BAB I PENDAHULUAN. A. Alasan Pemilihan Judul. Perkembangan teknologi di Indonesia secara langsung atau tidak langsung

15  12  Download (0)

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul

Perkembangan teknologi di Indonesia secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan kebudayaan dari luar menjadi semakin mudah masuk ke Indonesia. Teknologi dan kebudayaan yang masuk ke dalam Negara Indonesia seakan membawa dampak yang sangat positif bagi bangsa, karena dengan masuknya teknologi ke Indonesia sangat berguna bagi kehidupan bangsa baik dalam bidang industri, informasi, transportasi, pendidikan dan lain-lain. Selain teknologi, masuknya kebudayaan dari luar juga membawa hal positif karena akan menambah keanekaragaman budaya, misalnya dalam bidang musik, berpakaian, tari, bahkan budaya berpolitik yang semakin demokratis.

Harus disadari bahwa teknologi dan kebudayaan luar yang masuk ke Indonesia selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata saja. Dengan adanya pengaruh dari luar, jati diri bangsa semakin terancam. Misalnya, karena sekarang akses informasi semakin mudah maka anak bangsa semakin mudah juga untuk mendapatkan informasi yang berbau pornografi melalui media cetak, elektronik, dan internet. Sehingga bukan hanya hal positif yang di dapat, tetapi juga hal negatif yang dapat merusak moral bangsa.

Dengan kemajuan teknologi, sekarang dapat dengan muda mendapatkan informasi yang berkategori pornografi. Bahkan sekarang anak-anak dibawah umur melalui internet dapat dengan mudah mengakses gambar atau video porno yang berakibat merusak moral mereka bahkan mengakibatkan kecanduan dengan pornografi. Jelas adanya pornogrfi sangat berbahaya bagi bangsa karena telah merusak jati diri bangsa yang sangat berpegang pada norma kesopanan, kesusilaan dan Agama.

(2)

2 Pada tanggal 26 November 2008 Indonesia telah mememiliki undang-undang baru yang secara khusus mengatur tentang pornografi, undang ini disebut undang-undang Pornografi. Dengan adanya undang-undang-undang-undang ini diharapkan dapat menjadi salah satu senjata yang ampuh untuk mengatasi masalah pornografi yang sangat marak di media cetak atau internet. Tetapi keberadaan Undang-Undang Pornografi ini juga mendapat tanggapan negatif dari sebagian masyarakat karena dianggap membatasi masyarakat dalam berekspresi yang merupakan hak asasi manusia dan juga dianggap tidak menghargai kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Kebudayaan yang dimaksud disini berupa tata berpakaian, tata upacara, atau beberapa kebiasaan lain yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan pornografi dalam Undang-Undang Pornografi.

Tanggapan negatif dari masyarakat tentang adanya Undang-Undang Pornografi dikarenakan kurang jelasnya konsep hukum dalam pembuatan undang-undang ini, sehingga rumusan, ruang lingkup dan batasan dalam penerapan Undang-Undang Pornografi kurang bisa dipahami dengan baik. Hal tersebut dapat mengakibatkan kesalahan dalam menerapkan ketentuan hukum. Sebenarnya tanggapan negatif ataupun positif tentang Undang-Undang Pormografi sudah terjadi sejak pembentukan, pembahasan sampai dengan rancangan Undang-Undang Pornografi, ini dikarenakan tidak adanya pemahaman yang jelas tentang nilai atau standar untuk menentukan suatu tindakan atau obyek itu merupakan perbuatan pornografi.

Indonesia merupakan negara heterogen yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama sehingga sangat diperlukan nilai atau standar yang logis dalam pemberlakuan hukum pornografi. Dengan adanya sifat heterogen dalam masyarakat Indonesia maka akan terjadi perbedaan pemahaman standar bahwa perbuatan tersebut termasuk pornografi atau tidak, tergantung dari kebudayaan atau aturan adat yang ada dalam masyarakat tersebut. Tetapi Undang-Undang Pornografi dalam Pasal 1 menguraikan

(3)

3 Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Pasal 1 tersebut menunjukan telah menentukan norma kesusilaan sebagai standar dalam penerapan Undang-Undang Pornografi, sehingga pelaksanaan Undang-Undang Pornogarafi dapat diterapkan di negara Indonesia yang bersifat heterogen sesuai standar norma kesusilaan disetiap daerah.

