kepada investor pada hari Senin (20/7/2015). Menurut kutipan detik.com, penyimpangan terlihat sejak April 2015 ketika Toshiba menyelidiki praktik menyimpang di divisi energi. Keadaan memburuk pada Mei 2015 setelah komite independen mengambil alih evaluasi keuangan. Saham Toshiba turun sekitar 20% sejak awal April sejak isu-isu terkait keuangan mulai tercium.

Motivasi penelitian ini adalah pertama, untuk mengkaji peran laba (earning) sebagai alat untuk dasar pengambilan keputusan. Laba dalam pelaporan

(10)

keuangan sering digunakan oleh manajemen untuk menarik investor. Kedua, kualitas laba tidak dapat diobservasi secara langsung, namun dapat diobservasi dan diukur melalui proksi atau atribut-atribut yang melekat di dalam laba itu sendiri. Pengukuran kualitas laba dalam penelitian ini menggunakan Earnings Response Coefficient (ERC). Ketiga, pada dasarnya penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian Titik Purwanti (2010) dengan variabel, objek dan waktu penelitian yang berbeda.

Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian Titik Purwanti (2010) adalah sebagai berikut:

1. Penelitian Titik mengukur kualitas laba menggunakan discretionary accruals modified Jones model, sedangkan peneliti menggunakan Earning Response Coefficient (ERC) sebagai proksi dari kualitas laba.

2. Peneliti menambahkan variabel Investment Opportunity Set (IOS) sebagai variabel independen sedangkan penelitian Titik tidak menggunakan variabel tersebut. Peneliti beranggapan bahwa Investment Opportunity Set (IOS) sangat menarik untuk diteliti pengaruhnya terhadap kualitas laba, karena semakin tinggi Investment Opportunity Set (IOS), maka kualitas laba perusahaan akan semakin berkualitas.

3. Peneliti menggunakan sampel perusahaan property dan real estate, sedangkan penelitian Titik menggunakan sampel perusahaan manufaktur.

4. Tahun pengamatan peneliti dari tahun 2012-2014, sedangkan penelitian Titik tahun pengamatannya dari tahun 2003-2007.

(11)

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh Investment Opportunity Set (IOS), volatilitas arus kas, dan volatilitas penjualan terhadap kualitas laba, baik secara parsial maupun simultan. Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang telah diuraikan, maka penulis melakukan penelitian pada perusahaan property dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia dengan judul PENGARUH INVESTMENT OPPORTUNITY SET (IOS), VOLATILITAS ARUS KAS DAN VOLATILITAS PENJUALAN TERHADAP KUALITAS LABA.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pengaruh Investment Opportunity Set (IOS) terhadap kualitas laba. 2. Bagaimana pengaruh volatilitas arus kas terhadap kualitas laba.

3. Bagaimana pengaruh volatilitas penjualan terhadap kualitas laba.

4. Bagaimana pengaruh Investment Opportunity Set (IOS), volatilitas arus kas, dan volatilitas penjualan secara simultan terhadap kualitas laba.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai:

1. Pengaruh Investment Opportunity Set (IOS) terhadap kualitas laba pada perusahaan-perusahaan yang listing di BEI.

2. Pengaruh volatilitas arus kas terhadap kualitas laba pada perusahaan-perusahaan yang listing di BEI.

(12)

3. Pengaruh volatilitas penjualan terhadap kualitas laba pada perusahaan-perusahaan yang listing di BEI.

4. Pengaruh Investment Opportunity Set (IOS), volatilitas arus kas, dan volatilitas penjualan terhadap kualitas laba pada perusahaan-perusahaan yang listing di BEI.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari dilakukannya penelitian ini adalah: a. Bagi Mahasiswa Akuntansi

Sebagai media informasi yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya oleh mahasiswa akuntansi.

b. Bagi Akademisi

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk penelitian di masa yang akan datang.

c. Bagi Perkembangan Literatur Akuntansi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat mengenai hal apa saja yang dapat mempengaruhi kualitas laba.

d. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk meningkatkan kualitas laba dengan benar, tanpa adanya kecurangan.

e. Bagi Investor

Membantu investor dalam membuat keputusan investasi yang tepat, terutama dalam menilai kualitas laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

(13)

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan property dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2014. Waktu penelitian berlangsung sejak bulan September 2015 sampai dengan bulan Februari 2016.

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. Satyam
Related subjects :