Pengertian pornografi secara etimologi berasal dari dua suku kata, yaitu pornos dan grafi. Pornos, artinya suatu perbuatan yang asusila (dalam hal yang berhubungan dengan seksual), atau perbuatan yang bersifat tidak senonoh atau cabul. Grafi adalah gambar atau tulisan, yang dalam arti luas yang isi atau artinya menunjukkan atau menggambarkan

sesuatu yang bersifat asusila atau menyerang rasa kesusilaan di masyarakat1.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi, serta bahan yang dirancang dengan sengaja dan semata-mata untuk membengkitkan nafsu berahi. Sedangkan dalam Undang-undang Pornografi, pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Norma kesusilaan adalah peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak, sehingga seseorang dapat membedakan apa yang dianggap baik dan apa pula yang dianggap buruk. Dan norma kesusilaan ini bersifat otonom, yaitu setiap

1

http://raniyuanita.wordpress.com/2011/01/03/undang-undang-pornografi-dalam-kajian-sosiological-jurisprudence/

(4)

4 orang mempunyai anggapan yang berbeda-beda tentang suatu perbuatan apakah itu

melanggar norma kesusilaan atau tidak2. Sebagai contoh ada seorang yang telanjang atau

memperlihatkan auratnya, menurut orang lain itu bisa merupakan suatu hal yang melanggar norma kesusilaan tetapi juga ada anggapan yang menyatakan kalau perbuatan tersebut tidak melanggar norma kesusilaan, itu tergantung siapa yang melihat atau memberi anggapan. Jika orang yang telanjang itu berada di tempat umum maka itu adalah perbuatan yang melanggar norma kesusialaan, tetapi jika orang yang telanjang itu tidak berada di tempat umum atau diruang yang tertutup yang melihat adalah suami atau istrinya sendiri serta tidak dapat dilihat orang lain maka perbuatan tersebut tidak melanggar norma kesusilaan.

Hal di atas menarik perhatian penulis untuk mengulas lebih dalam sebagai topik penelitian. Yaitu bagaimana menerapkan norma kesusilaan sebagai dasar untuk menentukan suatu perbuatan adalah melanggar Undang-Undang Pornografi. Sedangkan Indonesia merupakan negara heterogen, walaupun dalam Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 1 Undang-Undang Pornografi sudah jelas diungkapkan bahwa pelaksanaan

undang-undang ini disesuaikan dengan norma kesusilaan yang ada dalam masyarakat3.

Jadi suatu perbuatan itu merupakan tindakan kriminal atau tidak dalam Undang-Undang Pornografi tergantung bagaimanakah norma kesusilaan yang ada dalam masyarakat tersebut. Dengan adanya masalah di atas penulis mengambil tema untuk judul skripsi adalah ASPEK NORMA KESUSILAAN DALAM UNDANG-UNDANG NO. 44 TAHUN 2008 TENTANG PORNOGRAFI. (Studi kasus Putusan Nomor: 1096/Pid.B/2010/PN.Bdg. dan Putusan Nomor: 450/Pid.B/2011/PN.Pkl.)

2

Arie Siswanto, Bahan Kuliah Sosiologi Hukum, UKSW

3

(5)

5 B. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi merupakan produk hukum dari pemerintah pusat yang sangat penting bagi rakyat Indonesia karena bertujuan untuk menjaga atau melindungi jati diri bangsa dari penagaruh kebudayaan luar yang bertentangan dengan norma-norma yang ada di negara ini. Masuknya kebudayaan modern menjadi tantangan bagi kebudayaan tradisional yang telah ada, penilaian orang-orang mengenai apa yang adil dan tidak adil, mengenai apa yang baik dan tidak baik menjadi

goyah, keseluruhan sikap terhadap norma-norma kehidupan diliputi keragu-raguan4.

Undang-Undang Pornografi bertujuan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh pornografi yang mulai dipandang bebas oleh masyarakat. Generasi muda sangat mudah terpengaruh pornografi, sehingga sekarang para generasi muda mudah terjerumus dalam kecanduan gambar atau video porno bahkan seks bebas.

Di Indonesia sudah ada pengaturan tentang pornografi yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pers, Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Tetapi kurang memadai dan belum memenuhi kebutuhan hukum serta perkembangan masyarakat, sehingga perlu dibuat undang-undang baru yang secara khusus mengatur pornografi. Sehingga pemerintah membuat Undang-Undang Pornografi, namun dalam penerapan atau pelaksanaan undang-undang pornografi ini masih terdapat beberapa kekurangan karena masih kurang memperhatikannya setandar untuk menentukan suatu perbuatan itu melakukan tindak pidana pornografi atau tidak.

Hal tersebut dapat dilihat dalam Undang-Undang Pornografi Bab I ketentuan umum Pasal 1 tentang pengertian pornografi dijelaskan bahwa

4

A. Gunawan Setiardja. Dialektika Hukum Dan Moral “Dalam Pembangunan Masyarakat Indonesia”. Kanisius BPK Gunung Mulia, Jakarta 1990. hal 90

(6)

6 pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Jadi dalam Pasal ini dinyatakan bahwa pornografi adalah perbuatan yang melanggar norma kesusilaan.

Sedangkan dalam Bab II tentang Larangan dan Pembatasan, Pasal 4 ayat 1 menguraikan.

Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,

menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan,

memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat.

a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual;

c. masturbasi atau onani;

d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau

f. pornogarafi anak.

Dalam Undang-Undang Pornografi Pasal 8 menguraikan

Setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi.

Jika dalam Bab II khususnya Pasal 4 dan 8 berdiri sendiri atau lepas dari Bab I tentang Ketentuan Umum, khususnya Pasal 1 tentang pengertian pornografi maka akan terjadi kekaburan atau kebingungan dalam melaksanakan ketentuan Pasal 4 dan 8 tersebut karena dalam ketentuan Pasal 4 ayat 1 d. menyebutkan larangan tentang ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan bagi masyarakat Indonesia.

Di Indonesia terdapat berbagai macam kebudayaan masyarakat yang sebagian dari kebudayaan tersebut masyarkatnya masih telanjang atau mengesankan ketelanjangan. Jadi bukankah undang-undang ini secara langsung ataupun tidak langsung membuat beberapa kebudayaan yang memenuhi unsur muatan pornografi menjadi subjek pelanggar Undang-Undang Pornografi dan mengancam kelestarian kebudayaan tersebut. Sehingga tujuan utama undang-undang tersebut untuk melindungi masyarakat malah menjadi ancaman

(7)

7 bagi beberapa masyarakat itu sendiri. Tetapi jika dalam penerapan undang-undang tersebut ada hubungan antar Bab dan Pasal, maka Pasal 4 ayat 1 dan 8 tidak akan menjadi ancaman bagi kelestarian beberapa kebudayaan, seperti yang termuat dalam tujuan Undang-Undang Pornografi yang tercantum dalam Pasal 3, yaitu.

a. Mewujudkan dan memelihara tatanan kehidupan masyarakat yang beretika, berkepribadian luhur, menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, serta menghormati harkat dan martabat kemanusiaan.

b. Menghormati, melindungi, dan melestarikan nilai seeni dan budaya, adat istiadat, dan ritual keagamaan masyarakat Indonesia yang majemuk.

c. Memberikan pembinaan dan pendidikan moral dan akhlak masyarakat

d. Memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi warga negara dari pornografi, terutama bagi anak dan perempuan, dan

e. Mencegah berkembangnya pornografi dan komersialisme seeks dai

masyarakat.

Undandang-Undang Pornografi tersebut bertujuan menghormati, melindungi, dan melesterikan nilai seni dan budaya, adat istiadat, dan ritual keagamaan masyarakat Indonesia yang majemuk. Untuk mewujudkan Pasal 3 tersebut, ketentuan dalam penerapan Bab II tentang larangan dan pembatasan harus didasarkan pada Pasal 1 mengenai arti dari pornografi, yang menegaskan bahwa unsur pornogarafi akan terpenuhi jika hal tersebut melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Pemahaman tentang norma kesusilaan sangat penting karena digunakan sebagai standar bagi Undang-Undang Pornografi. Selain itu juga karena pemahaman setiap orang atau masyarakat tentang suatu perbuatan atau objek tersebut melanggar norma kesusilaan atau tidak ternyata berbeda-beda. Indonesia adalah negara yang heterogen memiliki beraneka kebudayaan dan adat istiadat sehingga dasar penilaian tentang norma kesusilaan juga pasti berbeda-beda. Dengan keberbedaan itu sehingga nilai-nilai budaya yang oleh orang dalam masyarakat tertentu harus dijunjung tinggi, belum tentu dianggap penting

oleh warga masyarakat lain5. Pemahaman norma kesusilaan secara tepat dan jelas oleh

setiap warga masyarakat akan memberikan suatu dasar legalitas yang pasti tentang peran

5

(8)

8 norma kesusilaan sebagai standar atau dasar penentuan kriminalisasi suatu perbuatan dalam Undang-Undang No.44 tahun 2008 tentang Pornografi.

Kurang jelasnya pemahaman tentang pengertian dari norma kesusilaan dalam Undang-Undang Pornografi menyebabkan kekaburan dalam menentukan apakah suatu perbuatan telah melanggar unsur-unsur delik kesusilaan dalam Undang-Undang Pornografi. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi unsur pemenuh sehingga suatu perbuatan merupakan suatu tindakan yang melanggar norma kesusilaan maka dilakukan penelitian terhadap satuan amatan yaitu putusan Nomor: 1096/Pid.B/2010/PN.Bdg dan Nomor: 450/Pid.B/2011/PN.Pkl tentang pelanggaran Undang-Undang Pornografi. Dari putusan tersebut akan digali apakah yang menjadi dasar pertimbangan Hakim yang menentukan peran dari norma kesusilaan dalam kasus tersebut sebagai dasar pemenuhan unsur-unsur delik pornografi.

Berikut ini gambaran kasus tindak pidana pornografi dalam putusan Nomor: 1096/Pid.B/2010/PN.Bdg. Bahwa sekitar bulan Mei 2010, bertempat di jalan Dalam Kaum Kota Bandung, terdakwa Jhon Deardo Sipayung membeli VCD dan DVD sebanyak 200 keping dari Rachmat dengan harga perkeping Rp. 5000,- (lima ribu rupiah). Dimana VCD dan DVD yang terdakwa beli berisi gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi yang melanggar norma kesusilaan masyarakat. Kemudian VCD dan DVD porno tersebut terdakwa jual kepada masyarakat umum yang berminat dengan harga perkepingnya Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah).

Bahwa sekitar hari senin, tanggal 21 juni 2010, pada saat terdakwa sedang berjualan seperti biasanya, dating petugas kepolisian dari Polwiltabes Bandung melakukan penggeledahan terhadap tersangka di temukan VCD dan DVD porno. Bahwa uang hasil penjualan VCD dan DVD porno tersebut, terdakwa gunakan untuk memenuhi kebutuhan

(9)

9 hidupnya sehari-hari. Terdakwa didakwa oleh jaksa penuntut umum dengan dakwaan pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 29 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Hasil pemeriksaan terdakwa terdakwa memiliki barang bukti yang berupa VCD dan DVD pornografi. Dalam barang bukti tersebut berisi gambar-gambar cabul yang terdapat pada sampul VCD dan DVD yang memperlihatkan alat kelamin dan adegan persenggamaan secara fulgar. Selain sampul setelah di putar VCD dan DVD milik tersangka berisi adegan visual bernuansa seksual. Dalam pemeriksaan penemuan unsur yang bernuansa cabul dan seksual, selain itu terdakwa juga memperjual belikan VCD dan DVD porno tersebut yang merupakan suatu perbuatan untuk mempertontonkan tindakan asusila kepada masyarakat umum yang merupakan tindakan melanggar norma kesusilaan. Hal tersebut menunjukan terdakwa telah melanggar ketentuan yang ada dalam pasal 4 undang-undang pornografi. Serta perbuatan terdawa tersebut sebagaimana yang diatur dan diancam pidana Pasal 29 UU RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi

Putusan yang dijatuhkan Hakim kepada terdakwa Jhon Deardo Sipayung adalah menyatakan terdakwa Jhond Deardo Sipayung telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana memperjual belikan pornografi. Serta memidana terdakwa dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan dan denda sebanyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).

Berikut ini gambaran kasus tindak pidana Pornografi dalam putusan Nomor: 450/Pid.B/2011/PN.Pkl. Bahwa awal mulanya pada hari minggu tanggal 17 April 2011 sekitar pukul 10.00 wib terdakwa berkunjung kerumah saksi korban Tsuwaibatul Aslamia alias Ibah binti Akhmad Fahrozi Kel. Kepatihan Rt 01/01 Kec. Wiradesa Kab. Pekalongan, kemudian pada pukul 17.00 wib saksi korban berpamitan untuk mandi sedang terdakwa menunggu diruang tamu, oleh karena terdakwa haus.

(10)

10 Terdakwa berjalan kedapur untuk mengambil air minum dan bersamaan itu pula terdakwa dapati saksi korban sedang mandi di dalam kamar mandi yang berdinding tembok tapi tidak ada atapnya. Setelah itu terdakwa mengambil Handphone merk MITO model/seri 8700 dengan No Imei 352092035376798 dengan serial number 870010127537679. Selanjutnya terdakwa mengangkat Handphone dan mengarahkan kamera kedalam kamar mandi. Lalu terdakwa merekam aktifitas saksi korban saat sedang mandi ± selama 13 detik.

Saksi korban merasa jika pada bagian atas dinding kamar mandi saksi melihat ada handphone yang digerak-gerakan dan sepertinya sedang mengambil gambar saksi yang sedang mandi dalam keadaan telanjang bulat lalu saksi sempat menyuruh terdakwa untuk menghentikan perbuatannya tersebut.

Namun ternyata setelah beberapa hari terdakwa menunjukan rekaman tersebut kepada saksi korban. Bahwa perbuatan terdakwa tersebut semula dilakukan hanya iseng-iseng saja. Kemudian video tersebut terdakwa simpan di handphone terdakwa dan terdakwa nikmati sendiri secara pribadi.

Namun dikemudian hari terdakwa mempunyai niat jika video (gambar bergerak) saksi korban Tsuwaibatul Aslamia alias Ibah yang sedanga mandi dengan durasi 13 detik digunakan sebagai alat untuk mengancam saksi korban Tsuwaibatul Aslamia alias Ibah agar mengembalikan uang dan handphone yang perah terdakwa pinjamkan kepada saksi korban. Hal tersebut menunjukan terdakwa telah melanggar ketentuan yang ada dalam pasal 4 ayat 1 huruf d undang-undang pornografi. Serta perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana yang diatur dan diancam pidana Pasal 29 UU RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi.

Putusan yang dijatuhkan Hakim kepada terdakwa Muhammab Ali adalah Menyatakan Terdakwa : Muhammad Ali alias Ali alias Deali alias Sadam bin Saadi telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “DENGAN

(11)

11 SENGAJA MEMBUAT REKAMAN GAMBAR PORNOGRAFI YANG MEMUAT KETELANJANGAN” serta menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 9 (sembilan) bulan dan denda sebanyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan.

Uraian kasus di atas menunjukan tentang bagaimanakah pertimbangan Hakim dalam menentukan unsur-unsur apa saja yang menjadi dasar dalam memutuskan suatu perkara pidana pornografi. Serta apakah pengertian dan aspek norma kesusilaan sebagai dasar pemenuhan unsur delik pornografi dalam Undang-Undang Pornorafi. Dengan melihat Yurisprudensi dari putusan kasus di atas dapat digunakan untuk mengetahui apakah sebenarnya pengertian dan aspek atau dasar pertimbangan norma kesusilaan dalam Undang-Undang Pornografi yang masih kurang jelas diungkapan dalam Undang-Undang Pornografi.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimanakah pemenuhan unsur delik pornografi dalam ketentuan

Undang-Undang Pornografi?

2. Bagaimanakah Hakim mempertimbangkan norma kesusilaan dalam kasus

pelanggaran Undang-Undang Pornografi? D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menggali dan menganalisis pemenuhan unsur delik pornografi dalam ketentuan

Undang-Undang Pornografi.

2. Menggali dan menganalisis pertimbangan Hakim tentang norma kesusilaan

(12)

12 E. Metode Penelitian.

1. Jenis Penelitian.

Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif, maka tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif yakni penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif.

2. Pendekatan Masalah.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Pendekatan ini melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan tema sentral penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah library research yaitu melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan seperti peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah-majalah, internet dan bahan lainnya yang berhubungan dengan skripsi ini. Untuk menghasilkan penelitian yang lebih akurat didukung dengan pendekatan kasus (Case Approach). Pendekatan ini melakukan pengkajian terhadap kasus-kasus yang telah diputus guna melihat Yurisprudensi terhadap perkara-perkara yang menjadi fokus penelitian.

3. Bahan Hukum.

a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang terdiri atas peraturan

perundang-undangan. Dalam bahan hukum ini menggunakan:

1. UU RI No. 44 Th. 2008 tentang Pornografi,

2. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pornografi,

3. KUHP,

4. KUHAP.

5. Putusan Nomor: 1096/Pid.B/2010/PN.Bdg.

(13)

13

b. Bahan hukum sekunder yang merupakan buku-buku yang ditulis oleh para ahli

hukum, jurnal-jurnal hukum, yurisprudensi dan hasil-hasil simposium yang berkaitan dengan topik penelitian.

c. Bahan Hukum Tersier yaitu semua dokumen yang berisi konsep-konsep dan

keterangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus, ensiklopedia dan lain-lain.

4. Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum

a. Metode pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah:

1. Metode Studi Kepustakaan

Metode Studi Kepustakaan adalah pengumpulan data dari literature yang digunakan untuk mencari konsep, teori-teori, pendapat-pendapat, maupun penemuan yang berhubungan erat dengan pokok permasalahan penelitian ini. Dari studi pustaka maka dapat diketahui secara langsung tentang aspek norma kesusilaan dalam UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

2. Metode Dokumentasi

Metode Dokumentasi adalah pengumpulan data dengan menginfentarisir catatan, transkrip buku, atau lain-lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Dokumen dapat digunakan karena merupakan sumber yang setabil, kaya dan mendorong.

Dengan menggunakan teknik pengumpulan data secara dokumentasi, maka di harapkan agar penelitian ini lebih terperinci karena sumber yang akan dicari dalam suatu dokumentasi merupakan sumber penting yang menyangkut arti dari norma kesusilaan dalam masyarakat sehingga dapat menemukan aspek norma kesusilaan dalam UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

b. Metode pengolahan bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini melalui

(14)

14

1. Editing

Tahapan ini dilakukan untuk meneliti kembali data-data yang telah diperoleh oleh peneliti terutama kelengkapannya, kejelasan makna, kesesuaian beserta relevansinya dengan kelompok data yang lain. Dengan tujuan apakah data tersebut sudah mencukupi untuk memecahkan problem yang diteliti dan untuk mengurangi kesalahan dan kekurangan data dalam penelitian, serta untuk meningkatkan kualitas data dalam penelitian ini.

2. Classifiying

Data yang diperoleh dari hasil studi kepustakaan dan dokumentasi oleh peneliti tersebut akan diklasifikasikan berdasarkan sumbernya. Hal ini untuk member penekanan pada tingkat prioritas data yang telah diperoleh.

3. Analysis

Dengan cara menganalisis isi perundang-undangan secara konseptual yang kemudian hasil tersebut dijadikan senagai dasar penarikan suatu kesimpulan.

4. Concluding

Tahap terakir dari pengolahan data adalah penyimpulan dari bahan-bahan penelitian berupa data yang telah diperoleh itu, dengan maksud agar mempermudah menjabarkannya dalam bentuk penelitian.

5. Unit Analisa

Unit analisa dalam penelitian ini adalah pertimbangan hakim terkait norma kesusilaan dalam perkara Jhon Deardo Sipayung dan perkara Muhammad Ali alias Ali dalam pelanggaran delik Pornografi.

6. Unit Amatan

Unit amatan dalam penelitian ini adalah UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Draf Naskah Akademik RUU Pornografi, Putusan Pengadilan dalam kasus pornografi, dan materi tentang norma kesusilaan.

(15)

15 7. Metode Analisis

Dalam penelitian aini menggunakan metode analisis diskriptif dan penalaran deduktif.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :